Wednesday, May 15, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 14 "Semuanya Pun Jadi Kacau"





Gue nggak pernah tau seberapa besar rasa sayang gue keelo sampe hari ini lo ngebentak gue dan bikin hati gue terasa sakit banget. Hari ini, lebih tepatnya saat lo ngebantak gue, gue jadi mengerti bahwa ternyata gue sangat mencintai lo…. Apa gue harus ngelupain lo? Please katakan, gue harus gimana dengan hati ini…??

**
 

            Beberapa saat setelah kepergian Sivia, tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada semua yang menyaksikan pertengkarannya dengan Sivia barusan, Alvin langsung berjalan dan memasuki ruangan yang selama seminggu lalu menjadi kamar Sivia.
            Bukan keinginan Alvin untuk membentak Sivia seperti tadi. Jika ingin jujur, sebenarnya Alvin juga sangat merindukan Si Jelek itu, hanya saja rasa gengsinya yang benar-benar kuat saat ini tidak mampu melawan segalanya.
            Enggan mengakui segala rasa aneh yang mulai merayapi hati kecilnya belakangan ini, Alvin lebih memilih untuk mengabaikan dan menepikan segala rasa itu. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Alvin merasakan perasaan aneh yang menggebu-gebu saat ia bersama dengan seorang  Gadis. Dan sial nya untuk Alvin, Gadis yang telah berhasil menimbulkan rasa aneh itu dihatinya adalah Si Jelek itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sivia.
            Alvin menghelakan nafas panjangnya lantas duduk ditepi ranjang Sivia. Alvin melihat kesekeliling kamar itu, tak ada satupun yang menarik. Dan memang tidak pernah ada yang menarik bagi Alvin sejak ia melihat  Sivia dan Cakka begitu mesra di Dufan  tempo hari.
            Alvin tahu betul bahwa mereka berdua adalah Sahabat Karib, tapi entah kenapa hati kecil Alvin seakan tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia cemburu.
            Tiba-tiba arah mata  Alvin tertuju pada sebuah Buku Gambar yang terletak diatas bantal. Alvin berfikir buku gambar itu pasti milik Sivia. Dan seperti mendapat sebuah dorongan entah dari mana itu, tahu-tahu tangan Alvin meraih buku gambar itu tanpa perlu berfikir panjang lagi.
            Alvin menatap sejenak buku gambar  bersampul Angry Bird itu. Tangan Alvinpun mulai bergerak membuka lembar pertama buku gambar itu. Alvin sedikit tercengang ketika melihat sketsa wajahnya dilembar pertama . Itu adalah gambaran Sivia.
            Sivia menggambar sketsa wajah Alvin dengan raut marah serta dua buah tanduk yang mencuat diatas kepalanya, juga dengan dua buah taring diantara deretan giginya. Disamping sketsa wajah Alvin itu terdapat sebuah tulisan berbunyi: “INI KUNYUK KALO LAGI MARAH. JELEK KAN??”
            Alvin menghela nafas panjang. Belum mengeluarkan reaksi apapun. Seminggu mengenal Sivia, Alvin sudah cukup tahu bagaimana sifat Sivia yang selalu saja kurang kerjaan. Alvin memilih untuk tidak heran dengan itu.

Lembar kedua :
Terdapat sketsa wajah Alvin yang sedang tersenyum senang dengan disertai sebuah tulisan berbunyi: “KUNYUK SOK IMUT”

Lembar ketiga :
Alvin mendapati sketsa wajahnya yang tengah tersenyum licik dengan salah satu alis terangkat. Tulisannya berbunyi: “INI EKSPRESI YANG PALING GUE BENCI”

            Alvin terus membuka lembar demi lembar hingga mencapai lembar ke-7. Tapi hingga mencapai lembar ke-7 reaksi Alvin masih tetap sama. Dan ia juga masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Sekarang Alvin tahu, bahwa ternyata Sivia jauuuuhhh lebih kurang kerjaan dari apa yang terfikirkan olehnya selama ini.
            Sebuah tulisan Sivia dilembar terakhir kali ini membuat Alvin mau tidak mau harus mengubah reaksinya. Ekspresi wajah Alvin yang semula datar-datar saja kini berubah menjadi ekspresi kaget yang benar-benar super.

            “COULD IT BE LOVE??”
            Itulah sebuah kalimat yang Sivia tulis dilembar terakhir buku gambar miliknya. Dan… Alvin merasa sama sekali tidak paham dengan tulisan itu.

^_^

            Setibanya dirumah, Sivia langsung berlari memasuki kamarnya dengan linangan air mata yang sudah tidak kuasa ia tahan lagi. Mama dan Marsha yang saat itu melihat Sivia pulang sambil menangispun merasa heran. Padahal tadi saat pamit dan meminjam mobil milik Mama, Sivia terlihat begitu bersemangat, tapi sekarang? Ada apa dengan anak itu? Fikir Mama.
            Sivia memasuki kamarnya tanpa menutup pintu. Siviapun langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Sebisa mungkin Sivia berusaha untuk tidak menangis, untuk tidak mengeluarkan suara isakkannya sedikitpun, namun Sivia tidak bisa. Air matanya malah semakin deras yang menetes keluar, dan isakkan itu mulai samar-samar terdengar.
            Alvin benar-benar sudah melukai perasaannya.
            “hiks… gue benci sama lo, Alvin. Gue nggak mau liat muka lo lagi, gue benci sama lo, gue benciiiiiiii…..!!!” ucap Sivia seraya memukul-mukul bantalnya.
            Sivia meremas kuat-kuat bantalnya untuk meredam tangisannya dan Sivia juga menggigit kuat-kuat bagian bawah bibirnya supaya tidak terisak.
            “please Sivia, lo jangan tangisin cowok itu. Lo jangan cengeng Sivia.. jangan!!” Sivia berusaha menguatkan dirinya, tapi tetap tidak bisa.
            “Via, kamu kenapa sayang?” Tanya Mama yang tiba-tiba saja memasuki kamar Sivia. Mama berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk ditepi ranjang Sivia.
            Mama membelai lembut rambut Sivia dan mengulang pertanyaannya tadi.
            “Via kenapa??”
            “Via nggak mau jatuh cinta lagi, Ma… Nggak mau! Dia jahat sama Via…”
            “dia siapa?” Tanya Mama heran –lagi-
            Kali ini Sivia tidak menjawab pertanyaan Mamanya. Isakkannya malah semakin kuat terdengar dan membuat Mama nya semakin cemas. Selama ini Sivia memang tidak pernah bercerita apapun tentang cowok yang sedang ia taksir. Dan sekarang, saat tahu bahwa anak sulungnya ini sudah bisa jatuh cinta, Sivia malah menangis sejadi-jadinya. Mama bingung harus berbuat apa supaya Sivia tidak menangis lagi.
            “Mama panggilin Cakka aja ya?” usul Mama pada Akhirnya.
            Mendengar Mama membawa-bawa nama Cakka, Sivia langsung bangkit dan duduk dihadapan Mamanya.
            “pliss Ma, jangan panggil Cakka, jangan kasi tau Cakka juga kalo Via udah nangis, plisss Ma, plissss….”
            “iya, ok, Mama nggak akan ngasih tau Cakka, tapi kamu jangan nangis lagi ya?”
            “iya Ma, Via janji nggak akan nangis lagi, tapi pliss jangan bilang apa-apa ke Cakka”
            Mama hanya mengangguk beberapa kali menyetujui permintaan Sivia.
            “memangnya kamu ada masalah apa sih, Vi…?” Tanya Mama penasaran.

            Sivia menghela nafas panjangnya lalu memulai semua ceritanya…


^_^

            Hari ini Sivia berubah aneh dan membuat Cakka heran. Sejak menjemput Sivia pagi tadi dirumahnya, Sivia tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Cakka. Kedua mata Sivia yang terlihat sedikit membengkak membuat Cakka semakin heran. Hari ini Sivia tidak sama dengan Sivia seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini juga, Cakka tidak menemukan Sivia yang ceria seperti biasanya.
            Cakka berusaha menahan dirinya untuk tidak menanyakan masalah yang sedang Sivia hadapi saat ini. Cakka mengerti, jika sedang seperti ini Sivia butuh waktu untuk sendiri. Dan jika merasa sudah siap dan tenang, Sivia akan bercerita sendiri pada Cakka.
            Ketika jam mata pelajaran Matematika tengah berlangsung, Sivia malah terlihat melamun sambil menopang dagunya. Dan Sivia sama sekali tidak bisa menangkap sedikitpun materi yang disampaikan oleh Pak Bambang yang super galak itu.
            Fikiran Sivia saat ini hanya tertuju pada Alvin. Dalam hatinya Sivia tidak henti-henti bertanya, sebenarnya kesalahan apa yang sudah Sivia lakukan hingga Alvin membentaknya seperti kemarin?
            Saat ini Sivia benar-benar merasa bodoh karna perasaan yang ia rasakan terhadap Alvin, dan Sivia benar-benar merasa dipermainkan oleh hatinya sendiri. Jika bisa, Sivia ingin membuang semua perasaan cintanya yang baru tumbuh ini. Sivia juga tidak ingin nantinya perasaan nya pada Alvin ini semakin berkembang dan membuat hatinya semakin sakit karna Alvin tidak membalas perasaannya.
 Sivia tahu, semuanya tidak segampang seperti apa yang dia inginkan. Sivia butuh waktu untuk mematikan segala rasanya dan Sivia tahu pasti bahwa semuanya akan sulit. Tapi Sivia harus melakukannya.
            Kenapa? Kenapa Sivia harus menjatuhkan hatinya pada seseorang yang tidak mungkin menangkapnya? Sivia menyesali diri.
            Menyadari bahwa salah satu muridnya tidak memperhatikan penjelasannya, Pak Bambang menghela nafas kesal. Tanpa ampun Pak Bambang melempar spidol yang ada ditangannya kearah Sivia. Lemparan Pak Bambang tepat mengenai kening Sivia. Semua yang ada dikelas itu terutama Cakka langsung terkejut.
            “awww….” Ringis Sivia sambil mengusap keningnya beberapa kali.
            “Sivia Azizah, jadi dari tadi kamu tidak mendengarkan penjelasan saya?” Tanya Pak Bambang dingin. Bahkan beberapa dari murid kelas XI IPA 2 langsung merinding ketika mendengarkan pertanyaan dari Pak Bambang itu.
            Sivia menunduk dalam.
            “Ma… maaf Pak” ujar Sivia pelan penuh penyesalan. Harusnya Sivia jangan konyol membuat masalah dengan Mr.Killer ini.
            “apa kamu sudah merasa pintar sehingga tidak perlu mendengarkan penjelasan saya?”
            “ti… tidak, Pak!” jawab Sivia yang benar-benar sudah gugup setengah mati.
            “sekarang kamu maju kedepan. Bawa spidol itu dan kerjakan soal nomer 3 dipapan tulis!”
            Sivia kaget lalu buru-buru melirik ke papan tulis. Sivia memperhatikan soal nomer 3 sebaik mungkin. Dalam hati Sivia langsung merutuki diri. Sivia sama sekali tidak mengerti dengan soal nomer 3 itu. Sivia pasrah, dengan setengah hati Sivia maju kedepan dan telah siap menerima resiko apapun yang nantinya akan Pak Bambang limpahkan padanya.

^_^

            “eh, elo pada tau nggak? Kalo hari ini Tim Basket BinSa sama Tim Basket sekolah kita bakalan ngelakuin sparing terakhir disini?” ucap Shilla dengan antusias pada Sivia dan Ify. Saat mereka tengah berkumpul dikantin saat jam istirahat tiba.
            Sivia diam dan tidak sedikitpun merespons ucapan Shilla barusan. Sivia rasa semuanya percuma saja. Dengan Alvin melakukan sparing disekolahnya toh dia tetap tidak akan bisa bertemu dengan Alvin, sekalipun bertemu mungkin Alvin tidak akan pernah menganggapnya ada. Sivia menghela nafasnya yang terdengar berat lantas meneguk Jus Jeruk pesannya.
            “ya terus kenapa kalo anak-anak BinSa Sparing disini?” Tanya Ify cuek.
            “Alyssa, lo tau kan kalo anak-anak Basket BinSa itu keren-keren semua, jadi kita bisa cuci mata deh…”
            “keren dari mana? Kerenan juga anak-anak Basket sekolah kita, lagian kan elo udah punya Gabriel, Shill. Terus kenapa lo masiiihhh aja genit sama cowok lain…??” ucap Ify yang mendadak sewot. Shilla menghela nafas panjang lalu menoyor pelan kepala Ify.
            “Shilla, elo kenapa sih maen toyor-toyor aja?”
            “elo sih, ngomongnya sembarangan banget… gini-gini gue tetep setia tau sama Gabriel”
            “setia? Emangnya elo yakin kalo Si Gabriel juga setia sama lo?”
            “IFYYYYY……”
            “Berisik tau nggak kalian berdua!!” pekik Sivia seraya bangkit dari tempat duduknya. Shilla dan Ify menatap Sivia dengan pandangan bertanya lalu beberapa saat kemudian, Shilla dan Ify saling memandang. ‘Nih anak kenapa?’ mungkin itulah kalimat yang tersirat dari pandangan mereka.
            Tanpa menunggu reaksi Ify dan Shilla lebih jauh lagi, Sivia akhirnya memilih untuk meninggalkan kantin. Sivia sudah malas mendengarkan ocehan dari kedua sahabatnya itu. Mendengarkan ocehan mereka malah membuat fikiran Sivia semakin ruwet.

^_^

            Sivia berjalan kearah lapangan Basket. Ia berniat hendak menemui Cakka yang saat itu sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk pertandingan persahabatan yang akan diselenggarakan lusa. Sivia fikir sudah saatnya ia berhenti mendiamkan Cakka.
            Dan Sivia juga berfikir untuk berhenti memikirkan Kunyuk satu itu. Memikirkan Alvin terus menerus seperti ini malah membuat semuanya kacau. Sivia jadi cuek pada semua orang termasuk Cakka, dan bahkan Sivia yang biasanya focus dipelajaran matematika hari ini malah mendapatkan teguran keras dari Pak Bambang karna ia sudah lancang mengabaikan penjelasan Pak Bambang didalam kelas.
            Setibanya dilapangan Basket, Sivia melihat Cakka yang saat itu sedang duduk bersama Agni ditepi lapangan basket. Kedua orang itu terlihat begitu serius membicarakan sesuatu. Mungkin mereka sedang membicarakan soal Basket. Cakka dan Agni kan memang pecinta basket. Sivia tersenyum ketika melihat Cakka dan Agni yang sudah mulai terlihat akrab. Entah kenapa Sivia merasa bahwa ada banyak kecocokan diantara Cakka dan Agni. Sivia pun mulai berfikir untuk menyatukan mereka.
            Sivia melangkah besar-besar mendekati Cakka dan Agni. Sivia mengagetkan mereka berdua lantas duduk ditengah-tengah antara Cakka dan Agni. Sivia merangkul kedua orang itu sambil tersenyum nakal.
            “ciyeee…. Yang lagi berdua, serius banget kayaknya….”
            “apaan sih?” Tanya Cakka keki seraya melepaskan rangkulan Sivia dari pundaknya.
            “biasa aja kali, Vi. Ini si Cakka lagi sharing ke gue tentang pertandingan lusa” ucap Agni apa adanya. Sivia mengangguk beberapa kali.
            “lagian elo kenapa sih, Vi? Hari ini aneh banget perasaan. Tadi pagi lo cuek banget sama semua orang, terus elo juga jadi pendiem hari ini. Ada apa sih?” Tanya Cakka yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Sivia menggeleng beberapa kali sambil tersenyum. Sivia sudah memutuskan untuk tidak menceritakan masalahnya pada Cakka. Sivia takut Cakka akan cemas dan malah marah-marah lagi pada Alvin.
            “nggak ada apa-apa kok, Kka. Hari ini gue emang lagi males ngomong aja” alibi Sivia sambil berusaha terlihat setenang mungkin. Sivia tidak ingin Cakka mencurigainya.
            Beberapa saat kemudian mata Sivia tertuju pada Alvin dan kawan-kawannya yang waktu itu sudah tiba disekolahnya pada jam istirahat. Alvin dan kawan-kawannya berjalan kearah lapangan Basket. Dan yang menohok dada Sivia hingga membuat dadanya sesak adalah, Alvin berjalan bersama Pricilla yang saat itu mengenakan kostum Cheers SMA BinSa. Alvin berjalan sambil merangkul pundak Pricilla dengan mesranya. Mereka tertawa bersama, sesekali Pricilla tampak tersipu malu ketika Alvin menatapnya.
            semua pemandangan itu seolah menekan jantung Sivia dari segala arah dan menimbulkan sesak yang semakin menjadi. Tubuh Sivia mendadak kaku manakala langkah Alvin semakin mendekati posisinya sekarang. Dan yang lebih menyesakkan lagi bagi Sivia, Alvin tidak sedikitpun melihat kearahnya. Tidak sama sekali.
            Sivia berusaha mengedalikan dirinya sekuat ia mampu. Ia tidak ingin menangis dihadapan Cakka, tidak dihadapan Agni, tidak dihadapan Alvin dan Pricilla, juga tidak dihadapan semuanya. Sivia harus kuat. Dan Sivia percaya ia kuat.
            Cakka yang juga melihat Alvin berjalan bersama Pricilla dengan begitu mesranya kini mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Cakka menduga Sivia berubah aneh hari ini pasti karna Alvin. Perlahan air muka Cakka berubah. Ia menggenggam kuat jemari tangannya lalu menoleh kearah Sivia yang saat itu masih betah memandangi Alvin dan Pricilla juga kawan-kawannya yang saat ini sudah mengambil posisi dibangku yang terdapat disebrang lapangan basket.
            “jadi karna dia, Vi…?” Tanya Cakka tak sabar. Sivia tidak menjawab pertanyaan Cakka. Dan bahkan mungkin, Sivia tidak sedikitpun mendengar pertanyaan itu.
            Merasa tidak terima dengan perlakuan Alvin terhadap sahabatnya, Cakkapun bangkit dari duduknya, dan ketika Cakka hendak menghampiri Alvin untuk melampiaskan emosinya, Sivia langsung mencekal pergelangan tangannya.
            “nggak usah, Kka…”
            “tapi Vi, dia—“
            “dia nggak salah!” sergah Sivia cepat. “gue yang salah, dia Cuma nggak tau apa-apa tentang perasaan gue. Dia nggak salah” lanjut Sivia dengan nada suara sedikit bergetar.
            Agni yang tidak tahu apa-apa dengan permasalahan yang sedang terjadi hanya bisa melongo heran melihat kedua orang yang ada dihadapannya ini.
            Sivia berdiri lalu berlari. Tidak ingin semakin sakit hati melihat Alvin dan Pricilla, Sivia akhirnya lebih memilih untuk hengkang dari sana. Tapi sialnya bagi Sivia adalah, untuk mencapai kelasnya ia harus melewati tempat dimana Alvin dan kawan-kawannya berada saat ini. Sivia berusaha memberanikan dirinya. Dan Sivia bersumpah demi apapun itu, jika nanti ia melewati Alvin dan kawan-kawannya, Sivia tidak akan menoleh sedikitpun kearah Alvin. Meskipun sebenarnya hati kecilnya ingin, tapi Sivia harus bisa melawan. Sivia tidak ingin lagi terlihat bodoh didepan Kunyuk itu. Setetes air mata Sivia akhirnya menetes, Sivia menunduk lalu menyeka air matanya seraya terus berlari.
            “Via….!” Panggilan dari Ray itu langsung saja membuat Sivia mau tidak mau suka tidak suka harus menghentikan larinya. Sivia menghela nafas panjang, ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu dalam satu gerakan cepat, Sivia langsung mengangkat wajahnya dan menatap Ray dengan sebuah senyuman.
            “iya?” jawab Sivia pelan.
            “elo mau kemana? Sini gabung bareng kita? Ada pacar lo juga kan disini” ujar Ray seraya menyenggol lengan Alvin. Mendengar perkataan Ray barusan Pricilla merasa sangat terganggu. Pricilla sama sekali tidak suka dengan perkataan Ray yang menurutnya sangat tidak lucu itu.
            Alvin menatap Sivia penuh harap. Mungkin.Beberapa saat kemudian Siviapun menggeleng cepat. Andai Alvin bisa sedikit saja peka dengan semuanya.
            “nggak deh, Ray. Gue masih ada urusan, gue—“
            “lo ngapain sih manggil dia segala, Ray? Asal lo tau ya? Dia itu bukan cewek gue, emang sejak kapan gue bilang dia cewek gue?” sela Alvin dengan sinis. Pricillapun tersenyum puas.
            Jleb! ucapan Alvin barusan seakan menusuk jantung Sivia. Mata Sivia kembali ingin merembeskan air mata, tapi Sivia harus kuat. Sivia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Alvin.
            “gue salah apa sih sama lo, Vin? Kenapa mendadak lo kayak gini ke gue?” kata Sivia yang pada akhirnya sudah tidak sanggup mengontrol dirinya lagi. Bahkan Sivia sendiri tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Hatinya sudah terlanjur sakit oleh Pria menyebalkan ini.
            “gue pernah bilang kalo gue benci sama lo. Tapi ternyata gue salah, Vin, karna pada kenyataannya GUE SANGAT-SANGAT BENCI SAMA LO…” ucap Sivia dengan memberikan penekanan pada beberapa kalimat.
            Mendengar pengakuan Sivia, kedua rahang Alvinpun mengeras. Ia menggenggam kuat jemari tangannya lalu berdiri,
            “gue nyesel kenal sama lo, GUE NYESEL…” Air mata yang sejak tadi berusaha keras Sivia tahan akhirnya menetes juga.
            Dan tidak ada yang lebih menyakitkan lagi Alvin saat melihat Si Jelek itu meneteskan air mata karenanya, karena kemunafikannya. Alvin mulai merasakan perasaan tidak enak. Amarahnya secara perlahan mulai menurun. Emosinya seakan surut, dan hatinya yang keras seakan luluh lantak saat melihat kedua mata indah itu meneteskan air mata.
            Sivia benar-benar sudah  merasa tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Dunia seakan hilang baginya saat ini. Dan ketika Sivia sudah tidak memiliki daya lagi untuk bertahan, secara tiba-tiba ia merasakan ada sebuah lengan kokoh yang merangkul erat pundaknya. Sivia menoleh kesamping dan mendapati Cakka yang langsung menyambutnya dengan sebuah senyuman.
            Sivia menatap Cakka dengan pandangan memohon. Saat ini Sivia benar-benar berharap bahwa tidak akan terjadi pertengkaran sekecil apapun diantara Alvin dan Cakka.
            Sekali lagi Cakka memberikan sebuah senyuman yang begitu tenang untuk Sivia. Cakka menatap kedua mata Sivia seteduh mungkin. Dan beberapa saat kemudian, Cakka langsung mengalihkan tatapannya pada Alvin.
            “gue kasih lo kesempatan satu kali lagi, Alvin. Kalo lo sia-siain kesempatan ini, maka nggak akan ada lagi kesempatan kedua buat lo! Dan gue nggak akan pernah ngasih lo celah sedikitpun untuk menyentuh Sivia, nggak sedikitpun, nggak sedetikpun” ucap Cakka dengan tegas lalu membawa Sivia pergi dari hadapan Alvin.
            Alvin diam mematung memikirkan perkataan Cakka barusan. Seperti yang Alvin duga sebelum-sebelumnya, ternyata Cakka sangat cerdas. Bahkan Cakka bisa membaca isi hatinya yang ia sendiri bahkan sama sekali tidak bisa lakukan.


^_^

            Sivia merenung dibalkon kamarnya seraya menatap jutaan bintang-bintang yang bertebaran diatas langit luas. Ingatan Sivia kembali terseret pada kejadian saat jam istirahat tadi. Sivia tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa Alvin, cowok yang sangat dia benci itu dan yang sama sekali tidak pernah ia inginkan kehadirannya dalam kehidupannya sukses membuatnya jatuh cinta hanya dalam waktu beberapa hari saja.
            Bukan hanya membuatnya jatuh cinta hanya dalam beberapa hari saja, tapi Alvin juga sukses meremukkan jantungnya hanya dalam beberapa detik saja dengan perkataannya yang menyakitkan hati itu.
            Sivia menatap Handphone pemberian Alvin yang sejak tadi ada dalam genggaman tangannya. Sebenarnya jika ia ingin, Sivia bisa saja mengembalikan Handphone itu pada pemiliknya. Tapi entah kenapa Sivia merasa berat sekali jika harus melepaskan barang yang satu itu. Bukan karna Handphone itu adalah Handphone satu-satunya yang ia miliki, tapi… entahlah, Sivia juga bingung bagaimana cara mendiskripsikan segala rasa yang ia rasakan saat ini. Yang Sivia tau hanyalah, Si Kunyuk itu telah melukai perasaannya.
            Arah mata Sivia tiba-tiba saja tertuju keatas langit. Dan ketika melihat sebuah Bintang Jatuh, Sivia buru-buru memejamkan matanya dan buru-buru membuat sebuah permohonan.
            “Tuhan… jika Engkau menghendaki, maka bantulah aku untuk melupakan dia… hilangkan semua rasa cinta ini jika dia tidak pernah untukku…”
            Setelah membuat sebuah permohonan, Sivia pun membuka kedua matanya lantas meninggalkan balkon kamarnya.
            Beberapa saat setelah Sivia meninggalkan balkon kamarnya, secara tiba-tiba Alvin muncul dari balik sebuah pohon yang terletak tepat tak jauh dari depan rumah Sivia. Alvin menatap hampa keatas balkon kamar Sivia yang saat itu sudah tidak berpenghuni lagi. Alvin tersenyum miris. Tanpa ada yang tahu, kemunafikan itu secara perlahan mulai terkikis dalam diri Alvin.
            “maafin gue, Vi… maaf…” lirih Alvin pelan seraya terus menatap hampa ke atas balkon kamar Sivia. Sekali lagi Alvin tersenyum. Lantas secara perlahan Alvin berjalan dan meninggalkan rumah Sivia dengan sejuta perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dalam rangkaian kata-kata.

            Seseorang yang sejak tadi mengawasi Alvin dari jendela rumahnya langsung tersenyum. Meskipun hatinya menangis saat ini, tapi ia tahu bahwa semuanya akan selalu berjalan baik-baik saja. Mereka saling mencintai, dan sejak awal dia memang sudah bisa melihat semuanya.
            “Bukankah Bintang harus tetap berpijar menyinari malamnya…??” Batin Cakka dalam keheningan malam….

                                    BERSAMBUNG…


0 comments:

Post a Comment