Friday, February 28, 2014

0

You’re Mine [Part 15:Sebentuk Pengorbanan Yang Manis]











Sebelumnya…


“Pa… Papa? Re… REA???” ujar Cakka pelan.

            Cakka kembali menutup pintu ruang perawatan Via sebelum Edgar menyadari kehadirannya.
            Cakka berjalan perlahan meninggalkan ruang perawatan Via dengan perasaan yang tidak dapat terjelaskan oleh kata-kata. Baru beberapa jam yang lalu ia menyatakan perasaannya pada Gadis itu, tapi sekarang Cakka harus menerima sebuah kenyataan yang benar-benar membuatnya terpuruk. Cakka berharap bahwa semua ini hanyalah sebuah kesalahan.
            Cakka memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Pandangannya pun mulai mengabur seiring ia merasakan matanya mulai menghangat. Cakka lalu bersandar pada salah satu pilar, kedua lulutnya mulai melemas, dan ia merasa seluruh tulang-tulangnya seperti dipresto. Saat ini Cakka benar-benar tidak memiliki daya untuk sekedar menggerakan kakinya.
            Air mata itu secara perlahan mulai turun membasahi wajahnya. Ternyata Rea kecil yang selama ini ia cari begitu dekat dengannya bahkan berada dalam jangkuannya. Cakka sangat menyesal karna tidak bisa menyadari itu sejak awal.

            ‘SIVIA ANDREA PUTERI .A.’ Cakka baru menyadari bahwa huruf ‘A’ yang tersemat dibelakang nama Via adalah kepanjangan dari ‘ADHIRAJASA’ nama belakang Papanya sekaligus nama belakangnya sendiri.
            Secara perlahan Cakka mendudukan tubuhnya dilantai dengan suara isakkan tertahan, dan Cakka sama sekali tidak peduli saat perhatian semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh.
            Cakka berat mengakui ini, tapi takdir benar-benar membuktikan bahwa Via adalah Rea, adik yang selama ini ia cari. Seorang adik yang telah ia rebut kebahagiaan masa kecilnya juga masa depannya.
                             
            “maafin Kakak, Rea… maaf karna udah ngerusak kebahagiaan kamu selama ini dan bikin kamu ngejalanin hidup yang bener-bener keras tanpa kehadiran seorang Ayah… Kakak akan balikin semua yang udah Kakak rebut dari kamu… Kakak janji Andrea…..”




***


Part 15


“Maafkan kejujuran ku walau menyakitkan
Dan mungkin takkan bisa kulupakan
Hingga akhir nanti…
Ku lepaskan cinta ini ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia….”


(Sammy Simorangkir ~ Kau Harus Bahagia)



            Sebentuk rasa bernama putus asa mulai menyeruak manakala kenyataan bahwa cinta terlarang itu mulai terkuak kepermukaan dan mengendap bersama setumpuk rasa kecewa. Dan disini, tempat dimana ia bahkan belum bisa memperjuangkan cintanya, ia terlanjur menyerah pada keadaan, melepaskan semua perasaan itu terbang bebas ke angkasa luas dan menyisakan berbuih-buih luka yang berserakan didada.
            Maka disinilah ia berdiri sekarang, terseok menanti kepastian akan hatinya, berusaha menahan sakit dan sesak itu sendiri. Satu keyakinan yang selalu ia pegang teguh, bahwa dia yang senantiasa ia cintai harus hidup penuh kebahagiaan meskipun luka itu menderanya tanpa ampun.




***


            Sepulangnya dari rumah sakit, Cakka langsung memasuki kamar milik Rea kecil yang selalu mampu membuat perasaannya terasa jauh lebih baik. Cakka duduk dipinggir ranjang Rea lalu meraih salah satu frame foto berukuran 4R. Dalam foto itu tampak gambar Rea kecil yang sedang tersenyum manis dengan rambut panjangnya yang terurai. Tangan Cakka yang gemetar perlahan terangkat lalu menyentuh foto itu. Air mata itu masih belum mau surut sejak ia dirumah sakit tadi.
            Rasa sesal bercampur sesak menjelma menjadi satu dan seakan menyiksanya tanpa ampun. Kenapa ia harus sebodoh itu? Kenapa ia bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada adiknya sendiri?
            Sejak mengenal Via 2 bulan yang lalu, Cakka memang sudah memiliki sebuah firasat kalau Via memang adalah Rea. Tapi dengan egoisnya, Cakka menepikan semua rasa itu dan mencari alasan-alasan lain yang membuatnya pada akhirnya jatuh cinta pada Via yang ternyata adalah Andrea.
            Cakka lalu memeluk frame foto itu, mengeluarkan air matanya sebanyak mungkin bersama seluruh rasa cintanya yang berusaha ia lepaskan.

            ‘ini adalah salah satu alasan, kenapa aku dan kamu nggak pernah bisa bersatu, Via…’

            Shanaz –Mama Cakka- tiba-tiba saja memasuki kamar Rea saat ia melihat pintu kamar yang sudah lama tidak berpenghuni itu sedikit terbuka. Awalnya Shanaz hanya berniat untuk menutup pintu kamar itu, tapi Shanaz langsung mengubah niatnya ketika ia melihat Cakka yang saat itu duduk sendirian ditepi ranjang Rea seraya memeluk sebuah frame foto.
            Shanaz yang merasa ada yang tidak beres dengan Putera Semata Wayangnya itu pun berjalan perlahan menghampiri Cakka lalu duduk disamping Cakka. Shanaz memegang pundak Cakka lalu sedikit menunduk untuk bisa melihat wajah Cakka.

            “Cakka… kamu kenapa, sayang? Kamu nangis??” Tanya Shanaz sedikit cemas. Cakka menyeka air matanya lalu menghela napas beratnya.

            “apa selama ini Mama sudah tau kalo Papa sudah nemuin Andrea?” ujar Cakka tiba-tiba. Shanaz langsung terdiam. Selama ini ia memang sudah tahu kalau suaminya sudah menemukan anak dari isterinya terdahulu, tapi Shanaz belum mempunyai cukup keberanian untuk mengatakannya pada Cakka.
            “kalau Mama sudah tahu, kenapa Mama nggak pernah mau ngasih tau aku, Ma? Kenapa?” kali ini Cakka menatap Mama nya dengan pandangan nanar. Dan seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Shanaz melihat Cakka se-terluka ini.
            “maafkan Mama, Nak… tapi Mama nggak cukup berani buat mengatakan yang sebenarnya sama kamu” ujar Shanaz penuh dengan rasa sesal. Ia pun hanya bisa menunduk tanpa berani menatap kedua mata Cakka.
            “Mama sadar nggak sih apa akibat dari ketidakberanian Mama itu?”
            Kali ini Shanaz mengangkat wajahnya, ia terlihat seperti ingin menjelaskan sesuatu pada Cakka, tapi Cakka seakan tidak memberikannya kesempatan sama sekali.
            “aku jatuh cinta sama adik aku sendiri, Ma… aku jatuh cinta sama Andrea….”
            “apa?? Ta… tapi ba… bagaimana bisa??” Tanya Shanaz dengan terbata-bata.
            Cakka tersenyum miris seraya mengangguk beberapa kali. Ia lalu bangkit dari sisi Shanaz dan berjalan perlahan kearah balkon kamar Rea.
            “Mama pikir aku tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta sama Andrea, aku juga nggak tau Ma, aku juga nggak tau… seandainya sejak awal aku tahu kalo dia adik aku, mungkin aku… mungkin aku nggak akan pernah, hhh –“ sekali lagi Cakka menghela nafas beratnya, ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan perkataannya. Semuanya terlalu berat untuk Cakka. Dan air mata itu kembali turun secara perlahan. Kali ini Cakka sudah benar-benar putus asa.
            “sayang dengerin  Mama…” Shanaz bangkit dari tepi ranjang Rea lalu berjalan menghampiri Cakka yang berdiri dibalkon. Shanaz memegang kedua sisi wajah Cakka seraya berusaha keras menahan luapan air matanya yang sejak tadi tertahan sempurna dikedua pelupuk matanya.
            “kamu jatuh cinta sama Andrea itu bukan sebuah kesalahan, Nak… Cuma mungkin keadaannya yang salah”
            Cakka menggeleng berkali-kali, berusaha menolak penjelasan Mamanya. Cakka lalu menurunkan kedua tangan Mamanya dari wajahnya.
            “sejak awal semuanya memang udah salah, Ma. Cakka lahir kedunia ini saja dan merebut semua kebahagiaan Andrea itu adalah sebuah kesalahan besar, Ma. Harusnya Cakka nggak pernah ada, harusnya Cakka nggak pernah lahir ke du –“

            PLAAAK! Sebuah tamparan dari tangan Shanaz mendarat tepat dipipi sebelah kanan Cakka sebelum Cakka menyelesaikan perkataanya. Cakka menyentuh pipinya dan secara perlahan menatap Sang Mama yang ketika itu sudah berurai air mata.

            “kamu tahu, Kka? Ucapan kamu barusan bener-bener melukai perasaan Mama, Nak… Mama sakit dengan ucapan kamu itu. Kamu adalah harta paling berharga yang pernah Mama punya, tapi kamu dengan mudahnya mengatakan bahwa kamu seharusnya nggak pernah ada. Kamu adalah kekuatan Mama, Nak…”

            “Ma…”

            “Mama minta maaf karna sejak awal Mama nggak ngasih tau kamu tentang semua ini, tapi Mama Cuma mau menjaga perasaan kamu, Nak… Mama nggak mau kamu terluka. Sudah cukup Mama yang melakukan kesalahan dimasa lalu, dan Mama nggak mau kamu ikut-ikutan terseret dalam kesalahan yang Mama lakukan. Kamu cukup hidup buat Mama, itu semua sudah lebih dari cukup, Nak… Mama nggak minta banyak dari kamu…”

            “tapi disini rasanya sakit Ma…” ujar Cakka seraya memegangi dadanya sendiri. Kali ini Cakka membiarkan isakkannya pecah.

            “sakit rasanya saat untuk pertama kalinya Cakka jatuh cinta dalam hidup Cakka, tapi Cakka harus menerima kenyataan bahwa Gadis yang merupakan cinta pertama Cakka itu ternyata adik Cakka sendiri. Sakit rasanya saat Cakka tahu kalau ternyata perasaan yang Cakka punya ini hanya sebuah perasaan cinta terlarang yang nggak seharusnya terjadi… terus Cakka harus gimana setelah ini, Ma? Gimana Cakka harus menjelaskan semuanya pada Via, Ma… gimana?”

            Shanaz lebih mendekati Cakka lalu membawa Cakka kedalam pelukan hangatnya. Shanaz membelai lembut rambut Cakka, berusaha memberikannya kekuatan agar ia tetap bisa bertahan dan berdiri dengan tegak. Shanaz lalu menepuk punggung Cakka beberapa kali lantas berkata,

            “tidak ada yang salah dengan cinta, Nak… yang salah hanya keadaannya saja… percaya sama Mama….”

            “Cakka sayang sama Andrea, Ma…. Cakka sangat mencintai dia. Lebih dari apapun itu, Cakka mau dia jadi milik Cakka, Ma…. Cakka harus bagaimana sekarang, Ma…? Cakka harus bagaimana? Hiks…”




***


            “Manusia dapat hidup normal hanya atau cukup dengan 1 ginjal yang fungsional. Seseorang juga dapat beraktivitas seperti sebelum mendonorkan ginjalnya. Akan tetapi, untuk menjaga agar satu-satunya ginjal yang ada tidak mengalami kejadian yang tidak diinginkan, kamu perlu menghindari olahraga keras dan yang terpenting, kamu juga tidak boleh terlalu lelah, Alvin…”

            Perkataan dari Dokter Aninda –Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tantenya- itu berkelebat dikepala Alvin dan kembali melemparkannya  pada posisi dilematis. Jika nanti ia mendonorkan ginjalnya pada Via, itu artinya ia akan kehilangan separuh hidupnya. Alvin menghela napas beratnya. Ia menatap Via untuk beberapa saat yang ketika itu masih sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tangan kanan Alvin terangkat secara perlahan lalu mendarat tepat dipuncak kepala Via. Sore tadi Dyna menelponnya dan mengabarkannya bahwa Via sedang dirawat dirumah sakit. Alvin yang merasa cemas dengan kondisi Via itu langsung bergegas pergi kerumah sakit.
            Dan disinilah Alvin sekarang, menyaksikan Via yang sedang memejamkan matanya dan terlelap dalam napasnya yang teratur. Tidak, kenapa Alvin masih harus berfikir dua kali untuk mendonorkan ginjalnya pada Via? Memang sudah seharusnya Alvin melakukan hal itu tanpa perlu berfikir. Bukankah Alvin begitu menyayangi Via dan ingin melihat Via sembuh?
            Alvin tidak peduli jika ia harus memberikan separuh hidupnya untuk Via. Jangankan separuh hidupnya, Alvin bahkan rela memberikan seluruh hidupnya untuk Gadis ini jika diperlukan.
            Alvin menunduk dalam sambil mengenggenggam lembut jemari tangan Via. Apapun akan Alvin lakukan asalkan dia tidak kehilangan Via. Itu janjinya dalam hati.
            Tahu-tahu Alvin merasakan tangan Via yang terbungkus oleh tangannya bergerak secara perlahan. Alvin yang kaget langsung mengangkat wajahnya dan melihat kearah Via.
            Dan akhirnya setelah hampir selama 4 jam tidak sadarkan diri, Viapun membuka matanya. Dan orang pertama yang Via lihat adalah Alvin.

            “Vi… Via…? Kamu udah sadar??” kata Alvin yang akhirnya bisa menghela napas lega.

            “A… Alvin…” panggil Via dengan susah payah. Kondisinya masih terlalu lemah setelah hampir selama 5 jam ia tidak sadarkan diri.

            “aku panggilin Dokter Aninda, ya? Kamu tunggu disini!”

            Tepat saat Alvin akan melangkah pergi, Via buru-buru mencekal pergelangan tangannya. Alvin langsung menoleh kearah Via dan menatapnya dengan pandangan heran.

            “jangan pergi” pinta Via seraya menggelengkan kepalanya.
            “ta… tapi…”
            “gue mohon jangan pergi…” pinta Via sekali lagi. Alvin akhirnya luluh dan kembali duduk disamping Via.

            Selama beberapa menit kedepan, baik Alvin maupun Via sama-sama terdiam. Mereka juga sama-sama tidak tau harus mengatakan apa setelah tadi siang mereka resmi putus.

            “Alvin… maafin gue ya? Gue janji, nanti saat gue udah bisa masuk sekolah, gue akan bersikap seolah-olah gue udah dicampakkin sama lo, biar reputasi lo nggak rusak, Vin. Gue juga akan bilang kesemua, kalo sebenernya elo yang mutusin gue, gue –“ Alvin yang paham akan kemana arah pembicaraan Via langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali seraya tersenyum penuh kerelaan sebelum Via menyelesaikan ucapannya. Ia hanya ingin menunjukan pada Via bahwa ia selalu baik-baik saja, meskipun sebenarnya hatinya sama sekali tidak demikian.

            “nggak apa-apa, Via… lo nggak perlu ngelakuin hal bodoh itu Cuma untuk nyelametin reputasi gue, beneran deh… dan toh kita masih bisa jadi temen kan?”

            Via mengangguk beberapa kali, menyetujui dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan.

            “gimana keadaan lo sekarang? Apa yang lo rasain?” Tanya Alvin sehati-hati mungkin dan berusaha mengalihkan arah pembicaraan tadi.

            “gue nggak apa-apa kok, Vin… udah lama sih gue menderita penyakit usus buntu, dan penyakit gue emang kadang-kadang suka kambuh…” ujar Via berbohong yang sejujurnya hanya ingin menyembunyikan penyakitnya dari Alvin. Tapi percuma saja Via berbohong seperti itu, karna toh Alvin sudah mengetahui penyakit gagal ginjal yang ia derita jauh hari sebelum hari ini.
            Alvin mengangguk, pura-pura mempercayai ucapan Via itu. Alvin juga tidak ingin Via tahu bahwa sebenarnya dia lah yang nantinya akan mendonorkan ginjalnya untuk Via.

            “terus kapan lo akan operasi?” ada sedikit getaran dalam nada bicara Alvin, tapi Alvin mati-matian menyembunyikannya. Ia juga berusaha keras menahan agar air matanya tidak terjatuh walaupun itu hanya setetes saja.

            “gue nggak tau. Dokter Aninda yang tau…”

            “lo harus operasi secepetnya ya? Dan lo harus janji sesuatu sama gue…”

            “apa?” Tanya Via singkat seraya menatap dalam ke manik mata Alvin.

            “lo harus sembuh. Lo harus baik-baik aja…”

            Via mengangguk beberapa kali sambil mengulas senyuman termanis yang pernah ia miliki.

            “pasti…”

            Merasa tidak tahan lagi dengan segala kebohongan yang tercipta diantara mereka, Alvin pun memutuskan untuk keluar dari ruang perawatan Via. Tapi sebelum keluar, Alvin sempat pamit pada Via.

            “Vi… gue ke toilet bentar ya?”

            Via hanya mengangguk. Alvin segera bergegas keluar dari ruang perawatan Via. Setibanya diluar Alvin langsung menumpahkan habis tangisannya. Rasanya sesak bercampur pedih. Jika bisa, Alvin ingin menggantinkan posisi Via sekarang ini. Dan jika bisa, Alvin juga mau semua kesakitan yang Via derita saat ini ditanggung sepenuhnya oleh Alvin. Alvin tidak kuat melihat Via seperti itu, dan Alvin sakit saat setiap waktu Via selalu berusaha membohonginya demi menyembunyikan sakit yang ia derita.


            “gue janji lo akan sembuh, Vi… apapun akan gue lakuin demi lo termasuk itu memberikan separuh dari hidup gue buat lo…” ujar Alvin dengan isakkan tertahannya.

            Beberapa detik setelah kepergian Alvin, Via langsung meneteskan air mata yang memang sejak tadi ia tahan. Ia sedikit merasa bersalah karna telah membohongi Alvin. Via lalu menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.

            “kalo aja gue bisa buat permohonan, gue Cuma mau memohon supaya gue bisa menyayangi lo seperti lo menyayangi gue Alvin… kalo aja gue bisa….” Lirih Via pelan.




***


            “Alvin” panggil Pricilla saat Alvin baru saja selesai mengusap air matanya dan bersiap-siap untuk hengkang dari ruang perawatan Via.

            “apa?” jawab Alvin seadanya,

            Pricilla berjalan mendekati Alvin seraya menatap Alvin dengan pandangan yang penuh dengan ketidak sukaan. Sementara Alvin, ia hanya bisa membalas tatapan Pricilla itu dengan pandangan bertanya.

            tell me, bener elo yang donorin ginjal buat Via?”

            Alvin terdiam untuk beberapa saat dan mulai berfikir darimana Pricilla tau tentang semua ini. Tidak lama Alvin lalu menghela napas panjangnya dan menatap mata Pricilla dalam,

            “dari mana lo tau?!”

            “berarti bener elo yang donorin?”

            “Priss –“

            you can't do that, Alv! you can't, apa lo pernah berpikir itu artinya apa?” ada getaran dalam nada bicara Pricilla itu. Ia hanya takut sesuatu yang buruk akan menimpa Alvin setelah nanti ia mendonorkan ginjalnya untuk Via, Pricilla hanya mencemaskannya.
            Alvin menunduk lalu mengangguk. Ia tahu, bahkan sangat tahu resiko apa yang nantinya akan ia terima, tapi Alvin sudah siap dengan semuanya. Toh ia tidak akan peduli pada apapun jika itu menyangkut Via, seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi penguasa tunggal hatinya.

            “kalo lo tau kenapa lo lakuin??” kata Pricilla sedikit tak sabar.

            but I will not die, Priss. Lo nggak perlu takut, trust me, everything will be fine. Gue Cuma butuh support dan kerja sama dari lo, itu aja”

            “kerja sama apa maksud lo?” tanya Pricilla sedikit bingung.

            Alvin mengusap wajahnya, ia berusaha bersikap setenang mungkin lalu memegang kedua pundak Pricilla.

            “tolong lo jangan kasi tau siapapun. Yang tahu masalah ini Cuma gue, elo dan Tante Aninda. Gue mohon banget kerja sama lo disini, Priss… dan satu hal yang harus lo tau, I believe in you…” kata Alvin penuh kesungguhan.
           
            “ta… tapi…”

            “please… gue Cuma mau ngelakuin sesuatu buat Via, dan gue ingin bener-bener ngerasain gimana rasanya berkorban buat orang yang gue sayang. Ini baru separuh hidup gue yang gue kasih ke Via, malah kalo lo mau tau, gue rela ngasih seluruh hidup gue buat dia, Cuma buat dia… gue bener-bener sayang sama Via, Priss… gue bener-bener sayang sama dia…”

            Pricilla berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh setetes pun. Sekuat apapun ia meyakinkan dirinya untuk tidak cemburu, tapi tetap saja ia tidak bisa. Dan akan sangat munafik kedengarannya jika Pricilla mengatakan bahwa ia tidak cemburu sama sekali. Rasa cemburu itu seakan membakar jantungnya. Pricilla tidak habis pikir, kenapa Alvin begitu menyayangi Via dan rela melakukan apapun demi Via. Andai Pricilla yang berada dalam posisi Via saat ini, apa Alvin juga akan melakukan hal yang sama?
            Pricilla mengigit bibir bagian bawahnya agar isakan itu tidak terdengar. Pricilla menyentuh tangan Alvin yang masih berada diatas kedua pundaknya, tidak lama kemudian, Pricilla pun akhirnya menurunkan kedua tangan itu dari pundaknya.

            up to you” ujar Pricilla putus asa.

            Pricilla lalu pergi dari hadapan Alvin tanpa berkata apapun. Sekarang terserah Alvin mau melakukan apapun itu, Pricilla tidak ingin menghalanginya. Pricilla juga tidak boleh egois, ini jalan satu-satunya supaya Via bisa sembuh kembali. Pricilla harus bisa ikhlas.



***


            Seingat Via tadi Cakka yang membawnya kerumah sakit, tapi kenapa hingga sekarang Cakka tidak menampakkan batang hidungnya dihadapan Via. Kemana Cakka? Via tidak henti-hentinya bertanya tentang keberadaan Cakka. Via juga sudah beberapa kali mencoba menghubunginya, tapi Cakka malah tidak mengangkat telfonnya. Via mulai gusar, apa Cakka baik-baik saja?
            Via sedikit terkejut saat tiba-tiba Dyna dan Dokter Aninda memasuki ruangannya. Mereka berdua menghampiri Via dan berdiri disamping kiri dan kanan Via.

            “apa yang kamu rasakan sekarang, Vi?” Tanya Dokter Aninda yang hendak memastikan keadaan Via saat ini.
            Via tersenyum lalu menggeleng pelan,
            “saya ngerasa udah baikan kok, Dok… rasa nyeri dipinggang saya juga udah ilang” ujar Via dengan mantap. Dyna dan Dokter Aninda hanya bisa tersenyum seraya menggumamkan kata syukur.

            “oya, Vi… Tante ada kabar gembira buat kamu”

            “kabar apa, Tan?”

            Sebelum menjawab pertanyaan Via, Dyna sempat melirik sejenak kearah Dokter Aninda yang saat itu sedang melempar senyum kearahnya, Dyna pun mengangguk lalu menyentuh pundak Via.

            “kamu udah dapet pendonor ginjal, dan besok kamu udah bisa ngelakuin operasi sayang”

            “Tante yang bener??” Tanya Via antusias. Kali ini Via sudah tidak bisa lagi menggambarkan rasa bahagia serta harunya. Bahkan saking terharunya, air matanya sampai terjatuh membasahi wajahnya.
            Dyna hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Via tadi . Via yang sudah tidak bisa lagi menahan segala luapan perasaannya langsung menghambur kedalam pelukan Tantenya.

                                          
            ‘kamu sangat beruntung Via karna dicintai oleh orang setulus Alvin….’ Bathin Dokter Aninda seraya membelai lembut rambut Via yang  ketika itu sedang tenggelam dalam luapan rasa bahagianya.




***


            Cakka hanya memandangi ponselnya tanpa melakukan apapun. Sudah 5 kali Via mencoba menghubunginya, tapi hingga 5 kali juga ia tidak merespon panggilan itu. Bukan keinginannya untuk menghindar dari Via seperti ini, tapi kenyataan yang saat ini tengah ia hadapi benar-benar harus membuatnya mundur secara perlahan dari perasaan cintanya pada Via. Ia tidak mungkin bisa mencintai Via selamanya.
            Kali ini ponsel milik Cakka bergetar menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk ke nomornya. Cakka lalu meraih ponselnya dan membuka pesannya,


======================

From: VIA

Kamu kemana aja?
Aku nyariin kmu saat aku
Buka mata tadi. Tapi dimana pun
Kamu skrg, aku Cuma mau ngucapin
Makasih sama kamu :)

======================


            Cakka berusaha keras melawan keinginanya untuk tidak membalas pesan singkat itu. Bagi Cakka, menghindari Via adalah jalan terbaik satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini. Tapi hal yang menurutnya adalah jalan terbaik satu-satunya justru melemparkannya pada posisi paling menyesakkan seumur hidupnya. Tidak mudah bagi Cakka berada dalam posisi ini. Posisi yang ia tahu adalah posisi yang paling sulit dalam hidupnya, posisi yang ia tahu akan selalu menyakitkannya disetiap helaan nafas nya, posisi yang ia tahu akan selalu mengguratkan luka didinding hatinya pada setiap menitnya.
            Tapi Cakka lebih sakit lagi saat harus menerima kenyatan bahwa ini hanya jalan satu-satunya dan ia harus melaluinya.
            Cakka lalu menghela napas panjangnya, dan entah kenapa itu justru semakin mengundang rasa perih dihatinya. Kenapa kenyataan yang ia hadapi harus seberat ini? Jika bisa ia berlari dan menghindari diri dari kenyataan ini, mungkin sudah sejak lama Cakka akan melakukannya.
            Dan saat Cakka sudah tidak bisa lagi menahan segala bentuk rasa sakit yang menderanya, Cakka pun melemparkan ponsel malang itu dengan kasar ke lantai hingga ponsel itu hancur. Cakka mengacak rambutnya frustasi lantas berteriak sekeras mungkin,


            “AAAAAAAAAAA………”


            Shilla yang sedari tadi memperhatikan Cakka dari depan kamarnya secara diam-diam hanya bisa memegangi dadanya menahan sesak yang menyiksa. Shilla tau persis apa yang Cakka rasakan saat ini. Dan Shilla dapat mengerti semuanya sebagaimana ia berusaha mengerti Cakka selama ini.
            Shilla lalu melepaskan cincin pertunangannya dengan Cakka yang masih tersemat dengan manis di tangannya. Shilla menggenggam erat-erat cincin itu dan telah mengambil sebuah keputusan terberat seumur hidupnya. Dan Shilla berusaha meyakini hatinya bahwa semuanya akan tetap berjalan baik-baik saja setelah hari ini.

            Sekarang saatnya lah bagi Shilla untuk melepaskan ikatan ini.




***


            PLAAKK! Sebuah tamparan yang cukup keras dihadiahkan oleh Pak Duta tepat dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin memegangi pipinya dan berusaha menahan rasa perih dari luka yang sudah tercetak dengan sempurna ditepi bibirnya. Alvin memejamkan matanya, berusaha menahan sesak didadanya. Kali ini salah apa lagi yang ia lakukan hingga membuat Papi nya marah seperti ini? Apa Papi nya sudah tahu kalau ia telah mengeluarkan Cakka dari D’CRAG? Kalau memang itu alasannya, rasanya sangat janggal mengingat selama ini Papi nya tidak pernah mau tahu dengan segala urusan menyangkut D’CRAG.

            “Kamu benar-benar sudah tidak punya otak lagi, Alvin Joshua Aryadinata…” ujar Pak Duta dingin. Tapi Alvin tetap memilih bergeming dan menyimak semua perkataan Papinya. Bukan karna Alvin tidak mau melawan, tapi ia hanya merasa bahwa ia sudah tidak memiliki daya apapun lagi untuk melawan.

            “kamu mendonorkan ginjal mu untuk seorang Gadis yang sama sekali tidak jelas asal-usulnya, kamu mau jadi apa? HAH?” Bentak Pak Duta yang sudah benar-benar murka.
            Alvin yang sangat terkejut bagaimana cara Papi nya mengetahui semua itu langsung menatap Papinya.

            “da… darimana Papi tau?”

            “jangan kamu pikir Papi tidak pernah mengawasi segala tindak tanduk kamu selama ini, dan jika kamu berpikir kamu bisa mengelabui Papi, kamu salah besar. Dari semua ‘KEJUTAN’ yang sudah kamu berikan sama Papi, ini ‘KEJUTAN’ paling mengharukan bagi Papi”

            “Papi…”

            “kamu batalkan sendiri pendonoran ginjal itu atau Papi yang akan turun tangan langsung untuk membatalkannya?”

            “Papi nggak bisa gitu dong, Pi… Via butuh banget ginjal Alvin untuk tetap bisa bertahan hidup…”

            “ooo… jadi namanya Via?”

            “Papi….”

            “Papi sudah tidak mau denger apa-apa lagi dari kamu. Dan Papi tidak mau tau, besok, Papi harus sudah menerima kabar dari kamu kalau kamu sudah membatalkan pendonoran ginjal itu!”

            Final. Itu adalah keputusan akhir yang bersifat mutlak dari Pak Duta, dan siapapun itu, termasuk Alvin tidak akan pernah bisa mengubahnya. Pak Duta lalu berbalik dan pergi meninggalkan Alvin sendirian diruang keluarga. Tapi tepat saat Pak Duta akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, Alvin langsung bertekuk lutut dilantai lalu kembali buka suara dan membuat langkah Pak Duta terhenti.

            “mulai sekarang, aku akan ikutin semua kemuan Papi tanpa terkecuali, aku juga akan melepaskan semua impian dan cita-cita aku demi mengikuti keinginan Papi yang menginginkan aku untuk menjadi seorang Dokter mengikuti jejak Opa. Aku akan lepaskan semua demi Papi, tapi tolong, untuk sekali ini saja ijinkan aku menyelamatkan Via… aku rela kehilangan apapun termasuk impian aku, tapi tidak dengan Via… tidak hanya itu, mulai detik ini aku akan mengikuti semua kemuan Papi, aku akan benar-benar jadi penurut sama Papi seperti Cakka yang selalu penurut dengan Papa nya. Dan jika Papi mau, aku akan menjadi seperti Cakka…”

            Pak Duta menatap Alvin dengan salah satu alis terangkat. Ia tidak pernah berfikir sebelumnya bahwa Alvin akan rela memohon sampai bertekuk lutut seperti ini hanya demi seorang Gadis bernama Via itu. Pap Duta menganggukan kepalanya beberapa kali lalu melontarkan sebuah pertanyaan untuk Alvin,

            “kamu sangat mencintai dia?”

            Kali ini Alvin terdiam, bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh Papinya. Pak Duta yang bisa menangkap dengan sangat jelas respon yang Alvin berikan langsung tersenyum sinis. Dari air muka Alvin saja, Pak Duta sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu.


            “oke, kamu boleh mendonorkan ginjal mu untuk gadis itu, tapi Papi punya satu syarat untuk kamu disamping semua apa yang sudah kamu lepaskan tadi….”

            “apapun syaratnya akan aku penuhi…” ujar Alvin mantap tanpa perlu berfikir. Tapi itu bukan karna Alvin tidak mau berfikir lagi, melainkan karna Alvin sudah tidak punya pilihan lain lagi.






***


Keesokan harinya, Ruang Operasi…


            Alvin yang sedang terbaring diatas meja operasi melihat keatas langit-langit dengan pandangan menerawang jauh. Hari ini Alvin akan kehilangan salah satu organ tubuhnya yang bisa dibilang memiliki peran yang cukup vital. Dan setelah operasi selesai, aktifitas yang akan Alvin lakukan mungkin tidak sebanyak dulu. Ia juga mungkin akan menjalani kehidupan yang berbeda dengan satu ginjal yang ia miliki dan hidup diatas keterbatasan-keterbatasan yang telah ditentukan. Tapi Alvin telah siap menerima segala resiko itu. Bukankah ia sendiri pernah berkata bahwa ia rela memberikan separuh hidupnya untuk Via, dan jika diperlukan Alvin akan memberikan seluruh hidupnya untuk Gadis itu, hanya untuk gadis itu.
            Sekarang Alvin telah melepaskan segalanya, impiannya, cita-citanya, kebebasannya, juga separuh hidupnya. Dan Alvin rela melakukan semua itu hanya demi Via. Alvin tersenyum kecil, dalam hati ia berharap semoga pengorbanannya ini akan menjadi pengorbanan termanis yang pernah ia lakukan.
            Alvin menoleh kesamping, dan disana ia sudah mendapati Via yang saat itu sudah terbaring diatas meja operasi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa bisa Alvin tahan, sebulir air mata itu menetes keluar. Air mata itu bukanlah air mata penyesalan, melainkan air mata bahagia.
            Alvin lalu secara perlahan mengangkat tangan kanannya lalu meraih tangan Via yang jaraknya tidak terlalu jauh. Alvin menggenggam lembut tangan itu, dan entah kenapa, saat tangan kokohnya menggenggam lembut jemari-jemari itu, Alvin merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian.

            “kamu siap, Alvin?” Tanya Dokter Aninda untuk yang terakhir kalinya.

            Alvin mengangguk pasti seraya menggumamkan kata “Iya”. Dokter Aninda tersenyum kecil lantas menyuntikkan obat bius pada tubuh Alvin. Beberapa detik kemudian, efek obat bius mulai bekerja hingga membuat Alvin tidak sadarkan diri lagi.







                                    BERSAMBUNG….

Wednesday, February 26, 2014

0

Menanti Dirimu By Gabriel Stevent

 
 
 
 
Kutau ku salah
Memaksa kehendakku
‘Tuk memilikimu
Kuterluka tanpamu
Sungguh kutak bisa membenci dirimu ooo...

Seakan rasaku
Semua perhatianku
Hanya berlalu
Kau pergi tinggalkanku
Meski kudisini masih menanti mu
Hanya dirimu
Sisa harapanku
Semua cinta kita kembali s’perti dahulu
Reff:         
Hanya kisah ini takkan abadi
Namun kau abadi dihati ini
Meski pun hrus menahan sepi
Menanti dirimu dihati

Mengapakah semua?
Berakhir disini?
Wooooooooo
Tatap dalam mataku ‘tuk yang terakhir kali
Mengapakah kau seluruh cintaku?
S’krang kau tak lagi ada disisiku
Tak adakah sedikit ruang bagiku
Untuk mu kembali disini
Menanti hadirmu kembali

Menanti dirimu dihati~