Sunday, May 26, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 18 "Let It Flow"



                Dengan linangan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi, Sivia terduduk dengan lemah didepan ruang ICU menunggu Alvin yang saat itu tengah ditangani oleh seorang Dokter dan beberapa orang suster.
            Suara isak tangis Sivia seakan menjadi backsound dari kegetiran hatinya saat ini. Didalam sana, Si Kunyuk yang super menyebalkan itu tengah berjuang diantara hidup dan mati. Dan Sivia merasa sangat takut dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi. Sivia tidak ingin kehilangan Alvin. Masa kah Tuhan begitu tega merenggut kebahagiaan yang baru semalam Sivia raih? Sivia tahu Tuhan tidak akan setega itu. Alvin pasti akan baik-baik saja.
            Dalam hati Sivia terus berdoa dengan satu harapan agar Si Kunyuk itu baik-baik saja. Secara tiba-tiba ingatan Sivia tentang kebersamaannya dengan Alvin berputar kembali diotaknya dan menimbulkan rasa sesak yang semakin menjadi.
            Suara tangis Sivia nyaris pecah. Jika tidak ingat bahwa saat ini ia sedang berada dirumah sakit, mungkin Sivia sudah mengeluarkan tangisannya sekuat ia mampu.
            “Via….” Panggil Cakka dengan cemas seraya duduk disamping Sivia.
            Menyadari kehadiran Sahabatnya itu, Sivia langsung saja membawa dirinya kedalam pelukan Cakka. 10 menit yang lalu Sivia menelpon Cakka dan meminta Cakka untuk segera pergi kerumah sakit tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Merasa cemas dengan keadaan Sivia, Cakka langsung pergi kerumah sakit.
            Sivia meremas kuat-kuat kerah kemeja Cakka dengan suara isakkan tertahan. Cakka menepuk pundak Sivia beberapa kali lantas mulai mengajukan sebuah pertanyaan,
            “ada apa Vi sebenernya?”
            “Hiks…Hiks… Alvin, Kka, Alvin….”
            “Alvin kenapa?”
            “tadi Alvin nyelametin gue dari 2 orang preman, te… terus, pas salah satu dari preman itu mau nusuk gue dari belakang, A…Alvin malah ngedorong gue, A…Alvin nggak sempet nyelametin dirinya… preman itu nu… nusuk A…Alvin, Kka…. Mereka nusuk Alvin, hiks… hiks…” tutur Sivia dengan terbata-bata penuh kepayahan.
            “gue takut Alvin ninggalin gue… gu… gue nggak mau A…Alvin pergi, Kka, nggak mau… hiks…hiks…hiks…” lanjut Sivia dengan isakkan yang lebih kuat lagi.
            Seumur hidupnya belum pernah Cakka melihat Sivia serapuh seperti sekarang ini. Merasa tidak sanggup melihat kondisi Sivia yang benar-benar menyedihkan, Cakka semakin mempererat pelukannya pada Gadis Bawel itu. Detik ini juga Cakka mengerti, bagaimana pentingnya arti hadir Alvin dalam kehidupan Sivia. Meski perih yang ia rasakan, tapi Cakka berusaha untuk ikhlas. Cakka tidak mau rasa egoisnya mengalahkan segalanya.
            “nggak Vi, nggak… Alvin nggak akan kemana-mana. Dia nggak akan ninggalin lo, percaya sama gue…”
            “gue takut, Kka…. Gue takut….”
            “sttt…. Lo percaya aja sama gue, gue pastiin Alvin nggak akan kemana-mana, nggak akan pernah kemana-mana….” Ujar Cakka seraya membelai lembut rambut Sivia.
            Beberapa saat kemudian Cakka melepaskan pelukannya dari Sivia. Ia menuntun Sivia untuk berdiri lalu duduk diruang tunggu. Dengan pelan Cakka mendudukan tubuh Sivia diatas kursi tunggu. Cakka duduk disamping Sivia, ia memegangi wajah Sivia menggunakan kedua tangannya lantas mengusap keringat dingin yang bercucuran diwajah Sivia.
            “nggak usah nangis lagi ya, Vi…?” pinta Cakka dengan lembut. Sivia menggeleng beberapa kali. Cakkapun kembali membawa Sivia kedalam pelukannya.


^_^

            Sekitar 15 menit kemudian, pintu ruang ICU pun terbuka. Ketika melihat seorang Dokter keluar dari ruang ICU, Cakka dan Sivia langsung menghampiri Dokter itu.
            “Dok, gimana keadaan Alvin, Dok…? Alvin baik-baik aja kan Dok?” Tanya Sivia dengan cemas.
            Sang Dokter tersenyum lalu menepuk pundak Sivia beberapa kali.
            “tidak apa-apa, Alvin baik-baik saja. Untung Alvin cepat dibawa kesini, jika tidak mungkin Alvin sudah kehilangan banyak darah. Alvin hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk mengeringkan jahitan pada luka diperutnya, dan setelah itu, kondisi Alvin akan kembali seperti semula”
            Sivia langsung menghela nafas lega ketika mendengarkan penjelasan dari Dokter. Dalam hati Sivia langsung bersyukur. Ternyata Tuhan mengabulkan permintaannya. Sivia melirik sejenak kearah Cakka sambil tersenyum.
            “Alvin sudah bisa ditengok kan, Dok?” Tanya Cakka,
            “bisa, tapi setelah Alvin dipindah keruang perawatan”
            “baiklah”

Beberapa saat setelah Dokter pergi….

            “Via, elo udah telfon keluarganya Alvin?”
            Sivia menggeleng, “belom, Kka. Gue nggak punya nomer telfon keluarga Alvin, tapi tadi gue udah minta Dayat buat ngehubungin Mamanya Alvin”


^_^

            Sivia memasuki ruang perawatan Alvin tanpa Cakka. Cakka menolak saat tadi Sivia mengajaknya untuk masuk, Cakka bilang dia ingin menunggu diluar saja. Sivia yang memang sangat ingin melihat kondisi Alvin langsung saja menyetujui perkataan Cakka tadi.
            Cakka hanya tidak ingin mengganggu kebersamaan Alvin dan Sivia. Cakka merasa Alvin dan Sivia butuh waktu untuk berdua saja.
            Sivia duduk ditepi ranjang Alvin seraya menatap wajah Alvin yang saat itu tengah terlelap dengan tatapan nanar. Dibalik sikap cueknya yang sudah mencapai stadium akhir itu, ternyata Alvin sangat memperhatikannya. Bahkan Alvin rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi melindungi Sivia.
            Sivia mengangkat tangan kananya secara perlahan lalu mendaratkannya tepat diwajah Alvin. Air mata Sivia lagi-lagi terjatuh,
            “lo emang begok, Kunyuk! Lo cowok terbegok yang pernah gue kenal sepanjang hidup gue, tapi kenapa gue malah jatuh cinta sama lo, kenapa…?”
            Sivia meraih tangan kanan Alvin lalu mencium punggung tangannya. Sivia melakukannya agak lama,
            “berisik lo!! Nggak tau orang lagi tidur apa?” ucap Alvin yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
            Sivia mengangkat wajahnya dan melihat kearah Alvin yang saat itu tengah menatapnya sambil tersenyum jahil. Dasar Kunyuk! Sakit-sakit begini masih sempat-sempatnya ia tersenyum jahil seperti itu.
            Sivia buru-buru melepaskan tangan Alvin dari genggamannya lantas membuang mukanya kearah lain.
            “ciyeeee… yang takut banget kehilangan gue” goda Alvin seraya mencolek dagu Sivia. Sivia menepis tangan Alvin dengan cepat dari dagunya.
            “isshh… apaan sih?”
            “tadi aja lo nangis-nangisan, eehh… sekarang pas gue udah sadar lo malah sok cuek kayak gini. Udahlah, nggak usah gengsi kali, sama pacar lo ini juga….”
            “tau ah! Elo nyebelin tau, Nyuk” kata Sivia dengan nada suara sedikit bergetar. Sivia menunduk sedalam-dalamnya. Sivia tidak ingin Alvin tahu bahwa ternyata dia sangat cengeng.
            Alvin memegangi perutnya yang masih terasa sakit lantas mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu menegakkan wajah Sivia hingga berhadapan dengan wajahnya. Alvin tersenyum sangat manis Gadis itu,
            “maafin gue ya udah bikin lo cemas? Gue janji lain kali nggak akan bikin lo cemas lagi, gue janji PRINCESS JELEK….”
            Mendengar ucapan Alvin barusan, Sivia malah sesunggukan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sivia langsung memeluk tubuh Alvin. Alvin sedikit meringis kesakitan ketika tubuh Sivia menyentuh perutnya yang masih terluka. Tapi bagi Alvin rasa sakit itu belum seberapa. Alvin masih bisa menahan rasa sesakit apapun asalkan Si Jelek ini selalu ada disampingnya.
            “gue tadi takut banget tau nggak, Vin? Gue takut lo bakalan ninggalin gue, gue takut… hiks…”
            “kan tadi gue udah bilang gue akan baik-baik aja. Asal lo percaya sama gue, gue pasti akan selalu baik-baik aja, Vi…”
            Sivia mengangguk berkali-kali sambil menyeka air matanya. Alvin tersenyum kecil lantas mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dipuncak kepala Sivia.
            “gue sayang lo, Kunyuk, gue cinta sama lo, gue nggak mau kehilangan lo. Sampe kapanpun itu gue nggak mau kehilangan lo…”
            “gue juga, Lek… tapi seenggaknya sekarang, Si Cakka Nuraga itu nggak bakalan ngebunuh gue gara-gara elo yang kena tusuk sama preman busuk itu” Sivia tidak sedikitpun menggubris ucapan Alvin.
            Sivia melepaskan sejenak pelukannya dari Alvin. Untuk beberapa lama Alvin dan Sivia saling menatap satu sama lain sambil melemparkan senyuman. Beberapa detik kemudian, Sivia mendaratkan sebuah kecupan kilat tepat dibibir Alvin. Hanya sedetik saja, Siviapun kembali mendaratkan dirinya dalam pelukan Alvin.
            Ketika mendengar ada suara seseorang yang membuka pintu, Alvin dan Sivia langsung mengurai pelukan mereka. Secara bersamaan mereka melihat kearah pintu.
            Tampak seorang wanita cantik yang ternyata adalah Mama Alvin memasuki ruang perawatan Alvin dengan raut wajah yang tidak kalah cemasnya dari raut wajah Sivia tadi.
            “Alvin, kamu nggak apa-apa kan, sayang?” ujar Mama seraya mendekat kearah Alvin. Ketika Alvin dan Mamanya sudah berdekatan, Sivia langsung mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang yang lebih luas lagi untuk Mama Alvin.
            “Alvin nggak apa-apa kok, Ma….” Jawab Alvin dengan santai,
            “kok bisa ketusuk kayak gini sih? Haa…?”
            “ceritanya panjang Ma, kapan-kapan aja Alvin ceritain, yang pentingkan sekarang Alvin udah nggak apa-apa. Oya Ma, kenalin, ini pacar Alvin, namanya Via. Cewek yang selalu Alvin ceritain ke Mama…” ucap Alvin memperkenalkan Sivia pada Mamanya.
            Alvin mengulurkan tangannya dan memberikan kode pada Sivia untuk menyambut uluran tangannya. Siviapun menyambut uluran tangan Alvin lalu memberikan sebuah senyuman untuk Mama Alvin,
            “jadi ini dia ceweknya? Cantik, Vin, kamu pinter nyari cewek….” Pujian dari Mama Alvin itu sukses membuat Sivia tersipu malu.
            “dia jangan dibilang cantik Ma, nanti dia malah gede kepala lagi…”
            Sivia melirik sengit kearah Alvin. Tapi lirikan sengit itu malah dibalas senyuman oleh Alvin. Beberapa saat kemudian, Sivia menyalami tangan Mama Alvin lantas mencium punggung tangan Mama Alvin dengan sopan.
            “kenalin Tante, aku Sivia…”
            “Tante udah tau sayang, Alvin cerita banyak tentang kamu”
            “cerita apa aja Tante?”
            Belum sempat Mama menjawab pertanyaan Sivia, tangan Alvin sudah bergerak cepat menoyor kepala Sivia,
            “kepo lo!”
            “isshhhh…. Kunyuk!! Tante liat sendiri kan gimana nyebelinnya anak Tante yang satu ini?”
            Renata hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua orang aneh yang ada dihadapannya saat ini. Tiba-tiba saja Handphone Renata bergetar, ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Renata langsung pamit pada Sivia dan Alvin untuk mengangkat telfon.
            2 menit kemudian Renata kembali lagi,
            “dari siapa, Ma?” Tanya Alvin,
            “dari Pak Zacky, Pak Zacky minta Mama buat balik kekantor, ada rapat soalnya”
            “ya udah, Mama balik aja”
            “kalau Mama pergi siapa yang bakalan jagain kamu disini?”
            Alvin menarik pinggang Sivia hingga berdekatan dengannya,
            “kan ada PEMBANTU Alvin, Ma…” jawab Alvin seraya menunjuk kearah Sivia. Sivia hanya pasrah saja ketika Alvin memperlakukannya seperti itu didepan Mamanya.
            “ya udah kalo gitu. Oya, Vin, Mama telfonin Papa ya?”
            “nggak usah Ma, lagian Alvin juga nggak butuh Papa” ucap Alvin buru-buru,
            “tapi Vin, Papa kamu harus tau”
            “udahlah, Ma. Papa nggak perlu tau, toh sekarang juga Alvin udah nggak apa-apa kok” jawab Alvin keras kepala.
            Mama mendekat kearah Alvin lalu membelai rambut Alvin beberapa kali,
            “ya udah, Mama nggak akan telfon Papa”
            “makasih Ma….”
            “kalo gitu Mama pamit ya? Via, Tante titip Alvin ya? Kalo Alvin nakal jewer saja kupingnya” ujar Mama sedikit bergurau. Sivia hanya mengangguk sambil tersenyum.


^_^

            Jarum jam didinding ruang perawatan Alvin sudah menunjukan pukul 18.30. tapi hingga saat ini Sivia masih setia menunggu Alvin. Tadi Sivia sudah meminta Cakka untuk memberitahu Mamanya bahwa mungkin hari ini Sivia akan pulang telat. Cakka pun sudah pulang terlebih dahulu tanpa menunggu Sivia sekitar sejam yang lalu.
            Sivia duduk disofa seraya menatap Alvin yang saat itu tengah sibuk bermain game dengan menggunakan PSP nya. Sivia menatap Alvin dengan pandangan setengah jengkel.
            “Nyuk, hubungan lo sama Bokap lo nggak baek ya?” Tanya Sivia tiba-tiba. Pertanyaan dari Sivia itu kontan saja membuat Alvin kaget dan menghentikan permainan gamenya sejenak. Alvin menghela nafas panjang,
            “kok lo bisa nanya kayak gitu?” Tanya Alvin balik lalu melanjutkan permainannya yang sempat terhenti.
            “buktinya tadi waktu Nyokap lo mau nelpon Bokap lo dan ngasih tau kalo lo lagi dirawat, lo malah nggak mau”
            Kali ini Alvin melepaskan PSP nya. Sivia yang menyadari ada sebuah perubahan pada air muka Alvin buru-buru menarik pertanyaannya tadi. Sivia takut pertanyaannya itu salah dan malah membuat Alvin marah.
            “lupain pertanyaan gue tadi” ucap Sivia sambil menunduk dalam.
            “sini lo!” kata Alvin seraya mengulurkan tangannya untuk Sivia.
            Sivia mengangkat wajahnya. Ia terdiam sejenak,
            “sini nggak lo?” kata Alvin lebih keras lagi.
            Secara perlahan Sivia bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Alvin. Sivia menerima uluran tangan Alvin dan duduk disampingnya. Alvin melingkarkan lengannya pada leher Sivia. Sivia masih menunduk dalam,
            “mungkin sekarang udah saatnya lo tau tentang latar belakang gue. Dan lo musti tau, Vi, selama ini, gue nggak pernah sekalipun cerita tentang masalah pribadi gue kesiapapun, dan sekarang gue udah mutusin buat cerita semuanya keelo, dan itu artinya gue udah percaya sepenuhnya sama lo, lo ngerti?”
            Sivia mengangguk pelan.
            “jadi, 2 tahun yang lalu, Papa gue menggugat cerai Mama gue, hal itu bikin gue dan adek gue Acha sangat shock, apalagi waktu itu Mama gue cinta banget sama Papa gue. Berkali-kali Mama mohon sama Papa buat nggak dicerain, tapi Papa gue nggak mau, dia tetep pada pendiriannya. Akhirnya Mama mengalah, Mama berusaha menerima semuanya dengan ikhlas, sejak saat itulah gue benci sama Papa gue, Vi, gue nggak akan pernah mau maafin dia, nggak akan…”
            “Vin….”
            “dan yang lebih jahatnya lagi, sebulan setelah mereka resmi bercerai, Papa malah sudah punya Wanita lain yang akibatnya bikin Mama gue semakin terpuruk. Mungkin nggak ada satupun yang tahu, bahwa sampe saat ini Mama gue masih sangat mencintai Papa gue… Tapi dalam hati gue, gue sudah bertekad untuk merebut Papa gue kembali dari wanita itu, gue bersumpah Papa gue akan kembali lagi sama Mama gue. Gue mungkin jahat Vi, tapi gue juga ngelakuin semua ini demi Mama, Mama yang selama ini udah berkorban banyak buat gue, Mama yang udah mempertaruhkan nyawanya saat ngelahirin gue….”
            “gue ngerti perasaan lo, Vin, karna gue juga udah pernah ngerasa kehilangan seperti apa yang lo rasain. Gue sangat mengerti Alvin…”
            Beberapa saat kemudian, Alvinpun langsung memeluk erat tubuh Sivia. Dalam pelukan Sivia, Alvin merasa semua beban yang selama ini memberatkan setiap langkahnya terasa begitu ringan. Alvin tidak pernah tahu sejak kapan ia merasakan hal ini, tapi yang jelas, berada disamping Sivia membuat Alvin kuat menghadapi segalanya.

^_^

            Sivia tertidur pulas disamping Alvin dengan posisi duduk. Sivia melipat kedua tangannya ditepi ranjang Alvin sambil menenggelamkan wajahnya. Alvin membuka kedua matanya dan melihat Sivia yang saat itu tengah terlelap. Alvin mengangkat tangan kanannya lalu mendaratkannya tepat diatas kepala Sivia,
            “lo pasti capek banget ya hari ini, Vi? Maafin gue ya? Ini semua gara-gara gue” ujar Alvin pelan seraya membelai lembut rambut Sivia.
            Beberapa saat kemudian, Alvin teringat akan sesuatu. Ia meraih Handphone milik Sivia yang terletak diatas meja kecil yang berada tepat disamping tempat tidurnya. Alvin membuka handphone Sivia dan mencari nama seseorang pada contack listnya. Setelah menemukan nama ‘Cakka Nuraga’ Alvinpun mengetik sebuah pesan singkat untuk Cakka,


==========================

Your message To: Cakka Nuraga

Lo jemput Via sekarang juga
Dirumah sakit.

==========================


^_^

            “Kka, hari ini gue nggak kesekolah ya?” ucap Sivia pada Cakka sebelum ia meniki motor Cakka.
            “ya terus lo mau kemana?”
            “gue mau nemenin Alvin dirumah sakit, Kka. Kan kasian dia sendiri”
            “tapi, Vi masa lo mau bolos lagi? Ini udah 2 kali lo bolos, sekali lagi lo bolos lo bakalan dapet surat panggilan orang tua”
            “Kka, plissss…. Sekali ini aja! Gue janji setelah gue nggak akan bolos lagi, plisss Kka, ato bilaperlu lo bikinin gue surat keterangan sakit deh biar nggak alpa. Ya Kka? Plis bantuin gue, plis, plis, plisss…..” ucap Sivia benar-benar memohon dihadapan Cakka. Kali ini Sivia benar-benar berharap Cakka akan mau membantunya.
            Beberapa detik menunggu jawaban Cakka dengan perasaan yang tidak karuan, Cakkapun terdengar menghela nafas panjang lantas mengangguk dengan sangat terpaksa. Sivia tersenyum senang dan langsung menghambur kedalam pelukan Cakka,
            “hwaaa…. Cakka makasih yaa? Lo emang sahabat gue yang paling pengertian tau nggak?”
            “ya ya ya…. Tapi elo harus janji ini yang terakhir, karna setelah ini gue nggak akan mau ngebantuin lo lagi”
            “iya Kka, iya, gue janji….” Ucap Sivia dengan bersungguh-sungguh.


^_^

            “Kunyuuukkkkk!!!” Panggil Sivia sambil membuka pintu ruang perawatan Alvin.
            Alvin yang saat itu tengah membaca sebuah buku langsung mengangkat wajahnya dari buku lalu melihat kearah Sivia dengan pandangan tidak suka.
            “ngapain lo disini pagi-pagi?” Tanya Alvin yang seakan-akan tidak menerima kehadiran Sivia.
            Sivia mengerucutkan bibirnya lalu berjalan perlahan menghampiri Alvin,
            “gue kesini mau nemenin lo”
            “berarti lo nggak sekolah dong hari ini? Lo bolos??”
            “yaaaa… terpaksa” jawab Sivia dengan raut wajah sok lugu.
            Tanpa berkata apa-apa lagi pada Sivia, Alvin langsung saja melayangkan sebuah toyoran yang lumayan keras tepat pada kening Sivia. Sivia meringis pelan sambil mengusap keningnya beberapa kali,
            “awww… sakit Kunyuk!”
            “belagu banget lo pake nggak masuk sekolah segala? Udah ngerasa pinter lo? Haa….?”
            “iiihhh…. Lo itu kenapa sih, pacar dateng bukannya seneng malah marah-marah, aneh tau nggak?”
            “lebih aneh lagi itu lo…”
            “elo tuh yang aneh….”
            “pake nyahut lagi lo. Mau gue sumpel tuh mulut?”
            Sivia kembali memanyunkan bibirnya. Dasar Kunyuk tidak tahu terimakasih! Masih untung Sivia rela bolos sekolah Cuma demi menemaninya dirumah sakit, bukannya mengucapkan terimakasih malah marah-marah tidak jelas. Kalau tahu akan seperti jadinya, Sivia tadi pasti akan mengikuti ucapan Cakka untuk tidak bolos hari ini.
            “sebagai ganjarannya karna lo bolos hari ini, lo harus masak nasi goreng buat gue!”
            “WHAAATTTT……??” Kaget Sivia. Memangnya Sivia mau memasak dimana? Kan tidak lucu jika Sivia harus pulang hanya untuk memasak nasi goreng buat Kunyuk ini.
            “kenapa kaget? Lo nggak mau??”
            “bukannya gitu Nyuk, Cuma aja gue mau masak dimana? Bahan-bahannya juga harus nyari dimana? Masa iya gue harus pulang? Bisa-bisa gue digantung Mama gue kalo sampe dia tau gue bolos”
            “itu sih derita lo!” kata Alvin cuek.
            “gue beliin aja ya dirumah makan depan? Gue yang bayar deh” rayu Sivia berusaha merubah fikiran Alvin.
            Alvin menggeleng dengan mantap,
            “nggak bisa! Gue maunya nasi goreng buatan lo!! Ngerti?”
            “tapi, Vin…..”
            “SEKARANG….”
            “Vin….”
            “lima… empat, tiga, du—“
            “iya, iya…. Dasar lo ngerjain gue aja bisanya” kata Sivia pasrah.
            Sivia keluar dari ruang perawatan Alvin sambil membanting pintu dengan keras. Alvin sedikit kaget tapi merasa puas juga karna sudah berhasil mengerjai Si Jelek itu entah untuk yang keberapa kalinya.

            “mampus lo!!” gumam Alvin pelan.


^_^
            Sivia mondar mandir didepan gedung rumah sakit memikirkan dimana ia harus memasak nasi goreng untuk Alvin tanpa harus pulang kerumahnya. Setelah cukup lama befikir, Sivia tidak juga menemukan sebuah ide.
            Ketika secara tiba-tiba arah pandangan matanya tertuju pada sebuah Rumah Makan yang terletak tepat disebrang rumah sakit, Sivia seakan mendapat sebuah pencerahan. Sivia tersenyum licik lalu melangkah  dengan yakin kearah rumah makan itu.

^_^

            15 menit kemudian Sivia kembali keruang perawatan Alvin dengan membawa sepiring nasi goreng hangat khusus untuk Alvin.
            “Hay…. Kunyuukkkk!! Pacar lo yang super kece ini balik lagi dengan membawa sepiring nasi goreng special buat elo…” Ucap Sivia tanpa rasa berdosa sedikitpun.
            Sivia duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur Alvin sambil menyodorkan sepiring nasi goreng itu dihadapan Alvin. Alvin menatap sepiring nasi goreng itu dengan tatapan curiga. Sepertinya ada yang tidak beres. Fikir Alvin.
            “kok malah ditonton? Dimakan dong sayang…” ucap Sivia dengan nada sok manis. “atau…. Apa perlu gue supain? Sini gue suapin” lanjut Sivia sambil menyendokan sesendok nasi goreng itu untuk Alvin.
            Alvin menahan tangan Sivia yang hendak menyuapinya seraya menggeleng beberapa kali,
            “nggak,  gue nggak mau” tolak Alvin mentah-mentah,
            “lho, kenapa??”
            “lo fikir gue begok? Gue tau ini bukan nasi goreng buatan lo. Jadi jangan coba-coba buat nipu gue”
            Sivia langsung menunduk putus asa.
            “sekarang lo keluar lagi, dan masak nasi goreng buat gue”
            Hening untuk beberapa saat. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan…….
            “Hwaaaaa….. Mamaaaaaaa!! Alvin jahaaattttt…. Hiks… hikss….”
            Sivia menangis sejadi-jadinya dihadapan Alvin. Melihat Sivia yang menangis seperti anak kecil Alvin terlihat kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
            “Heh, jelek! Kenapa lo malah nangis??”
            “HIKS… HIKS… HIKS… LO JAHAT BANGET SAMA GUE?? Gue kan sekarang udah jadi pacar lo bukan jongos lo lagi, kenapa lo nggak berubah-berubah juga? Hik… hiks… hikss….” Isakkan Sivia semakin kuat terdengar dan membuat Alvin semakin kebingungan.
            “aduh… lo jangan nangis lagi kek! Jangan nangis nangis lagi yaa? Nanti gue beliin cokelat”
            Sivia langsung terdiam seketika. Ia menyeka air matanya lalu melirik kearah Alvin,

            “beneran yaa??”
            Alvin menghela nafas panjang dan dan memasang raut wajah bosan.

            “nih cewek udah umur berapa sih??” ujar Alvin dalam hati…




                        BERSAMBUNG….

Saturday, May 25, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 17 “The Tragedy”






                “Fy, nanti anterin gue ya kerumah Singgah…” ucap Sivia pada Ify saat mereka tangah makan bersama dikantin saat jam istirahat. Selain ada Ify disana juga ada Shilla dan Agni.
            “sorry Via, bukannya gue nggak mau nganterin lo, Cuma aja nanti pas pulang sekolah gue harus nemenin Nyokap kerumah Tante gue, ada arisan keluarga” kata Ify terus terang sambil tetap focus menyantap Mie Ayam pesanannya. Mendengar perkataan Ify, Sivia langsung cemberut. Masa Sivia harus pergi sendiri kerumah singgah? Kalau seperti itu kan kentara sekali kalau Sivia merindukan Kunyuk Songong itu, belum lagi semalam mereka sempat bertengkar.
            Kalau ingin jujur sebenernya Sivia sangat merindukan Alvin, tapi Sivia tidak ingin terlalu menunjukan itu dihadapan Alvin. Yang ada nanti Alvin malah semakin merasa berada diatas angin. Membayangkan senyuman licik Alvin saja Sivia sudah bergidik ngeri.
            “sama Shilla aja, Vi…! Lagian kan elo udah jadian ama Alvin, biarin lah Shilla tahu. Yaa… biarpun oneng kayak gini juga kan Shilla tetep sahabat kita…” ucap Ify datar tanpa ekspresi. Sivia langsung tersedak mendengarkan ucapan Ify.
            Agni yang saat itu duduk disamping Shilla langsung saja menepuk punggung Shilla berkali-kali seraya menyerahkan segelas air putih untuk Shilla. Shilla menerima air putih pemberian Agni lalu meminumnya buru-buru.
            “sialan lo Fy pake ngatain gue oneng segala, eh tapi tadi lo bilang Sivia udah punya pacar yak?” Tanya Shilla beberapa saat setelah ia mengambil nafas,
            “siapa Vi pacar lo?” kali ini Shilla mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
            “ya makanya, hari ini lo anter aja Sivia kerumah singgah, nanti pasti lo tahu siapa pacarnya Via” malah Ify yang menjawab pertanyaan Shilla tadi. Shilla melirik sengit kearah Ify,
            “gue nggak nanya lo!”
            “Via, elo punya pacar kok nggak ngomong-ngomong ke kita?” kali ini Agni yang bertanya,
            “takut dimintain Peje kali” timpal Shilla.
            “ngaco lo! Bukannya gue nggak mau ngasih tau, Cuma aja kan gue baru resmi jadian semalem sama Alvin….”
            “OOOOO… jadi namanya Alvin toh??” ujar Shilla dan Agni kompak.
            “terus Cakka mau lo kemanain??” Tanya Shilla spontan.
            Mendengar pertanyaan Shilla yang spontan itu, semuanyapun terkejut. Sementara Agni, ia tidak hanya terkejut, tapi ada rasa ngilu yang ia rasakan dihati kecilnya ketika Shilla melemparkan pertanyaan itu pada Sivia.
            “Shilllaaaaa! Gue jitakin juga lo lama-lama, isshhh….” Kesal Sivia hampir mencekik leher Shilla saking gemesnya, “kalian semua tau kan kalau Cakka itu sahabat gue, dan gue nggak mungkin ada apa-apa sama dia….” Lanjut Sivia.
            “iya nih Shilla. Gue heran, kenapa ya Iel mau pacaran sama cewek lemot kayak lo?” Ify mulai mencari gara-gara lagi. Shilla langsung menatap Ify tajam.
            “IFY….” Kata Shilla galak.

            ‘pantes aja semalem pas gue ketemu Cakka, dia keliatan galau banget, ternyata karna ini? Ternyata insting gue nggak salah, Cakka suka sama Sivia, bahkan lebih dari sekedar sahabat…’ batin Agni lantas menyedot minuman isotonic nya.


^_^


            Suasana kelas XI IPA 2 benar-benar sangat gaduh siang itu. Jam pelajaran terakhir yang seharusnya diisi oleh mata pelajaran matematika malah kosong gara-gara Guru yang piket hari itu harus mengikuti rapat Guru.
            Dibangku belakang paling pojok, Cakka dan Sivia terlihat tengah bergurau bersama. Sebenarnya Cakka dan Sivia duduk dideretan bangku paling depan, tapi saat tahu kalau jam pelajaran Matematika hari itu kosong, mereka berdua langsung pindah ke bangku paling pojok dan mengusir Daud yang merupakan penghuni asli bangku itu.
            “Kka, lo bener-bener nggak mau nih sama Agni?” Tanya Sivia tiba-tiba ditengah gurauan mereka. Mendengar pertanyaan Sivia, mendadak senyum yang sejak tadi mengembang diwajah Cakka langsung menghilang seketika.
            “kenapa sih sejak semalem lo terus bahas hal itu?” Tanya Cakka kesal,
            “gue Cuma mau lihat lo bahagia Cecak Nuragaaaa...”
            “Cakka Nuraga” ralat Cakka cepat,
            “iii… terserah lah, mau nama lo Cakka kek, Cecak kek, itu urusan lo, yang terpenting sekarang buat gue adalah…. Eeemmm…. Lo mau ya gue comblangin sama Agni? Mau ya? Mau ya? Mau ya? Plis plis plis….” Pinta Sivia dengan wajah memelas dihadapan Cakka.
            Cakka menghela nafas beberapa kali, tidak lama kemudian ia berkata pada Sivia,
            “beneran deh, Vi, sekali lagi bahas soal itu gue beneran marah. Lo mau sakit gara-gara gue juga gue nggak bakalan peduli” ucap Cakka tega.
            “yaahh…. Cakka, kok lo gitu sih sama gueeee??”
            “suka-suka gue, habisnya lo rese sih, nyebelin tau, dasar bawel!”
            “iiihhh…. Dasar Cecak-Cecak didinding diam-diam merayap..”
            “apaan deh, Vi… lo nggak lucu banget tauu?” ucap Cakka dengan ekspresi datar,
            “emang yang bilang kalo gue lagi ngelucu siapa? Gue nggak lagi ngelucu”
            “ketauan banget boong lo!”
            “Bodo!!”
            “ciyeee ngambek”
            “suka-suka gue” ujar Sivia menirukan ucapan Cakka tadi.
            Sivia bangkit dari bangkunya lalu keluar dari kelas begitu saja. Cakka yang menyadari bahwa Sivia marah padanya langsung berlari menyusul Sivia ke luar kelas.


^_^

            Saat pulang sekolah ternyata benar saja Shilla mengantar Sivia pergi kerumah singgah. Siang itu suasana rumah singgah Nampak sunyi senyap. Sivia agak heran ketika melihat suasana Rumah Singgah yang tidak seperti biasanya.
            Sivia dan Shilla jalan beriringan menyusuri pekarangan rumah singgah. Melihat pintu rumah singgah yang terbuka lebar Sivia dan Shilla langsung masuk kedalam.
            “sepia mat, Vi…?” Tanya Shilla heran.
            “ehem…. Dasar cewek nggak sopan!” tegur seseorang secara tiba-tiba dari belakang Sivia dan Shillla.
            Merasa sangat terkejut dengan suara itu, Sivia dan Shilla langsung berbalik badan secara bersamaan. Ternyata seseorang yang menegur mereka itu adalah Alvin. Alvin berdiri dipintu sambil memasang wajah cool dan dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Alvin juga masih mengenakan seragam sekolahnya.
            “ke… kenapa lo bilang gue nggak sopan?” Tanya Sivia yang mendadak gugup. Entahlah, Sivia juga heran kenapa diamasih saja suka gugup jika sudah berhadapan dengan Alvin, padahal kan Alvin sudah resmi jadi pacarnya.
            Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana seragamnya. Dengan ekspresi yang tetap dan tidak berubah sedikitpun Alvin berjalan perlahan memasuki rumah singgah.
            “ya… siapapun juga bakalan bilang lo nggak sopan kalo masuk rumah orang tanpa permisi…” Alvin duduk dengan santai disofa tanpa sedikitpun melihat kearah Sivia dan Shilla yang saat itu masih cengo memandanginya. Dalam hati Shilla memuji ketampanan Alvin.
            Apa? Alvin bilang apa tadi? Sivia masuk rumah orang? Apa Kunyuk itu sudah lupa kalau baru semalam mereka jadian? Benar-benar keterlaluan.
            “untung gue yang ngelihat lo, coba kalo orang laen yang lihat, udah diteriakin maling lo”
            Keterlaluan! Ucapan Alvin kali ini benar-benar keterlaluan. Sivia tidak bisa tinggal diam, ia harus memberi pelajaran pada cowok songong itu. Persetan Alvin pacarnya atau bukan, tapi yang jelas Sivia harus membalasnya.
            “mau ngapain lo kesini?” Tanya Alvin lagi dengan begitu menjengkelkannya. Sivia menghela nafas panjang. Sabar, Sivia harus sabar menghadapi Kunyuk ini. Nanti akan tiba waktunya Sivia membalas perlakuan cowok yang ‘katanya’ sudah resmi menjadi pacarnya itu.
            “mau nemuin anak-anak, gue kangen mereka” alibi Sivia,
            “aah… Via boong banget lu! Bukannya tadi lo bilang lo kesini buat nemuin Alvin yak? Elo kan kangen sama Alvin katanya” ucap Shilla dengan begitu polosnya. Kedua mata Sivia langsung membelalak lebar ketika mendengarkan penuturan Shilla yang kelewat jujur itu.
            Sementara Alvin, ia langsung terlihat semuringah ketika mendengarkan ucapan Shilla barusan. Alvin bangkit dari duduknya lalu menghampiri Shilla,
            “beneran Si Jelek ini kangen sama gue?” Tanya Alvin penuh semangat. Shilla langsung mengangguk beberapa kali.
            “nggak usah kegeeran lu, Nyuk! Orang gue kesini mau nemuin anak-anak juga” dengan muka begok Sivia masih saja berusaha memberi alasan. Alvin menatap Sivia dengan tatapan nakal. Alvin seolah-olah ingin menggoda Sivia sampai terlihat bodoh dihadapannya.
            “Shill, awas lu! Gue bunuh lo ntar!” ancam Sivia sok sadis.
            Tiba-tiba Alvin mengalihkan perhatiannya dari Sivia. Alvin mengulurkan tangannaya dihadapan Shilla lantas memperkenalkan dirinya,
            “kenalin gue Alvin, cowok terkeren sedunia yang suka rela jadi pacarnya si Jelek ini” ucap Alvin asal seraya menyenggol lengan Sivia. Shilla hanya terkekeh geli ketika mendengarkan ucapan Alvin. Jika tidak ingat bahwa disana ada Sivia yang tengah menatapnya dengan tatapan pembunuh mungkin sudah sejak tadi Sivia menerkam Shilla hidup-hidup.
            “gue Shilla” ujar Shilla sambil menyambut uluran tangan Alvin.
            Mendadak handphone Shilla bergetar. Ia menerima sebuah SMS dari seseorang. Beberapa saat setelah membaca SMS itu, Shilla langsung pamit pada Alvin dan Sivia,
            “eh, Vi, gue pulang duluan yaa? Mama gue sms nih, Mama nyuruh gue buat nemenin Shoping”
            “lha, terus gue gimana?”
            “udah, ntar lo minta Alvin aja yang anterin, sorry, Vi, gue buru-buru. Vin, gue pamit yaa?” Alvin hanya mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
            Shillapun berjalan keluar dengan buru-buru. Ketika Sivia akan menyusul Shilla, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya.
            “heh, mau kemana lo?”
            “gue mau pulang!”
            “siapa yang ijinin lo pulang??”
            “Alvin lepas nggak?” pinta Sivia sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Alvin dari pergelangan tangannya. Alvin menggeleng pelan,
            “kata Shilla tadi lo kangen sama gue. Emangnya, lo nggak mau ngelepas kangen apa sama PACAR LO INI” Ucap Alvin dengan nada menggoda seraya memberikan penekanan pada kata ‘Pacar lo’. Sivia bergidik dan terus mencoba melepaskan diri dari cengkraman Alvin.
            “idih, kepedean lu! Males banget gue kangen sama Kunyuk rese, nyebelin, songong, angkuh dan nggak romantis kayak lu”
            Alvin tersenyum jahil dan semakin mempererat cengkramannya pada Gadis Malang itu.
            “jadi menurut lo, gue nggak romantis?”
            “pake nanya lagi lo! NGGAK, LO NGGAK ROMANTIS SAMA SEKALI DAN NGGAK ADA ROMANTIS-ROMANTISNYA….”
            Alvin tertawa kecil,
            “jadi lo mau gue romantis?” Tanya Alvin dengan nada menggoda seraya menatap kedua mata Sivia dalam.
            “ma… maksud lo?” Sivia mulai ketakutan.
            Dalam satu sentakan kuat, Alvin menyandarkan tubuh Sivia didinding. Jantung Sivia seperti meloncat-loncat dan seolah ingin keluar dari tempatnya. Alvin mengangkat tangan kananya lalu menghempaskan telapak tangannya pada dinding –tepat disamping Sivia-
            Sivia merasakan kedua telapak tangannya mulai berair. Saat tangan kiri Alvin menyentuh pipinya, Sivia langsung memejamkan matanya dan menggigit bagian bawah bibirnya.
            “hey, buka mata lo!” ucap Alvin yang mendadak lembut. Posisi mereka masih tetap sama, belum berubah sama sekali. Posisi Alvin kali ini benar-benar mengunci pergerakan Sivia.
            Secara perlahan Sivia membuka kedua matanya, dan senyuman maut Alvin langsung menyambutnya ketika itu. Pesona Alvin saat ini benar-benar kuat membuat Sivia takluk. Nyali Sivia langsung menciut seketika.
            “gue paling seneng ngeliat lo kalo lagi takut kayak gini” kata Alvin dengan nada pelan. tepat saat Sivia akan membalas ucapannya, Alvin buru-buru meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir mungil Sivia,
            “sttt…. Lo jangan ngomong apa-apa” ujar Alvin seraya menggeleng beberapa kali. Sivia meremas kuat-kuat rok nya untuk meredam rasa gugup yang kini menderanya.
            Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia yang mulai terlihat sedikit pucat. Tangan kiri Alvin bergerak perlahan lantas meraih tangan Sivia. Alvin menggenggamnya dengan sangat erat. Ketika wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Sivia, Alvinpun memiringkan posisi wajahnya. Perlahan Sivia merasakan sebuah rasa nyaman, ia pun memejamkan kedua matanya. Desauan  nafas Alvin semakin hangat ia rasakan menerpa wajahnya.
            Dan tepat ketika bibir Alvin nyaris menyentuh bibir mungilnya tiba-tiba saja….
            “Kak Alvin kita pulaaaanggg…..” ucap Rafli dan kawan-kawan yang tiba-tiba saja memasuki rumah singgah.
            Alvin dan Sivia yang merasa terkejut langsung menjauhkan posisi mereka masing-masing. Alvin dan Sivia sama-sama terlihat salah tingkah.
            “eh… kalian udah pulang?” ucap Alvin yang berusaha keras menyembunyikan kesalah tingkahannya.
            “Ya ampun ada Kak Via juga ternyata…?? Kita semua kangen tau sama Kak Via, kenapa nggak pernah kesini Kak?” Tanya Novi,
            “hehe… i..iya, kakak juga kangen sama kalian….”
            Sivia melirik sejenak kearah Alvin yang saat itu ternyata juga sedang menatapnya seraya tersenyum kecil.


^_^

            “potong sayurnya yang bener kali, Neng! Itu masih salah” protes Alvin ketika melihat Sivia memotong sayur. Sebenarnya cara Sivia sudah benar, tapi Si Kunyuk ini saja yang sengaja cari perkara.
            “cara pemotongan sayur yang salah bisa mempengaruhi rasa tau ngga??” tambah Alvin lagi.
            Sivia yang kelamaan merasa kesal, akhirnya berdecak, ia menghela nafasnya dengan tidak sabar lalu melihat kearah Alvin yang waktu itu dengan santainya tengah asyik menyantap Apel Merah. Sivia menatap Alvin dengan tatapan pemubunuh, ia mengangkat pisau yang ada ditangannya tepat dihadapan Alvin,
            “lo liat apa yang gue pegang ini?”
            “pisau” jawab Alvin santai,
            “dan lo bisa bayangin apa yang bakalan terjadi kalo sampe ini piso gue lempar ke muka lo?”
            “ooo… jadi lo ngancem gue nih? Pengen perang lagi sama gue??”
            “ya habisnya elo yang rese sih. Emangnya lo lupa apa kalo sekarang ini gue itu pacar lo dan bukan jongos lo lagi….”
            “pede banget lo! Emang gue nya mau nganggep lo pacar?”
            “ohhh… jadi gue nggak dianggep pacar nih??”
            Alvin mengangguk pasti dengan  raut tanpa dosanya yang semakin membuat Sivia gondok. Sivia menghela nafas beberapa kali, ia melepaskan pisau yang ada ditangannya begitu saja lalu meninggalkan dapur tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun pada Alvin.
            Saat Sivia akan keluar dari pintu dapur, tiba-tiba saja Alvin memanggilnya,
            “Heh Jelek!!”
            “apaan lagi??” Tanya Sivia kesal sambil berbalik badan.
            Alvin merogoh kantong jeansnya lalu melemparkan uang kertas senilai 10 ribu kearah Sivia,
            “apaan nih?” Tanya Sivia seraya mengambil uang yang terjatuh dilantai itu.
            “itu ongkos buat pulang!” jawab Alvin datar.
            Sumpah demi apapun itu, rasanya Sivia ingin sekali mengirim Alvin ke Neraka saat itu juga. Dengan membawa uang senilai 10 ribu itu, Sivia akhirnya benar-benar keluar dari dapur tanpa sedikitpun menoleh kearah Alvin.

^_^

            Sivia pergi dari rumah singgah dengan suasana hati yang benar-benar panas. Belum reda rasa kekesalan Sivia pada Alvin, dijalan raya kekesalannya malah semakin bertambah karena tidak ada satupun angkutan umum yang lewat. Bagaimana Sivia harus pulang? Ini semua gara-gara Shilla, kalau saja tadi Shilla tidak meninggalkannya dengan seenaknya mungkin Sivia tidak perlu sesusah ini untuk mencari angkutan umum.
            Sivia melanjutkan perjalanannya, jarak rumah Singgah pun semakin lama semakin jauh. Ketika melihat sebuah halte, Sivia pun langsung ke halte itu dan memilih untuk menunggu bus disana.
            Menit demi menit berlalu, tapi belum ada satupun tanda-tanda kedatangan sebuah Bus yang bisa membawa Sivia pulang kerumahnya. Sivia melipat kedua tangannya didada, ia menghentakkan kedua kakinya dilantai halte secara bergantian. Sesekali Sivia terdengar berdecak kesal.
            Ditengah-tengah kekesalannya yang semakin memuncak itu, fikiran Sivia masih sempat-sempatnya tertuju pada Kunyuk itu.
            “Kunyuk…. Lo itu pacar gue apa bukan sih?? Gue ngambek bukannya dikejer malah dibiarin gitu aja….” Ucap Sivia tanpa sadar. Tidak berselang lama setelah Sivia berkata seperti itu, tiba-tiba saja ia tersadar, ia buru-buru menutup mulutnya lalu segera meralat perkataannya tadi,
            “idiihhh… buat apa juga gue ngarep dikejer sama Kunyuk itu? Inget, Via, dia itu jahat! Sekalipun dia pacar lo, tapi dia tetep aja jahat sama lo. Jangan fikirin dia lagi, okey?”
            “Waahh… ada cewek cantik lagi sendirian nih” ucap seorang Preman yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Sivia. Preman itu berjumlah dua orang.
            Mereka berdua berjalan menghampiri Sivia dengan pandangan mata yang benar-benar membuat Sivia bergidik ngeri. Saat ini kedua preman itu sudah berdiri disisi kiri dan kanan Sivia.
            “mau apa kalian?” Tanya Sivia yang mulai ketakutan.
            “galak banget Neng, nyante aja!” kata salah satu dari preman itu sambil memegang pundak Sivia. Sivia langsung menepis tangan preman itu dengan kasar dari pundaknya,
            “widihhh…. Ternyata ini cewek bener-bener galak yaa?” ucap Preman yang satunya lagi.
            “sikat aja!”
            “heh, jangan-jangan macem lo! Kalo kalian berani nyentuh gue sedikiiittt aja, gue bakalan tereak sekenceng-kencengnya”
            “teriak aja! Memangnya Neng Cantik nggak liat kalo disini sepi” ucap Preman itu sambil mencolek dagu Sivia,
            “jangan colek-colek”
            Kedua preman itu saling memandang untuk beberapa saat, tidak lama kemudian mereka saling mengangguk satu sama lain lalu menarik lengan Sivia dari sisi kiri dan kanan. Merekapun membawa Sivia pergi dari halte itu.
            “Heh…. Kalian mau bawa gue kemana?? Lepasin gueeeee….” Jerit Sivia dengan tangisan yang nyaris pecah.
            Tapi percuma, karena kedua preman itu tidak sedikitpun mengindahkan jeritannya.
            “ALVIIIIIIINNNNNN!!!” Teriak Sivia spontan dengan linangan air mata yang menetes pelan membasahi pipi mulusnya.
            “ALVINNNNN…. TOLONGIN GUE, GUE TAKUUUTTTTTTT!!!” Teriak Sivia lebih kencang lagi. Mendengar Sivia berteriak seperti itu, kedua preman itu malah tertawa.

            “BUKKK…..” Secara mengejutkan tiba-tiba saja salah satu dari preman yang membawa Sivia jatuh tersungkur hingga tergeletak ditanah.
            “Lepasin cewek gue ato kalo nggak lo berdua bakalan mati sekarang juga!!” ucap Alvin dengan wajah yang benar-benar murka. Dalam hati Sivia langsung bersyukur ketika Alvin datang untuk menyelamatkannya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi, Preman yang tadi Alvin pukuli hingga terjatuh ketanah langsung bangkit. Ia berjalan cepat menghampiri Alvin lalu melayangkan sebuah pukulan yang lumayan keras tepat diwajah Alvin. Saat itu juga Sivia kembali berteriak ketakutan,
            “ALVIIINNNNNN…..”
            Dengan sigap Alvin membalas pukulan preman itu secara membabi buta. Alvin tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada preman itu untuk membalas. Merasa temannya sedang dalam keadaan terancam, Preman yang satunya lagi mengeluarkan pisau lipat dari kantongnya lalu menodongkan pisau itu tepat dileher Sivia,
            “Berhenti pukul temen gue ato kalo nggak cewek lo yang akan mati duluan” ucapnya dengan bersungguh-sungguh seraya menempelkan pisau itu pada leher Sivia.
            Sivia memejamkan kedua matanya kuat-kuat, benarkah hidupnya akan berakhir hari ini juga?
            Alvin mulai terlihat luluh. Jemari tangannya yang sejak tadi menggenggam kuat penuh amarah mendadak melemas. Jika Sivia sampai terluka sedikiittttt saja Alvin bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya. Sejak awal, sejak Alvin menjatuhkan pilihan hatinya pada Si Jelek itu, hati kecilnya tidak pernah berbohong, Alvin sangat mencintai Sivia. Dan Alvin tidak akan pernah membiarkan Sivia terluka meskipun itu hanya sedikit.
            Hening untuk beberapa saat. Dalam keadaan yang serba genting itu Alvin buru-buru berfikir bagaimana caranya melepaskan Sivia dari cengkraman Preman itu. Alvin menunggu untuk beberapa saat, dan ketika Preman yang memegangi Sivia itu terlihat lengah, Alvin buru-buru menarik Sivia. Tapi Sial, ketika Alvin nyaris berhasil menarik Sivia, Preman itu langsung mengangkat pisaunya dan telah siap-siap menghunuskannya pada punggung Sivia.
            Menyadari itu, Alvin langsung bergerak cepat, ia mendorong tubuh Sivia hingga terjatuh ketanah. Semuanya terjadi begitu cepat, pisau lipat itu menghunus perut Alvin hingga mengeluarkan banyak darah. Preman itu menarik kembali pisau lipat dari perut Alvin.
            Secara perlahan Alvin jatuh bersimpuh dihadapan preman itu. Sivia langsung berteriak histeris,
            “ALVIINNNNNNNNN!!!”
            “Begok, kenapa lu tusuk dia??” Tanya Preman yang satunya lagi dengan penuh emosi,
            “gue nggak sengaja!!”
            “ya udah, sekarang cepet kita pergi!!”
            Tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua preman itu langsung melarikan diri.
            Sivia yang masih sangat shock merangkak menghampiri Alvin yang saat itu sudah bersimbah darah.
            “Vin….” Panggil Sivia dengan linangan air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipi chubby nya.
            Sivia mengangkat sedikit punggung Alvin yang ketika itu sudah tergeletak ditanah, Siviapun menopang kepala Alvin dengan lengannya.
            “kenapa lo lakuin ini, Vin, kenapaa??”
            “elo nggak apa-apa kan?” Tanya Alvin dengan sisa-sisa tenaga yang coba ia kumpulkan sekuat ia mampu. Sivia menggeleng beberapa kali,
            “begok! Kenapa lo malah tanyain keadaan gue?”
            “ma… maafin gu.. gue yaa? Ta… tadi gue Cuma becanda…”
            “kalo sampe terjadi apa-apa sama lo, gue nggak akan maafin lo, gue benci sama lo, Kunyuk, gue benciiii…”
            Alvin menggeleng pelan,
            “enggak… nggak akan terjadi apa-apa sama gue. Gu.. gue akan ba… ik-baik a…ja… gu… gue ja.. janji…”
            “Kunyuk… kita baru sehari jadian, tapi kenapa sekarang lo malah kayak gini? Kenapa??”
            Tangan lemah Alvin terangkat secara perlahan lalu mendarat tepat dipipi sebelah kiri Sivia, Alvin tersenyum,
            “gue… ci… cinta sama lo Je… lek…” itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan dalam dekapan hangat Sivia.
            Sivia memeluk erat-erat tubuh Alvin lantas berteriak sekeras-kerasnya….

            “ALVIIINNNNNNNNN……. JANGAN TINGGALIN GUEEEEE…….”




                                    BERSAMBUNG….