Malam
itu Alvin terlihat duduk sambil
termenung diberanda depan rumah singgah sambil memegangi gitar kesayangannya.
Sedari tadi jari jemari Alvin memetik gitar itu dengan alunan lagu yang sama sekali
tidak jelas. Alvin mengingat kembali perkataan Cakka atau yang lebih tepatnya
bisa disebut dengan ancaman yang cukup serius baginya. Cakka memberikan Alvin
kesempatan satu kali lagi untuk mendekati Sivia, jika Alvin menyiakan-nyiakan
kesempatan itu, maka sudah dipastikan Cakka akan benar-benar serius dengan
ancamannya. Dan bukan tidak mungkin, Alvin akan kehilangan Sivia sebelum ia
memilikinya dan menyatakan perasaannya yang sesungguhnya. Alvin akan kehilangan
sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
Alvin mendesah pelan. Bukannya ia
tidak mau mengakui perasaannya pada Si Jelek itu, dan sedikitpun Alvin tidak
pernah memiliki niat untuk menyakiti hatinya. Hanya saja saat ini, Alvin masih
bingung dengan apa yang tengah ia rasakan. Ini cinta pertama bagi Alvin, dan
Alvin ingin memikirkan segala keputusan yang akan ia ambil nanti supaya tidak
ada satupun dari mereka yang terluka. Dan jujur saja, Alvin masih meragukan
kesungguhan Sivia. Apalagi semenjak Alvin melihat Sivia bersama Cakka di Dufan
tempo hari.
Alvin tau mereka berdua hanya
sahabat. Dan mereka bersahabat sudah sejak lama. Alvin yakin kalau Sivia tidak
memiliki perasaan apapun pada Cakka, dan Alvin percaya bahwa Sivia menganggap
Cakka hanya sebatas sahabat saja, dan tidak pernah lebih dari itu. Tapi
bagaimana dengan Cakka? Alvin tahu betul kalau Cakka memiliki rasa yang lebih
terhadap Sivia. Itulah yang menyebabkan Alvin masih harus berfikir 2 kali untuk
mengikrarkan perasaannya pada Sivia. Alvin ingin serius. Dan pada Sivia, Alvin
ingin hanya Sivia lah satu-satunya yang mengisi relungnya, tidak ada yang lain
selain Sivia.
Alvin membuang nafasnya yang
terdengar berat. Dan secara perlahan, tangan terampil Alvin mulai memetik senar
gitarnya dan memainkan sebuah lagu. Dari hati Alvin bernyanyi…
“Maafkan aku yang selalu menyakitimu…
Mengecewakanmu… dan meragukanmu…
Tersadar aku memang kamu yang terbaik
Terima aku… mencintaiku apa adanya….
Diantara beribu bintang…..
Hanya kaulah yang paling terang
Diantara beribu cinta… pilihan ku
hanya kau sayang….
Tak kan ada selain kamu… dalam segala
keadaanku…
Cuma kamu ya hanya kamu… yang selalu
ada untukku…”
^_^
“pergilah, Mas…” ucap Denita dengan
lapang dada saat Farish menyampaikan berita keberangkatannya ke Amerika besok
pagi.
Sebenarnya Denita agak sedikit shock
ketika Farish berkata bahwa ia akan pergi ke Amerika dalam waktu 2 bulan untuk
menyelesaikan urusan pekerjaannya disana. Tapi biar bagaimanapun Denita tidak
boleh egois.
“maafkan aku Denita, karna aku pergi
sebelum berhasil memperkenalmu dengan Alvin, tapi aku janji—“
“Mas…” sela Denita dengan cepat. ia
menyentuh tangan Farish lalu mengusapnya dengan lembut.
“Mas Cuma pergi 2 bulan dan bukan
untuk selamanya kan?” Farish mengangguk pelan. Denita pun tersenyum,
“kalau begitu pergilah, selesaikan
semua urusan pekerjaanmu disana lalu pulanglah dengan segera, masalah
perkenalanku dengan Alvin nanti kita fikirkan belakangan” ucap Denita penuh
keikhlasan. Farish mengangguk beberapa kali lantas berkata,
“aku berjanji, setelah aku pulang
dari Amerika nanti, dengan atau tanpa persetujuan dari Alvin, kita akan tetap
melakukan pernikahan…” ucap Farish dengan tegas. Denita sudah tidak bisa
berkata-kata lagi, apalagi sampai mengeluarkan penolakan seperti yang biasa ia
lakukan. Denita sudah terlalu sering menolak, dan kali ini Denita merasa tidak
enak hati jika menolak ajakan Farish itu.
^_^
Hari Pertandingan….
Setelah menunggu dan melakukan
latihan keras selama berminggu-minggu lamanya, akhirnya hari ini pertandingan
persahabatan antara SMA Pancasila dan SMA Bintang Bangsa terlaksana juga.
Sivia duduk disalah bangku penonton
dan berkumpul dengan penonton yang lainnya yang berjumlah sampai ribuan.
Stadion tempat melaksanakan pertandingan persahabatan kali ini benar-benar
megah. Lapangan indoor yang bisa menampung lebih 1000 penonton ini semakin lama
semakin terlihat ramai dan sesak oleh pendukung dari sekolah masing-masing.
Sivia duduk dideretan bangku paling depan bersama Ify, dan Agni. Shilla tidak
bisa ikut duduk bersama mereka dikursi penonton karna saat itu Shilla sedang
bertindak sebagai anggota Cheers.
Suasana distadion benar-benar gaduh.
Tapi melihat para pendukung dari sekolahnya yang begitu antusias, Sivia sama
sekali tidak peduli dengan suasana gaduh itu. Dan kegalauan Sivia yang sejak
kemarin membuat hari-harinya terasa berat hari ini sirna begitu saja. Sivia
tidak lagi sibuk-sibuk memikirkan Kunyuk satu itu, meskipun sekali waktu
bayangan Alvin selalu datang dan mengusik ketenangannya.
Cakka tiba-tiba datang lalu duduk
diantara Sivia dan Agni.
“heh, ngelamun aja lo!!” kata Cakka
pada Sivia. Menyadari kehadiran Cakka, Sivia buru-buru membuyarkan lamunanya
lalu melirik sebal kearah Cakka.
“dasar sok tahu!” Sivia menjitak
pelan kepala Cakka.
“lo sekarang udah mulai berani ya
jitak-jitak kepala gue?”
“kenapa harus takut?” ucap Sivia
nyolot sambil melotot tajam. Cakka terkekeh geli ketika melihat ekspresi Sivia
yang menurutnya sangat lucu itu.
Cakka mengacak poni Sivia dengan
gemes lalu merangkul pundak Sivia.
“haha… lo lucu tau!”
“iihhhh…. Cakka nyebelin”
Melihat kedekatan yang terjalin
antara Cakka dan Sivia entah kenapa Agni merasa ada yang berbeda dengan
hatinya. Agni tidak mengerti tentang rasa itu, sama sekali tidak mengerti. Agni
mengalihkan tatapannya kearah lain seraya tersenyum.
“mulai deh kalian berdua, sok so
sweet tau? Gue suruh jadian malah nggak mau” ucap Ify sewot. Cakka dan Sivia
saling melirik sejenak, beberapa saat kemudian mereka pun mendaratkan sebuah
toyoran pelan dikening Ify secara bersamaan.
“CAKKAAA… SIVIAAA…. LO BEDUA
SAMA-SAMA RESE TAU NGGAK??” Kata Ify sebal. Cakka dan Sivia tertawa bersama
seraya saling merangkul satu sama lain.
Mata Ify tiba-tiba tertuju pada
Alvin dan kawan-kawannya yang saat itu memasuki lapangan. Dan ketika melihat
ada Rio diantara kawan-kawan Alvin, kedua mata Ify langsung membelalak lebar.
Ia ingat beberapa waktu yang lalu ia sempat membuat masalah dengan Rio. Ify
berfikir cepat bagaimana cara supaya Rio tidak melihatnya. Beberapa saat
kemudian, Ify pun menemukan sebuah ide, ia menyembunyikan kepalanya dibalik
punggung Sivia yang saat itu masih asyik bercengkrama dengan Cakka.
Mendadak Sivia menghentikan tawanya
ketika melihat Alvin dan kawan-kawannya datang lalu duduk dibangku penonton.
Jarak mereka yang lumayan dekat malah membuat Sivia gugup. Alvin menatap Sivia
dengan raut wajah tanpa ekspresi. Menyadari bahwa Alvin menatapnya seperti itu,
Sivia hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
Sivia berusaha menahan dirinya
sekuat mungkin untuk tidak menyunggingkan sedikitpun senyuman untuk Alvin. Dan
meski sudah berusaha mengalihkan tatapannya dari kedua mata Alvin, Sivia tetap
tidak bisa. Kedua mata Alvin seakan-akan seperti magnet yang menarik
tatapannya. Dalam hati Sivia terus mengkomando dirinya untuk segera mengalihkan
tatapannya, tapi masih juga tidak bisa.
Secara tiba-tiba Cakka merangkul
pundak Sivia. Sivia yang kaget kontan saja melepaskan tatapannya dari Alvin
lalu buru-buru mengalihkan perhatiannya pada Cakka. Cakka tersenyum sangat
tenang.
“lo cukup diem dan ikutin permainan
gue” bisik Cakka pelan. Sivia hanya mengangguk beberapa kali tanpa mengeluarkan
sepatah katapun. Cakka kembali berbisik,
“lo jangan sekalipun ngeliat kearah
dia. Inget jangan sekalipun!” lagi-lagi Sivia hanya bisa mengangguk.
Tepat satu menit sebelum
pertandingan dimulai pelatih masing-masing tim segera meminta anggotanya untuk
berkumpul. Cakka tersenyum licik. Ini saatnya! Batin Cakka dalam hati.
Sebelum berkumpul bersama anggota
tim nya yang lain, Cakka sempat melihat kearah Alvin yang saat itu tengah
memperhatikan gerak geriknya dengan Sivia. Cakka mendekat kearah Sivia. Sebelum
melakukan rencananya, sekali lagi Cakka berbisik,
“maafin gue sebelumnya, Vi! Tapi gue
terpaksa” sebelum Sivia membalas ucapannya, bibir Cakka malah sudah bergerak
mendekati pipi sebelah kanan Sivia. Dan… Cupp! Kecupan pertama dari Cakka
mendarat dengan mulus tepat dipipi Sivia. Ify dan Agni yang menyaksikan adegan
itu hanya bisa melongo heran, tapi mereka juga tidak bisa mengeluarkan sepatah
katapun. Mulut Sivia sedikit ternganga saat Cakka mengecup lembut pipinya.
Antara kaget dan tidak percaya barusan Cakka menciumnya didepan semua orang.
Alvin yang menyaksikan pemandangan
itu mendadak merasakan sesak didadanya. Jantungnya seakan terbakar, hatinya
seolah teriris. Dan dengan cepat emosi itu naik ke otaknya. Alvin menggenggam
kuat-kuat jemari tangannya. Kali ini Alvin tidak akan lagi membiarkan Cakka
lolos. Alvin akan menghabisi permainan Cakka ditengah lapangan nanti sebagai
balasannya.
Beberapa saat kemudian, kedua tim
sudah berhadapan ditengah lapangan. Cakka dan Alvin yang bertindak sebagai
Kapten Tim maju beberapa langkah dan berdiri berhadapan dihadapan wasit. Cakka
menatap Alvin seraya tersenyum miring, sementara Alvin, ia menatap Cakka dengan
sengit. Tatapan Alvin itu menggambarkan seolah-olah ia ingin menghabisi nyawa
Cakka detik ini juga. Semakin lama tatapan Alvin pada Cakka semakin tajam,
sementara Cakka ia masih terlihat santai-santai saja dengan senyumannya.
Ketika wasit meniup peluit lantas
melempar bola keatas, Cakka dan Alvinpun memulai pertarungan mereka yang
sesungguhnya. Bola yang tadi dilempar oleh wasit berhasil ditangkap oleh Alvin,
dan dengan secepat kilat, bahu Alvin menyenggol bahu Cakka hingga menyebabkan
Cakka nyaris terjatuh ditengah lapangan. Untung saja Cakka kuat dengan
pertahanannya.
Ditengah lapangan Cakka berhasil
menghalangi Alvin. Dengan tatapannya yang tidak berubah sedikitpun Alvin
mendrible bola itu dihadapan Cakka dan berusaha mempertahankannya sekuat ia
mampu.
“jangan berfikir lo akan menang dari
gue!” ucap Alvin pelan. Cakka tersenyum jengah. Sepersekian detik kemudian,
mendadak bayangan saat Cakka mengecup pipi Sivia tadi kembali terlintas
dikepala Alvin dan membuat konsentrasinya buyar seketika, dan ketika Alvin
lengah dengan mudahnya Cakka merenggut bola itu dari tangan Alvin.
“nggak semudah itu, Vin!” ujar Cakka
lalu mendrible bola itu dengan santai.
Merasa terintimidasi oleh gerakan
Ozy yang ada dihadapannya, Cakka pun buru-buru melakukan tembakan jarakan jauh
yang sebenarnya merupakan keahlian Gabriel. Semuanya sempat kaget ketika
melihat Cakka dengan beraninya melakukan tembakan jarak jauh. Gabriel langsung
saja menepuk keningnya sendiri. Tapi saat ini Gabriel juga kawan-kawannya yang
lain hanya bisa pasrah dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi
dan membuat semuanya tercengang bukan main, ternyata tembakan Cakka itu
berhasil memasuki ring dengan sempurna. Seluruh supporter dari SMA Pancasila
bangun secara bersamaan dari bangku mereka masing-masing lantas memberikan
teriakan serta tepuk tangan yang sangat meriah untuk Cakka.
“YEEEE!!! GO CAKKA……” Teriak Sivia
dari pinggir lapangan sambil berjingkrak-jingkrak senang. Tapi mendadak Sivia
menghentikan jingkrakkannya saat menangkap kedua mata Alvin tengah menatapnya
dengan benci. Nyali Siviapun langsung menciut seketika. Ia menunduk dalam lalu
secara perlahan menjatuhkan tubuhnya diatas bangku.
Pertandingan sengit kembali
dilanjutkan…
^_^
Pertandingan persahabatan siang itu
akhirnya dimenangkan oleh SMA Pancasila dengan skor 100-90. Ketika peluit tanda
berakhirnya pertandingan ditiup oleh sang wasit, Alvin pun terduduk pasrah
ditengah lapangan dengan keringat yang terus bercucuran membasahi seluruh
tubuhnya. Alvin mengatur nafasnya yang terdengar naik turun.
Alvin melirik kearah Sivia yang saat
itu berlari ketengah lapangan lalu memeluk Cakka dengan begitu eratnya sambil
mengucapkan kata selamat. Dada Alvin semakin bergejolak karenanya.
Hari ini Alvin harus dengan terpaksa
mengakui kekalahannya dihadapan Cakka karna kebodohan yang ia sendiri perbuat.
Seharusnya tadi Alvin bisa lebih focus dalam pertandingan dan bisa memenangkan
pertandingan persahabatan kali ini dengan mudah. Tapi Si Jelek itu sudah
menghancurkan segalanya.
Alvin menunduk dalam dan kembali
berusaha mengatur nafasnya yang terdengar tidak teratur. Beberapa saat
kemudian, sebuah tangan terulur dihadapan Alvin. Alvin melihat sejenak tangan
itu. Pelan-pelan Alvin menaikkan tatapannya, dan senyuman hangat dari Cakka
langsung menyambutnya. Alvin mendesis sinis dan langsung menepis tangan Cakka
dari hadapannya.
“lo puas kan bisa ngalahin gue?”
Tanya Alvin sinis.
“ngalahin lo? Gue nggak ngerasa
ngalahin lo. Malah gue ngerasa kalo elo yang berhasil ngalahin gue”
Alvin menatap Cakka dengan pandangan
bertanya. Sekali lagi Cakka tersenyum.
“lo itu cowok terbegok dan TERBANCI
yang pernah gue kenal didunia ini!” sindir Cakka dengan pedas.
“maksud lo?” Tanya Alvin yang merasa
tidak terima dengan ucapan Cakka barusan.
“ELO PEMENANGNYA, ALVIN. DAN GUE
YANG KALAH!!” Ucap Cakka dengan nada meninggi. Alvin semakin heran.
Dalam satu sentakan kuat, Cakka
menarik Alvin hingga berdiri sejajar dengan dirinya saat ini. Dan tanpa
berfikir panjang lagi, Cakka langsung mendaratkan sebuah pukulan yang sangat
keras tepat dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin meringis pelan karna pukulan
Cakka yang lumayan menyakitkan itu. Darah segar menetes dari tepi bibir Alvin.
“LO APA-APAAN SIH??” Ucap Alvin
emosi.
“itu imbalannya karna selama ini lo
nggak pernah peka dengan perasaan Sivia!!”
Alvin tersentak hebat ketika
mendengarkan ucapan Cakka barusan. Tidak pernah peka dengan perasaan Sivia??
Alvin berfikir keras dan berusaha mencerna baik-baik ucapan Cakka itu.
“Begok, Sivia itu suka sama lo!!”
kata Cakka pada akhirnya. Setelah merasa puas bisa menghajar rival nya itu dan
tanpa menunggu bagaimana reaksi Alvin setelah mendengarkan perkataannya, Cakka
langsung saja hengkang dari hadapan Alvin dan membiarkan Alvin berfikir
sendiri.
Cakka sudah tidak peduli dengan rasa
sakit yang akan mendera nya nanti. Bagi Cakka yang terpenting sekarang adalah
bagaimana caranya membuat Sivia bahagia dan terus tersenyum. Hanya itu, dan
tidak lebih dari itu.
“Jelek, apa bener lo suka sama gue?”
batin Alvin….
^_^
Ketika sedang menunggu Cakka didepan
stadion, tiba-tiba saja Sivia merasakan handphonenya bergetar. Sivia merogoh
kantong jeansnya lalu mengambil handphonenya. Sivia menerima sebuah pesan
singkat dari Cakka. Tanpa membuang-buang waktu lagi Sivia langsung membaca pesan
dari Cakka yang berisi:
===================
By: Cakka
Nuraga
Masuk lagi
ke stadion.
Skrg!!
===================
Sivia agak sedikit heran ketika
membaca pesan singkat dari Cakka. Buat apa juga Cakka menyuruhnya untuk
memasuki stadion sementara stadion sudah sepi? Sivia tahu Cakka itu aneh, hanya
saja Sivia tidak pernah tahu bahwa ternyata Cakka itu sangat-sangat aneh.
Sivia menutup kembali Handphonenya.
Dan dengan setengah hati, Sivia menyeret langkahnya untuk kembali masuk ke
dalam stadion.
Sepanjang perjanan memasuki lapangan
indoor, Sivia terus saja merutuki tingkah aneh Cakka. Sivia kan ingin
cepat-cepat pulang, kenapa Cakka malah menyuruhnya untuk memasuki stadion lagi?
Atau jangan-jangan Cakka ingin mengerjainya lagi. Sivia menggeleng pelan dan
berusaha membuang semua fikiran jeleknya tentang Cakka.
Beberapa menit kemudian akhirnya
tibalah Sivia didalam lapangan. Tapi Sivia langsung menghentikan langkahnya
ketika melihat seorang cowok yang saat itu sedang duduk sendirian ditengah lapangan sambil menunduk
dalam. Sivia tahu pasti itu bukan Cakka, tapi…. Alvin.
Sivia menghela nafas panjangnya. Apa
maksud Cakka mempertemukannya dengan Alvin disini? Setelah lumayan lama
berdebat dengan hatinya, akhirnya Sivia berdehem pelan untuk menyadarkan Alvin
bahwa dia tidak sedang sendirian didalam lapangan.
Mendengar suara deheman Sivia, Alvin
langsung mengangkat wajahnya dan menatap tepat kearah kedua mata Sivia.
“elo?” ucap Alvin dengan pelan namun
terdengar sangat jelas. Saat itu benar-benar hanya ada mereka berdua didalam
lapangan indoor, tidak ada siapapun.
“Ca… Cakka mana…?” Tanya Sivia gugup
namun berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Alvin mengangkat kedua bahunya
seraya memasang wajah cuek ciri khasnya.
“mana gue tau!” jawab Alvin dingin.
Seketika Sivia langsung menyesal telah
bertanya pada pria menyebalkan ini. Seharusnya Sivia tahu bahwa Alvin tidak
akan pernah mau menjawab pertanyaannya dengan benar.
“ya udah, gue balik dulu! MAKASIH
buat info nya…” ucap Sivia maksa dengan memberikan penekanan pada kata
‘Makasih’. Alvin memilih untuk tidak menyahut ucapan Sivia.
Saat Sivia akan berbalik dan pergi,
Alvin malah buru-buru bangkit dari duduknya. Alvin berlari kearah Sivia lalu
mencekal pergelangan tangan Gadis itu.
“Tunggu!”
“apa lagi?” kesal Sivia lantas
menoleh kearah Alvin.
“gue—“
“itu muka kenapa bonyok?” sela Sivia
tiba-tiba lalu memalingkan wajah Alvin menggunakan tangannya. “lo abis
berantem? Sama siapa?” lanjut Sivia dengan nada cemas yang berusaha keras ia sembunyikan.
“Jelek—“
“jawab dulu pertanyaan gue” Sivia
menyela –lagi-
“Sivia Azizah gue serius” ucap Alvin
dengan tegas yang saat itu langsung membuat Sivia bungkam ditempat. Sivia
berfikir Alvin pasti akan membentaknya lagi dengan alasan yang tidak jelas
seperti waktu itu.
“elo kenapa sih dari tadi ngomong
terus? Nggak capek apa?? Lo bisa kan ngasih gue kesempatan buat ngomong
bentar?” kata Alvin setengah membentak.
Merasa tidak terima dibentak lagi
oleh Alvin, Sivia akhirnya melawan.
“lo bisa nggak sih sekaliiiii aja
kalo ngomong sama gue nggak usah pake nyolot??”
“gue nggak nyolot, elo yang rese”
“elo… ergh! Gue benci sama lo, lo
itu—“
“GUE MINTA MAAF SAMA LO JELEK. GUE
BENER-BENER MINTA MAAF….” Teriak Alvin dihadapan Sivia. Sivia nyaris tidak percaya
dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan.
“apa, elo bilang apa?”
“dan lo musti tau, kalo gue
marah-marah sama lo waktu itu karna gue—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Ia
terlihat ragu melanjutkan ucapannya. Tapi ini kesempatan terakhir yang Cakka berikan
padanya, jika Alvin menyia-nyikan kesempatan ini, maka tidak akan ada lagi
kesempatan lain baginya. Alvin tidak ingin menyesal. Sudah cukup Alvin terus
bertahan dengan rasa gengsinya yang tidak penting itu.
“karna gue ngerasa nggak nyaman
ngeliat kedekatan lo sama Cakka…”
Sivia langsung menutup mulutnya
menggunakan kedua tangannya saat mendengarkan pengakuan Alvin.
“hari minggu kemaren, gue berusaha
buat nelfon lo, tapi telfonnya nggak lo angkat-angkat juga, padahal gue mau
ngajakin lo jalan-jalan sama anak-anak. Untuk yang ke-4 kalinya, gue kembali
berusaha nelfon lo, tapi nomer lo sedang dalam keadaan nggak aktif. Jujur gue
marah waktu itu, dan gue semakin nggak bisa mengontrol emosi gue waktu di Dufan
gue ngeliat lo jalan berdua sama Cakka dengan begitu mesranya. Dan… gue harus
akuin ini… gue cemburu ngeliat lo sama Cakka, Vi… gue nggak bisa…”
Sivia masih terdiam dan masih
menunjukan reaksi yang sama.
“selama nggak ada lo dirumah singgah
jujur aja gue ngerasa kesepian. Tiap gue pulang sekolah, gue selalu berharap
bisa ngeliat lo yang lagi ngepel ato nyapu dirumah singgah, tapi kenyataannya
gue nggak ngeliat hal itu lagi, dan gue ngerasa sangat kehilangan… Dan gue
nggak pernah bener-bener sadar gimana perasaan gue ke elo yang sebenernya sampe
akhirnya gue ngeliat lo sama Cakka di Dufan, dari sana gue tau kalo gue sangat
kehilangan lo, dan… tadi waktu Cakka nyium pipi lo didepan gue, gue bener-bener
nggak tau harus berbuat apa, mau marah tapi nggak tau mau marah buat apa, karna
pada kenyataannya gue nggak berhak marah apa lagi cemburu kan?”
Sivia menunduk dalam. Ia terlalu
takut untuk menatap kedua mata indah itu. Dan Sivia merasa belum siap untuk
melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata itu. Merasa butuh jawaban dari
Sivia, akhirnya Alvin meletakkan kedua tangannya diatas pundak Sivia, dengan
pelan Alvin berkata,
“Jelek, please lo ngomong! Ucapin
sesuatu, jangan diem kayak gini! Nggak apa-apa lo mau marah-marah sama gue,
ngebentak-bentak gue, lo mau nyakar muka gue sekalipun gue nggak akan protes,
tapi please lo jangan diem kayak gini. Dan gue bener-bener minta tolong ke elo,
toloongg banget jangan bikin gue kayak orang begok didepan lo…”
Sivia mengangguk beberapa kali.
Tidak lama kemudian Sivia terdengar menghela nafas panjang. Meskipun Alvin
tidak secara langsung menyatakan perasaan cintanya, tapi Sivia menangkap
semuanya dengan sangat jelas. Sivia tahu bahwa pria ini juga mencintainya.
Sivia mengangkat wajahnya lalu
dengan berani menatap kedua mata Alvin. Sivia tersenyum dan saat itu juga Alvin
langsung bernafas lega. Secara perlahan Alvin menurunkan kedua tangannya dari
pundak Sivia.
Tanpa keraguan sedikitpun Sivia
mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pipi mulus Alvin dengan lembut.
“ada yang bilang, kalo lo keliatan
sangat tampan dan keren disaat lo sedang cemburu…” Sivia tertawa kecil dan
kembali menunduk.
Tanpa Alvin dan Sivia sadari,
ternyata Cakka memperhatikan apa yang mereka lakukan sejak tadi. Cakka
tersenyum meskipun saat ini hatinya menangis. Dengan hati yang lapang, Cakka
berbalik dan meninggalkan stadion bersama hatinya yang remuk dan segala
harapannya yang musnah. Setidaknya Cakka bahagia bisa melihat Sahabat Bawelnya
itu bahagia.
Alvin mengangkat dagu Sivia hingga
saat ini posisi wajah mereka sejajar satu sama lain. Alvin tersenyum pada Sivia
untuk beberapa lama lalu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya seerat
mungkin. Dengan gerakan pelan, Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia.
Kedua mata Alvinpun terpejam, dan disaat yang bersamaan Sivia juga memejamkan
matanya lantas berjinjit untuk menjangaku posisi Alvin saat ini. Alvin dan
Sivia pun akhirnya menghapus jarak diantara mereka.
Beberapa detik kemudian, Alvin dan
Sivia kembali menjauhkan posisi wajah mereka. Kedua pipi chubby Sivia sudah
benar-benar merah padam saat ini. Sivia menunduk malu seraya menyelipkan anak
rambutnya dibelakang telinga. Sementara Alvin, ia hanya menatap Sivia dengan
pandangan yang benar-benar tidak bisa diartikan. Alvin tersenyum nakal lantas
berkata,
“ada yang bilang, kalo lo keliatan
sangat cantik saat lo malu-malu kayak sekarang ini…” goda Alvin yang semakin
membuat kedua pipi chubby Sivia bersemu merah.
“gue sayang lo, Jelek!” bisik Alvin
pelan didepan telinga Sivia.
Sivia berusaha membuang jauh-jauh
rasa malunya. Setelah yakin kalau dia tidak akan ciut ketika melihat tatapan
mematikan Alvin, Siviapun mengangkat wajahnya dan menantang pandangan Alvin.
“lo sayang sama gue? Bukannya
menurut lo gue ini Cuma cewek jelek yang nggak ada menariknya sama sekali?”
pancing Sivia yang sebenarnya hanya ingin meyakinkan dirinya dengan apa yang
baru saja Alvin ucapkan.
“justru karna lo jelek, jadi…. Nggak
ada satupun cowok yang mau ngedeketin lo kecuali gue…” jawab Alvin sedikit
meledek. Tapi bagi Sivia, itu adalah ledekan teromantis yang pernah Alvin
berikan padanya.
“dan lo nggak akan bisa berpaling
dari gue karna cowok-cowok semuanya pada risih sama kejelekan lo itu…” kata
Alvin seraya menunjuk hidung Sivia.
“terusss….??”
“kita pacaran yuk!!”
Sivia terdiam sejenak. Tiba-tiba
saja Sivia memiliki ide untuk mengerjai Alvin. Ya hitung-hitung sebagai balasan
karna tadi Alvin sudah meledeknya. Maka Sivia pun menggeleng beberapa kali,
“ogah gue pacaran sama lo! Masa
nembaknya kayak gitu?? Sama sekali nggak romantis….”
Siviapun mendorong pelan bahu Alvin
lalu pergi terlebih dahulu tanpa menunggu Alvin. Alvin memasang wajah kesalnya.
Kali ini Sivia benar-benar menjengkelkan, sangat menjengkelkan.
“Heh Jelek! Lo jangan maen pergi
aja. Jawab dulu kek pertanyaan gue….”
Alvin berlari dan mengejar langkah
Sivia yang saat itu sudah lumayan jauh…..
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment