Sebelumnya…
Agni
mulai tidak tahan, ia menggebrak meja kantin sedikit keras hingga menimbulkan
perhatian halayak banyak, Agni bangkit lalu menantang Dea dengan tatapan
tajamnya.
“lo kalo ngomong bisa biasa aja
nggak sih? Lo fikir kita selama ini nggak kerja? Kita semua disini, kerja
pontang-panting nguber-nguber Cakka Cuma untuk wawancara dia, puluhan kali kita
ngejer-ngejer dia, puluhan kali juga dia ngedamprat kita, lo nggak pernah
terjun ke lapangan langsung dan lihat apa yang terjadi kan, jadi tolong
berhenti sok tau!”
“lo –“
“tugas lo itu dimeja redaksi, jadi
bisa kan lo nggak ganggu pekerjaan gue? Kalo lo mau marah, marah sama gue,
jangan sama Ify. Lo duduk yang manis aja, dan tunggu hasil wawancara gue. Lo
fikir gue nggak sanggup apa wawancara si Cakka itu? Toh masih ada setengah
bulan kan?” kata Agni tak sabar. Dea yang mulai jengah langsung memberi isyarat
pada kedua sahabatnya untuk segera hengkang dari tempat itu. Agni tersenyum
sinis, dasar Mak Lampir! Umpatnya dalam hati.
Via yang sejak tadi menyimak
pertengkaran itu mulai berfikir dan mulai merasa penasaran dengan sosok Cakka
yang baru saja mereka ributkan. Seperti apa sih Cakka itu? Itulah sepenggal
pertanyaan yang timbul dikepala Via.
Ify menghela nafas beratnya, dan
baru saja ia merasa sedikit tenang, tiba-tiba saja ponselnya bergetar.,
menandakan ada pesan masuk ke nomernya.
Ify tersentak ketika melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Perasaannya
mulai tidak karuan. Apa lagi ini?
====================
From:
Kak Febby
Ifyyyyy….
Minggu
Depan
aku pulang :)
Miss
you :*
====================
Mendadak Ify merasa gusar. Febby.
Dia telah kembali.
***
Part
4
Ify
memutar ponsel yang ada ditangannya dengan gusar, sudah hampir 10 menit ia
menunggu kedatangan Rio di Café itu, tapi hingga saat ini Rio belum juga
menampakkan tanda-tanda kehadirannya. Sepenggal pesan singkat yang tadi siang
Febby kirimkan padanya semakin membuat Ify gusar, ia bahkan tidak yakin ingin
memberitahu Rio tentang kepulangan Febby atau tidak. Disatu sisi, Ify tidak
ingin memberitahukan Rio, tapi disisi lainnya, Ify merasa penasaran dengan
respon Rio jika dia tahu, kalau mantan pacarnya yang juga adalah Kakak Sepupu
terdekat Ify itu akan kembali lagi. Ify menghela nafas panjangnya, apapun
keadaannya ia harus bisa yakin pada Rio. Sejak kepergian Febby 2 tahun yang
lalu, Rio sudah resmi memilihnya, meskipun baru 3 bulan menjalin hubungan, Ify
berusaha yakin akan hati pemudanya itu.
Ify
langsung tersentak dari lamunan panjangnya saat kedua lengan kokoh nan hangat
memeluk tubuhnya dari belakang. Pelukan Rio.
“sorry
ya telat. Tadi macet…” Rio mengecup lembut pipi mulus Ify lantas duduk
dihadapan Gadis itu. Ify hanya mengangguk beberapa kali, perasaannya semakin tidak
menentu. Siapkah ia jika harus memberitahukan Rio?
Kening
Rio langsung membentuk lipatan ketika ia menangkap ekspresi kecemasan terpeta
diwajah Gadisnya itu. Rio sedikit mencondongkan wajahnya kearah Ify lantas
bertanya,
“kamu
kenapa, Fy? Kok cemas gitu keliatannya? Masih mikirin soal Cakka yang nggak mau
diwawancara?” Ify menggeleng cepat,
“terus?”
“Yo?”
panggil Ify ragu-ragu,
“hmm…”
Rio hanya bergumam pelan lalu meraih tangan Ify dan mengenggamnya erat.
“a…
aku mau nanya sesuatu boleh nggak?”
“mau
nanya apa?” Rio menatap kedua mata Ify lekat-lekat, hal itu kontan saja membuat
Ify meleleh. Ify menghela nafas beratnya sekali lagi, tenang, ia harus tetap
tenang.
“k…
kalau seandainya Kak Febby balik lagi… gimana?”
Genggaman
tangan Rio pada tangan Ify langsung mengendur seketika. Kenapa Ify mendadak
membawa-bawa nama Febby dihadapannya? Selama 2 tahun terakhir ini, tepatnya
selepas kepergian Febby yang tanpa kata itu, mereka berdua tidak pernah
membahas lagi masalah Febby sekalipun, tapi kenapa hari ini Ify kembali
mengungkitnya? Secara mendadak pula?
“kenapa
kamu nanya kayak gitu tiba-tiba?” Tanya Rio dingin. Kali ini ia melepaskan
genggaman tangannya dari tangan milik Ify. Ify terdiam, haruskah ia jujur
sekarang? Ify merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Rio, tapi
Ify tahu, bahwa membohongi Rio bukanlah perkara gampang.
“nggak
apa-apa, aku Cuma mau nanya aja. Kamu marah?” Tanya Ify takut-takut, tapi Rio
malah bergeming, ia sudah terlanjur curiga dengan gelagat Ify.
“ka…
kalau kamu marah, aku minta maaf… pertanyaannya nggak perlu dijawab” Ify
menunduk dalam. Ia pun telah membuat kesimpulan sendiri, ternyata memberitahu
Rio tentang kepulangan Febby bukanlah ide yang bagus.
Sekarang
Rio tampaknya benar-benar marah. Itu terbukti ketika Rio langsung membuang
tatapannya kearah lain dan mengabaikan permintaan maaf dari Ify. Apa sikap Rio
ini menunjukan bahwa hingga detik ini ia belum bisa melupakan Febby? Perasaan
takut dan cemas mulai menghantui benak Ify.
Setelah
cukup lama tenggelam dalam keheningan, Rio akhirnya buka suara…
“kalau
seandainya Febby kembali, aku nggak peduli. Karena aku udah milih kamu, Fy…”
Ify
mengangkat wajahnya lalu menatap Rio yang saat itu masih belum mau melihat
kearahnya. Ify tersenyum kecil, entah kenapa perkataan Rio barusan langsung
membuat hatinya terasa sedikit lebih tenang. Dalam hati Ify berharap, semoga
Rio memegang teguh ucapannya itu.
***
“Cakka!”
panggil Mama dari depan kamar Cakka seraya mengetuk pintunya. Cakka yang saat
itu sedang sibuk berkutat dengan laptopnya langsung menoleh dan menyahut.
“masuk
Ma, nggak dikunci”
Beberapa
saat setelah itu, Mama pun memasuki kamar Cakka, ia sedikit terkejut ketika
melihat Cakka yang ternyata belum bersiap-siap. Padahal malam ini , mereka
sekeluarga akan makan malam bersama dengan tamu yang sangat penting.
“kamu
kok belum siep-siep sih, Kka? 10 menit lagi Shilla dan keluarganya akan dateng
lho”
SHILLA,
mendengar nama itu Cakka langsung mendesah pelan. Kenapa? Kenapa dia dan Shilla
harus terlibat dalam perjodohan keluarga ini? Perjodohan keluarga yang mereka
berdua sama-sama tahu bahwa mereka tidak pernah menginginkan adanya perjodohan
ini. Sebenarnya Cakka bisa saja menolak saat pertama kali Papanya
menjodohkannya dengan Shilla, akan tetapi Cakka merasa tidak pantas jika harus
menolak. Selama ini Papa nya sudah memberikan hampir seluruh hidupnya demi
Cakka, bahkan Papa nya rela kehilangan anak serta Isteri sah-nya hanya untuk
melindungi Cakka, kenyataan itulah yang membuat Cakka merasa ‘tidah tahu diri’
jika harus menolak keinginan Papanya. Maka meski sangat bertentangan dengan
nuraninya, Cakka menerima perjodohan ini begitu saja.
1
bulan yang lalu, Cakka dan Shilla resmi bertunangan. Tapi baik Cakka maupun
Shilla sepakat untuk merahasiakan pertunangan mereka dari semua teman-teman
mereka. Yang tahu tentang pertunangan mereka hanyalah keluarga mereka,
benar-benar tidak ada yang lain. Dan disaat Cakka dan Shilla begitu rapih
menyembunyikan semuanya dalam kotak rahasia mereka, Cakka tidak pernah tahu
bahwa diam-diam Shilla menaruh hati padanya, bahwa diam-diam Shilla begitu
mencintainya. Perasaan tidak kasat mata dan luput dari pengetahuan Cakka itu
membuat Shilla merasa tertampar, dan ia perih setiap kali mereka didepan
orang-orang banyak termasuk itu sahabat-sahabat dekat mereka, Cakka selalu
bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal Shilla sekalipun. Kenyataan pahit
ini pun melempar sebuah pertanyaan dibenak Shilla: salahkah ia jika berharap
lebih pada Cakka?
“5
menit lagi aku turun, Ma” kata Cakka dengan seulas senyum palsunya.
***
“V-I-A”
Eja Alvin seraya memperhatikan foto Via yang ada ditangannya. Sejak 15 menit
yang lalu, Alvin duduk dianak tangga sambil memperhatikan foto Via dengan tidak
ada bosannya. Perkenalan singkatnya dengan Via ketika dikelas tadi mendadak
menggelitiki hatinya hingga membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Ini kah yang
namanya jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya? Alvin kembali menatap foto itu,
sikap cuek yang Via tunjukan padanya justru membuatnya merasa penasaran.
“gue
akan dapetin lo!” ucap Alvin mantap.
“dapetin
siapa?” kata seseorang yang tiba-tiba saja mucul dari samping Alvin dan membuat
Alvin kaget hingga tertarik dari lamunan panjangnya.
“Kak
Angel?? Ngagetin aja lo!!” kesal Alvin lalu membuang mukanya kearah lain. Angel
tersenyum jahil lalu duduk disamping Adiknya itu sambil membawa minuman
bersodanya. Angel melirik foto yang ada ditangan Alvin, ia tersenyum lalu
mengangguk-angguk sok paham.
“itu
target lo yang baru, ya? Cakep kok. Emmm… itu calon korban lo yang keberapa?”
Alvin
menatap Angel dengan seringai tajamnya, dan tatapan Alvin itu seakan
mengisyaratkan bahwa ia ingin menelan Angel hidup-hidup detik ini juga.
“eits…
ngeliatnya biasa aja dong, Adikku tercinta” Angel merangkul pundak Alvin lalu
meminum minuman bersoda yang sejak tadi ada ditangannya.
“dia
ini bukan calon korban gue yang selanjutnya, Kak” kata Alvin pelan sambil
menatap foto yang ada ditangannya. Angel nyaris tersedak ketika mendengarkan
perkataan Alvin itu. Hah? Bukan calon korban yang selanjutnya? Maksud Alvin dia
sudah tobat jadi play boy? Apa tidak salah?
“oooo…
jadi ceritanya Adik gue yang satu ini lagi mau belajar serius sama cewek? Emmm…
bagus sih, dan kayaknya gue harus ngucapin makasih nih sama cewek di foto ini”
“ck…
nggak usah lebay deh, Kak…” sahut Alvin malas.
Angel
tiba-tiba berfikir lalu mengingat sesuatu. Ia menatap Alvin yang duduk
disampingnya untuk beberapa lama, dan setelahnya…
“kalo
lo mau belajar serius sama nih cewek, terus –“ Angel menggantungkan kalimatnya
dan membuat Alvin penasaran. Alvin menatap Angel dengan kedua alis bertaut,
“terus
apa, Kak?”
“nasib
cewek pemilik boneka Teddy Bear itu, gimana?”
Jleb!
Pertanyaan yang baru saja Angel lemparkan padanya kontan membuat Alvin dilemma,
pertanyaan itu seolah menusuk jantungnya, kenapa ia bisa lupa begitu saja
dengan Andrea-“Nya” itu? Angel tersenyum maklum, ia menepuk pundak Alvin
beberapa kali lantas berkata,
“gue
seneng karna akhirnya lo mau serius sama cewek, tapi jangan sampe keseriusan lo
ini akhirnya akan bikin lo goyah nantinya disaat Gadis pemilik boneka Teddy
Bear itu kembali dalam hidup lo lagi. Disaat nanti lo goyah dengan keseriusan
lo itu, maka disaat itu lah lo akan menyakiti salah satu diantara mereka, dan
cewek ini –“ Angel menunjuk foto Via yang ada ditangan Alvin, ia tersenyum
sejenak lalu melanjutkan perkataannya, “akan bernasib sama dengan
‘korban-korban’ lo sebelumnya…”
Alvin
terpaku. Benarkah apa yang baru saja Angel katakan padanya?
“disini,
bukan masalah bagaimana lo harus belajar serius sama cewek, melainkan bagaimana
lo harus bisa konsisten dengan pilihan lo sendiri”
Ponsel
Angel tiba-tiba saja berbunyi, ia pamit pada Alvin untuk mengangkat telfon
sebentar lalu bangkit menjauhi Alvin dan membiarkan Alvin berfikir sendiri.
“Hallo?
FEBBY??” Sapa Angel penuh semangat pada orang disebrang sana.
***
Saat
mimpi itu datang untuk yang pertama kalinya…
Anak laki-laki kecil berwajah oriental itu
menatap Rea yang duduk diruang tunggu sambil menangis. Sejak ia dan Mami nya
membawa Rea kerumah sakit, Rea tidak henti-hentinya menangis. Ia terus-terusan
menyebut nama Mamanya tanpa henti. Anak laki-laki kecil itu menghela nafas
beratnya, ia berjalan perlahan menghampiri Rea
lalu duduk disamping Rea yang menangis.
“H… hay…” sapa anak laki-laki itu
dengan ragu-ragu. Tapi Rea bergeming, ia hanya menatap sekilas kearah anak
laki-laki itu lalu mengalihkan tatapannya.
“nggak usah nangis lagi ya? Mama
kamu pasti baik-baik aja, dulu Mami aku juga pernah masuk rumah sakit kayak
Mama kamu, tapi Mami aku langsung sembuh, jadi kamu jangan sedih lagi ya?”
ucapnya polos. Rea masih tetap bergeming, tapi anak laki-laki kecil itu tidak
juga menyerah.
“oya kenalin, aku Aphin, kamu?” anak
laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Rea. Tapi Rea
hanya diam dan masih tidak menunjukan reaksi apapun.
“kamu nggak mau kenalan sama aku?”
Rea akhirnya menatap anak laki-laki yang duduk disampingnya itu. Tapi Rea
menatapnya dengan pandangan dingin. Tangan anak laki-laki itu masih terulur
menunggu tangan mungil Rea menyambutnya.
***
Via
langsung terbangun ketika mimpi itu berakhir. Sudah hampir 6 tahun berlalu
semenjak pertemuannya dengan Aphin untuk yang pertama kalinya itu, tapi baru
sekaranglah Via memimpikan bocah laki-laki kecil yang dulu sempat menghiburnya
ketika Mama nya sedang dalam keadaan kritis. Bahkan tanpa ada yang tahu, Via
masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana wajah polos milik Aphin yang dulu
dengan begitu tulus menghiburnya.
Saat
itu, Via mungkin terlihat cuek dan tidak peduli pada sosok Aphin kecil-nya,
tapi jauh didasar hatinya yang terdalam, Via merasa sangat tenang ketika Aphin
datang menghampirinya, duduknya disampingnya lalu menghiburnya. Hanya saja
keadaan hatinya yang tidak cukup baik ketika itu membuat Via tidak bisa
bersikap sebagaimana mestinya. APHIN, 6 tahun berlalu, tapi Via masih selalu
mengingat nama itu.
“tapi
Mama aku nggak seberuntung Mami kamu, Phin. Mami kamu langsung sembuh saat
dibawa kerumah sakit, tapi Mama aku malah pergi ninggalin aku buat selamanya…
Phin, apa aku salah kalau aku berharap kamu akan dateng lagi dan nenangin aku
kayak pas waktu itu…? aku udah pulang,
Phin… kamu dimana….?” Setetes air mata Via terjatuh membasahi pipi chubbynya.
Via juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia mengingat sosok Aphin seperti ini.
“tadi
kita belom sempet kenalan ya? Kenalin gue Alvin, cowok terkeren se-jagad raya”
mendadak Via mengingat perkenalannya dengan Alvin kemarin. Dan entah kenapa Via
merasa, bahwa sosok Aphin kecilnya sangat mirip dengan Alvin yang menyebalkan
itu. Atau apa semua ini hanya perasaannya saja?
***
“sebentar
lagi MID Semester Alvin, Papi mau kamu serius belajar dan dapet nilai terbaik
disekolah, masa iya kamu mau terus-terusan kalah sama Cakka?” ucap Pak Duta
terdengar sangat tenang namun begitu tegas.
Mendengar
ucapan Papinya barusan, Alvin langsung melepaskan sendok berserta garpunya. Entahlah,
ia merasa selera makannya berkurang kalau Papi nya mulai membanding-bandingkan
dirinya dengan Cakka, dan Alvin selalu kesal setiap kali Papi nya melakukan hal
itu. Angel dan Mami langsung menatap Alvin dan Papi secara bergantian dengan
tatapan harap-harap cemas. Mendadak suasana sarapan pagi yang tadinya tenang
sekarang memanas.
“Papi
bisa nggak sih sekaliii aja nggak ngebanding-bandingin aku sama Cakka? Cakka ya
Cakka, aku ya aku. Papi nggak bisa seenaknya ngebanding-bandingin aku sama
Cakka kayak gini” kata Alvin yang mulai merasa tidak tahan lagi. Selama ini ia sudah
terlalu banyak bersabar dalam menghadapi keegoisan Papinya.
“Papi
nggak ngebanding-bandingin kamu sama Cakka, Papi Cuma mau kamu contoh sikap
Cakka, Papi nggak mau terus-terusan ngeliat kamu kalah dari Cakka, dan Papi
Cuma mau kamu memiliki mental seorang pemenang, itu saja!”
“dengan
memaksakan kehendak Papi sama aku? Dan dengan cara mengorbankan cita-cita aku
dan mengikuti jejak Almarhum Opa menjadi seorang Dokter?”
“ALVIN!!”
“waktu
aku masuk SMA, Papi bersikeras maksa buat masuk jurusan IPA, dan setelah aku
naik kelas sebelas, Papi mati-matian maksa aku buat belajar keras supaya aku
bisa dapet nilai bagus dan nanti bisa masuk Kedokteran seperti yang Papi mau,
aku ikutin semua kemauan Papi meskipun itu sangat bertentangan dengan kata hati
aku, Pi… tapi Papi nggak pernah sedikitpun mau ngehargain usaha aku…”
“Alvin
udah sayang…” Ibu Uchie berusaha menghentikan Alvin. Tapi percuma karena Alvin
tidak menghiraukannya. Kali ini Alvin sudah merasa cukup. Ia lelah jika harus
terus-terusan mengalah seperti ini.
“inget
Pi, aku bukan Cakka, aku Alvin anak Papi. Dan kalo Papi fikir Papi bisa
ngejadiin aku robot seperti Cakka yang dijadiin robot sama Papanya, Papi salah
besar. Aku nggak mau jadi seperti Cakka yang hanya dijadiin robot oleh Papa nya
sendiri, aku nggak mau jadi Cakka yang selamanya akan terus hidup dibawah
kendali Papanya, aku punya keinginan, aku punya ci –“
PLAAK…
sebuah tamparan yang cukup keras mendarat tepat dipipi sebelah kanan Alvin
sebelum ia menyelesaikan perkataannya. Melihat kejadian itu Angel langsung
mengalihkan perhatiannya kearah lain, sementara Ibu Uchie, kedua matanya mulai
terasa panas dan telah siap merembeskan air mata.
“jaga
omongan kamu Alvin! Kamu harusnya malu sama Cakka. Kadang Papi iri dengan Pak
Edgar Adhirajasa, kenapa dia bisa punya seorang anak laki-laki yang begitu
penurut sementara Papi nggak bisa”
Alvin
tersenyum sinis, ia mengangguk 2 kali lalu bangkit dari kursinya. Sebelum pergi
dari ruang makan, Alvin sempat berkata,
“kalau
Papi begitu kagum sama Cakka, kenapa Papi nggak jadiin aja Cakka sebagai
anaknya Papi? Aku sudah telat, dan aku pamit”
Alvin
berjalan keluar tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Alvin bahkan tidak
menghiraukan panggilan Mami nya yang memintanya untuk berhenti. Hatinya sudah
terlanjur sakit, dan ia sudah benar-benar sangat lelah dengan semua keadaan
ini.
***
Cakka
menghentikan laju mobilnya ketika ia melihat seorang Gadis yang berseragam sama
dengannya sedang berdiri dipinggir jalan. Cakka memperhatikan baik-baik wajah
Gadis itu, dan ia merasa pernah melihat Gadis itu sebelumnya. Cakka berfikir
sejenak untuk mengingat-ingat. Dan tidak lama, ingatan ketika ia melempar bola
kearah Gadis itu secara tidak sengaja dan nyaris mengenai wajah Gadis itu
terlintas dikepala Cakka. Dan entah dorongan darimana, Cakka ingin menghentikan
mobilnya dan bertanya pada Gadis itu.
Cakka
membuka kaca mobilnya lalu melihat Gadis itu yang tampaknya mulai menyadari
kehadirannya. Gadis itu menatap Cakka dengan pandangan heran,
“hay,
kamu yang kemaren kena lemparan bola saya kan?” tanyanya dari dalam mobil.
Gadis itu berusaha mengingat lalu mengangguk pelan, dan entah kenapa ia
tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Semua
ini sama persis seperti apa yang ia rasakan ketika pertama kali melihat pemuda
tampan ini.
“kamu
lagi ngapain disini? Nggak ada yang nganterin?” Tanya Cakka to the point.
“la..
lagi nungguin taksi” jawab Via sedikit gugup. Cakka mengangguk beberapa kali
lantas berkata,
“samaan
aja yuk! Kita kan satu sekolah”
“ta..
tapi…”
“anggep
aja ini sebagai tanda permintaan maaf saya karna kejadian kemaren”
Perlu
dicatat, ini adalah pertama kalinya Cakka menawarkan sesuatu pada orang yang
baru ia kenal. Dan selama ini, tidak ada satu cewek pun termasuk itu Shilla
yang pernah satu mobil dengannya. Jangankan satu mobil, menawarkan Shilla untuk
berangkat sekolah bersamapun Cakka tidak pernah melakukannya sama sekali. Bukan
karna rahasia pertunangan mereka yang ingin ia jaga dengan serapih mungkin,
hanya saja Cakka merasa tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu, tapi dengan
Gadis ini semuanya terasa berbeda, Cakka bahkan belum menyadarinya.
Menyadari
raut cemas yang terpeta pada wajah Gadis itu, Cakka tersenyum kecil. Dan sekali
lagi, ini senyuman pertama yang ia sunggingkan karna melihat seorang Gadis. Seakan
bisa membaca pikiran Gadis itu, Cakka berkata,
“tenang,
saya bukan orang jahat kok. Saya Cuma nawarin, mau ditolak atau diterima itu
semua saya serahin sama kamu”
Gadis
itu mengangguk pelan, sepertinya Cakka bersungguh-sungguh memberikannya
tumpangan.
“jadi
gimana?”
Sebagai
jawabannya, Gadis itu membuka pintu mobil Cakka. Tidak butuh waktu lama, Gadis
itu sudah duduk disamping Cakka. Selama 6 tahun terakhir ini, sulit bagi
seorang Via untuk memberikan kepercayaannya pada seorang laki-laki, entah untuk
masalah sekecil apapun itu, tapi pada pemuda yang satu ini…? Sepertinya Via
akan mulai membuat sebuah ‘pengecualian’
“kita
belum kenalan ya? Kenalin saya Cakka, kamu?” Cakka mengulurkan tangan kanannya
sambil tetap focus dengan jalanan yang ada didepannya. Via berfikir, sepertinya
ia pernah mendengar nama Cakka sebelumnya, Via mencoba mengingat-ingat, dan
ternyata ia pernah mendengar Agni menyebut-nyebut nama Cakka sebelumnya. Jadi ini
dia yang kawan-kawannya perdebatkan kemarin siang? Via menatap sejenak tangan
Cakka yang menggantung diudara, tidak lama Via mendesah pelan lalu menerima
uluran tangan Cakka,
“Via”
jawabnya singkat. 2 detik kemudian, Cakka langsung melepaskan jabatan
tangannya.
“kamu
anak baru ya? Saya belum pernah lihat kamu sebelumnya” Via mengangguk pelan.
“kelas
berapa?”
“XI
IPA 3” jawabnya singkat.
Cakka hanya mengangguk
paham. Cakka melirik sejenak kearah Gadis yang tengah duduk disampingnya itu. Melihat
Gadis yang ada disampingnya ini entah kenapa membuat Cakka merasa menemukan
dirinya dalam versi seorang cewek. Cakka seolah berkaca.
Kemudian
hening. Tidak ada lagi yang terdengar melanjutkan obrolan singkat itu. Cakka
sibuk dengan jalanan yang ada didepannya, sementara Via sibuk dengan pikirannya
sendiri dan sibuk mengendalikan detak jantungnya yang semakin lama semakin tak
beraturan. Ini semua benar-benar salah! Fikirnya.
10
menit kemudian tibalah mereka disekolah. Cakka dan Via keluar dari dalam mobil
milik Cakka secara bersamaan. Dan tanpa mereka sadari, kedatangan mereka yang
secara bersamaan itu menimbulkan perhatian halayak banyak. Tidak hanya
mengundang perhatian, tapi kedatangan mereka berdua pagi itu menimbulkan
pertanyaan dikalangan siswa-siswi Tunas Bangsa yang selama ini mengenal Cakka
sebagai sosok super cuek dan dingin. Banyak juga siswi-siswi yang merasa iri
dengan Via. Bagaimana tidak iri, jika Via ternyata adalah cewek pertama yang
semobil dengan Cakka.
“makasih
atas tumpangannya” kata Via sungkan,
“sama-sama”
jawab Cakka.
“ka…
kalau begitu saya duluan ya?”
“oke”
Via
pun berjalan melewati Cakka begitu saja tanpa sedikitpun melihat kearah pemuda
itu. Dan saat Via melewatinya, aroma orange yang begitu menyegarkan tertangkap
oleh indera pencium Cakka. Dan untuk yang pertama kalinya, Cakka merasakan
jantungnya bertalu-talu ketika mencium aroma seorang Gadis.
“VIA…”
Cakka mengulang nama Gadis itu lalu tersenyum sendiri.
***
“Target
gue akhirnya dateng juga…” kata Alvin penuh semangat dari atas atap sekolah
ketika melihat Via yang baru saja keluar dari parkiran. Alvin segera mengangkat
kameranya dan mengambil foto Via sebanyak mungkin dalam berbagai macam
ekspresi. Saat sosok Via menghilang memasuki gedung sekolah, saat itulah Alvin
menghentikan aktifitasnya mengambil gambar Via secara diam-diam.
Alvin
bersandar pada besi pembatas lalu melihat-lihat hasil jepretannya pagi ini, dan
Alvin merasa sangat puas ketika melihat hasilnya itu. Ternyata Gadis yang telah
mencuri hatinya itu bukan hanya sekedar cantik, tapi sangat cantik. Keinginan dihati
Alvin untuk menjadikan Gadis itu sebagai miliknya semakin kuat saja. Dan ia
sudah bertekad akan melakukan segala cara untuk menaklukan hati Via.
“lo
akan jadi milik gue…”
***
Via
terheran-heran ketika mendapati setangkai bunga Krisan putih diatas mejanya.
Via melangkah lebih dekat lagi kearah mejanya. Ternyata disana bukan hanya
terdapat setangkai Bunga Krisan, tapi Via juga mendapatkan foto dirinya yang
sedang keluar dari Toko Bunga sambil membawa sebuket Bunga Krisan putih. Via
ingat hari itu, hari dimana ia pergi ke makam Mamanya untuk yang pertama
kalinya setelah hampir selama 4 tahun tidak pernah mengunjungi makam Mamanya. Tapi
siapa yang telah berani-beraninya mengambil fotonya secara diam-diam seperti
ini?
Via
membalik foto itu, dan dibalik foto itu terdapat sebuah tulisan yang semakin
membuatnya merasa bingung.
“setangkai bunga krisan
putih untuk seseorang yang special… Semoga hari kedua lo disekolah
menyenangkan, Good Morning :) ….”
Dalam
benaknya Via bertanya-tanya, siapa yang telah melakukan semua ini? Belum tuntas
rasa herannya dengan semua benda-benda yang ada diatas mejanya, tiba-tiba saja
seseorang datang dari belakang Via lalu mengejutkannya.
“gimana
bunganya? Lo suka?” Via yang merasa terkejut langsung menoleh kebelakang, dan
kedua matanya membelalak lebar ketika ia mendapati sosok Alvin yang sedang
berdiri dibelakangnya dengan jarak wajah yang hanya berjarak beberapa centi
saja, bahkan saking dekatnya jarak diantara mereka, mereka bisa merasakan
desauan nafas masing-masing yang terasa hangat.
Alvin
memamerkan senyuman mematikan andalannya yang mendadak membuat Via memeleh
hanya dalam hitungan detik saja. Senyuman mematikan milik Alvin itu selalu
mampu membuat Gadis mana saja jatuh cinta, tapi apa hal itu berlaku juga buat
seorang Via?
Kedua
mata Alvin menghujam dalam kedua manik mata milik Via. Untuk beberapa saat Via
terpaku, rasanya ia ingin mengalihkan tatapannya dari kedua mata itu, tapi
kenapa ia justru merasa semuanya sulit. Tatapan Alvin seakan menjelma menjadi
sebuah magnet yang menarik penuh perhatiannya.
Setelah
cukup lama Via akhirnya tersadar, ia mendorong pelan dada Alvin hingga jarak
mereka sedikit menjauh. Via berusaha bersikap wajar lantas berkata,
“ini
semua dari lo?” Tanya Via dingin. Alvin hanya mengangguk tanpa sedikitpun
mengalihkan tatapannya dari wajah manis Via.
“kalo
gitu, lo ambil kembali, gue nggak butuh” Via meraih tangan Alvin lalu
menyerahkan bunga beserta foto itu secara paksa, dan Alvin malah menerimanya
dengan begitu saja.
Lalu
tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung keluar kelas dan menyisakan Alvin
seorang didalam sana. Alvin menghela nafas panjangnya, kenapa sulit sekali
mendekati Gadis itu? Tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin gentar, ia justru
semakin merasa penasaran dengan sosok seorang Via.
“ini
baru awal, Via….”
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment