Tuesday, July 29, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 11-


Johan sedang sibuk berkutat dengan file-file penting yang ada dilaptopnya saat tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah file yang selama ini belum sempat ia sentuh sama sekali. File itu berjudul: For My Daddy.
            Johan berpikir sejenak lalu meng-klik open untuk melihat isi file itu. Ternyata isinya adalah sebuah video dengan judul yang sama. Dan Johan baru ingat, bahwa Alvin lah yang memberikan file itu padanya 7 tahun yang lalu. Saat itu Alvin masih berusia 9 tahun. Tapi hingga 7 tahun berlalu, Johan belum juga melihat apa isi file itu.

Flashback ~

            “Daddy…” Alvin kecil memanggil Daddy nya penuh semangat saat melihat Daddy dan Mami nya baru saja memasuki rumah. Alvin berlari kecil kearah Johan, dengan sigap Johan menunduk lalu menangkap jagoan kecil kebanggannya itu.
            “kenapa Jagoan?”
            “happy birthday Daddy”
            Aurora dan Johan saling menatap sejenak seraya saling melemparkan senyum satu sama lain.
            “Oke… terus kamu punya hadiah apa buat Daddy? Hah?”
            Alvin kecil tampak berpikir, tidak lama ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari kantongnya dan menyerahkannya pada Johan.
            “ini, Dad”
            “apa ini?” Tanya Johan sedikit bingung sambil menerima flashdisk itu.
            “Daddy harus liat sendiri pokoknya. Oya, Dad….”
            “kenapa?”
            “karna Alvin baru belajar main gitar dan belum sehebat Daddy, jadi… permainan gitar Alvin jangan diketawain ya?”
            “hahahaha… siap Bos!”
            Ujar Johan dengan mantap sambil memberi hormat pada putera kecilnya itu.


Flashback off ~

            Johan tidak bisa menahan senyum saat mengingat kenangan itu. Jika ingin jujur, sebenarnya Johan sangat merindukan jagoan kecilnya itu, Johan sangat merindukan jagoan kecilnya bermanja-manja padanya. Tapi semua kondisi yang ia hadapi sekarang ini membuatnya tidak bisa melakukan apapun untuk melampiaskan rasa rindunya. Calvin, putera kebanggannya itu, sudah bukan Calvin kecil yang dulu lagi. Banyak hal yang berubah dalam dirinya, yang membuat Johan merasa tidak mengenali puteranya lagi.
            Johan lalu mulai memutar video itu. Dalam video itu, tampak Alvin kecil dengan ,senyum jenakanya tengah duduk sambil memegang sebuah gitar.
            “Hay Dad… happy birthday. Alvin sayang sama Daddy. Kalo Alvin udah besar nanti, Alvin mau jadi seperti Daddy, Alvin mau jadi anak yang bisa bikin Daddy bangga, dan Alvin ingin terus bikin Daddy bahagia…”
            Mata Johan tampak berkaca-kaca mendengar ucapan lugu Alvin kecilnya.
            “oya, Dad… Alvin punya hadiah kecil buat Daddy… semoga Daddy suka ya? This is a song for you, Dad…”
            Dalam video itu, tangan mungil milik Alvin mulai memetik gitar. Tidak lama, ia pun menyanyikan sebuah lagu untuk Daddy nya. Dan saat itu, saat Alvin kecil menyanyikan lagu untuknya, Johan tidak bisa lagi menahan air mata harunya.

“Kau yang selalu mengajariku
Bagaimana menjadi anak yang berbakti
Kau yang selalu membelaiku
Saat ku menangis karna ku tak mampu
Oh My Daddy…. Huwo… oo..
Kau yang selalu memahamiku
Walau aku sering membuatmu tak mengerti
Kau yang selalu membelaiku
Saat ku menangis karna aku tak mampu
Kucinta dirimu… bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang dirimu… ku berjanji bahagiakanmu….
I love you my Daddy… huwoo… ooo…
I love you my Daddy… huwoo… ooo…
Kau yang selalu memahamiku
Walau aku sering membuatmu tak mengerti
Kau yang selalu membelaiku
Saat ku menangis karna aku tak mampu…
Kucinta dirimu… bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang dirimu… ku berjanji bahagiakanmu….
I love you my Daddy… huwoo… ooo…
I love you my Daddy… huwoo… ooo…
I love you my Daddy…”  
(Idola cilik 3: Alvin, Ray, Zevana, Keke, Rio ~  My Daddy)

            Akhirnya tangisan itu pecah juga. Johan tidak bisa mengingkari bahwa ia sangat merindukan Alvin lebih dari apapun itu. Ia ingin bisa memeluk puteranya lagi. Selama 7 tahun terakhir ini, Johan tidak pernah merasakan rasa rindu sedalam ini kecuali terhadap mendiang isterinya juga puteranya.


♥♥♥
Speranza High School…

            “Astaga!” Via memekik kaget saat Alvin tiba-tiba muncul dihadapannya. Via kontan saja menghentikan langkahnya dan menatap Alvin dengan pandangan sedikit sebal.
            “ngagetin aja lo!”
            Tanpa ijin, Alvin menarik pergelangan tangan Via dan menyeretnya paksa untuk pergi ketempat yang lebih sepi lagi. Ada hal yang harus ia bicarakan dengan Via.
            “eh, eh, eh… lo mau bawa gue kemana sih? Heh?”
            Alvin tidak menjawab. Dengan tidak pedulinya ia tetap menyeret Via, bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Alvin ternyata membawa Via memasuki sebuah ruang music. Setibanya disana, Alvin langsung melepaskan begitu saja tangan Via yang sejak tadi ia cengkram.
            “Heh! Tangan gue sakit begok. Lo gak bisa apa lembutan dikit sama gue?” protes Via sambil mengusap pergelangan tangannya. Alvin tidak menjawab, ia menatap tepat pada kedua manik mata Via dengan tajam. Alvin lalu melangkah secara perlahan mendekati Via.
            “Lo mau apa?” Via mundur beberapa langkah, tapi Alvin tetap maju.
            “gue Tanya lo mau apa?” nada suara Via semakin meninggi, dan ia tetap melangkah mundur saat Alvin semakin mendekat.
            Kali ini Via sudah terpojokan didinding, ia kehabisan ruang untuk bergerak sementara Alvin sudah semakin mendekat. Alvin lalu menghentikan langkahnya saat jaraknya dengan jarak Via hanya berjarak beberapa centi saja. Alvin lalu sedikit mencodongkan wajahnya dan membuat Via nyaris tidak bernapas karna gugup.
            “lo mau apa siiihhhh??” Via menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
            Dengan sangat tenang, Alvin menurunkan kedua tangan Via dari wajahnya.
            “dengerin gue! Anggep aja lo gak pernah liat kejadian dipemakaman kemarin. Sekali ini tersebar, maka lo akan jadi orang pertama yang gue mintai pertanggung jawaban. Ngerti lo?”
            “Alvin, gue –“
            “dan bersikaplah seperti biasanya. Gak usah bersikap seolah-olah lo sangat kasihan sama gue. Karna gue… gak butuh rasa kasihan lo”
            Via hanya terdiam dan tidak berniat sedikitpun untuk menjawab apa saja yang Alvin katakan. Karna sekarang, Via sudah mengerti semuanya. Via mengerti apa yang menyebabkan Alvin menjadi seperti ini. Dan untuk saat ini, Via hanya ingin mengerti. Itu saja cukup.
            Tepat saat Alvin akan berbalik dan pergi, Via tahu-tahu menarik pergelangan tangannya dan membawa dirinya kedalam pelukan Alvin, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Alvin lalu meneteskan air matanya disana. Alvin yang merasa sangat sanksi dengan perlakuan Via, berusaha untuk melepaskan gadis itu dari dalam pelukannya, tapi Via justru lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvin.
            “selama ini lo selalu berbuat seenaknya sama gue, tapi untuk sekali ini aja, bisa kan gue yang berbuat seenaknya sama lo? Sejak dipemakaman kemaren, gue sudah sangat ingin memeluk lo, gue sudah sangat ingin menenangkan lo…”
            “lepasin gue!” pinta Alvin dengan tegas, tapi dengan lebih tegas lagi Via menggeleng.
            “setelah ini gue janji akan bersikap biasa aja sama lo. Gue janji!”
            “lepasin gue sebelum gue berbuat kasar sama lo!” pinta Alvin, kali ini dengan sengaja mengancam agar Via segera melepaskannya.
            “Gak!”
            “udah gue bilang –“ jeda sesaat. Alvin lalu melepaskan paksa Via dari pelukannya dengan sengaja mendorong kedua pundaknya. Mau tidak mau Via akhirnya melepaskan diri dari pelukan Alvin. “gue gak butuh lo kasihanin”

            Itulah ucapan terakhir Alvin sebelum ia berbalik dan melangkah pergi. Tapi kemudian langkah Alvin tiba-tiba terhenti saat pengakuan tidak terduga meluncur dengan bebasnya dari mulut Via.
            “gue gak kasihan sama lo, tapi gue sayang sama lo… gue sayang sama lo, Calvin Bramantya…”
            Degh! Ada debaran aneh yang tiba-tiba mengusik detak jantung Alvin yang tadinya berdetak dalam irama yang teratur. Sekarang semuanya seakan tidak terkendali. Otaknya, jantungnya, perasaannya, bahkan gerak tubuhnya sekalipun. Semuanya seakan memberontak.
            Tapi pada akhirnya egonya lah yang berkuasa. Alvin berbalik dan menatap Via tajam.
            “ulang apa yang lo bilang tadi!”
            Via menghela napas lalu dengan berani membalas tatapan tajam Alvin. Ia menegakan tubuhnya, berusaha untuk tetap tenang.
            “gue sayang sama lo”
            “ulang sekali lagi!”
            Via menunduk dalam. Kekuatannya habis sudah. Kini ia tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk membalas tatapan tajam Alvin. Via sendiri juga tidak mengerti, kenapa pengakuan itu tiba-tiba lolos begitu saja tanpa perhitungannya. Yang Via tahu hanyalah, saat ia mengeluarkan pengakuan itu, ia hanya mengikuti kata hatinya saja. Tidak lebih dari itu.
            “gue gak peduli apapun respon lo setelah ini, tapi gue sayang sama lo…”
            Alvin mendekat kearah Via, ia lalu meraih dagu Via dan menghapus jarak diantara mereka dalam waktu yang sedimikian singkat. Via membeku ditempat. Semuanya entah kenapa terasa seperti mimpi.
            “bodoh! Bagaimana lo bisa sayang sama seseorang yang udah nyakitin dan mempermalukan lo didepan umum?” bisik Alvin sesaat setelah ia kembali membentang jarak diantara mereka.
            “gue –“
            “dan lo sangat bodoh karna udah jatuh cinta sama seseorang yang gak mungkin bisa ngebales perasaan lo. Jangan mimpi!”
            Kali ini Alvin benar-benar melangkah pergi meninggalkan Via sendiri didalam ruangan itu. Sementara Via, ia langsung terduduk lemah dilantai, sulit ia percaya dengan apa yang tadi sudah ia ungkapkan, dan sulit ia percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Benarkah Alvin tidak memiliki perasaan apapun padanya walaupun hanya setitik? Lalu apa arti ciuman tadi?
            Dan air mata itu akhirnya lolos. Pertahanannya runtuh sudah. Ia tidak tahu, bagaimana setelah ini ia harus berdiri dengan tegak dihadapan Alvin. Dan untuk kedepannya, ia merasa tidak sanggup menatap pria arrogant itu dengan cara yang seharusnya.


♥♥♥


            Cakka senang bukan kepalang saat mendengar kabar bahwa hari ini Mama nya akan pulang dari Prancis. Walaupun mereka sempat bertengkar sesaat sebelum keberangkatan Mama nya ke Prancis, Cakka tetap saja merasa rindu. Dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa hari ini juga ia akan meminta maaf pada Mamanya.
            Hari menjelang sore, saat Cakka baru saja kembali dari rumah Shilla, salah satu pelayan rumahnya mengatakan bahwa Mama nya telah pulang sejak satu jam yang lalu. Cakka tersenyum lebar lalu berlari kedalam rumahnya untuk segera menyusul Sang Mama yang mungkin sudah menunggunya.
            Cakka menghentikan langkahnya didepan kamar Mama nya saat mendengar Mamanya sedang berbicara dengan seseorang. Dan Cakka semakin merasa penasaran saat mereka membawa-bawa nama Cakka juga… Papa kandungnya. Cakka semakin mendekat. Dalam waktu yang sedimikian singkat, ia berusaha mempersiapkan diri kalau-kalau hari ini ia akan mengetahui sebuah kenyataan tentang Papa kandungnya.
            “kamu pikir buat apa aku rela menyibukan diri diluar sana, Han? Kamu pikir buat apa aku rela susah-susah menjadi pribadi yang sebenarnya bukan diri aku? Itu semua untuk menyelamatkan hatiku, Hanny…”
            “Cakka gak tau apa-apa dengan masa lalunya, Evelyn. Cakka berhak tahu tentang Papa dan Mama kandungnya”
            “aku tahu Cakka berhak dengan semua itu, tapi apa aku juga tidak berhak buat nyembuhin luka hatiku? Apa aku tidak berhak buat nyelametin hati aku sendiri? Apa aku tidak berhak, Hanny?”
            Kali ini Hanny terdiam dan berusaha mendengarkan penjelasan Kakaknya itu.
            “Jika aku harus menjelaskan semuanya pada Cakka, lalu aku harus memulai dari mana? Apa aku harus mengatakan bahwa Mama nya adalah kekasih gelap suami ku? Apa aku harus mengatakan bahwa dia adalah anak dari hasil hubungan gelap suamiku dengan Mamanya? Apa aku harus berkata seperti itu, Hanny?”
            Seketika Cakka langsung terkulai lemas mendengarkan semua apa yang Mamanya ucapkan. Jadi ini rahasia yang selama ini Mamanya sembunyikan? Tapi jika memang benar bahwa Cakka adalah hasil hubungan gelap antara Papanya dengan kekasih gelapnya, lalu bagaimana bisa sekarang Cakka ada dalam asuhan Evelyn?
            Cakka mencengkram kuat-kuat jari jemari tangannya, kedua matanya sudah tampak memerah menahan tangis. Ia ingin kuat, tapi kenyataan ini benar-benar membuat tenaganya terkuras habis, bahkan untuk dapat berdiri dengan tegak diatas kedua kakinya sendiri, Cakka harus berusaha sangat kuat.
            Merasa tidak tahan dengan semuanya, Cakka akhirnya lebih memilih pergi dari rumah itu dan tidak mendengarkan perkataan Mamanya selanjutnya. Ia berjalan cepat dengan air mata tertahan.
            “Lho… lho… Tuan Cakka mau kemana?” Tanya seorang pelayan sambil mengikuti Cakka dibelakang. Tapi Cakka tidak sedikitpun menghiraukan pertanyaan itu. Ia menaiki motor cagivanya lalu melarikannya dengan kecepatan maksimal.
            “Aku tahu Cakka tidak bersalah dalam masalah ini, aku tahu Cakka sama sekali tidak memiliki dosa apapun, aku ingin berusaha menyayangi Cakka dengan sepenuh hatiku, dan selama 17 tahun ini, aku telah berusaha keras untuk itu, tapi setiap aku melihat wajah Cakka, aku merasa terseret ke masa lalu. Dan luka ini, semakin menganga lebar. Dan untuk alasan itulah, aku terus menyibukan diri diluar sana dan memberikan Cakka segalanya agar aku… tidak terlalu merasa bersalah…”
            Setetes air mata Evelyn terjatuh. Ia yang selama ini berusaha untuk kuat, akhirnya terjatuh juga. Seketika Evelyn ambruk. Ia menjatuhkan diri dilantai. Detik ini ia sudah tidak ingin lagi menahan dirinya. Ia ingin menangis sekeras mungkin.
            17 tahun yang lalu, tepat satu bulan setelah kematian suaminya, Evelyn sendiri yang membawa Cakka kedalam istana megahnya dengan kedua tangannya sendiri. Evelyn sendiri yang memutuskan untuk merawat anak suaminya dalam pelukannya, sekalipun setiap hari ia harus menahan pedih, Evelyn berusaha menahan semua itu demi bayi kecil tidak berdosa yang telah ia bawa sendiri dengan kedua tangannya.
            Hingga detik ini pun, Evelyn belum mengetahui bagaimana wajah Ibu kandung Cakka. Meskipun ia bisa mencari tahu semua itu dengan sangat mudah, tapi Evelyn lebih memilih untuk tetap tidak tahu bagaimana wajah wanita itu. Dan 10 tahun yang lalu, Evelyn menerima kabar dari adiknya, bahwa kekasih gelap suaminya yang ia ketahui bernama Wina itu telah meninggal karna mengalami kecelekaan pesawat.
            Wina hanya sempat menitipkan secarik surat untuk Evelyn, dalam surat itu, Wina meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Evelyn. Ia mengakui kesalahannya dan meminta Evelyn dengan sepenuh hati mau menjaga dan merawat Cakka, puteranya.
            Kenangan-kenangan pahit itulah yang membuat Evelyn hingga saat ini memutuskan untuk menyembunyikan rapat-rapat rahasia ini dari Cakka. Selain tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, Evelyn tidak ingin lagi mengungkit luka lama itu, yang pada kenyataannya masih membekas kuat dihatinya, disetiap langkahnya, dan disetiap hela napasnya selama 17 tahun terakhir ini.


♥♥♥

            “Via, kok belom pulang sih? Ini kan udah mau sore” Iel tiba-tiba saja muncul disamping Via dan membuat Via yang sejak tadi duduk melamun ditaman sekolah langsung terkesiap.
            “eh… Kak Iel?”
            Iel tersenyum menggoda lalu mengambil posisi duduk tepat disamping Via.
            “lo belom jawab pertanyaan gue, kenapa belom pulang?”
            “masih pengen disekolah, Kak”
            “Nyokap gak nyariin?”
            “jam segini palingan Bunda masih dikantor. Sejak Bunda sembuh dari sakitnya, Bunda kembali menyibukan diri dengan kerjaan…”
            Iel hanya mengangguk paham dan hanya bisa menggumamkan kata ‘oh’ saja. Tiba-tiba saja, suasana canggung membukus kebersamaan mereka sore itu. Iel menghela napas panjangnya, sejak beberapa hari yang lalu Iel sudah memiliki rencana untuk menyatakan perasaannya pada gadis ini, tapi setiap kali ia berdiri dihadapan gadis ini, nyalinya tiba-tiba saja ciut.
            Sebelumnya Iel tidak pernah merasakan hal semacam ini. Biasanya, jika ia menyukai seorang Gadis, Iel pasti akan berusaha mendekatinya dengan cara apapun, dan jika sudah wakunya tiba, Iel akan menyatakan perasaannya dan dengan begitu mudahnya bisa mendapatkan hati si Gadis. Tapi entah kenapa, terhadap Via semuanya terasa berbeda. Dan ini semua semakin menguatkan keyakinan Iel, bahwa Via memang untuknya, bahwa Via memang cinta sejatinya.
            “Via…” panggil Iel pelan setelah berusaha meyakinkan dirinya.
            “kenapa, Kak?” Via menoleh kearah Iel dan menatap tepat pada kedua mata elang milik Iel. Bukannya meneruskan niatnya, Iel malah bungkam saat kedua mata Via terjatuh tepat pada kedua bola matanya.
            Semua kata-kata yang telah Iel persiapkan kembali buyar bersama rasa gugupnya.
            “Kak Iel kenapa diem?”
            Iel masih terdiam dengan pikiran yang melayang entah kemana. Via semakin bingung dibuatnya. Ternyata cowok ini sangat membingungkan.
            “KAK IEL, HELLOOOO…” Teriak Via seraya  melambaikan salah satu tangannya tepat didepan wajah Iel.
            Iel lagi-lagi terkesiap. Kali ini dengan refleks ia berujar. “Via gue suka sama lo”
            Hening. Suasananya mendadak hening. Merasa tidak yakin dengan apa yang ia dengar baru saja, Via mencoba untuk tertawa meskipun terdengar hambar. Tapi jauh didalam hatinya, Via benar-benar sangat berharap bahwa apa yang baru saja ia dengar memang salah, karna pada kenyataannya, Via tidak memiliki perasaan apapun pada Iel. Dan Via tidak ingin membuat Iel kecewa.
            “Kak Iel bilang apa?” Tanya Via beberapa saat setelah ia menghentikan tawanya.
            Sekali lagi Iel menghela napas panjangnya. Sudah kepalang basah, jika tidak menyelesaikan semuanya sampai tuntas, maka sia-sia sudah keberanian yang ia tumpuk selama beberapa hari terakhir ini.
            “oke, ini mungkin mendadak. Suasananya sama sekali gak romantis, tanpa bunga, tanpa cokelat, tanpa alunan music, tanpa teddy bear, tapi gue gak mau nunggu lebih lama lagi, gue gak mau nyimpen perasaan ini lebih lama lagi. Dan gue mau lo tau kalo gue –“ jeda untuk beberapa saat, Iel meraih kedua tangan Via lalu menggenggamnya lembut. Kedua mata elangnya menatap tepat pada kedua manik mata Via dengan penuh kesungguhan. “Gue mau lo tau, kalo gue sayang sama lo…” lanjut Iel tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya dari kedua mata Via.
            Via yang kaget dan merasa tidak siap dengan pengakuan yang kelewat jujur itu, tanpa sadar menarik kedua tangannya dari genggaman Iel. Via benar-benar dibuat blank, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Otaknya seakan tidak bekerja. Kenapa harus mendadak begini?
            “sejak pertama kali ketemu lo, gue udah jatuh cinta sama lo. Dulu, gue pernah janji sama lo akan ngajak lo pergi ke Paris suatu saat nanti, dan gue mau lo tau, kalo janji gue itu sungguhan. Gue bener-bener sayang sama lo, Via…”
            “Kak… gu… gue –“
            Iel tersenyum maklum saat melihat Via tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun kembali meraih kedua tangan Via dan menggenggamnya erat.
            “gue gak akan paksa lo buat jawab sekarang, gue akan kasih lo waktu buat berpikir selama ujian berlangsung. Dan apapun jawaban lo, gue akan terima dengan lapang dada, dan ini –“ Iel mengeluarkan sebuah tiket pesawat dari dalam tas nya dan mengulurkannya untuk Via,
            “Ini tiket pesawat menuju Paris. 2 minggu lagi, tepat dihari sabtu, gue tunggu lo dibandara. Kalo lo nerima gue, lo bisa dateng ke bandara jam 4 sore, dan kita berdua akan liburan ke Paris, tapi kalo lo gak nerima gue, lo boleh gak dateng ke Bandara, dan setelah itu semuanya akan kembali normal seperti saat gue belum nyatain perasaan ke elo. Dan apapun keputusan lo, semuanya ada ditangan lo…”
            Iel menyerahkan tiket pesawat itu ditangan Via yang masih belum bisa berkata apa-apa.  Iel tersenyum tenang. Sesaat sebelum ia pergi, ia sempat mencium puncak kepala Via dan mengusapnya lembut.
            “gue akan tunggu”
            Iel akhirnya melangkah pergi meninggalkan Via dibelakang tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa selega seperti sekarang ini.
            ‘gimana bisa gue nerima lo sementara hati gue Cuma buat…. Alvin…’ bathin Via yang merasa perasaannya benar-benar berkecamuk kali ini. Ia menatap hampa tiket pemberian Iel dengan sedikit sesak yang melandanya.
            Lalu jawaban apa yang harus ia berikan nanti?




                                                To Be Continued…

Friday, July 25, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 10-




SMA Patuh Karya

            Cowok manis bertubuh tinggi kurus itu berdiri didepan pintu kelas sambil menatap Ify tanpa henti yang tampak focus menyelesaikan catatan Kimia nya. Ia mendesah pelan. Baru-baru ini ia mendengar kabar, saat kenaikan kelas nanti Ify akan pindah ke Speranza High School. Saat mengetahui itu, perasaannya malah tidak tenang. Banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Ify. Tapi ketidaksiapannya justru menghentikan setiap langkahnya.
            Sejak mengenal Ify ditempat Les Pianonya setahun yang lalu, ia sudah sangat kagum dengan kelihaian Gadis berdagu tirus itu dalam memainkan piano. Dan sejak mereka mulai berteman karna ternyata mereka satu sekolah, mereka semakin dekat dan menimbulkan benih-benih cinta dihatinya. Tapi hingga detik ini, hingga Ify memutuskan untuk pindah sekolah, ia masih saja merasa belum siap menyatakan isi hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Ify disaat ia belum memilikinya jika ia menyatakan perasaannya pada Ify. Ia takut menerima kenyataan bahwa ternyata ia tidak memiliki perasaan yang sama dengan Ify.
            “woi Tristan! Kenapa ngelamun disitu? sini masuk!” panggil Ify sambil melambaikan tangannya. Cowok manis yang ia panggil Tristan itu langsung membuyarkan keterpanaannya dan terlihat sedikit salah tingkah. Ia berharap semoga gadis itu tidak menangkap basah dirinya yang sedang menatapnya.
            “Lo kok belum pulang sih, Fy?” tanyanya seraya berjalan mendekati Ify.
            “Lagi nyelesein catetan Kimia. Tapi udah selese kok” jawab Ify seadanya sambil membereskan buku-bukunya dan memasukannya kedalam tas.
            “denger-denger katanya lo mau pindah ya? Ke Speranza?”
            Ify mengangguk mantap. “Iya nih. Habisnya gue kesepian kalo gak ada Via, hehe…” jawab Ify dengan sedikit bergurau. Tristan hanya mengangguk. Sebenarnya Tristan ingin mengajak Ify jalan hari ini, tapi yang jadi permasalahannya sekarang adalah, apa ia berani mengajak Ify jalan?
            Tristan menepis semua ketakutannya. Tidak, ia tidak boleh menjadi seorang pecundang jika ingin memenangkan hati gadis ini.
            “Fy, elo ada acara gak sore ini?” Tanya Tristan takut-takut.
            “sore ini? emmm kayaknya gak ada deh. Kenapa?” jawab Ify yang merasa sedikit curiga dengan pertanyaan Tristan. Jujur saja, ia mulai mencium bau-bau yang tidak beres dari gelagat teman dekatnya ini.
            “Senin besok kan kita udah mulai UKK nih, dan semester depan lo udah pindah, jadiiii –“ jeda beberapa saat. Tristan semakin ragu.
            “Jadi?”
            “Gue mau ngajakin lo jalan sore ini sebelum lo pindah”
            Ify sedikit kaget. Tapi ia berusaha menutupinya.
            “Nge-date?” Tanya Ify ceplas-ceplos. Tristan sukses dibuat salah tingkah.
            Ify terkekeh pelan saat menangkap kesalah tingkahan cowok berwajah manis ini.
            “Hahaha bencanda kok Tris…”
            “jadi lo mau?”
            Sebagai jawaban atas pertanyaan dari Tristan, Ify hanya mengangguk, yang menandakan bahwa ia setuju. Saat itu Tristan langsung tersenyum lega. Ia merasa memiliki sedikit harapan.

            “Thanks Fy, nanti sore gue jemput kerumah lo, ya?”

            Sekali lagi Ify mengangguk.

♥♥♥

            Selama 3 hari terakhir ini, baik Rio maupun Iel sama-sama melarang keras Via untuk bertemu dengan Alvin apalagi sampai harus pergi ke apartemennya lagi. Rio juga berjanji akan mencari pekerjaan baru untuk Via asal ia mau berhenti bekerja dari tempat Alvin. Via yang memang tidak punya pilihan lain akhirnya hanya bisa menerima tanpa syarat apapun, sekalipun hati kecilnya merasa… sedikit tidak rela.
            Via yang sejak tadi memandang ponselnya berharap mendapat telfon atau SMS dari Alvin langsung membanting ponselnya diatas tempat tidurnya. Via merutuki dirinya habis-habisan setelah sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
            “begok, begok, begok! Kenapa gue berharap si Songong itu bakalan nelpon atas SMS gue. Itu gak mungkin Viana Aurora, itu gak mungkin. Begok, begok, begoooook!” Via beberapa kali memukul pelan kepalanya dengan boneka kodok kesayangannya.
            Tanpa sengaja Via menatap bonekanya, tidak lama ia tersenyum dan berujar pelan,
            “boneka ini kok lama-lama mirip Alvin ya?” Via tersenyum.
            Tidak lama kemudian…
            “GAK! GAK! GAK! Apa yang udah gue pikirin? Inget Via, cowok kurang ajar itu udah bikin malu lo didepan umum, lo harusnya bales dendem dan ngasih pelajaran buat dia, bukannya malah mikirin dia kayak gini”
            Via kembali melamun. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil menatap dengan pandangan menerawang keatas langit-langit kamarnya.

            “Dia udah makan belom ya? Itu anak kan begok, gak bisa masak buat dirinya sendiri…”

♥♥♥

            Alvin baru saja bangun dari tidurnya saat tiba-tiba ia memegangi perutnya erat-erat menahan rasa sakit yang seakan melilit. Sejak pulang sekolah tadi, Alvin sama sekali belum memakan apapun. Rasa lapar yang sejak tadi ia rasakan kini kian memuncak dan membuat otaknya tidak dapat berpikir dengan baik.
            “VIAAAAA!! LO UDAH MASAK BELOM? GUE LAPER”
            Alvin bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar.
            “VIAAA! LO KEMANA AJ –“ Alvin tidak melanjutkan kalimatnya saat ia baru mengingat bahwa sejak 3 hari yang lalu Via tidak pernah muncul lagi di apartemennya. Alvin terduduk lunglai di kursi makan. Ia bahkan belum bisa membiasakan diri untuk hidup tanpa bantuan orang lain disaat ia memilih untuk keluar dari rumah dan menjalani kehidupan yang mandiri.
            Alvin mengepalkan tangannya lalu memukulkannya tanpa ampun diatas meja. Alvin buru-buru mencari nama Via pada contact list-nya.
            “tamat riwayat lo hari ini juga! Lo pikir lo siapa bisa mangkir dari kerjaan lo seenak udel lo?” baru saja Alvin akan menekan tombol hijau, ia malah membatalkan niatnya. Alvin menggeram marah, tapi kali ini ia memilih untuk menelpon kepala asisten rumah tangga dikediaman Ayahnya.
            “Heh! Mana pembantu pesenan gue? Udah hampir sebulan belom juga nongol. Lo pikir gue bisa apa ngerjain pekerjaan rumah sendiri? Gak mikir lo ya?” emosi Alvin benar-benar memuncak kali ini, dan itu karna ia belum bisa berhenti memikirkan Via.
            “Maaf, Tuan. Tapi bukannya 2 minggu yang lalu, Tuan sendiri yang mengatakan bahwa Tuan sudah memiliki pembantu baru?”
            Alvin memijat keningnya frustasi lalu mengehembuskan napas kuat-kuat.
            “gue gak minta dijawab! Gue mintanya pembantu baru. Gue gak mau tau, besok pagi itu pembantu harus sudah ada diapartemen gue. Kalo gak, lo bakalan gue pecat” Ancam Alvin yang merasa emosinya semakin naik saja.
            “Baik Tuan, saya akan kirimkan salah satu pembantu dari rumah ini”
            “Lo begok atau apa? Gue minta pembantu baru, bukan pembantu lama” Alvin makin senewen. Setelah puas marah-marah ditelfon, Alvin langsung memutuskan sambungan telfonnya dan membuat kepala asisten rumah tangganya jauh lebih frustasi dari dirinya sekarang.
            “DAMN! Rese semuanya” umpat Alvin sambil membanting ponselnya diatas meja. Nada lapar diperut Alvin kembali berbunyi diiringi dengan rasa melilit dibagian perutnya yang kembali terasa.
            “aw… gue lapar!”
            Alvin segera menyambar kunci mobilnya. Jika ingin tetap hidup besok pagi, maka ia harus keluar untuk mencari makanan sendiri.


♥♥♥

            Via mendorong trolley yang berisi berbagai macam keperluan dapur sambil membaca sebuah catatan kecil yang tadi diberikan oleh Bunda. Semua barang pesanan Bunda hampir ia dapatkan. Sekarang Via hanya perlu mencari keperluannya sendiri.
            Via lalu mendorong trolley nya kearah bagian buah-buahan untuk mencari buah melon kesukaannya. Ia lalu tersenyum puas saat melihat buah berwarna hijau itu bertengger dengan manisnya dirak. Tapi, kok Cuma satu? Pikirnya.
            Saat kedua tangan Via sudah menyentuh buah melon itu, tiba-tiba saja sepasang tangan kekar muncul lalu membungkus kedua tangannya yang telah siap mengangkat buah melon itu. Via sedikit kaget lalu buru-buru menatap seseorang yang telah menyentuh tangannya, dan Via membelalak maksimal saat itu bahwa orang itu adalah…
            “Eloooo??” pekiknya dengan suara melengking nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini ada didepan kedua matanya.
            Seseorang yang ternyata adalah Alvin sebenarnya sama kagetnya dengan Via, tapi ia berusaha terlihat biasa saja didepan Gadis yang sekarang sudah menjadi mantan babunya ini.
            “Lepasin! Ini melon gue” pinta Alvin dengan nada memerintah, seperti yang biasa ia lakukan.
            Via berusaha menormalkan reaksinya. Kini ia melotot pada Alvin, berusaha menantang.
            “enak aja! Gue duluan yang dapet ini” Via semakin mempererat pegangannya pada melon itu, tapi Alvin tidak mau kalah.
            “tapi gue duluan yang liat ini”
            “gak bisa! Tetep aja gue duluan yang pegang melon ini”
            “gue!”
            “gue”
            “gue, gue, gue, GUEEEE”
            “GU –“
            “Maaf, Mbak, Mas… ini ada apa ya?” ucapan Via tahu-tahu terpotong saat seorang pelayan supermarket tiba-tiba saja datang saat melihat ada keributan yang terjadi antara dua orang ini. Baik Alvin maupun Via sama-sama menoleh kearah pelayan supermarket yang tampak sangat kebingungan itu.
            “ini kan SUPERMARKET ya, Mbak? Ada kata SUPER didepannya, tapi kenapa melon yang tersedia Cuma satu sih?” semprot Alvin tanpa babibu lagi.
            “Maaf Mas sebelumnya, persediaan Melon kami habis sejam yang lalu, dan hanya ini yang tersisa. Kalo mau dapet melon yang banyak, coba deh ke toko buah” jelas sang Pelayan Supermarket itu, berusaha terdengar sabar.
            “APA? Berani-beraninya lo merintah gue kayak gitu. Emang lo sia – umphhh…”
            Via langsung membekap mulut Alvin agar Alvin tidak melanjutkan perkataannya yang sudah pasti sangat menusuk itu. Via tersenyum pada pelayan itu,
            “Maaf ya, Mbak? Temen saya ini emang sedikit gak waras. Jadi maklumin aja kalo omongannya rada nyelekit”
            “iya… iya…” jawab pelayan itu yang merasa sedikit aneh dengan kedua pengunjungnya ini.
            “sekarang Mbak bisa pergi, kami akan selesaikan berdua”
            Pelayan itu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Alvin dan Via setelah sebelumnya ia melemparkan senyuman. Beberapa saat kemudian, Via langsung membuka bekapannya pada mulut Alvin.
            “berani banget lo bekap-bekap mulut gue? Lo pikir lo siapa? Hah?”
            “omongan lo tadi terlalu kasar, lo sadar gak sih?”
            “itu hak gue. Elo ataupun pelayan tadi sama sekali gak berhak buat ngelarang gue. Dan kalo gue mau, gue bisa beli supermarket ini kapanpun gue mau”
            “ya, lo bisa beli apapun kapanpun dan dimanapun lo mau. Tapi satu hal yang gak bisa lo beli… harga diri seseorang. Dan biar bagaimanapun, Mbak-mbak tadi punya perasaan, dan lo gak bisa nginjek-nginjek harga diri dia seenak hati lo dengan ngebentak-bentak dia kayak tadi”
            “Elo –“ ucap Alvin tertahan.
            Via lalu meraih melon tadi dan meletakkannya didalam trolley milik Alvin,
            “ambil aja ini. Gue bisa cari sendiri nanti dipasar”
            Via lalu melangkah, mendorong trolley nya dan meninggalkan Alvin seorang diri disana. Alvin tampak terdiam melihat kepergian Via. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
            Via sedikit terkejut saat Alvin ternyata sudah berjalan dengan santai disampingnya. Alvinpun kemudian meletakkan kembali melon itu didalam trolley milik Via tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu dengan tidak pedulinya, Alvin semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan Via dibelakang dengan sejuta tanda Tanya yang memenuhi ruang dikepalanya.
            ‘itu benar-benar Alvin, ya? Tumben ngalah’ pikirnya skeptis.



♥♥♥

            Disalah satu rak yang terdapat disebuah toko buku, Rio tampak sibuk memilih beberapa buku yang akan ia gunakan sebagai persiapannya untuk menghadapi ujian kenaikan kelas pada hari senin nanti. Ditangannya Rio sudah memegang beberapa buku. Rio terus berjalan hingga tanpa sadar, tibalah ia dibagian novel.
            Perhatian Rio tiba-tiba tertuju pada sebuah novel remaja. Rio tersenyum kecil lalu mengambil salah satu novel itu dari tempatnya. Pada cover novel itu tertulis: Cinta Dalam Diam By Alyssa Pratama. “akhirnya terbit juga” gumam Rio pelan.
            “novel nya mau dibeli kan, Kak?” Tanya seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat disamping Rio. Rio terkesiap lalu menoleh kesamping.
            “Ify? Sejak kapan lo disini?”
            “sejak lo senyum-senyum sambil ngeliatin novel gue. Mau dibeli kan?” Ify tersenyum sangat manis. Dan untuk yang pertama kalinya, Rio merasakan jantungnya berdegub kencang saat melihat senyuman cantik milik Ify. Rio lantas mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Ify.
            “lo disini ngapain, Fy?” kali ini giliran Rio yang bertanya, tapi tanpa ia sadari, pertanyaannya yang terkesan basa-basi itu justru membuat Ify terkekeh geli.
            “hehe… emang keliatannya gue lagi ngapain disini, kak? Ini kan toko buku, gak mungkin kan gue pergi ketoko bangunan buat beli buku?”
            Rio tampak salah tingkah.
            “em… tumben gak sama Via?” Tanya Ify dengan penekanan yang amat jelas pada setiap kata, tapi Rio malah tidak menyadarinya.
            “Via lagi sibuk. Lo sendiri, kenapa gak pernah sama Via?”
            Ify bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Rio. Masakah ia harus terus terang mengatakan bahwa ia cemburu melihat kedekatan yang terjadi antara Via dan Rio? masakah ia harus terus terang bahwa ia telah mengetahui bahwa Via adalah gadis yang Rio suka, bahwa Via adalah gadis yang membuat Rio tidak bisa menerima perasaan Ify? Tidak, Ify tidak mungkin melakukan itu.
            “Fy, gue udah selese. Cabut yuk! Bentar lagi film nya mulai nih” Tristan tiba-tiba datang sambil merangkul pundak Ify. Apa yang Tristan lakukan itu membuat Rio sedikit kaget. “ini siapa, Fy?” lanjut Tristan sesaat setelah ia melihat Rio.
            “ooo… ini Kak Rio, Tris. Temen kakak gue” jawab Ify seadanya. Tristan lalu tersenyum pada Rio dan mengulurkan tangan kanannya, mengajak Rio berjabat tangan untuk berkenalan.
            “Hay… kenalin gue Tristan”
            Rio menyambut uluran tangan Tristan. “ Rio” ucapnya singkat dengan nada yang terdengar dingin. Rio pun cepat-cepat menarik tangannya dan segera membuang tatapannya kearah lain. Jauh didalam sana, ada sebentuk perasaan aneh yang sangat menganggu yang ia rasakan.
            “ya udah, gue sama Tristan duluan ya? Kita mau nonton”
            Sebagai jawaban, Rio hanya mengangguk. Dan ia tidak sedikitpun menatap kearah Ify ataupun Tristan.
            Ify dan Tristan berbalik dan melangkah pergi meninggalkan toko buku.
            “Fy, kok kayaknya temen kakak lo itu gak suka sama gue?” Tanya Tristan setelah mereka keluar dari toko buku. Ify tersenyum lalu menatap Tristan sekilas,
            “Ck… Cuma perasaan lo aja”


♥♥♥

            Senin pagi, tepatnya sebelum Via berangkat kesekolah, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Ayahnya. Tadi Via sengaja menolak ajakan Rio untuk berangkat kesekolah bersama karna memang ia sudah sangat ingin mengunjungi makam Ayahnya sejak seminggu yang lalu.
            Via yang tadinya melangkah dengan penuh semangat menyusuri komplek taman pemakaman tiba-tiba saja  menghentikan langkahnya saat melihat sosok pemuda yang begitu familiar baginya tengah duduk bersimpuh disamping sebuah makam yang terdapat tepat disamping makam Ayahnya. Meskipun hanya dengan melihat bagian punggungnya saja, Via tahu pasti bahwa pemuda itu adalah Alvin. Untuk sejenak Via diam berpikir. Akhirnya setelah beberapa tahun, makam yang selama ini selalu ia rawat bersamaan dengan makam Ayahnya akhirnya ada juga yang mengunjungi. Dan Via merasa kaget saat tahu yang mengunjungi makam itu adalah Alvin.
            “apa mungkin Alvin anaknya Tante Aurora?”
            Via kembali mengayunkan langkahnya dan mencoba untuk lebih dekat lagi dengan posisi Alvin. Kini Viapun sudah berdiri tepat dibelakang Alvin dengan satu buket bunga mawar putih ditangannya.
            Baru saja Via berdiri disana, Ia langsung menyaksikan kedua pundak Alvin bergerak naik turun, sayup-sayup kedua indera pendengarnya menangkap sebuah suara seperti isakan tertahan. Apa mungkin Alvin menangis? Apa mungkin pria yang ia kenal sangat arrogant itu menangis?
            “Mi… apa Mami bisa jemput Alvin dan bawa Alvin pergi dari sini? Mami tahu? Alvin capek, Mi… Alvin capek…” jeda sesaat. Alvin terdengar menghela napasnya yang terdengar sangat berat, ia pun kembali berujar. “Disini, Mi…” sambil menunjuk dada, “Disini rasanya sakiiittt banget. Ketidakadilan Daddy, hilangnya kasih sayang Daddy bener-bener bikin aku pengen mati aja… dan sekarang apa aku salah, kalau aku membenci mereka yang udah ngerebut semua perhatian Daddy buat aku? Apa aku salah, Mi?”
            Via tidak bisa lagi menahan air matanya kali ini. Ucapan-ucapan Alvin benar-benar membuatnya terenyuh. Perasaan sakit yang dirasakan oleh Alvin, seakan bisa ia rasakan, bahkan dengan jelas, dan semuanya benar-benar menyayat. Ingin rasanya Via memeluk pemuda arrogant ini dari belakang, dan jika Alvin mau, Via akan memberikannya ijin sepenuhnya untuk menangis dalam pelukannya sekuat mungkin. Via sangat ingin menenangkannya.
            Alvin mengusap air matanya, ia menghela napas panjang lalu bangkit dari duduknya. Sudah cukup ia menangis. Sudah cukup ia meneteskan air mata karena kenyataan yang Tuhan hadiahkan untuknya ini. Alvin kuat. Alvin bisa.
            Alvin sedikit terkejut saat melihat Via yang berdiri tepat dibelakangnya dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipi chubby nya. Alvin sedikit heran, ia tahu cewek ini aneh, tapi Alvin tidak pernah tahu bahwa ternyata cewek ini sangat aneh.
            “elo? Ngapain disini?”
            “tepat disamping makam Mami lo…” Via menunjuk kearah makam Ayahnya, “ada makam Ayah gue” lanjutnya. Alvinpun menoleh kebelakang untuk sejenak dan kembali menatap Via dengan pandangan sedikit aneh.
            Via lalu mengambil beberapa tangkai bunga mawar yang ia bawa dan menyerahkannya kepada Alvin.
            “Ini…”
            “buat apa?”
            “taroh diatas makam Mami lo. Tapi lo jangan geer, ini buat Mami lo, bukan lo…”
            “lo kenapa nangis?” Tanya Alvin lagi seakan tidak menghiraukan ucapan Via tadi.
            “lo gak perlu tahu”
            “tapi gue mau tahu. Kenapa lo nangis?” Alvin belum mau menyerah. Ia ingin tahu, kenapa gadis ini menangis.
            Via menggeleng. Ia sendiri bahkan tidak mengerti untuk alasan apa sebenarnya ia menangis.
            “gue gak tau. Gue gak tau” jawab Via seraya menggeleng beberapa kali. Ia menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri oleh air mata.
            “lo denger semua omongan gue tadi?” Via mengangguk dengan masih menunduk. Alvin tersenyum miris.
            “sekarang lo udah tahu kan, kalo gue sebenernya rapuh?”
            Via mengangguk lagi.
            “Lo merasa puas karna tahu kelemahan gue?”
            Kali ini Via menggeleng.
            “atau lo kasihan sama gue?”
            Via langsung mengangkat wajahnya seketika sesaat setelah Alvin menyelesaikan pertanyaannya. Via kembali menggeleng untuk yang kedua kalinya.
            “gue gak butuh lo kasihanin, gue gak butuh air mata belas kasih dari lo. Gue gak butuh. Dan…. Makasih buat bunga ini” Alvin menunjukan bunga itu pada Via sebelum akhirnya meletakkannya dengan sangat hati-hati diatas pusara almarhum Maminya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin berjalan melewati Via begitu saja. Sesak didadanya kian terasa menyiksa. Kenapa gadis ini harus menyaksikan kelemahan dan kerapuhannya? Jika harus ada yang menyaksikannya, lalu kenapa harus Via?

            ‘gue gak tahu, kalo ternyata lo sangat rapuh, Calvin… gue gak tahu, dan seharusnya… gue gak pernah tahu…’




To Be Continued…