Friday, May 17, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 15 "Gue Sayang Lo, Jelek..."





                Malam itu Alvin terlihat duduk sambil termenung diberanda depan rumah singgah sambil memegangi gitar kesayangannya. Sedari tadi jari jemari Alvin memetik gitar itu dengan alunan lagu yang sama sekali tidak jelas. Alvin mengingat kembali perkataan Cakka atau yang lebih tepatnya bisa disebut dengan ancaman yang cukup serius baginya. Cakka memberikan Alvin kesempatan satu kali lagi untuk mendekati Sivia, jika Alvin menyiakan-nyiakan kesempatan itu, maka sudah dipastikan Cakka akan benar-benar serius dengan ancamannya. Dan bukan tidak mungkin, Alvin akan kehilangan Sivia sebelum ia memilikinya dan menyatakan perasaannya yang sesungguhnya. Alvin akan kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
            Alvin mendesah pelan. Bukannya ia tidak mau mengakui perasaannya pada Si Jelek itu, dan sedikitpun Alvin tidak pernah memiliki niat untuk menyakiti hatinya. Hanya saja saat ini, Alvin masih bingung dengan apa yang tengah ia rasakan. Ini cinta pertama bagi Alvin, dan Alvin ingin memikirkan segala keputusan yang akan ia ambil nanti supaya tidak ada satupun dari mereka yang terluka. Dan jujur saja, Alvin masih meragukan kesungguhan Sivia. Apalagi semenjak Alvin melihat Sivia bersama Cakka di Dufan tempo hari.
            Alvin tau mereka berdua hanya sahabat. Dan mereka bersahabat sudah sejak lama. Alvin yakin kalau Sivia tidak memiliki perasaan apapun pada Cakka, dan Alvin percaya bahwa Sivia menganggap Cakka hanya sebatas sahabat saja, dan tidak pernah lebih dari itu. Tapi bagaimana dengan Cakka? Alvin tahu betul kalau Cakka memiliki rasa yang lebih terhadap Sivia. Itulah yang menyebabkan Alvin masih harus berfikir 2 kali untuk mengikrarkan perasaannya pada Sivia. Alvin ingin serius. Dan pada Sivia, Alvin ingin hanya Sivia lah satu-satunya yang mengisi relungnya, tidak ada yang lain selain Sivia.
            Alvin membuang nafasnya yang terdengar berat. Dan secara perlahan, tangan terampil Alvin mulai memetik senar gitarnya dan memainkan sebuah lagu. Dari hati Alvin bernyanyi…

“Maafkan aku yang selalu menyakitimu…
Mengecewakanmu… dan meragukanmu…
Tersadar aku memang kamu yang terbaik
Terima aku… mencintaiku apa adanya….

Diantara beribu bintang…..
Hanya kaulah yang paling terang
Diantara beribu cinta… pilihan ku hanya kau sayang….

Tak kan ada selain kamu… dalam segala keadaanku…

Cuma kamu ya hanya kamu… yang selalu ada untukku…”

^_^

            “pergilah, Mas…” ucap Denita dengan lapang dada saat Farish menyampaikan berita keberangkatannya ke Amerika besok pagi.
            Sebenarnya Denita agak sedikit shock ketika Farish berkata bahwa ia akan pergi ke Amerika dalam waktu 2 bulan untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya disana. Tapi biar bagaimanapun Denita tidak boleh egois.
            “maafkan aku Denita, karna aku pergi sebelum berhasil memperkenalmu dengan Alvin, tapi aku janji—“
            “Mas…” sela Denita dengan cepat. ia menyentuh tangan Farish lalu mengusapnya dengan lembut.
            “Mas Cuma pergi 2 bulan dan bukan untuk selamanya kan?” Farish mengangguk pelan. Denita pun tersenyum,
            “kalau begitu pergilah, selesaikan semua urusan pekerjaanmu disana lalu pulanglah dengan segera, masalah perkenalanku dengan Alvin nanti kita fikirkan belakangan” ucap Denita penuh keikhlasan. Farish mengangguk beberapa kali lantas berkata,
            “aku berjanji, setelah aku pulang dari Amerika nanti, dengan atau tanpa persetujuan dari Alvin, kita akan tetap melakukan pernikahan…” ucap Farish dengan tegas. Denita sudah tidak bisa berkata-kata lagi, apalagi sampai mengeluarkan penolakan seperti yang biasa ia lakukan. Denita sudah terlalu sering menolak, dan kali ini Denita merasa tidak enak hati jika menolak ajakan Farish itu.


^_^

Hari Pertandingan….

            Setelah menunggu dan melakukan latihan keras selama berminggu-minggu lamanya, akhirnya hari ini pertandingan persahabatan antara SMA Pancasila dan SMA Bintang Bangsa terlaksana juga.
            Sivia duduk disalah bangku penonton dan berkumpul dengan penonton yang lainnya yang berjumlah sampai ribuan. Stadion tempat melaksanakan pertandingan persahabatan kali ini benar-benar megah. Lapangan indoor yang bisa menampung lebih 1000 penonton ini semakin lama semakin terlihat ramai dan sesak oleh pendukung dari sekolah masing-masing. Sivia duduk dideretan bangku paling depan bersama Ify, dan Agni. Shilla tidak bisa ikut duduk bersama mereka dikursi penonton karna saat itu Shilla sedang bertindak sebagai anggota Cheers.
            Suasana distadion benar-benar gaduh. Tapi melihat para pendukung dari sekolahnya yang begitu antusias, Sivia sama sekali tidak peduli dengan suasana gaduh itu. Dan kegalauan Sivia yang sejak kemarin membuat hari-harinya terasa berat hari ini sirna begitu saja. Sivia tidak lagi sibuk-sibuk memikirkan Kunyuk satu itu, meskipun sekali waktu bayangan Alvin selalu datang dan mengusik ketenangannya.
            Cakka tiba-tiba datang lalu duduk diantara Sivia dan Agni.
            “heh, ngelamun aja lo!!” kata Cakka pada Sivia. Menyadari kehadiran Cakka, Sivia buru-buru membuyarkan lamunanya lalu melirik sebal kearah Cakka.
            “dasar sok tahu!” Sivia menjitak pelan kepala Cakka.
            “lo sekarang udah mulai berani ya jitak-jitak kepala gue?”
            “kenapa harus takut?” ucap Sivia nyolot sambil melotot tajam. Cakka terkekeh geli ketika melihat ekspresi Sivia yang menurutnya sangat lucu itu.
            Cakka mengacak poni Sivia dengan gemes lalu merangkul pundak Sivia.
            “haha… lo lucu tau!”
            “iihhhh…. Cakka nyebelin”
            Melihat kedekatan yang terjalin antara Cakka dan Sivia entah kenapa Agni merasa ada yang berbeda dengan hatinya. Agni tidak mengerti tentang rasa itu, sama sekali tidak mengerti. Agni mengalihkan tatapannya kearah lain seraya tersenyum.
            “mulai deh kalian berdua, sok so sweet tau? Gue suruh jadian malah nggak mau” ucap Ify sewot. Cakka dan Sivia saling melirik sejenak, beberapa saat kemudian mereka pun mendaratkan sebuah toyoran pelan dikening Ify secara bersamaan.
            “CAKKAAA… SIVIAAA…. LO BEDUA SAMA-SAMA RESE TAU NGGAK??” Kata Ify sebal. Cakka dan Sivia tertawa bersama seraya saling merangkul satu sama lain.
            Mata Ify tiba-tiba tertuju pada Alvin dan kawan-kawannya yang saat itu memasuki lapangan. Dan ketika melihat ada Rio diantara kawan-kawan Alvin, kedua mata Ify langsung membelalak lebar. Ia ingat beberapa waktu yang lalu ia sempat membuat masalah dengan Rio. Ify berfikir cepat bagaimana cara supaya Rio tidak melihatnya. Beberapa saat kemudian, Ify pun menemukan sebuah ide, ia menyembunyikan kepalanya dibalik punggung Sivia yang saat itu masih asyik bercengkrama dengan Cakka.
            Mendadak Sivia menghentikan tawanya ketika melihat Alvin dan kawan-kawannya datang lalu duduk dibangku penonton. Jarak mereka yang lumayan dekat malah membuat Sivia gugup. Alvin menatap Sivia dengan raut wajah tanpa ekspresi. Menyadari bahwa Alvin menatapnya seperti itu, Sivia hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
            Sivia berusaha menahan dirinya sekuat mungkin untuk tidak menyunggingkan sedikitpun senyuman untuk Alvin. Dan meski sudah berusaha mengalihkan tatapannya dari kedua mata Alvin, Sivia tetap tidak bisa. Kedua mata Alvin seakan-akan seperti magnet yang menarik tatapannya. Dalam hati Sivia terus mengkomando dirinya untuk segera mengalihkan tatapannya, tapi masih juga tidak bisa.
            Secara tiba-tiba Cakka merangkul pundak Sivia. Sivia yang kaget kontan saja melepaskan tatapannya dari Alvin lalu buru-buru mengalihkan perhatiannya pada Cakka. Cakka tersenyum sangat tenang.
            “lo cukup diem dan ikutin permainan gue” bisik Cakka pelan. Sivia hanya mengangguk beberapa kali tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Cakka kembali berbisik,
            “lo jangan sekalipun ngeliat kearah dia. Inget jangan sekalipun!” lagi-lagi Sivia hanya bisa mengangguk.
            Tepat satu menit sebelum pertandingan dimulai pelatih masing-masing tim segera meminta anggotanya untuk berkumpul. Cakka tersenyum licik. Ini saatnya! Batin Cakka dalam hati.
            Sebelum berkumpul bersama anggota tim nya yang lain, Cakka sempat melihat kearah Alvin yang saat itu tengah memperhatikan gerak geriknya dengan Sivia. Cakka mendekat kearah Sivia. Sebelum melakukan rencananya, sekali lagi Cakka berbisik,
            “maafin gue sebelumnya, Vi! Tapi gue terpaksa” sebelum Sivia membalas ucapannya, bibir Cakka malah sudah bergerak mendekati pipi sebelah kanan Sivia. Dan… Cupp! Kecupan pertama dari Cakka mendarat dengan mulus tepat dipipi Sivia. Ify dan Agni yang menyaksikan adegan itu hanya bisa melongo heran, tapi mereka juga tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Mulut Sivia sedikit ternganga saat Cakka mengecup lembut pipinya. Antara kaget dan tidak percaya barusan Cakka menciumnya didepan semua orang.
            Alvin yang menyaksikan pemandangan itu mendadak merasakan sesak didadanya. Jantungnya seakan terbakar, hatinya seolah teriris. Dan dengan cepat emosi itu naik ke otaknya. Alvin menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Kali ini Alvin tidak akan lagi membiarkan Cakka lolos. Alvin akan menghabisi permainan Cakka ditengah lapangan nanti sebagai balasannya.
            Beberapa saat kemudian, kedua tim sudah berhadapan ditengah lapangan. Cakka dan Alvin yang bertindak sebagai Kapten Tim maju beberapa langkah dan berdiri berhadapan dihadapan wasit. Cakka menatap Alvin seraya tersenyum miring, sementara Alvin, ia menatap Cakka dengan sengit. Tatapan Alvin itu menggambarkan seolah-olah ia ingin menghabisi nyawa Cakka detik ini juga. Semakin lama tatapan Alvin pada Cakka semakin tajam, sementara Cakka ia masih terlihat santai-santai saja dengan senyumannya.
            Ketika wasit meniup peluit lantas melempar bola keatas, Cakka dan Alvinpun memulai pertarungan mereka yang sesungguhnya. Bola yang tadi dilempar oleh wasit berhasil ditangkap oleh Alvin, dan dengan secepat kilat, bahu Alvin menyenggol bahu Cakka hingga menyebabkan Cakka nyaris terjatuh ditengah lapangan. Untung saja Cakka kuat dengan pertahanannya.
            Ditengah lapangan Cakka berhasil menghalangi Alvin. Dengan tatapannya yang tidak berubah sedikitpun Alvin mendrible bola itu dihadapan Cakka dan berusaha mempertahankannya sekuat ia mampu.
            “jangan berfikir lo akan menang dari gue!” ucap Alvin pelan. Cakka tersenyum jengah. Sepersekian detik kemudian, mendadak bayangan saat Cakka mengecup pipi Sivia tadi kembali terlintas dikepala Alvin dan membuat konsentrasinya buyar seketika, dan ketika Alvin lengah dengan mudahnya Cakka merenggut bola itu dari tangan Alvin.
            “nggak semudah itu, Vin!” ujar Cakka lalu mendrible bola itu dengan santai.
            Merasa terintimidasi oleh gerakan Ozy yang ada dihadapannya, Cakka pun buru-buru melakukan tembakan jarakan jauh yang sebenarnya merupakan keahlian Gabriel. Semuanya sempat kaget ketika melihat Cakka dengan beraninya melakukan tembakan jarak jauh. Gabriel langsung saja menepuk keningnya sendiri. Tapi saat ini Gabriel juga kawan-kawannya yang lain hanya bisa pasrah dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
            Dan yang lebih mengejutkannya lagi dan membuat semuanya tercengang bukan main, ternyata tembakan Cakka itu berhasil memasuki ring dengan sempurna. Seluruh supporter dari SMA Pancasila bangun secara bersamaan dari bangku mereka masing-masing lantas memberikan teriakan serta tepuk tangan yang sangat meriah untuk Cakka.
            “YEEEE!!! GO CAKKA……” Teriak Sivia dari pinggir lapangan sambil berjingkrak-jingkrak senang. Tapi mendadak Sivia menghentikan jingkrakkannya saat menangkap kedua mata Alvin tengah menatapnya dengan benci. Nyali Siviapun langsung menciut seketika. Ia menunduk dalam lalu secara perlahan menjatuhkan tubuhnya diatas bangku.
            Pertandingan sengit kembali dilanjutkan…


^_^

            Pertandingan persahabatan siang itu akhirnya dimenangkan oleh SMA Pancasila dengan skor 100-90. Ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup oleh sang wasit, Alvin pun terduduk pasrah ditengah lapangan dengan keringat yang terus bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Alvin mengatur nafasnya yang terdengar naik turun.
            Alvin melirik kearah Sivia yang saat itu berlari ketengah lapangan lalu memeluk Cakka dengan begitu eratnya sambil mengucapkan kata selamat. Dada Alvin semakin bergejolak karenanya.
            Hari ini Alvin harus dengan terpaksa mengakui kekalahannya dihadapan Cakka karna kebodohan yang ia sendiri perbuat. Seharusnya tadi Alvin bisa lebih focus dalam pertandingan dan bisa memenangkan pertandingan persahabatan kali ini dengan mudah. Tapi Si Jelek itu sudah menghancurkan segalanya.
            Alvin menunduk dalam dan kembali berusaha mengatur nafasnya yang terdengar tidak teratur. Beberapa saat kemudian, sebuah tangan terulur dihadapan Alvin. Alvin melihat sejenak tangan itu. Pelan-pelan Alvin menaikkan tatapannya, dan senyuman hangat dari Cakka langsung menyambutnya. Alvin mendesis sinis dan langsung menepis tangan Cakka dari hadapannya.
            “lo puas kan bisa ngalahin gue?” Tanya Alvin sinis.
            “ngalahin lo? Gue nggak ngerasa ngalahin lo. Malah gue ngerasa kalo elo yang berhasil ngalahin gue”
            Alvin menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Sekali lagi Cakka tersenyum.
            “lo itu cowok terbegok dan TERBANCI yang pernah gue kenal didunia ini!” sindir Cakka dengan pedas.
            “maksud lo?” Tanya Alvin yang merasa tidak terima dengan ucapan Cakka barusan.
            “ELO PEMENANGNYA, ALVIN. DAN GUE YANG KALAH!!” Ucap Cakka dengan nada meninggi. Alvin semakin heran.
            Dalam satu sentakan kuat, Cakka menarik Alvin hingga berdiri sejajar dengan dirinya saat ini. Dan tanpa berfikir panjang lagi, Cakka langsung mendaratkan sebuah pukulan yang sangat keras tepat dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin meringis pelan karna pukulan Cakka yang lumayan menyakitkan itu. Darah segar menetes dari tepi bibir Alvin.
            “LO APA-APAAN SIH??” Ucap Alvin emosi.
            “itu imbalannya karna selama ini lo nggak pernah peka dengan perasaan Sivia!!”
            Alvin tersentak hebat ketika mendengarkan ucapan Cakka barusan. Tidak pernah peka dengan perasaan Sivia?? Alvin berfikir keras dan berusaha mencerna baik-baik ucapan Cakka itu.
            “Begok, Sivia itu suka sama lo!!” kata Cakka pada akhirnya. Setelah merasa puas bisa menghajar rival nya itu dan tanpa menunggu bagaimana reaksi Alvin setelah mendengarkan perkataannya, Cakka langsung saja hengkang dari hadapan Alvin dan membiarkan Alvin berfikir sendiri.
            Cakka sudah tidak peduli dengan rasa sakit yang akan mendera nya nanti. Bagi Cakka yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya membuat Sivia bahagia dan terus tersenyum. Hanya itu, dan tidak lebih dari itu.

            “Jelek, apa bener lo suka sama gue?” batin Alvin….


^_^

            Ketika sedang menunggu Cakka didepan stadion, tiba-tiba saja Sivia merasakan handphonenya bergetar. Sivia merogoh kantong jeansnya lalu mengambil handphonenya. Sivia menerima sebuah pesan singkat dari Cakka. Tanpa membuang-buang waktu lagi Sivia langsung membaca pesan dari Cakka yang berisi:

===================
By: Cakka Nuraga

Masuk lagi ke stadion.
Skrg!!

===================

            Sivia agak sedikit heran ketika membaca pesan singkat dari Cakka. Buat apa juga Cakka menyuruhnya untuk memasuki stadion sementara stadion sudah sepi? Sivia tahu Cakka itu aneh, hanya saja Sivia tidak pernah tahu bahwa ternyata Cakka itu sangat-sangat aneh.
            Sivia menutup kembali Handphonenya. Dan dengan setengah hati, Sivia menyeret langkahnya untuk kembali masuk ke dalam stadion.
            Sepanjang perjanan memasuki lapangan indoor, Sivia terus saja merutuki tingkah aneh Cakka. Sivia kan ingin cepat-cepat pulang, kenapa Cakka malah menyuruhnya untuk memasuki stadion lagi? Atau jangan-jangan Cakka ingin mengerjainya lagi. Sivia menggeleng pelan dan berusaha membuang semua fikiran jeleknya tentang Cakka.
            Beberapa menit kemudian akhirnya tibalah Sivia didalam lapangan. Tapi Sivia langsung menghentikan langkahnya ketika melihat seorang cowok yang saat itu sedang duduk  sendirian ditengah lapangan sambil menunduk dalam. Sivia tahu pasti itu bukan Cakka, tapi…. Alvin.
            Sivia menghela nafas panjangnya. Apa maksud Cakka mempertemukannya dengan Alvin disini? Setelah lumayan lama berdebat dengan hatinya, akhirnya Sivia berdehem pelan untuk menyadarkan Alvin bahwa dia tidak sedang sendirian didalam lapangan.
            Mendengar suara deheman Sivia, Alvin langsung mengangkat wajahnya dan menatap tepat kearah kedua mata Sivia.
            “elo?” ucap Alvin dengan pelan namun terdengar sangat jelas. Saat itu benar-benar hanya ada mereka berdua didalam lapangan indoor, tidak ada siapapun.
            “Ca… Cakka mana…?” Tanya Sivia gugup namun berusaha untuk tetap terlihat tenang.
            Alvin mengangkat kedua bahunya seraya memasang wajah cuek ciri khasnya.
            “mana gue tau!” jawab Alvin dingin.
            Seketika Sivia langsung menyesal telah bertanya pada pria menyebalkan ini. Seharusnya Sivia tahu bahwa Alvin tidak akan pernah mau menjawab pertanyaannya dengan benar.
            “ya udah, gue balik dulu! MAKASIH buat info nya…” ucap Sivia maksa dengan memberikan penekanan pada kata ‘Makasih’. Alvin memilih untuk tidak menyahut ucapan Sivia.
            Saat Sivia akan berbalik dan pergi, Alvin malah buru-buru bangkit dari duduknya. Alvin berlari kearah Sivia lalu mencekal pergelangan tangan Gadis itu.
            “Tunggu!”
            “apa lagi?” kesal Sivia lantas menoleh kearah Alvin.
            “gue—“
            “itu muka kenapa bonyok?” sela Sivia tiba-tiba lalu memalingkan wajah Alvin menggunakan tangannya. “lo abis berantem? Sama siapa?” lanjut Sivia dengan nada cemas yang berusaha keras ia sembunyikan.
            “Jelek—“
            “jawab dulu pertanyaan gue” Sivia menyela –lagi-
            “Sivia Azizah gue serius” ucap Alvin dengan tegas yang saat itu langsung membuat Sivia bungkam ditempat. Sivia berfikir Alvin pasti akan membentaknya lagi dengan alasan yang tidak jelas seperti waktu itu.
            “elo kenapa sih dari tadi ngomong terus? Nggak capek apa?? Lo bisa kan ngasih gue kesempatan buat ngomong bentar?” kata Alvin setengah membentak.
            Merasa tidak terima dibentak lagi oleh Alvin, Sivia akhirnya melawan.
            “lo bisa nggak sih sekaliiiii aja kalo ngomong sama gue nggak usah pake nyolot??”
            “gue nggak nyolot, elo yang rese”
            “elo… ergh! Gue benci sama lo, lo itu—“
            “GUE MINTA MAAF SAMA LO JELEK. GUE BENER-BENER MINTA MAAF….” Teriak Alvin dihadapan Sivia. Sivia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan.
            “apa, elo bilang apa?”
            “dan lo musti tau, kalo gue marah-marah sama lo waktu itu karna gue—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Ia terlihat ragu melanjutkan ucapannya. Tapi ini kesempatan terakhir yang Cakka berikan padanya, jika Alvin menyia-nyikan kesempatan ini, maka tidak akan ada lagi kesempatan lain baginya. Alvin tidak ingin menyesal. Sudah cukup Alvin terus bertahan dengan rasa gengsinya yang tidak penting itu.
            “karna gue ngerasa nggak nyaman ngeliat kedekatan lo sama Cakka…”
            Sivia langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya saat mendengarkan pengakuan Alvin.
            “hari minggu kemaren, gue berusaha buat nelfon lo, tapi telfonnya nggak lo angkat-angkat juga, padahal gue mau ngajakin lo jalan-jalan sama anak-anak. Untuk yang ke-4 kalinya, gue kembali berusaha nelfon lo, tapi nomer lo sedang dalam keadaan nggak aktif. Jujur gue marah waktu itu, dan gue semakin nggak bisa mengontrol emosi gue waktu di Dufan gue ngeliat lo jalan berdua sama Cakka dengan begitu mesranya. Dan… gue harus akuin ini… gue cemburu ngeliat lo sama Cakka, Vi… gue nggak bisa…”
            Sivia masih terdiam dan masih menunjukan reaksi yang sama.
            “selama nggak ada lo dirumah singgah jujur aja gue ngerasa kesepian. Tiap gue pulang sekolah, gue selalu berharap bisa ngeliat lo yang lagi ngepel ato nyapu dirumah singgah, tapi kenyataannya gue nggak ngeliat hal itu lagi, dan gue ngerasa sangat kehilangan… Dan gue nggak pernah bener-bener sadar gimana perasaan gue ke elo yang sebenernya sampe akhirnya gue ngeliat lo sama Cakka di Dufan, dari sana gue tau kalo gue sangat kehilangan lo, dan… tadi waktu Cakka nyium pipi lo didepan gue, gue bener-bener nggak tau harus berbuat apa, mau marah tapi nggak tau mau marah buat apa, karna pada kenyataannya gue nggak berhak marah apa lagi cemburu kan?”
            Sivia menunduk dalam. Ia terlalu takut untuk menatap kedua mata indah itu. Dan Sivia merasa belum siap untuk melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata itu. Merasa butuh jawaban dari Sivia, akhirnya Alvin meletakkan kedua tangannya diatas pundak Sivia, dengan pelan Alvin berkata,
            “Jelek, please lo ngomong! Ucapin sesuatu, jangan diem kayak gini! Nggak apa-apa lo mau marah-marah sama gue, ngebentak-bentak gue, lo mau nyakar muka gue sekalipun gue nggak akan protes, tapi please lo jangan diem kayak gini. Dan gue bener-bener minta tolong ke elo, toloongg banget jangan bikin gue kayak orang begok didepan lo…”
            Sivia mengangguk beberapa kali. Tidak lama kemudian Sivia terdengar menghela nafas panjang. Meskipun Alvin tidak secara langsung menyatakan perasaan cintanya, tapi Sivia menangkap semuanya dengan sangat jelas. Sivia tahu bahwa pria ini juga mencintainya.
            Sivia mengangkat wajahnya lalu dengan berani menatap kedua mata Alvin. Sivia tersenyum dan saat itu juga Alvin langsung bernafas lega. Secara perlahan Alvin menurunkan kedua tangannya dari pundak Sivia.
            Tanpa keraguan sedikitpun Sivia mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pipi mulus Alvin dengan lembut.
            “ada yang bilang, kalo lo keliatan sangat tampan dan keren disaat lo sedang cemburu…” Sivia tertawa kecil dan kembali menunduk.
            Tanpa Alvin dan Sivia sadari, ternyata Cakka memperhatikan apa yang mereka lakukan sejak tadi. Cakka tersenyum meskipun saat ini hatinya menangis. Dengan hati yang lapang, Cakka berbalik dan meninggalkan stadion bersama hatinya yang remuk dan segala harapannya yang musnah. Setidaknya Cakka bahagia bisa melihat Sahabat Bawelnya itu bahagia.
            Alvin mengangkat dagu Sivia hingga saat ini posisi wajah mereka sejajar satu sama lain. Alvin tersenyum pada Sivia untuk beberapa lama lalu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya seerat mungkin. Dengan gerakan pelan, Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Kedua mata Alvinpun terpejam, dan disaat yang bersamaan Sivia juga memejamkan matanya lantas berjinjit untuk menjangaku posisi Alvin saat ini. Alvin dan Sivia pun akhirnya menghapus jarak diantara mereka.
            Beberapa detik kemudian, Alvin dan Sivia kembali menjauhkan posisi wajah mereka. Kedua pipi chubby Sivia sudah benar-benar merah padam saat ini. Sivia menunduk malu seraya menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinga. Sementara Alvin, ia hanya menatap Sivia dengan pandangan yang benar-benar tidak bisa diartikan. Alvin tersenyum nakal lantas berkata,
            “ada yang bilang, kalo lo keliatan sangat cantik saat lo malu-malu kayak sekarang ini…” goda Alvin yang semakin membuat kedua pipi chubby Sivia bersemu merah.
            “gue sayang lo, Jelek!” bisik Alvin pelan didepan telinga Sivia.
            Sivia berusaha membuang jauh-jauh rasa malunya. Setelah yakin kalau dia tidak akan ciut ketika melihat tatapan mematikan Alvin, Siviapun mengangkat wajahnya dan menantang pandangan Alvin.
            “lo sayang sama gue? Bukannya menurut lo gue ini Cuma cewek jelek yang nggak ada menariknya sama sekali?” pancing Sivia yang sebenarnya hanya ingin meyakinkan dirinya dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan.
            “justru karna lo jelek, jadi…. Nggak ada satupun cowok yang mau ngedeketin lo kecuali gue…” jawab Alvin sedikit meledek. Tapi bagi Sivia, itu adalah ledekan teromantis yang pernah Alvin berikan padanya.
            “dan lo nggak akan bisa berpaling dari gue karna cowok-cowok semuanya pada risih sama kejelekan lo itu…” kata Alvin seraya menunjuk hidung Sivia.
            “terusss….??”
            “kita pacaran yuk!!”
            Sivia terdiam sejenak. Tiba-tiba saja Sivia memiliki ide untuk mengerjai Alvin. Ya hitung-hitung sebagai balasan karna tadi Alvin sudah meledeknya. Maka Sivia pun menggeleng beberapa kali,
            “ogah gue pacaran sama lo! Masa nembaknya kayak gitu?? Sama sekali nggak romantis….”
            Siviapun mendorong pelan bahu Alvin lalu pergi terlebih dahulu tanpa menunggu Alvin. Alvin memasang wajah kesalnya. Kali ini Sivia benar-benar menjengkelkan, sangat menjengkelkan.
            “Heh Jelek! Lo jangan maen pergi aja. Jawab dulu kek pertanyaan gue….”
            Alvin berlari dan mengejar langkah Sivia yang saat itu sudah lumayan jauh…..




                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment