CHAPTER
2A
“All
I knew this morning when I woke,
Is
I know something now
I
didn’t before…”
(Taylor
Swift, Everything Has Changed)
Ify bersama adiknya
Deva sedang asyik bermain PS saat tiba-tiba Mama mereka turun dari lantai 2 dan
berdiri tepat dibelakang mereka.
“Ify!
Deva! Salah satu dari kalian cepat bangun dan anterin Mama kerumah Tante Desy”
Ify
dan Deva saling melirik untuk beberapa saat dengan pandangan datar. Tidak lama,
Deva tersenyum licik saat sebuah ide jahil menghampiri kepalanya. Ia melepaskan
stick-nya dilantai begitu saja lalu
berdiri menghadap sang Mama,
“Maaf,
Ma… Deva gak bisa, Deva harus latihan futsal. Sekarang!”
Deva
buru-buru berlari kedalam kamarnya dan membuat Ify menjerit histeris.
“DEVAAAAAAAA!!!”
Ify
lalu menatap pasrah kearah Mamanya yang sedang menatapnya seraya melipat kedua
tangannya diperut. Ify menggaruk tengkuknya dan dengan terpaksa bangkit dari
duduknya.
Ify
sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat ini ia bersama Mamanya sudah berada
dalam taksi. Bagi Ify, ini kali pertamanya ia mengantar Mamanya pergi arisan.
Selama ini Ify selalu berusaha menghindar. Alhasil, Devalah yang selalu
mendapat jatah mengantarkan Mama nya pergi. Tapi kali ini, bukan jatah Ify
untuk menghindar apalagi kabur. Tanpa Ify ketahui, Deva telah terlebih dahulu
menyusun strategi menghindar dari rutinitas wajibnya setiap bulan: mengantar
sang Mama pergi arisan.
Taksi
yang ditumpangi oleh Ify dan Mamanya berhenti didepan sebuah rumah yang
terbilang mewah. Halaman rumah itu luas dan ada sebuah kolam air mancur yang
menghiasinya. Didepan rumah itu sendiri, sudah berjejer beberapa mobil mewah
yang Ify yakini merupakan mobil milik teman-teman Mamanya. Ify mendesah pelan
lalu mengikuti Mamanya dengan pasrah dibelakang.
Acara
arisan kali ini dilakukan dihalaman belakang sang tuan rumah. Tapi Ify lebih
memilih untuk menunggu Mamanya dihalaman depan. Ify sangat yakin, bahwa hari
ini akan menjadi hari yang sangat membosankan baginya.
“Ma,
ini arisannya berapa lama?” Tanya Ify ogah-ogahan.
“gak
lama kok sayang” jawab Fitry sambil tersenyum dan mengusap lembut kepala puteri
sulungnya itu.
“iya,
seberapa lama?” Ify mulai tak sabar,
“gak
nyampe 2 tahun kok….”
“MAMA!!”
Fitry
terkekeh pelan lalu menepuk pundak Ify pelan.
“kamu
tunggu aja, ya? Nanti kalo bosen, susul Mama kedalem. Oke?”
Fitry
berlalu begitu saja dari hadapan Ify dan menyisakan Ify hanya seorang diri
dihalaman yang luas itu. Ify memasang wajah masam.
Ia
lalu duduk pada sebuah bangku besi bercat putih yang sudah disediakan dihalaman
itu. Ify merogoh tasnya dan mengambil sebuah earphone. Untuk membunuh jenuh, Ify lalu mendengarkan beberapa lagu
favoritnya melalu I-Phone kesayangannya.
Ify
bersenandung pelan, menikmati lagunya. Kepalanya bergerak kekiri dan kekanan
mengikuti irama lagu yang mengalun melalui earphone-nya.
Ify
sedikit kaget saat sisi kosong disebelahnya tiba-tiba saja diisi oleh seseorang
sambil berdehem pelan.
“ehem…
pemandangan disini keren kan? tapi gak lebih keren dong dari gue?”
Ify
buru-buru membuka earphone-nya dan
melempar tatapannya kesebelah. Ternyata disana, seseorang yang begitu familiar
dipengelihatannya sudah bertengger dengan manis tepat disampingnya sambil
melaimbaikan salah tangannya dan memamerkan senyumnya yang tidak kalah manis
dengan posisinya sekarang.
“ELO?!”
pekik Ify nyaris tak percaya.
“Hallo
Ify…”
“kenapa
lo ada disini?” Tanya Ify judes. Namun bukannya kaget mendengar nada judes yang
dilemparkan Ify, Rio justru terkikik geli dan membuat Ify jadi keki sendiri.
“kenapa
lo ketawa? Ada yang lucu?” Ify kelamaan merasa jengah juga melihat tingkah Rio
yang benar-benar ganjil.
“jelaslah
gue disini. Ini kan rumah gue”
“WHAT?!”
Ify kaget bukan main.
Kali
ini ia sudah kepalang basah. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kaget
sekaligus malunya dihadapan cowok yang tidak pernah sekalipun ia lirik itu. Rio
boleh menjadi idola hampir semua cewek disekolahnya, tapi sayang, hal itu tidak
berlaku bagi Ify. Saat semua orang menatap Rio dengan pandangan kagum, Ify
justru merasa biasa saja dan merasa bahwa tidak ada sedikitpun yang special
dari seorang Arion Aristo. Jika saat ini Shilla yang berada dalam posisi Ify,
mungkin Shilla sudah pingsan ditempat gara-gara kehabisan oksigen. Oke ini,
lebay. Tapi memang begitu cara cewek-cewek psikopat itu menatap Rio.
Ify
yang sudah terlanjur malu tapi merasa gengsi untuk menampakannya akhirnya
memutuskan untuk bersikap wajar. Ia pun mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan
menampakan wajah angkuh yang justru terlihat sangat lucu dimata Rio. Rio
berusaha mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak.
“lo
pergi gih! Gue paling gak suka kalo ada yang nemenin”
Rio
mengangkat salah satu alisnya. Heran tapi juga merasa geli.
“lo
yakin ngusir gue? Ini rumah gue lho” Rio berusaha mengingatkan.
Ify makin tidak tahu harus berbuat apa. Kali ini
rasa malunya sudah bertumpuk-tumpuk kali lipat. Rasanya, Ify ingin segera
menghilang dari hadapan Rio detik ini juga.
“ehem…
ehem…” Ify berdehem beberapa kali lantas bangkit dari sisi Rio. “Oke, gue yang
pergi” lanjutnya dengan nada suara yang dibuat-buat. Ify melangkahkan kakinya,
tapi ia sama sekali tidak memperhatikan jalannya. Ify tidak menyadari bahwa ada
beberapa undakan yang harus ia turuni. Ify berjalan begitu saja dan ia nyaris
saja terjatuh jika Rio tidak buru-buru menarik lengannya dan menahannya.
“heh!
Awas!”
Ify
merasakan jantungnya seolah mau copot. Ya Tuhaan… kenapa Ify mendadak seceroboh
ini sih? Apa barusan ia telah kehilangan konsentrasinya gara-gara Rio?
“lo
gak apa-apa?” Tanya Rio cemas sambil menatap dalam pada kedua bola mata Ify.
Tatapan Rio sangat tajam, tapi juga lembut. Tatapan itu seolah-olah menyiratkan
rasa cemasnya pada gadis yang sudah diam-diam ia taksir sejak lama itu.
Ify
mendadak merasakan jantungnya berdegub dengan sangat cepat. Dan sejak kapan Ify
merasa gugup begini dihadapan cowok yang suka tebar pesona ini? Salah. Ini
benar-benar salah. Ify lantas membuyarkan keterpanaannya lalu mendorong pelan
dada Rio hingga tercipta jarak diantara mereka.
Kali
ini Ify salah tingkah. Benar-benar salah tingkah.
“sorry…”
ujar Rio pelan.
“ya
udah, gue mau nyusul Nyokap kedalem dulu”
Fitry
dan Desy tiba-tiba muncul saat Ify akan kembali melanjutkan langkahnya. Mereka
menghalangi Ify dan seolah tidak memberikan jalan untuk Ify.
“mau
kemana, Fy?” Tanya Fitry. Ify masih merasa gugup, tapi sebisa mungkin ia
berusaha untuk tetap terlihat santai.
“mau
nyusul Mama kedalem” jawab Ify apa adanya.
Fitry
dan Desy saling menatap satu sama lain seraya tersenyum penuh arti. Jauh
didalam dadanya Ify sudah mewanti-wanti akan satu hal.
“kamu
udah kenal Rio, Fy? Kalian kan satu sekolah” kali ini giliran Desy –Mama Rio-
yang bertanya.
Ify
menoleh kearah Rio yang saat ini sudah berdiri disampingnya. Mereka saling
menatap beberapa detik sebelum akhirnya Ify kembali mengalihkan tatapannya pada
Desy.
“kami
emang satu sekolah, Tan. Tapi aku gak kenal Rio. Aku Cuma tau nama sama mukanya
aja” Ify berusaha menjawab dengan apa adanya. Namun Ify dapat menangkap ada
sesuatu yang ganjil dari air muka Desy. Air mukanya mendadak berubah begitu Ify
menyampaikan bahwa ia hanya sekedar tahu nama dan muka Rio saja, tidak lebih.
Mimic wajah Desy seakan mengisyaratkan bahwa jawaban yang Ify lontarkan itu
sama sekali jauh dari ekspektasinya.
Desy
lalu melempar tatapannya kearah Rio yang justru dibalas oleh Rio dengan
mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
“Fy,
Rio ini murid kesayangan Papa di Skyhigh Music” terang Fitry yang berusaha
mencairkan suasana. Ify sedikit kaget.
“hah?
Rio kursus di Skyhigh? D… dia murid kesayangannya Papa? Kok bisa?” Ify nyaris
saja tidak percaya. Fitry dan Desy mengangguk sebagai jawaban iya.
Fitry
pun buru-buru merangkul lengan Ify. Sambil menatap Rio, Fitry berkata,
“Tanya
aja langsung sama orangnya, Fy. Dan supaya kamu bisa nanya-nanya, kenapa kamu
gak keluar sama Rio? Daripada kamu bosen sendirian disini? Kayaknya acara
arisan ini bakalan berlangsung sampai sore deh. Rio mau kan nemenin Ify
jalan-jalan?”
“idih…
Si Mama apa-apaan sih?” Ify buru-buru menepis. Apa yang barusan diucapkan oleh
Mamanya kontan saja menimbulkan semburat warna merah pada kedua pipi tirusnya.
Rio
mengangguk dengan senyuman puas yang terlukis diwajah manisnya.
“dengan
senang hati, Tante” jawabnya.
“tapi
aku gak mau, Ma…” tolak Ify mentah-mentah.
“Ify
gak boleh gitu. Rio nya udah mau lho…”
Ify
menatap Rio yang sedang menatapnya dengan pandangan yang benar-benar memohon.
Dan jika Ify tidak keliru, ia melihat sebentuk harapan yang terpeta dengan
begitu jelas pada kedua mata jernih milik Rio. Dan Ify, bukan tipe cewek yang
tega mengecewakan seseorang, entah siapapun itu.
Ify
akhirnya mengangguk sebagai tanda setuju. Ia pun telah kalah.
♫♫♫
Manhattan,
New York…
Langit
senja di Manhattan perlahan mulai menggelap, Alvin terlihat duduk santai
disalah satu meja di Plaza Times Square sambil menikmati secangkir cappuccino
kesukaannya. Alvin selalu menyukai langit senja, baginya suasana senja selalu
membuat perasaannya terasa jauh lebih baik. Di Plaza yang merupakan area
terbuka di tengah jalan Broadway yang juga merupakan zona bebas kendaraan itu
tampak orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukan mereka. Beberapa dari mereka
juga -termasuk Alvin- ada yang memilih untuk duduk saja dimeja yang sudah
disediakan di Plaza itu.
Alvin
duduk merenung sambil sesekali menyeruput capuccionya. 2 hari lagi, Alvin akan
meninggalkan New York dan kembali ke tanah air. Dibalik perasaan semarak yang
ia rasakan karna sebentar lagi ia akan pulang, ada sedikit perasaan tidak rela yang
juga melingkupi dirinya.
Tiga
bulan menjalankan program student
exchanges di kota yang dijuluki sebagai Ibu Kota dunia ini membuat Alvin
betah berlama-lama di New York. Selama tiga bulan ini, kota New York sudah
memberikan kesan yang cukup berarti bagi seorang Calvin Nicholas.
Diantara
banyaknya alasan yang membuat Alvin agak tidak rela meninggalkan kota ini, ada
satu alasan lagi yang membuatnya ingin tinggal dan menetap dikota ini lebih
lama lagi. Salah satu alasan itu kini tengah berjalan dihadapannya dengan
begitu anggun sambil memamerkan senyumnya yang selalu tampak menarik.
Dia
adalah Prissy Alexandra. Seorang gadis cantik blasteran Italy-Indonesia yang
Alvin kenal sejak 3 bulan yang lalu disekolahnya. Sejak pertama kali bertemu,
Alvin sudah jatuh hati pada kecerdasan gadis itu. Tidak butuh waktu yang lama,
Alvin dan Prissy akhirnya mulai dekat dan semakin dekat. Bahkan teman-teman
disekolahnya menganggap bahwa Alvin dan Prissy telah berkencan. Kabar bahwa
mereka telah berkencan tidak hanya sekedar gossip tapi fakta.
Prissy
duduk dihadapan Alvin. Aroma orange yang begitu khas dari parfum yang ia
kenakan menguar dan menimbulkan rasa segar dibenak Alvin.
“sudah
lama, Calvin?”
“emmm…
lumayan” jawab Alvin tanpa bisa menahan senyumnya, “by the way… ada apa kamu tiba-tiba ngajak aku ketemuan disini?”
Entah
kenapa, Prissy terlihat gusar saat mendengarkan pertanyaan yang Alvin
lemparkan. Senyuman cantik itu tidak lagi menghiasi wajahnya.
“Priss…
kenapa diem? Tell me why” Alvin mau
tidak mau juga jadi ikut gusar. Salah satu tangannya menyentuh dagu Prissy dan
mengangkatnya hingga wajah mereka saling berhadapan satu sama lain.
“Calvin…”
Prissy menurunkan tangan Alvin yang menyentuh dagunya lalu mengenggenggamnya
erat seakan tidak ingin melepaskan. “I love
you, you know that. But I think –“ Prissy menggantungkan kalimatnya dan
semakin terlihat gusar. Sementara Alvin, ia mulai merasakan sebuah firasat
buruk. “You think?” Tanya Alvin
takut-takut.
“I’m sorry, I think I want to stop here…”
Merasa
bahwa Prissy hanya sedang bergurau saja, Alvinpun tertawa. Rasa bersalah itu
semakin memeluk eratnya. Andai ada yang bisa Prissy lakukan untuk
mempertahankan hubungan mereka.
“what do you mean? Apa baru saja kamu mau
bilang kalo kita putus? Hahaha are you
kidding?”
“Calvin
aku gak becanda, please dengerin aku
dulu”
“kamu
barusan bilang kalo kamu sayang sama aku, hanya selang beberapa detik kamu
terus bilang kalo kamu ingin berhenti sampai disini? Kamu pikir hubungan kita
sebercanda itu? Hm?”
“Calvin, please. Listen to me, aku –“
“dan
sekarang apa kamu juga mau bilang kalo selama 2 bulan ini kamu Cuma pengen
main-main aja sama aku, iya?” Alvin kembali menyela dengan tidak sabarnya.
Prissy semakin frustasi.
“kamu
jahat tau gak? Kamu tuh –“
“demi
Tuhan, kamu sebentar lagi bakalan pulang ke Indonesia. Aku gak mau jauh dari
kamu, aku gak bisa. Tapi satu-satunya cara yang bisa aku lakuin adalah
ngelepasin kamu, Calvin. I don’t want to
lose you, tapi ini adalah jalan terbaik satu-satunya yang bisa aku lakuin
untuk nyelametin hati kita…”
“nyelametin
hati kita?”
“kita
gak bisa ngejalanin LDR” Jawab Prissy dengan mantap.
“tapi
aku bisa!”
“tapi
aku yang gak bisa”
“yang
itu berarti kamu gak bisa ngasih kepercayaan kamu buat aku?”
Kali
ini Prissy tidak menjawab. Ia hanya tertunduk seraya berusaha keras menahan air
matanya. Ia tidak ingin menangis. Ia ingin kuat. Dan kediaman Prissy itu
membuat Alvin bisa menarik satu kesimpulan. Prissy memang benar-benar ingin
menuntaskan hubungan mereka.
Alvin
menghela napas panjang. Ia berusaha mengontrol emosinya sebisa mungkin, dan
sebisa mungkin juga Alvin tidak ingin lepas control.
Setelah
merasa cukup tenang, Alvin memasang jaketnya lalu menyelempangkan tasnya. Ia
sudah bersiap-siap untuk pergi.
“baik
kalo itu mau kamu. Aku juga gak bisa maksa-maksain kamu seenaknya. Oke kalo
kamu mau putus…” Alvin menghela napas panjang dan menahan sesak didadanya
sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, “aku ikutin mau kamu. Mulai
sekarang… kita selesai”
Prissy
memejamkan kedua matanya lalu membiarkan sebulir air matanya lolos begitu saja.
Bagi
Alvin, semua apa yang telah ia lewati bersama Prissy selama 2 bulan terakhir
mendadak menjelma menjadi sebuah mimpi indah yang kemudian lenyap saat ia
terjaga. Dan saat ini, Alvin telah terjaga dalam keadaan remuk redam.
‘kamu langit, dan aku hanya setitik awan
yang berusaha menggapaimu. Sejak awal aku tahu tak akan berhasil, tapi aku
terus mencoba. Sekarang, tanpa pernah aku duga… akulah yang terluka. Seindah
apapun langit, langit tetaplah langit. Kita hanya bisa memandang birunya dari
kejauhan tanpa pernah bisa menggapainya… selamat tinggal Prissy… selamat
tinggal New York…’
♫♫♫
The
Arion’s Café…
“Papa
lo kan punya sekolah music, kenapa gak masuk di SkyHigh?”
Tanya
Rio yang sejak tadi benar-benar merasa penasaran kenapa Ify tidak tergabung
disekolah music yang dibangun oleh orangtuanya sendiri. 30 menit sudah mereka
duduk dicafe milik keluarga Rio ini, dan selama 30 menit ini juga Ify tahu-tahu
sudah merasa begitu nyaman dengan Rio. Meski enggan mengakuinya, ternyata Rio
tidak semenyebalkan seperti apa yang ia pikirkan selama ini.
Ify
baru tahu, bahwa Rio adalah sosok cowok yang friendly dan cukup asyik untuk dijadikan teman ngobrol. Dan sejak
tadi pula, tanpa Ify sadari, ia telah hanyut dalam tawa dan canda yang Rio
tawarkan.
“Papa
ngelatih gue dirumah. Semua alat music, mulai dari gitar, piano, biola bahkan
drum diajarin. Tapi gue lebih konsen ke
piano sama nyanyi…”
“Oya? Keren!” puji Rio. Salah satu alis Ify
terangkat, “siapa yang keren?” tanyanya kemudian. Rio terdiam sejenak untuk
berpikir sebelum akhirnya menjawab,
“Bokap
lo lah… haha… siapa sih di Indonesia ini yang gak mengakui kekerenan seorang
musisi besar seperti Anton Bramantya?”
“lo
beneran ngefans sama Papa?” Tanya Ify untuk meyakinkan dirinya.
“BANGET!
Makanya gue sampe masuk ke SkyHigh Cuma untuk supaya bisa dilatih sama Om Anton
langsung”
Ify
hanya mengangguk. Setelah itu, tidak terjadi obrolan apa-apa lagi diantara
mereka. Ify dan Rio kembali menyaksikan penampilan Dea diatas panggung yang
sedang membawakan lagu ‘CINTA’ miliknya Melly Goeslow. Dea sendiri adalah
sepupu Rio yang juga menjadi penyanyi di café milik keluarga Rio.
Beberapa
kali, tanpa Ify sadari, Rio diam-diam mencuri pandang kearah Ify yang tampak begitu
kagum dengan suara merdu Dea. Dari samping, Rio bisa melihat dengan jelas wajah
cantik Ify. Ternyata jika dilihat dari jarak yang sangat dekat, Ify bahkan
lebih cantik dari apa yang terlihat selama ini. Dan seumur hidupnya, Rio akan
selalu mengingat moment ini. Moment dimana untuk yang pertama kalinya ia bisa
jalan, mengobrol, dan sangat dekat dengan Ify. Rio tidak akan pernah melupakan
hari ini.
Ify
akhirnya sadar bahwa ada sepasang mata yang sedang menatapnya dalam diam. Ify
lalu menoleh kearah Rio. Tapi sebelum Ify sempat melihatnya, Rio buru-buru
membuang wajahnya dan memberikan tepuk tangan serta teriakan yang heboh saat
Dea menyelesaikan lagunya diatas panggung.
Saat
Dea turun dari panggung, Rio tiba-tiba bangkit dari bangkunya,
“Fy,
gue kesana bentar ya? Lo tunggu disini!” Ify hanya mengangguk sebagai tanda
setuju.
Rio
tersenyum lalu menaiki panggung dan membuat perhatian seisi café tersedot
kearahnya. Rio berdiri didepan microphone
dan mulai membuka pembicaraan.
“oke,
untuk semua pengunjung The Arion’s Café, sore ini gue dan teman gue akan
berduet dan menyuguhkan sebuah penampilan yang sangat istimewa untuk kalian
semua. Harapan gue, semoga kalian semua terhibur”
Perasaan
Ify mulai tidak enak. Jangan-jangan teman duet yang dimaksudkan oleh Rio adalah
Ify sendiri? Dan benar saja, belum tuntas rasa heran Ify, Rio langsung
memanggil namanya dan ‘memaksa’nya untuk segera naik keatas panggung.
“buat
temen saya, Melodify Clara, silahkan naik keatas panggung” ujar Rio sambil
menunjuk kearah Ify. Ify yang kaget kontan saja menunjuk dirinya sendiri seraya
berkata, “GUE?!”
Ify
baru saja ingin menolak. Tapi saat semua pengunjung café meneriakan namanya
sambil bertepuk tangan, Ify malah bingung harus berbuat apa.
“ato…
apa perlu lo gue jemput kesana?” Tanya Rio yang sengaja ingin meng-ultimatum
Ify. Ify yang tidak bisa berbuat apa-apa
lagi akhirnya melangkah ragu keatas panggung.
Segera
setelah Ify berdiri diatas panggung, Rio pindah posisi. Ia duduk dihadapan
sebuah grand piano hitam.
“elo
yang nyanyi, gue yang ngiringin” Rio memberikan aba-aba.
“lagu
apa? Gue belom siep” ujar Ify setengah berbisik.
“lagu
favorit lo…”
“apa?”
Tanpa
menjawab pertanyaan Ify, Rio langsung saja memainkan tuts-tuts itu dengan jari
jemari terampil miliknya. Dan saat sebuah nada yang begitu Ify kenal berdenting
pelan, Ify semakin heran. Lagu itu benar-benar lagu favoritnya. Tapi
pertanyaannya adalah: darimana Rio tahu kalau lagu itu adalah lagu favorit Ify?
Saat
intro lagunya telah selesai, Ify langsung bernyanyi. Menyanyikan salah satu
lagu yang paling ia favoritkan:
“All I knew this morning when I woke,
Is
I know something now
I
didn’t before
And
all I’ve seen,
Since
18 horus ago
Is
green eyes and freckles and your smile
In
the back of my mind making me feel like
I
just want to know you better
Know
you better, know you better now
I
just want to know you better,
Know
you better, know you better now
I
just want to know you, know you, know you
Cause
all I know is we said hello
And
your eyes look like coming home
All
I know is a simple name
Everything
has changed
All
I know is you held the door
You’ll
be mine and I’ll be yours
All
I know since yesterday
Is
everything has changed…”
Ify
menyanyikan lagu itu sambil sesekali melirik diam-diam kearah Rio yang tengah
focus memainkan grand piano yang ada didepannya. Dan untuk pertama kalinya, Ify
merasa sangat penasaran dengan Rio. Darimana Rio tahu kalau lagu yang sedang ia
bawakan sekarang ini adalah lagu favoritnya?
“And
all my walls,
Stood
tall painted blue
And
I’ll take’em down, take ‘em down
And
open up the door for you
And
I feel in my stomach is butterflies,
The
beautiful kind
Making
up for lost time
Taking
flight making me feel like…
I
just want to know you better,
Know
you better, know you better now
I
just want to know you, know you, know you
Come
back and tell me why
I’m
feeling like I’ve missed you all this time
And
meet me there tonight
And
let me know that it’s not all in my mind
I
just want to know you better,
Know
you better, know you better now
I
just want to know you, know you, know you
All
I know is we said hello
So
dust off your highest hopes
All
I know is pouring rain
And
everything has changed
All
I know is a new found grace
All
my days I’ll know your face
All
I know since yesterday is
Everything
has changed…”
(Taylor
Swift ~ Everything Has Changed)
“Darimana
lo tahu kalo gue suka lagu Everything Has Changes?” Tanya Ify yang merasa
benar-benar sudah tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu, Ify dan
Rio sudah berada diparkiran, mereka telah bersiap-siap untuk pulang. Rio bahkan
sudah menaiki Ninja putihnya.
Rio
mengurungkan niatnya untuk memasang helm nya. Ia tersenyum sejenak, saat tangan
kananya nyaris mendarat dipuncak kepala Ify, Ify langsung menepisnya. Sial! Apa
sekarang kedua pipinya yang tidak bisa diajak bekerja sama ini memerah lagi?
Ify harap tidak.
“lo
bener-bener pengen tahu?”
Ify
hanya mengangguk sebagai jawaban iya. Rio tersenyum mencibir yang akibatnya
membuat Ify kesal setengah mati. “lo stalker,
ya?” Tanya Ify tanpa mau berpikir panjang. Namun bukannya menjawab, Rio malah
tertawa geli.
“iiii
pinter…” kata Rio seraya bertepuk tangan. Ify kembali menampakan wajah
judesnya.
“RIO!
GUE SERIUS” Ify mulai tak tahan.
“oke,
kayaknya lo bener-bener pengen tahu…”
Ify
melipat kedua tangannya didepan dada sambil membuang wajahnya kearah lain. Rio
terlalu banyak basa-basi, dan ini mulai memuakkan.
“gue
akan ngasih tahu, kalo malem minggu nanti lo mau jalan sama gue”
“APAA?!”
♫♫♫
SMA
Patuh Karya…
Via
keluar dari ruang TU setelah mengurus surat-surat kepindahannya dan segala
keperluan yang ia butuhkan. Setelah menempuh proses yang lumayan menyita waktu,
akhirnya hari senin nanti, disemester baru, Via akan resmi tercatat sebagai
salah satu siswi di SMA Patuh Karya ini. Via tersenyum lega. Besok ia hanya
tinggal mengambil seragamnya dan semuanya akan beres.
Via
baru ingat sesuatu. Tadi Metta menyuruhnya pergi ke Airport untuk menjemput
anak sulungnya yang hari ini baru kembali dari New York. Via menepuk keningnya
sendiri. Ia nyaris saja telat.
“aaaa….
Apa dia udah nyampe? Aku hampir telat” Via memasukan map nya kedalam tas lalu
segera berlari ke parkiran.
Cakka
yang saat itu sedang berlatih basket bersama beberapa kawannya dilapangan
sekolah tanpa sengaja melihat Via yang tengah berlari-larian dari ruang TU.
Cakka terdiam sejenak untuk berpikir. Setelah yakin bahwa gadis itu adalah
gadis angkuh yang ia temui beberapa hari yang lalu dilapangan komplek, sebuah
ide yang menurutnya sangat brilian tiba-tiba terbersit dikepalanya. Cakka
tersenyum licik.
“dia
pasti murid baru disini. TU, gue harus segera ke TU…”
♫♫♫
Sial!
Via terjebak macet, sementara jarum jam dipergelangan tangannya sudah
menunjukan pukul sepuluh lewat. Via pasti telat, dan anak sulung Metta pasti
sudah menunggu lama.
“Pak
Yusuf, ini bener-bener gak ada jalan ya?” Tanya Via pada sang supir.
“iya
Non, ini bener-bener macet total. Kayaknya ada kecelakaan didepan”
“ya
udah Pak, aku turun disini aja. Lagian bandaranya juga udah deket. Nanti Pak
Yusuf aja yang jemput kami di bandara”
“tapi
Non, apa gak apa-apa?”
“gak
apa-apa, Pak. Lagian, kasian Calvin kalo harus nunggu lama…”
“ya
sudah, Non. Hati-hati ya?”
“Iya,
Pak…”
Via
pun turun dari sedan hitam yang sejak tadi membawanya. Tidak ingin lebih telat
lagi dari ini, Via memutuskan untuk berlari.
Pukul
sepuluh lewat lima belas, Via tiba di bandara dengan desauan napas yang tidak
teratur. Dari dalam tasnya, Via mengambil sebuah kertas HVS dan spidol. Diatas
kertas itu, Via menulis sebuah nama: “CALVIN NICHOLAS”
Via
menyelip diantara kerumunan orang-orang yang juga sedang menjemput rekannya.
Via mengangkat papan nama yang barusan ia tulis tinggi-tinggi. Tapi hingga 10
menit berlalu, Calvin yang ia tunggu-tunggu tidak juga muncul. Pada menit
ke-20, Via akhirnya menyerah. Sepertinya Calvin sudah pulang terlebih dahulu
karna terlalu lama menunggu.
Via
berjalan lesu keluar dari airport. Ia kecewa pada dirinya sendiri karna
tidak mampu memegang kepercayaan yang
Metta berikan. Lalu apa yang harus ia katakan pada Metta dan Adryan jika ia
pulang nanti dan ternyata Calvin sudah ada dirumah. Via pasti akan sangat malu
pada kedua orangtua angkatnya itu.
Merasa
benar-benar kesal pada dirinya sendiri, Via menendang kaleng bekas yang
tergeletak malang dipinggir jalan. Akibat tendangannya yang cukup keras, kaleng
itu mendarat dengan sempurna dikepala seorang preman berkepala pelontos. Preman
itu tengah berjalan bersama 2 rekannya yang lain.
“ups…”
Via membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari apa yang baru saja
ia lakukan. Ketiga preman itu menoleh kebelakang dan menatap Via dengan tatapan
yang benar-benar ingin memakan Via hidup-hidup.
“maaf,
Om… aku gak sengaja” tutur Via penuh penyesalan bercampur rasa takut. Kedua
matanya sudah celinguk kesana kemari mencari penampakan Pak Yusuf.
“bocah
kurang ajar! Lo mau nyari mati? Hah?”
“gak
Om… aku masih mau hidup! Aku juga belom nikah Oooomm….” Ucap Via memelas sambil
mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
“sikat
aja sikaaaat!!” timpal salah satu dari ketiga preman itu.
“AMPUN
OM, AMPUUUUUUNNNN!!!”
Ketiga
preman itu mulai mendekati Via. Via sudah ingin kabur, tapi entah kenapa
mendadak kedua kakinya terasa kaku dan sulit untuk digerakan. Via pun memilih
pasrah dan memejamkan kedua matanya kuat-kuat.
Tepat
saat preman itu akan tiba dihadapannya, seseorang yang tak dikenal tiba-tiba
saja berdiri tepat didepan Via dan menutupi tubuhnya, atau lebih tepatnya
melindungi Via.
“kalian
preman jelek! Cemen! Beraninya Cuma sama cewek, udah gitu main keroyok lagi.
Malu sama title preman kalian…”
Via
langusung membuka kedua matanya saat mendengar satu suara yang cukup asing
dipendengarannya. Via lalu menatap cowok itu dengan seksama, tidak lama Via
akhirnya tahu kalo cowok yang saat ini sedang melindunginya adalah Calvin. Anak
sulung dari Metta dan Adryan.
“hadepin
gue kalo berani!” ucap Alvin dengan menantang.
“cissshhh…
anak ingusan mau coba-coba ngelawan gue? Siepin liang lahat mu setelah ini,
Nak!”
Baru
saja Alvin akan memulai aksinya untuk menghajar ketiga preman itu, Via malah
menarik pergelangannya dan membawa Alvin kabur dari tempat itu.
“kita
sebaiknya pergi dari sini! Gue belom sempet nyiepin liang lahat gue”
“heh!
Lo apa-apaan sih?”
Alvin
dan Sivia mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk berlari sekuat-kuatnya.
Sementara ketiga preman tadi terus mengejarnya.
“berhenti
sekarang! Gue masih sanggup ngadepin ketiga preman jelek itu” Alvin bersikeras
ingin berhenti. Tapi Via tidak sedikitpun mengijinkannya.
“sehebat
apapun lo, kalo Cuma sendiri ngadepin mereka, bisa abis lo!”
“HEH!”
Saat
preman itu semakin mendekat, Alvin dan Viapun semakin mempercepat lari mereka.
Kali ini Alvin sudah tidak banyak bicara lagi. Sepertinya gadis cemen ini
benar.
“maaf
gue telat ngejemput lo di Bandara” ujar Via menyampaikan permintaan maafnya
dengan desauan napas yang tidak teratir.
“maksud
lo?” Tanya Alvin tidak paham. Alvin memang belum mengetahui apapun tentang Via.
“lo
Calvin Nicholas kan?”
“iya,
kok lo bisa tau?” Alvin semakin heran.
“Gue
Via. Anak angkat Mama Metta dan Papa Adryan…”
Bruk!
Via tiba-tiba saja terjatuh sesaat setelah ia menyelesaikan perkataannya. Via
meringis kesakitan. Lulutnya terluka dan mengeluarkan darah. Melihat preman itu
yang semakin dekat, Alvin malah panic. Ia pun buru-buru menarik tangan Via dan
kembali membawanya berlari.
To Be Continued….

