Sebelumnya…
Via sedikit
menelan ludahnya saat cowok yang menunggangi ninja merah itu membuka kaca helm
full face nya lalu menoleh kearah Via. Saat itu juga, sepasang mata mereka
sama-sama saling bertubrukan satu sama lain, bahkan tanpa bisa mereka hindari.
Dan
Via bisa menangkap dengan sangat jelas, bahwa ada sebentuk luka yang
tersirat dari sorot mata Alvin. Luka itu
sudah pasti disebabkan oleh Via, memangnya siapa lagi? Pergantian dari lampu
merah ke lampu hijau langsung membuyarkan tatapan mereka. Lalu tanpa berkata
apapun pada Via yang sudah jelas-jelas berada didepan matanya, Alvin kembali
melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Memecah jalanan yang padat
merayap dan meninggalkan setitik luka yang lambat laun akan semakin bertambah
dihati yang amat rapuh itu.
Ternyata
Alvin sudah benar-benar melepaskannya.
“kamu
sendiri sama Alvin gimana??”
Pertanyaan
yang Cakka ajukan itu seakan menyentak lamunan Via. Via yang terkesiap langsung
menoleh kearah Cakka dengan pandangan bertanya.
“iya.
Kamu sama Alvin gimana?”
“aku
sama Alvin?” Via menghela napas dan berusaha mengubur dalam-dalam perih
itu. “sepertinya Alvin udah bener-bener
ngelepasin aku…” lanjut Via dengan seulas senyuman miris juga semilir luka yang
menghiasi dinding hatinya.
‘kenapa
rasanya harus semenyakitkan ini saat mendapati lo yang berbeda? Alvin…. Terus
terang gue kangen sama lo….’
***
Part 20 –Last Part-
“Bahkan saat jalan cerita ini sudah mencapai puncak akhirnya… mereka
masih tetap bergeming dalam keheningan perasaan mereka. Membiarkan semuanya
lepas dan terbang tinggi tanpa sepatah kata, tanpa sebentuk kalimat. Dan
disinilah mereka berdiri sekarang, bertahan dengan ketidaktahuan juga ketidakberdayaan
yang lamat-lamat menyisakan sebongkah penyesalan tak berujung….”
Ujian kenaikan kelas semakin
mendekat. Para siswa siswi SMA Patuh Karya pun semakin terlihat giat belajar
tidak terkecuali Alvin. Dan selama menjelang ujian ini Alvin benar-benar
menghilang dari peredaran. Ia bahkan sekarang tidak pernah lagi terlihat
bersama dengan anggota D’CRAG lainnya. Alvin seakan memiliki dunianya sendiri.
Dan Alvin tidak akan pernah keluar dari rumahnya kecuali ia pergi kesekolah dan
melakukan Bimbingan Belajar. Tidak ada yang tahu, dibalik perubahan sikap Alvin
yang secara mendadak ini, ia menyimpan banyak luka dihati. Tidak ada juga yang
pernah mengerti, bahwa Alvin yang selama
ini terkenal kuat ternyata sangat rapuh.
Via langsung menghentikan langkahnya
dan membiarkan Ify dan Shilla berjalan terlebih dahulu meninggalkannya. Rupanya
ada satu sosok yang menarik penuh perhatian Via. Sosok itu terlihat tengah
serius menekuri buku cetak biologinya disebuah bangku panjang yang terdepat
didepan perpustakaan. Tanpa sadar Via terus menatap sosok yang ternyata adalah
Alvin itu bahkan tanpa berkedip. Jauh didalam sana, terbersit sebuah rasa sesal
yang menelusup masuk melalui celah-celah kecil dinding hatinya. Kenapa dulu Via
harus menyia-nyiakan laki-laki sebaik Alvin? Kenapa dulu Via selalu berusaha
menutup mata, hati dan telinganya jika sudah menyangkut perasaan laki-laki itu?
Dan kenapa baru sekarang Via mempertanyakan semuanya, disaat Alvin tidak lagi
menoleh kearahnya, disaat Alvin telah benar-benar lelah dan memilih untuk
menyerah. Kenapa baru sekarang?
Keadaan yang ada sekarang
benar-benar jauh berbeda dari keadaan sebelum-sebelumnya. Alvin yang bahkan
dulu tanpa mengenal lelah mengejar cintanya kini seakan mundur secara perlahan
dan menarik diri dari sisinya.
Satu pertanyaan akhirnya timbul dan
mengusik nuraninya; apa Alvin masih menyimpan perasaan itu untuknya?
Menyadari bahwa Via tertinggal cukup
jauh, Ify dan Shilla langsung menghentikan langkah mereka secara bersamaan.
Mereka pun menoleh kebalakang dan melihat Via yang saat itu ternyata sedang
diam-diam memperhatikan Alvin. Ify dan Shilla saling menatap sejenak, tidak
lama kemudian mereka sama-sama mengangguk lalu melangkah perlahan menghampiri
Via.
“lo kenapa, Vi?” Tanya Ify pelan
sereya menepuk pundak Via. Via yang terkesiap langsung menarik perhatiannya
dari Alvin dan menatap Ify Shilla secara bergantian. Via berusaha tersenyum dan
terlihat tenang, tapi percuma, karna toh baik Ify maupun Shilla sudah terlanjur
melihat dan mengetahui semuanya.
“gue gak apa-apa kok…” jawab Via
yang berusaha terdengar baik-baik saja.
“Alvin?” Tanya Shilla ragu-ragu
sambil menunjuk kearah Alvin.
Via hanya menggeleng yang
mengisyaratkan jawaban tidak.
“kita semua gak buta, Via… kita
semua tau gimana perubahan drastis Alvin saat ini. Dan meskipun kita gak bisa
ngerasain apa yang lo rasain sekarang, tapi kita tau pasti bahwa berada dalam
posisi lo saat ini sama sekali gak mudah Via…” tutur Ify lembut.
“kalian ngomong apa sih? Gue gak
ngerti…” Via pura-pura tidak mengerti. Tapi Ify dan Shilla bisa menangkap
dengan baik sinyal kepura-puraan itu.
“Via….” Shilla memegang kedua pundak
Via lalu melanjutkan perkataannya. “gue sama Ify udah selesein cerita kita masing-masing,
dan lo tau kan, gue sama Ify ngelewatin proses yang bener-bener gak main-main
sampai akhirnya kita bisa nentuin pilihan hati kita. Gue pada akhirnya sama
Gabriel, dan Ify sama Rio, Sekarang giliran lo, Vi! Selesein cerita lo… cerita
lo sama Alvin….”
“tapi diantara gue sama Alvin
bener-bener udah gak ada cerita… Alvin udah ngelepasin gue, Alvin udah nyerah,
Alvin udah… Alvin udah –“
“dan lo mau ikut-ikutan nyerah
juga?” kali ini giliran Ify yang terdengar menimpali. Via hanya menggeleng.
“kalo lo emang sayang sama Alvin,
nyatain yang sebenernya ke dia. Jangan pernah ada kata nanti, karna dibalik
kata nanti telah terselip sebuah penyesalan yang mendalam. Percaya sama gue,
Via….” Ujar Ify pelan, Shilla hanya mengangguk, menyetujui ucapan Ify.
“tapi Alvin… tapi Alvin udah gak
cinta lagi sama gue, dia –“
“darimana lo tau kalo Alvin udah gak
cinta lagi sama lo? Apa Alvin yang ngomong langsung ke elo?” Tanya Shilla yang
merasa sanksi atas pernyataan Via baru saja. Sekali lagi Via hanya bisa menggeleng
tanpa mampu berucap. Dan kini hanya air matanya yang menetes keluar, mewakilkan
segala rasa sesal juga sesak yang menjejali dadanya tanpa ampun.
Dan tiba-tiba saja, pemandangan
Pricilla yang tiba-tiba duduk disamping Alvin lalu bergelayut manja dipundak
Alvin semakin mengundang sesak itu. Ada rasa nyeri yang menggelegak
dijantungnya. Dan Via sama sekali tidak bisa menahan gejolak didadanya saat
Alvin dan Pricilla sama-sama tertawa lepas sambil saling berpandangan satu sama
lain. Lalu dengan santainya, Alvin mengangkat tangan kanannya dan mengusap puncak
kepala Pricilla dengan gemas. Rasanya seperti ada yang luruh disana. Rasa sakit
itu seakan meremas jantungnya tanpa ampun.
“kalian liat itu?” ujarnya dengan
isakkan tertahan seraya menunjuk kearah Alvin dan Pricilla. Ify dan Shilla
hanya mengikuti arah telunjuk Via.
“itu adalah jawaban dari pertanyaan
kalian tadi! Bahwa Alvin emang udah gak cinta lagi sama gue….”
Via lalu melangkah pergi
meninggalkan tempat itu bersama serpihan hatinya yang meremuk dan tidak
berbentuk lagi. Sesakit ini kah rasanya cemburu bercampur penyesalan?
***
Bola yang sejak tadi ada ditangan
Agni tiba-tiba saja direbut oleh seseorang yang tiba-tiba muncul diitengah
lapangan itu bersama dirinya. Menyadari bahwa bola kini sudah tidak ada lagi
dibawah kuasanya, Agni hanya berdecak sinis. Dan ia hanya bisa menahan
kekesalannya saat melihat Cakka dengan santainya memasukan bola itu kedalam
ring.
“SHIT!!” Umpatnya.
Cakka memamerkan senyumannya yang
entah kenapa terlihat begitu mempesona dimata Agni. Tapi keterpesonaan itu
tidak begitu lama menyentuhnya, karna beberapa saat setelah itu Agni langsung
menampakkan kekesalannya pada Cakka karna telah lancang mengganggu latihannya.
“masih shock lo dengan kenyataan
bahwa Via adalah adek lo?” kali ini giliran Agni yang memamerkan senyumannya
sesaat setelah ia mengajukan pertanyaan itu. Bola yang ada dalam dribble-an
Cakka langsung terlepas begitu saja. Ia heran, kenapa Agni bisa begitu dengan
mudahnya menebak apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini? Atau apa
jangan-jangan dirinya yang terlalu gampang dibaca? Atau apa jangan-jangan
pikirannya yang terlampau gampang untuk ditebak?
Melihat perubahan mimic pada wajah
tampan Cakka, mendadak Agni merasa menyesal karna telah melemparkan pertanyaan
itu pada Cakka. Dan kini Agni malah merasa tidak enak hati pada Cakka.
“lupain pertanyaan gue tadi! Gue
Cuma asal ngomong aja kok” putus Agni. Ia berusaha terlihat tenang meskipun
sebenarnya hatinya tidak demikian.
Demi meredam rasa kerisauannya karna
telah salah bicara, Agni pun mengambil bola basket yang tadinya terlepas dari
tangan Cakka dan bergulir tepat didepan kakinya. Agni kembali memulai lagi
permainannya yang tadi sempat berhenti karna kehadiran Cakka yang secara
tiba-tiba.
Tapi Agni lagi-lagi dibuat
ternganga, saat Cakka untuk yang kedua kalinya merebut kembali bola itu dari
tangannya.
“kalo lo kalah, lo harus nyerahin
hati lo ke gue”
“APA??” Kaget Agni, tidak menyangka
Cakka akan berkata seperti itu padanya.
Mungkin bagi Cakka perkataan itu
sama sekali tidak serius dan itu hanya sebuah candaan yang tidak berisi sama
sekali, tapi bagi Agni, kata itu sangat bermakna. Dan tanpa Cakka tahu, aliran
darah Agni langsung berdesir ketika Cakka melemparkan perkataan itu padanya.
Beberapa saat kemudian, Agni
langsung menggelengkan kepalanya, berusaha membuang semua pikiran-pikiran aneh
yang penuh dengan kegeeran yang tiba-tiba saja melintas dikepalanya tanpa ijin.
Dan Agni berusaha bersikap normal lalu meladeni guyonan Cakka tadi.
“gak segampang itu Cakka
Adhirajasa…..”
***
“samperin. Gak. Samperin. Gak.
Samperin!” Alvin menghitung dengan kelima jarinya saat melihat Via yang ketika
itu berdiri didepan sekolah. Mungkin sedang menunggu jemputan. Alvin ingat
bahwa hari ini Cakka sedang melakukan sparing terakhirnya untuk menghadapi
pertandingan basket yang akan diselenggarakan setelah Ujian Kenaikan kelas
nanti.
Alvin memutuskan untuk menunggu dan
diam-diam memperhatikan Via dari dalam mobilnya. Ia melipat kedua tangannya
diatas setir lalu menopang wajahnya dengan pandangan mata yang tidak juga lepas
dari Via.
30 menit berlalu, tapi Via masih
berdiri disana dengan gusar. Alvin kembali menghitung dengan kelima jarinya,
tapi kini ia menggunakan pola yang berbeda.
“gak. Samperin. Gak. Samperin. Gak!
ARRGGHHHH” Alvin mengacak rambutnya frustasi. Ia sangat benci dengan keadaan
sekarang ini. Jika dulu ia bisa dengan mudahnya mengantar jemput Via tanpa
perlu berhitung dengan kelima jarinya dan juga tanpa perlu mendapatkan ijin
yang bersangkutan, tapi sekarang kejadiannya malah berbalik 180 drajat. Bahkan
untuk mendekatinya saja Alvin masih harus berpikir ulang.
Alvin menghela napas panjangnya dan
berusaha meyakinkan hatinya untuk keputusannya kali ini. Gak apa-apa lah
meskipun kena damprat, toh ini mungkin akan menjadi kali terakhirnya bagi Alvin
untuk mengantar Via pulang. Fikir Alvin. Ia lalu menjalankan mobilnya perlahan
lalu berhenti tepat dihadapan Via.
Sekali lagi Alvin menghela napas
panjangnya. Ia berusaha menepikan semua rasa gugupnya, bersikap normal lalu
keluar dari dalam ferarri merah kesayangannya.
Via sedikit terkejut saat melihat
kehadiran Alvin yang secara tiba-tiba, dan perasaan Via semakin tidak menentu
saat Alvin berjalan perlahan menghampirinya.
“lo pulang sama siapa?”
“bukan urusan lo!” sahut Via sinis.
Dan sungguh, itu semua diluar kehendaknya. Tadinya Via ingin menjawab dengan
santai, tapi saat bayangan Pricilla yang sedang bergelayut manja dipundak Alvin
2 hari yang lalu kembali terlintas dikepalanya malah membuat Via tidak bisa
bersikap sewajarnya dihadapan cowok berwajah oriental ini.
“Yo, stop! Stop!” kata Ify
cepat-cepat seraya menepuk pundak Rio beberapa kali. Mendengar instruksi
mendadak dari Ify, Rio langsung mengerem mendadak Cagiva nya.
“kenapa sih, Fy??” tanyanya sedikit
kesal.
“lihat Alvin sama Via deh!” kata Ify
sambil menunjuk kearah Alvin dan Via yang sedang berdiri berhadapan didepan
gerbang sekolah. Rio pun segera mengikuti ucapan Ify. Ia menatap kedua orang
itu dengan pandangan menerawang.
“gue anter yuk! Gue udah lihat lo
disini dari 30 menit yang lalu, dan gue—“
“peduli lo??” potong Via. Sementara
Alvin, ia hanya berusaha untuk tetap sabar menghadapi kekerasan Via.
“gue sangat peduli sama lo, Vi”
“oh ya?? Kata-kata lo itu sebaiknya
lo koreksi lagi deh. Permisi!” pamit Via lalu berjalan melewati Alvin begitu
saja. Dan Alvin sama sekali merasa tidak paham dengan apa yang baru saja Via
ucapkan.
Mengatakan semuanya sekarang atau
tidak sama sekali! Itulah yang adalam pikiran Alvin saat ini. Alvin berdecak,
ia berbalik lalu mengejar langkah Via yang saat itu sudah menyebrangi jalan,
terlihat jelas bahwa Via sedang berusaha mati-matian untuk menghindarinya. Ya,
Alvin sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya sekarang. Bahwa dia adalah
Aphin kecil yang dulu menemuinya dirumah sakit, bahwa hingga detik ini Alvin
masih sangat mencintainya, bahwa hingga sekarang, Alvin tidak bisa
melepaskannya seperti apa yang ia inginkan.
Ketika akan menyebrang, Alvin sama
sekali tidak memperhatikan jalan. Fokusnya saat ini hanya tertuju pada Via yang
sudah berada disebrang jalan. Dan tiba-tiba saja….
“ALVIN AWAAAAASSSSS!!!” Teriak Rio
dan Ify secara bersamaan dari depan gerbang sekolah.
Alvin dan Via sama-sama terkejut.
Alvin menoleh kesampingnya dan melihat sebuah sedan yang saat itu nyaris
menyongsong tubuhnya. Seketika Alvin membeku, pergerakkannya seakan mati.
“ALVIIIINNNNNN!!!” Teriak Via dari
sebrang jalan sambil menutup kedua telinganya dengan tingkat kecemasan yang
sudah mencapai puncak klimaks. Alvin masih membeku. Mendadak pendengarannya
seakan tuli.
Pengemudi sedan itu langsung
mengerem mendadak mobilnya. Dan sedan yang tadinya nyaris saja menyongsong
tubuh Alvin itu berhenti dengan hanya jarak beberapa centimeter saja dari
Alvin, jika tidak begitu mungkin Alvin sudah menjadi korban dalam kecelakaan
itu.
Kepala sang pengmudi tadi menyembul
dari jendela mobilnya. Ia terlihat sangat kesal.
“Heh Dek! Kalo nyebrang liat-liat
dong. Untung gak ketabrak”
Sebelum Alvin menyampaikan
permintaan maafnya, tiba-tiba saja sebuah tangan lembut meraih pergelangan
tangan Alvin lalu menggenggamnya erat.
“maafkan temen saya, Pak…”
Alvin menoleh kesamping dan
mendapati Via yang wajahnya masih memucat. Sesekali juga Alvin melirik
pergelangan tangannya yang terkungkung dalam genggaman tangan Via.
Setelah puas menyampaikan amarahnya yang sama sekali tidak digubris oleh Alvin,
pengemudi itu kembali menjalankan mobilnya setelah sebelumnya Via menarik Alvin
kepinggir jalan.
“LO UDAH GILA??” Bentak Via penuh
emosi sambil menujuk wajah Alvin. Sementara Alvin, ia hanya diam dan pasrah
melihat Via membentaknya seperti ini.
“coba tadi kalo lo ketabrak gimana?
ELO… Elo tuh… ergh….” Via memukul-mukul pelan dada Alvin, kali ini ia sudah
kehabisan kata. Rasa cemasnya pada laki-laki yang ada dihadapannya kini sudah
benar-benar menguras semuanya. Dan tanpa bisa ia tahan lagi, air mata itu
mengalir deras dan membasahi wajahnya.
“kita liat Alvin yuk!” ajak Ify.
“gak usahlah, Fy… kayaknya Alvin dan
Via butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah mereka…” sahut Rio lalu
segera menjalankan motornya meninggalkan sekolah.
“maaf…” lirih Alvin pelan lalu
menahan kedua tangan Via yang memukul pelan dadanya.
“gue gak butuh maaf lo!”
“lo khawatir sama gue??”
“lo jangan geer!” tandas Via cepat
dengan suaranya terdengar serak.
“maaf… maaf udah bikin lo khawatir”
“gue gak kha –“ ucapan Via tiba-tiba
terpotong saat Alvin secara mendadak menarik kedua tangannya dan membawa Via
kedalam dekapan hangatnya.
Kali ini Via tidak melawan. Ia
justru merasa nyaman berada dalam pelukan Alvin. Alvin melafalkan kata maaf
berkali-kali sambil sesekali mengecup puncak kepala Via. Via pun menyandarkan
kepalanya didada bidang milik Alvin lalu menangis sepuasnya disana. Ia berusaha
menyampaikan segala perasaannya juga rasa rindunya melalui tangisannya,
berharap Alvin bisa menangkap semuanya dan mengerti, berharap Alvin akan
kembali memperjuangkannya dan tidak akan pernah melepaskannya lagi. Via
benar-benar menginginkan Alvin yang dulu, Via benar-benar merindukan Alvin yang
dulu. Tapi Via hanya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan semua itu,
menyampaikan sebuah rasa istimewa bernama cinta yang belakangan mulai mewarnai
harinya.
Sementara Alvin, ia hanya bisa
memeluk Via tanpa suara, juga tanpa kata. Satu suara dari lubuk hatinya yang
terdalam seakan berbisik lirih; Mungkin ini kali terakhirnya Alvin bisa memeluk
Via seperti ini…
***
Ujian kenaikan kelas akhirnya datang
juga. Dan Alvin semakin perih membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah
ia melewati ujian. Andai Via memberikan Alvin satu alasan saja yang bisa
membuatnya untuk tetap bertahan disini dan tidak beranjak, mungkin Alvin tidak
akan pernah pergi meninggalkannya, selamanya. Tapi pada kenyataannya, Via tidak
memberikannya satu alasan apapun.
Yang terjadi sekarang malah adalah,
mereka kembali saling menghindari sejak kejadian Alvin nyaris tertabrak
seminggu yang lalu. Dan kejadian saat Via menangis dalam pelukan Alvin
seakan-akan tidak pernah terjadi. Semuanya hanya berlalu tanpa sisa.
“gimana ujian hari pertama lo?”
Tanya Pricilla yang tiba-tiba muncul
disamping Alvin.
“ngagetin aja lo, Priss” ujar Alvin
keki lalu menoyor pelan kepala Pricilla.
“iiiiii…. Alvin reseeeeee!!!!”
“suka-suka gue, wleee…” Alvin
meleletkan lidahnya lalu kabur begitu saja dari hadapan Pricilla.
Pricilla yang merasa perlu membuat perhitungan
dengan Pria menyebalkan itu pun langsung mengejar Alvin dan berusaha
menangkapnya.
“mati lo kalo ketangkep!!”
***
Dan tanpa mereka sadari, ada tatapan
penuh luka yang sejak tadi mengikuti setiap pergerakan yang mereka lakukan. Via
memegangi dadanya, berusaha menahan sesaknya saat menyaksikan keakraban yang
terjalin antara Alvin dan Pricilla. Via tahu bahwa Alvin dan Pricilla sama
sekali tidak memiliki hubungan yang lebih selain persahabatan, tapi entah
kenapa, setelah melihat bagaimana cara Pricilla memandang Alvin, memperlakukan
Alvin, dan memperhatikan Alvin, Via jadi yakin bahwa sesungguhnya Pricilla
memiliki rasa yang lebih terhadap Alvin.
Apa nanti posisinya dihati Alvin
akan berangsur tergeser oleh kehadiran Pricilla? Satu pertanyaan itu tiba-tiba
menjelma menjadi sebuah momok menakutkan bagi Via. Tidak… ia tidak pernah rela
jika posisinya dihati Alvin tergantikan begitu saja oleh sosok Pricilla.
***
3 hari berlalu setelah Ujian
Kenaikan Kelas berakhir, SMA Patuh Karya mengadakan sebuah acara Promnight yang
rutin dilaksanakan setiap tahunnya setelah Ujian Kenaikan Kelas. Dan bagi Via,
ini adalah kali pertamanya ia mengikuti acara Promnight sebagai salah satu
siswi di SMA Patuh Karya.
Saat Via sedang sibuk menyiapkan gaun
yang akan ia kenakan nanti malam di acara Prom, Cakka tiba-tiba masuk kedalam
kamarnya lalu duduk dipinggir ranjangnya.
“sibuk banget ya, Vi…?”
“iya nih, buat ntar malem. Kamu
dateng kan, Kka…?” Tanya Via sambil tetap focus memilih gaun. Cakka terlihat
berfikir sejenak lalu menjawab.
“liat ntar deh…”
“kok liat ntar?” Via berbalik lalu
menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Cakka hanya tersenyum lalu memberi
isyarat pada Via supaya duduk disampingnya. Tanpa pikir panjang lagi, Via
langsung mengikuti isyarat Cakka dan duduk disampingnya.
“masih belum ada kemajuan sama
Alvin?”
Kali ini Via bungkam. Kenapa juga
Cakka harus menanyakan hal itu?
“udahlah Kka… gak usah nanyain itu,
aku males dengernya…”
Cakka merangkul pundak Via lalu
sedikit menariknya hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka. Awalnya Via
kaget dengan apa yang Cakka lakukan itu, tapi mengingat status hubungannya
dengan Cakka kali ini mau tidak mau harus membuat Via membiasakan diri dengan
semuanya.
“dengerin aku. Kalo kamu gak mau
nyesel, sebaiknya kamu ungkapin perasaan kamu ke Alvin…”
“perasaan apa sih??”
“Sivia… kamu gak akan bisa ngelak
lagi. Seluruh dunia juga tahu kalo kamu itu sayang banget sama Alvin…”
“tapi…. Tapi Alvin yang udah gak
sayang lagi sama aku…”
“berarti bener kamu sayang sama
Alvin??”
Bodoh! Rutuk Via dalam hati. Ia baru
menyadari bahwa secara tidak langsung ia telah mengakui perasaannya yang
sebenarnya terhadap Alvin didepan Cakka. Kali ini Via menunduk, berusaha
menyembunyikan rona merah yang mulai terbit dikedua pipinya.
“aku anggep itu jawaban iya. Ini
malem promnight pertama kamu di Patuh Karya, Vi… dan aku harep, kamu bisa
memberikan kesan yang indah di promnight pertama kamu ini. Asal kamu tau, aku
kenal Alvin sejak kecil, aku tau betul semua tentang dia, dan saat Alvin berada
dititik lelah perjuangannya dan menyatakan dirinya menyerah, Alvin tidak
sepenuhnya menyerah. Dan sekarang, giliran kamu yang memperjuangkan Alvin…
perjuangkan dia sekuat kamu bisa. Jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari
Via….”
Via terlihat mencerna baik-baik
ucapan Cakka itu. Merasa bahwa Via mulai menerima apa yang ia sampaikan itu, Cakka tersenyum penuh
pengertian lalu bangkit dari sisi Via. Dan tepat saat Cakka akan keluar dari
kamar Via, Via buru-buru berdiri, ia melangkah cepat lalu memeluk Cakka dari
belakang.
“terimakasih Kak Cakka…”
Alvin adalah miliknya. Itulah
keyakinan yang sekarang terpatri dalam diri Via.
***
Via keluar dari Jaguar Hitam milik
Cakka dengan mengenakan gaun selutut tanpa lengan berwarna baby pink, ia juga
menggunakan sepasang wedges putih yang warnanya senada dengan tas tangan yang
ia bawa. Rambut sebahunya ia gelung keatas tanpa hiasan kepala apapun. Dan
polesan make up natural yang menghiasi kulit wajahnya semakin membuatnya
terlihat manis. Penampilan Via malam ini cukup simple namun begitu mempesona.
Sementara Cakka, ia datang ke
Promnight malam ini hanya dengan menggunakan kemeja putih yang ia lipat sampai
siku. Kemeja putih itu padukan dengan celana jeans hitam. Sama seperti Via,
malam ini penampilan Cakka terlihat cukup simple. Tapi meskipun simple, hal itu
sama sekali tidak mengurangi kadar rasa kagum para penggemarnya.
Via mengamit lengan Cakka, mereka
berdua pun berjalan beriringan memasuki aula sekolah, tempat acara promnight
diselenggarakan. Setibanya didalam aula, alunan music yang cukup menghentak
langsung menyambut kedatangan mereka.
Via menyapu pandangannya kesegala
arah untuk mencari satu sosok special pemilik tunggal hatinya sekarang ini, tapi
hingga jauh ia melihat ia tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan Pria itu.
Alvin.
“Vi… aku ke Rio sama Gabriel dulu
ya?” pamit Cakka.
Via hanya mengangguk, memberi ijin
pada Cakka. Beberapa saat setelah kepergian Cakka, Via tahu-tahu dikagetkan oleh
kehadiran Pricilla yang secara tiba-tiba.
“hey…” tegur Pricilla dengan
bersahabat, berusaha melupakan masalah yang terjadi diantara mereka
akhir-akhiran ini.
“Priss…?” sapa Via sedikit canggung.
“lagi nyari Alvin ya??” tanyanya
seraya merangkul pundak Via. Malam ini juga Pricilla terlihat sangat cantik
dengan Gaun Hitamnya.
Mendengar pertanyaan Pricilla itu,
Via langsung menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal lalu mengangguk
dengan malu-malu. Pricilla tersenyum jahil saat itu juga.
“Alvin ada kok tadi, sekitar 15
menit yang lalu, tapi kok sekarang ngilang yaa??” ujar Pricilla sambil
mengedarkan pandangannya ke segala arah, berusaha mencari sosok Alvin yang
sekitar 15 menit yang lalu masih bersamanya.
“mungkin Alvin keluar, tapi bentar
lagi dia pasti bakalan balik” kata Pricilla, berusaha menenangkan Via yang
malah terlihat risau beberapa saat setelah Pricilla mengatakan bahwa Alvin
menghilang.
“Priss…”
“hmm…”
“maafin gue ya?”
“buat?”
“buat semuanya. Gue udah banyak
salah sama lo”
Pricilla berbalik, ia memegang kedua
pundak Via lantas berkata,
“lo sama sekali gak ada salah sama
gue, Vi… kalo lo diharusin untuk minta maaf itu bukan sama gue… tapi sama
Alvin. Asal lo tau, Alvin sayang banget sama lo, Vi. Saking sayangnya dia
bahkan rela ngelakuin segala hal buat lo, dan Alvin juga –“ Pricilla
menggantungkan kalimatnya, dan ia tampak ragu-ragu melanjutkan perkataannya.
“Alvin juga kenapa, Priss?” Tanya
Via yang perasaannya mulai tidak enak. Entah kenapa firasat buruk tiba-tiba
saja mendekap erat dirinya.
“sebenernya Alvin ngelarang gue buat
ngomongin ini ke elo, but I think..
sudah saatnya lo tau tentang semua ini…”
“ma… maksud lo apa Priss?”
“Alvin, Vi… hhh…” Pricilla menghela
napas panjangnya dan berusaha meyakinkan hatinya. “ Alvin yang udah donorin
ginjalnya buat lo…”
“a… apa Pris?? A… Alvin…? Alvin?”
Bagai menerima sebuah hantaman keras
tepat dijantungnya. Pernyataan Pricilla barusan benar-benar menyesakkannya.
“iya Vi… dia yang rela ngasih
separuh hidupnya buat lo, dan semua itu dia lakuin, karna dia sangat mencintai
lo…”
Dan entah apa lagi yang Pricilla
katakan, indera pendengar Via sudah tidak lagi mampu menangkapnya. Saat ini
yang ada dipikirannya hanyalah pengorbanan Alvin yang begitu manis padanya. Via
lalu mencoba membandingkan pengorbanan Alvin ini dengan semua sikap-sikap tidak
mengenakkan yang selama ini ia tunjukan pada Alvin, dan ketika ia menemukan
sebuah perbandingan yang begitu mencolok, Via seakan kehilangan keseimbangan
tubuhnya, dan ia merasa sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri diatas
kedua kakinya sendiri. Via langsung ambruk dan terduduk dilantai dengan
linangan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya. Alvin… kenapa Pria
itu begitu mencintainya dan rela memberikan separuh hidupnya hanya untuknya
yang selama ini bahkan enggan menoleh kearah Alvin?
“Via…” panggil Pricilla pelan sambil
menyentuh pundak Via. Tapi Via tidak menjawab. Pikirannya saat ini benar-benar
kalut. Yang ada diotaknya sekarang hanyalah, ia ingin segera menemui Alvin,
memeluk Alvin dan mengatakan pada Pria itu bahwa Via sangat mencintainya.
Flashback~
“terus kapan lo akan operasi?”
“gue nggak tau. Dokter Aninda yang tau…”
“lo harus operasi secepetnya ya? Dan lo harus
janji sesuatu sama gue…”
“apa?”
“lo harus sembuh. Lo harus baik-baik aja…”
“pasti…”
--------------------------------------------
“apa sih mau
lo?!” Tanya Via sinis seraya menatap Alvin yang sudah duduk disebelahnya dengan
tatapan benci.
Alvin
tidak menanggapi pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting itu. Baru saja
ia akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba Alvin merasakan sakit dibagian
pinggangnya. Ini pasti bekas luka operasi itu. Fikirnya. Rasa sakit itu timbul
lagi karna baru saja Alvin memaksakan dirinya mengangkat tubuh Via, dan Alvin
seharusnya tidak melakukan hal itu mengingat bekas luka operasinya yang belum
sembuh total.
Alvin
memejamkan matanya, dan berusaha meredam rasa sakit yang kelamaan semakin
menyiksa itu. Menangkap ada sesuatu yang aneh dari gelagat Alvin membuat Via
langsung cemas. Ia bahkan lupa kalau beberapa menit yang lalu ia sempat
bertengkar dengan Alvin.
“elo
kenapa, Vin….?”
Alvin
menggeleng, ia langsung menegakkan tubuhnya saat rasa sakit itu berangsur
menghilang. Semoga akibatnya tidak fatal. Harap Alvin dalam hati.
Flashback off~
Perasaan Via makin tidak karuan saat
ingatan-ingatan itu seakan berdesakkan muncul dan memenuhi ruang dikepalanya.
Kuota udara yang ada disekitarnya semakin menipis, dan kali ini ia sudah tidak
bisa lagi menahan isakkannya agar tidak keluar.
Via lalu merasakan ponselnya
bergetar menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Via buru-buru membuka tas
tangannya lalu membaca singkat yang ternyata dikirimkan oleh Alvin.
=======================
From: Alvin Aryadinata
Lo bisa ke tap gedung sekolah
Skrg? Ada yg mau gue tunjukin.
Gue tunggu!
=======================
Sekuat tenaga Via mencoba
mengumpulkan kekuatannya lalu bangkit dari keterpurukannya. Dan tanpa
mengucapkan apapun pada Pricilla, Via langsung berlari meninggalkan aula
sekolah hendak menuju ke atap sekolah. Tempat dimana saat ini Alvin sedang
menunggunya. Dan Via tidak ingin membuat Alvin menunggu lama, tidak setelah ia
menyakiti perasaan Pria itu secara bertubi-tubi.
Bayang-bayang kebersamaannya dengan
Alvin dulu mengiringi setiap langkah kaki Via menuju keatas atap gedung
sekolah. Dan semua ingatan itu justru semakin menimbulkan sesak bercampur sesal
yang memenuhi dadanya.
5 menit kemudian, tibalah Via diatap
gedung sekolah, tapi yang mengherankan adalah, Via tidak menemukan sosok Alvin
disana. Dan Via dibuat tercengang saat melihat ratusan lilin kecil membentuk
kata ‘I LOVE U’ tersusun dengan rapi ditengah-tengah. Via membekap mulutnya
lalu berjalan perlahan mendekati lilin-lilin itu.
Dan perhatian Via kali ini tertuju
pada sebuah meja kecil yang terletak disamping susunan lilin-lilin kecil itu.
Diatas meja itu, terdapat sebuah boneka teddy bear, setangkai bunga krisan
putih favoritnya, dan sebuah amplop berwarna cokelat dan bermotif teddy bear.
Via mendekati meja itu, ia meraih
boneka teddy bear itu lalu memperhatikannya sebaik mungkin. Tidak lama
kemudian… degh… Via sangat mengenal boneka ini, boneka ini adalah boneka
pemberian Mamanya yang hilang 7 tahun yang lalu.
Suasana langsung hening. Tidak ada
suara apapun yang terdengar kecuali suara desiran angin malam yang menerpa
tubuh Via. Bagaimana bisa boneka ini ada
disini? Itulah sebentuk pertanyaan yang timbul diotak Via. Via memeluk
erat boneka itu sembari berfikir, berusaha menghubungkan potongan-potongan
kejadian dimasa lalu dengan semua apa yang terjadi sekarang ini.
Via lalu meraih amplop cokelat itu dan membaca isinya. 2 menit
kemudian, tepatnya setelah Via selesai membaca surat yang ternyata dari Alvin
itu, untuk yang kedua kalinya, Via kembali ambruk. Kertas surat itupun terlepas
begitu saja dari tangannya. Kenyataan demi kenyataan yang kini menghampirinya
ini seakan memberikan tamparan bertubi-tubi diwajahnya.
Via semakin mempererat pelukannya
pada boneka teddy bear itu. Ternyata Aphin kecil yang selama ini mimpikan
adalah…. Alvin. Via menjerit histeris saat itu juga.
“APHIIIIIIINNNNNNNNNN!!!!”
Kenapa disaat ia telah mengetahui
semuanya, Alvin justru pergi jauh meninggalkannya bahkan sebelum Alvin sempat
mempertanyakan perasaan Via padanya.
“kau tak sempat
tanyakan aku
Cinta kah aku padamu…”
“kenapa lo pergi Alvin?? Kenapa??
Hiks hiks… lo bahkan pergi sebelum lo nanya apa gue cinta atau gak sama lo… INI
GAK FAIR BUAT GUE ALVIN….. INI GAK FAIR!!!” Teriak Via frustasi sambil terisak. Jantungnya seakan
diremas oleh sepasang tangan raksasa dengan bringas. Sesak… sesak itu kian
gencar menyiksanya.
Benarkah kisahnya berakhir seperti
ini? Berakhir begitu saja tanpa penyelesaian?
***
Via…
Gue gak tau harus memulai darimana tentang boneka teddy
bear lo ini, gue juga bingung gimana cara memulai cerita gue.
Lo inget sosok Aphin kecil yang dulu menghampiri dan
menyapa lo dirumah sakit? Hehe.. sepertinya lo gak inget ya? Sosok Aphin kecil
itu adalah gue, Vi… atau lo inget gak sama Ibu-Ibu yang bawa Mama lo kerumah
sakit waktu itu? Itu Mami gue Via… waktu ambulance dateng, dengan paniknya lo
ikut masuk ke ambulance bersama Mama lo, dan lo sama sekali gak sadar kalo
boneka teddy bear lo ketinggalan. Gue akhirnya ngambil boneka itu dan berfikir
untuk mengembalikannya ke elo, tapi sebelum gue sempet mengambalikannya, lo
malah sudah pergi gak tau kemana.
Pada akhirnya gue memutuskan untuk menyimpan boneka lo
ini. Sejak pertemuan kita untuk yang pertama kalinya dirumah sakit 7 tahun yang
lalu, hingga pada akhirnya kita bertemu lagi untuk yang kedua kalinya di
sekolah, gue gak pernah sedetik pun melupakan lo. Bayang-bayang Andrea kecil
terus melekat erat diotak dan hati gue, dan dalam penantian gue selama 7 tahun
ini, gue selalu berharap bisa ketemu sama lo lagi dan mengembalikan boneka ini.
Dan saat kita ketemu, kenyataan yang ada malah
menghempaskan gue. Ternyata lo yang selama ini gue tunggu, gak pernah inget sama
sosok Aphin kecil.
Harusnya gue sadar, kalo dari awal pertemuan kita 7 tahun
yang lalu, gue emang gak pernah terlihat dimata lo, gue gak berarti apa-apa
buat lo. Tapi dengan gak tau dirinya, gue malah mati-matian mempertahankan lo
dan memaksa lo untuk jadi pacar gue. Dan sekarang gue akui kalo gue salah… gue
minta maaf sama lo Andrea…
Tapi apapun keadaannya sekarang, gue tetep sayang sama
lo, dan gue gak pernah merasa menyesal sedikitpun karna udah nungguin lo selama
7 tahun lamanya, memperjuangkan lo, dan mengorbankan banyak hal buat lo.
Terimakasih karna telah mengajarkan gue, bahwa cinta gak
selamanya harus saling memiliki. Awalnya gue fikir itu munafik, tapi disaat gue
ngerasain hal itu langsung, gue jadi mengerti… dan itu semua karna lo, Sivia…
Lo mungkin memang bukan milik gue, tapi asal lo tau… hati
gue ini, selalu akan jadi milik lo. Selamanya…
Maaf kalo gue pergi gitu aja tanpa pamit sama lo. Tapi
gue pikir, percuma pamit sama lo, toh lo gak akan pernah peduli semua apapun
menyangkut gue.
Sekali lagi gue bilang… gue sayang sama lo Sivia….. gue
cinta sama lo….
Kalo gue gak bisa jadi sosok yang lo cintai, seenggaknya
gue mau jadi boneka teddy bear
kesayangan lo yang bisa lo peluk setiap saat. Hahaha… Via… I Just Wanna
Be your Teddy Bear..
I Love you and goodbye…
-Alvin-
***
“gue juga cinta sama lo Alvin… gak
peduli sampai kapanpun itu, gue janji akan selalu nungguin kembali, disini… lo
milik gue, dan gue Cuma milik lo. Selamanya…”
THE END….