Thursday, August 7, 2014

1

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 12-



Hari sudah beranjak sore, tapi Alvin masih betah belari kesana kemari ditengah lapangan basket sambil mendirible bola yang ada ditangannya. Meski keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya, meski sudah terlihat sangat kelelahan, tapi sepertinya Alvin belum memiliki niat sedikitpun untuk menghentikan permainannya.
            Ia justru makin belingsatan, saat mengingat bahwa beberapa saat yang lalu, Iel menyatakan perasaannya pada Via dan meminta Via untuk jadi pacarnya. Pikiran Alvin semakin kacau. Kenapa ia harus mendengar semuanya? Kenapa ia harus melihat pemandangan yang menyesakkan itu? Jikapun harus melihat dan mendengar, kenapa ia harus merasa semenyesakkan ini? Atau apa semua ini adalah hukuman baginya, hukuman karna tidak mau jujur dengan perasaannya sendiri?
            Alvin lalu menembakan bola itu kedalam ring dan berteriak sekeras mungkin. Berharap teriakannya itu akan membuat perasaannya terasa jauh lebih baik.
            Setelah duduk melamun ditengah lapangan dengan pikiran melayang kemana-mana, Alvin akhirnya memilih untuk pulang saat hari sudah beranjak gelap. Ia pun tiba diapartemennya ketika waktu sudah menunjukan pukul tujuh tepat.
            Saat Alvin akan membuka pintu, tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada sebuah melon yang bertengger dengan manis tepat didepan pintu. Alvin mengangkat salah satu alisnya lalu menatap buah berwarna hijau yang telah sengaja dilukis dengan sebuah spidol hitam hingga terlihat seperti wajah yang sedang tersenyum senang. Alvin menunduk lalu mengambil buah melon itu.
            Tak hanya itu, Alvin juga menemukan selembar surat yang berisi sangat singkat. Isinya adalah:

            Thanks untuk buah melon waktu itu. Ini sebagai gantinya.
Tapi kalo lo gak suka, lo bisa buang. Seenggaknya sekarang gue udah ngerasa semuanya impas. Gue ngerasa udah gak punya utang lagi.

                        Viᾃ ~

            Alvin tersenyum sinis. Ia lalu memasuki apartemennya dan membuang buah melon itu dibak sampah yang terdapat disudut dapurnya. Masa bodoh! Alvin sudah tidak ingin peduli lagi.
            “Lo pikir lo siapa bisa nyogok gue dengan buah murahan itu?”

♥♥♥


            “Apa? Jadi Si Tristan itu emang udah sejak lama ngejer-ngejer Ify?” Tanya Rio pada Via yang merasa tidak percaya dengan semua penjelasan Via baru saja. Malam ini Rio sengaja datang kerumah Via untuk menanyakan soal kedekatan antaraIfy dan Tristan. Jujur saja, sejak Rio melihat mereka jalan bersama di Mall beberapa waktu yang lalu, Rio merasa sangat tidak tenang. Ia takut, jika diantara Tristan danIfy memang terjalin sebuah hubungan yang special.
            Via berusaha keras menahan senyum.
            “kok kaget gitu, Kak? Cemburu? Katanya… Cuma nganggep Ify adek, gak lebih” goda Via yang langsung membuatnya mendapat toyoran dari Rio.
            “aw…” ringisnya sambil memegangi keningnya. “KAK RIO, SAKIT!” Protesnya sesaat kemudian.
            “biarin! Abisnya lo ngomong sembarangan sih” balas Rio tidak mau kalah.
            “ya udah, kalo emang gak cemburu, biasa aja dong”
            “gue gak cemburu” sahut Rio.
            “bagus deh kalo gak cemburu. Seenggaknya gue gak ada beban lagi”
            “beban? Beban apa maksud lo?” kali ini Rio menatap Via dengan pandangan bertanya. Via tersenyum jahil. Tiba-tiba terbersit sebuah ide jahil dikepalanya untuk mengerjai cowok super gengsian yang satu ini.
            “Tristan minta gue buat nyomblangin dia sama Ify. Tapi gue bilang mau pikir-pikir dulu, soalnya gue kira lo ada rasa sama Ify. Tapi berhubung lo nganggep Ify Cuma adek, jadi gak salah kan kalo gue nyombaling mereka, lagian Tristan keliatan sayang banget sama Ify, dia juga keliatan serius, dan yang pasti, Tristan gak suka ngegantung perasaan cewek…”
            “LO BILANG APA? LO NYINDIR GUE? HAH?”
            “Menurut lo?”
            Via bangkit dari duduknya lalu kabur kedalam rumahnya sebelum mendapat amukan dari Rio. Rio yang merasa benar-benar kesalpun mengejar Via kedalam rumahnya.

            “CEWEK RESE! MAMPUS LO KALO KETANGKEP!”


♥♥♥

            Shilla berlari kearah pintu rumahnya saat mendengar suara Cakka memanggil namanya  seraya mengetok pintu berkali-kali. Shilla kaget bukan main saat melihat keadaan Cakka. Ia basah kuyup karna terguyur hujan, wajahnya juga tampak pucat dan sangat kelelahan. Ada apa dengan pemudanya ini? Tadi sore, saat Cakka datang kerumahnya, ia masih terlihat baik-baik saja, tapi sekarang? Kenapa Cakka terlihat berantakan begini?
            “Sayang, kamu kenapa?” Tanya Shilla cemas sambil menyentuh wajah Cakka yang terasa dingin bagai es.
            “Shill –“ lirih Cakka pelan. Ia tampak terhuyung dan nyaris terjatuh jika saja Shilla tidak segera menahannya.
            “Cakka…” Shilla berusaha menahan berat tubuh Cakka. Rasa cemas itu semakin erat mendekapnya. Apa ada sebenarnya dengan Cakka?
            “kamu kenapa sih sebenernya?” Shilla mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab oleh Cakka. Tapi sama seperti tadi, Cakka tetap bungkam dan membuat Shilla semakin bertanya-tanya.
            Merasa bahwa hal itu tidak penting mengingat kondisi Cakka yang sangat memperihatinkan saat ini, Shilla pun memanggil salah satu asisten rumahnya tangganya untuk membantunya membawa Cakka kekamarnya.
            Dengan susah payah, Shilla bersama salah seorang asisten rumah tangganya akhirnya berhasil membawa Cakka dan merebahkan tubuh lelah Cakka diatas kasur milik Shilla yang nyaman.
            “Bi Lina, tolong siepin kompresan buat Cakka ya? Aku mau ambil baju ganti dulu buat dia dikamar Kak Dayat”
            “Baik Non…” Ucap Bi Lina lalu segera keluar dari kamar Shilla untuk menyiapkan kompresan.
            Sementara Shilla, beberapa saat setelah kepergian Bi Lina, ia langsung berlari ke kamar Kakaknya untuk mengambil baju ganti. Sudah seminggu ini kedua orang tuanya belum pulang juga. Mereka berdua sibuk mengurus bisnis hotel baru mereka di Lombok. Sedangkan Dayat sendiri tinggal dan menetap di Surabaya setelah berhasil meraih gelar S2 nya disana. Dayat memilih untuk bekerja di Surabaya dan lepas dari bayang-bayang Papanya.
            5 menit kemudian, setelah dibantu oleh supirnya mengganti baju Cakka, Shilla pun memulai dengan sangat hati-hati mengompres Cakka. Jika tadi Cakka terasa sangat dingin, maka kali ini lain lagi. Tubuhnya tiba-tiba memanas, ia demam.
            “Sayang… kamu kenapa sih sebenernya? Kenapa kamu gak pernah mau cerita sama aku? Aku bukannya mau tau semua urusan kamu, Cuma aja… aku cemas sama kamu, aku takut sesuatu terjadi sama kamu. Itu saja…”
            Shilla meraih salah satu tangan Cakka lalu mengecupnya dengan lembut, Shilla melakukannya agak lama.
            “kalo emang kamu gak mau cerita sama aku, gak apa-apa. Gak apa-apa selama hal itu bikin kamu ngerasa lebih baik. Dan aku berharap kamu selalu baik-baik aja, Kka. Aku sayang kamu, and I don’t want to lose you…”


♥♥♥

            Via sama sekali tidak percaya saat melihat Alvin berdiri dengan manisnya didepan rumahnya bersama Lamborghini putih kebanggaannya. Via menatap Alvin dengan pandangan aneh. Apa pagi ini ia sedang bermimpi?
            Dan Via semakin tidak percaya saat cowok arrogant itu melambai kearahnya dengan senyuman yang terlihat sedikit manis. Catat, terlihat SEDIKIT MANIS! Dengan masih terheran-heran, Via berjalan menghampiri Alvin dan berdiri tepat didepannya.
            “Ngapain lo didepan rumah gue pagi-pagi?”
            Alvin tersenyum jengah, tanpa ijin ia lalu meraih pergelangan tangan Via dan memasukannya paksa kedalam mobil.
            “seharian ini lo milik gue. Gak ada protes!”
            “Apa?? Siapa el –“ Alvin langsung menutup pintu mobilnya seakan tidak memberikan Via sedikitpun untuk melayangkan protes.
Alvin duduk dikursi pengemudi lalu menjalankan mobilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Via pasrah. Dan ia sama sekali tidak bisa menghindar dari rasa semarak dan bahagia yang kini melingkupi hati kecilnya. Via berharap bahwa semua ini bukanlah mimpi. Via lalu menatap kearah jendela dan mengeluarkan seulas senyum yang sejak tadi ia tahan dengan susah payah.
Ia sama sekali tidak peduli dengan apapun rencana Alvin dibalik semua ini. Yang ia tahu sekarang hanyalah, ia senang bisa bersama Alvin, seharian pula.
            Setibanya disekolah, mereka berdua berhasil membuat perhatian seluruh penghuni Speranza High School tertuju pada mereka. Tatapan-tatapan iri tak lepas mengiringi setiap langkah mereka. Bagaimana tidak iri, jika pagi-pagi begini, Alvin dan Via sudah mempertontonkan hal yang sama sekali tidak biasa.
            Dengan santainya, dan dengan keangkuhan sempurna yang terpancar dari wajah tampannya, Alvin berjalan seraya menggenggam erat tangan Via. Sementara Alvin yang tampak tidak peduli dengan keadaan sekitar, Via justru merasa sebaliknya. Ia bahkan menutup wajahnya dengan salah satu tangannya saat menyaksikan tatapan-tatapan iri itu. Via cemas, jika setelah ini ia akan menjadi korban amukan cewek-cewek Speranza High School yang kebanyakan menggilai Alvin.
            Saat melewati Zevana CS, Zevana tercengang bukan main saat menyaksikan pangeran impiannya menggandeng seorang cewek yang selama ini ia anggap sebagai Upik Abu. Kedua mata Zevana terbelalak maksimal. Apa tidak salah Alvin menggandeng cewek itu?
            “Itu Via, kan? si anak beasiswa itu?” ucap Aren yang tidak kalah kagetnya seraya menunjuk kearah Via yang sudah berjalan menjauhi mereka bersama Alvin.
            “ada apa sama mereka? Mereka jadian?” kali ini Dea yang menimpali.
            “tapi masa sih Alvin sama cewek itu? Gue rasa itu bukan tipe Alvin banget deh” sahut Aren.
            “Tapi bisa aja kan tipe nya Alvin udah berubah”
            “STOOOOP!!” Pekik Zevana yang merasa sudah tidak tahan lagi dengan komentar kedua sahabatnya ini. Aren dan Dea  seketika bungkam. “Mereka gak jadian. Dan tipe Alvin belom berubah, ngerti kalian?” cerca Zevana lalu melangkah pergi meninggalkan Aren dan Dea dengan sejuta tanda Tanya yang memenuhi kepala mereka. Ada apa dengan Zevana? Dia cemburu?
            Aren dan Dea saling menatap satu sama lain dengan kedua bahu terangkat. Pagi ini benar-benar penuh dengan kejutan.


♥♥♥

            Iel melihat Via yang tampak duduk sendiri di kafetaria sambil mengaduk jus mangga digelasnya. Iel berpikir sejenak lalu tersenyum. Dengan yakin ia pun melangkahkan kakinya hendak menghampiri Via. Tapi sebelum ia mendekat, Alvin tiba-tiba muncul dari belakang Via. Ia memegang kedua pundak Via dan mengagetkan cewek manis itu. Via yang awalnya sempat kaget akhirnya tertawa begitu melihat kehadiran Alvin. Via menjawil hidung Alvin dengan gemes. Pemandangan itu benar-benar membuat mereka tampak sangat serasi.
            Iel terpukul mundur. Sesuatu seperti menghantam telak dadanya. Baru kemarin ia menyatakan perasaannya pada Via, tapi kenapa sekarang Via justru terlihat sangat dekat dengan Alvin? Via juga tampak sangat bahagia. Iel menghela napas panjang untuk meredam rasa sesaknya. Ia lalu berbalik dan memilih pergi dari tempat itu bersama kepingan-kepingan hatinya.
            Alvin yang sejak tadi menyadari kehadiran Iel dan memang sengaja mendekati Via langsung menatap kearah Iel yang nyaris menghilang dari pandangannya dengan seringai licik yang mengotori wajah tampannya. Alvin tersenyum sinis detik itu juga.

            ‘ini belum seberapa Ariel… setelah ini gue akan bener-bener bikin lo kehilangan cewek yang sangat lo sayangin…’ bathin Alvin lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Via yang sedang bercerita panjang lebar tentang ujian Matematika yang tadi ia hadapi.

            Alvin memang sangat pintar dalam berpura-pura.



           
                                                                                    To Be Continued…