Sebelumnya…
Baru
saja Alvin keluar dari dalam mobil dan hendak melangkah pergi, perkataan Metta
justru mengehentikan langkahnya, “Mama gak tau dugaan Angel keliru atau justru
sebaliknya, tapi apapun bentuk hubungan yang sedang kamu jalani dengan Via
sekarang, tolong kamu hentikan! Mama gak mau kamu menjalin hubungan selain
hubungan sebagai seorang saudara dengan Via. Mengerti?”
***
Setelah memantapkan hatinya, Alvin
lalu bangkit dan melepaskan tangan Via begitu saja. ia berdiri tegak dihadapan
gadis itu dan berusaha terlihat tegar meskipun hatinya tidak melakukan hal yang
sama. Alvin menatap tajam pada kedua mata jernih itu. Pandangan matanya yang
beberapa saat lalu terlihat lembut dan penuh kasih kini berubah menjadi dingin.
“kita berhenti saja sampai disini!”
Hening. Dunia seakan berhenti
berputar, detak waktu terasa membeku dan dengan telak memukul dada Via, tanpa
ampun.
“A—Alvin? Ma—maksud lo apa?”
“kita selesai! Anggap saja ini akhir
dari cerita kita. Dan lo harus belajar satu hal… bahwa gak semua cerita
berakhir happy ending”
Sebelum perasaannya semakin hancur,
Alvin memilih untuk segera pergi dari hadapan Via tanpa menoleh sedikitpun.
Sementara Via, ia hanya membisu ditempatnya dengan airmata yang perlahan
menetes keluar, membasahi wajahnya. Lidahnya seolah kelu, dan kedua kakinya
seperti mati rasa. Ia yang tadinya ingin menyerukan nama Alvin dan mengejarnya
justru merasa sangat tidak berdaya sekarang.
Alvin telah membangunkannya secara
paksa dari mimpi indahnya. Dan sejak awal, Alvin seharusnya tidak memberikannya
mimpi indah jika harus berakhir mengenaskan seperti ini.
“lo emang luar biasa Calvin
Nicholas, luar biasa nyakitin gue!”
=_oo_=
Desember,
2013…
“pergi ke Lombok, dan adopsi Gissel sebagai
anak mu, maka akan aku berikan semua yang kalian butuhkan” Ucap Danar Ganendra
dengan nada suaranya yang selalu terdengar tenang namun sarat akan makna
tersembunyi disetiap katanya.
Selama bertahun-tahun lamanya, Metta
dan Adryan berusaha mati-matian menyembunyikan keberadaan Sylvia dan Gissel
dari Danar Ganendra, tapi apa yang mereka jaga dengan segenap usaha mereka
justru berakhir sia-sia. Gerak Danar Ganendra lebih cepat dari apa yang mereka
duga.
Metta terdiam seraya menunduk.
Posisinya sekarang benar-benar terjepit. Disatu sisi ia harus menjaga janjinya
pada Sylvia untuk menjauhkan Gissel dari jangkauan Kakeknya apapun yang
terjadi, tapi disisi lain, ada nyawa perusahaan Ayah serta suaminya yang harus
ia selamatkan dengan cara apapun. Dan cara yang Danar Ganendra tawarkan
sekarang, adalah cara terbaik satu-satunya yang ia bisa ia lakukan.
“saya tidak bisa melakukan itu, Pak”
jawab Metta pada akhirnya. Ia terdengar ragu dan… takut.
Danar Ganendra berbalik dan menatap
Metta yang masih menunduk dalam. Sejak awal ia sudah tahu, bagaimana pun
kesetiaan Metta pada Sylvia pasti akan runtuh juga dengan cara yang ia lakukan
sekarang.
“Sylvia adalah sahabatmu, dan saya
memintamu untuk mengadopsi anak dari sahabatmu, lalu apa yang salah? Apa
permintaan saya terlalu berlebihan? Toh pada akhirnya… kamu akan mendapatkan
balasan dari apa yang kamu lakukan untuk saya, baik dimasa sekarang, hingga
dimasa depan”
“tapi saya sudah berjanji pada
Sylvia untuk menjauhkan Gissel dari jangakuan anda, saya tidak bisa melanggar
janji itu begitu saja”
“jangan konyol! sejak lama saya
sudah tahu keberadaan mereka, tapi kamu llihat sendiri, kan? saya tidak pernah
sekalipun mengusik kehidupan mereka, tapi sekarang… saya hanya ingin menuntut
hak saya sebagai seorang Kakek. Perusahaan Ayahmu sedang dalam keadaan krisis,
Metta. Jadi berhentilah bertingkah seperti ini dan selamatkan apa yang bisa
kamu selamatkan”
“tapi Adryan tidak akan membiarkan
kita begitu saja. Biar bagaimanapun, Sylvia adalah salah satu orang yang
berpengaruh dalam perjalanan bisnisnya. Saya mungkin bisa goyah, tapi tidak
dengan Adryan”
Danar Ganendra mengangguk paham.
Seketika, seulas senyuman licik terlukis diwajahnya. “saya akan membantumu
membuat surat wasiat palsu, dengan begitu Adryan tidak akan bisa melakukan
apapun”
“tapi—“
“pikirkan lagi, Sylvia! Kamu punya
waktu 2 hari sebelum perusahaan Ayahmu benar-benar bangkrut. Dalam 2 hari, jika
kamu sudah punya keputusan, kembalilah. Maka saya sudah siap dengan suar wasiat
Sylvia”
Metta kembali menunduk dan berpikir. Apa ini
saatnya ia melanggar semua janji-janjinya pada Sylvia?
♣♣♣
Via
menatap resah kearah lantai dua, berharap Alvin akan segera turun dan bergabung
untuk sarapan bersama mereka berempat. Saking terlalu sibuknya memikirkan Alvin
juga kejadian semalam, malah membuat Via tidak bernafsu makan. Semua makanan
yang tersaji dimeja makan terlihat tidak menarik baginya. Selera makannya telah
hilang sejak semalam, sejak Alvin mengakhiri hubungan mereka tanpa memberikan
penjelasan apapun.
Adryan
serta-merta melepaskan sendok beserta garpunya saat ia melihat bahwa ada
yang ganjil dengan sikap yang Via tunjukan
sejak ia bergabung dimeja makan, pun begitu dengan Metta dan Angel. Meskipun
Metta bisa memperkirakan dan membaca situasi apa yang sekarang sedang terjadi
dihadapannya ini, ia lebih memilih bungkam dalam kepura-puraannya.
“Via,
kenapa makanannya tidak dimakan?”
Via
terkesiap. Ia segera melemparkan tatapannya kearah Adryan, dengan gelagapan ia
menjawab, “ng—nggak apa-apa, Pa… ini Via udah mau makan kok?”
“kamu
lagi ada masalah? ayo cerita sama Papa…” pinta Adryan yang seakan bisa
menangkap keganjilan yang semakin jelas terlihat dari raut wajah Via. Sebelum
menjawab, Via menatap kearah Metta yang buru-buru mengalihkan tatapannya saat
Via menangkap basah dirinya yang sedang menatap Via. Via lalu menggeleng seraya
menjawab…
“gak
ada masalah apa-apa kok, Pa. Via baik-baik aja…” Via berusaha terlihat
baik-baik saja, meskipun hati serta perasaannya jauh dari keadaan baik-baik
saja. Adryan tersenyum lega saat itu juga.
“bagaimana
ujianmu? Kamu bisa menyelesaikannya dengan baik, kan?”
“te—tentu,
Pa…”
“bagus!
Sekarang kamu udah kelas duabelas. Papa harap kamu bisa belajar dengan baik
sehingga bisa mendapatkan nilai terbaik diujian akhir nanti. Setelah kamu lulus
dengan nilai terbaik, kamu berhak milih universitas manapun yang kamu mau. Papa
akan ngasih dukungan penuh buat kamu, Nak…”
“terimakasih,
Pa…” jawab Via seraya menyunggingkan seulas senyuman kecil.
Metta
menghela napas beberapa saat kemudian
mulai membuka pembicaraan.
“Via…”
panggilnya dengan tegas dan lugas.
“iya,
Ma?”
“Mama
harap kamu bisa focus dengan sekolahmu! Untuk saat ini, tolong jangan
memikirkan hal lain selain belajar. Setidaknya jangan kecewakan mendiang Mama
mu”
Ada
yang aneh dari nada bicara Metta. Ia tidak terdengar seperti menasehati, entah
kenapa Via merasa bahwa ucapan Metta itu lebih mendekati kearah sebuah
peringatan agar ia menjauhi sesuatu. Tapi Via tidak ingin memikirkan hal yang
tidak-tidak untuk sekarang ini. Kedua orangtua angkatnya ini sudah sangat baik
selama ini, mereka tidak hanya memberikan Via sebuah kehidupan yang layak, tapi
juga cinta kasih serta kehangatan dalam sebuah keluarga yang tidak pernah ia
dapatkan sejak Mama nya mengembuskan napas terakhirnya.
Via
yakin dan percaya, bahwa apapun yang kedua orangtua angkatnya lakukan, adalah
semata-mata demi kebaikannya sendiri. Dan Via tidak ingin jadi seorang anak
yang tidak tahu terimakasih. Via berjanji pada dirinya sendiri, apapun akan ia
lakukan untuk membalas semua apa yang telah mereka berikan sekarang, tidak
peduli bagaimanapun caranya, Via akan membalasnya suatu saat nanti.
Dering
panggilan masuk dari ponsel Metta memecah keheningan yang terjadi dimeja makan.
Metta meraih ponselnya dan mendapati nama “Danar Ganendra” tertera pada layar
ponselnya. Adryan sedikit terkejut, ia tidak menyangka, bahwa isterinya
ternyata masih memiliki relasi dengan Danar Ganendra.
“Danar
Ganendra? Kenapa beliau tiba-tiba menelepon?” tanya Adryan dengan curiga.
Metta
berusaha bersikap serileks mungkin agar
suaminya tidak curiga. “entahlah, Pa. ini kali pertamanya beliau menghubungi
Mama…”
“apa
benar begitu?” tanya Adryan yang masih merasa ragu dengan jawaban yang
dilemparkan oleh Metta.
“tentu
saja, Pa….”
♫♫♫
“Brengsek
tengik!! Setelah mutusin gue secara sepihak dan tanpa alasan, sekarang lo
coba-coba buat ngehindarin gue? Hah?” gerutu Via saat dirinya sedang berdiri di
halte bus. Tadi setelah sarapan, Via sengaja menunggu Alvin dihalaman rumah, ia
bahkan menolak ajakan Adryan yang ingin mengantarkannya kesekolah hanya untuk
menunggu Alvin dan berbicara dengannya. Tapi apa yang Via lakukan justru
sia-sia, karna hingga jauh waktu, Alvin tidak juga manampakan diri. Pintu serta
jendela kamarnya bahkan tertutup rapat-rapat. Hal itu seolah mengisyaratkan,
bahwa ia benar-benar niat menghindari Via.
Setelah
sekitar 5 menit berdiri di halte, dari kejauhan Via melihat sosok Alvin yang
dengan gagah menunggangi ninja merahnya. Sepasang mata mereka bertubrukan satu
sama lain. Tapi saat Via menatap Alvin dengan penuh harap, Alvin justru hanya
menatapnya dengan datar. Hati Via semakin terasa sakit. Dadanya pun kembali
sesak saat ternyata Alvin melewatinya begitu saja dan bersikap bahwa
seolah-olah Via tidak terlihat. Via marah, kesal, jengkel, sakit hati, tapi
juga penasaran. Segala bentuk rasa kini menggerayangi hati kecilnya tanpa
henti. kenapa Alvin mendadak bersikap
begini? Apa yang salah dengan dirinya?
Sementara
tanpa Via ketahui, Alvin terus saja memperhatikan sosok Via dari kaca spionnya
sampai akhirnya ia menghilang dari jangkauan pandang Via. Alvin tiba-tiba saja
menepi dan menghentikan laju motornya. Cukup lama berpikir, apakah ia harus
kembali atau melanjutkan perjalanananya. Karna tidak bisa menemukan jawaban
yang pasti, Alvin menggeram marah lalu menghempaskan kedua tangannya sekuat
mungkin. Tidak lama, Alvin teringat akan sesuatu. Dengan berat hati, Alvin
mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang pada contact list-nya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Alvin segera
menghubungi nomer itu.
“hallo,
Kka? Lo dimana sekarang?”
♫♫♫
“Hay!”
tegur Shilla ketika Rio dan Ify melewatinya tanpa menyadari keberadaan gadis
itu yang tengah menunggu mereka didepan koridor. Menyadari bahwa Shilla menyapa
mereka, Rio dan Ify langsung saja melepaskan gandengan tangan mereka. Itu
mereka lakukan hanya semata-mata demi menjaga perasaan Shilla.
Shilla
tersenyum kecil, ia mengangguk paham lalu mendekat kearah Rio dan Ify. Untuk
beberapa saat Shilla terdiam. Perkataan-perkataan Gabriel tempo hari menyapa
otaknya. Jikapun sekarang Shilla ada disini dan memberanikan diri menyapa Rio dan
Ify, itu semua karna Gabriel. Gabriel yang telah menyadarkannya bahwa tidak
seharusnya ia bersikap egois seperti ini. Shilla mungkin ingin Rio memikirkan
perasaannya, tapi sebelum itu, bukankah Shilla juga harus memikirkan perasaan
Gabriel?
Shilla
menghela napas panjang, meskipun jantungnya terasa nyeri, toh pada akhirnya ia
meraih kedua tangan Rio dan Ify lalu menyatukannya dengan besar hati. Senyum
diwajah cantiknya kian melebar. “begini lebih baik. Mulai sekarang, kalian gak
perlu maen petak umpet lagi…” ujarnya dengan tulus.
Tentu
saja Rio dan Ify terheran-heran mendengarkan perkataan Shilla barusan. Dan saat
Ify berusaha melepaskan tangannya, Shilla justru menahannya. “gue minta maaf
karna selama ini gue egois, gue minta maaf karna selama ini gue Cuma mikirin
perasaan gue aja. Sekarang… gue udah rela kalian pacaran. Dan tolong… jangan
bersikap gak enak lagi sama gue, karna jujur aja… itu semua ngebuat gue ngerasa
jahat banget sama kalian…”
“Shill…”
lirih Ify dengan mata berkaca. Shilla hanya terkekeh kemudian berkata,
“jangan
putus yaaa? Kalo lo sampe putus sama Rio, gue pastiin gue gak akan ngelepasin
Rio buat lo lagi, hahaha…” Shilla tertawa miris pada akhir kalimatnya. Ify pun
lebih mendekat kearah Shilla dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
“maafin
gue, Shill…”
“kenapa
jadi minta maaf sih, kan gue yang salah…” ujar Shilla dengan nada bergetar.
Tapi toh tetap saja ia memaksakan diri untuk tertawa. Rio tersenyum lega, ia
merasa sangat terkesan dengan apa yang Shilla lakukan sekarang. Rio lalu
mengangkat salah satu tangannya dan mengusap puncak kepala Shilla yang masih
berada dalam pelukan Ify.
“bodoh!”
rutuknya dengan gemas.
♫♫♫
Via
terus-terusan merutuki Alvin saat tiba-tiba saja sebuah jaguar hitam milik
seseorang berhenti tepat disampingnya. Kaca jendela dari jok belakang terbuka
secara perlahan dan memperlihatkan sosok Cakka yang menatap lurus kedepan.
Tidak seperti biasanya, hari ini Cakka diantar oleh supir keluarganya. Via
menatap heran kearah Cakka yang bahkan tidak sedikitpun memandangnya.
“Cakka?
Lo ngapain disini?”
“masuk
gih! Walaupun hari ini ada jadwal Class Meeting, tapi pak Satpam bakalan
tetep nutup pintu gerbang kalo lo nyampe sekolah diatas jam delapan” Cakka
masih menatap lurus kedepan. Entah kenapa, ia masih saja belum bisa melupakan
apa yang terjadi antara Alvin dan Via tempo hari dilapangan sekolah. Cakka
mendesah pelan saat memori itu kembali hinggap dikepalanya. Walaupun ia merasa
begitu marah hingga nyaris gila, tetap saja ia tidak bisa membenci dan melupakan
perasaannya pada gadis ini begitu saja, seperti apa yang ia inginkan.
“gu—gue
bisa berangkat sendiri” jawab Via yang terdengar sedikit gelagapan. Ia
menggaruk tengkuknya karna tidak tahu harus bagaimana sekarang. Sekali lagi,
Cakka menghela napas kuat-kuat dan
membuangnya dengan keras. Ia lantas menatap tajam tepat pada kedua manik
mata Via yang kini tampak kaget.
“sekali
aja bisa kan lo gak nolak permintaan gue? Lo tahu….? Itu nyakitin buat gue…”
jawaban Cakka terdengar begitu jujur dan
apa adanya. Sebelumnya ia bahkan tidak berpikirr bahwa ia akan melemparkan
jawaban sejujur itu pada gadis ini, gadis yang sejak pertama berhasil mencuri
hatinya.
Cakka
tampak berpikir sebelum akhirnya ia keluar dari dalam mobilnya dan menarik
paksa Via untuk masuk. Cakka menghempaskan tubuh Via begitu saja dikursi
penumpang lalu duduk disebelahnya seolah-olah tidak terjadi apapun. Via menatap
Cakka dengan jengkel. “Lo apa-apaan sih, Kka?!” hardiknya dengan keras, tapi
Cakka justru tidak menggubrisnya.
“jalan,
Pak!” titahnya pada sang supir kemudian.
Jaguar
hitam itupun mulai berjalan perlahan dan membelah jalanan ibu kota dalam
keheningan.
“Alvin
yang minta lo buat ngelakuin semua ini?” tanya Via tiba-tiba dan memecah
keheningan didalam perjalanan itu. Cakka mengangguk seraya menggumam pelan. Via
pun tersenyum mencibir, ia melipat kedua tangannya didada lalu membuang
wajahnya kearah jendela.
“hh…
sudah gue duga. Dasar pecundang!”
Cakka
kembali menatap Via. Kali ini pandangan matanya terlihat begitu terluka. Dengan
pelan Cakka berujar, “kenapa lo harus semarah ini? Apa lo… sebegitu sayangnya
sama Alvin? Hm?”
Via
serta-merta menoleh kearah Cakka. Ia kaget saat mendengarkan pertanyaan yang
Cakka lemparkan. Kenapa pertanyaan Cakka begitu tepat sasaran? Apa mungkin
Cakka tahu sesuatu tentang hubungan rahasia yang ia jalin dengan Alvin? Tapi
darimana Cakka mengetahuinya? Itulah beberapa rentetan pertanyaan yang
menyerang otak Via secara bertubi-tubi. “elo… elo nanya apaan sih?! Gue gak
ngerti!” Via berusaha menyangkal sebisanya. Tapi toh usahanya sia-sia saja,
karna Cakka telah mengetahui segalanya.
“elo
gak perlu nyembunyiin apapun dari gue. Gue udah tahu dan liat sendiri semuanya.
Jadi… gak ada yang perlu lo sangkal”
“Cakka—“
“kenapa
harus Alvin? Kenapa orang yang lo sayang harus Alvin dan bukan gue?”
“Kka,
dengerin gue—“
“mulai
sekarang, apa gak bisa gue aja jadi cowok yang paling lo sayang? Cuma gue,
bukan Alvin atau yang lainnya! Atau kalo lo gak bisa maksain hati lo buat bisa
sayang sama gue, apa bisa lo pergi dari kehidupan Alvin?”
Kacau!
Perkataan Cakka semakin kacau dan membuat Via bingung sebingung-bingungnya. Via
bahkan tidak mengerti, apa alasan Cakka mengatakan hal gila ini padanya?
“gue
bener-bener gak ngerti dengan cara berpikir lo, Kka. Gue bahkan gak bisa
mencerna apapun yang barusan lo bilang”
“tapi
lo harus dengerin perkataan gue!”
“kenapa
gue harus dengerin perkataan lo yang gak masuk akal itu? Dan kenapa gue harus
pergi dari kehidupan Alvin? Hah?”
Kali
ini Cakka terdiam. Ia tidak mungkin menjelaskan pada Via kenyataan yang saat
ini ia ketahui. Kenyataan bahwa Cakka mengetahui kalau Via adalah cucu
perempuan dari Danar Ganendra, kenyataan bahwa orangtua Alvin telah memalsukan
surat wasiat mendiang Mamanya. Sekedar untuk membayangkan hal apa yang akan
terjadi jika Via mengetahui kenyataan yang sesungguhnya saja, sudah membuat
Cakka merasa ngeri. Cakka bahkan takut membayangkan bagaimana hancurnya Via
saat nanti semua kenyataan itu pada akhirnya terkuak. Tapi yang pasti, sekarang
ataupun nanti, Cakka tidak akan pernah membiarkan Via hancur!
Melihat
Cakka yang hanya bisa diam, Via malah semakin kesal. “seenggaknya gue butuh
alesan, Kka!” tuntutnya sekali lagi.
“perasaan
gue ke elo… apakah hal itu gak bisa menjadi pertimbangan lo buat pergi dari
kehidupan Alvin?”
Via
menggeleng pelan. “gue butuh alesan yang lebih kuat!”
Cakka
terdiam sesaat. Tidak lama ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap kedua
bola mata Via dengan penuh kesungguhan.
“elo
harus pergi dari kehidupan Alvin. Atau kalo lo lebih memilih bertahan, sebagai
gantinya lo akan terluka. Bukan hanya luka, tapi juga… hancur
sehancur-hancurnya bahkan hingga remuk sampai gak berbentuk lagi…”
“ma—maksud
lo?”
♫♫♫
Sebagai
pembukaan Class Meeting semester ini,
SMA Patuh Karya mengadakan sebuah acara pensi yang memang rutin dilakukan
setiap pergantian semester. Beberapa siswa dari semua ekskul, khususnya ekskul
teater dan music turut ambil bagian untuk mengisi acara pensi. Tidak terkecuali
Alvin, ia yang memang tergabung dalam ekskul music dan sempat menjabat sebagai
ketua sebelum ia melakukan Student
Exchanges di New York juga terlihat sebagai pengisi acara. Sejam sebelum
acara dimulai, Alvin terlihat sibuk berlatih bersama beberapa rekannya diruang
music.
Ditengah
proses latihan, Via tiba-tiba saja muncul sambil membawa sebotol air mineral
yang rencananya ingin ia berikan pada Alvin. Via berjanji, ia tidak akan
menyerah sebelum Alvin memberikannya alasan. Alasan kenapa Alvin tiba-tiba
memutuskan hubungan mereka. Via tidak berniat untuk mundur selangkahpun, dan ia
akan terus mengikuti Alvin sampai Alvin buka suara.
Via
mendekati Alvin yang tampak tak acuh. Dengan berani ia duduk disisi Alvin yang
tengah sibuk dengan gitarnya. “minum dulu gih! Lo pasti capek daritadi latihan
terus” tegurnya kemudian.
“taro
aja disitu! Gue belom haus” jawab Alvin sekenanya tanpa sedikitpun menatap
lawan bicaranya.
“gue
temenin boleh?” tanya Via penuh harap. Meskipun terkesan cuek dan enggan,
setidaknya Alvin menjawab pertanyaannya. Dan hal itu meskipun hanya sebuah
jawaban singkat, sudah cukup membuat hatinya berbunga.
“mending
lo pergi deh! Gue lagi gak mau diganggu” ucap Alvin dingin. Tapi Via tetap
tidak ingin menyerah.
“gue
janji gak akan ngomong apapun! Gue Cuma akan duduk dan diem. Janji!” ucap Via
yakin sambil menunjukan kedua jarinya yang membentuk huruf ‘V’. Kali ini Alvin
mengangkat wajahnya dan menatap Via dengan pandangan sangat terganggu.
Via tersenyum lebar,
kontan saja senyum yang Via tunjukan malah membuat perasaan Alvin semakin
tercabik. Biar bagaimanapun, ia telah melukai hati gadis ini, tapi kenapa Via
masih bisa menunjukan senyumannya dihadapan Alvin? Bukankah seharusnya gadis
ini marah dan memaki Alvin atas apa yang sudah ia lakukan. Sial! Alvin akan
merasa lebih baik lagi jika gadis ini menunjukan kemarahannya.
Alvin
menghela napas panjang, ia lalu bangkit dari sisi Via seraya meraih botol
minuman yang tadi Via bawakan. Tanpa mengatakan apapun, Alvin lantas pergi
begitu saja. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Alvin menghampiri Zevana dan
memberikan minuman itu untuknya.
“ini
buat lo!” ucap Alvin dingin lantas berlalu dari hadapan Zevana.
Sementara
Zevana hanya termangu melihat sikap Alvin yang mendadak baik. Baru setelah
Alvin pergi, Zevana menyadari segalanya. Ia meloncat kegirangan seraya tertawa
keras. Selama ia menyukai Alvin, ini kali pertamanya ia merasa sebahagia ini.
“AAAA…. THANK YOU, ALV!!”
Via
yang melihat adegan menyebalkan itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan
emosi tak terbendung lagi. Dan melihat Zevana yang begitu senang atas perlakuan
Alvin, ingin sekali rasanya Via menendang gadis itu dari muka bumi ini.
Dengan
perasaan yang tak terjelaskan, Via keluar dari ruang music dengan langkah
cepat. Baru setelah itu, Alvin meratapi kepergian Via yang semakin lama semakin
menghilang dari jangkauan pandangannya. Dalam hati, Alvin terus merafalkan kata
maaf berkali-kali. Untuk saat ini, itu adalah hal terbaik satu-satunya yang
bisa Alvin lakukan.
Saat
Via sudah tidak terlihat lagi, Alvin kembali menghampiri Zevana yang sedang
memamerkan minuman pemberian Alvin pada teman-temannya. Alvin merebut minuman
itu dan dengan dingin berkata, “balikin punya gue!”
Alvin
berbalik pergi tanpa menoleh sedikitpun. Zevana yang tadinya merasa sangat
senang sekarang malah dibuat heran oleh perubahan sikap Alvin yang menurutnya
sangat aneh.
“Alvin
kenapa sih?”
♫♫♫
Sudah
hampir setengah jam setelah Shilla mengirimkan kan pesan singkat untuk Gabriel,
tapi hingga setengah jam berlalu, Gabriel tidak juga menampakan dirinya.
Meskipun tidak mendapatkan balasan dari Gabriel, Shilla tetap menunggunya
dengan setia diatas atap gedung sekolah. Hari ini, Shilla ingin menyamapaikan
ucapan terima kasih serta permintaan maafnya pada Gabriel atas apa yang ia katakan
pada pria itu tempo hari. Setelah berpikir selama semalaman suntuk, akhirnya
Shilla tiba pada sebuah keputusan, yang mungkin nanti akan membuat dadanya
sesak hingga susah bernafas.
Shilla
tidak tahu apa yang akan terjadi nanti pada hatinya, tapi untuk sekarang Shilla
tahu pasti, bahwa keputusannya untuk merelakan Rio adalah keputusan terbaik
yang bisa ia ambil sekarang.
Empat
puluh menit berlalu, tapi Gabriel belum juga membalas pesannya. Shilla menghela
napas panjang. Apa Gabriel masih marah padanya? Apa Gabriel enggan bertemu
dengannya? Tiba-tiba saja, berbagai macam dugaan yang menakutkan menghantui
sudut pikirnya.
Saat
pikirannya semakin kacau, ponsel nya tiba-tiba saja bergetar. Secara otomatis
Shilla membuka pesannya dan membacanya.
=====================
From:
Gabriel Fabian
Aku
sekarang lagi di Lombok.
Besok
pagi baru balik.
Tolong
jangan kasih tau siapa2
Tentang
ini. Besok kita akan bicara.
=====================
Gabriel
di Lombok? Untuk apa Gabriel ke Lombok?
♫♫♫
Mataram,
Lombok…
Gabriel
duduk bersimpuh disalah satu makam dengan kepala tertunduk sedih. Sejak pertama
kali ia menginjakan kaki di pemakaman ini, rasa perih seakan merobek
jantungnya. Sesuatu seakan menghimpit dadanya dan membuat pernapasannya sesak.
Bahkan untuk sekedar menangis saja, Gabriel sama sekali tidak memiliki tenaga.
Pada
batu nisan itu tertulis nama ‘Sylvia Addara’, sosok wanita yang beberapa tahun
terakhir ini sangat ia rindukan, sosok wanita yang paling ingin ia temui. Dan
ketika ia menemukan potongan-potongan rahasia dari masa lalu nya, ketika ia
mengetahui keberadaan wanita itu, wanita yang sangat ia rindukan itu jusrtu
pergi meninggalkannya untuk selamanya, tanpa sepatah kata perpisahan, tanpa
mengijinkan Gabriel memeluknya untuk yang terakhir kalinya, tanpa membiarkan
Gabriel melampiaskan rasa rindu yang ia pendam selama bertahun-tahun lamanya.
Jika
bisa, Gabriel rasanya ingin berteriak detik ini juga dan mengatakan bahwa semua
ini sama sekali tidak adil baginya. Tuhan menghukumnya terlalu kejam, dan
Gabriel tidak bisa melewati semua ini sendirian. Ia butuh pegangan, ia butuh
sandaran.
“Mom
–“ lirih Gabriel tertahan. Dadanya kian sesak. Dan kuota udara yang ada
disekitarnya seolah menipis tanpa peringatan, membuatnya semakin sulit
bernapas.
“Mom
–“ ulangnya sekali lagi. Airmata itu akhirnya lolos begitu saja. Gabriel
memeluk erat batu nisan itu sambil terus merafalkan kata ‘Mama’ berkali-kali.
Hingga jauh waktu, hanya satu kata itu yang mampu ia suarakan.
“Maafin
Iel, Mom…. Maaf karna Iel datang terlambat… Mommy sama Gissel pasti sangat
menderita. Maaf, karna Iel gak bisa ngerasain penderitaan yang sama seperti apa
yang kalian rasain… Maafin Iel, Mom…. Maafin Iel….” Ucapnya terisak sambil
menekan dadanya kuat-kuat.
“Mom
–“ Gabriel kembali bersuara dengan sendu.
♫♫♫
“Gabriel
kemana?” tanya Cakka saat ia baru saja tiba di aula sekolah dan ikut bergabung
bersama Alvin dan Rio. Alvin dan Rio saling menatap untuk beberapa saat lalu
beralih menatap Cakka.
“dari
tadi gue coba hubungin, tapi gak ada jawaban” jawab Alvin sekenanya lalu
kembali focus dengan gitarnya.
“belakangan
ini Gabriel rada aneh. Jujur aja, gue mulai cemas” kata Rio pada kedua
kawannya. Alvin yang tampak tidak acuh berusaha mendengar tanpa melemparkan
komentar apapun. Ia hanya menyimak seraya berpura-pura sibuk dengan gitarnya.
“aneh
gimana?” tanya Cakka penasaran. Ia mengubah posisi duduknya hingga berhadapan
dengan Rio.
“ya
aneh aja. Dia mendadak jadi pendiem dan suka menyendiri, gue bahkan pernah
secara gak sengaja ngeliat Gabriel
nangis di atap” terang Rio sambil mengingat semua keganjilan yang ia lihat dari
sosok Gabriel.
“elo
serius?” tanya Cakka berusaha memastikan. Sementara Alvin yang sejak tadi berpura-pura sibuk, bangkit dari tempatnya
dan berkata,
“gue
harus siep-siep buat penampilan ntar. Gue duluan” pamitnya pada Rio dan Cakka.
Rio dan Cakka menatap kepergian Alvin dengan bingung. Kenapa Alvin seperti
enggan memberikan komentar? Bukankah selama ini Alvin lah yang paling peduli
pada sahabat-sahabatnya? Tapi sekarang? Alvin bersikap seolah-olah ia tidak
ingin peduli. Apa yang salah?
♫♫♫
Acara
Pensi sekaligus pembukaan Class Meeting
untuk dua minggu kedepan dimulai. Rio selaku wakil ketua Osis SMA Patuh Karya
menyampaikan beberapa kata pembukaan untuk menggantikan Alvin. Alvin sendiri
adalah ketua osis, tapi karna ia menjadi pengisi acara di pembukaan, jadi
dengan terpaksa Rio menggantikannya untuk menyampaikan pidato, selepas itu
Kepala Sekolah SMA Patuh Karya pun secara resmi membuka acara Pensi sekaligus Class Meeting, diakhir pidatonya Pak
kepala sekolah menyampaikan agar siswa-siswi menikmati rangkaian acara Class Meeting untuk dua minggu kedepan
sebelum pembagian rapor. Mereka juga diharapkan mampu melepaskan segela
ketegangan serta kepenatan yang membelit mereka selama pelaksanaan Ujian
Kenaikan Kelas.
Seluruh
siswa-siswi SMA Patuh Karya yang memenuhi lapangan memberikan tepuk tangan yang
sangat meriah saat Pak kepala sekolah mengakhiri pidatonya. Beberapa saat
kemudian, Agni dan Lintar yang bertindak sebagai MC menaiki panggung dan mulai
menyapa teman-teman mereka dengan ceria.
“Okelah
teman-teman semua… mungkin kalian semua udah pada gak sabar untuk melihat
penampilan dari salah satu cowok paling kece dan pinter satu sekolah, udah tau
dong siapa diaaaaa???” teriak Agni dengan penuh semangat seraya mencondongkan
mic kearah para penonton.
“ALVIIIIIINNNN!!!”
Teriak siswa-siswi SMA Patuh Karya tidak kalah semangatnya dari Agni.
Agni
dan Lintar saling menatap seraya melempar satu sama lain sebelum Lintar
melanjutkan, “Oke semua… kali ini Kak Alvin gak akan tampil sendiri, Kak Alvin
bakalan diiringin sama Kak Ify dan Vocal
Choir SMA Patuh Karya!”
Semuanya
semakin heboh dan riuh. “Mari kita sambut dengan meriah… Alvin feat Ify dan SMA
Patuh Karya Choir!” tutup Agni lalu turun dari atas panggung bersama Lintar.
Beberapa
saat kemudian, Alvin dan Ify bersama Vocal
Choir SMA Patuh Karya menaiki panggung dan mengambil posisi masing-masing.
Ify duduk dihadapan sebuah grand piano, sementara Alvin duduk dengan manis
disebuah bangku sambil memangku gitar kesayangannya. Delapan anggota vocal choir berbaris dengan rapi
dibelakang Alvin dan Ify.
Via
yang berdiri ditempat penonton bersama Shilla dan beberapa kawannya yang lain
terus memperhatikan Alvin tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya. Saat
semuanya meneriakan nama Alvin, Via justru hanya diam dan tenggelam dalam
pesona Alvin yang memukau. Entah sengaja atau tidak, Via memergoki Alvin yang
menatapnya sekilas sebelum menyampaikan prolog nya sebelum bernyanyi.
“Lagu
ini… gue nyanyikan khusus buat seseorang yang pernah sempat tinggal dihati gue.
Gue ngerti apa yang terjadi sekarang mungkin udah bikin dia terluka, tapi gue
harap… untuk kedepannya nanti dia akan kembali baik-baik saja…”
Via
tertunduk lesu. Kata-kata yang Alvin sampaikan entah kenapa seolah menutup
kesempatannya untuk bisa kembali lagi bersama Alvin. Cakka yang sedari tadi
berdiri dibelakang Via dan menyimak semua keadaan yang terjadi sekarang,
tiba-tiba mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak butuh waktu lama bagi Cakka
untuk bisa mengerti keadaan macam apa yang sedang terjadi sekarang ini. Cakka
tidak bodoh! Mungkin yang lain tidak bisa membaca keadaan ini, tapi Cakka bisa
melakukannya dengan sangat baik. Bagi Cakka, tidak ada yang lebih menyakitkan
lagi dari melihat gadis yang sangat ia sayangi terluka seperti ini. Andai Via
mau memberikannya kesempatan untuk menyembuhkan luka hatinya, tentu Cakka akan
melakukannya dengan senang hati.
Jari-jari
terampil milik Ify mulai menari diatas tuts-tuts piano dengan lincah. Tidak
lama, Alvin menyambut dengan permainan gitarnya dan mulai bernyanyi dari
hatinya…
“Pahamilah
semua apa yang terjadi
Saat
hati tak lagi bisa berkata
Mungkin
bahagiamu, bukan tuk diriku
Biarkan
semua ini jadi kenangan
Lupakan
semua cerita cinta
Tinggal
kan jiwaku yang terluka”
Alvin
menatap Via dengan nanar dan perasaan yang bahkan sulit ia jelaskan. Sementara
Via, ia tetap berdiri ditempatnya. Membiarkan setiap kepingan hatinya jatuh
tanpa ingin menata lagi.
“Sampai
mati kisah ini kan ku jaga
Hingga
berakhir nafas ku
Putih
cinta ku untuk mu
Sampai
mati dirimu kan dihatiku
Tiada
mungkin tuk terganti
Walau
semua telah berlalu
Atas nama cinta, kau yang ku banggakan
Inilah
hidup tak perlu disesali
Biarlah
semua tetaplah terjadi
Sebingkai
kenangan cinta yang terperih”
‘Lo boleh ngelepasin gue gitu aja, Vin. Tapi
gue bersumpah, gue gak akan pernah ngelepasin lo sampe gue dapet alesan, kenapa
lo mutusin hubungan kita tanpa penjelasan. Hal sepele dan remeh ini, gak akan
pernah bikin gue jatoh dengan mudah…’ lirih Via dalam hati.
“Lupakan
semua cerita cinta
Tinggal
kan jiwaku yang terluka
Sampai
mati kisah ini kan ku jaga
Hingga
berakhir nafas ku
Putih
cinta ku untuk mu
Sampai
mati dirimu kan dihatiku
Tiada
mungkin tuk terganti
Walau
semua telah berlalu…”
Penampilan
duet antara Alvin dan Ify kian memukau saat anggota vocal choir SMA Patuh Karya mengambil bagian pada reff pertengahan lagu itu. Semua
penonton yang tadinya heboh kini hening dan tenggelam dalam lantunan simfoni
yang luar biasa. Semuanya seakan tersihir mendengarkan kolaborasi yang apik
antara Alvin, Ify dan Vocal Choir SMA
Patuh Karya.
Cakka
yang mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan Via pun mengambil langkah
maju. Dari jarak yang sangat dekat, Cakka dapat melihat kedua pundak gadis itu
bergetar menahan tangis, dan tidak ada satupun yang menyadarinya kecuali Cakka.
Tidak semuanya, tidak juga Alvin atau siapapun.
Cakka
menghela napas dalam-dalam. Ia berpikir singkat lalu menarik pergelangan tangan
Via dan membawanya pergi dari tempat yang penuh sesak itu. Cakka tidak akan
membiarkan Alvin menyakiti Via lebih jauh lagi dari ini.
“Lo
kenapa sih, Kka? Hah?” bentak Via tanpa mendapatkan respon apapun dari Cakka
yang terus menarik pergelangan tangannya, membawanya keluar dari segala
kesakitan yang ia rasakan sekarang.
Agni
yang tanpa sengaja melihat apa yang Cakka lakukan pada Via saat ia akan menaiki
panggung serta-merta menghentikan langkahnya. Semangat nya yang sejak tadi
menggebu perlahan sirna.
Ia
bersahabat dengan Cakka selama hampir separuh hidupnya, dan selama itu pula,
Agni diam-diam menyimpan perasaan untuk Cakka, sebuah perasaan yang jauh
tersentuh oleh kepekaan hati seorang Cakka. Bagaimana ia akan tersentuh?
Bagaimana ia akan peka, jika saat ini saja Cakka sedang tersesat pada
perasaannya sendiri yang jatuh untuk Via? Bagaimana Cakka bisa mengerti dengan apa
yang Agni rasakan, jika ia saja sulit mengerti hatinya, jika ia saja tidak
mampu mengontrol perasaannya dengan baik?
Ah…
mungkin Agni berharap terlalu banyak pada seseorang yang bahkan… tidak memiliki
harapan apapun pada dirinya sendiri. Anggap saja ini bagian dari kebodohannya
dan semuanya akan selesai. Ya, semuanya akan selesai! Agni harap begitu saja
sudah cukup.
Agni
tertarik dari lamunan singkatnya saat Alvin turun dari panggung dengan setengah
berlari, tanpa sengaja Alvin menubruk pundak Agni, tapi ia sendiri justru tidak
menyadarinya.
“Vin,
lo mau kemana?! Acaranya belum selesai!” seru Agni. Tapi Alvin terlalu kacau
untuk bisa mendengarnya. Sekarang… ada hal yang lebih penting yang harus ia
kejar.
♫♫♫
Yashinta
duduk dihalaman belakang toko bunga nya dengan pandangan menerawang jauh.
Belakangan ini, banyak kejadian mengejutkan yang membuatnya tidak berhenti
berpikir dan terus berpikir tanpa henti. Rasa sesal, marah, benci dan segala
macam rasa yang mengusik sanubarinya terus menghantui setiap langkahnya.
Perkataan
dan pengakuan Metta tempo hari menjadi awal semua kekalutannya. Jika ingin
jujur pada dirinya sendiri, Yashinta merasa bahwa ia jauh lebih jahat dari
Metta. Ia tidak pernah menyangka, bahwa sikap kekanak-kanakannya dimasa lalu akan
membuatnya merasakan penyesalan yang nyaris tidak berujung seperti yang ia
rasakan detik ini.
Sekelebat
memori dari masa lalu tiba-tiba menyapa ingatannya…
Flashback
~
Bandung,
1993
“Syl… ada hal yang ingin aku katakan.”
Malam itu, Yashinta datang dan
memutuskan untuk menginap dirumah Sylvia. Keluarga Sylvia yang memang sudah
menganggap Yashinta seperti anak mereka sendiripun menerima kedatangan Yashinta
dengan tangan terbuka. Ibu Marlita bahkan sudah menyiapkan makanan kesukaan
Yashinta saat beliau tahu bahwa Yashinta akan menginap dirumahnya.
“katakanlah! Jangan memendam
semuanya sendirian. Aku sahabatmu, Shin. Jadi katakan saja apa yang ingin kamu
katakan” ucap Sylvia seraya menyentuh tangan lembut Yashinta. Melihat dari
bagaimana cara Sylvia tersenyum sekarang, siapapun tentu akan merasa tenang dan
damai, hal itu pula lah yang sekarang Yashinta rasakan.
“aku pikir… Aldy menyukai wanita
lain”
Air muka Sylvia yang sedari tadi
tampak tenang sekarang berubah keruh. Ia mendadak gugup dan sedikit gemetaran.
Rasa bersalah yang selama ini ia pendam pada Yashinta terkuak lagi ke permukaan
tanpa peringatan.
“ke—kenapa tiba-tiba kamu berpikir
seperti itu?” tanya Sylvia takut-takut. Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh
sahabatnya, Yashinta tersenyum mencibir lalu bangkit dari duduknya, ia berjalan
sedikit menjauh dan berdiri menghadap jendela.
“aku mungkin terlihat tak acuh dan
tidak peduli pada Aldy dari luar, tapi kamu atau siapapun tentu tahu bagaimana
aku sangat mencintai nya. Tapi hanya karna aku sangat mencintainya, bukan
berarti aku buta dengan perasaan Aldy. Dari matanya, dari caranya bersikap, aku
tahu bahwa aku tidak pernah ada dihatinya, dan hal itu… membuat aku sangat
terluka, Sylvia… sekarang, aku bahkan tidak tahu bagaimana seharusnya aku
menatap matanya, aku juga tidak mengerti bagaimana harus bersikap padanya.
semua yang aku lakukan seolah serba-salah, dan Aldy selalu menangkap semuanya
sebagai kebencian ku padanya…”
Ragu-ragu Sylvia bangkit dan
melangkah mendekati Yashinta. Ia seperti menahan sesuatu, tapi Yashinta tidak
menyadarinya.
“entah benar atau tidak Aldy
mencintai wanita lain, kamu jangan pernah mau mengalah Shinta. Lawan semuanya
dengan berani. Aku tidak tahu kapan, tapi suatu saat aku yakin, kamu pasti bisa
menaklukan Aldy. Kamu Yashinta sahabatku, dan tidak ada hal yang tidak bisa
dilakukan oleh seorang Yashinta. Aku percaya itu…”
“Syl—“
“berjanjilah kamu tidak akan
pernah menyerah sampai Aldy benar-benar
bisa mencintaimu sepenuhnya, berjanjilah kamu akan terus berjuang dan tidak
akan mundur barang selangkahpun, berjanjilah….”
Yashinta hanya diam dan menatap
lurus pada kedua mata Sylvia yang tampak berkaca.
“kamu berhak bahagia, Shinta. Kamu
berhak mendapatkan apapun yang kamu inginkan, karna sejak awal, kamu memang di
lahirkan untuk bahagia. Kamu hanya perlu berjuang untuk merebut kebahagiaanmu.
Dan sekarang… berjanjilah padaku”
Yashinta menatap dalam-dalam pada
kedua bola mata Sylvia. Tidak lama, ia memeluk erat sahabatnya itu lalu
mengucapkan janjinya.
“aku berjanji…”
Saat itulah, tanpa Yashinta sadari,
airmata yang sejak tadi Sylvia tahan akhirnya tumpah. Hatinya telah hancur,
lebih dari berkeping-keping.
♣♣♣
Setelah
menutup ingatan lamanya, tiba-tiba saja Yashinta mengingat sesuatu yang lain. Sesuatu
yang menurutnya sangat penting sekarang. Yashinta meraih ponselnya dan segera
menghubungi Cakka.
“hallo,
Kka? Besok, apa bisa kamu bawa Via ke toko? Bunda kangen sama Via…”
♫♫♫
Cakka
kembali memasukan ponsel nya kedalam kantong setelah Bunda nya memutuskan
sambungan terlebih dahulu. Cakka lalu melihat kearah Via yang saat ini sedang
menatapnya dengan pandangan seolah meminta sebuah pertanggung jawaban. Kenapa
cowok menyebalkan ini tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke lapangan
basket indoor.? Apa sekarang Cakka
sedang berusaha menculiknya?
“sekarang
lo udah bisa jawab, kenapa tiba-tiba lo narik gue dan bawa gue ketempat ini?”
Cakka
terdiam. Ia tidak berpikir ia akan menyampaikan apa yang ia baca di acara pensi
tadi. Semuanya terlalu terburu-buru.
“Cakka
jawab gue!” tuntut Via yang sudah tidak sabar lagi. Meskipun Via berusaha
sangat keras menutupi kesedihannya sekarang, tapi Cakka tetap bisa menangkapnya
dengan baik. Cakka sudah terlanjur mengetahui semuanya, dan ia tidak akan tinggal
diam lagi. Alvin memang sahabatnya, tapi Cakka tidak akan membiarkan Alvin
melukai gadis ini dengan alasan apapun! Toh sekarang Cakka sudah tahu
segalanya.
“Bunda…
Bunda minta lo dateng ke toko besok. Bunda kangen sama lo…”
Baru
saja Via akan membuka mulut untuk menjawab, Cakka langsung mendahuluinya.
“gue
harap lo gak nolak. Ini permintaan langsung dari Bunda. Lagian udah lama lo gak
mampir ke toko, Eyang juga nanyain lo terus…”
Via
terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “baiklah…”
♫♫♫
Via
keluar dari lapangan indoor terlebih
dahulu tanpa menunggu Cakka. Saat ini, Via butuh ketenangan, dan ia hanya ingin
sendiri saja sampai pikirannya kembali jernih. Saat tiba diluar, Via justru
berpapasan dengan Alvin yang membuat langkahnya secara otomatis terhenti,
begitu juga dengan Alvin. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum
melanjutkan langkah masing-masing. Dari apa yang dapat Via lihat, desauan napas
Alvin terdengar tidak teratur. Keringat sebesar biji jagung bercucuran
didahinya, ia terlihat kelelahan dan seperti sudah berlari jauh.
“Alvin,
lo kenapa?” saat tangan kanan Via hendak menyentuh wajahnya, Alvin buru-buru
memalingkan muka. Perasaan Via seakan mencelos, lagi-lagi Alvin mengguratkan
luka dihatinya tanpa ia tahu kesalahan apa yang telah ia lakukan. Apa semua ini
adil?
“Alvin,
sepertinya ada hal yang pengen gue omongin sama lo!” kata Cakka yang tiba-tiba
saja muncul dari belakang Via. Perhatian Alvin langsung tertuju pada Cakka yang
berjalan perlahan menghampiri posisinya dan Via sekarang. Dan saat Cakka sudah
berdiri sejajar dengan Via, ia mengalihkan pandangannya pada gadis itu, ia
tersenyum lembut dan kembali berkata, “Vi… apa lo bisa ngasih gue waktu buat
ngomong sama Alvin?”
Via
menatap Cakka heran sebelum akhirnya meninggalkan kedua laki-laki itu hanya
berdua saja. setelah Via sudah tidak terlihat lagi, senyuman yang sejak tadi
mengembang diwajah tampan Cakka tahu-tahu menghilang tanpa bekas. Tatapan
matanya tidak lagi berasahabat pada Alvin. Daripada sepasang sahabat, mereka
lebih terlihat seperti dua orang musuh yang kembali dipertemukan sekarang.
“ikut
gue ke atap!” ujarnya dingin lalu melangkah terlebih dahulu dengan diikuti oleh
Alvin dibelakangnya.
♫♫♫
“ada
apa?” tanya Alvin to the point saat
dirinya dan Cakka sudah berdiri berhadapan diatap gedung sekolah. Cakka menatap
Alvin yang tampak berusaha tenang dengan beragah-agahan. Emosi yang sejak tadi
ia tahan akhirnya lepas melalui pukulan yang cukup keras diwajah Alvin. Pukulan
yang Cakka hadiahkan itu membuat tepi bibir Alvin mengeluarkan darah.
Alvin
menyeka darah nya dengan kasar dan kembali menatap Cakka dengan tajam. Kali ini
ia tidak lagi berusaha bersikap tenang. “masalah lo apa?!” bentaknya dengan
keras.
“apa
sakit saat gue mukul lo barusan? Dan apa lo berpikir, kalo Via merasa jauh
lebih sakit lagi dari apa yang lo rasain barusan?”
“gue
gak tahu lo ngomong apaan? Dan saling baku hantam kayak gini, sama sekali bukan
cara gue dalam menyelesaikan masalah. Lo tahu? Ini childish, Cakka!” bentaknya makin keras.
“lo
gak usah pura-pura goblok! Gue tahu pasti, kalo lo tahu apa yang baru aja gue
omongin. Berhenti pura-pura terlihat bodoh, karna itu bukan Calvin Nicholas”
“apa?!”
“gue
tahu semuanya. Dan lo gak perlu nyimpen apapun dari gue sekarang”
Alvin
diam, tapi ia berusaha mencerna perkataan Cakka sebaik mungkin.
“Via…
gue tahu kalo Via bukan sepupu lo. Gue tahu, kalo orangtua lo ngangkat Via sebagai anak dari sebuah panti asuhan di
Lombok, gue tahu… kalo Via adalah saudara kembar Gabriel, gue tahu… kalo Via
adalah cucu perempuan dari Danar Ganendra, gue ta—“
“enough, Cakka!” Alvin berusaha
menghentikan Cakka sambil mengangkat salah satu tangannya. Matanya terpejam
untuk sesaat. “lo gak perlu lanjutin apapun lagi! Sejak awal gue tahu lo
penasaran sama sosok Via, jadi gak heran kalau lo bakalan nyari asal-usul nya,
gue juga tahu, bukan hal sulit buat lo untuk mencari tahu semuanya, karna lo
adalah Cakka Sorano. Tapi apapun yang lo ketahui sekarang, gue harap itu Cuma
buat kepentingan lo saja. Gue gak akan minta lo buat ngerahasiain ini semua
dari siapapun, karna gue tahu, tanpa gue minta pun, lo akan tetep nyimpen
rahasia ini dengan baik”
“lo
bilang apa tadi? Buat kepentingan gue? Lo pikir semua fakta ini penting buat
gue? Gak! Gue gak tahu keluarga lo punya hubungan apa dengan Danar Ganendra,
dan gue juga sama sekali gak tertarik buat tahu, tapi satu hal yang gue minta
sama lo, jangan pernah sakitin Via dengan alasan apapun. Lo pasti lebih tahu
dari gue, gimana menderitanya dia selama ini. Semua orang nyimpen rahasia yang
sangat penting menyangkut dia, gue Cuma gak habis pikir, kenapa kalian bisa
sejahat itu?”
“lo
gak tahu apa-apa Cakka, jadi tutup mulut lo sekarang juga!” kecam Alvin dengan
dingin.
“karna
gue gak mau tahu apapun, Alvin! Gue gak butuh untuk tahu apapun. Gue Cuma minta
jangan sakitin Via!”
Alvin
terdiam sejenak. Ia menghela napas untuk mengisi ruang didadanya yang mulai
terasa hampa dan sesak. “apapun yang gue lakuin sekarang, gue sama sekali gak
punya niat dengan sengaja buat nyakitin Via. Gue Cuma… gue Cuma ngerasa kalo
gue… bukan cowok yang pantes buat dia” ada getaran pada nada bicaranya di akhir
kalimat. Dan itu jujur… Alvin hanya merasa tidak pantas untuk gadis itu.
“gue
tahu lo sayang sama Via, Kka… dan gue pikir, lo lebih pantes buat Via daripada
gue, jadi –“ Alvin tidak melanjutkan perkataannya. Bagi Alvin, melanjutkan
perkataannya sama saja dengan bunuh diri. Tapi apapun keadaannya, ia harus
menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Cakka. Dan Cakka menunggu dengan
penuh antisipasi.
“lo
boleh memiliki dia…”
♫♫♫
Alvin
pulang kerumahnya saat waktu sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Saat itu
hujan turun dengan lebat dan Alvin terjebak di sekolah. Ia tidak bisa pulang
sebelum hujan reda karena ia menggunakan motor. Alvin berpikir ia tidak akan
bisa menembus hujan seenaknya. Minggu ini ada pelaksanaan Class Meeting, dan karna Alvin adalah seorang ketua Osis, ia harus
tetap menjaga kesehatannya untuk dua minggu kedepan, selama acara Class Meeting berjalan.
Setelah
acara pembukaan tadi selesai dengan memuaskan, Alvin selaku ketua Osis langsung
mengadakan briefing bersama
anggotanya sampai sore tiba, dan bertepatan dengan itu, hujan tiba-tiba saja
turun dengan lebat dan menjebak Alvin disekolah.
Rumah
sedang dalam keadaan kosong saat Alvin tiba. Kedua orangtua nya sedang
melakukan perjalanan bisnis ke luar kota seperti yang sering mereka lakukan.
Sementara Via? Entahlah, Alvin tidak tahu sedang ada dimana gadis itu sekarang.
“Den
Alvin akhirnya pulang juga” kata Bi Ningsih yang baru saja keluar dari dapur.
“Via
mana, Bi?”
“Non
Via? Sepertinya lagi di kamar. Dari tadi sore Non Via nungguin Den Alvin, dia
katanya cemas kalau-kalau Den Alvin kejebak hujan”
Alvin
terdiam sejenak dan tidak memberikan pendapat apapun. “Via udah makan?”
tanyanya lagi.
“sudah
kok Den. Saya juga sudah nyiepin makan malam buat Den Alvin”
“makasih,
Bi. Oya, 10 menit lagi saya turun buat makan malam. Tolong buatin teh
hangat ya,
Bi? Saya kedinginan, emm… seperti biasa, teh nya gak usah pake gula”
“Baik,
Den” jawab Bi Ningsih. Ia lalu kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan Alvin.
Alvin
setengah terkejut saat melihat Via berbaring diatas kasur miliknya dengan
nyaman. Via terlihat pulas dan tenggelam dalam selimut yang hangat. Alvin
menatap gadis itu untuk beberapa saat. Melihat Via tidur dikamarnya setiap kali
hujan turun sudah menjadi kebiasaan baginya. Entah kenapa, gadis ini takut
sendirian dikamar nya apabila hujan turun dimalam hari. Ia takut sekaligus
benci mendengar suara hujan yang menurutya sangat berisik. Alvin berusaha
mengerti meskipun pada awal nya ia merasa aneh dengan ketakutan yang Via
rasakan itu.
Alvin
menutup pintu kamarnya dengan perlahan dan melangkah dengan hati-hati mendekati
posisi tempat tidurnya. Ia seakan takut, kalau sedikit saja suara langkahnya
akan membuat Via terbangun dan menyadari kehadirannya.
Melihat
Via yang tertidur dengan pulas dan nyaris tidak bergerak seperti orang mati,
Alvin justru tersenyum mencibir. Ia mendesis lantas berkata, “cishh… katanya lo
gak bisa tidur kalo hujan turun, tapi sekarang coba lihat? Lo malah mengkudeta
kasur gue dan tidur dengan pules nya. Apa lo cewek modus?” Alvin nyaris saja
mengusap puncak kepala Via –seperti yang biasa ia lakukan- kalau saja ia tidak
cepat-cepat mengingat bagaimana kondisi hubungan mereka sekarang. Alvin
sepertinya belum terbiasa dengan keadaan ini.
Tangan
kananya menggantung di udara sesaat sebelum ia menurunkannya dengan perlahan.
Alvin menghela napas dalam-dalam. Seperti yang ia rasakan sejak kemarin, dada
nya kembali terasa hampa tanpa udara. Sial! Sesak itu lagi-lagi ia rasakan.
Alvin
sudah akan berbalik pergi saat Via tiba-tiba saja mencegat pergelangan
tangannya. Seketika Alvin membeku, jantungnya bahkan bekerja dua kali lebih
cepat dari biasanya saat merasakan tangan milik Via yang hangat menyentuh
tangan dinginnya. Apa gadis ini mendengar perkataannya tadi? Apa gadis ini
sudah terbangun atau hanya…
“Alvin
jahat! Alvin cowok paling jahat sedunia…” iguauan Via itu membuat pikiran Alvin
terpotong. Dengan perlahan, ia pun memberanikan diri untuk membalik badan, dan
apa yang ia temukan amat sangat melegakannya sekarang. Ternyata Via hanya
mengigau, dan ia sedang dalam keadaan masih terlelap.
Alvin
tersenyum sekilas. Dengan gerak yang tidak kalah pelannya, ia berusaha
melepaskan tangannya dari genggaman Via. Tapi yang masih tenggelam dalam mimpinya
justru semakin mempererat cengkramannya. Ia kembali mengigau.
“tolong
jangan lepasin! Gue gak mau jauh dari lo.”
Tidak
salah lagi! Gadis ini pasti sedang bermimpi tentangnya sekarang.
Dengan
sangat hati-hati, Alvin mengambil posisi disamping Via. Ia duduk dan berharap
semoga Via tidak terjaga dari tidurnya sekarang. Ragu-ragu ia mengangkat salah
satu tangannya dan mendaratkannya dipuncak kepala Via.
Dengan
ajaib, segala rasa sakit yang ia tahan sejak kemarin berkurang secara otomatis
saat tangannya menyentuh puncak kepala gadis itu. Alvin memejamkan matanya
untuk menikmati rasa nyaman yang kembali ia dapatkan. Ia tahu, semua yang ia
rasakan sekarang ini tidak akan bertahan lama sampai gadis ini terjaga lagi,
tapi setidaknya Alvin masih bisa merasakannya lagi. Dan begini saja… begini
saja sudah lebih dari cukup baginya.
“Alvin
brengsek!” Via mengigau lagi. Tapi Alvin tetap bergeming. Via mengatakannya
brengsek? Ya… bukankah dia memang brengsek? Dia telah melukai perasaan gadis
ini dengan sangat kejam.
Alvin
yang terdorong oleh luapan perasaannya menunduk dan secara perlahan mendekatkan
wajahnya dengan wajah gadis itu. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Via
yang hangat. Dan ketika wajahnya hanya berjarak beberapa inci saja, Alvin
menghentikan pergerakan wajahnya, ia menatap wajah damai itu dan berpikir. Hati
gadis ini begitu lembut, tapi dengan kejamnya ia justru menyakitinya dan
meninggalkan sebongkah luka yang mungkin akan membekas untuk selamanya. Alvin
benar-benar merasa jahat. Dan memang, ia adalah brengsek! Ia tidak akan
menyangkalnya.
Alvin
pun menyentuhkan bibirnya dengan lembut pada bibir gadis itu. Ia menahannya
sedikit lama dan membiarkan seluruh perasaannya mengalir.
“maaf
untuk semua maaf yang gak pernah bisa terucap…” lirihnya dengan penuh luka.
To Be Continued


