Saturday, May 4, 2013

2

MY DIARY Part 8



“Kalian udah saling kenal toh…?” Tanya Mama, secara bersamaan Alvin dan Sivia menjawab,
            “BELOM…”
            “UDAAAHHH…” Alvin dan Sivia saling menatap satu sama lain, Alvin memplototi Sivia,
            “iiihhh…Kak Alvin, kita kan udah saling kenal…”
            “tapi gue gak kenal sama lo….”
            Mama sudah terlihat bingung gara-gara Alvin dan Sivia. Tak mau semakin bingung lagi, Mamapun berkata pada Alvin,
            “udah…udah, Alvin sekarang kamu duduk deh…” Dengan sangat terpaksa Alvin duduk dihadapan Sivia. Sivia melambaikan tangannya untuk Alvin, tapi Alvin malah membalas lambaian tangan Sivia itu dengan sebuah pelototan.
            “apa lo…??” ucap Alvin setengah berbisik. Sivia langsung menunduk.
            “ok,kita mulai saja! Biar gak panjang urusannya, Mama gak akan nanya kalian udah saling kenal ato gak, Mama pusing…sekarang gini aja…Alvin…”
            “iya Tan…??”
            “mulai besok malam kamu akan mengajar Sivia disemua mata pelajaran terutama Matematika, Fisika dan Kimia, les privatnya itu kalian lakukan 3 kali dalam seminggu, yaitu pada hari selasa, rabu dan sabtu….” Alvin tersentak ketika Mama menyebut hari sabtu.
            “HAAAA…?? BERARTI MALAM MINGGU DONG TAN….???”
            “iya…malam minggu, emangnya kenapa Vin…? Kamu gak bisa??” Tanya Mama pada Alvin. Alvin yang memang tidak mau mengecewakan Mama pun akhirnya menyanggupi ucapan Mama. Ia bersedia menghabiskan malam minggunya bersama gadis yang paling lemot yang pernah ia temui itu.

^_^

@Alvin House

            “Arrgghhhh….Bunda… kenapa sih pake ngenalin Alvin segala sama Tante Winda, Bunda tuh, issshhhh….” Protes Alvin pada Bundanya saat ia baru saja pulang dari rumah Sivia. Bunda tersenyum lalu mendekati Alvin,
            “emang kenapa dengan Tante Winda…? Tante Winda kan minta kamu buat ngelesin privat anaknya, karna Bunda tau kamu pinter dan suka berbagi ilmu, kenapa gak sekalian aja kan ngelesin Privat anaknya tante Winda, Tante Winda juga pastilah akan ngegaji kamu, kan lumayan sayang bisa nambah uang saku kamu…”
            “Bukan itu masalahnya Bund…”
            “terus masalahnya dimana….?”
            “anaknya Tante Winda itu lemot, sejak pertama kali ketemu dia udah bikin Alvin kesel, dan satu lagi Ma, anaknya Tante Winda itu…..” Alvin ragu-ragu melanjutkan perkataannya,
            “anaknya Tante Winda kenapa??”
            “anaknya Tante Winda itu suka sama Alvin dan selalu ngejer-ngejer Alvin, Alvin kan risih Bunda, dan gara-gara Sivia, Alvin selalu berantem sama Shilla… gak mau ah Bund,, Bunda ngomong kek sama Tante Winda….”
            “ya udahlah, kesepakatan yang udah dibuat itu gak boleh dibatalin, kalo kamu emang gak mau ngajarin Sivia kenapa gak ngomong langsung tadi ama Tante Winda, dan kenapa malah minta Bunda yang ngomong sama Tante Winda…?”
            “Alvin Cuma gak enak aja sama Tante Winda…”
            “kamu fikir Bunda juga enak ngebatalin kesepakatan yang udah anak Bunda bikin… inget yang selalu Bunda bilang sama kamu sejak kamu mesih kecil, TANGGUNG JAWAB Vin….” Bunda pun meninggalkan Alvin sendiri. Alvin langsung menjatuhkan tubuhnya disofa, ia sudah pasrah, sepertinya Bunda tidak mau membantunya.

^_^

            Ify menunggu kedatangan Rio dengan sabar dikoridor sekolah, Ify bertekad bahwa hari ini juga ia harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Rio. Ify tidak mau masalah ini terus berlarut-larut tanpa penyelesaian.
            Sekitar 8 menit menunggu, Ifypun melihat sosok Rio dari kejauhan. Ify berlari untuk menghampiri Rio. Ify menghentikan larinya tepat dihadapan Rio.
            “Kak, aku harus ngomong sama Kakak tentang ketidakhadiran aku diProm….” Ucap Ify dengan harapan Rio mau mendengarkannya, namun ternyata Rio malah berkata,
            “gak ada lagi yang perlu kamu omongin….” Kata Rio dingin, saat Rio akan melangkah pergi, Ify langsung berkata,
            “malem itu, aku pengeeenn banget dateng Kak, tapi….tapi Ibu aku pingsan Kak, penyakitnya kambuh dan malam itu juga aku harus jagain Ibu dirumah sakit….” Rio tersentak mendengarkan penjelasan Ify. Ternyata ia telah salah paham pada Ify. Ify tersenyum, ia menyeka air matanya lantas berkata,
            “udah Kak, Cuma itu aja yang mau aku jelasin sama Kakak, sekali lagi aku minta maaf karna udah bikin Kakak nunggu, tapi sumpah, aku gak ada niat sedikitpun buat bikin Kakak nunggu apalagi bikin Kakak kecewa, dan yang harus Kakak tau, Ify sayang sama Kakak…” Rio tak menjawab ucapan Ify, ia masih membelakangi Ify. Sekali lagi Ify menyeka air matanya, setelah cukup lama terdiam, Ifypun memutuskan untuk meninggalkan Rio. Beberapa saat setelah Ify pergi barulah Rio menoleh kebelakang tapi Ify sudah tidak ada ditempat. Rio menyesali diri,
            “ya Tuhan….rupanya gue udah salah paham sama Ify, begok lo Yo, harusnya dari kemaren lo dengerin penjelasan Ify bukan malah sok cuek sama dia dan bikin dia sedih, parah lo yo…” ucap Rio pada dirinya sendiri.

            Ify berjalan kekelasnya dengan langkah yang gontai, sepanjang perjalanan Ify terus mengingat Rio. Karna tidak focus saat berjalan Ifypun menabrak seseorang yang ternyata adalah Alvin.
            “maaf….” Ucap Ify tanpa melihat orang yang telah ia tabrak. Alvin yang melihat Ify terlihat sedihpun langsung memegang kedua pundak Ify, Alvin menunduk lalu mengangkat dagu Ify,
            “lo kenapa Fy…?lo abis nangis…?” Tanya Alvin cemas,
            “gak kok Kak…”
            “lo jangan bohongin gue Fy, gue tau lo udah nangis, kenapa? Ini semua karna Rio…?”
            “bukan karna Kak Rio, Kak Rio gak salah, tapi gue yang salah, gue yang begok….”
            “Fy….”
            “udah ya Kak, gue harus masuk kelas….” Ify pun melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya. Alvin langsung berlari hendak menemui Rio.


^_^
            Ify terduduk dengan lemah dibangkunya. Ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Tak lama setelah Ify memasuki kelas Siviapun datang, ia duduk disamping Ify seraya merangkul Ify,
            “IFYYYYYY…..” ucap Sivia antusias. Ify langsung menyeka air matanya dan berusaha terlihat biasa saja didepan Sivia,
            “kenapa lo….??” Tanya Ify heran,
            “tau gak Via seneeengg banget gara-gara nilai UTS Via berantakan….” Mendengarkan ucapan Sivia, dahi Ify langsung mengkerut, rupanya semakin hari kelemotan sahabatnya itu semakin meningkat saja.
            “gila lo, nilai UTS berantakkan kok malah seneng, seneng banget lagi….? Ckckck…”
            “gimana Via gak seneng coba, gara-gara nilai UTS Via berantakan Papa jadi marah-marah sama Via, terus Mama nyari guru privat buat Via…”
            “Terus letak WAW nya itu dimana….??”
            “Letak WAW…..????” Tanya Sivia yang tidak paham maksud pertanyaan Ify,
            “iihhhh…lemot, oon, LOLA…maksud gue, senengnya itu dimana buat lo? Udah diomelin sama Papa lo, dicariin guru privat….” Belum selesai ucapan Ify,Sivia langsung memotong,
            “nah… diguru privatnya itu tempet senengnya….”
            “gu…guru privat….???” Tanya Ify heran,
            “Ify tau gak siapa yang jadi guru privat Via….??”
            “siapa…??”
            “Kak Alvin Fy, Kak Alvin….Yeeee….Via seneng banget, kalo kaya’ gini kan Via bisa deket-deket terus sama Kak Alvin, waaahhh….senengya Via, Tuhan emang baik, Tuhan emang sayang sama Via….” Mendengar ucapan Sivia, Ify langsung termenung dalam hati ia berkata,
            ‘tapi Tuhan gak pernah sayang sama gue….’


^_^

            “ahahahaha….lo jadi guru privatnya si Lemot itu, ahahaha… rasain lo Vin…” ledek Cakka saat Alvin menceritakan semuanya. Saat itu Alvin dan kawan-kawannya sedang berkumpul dikantin. Tak terima mendengarkan ucapan Cakka, Gabriel langsung berkata,
            “namanya Sivia, S I V I A, bukan lemot, okey…??”
            “cieeee….Kakak itemnya ngebelain…” ledek Cakka lagi. Alvin menggebrak meja seraya berkata,
            “udah…udah.. lo itu bukannya prihatin juga ama sohib sendiri, eehh malah diledekin…” kesal Alvin pada Cakka. Cakka langsung terdiam, Gabriel menatap Cakka seraya bergumam pelan,
            “rasain lo…weekkkss…”
            Saat kawan-kawannya sedang bercanda Rio malah diam saja. Tubuhnya memang ada bersama kawan-kawannya, tapi fikirannya melayang entah kemana. Alvin sebenarnya ingin membicarakan sesuatu dengan Rio, tapi karna ada Cakka dan Gabriel, Alvinpun membatalkan niatnya.
            “KAK ALVIIINNNNN….” Ucap Sivia tiba-tiba dari belakang Alvin, Alvin yang waktu itu meneguk teh manisnya tiba-tiba saja tersedak.
            “uhuk..uhuk….” Sivia yang merasa bersalah karna sudah mengejutkan Alvinpun langsung menepuk-nepuk punggung Alvin. Gabriel hanya bisa gigit jari melihat apa yang Sivia lakukan pada Alvin,
            “aduuh Kak Alvin maafin Via ya karna udah bikin Kak Alvin kaget, Via mintaaa maafff banget…” Alvin menghela nafas berkali-kali lalu menyingkirkan kedua tangan Sivia dari punggungnya,
            “gue gak mau maafin lo…! Lagian kenapa sih lo, selalu dateng tanpa diundang…??” Tanya Alvin kesal,
            “jelangkung dong Kak….??”
            “elo tuh yang jelangkung….”
            “tapi kan kalo jelangkung pulangnya gak dianter Kak, Via kan masih dianter sama Om Sopir Bus….”
            “gak usah curhat!” sinis Alvin.
            “Via gak curhat….”
            “udah ah, males gue ngeliat muka lo,,, guys, ayo kita balik kekelas….” Ucap Alvin pada kawan-kawannya. Cakka, Rio dan Gabriel langsung mengikutinya. Sebelum berjalan mengikuti Alvin, Gabriel sempat berkata pada Sivia,
            “sabar ya ayang…”
            “nama Via bukan ayang Kakak item….” Protes Sivia pada Gabriel, Gabriel langsung menelan ludah seraya menggaruk kepalanya. Saat Alvin dan kawan-kawannya keluar dari kantin Sivia langsung berteriak,
            “KAK ALVIN…ENTAR MALEM JANGAN LUPA YAA…” Mendengar teriakan Sivia, Alvin langsung membuka lebar kedua matanya. Cakka merangkul Alvin lantas bertanya,
            “cie…ciee…ada acara apa lo sama dia…??”
            “Ck…apaan sih lo Kka….??”

^_^

            Saat berjalan menuju kelasnya, Sivia melihat pintu ruang music yang sedikit terbuka. Siviapun berjalan kearah ruang music untuk menutup pintu ruang music, tapi tiba-tiba saja Sivia membatalkan niatnya saat ia melihat dua orang yang sangat ia kenal berada didalam sana. Sivia tak berniat menguping, tapi kelaukan dua orang itu yang membuatnya curiga terpaksa membuat Sivia harus mengintip, Sivia tersentak, kedua matanya terbuka lebar saat ia melihat Cakka dan Shilla berciuman.
            Sivia menutup mulutnya menggunakan tangannya, secara perlahan ia mundur. Ia tak menyangka bahwa Shilla yang terlihat baik-baik itu dan terlihat sangat menyayangi Alvin ternyata menghianati Alvin, dan yang lebih parahnya lagi, Shilla menduakan Alvin dengan sahabat Alvin sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah Cakka.
            Saat berjalan mundur, tanpa sengaja Sivia menabrak sebuah bak sampah, bak sampah itu terjatuh dan menghasilkan suara yang lumayan besar. Lagi-lagi Sivia terkejut, sebentar lagi ia pasti ketahuan oleh Cakka dan Shilla. Sebelum Cakka dan Shilla keluar dari ruang music tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulut Sivia dari belakang dan membawa Sivia menjauh dari ruang music…



                                    BERSAMBUNG…..

2 comments: