Sebelumnya…
Cakka
berjalan gontai, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti didepan sebuah kamar
yang dipintunya bertuliskan ‘Rea
Kingdom’. Cakka tersenyum kecil, ia terlihat berfikir sejenak, dan beberapa
detik kemudian, Cakka melangkah mendekati kamar itu, tangan kanannya terangkat
lalu meraih kenop pintu. Sekali lagi ia menghela nafas beratnya, dengan
perasaan menggebu-gebu, Cakka menarik kenop pintu itu hingga menampakkan
seluruh bagian dalam kamar milik Rea kecil yang bernuansa serba pink itu.
Cakka lalu melangkah, memasuki kamar
Rea lebih dalam lagi. Entah kenapa Cakka merasa tidak pernah bosan tiap kali
memasuki kamar itu, meskipun hampir setiap malam Cakka selalu memasuki kamar
itu. Dan satu perasaan yang selalu ia rasakan tiap kali menginjakkan kaki
didalam kamar itu; sebuah perasaan semarak dan bahagia, entah untuk alas an
apa.
Cakka duduk pinggir ranjang milik
Rea, ia meraih boneka Winnie The Pooh yang tergeletak sembarang diatas kasur
bersprei tokoh kartun Princess itu. Cakka melihat boneka itu sejenak lalu
memeluknya erat. Dan tiba-tiba saja Cakka merasakan kedua matanya mulai
memanas, entahlah ia seperti ingin menangis.
Mata Cakka tiba-tiba saja tertuju pada
sebuah Frame foto berukuran 4R, dalam foto itu, tampak Rea kecil yang sedang
tertawa lepas sambil memeluk boneka tedy bear kesayangannya. Cakka tersenyum
miris. Ia memejamkan matanya untuk beberapa lama lalu membuat janji dalam hati,
“aku
janji Rea, suatu saat nanti aku akan bawa kamu pulang kesini, kerumah kamu. Aku
janji aku mengembalikan semua yang udah aku ambil dari kamu, semuanya tanpa
terkecuali… aku berjanji Rea….”
***
Part
2
Satu
Minggu Kemudian…
Anggota
D’CRAG keluar dari dalam mobil milik Gabriel secara bersamaan. Mereka berempat
saling melirik satu sama lain untuk sejenak lalu melangkah memasuki pelataran
halaman sekolah mereka yang cukup luas. Kedatangan mereka yang secara bersamaan
pagi itu sukses menarik perhatian seisi sekolah. Banyak dari para siswi-siswi
yang langsung terpikat ketika melihat pesona 4 cowok keren yang sudah tidak
terbantahkan lagi kekerannya itu.
Kedatangan
mereka disekolah pagi itu bak seorang super star yang sudah ditunggu-tunggu
kehadirannya oleh para penggemar mereka. Mungkin agak sedikit berlebihan, tapi
memang itulah yang sedang mereka hadapi sekarang ini. Mata-mata dengan sorot
kagum dan iri telah menjadi makanan mereka sehari-hari. Dan mereka sudah
terlalu terbiasa dengan semua itu. kisah persahabatan yang mereka jalin sejak
duduk dibangku SMP itu benar-benar bertahan dan malah makin kuat hingga hari
ini. Prahara masih belum mau menyentuh kisah persahabatan mereka.
Perkenalkan
mereka satu persatu, yang pertama adalah Gabriel. Gabriel Nata Pratama, Sosok
cowok paling narsis dan alay versi opini sahabat-sahabatnya sendiri. Dalam
bidang akademik, mungkin Gabriel tidak terlalu menonjol seperti Cakka, tapi
Gabriel selalu berusaha melakukan yang terbaik. Ia adalah ketua ekskul karate,
dan kelihaiannya dalam bermain karate ia buktikan dengan memenangkan kejuaraan
karate tingkat nasional. Satu lagi, sama seperti Alvin, Gabriel ini terkenal
sebagai Cassanova disekolahnya, ia jago merayu dan menggaet cewek-cewek cantik
yang ingin ia pacari hanya dalam waktu sehari.
Cowok
kedua adalah Mario Aditya atau yang biasa dipanggil Rio. Rio adalah salah satu
anggota gank yang paling ramah dan bersahabat diantara yang lainnya. Rio jago
bermain music, dan Rio adalah tipe Cowok setia idaman kaum hawa, selain setia
dan pengertian, Rio ini juga terkenal dengan keromantisannya meskipun agak
sedikit jahil pada sahabat-sahabatnya terutama pada Alvin. Banyak cewek-cewek yang begitu
mengagumi dia, namun banyak juga cewek-cewek yang ia buat patah hatinya saat 3
bulan yang lalu ia resmi memilih Ify sebagai pacarnya.
Cowok
ketiga adalah Alvino Joshua Aryadinata. Si anak pemilik sekolah yang terkenal
sebagai ‘Trouble Maker’. Hmmm… bagaimana ya cara mendiskripsikan cowok berwajah
oriental satu ini? Kadang dingin, kadang cuek, kadang jahil, kadang juga bawel
seperti Ibu-Ibu Komplek. Yang jelas, mood nya suka naik turun, dan kelebihan
yang Alvin miliki adalah, ia memiliki pendirian yang amat teguh, jika ia sudah
berkata tidak, ya tidak, dan itu tidak akan bisa diganggu gugat lagi oleh
siapapun dan dengan alas an apapun. Walaupun memiliki jiwa cassanova seperti
Gabriel, dan walaupun sering bergonta-ganti pacar setiap bulannya, tapi itu
semua tidak melunturkan kesetiaannya pada cinta pertamanya yang bahkan masih ia
tunggu sampai hari ini. Hatinya boleh berkelana kemanapun itu, tapi satu hal,
hatinya akan selalu pulang pada sosok cinta pertamanya yang ia sendiri bahkan
tidak tahu-menau dimana cinta pertamanya itu berada sekarang, bagaimana
wajahnya, dan bagaimana kehidupan yang sedang ia jalani sekarang. Alvin hanya yakin,
bahwa suatu saat nanti, entah kapanpun itu akan bertemu lagi dengan sosok cinta
pertamanya, dan Alvin akan menunggu untuk hari itu.
Cowok
terakhir adalah Cakka, Cakka Dimas Putera Adhirajasa. Cakka sangat bisa disebut
sebagai kebalikan dari seorang Alvin, sikap serta sifat mereka amat berbanding
terbalik, bagaikan bumi dan langit. Cowok yang satu ini memiliki charisma yang
sangat kuat. Meskipun cuek dan hemat dalam berkata-kata, tapi hal itu tidak
sedikitpun mengurangi pesonanya dimata para pengagumnya. Orang-orang bilang,
Cakka ini adalah Pria berhati malaikat, diusianya yang masih sangat muda, ia
telah mengelola sebuah rumah singgah yang dibangun kan oleh Ayahnya sekitar 6
bulan yang lalu. Tidak seperti sahabat-sahabatnya yang lain yang senang sekali
berhura-hura diluar sana, Cakka ini selalu menghabiskan waktunya untuk hal-hal
yang positif, ia bahkan lebih memilih mengurung diri didalam kamarnya daripada
harus mengikuti pesta tahun baru bersama sahabat-sahabatnya. Tapi dimata
anggota D’CRAG lainnya, Cakka adalah sosok cowok yang aneh, mengapa demikian?
Karna hingga saat ini Cakka masih betah menyandang status single nya. Seumur
hidupnya, ia tidak pernah berpacaran.
“Cakka!
Gue mau wawancara lo” seseorang tiba-tiba saja menghalangi jalan anggota D’CRAG
di koridor. Mereka berempat kontan saja menghentikan langkah mereka secara
bersamaan. Dan mereka semua minus Cakka, sedikit membelalak ketika melihat
kehadiran Agni dan Shilla yang tiba-tiba saja muncul dan menghalangi jalan
mereka.
Cakka
menatap Agni sejenak dengan tatapan datarnya, tidak lama Cakka langsung menarik
napas panjangnya lantas melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Agni
memejamkan matanya untuk beberapa saat, sabar, ia harus tetap sabar jika mau
wawancaranya berhasil dan tidak kena damprat dari Pak Iqbal lagi.
“Cakka!
Gue butuh wawancara sama lo!” kata Agni sekali lagi dari belakang Cakka. Cakka
menghentikan langkahnya kembali, tapi tidak sedikitpun menoleh kebelakang,
“gue
nggak bisa! Lo wawancara aja yang lain”
Agni
tersenyum sinis. Makhluk es satu ini benar-benar sudah sangat keterlaluan.
“lo
udah ditentuin sebagai Student Of The Month bulan depan sama Pak Iqbal, jadi lo
nggak bisa seenaknya nyuruh gue buat wawancara yang laen”
Cakka
berbalik lalu menatap Agni tajam,
“gue
mau diwawancara apa nggak, itu hak gue sebagai target narasumber lo, jadi lo
nggak bisa paksa-paksa gue. Mending lo belajar lagi jadi pewawancara supaya lo
nggak bisa seenaknya maksa orang buat diwawancara”
Cakka
berbalik lagi dan kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh anggota D’CRAG
lainnya. Agni mendesis sinis, jika bisa rasanya ia ingin sekali menelan Cakka
hidup-hidup supaya dia cepat-cepat menghilang dari peredaran. Agni sudah
betul-betul muak dengan Pria yang satu itu. Sementara tanpa ada yang menyadari,
dan tanpa ada satupun yang tahu, sejak tadi, Shilla terus saja memperhatikan
Cakka didalam diamnya.
***
“Bie…
kamu kenapa? Kok mukanya kusut gitu sih?” Rio mengangkat dagu Ify hingga wajah
mereka kini berhadapan satu sama lain. Ify tersenyum kaku, ia merasa bahwa Rio
tidak perlu tahu tentang masalah yang sekarang sedang ia hadapi, lebih-lebih
Rio ini adalah salah satu anggota D’CRAG, sahabat kental Cakka, dan Ify tidak
ingin, hanya gara-gara ia menceritakan masalah yang sedang ia hadapi karna
Cakka ini, Rio jadi turut campur didalamnya.
Sebagai
Pemimpin Redaksi Sekolah, Ify harus bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri
tanpa campur tangan dari orang lain, lebih-lebih dari Rio, sahabat dekat Cakka.
Ify lalu menggeleng cepat seraya tersenyum,
“aku
nggak apa-apa kok, Cuma sedikit nggak mood aja hari ini” Ify menyesap Jus
Mangga pesanannya. Dan sumpah demi apapun itu, Ify tidak memiliki keberanian
sedikitpun untuk menatap kedua mata Rio. Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh
Rio, tapi Rio tahu pasti apakah Ify sedang berbohong atau tidak hanya dengan
menatap kedua matanya saja.
“masalah
wawancara dengan Cakka?” ucap Rio yakin seakan bisa membaca isi kepala Ify. Ify
kaget lalu menatap Rio dengan kedua mata yang terbuka maksimal, darimana Rio
bisa tahu? Pria ini tidak benar-benar bisa membaca fikiran orang kan? Ify
melongo, mendadak ia kehabisan kata-kata.
“kok
kamu tahu?”
Rio
terkekeh pelan lalu mengenggam tangan Ify dengan lembut,
“tadi
pagi Agni nyamperin Cakka dan minta buat wawancara sama Cakka, tapi seperti
yang udah-udah, Cakka nolak buat diwawancara”
Ify
mendesah pelan, ia menarik tangannya dari genggaman Rio lalu memegang keningnya
yang entah kenapa terasa sedikit berdenyut. Semenjak Pak Iqbal meminta Tim nya
kembali mewawancarai Cakka setelah hampir 5 kali gagal, Ify seakan kehabisan
akal. Ia merasa buntu.
“aku
nggak tau musti gimana lagi, Yo? Aku kehabisan cara buat ngadepin Cakka supaya
mau diwawancara. 5 kali aku gagal buat bisa wawancara dia, dan sekarang apa aku
harus gagal juga untuk yang ke-6 kalinya? Aku emang nggak becus jadi ketua
redaksi” kata Ify yang pada akhirnya lebih memilih untuk mengeluarkan uneg-uneg
nya pada cowok manis yang sudah selama 3 bulan terakhir ini menjadi pemilik
tunggal hatinya.
Rio
tersenyum maklum, disaat-saat seperti ini Rio memang paling bisa menjadi
seorang pendengar yang baik, dan hal itulah yang membuat Ify selalu jatuh hati
pada Rio.
“kamu
nggak usah pusingin masalah itu lagi ya? Nanti biar aku yang urus semuanya,
kamu tinggal terima beres aja”
Ify
terkejut mendengarkan perkataan Rio barusan, ia menatap Rio tajam, entah kenapa
ucapan Rio itu malah membuatnya merasa tersinggung. Ify tahu Rio sama sekali
tidak bermaksud untuk menyinggung perasaannya, tapi apa perlu Rio sampai harus
berkata seperti itu? Hal inilah yang paling Ify hindari sejak awal, hal ini lah
yang membuat Ify merasa tidak perlu menceritakan masalahnya dengan Rio.
“nggak
perlu, Rio. Aku bisa nyelesein masalah aku sendiri, dan jujur aja, aku nggak
suka sama omongan kamu barusan, aku ngerasa diremehin tau nggak?” Ify bangkit
dari tempat duduknya, lalu tanpa permisi, Ify meninggalkan kantin begitu saja.
“Bie…
kamu kok marah sih? BIE!!” Panggil Rio sedikit keras, tapi hal itu tidak juga
mampu menghentikan langkah Ify. Rio berdecak kesal lalu berlari menyusul Ify
sebelum langkahnya terlalu jauh.
***
“Tunas
Bangsa Senior High School, salah satu sekolah yang masuk kedalam 10 jajaran
sekolah terbaik di Indonesia, Tante rekomendasiin kamu buat masuk di SMA ini,
kamu mau nggak? Keputusan akhir tetep ada ditangan kamu, Rea” kata Dyna seraya
melepaskan selembar brosur dihadapan Via yang saat itu tengah sibuk berkutat
dengan laptopnya. Via mengangkat wajahnya lalu membenahi posisi kaca mata minus
yang membingkai wajah manisnya. Via meraih brosur itu lalu membacanya. Dyna
sangat berharap bahwa Via akan setuju, tapi raut wajah Via yang tidak
sedikitpun menunjukan rasa ketertarikan membuat Dyna merasa sedikit pesimis.
“aku
nggak mau masuk sekolah ini Tante, juga sekolah yang lain. Aku cukup Home
Schooling aja” Via melepaskan kembali brosur itu diatas meja lalu kembali
tenggelam dengan kesibukannya semula. Tapi Dyna enggan menyerah. Bagaimanapun
caranya, ia harus membuat Via supaya mau bersekolah. Ia harus bisa meyakinkan
keponakannya ini.
“Rea,
dengerin Tante sayang… kamu butuh sekolah, kamu butuh bersosialisasi dengan
orang-orang baru supaya kamu punya teman, supaya kamu punya sahabat, emangnya
kamu tahan apa hidup sendirian kayak gini? Kamu harus punya sahabat, atau
paling nggak, kamu harus punya seorang teman, Rea…”
“aku
Cuma butuh Tante, itu aja” jawab Via sekenanya, dan Dyna sudah bisa menebak
jawaban ini sebelumnya.
Dyna
mengerti betul apa alas an Via menolak untuk masuk disebuah sekolah. Ia hanya
ingin menghindar dari Papa nya, itu saja. Jika ia masuk disebuah sekolah, maka
hal itu pasti akan sangat memudahkan Papa nya untuk melacak keberadaannya.
Pulang ke Indonesia saja sudah cukup membuatnya merasa resah, apalagi harus
masuk sekolah dan memiliki pergaulan yang luas seperti apa yang Dyna inginkan,
hal itu mungkin gampang bagi semua orang, tapi tidak untuk Via. Ia tidak butuh
bergaul, ia tidak butuh dunia luar, ia tidak butuh teman apalagi sahabat, yang
ia butuhkan hanya ketenangan.
“Tante
sangat ingin sekali ngeliat kamu punya banyak teman, Tante sangat ingin sekali
ngeliat kamu hanging out sama teman-teman kamu, Tante sangat ingin sekali
ngeliat kamu punya seorang sahabat yang bisa jadi sandaran kamu, dan Tante
sangat ingin sekali suatu saat nanti kamu akan jatuh cinta dan memiliki
seseorang yang special dalam hidup kamu, Tante ingin kamu menjalani kehidupan
kamu yang normal seperti remaja-remaja yang lainnya diluar sana, Rea, dan Tante
nggak ingin terus-terusan ngeliat kamu menutup diri seperti ini, kamu boleh
marah, tapi jujur, bathin Tante selalu ngerasa tersiksa tiap kali ngeliat kamu
yang selalu berusaha nutup diri dari dunia luar, bathin Tante tersiksa, Rea…
sangat tersiksa” sebulir air mata Dyna menetes keluar dan membelah pipinya.
Ya.. hal itulah yang selama 4 tahun terakhir ini Dyna rasakan, Dyna tidak ingin
terus-terusan menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya dihadapan Via. Dan
Dyna merasa bahwa Via sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang ia rasakan selama
ini.
Melihat
Dyna meneteskan air mata karena kesalahannya, Via pun merasa sangat bersalah.
Selama ini Dyna sudah mengorbankan banyak hal hanya untuk dirinya, bahkan Dyna
menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk menjaganya, tapi apa yang malah Via
lakukan saat ini? Ia membuat Dyna menangis, dan itu adalah kesalahan terbesar
yang pernah Via lakukan seumur hidupnya.
Dyna
tidak hanya mengorbankan kepentingan-kepentingannya selama 4 tahun terakhir
ini, tapi Dyna juga sudah mengorbankan perasaannya hanya supaya ia bisa tetap
menjaga Via. 1 tahun yang lalu, Dyna menolak mentah-mentah lamaran dari
kekasihnya, alasannya ia tidak ingin setelah menikah nanti, ia akan berpisah
dengan Via, Dyna juga juga tidak ingin pergi meninggalkan Via sendiri, itulah
salah satu hal yang membuat Dyna hingga hari ini belum juga menemukan
pendamping hidupnya.
Via
menunduk dalam, ia berusaha keras melawan semua egonya. Setelah cukup lama
berfikir, akhirnya tibalah Via pada sebuah keputusan. Keputusan ini mungkin
akan memberatkannya, tapi Via harus melakukan sesuatu untuk Tantenya, bukankah
selama ini Tantenya sudah melakukan banyak hal untuknya? masakah untuk memenuhi
keinginan Tantenya yang ingin melihatnya untuk bersekolah lagi Via tidak bisa
memenuhinya?
Via
lalu membawa dirinya kedalam pelukan Dyna seraya berkata,
“aku
akan sekolah Tante… aku akan sekolah dan Menuhin semua keinginan Tante… maaf
udah bikin Tante ngerasa tersiksa selama 4 tahun ini, maaf…”
“makasih
sayang… makasih…” Dyna membelai lembut rambut sebahu milik Via, dan hal itu selalu
bisa membuat perasaan Via terasa lebih tenang.
“Tante,
aku boleh nggak minta satu hal sama Tante?” Ucap Via seraya melepaskan
pelukannya dari Dyna. Dyna menyentuh pipi sebelah kanan Via lalu tersenyum,
“apapun
yang kamu minta akan Tante penuhin, sayang….”
“mulai
sekarang…. Jangan panggil aku Rea lagi”
***
Seperti
hari minggu sebelum-sebelumnya, dihari minggu ini Alvin kembali melakukan
kegiatan rutinya yang hampir setiap minggu ia lakukan nyaris tanpa absen.
Kegiatan mingguannya itu adalah; hunting keliling kota untuk memburu
moment-moment special dan berkesan. Moment-moment special itu akan ia abadikan
dalam kameranya. Yaps, Alvin ini adalah seorang pecinta Photografy, dan ia
memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Fotografer professional dan handal
suatu saat nanti. Meskipun cita-citanya itu tidak disetujui oleh Papinya, tapi
Alvin tetap kekeuh dengan cita-citanya itu. Toh Maminya mendukung penuh
cita-citanya itu. Dukungan dari Mami nya saja sudah cukup membuat Alvin merasa
termotivasi dan yakin.
Mata
lensa milik Alvin mulai menangkap setiap moment yang ada. Satu jepret, dua
jepret dan ups… Alvin terpana untuk beberapa saat ketika mata lensanya
menangkap sesosok Gadis Cantik yang baru saja keluar dari sebuah toko bunga
seraya membawa satu buket bunga Krisan Putih. Alvin tersenyum kecil, sebelumnya
ia tidak pernah melihat gadis secantik itu. Seakan terhipnotis oleh kecantikan
gadis ‘asing’ itu, Alvin pun mengikuti setiap pergerakan yang Gadis itu lakukan
secara diam-diam sambil berusaha mengambil gambarnya. Alvin seolah ketagihan,
dan karna terlalu focus dengan ‘Objek Menakjubkan’ itu, Alvin sampai-sampai
tidak memperhatikan jalanan sekitar yang lumayan ramai oleh para pejalan kaki
yang berlalu lalang.
Tanpa
sengaja Alvin menubruk tubuh seorang pejalan kaki, kamera kesayangannya nyaris
saja terjatuh jika Alvin tidak sigap, Alvin menghela nafas lega. Hampir saja.
“maaf…
maaf…” sesal Alvin pada pejalan kaki itu,
“makanya
lain kali hati-hati”
“sekali
lagi maaf yaa??”
Merasa
kehilangan target, Alvin malah ling lung sendiri, ia menggaruk kepalanya yang
sama sekali tidak gatal. Kemana gadis tadi? Kenapa cepat sekali menghilangnya?
“ergh!
Gue kehilangan target” erang Alvin putus asa. Ia lalu melihat hasil jepretannya
yang beberapa saat lalu tertangkap secara tidak sengaja oleh lensa kameranya.
Alvin melihat beberapa foto Gadis itu dengan senyuman mengembang diwajah
tampannya. Dengan pelan Alvin bergumam,
“gila!
Ini cewek apa bidadari?? Cakep banget, mana cepet banget lagi ngilangnya… hmm…
kemana ya dia?”
***
Via
meletakkan satu buket Bunga Krisan Putih
diatas makam Mamanya yang selama 4 tahun terakhir ini tidak pernah ia
kunjungi. Via memilih bunga Krisan karna Mamanya adalah pecinta bunga krisan,
sama seperti dirinya. Baru beberapa detik ia duduk disamping makam Mamanya, Via
malah merasa tidak sanggup menahan bendungan air matanya. Air mata itu menetes
deras mengiringi rasa rindunya yang selama 4 tahun ini membuncah hebat.
Meskipun 4 tahun berlalu semenjak kepergian Mamanya, hingga detik ini Via masih
belum bisa mempercayai bahwa Mama nya telah pergi meninggalkannya bahkan untuk
selamanya. Lamat-lamat isakan itu mulai terdengar pelan menyayat hati, dan
dibalik kekerasan hatinya selama ini, Via sangat berharap disaat-saat seperti
ini Papa nya akan datang untuk memeluknya dan menenangkannya, tapi kenyataan
yang Via terima sekarang sangat amat menyakitkannya. Papanya tidak disini,
tidak juga memeluknya seperti apa yang ia harapkan.
Via
memeluk batu nisan Mamanya dengan tangisan yang semakin menjadi. Pertahanan
yang ia bangun selama 4 tahun ini akhirnya runtuh. Biarkan dia menangis,
biarkan seluruh dunia tahu bahwa dirinya begitu rapuh.
“Mama….
Rea kangen sama Mama, Rea kangeeeenn banget… didunia ini, Cuma Mama sama Tante
Dyna yang bener-bener tulus sayang sama Rea, dan semua orang bahkan Papa nggak
ada satupun yang sayang sama Rea… hiks… kenapa? Kenapa Mama nggak bawa Rea
pergi sama Mama? Rea juga mau pergi sama Mama, Rea nggak sanggup hidup sendiri
disini Ma… senggaknya peluk Rea untuk sedetik saja…”
Flash
Back On~
“Happy Birthday Reaaa… ini mama
punya hadiah buat Rea” kata Dyra sambil menjulurkan sebuah boneka tedy bear
berwarna cokelat dihadapan Rea. Rea tersenyum lalu segera merebut boneka tedy
bear itu dari tangan Mamanya, memang sudah sejak lama Rea menginginkan boneka
itu.
“makasih ya udah kasi Rea kado ini.
Rea janji akan jaga hadiah pemberian Mama ini sebaik mungkin”
Rea
lalu memeluk Mamanya dan menghadiahkan Mama nya dengan ciuman bertubi-tubi
diseluruh bagian wajahnya. Dyra hanya tertawa kegelian.
Flash
Back Off~
Via
membuka kedua matanya dan menutup ingatan masa lalunya dengan perasaan pedih.
Dan boneka tedy bear pemberian Mama nya itu malah ia hilangkan 4 tahun yang
lalu, padahal Via sudah berjanji dihadapan Mamanya akan menjaga hadiah
pemberian Mamanya itu dengan sebaik mungkin, tapi Via malah menghilangkannya.
Via menyesali diri. Boneka itu merupakan satu-satunya barang pemberian Mama nya
yang ia bawa keluar dari rumah 4 tahun yang lalu, dan ia tidak sempat membawa
barang-barang yang lain karena Mama nya langsung membawanya pergi malam itu.
Via sangat menyesal karna tidak bisa menepati janjinya pada Sang Mama.
“Maaf
karna Via udah ilangin boneka tedy bear nya, Ma….” Lirih Via pelan. Sebulir air
matanya kembali menetes secara perlahan.
***
Sejak
30 menit yang lalu kedua mata Alvin tidak juga teralihkan dari layar monitor
laptop yang ada dihadapannya saat ini. Sedikitpun Alvin merasa tidak bosan
menatap keindahan ‘objek mengagumkan’ yang tadi tertangkap oleh mata lensanya
secara tidak sengaja itu. Sesekali Alvin tersenyum, Gadis itu benar-benar
sangat cantik dengan rambut sebahunya, kulit putih mulusnya, bibir tipisnya
yang merah alami tanpa olesan lipstick, juga pipi chubbynya yang menggemaskan,
semuanya benar-benar mempesona bagi Alvin. Kalau saja tadi ia tidak kehilangan
jejak Gadis itu, mungkin Alvin bisa mengajaknya berkenalan.
Merasa
sedikit pegal karna terlalu lama duduk, Alvin pun merentangkan kedua tangannya
keatas sembari menggeliat, Alvin menguap dan kedua matanya mulai terasa berat.
Jam didinding kamarnya sudah menunjukan pukul 00.05 WIB, benar-benar tidak
terasa. Alvin lalu mematikan laptopnya, dan tepat saat ia menutup laptopnya,
tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada Boneka Tedy Bear Cokelat yang
terpajang diatas meja belajarnya. Boneka Tedy Bear itupun kembali mengingatkan
Alvin pada seseorang dimasa lalunya. Ia adalah cinta pertama Alvin yang sampai
saat ini masih ia tunggu. Alvin mendesah pelan lalu meraih boneka itu, untuk
beberapa saat Alvin menatap boneka itu, Alvin tersenyum kecil. Entah kenapa ia
merasa bahwa penantiannya sebentar lagi akan berakhir.
“Andrea….
Gue masih nungguin lo disini…”
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment