Friday, November 22, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter 4 : Gara-Gara Bunda]







                Sepulang dari sekolah, Ify langsung berlari memasuki kamarnya tanpa sedikitpun menghiraukan panggilan Mami. Setibanya dikamar Ifypun menghempaskan tubuhnya diatas kasur lalu menangis sejadi-jadinya disana.
            Kejadian disekolah tadi, saat ia harus dengan terpaksa memutuskan hubungannya dengan Rio membuat perasaan Ify hancur sehancur-hancurnya. Andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak pernah ada dan menghalangi semuanya, andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak pernah ada dan mengusik kebahagiaannya, dan andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak pernah ada dan memisahkan mereka. Ify hanya ingin hidup bahagia dengan orang yang ia cintai, apa keinginan Ify itu salah, dan apa keinginan itu terlampau mustahil untuk bisa terkabulkan?
            Ify tiba-tiba saja merasakan sebuah belaian hangat dikepalanya. Tanpa melihatpun Ify sudah tahu kalau yang saat ini sedang membelainya adalah Mami. Ify memejamkan matanya sejenak, berusaha meredam isakkannya yang semakin menjadi.
            “Ify kenapa, sayang…?” Tanya Mami khawatir.
            Ify tersenyum jengah detik itu juga, apa perlu Mami masih menanyakan keadaannya saat ini? Atau apa Mami hanya ingin berbasa-basi saja?
            “Ify sudah ikutin apa mau kalian, hiks… Ify…”
            “kamu sama Rio udaah—“
            “PUTUS!  Dan itu kan yang Papi dan Mami mau?” potong Ify sebelum Mami menyelesaikan ucapannya.
            Kali ini Mami hanya diam dan  memilih untuk tidak menanggapi ucapan Ify tadi. Mami bingung harus berkata apa. Dalam hati Mami hanya bisa mengucapkan kata maaf. Mami menyesal harus melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi? Ia juga sama sekali merasa tidak berdaya jika harus melawan kehendak suaminya.

^_^

            “sebelum pulang, gimana kalo kita tanding dulu?” tantang Cakka pada Agni yang ketika itu sudah bersiap-siap untuk pulang.
            Mendengar tantangan Cakka, Agni menghentikan sejenak aktifitas memasukan barang-barangnya kedalam tas, Agni tersenyum meremehkan lantas berkata,
            “gue nggak ada waktu” Agni kembali membereskan barang-barangnya, tapi kali ini dengan gerakan yang lebih cepat. Agni hanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini, dan Agni tidak ingin berdua dengan Cakka dalam waktu yang lumayan lama.
            “lo emang nggak ada waktu atau lo emang takut ngelawan gue?” kata Cakka semakin menantang. Tapi Agni lebih memilih untuk tetap masa bodoh.
            “terserah lo mau ngomong apa”
            Cakka tersenyum licik, ia mendrible bola yang ada ditangannya, melakukan lay up lalu menembakkan bola itu kedalam ring dan masuk. Cakka kembali menangkap bola itu dan mengapitnya dilengan.
            “jadi kesimpulannya, lo emang cemen”
            Kali ini Agni mengangkat wajahnya lalu menatap Cakka tajam. Ia merasa tidak terima dengan ucapan Cakka yang terakhir. Menanggapi tatapan tajam yang dilemparkan oleh Mantan Pacarnya ini, Cakka hanya bisa memamerkan senyum maut andalannya seraya mengedipkan mata sebelah kananya. Agni yang merasa geram dan tertantang langsung melepaskan tas nya dan berjalan perlahan ketengah lapangan.
            “jangan panggil gue Agnia Renata kalo gue nggak bisa ngalahin lo!!”

            Cakka tersenyum penuh kemenangan detik itu juga. Ia merasa berada diatas angin.
            “kalo gue yang menang, besok, selama seharian penuh lo jadi milik gue, dan lo harus ikutin kemana pun gue pergi” kata Cakka seraya mendrible bola itu. Agni sedikit kaget, tapi ia berusaha untuk tidak gentar. Ia yakin bisa mengalahkan Cakka.
            “dan kalo gue yang menang, lo harus ngejauhin gue dan nggak usah ngejer-ngejer gue lagi. SELAMANYA” balas Agni tidak kalah sengitnya. Ia pun berhasil merebut bola itu dari tangan Cakka.
            “heh! Siapa takut??”

^_^

            “Bunda, bisa kan lain kali nggak usah minta Alvin buat nganter aku pulang lagi?” omel Via saat ia baru saja memasuki rumahnya dengan wajah sebal. Via melepaskan tas nya diatas meja begitu saja lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang nyaman.
            “emangnya kenapa? Sukur-sukur Alvin masih mau pulang sama kamu” jawab Bunda dengan tatapan yang tak lepas dari Majalah yang sedari tadi ia baca. Via berdecak pelan, ia memutar bola matanya lalu kembali meraih tasnya.
            Via bangkit dari sofa dan telah siap untuk menganyunkan langkahnya menuju kamarnya dilantai 2. Tepat sebelum Via melangkah, Bunda kembali buka suara,
            “Bunda suka sama Alvin, Vi… dan kayaknya kamu cocok sama Alvin”
            “Bunda” kata Via malas.
            Bunda mengurai sebuah senyum. Perhatiannya tetap tidak ia alihkan dari majalah yang saat ini ada ditangannya.
            “karena seenggaknya, Alvin lebih baik dari Gabriel”
            “Bunda jangan bawa-bawa nama Gabriel dalam masalah ini bisa kan?” jawab Via sedikit emosi.
            Sejak kepergian Gabriel beberapa hari yang lalu, sejak saat itulah Via tidak ingin lagi mendengar nama itu disebut entah oleh siapapun itu. Bahkan Via sudah mengajarkan pada dirinya sendiri untuk membuang nama Gabriel jauh-jauh dari hati dan ingatannya. Via tidak ingin lagi mengingat Pria itu, Pria yang sudah menorehkan luka terparah didinding hatinya dengan pergi meninggalkannya begitu saja tanpa alas an yang pasti.
            Via berdecak kecil lalu berjalan dengan langkah terburu menaiki anak tangga. Bunda mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca lalu menatap punggung Via yang nyaris hilang dari pandangannya.


^_^

            Pertandingan One On One yang dilakukan oleh Cakka dan Agni ternyata dimenangkan oleh Cakka. Seperti yang sudah Cakka duga sebelumnya, ia pasti akan memenangkan pertandingan ini, dan ternyata dugaan Cakka itu terbukti. Agni terduduk lemah ditengah lapangan dengan keringat bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. Tamat sudah riwayatnya, besok ia akan menjadi milik Cakka sepenuhnya dan tanpa penolakan apapun.
            Cakka tersenyum dengan seringai liciknya ketika melihat wajah pasrah Agni. Dan Cakka sama sekali tidak peduli dengan apa yang Agni rasakan saat ini, yang Cakka tahu hanyalah, besok Agni akan menjadi miliknya, walaupun hanya sehari, itu semua sudah lebih dari cukup buat Cakka.
            Cakka berjalan perlahan menghampiri Agni lantas mengulurkan tangannya dihadapan Mantan Pacar yang selalu ia sayangi itu. Agni menatap tangan Cakka yang terulur, tidak berapa lama kemudian, Agni mengangkat wajahnya, senyuman mematikan serta tatapan teduh dari Cakka langsung menyambutnya detik itu. Deg… jantung Agni tiba-tiba berdegub kencang, ia mendadak salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tanpa ia komando, Agni menepis tangan Cakka dengan kasar lantas berdiri sendiri, Cakka tersenyum kecil atas penolakan yang baru saja ia terima,
            “nggak usah, gue bisa sendiri” Agni berjalan melewati Cakka. Tapi kemudian Agni mendadak menghentikan langkahnya ketika sebuah suara kembali terdengar,
            “lo masih ingat dengan taruhan kita tadi kan, Agnia Renata? Dan lo nggak berniat untuk lari kan?”
            Agni tersenyum miring. Ia merasa Cakka telah merendahkannya.
            “gue nggak sepengecut itu. Tenang aja, gue sportif kok orangnya, dan gue nggak akan lari” kata Agni tegas lalu melanjutkan langkahnya.
            “Agni… Cakka… untung saja kalian berdua masih disini” kata Pak Imam yang tiba-tiba saja hadir ditengah-tengah mereka. Pak Imam adalah pelatih Basket mereka. Agni menghentikan langkahnya lalu menatap Pak Imam dengan pandangan heran, begitu juga dengan Cakka.
            “emang ada apa, Pak?” Tanya Cakka.
            “kita harus dapet pengganti Iel sebelum pertandingan tiba. Setidaknya, pengganti Iel nanti sama hebatnya dengan Iel”
            “kenapa nggak ngadain audisi aja, Pak?” usul Agni yang masih berdiri membelakangi Cakka. Cakka berjalan perlahan hingga sejajar dengan posisi Agni sekarang. Cakka dan Agni saling menatap sejenak lalu kembali mengalihkan tatapan mereka kearah Pak Imam.
            “proses audisi itu lama, dan kita nggak mungkin ngadain audisi sementara pertandingan Cuma tinggal 2 minggu lagi, Agni” jawab Pak Imam dengan nada sedikit putus asa.
            “tapi kalo untuk mendapatkan pengganti yang setara dengan Iel, akan lebih nggak mungkin lagi kalo kita mencarinya dengan sembarang dan tanpa audisi. Kita semua tau kan gimana luar biasanya kemampuan seorang Gabriel Nata Pratama? Dan saya agak pesimis bisa menemukan pengganti Iel tanpa melakukan proses audisi, Pak” jelas Agni panjang lebar. Pak Imam hanya mengangguk, tapi raut kebingungan tidak kunjung menghilang dari wajah manis Guru Muda itu.
            “saya tau siapa yang bisa menggantikan posisi Iel, bahkan tanpa ngelakuin audisi” kata Cakka tiba-tiba sambil menatap lurus kedepan.


^_^

            “Gue nggak bisa!” kata Alvin tegas. Ia menembakkan bola basket yang sejak tadi ia drible kearah ring. Bola itu pun memasuki ring dengan sempurna dan membuat Cakka berdecak kagum.
            Sore itu, sepulangnya dari sekolah, Cakka langsung menemui Alvin yang saat itu tengah bermain basket sendiri di lapangan komplek. Niat Cakka menemui Alvin adalah untuk menyampaikan maksudnya yang ingin menawarkan Alvin untuk ikut bergabung dengan Tim Basket SMA Patuh Karya menggantikan posisi Iel. Diawal Cakka sempat optimis, Alvin akan menyetujui tawarannya itu, tapi ternyata Cakka salah. Karena begitu Cakka menyampaikan tawarannya, Alvin langsung menolaknya mentah-mentah. Tapi hal itu tidak lantas membuat Cakka putus asa. Ia yakin Alvin bisa menggantikan posisi Iel, dan dengan cara apapun, Cakka akan berusaha untuk membawa Alvin masuk kedalam Tim Basket SMA Patuh Karya dan mengikuti pertandingan Basket antar sekolah yang akan diselenggarakan 2 minggu dari sekarang.
            “tapi Alv, saat ini Cuma lo harapan kita semua, dan kita semua yakin kalo lo itu mampu ngegantiin posisi Iel. Lo percaya kan sama gue?”
            “gue bukannya nggak percaya sama lo, Kka, gue Cuma nggak percaya sama diri gue sendiri” kata Alvin pesimis lalu duduk ditengah lapangan. Ia menatap hampa kedepan, tatapannya seakan menerawang jauh ke masa lalu.
            “kenapa?” Tanya Cakka penasaran lantas duduk disamping Sahabat barunya itu. Alvin menggeleng pelan. Ia rasa, Cakka tidak perlau tahu apa alasannya. Yang jelas Alvin sudah mantap dengan keputusannya untuk tidak ikut serta dalam Tim Basket SMA Patuh Karya. Dan itu sudah keputusan mutlak, tidak bisa diganggu gugat lagi.
            Alvin tersenyum kecil, ia menatap Cakka sejenak lalu menepuk pundak Cakka beberapa kali.
            “semoga lo bisa dapet pengganti Iel yang jauh lebih layak dari gue”
            Alvin bangkit dari sisi Cakka lalu berjalan perlahan meninggalkan lapangan Komplek. Cakka tidak yakin dengan dugaannya saat ini, tapi ia menduga, Alvin memiliki pengalaman buruk tentang basket, dan Cakka bersumpah akan mencari tahu tentang itu. Entahlah, Cakka sudah terlanjur yakin dengan kemampuan yang Alvin miliki.


^_^

            Alvin kaget setengah mati ketika melihat Via yang saat itu duduk dengan santainya diruang tengahnya sambil menonton TV. Kedua mata Alvin membelalak lebar, bagaimana ceritanya Via ada dirumahnya? Jangan-jangan Mama yang mengundang, fikir Alvin.
            Alvin berjalan mendekati Via dan berdiri disampingnya. Alvin lalu berdehem pelan dan membuat Via kaget. Via menatap Alvin dengan pandangan tidak suka,
            “eh elo? Ngapain disini? Bikin kaget aja” kata Via lantas kembali mengalihkan perhatiannya pada layar yang ada dihadapannya.
            “harusnya gue yang nanya, lo ngapain dirumah gue?” Tanya Alvin dingin. Via menghela nafas panjang lalu menjawab pertanyaan Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Pria itu,
            “Nyokap lo yang nyulik gue”
            “lo kalo ngomong nggak usah sembarangan ya?”
            “ya emang kenyataannya. Tadi Nyokap lo kerumah gue dan minta supaya gue ikut sama dia kerumah lo, mau nolak tapi gue nggak enak hati, soalnya kan Nyokap lo itu baik banget, nggak kayak elo!”
            “iya, tapi ngapain Nyokap gue bawa lo kesini?”
            “diundang makan malam. Udah nggak usah nanya lagi, puyeng gue”
            Alvin tidak lagi terdengar menimpali perkataan Via. Dengan langkah terburu ia meninggalkan ruang tengah dan menaiki anak tangga hendak ke kamarnya. Via melirik Alvin sejenak lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dasar aneh! Rutuk Via dalam hati.
            Tidak berselang lama setelah kepergian Alvin, Kintan pun keluar dari dapur lantas duduk disamping Via,
            “Alvin udah pulang, Vi?”
            “udah Tan, dia baruuu aja masuk ke kamarnya” jawab Via. Kintan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.
            “Vi…” panggil Kintan pelan,
            “iya Tante?”
            “kalo Alvin berkata kasar ada berbuat kasar sama kamu, jangan dimasukin kedalam hati ya, sayang? Alvin emang gitu anaknya. Dia emang dingin sama semua cewek”
            “kok bisa?”
            Kintan tersenyum penuh misteri. Tangan kananya bergerak perlahan lalu membelai lembut rambut sebahu milik Via.
            “pokoknya nggak usah dimasukin kedalam hati semua sikap Alvin itu. Ya jelas, secuek apapun Alvin, sedingin apapun Alvin, sebenarnya dia punya hati yang lembut dan mudah rapuh. Tante minta tolong sama kamu untuk bisa ngertiin Alvin, nanti ada saatnya kamu akan mengerti, Via”
            Jujur saja, perkataan Kintan baru saja semakin membuat Via merasa penasaran. Ada apa sebenarnya dengan Alvin? Kenapa tiba-tiba Kintan memintanya untuk berusaha mengerti Alvin? Terus terang saja, Via merasa bingung dengan semua ini.
            Seakan bisa membaca rasa penasaran Via, Kintan kembali berkata,
            “Tante Cuma percaya sama kamu, Nak” Kintan memeluk Via sejenak, ia menyentuh kedua pipi chubby Via sambil tersenyum lebar,
            “udah nggak usah bingung, sekarang kamu panggil Alvin ya dikamarnya? Udah jam nya kita makan malam”
            Via terkesiap dan langsung menjawab “ba… baik Tante”
            Via bangkit dari sofa lalu melangkah kearah anak tangga hendak memanggil Alvin dikamarnya.
            Via tiba didepan kamar Alvin, ragu-ragu ia mengetuk pintu kamar itu, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Via kembali mengetuk seraya memanggil nama Alvin, tapi tetap tidak ada jawaban apapun. Via menghela nafas panjang, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya lalu menarik kenop pintu, tidak lama, pintu kamar Alvin terbuka, Via melihat kedalam, ternyata disana tidak ada siapa-siapa.
            Via memberanikan dirinya untuk memasuki kamar Alvin lebih dalam lagi. Via sedikit kagum ketika melihat kamar Alvin yang terlihat begitu rapi dan bersih, jarang-jarang Via melihat kamar cowok serapi ini, bahkan kamar Cakka tidak serapi ini. Pada dinding kamar Alvin yang berwarna putih itu, Via melihat sejumlah foto yang tertempel, darisana Via bisa menebak bahwa Alvin adalah salah seorang pecinta Photografy.
            Via berhenti tepat didepan meja belajar Alvin, sebuah kamera bermerk Canon yang tergeletak dimeja belajar Alvin tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Tanpa berfikir panjang lagi, salah satu tangan Via bergerak perlahan lalu meraih kamera itu. Iseng-iseng Via mencoba melihat-lihat hasil jepretan Alvin dalam kamera itu.
            Via sedikit kaget namun juga kagum ketika melihat gambar seorang Gadis yang terlihat sangat cantik dalam kamera itu. Via kembali melihat foto yang lainnya, ternyata isi kamera itu hanya foto-foto dari satu gadis yang sama. Siapa Gadis ini? Bathin Via bertanya.
            “ngapain lo dikamar gue?” sebuah suara dingin yang terdengar sinis menyapa indera pendengar Via. Via berbalik lalu melihat kearah Alvin yang saat itu berdiri dipintu dengan tatapan pembunuh yang siap menerkam. Tanpa Via sadari, kedua tangannya masih memegangi kamera milik Alvin.
            “gu… gue… ta.. tadi Nyokap lo, nyu… nyuruh gue manggil lo—“ Via mendadak gelagapan, ia merasa salah tingkah karena Alvin telah menangkap basah dirinya.
            Tatapan Alvin tiba-tiba saja tertuju pada kedua tangan Via yang ketika itu sedang memegang kamera miliknya. Alvin melangkah besar-besar kearah Via lalu merenggut kamera itu dengan kasar dari tangan Via, Via menunduk dalam. Ia takut menatap kedua mata yang penuh dengan kilat-kilat kebencian itu. Sepertinya Via salah karena telah melihat-lihat isi dari kamera itu.
            “lo lihat isi kamera ini?” Tanya Alvin dingin seraya menunjukan kamera itu tepat didepan wajah Via. Via mengangguk sambil tetap menunduk.
            “nggak sopan banget lo masuk kamar gue tanpa ijin terus bongkar-bongkar isi kamera gue”
            “ma.. maaf…”
            “gue nggak butuh kata maaf, dan untuk yang kesekian kalinya gue bilang sama lo, gue benci sama kata maaf”
            Via terdiam. Sejak mereka pertama kali bertemu, Alvin memang sering membentaknya, tapi entah kenapa Via merasa lain kali ini. Ia merasakan sebuah perasaan takut.
            “Nyokap gue emang sayang sama lo, tapi buat gue elo tetep bukan siapa-siapa, jadi lo nggak berhak buat nyentuh barang-barang gue. Dan jangan mentang-mentang Nyokap gue sayang sama lo, lo jadi bisa seenaknya masuk kamar gue tanpa ijin terus nyentuh kamera gue, ngerti lo?”
            Via masih betah dengan kebisuannya. Entah kenapa perkataan Alvin barusan benar-benar menusuk jantungnya. Rasanya sakit sekali ketika Alvin membentaknya seperti saat ini. Apa kesalahan yang Via lakukan begitu fatal hingga membuat Alvin marah?
            “dan satu lagi, sekarang lo angkat kaki dari kamar gue. CEPETAN!!” Bentak Alvin dengan tidak berperasaan. Via masih bergeming, dan hal itu semakin membuat emosi Alvin membuncah,
            “atau lo mau gue seret dari sini?”
            Kali ini Via mengangkat wajahnya dan menatap Alvin tajam. Air matanya perlahan menetes, tapi hal itu tidak juga membuat Alvin luluh. Via menghela nafas dalam-dalam, ia mengangkat tangan kananya lalu mendaratkannya dengan cukup keras tepat dipipi sebelah kiri Alvin.
            “lo nggak berhak ngebentak-bentak gue kayak gini. Dan asal lo tau, GUE BENCI SAMA LO!!”
            “Gue nggak peduli. Sekarang keluar dari kamar gue!” kata Alvin sinis sambil menunjuk kearah pintu. Via pun berlari melewati Alvin sambil menabarakkan pundaknya pada pundak pundak Alvin.

            Kali ini Alvin sudah benar-benar menyakiti perasaannya.




                        BERSAMBUNG…


           

Saturday, November 16, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter 3 : Dia Lagi, Dia Lagi]







Main Cast:
Alvin Jonathan as Calvin Adryan
Gabriel Damanik as Gabriel Nata Pratama
Sivia Azizah as Alyvia Anastasya
Cakka Nuraga as Cakka Joshua
Mario Stevano as Rio Aditya Revano
Ify Alyssa as Lintang Dify Falery
Agni Trinubuwati as Agnia Renata
Ashilla Zahrantiara as Ashilla Oriza

****


Dia telah datang. Apa mungkin Tuhan sengaja mengirimkan dia? Entahlah… biar waktu yang kan menjawab semua…


****


                “kalian tau nggak? Hari ini kelas kita bakalan kedatangan cowok keren pindahan dari Belanda” kata Rio yang tiba-tiba saja hadir ditengah Via dan Agni yang saat itu tengah sibuk mendiskusikan sesuatu. Rio, Via dan Agni memang satu kelas. Sementara Ify dan Shilla harus terpaksa memisahkan diri dikelas sebelah. Mereka sekelas dengan Cakka.
            Via dan Agni menatap Rio dengan kedua alis saling bertaut satu sama lain. Mereka heran, sejak kapan sih Rio jadi suka bergosip seperti ini? Aneh dan sangat tidak biasa.
            “Cuma murid baru kan?” Tanya Agni yang merasa tidak habis fikir dengan kehebohan Rio itu. Dengan wajah yang terlihat polos, Rio mengangguk. “terus kenapa jadi heboh begini?” lanjut Agni.
            “ya jelas heboh lah! Orang dia sepupu kesayangan gue. Gue jamin deh, dalam sekali lihat, kalian pasti akan langsung klepek-klepek”
            “OYA??” Agni pura-pura terkejut. Lagi-lagi Rio hanya bisa mengangguk.
            “lebih keren mana dari Iel?” ucap Via tanpa sadar. Rio dan Agni langsung menatap tajam kearah Via. Sebelumnya mereka tidak pernah menyangka bahwa Via akan membawa-bawa nama Gabriel lagi setelah tadi pagi ia sempat gembar-gembor tidak akan menyebut nama Gabriel lagi apalagi mengingatnya.
            Sadar dengan ucapannya barusan, Via langsung membekap mulutnya sendiri. Kenapa lagi sih ia harus menyebut nama itu dan melanggar apa yang sudah ia katakan sendiri? Bodoh! Rutuknya dalam hati.
            Tepat ketika Rio akan melemparkan komentarnya, seorang Guru wanita yang masih terlihat muda dan cantik memasuki kelas XI IPA.3 dengan diikuti oleh seorang cowok super keren dibelakangnya.
            Kehadiran cowok itu langsung menjelma menjadi sebuah magnet yang menarik penuh perhatian seisi kelas minus Via. Bukan apa-apa, hanya saja waktu itu Via sedang sibuk membongkar isi tasnya. Kegiatannya itu malah membuatnya tidak ngeh dengan apa yang terjadi detik itu juga.
            Tatapan-tatapan kagum yang dilemparkan oleh para Siswi dikelas itu tidak cukup mampu membuat Siswa baru itu tertarik. Kedua matanya yang teduh menatap berkeliling dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Tapi wajah dingin tanpa riak itu justru semakin membuat para sisiwi klepek-klepek, persis seperti apa yang Rio katakan tadi.
            Via kaget setengah mati ketika ia mengangkat wajahnya dan mendapati satu sosok cowok yang menurutnya aneh, ralat, sangat aneh tengah berdiri didepan kelas. Kedua mata Via melotot lebar. Rasanya Via ingin berteriak detik itu dan menendang cowok itu jauh-jauh dari kelasnya. Jadi ini dia yang Rio maksud? Dan parahnya lagi, Via malah satu kelas dengan cowok yang menurutnya super aneh ini. Oh my God, mimpi apa Via semalam?
            Via menatap cowok itu dengan tatapan sebal, dan ketika cowok itu menangkap basah dirinya, Via buru-buru melempar tatapannya kearah lain.
            “sttt… ini dia sepupu lo? Cakep, Yo” bisik Agni pada Rio yang jarak bangkunya tidak terlalu jauh dari bangku Via dan Agni. Rio tersenyum puas lalu membalas perkataan Agni, tentunya dalam sebuah bisikan juga,
            “kan udah gue bilang”
            Agni mengangguk berkali-kali lalu kembali focus pada objek mengagumkan yang saat ini masih berdiri didepan kelas –Siswa baru itu-
            “ayo perkenalkan dirimu!” kata Ibu Fira mempersilakan siswa baru itu untuk memperkenalkan dirinya. Siswa baru itu hanya menatap Ibu Fira sekilas, setelah melempar senyum lalu mengangguk pada Ibu Fira, cowok itu kembali menatap kearah teman-teman barunya.
            “hay semua!” katanya dingin. Sama sekali tidak terdengar nada bersahabat dari sapaannya, tapi hal itu tidak membuat para siswi merasa gentar. Karena toh mereka tetap saja terpesona pada siswa baru itu.
            “pekenalkan, nama saya Calvin Adryan, tapi kalian cukup memanggil saya Alvin. Terimakasih”
            “Calvin Adryan? Namanya keren, sekeren orangnya” celetuk Zevana tiba-tiba yang duduk dibangku paling pojok bersama kedua sahabatnya, Dea dan Aren. Zevana menatap Alvin dengan tatapan penuh kekaguman, tapi justru Alvin membalas tatapan itu dengan tatapan datarnya.
            “halah! Gitu aja dibilang keren. Buta ya lo?”
            Seisi kelas yang sejak tadi menatap Alvin dengan tatapan kagum kontan saja terkejut ketika mereka mendengarkan ucapan sinis dari seorang cewek manis yang duduk dideretan bangku paling depan bersama Agni –Via-
            Merasa tidak terima dengan ucapan Via barusan, Zevana bangkit dari bangkunya lantas berkata pada Via dengan nada yang lumayan keras.
            “gue yang buta? Nggak salah tuh? Bukannya elo yang buta? Udah disakitin dan ditinggalin  tetep aja masih ngarep sama Iel”
            Perkataan dari Zevana itu langsung disambut oleh tawa sinis dari Aren dan Dea. Via seketika bungkam. Jika nama Gabriel sudah dibawa-bawa seperti itu, mendadak otaknya beku, dan mendadak juga Via berubah menjadi seorang yang paling bodoh sejagad raya.
            Agni yang geram dan merasa perlu membela sahabatnya langsung menggebrak meja sekeras mungkin. Bahkan Agni sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Ibu Fira dikelas itu.
            “udah gue bilang sama lo, jaga mulut lo kalo nggak mau gue robek!”
            “sudah, sudah! Kenapa kalian malah ribut?” ucap Ibu Fira, berusaha melerai pertengkaran yang terjadi antara Agni dan Zevana.
            Agni menghela nafas panjang, berusaha menenangkan emosinya yang mendadak naik sampai ke ubun-ubun. Tidak lama Agni kembali menjatuhkan tubuhnya diatas kursi. Ia menatap Via seklias yang ketika itu hanya bisa diam tanpa perlawanan apapun. Agni kesal, kenapa Via selalu saja seperti ini? Kenapa Via tidak pernah berusaha sedikitpun untuk membela dirinya? Dan Agni benci dengan Via yang seperti ini.
            “nah Alvin, sekarang silakan kamu duduk disebelah Rio, ya?”
            “iya, Bu” jawab Alvin singkat lalu berjalan kearah meja Rio. Saat melewati meja Via, Alvin sempat menghentikan langkahnya sejenak, ia menatap Via dengan tatapan yang susah diartikan. Sementara Via, ia sama sekali tidak sadar ketika Alvin menghentikan langkahnya dan menatapnya dalam beberapa detik.
            Tidak lama Alvin tersenyum simpul, ia membuang tatapannya dari Via lalu duduk disebelah Rio. Rio menepuk punggung Alvin beberapa kali.

            “ternyata lo lebih bodoh dari apa yang gue kira…”

^_^

            Jam istirahat tiba, tidak perlu menunggu terlalu lama, Rio langsung bergegas kekelas Ify untuk menemuinya –tentu saja setelah meminta ijin pada Alvin- Sejak tadi pagi, Rio tidak pernah bertemu dengan Ify sekalipun, bahkan sejak semalam Ify sama sekali tidak menggubris telfon dan SMS nya. Rio merasa ada yang tidak beres dengan sikap kekasihnya itu, dan Rio merasa perlu untuk memperjelas permasalahan yang sebenarnya. Jujur saja, akhir-akhiran ini Rio merasa Ify menghindarinya. Dan Rio tidak ingin nantinya hal itu akan semakin membuat Ify jauh hingga meninggalkannya secara perlahan. Tidak! Rio tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, bahkan dalam mimpi sekalipun. Tidak sama sekali.
            “hari ini Ify nggak masuk, Yo” kata Shilla pada Rio yang ketika itu menyambut kedatangan Rio dipintu kelasnya. Semuanya seperti sudah direncanakan.
            Rio yang merasa sanksi dengan ucapan Shilla barusan berusaha melihat lebih jauh kedalam kelas, tapi nihil, didalam sana tidak ia temukan apa yang ia cari. Rio menatap Shilla dengan pandangan bertanya,
            “lo nggak bohong kan, Shill?” tanyanya skeptic. Shilla berusaha bersikap sewajar mungkin, ia menghela nafas pelan lalu menatap Rio dengan berani,
            “buat apa juga gue bohong?”
            “masalahnya dari semalem Ify nggak mau angkat telfon gue ataupun bales sms gue, dan sejak tadi pagi, gue nggak ngeliat dia. Kira-kira lo tau sesuatu nggak?”
            Shilla menggeleng, “gue nggak tau, Yo! Kalo gue tau gue pasti bakalan ngasih tau lo. Lo tau sendiri kan kalo Ify itu anaknya tertutup banget?”
            Rio pasrah. Mungkin memang benar Shilla tidak tahu menau soal Ify. Seperti yang Shilla katakan tadi, Ify memang sangat tertutup sekalipun pada sahabat-sahabatnya sendiri termasuk itu Rio.
            Rio mengusap wajahnya putus asa. Apa harus ia pergi kerumah Ify untuk memastikan keadaan Gadisnya itu? Tapi jika ia kesana, resiko yang akan ia tanggung tidak main-main. Karna sudah pasti Papi Ify akan mengusirnya tanpa melihat wajahnya. Tapi Rio tidak ingin menjadi seorang pengecut, jika dia ingin tetap bertahan dengan Ify, maka ia harus berani menghadapi resiko sebesar apapun, Rio tidak boleh mengalah begitu saja, Rio juga tidak boleh menyerah ditengah jalan seperti ini. Sesulit apapun keadaannya, Rio harus bisa mempertahankan Ify.
            Ah… kenapa perbedaan harus serumit ini?
            “ya udah, Shill… makasih ya? Gue pamit. Nanti kalo ada kabar dari Ify, jangan lupa ngabarin gue ya? Lo tau sendiri kan kalo Ify itu sangat berarti buat gue?”
            Shilla mengangguk pelan. Rasa penyesalan bercampur dengan rasa ngilu memenuhi ruang didadanya. Andai saja Shilla tidak perlu berbohong pada Rio, mungkin Rio tidak perlu seputus asa ini, setidaknya Shilla bisa mengurangi sedikit saja beban yang saat ini Rio tanggung.
            Biar bagaimana pun Shilla dan Rio sudah berteman baik sejak mereka duduk dibangku SMP. Dan dari pertemanan mereka yang cukup lama itu, sudah cukup membuat Shilla mengenal sosok Rio dengan sangat baik, dan Shilla tahu bahwa saat ini Rio sedang berada dalam posisi yan serba sulit. Shilla bisa merasakan apa yang Rio rasakan meskipun kasus yang ia alami dengan Rio berbeda.
            “Rio udah pergi, lo bisa keluar sekarang!” kata Shilla sedikit sinis pada seseorang yang ketika itu tengah bersembunyi dibalik pintu.
            Tidak berselang lama setelah Shilla berkata seperti itu, Ify yang memang sejak tadi bersembunyi dibalik pintu langsung keluar dari persembunyiannya. Ify menunduk dalam. Sebelum Shilla mengeluarkan suara, Ify sudah bisa menebak bahwa Shilla akan marah. Dan ternyata tebakan Ify itu akhirnya terbukti.
            “gue nggak bisa ngukur serumit apa masalah yang sekarang sedang kalian hadapi, karna emang selama ini lo nggak pernah mau cerita. Tapi satu hal yang harus lo tau Fy! Menghindar nggak akan pernah menimbulkan solusi apapun”
            Shilla menatap Ify dengan tatapan kesal berharap Ify akan memberi tanggapan. Tapi hingga beberapa detik berlalu, Ify tetap bungkam. Shilla tersenyum miris lantas berbalik badan dan bersiap untuk pergi. Tapi sebelum Shilla mengayunkan langkahnya, Ify akhirnya berucap.
            “Papi ngancem, kalo gue tetep milih bertahan sama Rio, Papi akan ngirim gue ke London dan Papi juga pastiin  gue akan tinggal selamanya disana. Gue nggak mau itu kejadian itu, Shill. Gue Cuma takut… takut—“ Ify menghela nafas beratnya sejenak, berusaha meredam tangisannya yang nyaris pecah detik itu juga, “gue takut nggak bisa ngeliat Rio lagi, gue nggak mau jauh dari Rio sekalipun nanti gue harus ngelepasin dia, gue nggak mau, gue nggak bisa…”
            Pertahanan Ify akhirnya jebol. Air mata itu menetes keluar sederas mungkin. Shilla berbalik, tanpa berkata apa-apa lagi, Shilla langsung mendekat dan membawa Ify kedalam pelukannya.
            “maafin gue. Gue Cuma nggak tau kalo posisi lo sama Rio ternyata sama rumitnya”

^_^

            “Ciyeeee… yang mau dikenalin sama anak temen Bunda!! Dandannya serius banget…” goda Cakka yang tiba-tiba saja muncul dibelakang Via.
            Via yang saat itu sedang mematut diri didepan cermin kontan saja terkejut ketika Cakka secara mendadak sudah muncul dibelakangnya. Dasar jin botol!
            “sok tau lo! Siapa coba yang lagi dandan?” Via mendelik, merasa tidak terima dengan ucapan saudara kembarnya yang super duper menyebalkan itu.
            Cakka tersenyum jahil lalu tanpa permisi melempar tubuhnya keatas ranjang empuk milik Via. Cakka meraih boneka hello kitty yang tergeletak sembarang diatas kasur lalu memainkannya.
            “lo mau tau sesuatu nggak?” kata Cakka tiba-tiba.
            “apaan?” Tanya Via sedikit ketus. Ujung-ujungnya apa yang akan Cakka katakan nanti pasti tidak penting untuk dia ketahui. Via sudah hafal betul bagaimana sifat saudara kembarnya ini.
            “ini penting banget lho! Menyangkut masa depan lo” ucap Cakka dengan wajah seriusnya.
            “nggak usah bertele-tele deh! To the point aja kenapa sih?”
            Cakka melepas boneka Hello Kitty yang sejak tadi ia mainkan. Cakka lalu bangkit dari ranjang Via dan duduk dengan posisi bertekuk lutut dihadapan Via. Cakka menyentuh kedua pundak Via lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengannya. Cakka menatap Via dengan tatapan seolah-olah ia ingin menenangkan Via dan menabahkan hatinya.
            Via menatap Cakka dengan kedua alis bertaut. Ia agak heran dengan sikap Cakka itu.
            “lo yang sabar ya?” kata Cakka dengan nada prihatin. Via semakin heran. Ada apa sih sebenarnya?
            “kenapa gue musti sabar?”
            Cakka menunduk, sebelum melanjutkan ceritanya, Cakka sempat menghela nafas panjang.
            “tadi gue lewat didepan kamar Ayah dan Bunda, terus nggak sengaja gue denger mereka—“
            “elo nguping ya??” potong Via tiba-tiba. Cakka berdecak kesal,
            “ck, lo denger gue dulu kenapa sih?”
            “oke, oke. Lanjut!”
            “gue denger, katanya mereka mau ngejodohin lo sama Anak temennya Bunda itu”
            “WHAAATTT????” Teriak Via cukup keras dengan kedua mata yang terbuka lebar, “lo becanda kan, Kka? Lo lagi ngibulin gue kan? Iya kan?” kata Via yang sebenarnya setengah percaya setengah tidak. Lagipula Cakka tidak pernah terlihat seserius itu sebelumnya jika sedang berbicara dengannya.
            “terserah lo mau percaya apa nggak, yang jelas gue udah bilang yang sebenernya ke elo. Sebagai saudara kembar yang baik dan solid gue wajib ngasih tau ini ke elo, elo yang sabar ya? Oya… mereka juga bilang, setelah lulus nanti kalian berdua akan langsung dikawinin”
            “APAA…???” Via lagi-lagi kaget. Jika ia memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin saat ini Via hanya tinggal nama saja.
            Tanpa perlu menjelaskan apa-apa lagi, Cakka bangkit dari hadapan Via lalu melangkah keluar. Sebelum Cakka menghilang diambang pintu, Via sempat berkata,
            “tapi bukannya Ayah nggak setuju kalo sampe Bunda ngejodoh-jodohin gue?”
            “itu awalnya, tapi setelah Bunda mati-matian ngeyakinin Ayah, akhirnya Ayah setuju” jawab Cakka tanpa menoleh kearah Via.
            Cakka melanjutkan langkahnya hingga akhirnya benar-benar menghilang dibalik pintu. Via terkulai lemas. Kabar perjodohan ini benar-benar membuatnya merasa shock. Apalagi sebelumnya Bunda tidak mengatakan apapun padanya.
            Tapi entahlah, Via mendadak merasa ingin kabur saja dari acara perkenalan malam ini.
            Sementara tanpa Via ketahui, diluar sana Cakka ternyata sedang berusaha meredam suara tawanya seraya memegangi perutnya. Sebenarnya Cakka ingin tertawa sekeras mungkin, tapi ia berusaha menahan supaya Via tidak mendengar. Jika Via mendengar suara tawanya bisa gawat urusannya nanti.

            “haha… rasain lu! Emang enak gue kerjain? Makan tuh cerita karangan gue!!”    

^_^     

Shilla mengetuk-ngetukan jari tangannya diatas meja dengan perasaan yang campur aduk. Sejak beberapa detik yang lalu, matanya seakan melekat pada layar monitor yang menampakkan Yahoo Messenger yang ada dihadapannya. Sudah hampir 2 menit, tapi ia belum juga mendapatkan balasan. Shilla akhirnya menyerah ketika penantiannya tiba pada menit ke-10. Shilla tersenyum miris. Mungkin dia sudah malas membalas email darinya.
            Shilla menghela nafas panjangnya, dan tepat ketika ia akan bangkit dari meja belajarnya, sebuah email masuk. Shilla tersenyum puas. Dia membalas email Shilla! Shilla yang tadinya ingin hengkang dari meja belajarnya kembali membenahi posisi duduknya didepan laptopnya. Jemari cantik milik Shilla mulai menari-nari dengan lihai diatas keyboard dengan seulas senyuman manis yang membuatnya semakin terlihat cantik.

Hay Juga, Shill! Tadi disekolah gimana? Via baik-baik aja kan?


            Shilla tersenyum kecut ketika membaca pesan itu. Ujung-ujungnya tetap saja Gabriel menanyakan keadaan Via. Tapi Shilla harus tetap bersabar, ini masih awal. Bukankah waktu dapat mengubah segalanya jika Shilla terus mencoba dan berusaha. Mencoba dan berusaha untuk bisa terlihat dimata seorang Gabriel Nata Pratama.

Iya. Via baik-baik aja kok, hari ini Via malah terlihat lebih baik dari kemarin. Bawelnya kambuh lagi, dan Via seperti nggak punya masalah apapun :)


Tak berselang lama, balasan dari Gabrielpun masuk.

Emm… begitu ya? Baguslah! :) tolong jagain Via, ya?
Jgn biarin dia terus-terusan sedih.


=======================

Iya, yel! Aku pasti akan jagain Via seperti yg kmu mau.
Buat kamu!!

(Oriza_Shilla@yahoo.com)


^_^

            “Bundaaa… Via mau pulang” rengek Via pada Bunda ketika mereka berdua baru saja duduk disofa ruang tamu milik Kintan, Sahabat baik Silvy –Bunda Via- sejak ia duduk dibangku SMA.
            “pulang? Kita baru aja nyampe Via” kata Bunda dalam sebuah bisikan pelan.
            Sebelum Via menjawab perkataan Bundanya, seorang Wanita yang berusia sekitar 37 tahun turun dari lantai 2 rumahnya dengan begitu anggunya. Wanita itu –Kintan- tersenyum pada Sahabat baiknya yang hampir tidak pernah ia temui selama 6 tahun terakhir ini karena kesibukan masing-masing.
            Silvy bangkit dari sofa, tanpa sedikitpun menghiraukan rengekan Via tadi, Silvy berjalan perlahan menyambut Kintan lalu memeluknya erat.
            “Kintan kamu apa kabar? 6 tahun menghilang ternyata kamu makin cantik saja, ya?”
            “ah, kamu bisa saja, kamu juga semakin cantik kok” balas Kintan dengan senyuman manisnya seraya melepaskan pelukannya dari Silvy.
            Tatapan Kintan tiba-tiba saja teralihkan pada satu sosok Gadis Remaja yang tengah duduk dalam posisi yang serba tidak nyaman diruang tamunya. Kintan menatap Via sejenak lalu kembali mengalihkan tatapannya pada Silvy,
            “itu anak kamu, Sil? Cantik, ya? Mirip sama kamu waktu masih muda dulu”
            “haha… siapa dulu dong Bundanya?”
            Kintan dan Silvy berjalan lebih dekat kearah Via. Sebisa mungkin Via berusaha memberikan senyuman termanisnya pada Sahabat baik Bundanya ini. Via tidak ingin Bundanya marah hanya karena Via menunjukan sikap yang kurang menyenangkan.
            “ayo Via, kenalan dulu sama Tante Kintan” titah Bunda pada Via. Via semakin memperlebar senyumannya lantas bangkit dari duduknya.
            “h.. hay Tante, kenalin aku Via…” Via meraih tangan Kintan lalu mencium punggung tangannya dengan sopan. Kintan tersenyum bangga, ia mengusap lembut kepala Via lalu menyebutkan namanya,
            “Tante Kintan… umur kamu berapa sayang?”
            “16 tahun, Tante” jawab Via singkat.
            “16 tahun? Umur kamu sama anak Tante sama dong, waahh… kayaknya kalian bakalan cocok nih”
            Kedua mata Via melotot lebar. Ucapan Kintan barusan langsung menyeret ingatannya saat Cakka memberitahukannya kabar Prihal perjodohannya dengan Anak dari Tante Kintan ini. Dan ucapan Kintan baru saja semakin meyakinkan Via bahwa ia akan benar-benar dijodohkan. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!
            “oya, omong-omong tentang anak kamu, anak kamu sekarang dimana, Kin?” Tanya Silvy pada Kintan,
            “dia ada kok, tapi masih dikamarnya. 10 menit lagi dia akan turun kok” jawab Kintan dengan sorot mata berbinar.
            Mendadak Via merasa perlu ke kamar mandi. Keadaan ini benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Ingin rasanya Via kabur dari rumah ini sekarang juga, ingin rasanya Via bersembunyi dari Bunda agar perjodohan ini tidak pernah terjadi. Tapi apa yang harus Via lakukan sekarang? Ia sendiri bingung dan tidak harus melakukan apa.
            “Tante, kamar mandi dimana?” Tanya Via tiba-tiba,
            “disana, kamu lurus aja. Kamar mandinya ada dideket dapur” jawab Kintan sembari menunjukan arah kamar mandi. Via tersenyum lantas mengangguk paham,
            “makasih ya, Tante?”
            Tanpa menunggu jawaban dari Kintan terlebih dahulu, Via langsung berjalan cepat kearah kamar mandi. Fikirannya yang tadinya kacau, kini semakin kacau balau tak berbentuk. Ucapan Cakka tadi ditambah lagi dengan ucapan Tante Kintan baru saja terus berpendar dikepalanya tanpa henti.
            Tibalah Via didepan pintu kamar mandi yang tadi Kintan tunjukan. Sebelum membuka pintu kamar mandi, Via sempat menghela nafas panjang sejenak untuk menenangkan perasaannya. Seperti yang Gabriel selalu ajarkan padanya dulu, jika sedang menghadapi masalah sebesar apapun itu, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menenangkan diri dulu, jika sudah tenang, pasti akan sangat mudah baginya untuk menemukan jalan keluar. Mendadak  Via terkesiap, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia sama sekali tidak habis fikir dengan apa yang baru saja ia fikirkan. Gabriel? Buat apa lagi dia mengingatnya?
            Via meraih gagang pintu kamar mandi lalu menariknya. Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, tapi tiba-tiba saja…
            “AAAAAAAA….” Teriak Via sedikit keras sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
            “wooyy! Lo ngapain disana??” kata cowok itu dengan nada sedikit membentak sambil memasang baju kaosnya. Saat Via membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk dulu, untung saja cowok itu sudah mengenakan celananya, coba kalau belum, bisa terbayangkan apa yang akan terjadi?
            “so… sorry! Gue fikir nggak ada orang didalem. Lagian kenapa pintunya nggak dikunci sih?” Ucap Via sedikit mengomel. Via akhirnya membuka kedua matanya lalu menatap cowok tampan yang perlahan mendekatinya. Kedua mata Via terbelalak lebar, DIA LAGI?? Teriaknya dalam hati.
            “ELO LAGI??” Pekik Via tajam dengan nada yang tidak kalah keras dengan teriakannya tadi.
            Berbanding terbalik dengan reaksi yang Via tunjukan detik ini, cowok itu –Alvin- malah terlihat biasa-biasa saja dan bahkan terkesan santai, sangat santai.
            “lain kali bisa coba ketok pintu dulu, kan?” ucapnya sinis seraya berjalan santai melewati Via yang masih berdiri mematung didepan pintu. Ia seolah enggan menggubris kekagetan Via barusan.
            “heh! Tunggu!!” kata Via tidak ada manis-manisnya.
            Alvin menghentinkan langkahnya tapi tidak menoleh kebelakang.
            “ja… jangan bilang lo anaknya Tante Kintan yang mau dikenalin sama gue??” takut-takut Via berucap.
            “gue anaknya Tante Kintan. Kenapa?”
            “WHAAATT???!!”
            “Lo bisa nggak sih nggak usah tereak-tereak terus? Lo pikir suara lo enak apa didenger?? Dasar lebay!” bentak Alvin lantas berbalik. Ia lalu menatap Via dengan tatapan dinginnya.
            “elo bilang gue lebay? Elo tuh yang lebay!! Lo fikir gue nggak shock apa pas tau gue bakal dikenalin sama cowok songong kayak lo”
            “gue aja yang tau bakal dikenalin sama cewek SAKIT JIWA kayak lo biasa aja”
            “APAA?? Lo bilang gue sakit jiwa??”
            “kenapa? Lo nggak terima gue katain sakit jiwa?”
            Via memejamkan matanya lantas menghela nafas beberapa kali. Tenang, dia harus tetap tenang. Tidak penting meladeni ucapan Cowok ini, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya supaya kedua orang tua mereka membatalkan perjodohan mereka –setidaknya itu hanya difikiran Via saja-
            “jadi lo udah tau kalo lo bakal dikenalin sama gue?”
            “hmm…” gumam Alvin. Ia melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya kearan lain.
            Sekali lagi Via menghela nafas panjangnya lalu menghembuskannya dengan tidak sabar,
            “berarti lo juga udah tau kalo kitaaa….. kalo kita…”
            “ngomong yang jelas bisa, kan?!”
            “berarti lo juga udah tau kalo kita bakal dijodohin?” ulang Via dengan cepat.
            Alvin sedikit kaget mendengarkan penuturan Via barusan. Dijodohkan? Jelas saja hal itu tidak akan pernah terjadi, dan sampai kapanpun tidak akan terjadi. Apa Gadis Gila ini sedang bermimpi??
            “DIJODOHIN??” Tanya Alvin memastikan. Via mengangguk meskipun ragu,
            “NGAREP LO!!” Lanjut Alvin dengan nada yang benar-benar dingin. Alvin menggeleng beberapa kali, ia sama sekali tidak habis fikir, kenapa Tuhan harus menciptakan makhluk super aneh seperti Gadis yang ada dihadapannya ini.
            Saat Alvin akan melangkah pergi, Via langsung saja mencekal pergelangan tangannya,
            “maksud lo… kita berdua nggak pernah dijodohin??”
            “kata siapa kita bakal dijodohin?”
            Alvin menarik pergelangan tangannya dari genggaman Via dengan sedikit kasar, ia lalu melanjutkan langkahnya tanpa sedikitpun menoleh kebalakang.
            Via langsung merutuki kebodohannya sendiri. Ia baru sadar kalau ternyata Cakka hanya mengerjainya saja. Tidak bisa Via gambarkan bagaimana rasa malunya pada Alvin. Ia telah benar-benar mempermalukan dirinya dihadapan cowok angkuh yang sangat ia benci itu, tidak hanya itu, Alvin bahkan telah menginjak-injak harga dirinya.

            “Cakka…. Ini semua gara-gara lo. Awas lo ya?? CAKKAAAAAA….!!!!!”



                        BERSAMBUNG…