Kabar perkelahian bahkan sampai adu jotos yang
terjadi antara Alvin dan Iel berhembus sampai ketelinga Johan Bramantya. Johan
marah besar saat mengetahui hal itu, dan Iel yang saat itu berada dirumah
menjadi sasaran utama atas kemarahannya.
Iel hanya bisa pasrah saat Johan
memarahinya habis-habisan, Iel juga merasa sama sekali tidak mampu mengeluarkan
sedikit saja pembelaan untuk dirinya sendiri. Iel menyesali perbuatannya dan
menyadari bahwa semua ini memang kesalahannya. Tidak seharusnya ia meladeni
amarah Alvin, dan tidak seharusnya ia terpancing emosi hingga lepas kendali
seperti tadi.
Jika saja Iel mau mengalah dan tidak
cepat-cepat terpancing emosi, mungkin kejadiannya tidak akan sampai sefatal
ini. Selama ini, Iel selalu sempurna dalam mengendalikan diri juga emosinya,
tapi entah apa yang membuat pertahanannya selama ini runtuh, entah apa yang
membuat emosinya lepas tanpa kendali, Iel sendiri tidak memahaminya. Tapi yang
jelas, saat Alvin dengan tegas mengatakan bahwa ia akan merebut Via darinya,
emosinya seakan tersulut dan tanpa pikir panjang lagi langsung mendaratkan
pukulan pertamanya diwajah mulus Alvin.
“Benar kamu yang memulai keributan
tadi, Ariel?”
Iel yang tidak bisa mengelak apalagi
berbohong langsung mengangguk sesaat setelah Johan melemparkan pertanyaan itu.
Johan menghembuskan napas beratnya lalu bangkit dari sofa yang sejak tadi ia
duduki,
“Papa seperti tidak mengenal Ariel,
anak kebanggan Papa…” Tutur Johan penuh kekecewaan lalu beranjak pergi
meninggalkan Iel sendiri diruang tamu.
‘Maaf
udah bikin Papa kecewa…’ Bathin Iel dengan penuh rasa penyesalan yang
memenuhi rongga dadanya.
♥♥♥
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam
saat Via menyelesaikan satu pekerjaan terakhirnya, yaitu: memasak makan malam
untuk Alvin. Via tersenyum lega saat melihat hasil kerjanya selama 2 jam
terakhir. Apartemen Alvin yang tadinya sangat berantakkan kini tampak rapi dan
bersih. Senyum diwajah Via tiba-tiba membeku saat mengingat kejadian dimana
Alvin menariknya lalu membawanya kedalam pelukan hangatnya. Dan Via sama sekali
tidak bisa menahan getaran didadanya saat mengingat selama setengah jam ia
tertidur dengan nyaman dalam pelukan Alvin. Rasanya seperti mimpi. Mungkin Via
enggan mengakui ini, tapi terus terang saja, Via merasa nyaman berada dalam pelukan
Alvin seperti tadi.
Via tahu-tahu terkesiap saat merasakan
ponsel yang ada dikantong jeansnya bergetar. Via merogoh kantong jeansnya dan
segera membaca pesan singkat yang ternyata dikirimkan oleh Iel.
===============================
From: Kak Ariel
Via lagi dimana? Bisa ketemuan gak?
Gue jemput k rmh lo ya?
===============================
Via buru-buru membalas,
===============================
To: Kak Ariel
Gk perlu kak. Lo tunggu aja di B-Café.
Gue segera kesana :)
===============================
Setelah menerima balasan persetujuan
dari Iel, Via segera bersiap-siap untuk menemui Iel di B-Café, Via tidak ingin
membuat Iel menunggu lama. Tapi sebelum ia pergi, Via menyempatkan dirinya
untuk melihat kondisi Alvin dikamarnya.
“Lo baik-baik ya?” Bisik Via pelan
lalu menaikan posisi selimut Alvin hingga menutupi dada. Via mengangkat tangan
kanannya hendak menyentuh kepala Alvin. Dan tepat saat tangan itu mendarat
dikepala Alvin, Via justru membatalkan niatnya. Ia menarik kembali tangannya
lalu segera keluar dari tempat itu. Sesegera mungkin! Ia tidak ingin
perasaannya semakin tidak menentu jika ia berada disamping Alvin dalam waktu
yang cukup lama.
Ketika Via menutup pintu kamar
Alvin, Alvin langsung membuka kedua matanya. Ternyata sejak Via memasuki
kamarnya tadi, Alvin hanya berpura-pura tidur. Untuk beberapa detik, Alvin
menatap hampa kearah pintu. Ada sebentuk rasa yang tidak ia mengerti, yang
secara tiba-tiba timbul direlung hatinya yang terdalam.
♥♥♥
Via menghela napas panjang saat ia
melihat Iel yang duduk disalah satu meja café yang terletak tepat didekat
jendela. Dalam hati Via berharap, bahwa Iel tidak menunggu terlalu lama disana.
Tadi, saat perjalanan menuju café, Via terjebak macet hingga 15 menit. Ia ingin
menghubungi Iel untuk mengabarkannya, tapi ia baru ingat kalau ponselnya
tertinggal dimeja makan Alvin. Mustahil bagi Via untuk kembali lagi ke
apartemen Alvin sementara Iel sudah menunggunya di B-Café.
“Hai Kak Iel… Lo udah lama nungguin
gue?” kata Via seraya mengambil posisi duduk dihadapan Iel.
Iel yang saat itu menunduk langsung
mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Via. Iel tersenyum senang, akhirnya
gadis ini datang juga.
“lumayan lama” jawabnya jujur yang
justru membuat Via semakin merasa tak enak. Via meringis penuh sesal sambil
menggaruk tengkuknya, sementara Iel hanya bisa tertawa kecil melihat aksi yang
dilakukan oleh Via. Menggemaskan, pikirnya.
♥♥♥
Merasa bosan
dengan sikap Cakka yang terkesan tak acuh selama seminggu belakangan, Shilla benar-benar merasa Cakka berubah. Dan Shilla
merasa bahwa ia telah kehilangan Cakka yang dulu. Shilla tahu persis, bahwa
saat ini Cakka pasti sedang menghadapi sebuah masalah yang bisa dibilang cukup
serius, tapi yang Shilla sesali adalah, Cakka tidak pernah mau terbuka padanya.
Hampir 3 tahun berpacaran dengan
Cakka, Cakka memang tidak pernah mau membagi masalahnya dengan Shilla. Mungkin
bagi Cakka hal itu tidak akan berdampak apapun pada Shilla, tapi bagi Shilla
sendiri, ia justru merasa sangat tidak dibutuhkan sebagai seorang pacar.
Shilla menghela napas panjang tanpa
sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Cakka yang saat itu tengah sibuk melamun
sambil memegangi cangkir Mocha Latte
nya menghadap kearah jendela rumah Shilla. Sudah seharian penuh Shilla berpikir
untuk hal ini. Selama semalaman penuh Shilla bahkan tak tidur, dan selama
seharian ini Shilla terus mengurung diri dikamarnya, memikirkan kata-kata yang
tepat untuk Cakka.
Setelah ia pikir ia mempersiapkan
segalanya dengan sangat matang, keadaannya justru berbanding terbalik saat
Cakka datang kerumahnya untuk memenuhi panggilannya. Shilla sama sekali tidak bisa
menghindar dari emosinya hingga tanpa ia sadar ia berkata,
“Kamu punya cewek lain ya?”
Cakka mengangkat wajahnya dan sama
sekali tidak menunjukan respon yang berarti.
“kamu ngomong apaan sih?” Cakka
menyeruput Mocha Latte nya lalu
kembali meletakan cangkir itu diatas tatakan.
“Cakka, aku yakin kamu tahu, bahwa
hal bernama keperayaan, adalah salah satu hal yang paling utama dalam sebuah
hubungan. Tanpa adanya kepercayaan, sebuah hubungan yang dijalani tentu tidak
akan pernah berjalan dengan baik, dan apa kamu tahu lagi? Aku ngerasa, kalo
kamu gak pernah mau buat ngasih aku satu hal itu aja”
“Aku gak tau apa yang kamu omongin,
Shill”
“Gak! Kamu tahu pasti apa yang aku
omongin, aku yakin itu. And don't think
you can lie to me” Ungkap Shilla penuh kegetiran. Hari ini, kesabarannya
telah mencapai puncaknya. Sudah saatnya untuk Shilla menyatakan semua rasa yang
ia pendam selama ini. Cakka harus tahu, Cakka harus mengerti.
“Shill –“
“I
really want to stay with you, tapi semua sikap kamu belakangan ini, yang
seolah-olah gak pernah nganggep aku ada justru bikin aku ingin nyerah aja. Aku
capek, Cakka”
Hening. Keheningan membungkus
kebersamaan mereka yang entah kenapa mendadak membeku itu. Cakka ingin sekali
menyuarakan isi hatinya, tapi keinginan itu tidak pernah mampu melawan egonya.
Egonya terlampau kuat untuk bisa ia kalahkan.
Shilla menghela napas, berusaha mengumpulkan
udara yang ada disekitarnya untuk mengisi rongga dadanya yang entah kenapa
terasa hampa. Tapi Shilla tidak bisa, semua ini terlalu menyesakan baginya.
Ketertutupan Cakka, ketidak jujuran serta ketidak percayaannya membuat Shilla
benar-benar sesak.
Shilla lalu memejamkan kedua matanya
dan berusaha meyakinkan dirinya. Ia ingin menyerah.
“Sekarang kamu pulang aja gih! Aku
mau sendiri” Shilla lalu bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Cakka diruang
tamu. Tapi baru saja beberapa langkah ia mengayunkan langkahnya, tanpa ia
komando, langkah kakinya mendadak terhenti, sebuah pelukan menahannya dari
belakang.
“tolong jangan menyerah dulu, Shill.
Sejak aku baru lahir, aku sudah kehilangan segalanya, dan aku gak tau aku harus
gimana kalo aku harus kehilangan kamu sekarang. I want you to stay with me. Please, Ashilla…” bisik Cakka lirih
seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Shilla, ia lalu mengecup
puncak kepala Shilla dan kembali menimbulkan rasa nyaman itu dibenaknya.
♥♥♥
Alvin keluar dari kamarnya beberapa
saat setelah Via meninggalkan apartemennya. Alvin berjalan kearah ruang makan
dan menemukan makanan kesukaannya sudah tersedia dimeja makan dengan rapi.
Alvin tersenyum kecil, terselip sebentuk rasa bahagia direlungnya. Ada apa
dengan hatinya? Kenapa dengan hanya melihat masakan buatan Via, ia merasa
sangat bahagia? Semuanya benar-benar tidak beres.
Alvin lalu duduk dikursi dan
menikmati makanannya dengan lahap. Setidaknya sekarang ia merasa jauh lebih
baik.
Perhatian Alvin tahu-tahu tertuju pada ponsel
milik Via yang tertinggal dimeja makan. Alvin meraih ponsel itu lalu
iseng-iseng melihatnya. Dan Alvin merasa sangat tidak nyaman saat membaca
beberapa pesan singkat yang dikirimkan oleh Iel. Alvin meletakan kembali ponsel
milik Via diatas meja dan memukulkan tangannya diatas meja dengan kekuatan
penuh.
“Shit! Jadi mereka berdua lagi
ketemuan dia B-Café?” erangnya marah lalu segera meninggalkan meja makan.
♥♥♥
“Jadi, gue minta tolong sama lo,
Via. Apapun yang Alvin katakan tentang perasaannya ke elo, tolong jangan pernah
lo percaya. Gue Cuma gak mau, pada akhirnya lo akan kecewa dan sakit hati karna
Alvin. Gue mohon, Viana Aurora…” Pinta Iel penuh kesungguhan seraya menggenggam
lembut kedua tangan Via.
Sementara Via yang sejak tadi
mendengarkan cerita Iel tentang Alvin, entah kenapa merasakan kecewa yang
teramat mendalam didalam hatinya. Via bahkan tidak tahu ia kecewa untuk apa,
karna Via sendiri belum terlalu menyadari akan perasaan apa yang sesungguhnya
ia rasakan pada Alvin. Semuanya masih abu-abu. Tapi dibalik rasa kecewa yang
melingkupi dirinya, entah kenapa Via sedikit merasa bahwa apa yang Iel katakan
baru saja adalah tidak benar.
Melihat Via yang terus terdiam
sambil menunduk, Iel malah merasa cemas. Cemas kalau-kalau ia telah membuat Via
sakit hati dengan perkataannya. Iel lalu sedikit menunduk, berusaha melihat
wajah Via,
“Vi, lo gak apa-apa kan, Vi?”
Via sedikit terkesiap, ia mengangkat
wajah lalu berusaha memasang seulas senyuman.
“Gue gak apa-apa kok, Kak. Tapi kalo
boleh tahu, kenapa lo ngasih tau semua
ini ke gue? Kenapa, Kak Iel?”
“kan udah gue bilang diawal, gue gak
mau lo sakit hati karna Alvin” jawab Iel yang merasa sedikit kikuk.
“alesannya?”
Iel terdiam sebentar. Haruskah ia
jujur sekarang mengenai perasaannya pada gadis ini? Gadis yang sejak awal sudah
berhasil mencuri hatinya pada pandangan pertama. Apa Gadis ini akan menerima
perasaannya? Atau justru mengguratkan luka dihatinya karna Via tidak bisa
menyambut perasaannya seperti apa yang ia inginkan?
“Kak Iel kenapa diem?” Tanya Via
yang merasa sedikit sanksi atas sikap diam Iel.
Iel menghujam tatapannya dalam tepat
pada kedua manik Via. Via semakin bingung dibuatnya.
“Kak Iel –“
“apa lo gak akan marah kalo gue
jawab sejujurnya?”
Pertanyaan Iel yang terakhir
benar-benar membuat perasaan Via tidak menentu. Jantungnya mendadak berdegup
kencang, jangan bilang… tidak, itu tidak mungkin. Via pasti Cuma kegeeran.
Iel mengangkat salah satu alisnya
melihat reaksi yang ditunjukan Via.
“ng… enggak, gue gak akan marah”
jawab Via pada akhirnya setelah berusaha setengah mati meredam rasa gugupnya.
Iel tersenyum penuh arti dan semakin erat menggenggam kedua tangan Via.
“Gue suka sama lo, Via. Bukan Cuma
suka, tapi gue sayang sama lo, sayang banget”
Degh! Jantung Via seakan terpukul.
Jadi benar Iel menyukainya? Lalu apa yang harus Via katakan? Jujur saja, Via
hanya menganggap Iel sebagai Kakaknya, dan tidak pernah lebih dari itu.
“Gue pengen bisa bahagiain lo, dan
ngejaga lo, gue –“
“Lo gak perlu repot-repot ngejagain
dia, karna gue sendiri yang akan jagain Via”
Ucap Alvin penuh ketegasan yang
secara tiba-tiba muncul diantara Iel dan Via. Secara bersamaan mereka menoleh
kearah Alvin, dan Via kaget setengah mati saat melihat kehadiran Alvin.
“A… Alvin??” kata Via dengan
terbata.
Alvin melangkah maju lalu meraih
salah satu tangan Via dan memaksanya untuk bangkit dari tempat duduknya. Iel
reflex berdiri dan meraih satu tangan Via yang lain, persis seperti apa yang
Alvin lakukan.
“Lepasin tangan Via!” titah Iel
dengan tegas.
“kenapa gue harus lepasin? Via milik
gue, dan lo gak berhak atas dia” Alvin mencengkram kuat tangan Via dan
menariknya dalam satu sentakan kuat hingga membuat tangan Via mau tidak mau
terlepas dari genggaman tangan Iel.
“Jangan pernah lo pikir, lo bisa
ngerebut Via dari tangan gue, Via milik gue. Paham lo?”
Alvin membawa paksa Via pergi dari
hadapan Iel. Dan Via sama sekali tidak melawan saat Alvin membawanya menaiki
anak tangga menuju lantai 2, tempat khusus bagi Alvin dan sahabat-sahabatnya
berkumpul. Setibanya dilantai 2, Alvin melepaskan begitu saja tangan Via lalu
memojokannya pada salah satu dinding.
“Bilang sama gue! Tadi Ariel ngomong
apa saja sama lo?” bentak Alvin. Via terkejut, Alvin yang tadi sore memeluknya
dan memberikannya kehangatan ternyata sangat berbeda dengan Alvin yang ada
dihadapannya sekarang ini.
“Bukan urusan lo” jawab Via dengan
berani yang justru membuat Alvin semakin belingsatan.
“Berani lo ngelawan gue sekarang? Lo
mau kehilangan kerjaan lo?”
“Kenapa lo selalu ngancem gue?”
“Gak penting. Lo gak ada hak apapun
buat nanya-nanya gue, hak lo Cuma satu, jawab pertanyaan gue!”
Via mengangguk paham dengan seulas
senyum getir diwajah manisnya.
“Iya, tentu aja gue akan jawab
pertanyaan lo. Iel minta sama gue untuk jangan mempercayai setiap perkataan lo”
Kedua mata Alvin membelalak maksimal
saat mendengarkan jawaban yang Via lemparkan. Benarkah Iel meminta Via untuk
melakukan hal itu? Apa begini cara Iel untuk menyingkirkan dan mengalahkannya
lagi?
“Dan lo mau ngelakuin itu?” Tanya
Alvin skeptis. Via mengangguk pasti tanpa keraguan sedikitpun. Alvin tertawa
mencibir.
“DAMN
IT!!” Teriak Alvin penuh amarah lalu meninju tembok tepat dibelakang Via
dengan kekuatan penuh. Via memejamkan kedua matanya kuat-kuat sambil menutup
telinganya. Kali ini Alvin sudah benar-benar keterlaluan dan membuat Via sangat
ketakutan. Tangan Alvin yang memang terluka dan terbaluti oleh perban kini
kembali mengeluarkan darah segar karna aksi tinju tembok yang baru saja ia
lakukan tanpa perhitungan.
Hening. Via hanya mampu merasakan
desauan napas Alvin yang menerpa wajahnya dalam jarak yang cukup dekat. Perlahan
Via membuka kedua matanya yang terpejam, dan tatapan tajam dari Alvin langsung
menyambutnya.
“Mulai sekarang lo adalah milik gue.
Gak ada seorang pun yang berhak memiliki lo kecuali gue” kata Alvin seraya
menuding dirinya sendiri. Baru saja Via hendak melayangkan protes saat
tiba-tiba kedua mata Alvin menangkap sosok Iel yang berjalan mendekati mereka.
Dalam waktu yang sedemikian singkat, sebuah ide licik tiba-tiba menyapa otak
Alvin.
Dengan gerakan cepat, Alvin meraih
wajah Via lalu membekap bibirnya dengan sebuah ciuman yang kontan saja membuat
Via membeku ditempat. Via kembali memejamkan matanya lantas meremas kedua
tangannya kuat-kuat. Itu ciuman pertamanya.
Jantung Iel seakan terpukul saat
melihat pemandangan menyesakkan dihadapannya kali ini. Iel mundur beberapa
langkah dengan perasaan remuk redam lalu benar-benar pergi dari tempat itu
dengan membawa kepingan hatinya.
10 detik berlalu, Alvin menjauhkan
wajahnya dari wajah Via. Untuk beberapa detik, ia menatap Via yang saat itu
masih menutup kedua matanya. Entah sadar atau tidak, Alvin sempat membelai
lembut wajah Via sebelum akhirnya ia pergi dari tempat itu dan menyisakan Via
hanya sendirian disana.
Sadar bahwa Alvin sudah tidak
bersamanya lagi, Via lalu membuka kedua matanya diiringi dengan desauan panjang
napasnya. Tadi Via nyaris tidak bernapas saat Alvin menciumnya, dan Via merasa
semua ini seperti mimpi. Via lalu berbalik dan menatap punggung Alvin yang
semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
Kedua kakinya mendadak lemas, dan
secara perlahan Via terduduk dilantai dengan sejuta kebingungan yang mendekap
erat dirinya. Via menyentuh bibirnya, sulit ia percaya, bahwa Alvin lah
laki-laki pertama yang merenggut first
kiss nya.
“itu tadi apa??”
To Be Continued…


