Thursday, January 30, 2014

0

You’re Mine [Part 6: Before You Be Mine]








Sebelumnya….

“Rio… aku kangen banget sama kamu…. Sayang….” Kedua mata Rio terbuka maksimal. Apa Rio tidak salah dengar? Apa benar Febby baru saja memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’? perlahan Rio mengangkat kedua tangannya, ragu-ragu ia memegang kedua pundak Febby, Rio memejamkan matanya untuk beberapa saat lalu melepaskan pelukan Febby darinya.
            “sayang….?” Tanya Rio dengan kedua alis bertaut.
            “iya, sayang….” Febby membuka kaca hitam yang sejak tadi membingkai wajah cantiknya lalu kembali membawa dirinya kedalam pelukan Rio. Satu hal yang bisa Rio tangkap saat ini: ternyata Febby masih menganggapnya sebagai pacar!
            “I miss you, Rio… I miss you so much” bisik Febby pelan didepan telinga Rio.
            “maaf, maaf karna aku udah bikin kamu nunggu selama 2 tahun ini. Maaf udah bikin kamu nunggu begitu lama, mulai hari ini aku nggak akan kemana-mana lagi, aku nggak akan ninggalin kamu lagi, Riooooo….” Febby semakin mempererat pelukannya pada Rio. Sementara Rio, ia hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Semua ini terlalu mengejutkan untuknya.
            Ify yang sejak tadi melihat apa yang Rio dan Febby lakukan dari kejauhan langsung bersembunyi dibalik sebuah pilar. Air matanya semakin deras menetes, sementara isakannya semakin kuat terdengar meskipun berkali-kali ia mencoba untuk meredam.

            “selamat datang kembali, Kak Febby…” Lirih Ify pelan.

            Ify berjalan perlahan meninggalkan tempat yang membuat dadanya terasa sesak. Hari ini, ia telah resmi melepas Rio. Seseorang yang selama 3 bulan ini menjadikan dirinya sebagai pilihan terindah, seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini melengkapi hidupnya ditengah-tengah ketidaksempurnaan yang ia rasakan.


***

Part 6

Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tau cinta…
Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa…


(Maha Dewi ~ Risalah Hati)


            Ketika waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, Rio dan Febby tiba dikediaman keluarga Ify, tempat dimana Febby akan tinggal selama di Indonesia. Sebenarnya tadi Rio cukup cemas ketika mendapati SMS dari Ify, Ify berkata bahwa ia sudah pulang terlebih dahulu, dan Rio sangat kecewa saat menyadari bahwa semua apa yang terjadi hari ini adalah bagian dari rencana Ify yang sudah ia susun dengan serapih mungkin tanpa sepengetahuan Rio. Dan hal itu membuat Rio merasa bodoh karna telah dikelabui oleh kekasihnya sendiri.
            Rio dan Febby keluar dari Jaguar milik Rio secara bersamaan, kedatangan mereka disambut oleh Pak Aji, supir keluarga Ify. Setelah mengucapkan selamat datang, Pak Aji langsung membantu mengeluarkan koper Febby dari bagasi.
            Febby mengamit lengan Rio lalu berjalan beriringan kearah beranda. Sebenarnya Rio agak risih dengan perlakuan Febby itu, tapi mau bagaimana lagi?
            Tepat saat Febby akan menekan bel, secara tiba-tiba pintu rumah bergaya minimalis itu terbuka. Senyuman manis dari Ify langsung menyambut kedatangan mereka berdua malam itu.
            “selamat datang, Kak Febby….” Ucap Ify penuh semangat. Dan wajah polos Ify yang seakan tanpa dosa itu membuat hati Rio terasa sangat sakit. Belum pernah selama ini Ify membohonginya seperti ini.
            “Ifyyyy…. Kak Febby kangen banget sama kamu” Febby memeluk Ify seerat mungkin. Ify pun menepuk pelan punggung Febby beberapa kali. Tanpa bisa Ify hindari lagi, kedua matanya langsung menangkap tatapan mata Rio yang saat itu terlihat terluka. Ify tahu dan sadar akan kesalahan yang telah ia lakukan, ia telah membuat kekasihnya itu kecewa, dan Ify sama sekali tidak bisa menghindari dirinya dari rasa bersalah yang kelamaan memenuhi ruang didadanya.
            “Ify juga kangen sama Kak Febby…” ucap Ify dengan suara lirih. Ia menatap nanar kedua mata Rio yang semakin dalam menatap kedua matanya.
            “rencana kamu berhasil, Fy. Makasih ya?” bisik Febby pelan. Ify hanya mengangguk lemah.
            “Febby!” panggil Mama Ify dari dalam rumah. Febby segera melepaskan pelukannya dari Ify sesaat setelah ia mendengar panggilan itu.
            “Tanteee…” Febby berjalan kearah Mama Ify lalu memeluk Tante kesayangannya itu dengan penuh kasih.
            Ify hendak menyusul Febby kedalam. Tapi sebelum Ify berbalik dan melangkahkan kakinya, tangan kokoh milik Rio tahu-tahu mencekal pergelangan tangannya. Mau tidak mau Ify akhirnya berbalik menatap Rio.


            “aku tunggu penjelasan dari kamu mengenai semua ini, dan aku minta pertanggung jawaban kamu!”



***


            Via berjalan gontai kearah pintu ketika ia mendengar ada seseorang yang memencet bel dari luar. Kedua tangan Via terulur untuk membuka pintu, dan kedua matanya langsung membelalak lebar ketika melihat seseorang yang berdiri didepan rumahnya dengan senyuman super lebar dan salah satu tangan melambai. Via yang merasa sangat terkejut melihat kedatangan Alvin yang secara tiba-tiba ini berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya. Via bersedekap, ia mendesah pelan lalu membuang tatapannya kearah lain. Satu pertanyaan timbul dikepalanya; dari mana Alvin tahu rumahnya?
            “selamat hari minggu, Viaaaaa!! Sambutan yang sangat menyenangkan untuk seorang tamu yang baru pertama kali berkunjung” kata Alvin penuh semangat seakan menyindir perlakuan Via padanya yang sama sekali jauh dari harapan. Tapi Alvin tidak peduli, ia sudah kepalang basah menghadapi sikap cuek Gadis beraut manis ini.
            Via menatap Alvin dengan pandangan tidak percaya, lalu tidak lama Via pun buka suara,
            “lo tau darimana rumah gue?!” Tanya Via setengah membentak. Ia terlihat seperti seorang Preman yang tengah menodong korbannya.
            “apa sih yang nggak bisa gue lakuin demi cewek yang udah nyuri hati gue sejak pertama kali ketemu? Nemuin alamat rumah lo bukan hal sulit buat gue” jawab Alvin menyombongkan diri. Via tersenyum sinis.
            “terus mau apa lo kesini?”
            “gue mau nunjukin sesuatu sama lo” jawab Alvin apa adanya seraya mengangkat salah satu alisnya.
            “sorry, gue nggak ada waktu!”
            Tepat ketika Via akan menutup pintu, tiba-tiba saja Dyna muncul lalu berusaha menghentikan Via,
            “eeehhh… Rea! Itu ada tamu, kenapa pintunya malah mau ditutup??” Dyna berjalan kearah pintu dan berdiri tepat disamping Via, ia melempar senyum terbaiknya kearah Alvin. Sepertinya cowok ini teman sekolah Via, fikir Dyna! Dan Dyna merasa sangat senang ketika tahu ada salah satu teman sekolah Via yang datang kerumah, apalagi itu seorang cowok. Yang itu artinya, Via sudah mulai membuka diri dengan pergaulannya disekolah.
            Dyna mengalihkan tatapannya kearah Alvin. Alvin sedikit menunduk lalu tersenyum sungkan pada Dyna,
            “selamat pagi Tante, kenalin saya Alvin, temen sekolah Via” Alvin mengulurkan tangannya dan berusaha bersikap semanis mungkin. Terus terang, Via merasa muak dengan sikap Alvin yang menurutnya sok manis itu.
            Dyna membalas senyuman Alvin lalu menerima uluran tangan Alvin,
            “saya Dyna, Tante nya Via” 2 detik kemudian, Alvin dan Dyna melepaskan jabatan tangan mereka. Tapi tiba-tiba saja, Alvin merasa pernah melihat Dyna sebelumnya. Alvin berusaha memutar kembali memorinya, tapi semuanya seakan abu-abu. Alvin menggeleng pelan, sepertinya Cuma perasaannya saja.
            “kalo boleh Tante tahu, Alvin kesini dalam rangka apa, ya?” Tanya Dyna berusaha terdengar seramah mungkin. Alvin melirik kearah Via yang justru dibalas oleh Via  dengan pelototan tajamnya. Alvin tersenyum geli lalu kembali menatap Dyna yang masih menunggu jawaban darinya,
            “mau ngerjain PR Biology, Tan. Ada beberapa soal  kurang saya mengerti, dan sepertinya Via bisa bantu” Alvin lagi-lagi melirik kearah Via yang saat itu terlihat sangat kaget setengah mati, sedetik kemudian Alvin pun mengedipkan mata sebelah kirinya.

            Pria ini benar-benar sinting! Fikir Via.



***

Adhirajasa’s House

            “Shilla, ngapain disini?” Tanya Cakka seraya menuruni anak tangga ketika melihat Shilla yang pagi itu sudah duduk diruang keluarganya.
Shilla terkesiap, dan ia sedikit merasa canggung. Entah kenapa setiap kali Cakka menyebut namanya seperti itu, hatinya selalu berdebar. Mengingat selama disekolah Cakka tidak pernah sekalipun memanggil namanya membuat Shilla sangat merindukan suara Cakka ketika sedang memanggil namanya, dan Shilla selalu mendambakan saat itu, saat dimana Cakka akan memanggil namanya dan mengajaknya mengobrol walaupun hanya sebentar.
            Shilla bangkit dari duduknya ketika Cakka berjalan menghampirinya,
            “Tante Shanaz yang minta aku kesini, katanya Tante minta ditemenin Shoping” jawab Shilla gugup. Cakka hanya mengangguk paham lalu duduk di Sofa panjang yang tadi Shilla duduki.
            “ya udah duduk! Kenapa berdiri?” Tanya Cakka sambil meraih majalah otomotif yang terletak diatas meja. Shilla berusaha mengontrol detak jantungnya semakin tidak beraturan. Shilla lalu duduk disamping Cakka yang ketika itu tengah focus dengan majalah yang ada ditangannya.
            Perhatian Shilla tiba-tiba saja tertuju pada tangan kiri Cakka. Pada jari manisnya bertengger cincin pertunangan mereka. Melihat Cakka yang ternyata masih menggunakan cincin itu membuat hati Shilla berbunga. Meskipun pada kenyataannya, Cakka hanya menggunakan cincin itu karna terpaksa, tapi Shilla sangat bahagia.
            “aku nggak pernah tau kalo ternyata kamu suka otomotif” kata Shilla ragu-ragu berusaha mencairkan suasana beku diantara mereka. Cakka tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca. Dan Cakka tidak pernah tahu betapa bahagianya Shilla melihat senyuman itu.
            “nggak bisa dibilang suka juga sih” jawab Cakka seadanya lalu membalik lembar majalah itu. Shilla hanya mengangguk sambil menggumamkan kata ‘oh’, dan setelah itu Shilla tidak tahu harus berkata apalagi.
            Semuanya kembali hening, waktu yang berjalan seakan lambat dan melempar kedua insan ini pada keheningan yang tak dapat terhindarkan lagi.
            “Shill…” panggil Cakka pelan tanpa mengalihkan tatapannya. Keheningan itu akhirnya terpecah,
            “emm?”
            “maaf ya?”
            “buat?”
            Cakka menutup majalah yang sejak tadi menjadi titik fokusnya, ia lalu menghadap Shilla hingga kini mereka duduk berhadapan. Deg… tatapan Cakka yang begitu lembut membuat Shilla luluh, dan detakan jantungnya semakin lama semakin kuat ,semakin tidak  dapat juga ia kendalikan.
            “buat semua yang udah terjadi sama kamu selama 1 bulan ini”
            “maksudnya?” Tanya Shilla tak paham.
            Cakka menghela nafas beratnya lalu meraih salah satu tangan Shilla. Perasaan Shilla semakin tidak menentu, itu sentuhan pertama Cakka yang sukses membuat aliran darahnya berdesir.
            “maaf udah bikin kamu terjebak dalam pertunangan yang tidak pernah kamu inginkan ini, aku janji Shill… suatu saat nanti aku akan bebasin kamu dari keadaan ini, aku janji sama kamu, Ashilla…” kata Cakka sungguh-sungguh sambil menatap mata Shilla sedalam-dalamnya.
            Mendengar ucapan Cakka barusan, Shilla merasa jantungnya seperti dihantam. Jadi selama ini Cakka tidak hanya menganggap bahwa pertunangan mereka tidak pernah ada, tapi Cakka juga menganggap bahwa Shilla tidak pernah menginginkan adanya pertunangan ini. Rasanya Shilla ingin berteriak sekeras mungkin, Shilla ingin Cakka tahu bahwa dia sangat bahagia dengan pertunangan ini, sekalipun Cakka tidak merasakan hal yang sama.
            Shilla merasakan kedua matanya mulai memanas dan telah siap mengeluarkan air mata. Sebisa mungkin Shilla menahan, Shilla tidak ingin menangis dihadapan Cakka, tidak setelah Cakka mengatakan prasangkanya beberapa detik yang lalu, prasangka yang Shilla tahu sangat bertentangan dengan hatinya.
            Cakka semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Shilla, Cakka lalu tersenyum dan mengusap pundak Shilla beberapa kali untuk menguatkan hatinya. Beberapa saat kemudian Cakka bangkit dari samping Shilla lantas berkata,
            “aku harus kerumah singgah, Shill. Kamu tunggu aja Mama disini, paling bentar lagi turun” Cakka mengusap lembut puncak kepala Shilla lalu pergi meninggalkan Shilla seorang diri diruang keluarga itu. Beberapa saat setelah Cakka pergi dari tempat itu, air mata yang sejak tadi Shilla tahan akhirnya berdesakan keluar.

            “aku tidak pernah berharap kamu akan bebasin aku dari keadaan ini, Kka. Aku justru ingin selamanya terjebak dalam keadaan ini sama kamu, dan itu semua karna aku sayang sama kamu, Cakka… kapan kamu mau ngerti??” lirih Shilla pelan.



***

            “tadi katanya lo mau nunjukin sesuatu sama gue, apa yang mau lo tunjukin?” Tanya Via pada Alvin yang saat itu tengah sibuk –lebih tepatnya berpura-pura sibuk- dengan PR Biologynya.
            “yakin lo mau tau?” Tanya Alvin meyakinkan. Via menghela nafas kesal lalu membuang mukanya kearah lain.
            “nggak usah banyak omong deh!” bentak Via. Alvin tersenyum lalu mengkat wajahnya dari buku tulisnya. Awalnya Via berfikir bahwa Alvin akan menjawab pertanyaannya tadi, tapi ternyata…
            “soal nomer 2 gimana nih?” Tanya Alvin dengan wajah sok polos. Via menelan bulat-bulat kekesalannya pada cowok menyebalkan ini.
            Via menatap Alvin sekilas dengan tatapan pembunuh, ia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan cowok yang hampir selalu membuatnya kesal ini. Setelah berfikir sejenak, Via pun memutuskan untuk meninggalkan Alvin dan masuk kekamarnya. Via bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki, dan saat ia berjalan melewati Alvin, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya hingga membuat langkah Via terhenti seketika. Via memejamkan matanya dan berusaha untuk sabar dalam menghadapi tingkah cowok ini.
            “kenapa sih lo selalu jutek tiap kali berhadapan sama gue? Tapi nggak masalah sih buat gue, justru hal itu semakin membuat tergila-gila sama lo” kata Alvin lembut, tapi justru Via merasa muak dengan ucapan Alvin barusan.
2 minggu bersekolah di SMA Patuh Karya sudah cukup membuat Via tahu bagaimana reputasi cowok yang terkenal sebagai Cassanova disekolahnya ini. Dan Alvin pasti tidak hanya mengucapkan kalimat itu pada dirinya seorang. Entah Via gadis keberapa yang sudah Alvin gombali seperti ini.
            “lepasin-tangan-gue!” pinta Via dengan tegas. Alvin menggeleng pasti. Via berdecak kesal lalu berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Alvin, tapi sia-sia. Alvin justru semakin erat mencekal pergelangan tangan Gadis itu.
            “lo bener-bener pengen tau apa yang mau gue tunjukin sama lo?” Tanya Alvin sekali lagi. Via tampak berfikir, tidak lama Via pun mengangguk pelan. Saat itulah Alvin langsung melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Via.
            “duduk!” perintah Alvin dengan nada yang mendadak dingin. Via diam ditempatnya dan berusaha untuk mengabaikan perintah Alvin. Merasa tidak mendapatkan respon dari Via, Alvin kembali berkata,
            “duduk kalo lo bener-bener pengen tau apa yang mau gue tunjukin ke elo”
            “elo –“ ucap Via kesal dengan nada tertahan. Alvin menampakkan raut masa bodoh. Ia kembali focus dengan PR Biology nya, tapi sebelum itu Alvin sempat berkata,
            “ya udah kalo lo nggak mau”
            Via yang sudah benar-benar merasa berada dipuncak kekesalannya pun akhirnya memilih –dengan sangat terpaksa- untuk mengikuti perintah Alvin. Via kembali duduk dihadapan Alvin. Dan tanpa Via tahu, Alvin tersenyum menang saat itu juga. Ternyata menaklukkan Gadis ini tidak sesulit seperti apa yang ia bayangkan diawal.
            “apa yang mau lo tunjukin?!”
            Tanpa banyak bicara Alvin mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkannya pada Via,
            “liat video yang ada di Gallery!”
            Via menatap Alvin dengan pandangan bertanya. Buat apa juga Alvin memintanya untuk melihat ponselnya?
            “buat apa??”
            “lo masih pengen tau kan apa yang mau gue tunjukin sama lo?! Ya udah liat ini! Jangan bawel!!” kata Alvin sedikit ketus sambil menirukan gaya jutek yang biasanya Via tunjukan padanya. Via melotot, tapi Alvin bergeming.
            Dengan ogah-ogahan Via menerima ponsel Alvin. Ia pun mengikuti perintah Alvin tadi untuk membuka Gallery dan melihat video yang ada disana. Sementara Via tengah sibuk berkutat dengan ponsel miliknya, Alvin kembali focus dengan PR Biology nya.
            Via akhirnya membuka video yang tadi Alvin maksudkan. Dan Via langsung kaget setengah mati ketika melihat bahwa itu adalah video dirinya yang sedang mengendap-endap masuk keruang ganti lalu membuka loker milik Cakka dan mengambil sesuatu dari sana.
            “I… ini? Kok bisa??” Tanya Via yang benar-benar shock, tapi Alvin malah terlihat santai-santai saja dan tidak menunjukan reaksi yang berarti.
            “dari mana lo dapetin ini? Lo rekam sendiri?!” Tanya Via lagi. Dan Via benar-benar tidak bisa menyembunyikan nada takut yang terdengar dari cara bicaranya.
            Alvin akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Via dengan senyuman mematikan yang selalu menjadi andalannya.
            “ya! Gue rekam sendiri.”
            “elo…”
            “gue tau lo ngelakuin ini buat ngebantu sahabat-sahabat lo untuk wawancarai Cakka, tapi tetep aja cara lo ini salah dan nggak sportif”
            “tapi –“
            “lo nggak bisa ngelak lagi, Via! Sekarang kita lihat, seberapa tinggi rasa solidaritas lo sama sahabat-sahabat lo itu”
            “maksud lo?”
            Alvin tersenyum licik lalu menjawab pertanyaan Via.
            “lo bisa bayangin apa yang akan terjadi kalo sampe video ini sampai ditangan Cakka?” Alvin sebenarnya tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya itu, ia hanya ingin menggertak Via saja untuk mencapai satu tujuannya. Semalaman penuh Alvin memikirkan hal ini, dan pagi ini, saat ia tiba dirumah Via, ia sudah yakin bahwa ia benar-benar akan melakukan semua ini.
            “elo –“
            “lo perlu inget, kalo Cakka itu juga sahabat gue, dan gue nggak terima sahabat gue diperlakuin dengan cara dibodohin seperti ini”
            “terus lo mau apa?”
            Alvin bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan lalu berlutut dihadapan Via yang saat itu duduk disofa. Alvin menatap kedua manik Via mata seintens mungkin. Sekali lagi Alvin memamerkan senyuman mematikannya dan membuat Via menelan ludah.
            “sejak awal gue suka sama lo, dan lo tau itu meskipun gue nggak pernah nyatain secara langsung sebelum hari ini”
            Via mengangguk paham beberapa kali. Sedikit demi sedikit Via mulai paham dengan apa yang Alvin inginkan.
            “terus lo berharap gue bakalan suka rela nerima lo dan jadi korban lo selanjutnya?!” senyum Alvin perlahan menghilang. Ternyata status play boy yang selama ini ia pegang justru membuatnya terlihat tidak baik dimata Via, seorang Gadis yang untuk pertama kalinya membuatnya berjuang mati-matian demi mendapatkan sebuah perhatian selama 2 minggu terakhir ini.
            “gue emang play boy! Dan gue nggak akan mungkirin itu, tapi satu hal yang harus lo tau, gue bener-bener suka sama lo dan ini adalah salah satu cara yang bisa gue lakuin buat merjuangin perasaan gue keelo”
            “jadi intinya lo mau gue jadi pacar lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin video ini ke Cakka, begitu? Lo mau coba-coba ngancem gue?!” kata Via dengan nada meninggi. Alvin menggeleng pelan, berusaha menyangkal apa yang Via tuduhkan padanya.
            “gue nggak ngancem lo. Gue Cuma mau ngelakuin apa yang mau gue lakuin, gue suka sama lo dan gue mau lo jadi cewek gue. Terserah lo mau nganggep gue ngancem lo atau apapun itu, gue nggak peduli, yang jelas gue ngelakuin ini buat nunjukin ke elo kalo gue, Alvino Joshua Aryadinata bener-bener pengen serius sama lo”
            “tapi gue nggak suka sama lo!” kata Via dengan tegas. Ucapan Via itu akhirnya telak menohok dada Alvin.
            “gue tau! Untuk itulah gue mau lo jadi cewek gue. Kasi gue waktu 1 bulan. Kalo dalem waktu satu bulan gue nggak bisa bikin lo suka sama gue, lo boleh pergi dan mutusin gue”
            Via menggeleng beberapa kali. Ternyata Alvin ini benar-benar licik, ia juga tahu apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Via tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia memang tidak pernah ada rasa pada Alvin bahkan sejak awal, tapi jika Via menolak Alvin, Alvin pasti akan menyerahkan video itu pada Cakka, dan kalau sampai video itu sampai ditangan Cakka, Cakka pasti akan membatalkan wawancaranya dengan Agni besok. Tapi bukan hanya itu masalahnya, masalah lainnya adalah, Cakka pasti akan membencinya kalau sampai Cakka tahu Via melakukan cara yang tidak sportif hanya untuk membuat Cakka mau diwawancarai, dan jika sudah begitu, Cakka pasti akan membencinya, dan Via tidak mau Cakka membencinya.
            “seenggaknya ijinin gue buat nunjukin ke elo kalo gue bener-bener serius sama lo dan nggak main-main sama lo. Anggep aja ini sebagai try out sebelum lo bener-bener jadi milik gue seutuhnya” kata Alvin sungguh-sungguh.
            “kenapa lo begitu yakin kalo lo bisa bikin gue jatuh cinta sama lo dan jadi milik lo seutuhnya?” Tanya Via. Alvin menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama Alvin meraih tangan kanan Via lalu meletakkanya tepat didadanya,
            “karna ini! Sejak awal gue ngeliat lo, gue udah yakin kalo lo emang buat gue, kalo lo emang milik gue!”
            “hahaha…” Via tertawa sinis dan terkesan hambar. Bagaimana bisa Alvin begitu yakin dengan dirinya sementara mereka baru kenal 2 minggu yang lalu, bahkan selama 2 minggu ini hubungan mereka pun tidak cukup baik. “lo konyol!!” cerca Via.
            “gue emang konyol!”
            “lo baru kenal gue 2 minggu Alvin! Bagaimana lo bisa begitu yakin dengan semuanya?”
            “hati gue nggak pernah salah dalam merasa”
            “apa lo selalu ngelakuin cara ini buat macarin korban-korban lo sebelum gue?”
            “Cuma lo yang bisa bikin gue ngelakuin cara ini, Via…” jawab Alvin dengan mantap dan yakin.
Via langsung bungkam seketika saat mendengar jawaban yang Alvin lemparkan padanya. Via menatap dalam kedua mata Alvin, berusaha mencari ketidaksungguhan yang terpancar dari kedua mata cowok yang terkenal sebagai Play Boy ini, tapi sayang… Via sama sekali tidak menemukan pancaran ketidaksungguhan dari kedua mata Alvin. Atau apa memang Alvin terlalu pintar menyembunyikan kebusukannya didepan korban-korbannya? Dan Via merasa terpukul saat ia menemukan pancaran kesungguhan dan ketulusan terpancar dari sepasang indera pelihat Alvin. Ah… apa Via telah benar-benar takluk oleh rayuan gombal Play Boy ini?
            Setelah cukup lama berfikir dan berdebat dengan bathinya, Via akhirnya menghela nafas beratnya. Ia bangkit lalu berjalan perlahan dan sedikit menjauh dari jarak Alvin sekarang.

            “oke! Gue mau jadi cewek lo. Tapi hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”

            Awalnya Via ingin menjebak Cakka supaya Cakka mau diwawancarai dengan cara mengambil kunci mobilnya dan berpura-pura menjadi pahlawan. Tapi sekarang, cara yang Via gunakan itu malah berubah menjadi senjata yang balik menyerangnya. Senjata makan tuan, itulah yang Via rasakan sekarang. Dan hari ini, hingga sebulan yang akan datang, ia akan menjadi pacar Alvin dan akan menjadi salah satu korban Alvin selanjutnya. Alvin boleh tertawa puas setelah ini.





                        BERSAMBUNG…

0

You’re Mine [Part 5: Welcome Back, Febby!]








Sebelumnya…


“gimana bunganya? Lo suka?” Via yang merasa terkejut langsung menoleh kebelakang, dan kedua matanya membelalak lebar ketika ia mendapati sosok Alvin yang sedang berdiri dibelakangnya dengan jarak wajah yang hanya berjarak beberapa centi saja, bahkan saking dekatnya jarak diantara mereka, mereka bisa merasakan desauan nafas masing-masing yang terasa hangat.
            Alvin memamerkan senyuman mematikan andalannya yang mendadak membuat Via memeleh hanya dalam hitungan detik saja. Senyuman mematikan milik Alvin itu selalu mampu membuat Gadis mana saja jatuh cinta, tapi apa hal itu berlaku juga buat seorang Via?
            Kedua mata Alvin menghujam dalam kedua manik mata milik Via. Untuk beberapa saat Via terpaku, rasanya ia ingin mengalihkan tatapannya dari kedua mata itu, tapi kenapa ia justru merasa semuanya sulit. Tatapan Alvin seakan menjelma menjadi sebuah magnet yang menarik penuh perhatiannya.
            Setelah cukup lama Via akhirnya tersadar, ia mendorong pelan dada Alvin hingga jarak mereka sedikit menjauh. Via berusaha bersikap wajar lantas berkata,
            “ini semua dari lo?” Tanya Via dingin. Alvin hanya mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah manis Via.
            “kalo gitu, lo ambil kembali, gue nggak butuh” Via meraih tangan Alvin lalu menyerahkan bunga beserta foto itu secara paksa, dan Alvin malah menerimanya dengan begitu saja.
            Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung keluar kelas dan menyisakan Alvin seorang didalam sana. Alvin menghela nafas panjangnya, kenapa sulit sekali mendekati Gadis itu? Tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin gentar, ia justru semakin merasa penasaran dengan sosok seorang Via.


            “ini baru awal, Via….”


***

Part 5

Saat masa lalu itu datang kembali dan membentang sebuah prahara. Lalu bagaimana mereka harus bertahan? Masih adakah harapan tentang masa lalu terselip dalam setiap langkah yang mereka pijaki? Mulut boleh mengatakan ‘TIDAK’ , tapi kedalaman hati seseorang adakah yang bisa mengukur? Selamat datang kembali serpihan kisah masa lalu… semoga bagian demi bagian dari serpihanmu itu tidak akan melukai siapapun, tidak kamu, tidak dia, tidak juga kalian….


***


            Waktu yang diberikan Pak Iqbal untuk mewawancarai Cakka hanya tinggal 1 minggu lagi. Sementara Agni dan Shilla sibuk mencari cara bagaimana mewawancarai Cakka, Dea, Zevana dan Aren yang memang bertugas dimeja redaksi terus mendesak mereka. Hal itu membuat Agni gerah dan membuat Ify yang bertindak sebagai ketua merasa kuwalahan.
            Menyaksikan kesibukan sahabat-sahabat barunya itu membuat Via merasa perlu menolong mereka meskipun secara diam-diam. Setelah mengecek jadwal latihan basket dari jadwal milik Agni, sepulang sekolah nanti, Via sudah memiliki rencana. Dimana yang tahu rencana itu hanya dirinya. Dan Via sudah memtuskan untuk melakukan hal ini secara diam-diam dan tanpa sepengatahuan siapapun.
            Setelah menyaksikan kesibukan sahabat-sahabat barunya diruang redaksi, Via pun memilih untuk pergi dari sana. Via berjalan kearah gedung IPS, gedung dimana Cakka berada. Beberapa meter dari gedung jurusan IPS, Via melihat Cakka yang saat itu tengah sibuk berkutat dengan buku paket yang ada ditangannya disebuah bangku panjang yang terdapat didepan gedung IPS. Via menghentikan langkahnya lalu memperhatikan Cakka secara diam-diam. Dari jauh, Via berusaha membaca apa isi kepala Cakka. Kenapa cowok berpembawaan dingin itu sangat sulit diajak kerja sama?
            Cukup lama Via memperhatikan Cakka dari kejauhan, bahkan ia sendiri sama sekali tidak sadar sudah berapa banyak waktu ia habiskan untuk memperhatikan pemuda itu. Pesona Cakka seakan menjadi magnet. Dan jauh dilubuk hatinya yang terdalam, Via mulai memuji betapa indahnya pemuda yang satu itu.
            “ngapain digedung IPS, Vi??” Tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul disamping Via dan membuatnya terkejut. Via memegangi dadanya, berusaha mengontrol detak jantungnya yang berlari cepat. Via menoleh kesamping lalu mendapati Alvin yang saat itu sedang menatapnya dengan pandangan bertanya. Via sedikit mendesis, entah kenapa, sejak Alvin memberikannya bunga Krisan seminggu yang lalu, Via merasa sedikit terganggu dengan keberadaan cowok ini.
            Sejak lama, Via memang selalu merasa terganggu dengan cowok-cowok yang berusaha mendekatinya dan merebut hatinya. Semenjak pengkhinatan Papa nya yang menyebabkan kematian Mama nya 6 tahun lalu, Via sudah tidak percaya lagi dengan apa itu yang namanya cinta. Dan Via selalu berusaha mengunci pintu hatinya rapat-rapat saat ada seseorang yang datang dan mencoba untuk mendekat.
            “ngagetin aja!” kata Via sedikit sinis.
            “sorry” sesal Alvin dengan tatapan matanya yang selalu tampak menggoda seperti sebelum-belumnya. Via menghela nafas panjang, dan tepat saat ia akan melangkah pergi, Alvin secepat kilat langsung mencekal pergelangan tangannya,
            “lo belom jawab pertanyaan gue tadi, Vi…”
            Via menghentakkan pergelangan tangannya dari genggaman Alvin dengan sedikit keras. Usaha Via tidak sia-sia, karena kini pergelangan tangannya sudah terbebas dari cekalan Alvin. Via menatap Alvin sedikit tajam,
            “bukan urusan lo!” jawab Via tidak kalah sinisnya dengan perkataannya tadi. Alvin akhirnya menyerah dan membiarkan Via pergi begitu saja.
            Beberapa saat setelah kepergian Via, perhatian Alvin pun tertuju pada objek yang sejak tadi menjadi titik focus Via. Dan saat itu juga Alvin merasa seperti ada sesuatu yang terbakar didadanya. Benarkah sejak tadi Via memperhatikan Cakka? Tapi untuk apa?



***


            ‘AKHIR MINGGU INI FEBBY AKAN KEMBALI’ kata-kata itu terus saja membayangi kepala Ify sejak seminggu yang lalu. Dan setiap kali mengingat akhir minggu, Ify selalu merasa ada yang mengganjal dihatinya. Ia takut kepulangan Febby nanti akan mengubah arah hati Rio yang selama 2 tahun terakhir ini hanya tertuju pada dirinya seorang, dan Ify gamang membayangkan kepulangan Febby nanti akan mengabkitbakan Rio merasa dilemma hingga akhirnya goyah dan menyerah pada masa lalu, Ify takut Rio akan ‘membuangnya’.
            Baru 3 bulan ia resmi mengecap bahagia menjadi milik seorang Rio, haruskah semua kebahagiaan singkat itu berlalu begitu saja hanya karna kembalinya masa lalu Rio yang –mungkin- hingga saat ini masih Rio harapkan. Rio mungkin tidak mengatakan hal itu secara langsung, tapi kedalaman hati seseorang siapa yang bisa mengukur?
            Karena fikirannya yang terus tertuju pada apa yang akan terjadi diakhir minggu ini, Ify sampai tidak focus dengan penjelasan materi yang tengah disampaikan oleh seorang Guru Biology didepan kelas, bahkan Ify tidak sedikitpun mendengarkan penjelasan itu. Matanya memang mengarah kearah Papan tulis, tapi fikirannya sedang berkelana jauh. Menyadari bahwa ada salah seorang siswinya yang tidak focus dengan mata pelajarannya, Bu Winda berdehem cukup keras lalu menegur Ify,
            “Difty Alyssa Anggara”
            Merasa namanya dipanggil, Ify langsung tertarik dari lamunan panjangnya. Perhatian seisi kelas langsung tertuju pada Ify, dan Dea yang duduk dibangku pojok depan menatap Ify seraya tersenyum sinis.
            “apa nama senyawa kimia penyusun sel?” todong Bu Winda tanpa tedeng aling-aling.
            Ify menghela nafas panjangnya, lalu tanpa semangat Ify menjawab, “Protoplasma”
            Tepat, jawaban Ify tepat sekali. Tapi hal itu tidak lantas membuat kemarahan Bu Winda mereda. Beliau mendesah tidak sabar lantas melanjutkan omelannya,
            “saya tau kamu pintar, Difty! Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya tidak memperhatikan penjelasan saya”
            “maafkan saya, Bu…” sesal Ify.
            “sekali lagi kamu ulangi kesalahan kamu ini, maka saya tidak akan segan-segan mengeluarkan kamu dari kelas saya, dan saya tidak peduli mau kamu sepintar apapun. Mengerti?”
            “mengerti, Bu…”
            Bel tanda berakhirnya jam pelajaran siang itu akhirnya menyelamatkan Ify dari omelan Bu Winda. Bu Winda terlihat berusaha keras menahan emosinya. Dengan langkah secepat kilat, Bu Winda kembali ke mejanya lantas berkata pada seluruh siswanya,
            “kerjakan soal essay halaman 50, dari nomer 1 sampai 10” titahnya tegas lalu keluar dari kelas. Semua siswa kelas XI IPA 3 langsung mendesah kecewa.
            Alvin menatap Ify dengan tatapan tak suka lantas berkata,
            “ini semua gara-gara lo!”
            “maksud lo?” Tanya Ify tak paham seraya memasukan buku-bukunya kedalam tas.
            “pake nanya lagi lo! Coba tadi lo nggak ngelamun ditengah-tengah jam pelajaran, Bu Winda pasti nggak akan ngasih kita PR sebanyak ini. Pokoknya gue nggak mau tau, besok lo harus kasi gue contekan, ngerti?”
            “modus banget sih lo??” sambar Ify cepat dengan wajah tidak habis fikir, “katanya calon Dokter, calon Dokter Bulshit??” lanjut Ify dengan sindiran tajamnya. Alvin langsung menyeriangi,
            “gue nggak pernah bilang gue mau jadi Dokter” ucap Alvin pelan lalu bangkit dari bangkunya. Ify hanya tersenyum meremehkan. Sebelum Alvin keluar dari kelas, ia sempat melirik Via sejenak. Via yang menyadari bahwa Alvin sedang menatapnya lebih memilih untuk mengacuhkan Alvin, Alvin mendesah pelan lalu segera angkat kaki. Ternyata butuh usaha yang super ekstra untuk menarik perhatian Gadis yang satu itu.
            “tadi lo kenapa, Fy? Kok ngelamun gitu sampe bikin Bu Winda marah?” Tanya Via beberapa saat setelah Alvin keluar dari kelas. Sebagai jawaban dari pertanyaan Via, Ify hanya menggeleng.
            “masih mikirin soal wawancara sama Cakka?” Tanya Via ragu-ragu. Kali ini Ify langsung menoleh kearah Via, ia tersenyum dan menjawab,
            “iya kali, hehehe….” Jawab Ify sambil nyengir. Tapi justru cengirannya itu terlihat hambar dimata Via.
            “kalo gitu gue duluan, ya?” pamit Via seraya memasang tas nya.
            “nggak bareng?”
            “nggak. Gue masih ada urusan lain sebelum pulang” jawab Via sekenanya. Ify mengangguk, beberapa saat Via pun keluar kelas setelah sebelumnya melempar senyum serta mengusap pundak Ify beberapa kali.
            Ketika Ify hendak bangkit dari bangkunya, Rio tiba-tiba saja datang kekelasnya. Ia merangkul pundak Ify lalu mengusap puncak kepalanya dengan gemas.
            “Rio apa-apaan sih??” ujar Ify kesal dengan nada manja cirri khasnya. Nada manja itu justru membuat Rio semakin gemas, kali ini ia mengecup puncak kepala Ify dan sama sekali tidak menghiraukan tatapan cemburu yang ditunjukan oleh Dea yang ternyata masih didalam kelas.
            “Rio nggak usah kayak gitu deh, kita ini masih dilingkungan sekolah, nanti kalo Guru ngeliat gimana??”
            “oya? Emangnya aku peduli?” Tanya Rio cuek yang sukses membuat Ify mengerucutkan bibirnya. Rio terkekeh geli, ia meraih tangan Ify lalu membawa Ify keluar dan meninggalkan Dea yang nelangsa.
            “jalan yuk!”
            “tapi Yo … aku harus ngerjain PR”
            “nanti juga bisa”
            Ify yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi akhirnya berusaha pasrah dan mengikuti kemana Rio akan membawanya pergi hari ini. Tapi saat ia kembali mengingat akhir pekan nanti, Ify kembali merasakan gejolak didadanya. Apa Rio tetap akan bersikap semanis ini padanya jika nanti Febby kembali lagi? Dan apa ia akan tetap menjadi pilihan Rio saat nanti Febby pulang dan menuntut cinta Rio kembali? Ah… ify terlalu takut membayangkan hal itu, dan dadanya selalu terasa sesak tiap membayangkan hal apa yang akan terjadi nanti.
            Biarkanlah Ify menjalani apa yang terjadi hari ini. Selama Rio menjadi miliknya, maka selama itu pula Ify akan sanggup bertahan melawan apapun.



***

            Dari kejauhan Via memperhatikan Cakka yang saat itu sedang berlatih basket bersama Timnya. Ketika kedua mata Cakka nyaris menangkap sosok dirinya, Via langsung bersembunyi dibelakang pohon palem yang cukup besar. Via memegangi dadanya sendiri, dan getaran itu kembali menyerang jantungnya tanpa ampun, kenapa selalu seperti ini? Apa hebatnya pemuda itu hingga bisa membuat Via berdebar-debar setiap kali mereka bertemu seperti ini?
            Via mengintip dari balik pohon, Cakka yang saat itu tampak focus mendrible bola semakin membuat perasaan Via tidak menentu. Tidak lama, Via pun mengingat tujuan awalnya menguntit Cakka sejak jam pulang sekolah tadi, Via berfikir sejenak, dan sekarang saatnya lah ia melancarkan aksinya.
            Dengan langkah pasti, Via memasuki ruang ganti yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat ia berdiri sekarang. Via berjalan sedikit mengendap. Via menyentuh kenop pintu ruang ganti, sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap tenang. Via menoleh kebelakang untuk memastikan keadaan, setelah ia yakin keadaan cukup aman, Via akhirnya menarik kenop pintu hingga pintu itu terbuka. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Via pun memasuki ruang ganti itu dan mencari loker milik Cakka.
            Via cukup kuwalahan mencari loker Cakka, ia hampir membuka semua loker yang ada disana secara satu persatu. 10 menit kemudian, Via pun menemukan sebuah loker yang pada pintu loker itu bertuliskan huruf ‘C & R 4ever’
            Awalnya Via tidak yakin bahwa loker itu adalah loker milik Cakka, tapi Via ingat bahwa ia tidak memiliki waktu lebih banyak lagi. Lalu tangan kanan Via terulur dan membuka pintu loker itu. Selembar foto yang tertempel didalam loker itu membuat Via tersenyum senang. Ternyata loker ini benar-benar milik Cakka. Tapi tunggu dulu, melihat foto Cakka bersama seorang Ibu-Ibu yang Via yakini adalah Mama dari Cakka membuat Via sedikit berfikir. Entah kenapa Via merasa pernah melihat Ibu-Ibu itu, tapi satu pertanyaan kemudian muncul; dimana ia pernah melihat Ibu-Ibu itu?
            Ah… sepertinya Via sudah tidak punya waktu lagi memikirkan hal itu. Via menggeleng 2 kali lalu segera mencari barang yang ia cari. Tidak lama kemudian… dapat! Via akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan.
            “maafin saya, Cakka… ini saya pinjam sebentar” gumam Via pelan lalu membawa benda itu keluar.



***

            15 menit kemudian latihan usai. Setelah Pak Randy –pelatih Tim Basket sekolah- menyampaikan nasihat penutupnya, Pak Randy pun membubarkan latihan hari ini. Cakka segera kepinggir lapangan lalu menegak minuman isotonic yang sudah ia persiapkan disana.
            Cakka segera memasuki ruang ganti, ia membuka lokernya lalu mengambil tas serta baju seragamnya. Cakka tidak berfikir untuk mengganti baju dulu, ia ingin segera pulang, hanya itu. Cakka melipat seragamnya dengan rapi lalu memasukannya kedalam tas, tapi tiba-tiba Cakka terdiam saat mendapati kunci mobilnya tidak ada didalam tasnya. Cakka membeku, sebelum latihan tadi, ia yakin ia menaruh kunci mobilnya didalam tas, tapi sekarang? Kemana kunci mobilnya?
            “Irsyad, lo liat kunci mobil gue nggak?” Tanya Cakka pada Irsyad, salah satu tim nya. Irsyad menggeleng beberapa kali,
            “gue nggak liat, bukannya lo selalu simpen kunci lo ditas?”
            “iya emang, tapi kok nggak ada ya??” Cakka mulai bingung.
            “mungkin jatoh diparkiran, atau dilapangan. Coba lo cek” Irsyad berusaha memberi solusi. Cakka mengangguk menyetujui, ia memasang tas nya lalu segera keluar dari ruang ganti hendak mencari kunci mobilnya.
            Sudah hampir setengah jam mencari, dan sekarang waktupun mulai beranjak sore, tapi Cakka belum juga menemukan kunci mobilnya. Cakka putus asa. Ia duduk dibangku panjang yang terdapat dipinggir lapangan. Cakka membuka ponselnya untuk menghubungi Gabriel. Gabriel pasti bisa membantunya. Tapi baru saja Cakka akan menekan tombol hijau pada ponselnya, seseorang tiba-tiba berdiri dihadapan Cakka seraya menunjukan kunci mobil yang sejak tadi Cakka cari. Cakka mengangkat wajahnya lalu mendapati sosok Via yang sedang menatapnya dengan pandangan datar,
            “ini punya kamu?” Tanya Via setenang mungkin. Cakka terlihat berfikir sejenak lalu mengangguk. Cakka pun bangkit lalu berdiri berhadapan dengan Via.
            “kamu temuin dimana, Vi?”
            “didepan gedung IPS, tadi ada temen kamu yang lagi nyari kunci mobil, nggak sengaja saya denger obrolan mereka, mereka bilang kalo kunci mobil kamu ilang dan kamu lagi nyariin, dari sana saya tau kalo kunci mobil ini punya kamu, awalnya saya mau nyerahin ke BP, tapi setelah denger obrolan mereka, saya akhirnya mutusin buat ngasih ini langsung ke kamu” sempurna. Kebohongan Via kali ini benar-benar sempurna dan berhasil, itu terbukti dari wajah Cakka yang seakan mempercayainya seratus persen. Cakka tersenyum puas,
            “makasih ya, Via? Makasih banget…”
            Via menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Cakka lalu pamit,
            “ya udah, saya balik ya? Lain kali kamu hati-hati, jangan teledor!” Cakka mengangguk. Sementara Via, ia langsung berbalik dan melangkah pergi.
            Tapi tidak lama kemudian…
            “Via!” panggil Cakka dengan lantang. Ia pun berjalan menghampiri Via dan berdiri tepat didepan Via. Ini dia yang Via tunggu-tunggu.
            “ada apa?”
            “saya anter kamu pulang ya? Itung-itung sebagai tanda terimakasih saya. Kalo kamu nggak nemuin ini, saya nggak akan tahu nasib saya kayak gimana. Mobil ini berharga buat saya, karna ini hadiah ulang tahun dari Papa saya”
            Mendengar Cakka membawa-bawa nama PAPA, entah kenapa Via merasa perih. Ternyata nasibnya tidak seberuntung nasib Cakka. Cakka pasti sangat menyayangi Papanya. Fikir Via.
            “nggak usah” kata Via cepat.
            “terus apa yang harus saya lakuin sebagai tanda terimakasih saya ke kamu?”
            Via berfikir sejenak. Ia tidak pernah menyangka, bahwa rencana liciknya ternyata berjalan dengan lancar sesuai dengan keinginanya.
            “kalo gitu saya boleh minta satu hal sama kamu?”
            “apa?”

            “sederhana kok… cukup kamu mau diwawancarai sama Tim Redaksi sekolah sebagai Student Of The Month minggu depan”

            “apa?!”



***

Girl your heart, girl your face
Is so different from them others
I say, you’re the only one that I’ll adore
Cos everytime you’re by my side
My blood rushes through my veins
And my geeky face, blushed so silly oo yeah, oyeah…
And I want to make you mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever
And forever you’ll be mine, you’ll be mine

Girl your smile and your charm
Lingers always  on my mind
I’ll say, you’re the only
One that I’ve waited for…

And I want you to be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever
And forever you’ll be mine, you’ll be mine

            Alvin menyanyikan lagu dari miliknya Petra Sihombing itu sambil memetik gitarnya dengan penghayatan penuh dibawah langit malam bertahtakan bintang-bintang, dan selama menyanyikan lagu itu, Alvin terus membayangkan wajah Via. Gadis yang belakangan ini membuatnya gila, Gadis yang belakangan ini membuat dirinya yang biasanya dikejar oleh kaum hawa kini berbalik mengejar satu sosok Gadis terindah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya setelah Andrea. Ah… Via, Gadis itu terlampau indah untuk Alvin lewati begitu saja, tidak hanya terlampau indah untuk Alvin lewati, tapi Via adalah seorang Gadis yang benar-benar sulit untuk bisa ia taklukkan. Via ini amat sangat berbeda dengan beberapa gadis yang ia dekati selama ini. Jika selama ini Alvin tidak perlu bersusah payah untuk menaklukan hati seorang Gadis, maka setelah mengenal Via yang bisa membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, Alvin menemukan hal lain, Alvin harus berusaha cukup ekstra demi mencuri perhatian Gadis itu.
            Gelagat Via yang tidak sedikitpun menunjukan rasa ketertarikan pada dirinya justru membuat Alvin merasa penasaran. Dan sikap cuek yang selalu hampir setiap hari ia tunjukan pada Alvin justru semakin membuat seorang Alvino Joshua Aryadinata jatuh cinta setengah mati pada Gadis Jutek itu.
            Alvin lalu melepaskan gitarnya, ia meraih selembar foto Via yang terletak dimeja yang ada disampingnya, Alvin memperhatikan foto itu cukup lama lantas bergumam,

            “lo itu special, nggak gampang bikin lo tertarik sama gue. Tapi satu hal yang harus lo tau, Via… suatu saat nanti, lo pasti akan jadi milik gue….”



***

            Via mengalihkan perhatiannya dari novel yang sejak tadi ia baca ketika ia mendengar ponselnya bergetar, pertanda ada sebuah pesan yang masuk ke nomernya. Via meraih ponsel Touch Screen nya lalu mendapati sebuah nomer baru tertera pada layar ponselnya. Nomer baru? Siapa? Fikir Via. Tidak lama kemudian, Via pun membaca pesan singkat yang entah dari siapa pengirimnya itu.


======================

From: +6283********

Girl your smile and your charm
Lingers always  on my mind
I’ll say, you’re the only
One that I’ve waited for…

And I want you to be mine

======================


            Via menghela nafas panjang, kini ia tahu siapa pengirim pesan singkat itu. Pasti Alvin. Siapa lagi?? Darimana Kunyuk satu itu mendapatkan nomernya? Dan Via pun akhirnya menarik sebuah kesimpulan; ternyata cowok itu benar-benar ingin bermain dengannya!
            Via kembali meletakkan ponselnya diatas meja dan memilih untuk mengabaikan pesan singkat itu. Tidak penting juga meladeni Alvin!




***


            “kita mau jemput siapa sih, Fy??” Tanya Rio pada Ify ketika mereka berdua sudah tiba dibandara. Ify hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Rio itu.  Sejak mereka dari rumah tadi, sudah hampir 10 kali Rio mengulang pertanyaan yang sama, tapi Ify hanya sekali menjawab: “Nanti kamu juga akan tau sendiri!”
            Rio dan Ify menunggu seseorang yang Ify maksud di kedatangan luar negri, sesekali Rio melihat Ify yang entah kenapa hari ini terlihat sangat gusar. Ify mungkin berusaha keras menyembunyikan kegusarannya dari Rio, tapi Rio tidak bisa dibohongi. Ia bisa membaca dengan sangat jelas ekspresi tidak nyaman yang terpeta pada wajah Gadisnya itu. Rio hanya berdiri disamping Ify tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Toh percuma mengajak Ify berbicara sekarang, Ify tidak akan menanggapinya dan hanya akan membuat Rio kesal setengah mati. Jika Rio tidak mau mengalah untuk saat ini, mereka pasti akan bertengkar lagi.
            Ify melirik arloji pemberian Rio yang terlingkar dengan manis dipergelangan tangan kananya. Sudah saatnya, fikir Ify. Ify lalu memegang bahu Rio hingga membuat Rio menoleh kearahnya. Ify tersenyum tenang, sangat tenang.
            “kamu tunggu orangnya disini bentar ya? Aku harus ke toilet” alibi Ify.
            “lho kok gitu, Bie? Aku bahkan nggak tau kita lagi nungguin siapa disini” kata Rio heran. Ify menyentuh pipi Rio lalu membelainya sekilas,
            “nanti kamu pasti tau!” Ify lalu menarik wajah Rio, ia sedikit berjinjit untuk bisa menjangkau tubuh jangkung Rio, tidak lama kemudian, Ify pun mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dipipi sebelah kanan Rio. Sedetik Rio membeku, Ify kembali tersenyum,
            “bentar ya?”
            Ify lalu pergi dari samping Rio dan membiarkan Rio menunggu seorang diri disana. Ify bahkan meninggalkan ribuan tanda Tanya dibenak Rio. Hari ini Ify benar-benar aneh dan cukup membuat Rio kebingungan.
            Dan tanpa Rio tahu, saat Ify berbalik dan berjalan menjauhinya, Ify sedang berusaha keras menahan air matanya agar tidak merembes keluar. Tapi usaha Ify sia-sia, nyatanya Kristal-kristal bening itu akhirnya menetes juga. Ify tersenyum lalu memegangi dadanya yang entah kenapa terasa begitu sesak. Hari ini mungkin Ify akan  menyerahkan sesuatu miliknya –Rio- yang paling berharga untuk seseorang.
            “maafin aku, Yo… hiks…” lirih Ify ditengah-tengah suara isakannya yang tertahan.

Flash Back On ~

“Ifyyyyyy… pokoknya aku mau besok Rio yang jemput aku, okey?? Kamu usahain yaaa?? Aku udah kangen banget sama Rio…” kata orang disebrang sana yang tidak lain dan tidak bukan adalah Febby.
            “ya” jawab Ify singkat, pelan dan penuh tekanan. Air mata Ify menetes sederas mungkin. Dan sebelum Febby menyelesaikan pembicaraannya, Ify malah sudah memutuskan sambungan telfonnya.
            Hal menyakitkan yang telah melempar Ify sejauh mungkin pada sebuah kenyataan pahit adalah; ternyata hingga sekarang, Febby masih menganggap Rio sebagai pacarnya.

            Dan Ify pun menghabiskan sisa malam itu dengan menangis. Ia akhirnya terlelap karna terlalu lelah menangis, dan ia terjaga dalam keadaan remuk.

Flash Back Off ~


            “RIOOOOOOOOO!!!!” Panggil seseorang dari kejauhan. Merasa namanya dipanggil, Rio langsung menoleh kearah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Rio ketika mendapati seseorang yang sudah lumayan lama menghilang dari hidupnya kini tengah berlari kecil ke arahnya.
            Jantung Rio seperti dipukul, dadanya mulai bergejolak dan menimbulkan sesak. Gadis cantik berambut panjang dan berkaca mata hitam itu semakin mendekati Rio. Mendadak Rio merasakan seluruh gerak tubuhnya terasa mati. Febby benar-benar telah kembali, persis seperti apa yang Rio curigai selama seminggu terakhir ini.
            Febby membawa dirinya kedalam pelukan Rio, ia merengkuh tubuh Pria itu seerat mungkin. Sementara Rio yang sejak beberapa detik yang lalu merasa seluruh pergerakannya telah mati sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Jika ingin jujur, sebenarnya Rio ingin kabur detik ini juga, tapi sesuatu yang tidak ia mengerti seakan menahannya.
            “Rio… aku kangen banget sama kamu…. Sayang….” Kedua mata Rio terbuka maksimal. Apa Rio tidak salah dengar? Apa benar Febby baru saja memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’? perlahan Rio mengangkat kedua tangannya, ragu-ragu ia memegang kedua pundak Febby, Rio memejamkan matanya untuk beberapa saat lalu melepaskan pelukan Febby darinya.
            “sayang….?” Tanya Rio dengan kedua alis bertaut.
            “iya, sayang….” Febby membuka kaca hitam yang sejak tadi membingkai wajah cantiknya lalu  kembali membawa dirinya kedalam pelukan Rio. Satu hal yang bisa Rio tangkap saat ini: ternyata Febby masih menganggapnya sebagai pacar!
            “I miss you, Rio… I miss you so much” bisik Febby pelan didepan telinga Rio.
            “maaf, maaf karna aku udah bikin kamu nunggu selama 2 tahun ini. Maaf udah bikin kamu nunggu begitu lama, mulai hari ini aku nggak akan kemana-mana lagi, aku nggak akan ninggalin kamu lagi, Riooooo….” Febby semakin mempererat pelukannya pada Rio. Sementara Rio, ia hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Semua ini terlalu mengejutkan untuknya.
            Ify yang sejak tadi melihat apa yang Rio dan Febby lakukan dari kejauhan langsung bersembunyi dibalik sebuah pilar. Air matanya semakin deras menetes, sementara isakannya semakin kuat terdengar meskipun berkali-kali ia mencoba untuk meredam.

            “selamat datang kembali, Kak Febby…” Lirih Ify pelan.

            Ify berjalan perlahan meninggalkan tempat yang membuat dadanya terasa sesak. Hari ini, ia telah resmi melepas Rio. Seseorang yang selama 3 bulan ini menjadikan dirinya sebagai pilihan terindah, seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini melengkapi hidupnya ditengah-tengah ketidaksempurnaan yang ia rasakan.




                        BERSAMBUNG….