Sunday, January 12, 2014

0

You're Mine [Part 2: Don't Call Me Rea]










Sebelumnya…

Cakka berjalan gontai, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti didepan sebuah kamar yang dipintunya bertuliskan ‘Rea Kingdom’. Cakka tersenyum kecil, ia terlihat berfikir sejenak, dan beberapa detik kemudian, Cakka melangkah mendekati kamar itu, tangan kanannya terangkat lalu meraih kenop pintu. Sekali lagi ia menghela nafas beratnya, dengan perasaan menggebu-gebu, Cakka menarik kenop pintu itu hingga menampakkan seluruh bagian dalam kamar milik Rea kecil yang bernuansa serba pink itu.
            Cakka lalu melangkah, memasuki kamar Rea lebih dalam lagi. Entah kenapa Cakka merasa tidak pernah bosan tiap kali memasuki kamar itu, meskipun hampir setiap malam Cakka selalu memasuki kamar itu. Dan satu perasaan yang selalu ia rasakan tiap kali menginjakkan kaki didalam kamar itu; sebuah perasaan semarak dan bahagia, entah untuk alas an apa.
            Cakka duduk pinggir ranjang milik Rea, ia meraih boneka Winnie The Pooh yang tergeletak sembarang diatas kasur bersprei tokoh kartun Princess itu. Cakka melihat boneka itu sejenak lalu memeluknya erat. Dan tiba-tiba saja Cakka merasakan kedua matanya mulai memanas, entahlah ia seperti ingin menangis.
            Mata Cakka tiba-tiba saja tertuju pada sebuah Frame foto berukuran 4R, dalam foto itu, tampak Rea kecil yang sedang tertawa lepas sambil memeluk boneka tedy bear kesayangannya. Cakka tersenyum miris. Ia memejamkan matanya untuk beberapa lama lalu membuat janji dalam hati,

            “aku janji Rea, suatu saat nanti aku akan bawa kamu pulang kesini, kerumah kamu. Aku janji aku mengembalikan semua yang udah aku ambil dari kamu, semuanya tanpa terkecuali… aku berjanji Rea….”


***

Part 2

Satu Minggu Kemudian…

            Anggota D’CRAG keluar dari dalam mobil milik Gabriel secara bersamaan. Mereka berempat saling melirik satu sama lain untuk sejenak lalu melangkah memasuki pelataran halaman sekolah mereka yang cukup luas. Kedatangan mereka yang secara bersamaan pagi itu sukses menarik perhatian seisi sekolah. Banyak dari para siswi-siswi yang langsung terpikat ketika melihat pesona 4 cowok keren yang sudah tidak terbantahkan lagi kekerannya itu.
            Kedatangan mereka disekolah pagi itu bak seorang super star yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para penggemar mereka. Mungkin agak sedikit berlebihan, tapi memang itulah yang sedang mereka hadapi sekarang ini. Mata-mata dengan sorot kagum dan iri telah menjadi makanan mereka sehari-hari. Dan mereka sudah terlalu terbiasa dengan semua itu. kisah persahabatan yang mereka jalin sejak duduk dibangku SMP itu benar-benar bertahan dan malah makin kuat hingga hari ini. Prahara masih belum mau menyentuh kisah persahabatan mereka.
            Perkenalkan mereka satu persatu, yang pertama adalah Gabriel. Gabriel Nata Pratama, Sosok cowok paling narsis dan alay versi opini sahabat-sahabatnya sendiri. Dalam bidang akademik, mungkin Gabriel tidak terlalu menonjol seperti Cakka, tapi Gabriel selalu berusaha melakukan yang terbaik. Ia adalah ketua ekskul karate, dan kelihaiannya dalam bermain karate ia buktikan dengan memenangkan kejuaraan karate tingkat nasional. Satu lagi, sama seperti Alvin, Gabriel ini terkenal sebagai Cassanova disekolahnya, ia jago merayu dan menggaet cewek-cewek cantik yang ingin ia pacari hanya dalam waktu sehari.
            Cowok kedua adalah Mario Aditya atau yang biasa dipanggil Rio. Rio adalah salah satu anggota gank yang paling ramah dan bersahabat diantara yang lainnya. Rio jago bermain music, dan Rio adalah tipe Cowok setia idaman kaum hawa, selain setia dan pengertian, Rio ini juga terkenal dengan keromantisannya meskipun agak sedikit jahil pada sahabat-sahabatnya terutama  pada Alvin. Banyak cewek-cewek yang begitu mengagumi dia, namun banyak juga cewek-cewek yang ia buat patah hatinya saat 3 bulan yang lalu ia resmi memilih Ify sebagai pacarnya.
            Cowok ketiga adalah Alvino Joshua Aryadinata. Si anak pemilik sekolah yang terkenal sebagai ‘Trouble Maker’. Hmmm… bagaimana ya cara mendiskripsikan cowok berwajah oriental satu ini? Kadang dingin, kadang cuek, kadang jahil, kadang juga bawel seperti Ibu-Ibu Komplek. Yang jelas, mood nya suka naik turun, dan kelebihan yang Alvin miliki adalah, ia memiliki pendirian yang amat teguh, jika ia sudah berkata tidak, ya tidak, dan itu tidak akan bisa diganggu gugat lagi oleh siapapun dan dengan alas an apapun. Walaupun memiliki jiwa cassanova seperti Gabriel, dan walaupun sering bergonta-ganti pacar setiap bulannya, tapi itu semua tidak melunturkan kesetiaannya pada cinta pertamanya yang bahkan masih ia tunggu sampai hari ini. Hatinya boleh berkelana kemanapun itu, tapi satu hal, hatinya akan selalu pulang pada sosok cinta pertamanya yang ia sendiri bahkan tidak tahu-menau dimana cinta pertamanya itu berada sekarang, bagaimana wajahnya, dan bagaimana kehidupan yang sedang ia jalani sekarang. Alvin hanya yakin, bahwa suatu saat nanti, entah kapanpun itu akan bertemu lagi dengan sosok cinta pertamanya, dan Alvin akan menunggu untuk hari itu.
            Cowok terakhir adalah Cakka, Cakka Dimas Putera Adhirajasa. Cakka sangat bisa disebut sebagai kebalikan dari seorang Alvin, sikap serta sifat mereka amat berbanding terbalik, bagaikan bumi dan langit. Cowok yang satu ini memiliki charisma yang sangat kuat. Meskipun cuek dan hemat dalam berkata-kata, tapi hal itu tidak sedikitpun mengurangi pesonanya dimata para pengagumnya. Orang-orang bilang, Cakka ini adalah Pria berhati malaikat, diusianya yang masih sangat muda, ia telah mengelola sebuah rumah singgah yang dibangun kan oleh Ayahnya sekitar 6 bulan yang lalu. Tidak seperti sahabat-sahabatnya yang lain yang senang sekali berhura-hura diluar sana, Cakka ini selalu menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang positif, ia bahkan lebih memilih mengurung diri didalam kamarnya daripada harus mengikuti pesta tahun baru bersama sahabat-sahabatnya. Tapi dimata anggota D’CRAG lainnya, Cakka adalah sosok cowok yang aneh, mengapa demikian? Karna hingga saat ini Cakka masih betah menyandang status single nya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berpacaran.
            “Cakka! Gue mau wawancara lo” seseorang tiba-tiba saja menghalangi jalan anggota D’CRAG di koridor. Mereka berempat kontan saja menghentikan langkah mereka secara bersamaan. Dan mereka semua minus Cakka, sedikit membelalak ketika melihat kehadiran Agni dan Shilla yang tiba-tiba saja muncul dan menghalangi jalan mereka.
            Cakka menatap Agni sejenak dengan tatapan datarnya, tidak lama Cakka langsung menarik napas panjangnya lantas melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Agni memejamkan matanya untuk beberapa saat, sabar, ia harus tetap sabar jika mau wawancaranya berhasil dan tidak kena damprat dari Pak Iqbal lagi.
            “Cakka! Gue butuh wawancara sama lo!” kata Agni sekali lagi dari belakang Cakka. Cakka menghentikan langkahnya kembali, tapi tidak sedikitpun menoleh kebelakang,
            “gue nggak bisa! Lo wawancara aja yang lain”
            Agni tersenyum sinis. Makhluk es satu ini benar-benar sudah sangat keterlaluan.
            “lo udah ditentuin sebagai Student Of The Month bulan depan sama Pak Iqbal, jadi lo nggak bisa seenaknya nyuruh gue buat wawancara yang laen”
            Cakka berbalik lalu menatap Agni tajam,
            “gue mau diwawancara apa nggak, itu hak gue sebagai target narasumber lo, jadi lo nggak bisa paksa-paksa gue. Mending lo belajar lagi jadi pewawancara supaya lo nggak bisa seenaknya maksa orang buat diwawancara”
            Cakka berbalik lagi dan kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh anggota D’CRAG lainnya. Agni mendesis sinis, jika bisa rasanya ia ingin sekali menelan Cakka hidup-hidup supaya dia cepat-cepat menghilang dari peredaran. Agni sudah betul-betul muak dengan Pria yang satu itu. Sementara tanpa ada yang menyadari, dan tanpa ada satupun yang tahu, sejak tadi, Shilla terus saja memperhatikan Cakka didalam diamnya.


***

            “Bie… kamu kenapa? Kok mukanya kusut gitu sih?” Rio mengangkat dagu Ify hingga wajah mereka kini berhadapan satu sama lain. Ify tersenyum kaku, ia merasa bahwa Rio tidak perlu tahu tentang masalah yang sekarang sedang ia hadapi, lebih-lebih Rio ini adalah salah satu anggota D’CRAG, sahabat kental Cakka, dan Ify tidak ingin, hanya gara-gara ia menceritakan masalah yang sedang ia hadapi karna Cakka ini, Rio jadi turut campur didalamnya.
            Sebagai Pemimpin Redaksi Sekolah, Ify harus bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa campur tangan dari orang lain, lebih-lebih dari Rio, sahabat dekat Cakka. Ify lalu menggeleng cepat seraya tersenyum,
            “aku nggak apa-apa kok, Cuma sedikit nggak mood aja hari ini” Ify menyesap Jus Mangga pesanannya. Dan sumpah demi apapun itu, Ify tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk menatap kedua mata Rio. Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh Rio, tapi Rio tahu pasti apakah Ify sedang berbohong atau tidak hanya dengan menatap kedua matanya saja.
            “masalah wawancara dengan Cakka?” ucap Rio yakin seakan bisa membaca isi kepala Ify. Ify kaget lalu menatap Rio dengan kedua mata yang terbuka maksimal, darimana Rio bisa tahu? Pria ini tidak benar-benar bisa membaca fikiran orang kan? Ify melongo, mendadak ia kehabisan kata-kata.
            “kok kamu tahu?”
            Rio terkekeh pelan lalu mengenggam tangan Ify dengan lembut,
            “tadi pagi Agni nyamperin Cakka dan minta buat wawancara sama Cakka, tapi seperti yang udah-udah, Cakka nolak buat diwawancara”
            Ify mendesah pelan, ia menarik tangannya dari genggaman Rio lalu memegang keningnya yang entah kenapa terasa sedikit berdenyut. Semenjak Pak Iqbal meminta Tim nya kembali mewawancarai Cakka setelah hampir 5 kali gagal, Ify seakan kehabisan akal. Ia merasa buntu.
            “aku nggak tau musti gimana lagi, Yo? Aku kehabisan cara buat ngadepin Cakka supaya mau diwawancara. 5 kali aku gagal buat bisa wawancara dia, dan sekarang apa aku harus gagal juga untuk yang ke-6 kalinya? Aku emang nggak becus jadi ketua redaksi” kata Ify yang pada akhirnya lebih memilih untuk mengeluarkan uneg-uneg nya pada cowok manis yang sudah selama 3 bulan terakhir ini menjadi pemilik tunggal hatinya.
            Rio tersenyum maklum, disaat-saat seperti ini Rio memang paling bisa menjadi seorang pendengar yang baik, dan hal itulah yang membuat Ify selalu jatuh hati pada Rio.
            “kamu nggak usah pusingin masalah itu lagi ya? Nanti biar aku yang urus semuanya, kamu tinggal terima beres aja”
            Ify terkejut mendengarkan perkataan Rio barusan, ia menatap Rio tajam, entah kenapa ucapan Rio itu malah membuatnya merasa tersinggung. Ify tahu Rio sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung perasaannya, tapi apa perlu Rio sampai harus berkata seperti itu? Hal inilah yang paling Ify hindari sejak awal, hal ini lah yang membuat Ify merasa tidak perlu menceritakan masalahnya dengan Rio.
            “nggak perlu, Rio. Aku bisa nyelesein masalah aku sendiri, dan jujur aja, aku nggak suka sama omongan kamu barusan, aku ngerasa diremehin tau nggak?” Ify bangkit dari tempat duduknya, lalu tanpa permisi, Ify meninggalkan kantin begitu saja.
            “Bie… kamu kok marah sih? BIE!!” Panggil Rio sedikit keras, tapi hal itu tidak juga mampu menghentikan langkah Ify. Rio berdecak kesal lalu berlari menyusul Ify sebelum langkahnya terlalu jauh.



***

            “Tunas Bangsa Senior High School, salah satu sekolah yang masuk kedalam 10 jajaran sekolah terbaik di Indonesia, Tante rekomendasiin kamu buat masuk di SMA ini, kamu mau nggak? Keputusan akhir tetep ada ditangan kamu, Rea” kata Dyna seraya melepaskan selembar brosur dihadapan Via yang saat itu tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Via mengangkat wajahnya lalu membenahi posisi kaca mata minus yang membingkai wajah manisnya. Via meraih brosur itu lalu membacanya. Dyna sangat berharap bahwa Via akan setuju, tapi raut wajah Via yang tidak sedikitpun menunjukan rasa ketertarikan membuat Dyna merasa sedikit pesimis.
            “aku nggak mau masuk sekolah ini Tante, juga sekolah yang lain. Aku cukup Home Schooling aja” Via melepaskan kembali brosur itu diatas meja lalu kembali tenggelam dengan kesibukannya semula. Tapi Dyna enggan menyerah. Bagaimanapun caranya, ia harus membuat Via supaya mau bersekolah. Ia harus bisa meyakinkan keponakannya ini.
            “Rea, dengerin Tante sayang… kamu butuh sekolah, kamu butuh bersosialisasi dengan orang-orang baru supaya kamu punya teman, supaya kamu punya sahabat, emangnya kamu tahan apa hidup sendirian kayak gini? Kamu harus punya sahabat, atau paling nggak, kamu harus punya seorang teman, Rea…”
            “aku Cuma butuh Tante, itu aja” jawab Via sekenanya, dan Dyna sudah bisa menebak jawaban ini sebelumnya.
            Dyna mengerti betul apa alas an Via menolak untuk masuk disebuah sekolah. Ia hanya ingin menghindar dari Papa nya, itu saja. Jika ia masuk disebuah sekolah, maka hal itu pasti akan sangat memudahkan Papa nya untuk melacak keberadaannya. Pulang ke Indonesia saja sudah cukup membuatnya merasa resah, apalagi harus masuk sekolah dan memiliki pergaulan yang luas seperti apa yang Dyna inginkan, hal itu mungkin gampang bagi semua orang, tapi tidak untuk Via. Ia tidak butuh bergaul, ia tidak butuh dunia luar, ia tidak butuh teman apalagi sahabat, yang ia butuhkan hanya ketenangan.
            “Tante sangat ingin sekali ngeliat kamu punya banyak teman, Tante sangat ingin sekali ngeliat kamu hanging out sama teman-teman kamu, Tante sangat ingin sekali ngeliat kamu punya seorang sahabat yang bisa jadi sandaran kamu, dan Tante sangat ingin sekali suatu saat nanti kamu akan jatuh cinta dan memiliki seseorang yang special dalam hidup kamu, Tante ingin kamu menjalani kehidupan kamu yang normal seperti remaja-remaja yang lainnya diluar sana, Rea, dan Tante nggak ingin terus-terusan ngeliat kamu menutup diri seperti ini, kamu boleh marah, tapi jujur, bathin Tante selalu ngerasa tersiksa tiap kali ngeliat kamu yang selalu berusaha nutup diri dari dunia luar, bathin Tante tersiksa, Rea… sangat tersiksa” sebulir air mata Dyna menetes keluar dan membelah pipinya. Ya.. hal itulah yang selama 4 tahun terakhir ini Dyna rasakan, Dyna tidak ingin terus-terusan menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya dihadapan Via. Dan Dyna merasa bahwa Via sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang ia rasakan selama ini.
            Melihat Dyna meneteskan air mata karena kesalahannya, Via pun merasa sangat bersalah. Selama ini Dyna sudah mengorbankan banyak hal hanya untuk dirinya, bahkan Dyna menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk menjaganya, tapi apa yang malah Via lakukan saat ini? Ia membuat Dyna menangis, dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah Via lakukan seumur hidupnya.
            Dyna tidak hanya mengorbankan kepentingan-kepentingannya selama 4 tahun terakhir ini, tapi Dyna juga sudah mengorbankan perasaannya hanya supaya ia bisa tetap menjaga Via. 1 tahun yang lalu, Dyna menolak mentah-mentah lamaran dari kekasihnya, alasannya ia tidak ingin setelah menikah nanti, ia akan berpisah dengan Via, Dyna juga juga tidak ingin pergi meninggalkan Via sendiri, itulah salah satu hal yang membuat Dyna hingga hari ini belum juga menemukan pendamping hidupnya.
            Via menunduk dalam, ia berusaha keras melawan semua egonya. Setelah cukup lama berfikir, akhirnya tibalah Via pada sebuah keputusan. Keputusan ini mungkin akan memberatkannya, tapi Via harus melakukan sesuatu untuk Tantenya, bukankah selama ini Tantenya sudah melakukan banyak hal untuknya? masakah untuk memenuhi keinginan Tantenya yang ingin melihatnya untuk bersekolah lagi Via tidak bisa memenuhinya?
            Via lalu membawa dirinya kedalam pelukan Dyna seraya berkata,
            “aku akan sekolah Tante… aku akan sekolah dan Menuhin semua keinginan Tante… maaf udah bikin Tante ngerasa tersiksa selama 4 tahun ini, maaf…”
            “makasih sayang… makasih…” Dyna membelai lembut rambut sebahu milik Via, dan hal itu selalu bisa membuat perasaan Via terasa lebih tenang.
            “Tante, aku boleh nggak minta satu hal sama Tante?” Ucap Via seraya melepaskan pelukannya dari Dyna. Dyna menyentuh pipi sebelah kanan Via lalu tersenyum,
            “apapun yang kamu minta akan Tante penuhin, sayang….”

            “mulai sekarang…. Jangan panggil aku Rea lagi”


***

            Seperti hari minggu sebelum-sebelumnya, dihari minggu ini Alvin kembali melakukan kegiatan rutinya yang hampir setiap minggu ia lakukan nyaris tanpa absen. Kegiatan mingguannya itu adalah; hunting keliling kota untuk memburu moment-moment special dan berkesan. Moment-moment special itu akan ia abadikan dalam kameranya. Yaps, Alvin ini adalah seorang pecinta Photografy, dan ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Fotografer professional dan handal suatu saat nanti. Meskipun cita-citanya itu tidak disetujui oleh Papinya, tapi Alvin tetap kekeuh dengan cita-citanya itu. Toh Maminya mendukung penuh cita-citanya itu. Dukungan dari Mami nya saja sudah cukup membuat Alvin merasa termotivasi dan yakin.
            Mata lensa milik Alvin mulai menangkap setiap moment yang ada. Satu jepret, dua jepret dan ups… Alvin terpana untuk beberapa saat ketika mata lensanya menangkap sesosok Gadis Cantik yang baru saja keluar dari sebuah toko bunga seraya membawa satu buket bunga Krisan Putih. Alvin tersenyum kecil, sebelumnya ia tidak pernah melihat gadis secantik itu. Seakan terhipnotis oleh kecantikan gadis ‘asing’ itu, Alvin pun mengikuti setiap pergerakan yang Gadis itu lakukan secara diam-diam sambil berusaha mengambil gambarnya. Alvin seolah ketagihan, dan karna terlalu focus dengan ‘Objek Menakjubkan’ itu, Alvin sampai-sampai tidak memperhatikan jalanan sekitar yang lumayan ramai oleh para pejalan kaki yang berlalu lalang.
            Tanpa sengaja Alvin menubruk tubuh seorang pejalan kaki, kamera kesayangannya nyaris saja terjatuh jika Alvin tidak sigap, Alvin menghela nafas lega. Hampir saja.
            “maaf… maaf…” sesal Alvin pada pejalan kaki itu,
            “makanya lain kali hati-hati”
            “sekali lagi maaf yaa??”
            Merasa kehilangan target, Alvin malah ling lung sendiri, ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Kemana gadis tadi? Kenapa cepat sekali menghilangnya?
            “ergh! Gue kehilangan target” erang Alvin putus asa. Ia lalu melihat hasil jepretannya yang beberapa saat lalu tertangkap secara tidak sengaja oleh lensa kameranya. Alvin melihat beberapa foto Gadis itu dengan senyuman mengembang diwajah tampannya. Dengan pelan Alvin bergumam,
            “gila! Ini cewek apa bidadari?? Cakep banget, mana cepet banget lagi ngilangnya… hmm… kemana ya dia?”



***

            Via meletakkan satu buket Bunga Krisan Putih  diatas makam Mamanya yang selama 4 tahun terakhir ini tidak pernah ia kunjungi. Via memilih bunga Krisan karna Mamanya adalah pecinta bunga krisan, sama seperti dirinya. Baru beberapa detik ia duduk disamping makam Mamanya, Via malah merasa tidak sanggup menahan bendungan air matanya. Air mata itu menetes deras mengiringi rasa rindunya yang selama 4 tahun ini membuncah hebat. Meskipun 4 tahun berlalu semenjak kepergian Mamanya, hingga detik ini Via masih belum bisa mempercayai bahwa Mama nya telah pergi meninggalkannya bahkan untuk selamanya. Lamat-lamat isakan itu mulai terdengar pelan menyayat hati, dan dibalik kekerasan hatinya selama ini, Via sangat berharap disaat-saat seperti ini Papa nya akan datang untuk memeluknya dan menenangkannya, tapi kenyataan yang Via terima sekarang sangat amat menyakitkannya. Papanya tidak disini, tidak juga memeluknya seperti apa yang ia harapkan.
            Via memeluk batu nisan Mamanya dengan tangisan yang semakin menjadi. Pertahanan yang ia bangun selama 4 tahun ini akhirnya runtuh. Biarkan dia menangis, biarkan seluruh dunia tahu bahwa dirinya begitu rapuh.
            “Mama…. Rea kangen sama Mama, Rea kangeeeenn banget… didunia ini, Cuma Mama sama Tante Dyna yang bener-bener tulus sayang sama Rea, dan semua orang bahkan Papa nggak ada satupun yang sayang sama Rea… hiks… kenapa? Kenapa Mama nggak bawa Rea pergi sama Mama? Rea juga mau pergi sama Mama, Rea nggak sanggup hidup sendiri disini Ma… senggaknya peluk Rea untuk sedetik saja…”


Flash Back On~


            “Happy Birthday Reaaa… ini mama punya hadiah buat Rea” kata Dyra sambil menjulurkan sebuah boneka tedy bear berwarna cokelat dihadapan Rea. Rea tersenyum lalu segera merebut boneka tedy bear itu dari tangan Mamanya, memang sudah sejak lama Rea menginginkan boneka itu.
            “makasih ya udah kasi Rea kado ini. Rea janji akan jaga hadiah pemberian Mama ini sebaik mungkin”
            Rea lalu memeluk Mamanya dan menghadiahkan Mama nya dengan ciuman bertubi-tubi diseluruh bagian wajahnya. Dyra hanya tertawa kegelian.


Flash Back Off~

            Via membuka kedua matanya dan menutup ingatan masa lalunya dengan perasaan pedih. Dan boneka tedy bear pemberian Mama nya itu malah ia hilangkan 4 tahun yang lalu, padahal Via sudah berjanji dihadapan Mamanya akan menjaga hadiah pemberian Mamanya itu dengan sebaik mungkin, tapi Via malah menghilangkannya. Via menyesali diri. Boneka itu merupakan satu-satunya barang pemberian Mama nya yang ia bawa keluar dari rumah 4 tahun yang lalu, dan ia tidak sempat membawa barang-barang yang lain karena Mama nya langsung membawanya pergi malam itu. Via sangat menyesal karna tidak bisa menepati janjinya pada Sang Mama.

            “Maaf karna Via udah ilangin boneka tedy bear nya, Ma….” Lirih Via pelan. Sebulir air matanya kembali menetes secara perlahan.



***

            Sejak 30 menit yang lalu kedua mata Alvin tidak juga teralihkan dari layar monitor laptop yang ada dihadapannya saat ini. Sedikitpun Alvin merasa tidak bosan menatap keindahan ‘objek mengagumkan’ yang tadi tertangkap oleh mata lensanya secara tidak sengaja itu. Sesekali Alvin tersenyum, Gadis itu benar-benar sangat cantik dengan rambut sebahunya, kulit putih mulusnya, bibir tipisnya yang merah alami tanpa olesan lipstick, juga pipi chubbynya yang menggemaskan, semuanya benar-benar mempesona bagi Alvin. Kalau saja tadi ia tidak kehilangan jejak Gadis itu, mungkin Alvin bisa mengajaknya berkenalan.
            Merasa sedikit pegal karna terlalu lama duduk, Alvin pun merentangkan kedua tangannya keatas sembari menggeliat, Alvin menguap dan kedua matanya mulai terasa berat. Jam didinding kamarnya sudah menunjukan pukul 00.05 WIB, benar-benar tidak terasa. Alvin lalu mematikan laptopnya, dan tepat saat ia menutup laptopnya, tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada Boneka Tedy Bear Cokelat yang terpajang diatas meja belajarnya. Boneka Tedy Bear itupun kembali mengingatkan Alvin pada seseorang dimasa lalunya. Ia adalah cinta pertama Alvin yang sampai saat ini masih ia tunggu. Alvin mendesah pelan lalu meraih boneka itu, untuk beberapa saat Alvin menatap boneka itu, Alvin tersenyum kecil. Entah kenapa ia merasa bahwa penantiannya sebentar lagi akan berakhir.

            “Andrea…. Gue masih nungguin lo disini…”




                                    BERSAMBUNG…





0 comments:

Post a Comment