Tuesday, September 30, 2014

0

My Destiny [Chapter 1]

Chapter 1


Menemukanmu lagi pada suatu hari…

            Suasana SMA Bintang Bangsa pagi ini Nampak oleh keriuhan siswa-siswi kelas 3 yang dinyatakan lulus. Mereka semua bersorak, menyuarakan rasa haru mereka atas kelulusan ini. Semua usaha yang mereka lakukan selama hampir setahun belakangan ini akhirnya berbuah manis.
            Diantara ratusan siswa-siswi yang berkerumun didepan papan pengumuman, tampak seorang gadis manis dengan rambut panjang lurus yang sengaja ia ikat ekor kuda, berusaha menyelak diantara kerumunan itu. Setelah bersusah payah selama bermenit-menit lamanya, akirnya gadis manis itupun kini berhasil berdiri didepan papan pengumuman yang menjadi target sasarannya sedari tadi.
            Ia menghembuskan napas lega. Ia lalu segera  mengusap keningnya seolah-olah menyeka peluhnya, “Huh! Apa gak ada yang lebih heboh lagi dari ini? Kalian semua bener-bener berisik” protesnya sedikit keki. Tapi percuma saja ia melayangkan protes seperti itu, toh tidak ada satupun makhluk yang mendengarnya.
            Tidak mau ambil pusing lagi dengan kehebohan yang terjadi, gadis manis itu langsung melemparkan tatapannya pada papan pengumuman yang ada didepannya. Ia memindai satu-satu nama yang tertera pada kertas yang tertempel itu.

3. Cakka Raditya. A

………………………..


10. Sivia Oriza Queen

            “YEEEEE!! GUE SAMA PACAR GUE LULUUUUUS!!” Teriaknya histeris, bahkan lebih histeris dari ratusan teman-temannya yang lain.
            Sivia melonjak kegirangan. Tapi tiba-tiba saja sesuatu terlintas dikepalanya dan membuatnya berhenti melonjak dalam hitungan detik. Sivia memutar kepalanya kekiri dan kekanan untuk mencari Cakka. Sekarang baru Sivia sadari, bahwa sejak tadi tidak tampak kehadiran Cakka disekolah. Lalu kemana dia?
            “WOOOYY SEMUA! ADA YANG TAU COWOK GUE DIMANA?” Teriaknya cukup keras dan bertanya entah pada siapa saja yang mau menjawab.
            Hening. Semua perhatian tertuju pada Sivia. Tapi tidak lama…

            “HUUUUUUUUUUUUU!!!” Teriak semuanya dengan serempak pada Sivia, gadis manis ter-populer di SMA Bintang Bangsa itu.


♫♫♫

            Cakka duduk melamun disalah satu sudut diruang music sekolahnya sambil memangku sebuah gitar kesayangannya. Pada tubuh gitar itu, tertempel stiker berbentuk hurup S ♥ C yang ditempel sendiri oleh Sivia setahun yang lalu. Meski agak sedikit kesal, tapi Cakka merasa tidak sanggup jika harus melayangkan protesnya pada gadis manis yang sejak 3 tahun yang lalu menjadi pacarnya itu. Cakka pun menerimanya dengan terpaksa. Asal gadis itu senang, apapun akan Cakka lakukan.
            Dan disaat teman-temannya merayakan kelulusan mereka diluar sana, Cakka lebih memilih menyendiri diruang music, bahkan sebelum ia melihat pengumuman kelulusannya sendiri. Cakka benci keramaian. Ia lebih menyukai suasana yang sepi, tenang dan damai seperti yang ia rasakan sekarang ini.
            Cakka menghela napas beratnya, ia menyandarkan tubuhnya didinding lalu menengadahkan kepalanya keatas. Matanya terpejam. Dibalik alasan ia ingin menyendiri dihari kelulusannya ini, Cakka memiliki alasan lain yang sesungguhnya jauh lebih penting dari apapun juga.
            Mendadak ia merasakan dadanya sesak saat sekelebat ingatan yang menyakitkan terlintas dikepalanya. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin. Setelah kebahagiaan masa kecilnya terenggut begitu saja oleh sebentuk keegoisan, sekarang masakah Cakka harus merelakan impiannya terenggut karena hal yang sama? Kenapa hidup yang ia jalani selama 17 tahun terakhir ini terasa sangat tidak adil baginya?
            Cklek! Suara pintu dibuka langsung menyentak Cakka dan membuatnya tertarik dari lamunan panjangnya. Cakka melihat kearah pintu, disana ia dapat melihat dengan sangat jelas Sivia tengah berdiri dengan wajah ditekuk. Sepertinya gadis itu sedang kesal padanya. tanpa bertanya terlebih dahulu, Cakka tahu pasti apa penyebabnya.
            “udah aku duga, kamu pasti disini”
            Sivia melipat kedua tangannya diperut, ia berjalan menghampiri Cakka lalu duduk disampingnya sambil membuang muka. Cakka tersenyum jahil.
            “kamu nyariin aku?”
            “gak! Lagi nyariin tikus” jawabnya keki.
            “maaf ya?”
            “buat?”
            “maaf udah ngilang dari pagi”
            “bagus kalo nyadar”
            Sivia masih enggan menatap Cakka. Sementara Cakka, ia terus saja memperhatikan Sivia dari samping dengan pandangan nanar. Ia gamang memikirkan bahwa impiannya bersama gadis ini sedang dalam keadaan terancam. Dan Cakka takut, jika suatu saat nanti, keegoisan itu akan benar-benar mengalahkannya dan membuatnya terpisah jauh dari Sivia.
            Sekali lagi Cakka menghela napas beratnya. Tanpa berkata apapun, ia menarik lengan Sivia lalu membawa gadis itu kedalam pelukannya.
            “Cakka… kamu apa-apaan sih?”
            “aku sayang sama kamu” bisiknya lirih seraya berusaha keras menahan isakkanya yang nyaris pecah.
            Sivia bingung, tapi saat ia menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil dari sikap Cakka padanya, ia pun menepikan semua rasa bingungnya lalu balas memeluk Cakka.
            “kamu kenapa tiba-tiba kayak gini? Ada masalah? Mau cerita?”
            Cakka hanya menggelengkan kepalanya dan semakin mempererat pelukannya yang mengisyaratkan bahwa, selamanya ia tidak pernah ingin kehilangan Sivia.
            Sivia adalah kekuatannya. Sivia adalah hidupnya.


♫♫♫

            “Papa gak jadi dateng, Kak”
            Ucap seorang cowok berwajah imut yang tiba-tiba  muncul dari belakang Sivia lalu duduk disampingnya sambil mendesah sedikit kecewa. Sivia menatap Ray dengan pandangan tidak percaya. Ini adalah hari kelulusannya, sejak seminggu yang lalu, Papa nya sudah berjanji akan mengajak mereka makan diluar jika Sivia lulus dengan nilai yang bagus. Tapi saat hari ini tiba, Papanya malah ingkar janji tanpa pemberitahuan apapun.
            “Lo yakin Papa gak jadi dateng, Ray?” Sivia berusaha meyakinkan. Adik bungsunya itu mengangguk sambil menunduk.
            Selalu aja kayak gini! Rutuk Sivia dalam hati. Ray yang bisa menangkap dengan jelas kekecewaan yang terpancar dari wajah manis Kakaknya itu langung menggenggam erat tangan Sivia untuk menenangkannya.
            “Tapi Papa janji akan ngeganti ini dihari lain, Kak. Hari ini Papa bener-bener gak bisa. Temen deket Papa yang dari Milan hari ini pulang ke Indonesia, dan Papa harus nemuin temennya itu. Katanya ada hal penting yang harus dibahas”
            “apa hal itu jauh lebih penting dari janji yang udah Papa bikin? Terus buat apa kita nungguin Papa disini selama sejam lebih kalo ujung-ujungnya Papa gak bakalan dateng juga?” ungkap Sivia penuh kekecawaan. Ia lalu bangkit dari hadapan Ray dan keluar dari restoran itu tanpa sekalipun menoleh kebelakang.
            Ray mengusap wajahnya frustasi. Apa lagi yang harus ia lakukan saat ini untuk membuat mood Sivia kembali membaik?

            “Papa ingkar janji kayak gini aja lo udah marah, Kak. Gimana coba kalo nanti lo tau Papa punya rencana besar buat lo? Mungkin lo bukan Cuma marah sama Papa…”


♫♫♫

            Sivia sama sekali tidak menyadari sudah seberapa jauh ia berjalan meninggalkan restoran tempat dimana seharusnya ia bersama Papanya juga Ray makan malam bersama. Rasa kecewa yang melingkupi dirinya membuat logikanya seakan tertutup.
            Sejak ia masih kecil, Papanya selalu seperti ini. Papa nya selalu lebih mementingkan urusan pekerjaan daripada harus menghabiskan waktunya bersama dirinya dan Ray. Saat Sivia berusia 5 tahun dan Ray berusia 3 tahun, Mama nya meninggal dunia karna penyakit leukimia yang sudah lama dideritanya. Saat itu, baik Sivia maupun Ray, masih sama-sama belum mengerti tentang arti sebuah kehilangan. Kala itu usia mereka masih terlalu kecil untuk bisa mengerti.
            Sejak saat itu juga, praktis Papanya menjadi sosok Ayah sekaligus Ibu bagi Ray dan Sivia. Tapi karna kesibukannya yang menjerat, Papanya akhirnya tidak bisa menjalankan kedua peran itu sekaligus hingga dengan terpaksa ia meminta pada adik perempuannya untuk membantunya mengurus Sivia dan Ray.
            Sivia hanya membutuhkan sedikit saja waktu dari Papanya. Hanya waktu yang Sivia inginkan, bukan yang lainnya. Tapi kenapa rasanya sulit sekali bagi seorang Adryan Hermawan memberikan sedikit saja waktu luangnya untuk kedua anaknya?
            Merasa kekesalannya sudah mencapai puncaknya, tanpa sadar Sivia menendang sebuah kaleng minuman yang tergeletak tepat dibawah kakinya. Tendangan Sivia yang cukup keras itu membuat kaleng bekas minuman yang ‘malang’ itu terpental jauh dan mengenai kepala seorang preman yang sedang berjalan bersama dua orang kawannya tepat didepan Sivia.
            Sivia tersadar. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya sambil menampakan raut tak percaya. “ups!” gumamnya pelan.
            Ketiga preman tadi secara bersamaan menoleh kebelakang saat sadar bahwa kepala bos besar mereka terkena lemparan sebuah kaleng. Mereka bertiga menatap Sivia dengan sangar. Mereka benar-benar terlihat seperti tiga ekor singa kelaparan yang siap menerkan seekor anak domba yang tidak berdaya. Menyadari akan situasi tidak aman yang sedang dihadapinya sekarang, Sivia berbalik lalu berlari sekuat ia mampu untuk menghindari ketiga preman itu.
            “kurang ajar! Kejar anak itu!” instruksi salah satu dari preman itu lalu berlari mengejar Sivia. Dua orang lainnya hanya mengikuti dari belakang.
            “MATI GUE! MATI GUE!” pekik Sivia saat ia menyadari bahwa ketiga preman itu sedang mengejarnya. Sivia semakin mempercepat larinya. Ia tidak ingin tertangkap.
            Lampu merah menyala, Sivia segera mengambil inisiatif untuk menyebrang jalan. Tapi saat ketiga preman itu semakin mendekat, pikirannya langsung buntu.
Sebuah mobil sport merah yang tampak mewah berhenti tepat dihadapan Sivia. Untuk beberapa detik, Sivia menarik napasnya dalam-dalam dan tanpa perlu susah-susah berpikir, Sivia langsung membuka pintu mobil itu dan masuk kedalamnya.
            Sang pemilik mobil yang masih terlihat muda itu terkejut bukan main saat seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba nyelonong memasuki mobilnya. Ia menatap Sivia dengan pandangan tidak percaya tapi juga heran.
            “kamu siapa?” Tanya sang pemilik mobil pada Sivia yang tampak tengah mengatur desuan napasnya yang terdengar tidak teratur.
            Kemudian Sivia menoleh, menatap sang pemilik mobil dengan pandangan seolah meminta pertolongan. Sang pengemudi itu tertegun. Sepertinya… ia pernah melihat gadis ini sebelumnya.
            “Om… Om… tolongin Via, Om… ada 3 preman yang ngejer-ngejer Via. Kalo sampe Via ketangkep Via gak tau gimana nasib Via selanjutnya. Tolongin Via, Om… tolongiiiin…” Sivia mengatupkan kedua tangannya didepan dada dengan tampang memelas.
            Pemuda tampan yang terlihat begitu rapi dengan kemeja putih yang dibalut oleh stelan jas berwarna hitam serta dasi yang berwarna senada itu hanya melongo menatap Sivia. Pikirannya yang tadi mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya langsung menghilang seketika. Tapi tiba-tiba, sesuatu menyapa kepalanya. Ia baru menyadari bahwa cewek ABG ini memanggilnya dengan panggilan… OM?
            “kamu manggil saya apa tadi? OM?” tanyanya dengan nada protes.
            Tapi Sivia tidak sedikitpun mendengarkan pertanyaan dengan nada protes itu. Perhatiannya hanya tertuju pada kaca spion yang menampakan 3 orang preman yang semakin mendekati mobil tempat persembunyiannya. Sepertinya ketiga preman tengik itu mulai menyadari keberadaannya.
            “Om…. Buruan jalanin mobilnya, Om! Premannya semakin deket. Via takut Om…”
            “BERHENTI PANGGIL GUE OM!” Bentaknya cukup keras. Tapi Sivia tetap dengan ketidakpeduliannya. Rasa takut benar-benar menyelimutinya kali ini.
            “Om…. Buruan Om…”
            “Lo gila? Ini masih lampu merah”
            “terobos aja, Om… terobos!” ucapnya dengan nada menyuruh. Pemuda itu semakin merasa tak terima.
            “What??”
            “Kalo Om gak mau jalanin mobilnya, sini biar Via aja yang nyetir”
            “lo bener-bener gak waras. SAKIT JIWA!”
            “Satu…” Sivia mulai menghitung seraya menatap pemuda itu dengan tajam.
            “apaan?” tanyanya tidak paham.
            “Dua…” Sivia kembali menghitung. Hanya tinggal beberapa langkah lagi preman itu akan menghampiri mobil ini.
            “lo nantangin gue? Hm?”
            “T – ti – g…”
            Lampu hijau menyala tepat sebelum Sivia menyelesaikan hitungannya. Pemuda itu berdecak frustasi lalu segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal.

            Hufht… akhirnya Sivia lolos dari bahaya. Sivia mengelus dadanya sambil mengucap syukur. Sekarang, ia sudah bisa bernapas lega.

♫♫♫

            “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi”
            Suara manis sang operator telfon disebrang sana beberapa kali menyapa indera pendengar Ray saat ia mencoba menghubungi Sivia entah untuk yang keberapa kalinya. Ray frustasi tapi juga khawatir. Meskipun Sivia adalah Kakaknya dan Ray adalah adiknya, tetap saja sikap Ray jauh lebih  mencerminkan pribadi seorang Kakak ketimang Sivia. Selama ini, Ray selalu menjaga Sivia. Jika terjadi sesuatu pada Kakaknya yang masih ia anggap childish itu, maka Ray lah orang pertama yang merasa paling cemas. Dalam segala hal, Ray selalu lebih dewasa dari Sivia. Tapi Ray, tidak sedikitpun merasa terganggu dengan itu. Ia justru merasa senang karna bisa melindungi Kakaknya.
            “Gimana, Ray? Udah ada jawaban?” Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang Ray sambil membawa segelas cokelat hangat untuk Ray.
            Ray menoleh lalu tersenyum kecil pada Ify. Ify adalah sahabat terdekat Sivia. Saat tahu Sivia menghilang sejam yang lalu, Ray langsung pergi kerumah Ify untuk mencarinya, tapi apa yang Ray cari dirumah Ify justru tidak ia temukan.
            Perhatian Ray tertuju pada segelas cokelat hangat yang ada ditangan Ify. Ray tersenyum mencibir lantas berkata,
            “bahkan sampe sekarang lo masih nganggep gue anak kecil, ya?” Tanya Ray dengan nada sarkatis.
            Ify tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum lalu meletakan gelas itu diatas meja.
            “minum dulu gih! Susu cokelat baik buat pertumbuhan. Apalagi kan kamu atlet basket idola Kak Ify”
            “Kakak?” Tanya Ray retoris lalu mengambil posisi disamping Ify. Lagi-lagi Ify tidak menanggapi. Ray yang memang selalu tidak pernah tega menolak apapun yang Ify berikan padanyapun meminum susu cokelat itu dengan terpaksa. Catat! Dengan terpaksa.
            “ponsel Sivia masih belum aktif juga?”
            “belum nih” jawab Ray seadanya seraya meletakan gelas susu diatas meja. Ify hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya kearah gerbang rumahnya. Ify seperti sedang menunggu seseorang, tapi Ray sama sekali tidak menyadarinya.
            Beberapa saat setelah Ray meletakan kembali gelas itu diatas meja, seseorang yang sejak tadi Ify tunggu tiba-tiba saja membuka gerbang rumah Ify. Ia tersenyum begitu manis untuk Ify lalu melambaikan tangannya pada gadis berdagu tirus itu.
            “Hay, Fy…”
            “Rio” sambut Ify antusias. Ia lalu bangkit dari sisi Ray dan berjalan mendekati Rio lalu memeluknya.
            Melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Rio dan Ify, Ray tiba-tiba merasa jantungnya seakan terbakar. Isi kepalanya pun seolah-olah mendidih tanpa ia inginkan. Ray berdehem cukup keras lalu bangkit. Deheman Ray itupun membuat Rio dan Ify langsung mengurai pelukan mereka.
            Ray berusaha bersikap normal dan menyembunyikan rapat-rapat rasa cemburu yang saat ini menderanya. Ray menghampiri mereka lalu pamit.
            “Fy… gue balik dulu!”
            “gak mau nunggu Sivia dulu? Siapa tau ntar Sivia kesini, Ray…”
            “gak perlu” jawab Ray dingin lantas berlalu pergi. Seketika Ify mencelos dengan jawaban serta sikap dingin yang mendadak ditunjukan oleh Ray. Rasa bersalah itu kembali menghantuinya.
            Ify terus menatap kepergian Ray hingga cowok berwajah imut itu menghilang dibalik gerbang. Rio yang mulai menyadari bahwa ada yang ganjil dari sikap Ifypun berdehem pelan, sama persis seperti apa yang Ray lakukan tadi.
            “kok ngeliatinnya kayak gitu amat?” Tanya Rio sembari menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang tadi Ray duduki.
            Ify menggeleng pelan. “gak gitu, Yo… aku Cuma ngerasa bersalah aja sama Ray…”
            “kalo gak mau ngerasa bersalah, ya jangan dikasih harapan”
            Ify menatap Rio dengan kening berkerut. Tidak lama Ify sadar bahwa ternyarta Rio cemburu pada Ray. Ify tersenyum jahil. Ia berjalan menghampiri Rio lalu duduk dipangkuan cowok berwajah manis itu.
            “kamu cemburu?”
            “bukan begitu. Aku Cuma gak mau kamu ngasih Ray harapan, masalahnya yang nantinya bakalan terluka itu Ray, bukan kamu, Fy… kamu ngerti kan?”
            Ify menunduk lesu. Air mukanya langsung berubah drastis.

            “aku Cuma gak tau gimana harus bersikap sama Ray, Yo. Aku gak tau gimana caranya supaya dia gak sakit hati. Itu aja” lirih Ify. Rio pun langsung membuang napasnya dengan kasar.


♫♫♫

            Pemuda tampan itu menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah taman. Rasa kesalnya pada gadis yang ada disampingnya sekarang ini masih terasa. Setelah menghela napas beberapa kali dan berusaha meredam segala luapan emosinya, ia pun akhirnya menoleh kearah Sivia. Lagi-lagi, ia merasa seperti pernah bertemu dengan Sivia sebelumnya. Hanya saja… ia belum begitu yakin dengan apa yang ia rasakan sekarang ini. Mungkin hanya mirip.
            “turun!” titahnya dengan tegas. Tapi Sivia sama sekali tidak mendengar. Ia terduduk dengan pikiran hampa. Rasa kecewa yang telah dihadiahkan oleh Papa nya masih membekas. Dan rasa kecewa yang sekarang ia rasakan hanyalah akumulasi dari semua rasa kecewa yang selalu Papanya berikan.
            Sivia tidak bisa terus berpura-pura menerima perlakuan Papanya. Apa Papanya lupa kalau Sivia juga punya hati? Apa Papanya lupa, kalau Sivia juga punya batas kesabaran? Ya… mungkin inilah batas kesabaran itu. Ini batas kesabarannya selama beberapa tahun terakhir ini.
            Pemuda itu merasa bingung dengan Sivia. Sedari tadi yang Sivia lakukan hanyalah duduk melamun sambil menunduk. Pemuda itu tidak tahu persis, tapi ia yakin bahwa saat ini Sivia sedang dalam masalah.
            Pemuda itu berusaha menepikan semua ego nya. Sekali lagi ia menghela napas panjang dan berinisiatif untuk mengantarkan gadis berpipi chubby ini pulang kerumahnya. Ia tidak mungkin tega melihat ABG ini pulang sendirian. Hey, come on! Dia tidak sejahat itu, kan?
            “rumah kamu dimana? Saya anterin pulang” ucapnya berusaha terdengar sehati-hati mungkin.
            Sivia menggeleng pelan. “gak. Aku gak mau pulang!”
            “Tapi –“ sebelum pemuda itu menyelesaikan perkataannya, Sivia langsung mengangkat wajahnya lalu menatap pemuda tampan berwajah oriental itu.
            “makasih ya, Om udah nolongin Via tadi?”
            Alvin mengangguk meskipun hatinya merasa sangat tidak terima dengan panggilan Sivia barusan.
            “oya, saya masih 23 tahun. Bisa kan jangan panggil saya Om?”
            Sivia tampak berpikir.tidak lama ia mengangguk lalu berusaha meralat ucapannya tadi.
            “terimakasih Kakak. Via pamit ya?”
            Sivia keluar dari dalam mobil itu dengan pikiran yang masih berantakan. Merasa tidak tega melihat Sivia seperti itu, pemuda itu buru-buru keluar dari mobilnya. Ia mengejar langkah Sivia dan menarik pergelangan tangannya saat jarak mereka sudah dekat.
            “kenapa lagi, Om? Eh… Ka… kakak?”
            “kamu suka ice cream?”
            Pemuda itu menatap dalam pada kedua manik mata Sivia. Tidak lama sebuah ingatan berkelebat dikepalanya. Dalam waktu yang sedimikian singkat, ia kembali mengingat siapa gadis ini sebenarnya. Sebisa mungkin, ia berusaha menahan segala gejolak didadanya. Seperti skenarionya diawal. Ia harus terlihat biasa saja jika mereka dipertemukan kembali.
            Setelah cukup lama, Sivia akhirnya mengangguk atas pertanyaan itu. Pemuda itu tersenyum miring lalu menarik lengan Sivia dan membawanya kesebuah café ice cream yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang.
            “nama Kakak siapa?” Tanya Sivia beberapa saat setelah ia melahap satu sendok ice cream cokelat strawberry favoritnya. Saat ini, mereka berdua sudah duduk berhadapan diatas balkon sebuah café ice cream yang tadi ia lihat.
            “Alvin” jawab pemuda itu singkat. Untuk sejenak Sivia tertegun, kenapa pemuda ini tidak menanyakan namanya sejak tadi.
            “Kakak kok gak nanyain sama aku?”
            Kali ini giliran Alvin yang tertegun. Sedetik ia membeku ditempat. ‘ternyata dia bener-bener gak inget’ pikirnya. Tidak lama ia kembali tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan Sivia tadi ia berkata,
            “lain kali, sebesar apapun masalah yang kamu hadapi, jangan pernah berpikir untuk kabur dari rumah. Papa sama adik kamu pasti bakalan khawatir banget”
            “Papa sama adik? Kok Kakak tau aku punya Papa sama adik? Kakak ini peramal ya?”
            Alvin tersenyum penuh misteri dan semakin membuat Sivia kebingungan.


♫♫♫

            Setelah dari café ice cream, Alvin langsung mengantarkan Sivia pulang kerumahnya. Dan berkat Alvin, Sivia bisa melupakan semua masalah yang sekarang ia hadapi. Bahkan tadi, Alvin mampu membuatnya tertawa lepas bahkan disaat ia tidak ingin tersenyum. Meskipun masih sangat bingung karna Alvin tidak menanyakan namanya sama sekali, tapi Sivia tetap menikmati kebersamaannya dengan Alvin. Yang anehnya, bagi Sivia, ini kali pertamanya mereka bertemu, tapi kenapa ia merasa begitu dekat dengan Alvin?
            “sekali lagi makasih ya, Kak? Makasih udah nganterin aku pulang, dan makasih juga buat traktiran ice cream nya. Aku ngerasa lebih baik sekarang”
            “it’s oke, Sivia…” jawab Alvin seraya mengedipkan salah satu matanya.
            Setelah pamit pada Sivia, Alvin langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan standart. Sivia melambaikan tangannya pada pemuda baik hati itu. Melihat apa yang Sivia lakukan dari kaca spion, Alvin tersenyum dan tersipu. Gadis itu tetap saja keras kepala. Sama persis seperti 5 tahun yang lalu, saat pertama kali Alvin menemukannya.
            Saat mobil Alvin sudah menghilang dari pandangannya Sivia baru mengingat sesuatu. Tadi bukannya Alvin menyebutkan namanya? Dan… bagaimana bisa Alvin tahu alamat rumahnya sementara Sivia tidak memberitahunya? Ini aneh dan Sivia merasa kecolongan.


            “Kak Alvin? Kakak siapa sebenernya?”



                        To Be Continued…

Thursday, September 18, 2014

1

My Destiny (Anugerah Terindah Pemberian Tuhan) -Prolog-

Aku berdiri diatas reruntuhan hatiku meratapi kisah indah yang aku lalui, menit demi menit berganti hari kini menjelma menjadi sebongkah kenangan pahit yang membekas dalam. Tidak, aku tidak pernah mengingkan hidup yang seperti ini. Bahkan dalam mimpipun, aku tak pernah sekalipun sudi menginginkannya.
            Tapi tangan Tuhan, justru melukiskan kisah yang lain. Kepergian dan kehilangan yang Ia hadiahkan padaku membuat sayapku patah, membuat aku tidak bisa terbang lagi. Kata orang, inilah yang disebut dengan takdir. Takdir? Takdir macam apa ini? Jika ini adalah takdir yang telah tergariskan untukku sejak semula, maka aku ingin berteriak sekeras mungkin, bahwa aku sangat membenci takdir ini.
            Hidup bersama orang yang tidak kau cintai karna suatu keharusan selama bertahun-tahun lamanya, dan bahkan terancam untuk selamanya. Apakah ini yang disebut takdir?
            Aku, dia, dan sekelumit kisah rumit ini akan menjawabnya bersama dengan… takdir kami masing-masing…

♫♫♫



Sebatang  Cokelat Kenangan..., (Terimakasih, Kakak Ganteng!)

            Gadis kecil berusia 12 tahun itu meringkuk ketakutan dibawah salah satu meja. Kedua matanya menangkap dengan jelas beberapa pasang kaki yang bersileweran kesana kemari. Dalam hati ia terus merapalkan sebuah permohonan agar Papa nya tidak menemukannya dalam persembunyiannya kali ini.
            Si Gadis kecil berwajah manis dan berpipi chubby itu harusnya kini sudah bersiap dibelakang panggung, tapi ia merasa gugup sekali. Baginya ini pengalaman pertamanya mengikuti lomba menyanyi antar sekolah. Ia merasa belum siap, bahkan tadi pagi ia sempat adu argument dengan Papanya.
            Karna Papa nya terus memaksa, ia akhirnya dengan terpaksa mengikuti perintah Papanya. Papanya bilang, ia membawa nama baik sekolah yang dipimpin oleh Papanya, jika sekali ini saja ia melakukan tindakan gila seperti ini, maka nama baik sekolah akan tercoreng.
            Tapi setibanya digedung tempat lomba dilaksanakan, gadis kecil itu mengambil kesempatan untuk bersembunyi. Ia merasa tidak mampu melawan rasa gugupnya. Ia takut sekali.
            Tanpa pernah terlintas dibenaknya sekalipun, seorang pemuda tampan yang berusia sekitar 18 tahun menunduk dan tersenyum ketika melihatnya bersembunyi dibawah meja. Pemuda tampan yang ternyata adalah seorang mahasiswa itu terkekeh pelan, ia duduk dihadapan gadis kecil itu dengan manis.
            “Hay adik kecil… kok sembunyi disini?” tanyanya dengan nada bersahabat.
            Gadis kecil itu semakin meringkuk. Takut-takut kalau Kakak ini akan menyeretnya paksa keluar dari persembunyiannya. Tapi tunggu dulu! Kakak ini memanggilnya dengan panggilan ADIK KECIL? Enak saja, ia sudah remaja sekarang. Setidaknya itulah yang ada dipikiran polosnya.
            Ia melupakan sejenak alasan kenapa ia sampai harus bersembunyi dibawah meja begini, ia lalu melotot tajam kearah Kakak sok tahu itu.
            “Aku bukan anak kecil lagi. Aku udah 12 tahun, dan aku udah remaja. Mengerti Kakak sok tahu?” cecarnya dengan wajah sok galak.
            Pemuda itu kembali terkekeh. Ia lalu mengulurkan salah satu tangannya dan mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu.
            “kamu lucu kayak anak kuncing Kakak yang baru kemarin lahir”
            “aku bukan anak kucing. Nama aku Sivia. Sivia Oriza Queen. Kakak ini bener-bener sok tahu!” sekali lagi ia melayangkan protes.
            “Oke… Sivia Oriza Queen… Sivia kenapa sembunyi disini?”
            “Kakak kenapa nanya-nanya? Kakak pasti disuruh Papa buat jemput aku kan, iya kan?”
            “Lho –“
            “Bilang sama Papa, aku gak mau ikut lomba nyanyi. Aku gugup dan aku gak bisa berdiri diatas panggung apalagi bernyanyi dalam keadaan kayak gini” ia memotong dengan nada sok dewasanya.
            Mendengar nada bicara  Sivia yang terkesan dibuat-buat malah membuat pemuda berwajah oriental itu tidak bisa menahan tawanya. Tawanya meledak dan membuat Sivia bingung setengah mati.
            “Kenapa Kakak ketawa? Ada yang lucu?”
            “Udah kakak bilang, kamu itu lucu kayak anak kucing Kakak yang baru kemarin lahir”
            “Aku bukan anak kucing!” tandasnya.
            “hahaha… oke oke oke… Sivia bukan anak kucing, tapi Sivia adalah anak yang pintar. Dimana-mana yang namanya anak pinter itu selalu ngikutin perintah Papanya. Dan yang namanya anak pinter itu gak pernah sembunyi kalo disuruh nyanyi. Mengerti?”
            Sivia diam berpikir. Tidak lama ia menatap pemuda itu dengan tatapan lugu nan polosnya. “Tapi aku gugup, Kak…” ujarnya setengah merajuk.
            “Gugup itu wajar, tapi nanti kalo Sivia udah berdiri diatas panggung dan liat senyuman Papa, gugupnya Sivia pasti bakalan ilang. Dan ini, Kakak punya hadiah kecil biar Sivia gak gugup lagi…” kata pemuda oriental itu sambil menjulurkan sebatang cokelat yang merupakan makanan kesukaan Sivia.
            Sivia tersenyum lebar lalu menerima cokelat itu dengan senang hati.
            “Kakak gak bohongin Sivia, kan?” tanyanya beberapa saat setelah ia menerima cokelat itu. Pemuda itu hanya mengangguk.
            Untuk yang terakhir kalinya pemuda itu tersenyum, dan untuk yang terakhir kalinya juga ia mengusap lembut kepala Sivia dengan sayang. Ia bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Sivia disana.
            Setelah langkah pemuda tadi lumayan jauh, Sivia baru ingat bahwa ia belum sempat mengucapkan terima kasih pada ‘Kakak Ganteng’ yang baik hati itu. Siviapun memilih keluar dari persembunyiannya dan tanpa sadar memanggil pemuda itu dengan nada setengah berteriak,
            “Kakak Ganteng!”
            Pemuda tadi tidak mendengar. Ia bahkan kini telah menghilang dari pandangan Sivia.

            “Terimakasih, Kakak Ganteng…” ucapnya pelan. Bahkan sangat pelan.

            “Siviaaa… kamu darimana saja? Daritadi Papa nyariin. Cepet siep-siep! Bentar lagi giliran kamu buat tampil” kata Papa setengah mengomel sambil menghampiri Sivia.
            Sivia tersenyum. Lalu dengan penuh semangat, ia memberi hormat pada Papanya seraya berkata,  “SIAP BOSS!!”

            Sivia melangkah kearah belakang panggung dengan semangat menggebu. Entah kenapa, rasa gugup yang sejak tadi melingkupi dirinya kini menghilang tanpa bekas sedikitpun. Kakak Ganteng tadi memang benar-benar ajaib.

            Sembari berjalan, Sivia menyimpan baik-baik cokelat itu didadanya.



♫♫♫