Johan sedang sibuk berkutat dengan file-file
penting yang ada dilaptopnya saat tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah
file yang selama ini belum sempat ia sentuh sama sekali. File itu berjudul: For
My Daddy.
Johan berpikir sejenak lalu
meng-klik open untuk melihat isi file itu. Ternyata isinya adalah sebuah video
dengan judul yang sama. Dan Johan baru ingat, bahwa Alvin lah yang memberikan
file itu padanya 7 tahun yang lalu. Saat itu Alvin masih berusia 9 tahun. Tapi
hingga 7 tahun berlalu, Johan belum juga melihat apa isi file itu.
Flashback ~
“Daddy…” Alvin kecil memanggil Daddy nya penuh semangat
saat melihat Daddy dan Mami nya baru saja memasuki rumah. Alvin berlari kecil
kearah Johan, dengan sigap Johan menunduk lalu menangkap jagoan kecil
kebanggannya itu.
“kenapa Jagoan?”
“happy birthday Daddy”
Aurora dan Johan saling menatap sejenak seraya saling
melemparkan senyum satu sama lain.
“Oke… terus kamu punya hadiah apa buat Daddy? Hah?”
Alvin kecil tampak berpikir, tidak lama ia mengeluarkan
sebuah flashdisk dari kantongnya dan menyerahkannya pada Johan.
“ini, Dad”
“apa ini?” Tanya Johan sedikit bingung sambil menerima
flashdisk itu.
“Daddy harus liat sendiri pokoknya. Oya, Dad….”
“kenapa?”
“karna Alvin baru belajar main gitar dan belum sehebat
Daddy, jadi… permainan gitar Alvin jangan diketawain ya?”
“hahahaha… siap Bos!”
Ujar Johan dengan mantap sambil memberi hormat pada
putera kecilnya itu.
Flashback off ~
Johan tidak bisa menahan senyum saat
mengingat kenangan itu. Jika ingin jujur, sebenarnya Johan sangat merindukan
jagoan kecilnya itu, Johan sangat merindukan jagoan kecilnya bermanja-manja
padanya. Tapi semua kondisi yang ia hadapi sekarang ini membuatnya tidak bisa
melakukan apapun untuk melampiaskan rasa rindunya. Calvin, putera kebanggannya
itu, sudah bukan Calvin kecil yang dulu lagi. Banyak hal yang berubah dalam
dirinya, yang membuat Johan merasa tidak mengenali puteranya lagi.
Johan lalu mulai memutar video itu.
Dalam video itu, tampak Alvin kecil dengan ,senyum jenakanya tengah duduk
sambil memegang sebuah gitar.
“Hay Dad… happy birthday. Alvin
sayang sama Daddy. Kalo Alvin udah besar nanti, Alvin mau jadi seperti Daddy,
Alvin mau jadi anak yang bisa bikin Daddy bangga, dan Alvin ingin terus bikin
Daddy bahagia…”
Mata Johan tampak berkaca-kaca
mendengar ucapan lugu Alvin kecilnya.
“oya, Dad… Alvin punya hadiah kecil
buat Daddy… semoga Daddy suka ya? This is
a song for you, Dad…”
Dalam video itu, tangan mungil milik
Alvin mulai memetik gitar. Tidak lama, ia pun menyanyikan sebuah lagu untuk
Daddy nya. Dan saat itu, saat Alvin kecil menyanyikan lagu untuknya, Johan
tidak bisa lagi menahan air mata harunya.
“Kau
yang selalu mengajariku
Bagaimana
menjadi anak yang berbakti
Kau
yang selalu membelaiku
Saat
ku menangis karna ku tak mampu
Oh
My Daddy…. Huwo… oo..
Kau
yang selalu memahamiku
Walau
aku sering membuatmu tak mengerti
Kau
yang selalu membelaiku
Saat
ku menangis karna aku tak mampu
Kucinta
dirimu… bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang
dirimu… ku berjanji bahagiakanmu….
I
love you my Daddy… huwoo… ooo…
I
love you my Daddy… huwoo… ooo…
Kau
yang selalu memahamiku
Walau
aku sering membuatmu tak mengerti
Kau
yang selalu membelaiku
Saat
ku menangis karna aku tak mampu…
Kucinta
dirimu… bagiku kau pahlawan hidupku
Kusayang
dirimu… ku berjanji bahagiakanmu….
I
love you my Daddy… huwoo… ooo…
I
love you my Daddy… huwoo… ooo…
I
love you my Daddy…”
(Idola cilik 3: Alvin, Ray, Zevana,
Keke, Rio ~ My Daddy)
Akhirnya tangisan itu pecah juga.
Johan tidak bisa mengingkari bahwa ia sangat merindukan Alvin lebih dari apapun
itu. Ia ingin bisa memeluk puteranya lagi. Selama 7 tahun terakhir ini, Johan
tidak pernah merasakan rasa rindu sedalam ini kecuali terhadap mendiang
isterinya juga puteranya.
♥♥♥
Speranza
High School…
“Astaga!” Via memekik kaget saat
Alvin tiba-tiba muncul dihadapannya. Via kontan saja menghentikan langkahnya
dan menatap Alvin dengan pandangan sedikit sebal.
“ngagetin aja lo!”
Tanpa ijin, Alvin menarik pergelangan
tangan Via dan menyeretnya paksa untuk pergi ketempat yang lebih sepi lagi. Ada
hal yang harus ia bicarakan dengan Via.
“eh, eh, eh… lo mau bawa gue kemana
sih? Heh?”
Alvin tidak menjawab. Dengan tidak
pedulinya ia tetap menyeret Via, bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Alvin ternyata membawa Via memasuki sebuah ruang music. Setibanya disana, Alvin
langsung melepaskan begitu saja tangan Via yang sejak tadi ia cengkram.
“Heh! Tangan gue sakit begok. Lo gak
bisa apa lembutan dikit sama gue?” protes Via sambil mengusap pergelangan
tangannya. Alvin tidak menjawab, ia menatap tepat pada kedua manik mata Via
dengan tajam. Alvin lalu melangkah secara perlahan mendekati Via.
“Lo mau apa?” Via mundur beberapa
langkah, tapi Alvin tetap maju.
“gue Tanya lo mau apa?” nada suara
Via semakin meninggi, dan ia tetap melangkah mundur saat Alvin semakin
mendekat.
Kali ini Via sudah terpojokan
didinding, ia kehabisan ruang untuk bergerak sementara Alvin sudah semakin
mendekat. Alvin lalu menghentikan langkahnya saat jaraknya dengan jarak Via
hanya berjarak beberapa centi saja. Alvin lalu sedikit mencodongkan wajahnya
dan membuat Via nyaris tidak bernapas karna gugup.
“lo mau apa siiihhhh??” Via menutup
wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dengan sangat tenang, Alvin
menurunkan kedua tangan Via dari wajahnya.
“dengerin gue! Anggep aja lo gak
pernah liat kejadian dipemakaman kemarin. Sekali ini tersebar, maka lo akan
jadi orang pertama yang gue mintai pertanggung jawaban. Ngerti lo?”
“Alvin, gue –“
“dan bersikaplah seperti biasanya.
Gak usah bersikap seolah-olah lo sangat kasihan sama gue. Karna gue… gak butuh
rasa kasihan lo”
Via hanya terdiam dan tidak berniat
sedikitpun untuk menjawab apa saja yang Alvin katakan. Karna sekarang, Via
sudah mengerti semuanya. Via mengerti apa yang menyebabkan Alvin menjadi
seperti ini. Dan untuk saat ini, Via hanya ingin mengerti. Itu saja cukup.
Tepat saat Alvin akan berbalik dan
pergi, Via tahu-tahu menarik pergelangan tangannya dan membawa dirinya kedalam
pelukan Alvin, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Alvin lalu
meneteskan air matanya disana. Alvin yang merasa sangat sanksi dengan perlakuan
Via, berusaha untuk melepaskan gadis itu dari dalam pelukannya, tapi Via justru
lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvin.
“selama ini lo selalu berbuat
seenaknya sama gue, tapi untuk sekali ini aja, bisa kan gue yang berbuat
seenaknya sama lo? Sejak dipemakaman kemaren, gue sudah sangat ingin memeluk
lo, gue sudah sangat ingin menenangkan lo…”
“lepasin gue!” pinta Alvin dengan
tegas, tapi dengan lebih tegas lagi Via menggeleng.
“setelah ini gue janji akan bersikap
biasa aja sama lo. Gue janji!”
“lepasin gue sebelum gue berbuat
kasar sama lo!” pinta Alvin, kali ini dengan sengaja mengancam agar Via segera
melepaskannya.
“Gak!”
“udah gue bilang –“ jeda sesaat.
Alvin lalu melepaskan paksa Via dari pelukannya dengan sengaja mendorong kedua
pundaknya. Mau tidak mau Via akhirnya melepaskan diri dari pelukan Alvin. “gue
gak butuh lo kasihanin”
Itulah ucapan terakhir Alvin sebelum
ia berbalik dan melangkah pergi. Tapi kemudian langkah Alvin tiba-tiba terhenti
saat pengakuan tidak terduga meluncur dengan bebasnya dari mulut Via.
“gue gak kasihan sama lo, tapi gue
sayang sama lo… gue sayang sama lo, Calvin Bramantya…”
Degh! Ada debaran aneh yang
tiba-tiba mengusik detak jantung Alvin yang tadinya berdetak dalam irama yang
teratur. Sekarang semuanya seakan tidak terkendali. Otaknya, jantungnya,
perasaannya, bahkan gerak tubuhnya sekalipun. Semuanya seakan memberontak.
Tapi pada akhirnya egonya lah yang
berkuasa. Alvin berbalik dan menatap Via tajam.
“ulang apa yang lo bilang tadi!”
Via menghela napas lalu dengan
berani membalas tatapan tajam Alvin. Ia menegakan tubuhnya, berusaha untuk
tetap tenang.
“gue sayang sama lo”
“ulang sekali lagi!”
Via menunduk dalam. Kekuatannya
habis sudah. Kini ia tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk membalas
tatapan tajam Alvin. Via sendiri juga tidak mengerti, kenapa pengakuan itu
tiba-tiba lolos begitu saja tanpa perhitungannya. Yang Via tahu hanyalah, saat
ia mengeluarkan pengakuan itu, ia hanya mengikuti kata hatinya saja. Tidak
lebih dari itu.
“gue gak peduli apapun respon lo
setelah ini, tapi gue sayang sama lo…”
Alvin mendekat kearah Via, ia lalu meraih
dagu Via dan menghapus jarak diantara mereka dalam waktu yang sedimikian
singkat. Via membeku ditempat. Semuanya entah kenapa terasa seperti mimpi.
“bodoh! Bagaimana lo bisa sayang
sama seseorang yang udah nyakitin dan mempermalukan lo didepan umum?” bisik
Alvin sesaat setelah ia kembali membentang jarak diantara mereka.
“gue –“
“dan lo sangat bodoh karna udah
jatuh cinta sama seseorang yang gak mungkin bisa ngebales perasaan lo. Jangan
mimpi!”
Kali ini Alvin benar-benar melangkah
pergi meninggalkan Via sendiri didalam ruangan itu. Sementara Via, ia langsung
terduduk lemah dilantai, sulit ia percaya dengan apa yang tadi sudah ia
ungkapkan, dan sulit ia percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Benarkah
Alvin tidak memiliki perasaan apapun padanya walaupun hanya setitik? Lalu apa
arti ciuman tadi?
Dan air mata itu akhirnya lolos.
Pertahanannya runtuh sudah. Ia tidak tahu, bagaimana setelah ini ia harus
berdiri dengan tegak dihadapan Alvin. Dan untuk kedepannya, ia merasa tidak
sanggup menatap pria arrogant itu dengan cara yang seharusnya.
♥♥♥
Cakka senang bukan kepalang saat
mendengar kabar bahwa hari ini Mama nya akan pulang dari Prancis. Walaupun
mereka sempat bertengkar sesaat sebelum keberangkatan Mama nya ke Prancis,
Cakka tetap saja merasa rindu. Dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa
hari ini juga ia akan meminta maaf pada Mamanya.
Hari menjelang sore, saat Cakka baru
saja kembali dari rumah Shilla, salah satu pelayan rumahnya mengatakan bahwa
Mama nya telah pulang sejak satu jam yang lalu. Cakka tersenyum lebar lalu
berlari kedalam rumahnya untuk segera menyusul Sang Mama yang mungkin sudah
menunggunya.
Cakka menghentikan langkahnya
didepan kamar Mama nya saat mendengar Mamanya sedang berbicara dengan
seseorang. Dan Cakka semakin merasa penasaran saat mereka membawa-bawa nama
Cakka juga… Papa kandungnya. Cakka semakin mendekat. Dalam waktu yang
sedimikian singkat, ia berusaha mempersiapkan diri kalau-kalau hari ini ia akan
mengetahui sebuah kenyataan tentang Papa kandungnya.
“kamu pikir buat apa aku rela
menyibukan diri diluar sana, Han? Kamu pikir buat apa aku rela susah-susah
menjadi pribadi yang sebenarnya bukan diri aku? Itu semua untuk menyelamatkan
hatiku, Hanny…”
“Cakka gak tau apa-apa dengan masa
lalunya, Evelyn. Cakka berhak tahu tentang Papa dan Mama kandungnya”
“aku tahu Cakka berhak dengan semua
itu, tapi apa aku juga tidak berhak buat nyembuhin luka hatiku? Apa aku tidak
berhak buat nyelametin hati aku sendiri? Apa aku tidak berhak, Hanny?”
Kali ini Hanny terdiam dan berusaha
mendengarkan penjelasan Kakaknya itu.
“Jika aku harus menjelaskan semuanya
pada Cakka, lalu aku harus memulai dari mana? Apa aku harus mengatakan bahwa
Mama nya adalah kekasih gelap suami ku? Apa aku harus mengatakan bahwa dia
adalah anak dari hasil hubungan gelap suamiku dengan Mamanya? Apa aku harus
berkata seperti itu, Hanny?”
Seketika Cakka langsung terkulai
lemas mendengarkan semua apa yang Mamanya ucapkan. Jadi ini rahasia yang selama
ini Mamanya sembunyikan? Tapi jika memang benar bahwa Cakka adalah hasil
hubungan gelap antara Papanya dengan kekasih gelapnya, lalu bagaimana bisa
sekarang Cakka ada dalam asuhan Evelyn?
Cakka mencengkram kuat-kuat jari
jemari tangannya, kedua matanya sudah tampak memerah menahan tangis. Ia ingin
kuat, tapi kenyataan ini benar-benar membuat tenaganya terkuras habis, bahkan
untuk dapat berdiri dengan tegak diatas kedua kakinya sendiri, Cakka harus
berusaha sangat kuat.
Merasa tidak tahan dengan semuanya,
Cakka akhirnya lebih memilih pergi dari rumah itu dan tidak mendengarkan
perkataan Mamanya selanjutnya. Ia berjalan cepat dengan air mata tertahan.
“Lho… lho… Tuan Cakka mau kemana?”
Tanya seorang pelayan sambil mengikuti Cakka dibelakang. Tapi Cakka tidak
sedikitpun menghiraukan pertanyaan itu. Ia menaiki motor cagivanya lalu
melarikannya dengan kecepatan maksimal.
“Aku tahu Cakka tidak bersalah dalam
masalah ini, aku tahu Cakka sama sekali tidak memiliki dosa apapun, aku ingin
berusaha menyayangi Cakka dengan sepenuh hatiku, dan selama 17 tahun ini, aku
telah berusaha keras untuk itu, tapi setiap aku melihat wajah Cakka, aku merasa
terseret ke masa lalu. Dan luka ini, semakin menganga lebar. Dan untuk alasan
itulah, aku terus menyibukan diri diluar sana dan memberikan Cakka segalanya
agar aku… tidak terlalu merasa bersalah…”
Setetes air mata Evelyn terjatuh. Ia
yang selama ini berusaha untuk kuat, akhirnya terjatuh juga. Seketika Evelyn
ambruk. Ia menjatuhkan diri dilantai. Detik ini ia sudah tidak ingin lagi
menahan dirinya. Ia ingin menangis sekeras mungkin.
17 tahun yang lalu, tepat satu bulan
setelah kematian suaminya, Evelyn sendiri yang membawa Cakka kedalam istana
megahnya dengan kedua tangannya sendiri. Evelyn sendiri yang memutuskan untuk
merawat anak suaminya dalam pelukannya, sekalipun setiap hari ia harus menahan
pedih, Evelyn berusaha menahan semua itu demi bayi kecil tidak berdosa yang
telah ia bawa sendiri dengan kedua tangannya.
Hingga detik ini pun, Evelyn belum
mengetahui bagaimana wajah Ibu kandung Cakka. Meskipun ia bisa mencari tahu semua
itu dengan sangat mudah, tapi Evelyn lebih memilih untuk tetap tidak tahu
bagaimana wajah wanita itu. Dan 10 tahun yang lalu, Evelyn menerima kabar dari
adiknya, bahwa kekasih gelap suaminya yang ia ketahui bernama Wina itu telah
meninggal karna mengalami kecelekaan pesawat.
Wina hanya sempat menitipkan secarik
surat untuk Evelyn, dalam surat itu, Wina meminta maaf yang sebesar-besarnya
pada Evelyn. Ia mengakui kesalahannya dan meminta Evelyn dengan sepenuh hati
mau menjaga dan merawat Cakka, puteranya.
Kenangan-kenangan pahit itulah yang
membuat Evelyn hingga saat ini memutuskan untuk menyembunyikan rapat-rapat
rahasia ini dari Cakka. Selain tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya,
Evelyn tidak ingin lagi mengungkit luka lama itu, yang pada kenyataannya masih
membekas kuat dihatinya, disetiap langkahnya, dan disetiap hela napasnya selama
17 tahun terakhir ini.
♥♥♥
“Via, kok belom pulang sih? Ini kan
udah mau sore” Iel tiba-tiba saja muncul disamping Via dan membuat Via yang
sejak tadi duduk melamun ditaman sekolah langsung terkesiap.
“eh… Kak Iel?”
Iel tersenyum menggoda lalu
mengambil posisi duduk tepat disamping Via.
“lo belom jawab pertanyaan gue,
kenapa belom pulang?”
“masih pengen disekolah, Kak”
“Nyokap gak nyariin?”
“jam segini palingan Bunda masih
dikantor. Sejak Bunda sembuh dari sakitnya, Bunda kembali menyibukan diri
dengan kerjaan…”
Iel hanya mengangguk paham dan hanya
bisa menggumamkan kata ‘oh’ saja. Tiba-tiba saja, suasana canggung membukus
kebersamaan mereka sore itu. Iel menghela napas panjangnya, sejak beberapa hari
yang lalu Iel sudah memiliki rencana untuk menyatakan perasaannya pada gadis
ini, tapi setiap kali ia berdiri dihadapan gadis ini, nyalinya tiba-tiba saja
ciut.
Sebelumnya Iel tidak pernah
merasakan hal semacam ini. Biasanya, jika ia menyukai seorang Gadis, Iel pasti
akan berusaha mendekatinya dengan cara apapun, dan jika sudah wakunya tiba, Iel
akan menyatakan perasaannya dan dengan begitu mudahnya bisa mendapatkan hati si
Gadis. Tapi entah kenapa, terhadap Via semuanya terasa berbeda. Dan ini semua
semakin menguatkan keyakinan Iel, bahwa Via memang untuknya, bahwa Via memang
cinta sejatinya.
“Via…” panggil Iel pelan setelah
berusaha meyakinkan dirinya.
“kenapa, Kak?” Via menoleh kearah
Iel dan menatap tepat pada kedua mata elang milik Iel. Bukannya meneruskan
niatnya, Iel malah bungkam saat kedua mata Via terjatuh tepat pada kedua bola
matanya.
Semua kata-kata yang telah Iel
persiapkan kembali buyar bersama rasa gugupnya.
“Kak Iel kenapa diem?”
Iel masih terdiam dengan pikiran
yang melayang entah kemana. Via semakin bingung dibuatnya. Ternyata cowok ini
sangat membingungkan.
“KAK IEL, HELLOOOO…” Teriak Via
seraya melambaikan salah satu tangannya
tepat didepan wajah Iel.
Iel lagi-lagi terkesiap. Kali ini
dengan refleks ia berujar. “Via gue suka sama lo”
Hening. Suasananya mendadak hening.
Merasa tidak yakin dengan apa yang ia dengar baru saja, Via mencoba untuk
tertawa meskipun terdengar hambar. Tapi jauh didalam hatinya, Via benar-benar
sangat berharap bahwa apa yang baru saja ia dengar memang salah, karna pada
kenyataannya, Via tidak memiliki perasaan apapun pada Iel. Dan Via tidak ingin
membuat Iel kecewa.
“Kak Iel bilang apa?” Tanya Via
beberapa saat setelah ia menghentikan tawanya.
Sekali lagi Iel menghela napas
panjangnya. Sudah kepalang basah, jika tidak menyelesaikan semuanya sampai
tuntas, maka sia-sia sudah keberanian yang ia tumpuk selama beberapa hari
terakhir ini.
“oke, ini mungkin mendadak.
Suasananya sama sekali gak romantis, tanpa bunga, tanpa cokelat, tanpa alunan
music, tanpa teddy bear, tapi gue gak mau nunggu lebih lama lagi, gue gak mau
nyimpen perasaan ini lebih lama lagi. Dan gue mau lo tau kalo gue –“ jeda untuk
beberapa saat, Iel meraih kedua tangan Via lalu menggenggamnya lembut. Kedua
mata elangnya menatap tepat pada kedua manik mata Via dengan penuh kesungguhan.
“Gue mau lo tau, kalo gue sayang sama lo…” lanjut Iel tanpa sedikitpun
melepaskan tatapannya dari kedua mata Via.
Via yang kaget dan merasa tidak siap
dengan pengakuan yang kelewat jujur itu, tanpa sadar menarik kedua tangannya
dari genggaman Iel. Via benar-benar dibuat blank,
ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Otaknya seakan tidak bekerja. Kenapa
harus mendadak begini?
“sejak pertama kali ketemu lo, gue
udah jatuh cinta sama lo. Dulu, gue pernah janji sama lo akan ngajak lo pergi
ke Paris suatu saat nanti, dan gue mau lo tau, kalo janji gue itu sungguhan.
Gue bener-bener sayang sama lo, Via…”
“Kak… gu… gue –“
Iel tersenyum maklum saat melihat
Via tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun kembali meraih kedua tangan Via dan
menggenggamnya erat.
“gue gak akan paksa lo buat jawab
sekarang, gue akan kasih lo waktu buat berpikir selama ujian berlangsung. Dan
apapun jawaban lo, gue akan terima dengan lapang dada, dan ini –“ Iel
mengeluarkan sebuah tiket pesawat dari dalam tas nya dan mengulurkannya untuk
Via,
“Ini tiket pesawat menuju Paris. 2
minggu lagi, tepat dihari sabtu, gue tunggu lo dibandara. Kalo lo nerima gue,
lo bisa dateng ke bandara jam 4 sore, dan kita berdua akan liburan ke Paris,
tapi kalo lo gak nerima gue, lo boleh gak dateng ke Bandara, dan setelah itu
semuanya akan kembali normal seperti saat gue belum nyatain perasaan ke elo.
Dan apapun keputusan lo, semuanya ada ditangan lo…”
Iel menyerahkan tiket pesawat itu
ditangan Via yang masih belum bisa berkata apa-apa. Iel tersenyum tenang. Sesaat sebelum ia
pergi, ia sempat mencium puncak kepala Via dan mengusapnya lembut.
“gue akan tunggu”
Iel akhirnya melangkah pergi
meninggalkan Via dibelakang tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Seumur
hidupnya, ia tidak pernah merasa selega seperti sekarang ini.
‘gimana
bisa gue nerima lo sementara hati gue Cuma buat…. Alvin…’ bathin Via yang
merasa perasaannya benar-benar berkecamuk kali ini. Ia menatap hampa tiket pemberian
Iel dengan sedikit sesak yang melandanya.
Lalu jawaban apa yang harus ia
berikan nanti?
To Be Continued…

