Sunday, March 23, 2014

0

You’re Mine [Epilog: Saat Takdir Membawamu Kembali]












                                               

10 Years Later…


            1 Dekade ia lewati sendiri menunggu sesuatu yang tak pasti. 1 Dekade ia lewati sendiri, berjalan ditengah lorong yang gelap dengan meraba-raba mencari sebuah pegangan.
            Dan 1 dekade ini, adalah 10 tahun terberat yang pernah ia lewati. Melangkah ditengah terjal yang berliku, berusaha menggapai sebuah harapan yang ternyata adalah sebuah fatamorgana semu. Setiap saat ia ingin berhenti, setiap saat ia ingin mundur, setiap saat juga rasanya ia ingin menyerah. Tapi bayang-bayang yang merupakan objek penantian itu seakan tersenyum padanya dan berkata: “terus melangkah… sedikit lagi… sedikit lagi”
            Pada akhirnya, meskipun terseok dan harus tertatih, ia tetap menyeret langkahnya menuju ujung lorong itu dan menggapai seberkas cahaya.
            Meskipun harus jatuh bangun berkali-kali karna tidak memiliki sebuah pegangan, ia tetap berusaha melawan rasa lelah yang muncul dalam sebuah titik-titik kecil itu, yang lambat laun akan menjelma menjadi sebuah gumpalan…



***

            Pria berkulit putih dan berwajah oriental itu berjalan dengan santainya sambil menyeret kopernya dikoridor sebuah bandara. Dan saat tiba diluar, seseorang yang merupakan orang kepercayaan Ayahnya langsung membukakan pintu mobil untuknya. Setelah melempar senyumnya, ia langsung masuk kedalam mobil dan duduk dengan nyamannya di jok belakang.
            Merasa sangat lelah karna baru saja melakukan sebuah perjalanan jauh membuatnya langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran jok. Ia memejamkan matanya lalu berusaha menghilangkan penat yang menderanya. Saat ini yang ia butuhkan hanyalah istirahat sejenak.

            “Pak Anjas” panggil pria itu sambil tetap memejamkan kedua matanya.

            “iya…” sahut seseorang yang duduk disamping supir sambil menoleh kebelakang. Ia adalah Pak Anjas, salah seorang sekertaris kepercayaan Ayahnya.

            “saya mau turun disini!” ujarnya lalu membuka kedua matanya. Pak Anjas sedikit terheran, kenapa tiba-tiba ia ingin turun disini?

            “tapi rumah anda masih jauh…”

            “tidak, saya tidak ingin pulang, dan saya ingin turun disini”

            Sadar bahwa Dokter Muda itu tidak menginginkan sebuah bantahan, Pak Anjas langsung meminta pada Sang Supir untuk menghentikan mobilnya. Setelah pamit pada seketaris kepercayaan Ayahnya, Pria itu langsung melangkah pergi dengan santainya. Ia memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana kainnya. Terlihat sangat tenang, entah ia ingin pergi kemana setelah ini, ia sendiripun tidak tahu. Ia hanya mengikuti perintah hatinya saja.



***


            Wanita berambut sebahu itu langsung merapatkan blezernya saat hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Meskipun saat ini ia sedang berada dalam sebuah ruangan café favoritnya, tapi tetap saja ia masih bisa merasakan hawa dingin yang menusuk. Dari balik jendela kaca, ia bisa menyaksikan hujan turun dengan derasnya. Ia selalu suka hujan dan berharap hujan akan mengikis luka hatinya yang selama 10 tahun terakhir ini tidak juga menemui obatnya. Wanita itu mengambil secangkir cappuccino yang sejak tadi terhidang dihadapannya, ia menyeruputnya perlahan lalu kembali meletakkannya diatas tatakan.
            Mendadak, sebuah ingatan dari masa lalunya berpandar kembali dikepalanya seperti sebuah potongan film yang diputar ulang.


Flashback~


“I LOVE… bugh!” tanpa sengaja Alvin menubruk tubuh seseorang yang saat itu ternyata sedang berdiri dibelakangnya. Kedua mata Alvin terbuka maksimal. Dia? Alvin menubruk dia, Gadis Krisan yang kemarin ia potret secara tidak sengaja, dan sekarang dia ada disini, berdiri dihadapan Alvin dengan raut wajah heran. Inilah dia, Gadis yang bisa membuat Alvin semalaman suntuk tidak bisa tidur karna memikirkan dia, INI DIA! Bathin Alvin berteriak sekeras mungkin.
            “YOU…” Seakan terhipnotis oleh kecantikan Gadis yang ada dihadapannya ini, Alvin melanjutkan perkataannya tadi. Gadis itu semakin heran, keningnya sedikit berkerut karna bingung.
            “maaf?” ucap Gadis pelan. Alvin hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu tanpa sadar Alvin kembali berkata,
            “I love you… I love you so much….”
Sementara Gabriel yang berdiri tepat dibelakang Alvin, langsung menepuk keningnya sendiri. Sahabatnya yang satu ini sudah benar-benar gila. “Oh My God, Alviiinnn…..!!!” rutuk Gabriel pelan.
“maksud lo?” Tanya Gadis itu –lagi- dengan salah satu alis terangkat. Ia sempat melirik bed nama milik Alvin yang tertera diseragamnya. Alvin terpaku, pesona Gadis ini benar-benar membiusnya hingga menulikan pendengarannya dan membuat lidahnya terasa kelu dengan senyuman membeku.
            Gabriel yang merasa perlu turun tangan langsung menyelesaikan semua kegilaan ini, langsung merangkul pundak Alvin yang masih terpaku, dan yang lebih gilanya lagi, Alvin sama sekali tidak menyadari bahwa kini lengan Gabriel telah terlingkar dipundaknya dan telah siap membawanya pergi dari hadapan Gadis itu sebelum ia melakukan tindakan-tindakan aneh diluar nalar. Gabriel tersenyum pada Gadis itu lantas berkata,
            “maafin teman gue ya? Dia emang sedikit nggak waras, otaknya lagi rusak dan belum sempat disetting di Dokter Hewan”


Flashback off~

            Via tersenyum saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Alvin 10 tahun yang lalu. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, tapi tetap saja rasanya baru kemarin. Dan suara deringan ponselnya tiba-tiba saja menyentak Via dan menariknya kembali dari lamunan panjangnya. Via menggelengkan kepalanya sekilas lalu mengangkat telefonnya.

            “hallo, Kka….”

            “…….”

            “aku lagi di café, tapi ini udah mau balik kok”

            “………”

            “aku kan bawa payung. Udah gak usah cemas gitu…”

            “……..”

            “oke… sampai ketemu dikantor”

            Via kembali memasukan ponselnya kedalam tas, karna terburu-buru Via sampai melupakan payung yang tadi ia bawa.



***

            Hujan yang tiba-tiba turun secara mendadak akhirnya dengan terpaksa menyeret langkah Pria berwajah oriental tadi memasuki sebuah café. Bertepatan saat ia memasuki café itu, seorang wanita yang Nampak buru-buru tanpa sengaja menubruk tubuhnya.

            “aw…” ringisnya sambil mengusap bahunya.

            “maaf… maaf… gak sengaja” ujar wanita itu sambil tetap focus dengan layar ponselnya dan berlalu begitu saja bahkan tanpa sedikitpun memperlihatkan wajahnya pada seseorang yang baru saja ia tubruk.
            Pria oriental tadi hanya menggelengkan kepalanya beberapa melihat sikap ‘kurang sopan’ yang ditunjukan oleh wanita itu. Tapi toh Pria itu sama sekali tidak peduli, bukankah ia juga seperti itu?

            Pria yang ternyata adalah Alvin itu memilih untuk duduk didekat jendela kaca. Ia sengaja memilih tempat duduk didekat jendela karna ia ingin menyaksikan hujan. Alvin lalu melipat kedua tangannya diatas maja. Ekor matanya tiba-tiba saja menangkap sebuah payung milik seseorang yang tertinggal disamping meja.
            Saat seorang pelayan café tiba-tiba datang dan menghampirinya, Alvin langsung menarik tatapannya dari payung yang entah kenapa mencuri perhatiannya itu.

            “pesan apa, Mas?” Tanya sang pelayang café dengan ramah.

            “satu cappuccino” jawab Alvin seraya mengacungkan jari telunjuknya. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu langsung pergi meninggalkan Alvin.


Beberapa saat kemudian…

            “maaf… apa disana payung saya sama masih ada?” Tanya seseorang tepat dari belakang punggung Alvin.

            Alvin kontan menoleh. Dan… mereka sama-sama terkejut bukan main saat melihat wajah masing-masing. Rasa rindu dan semua warna rasa yang tidak mereka mengerti seakan berbuat gaduh jauh didalam sana. Via merasakan kedua matanya mulai memanas dan berangsur berembun. Benarkah ini Alvin? Satu-satunya sosok pria yang rela membuatnya menunggu hingga 10 tahun lamanya? Benarkah ini Alvinnya? Yang 10 tahun yang lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit? Apakah ini benar-benar Alvin? Alvin yang telah rela memberikan separuh hidupnya untuk Via?
            Itulah sekelebat pertanyaan yang timbul secara membabi buta diotak Via. Dan tanpa bisa ia tahan lagi, bulir-bulir air mata itu seakan tumpah dan membasahi wajah cantiknya.

            “Vi…. Via…?” Alvin bangkit dari duduknya lalu berusaha menggapai wajah Via dengan kedua tangannya. Tapi sebelum tangan milik Alvin menyentuh wajahnya, Via buru-buru menghindar dan menepisnya. Alvin langsung mencelos. Apa ini balasan atas rindunya selama 10 tahun ini?

            “kamu… adalah laki-laki terjahat yang pernah aku temui seumur hidupku…” ucap Via pelan namun penuh tekanan.

            “Via… kamu –“

            PLAK! Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat tepat dipipi kanan Alvin.

            “kamu seharunya gak pernah kembali… gak pernah…”

            Itulah ucapan terakhir Via sebelum akhirnya ia berlari dan pergi meninggalkan Alvin. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Alvin langsung berlari keluar mengejar Via dan menembus hujan. Sekarang Alvin sudah tidak peduli lagi dengan apapun, yang Alvin tahu, ia sangat merindukan Gadis itu, yang Alvin tahu hingga detik ia masih mencintai gadis itu. Dan dari dulu hingga sekarang, perasaannya tidak pernah berubah meskipun itu hanya setitik. Cinta dan hatinya hanya milik Gadis itu.

            “Via tunggu!!” Alvin meraih pergelangan tangan Via lalu menarik Via hingga dekat dengannya. Semakin Via memberontak dalam kungkungannya, maka semakin erat pula genggaman tangan Alvin pada pergelangan tangan gadis itu. Dan Alvin membiarkan hujan mengguyur tubuh mereka.

            “aku mohon jangan pergi dulu, Via… aku mohon….”

            “kamu yang udah pergi dari hidup aku… kamu yang udah ninggalin selama 10 tahun dan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kamu jahat, kamu jahat!!”

            “Via aku… aku minta maaf untuk itu, aku Cuma… aku Cuma –“

            “aku sayang sama kamu, Alvin…. Aku cinta… tapi kenapa disaat rasa itu tumbuh kamu malah pergi gitu aja? Kenapa kamu gak pernah jujur kalo kamu adalah Aphin, KENAPA??”

            “karna aku pikir kamu sudah tidak mengingat Aphin lagi… karna –“

            Untuk yang kedua kalinya, Via lagi-lagi menghadiahkan sebuah tamparan diwajah Alvin.

            “kamu tahu gimana rasa sakitnya menunggu tanpa kepastian? Kamu tahu gimana tersiksanya aku menahan rindu selama 10 tahun terakhir ini? Kamu gak tau kan, Vin… iya kan? Disini rasanya Sakit Alvin, sakiitttt sekali…” ucap Via terisak sambil menunjuk dadanya.

            “kamu bahkan pergi tanpa berusaha mempertanyakan perasaan aku ke kamu, dan kamu pergi Cuma ninggalin secarik surat yang aku dan kamu tahu bahwa secarik surat aja gak akan cukup menggantikan semuanya, gak pernah cukup…”

            “maaf…” lirih Alvin penuh penyesalan.

            “maaf kamu udah gak ada artinya lagi… aku udah terlanjur sakit, Alvin….”

            Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung menarik Via kedalam pelukannya dan memeluk Gadis itu dengan seerat mungkin. Berusaha menumpahkan rasa rindunya yang seakan menggebu tanpa ampun.

            “lepasin aku… lepasin!!” pintu Via seraya memukul dada bidang milik Alvin beberapa kali. Alvin hanya menggeleng dan malah semakin mempererat pelukannya.

            “kamu boleh marah sama aku… kamu boleh benci sama aku, kamu boleh memaki aku sesuka hati kamu… tapi tolong jangan pernah menangis karna aku… jangan pernah meneteskan setitikpun air mata karna aku yang udah pergi ninggalin kamu… jangan pernah…”

            “tapi kamu selalu buat aku nangis selama 10 tahun ini” ujar Via yang mulai terdengar melembut. Dan sepertinya Via sudah mulai luluh dalam pelukan Alvin.

            “apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku?” Tanya Alvin sungguh-sungguh lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dipuncak kepala Via. Dan mereka semakin tidak peduli, saat hujan semakin deras mengguyur mereka.

            “apa kamu akan melakukan apapun yang aku minta?” Tanya Via memastikan. Alvin hanya mengangguk.

            “kalo begitu jangan pernah pergi lagi dari hidupku. Tetap disamping ku apapun yang terjadi…”

            “tanpa kamu minta pun aku pasti akan melakukan itu…”

            “apa kamu masih mencintai aku?”

            Alvin terdiam sejenak. Ia lalu melepaskan pelukannya dari Via dan memegang kedua pundak Gadis itu.

            “apa pertanyaan itu masih perlu aku jawab?”

            Via hanya mengangguk. Alvin menghela napas panjangnya. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Via lalu dalam sekejab menghapus jarak diantara mereka. Via memejamkan matanya saat bibir Alvin yang terasa dingin menyentuh permukaan bibirnya.

            “aku masih sangat mencinta kamu, Sivia…” bisik Alvin pelan lalu kembali membawa Via kedalam pelukannya.

            “jangan pernah tinggalin aku lagi! Kamu milikku, Cuma milikku…”

            “aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi, karna aku milik kamu, Cuma milik kamu….”









***

0

You're Mine -Last Part- [Part 20 : I Just Wanna Be Your Teddy Bear]












Sebelumnya…



            Via sedikit menelan ludahnya saat cowok yang menunggangi ninja merah itu membuka kaca helm full face nya lalu menoleh kearah Via. Saat itu juga, sepasang mata mereka sama-sama saling bertubrukan satu sama lain, bahkan tanpa bisa mereka hindari.
            Dan Via bisa menangkap dengan sangat jelas, bahwa ada sebentuk luka yang tersirat  dari sorot mata Alvin. Luka itu sudah pasti disebabkan oleh Via, memangnya siapa lagi? Pergantian dari lampu merah ke lampu hijau langsung membuyarkan tatapan mereka. Lalu tanpa berkata apapun pada Via yang sudah jelas-jelas berada didepan matanya, Alvin kembali melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Memecah jalanan yang padat merayap dan meninggalkan setitik luka yang lambat laun akan semakin bertambah dihati yang amat rapuh itu.

            Ternyata Alvin sudah benar-benar melepaskannya.


            “kamu sendiri sama Alvin gimana??”

            Pertanyaan yang Cakka ajukan itu seakan menyentak lamunan Via. Via yang terkesiap langsung menoleh kearah Cakka dengan pandangan bertanya.

            “iya. Kamu sama Alvin gimana?”

            “aku sama Alvin?” Via menghela napas dan berusaha mengubur dalam-dalam perih itu.  “sepertinya Alvin udah bener-bener ngelepasin aku…” lanjut Via dengan seulas senyuman miris juga semilir luka yang menghiasi dinding hatinya.



            ‘kenapa rasanya harus semenyakitkan ini saat mendapati lo yang berbeda? Alvin…. Terus terang gue kangen sama lo….’






***


Part 20 –Last Part-



“Bahkan saat jalan cerita  ini sudah mencapai puncak akhirnya… mereka masih tetap bergeming dalam keheningan perasaan mereka. Membiarkan semuanya lepas dan terbang tinggi tanpa sepatah kata, tanpa sebentuk kalimat. Dan disinilah mereka berdiri sekarang, bertahan dengan ketidaktahuan juga ketidakberdayaan yang lamat-lamat menyisakan sebongkah penyesalan tak berujung….”




            Ujian kenaikan kelas semakin mendekat. Para siswa siswi SMA Patuh Karya pun semakin terlihat giat belajar tidak terkecuali Alvin. Dan selama menjelang ujian ini Alvin benar-benar menghilang dari peredaran. Ia bahkan sekarang tidak pernah lagi terlihat bersama dengan anggota D’CRAG lainnya. Alvin seakan memiliki dunianya sendiri. Dan Alvin tidak akan pernah keluar dari rumahnya kecuali ia pergi kesekolah dan melakukan Bimbingan Belajar. Tidak ada yang tahu, dibalik perubahan sikap Alvin yang secara mendadak ini, ia menyimpan banyak luka dihati. Tidak ada juga yang pernah mengerti, bahwa Alvin yang  selama ini terkenal kuat ternyata sangat rapuh.
            Via langsung menghentikan langkahnya dan membiarkan Ify dan Shilla berjalan terlebih dahulu meninggalkannya. Rupanya ada satu sosok yang menarik penuh perhatian Via. Sosok itu terlihat tengah serius menekuri buku cetak biologinya disebuah bangku panjang yang terdepat didepan perpustakaan. Tanpa sadar Via terus menatap sosok yang ternyata adalah Alvin itu bahkan tanpa berkedip. Jauh didalam sana, terbersit sebuah rasa sesal yang menelusup masuk melalui celah-celah kecil dinding hatinya. Kenapa dulu Via harus menyia-nyiakan laki-laki sebaik Alvin? Kenapa dulu Via selalu berusaha menutup mata, hati dan telinganya jika sudah menyangkut perasaan laki-laki itu? Dan kenapa baru sekarang Via mempertanyakan semuanya, disaat Alvin tidak lagi menoleh kearahnya, disaat Alvin telah benar-benar lelah dan memilih untuk menyerah. Kenapa baru sekarang?
            Keadaan yang ada sekarang benar-benar jauh berbeda dari keadaan sebelum-sebelumnya. Alvin yang bahkan dulu tanpa mengenal lelah mengejar cintanya kini seakan mundur secara perlahan dan menarik diri dari sisinya.
            Satu pertanyaan akhirnya timbul dan mengusik nuraninya; apa Alvin masih menyimpan perasaan itu untuknya?
            Menyadari bahwa Via tertinggal cukup jauh, Ify dan Shilla langsung menghentikan langkah mereka secara bersamaan. Mereka pun menoleh kebalakang dan melihat Via yang saat itu ternyata sedang diam-diam memperhatikan Alvin. Ify dan Shilla saling menatap sejenak, tidak lama kemudian mereka sama-sama mengangguk lalu melangkah perlahan menghampiri Via.

            “lo kenapa, Vi?” Tanya Ify pelan sereya menepuk pundak Via. Via yang terkesiap langsung menarik perhatiannya dari Alvin dan menatap Ify Shilla secara bergantian. Via berusaha tersenyum dan terlihat tenang, tapi percuma, karna toh baik Ify maupun Shilla sudah terlanjur melihat dan mengetahui semuanya.

            “gue gak apa-apa kok…” jawab Via yang berusaha terdengar baik-baik saja.

            “Alvin?” Tanya Shilla ragu-ragu sambil menunjuk kearah Alvin.

            Via hanya menggeleng yang mengisyaratkan jawaban tidak.

            “kita semua gak buta, Via… kita semua tau gimana perubahan drastis Alvin saat ini. Dan meskipun kita gak bisa ngerasain apa yang lo rasain sekarang, tapi kita tau pasti bahwa berada dalam posisi lo saat ini sama sekali gak mudah Via…” tutur Ify lembut.

            “kalian ngomong apa sih? Gue gak ngerti…” Via pura-pura tidak mengerti. Tapi Ify dan Shilla bisa menangkap dengan baik sinyal kepura-puraan itu.

            “Via….” Shilla memegang kedua pundak Via lalu melanjutkan perkataannya. “gue sama Ify udah selesein cerita kita masing-masing, dan lo tau kan, gue sama Ify ngelewatin proses yang bener-bener gak main-main sampai akhirnya kita bisa nentuin pilihan hati kita. Gue pada akhirnya sama Gabriel, dan Ify sama Rio, Sekarang giliran lo, Vi! Selesein cerita lo… cerita lo sama Alvin….”

            “tapi diantara gue sama Alvin bener-bener udah gak ada cerita… Alvin udah ngelepasin gue, Alvin udah nyerah, Alvin udah… Alvin udah –“

            “dan lo mau ikut-ikutan nyerah juga?” kali ini giliran Ify yang terdengar menimpali. Via hanya menggeleng.

            “kalo lo emang sayang sama Alvin, nyatain yang sebenernya ke dia. Jangan pernah ada kata nanti, karna dibalik kata nanti telah terselip sebuah penyesalan yang mendalam. Percaya sama gue, Via….” Ujar Ify pelan, Shilla hanya mengangguk, menyetujui ucapan Ify.

            “tapi Alvin… tapi Alvin udah gak cinta lagi sama gue, dia –“

            “darimana lo tau kalo Alvin udah gak cinta lagi sama lo? Apa Alvin yang ngomong langsung ke elo?” Tanya Shilla yang merasa sanksi atas pernyataan Via baru saja. Sekali lagi Via hanya bisa menggeleng tanpa mampu berucap. Dan kini hanya air matanya yang menetes keluar, mewakilkan segala rasa sesal juga sesak yang menjejali dadanya tanpa ampun.
            Dan tiba-tiba saja, pemandangan Pricilla yang tiba-tiba duduk disamping Alvin lalu bergelayut manja dipundak Alvin semakin mengundang sesak itu. Ada rasa nyeri yang menggelegak dijantungnya. Dan Via sama sekali tidak bisa menahan gejolak didadanya saat Alvin dan Pricilla sama-sama tertawa lepas sambil saling berpandangan satu sama lain. Lalu dengan santainya, Alvin mengangkat tangan kanannya dan mengusap puncak kepala Pricilla dengan gemas. Rasanya seperti ada yang luruh disana. Rasa sakit itu seakan meremas jantungnya tanpa ampun.

            “kalian liat itu?” ujarnya dengan isakkan tertahan seraya menunjuk kearah Alvin dan Pricilla. Ify dan Shilla hanya mengikuti arah telunjuk Via.

            “itu adalah jawaban dari pertanyaan kalian tadi! Bahwa Alvin emang udah gak cinta lagi sama gue….”

            Via lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu bersama serpihan hatinya yang meremuk dan tidak berbentuk lagi. Sesakit ini kah rasanya cemburu bercampur penyesalan?






***


            Bola yang sejak tadi ada ditangan Agni tiba-tiba saja direbut oleh seseorang yang tiba-tiba muncul diitengah lapangan itu bersama dirinya. Menyadari bahwa bola kini sudah tidak ada lagi dibawah kuasanya, Agni hanya berdecak sinis. Dan ia hanya bisa menahan kekesalannya saat melihat Cakka dengan santainya memasukan bola itu kedalam ring.

            “SHIT!!” Umpatnya.

            Cakka memamerkan senyumannya yang entah kenapa terlihat begitu mempesona dimata Agni. Tapi keterpesonaan itu tidak begitu lama menyentuhnya, karna beberapa saat setelah itu Agni langsung menampakkan kekesalannya pada Cakka karna telah lancang mengganggu latihannya.

            “masih shock lo dengan kenyataan bahwa Via adalah adek lo?” kali ini giliran Agni yang memamerkan senyumannya sesaat setelah ia mengajukan pertanyaan itu. Bola yang ada dalam dribble-an Cakka langsung terlepas begitu saja. Ia heran, kenapa Agni bisa begitu dengan mudahnya menebak apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini? Atau apa jangan-jangan dirinya yang terlalu gampang dibaca? Atau apa jangan-jangan pikirannya yang terlampau gampang untuk ditebak?
            Melihat perubahan mimic pada wajah tampan Cakka, mendadak Agni merasa menyesal karna telah melemparkan pertanyaan itu pada Cakka. Dan kini Agni malah merasa tidak enak hati pada Cakka.

            “lupain pertanyaan gue tadi! Gue Cuma asal ngomong aja kok” putus Agni. Ia berusaha terlihat tenang meskipun sebenarnya hatinya tidak demikian.
            Demi meredam rasa kerisauannya karna telah salah bicara, Agni pun mengambil bola basket yang tadinya terlepas dari tangan Cakka dan bergulir tepat didepan kakinya. Agni kembali memulai lagi permainannya yang tadi sempat berhenti karna kehadiran Cakka yang secara tiba-tiba.
            Tapi Agni lagi-lagi dibuat ternganga, saat Cakka untuk yang kedua kalinya merebut kembali bola itu dari tangannya.

            “kalo lo kalah, lo harus nyerahin hati lo ke gue”

            “APA??” Kaget Agni, tidak menyangka Cakka akan berkata seperti itu padanya.

            Mungkin bagi Cakka perkataan itu sama sekali tidak serius dan itu hanya sebuah candaan yang tidak berisi sama sekali, tapi bagi Agni, kata itu sangat bermakna. Dan tanpa Cakka tahu, aliran darah Agni langsung berdesir ketika Cakka melemparkan perkataan itu padanya.
            Beberapa saat kemudian, Agni langsung menggelengkan kepalanya, berusaha membuang semua pikiran-pikiran aneh yang penuh dengan kegeeran yang tiba-tiba saja melintas dikepalanya tanpa ijin. Dan Agni berusaha bersikap normal lalu meladeni guyonan Cakka tadi.


            “gak segampang itu Cakka Adhirajasa…..”





***


            “samperin. Gak. Samperin. Gak. Samperin!” Alvin menghitung dengan kelima jarinya saat melihat Via yang ketika itu berdiri didepan sekolah. Mungkin sedang menunggu jemputan. Alvin ingat bahwa hari ini Cakka sedang melakukan sparing terakhirnya untuk menghadapi pertandingan basket yang akan diselenggarakan setelah Ujian Kenaikan kelas nanti.
            Alvin memutuskan untuk menunggu dan diam-diam memperhatikan Via dari dalam mobilnya. Ia melipat kedua tangannya diatas setir lalu menopang wajahnya dengan pandangan mata yang tidak juga lepas dari Via.
            30 menit berlalu, tapi Via masih berdiri disana dengan gusar. Alvin kembali menghitung dengan kelima jarinya, tapi kini ia menggunakan pola yang berbeda.

            “gak. Samperin. Gak. Samperin. Gak! ARRGGHHHH” Alvin mengacak rambutnya frustasi. Ia sangat benci dengan keadaan sekarang ini. Jika dulu ia bisa dengan mudahnya mengantar jemput Via tanpa perlu berhitung dengan kelima jarinya dan juga tanpa perlu mendapatkan ijin yang bersangkutan, tapi sekarang kejadiannya malah berbalik 180 drajat. Bahkan untuk mendekatinya saja Alvin masih harus berpikir ulang.
            Alvin menghela napas panjangnya dan berusaha meyakinkan hatinya untuk keputusannya kali ini. Gak apa-apa lah meskipun kena damprat, toh ini mungkin akan menjadi kali terakhirnya bagi Alvin untuk mengantar Via pulang. Fikir Alvin. Ia lalu menjalankan mobilnya perlahan lalu berhenti tepat dihadapan Via.
            Sekali lagi Alvin menghela napas panjangnya. Ia berusaha menepikan semua rasa gugupnya, bersikap normal lalu keluar dari dalam ferarri merah kesayangannya.
            Via sedikit terkejut saat melihat kehadiran Alvin yang secara tiba-tiba, dan perasaan Via semakin tidak menentu saat Alvin berjalan perlahan menghampirinya.

            “lo pulang sama siapa?”

            “bukan urusan lo!” sahut Via sinis. Dan sungguh, itu semua diluar kehendaknya. Tadinya Via ingin menjawab dengan santai, tapi saat bayangan Pricilla yang sedang bergelayut manja dipundak Alvin 2 hari yang lalu kembali terlintas dikepalanya malah membuat Via tidak bisa bersikap sewajarnya dihadapan cowok berwajah oriental ini.

            “Yo, stop! Stop!” kata Ify cepat-cepat seraya menepuk pundak Rio beberapa kali. Mendengar instruksi mendadak dari Ify, Rio langsung mengerem mendadak Cagiva nya.

            “kenapa sih, Fy??” tanyanya sedikit kesal.

            “lihat Alvin sama Via deh!” kata Ify sambil menunjuk kearah Alvin dan Via yang sedang berdiri berhadapan didepan gerbang sekolah. Rio pun segera mengikuti ucapan Ify. Ia menatap kedua orang itu dengan pandangan menerawang.

            “gue anter yuk! Gue udah lihat lo disini dari 30 menit yang lalu, dan gue—“

            “peduli lo??” potong Via. Sementara Alvin, ia hanya berusaha untuk tetap sabar menghadapi kekerasan Via.

            “gue sangat peduli sama lo, Vi”

            “oh ya?? Kata-kata lo itu sebaiknya lo koreksi lagi deh. Permisi!” pamit Via lalu berjalan melewati Alvin begitu saja. Dan Alvin sama sekali merasa tidak paham dengan apa yang baru saja Via ucapkan.

            Mengatakan semuanya sekarang atau tidak sama sekali! Itulah yang adalam pikiran Alvin saat ini. Alvin berdecak, ia berbalik lalu mengejar langkah Via yang saat itu sudah menyebrangi jalan, terlihat jelas bahwa Via sedang berusaha mati-matian untuk menghindarinya. Ya, Alvin sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya sekarang. Bahwa dia adalah Aphin kecil yang dulu menemuinya dirumah sakit, bahwa hingga detik ini Alvin masih sangat mencintainya, bahwa hingga sekarang, Alvin tidak bisa melepaskannya seperti apa yang ia inginkan.
            Ketika akan menyebrang, Alvin sama sekali tidak memperhatikan jalan. Fokusnya saat ini hanya tertuju pada Via yang sudah berada disebrang jalan. Dan tiba-tiba saja….


            “ALVIN AWAAAAASSSSS!!!” Teriak Rio dan Ify secara bersamaan dari depan gerbang sekolah.

            Alvin dan Via sama-sama terkejut. Alvin menoleh kesampingnya dan melihat sebuah sedan yang saat itu nyaris menyongsong tubuhnya. Seketika Alvin membeku, pergerakkannya seakan mati.

            “ALVIIIINNNNNN!!!” Teriak Via dari sebrang jalan sambil menutup kedua telinganya dengan tingkat kecemasan yang sudah mencapai puncak klimaks. Alvin masih membeku. Mendadak pendengarannya seakan tuli.
            Pengemudi sedan itu langsung mengerem mendadak mobilnya. Dan sedan yang tadinya nyaris saja menyongsong tubuh Alvin itu berhenti dengan hanya jarak beberapa centimeter saja dari Alvin, jika tidak begitu mungkin Alvin sudah menjadi korban dalam kecelakaan itu.
            Kepala sang pengmudi tadi menyembul dari jendela mobilnya. Ia terlihat sangat kesal.

            “Heh Dek! Kalo nyebrang liat-liat dong. Untung gak ketabrak”

            Sebelum Alvin menyampaikan permintaan maafnya, tiba-tiba saja sebuah tangan lembut meraih pergelangan tangan Alvin lalu menggenggamnya erat.

            “maafkan temen saya, Pak…”

            Alvin menoleh kesamping dan mendapati Via yang wajahnya masih memucat. Sesekali juga Alvin melirik pergelangan tangannya yang terkungkung dalam genggaman tangan Via.
            Setelah puas menyampaikan amarahnya  yang sama sekali tidak digubris oleh Alvin, pengemudi itu kembali menjalankan mobilnya setelah sebelumnya Via menarik Alvin kepinggir jalan.

            “LO UDAH GILA??” Bentak Via penuh emosi sambil menujuk wajah Alvin. Sementara Alvin, ia hanya diam dan pasrah melihat Via membentaknya seperti ini.

            “coba tadi kalo lo ketabrak gimana? ELO… Elo tuh… ergh….” Via memukul-mukul pelan dada Alvin, kali ini ia sudah kehabisan kata. Rasa cemasnya pada laki-laki yang ada dihadapannya kini sudah benar-benar menguras semuanya. Dan tanpa bisa ia tahan lagi, air mata itu mengalir deras dan membasahi wajahnya.

            “kita liat Alvin yuk!” ajak Ify.

            “gak usahlah, Fy… kayaknya Alvin dan Via butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah mereka…” sahut Rio lalu segera menjalankan motornya meninggalkan sekolah.

            “maaf…” lirih Alvin pelan lalu menahan kedua tangan Via yang memukul pelan dadanya.

            “gue gak butuh maaf lo!”

            “lo khawatir sama gue??”

            “lo jangan geer!” tandas Via cepat dengan suaranya terdengar serak.

            “maaf… maaf udah bikin lo khawatir”

            “gue gak kha –“ ucapan Via tiba-tiba terpotong saat Alvin secara mendadak menarik kedua tangannya dan membawa Via kedalam dekapan hangatnya.

            Kali ini Via tidak melawan. Ia justru merasa nyaman berada dalam pelukan Alvin. Alvin melafalkan kata maaf berkali-kali sambil sesekali mengecup puncak kepala Via. Via pun menyandarkan kepalanya didada bidang milik Alvin lalu menangis sepuasnya disana. Ia berusaha menyampaikan segala perasaannya juga rasa rindunya melalui tangisannya, berharap Alvin bisa menangkap semuanya dan mengerti, berharap Alvin akan kembali memperjuangkannya dan tidak akan pernah melepaskannya lagi. Via benar-benar menginginkan Alvin yang dulu, Via benar-benar merindukan Alvin yang dulu. Tapi Via hanya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan semua itu, menyampaikan sebuah rasa istimewa bernama cinta yang belakangan mulai mewarnai harinya.
            Sementara Alvin, ia hanya bisa memeluk Via tanpa suara, juga tanpa kata. Satu suara dari lubuk hatinya yang terdalam seakan berbisik lirih; Mungkin ini kali terakhirnya Alvin bisa memeluk Via seperti ini…





***


            Ujian kenaikan kelas akhirnya datang juga. Dan Alvin semakin perih membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah ia melewati ujian. Andai Via memberikan Alvin satu alasan saja yang bisa membuatnya untuk tetap bertahan disini dan tidak beranjak, mungkin Alvin tidak akan pernah pergi meninggalkannya, selamanya. Tapi pada kenyataannya, Via tidak memberikannya satu alasan apapun.
            Yang terjadi sekarang malah adalah, mereka kembali saling menghindari sejak kejadian Alvin nyaris tertabrak seminggu yang lalu. Dan kejadian saat Via menangis dalam pelukan Alvin seakan-akan tidak pernah terjadi. Semuanya hanya berlalu tanpa sisa.

            “gimana ujian hari pertama lo?” Tanya Pricilla yang tiba-tiba  muncul disamping Alvin.

            “ngagetin aja lo, Priss” ujar Alvin keki lalu menoyor pelan kepala Pricilla.

            “iiiiii…. Alvin reseeeeee!!!!”

            “suka-suka gue, wleee…” Alvin meleletkan lidahnya lalu kabur begitu saja dari hadapan Pricilla.

            Pricilla yang merasa perlu membuat perhitungan dengan Pria menyebalkan itu pun langsung mengejar Alvin dan berusaha menangkapnya.

            “mati lo kalo ketangkep!!”


***


            Dan tanpa mereka sadari, ada tatapan penuh luka yang sejak tadi mengikuti setiap pergerakan yang mereka lakukan. Via memegangi dadanya, berusaha menahan sesaknya saat menyaksikan keakraban yang terjalin antara Alvin dan Pricilla. Via tahu bahwa Alvin dan Pricilla sama sekali tidak memiliki hubungan yang lebih selain persahabatan, tapi entah kenapa, setelah melihat bagaimana cara Pricilla memandang Alvin, memperlakukan Alvin, dan memperhatikan Alvin, Via jadi yakin bahwa sesungguhnya Pricilla memiliki rasa yang lebih terhadap Alvin.
            Apa nanti posisinya dihati Alvin akan berangsur tergeser oleh kehadiran Pricilla? Satu pertanyaan itu tiba-tiba menjelma menjadi sebuah momok menakutkan bagi Via. Tidak… ia tidak pernah rela jika posisinya dihati Alvin tergantikan begitu saja oleh sosok Pricilla.




***


            3 hari berlalu setelah Ujian Kenaikan Kelas berakhir, SMA Patuh Karya mengadakan sebuah acara Promnight yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya setelah Ujian Kenaikan Kelas. Dan bagi Via, ini adalah kali pertamanya ia mengikuti acara Promnight sebagai salah satu siswi di SMA Patuh Karya.
            Saat Via sedang sibuk menyiapkan gaun yang akan ia kenakan nanti malam di acara Prom, Cakka tiba-tiba masuk kedalam kamarnya lalu duduk dipinggir ranjangnya.

            “sibuk banget ya, Vi…?”

            “iya nih, buat ntar malem. Kamu dateng kan, Kka…?” Tanya Via sambil tetap focus memilih gaun. Cakka terlihat berfikir sejenak lalu menjawab.

            “liat ntar deh…”

            “kok liat ntar?” Via berbalik lalu menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Cakka hanya tersenyum lalu memberi isyarat pada Via supaya duduk disampingnya. Tanpa pikir panjang lagi, Via langsung mengikuti isyarat Cakka dan duduk disampingnya.

            “masih belum ada kemajuan sama Alvin?”

            Kali ini Via bungkam. Kenapa juga Cakka harus menanyakan hal itu?

            “udahlah Kka… gak usah nanyain itu, aku males dengernya…”

            Cakka merangkul pundak Via lalu sedikit menariknya hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka. Awalnya Via kaget dengan apa yang Cakka lakukan itu, tapi mengingat status hubungannya dengan Cakka kali ini mau tidak mau harus membuat Via membiasakan diri dengan semuanya.

            “dengerin aku. Kalo kamu gak mau nyesel, sebaiknya kamu ungkapin perasaan kamu ke Alvin…”

            “perasaan apa sih??”

            “Sivia… kamu gak akan bisa ngelak lagi. Seluruh dunia juga tahu kalo kamu itu sayang banget sama Alvin…”

            “tapi…. Tapi Alvin yang udah gak sayang lagi sama aku…”

            “berarti bener kamu sayang sama Alvin??”

            Bodoh! Rutuk Via dalam hati. Ia baru menyadari bahwa secara tidak langsung ia telah mengakui perasaannya yang sebenarnya terhadap Alvin didepan Cakka. Kali ini Via menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai terbit dikedua pipinya.

            “aku anggep itu jawaban iya. Ini malem promnight pertama kamu di Patuh Karya, Vi… dan aku harep, kamu bisa memberikan kesan yang indah di promnight pertama kamu ini. Asal kamu tau, aku kenal Alvin sejak kecil, aku tau betul semua tentang dia, dan saat Alvin berada dititik lelah perjuangannya dan menyatakan dirinya menyerah, Alvin tidak sepenuhnya menyerah. Dan sekarang, giliran kamu yang memperjuangkan Alvin… perjuangkan dia sekuat kamu bisa. Jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari Via….”

            Via terlihat mencerna baik-baik ucapan Cakka itu. Merasa bahwa Via mulai menerima apa yang  ia sampaikan itu, Cakka tersenyum penuh pengertian lalu bangkit dari sisi Via. Dan tepat saat Cakka akan keluar dari kamar Via, Via buru-buru berdiri, ia melangkah cepat lalu memeluk Cakka dari belakang.


            “terimakasih Kak Cakka…”


            Alvin adalah miliknya. Itulah keyakinan yang sekarang terpatri dalam diri Via.



***


            Via keluar dari Jaguar Hitam milik Cakka dengan mengenakan gaun selutut tanpa lengan berwarna baby pink, ia juga menggunakan sepasang wedges putih yang warnanya senada dengan tas tangan yang ia bawa. Rambut sebahunya ia gelung keatas tanpa hiasan kepala apapun. Dan polesan make up natural yang menghiasi kulit wajahnya semakin membuatnya terlihat manis. Penampilan Via malam ini cukup simple namun begitu mempesona.
            Sementara Cakka, ia datang ke Promnight malam ini hanya dengan menggunakan kemeja putih yang ia lipat sampai siku. Kemeja putih itu padukan dengan celana jeans hitam. Sama seperti Via, malam ini penampilan Cakka terlihat cukup simple. Tapi meskipun simple, hal itu sama sekali tidak mengurangi kadar rasa kagum para penggemarnya.
            Via mengamit lengan Cakka, mereka berdua pun berjalan beriringan memasuki aula sekolah, tempat acara promnight diselenggarakan. Setibanya didalam aula, alunan music yang cukup menghentak langsung menyambut kedatangan mereka.
            Via menyapu pandangannya kesegala arah untuk mencari satu sosok special pemilik tunggal hatinya sekarang ini, tapi hingga jauh ia melihat ia tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan Pria itu. Alvin.

            “Vi… aku ke Rio sama Gabriel dulu ya?” pamit Cakka.

            Via hanya mengangguk, memberi ijin pada Cakka. Beberapa saat setelah kepergian Cakka, Via tahu-tahu dikagetkan oleh kehadiran Pricilla yang secara tiba-tiba.

            “hey…” tegur Pricilla dengan bersahabat, berusaha melupakan masalah yang terjadi diantara mereka akhir-akhiran ini.

            “Priss…?” sapa Via sedikit canggung.

            “lagi nyari Alvin ya??” tanyanya seraya merangkul pundak Via. Malam ini juga Pricilla terlihat sangat cantik dengan Gaun Hitamnya.

            Mendengar pertanyaan Pricilla itu, Via langsung menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal lalu mengangguk dengan malu-malu. Pricilla tersenyum jahil saat itu juga.

            “Alvin ada kok tadi, sekitar 15 menit yang lalu, tapi kok sekarang ngilang yaa??” ujar Pricilla sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah, berusaha mencari sosok Alvin yang sekitar 15 menit yang lalu masih bersamanya.

            “mungkin Alvin keluar, tapi bentar lagi dia pasti bakalan balik” kata Pricilla, berusaha menenangkan Via yang malah terlihat risau beberapa saat setelah Pricilla mengatakan bahwa Alvin menghilang.

            “Priss…”

            “hmm…”

            “maafin gue ya?”

            “buat?”

            “buat semuanya. Gue udah banyak salah sama lo”

            Pricilla berbalik, ia memegang kedua pundak Via lantas berkata,

            “lo sama sekali gak ada salah sama gue, Vi… kalo lo diharusin untuk minta maaf itu bukan sama gue… tapi sama Alvin. Asal lo tau, Alvin sayang banget sama lo, Vi. Saking sayangnya dia bahkan rela ngelakuin segala hal buat lo, dan Alvin juga –“ Pricilla menggantungkan kalimatnya, dan ia tampak ragu-ragu melanjutkan perkataannya.

            “Alvin juga kenapa, Priss?” Tanya Via yang perasaannya mulai tidak enak. Entah kenapa firasat buruk tiba-tiba saja mendekap erat dirinya.

            “sebenernya Alvin ngelarang gue buat ngomongin ini ke elo, but I think.. sudah saatnya lo tau tentang semua ini…”

            “ma… maksud lo apa Priss?”

            “Alvin, Vi… hhh…” Pricilla menghela napas panjangnya dan berusaha meyakinkan hatinya. “ Alvin yang udah donorin ginjalnya buat lo…”

            “a… apa Pris?? A… Alvin…? Alvin?”

            Bagai menerima sebuah hantaman keras tepat dijantungnya. Pernyataan Pricilla barusan benar-benar menyesakkannya.

            “iya Vi… dia yang rela ngasih separuh hidupnya buat lo, dan semua itu dia lakuin, karna dia sangat mencintai lo…”

            Dan entah apa lagi yang Pricilla katakan, indera pendengar Via sudah tidak lagi mampu menangkapnya. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah pengorbanan Alvin yang begitu manis padanya. Via lalu mencoba membandingkan pengorbanan Alvin ini dengan semua sikap-sikap tidak mengenakkan yang selama ini ia tunjukan pada Alvin, dan ketika ia menemukan sebuah perbandingan yang begitu mencolok, Via seakan kehilangan keseimbangan tubuhnya, dan ia merasa sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Via langsung ambruk dan terduduk dilantai dengan linangan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya. Alvin… kenapa Pria itu begitu mencintainya dan rela memberikan separuh hidupnya hanya untuknya yang selama ini bahkan enggan menoleh kearah Alvin?

            “Via…” panggil Pricilla pelan sambil menyentuh pundak Via. Tapi Via tidak menjawab. Pikirannya saat ini benar-benar kalut. Yang ada diotaknya sekarang hanyalah, ia ingin segera menemui Alvin, memeluk Alvin dan mengatakan pada Pria itu bahwa Via sangat mencintainya.

Flashback~

“terus kapan lo akan operasi?”

“gue nggak tau. Dokter Aninda yang tau…”

“lo harus operasi secepetnya ya? Dan lo harus janji sesuatu sama gue…”

“apa?”

“lo harus sembuh. Lo harus baik-baik aja…”

“pasti…”


--------------------------------------------

“apa sih mau lo?!” Tanya Via sinis seraya menatap Alvin yang sudah duduk disebelahnya dengan tatapan benci.

            Alvin tidak menanggapi pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting itu. Baru saja ia akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba Alvin merasakan sakit dibagian pinggangnya. Ini pasti bekas luka operasi itu. Fikirnya. Rasa sakit itu timbul lagi karna baru saja Alvin memaksakan dirinya mengangkat tubuh Via, dan Alvin seharusnya tidak melakukan hal itu mengingat bekas luka operasinya yang belum sembuh total.
            Alvin memejamkan matanya, dan berusaha meredam rasa sakit yang kelamaan semakin menyiksa itu. Menangkap ada sesuatu yang aneh dari gelagat Alvin membuat Via langsung cemas. Ia bahkan lupa kalau beberapa menit yang lalu ia sempat bertengkar dengan Alvin.

            “elo kenapa, Vin….?”

            Alvin menggeleng, ia langsung menegakkan tubuhnya saat rasa sakit itu berangsur menghilang. Semoga akibatnya tidak fatal. Harap Alvin dalam hati.


Flashback off~


            Perasaan Via makin tidak karuan saat ingatan-ingatan itu seakan berdesakkan muncul dan memenuhi ruang dikepalanya. Kuota udara yang ada disekitarnya semakin menipis, dan kali ini ia sudah tidak bisa lagi menahan isakkannya agar tidak keluar.

            Via lalu merasakan ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Via buru-buru membuka tas tangannya lalu membaca singkat yang ternyata dikirimkan oleh Alvin.



=======================

From: Alvin Aryadinata

Lo bisa ke  tap gedung sekolah
Skrg? Ada yg mau gue tunjukin.
Gue tunggu!


=======================


            Sekuat tenaga Via mencoba mengumpulkan kekuatannya lalu bangkit dari keterpurukannya. Dan tanpa mengucapkan apapun pada Pricilla, Via langsung berlari meninggalkan aula sekolah hendak menuju ke atap sekolah. Tempat dimana saat ini Alvin sedang menunggunya. Dan Via tidak ingin membuat Alvin menunggu lama, tidak setelah ia menyakiti perasaan Pria itu secara bertubi-tubi.
            Bayang-bayang kebersamaannya dengan Alvin dulu mengiringi setiap langkah kaki Via menuju keatas atap gedung sekolah. Dan semua ingatan itu justru semakin menimbulkan sesak bercampur sesal yang memenuhi dadanya.
            5 menit kemudian, tibalah Via diatap gedung sekolah, tapi yang mengherankan adalah, Via tidak menemukan sosok Alvin disana. Dan Via dibuat tercengang saat melihat ratusan lilin kecil membentuk kata ‘I LOVE U’ tersusun dengan rapi ditengah-tengah. Via membekap mulutnya lalu berjalan perlahan mendekati lilin-lilin itu.
            Dan perhatian Via kali ini tertuju pada sebuah meja kecil yang terletak disamping susunan lilin-lilin kecil itu. Diatas meja itu, terdapat sebuah boneka teddy bear, setangkai bunga krisan putih favoritnya, dan sebuah amplop berwarna cokelat dan bermotif teddy bear.
            Via mendekati meja itu, ia meraih boneka teddy bear itu lalu memperhatikannya sebaik mungkin. Tidak lama kemudian… degh… Via sangat mengenal boneka ini, boneka ini adalah boneka pemberian Mamanya yang hilang 7 tahun yang lalu.
            Suasana langsung hening. Tidak ada suara apapun yang terdengar kecuali suara desiran angin malam yang menerpa tubuh Via. Bagaimana bisa boneka ini ada  disini? Itulah sebentuk pertanyaan yang timbul diotak Via. Via memeluk erat boneka itu sembari berfikir, berusaha menghubungkan potongan-potongan kejadian dimasa lalu dengan semua apa yang terjadi sekarang ini.
            Via lalu meraih amplop  cokelat itu dan membaca isinya. 2 menit kemudian, tepatnya setelah Via selesai membaca surat yang ternyata dari Alvin itu, untuk yang kedua kalinya, Via kembali ambruk. Kertas surat itupun terlepas begitu saja dari tangannya. Kenyataan demi kenyataan yang kini menghampirinya ini seakan memberikan tamparan bertubi-tubi diwajahnya.
            Via semakin mempererat pelukannya pada boneka teddy bear itu. Ternyata Aphin kecil yang selama ini mimpikan adalah…. Alvin. Via menjerit histeris saat itu juga.




            “APHIIIIIIINNNNNNNNNN!!!!”


            Kenapa disaat ia telah mengetahui semuanya, Alvin justru pergi jauh meninggalkannya bahkan sebelum Alvin sempat mempertanyakan perasaan Via padanya.



“kau tak sempat tanyakan aku
Cinta kah aku padamu…”


            “kenapa lo pergi Alvin?? Kenapa?? Hiks hiks… lo bahkan pergi sebelum lo nanya apa gue cinta atau gak sama lo… INI GAK FAIR BUAT GUE ALVIN….. INI GAK FAIR!!!” Teriak Via  frustasi sambil terisak. Jantungnya seakan diremas oleh sepasang tangan raksasa dengan bringas. Sesak… sesak itu kian gencar menyiksanya.

            Benarkah kisahnya berakhir seperti ini? Berakhir begitu saja tanpa penyelesaian?






***

Via…

            Gue gak tau harus memulai darimana tentang boneka teddy bear lo ini, gue juga bingung gimana cara memulai cerita gue.

            Lo inget sosok Aphin kecil yang dulu menghampiri dan menyapa lo dirumah sakit? Hehe.. sepertinya lo gak inget ya? Sosok Aphin kecil itu adalah gue, Vi… atau lo inget gak sama Ibu-Ibu yang bawa Mama lo kerumah sakit waktu itu? Itu Mami gue Via… waktu ambulance dateng, dengan paniknya lo ikut masuk ke ambulance bersama Mama lo, dan lo sama sekali gak sadar kalo boneka teddy bear lo ketinggalan. Gue akhirnya ngambil boneka itu dan berfikir untuk mengembalikannya ke elo, tapi sebelum gue sempet mengambalikannya, lo malah sudah pergi gak tau kemana.

            Pada akhirnya gue memutuskan untuk menyimpan boneka lo ini. Sejak pertemuan kita untuk yang pertama kalinya dirumah sakit 7 tahun yang lalu, hingga pada akhirnya kita bertemu lagi untuk yang kedua kalinya di sekolah, gue gak pernah sedetik pun melupakan lo. Bayang-bayang Andrea kecil terus melekat erat diotak dan hati gue, dan dalam penantian gue selama 7 tahun ini, gue selalu berharap bisa ketemu sama lo lagi dan mengembalikan boneka ini.

            Dan saat kita ketemu, kenyataan yang ada malah menghempaskan gue. Ternyata lo yang selama ini gue tunggu, gak pernah inget sama sosok Aphin kecil.

            Harusnya gue sadar, kalo dari awal pertemuan kita 7 tahun yang lalu, gue emang gak pernah terlihat dimata lo, gue gak berarti apa-apa buat lo. Tapi dengan gak tau dirinya, gue malah mati-matian mempertahankan lo dan memaksa lo untuk jadi pacar gue. Dan sekarang gue akui kalo gue salah… gue minta maaf sama lo Andrea…

            Tapi apapun keadaannya sekarang, gue tetep sayang sama lo, dan gue gak pernah merasa menyesal sedikitpun karna udah nungguin lo selama 7 tahun lamanya, memperjuangkan lo, dan mengorbankan banyak hal buat lo.

            Terimakasih karna telah mengajarkan gue, bahwa cinta gak selamanya harus saling memiliki. Awalnya gue fikir itu munafik, tapi disaat gue ngerasain hal itu langsung, gue jadi mengerti… dan itu semua karna lo, Sivia…

            Lo mungkin memang bukan milik gue, tapi asal lo tau… hati gue ini, selalu akan jadi milik lo. Selamanya…

            Maaf kalo gue pergi gitu aja tanpa pamit sama lo. Tapi gue pikir, percuma pamit sama lo, toh lo gak akan pernah peduli semua apapun menyangkut gue.

            Sekali lagi gue bilang… gue sayang sama lo Sivia….. gue cinta sama lo….

            Kalo gue gak bisa jadi sosok yang lo cintai, seenggaknya gue mau jadi boneka teddy bear  kesayangan lo yang bisa lo peluk setiap saat. Hahaha… Via… I Just Wanna Be your Teddy Bear..

            I Love you and goodbye…



-Alvin-




***



            “gue juga cinta sama lo Alvin… gak peduli sampai kapanpun itu, gue janji akan selalu nungguin kembali, disini… lo milik gue, dan gue Cuma milik lo. Selamanya…”





THE END….