Gue
nggak pernah tau seberapa besar rasa sayang gue keelo sampe hari ini lo
ngebentak gue dan bikin hati gue terasa sakit banget. Hari ini, lebih tepatnya
saat lo ngebantak gue, gue jadi mengerti bahwa ternyata gue sangat mencintai lo….
Apa gue harus ngelupain lo? Please katakan, gue harus gimana dengan hati ini…??
**
Beberapa saat setelah kepergian
Sivia, tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada semua yang menyaksikan
pertengkarannya dengan Sivia barusan, Alvin langsung berjalan dan memasuki
ruangan yang selama seminggu lalu menjadi kamar Sivia.
Bukan keinginan Alvin untuk
membentak Sivia seperti tadi. Jika ingin jujur, sebenarnya Alvin juga sangat
merindukan Si Jelek itu, hanya saja rasa gengsinya yang benar-benar kuat saat
ini tidak mampu melawan segalanya.
Enggan mengakui segala rasa aneh
yang mulai merayapi hati kecilnya belakangan ini, Alvin lebih memilih untuk
mengabaikan dan menepikan segala rasa itu. Seumur hidupnya, ini baru pertama
kalinya Alvin merasakan perasaan aneh yang menggebu-gebu saat ia bersama dengan
seorang Gadis. Dan sial nya untuk Alvin,
Gadis yang telah berhasil menimbulkan rasa aneh itu dihatinya adalah Si Jelek
itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sivia.
Alvin menghelakan nafas panjangnya
lantas duduk ditepi ranjang Sivia. Alvin melihat kesekeliling kamar itu, tak
ada satupun yang menarik. Dan memang tidak pernah ada yang menarik bagi Alvin
sejak ia melihat Sivia dan Cakka begitu
mesra di Dufan tempo hari.
Alvin tahu betul bahwa mereka berdua
adalah Sahabat Karib, tapi entah kenapa hati kecil Alvin seakan tidak bisa
menerima kenyataan itu. Ia cemburu.
Tiba-tiba arah mata Alvin tertuju pada sebuah Buku Gambar yang
terletak diatas bantal. Alvin berfikir buku gambar itu pasti milik Sivia. Dan
seperti mendapat sebuah dorongan entah dari mana itu, tahu-tahu tangan Alvin
meraih buku gambar itu tanpa perlu berfikir panjang lagi.
Alvin menatap sejenak buku
gambar bersampul Angry Bird itu. Tangan
Alvinpun mulai bergerak membuka lembar pertama buku gambar itu. Alvin sedikit
tercengang ketika melihat sketsa wajahnya dilembar pertama . Itu adalah
gambaran Sivia.
Sivia menggambar sketsa wajah Alvin
dengan raut marah serta dua buah tanduk yang mencuat diatas kepalanya, juga dengan
dua buah taring diantara deretan giginya. Disamping sketsa wajah Alvin itu
terdapat sebuah tulisan berbunyi: “INI KUNYUK KALO LAGI MARAH. JELEK KAN??”
Alvin menghela nafas panjang. Belum
mengeluarkan reaksi apapun. Seminggu mengenal Sivia, Alvin sudah cukup tahu
bagaimana sifat Sivia yang selalu saja kurang kerjaan. Alvin memilih untuk
tidak heran dengan itu.
Lembar kedua
:
Terdapat
sketsa wajah Alvin yang sedang tersenyum senang dengan disertai sebuah tulisan
berbunyi: “KUNYUK SOK IMUT”
Lembar
ketiga :
Alvin
mendapati sketsa wajahnya yang tengah tersenyum licik dengan salah satu alis
terangkat. Tulisannya berbunyi: “INI EKSPRESI YANG PALING GUE BENCI”
Alvin terus membuka lembar demi
lembar hingga mencapai lembar ke-7. Tapi hingga mencapai lembar ke-7 reaksi
Alvin masih tetap sama. Dan ia juga masih belum mengeluarkan sepatah katapun.
Sekarang Alvin tahu, bahwa ternyata Sivia jauuuuhhh lebih kurang kerjaan dari
apa yang terfikirkan olehnya selama ini.
Sebuah tulisan Sivia dilembar
terakhir kali ini membuat Alvin mau tidak mau harus mengubah reaksinya.
Ekspresi wajah Alvin yang semula datar-datar saja kini berubah menjadi ekspresi
kaget yang benar-benar super.
“COULD IT BE LOVE??”
Itulah sebuah kalimat yang Sivia
tulis dilembar terakhir buku gambar miliknya. Dan… Alvin merasa sama sekali
tidak paham dengan tulisan itu.
^_^
Setibanya dirumah, Sivia langsung
berlari memasuki kamarnya dengan linangan air mata yang sudah tidak kuasa ia
tahan lagi. Mama dan Marsha yang saat itu melihat Sivia pulang sambil
menangispun merasa heran. Padahal tadi saat pamit dan meminjam mobil milik Mama,
Sivia terlihat begitu bersemangat, tapi sekarang? Ada apa dengan anak itu?
Fikir Mama.
Sivia memasuki kamarnya tanpa
menutup pintu. Siviapun langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Sebisa
mungkin Sivia berusaha untuk tidak menangis, untuk tidak mengeluarkan suara
isakkannya sedikitpun, namun Sivia tidak bisa. Air matanya malah semakin deras
yang menetes keluar, dan isakkan itu mulai samar-samar terdengar.
Alvin benar-benar sudah melukai
perasaannya.
“hiks… gue benci sama lo, Alvin. Gue
nggak mau liat muka lo lagi, gue benci sama lo, gue benciiiiiiii…..!!!” ucap
Sivia seraya memukul-mukul bantalnya.
Sivia meremas kuat-kuat bantalnya
untuk meredam tangisannya dan Sivia juga menggigit kuat-kuat bagian bawah
bibirnya supaya tidak terisak.
“please Sivia, lo jangan tangisin
cowok itu. Lo jangan cengeng Sivia.. jangan!!” Sivia berusaha menguatkan
dirinya, tapi tetap tidak bisa.
“Via, kamu kenapa sayang?” Tanya
Mama yang tiba-tiba saja memasuki kamar Sivia. Mama berjalan mendekati tempat
tidur lalu duduk ditepi ranjang Sivia.
Mama membelai lembut rambut Sivia
dan mengulang pertanyaannya tadi.
“Via kenapa??”
“Via nggak mau jatuh cinta lagi, Ma…
Nggak mau! Dia jahat sama Via…”
“dia siapa?” Tanya Mama heran –lagi-
Kali ini Sivia tidak menjawab pertanyaan
Mamanya. Isakkannya malah semakin kuat terdengar dan membuat Mama nya semakin
cemas. Selama ini Sivia memang tidak pernah bercerita apapun tentang cowok yang
sedang ia taksir. Dan sekarang, saat tahu bahwa anak sulungnya ini sudah bisa
jatuh cinta, Sivia malah menangis sejadi-jadinya. Mama bingung harus berbuat
apa supaya Sivia tidak menangis lagi.
“Mama panggilin Cakka aja ya?” usul
Mama pada Akhirnya.
Mendengar Mama membawa-bawa nama
Cakka, Sivia langsung bangkit dan duduk dihadapan Mamanya.
“pliss Ma, jangan panggil Cakka,
jangan kasi tau Cakka juga kalo Via udah nangis, plisss Ma, plissss….”
“iya, ok, Mama nggak akan ngasih tau
Cakka, tapi kamu jangan nangis lagi ya?”
“iya Ma, Via janji nggak akan nangis
lagi, tapi pliss jangan bilang apa-apa ke Cakka”
Mama hanya mengangguk beberapa kali
menyetujui permintaan Sivia.
“memangnya kamu ada masalah apa sih,
Vi…?” Tanya Mama penasaran.
Sivia menghela nafas panjangnya lalu
memulai semua ceritanya…
^_^
Hari ini Sivia berubah aneh dan
membuat Cakka heran. Sejak menjemput Sivia pagi tadi dirumahnya, Sivia tidak
mengeluarkan sepatah katapun pada Cakka. Kedua mata Sivia yang terlihat sedikit
membengkak membuat Cakka semakin heran. Hari ini Sivia tidak sama dengan Sivia
seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini juga, Cakka tidak menemukan Sivia yang
ceria seperti biasanya.
Cakka berusaha menahan dirinya untuk
tidak menanyakan masalah yang sedang Sivia hadapi saat ini. Cakka mengerti,
jika sedang seperti ini Sivia butuh waktu untuk sendiri. Dan jika merasa sudah
siap dan tenang, Sivia akan bercerita sendiri pada Cakka.
Ketika jam mata pelajaran Matematika
tengah berlangsung, Sivia malah terlihat melamun sambil menopang dagunya. Dan
Sivia sama sekali tidak bisa menangkap sedikitpun materi yang disampaikan oleh
Pak Bambang yang super galak itu.
Fikiran Sivia saat ini hanya tertuju
pada Alvin. Dalam hatinya Sivia tidak henti-henti bertanya, sebenarnya
kesalahan apa yang sudah Sivia lakukan hingga Alvin membentaknya seperti
kemarin?
Saat ini Sivia benar-benar merasa
bodoh karna perasaan yang ia rasakan terhadap Alvin, dan Sivia benar-benar
merasa dipermainkan oleh hatinya sendiri. Jika bisa, Sivia ingin membuang semua
perasaan cintanya yang baru tumbuh ini. Sivia juga tidak ingin nantinya
perasaan nya pada Alvin ini semakin berkembang dan membuat hatinya semakin
sakit karna Alvin tidak membalas perasaannya.
Sivia tahu, semuanya
tidak segampang seperti apa yang dia inginkan. Sivia butuh waktu untuk
mematikan segala rasanya dan Sivia tahu pasti bahwa semuanya akan sulit. Tapi
Sivia harus melakukannya.
Kenapa? Kenapa Sivia harus
menjatuhkan hatinya pada seseorang yang tidak mungkin menangkapnya? Sivia
menyesali diri.
Menyadari bahwa salah satu muridnya
tidak memperhatikan penjelasannya, Pak Bambang menghela nafas kesal. Tanpa
ampun Pak Bambang melempar spidol yang ada ditangannya kearah Sivia. Lemparan Pak
Bambang tepat mengenai kening Sivia. Semua yang ada dikelas itu terutama Cakka
langsung terkejut.
“awww….” Ringis Sivia sambil mengusap
keningnya beberapa kali.
“Sivia Azizah, jadi dari tadi kamu
tidak mendengarkan penjelasan saya?” Tanya Pak Bambang dingin. Bahkan beberapa
dari murid kelas XI IPA 2 langsung merinding ketika mendengarkan pertanyaan
dari Pak Bambang itu.
Sivia menunduk dalam.
“Ma… maaf Pak” ujar Sivia pelan
penuh penyesalan. Harusnya Sivia jangan konyol membuat masalah dengan Mr.Killer
ini.
“apa kamu sudah merasa pintar
sehingga tidak perlu mendengarkan penjelasan saya?”
“ti… tidak, Pak!” jawab Sivia yang
benar-benar sudah gugup setengah mati.
“sekarang kamu maju kedepan. Bawa spidol
itu dan kerjakan soal nomer 3 dipapan tulis!”
Sivia kaget lalu buru-buru melirik
ke papan tulis. Sivia memperhatikan soal nomer 3 sebaik mungkin. Dalam hati
Sivia langsung merutuki diri. Sivia sama sekali tidak mengerti dengan soal
nomer 3 itu. Sivia pasrah, dengan setengah hati Sivia maju kedepan dan telah
siap menerima resiko apapun yang nantinya akan Pak Bambang limpahkan padanya.
^_^
“eh, elo pada tau nggak? Kalo hari
ini Tim Basket BinSa sama Tim Basket sekolah kita bakalan ngelakuin sparing
terakhir disini?” ucap Shilla dengan antusias pada Sivia dan Ify. Saat mereka
tengah berkumpul dikantin saat jam istirahat tiba.
Sivia diam dan tidak sedikitpun
merespons ucapan Shilla barusan. Sivia rasa semuanya percuma saja. Dengan Alvin
melakukan sparing disekolahnya toh dia tetap tidak akan bisa bertemu dengan
Alvin, sekalipun bertemu mungkin Alvin tidak akan pernah menganggapnya ada.
Sivia menghela nafasnya yang terdengar berat lantas meneguk Jus Jeruk pesannya.
“ya terus kenapa kalo anak-anak
BinSa Sparing disini?” Tanya Ify cuek.
“Alyssa, lo tau kan kalo anak-anak
Basket BinSa itu keren-keren semua, jadi kita bisa cuci mata deh…”
“keren dari mana? Kerenan juga
anak-anak Basket sekolah kita, lagian kan elo udah punya Gabriel, Shill. Terus
kenapa lo masiiihhh aja genit sama cowok lain…??” ucap Ify yang mendadak sewot.
Shilla menghela nafas panjang lalu menoyor pelan kepala Ify.
“Shilla, elo kenapa sih maen
toyor-toyor aja?”
“elo sih, ngomongnya sembarangan
banget… gini-gini gue tetep setia tau sama Gabriel”
“setia? Emangnya elo yakin kalo Si
Gabriel juga setia sama lo?”
“IFYYYYY……”
“Berisik tau nggak kalian berdua!!”
pekik Sivia seraya bangkit dari tempat duduknya. Shilla dan Ify menatap Sivia
dengan pandangan bertanya lalu beberapa saat kemudian, Shilla dan Ify saling
memandang. ‘Nih anak kenapa?’ mungkin itulah kalimat yang tersirat dari
pandangan mereka.
Tanpa menunggu reaksi Ify dan Shilla
lebih jauh lagi, Sivia akhirnya memilih untuk meninggalkan kantin. Sivia sudah
malas mendengarkan ocehan dari kedua sahabatnya itu. Mendengarkan ocehan mereka
malah membuat fikiran Sivia semakin ruwet.
^_^
Sivia berjalan kearah lapangan
Basket. Ia berniat hendak menemui Cakka yang saat itu sedang sibuk-sibuknya
mempersiapkan diri untuk pertandingan persahabatan yang akan diselenggarakan
lusa. Sivia fikir sudah saatnya ia berhenti mendiamkan Cakka.
Dan Sivia juga berfikir untuk
berhenti memikirkan Kunyuk satu itu. Memikirkan Alvin terus menerus seperti ini
malah membuat semuanya kacau. Sivia jadi cuek pada semua orang termasuk Cakka,
dan bahkan Sivia yang biasanya focus dipelajaran matematika hari ini malah
mendapatkan teguran keras dari Pak Bambang karna ia sudah lancang mengabaikan
penjelasan Pak Bambang didalam kelas.
Setibanya dilapangan Basket, Sivia
melihat Cakka yang saat itu sedang duduk bersama Agni ditepi lapangan basket.
Kedua orang itu terlihat begitu serius membicarakan sesuatu. Mungkin mereka
sedang membicarakan soal Basket. Cakka dan Agni kan memang pecinta basket.
Sivia tersenyum ketika melihat Cakka dan Agni yang sudah mulai terlihat akrab.
Entah kenapa Sivia merasa bahwa ada banyak kecocokan diantara Cakka dan Agni.
Sivia pun mulai berfikir untuk menyatukan mereka.
Sivia melangkah besar-besar
mendekati Cakka dan Agni. Sivia mengagetkan mereka berdua lantas duduk
ditengah-tengah antara Cakka dan Agni. Sivia merangkul kedua orang itu sambil
tersenyum nakal.
“ciyeee…. Yang lagi berdua, serius
banget kayaknya….”
“apaan sih?” Tanya Cakka keki seraya
melepaskan rangkulan Sivia dari pundaknya.
“biasa aja kali, Vi. Ini si Cakka
lagi sharing ke gue tentang pertandingan lusa” ucap Agni apa adanya. Sivia
mengangguk beberapa kali.
“lagian elo kenapa sih, Vi? Hari ini
aneh banget perasaan. Tadi pagi lo cuek banget sama semua orang, terus elo juga
jadi pendiem hari ini. Ada apa sih?” Tanya Cakka yang sudah tidak bisa lagi
menahan rasa penasarannya. Sivia menggeleng beberapa kali sambil tersenyum.
Sivia sudah memutuskan untuk tidak menceritakan masalahnya pada Cakka. Sivia
takut Cakka akan cemas dan malah marah-marah lagi pada Alvin.
“nggak ada apa-apa kok, Kka. Hari
ini gue emang lagi males ngomong aja” alibi Sivia sambil berusaha terlihat setenang
mungkin. Sivia tidak ingin Cakka mencurigainya.
Beberapa saat kemudian mata Sivia
tertuju pada Alvin dan kawan-kawannya yang waktu itu sudah tiba disekolahnya
pada jam istirahat. Alvin dan kawan-kawannya berjalan kearah lapangan Basket.
Dan yang menohok dada Sivia hingga membuat dadanya sesak adalah, Alvin berjalan
bersama Pricilla yang saat itu mengenakan kostum Cheers SMA BinSa. Alvin
berjalan sambil merangkul pundak Pricilla dengan mesranya. Mereka tertawa
bersama, sesekali Pricilla tampak tersipu malu ketika Alvin menatapnya.
semua pemandangan itu seolah menekan
jantung Sivia dari segala arah dan menimbulkan sesak yang semakin menjadi.
Tubuh Sivia mendadak kaku manakala langkah Alvin semakin mendekati posisinya
sekarang. Dan yang lebih menyesakkan lagi bagi Sivia, Alvin tidak sedikitpun
melihat kearahnya. Tidak sama sekali.
Sivia berusaha mengedalikan dirinya
sekuat ia mampu. Ia tidak ingin menangis dihadapan Cakka, tidak dihadapan Agni,
tidak dihadapan Alvin dan Pricilla, juga tidak dihadapan semuanya. Sivia harus
kuat. Dan Sivia percaya ia kuat.
Cakka yang juga melihat Alvin
berjalan bersama Pricilla dengan begitu mesranya kini mulai memahami apa yang
sebenarnya terjadi. Cakka menduga Sivia berubah aneh hari ini pasti karna
Alvin. Perlahan air muka Cakka berubah. Ia menggenggam kuat jemari tangannya
lalu menoleh kearah Sivia yang saat itu masih betah memandangi Alvin dan
Pricilla juga kawan-kawannya yang saat ini sudah mengambil posisi dibangku yang
terdapat disebrang lapangan basket.
“jadi karna dia, Vi…?” Tanya Cakka
tak sabar. Sivia tidak menjawab pertanyaan Cakka. Dan bahkan mungkin, Sivia
tidak sedikitpun mendengar pertanyaan itu.
Merasa tidak terima dengan perlakuan
Alvin terhadap sahabatnya, Cakkapun bangkit dari duduknya, dan ketika Cakka
hendak menghampiri Alvin untuk melampiaskan emosinya, Sivia langsung mencekal
pergelangan tangannya.
“nggak usah, Kka…”
“tapi Vi, dia—“
“dia nggak salah!” sergah Sivia
cepat. “gue yang salah, dia Cuma nggak tau apa-apa tentang perasaan gue. Dia
nggak salah” lanjut Sivia dengan nada suara sedikit bergetar.
Agni yang tidak tahu apa-apa dengan
permasalahan yang sedang terjadi hanya bisa melongo heran melihat kedua orang
yang ada dihadapannya ini.
Sivia berdiri lalu berlari. Tidak
ingin semakin sakit hati melihat Alvin dan Pricilla, Sivia akhirnya lebih
memilih untuk hengkang dari sana. Tapi sialnya bagi Sivia adalah, untuk
mencapai kelasnya ia harus melewati tempat dimana Alvin dan kawan-kawannya
berada saat ini. Sivia berusaha memberanikan dirinya. Dan Sivia bersumpah demi
apapun itu, jika nanti ia melewati Alvin dan kawan-kawannya, Sivia tidak akan
menoleh sedikitpun kearah Alvin. Meskipun sebenarnya hati kecilnya ingin, tapi
Sivia harus bisa melawan. Sivia tidak ingin lagi terlihat bodoh didepan Kunyuk
itu. Setetes air mata Sivia akhirnya menetes, Sivia menunduk lalu menyeka air
matanya seraya terus berlari.
“Via….!” Panggilan dari Ray itu
langsung saja membuat Sivia mau tidak mau suka tidak suka harus menghentikan
larinya. Sivia menghela nafas panjang, ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Lalu dalam satu gerakan cepat, Sivia langsung
mengangkat wajahnya dan menatap Ray dengan sebuah senyuman.
“iya?” jawab Sivia pelan.
“elo mau kemana? Sini gabung bareng
kita? Ada pacar lo juga kan disini” ujar Ray seraya menyenggol lengan Alvin.
Mendengar perkataan Ray barusan Pricilla merasa sangat terganggu. Pricilla sama
sekali tidak suka dengan perkataan Ray yang menurutnya sangat tidak lucu itu.
Alvin menatap Sivia penuh harap.
Mungkin.Beberapa saat kemudian Siviapun menggeleng cepat. Andai Alvin bisa
sedikit saja peka dengan semuanya.
“nggak deh, Ray. Gue masih ada
urusan, gue—“
“lo ngapain sih manggil dia segala,
Ray? Asal lo tau ya? Dia itu bukan cewek gue, emang sejak kapan gue bilang dia
cewek gue?” sela Alvin dengan sinis. Pricillapun tersenyum puas.
Jleb! ucapan Alvin barusan seakan
menusuk jantung Sivia. Mata Sivia kembali ingin merembeskan air mata, tapi
Sivia harus kuat. Sivia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Alvin.
“gue salah apa sih sama lo, Vin?
Kenapa mendadak lo kayak gini ke gue?” kata Sivia yang pada akhirnya sudah
tidak sanggup mengontrol dirinya lagi. Bahkan Sivia sendiri tidak sadar dengan
apa yang baru saja ia ucapkan. Hatinya sudah terlanjur sakit oleh Pria
menyebalkan ini.
“gue pernah bilang kalo gue benci
sama lo. Tapi ternyata gue salah, Vin, karna pada kenyataannya GUE
SANGAT-SANGAT BENCI SAMA LO…” ucap Sivia dengan memberikan penekanan pada
beberapa kalimat.
Mendengar pengakuan Sivia, kedua
rahang Alvinpun mengeras. Ia menggenggam kuat jemari tangannya lalu berdiri,
“gue nyesel kenal sama lo, GUE
NYESEL…” Air mata yang sejak tadi berusaha keras Sivia tahan akhirnya menetes
juga.
Dan tidak ada yang lebih menyakitkan
lagi Alvin saat melihat Si Jelek itu meneteskan air mata karenanya, karena
kemunafikannya. Alvin mulai merasakan perasaan tidak enak. Amarahnya secara
perlahan mulai menurun. Emosinya seakan surut, dan hatinya yang keras seakan
luluh lantak saat melihat kedua mata indah itu meneteskan air mata.
Sivia benar-benar sudah merasa tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua
kakinya sendiri. Dunia seakan hilang baginya saat ini. Dan ketika Sivia sudah
tidak memiliki daya lagi untuk bertahan, secara tiba-tiba ia merasakan ada
sebuah lengan kokoh yang merangkul erat pundaknya. Sivia menoleh kesamping dan
mendapati Cakka yang langsung menyambutnya dengan sebuah senyuman.
Sivia menatap Cakka dengan pandangan
memohon. Saat ini Sivia benar-benar berharap bahwa tidak akan terjadi
pertengkaran sekecil apapun diantara Alvin dan Cakka.
Sekali lagi Cakka memberikan sebuah
senyuman yang begitu tenang untuk Sivia. Cakka menatap kedua mata Sivia seteduh
mungkin. Dan beberapa saat kemudian, Cakka langsung mengalihkan tatapannya pada
Alvin.
“gue kasih lo kesempatan satu kali
lagi, Alvin. Kalo lo sia-siain kesempatan ini, maka nggak akan ada lagi
kesempatan kedua buat lo! Dan gue nggak akan pernah ngasih lo celah sedikitpun
untuk menyentuh Sivia, nggak sedikitpun, nggak sedetikpun” ucap Cakka dengan
tegas lalu membawa Sivia pergi dari hadapan Alvin.
Alvin diam mematung memikirkan
perkataan Cakka barusan. Seperti yang Alvin duga sebelum-sebelumnya, ternyata
Cakka sangat cerdas. Bahkan Cakka bisa membaca isi hatinya yang ia sendiri bahkan
sama sekali tidak bisa lakukan.
^_^
Sivia merenung dibalkon kamarnya
seraya menatap jutaan bintang-bintang yang bertebaran diatas langit luas.
Ingatan Sivia kembali terseret pada kejadian saat jam istirahat tadi. Sivia
tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa Alvin, cowok yang sangat dia benci itu
dan yang sama sekali tidak pernah ia inginkan kehadirannya dalam kehidupannya
sukses membuatnya jatuh cinta hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Bukan hanya membuatnya jatuh cinta
hanya dalam beberapa hari saja, tapi Alvin juga sukses meremukkan jantungnya
hanya dalam beberapa detik saja dengan perkataannya yang menyakitkan hati itu.
Sivia menatap Handphone pemberian
Alvin yang sejak tadi ada dalam genggaman tangannya. Sebenarnya jika ia ingin,
Sivia bisa saja mengembalikan Handphone itu pada pemiliknya. Tapi entah kenapa
Sivia merasa berat sekali jika harus melepaskan barang yang satu itu. Bukan
karna Handphone itu adalah Handphone satu-satunya yang ia miliki, tapi… entahlah,
Sivia juga bingung bagaimana cara mendiskripsikan segala rasa yang ia rasakan
saat ini. Yang Sivia tau hanyalah, Si Kunyuk itu telah melukai perasaannya.
Arah mata Sivia tiba-tiba saja
tertuju keatas langit. Dan ketika melihat sebuah Bintang Jatuh, Sivia buru-buru
memejamkan matanya dan buru-buru membuat sebuah permohonan.
“Tuhan…
jika Engkau menghendaki, maka bantulah aku untuk melupakan dia… hilangkan semua
rasa cinta ini jika dia tidak pernah untukku…”
Setelah membuat sebuah permohonan,
Sivia pun membuka kedua matanya lantas meninggalkan balkon kamarnya.
Beberapa saat setelah Sivia
meninggalkan balkon kamarnya, secara tiba-tiba Alvin muncul dari balik sebuah
pohon yang terletak tepat tak jauh dari depan rumah Sivia. Alvin menatap hampa
keatas balkon kamar Sivia yang saat itu sudah tidak berpenghuni lagi. Alvin
tersenyum miris. Tanpa ada yang tahu, kemunafikan itu secara perlahan mulai
terkikis dalam diri Alvin.
“maafin gue, Vi… maaf…” lirih Alvin
pelan seraya terus menatap hampa ke atas balkon kamar Sivia. Sekali lagi Alvin
tersenyum. Lantas secara perlahan Alvin berjalan dan meninggalkan rumah Sivia
dengan sejuta perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dalam rangkaian kata-kata.
Seseorang yang sejak tadi mengawasi
Alvin dari jendela rumahnya langsung tersenyum. Meskipun hatinya menangis saat
ini, tapi ia tahu bahwa semuanya akan selalu berjalan baik-baik saja. Mereka
saling mencintai, dan sejak awal dia memang sudah bisa melihat semuanya.
“Bukankah Bintang harus tetap
berpijar menyinari malamnya…??” Batin Cakka dalam keheningan malam….
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment