Saturday, January 25, 2014

0

You’re Mine [Part 4: Setangkai Bunga Krisan]












Sebelumnya…


Agni mulai tidak tahan, ia menggebrak meja kantin sedikit keras hingga menimbulkan perhatian halayak banyak, Agni bangkit lalu menantang Dea dengan tatapan tajamnya.
            “lo kalo ngomong bisa biasa aja nggak sih? Lo fikir kita selama ini nggak kerja? Kita semua disini, kerja pontang-panting nguber-nguber Cakka Cuma untuk wawancara dia, puluhan kali kita ngejer-ngejer dia, puluhan kali juga dia ngedamprat kita, lo nggak pernah terjun ke lapangan langsung dan lihat apa yang terjadi kan, jadi tolong berhenti sok tau!”
            “lo –“           
            “tugas lo itu dimeja redaksi, jadi bisa kan lo nggak ganggu pekerjaan gue? Kalo lo mau marah, marah sama gue, jangan sama Ify. Lo duduk yang manis aja, dan tunggu hasil wawancara gue. Lo fikir gue nggak sanggup apa wawancara si Cakka itu? Toh masih ada setengah bulan kan?” kata Agni tak sabar. Dea yang mulai jengah langsung memberi isyarat pada kedua sahabatnya untuk segera hengkang dari tempat itu. Agni tersenyum sinis, dasar Mak Lampir! Umpatnya dalam hati.
            Via yang sejak tadi menyimak pertengkaran itu mulai berfikir dan mulai merasa penasaran dengan sosok Cakka yang baru saja mereka ributkan. Seperti apa sih Cakka itu? Itulah sepenggal pertanyaan yang timbul dikepala Via.
            Ify menghela nafas beratnya, dan baru saja ia merasa sedikit tenang, tiba-tiba saja ponselnya bergetar., menandakan ada pesan masuk ke nomernya.  Ify tersentak ketika melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Perasaannya mulai tidak karuan. Apa lagi ini?

====================

From: Kak Febby

Ifyyyyy…. Minggu
Depan aku pulang :)
Miss you :*

====================

            Mendadak Ify merasa gusar. Febby. Dia telah kembali.



***

Part 4



            Ify memutar ponsel yang ada ditangannya dengan gusar, sudah hampir 10 menit ia menunggu kedatangan Rio di Café itu, tapi hingga saat ini Rio belum juga menampakkan tanda-tanda kehadirannya. Sepenggal pesan singkat yang tadi siang Febby kirimkan padanya semakin membuat Ify gusar, ia bahkan tidak yakin ingin memberitahu Rio tentang kepulangan Febby atau tidak. Disatu sisi, Ify tidak ingin memberitahukan Rio, tapi disisi lainnya, Ify merasa penasaran dengan respon Rio jika dia tahu, kalau mantan pacarnya yang juga adalah Kakak Sepupu terdekat Ify itu akan kembali lagi. Ify menghela nafas panjangnya, apapun keadaannya ia harus bisa yakin pada Rio. Sejak kepergian Febby 2 tahun yang lalu, Rio sudah resmi memilihnya, meskipun baru 3 bulan menjalin hubungan, Ify berusaha yakin akan hati pemudanya itu.
            Ify langsung tersentak dari lamunan panjangnya saat kedua lengan kokoh nan hangat memeluk tubuhnya dari belakang. Pelukan Rio.
            “sorry ya telat. Tadi macet…” Rio mengecup lembut pipi mulus Ify lantas duduk dihadapan Gadis itu. Ify hanya mengangguk beberapa kali, perasaannya semakin tidak menentu. Siapkah ia jika harus memberitahukan Rio?
            Kening Rio langsung membentuk lipatan ketika ia menangkap ekspresi kecemasan terpeta diwajah Gadisnya itu. Rio sedikit mencondongkan wajahnya kearah Ify lantas bertanya,
            “kamu kenapa, Fy? Kok cemas gitu keliatannya? Masih mikirin soal Cakka yang nggak mau diwawancara?” Ify menggeleng cepat,
            “terus?”
            “Yo?” panggil Ify ragu-ragu,
            “hmm…” Rio hanya bergumam pelan lalu meraih tangan Ify dan mengenggamnya erat.
            “a… aku mau nanya sesuatu boleh nggak?”
            “mau nanya apa?” Rio menatap kedua mata Ify lekat-lekat, hal itu kontan saja membuat Ify meleleh. Ify menghela nafas beratnya sekali lagi, tenang, ia harus tetap tenang.
            “k… kalau seandainya Kak Febby balik lagi… gimana?”
            Genggaman tangan Rio pada tangan Ify langsung mengendur seketika. Kenapa Ify mendadak membawa-bawa nama Febby dihadapannya? Selama 2 tahun terakhir ini, tepatnya selepas kepergian Febby yang tanpa kata itu, mereka berdua tidak pernah membahas lagi masalah Febby sekalipun, tapi kenapa hari ini Ify kembali mengungkitnya? Secara mendadak pula?
            “kenapa kamu nanya kayak gitu tiba-tiba?” Tanya Rio dingin. Kali ini ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan milik Ify. Ify terdiam, haruskah ia jujur sekarang? Ify merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Rio, tapi Ify tahu, bahwa membohongi Rio bukanlah perkara gampang.
            “nggak apa-apa, aku Cuma mau nanya aja. Kamu marah?” Tanya Ify takut-takut, tapi Rio malah bergeming, ia sudah terlanjur curiga dengan gelagat Ify.
            “ka… kalau kamu marah, aku minta maaf… pertanyaannya nggak perlu dijawab” Ify menunduk dalam. Ia pun telah membuat kesimpulan sendiri, ternyata memberitahu Rio tentang kepulangan Febby bukanlah ide yang bagus.
            Sekarang Rio tampaknya benar-benar marah. Itu terbukti ketika Rio langsung membuang tatapannya kearah lain dan mengabaikan permintaan maaf dari Ify. Apa sikap Rio ini menunjukan bahwa hingga detik ini ia belum bisa melupakan Febby? Perasaan takut dan cemas mulai menghantui benak Ify.
            Setelah cukup lama tenggelam dalam keheningan, Rio akhirnya buka suara…

            “kalau seandainya Febby kembali, aku nggak peduli. Karena aku udah milih kamu, Fy…”
            Ify mengangkat wajahnya lalu menatap Rio yang saat itu masih belum mau melihat kearahnya. Ify tersenyum kecil, entah kenapa perkataan Rio barusan langsung membuat hatinya terasa sedikit lebih tenang. Dalam hati Ify berharap, semoga Rio memegang teguh ucapannya itu.




***


            “Cakka!” panggil Mama dari depan kamar Cakka seraya mengetuk pintunya. Cakka yang saat itu sedang sibuk berkutat dengan laptopnya langsung menoleh dan menyahut.
            “masuk Ma, nggak dikunci”
            Beberapa saat setelah itu, Mama pun memasuki kamar Cakka, ia sedikit terkejut ketika melihat Cakka yang ternyata belum bersiap-siap. Padahal malam ini , mereka sekeluarga akan makan malam bersama dengan tamu yang sangat penting.
            “kamu kok belum siep-siep sih, Kka? 10 menit lagi Shilla dan keluarganya akan dateng lho”
            SHILLA, mendengar nama itu Cakka langsung mendesah pelan. Kenapa? Kenapa dia dan Shilla harus terlibat dalam perjodohan keluarga ini? Perjodohan keluarga yang mereka berdua sama-sama tahu bahwa mereka tidak pernah menginginkan adanya perjodohan ini. Sebenarnya Cakka bisa saja menolak saat pertama kali Papanya menjodohkannya dengan Shilla, akan tetapi Cakka merasa tidak pantas jika harus menolak. Selama ini Papa nya sudah memberikan hampir seluruh hidupnya demi Cakka, bahkan Papa nya rela kehilangan anak serta Isteri sah-nya hanya untuk melindungi Cakka, kenyataan itulah yang membuat Cakka merasa ‘tidah tahu diri’ jika harus menolak keinginan Papanya. Maka meski sangat bertentangan dengan nuraninya, Cakka menerima perjodohan ini begitu saja.
            1 bulan yang lalu, Cakka dan Shilla resmi bertunangan. Tapi baik Cakka maupun Shilla sepakat untuk merahasiakan pertunangan mereka dari semua teman-teman mereka. Yang tahu tentang pertunangan mereka hanyalah keluarga mereka, benar-benar tidak ada yang lain. Dan disaat Cakka dan Shilla begitu rapih menyembunyikan semuanya dalam kotak rahasia mereka, Cakka tidak pernah tahu bahwa diam-diam Shilla menaruh hati padanya, bahwa diam-diam Shilla begitu mencintainya. Perasaan tidak kasat mata dan luput dari pengetahuan Cakka itu membuat Shilla merasa tertampar, dan ia perih setiap kali mereka didepan orang-orang banyak termasuk itu sahabat-sahabat dekat mereka, Cakka selalu bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal Shilla sekalipun. Kenyataan pahit ini pun melempar sebuah pertanyaan dibenak Shilla: salahkah ia jika berharap lebih pada Cakka?

            “5 menit lagi aku turun, Ma” kata Cakka dengan seulas senyum palsunya.




***

            “V-I-A” Eja Alvin seraya memperhatikan foto Via yang ada ditangannya. Sejak 15 menit yang lalu, Alvin duduk dianak tangga sambil memperhatikan foto Via dengan tidak ada bosannya. Perkenalan singkatnya dengan Via ketika dikelas tadi mendadak menggelitiki hatinya hingga membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Ini kah yang namanya jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya? Alvin kembali menatap foto itu, sikap cuek yang Via tunjukan padanya justru membuatnya merasa penasaran.
            “gue akan dapetin lo!” ucap Alvin mantap.
            “dapetin siapa?” kata seseorang yang tiba-tiba saja mucul dari samping Alvin dan membuat Alvin kaget hingga tertarik dari lamunan panjangnya.
            “Kak Angel?? Ngagetin aja lo!!” kesal Alvin lalu membuang mukanya kearah lain. Angel tersenyum jahil lalu duduk disamping Adiknya itu sambil membawa minuman bersodanya. Angel melirik foto yang ada ditangan Alvin, ia tersenyum lalu mengangguk-angguk sok paham.
            “itu target lo yang baru, ya? Cakep kok. Emmm… itu calon korban lo yang keberapa?”
            Alvin menatap Angel dengan seringai tajamnya, dan tatapan Alvin itu seakan mengisyaratkan bahwa ia ingin menelan Angel hidup-hidup detik ini juga.
            “eits… ngeliatnya biasa aja dong, Adikku tercinta” Angel merangkul pundak Alvin lalu meminum minuman bersoda yang sejak tadi ada ditangannya.
            “dia ini bukan calon korban gue yang selanjutnya, Kak” kata Alvin pelan sambil menatap foto yang ada ditangannya. Angel nyaris tersedak ketika mendengarkan perkataan Alvin itu. Hah? Bukan calon korban yang selanjutnya? Maksud Alvin dia sudah tobat jadi play boy? Apa tidak salah?
            “oooo… jadi ceritanya Adik gue yang satu ini lagi mau belajar serius sama cewek? Emmm… bagus sih, dan kayaknya gue harus ngucapin makasih nih sama cewek di foto ini”
            “ck… nggak usah lebay deh, Kak…” sahut Alvin malas.
            Angel tiba-tiba berfikir lalu mengingat sesuatu. Ia menatap Alvin yang duduk disampingnya untuk beberapa lama, dan setelahnya…
            “kalo lo mau belajar serius sama nih cewek, terus –“ Angel menggantungkan kalimatnya dan membuat Alvin penasaran. Alvin menatap Angel dengan kedua alis bertaut,
            “terus apa, Kak?”
            “nasib cewek pemilik boneka Teddy Bear itu, gimana?”
            Jleb! Pertanyaan yang baru saja Angel lemparkan padanya kontan membuat Alvin dilemma, pertanyaan itu seolah menusuk jantungnya, kenapa ia bisa lupa begitu saja dengan Andrea-“Nya” itu? Angel tersenyum maklum, ia menepuk pundak Alvin beberapa kali lantas berkata,
            “gue seneng karna akhirnya lo mau serius sama cewek, tapi jangan sampe keseriusan lo ini akhirnya akan bikin lo goyah nantinya disaat Gadis pemilik boneka Teddy Bear itu kembali dalam hidup lo lagi. Disaat nanti lo goyah dengan keseriusan lo itu, maka disaat itu lah lo akan menyakiti salah satu diantara mereka, dan cewek ini –“ Angel menunjuk foto Via yang ada ditangan Alvin, ia tersenyum sejenak lalu melanjutkan perkataannya, “akan bernasib sama dengan ‘korban-korban’ lo sebelumnya…”
            Alvin terpaku. Benarkah apa yang baru saja Angel katakan padanya?
            “disini, bukan masalah bagaimana lo harus belajar serius sama cewek, melainkan bagaimana lo harus bisa konsisten dengan pilihan lo sendiri”
            Ponsel Angel tiba-tiba saja berbunyi, ia pamit pada Alvin untuk mengangkat telfon sebentar lalu bangkit menjauhi Alvin dan membiarkan Alvin berfikir sendiri.

            “Hallo? FEBBY??” Sapa Angel penuh semangat pada orang disebrang sana.





***

Saat mimpi itu datang untuk yang pertama kalinya…

            Anak laki-laki kecil berwajah oriental itu menatap Rea yang duduk diruang tunggu sambil menangis. Sejak ia dan Mami nya membawa Rea kerumah sakit, Rea tidak henti-hentinya menangis. Ia terus-terusan menyebut nama Mamanya tanpa henti. Anak laki-laki kecil itu menghela nafas beratnya, ia berjalan perlahan menghampiri Rea  lalu duduk disamping Rea yang menangis.
            “H… hay…” sapa anak laki-laki itu dengan ragu-ragu. Tapi Rea bergeming, ia hanya menatap sekilas kearah anak laki-laki itu lalu mengalihkan tatapannya.
            “nggak usah nangis lagi ya? Mama kamu pasti baik-baik aja, dulu Mami aku juga pernah masuk rumah sakit kayak Mama kamu, tapi Mami aku langsung sembuh, jadi kamu jangan sedih lagi ya?” ucapnya polos. Rea masih tetap bergeming, tapi anak laki-laki kecil itu tidak juga menyerah.
            “oya kenalin, aku Aphin, kamu?” anak laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Rea. Tapi Rea hanya diam dan masih tidak menunjukan reaksi apapun.
            “kamu nggak mau kenalan sama aku?” Rea akhirnya menatap anak laki-laki yang duduk disampingnya itu. Tapi Rea menatapnya dengan pandangan dingin. Tangan anak laki-laki itu masih terulur menunggu tangan mungil Rea menyambutnya.



***

            Via langsung terbangun ketika mimpi itu berakhir. Sudah hampir 6 tahun berlalu semenjak pertemuannya dengan Aphin untuk yang pertama kalinya itu, tapi baru sekaranglah Via memimpikan bocah laki-laki kecil yang dulu sempat menghiburnya ketika Mama nya sedang dalam keadaan kritis. Bahkan tanpa ada yang tahu, Via masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana wajah polos milik Aphin yang dulu dengan begitu tulus menghiburnya.
            Saat itu, Via mungkin terlihat cuek dan tidak peduli pada sosok Aphin kecil-nya, tapi jauh didasar hatinya yang terdalam, Via merasa sangat tenang ketika Aphin datang menghampirinya, duduknya disampingnya lalu menghiburnya. Hanya saja keadaan hatinya yang tidak cukup baik ketika itu membuat Via tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya. APHIN, 6 tahun berlalu, tapi Via masih selalu mengingat nama itu.
            “tapi Mama aku nggak seberuntung Mami kamu, Phin. Mami kamu langsung sembuh saat dibawa kerumah sakit, tapi Mama aku malah pergi ninggalin aku buat selamanya… Phin, apa aku salah kalau aku berharap kamu akan dateng lagi dan nenangin aku kayak pas waktu itu…?  aku udah pulang, Phin… kamu dimana….?” Setetes air mata Via terjatuh membasahi pipi chubbynya. Via juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia mengingat sosok Aphin seperti ini.
            “tadi kita belom sempet kenalan ya? Kenalin gue Alvin, cowok terkeren se-jagad raya” mendadak Via mengingat perkenalannya dengan Alvin kemarin. Dan entah kenapa Via merasa, bahwa sosok Aphin kecilnya sangat mirip dengan Alvin yang menyebalkan itu. Atau apa semua ini hanya perasaannya saja?


***

            “sebentar lagi MID Semester Alvin, Papi mau kamu serius belajar dan dapet nilai terbaik disekolah, masa iya kamu mau terus-terusan kalah sama Cakka?” ucap Pak Duta terdengar sangat tenang namun begitu tegas.
            Mendengar ucapan Papinya barusan, Alvin langsung melepaskan sendok berserta garpunya. Entahlah, ia merasa selera makannya berkurang kalau Papi nya mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Cakka, dan Alvin selalu kesal setiap kali Papi nya melakukan hal itu. Angel dan Mami langsung menatap Alvin dan Papi secara bergantian dengan tatapan harap-harap cemas. Mendadak suasana sarapan pagi yang tadinya tenang sekarang memanas.
            “Papi bisa nggak sih sekaliii aja nggak ngebanding-bandingin aku sama Cakka? Cakka ya Cakka, aku ya aku. Papi nggak bisa seenaknya ngebanding-bandingin aku sama Cakka kayak gini” kata Alvin yang mulai merasa tidak tahan lagi. Selama ini ia sudah terlalu banyak bersabar dalam menghadapi keegoisan Papinya.
            “Papi nggak ngebanding-bandingin kamu sama Cakka, Papi Cuma mau kamu contoh sikap Cakka, Papi nggak mau terus-terusan ngeliat kamu kalah dari Cakka, dan Papi Cuma mau kamu memiliki mental seorang pemenang, itu saja!”
            “dengan memaksakan kehendak Papi sama aku? Dan dengan cara mengorbankan cita-cita aku dan mengikuti jejak Almarhum Opa menjadi seorang Dokter?”
            “ALVIN!!”
            “waktu aku masuk SMA, Papi bersikeras maksa buat masuk jurusan IPA, dan setelah aku naik kelas sebelas, Papi mati-matian maksa aku buat belajar keras supaya aku bisa dapet nilai bagus dan nanti bisa masuk Kedokteran seperti yang Papi mau, aku ikutin semua kemauan Papi meskipun itu sangat bertentangan dengan kata hati aku, Pi… tapi Papi nggak pernah sedikitpun mau ngehargain usaha aku…”
            “Alvin udah sayang…” Ibu Uchie berusaha menghentikan Alvin. Tapi percuma karena Alvin tidak menghiraukannya. Kali ini Alvin sudah merasa cukup. Ia lelah jika harus terus-terusan mengalah seperti ini.
            “inget Pi, aku bukan Cakka, aku Alvin anak Papi. Dan kalo Papi fikir Papi bisa ngejadiin aku robot seperti Cakka yang dijadiin robot sama Papanya, Papi salah besar. Aku nggak mau jadi seperti Cakka yang hanya dijadiin robot oleh Papa nya sendiri, aku nggak mau jadi Cakka yang selamanya akan terus hidup dibawah kendali Papanya, aku punya keinginan, aku punya ci –“
            PLAAK… sebuah tamparan yang cukup keras mendarat tepat dipipi sebelah kanan Alvin sebelum ia menyelesaikan perkataannya. Melihat kejadian itu Angel langsung mengalihkan perhatiannya kearah lain, sementara Ibu Uchie, kedua matanya mulai terasa panas dan telah siap merembeskan air mata.
            “jaga omongan kamu Alvin! Kamu harusnya malu sama Cakka. Kadang Papi iri dengan Pak Edgar Adhirajasa, kenapa dia bisa punya seorang anak laki-laki yang begitu penurut sementara Papi nggak bisa”
            Alvin tersenyum sinis, ia mengangguk 2 kali lalu bangkit dari kursinya. Sebelum pergi dari ruang makan, Alvin sempat berkata,
            “kalau Papi begitu kagum sama Cakka, kenapa Papi nggak jadiin aja Cakka sebagai anaknya Papi? Aku sudah telat, dan aku pamit”
            Alvin berjalan keluar tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Alvin bahkan tidak menghiraukan panggilan Mami nya yang memintanya untuk berhenti. Hatinya sudah terlanjur sakit, dan ia sudah benar-benar sangat lelah dengan semua keadaan ini.



***

            Cakka menghentikan laju mobilnya ketika ia melihat seorang Gadis yang berseragam sama dengannya sedang berdiri dipinggir jalan. Cakka memperhatikan baik-baik wajah Gadis itu, dan ia merasa pernah melihat Gadis itu sebelumnya. Cakka berfikir sejenak untuk mengingat-ingat. Dan tidak lama, ingatan ketika ia melempar bola kearah Gadis itu secara tidak sengaja dan nyaris mengenai wajah Gadis itu terlintas dikepala Cakka. Dan entah dorongan darimana, Cakka ingin menghentikan mobilnya dan bertanya pada Gadis itu.
            Cakka membuka kaca mobilnya lalu melihat Gadis itu yang tampaknya mulai menyadari kehadirannya. Gadis itu menatap Cakka dengan pandangan heran,
            “hay, kamu yang kemaren kena lemparan bola saya kan?” tanyanya dari dalam mobil. Gadis itu berusaha mengingat lalu mengangguk pelan, dan entah kenapa ia tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Semua ini sama persis seperti apa yang ia rasakan ketika pertama kali melihat pemuda tampan ini.
            “kamu lagi ngapain disini? Nggak ada yang nganterin?” Tanya Cakka to the point.
            “la.. lagi nungguin taksi” jawab Via sedikit gugup. Cakka mengangguk beberapa kali lantas berkata,
            “samaan aja yuk! Kita kan satu sekolah”
            “ta.. tapi…”
            “anggep aja ini sebagai tanda permintaan maaf saya karna kejadian kemaren”
            Perlu dicatat, ini adalah pertama kalinya Cakka menawarkan sesuatu pada orang yang baru ia kenal. Dan selama ini, tidak ada satu cewek pun termasuk itu Shilla yang pernah satu mobil dengannya. Jangankan satu mobil, menawarkan Shilla untuk berangkat sekolah bersamapun Cakka tidak pernah melakukannya sama sekali. Bukan karna rahasia pertunangan mereka yang ingin ia jaga dengan serapih mungkin, hanya saja Cakka merasa tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu, tapi dengan Gadis ini semuanya terasa berbeda, Cakka bahkan belum menyadarinya.
            Menyadari raut cemas yang terpeta pada wajah Gadis itu, Cakka tersenyum kecil. Dan sekali lagi, ini senyuman pertama yang ia sunggingkan karna melihat seorang Gadis. Seakan bisa membaca pikiran Gadis itu, Cakka berkata,
            “tenang, saya bukan orang jahat kok. Saya Cuma nawarin, mau ditolak atau diterima itu semua saya serahin sama kamu”
            Gadis itu mengangguk pelan, sepertinya Cakka bersungguh-sungguh memberikannya tumpangan.
            “jadi gimana?”
            Sebagai jawabannya, Gadis itu membuka pintu mobil Cakka. Tidak butuh waktu lama, Gadis itu sudah duduk disamping Cakka. Selama 6 tahun terakhir ini, sulit bagi seorang Via untuk memberikan kepercayaannya pada seorang laki-laki, entah untuk masalah sekecil apapun itu, tapi pada pemuda yang satu ini…? Sepertinya Via akan mulai membuat sebuah ‘pengecualian’
            “kita belum kenalan ya? Kenalin saya Cakka, kamu?” Cakka mengulurkan tangan kanannya sambil tetap focus dengan jalanan yang ada didepannya. Via berfikir, sepertinya ia pernah mendengar nama Cakka sebelumnya, Via mencoba mengingat-ingat, dan ternyata ia pernah mendengar Agni menyebut-nyebut nama Cakka sebelumnya. Jadi ini dia yang kawan-kawannya perdebatkan kemarin siang? Via menatap sejenak tangan Cakka yang menggantung diudara, tidak lama Via mendesah pelan lalu menerima uluran tangan Cakka,
            “Via” jawabnya singkat. 2 detik kemudian, Cakka langsung melepaskan jabatan tangannya.
            “kamu anak baru ya? Saya belum pernah lihat kamu sebelumnya” Via mengangguk pelan.
            “kelas berapa?”
            “XI IPA 3” jawabnya singkat.
Cakka hanya mengangguk paham. Cakka melirik sejenak kearah Gadis yang tengah duduk disampingnya itu. Melihat Gadis yang ada disampingnya ini entah kenapa membuat Cakka merasa menemukan dirinya dalam versi seorang cewek. Cakka seolah berkaca.
            Kemudian hening. Tidak ada lagi yang terdengar melanjutkan obrolan singkat itu. Cakka sibuk dengan jalanan yang ada didepannya, sementara Via sibuk dengan pikirannya sendiri dan sibuk mengendalikan detak jantungnya yang semakin lama semakin tak beraturan. Ini semua benar-benar salah! Fikirnya.
            10 menit kemudian tibalah mereka disekolah. Cakka dan Via keluar dari dalam mobil milik Cakka secara bersamaan. Dan tanpa mereka sadari, kedatangan mereka yang secara bersamaan itu menimbulkan perhatian halayak banyak. Tidak hanya mengundang perhatian, tapi kedatangan mereka berdua pagi itu menimbulkan pertanyaan dikalangan siswa-siswi Tunas Bangsa yang selama ini mengenal Cakka sebagai sosok super cuek dan dingin. Banyak juga siswi-siswi yang merasa iri dengan Via. Bagaimana tidak iri, jika Via ternyata adalah cewek pertama yang semobil dengan Cakka.
            “makasih atas tumpangannya” kata Via sungkan,
            “sama-sama” jawab Cakka.
            “ka… kalau begitu saya duluan ya?”
            “oke”
            Via pun berjalan melewati Cakka begitu saja tanpa sedikitpun melihat kearah pemuda itu. Dan saat Via melewatinya, aroma orange yang begitu menyegarkan tertangkap oleh indera pencium Cakka. Dan untuk yang pertama kalinya, Cakka merasakan jantungnya bertalu-talu ketika mencium aroma seorang Gadis.

            “VIA…” Cakka mengulang nama Gadis itu lalu tersenyum sendiri.




***

            “Target gue akhirnya dateng juga…” kata Alvin penuh semangat dari atas atap sekolah ketika melihat Via yang baru saja keluar dari parkiran. Alvin segera mengangkat kameranya dan mengambil foto Via sebanyak mungkin dalam berbagai macam ekspresi. Saat sosok Via menghilang memasuki gedung sekolah, saat itulah Alvin menghentikan aktifitasnya mengambil gambar Via secara diam-diam.
            Alvin bersandar pada besi pembatas lalu melihat-lihat hasil jepretannya pagi ini, dan Alvin merasa sangat puas ketika melihat hasilnya itu. Ternyata Gadis yang telah mencuri hatinya itu bukan hanya sekedar cantik, tapi sangat cantik. Keinginan dihati Alvin untuk menjadikan Gadis itu sebagai miliknya semakin kuat saja. Dan ia sudah bertekad akan melakukan segala cara untuk menaklukan hati Via.

            “lo akan jadi milik gue…”



***

            Via terheran-heran ketika mendapati setangkai bunga Krisan putih diatas mejanya. Via melangkah lebih dekat lagi kearah mejanya. Ternyata disana bukan hanya terdapat setangkai Bunga Krisan, tapi Via juga mendapatkan foto dirinya yang sedang keluar dari Toko Bunga sambil membawa sebuket Bunga Krisan putih. Via ingat hari itu, hari dimana ia pergi ke makam Mamanya untuk yang pertama kalinya setelah hampir selama 4 tahun tidak pernah mengunjungi makam Mamanya. Tapi siapa yang telah berani-beraninya mengambil fotonya secara diam-diam seperti ini?
            Via membalik foto itu, dan dibalik foto itu terdapat sebuah tulisan yang semakin membuatnya merasa bingung.


“setangkai bunga krisan putih untuk seseorang yang special… Semoga hari kedua lo disekolah menyenangkan, Good Morning :) ….”

            Dalam benaknya Via bertanya-tanya, siapa yang telah melakukan semua ini? Belum tuntas rasa herannya dengan semua benda-benda yang ada diatas mejanya, tiba-tiba saja seseorang datang dari belakang Via lalu mengejutkannya.
            “gimana bunganya? Lo suka?” Via yang merasa terkejut langsung menoleh kebelakang, dan kedua matanya membelalak lebar ketika ia mendapati sosok Alvin yang sedang berdiri dibelakangnya dengan jarak wajah yang hanya berjarak beberapa centi saja, bahkan saking dekatnya jarak diantara mereka, mereka bisa merasakan desauan nafas masing-masing yang terasa hangat.
            Alvin memamerkan senyuman mematikan andalannya yang mendadak membuat Via memeleh hanya dalam hitungan detik saja. Senyuman mematikan milik Alvin itu selalu mampu membuat Gadis mana saja jatuh cinta, tapi apa hal itu berlaku juga buat seorang Via?
            Kedua mata Alvin menghujam dalam kedua manik mata milik Via. Untuk beberapa saat Via terpaku, rasanya ia ingin mengalihkan tatapannya dari kedua mata itu, tapi kenapa ia justru merasa semuanya sulit. Tatapan Alvin seakan menjelma menjadi sebuah magnet yang menarik penuh perhatiannya.
            Setelah cukup lama Via akhirnya tersadar, ia mendorong pelan dada Alvin hingga jarak mereka sedikit menjauh. Via berusaha bersikap wajar lantas berkata,
            “ini semua dari lo?” Tanya Via dingin. Alvin hanya mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah manis Via.
            “kalo gitu, lo ambil kembali, gue nggak butuh” Via meraih tangan Alvin lalu menyerahkan bunga beserta foto itu secara paksa, dan Alvin malah menerimanya dengan begitu saja.
            Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung keluar kelas dan menyisakan Alvin seorang didalam sana. Alvin menghela nafas panjangnya, kenapa sulit sekali mendekati Gadis itu? Tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin gentar, ia justru semakin merasa penasaran dengan sosok seorang Via.


            “ini baru awal, Via….”





                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment