Sunday, April 27, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 6-






Hari ini genap satu minggu Via bersekolah di Speranza High School. Dan selama seminggu terakhir ini, Via selalu menjalani hari-harinya yang membosankan disekolah itu. Setiap saat Via rasanya ingin kabur, setiap saat Via rasanya ingin kembali ke sekolahnya yang dulu, tapi keadaan yang ada sekarang benar-benar memenjaranya pada posisi yang paling tidak mengenakan seumur hidupnya. Sementara ia menjalani hari-harinya yang membosankan disekolah, Via juga diharuskan menjalani setiap waktunya yang selalu menyebalkan di Apartement Alvin.
            Berada disamping Alvin setiap harinya justru membuat perasaannya semakin tidak menentu sejak kejadian didapur seminggu yang lalu. Alvin mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap hari Via selalu merasa bahwa ada yang berbeda dengan hatinya. Semua sikap jahil Alvin dan semua sikap menyebalkannya justru membuat Via terkadang merindukannya saat Alvin tidak ada bersamanya. Dan ini semua benar-benar tidak beres.
            Lepas dari masalah Alvin, selama seminggu terakhir ini Rio benar-benar mendiamkan Via. Dan selama mereka bersahabat, ini kali pertamanya Rio betah mendiamkan Via selama hampir seminggu lamanya. Dan hal ini membuat Via rasanya ingin jujur saja pada Rio.
            Sementara itu, kedekatan yang terjalin antara Via dan Iel disekolah semakin hari semakin lengket saja. Tanpa bisa Via pungkiri, Via mulai merasa nyaman jika sedang bersama Iel. Tapi itu sama sekali tidak menandakan bahwa ia menyimpan perasaan yang special pada cowok berwajah manis itu. Via akui bahwa ia memang benar menyukai Iel, tapi rasa sukanya hanya sebatas rasa suka seorang teman terhadap temannya yang lain. Dan jika bukan karna Iel yang selalu menemaninya disekolah, mungkin sudah dari awal Via memutuskan untuk angkat kaki dari sekolah ini.
            Dan pagi ini, saat Via keluar dari dalam rumahnya, ia langsung dikejutkan oleh sosok Rio yang sudah berdiri dengan manis disamping Honda Jazz silvernya, tepat didepan pagar rumah Via. Via membelalak tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.
            “Pagi Via…” sapa Rio sambil melambaikan tangannya.
            “K… Kak Rio?”
            Rio tersenyum lalu mengangguk, “Maafin gue ya?” ujar Rio penuh kesungguhan. Via tersenyum lega detik itu juga. Ia lalu berlari kearah Rio lantas memeluk sahabatnya itu seerat mungkin.
            “Harusnya gue yang minta maaf” lirih Via sambil tetap memeluk Rio. Rio mengangguk beberapa kali, ia membelai lembut rambut sebahu Via yang terurai lalu kemudian mengurai pelukan mereka.
            “Udah. Sekarang kita berangkat ya? Kan gak seru kalo telat”
            Via mengangguk antusias dengan seulas senyuman yang semakin membuatnya terlihat manis pagi ini. Hari ini ia baikan dengan Rio, bagi Via, tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu.


♥♥♥

            “Via!” merasa ada yang memanggil namanya, Via langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu juga ia mendapati Iel yang berjalan sedikit cepat menghampirinya.
            “Kak Iel?”
            “Mau ke Kafetaria?”
            Via hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.
            “Samaan yuk!” ajak Iel.
            “Boleh deh” kata Via. Iel tersenyum senang, ia lalu meraih tangan Via lantas menggandengnya dan berjalan santai kearah kafetaria. Sejujurnya Via merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang Iel lakukan itu, ditambah lagi semua yang ada ditempat itu terus memperhatikan mereka, hal itu semakin membuat Via merasa tidak nyaman dan ingin melepaskan tangannya dari kungkungan Iel. Tapi rasa tidak tega jika harus mengecewakan cowok itu tiba-tiba menghinggapinya dan membuatnya mau tidak mau menerima gandengan itu. Sepanjang perjalanan menuju kafetaria, Via berusaha mengubur dalam-dalam rasa tidak nyamannya.
            Sedangkan Alvin yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kejauhan hanya bisa diam mematung dengan pikiran serta reaksi tak terbacanya. Tadinya ia ingin memanggil Via dan sedikit mengerjainya, tapi saat melihat Iel yang telah lebih dulu menghampirinya, Alvin langsung membatalkan niatnya.
            “Hay, Alv!” tegur Rio yang tiba-tiba muncul bersama Cakka. Rio menepuk pelan pundak Alvin dan membuat Alvin terkesiap.
            “Eh lo!” kata Alvin reflex.
            “lo lagi ngeliatin apa sih?” Tanya Rio penasaran sambil mengikuti arah pandangan Alvin, dan Rio merasa heran saat disana tidak ada siapapun atau apapun, lalu apa yang sedang Alvin perhatikan? Tanyanya dalam hati.
            “Gak ngeliatin apa-apa kok?”
            “Yakin?” Tanya Cakka skeptis dengan salah satu alis terangkat. Alvin berdecak kesal, kedua orang ini benar-benar sok ikut campur urusannya.
            “Ck… udah ah! Gue mau pergi dulu, dan lo berdua jangan gangguin gue!” sinis Alvin lalu melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
            Beberapa saat setelah kepergian Alvin, Rio dan Cakka langsung saling melirik satu sama lain. Rio mengangkat kedua alisnya lalu bertanya, “Dia kenapa sih?”
            “Tau! Lagi PMS kali” jawab Cakka asal sambil mengangkat kedua pundaknya tak peduli.


♥♥♥

            Alvin duduk santai disofa ruang tamunya sambil sibuk memainkan handphone touch screen-nya, tapi disela kesibukannya itu Alvin sesekali menatap Via melalui sudut matanya, Via sedang sibuk mengepel ruangan. Via tampak kualahan, dan keringat sebesar biji jagung mulai mengucur didahinya. Via beristirahat untuk mengambil napas sejenak. Dan saat Via tanpa sengaja menoleh kearahnya, Alvin buru-buru mengalihkan pandangannya dan kembali berkutat dengan layar ponselnya. Via sedikit mengernyit ketika melihat tingkah Alvin yang sedikit ganjil.
            “Tumben lo gak keluar?” Tanya Via berusaha terdengar cuek lalu kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. Alvin mendengus.
            “Bukan urusan lo… BABU!” Jawabnya jutek. Via hanya menghela napas panjang sambil menutup kedua matanya sejenak. Dalam hati ia menyesali diri, buat apa juga ia bertanya seperti itu pada Alvin? Oke, kali ini Via akui bahwa dia memang bodoh.
            “Angkat kaki lo!” kata Via dengan nada sedikit memerintah saat ia akan mengepel bagian lantai tepat dibawah kedua kaki Alvin. Alvin menurut saja tanpa berkata banyak.
            “Pembantu kurang ajar!” Gerutunya pelan yang langsung disambut oleh Via dengan sebuah delikan tajam. Seperti biasa, Alvin Nampak tak peduli dan Nampak tak bersalah. Dan hal itu semakin membuat Via mengerut dada, berusaha menahan sabar.
            “Ehem… Lo ada apa sama Iel? Kayaknya deket banget” Alvin sebenarnya tidak ingin bertanya seperti itu, tapi entah apa yang mendorongnya hingga ia mampu mengalahkan logikanya dan mengikuti kata hatinya. Ada sedikit nada sinis dan tak peduli yang membubui pertanyaan Alvin tadi hingga membuat Via tidak perlu repot-repot merasa kegeeran.
            “Bukan urusan lo… TUAN” Kata Via menirukan nada bicara Alvin tadi, “Arrogant” lanjut Via dalam hati. Alvin sebenarnya dongkol setengah mati dengan jawaban yang kelewat ‘kurang ajar’ itu, tapi karna Alvin tidak mau Via berpikir macam-macam tentang dirinya karena melanjutkan perdebatan tidak penting ini, Alvin akhirnya mengubur dalam-dalam rasa dongkolnya.
            Alvin menghela napas panjang dan berusaha menekan rasa kesalnya sebisa mungkin. Alvin lalu bangkit dari sofa dan bersiap-siap untuk pergi, entah kemana.
            “Gue keluar dulu! Dan lo, gak boleh pulang sebelum gue balik!” kata Alvin santai namun penuh dengan nada memerintah seperti biasanya; Tidak ingin dibantah.
            Dan sebelum Via sempat melayangkan protes, Alvin malah sudah berbalik dan berjalan kearah pintu keluar. Via menatap punggung Alvin dengan tatapan sebal dan seakan ingin menerkamnya hidup-hidup. Tapi kemudian Via tertegun saat tiba-tiba ia merasa, bahwa ia tidak terlalu merasa asing dengan cara jalan itu. Via yakin bahwa ia pernah melihat seorang cowok dengan cara berjalan bahkan gesture yang sama. Tapi dimana? Siapa?


♥♥♥

            “Apa? Jadi Via gak kerja lagi disini?” Rio benar-benar terkejut saat mendengar penjelasan dari Septian. Sore ini Rio sengaja datang ke B-Café untuk menjemput Via. Diam-diam ia sudah memiliki rencana untuk mengajak Via melewati malam minggu bersama, Rio baru ingat bahwa sudah cukup lama mereka tidak melewati malam minggu bersama, untuk itulah Rio datang. Ia sengaja tidak memberitahukan Via bahwa sore ini ia akan menjemput Via di B-Café, alasannya tentu saja ia ingin memberikan kejutan untuk Via, tapi apa yang ia dengar sekarang dari Septian malah membuatnya terkejut setengah mati. Via sudah tidak bekerja lagi di B-Café, tapi anehnya Via sama sekali tidak menceritakan apapun pada Rio.
            “Bukan berhenti untuk seterusnya, Yo. Cuma sementara kok” ralat Septian saat melihat reaksi Rio yang benar-benar kaget.
            “Tapi kenapa?”
            “Gue pikir lo udah tau! Elo kan sahabatnya Via, Yo” kata Septian sedikit heran.
            “Via gak cerita apapun sama gue” jawab Rio sedikit lesu.
            “Via membuat sedikit masalah dengan Alvin, Alvin marah dan akhirnya menjadikan Via pembantu di Apartementnya untuk sementara”
            Kedua mata Rio membelalak maksimal. Benar-benar sulit ia percaya apa yang baru saja Septian katakan. Ingin rasanya Rio untuk tidak percaya, tapi tingkah Via yang belakangan ini ia rasa aneh benar-benar menjadi penguat atas ucapan Septian itu.

            “Gue butuh penjelasan lebih rinci, Sep!”


♥♥♥

            Ify hanya menatap Rio yang duduk didepannya yang terlihat tampak gusar. Sejak mereka pertama kali datang ke restoran itu, yang Rio lakukan hanyalah memeriksa ponselnya tanpa henti. Rio juga terlihat berkali-kali menghubungi nomor seseorang. Tapi karna nomor yang ia hubungi sedang dalam keadaan tidak aktif Rio makin gusar.
            Lama-lama Ify akhirnya merasa bosan saat ia rasa Rio mengabaikannya. Tadi sore, sekitar pukul 17.00, Rio datang kerumahnya untuk menjemput, dan Rio tidak pernah tahu bagaimana bahagianya Ify saat ia mengajak Ify untuk menghabiskan malam minggu bersama, tapi apa yang Ify dapati disini sama sekali jauh dari harapannya. Sejak 10 menit yang lalu, Rio tidak sekalipun mengajaknya mengobrol atau melakukan apapun, Rio hanya sibuk sendiri dan seolah-olah Ify tidak pernah ada bersamanya. Ify menghela napas berat, lalu apa gunanya ia disini?
            “Kalo Kak Rio lagi sibuk, aku pulang aja ya?” putus Ify pada akhirnya. Rio yang sejak tadi menekuri ponselnya langsung mengangkat wajahnya. Ia akhirnya sadar bahwa kejenuhan itu mulai merangkul Ify saat ia melihat ekspresi gadis cantik berdagu tirus itu. Rio mengusap wajahnya dengan sedikit frustasi.
            “Sorry, Fy. Gue dari tadi Cuma berusaha nelfon Via, tapi nomer tuh anak lagi gak aktif! Lo tau kenapa?” Tanya Rio yang merasa benar-benar buntu kali ini.
            Ify diam sejenak. Via lagi, Via lagi!
            “Jadi Kak Rio ngajakin ketemuan Cuma untuk nanyain kenapa nomor Via gak aktif?” ada nada sedikit marah yang terdengar jelas dari pertanyaan itu, dan Rio bisa menangkapnya.
            “Gak gitu juga, Fy… Cuma aja… cuma aja gue –“
            Ify bangkit dari kursinya sambil meraih tasnya yang terletak diatas meja. Rio menatap Ify dengan kedua alis bertaut. Heran.
            “Lo mau kemana, Fy?”
            “Gue mau pulang. Gue gak bisa jalan sama orang yang hati dan pikirannya gak nyatu sama tubuhnya” sindir Ify dengan keras lalu melangkah keluar dari restoran sambil berusaha meredam sakit hatinya. Kapan Rio akan sadar kalau Ify menyimpan harapan lebih padanya?
            “Ify!” Rio mengejar langkah Ify. Dan tepat saat mereka tiba diluar restoran, Rio langsung mencekal pergelangan tangan Ify dan sedikit menariknya hingga mau tak mau Ify akhirnya berbalik, menatap Rio dengan pandangan nanar. Tanpa bisa Ify tahan, sebulir air matanya turun membasahi pipi putihnya.
            “Fy… Lo nangis? Kenapa?” Tanya Rio cemas. Ia lalu mengangkat salah satu tangannya dan menyeka air mata Ify dengan lembut. “Gue minta maaf kalo emang gue salah” ujar Rio meminta maaf tanpa tahu kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga membuat gadis ini menangis. Ify lalu menurunkan tangan Rio dari wajahnya dan menggenggamnya sekilas.
            makin kesini gue makin jenuh sama perasaan ini. gue jenuh nunggu hati yang gak pernah buat gue, gue jenuh nyimpen harapan yang terlampau tinggi buat seseorang yang bahkan gak pernah nganggep gue ada. sejak awal harusnya gue sadar, kalo gue emang gak pernah keliatan dimata lo!” ungkap Ify dengan perih. Setelah sekian lama memendam perasaannya, akhirnya hari ini Ify memilih untuk jujur dan mengatakan kebenaran perasaannya pada Rio. Entah bagaimana reaksi Rio selanjutnya, Ify tidak ingin membayangkannya.
            “Ify, elo…” Rio tak melanjutkan perkataannya. Ia masih sulit mencerna semuanya.
            “Iya Kak. Gue suka sama lo, bukan Cuma suka, tapi gue sayang banget sama lo, Kak”
            Lidah Rio benar-benar kelu kali ini. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pengakuan Ify sudah cukup membuatnya sangat terkejut.
            “Udah lama gue suka sama lo meskipun gue gak pernah tahu perasaan lo yang sebenernya kayak apa ke gue”
            “Fy –“
            “Gue gak butuh jawaban Kak. Gue Cuma mau nyatain perasaan gue, gue Cuma mau lo tau. Itu aja”
            Melihat reaksi Rio yang hanya terdiam, Ify mengangguk pasrah, ia tersenyum miris lalu melepaskan tangan Rio yang berada dalam genggamannya.
            “Jangan dipikirin Kak. Gue gak apa-apa kok” kata Ify berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun sebenarnya keadaan hatinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
            “Gue pulang ya, Kak? Nanti gue coba hubungi Via, kalo ada kabar, gue pasti akan langsung ngasih tau lo”
            Saat Ify akan berbalik pergi, Rio kembali mencekal pergelangan tangannya.
            “Gue anter”
            Ify menggeleng lemah. Ia menarik pelan tangannya dari cekalan Rio seraya berkata,
            “Gue mau pulang sendiri”
            Lalu tanpa bisa Rio tahan lagi, Ify akhirnya pulang sendiri bersama kepingan-kepingan hatinya yang telah terserak kemana-mana. Bahkan sekarang, Ify sudah tidak dapat lagi merasakan bentuk hatinya. Dengan kediamannya, Rio telah benar-benar menghancurkan hati Ify. Sekarang semuanya sudah jelas, perkiraan Ify selama ini yang mengira bahwa Rio memiliki rasa yang sama dengannya ternyata salah. Ternyata Rio tidak pernah membalas perasaannya. Dan cintanya pada Rio hanyalah perasaan cinta bertepuk sebelah tangan.


♥♥♥

            Via sedang sibuk membereskan buku-buku pelajaran Alvin yang terlihat berantakkan diatas meja belajarnya. Sambil membereskan meja belajar Alvin, Via terus saja menggerutu tidak jelas. Dan saat membereskan meja, tanpa sengaja Via menjatuhkan sebuah buku agenda berwarna hitam. Via berdecak, ia lalu sedikit berjongkok untuk mengambil buku agenda itu dilantai. Tapi selembar foto yang terselip dibuku agenda itu dan sedikit mencuat dari tempatnya mendadak membuat Via merasa penasaran.
            Iseng-iseng Via sedikit menarik foto itu hingga terambil dari tempatnya. Via tersenyum lebar saat mengetahui bahwa itu adalah foto semasa kecil Alvin. Dalam foto itu, Alvin masih mengenakan seragam TK nya. Dan yang membuat Via tergelak hingga akhirnya terbahak adalah, dalam foto itu Alvin nyengir lebar sambil memamerkan beberapa giginya yang ompong. Kali ini Via sudah tidak bisa lagi meredam tawanya. Ia tertawa terbahak sambil memegangi foto Alvin. Wajah Alvin difoto itu benar-benar terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
            “HAHAHAHAHAHAHA….”
            Saking fokusnya mentertawakan foto semasa kecil Alvin, Via sampai tidak menyadari bahwa Alvin telah pulang dan memasuki apartementnya. Alvin mengernyit saat melihat Via tertawa bahkan sampai terbahak begitu.
            “Lo kenapa?” Tanya Alvin yang merasa sedikit aneh. Via kontan menoleh kearah Alvin. Namun bukannya menghentikan tawanya, suara tawa Via malah semakin menjadi saat melihat kehadiran Alvin.
            “HAHAHAHAHAHAHAHA….”
            Alvin semakin kesal dibuatnya. Alvin menggeram marah. Tanpa sengaja perhatian Alvin tertuju pada selembar foto yang ada ditangan Via. Alvin mengernyit, dan ia langsung terlonjak kaget saat mengetahui bahwa foto yang ada ditangan Via saat itu adalah foto paling memalukan yang pernah ia punya. Alvin menatap Via dengan tatapan membunuh.
            “Kembaliin foto gue!” pinta Alvin dengan tegas.
            “Hahahaha… sumpah ya, Vin… Lo disini ngegemesin banget!!” ujar Via sambil memperlihatkan foto itu pada Alvin. Dan saat tangan Alvin dengan cepat hendak menyambar foto itu, gerakan tangan Via malah lebih cepat lagi untuk menghindar. Alvin semakin tajam menatap Via.
            “Balikin gak?!” bentak Alvin yang langsung disambut oleh gelengan mantap dari Via.
            “Kalo foto ini gue tempel di Mading besok senin pasti seru” kata Via yang tanpa sadar mulai mencari penyakit.
            “Lo berani ngelakuin itu?”
            “Kenapa gak? Lo aja lebih dari tega sama gue” ujar Via menantang.
            Alvin tersenyum miring, sepertinya ia harus melakukan jurus terakhirnya untuk memberi pelajaran pada Si Keras Kepala ini. Dan saat Via lengah, Alvin meraih salah satu tangan Via, mendorongnya sedikit keras lalu memojokannya didinding. Dan ini sudah untuk yang kedua kalinya Alvin melakukan hal ini padanya. Via berusaha untuk tidak gentar. Toh ia yakin bahwa Alvin hanya mengerjainya saja, persis seperti apa yang ia lakukan seminggu yang lalu.
            “Lo serahin foto itu atau lo mau gue…”
            “Lo mau apa? Hah? Gue gak takut ya?? Jurus lo ini B-A-S-I!” Cecar Via sambil sedikit mencodongkan wajahnya kearah Alvin. Sebisa mungkin Via berusaha meredam detak jantungnya yang mulai bekerja diatas maksimal.
            “Jangan menentang gue!” kata Alvin serius. Dan saat Via menangkap bahwa tidak ada setitikpun sinar ketidakseriusan dimata Alvin, Via langsung menelan ludahnya dalam-dalam. Bukanhkah Alvin ini sangat tidak terduga orangnya?
            “Serahin sekarang juga!” Alvin berbisik pelan seraya mendekatkan wajahnya dengan Via, dan agar lebih meyakinkan lagi, Alvin sedikit memiringkan wajahnya dan bersikap seolah-olah ia ingin mencium Via.
            Saat wajah Alvin semakin mendekat dan nyaris menghapus jarak diantara mereka, Via serta-merta menahan kening Alvin dengan jari telunjuknya.
            “Jangan mendekat lagi! Nih foto lo. Ambil sana” Via akhirnya menyerahkan foto itu dan membuat Alvin memamerkan senyuman licik penuh kemenangan miliknya.
            “Lo sangat gampang dimainin ternyata” kata Alvin dengan nada mencibir sambil berlalu pergi.
            Via yang kali ini benar-benar kesal akhirnya buka suara.
            “Lo itu emang gak ketebak orangnya. Dan yang gue denger dari orang banyak, lo bisa ngelakuin apapun yang lo mau”
            “Tapi gak dengan suka rela ngasih ciuman gue buat cewek kayak lo. Lo pikir lo cukup menarik apa?”
            “Maksud lo?!”
            Alvin berbalik menatap Via lalu sedikit mencodongkan wajahnya kearah Via, Via reflex menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin.
            “Gue gak napsu sama cewek yang gak ada bentuknya kayak lo! Lo itu gak jelas mana muka, mana pipi, jadi gak usah sok cantik deh jadi cewek!”
            “WHAAATTT???”


♥♥♥

            Alvin tersenyum puas saat melihat Via keluar dari apartementnya sambil membanting pintu sekeras mungkin. Beberapa saat setelah Via keluar, Alvin langsung tertawa karna merasa puas telah mengerjai cewek yang menurutnya sangat keras kepala itu. Dan Alvin langsung membungkam tawanya saat tiba-tiba pintu apartementnya terbuka kembali dan menampakkan kepala Via yang menyembul dari balik pintu.
            “Ngapain lo balik lagi?” Tanya Alvin berusaha terdengar galak.
            “Boleh minta tolong anterin pulang gak? Ini udah jam 9, jarang ada angkot yang lewat jam segini didaerah ini”
            Alvin mengernyit. Belum genap sebulan bekerja dengan Alvin, cewek itu sudah berani-beraninya meminta Alvin untuk mengantarkannya pulang. Hey come on! Terus Alvin harus setuju gitu?
            “Taksi banyak tuh! Kenapa gak naik taksi aja?”
            “Thanks buat saran lo, tapi duit gue gak cukup kalo harus pake ongkos taksi. Bye!”
            Via kembali menghilang dibalik pintu. Alvin berpikir untuk beberapa saat. Setelah cukup lama berdebat dengan ego nya, Alvin akhirnya tiba pada sebuah keputusan final. Maka sebelum ia berubah pikiran, Alvin buru-buru bangkit dari sofa nya yang nyaman, ia meraih jaket serta kunci mobilnya lalu segera menyusul Via, hendak mengantarnya pulang.
            “Begok lo, Via! Begok, begok, begoookk… Ngapain lo pake acara balik dan minta dianter pulang sama Alvin, udah jelas ditolak lah” Via menggerutu tidak jelas dipinggir jalan sambil sesekali menghempaskan kakinya secara bergantian ditanah. Kali ini Via benar-benar menyesali diri atas kebodohannya tadi. Harusnya sejak awal ia tahu bahwa Alvin tidak akan pernah berkata “IYA” saat meminta untuk diantarkan pulang, lalu apa yang membuat ia dengan berani kembali ke apartement Alvin dan meminta supaya Alvin mau mengantarnya pulang? Hal itu tentu saja akan membuatnya semakin terlihat bodoh dimata Alvin.
            Sebuah jaguar hitam yang cukup familiar dimata Via tiba-tiba saja berhenti tepat disampingnya. Via terdiam sejenak dan menatap jaguar hitam itu. Tidak perlu repot-repot menebak, Via sudah tahu bahwa jaguar hitam itu adalah mobil milik Iel.
            “Via? Kok disini? Ngunjungin temen lo lagi?” Tanya Iel beberapa saat setelah ia membuka kaca jendela mobilnya.
            Via menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. Tidak lama Via lalu mengangguk.
            “Gue anter pulang yuk! Tapi sebelumnya temenin gue jalan-jalan dulu ya?” pinta Iel seakan tanpa beban. Via yang memang merasa suntuk dan butuh hiburan dengan jalan-jalan keliling kota langsung menyetujui permintaan Iel dengan mengangguk. Iel tersenyum puas lalu mempersilahkan Via memasuki mobilnya.
            Disaat yang bersamaan, Alvin keluar dari gedung apartement dengan menggunakan Lamborghini putihnya. Alvin menatap Via yang memasuki mobil Iel. Tidak lama, Alvin pun menghempaskan kedua tangannya diatas setir lalu segera memutar balik mobilnya dan membatalkan niatnya diawal. Sekali lagi Iel mengalahkannya.

♥♥♥

            Tidak terasa hampir satu jam sudah Via dan Iel berjalan-jalan keliling kota menikmati suasana malam minggu. Setelah merasa puas berjalan-jalan keliling kota, Via dan Iel memutuskan untuk singgah disebuah warung kaki lima dipinggir jalan. Mereka duduk berhadapan disebuah meja setelah memesan 2 porsi mie ayam berikut es teh manis yang sebenarnya merupakan makanan favorit Iel. Dan seumur-umur Via tidak pernah menyangka, bahwa seorang Ariel Nata Pratama, anak dari Pemilik sekaligus kepala sekolah di Speranza High School ternyata sudah terbiasa makan di warung kaki lima seperti ini tanpa rasa gengsi sedikitpun, seuatu kebiasaan yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Calvin Bramantya. Sejenak Via terkagum melihat kerendahan hati Iel.
            “Gak nyangka ya, anak Bu Kepsek ternyata doyan makan ditempat kayak gini” Ledek Via sesaat sebelum ia menyuapkan Mie Ayamnya. Iel hanya tersenyum lalu berkata,
            “Anak Bu Kepsek juga manusia, Via. Inget itu!”
            “Hahaha iya deh. Gue gak berani banyak omong, nanti yang ada lo malah gak mau traktir gue lagi” Via lalu meleletkan lidahnya dan malah membuat Iel gemas setengah mati. Ah.. Andai ia bisa menjadikan Gadis ini lebih dari sekedar temannya.
            “Kak Iel…”
            “Hmm”
            “Kak Iel kan waktu itu sempet cerita kalo Kak Iel pernah tinggal di Paris selama 2 tahun. Inget gak?”
            “Inget lah. Terus kenapa?” Iel melepaskan sendok beserta garpunya. Ia lalu menopang dagunya pada kedua telapak tangannya yang sengaja ia angkat.
            “Gue mau denger Kak Iel ngomong pake bahasa Prancis dong. Pleaseeeee!!” pinta Via dengan wajah memelas. Iel terkekeh geli dan menepuk pelan puncak kepala Via. Jangankan hanya berbicara dalam bahasa Prancis, apapun akan Iel lakukan demi gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu itu. Gadis yang merupakan satu-satunya pemilik tunggal hatinya untuk saat ini.
            “Lo mau gue ngomong apa?”
            “Terserah Kak Iel aja. Isi hati juga boleh…” kedua mata Via tampak berbinar.
            “Isi hati, emmm…” Iel tampak berpikir. Iapun menghela napas panjang dan sedikit membenahi posisi duduknya. Iel lalu menatap kedua bola mata Via sedalam mungkin, dan dengan penuh kesungguhan, Iel berkata,
            depuis que j'ai rencontré, je vous ai aimé. et même aujourd'hui, lorsque nous avons adopté les jours ensemble, j'ai finalement convaincu, que Je t'aime, non seulement, mais Je t'aime, et je veux que tu sois quelqu'un de spécial dans ma vie.” ( Sejak pertama kali bertemu aku sudah menyuakimu. Dan semakin hari, saat kita selalu melewati hari-hari bersama aku akhirnya yakin, bahwa aku tidak hanya menyukaimu, tapi aku mencintaimu dan ingin kamu menjadi seseorang yang special dalam hidupku) Ujar Iel mantap juga dengan logat Prancis yang tepat dan pasih. Via terpana dan sedikit ternganga, bukan karna kemampuan Iel berbahasa Prancis, tapi karna Via sama sekali blank dengan apa yang baru saja Iel ucapkan.
            “Itu artinya apa?” Tanya Via dengan polosnya.
            Iel tersenyum penuh arti tanpa melepaskan tatapan matanya dari kedua bola mata Via. “Artinya… Via jelek” Iel langsung menjulurkan lidahnya pada akhir kalimatnya. Via langsung cemberut detik itu juga.
            “Gue emang buta bahasa Prancis, Kak. Tapi gue tau kali arti kalimatnya gak mungkin sesingkat itu”
            “Kalo gak percaya, cari aja sendiri sana di kamus”
            “KAK IEEELLLLL….” Rengek Via manja yang disambut oleh semburan tawa dari Iel. Selama beberapa tahun belakangan ini, ini baru pertama kalinya Iel merasa selepas ini ketika tertawa. Dan Iel merasa sangat bersyukur karna Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk mengenal seseorang yang sangat special seperti Via.




                                    To Be Continued…

Thursday, April 24, 2014

0

Ashilla - Me And You (OST. Me And You Versus The World)

Ku mencoba mengerti keadaan ini
Walau sejuta pertanyaan menghujani
Kau hadir di waktu hidupku yang tak tepat
Belum waktuku karena cinta lebih cepat

Dan dunia pun berhasil melerai kita berdua
Seperti bermimpi indah lalu terjaga

just me and you against the world
Ucapan yang jadi pengikat janji cinta kita
now i’ll spend my life to keep my words
Ku pastikan suatu saat nanti ku kan hadir di hidupmu lagi
Tuk melanjutkan cinta ini

Ku belajar terima keadaan ini
Cinta kita harus pupus saat ia bersemi

Dan dunia pun berhasil melerai kita berdua
Seperti bermimpi indah lalu terjaga

just me and you against the world
Ucapan yang jadi pengikat janji cinta kita
now i’ll spend my life to keep my words
Ku pastikan suatu saat nanti ku kan hadir di hidupmu lagi
Tuk melanjutkan cinta ini

Kan ku buat dunia mengerti ini cintaku yang pertama
Kan ku buat dunia mengerti begitu hebatnya cinta pertama

just me and you against the world
Ucapan yang jadi pengikat janji cinta kita
now i’ll spend my life to keep my words
Ku pastikan suatu saat nanti ku kan hadir di hidupmu lagi
Tuk melanjutkan cinta ini

just me and you against the world
Ucapan yang jadi pengikat janji cinta kita
now i’ll spend my life to keep my words
Ku pastikan suatu saat nanti ku kan hadir di hidupmu lagi
Melanjutkan cinta ini oooh tuk melanjutkan cinta ini

Tuesday, April 22, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 5B-



Cinta itu datang perlahan, amat perlahan, mengusik segala hal yang kau tahu awalnya baik-baik saja.
Cinta itu menjamah hatimu dengan sangat lembut, bahkan karna terlalu lembut kau sampai tidak menyadari bahwa benih-benih cinta itu mulai tertanam didasar hatimu yang terdalam.
Kau hanya tinggal menunggu waktu saat cinta itu tumbuh berkembang dan mekar dengan indah, saat itu tiba, kau akan menyadari bahwa cinta itu memang telah ada sejak lama, jauh sebelum kau menyadarinya.
Saat kau mulai menyadarinya nanti, kau mungkin akan berusaha membuat sebuah penyangkalan-penyangkalan akan hatimu, tapi ketahuilah… Kau tidak akan pernah bisa menghindar dari rasa cinta itu.
Ia akan tetap ada dan bersemayam dihatimu sampai waktu yang kau sendiri tidak bisa menentukannya…
                                           
♥♥♥

            Setelah mengantar Shilla pulang, Cakka langsung pulang kerumahnya tanpa perlu repot-repot mampir ke tempat tongkrongannya seperti yang biasa ia lakukan saat pulang sekolah.
            Seperti yang Cakka tahu, suasana rumahnya selalu dalam keadaan sepi. Ia hanya ditemani dengan beberapa pelayannya yang bekerja dirumah mewah bergaya Eropa Klasik itu.  Dan Cakka selalu membenci suasana itu. Cakka tidak mengerti, setiap kali ia menginjakan kakinya dirumah itu, ia selalu merasa perih, perih dengan keadaan yang sekarang menghampirinya.
            Mama nya selalu sibuk keluar kota untuk show. Bahkan tidak jarang, Mama nya juga pergi ke luar negri dalam waktu yang lama demi memenuhi tuntutan pekerjaannya sebagai  salah satu Diva juga aktris di Indonesia.
            Ya… Mama Kandung Cakka adalah salah seorang penyanyi sekaligus aktris ternama yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk show dan shooting film ketimang mengurus Cakka yang sangat membutuhkan perhatian darinya. Mungkin siapapun yang melihat kehidupan yang sedang Cakka jalani saat ini, mereka akan berkesimpulan bahwa hidup Cakka sangat sempurna. Tapi tidak, pada kenyataannya tidak seperti itu.
            Ia hanya berpura-pura bahagia didepan kamera saat Mama nya memperkenalkannya didepan public, sementara dibalik kamera, Cakka tidak lebih dari seorang anak kesepian yang tidak bisa mendapatkan perhatian serta limapahan kasih sayang dari Mamanya. Mungkin Mama nya memberikan segalanya untuk Cakka, ia memfasilitasi Cakka dengan segala fasilitas-fasilitas super wah yang membuat semua orang iri, tapi tanpa Mama nya tahu, Cakka tidak pernah sekalipun merasa bahagia dengan semua itu. Yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang serta perhatian Mamanya, cukup itu, bukan yang lainnya.
            Dan semalam, beberapa saat sebelum Mamanya meninggalkan rumah untuk kemudian berangkat ke LA selama 2 minggu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka. Hal itulah yang membuat Cakka selama seharian ini terus murung dan membuat Shilla serta sahabat-sahabatnya kebingungan.
            Cakka menghela napas panjang untuk mengisi rongga dada nya yang entah kenapa terasa hampa tanpa udara. Sesak. Ingatan Cakka tentang pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Mama nya semalam kembali berpendar dikepalanya.

Flashback On ~

            “Aku Cuma ingin tahu siapa Papa aku yang sebenarnya, Ma. Apa aku gak berhak buat tahu itu? Apa aku gak berhak, Ma?” teriak Cakka penuh emosi sambil berusaha menahan getaran pada nada suaranya yang terdengar lirih.
            “Atau apa  issue yang berkembang beberapa tahun yang lalu yang mengatakan bahwa aku adalah anak diluar nikah itu benar? Apa benar aku adalah seorang anak har—“
            PLAK! Belum selesai perkataan Cakka, sebuah tamparan dari tangan Mama nya mendarat untuk yang pertama kalinya diwajahnya. Evelyn –Mama Cakka- terlihat begitu emosi. Cakka memegangi pipinya lalu menatap Mamanya dengan pandangan tidak percaya.
            “Jaga omongan kamu, Cakka! Dan sudah berkali-kali Mama bilang sama kamu untuk jangan pernah bahas masalah Papa kamu, tapi kamu gak pernah mau dengerin Mama dan malah percaya sama issue yang tidak jelas itu”
            “Karna aku gak ada pilihan lain, Ma. Dan karna Mama gak pernah mau ngasih aku pilihan. Aku Cuma butuh kejelasan soal itu, Ma. Aku Cuma mau tahu, siapa Papa aku, gak lebih!”
            “Kamu gak perlu tahu siapa Papa kamu. Karna bagi Mama, itu semua tidak penting! Apa kamu merasa tidak bahagia menjadi seorang Putera Tunggal dari Evelyn Paramitha? Atau apa kamu merasa kurang dengan semua apa yang sudah Mama berikan dan korbankan selama 17 tahun terakhir ini?”
            “Aku gak pernah minta jadi anak dari seorang Diva bernama Evelyn Paramitha, dan aku gak akan pernah minta dilahirin sama Mama, kalo aja sejak awal aku tahu kehidupan aku bakal kayak gini”
            “Cakka!”
            “Cakka sayang sama Mama… tapi Mama gak pernah mau tahu soal itu kan? Iya kan, Ma?”
            Cakka berbalik lalu pergi meninggalkan Evelyn sendirian diruang tamu yang cukup luas itu. Cakka menaiki anak tangga tanpa sekalipun menoleh. Kenapa? Kenapa Mamanya selalu menyembunyikan rapat-rapat prihal Ayah kandungnya? Kenapa Cakka tidak boleh tahu tentang sebuah kebenaran yang mutlak menyangkut soal dirinya dan kejelasan statusnya sebagai seorang anak?

Flashbak off ~

            Cakka mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia lelah, benar-benar lelah.


♥♥♥

            Dari dalam mobilnya, Rio memperhatikan Via yang waktu itu sedang menunggu angkutan umum didepan gerbang sekolah. Rio mengetuk-ngetukan jari tangannya diatas setir mobil dengan gusar. Haruskah ia menghampiri Via dan menawarkannya untuk pulang bersama? Tapi…
            Rio menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia berusaha menepikan ego nya dan melupakan kemarahannya pada Via untuk sejenak saja. Rio memang marah karna Via tidak mau jujur padanya, tapi masakah Rio tega membiarkan Via pulang sendiri?
            Saat Rio akan menjalankan mobilnya hendak menghampiri Via, tiba-tiba saja sebuah angkot berhenti tepat dihadapan Via. Via lalu menaiki angkot itu dan membuat Rio membuang napasnya dengan kasar. Rio membanting kedua tangannya diatas setir, sekarang ia tidak hanya marah pada Via, tapi Rio juga marah pada dirinya sendiri.

♥♥♥

            “IFY!” Panggil Via dengan cukup keras dan membuat perhatian semua yang ada di Café itu tertuju padanya, tapi Via tidak peduli. Yang ia tahu sekarang adalah ia harus segera menemui Ify, menjelaskan semuanya dan segera kembali ke Apartement Alvin sebelum waktu yang ia tentukan dengan Alvin habis.
            “Via” Panggil Septian saat melihat Via yang berkeliaran di café. Via menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Septian.
            “Pak Septian…”
            “Kamu ngapain disini, Via? Bukanya seharusnya sekarang kamu lagi di –“
            “Saya tau Pak” potong Via buru-buru dan membuat Septian mengernyit. “Tapi sekarang saya lagi ada urusan sama temen saya. Saya udah minta ijin kok sama Alvin” Lanjutnya.
            Septian hanya mengangguk lalu berkata, “Bagus deh kalo kayak gitu” Septian lalu melangkah melewati Via begitu saja, saat itu juga Via langsung menghela napas lega dan segera menghampiri Ify yang duduk dimeja yang terdapat didekat jendela.
            “Lo udah lama, Fy?” Tanya Via seraya menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Ify.
            “Gak juga. Baru 5 menit yang lalu gue dateng” jawab Ify seadanya.
            Setelah minuman pesanannya datang, Via mulai menceritakan semua apa yang ia alami selama 2 minggu belakangan ini pada Ify. Mulai dari Alvin menabraknya, pertengkarannya dengan Alvin di Toilet Café yang menyebabkan ia akhirnya menjadi pembantu Alvin, juga saat Alvin secara mendadak memberikannya beasiswa.
            Ify tidak henti-hentinya dibuat terbengong-bengong oleh cerita yang Via tuturkan. Dan sulit bagi Ify untuk percaya, bahwa Alvin akan melakukan hal ini. Ify tahu Alvin licik, bahkan sangat licik, dan Ify juga tahu bagaimana selama ini Alvin anti mencari masalah apalagi membuat masalah dengan seorang cewek, tapi sekarang, kenapa tiba-tiba Alvin mau repot-repot membuat masalah dengan Via? Apa yang Alvin inginkan sebenarnya dari Via? Itulah dua buah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepala Ify. Dan entah kenapa, Ify mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dibalik semua ini. Tapi apa?
            “Fy, gue boleh minta sesuatu sama lo?” Tanya Via ragu-ragu. Ify langsung membuyarkan lamunanya lalu menatap Via dengan pandangan bertanya.
            “Apa?”
            “Masalah ini cukup kita berdua yang tahu ya? Kak Rio sama Kak Iel atau yang lainnya sama sekali gak boleh tau, oke?”
            Ify hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Tapi hal itu tidak lantas membuat pikirannya yang kacau segera membaik. Firasatnya semakin tidak enak. Ia harus segera mencari tahu ada apa dibalik semua ini? Dan Ify akan menanyakannya langsung pada Alvin, tidak peduli apapun resikonya.

♥♥♥

            Alvin melirik jam dinding diruang tamunya, sudah 10 menit berlalu dari waktu 30 menit yang ia berikan pada Via, tapi hingga sekarang Via belum juga menampakkan dirinya. Alvin seharusnya marah karna ketelatan Via itu, tapi ia justru tersenyum licik, karna dengan begitu ia bisa mengerjai cewek itu sesuka hatinya, dan tentu saja ia akan punya alasan lain untuk memarahinya nanti.
            Ting tong… suara bel apartementnya yang berbunyi langsung membuat Alvin menoleh kesamping. Senyumnya semakin melebar, ia lalu bangkit dan berjalan dengan santainya kearah pintu. “Mampus lo sekarang!” gumam Alvin pelan.
            Alvin lantas membuka pintu, tapi yang ia dapati didepan pintu justru sangat mengejutkannya. Bukannya Via yang datang, tapi malah Ayahnya. Senyum itu pun langsung pudar dari wajah orientalnya.
            “Jadi kamu kabur kesini?” Tanya Johan retoris tapi sarat akan emosi juga kemarahan yang meluap. Alvin menghela napas dan memilih untuk tidak menjawab.
            Johan menatap Alvin dengan muak lalu memasuki apartement itu tanpa dipersilahkan. Johan mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan ia sama sekali tidak bisa menghindar saat kenangan masa lalunya bersama mendiang isteri terdahulunya langsung merong-rong otaknya tanpa henti. Johan memejamkan matanya sejenak untuk meredam rasa sakit itu dan menepikan semua kenangan yang nyaris membuatnya gila sebelum ia memiliki Ify, Iel juga Isteri barunya sekarang ini.
            ‘Semuanya masih tetap sama’ bathin Johan.
            “Kalau Daddy kesini Cuma untuk nyuruh aku pulang, maka aku bilang sekarang juga kalo itu sia-sia. Aku gak akan pernah pulang” ucap Alvin dengan tegas.
            “Begitu ya?” Johan berbalik lalu menatap Alvin yang langsung membeku ditempat. “Kapan sih kamu bisa bersikap manis sama Daddy seperti Iel? Dan kapan kamu bisa menghormati Daddy sebagai Ayah kandung kamu seperti apa yang Iel lakukan?”
            Telak. Ucapan Johan itu telak menghantam dada Alvin tanpa ampun. Iel, Iel, dan Iel lagi. Dalam segala hal, Ayahnya selalu membandingkan-bandingkannya dengan Iel, hal itu lah yang membuat Alvin muak. Dimata Ayahnya, Iel memang selalu lebih segala-galanya dari Alvin, Iel memang selalu lebih baik dari Alvin, dan Iel memang selalu jadi anak kesayangan. Sedangkan Alvin? Bahkan Alvin tidak pernah tahu apakah Ayahnya masih menganggapnya anak atau tidak. Yang jelas, selama Alvin tinggal bersama Ayah, Mama Tiri, juga Adik tirinya –Ify, Alvin lebih merasa diperlakukan seperti sebuah robot ketimang anak.
            “Karna aku bukan Iel, dan selamanya tidak akan pernah jadi Iel” kata Alvin sambil berusaha menekan getaran pada nada suaranya.
            “Daddy tidak menyuruh kamu untuk jadi seperti Iel, Daddy hanya minta kamu untuk contoh semua sikap Iel. Hanya itu! Tapi kamu selalu salah paham dengan maksud Daddy, kamu selalu merasa seolah-olah kamu adalah seorang anak yang terbuang. Tanpa kamu sadari, kamu lah yang telah membuang diri kamu sendiri, Alvin” ucap Johan penuh amarah. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
            Alvin tersenyum perih. Sulit ia percaya bahwa kata-kata itu akan keluar dari bibir Ayahnya. Dulu, saat mereka masih hidup berdua selepas kepergian Aurora –Mami Alvin, Johan begitu perhatian pada Alvin. Dan jika bisa, Johan bahkan rela memberikan nyawanya untuk Alvin. Tapi semenjak kehadiran Iel, Ify juga Mama tirinya ditengah-tengah kehidupan mereka, semuanya mendadak berubah, dan kasih sayang itu mulai terbagi lalu perlahan terkikis. Hal itu lah yang membuat Alvin hingga detik ini belum bisa menerima kehadiran mereka.
            “Oke, Daddy tidak mau berdebat sama kamu. Sekarang intinya kamu mau pulang atau tidak?”
            “Tidak sebelum mereka pergi dari rumah dan ngembaliin Daddy aku yang dulu”
            Johan langsung terhenyak mendengar ucapan Alvin baru saja. Meskipun emosi sama-sama melingkupi mereka saat ini, tapi Johan dapat menangkap dengan sangat jelas ada sebentuk kejujuran dan juga kerinduan dari kalimat itu. Pada akhirnya Johan menelan bulat-bulat segala bentuk kemarahan yang tadinya ingin ia muntahkan. Mungkin Iel benar, Alvin hanya butuh waktu untuk menerima semua ini.
            “Oke, Daddy tidak akan paksa kamu untuk pulang, Daddy akan kasi kamu waktu untuk berpikir dan merenungkan semua apa yang kamu lakukan saat ini, Calvin”
            “Aku gak butuh wak –“
            “ALVIN GUE DATEEENGGG!!!” Pekik seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu dan memotong pembicaraan yang terjadi antara Ayah dan anak itu. Alvin dan Ayahnya secara bersama-sama menoleh kearah pintu. Alvin menatap Via dengan dingin, sementara Johan lebih menatap Via dengan pandangan bertanya.
            “Dia siapa?” Tanya Johan beberapa saat setelah ia membuyarkan keterpanaannya. Sementara Via, ia hanya berdiri canggung didepan pintu. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Via sudah bisa menebak bahwa laki-laki dewasa itu adalah Ayah kandung Alvin. Dan sumpah, rasanya Via ingin mengenyahkan diri dari planet ini sekarang juga.
            “Bukan urusan Daddy”  jawab Alvin cuek. Ia lalu melemparkan tatapannya kearah Via, “Masuk!” titah Alvin pada Via dengan nada tidak ingin dibantah.
            “Ta… tapi…”
            “Gue bilang masuk!” nada bicara Alvin terdengar meninggi dan nyaris terdengar seperti sebuah bentakan keras.
            Tidak ingin membuat Alvin semakin marah, Via pun mengikuti perintah Alvin. Tamat sudah riwayatnya hari ini.


♥♥♥

            Via sedang sibuk menyiapkan bahan masakan saat tiba-tiba Alvin memasuki dapur tanpa sepengatahuannya. Alvin berdiri tepat dibelakang Via dengan jarak hanya sekian senti.
            “Ehem” suara deheman Alvin itu langsung membuat Via kaget. Reflex ia membalik tubuhnya seraya mengacungkan pisau tepat dihadapan Alvin. Alvin mengernyit.
            “Lo mau bunuh gue?”
            “Eloo… ih ngagetin gue aja” kata Via setengah kesal. Saat ia akan berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, Alvin justru menahannya agar mereka tetap berhadapan.
            “Apa yang lo denger dari pembicaraan gue sama Bokap gue tadi?” Tanya Alvin dingin tanpa melepaskan lengan Via. Dan tatapan Alvin yang begitu dalam dan menghujam malah membuat lidah Via mendadak kelu. Sadar tidak sadar, ia mulai mengagumi betapa indahnya pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang sekarang ini sedang berdiri didepannya dalam jarak yang begitu dekat bahkan sangat dekat. Dan aroma maskulin yang menguar dari tubuh Alvin justru membuat Via susah mengambil napas.
            “Gu… gue… gue gak denger apa-apa” jawab Via dengan susah payah. Alvin langsung mengangkat salah satu alisnya.
            “Darimana gue tahu kalo lo lagi gak bohongin gue?” Alvin sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah Via. Dan apa yang Alvin lakukan itu malah membuat jantung Via bekerja diatas batas maksimal. Apa yang salah dengan semua ini?
            “K… Kalau pun gue denger sesuatu, gu… gue akan pura-pura gak denger apapun” jawab Via dengan terbata-bata, dan di akhir kalimatnya ia langsung menghela napas pelan untuk menteralisir detakan jantungnya yang semakin belingsatan.
            “Good!” Alvin semakin mendekat dan membuat Via mau tidak mau semakin terpojokan. Alvin lalu menghempaskan kedua tangannya diatas meja, tepatnya disisi kiri dan kanan tubuh Via, ia seolah memenjara Via agar tidak lari kemanapun.
            “Lo inget tadi lo bilang apa sama gue?” desauan hangat napas Alvin menyapu wajah Via dan semakin membuat perasaannya tidak menentu.
            “E… emang gue bilang apa?”
            “Perlu gue ingetin?”
            Kali ini Via hanya mengangguk. Alvin memalingkan wajahnya kearah lain dengan posisi yang masih tetap sama, ia menarik napas pelan lalu mengucapkan kembali kalimat yang tadi Via ucapkan dikoridor sekolah sesaat sebelum Via kabur.
            “Sampe ketemu di Apartement lo setengah jam lagi. Setelah gue dateng ke Apartement lo nanti, terserah lo mau ngapain aja, gue gak akan ngelawan. TERSERAH LO MAU NGELAKUIN APA AJA” Alvin mengulang beberapa kata dengan penekanan yang kuat untuk menegaskan. Via langsung menelan ludah saat itu juga. Tolol! Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat bodoh itu tanpa pikir panjang?
            “T… Terus lo mau apa sekarang?” Tanya Via dengan gugup. Alvin tersenyum licik dan membuat Via semakin merasakan firasat aneh yang mengganggu.
            “Masuk kamar gue!”
            “WHAAATT???” Kaget Via.
            “Masuk kamar gue!” Alvin mengulang perkataannya dengan penuh penegasan yang justru membuat Via merinding. Apa Alvin setega itu?
            “Nga… ngapain?”
            “Apa masih perlu gue jawab?” bisik Alvin pelan.
            “T… Tentu”
            “Menurut lo, apa yang dilakukan seorang cewek dan cowok jika sedang berada dalam satu kamar yang sama?”
            “Ma… maksud lo?” Via pura-pura tidak paham. Alvin mengangkat salah satu alisnya, secara mengejutkan Alvin melingkarkan salah satu tangannya dipinggang Via lalu menariknya hingga dekat dengannya.
            “Lo mau apa siiihhhhh??” Tanya Via frustasi.
            “Lo mau tau gue mau apa?” Via terdiam sambil berusaha mengontrol detak jantungnya. “MASUK-KAMAR-GUE!” Lanjut Alvin.
            “Ya tapi buat apa???” Alvin tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Via, semakin lama semakin dekat. Kali ini Via pasrah, ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa dalam hati. Alvin tersenyum penuh kemenangan detik itu juga.
            “Masuk kamar gue DAN BERSIHIN BEGOK!” Alvin melepaskan Via dari kungkungannya. Via membuka kedua matanya lalu menatap Alvin dengan sebal.
            “Apa?”
            “Iya. Kamar gue berantakan, dan lo harus rapihin. Gak Cuma kamar gue, tapi lo harus bersihin semua ruangan sampe kinclong tanpa ada sedikitpun debu. Dan jam kerja lo nambah 2 jam. Itu hukuman karna lo berani-beraninya telat dan ngebantah gue”
            Alvin lalu meninggalkan dapur setelah merasa puas mengerjai Via. Kekesalan Via yang sudah benar-benar mencapai ambang maksimal nyaris membuatnya melemparkan pisau yang ada ditangannya kearah Alvin. Jika membunuh orang itu tidak dosa, maka orang pertama yang ingin Via bunuh adalah Alvin.
            “ALVIN RESEEEEEEEE!!!” Teriak Via sekeras mungkin yang justru tidak digubris oleh Alvin.
            Tapi kemudian Via tiba-tiba tertegun dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa mendadak jantungnya berdetak kencang saat sedang berada disamping Alvin? Dan kenapa tiba-tiba Via merasakan ada getaran-getaran aneh yang mengiringi setiak detak jantungnya? Apa yang salah dengan hatinya? Mungkinkah ia mulai jatuh cinta pada Pria Arrogant itu? Jika iya, kenapa harus secepat ini?
            “Gak, gak, gak… Gue gak mungkin jatuh cinta sama cowok songong itu. Kalo pun dia cowok terakhir yang ada diplanet ini, gue gak akan pernah sudi jatuh cinta sama dia…”
            Via membuang semua pikiran-pikiran anehnya dan berusaha untuk tidak memikirkan Alvin meskipun mereka berada ditempat yang sama. Via juga berusaha menganggap Alvin seakan tidak ada disekitarnya.
            Dan hari itu, hingga malam menjelang, Via menghabiskan waktunya untuk membersihkan apartement Alvin, menjalankan hukuman yang menurutnya sangat menyebalkan. Awas saja nanti! Alvin harus membayar untuk semua ini.




                                                To Be Continued…