Wednesday, May 1, 2013

0

MISTER KODOK VS MISS BEBEK Part18




            Alvin mendekati Sivia yang waktu itu terduduk dilantai, Sivia mencoba berdiri diatas kedua kakinya, namun sayang tak bisa, dan karna hal itu Sivia menangis sejadi-jadinya, Alvin berusaha membantu Sivia berdiri, namun Sivia malah bersikeras ingin berdiri sendiri,
            “Via, kamu apa-apaan sih? Ayo bangun, kembali ketempat tidur kamu..” Sivia menepis kedua tangan Alvin dari pundaknya,
            “kamu ga’ usah kasian sama aku Vin, aku bisa berdiri sendiri, aku bisa, hik..hik..” ujar Sivia disertai dengan suara isakkannya. Alvin benar-benar tak tahan melihat kondisi Sivia saat ini. Sivia kembali berusaha untuk bangun namun tetap saja ia tak bisa. Alvin yang sudah tak sanggup melihat Sivia pun mengangkat tubuh Sivia dan merebahkannya diatas kasur, Sivia semakin histeris, ia sampai tak bisa mengendalikan dirinya. Ia memberontak dari pegangan Alvin,
            “Via, kamu jangan kaya’ gini dong Vi..” ucap Alvin dengan tangisan yang coba ia tahan,
            “ga’ gimana Vin? Sekarang aku cacat, aku udah ga’ berguna lagi, aku mau mati Vin, aku mati saja..” lirih Sivia putus asa, Alvinpun memeluk erat tubuh Sivia,
            “aku sayang sama kamu, apapun dan gimanapun keadaan kamu saat ini ga’ akan ngubah persaan aku kekamu..”
            “tapi Vin, hik..hik..aku, akuu…”
            “huss..aku ga’ mau denger kamu ngomong lagi, aku ga’ mau dengerin kata-kata yang terkesan putus asa keluar dari mulut kamu, aku ga’ mau….” Alvin semakin mengeratkan pelukannya pada Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dipuncak kepala Sivia, saat itulah, Sivia merasa semua beban yang membelenggunya telah menghilang secara perlahan, Sivia membalas pelukan Alvin,
            “maafin aku!” lirih Sivia pelan, Alvin mengangguk seraya memejamkan kedua matanya.

^_^
            Besoknya Sivia sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Meski keadaannya sudah dinyatakan baik-baik saja, namun Sivia masih harus duduk dikursi roda dan setiap 2 kali dalam seminggu Sivia harus melakukan chemotherapy supaya ia bisa berjalan lagi seperti biasanya.
            Saat tiba diruamhnya, Alvin langsung membawa Sivia berkeliling disekitar komplek perumahan. Sivia duduk dikursi roda, sementara Alvin mendorong kursi roda Sivia secara perlahan. Dihadapan Sivia, Alvin berusaha sekuat tenaga menyembunyikan segala kesedihannya, ia tak ingin Sivia tau, bahwa sebenarnya ia begitu terpukul dan tertekan dengan kondisi Sivia saat ini.
            Tibalah mereka disebuah taman, Alvin berhenti mendorong kursi roda Sivia, setelah itu Alvin beranjak dari belakang kursi roda, ia berlutut dihadapan Sivia yang waktu itu tengah duduk diatas kursi roda, Alvin meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya erat,
            “aku seneng ngeliat Miss Bebek aku udah ada kemajuan..”
            “tapi aku tetep Miss Bebek kamu yang lumpuh Vin..” ucap Sivia dengan suara bergetar, Alvin tersenyum lantas memeluk Sivia,
            “dan aku Si Mister Kodok akan selalu ada disamping kamu, sampe kamu sembuh…” Sivia melepaskan pelukannya dari Alvin, ia memegang kedua pipi Alvin menggunakan tangannya,
            “tapi gimana kalo aku ga’ bisa sembuh Vin..? gimana kalo Dokter memvonis aku bahwa selamanya aku akan duduk dikursi roda, gimana Vin? Kamu pasti bakal ninggalin aku kan? Iya kan..?” Alvin menoyor pelan kepala Sivia lantas berkata,
            “dasar bodoh! Aku mana mungkin ninggalin kamu, ga’ akan..” Sivia tersenyum dan kembali memeluk Alvin,
            “makasih Vin, aku cintaaa banget sama kamu, jangan tinggalin aku yaa..?”
            “ga’ akan..”

            Alvin meminta pada Sivia untuk memejamkan matanya, diawal Sivia sempat menolak, tapi setelah Alvin memaksanya berkali-kali akhirnya Sivia mengalah, ia memejamkan matanya dan beberapa kali berusaha untuk mengintip apa yang dilakukan Alvin,
            “awas kalo ngintip!” Sivia mengangguk berkali-kali lantas berkata,
            “CERWEEETT…!!” kesal Sivia yang sudah mulai tak sabar, Alvin hanya tersenyum, ia menatap Sivia yang waktu itu tengah memejamkan mata, ‘cantik’ fikir Alvin dengan wajah sedikit tersipu, tak lama Alvin menatapnya, Sivia pun berkata,
            “Kodookk.. lama amat sih..?” protes Sivia dengan wajah cemberut, tapi itu justru membuatnya semakin terlihat cantik. Alvin menggenggam erat tangan Sivia lantas mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Semakin lama wajah mereka semakin dekat saja dan nyaris bersentuhan, Alvin sedikit memiringkan wajahnya, sementara Sivia ia merasakan desauan nafas Alvin yang lembut  mulai menghangatkan tengkuknya. Saat Alvin akan menyentuhkan bibirnya pada bibir Sivia, tiba-tiba saja ia terkesiap lantas menggelengkan kepalanya, Alvinpun membatalkan niatnya, ia akhirnya kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Sivia, ia mengeluarkan setangkai bunga mawar merah dan meminta Sivia membuka matanya,
            “buka mata kamu!” Sivia pun membuka matanya secara perlahan, dan saat melihat Alvin menjulurkan setangkai mawar merah, Sivia terharu, ia menutup mulutnya lalu dengan tangan gemetar menerima mawar itu, Sivia tertawa, air matanya menetes perlahan,
            “makasih Vin..” Sivia menunduk lalu memeluk Alvin erat, Sivia mengusap punggung Alvin dengan lembut,
            “aku bahagia Vin, bahagiaaa banget…” Alvin hanya diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun, yang terlihat hanyalah Alvin meneteskan air mata, entah karna apa, yang jelas Alvin juga bahagia karna ia bisa membuat Sivia bahagia.
^_^

            Saat hari telah senja, Alvin membawa Sivia pulang kerumahnya. Saat tiba dirumah, Sivia malah sudah tertidur dengan lelap diatas kursi rodanya. Tanpa disuruh oleh kedua orang tua Sivia, Alvin membawa Sivia kekamarnya yang sudah dipindah kelantai bawah. Kedaan Sivia saat ini tidak memungkinkannya untuk tetap tinggal dikamarnya yang lama yang terletak dilantai 2.
            Alvin mengangkat tubuh Sivia lalu merebahkannya secara perlahan diatas kasur. Alvin memasangkan Sivia sebuah selimut supaya Sivia tak merasakan kedinginan. Setelah semuanya selesai, Alvin duduk ditepi ranjang Sivia. Ia menatap wajah Sivia yang tengah terlelap dengan begitu lamanya dan begitu sedihnya. Alvin tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa Sivia yang selalu sehat dan energic akan mejadi lumpuh seperti saat ini, dan itu karna kelicikkan Zevana.
            Alvin membelai lembut rambut Sivia beberapa kali lalu mencium tangan Sivia yang ada digenggamannya,
            “aku janji, kamu akan sembuh kembali Vi, ini janji aku sama kamu…” Alvinpun mendaratkan sebuah ciuman tepat dikening Sivia, setelah cukup lama, Alvinpun melepaskan ciumannya lalu meninggalkan Sivia sendiri didalam kamarnya.

^_^

            Pagi harinya Alvin berusaha keras untuk memaksa Sivia kesekolah, sebenarnya Sivia sempat menolak tapi karna Alvin terus memaksanya, akhirnya dengan terpaksa Sivia mau kembali kesekolah lagi. Saat akan berangkat kesekolah, Bu Winda sempat ragu melepaskan kepergian Sivia, menyadari keraguan dari Bu Winda, Alvinpun berkata pada Bu Winda,
            “Alvin janji Tan, akan jagain Via baik-baik..!”
            “ya udah Tante percaya sama kamu, tapi Sivia pasti akan banyak nyusahin kamu disekolah entar..” Alvin tersenyum,
            “Tante, Via inikan tunangan aku, jadi ga’ masalah dong kalo dia nyusahin aku..” Bu Winda tersenyum, kini ia sudah mempercayakan Sivia sepenuhnya pada Alvin.

            Alvin dan Sivia berangkat kesekolah dengan diantar oleh supir keluarga Alvin. Saat didalam perjalanan, Alvin dan Sivia sempat beberapa kali saling mencuri-curi pandang, Sivia menggandeng lengan Alvin dengan kuat, ia seolah tak ingin terlepas dari Alvin. Menyadari Sivia terus menatapnya tanpa henti, Alvinpun tersenyum ia menoleh kearah Sivia lalu mendorong pelan kepala Sivia dan mendaratkannya tepat dipundaknya. Alvin merangkul Sivia lalu mengusap-usap lengannya beberapa kali, Siviapun melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alvin,
            “kamu kenapa ngeliat aku terus dari tadi? Terpesona karna kegantengan aku..?” Tanya Alvin pede lantas mengecup kepala Sivia,
            “kamu selalu bikin aku terpesona!” Sivia memejamkan matanya lantas mengeratkan pelukannya pada Alvin.

^_^

            Tibalah Alvin dan Sivia disekolah. Alvin mendorong pelan kursi roda Sivia menuju gedung sekolah. Saat melewati halaman depan sekolah, Alvin dan Sivia menjadi perhatian semua orang, Sivia sempat minder, maka sepanjang perjalanan, Sivia hanya menunduk dalam. Setelah tiba didepan anak tangga Alvin berhneti mendorong kursi roda Sivia, ia mulai memutar otak bagaimana cara membawa Sivia kekelas mereka yang ada dilantai 2.
            “harusnya aku ga’ sekolah Vin, aku ga’ bisa jalan, terus gimana cara aku masuk kekelas kita yang ada dilantai 2, kursi roda ini enggak membantu banyak..” eluh Sivia, Alvin masih diam berfikir,
            “sebaiknya aku pulang aja Vin…” Alvin tak sedikitpun menghiraukan ucapan Sivia. Saat Alvin tengah berfikir keras, tiba-tiba saja Rio dating,
            “Hay Vin,Hay Vi..” sapa Rio hangat, saat melihat Rio, Alvinpun tersenyum, ia seperti telah menemukan sebuah ide. Alvin mengangkat Sivia dari kursi rodanya lalu menggendongnya,
            “Vin, kamu apa-apaan?” Tanya Sivia heran, Alvinpun berkata pada Rio,
            “eh,Yo, minta tolong kursi roda Sivia lo lipat, terus bawa keatas, gue mau gendong dia kekelas..” mendengar ucapan Alvin, Sivia sempat terkejut, namun ia juga terharu. Rio pun mengacungkan jempolnya lalu melipat kursi roda Sivia.
            Dengan mantap, Alvin mulai melangkahkan kakinya dianak tangga,
            “kamu yakin Vin, mau gendong aku?” Tanya Sivia ragu, Alvin mengangguk pasti seraya tersenyum. Sepanjang perjalanan Alvin menaiki anak tangga Sivia terus saja menatapnya, tak lama air mata Sivia malah menetes karna perasaan terharunya pada Alvin.
            Sekitar 3 menit kemudian, tibalah Alvin, Sivia dan Rio dilantai 2. Dengan segera Rio membuka lipatan kursi roda Sivia, Alvin kembali mendudukan Sivia dikursi rodanya secara perlahan.
            “sudah sampai!” ucap Alvin dengan nada yang ceria namun dengan suasana hati yang hancur,
            “makasih Vin..”
            “sama-sama Miss Bebekkuuu…” ucap Alvin gemes seraya menarik hidung Sivia.


^_^

            Saat jam pulang sekolah, Sivia menunggu Alvin dengan sabar dikursi penonton ketika Alvin tengah berlatih basket dengan timnya. Hari ini Alvin terlihat kurang sehat, namun ia kekeuh pada pendiriannya bahwa hari ini ia baik-baik saja. Alvin kurang sehat karna ia kurang tidur dan itu karna akhir-akhiran ini ia sering menjaga Sivia hingga larut malam bahkan hingga pagi.
            “Vin, latihannya kamu hentikan aja!” ucap Sivia cemas saat Alvin tengah mengambil minum. Setelah meneguk minumannya, Alvin menatap Sivia seraya tersenyum,
            “aku ga’ apa-apa, lagian latihannya sebentar lagi, kamu sabar ya..”
            “tapi kamu pucet banget Vin..” sekali lagi Alvin tersenyum,
            “aku ga’ apa-apa, percaya sama aku! Ya udah, aku latihan dulu ya? Kamu baik-baik disini..” sebelum beranjak dari kursi penonton, Alvin mencium puncak kepala Sivia.
            “semangat ya!” ujar Sivia,
            “pasti!”
            Alvinpun kembali ketengah lapangan, dan Sivia kembali menyaksikannya yang waktu itu tengah berlatih. Setelah sekitar 10 menit kemudian, Alvin semakin terlihat pucat, berkali-kali Cakka memintanya untuk menghentikan latihannya, tapi Alvin tetap bersikeras, Sivia semakin cemas akan kondisi Alvin.
            Dan hal yang mengejutkanpun akhirnya terjadi, secara tiba-tiba Alvin pingsan ditengah lapangan, semua menghentikan permainannya dan menghampiri Alvin yang waktu itu sudah tergeletak ditengah lapangan.
            Sivia yang begitu cemas akan keadaan Alvin berusaha untuk bangun dari kursi rodanya meskipun ia tahu bahwa Ia tak bisa berjalan, Sivia terus mencoba,
            “Alvin..Alviiinn..” panggil Sivia dengan suara terisak sambil terus berusaha bangkit dari kursi rodanya,
            “kaki bodoh! Ayo bergerak, plisss..” ucap Sivia sambil memukul-mukuli kakinya berkali-kali. Alvin telah dibawa keluar lapangan oleh beberapa kawan-kawannya, Sivia terus berusaha untuk bangkit, hingga akhirnya ia terjatuh dari kursi rodanya. Tanpa Sivia sadari, ia bangkit dari jatuhnya lalu berdiri dengan tegak, Siviapun berlari mengejar Alvin yang waktu itu tengah dibawa ke UKS. Tanpa ada yang menduga sebuah keajaiban telah terjadi…



                        BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment