Monday, January 19, 2015

1

S K Y L O V A [PROLOG - CHAPTER 1)




P R O L O G


          CINTA? Ia tidak serta merta turun dari langit tanpa alasan yang tidak terjelaskan. Cinta pasti tercipta karna sebuah alasan yang turut menyertainya… Hanya saja, orang-orang tidak pernah benar-benar tahu alasan mengapa cinta itu ada. Yang mereka tahu hanyalah, ketika mereka mencintai, semuanya terasa indah, semuanya terasa sangat adil. Yang mereka tahu, bahwa ketika cinta menyapa, alasan tidak begitu penting meskipun keberadaannya tidak bisa dibantahkan.
            Aku, dia, langit, dan serentetan kisah panjang ini akan mencari alasan mengapa cinta itu ada…”



♫♫♫

Lombok, 2010

Adryan & Metta,

    Adryan, Metta… Maaf jika kematianku ini malah merepotkan kalian. Tapi kalian sahabat yang aku kenal satu-satunya, hanya kalian yang dapat aku percaya. Sekali ini saja, bisakah aku meminta bantuan kalian?
     Dipanti asuhan Sayap Bunda, aku memiliki seorang anak perempuan. Kalian bisa mencarinya dengan nama Gisselavia Garneta. Rawat Via untukku. Bawa dia pulang bersama kalian ke Jakarta. Dan tolong jaga dia seperti kalian menjaga anak kalian sendiri. Sahabat… hanya kalian yang dapat aku percaya untuk menjaganya.
     Sekali lagi maafkan aku jika kematian ku ini merepotkan kalian…

Salamku…
Sylvia


            Adryan menatap Metta dengan pandangan meminta persetujuan. Tidak perlu menunggu lama, Metta langsung menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Toh mereka sudah mengenal Sylvia sejak mereka masih kanak-kanak. Mereka sudah bersahabat baik dengan Sylvia. Dimasa lalu, Sylvia bahkan membantu usaha Adryan hingga sekarang Adryan menjadi seorang  bisnismen yang sukses dibidangnya. Bagi Adryan dan Metta, tidak ada alasan untuk menolak permintaan terakhir Sylvia, sahabat mereka.
            Maka pada keesokan harinya, Adryan dan Metta langsung berangkat ke Panti Asuhan yang Sylvia sebutkan dalam surat. Di panti itu, kedatangan mereka disambut hangat oleh kepala panti.
            Adryan dan Metta langsung diperkenalkan dengan Via, anak kandung dari Sylvia yang ia tinggalkan pergi untuk selamanya. Diawal, baik Adryan maupun Metta sempat berpikir bahwa Via adalah sosok gadis remaja pendiam yang tertutup apalagi sejak kepergian Mamanya 2 bulan yang lalu. Tapi pikiran mereka itu langsung terbantahkan, saat senyuman hangat serta pancaran penuh cinta terpancar dari sepasang bola mata jernih milik Via.
            “Kalian… Om Adryan sama Tante Metta, kan? sahabat Mama?” Tanya Via dengan pancaran mata berbinar. Adryan dan Metta saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya mengangguk secara bersamaan.
            Senyuman diwajah remaja 16 tahun itu kian melebar. Via lalu meraih tangan Metta dan Adryan secara bergantian seraya menyebutkan namanya.

            “Aku Via… Gisselavia Garneta. Mama sering cerita tentang Om dan Tante…”
            Metta memegang salah satu pundak Via. Ia menatap Via untuk beberapa saat lalu memeluknya erat.

            “panggil kami, Mama dan Papa. Mulai sekarang kami adalah orangtua mu, Nak…”



♫♫♫













Chapter 1


SMA Patuh Karya…

            “RIO! RIO! RIO! RIO!” Sorakan dari penonton yang memenuhi lapangan indoor SMA Patuh Karya dipagi menjelang siang itu semakin membahana saat Rio hendak melakukan tembakan didetik-detik akhir pertandingan basket yang dilakukan dalam rangka memeriahkan acara Class Meeting. Rio kian bersemangat. Satu orang dideretan bangku penonton dengan seraut wajah tidak pedulinya, justru berhasil membakar semangat Rio. Rio tersenyum. Ia melakukan lay-up dengan sempurna lalu memasukan bola itu kedalam ring dengan gayanya yang selalu terlihat elegant.
            Semua penonton, terutama penonton dari kelasnya semakin menggila. Dan ketika wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan yang sekaligus juga merupakan tanda kemenangan bagi kelas Rio, semua teman-teman sekelasnya langsung berlari ketengah lapangan untuk menyerbu Rio.
            “ERGH SHIT!!” Erang salah satu cowok dari tim kelas lawan dengan kesal. Meski kesal, ia juga turut senang atas kemenangan yang diraih oleh sahabatnya itu. Dialah Cakka, salah satu sahabat kental Rio yang juga tergabung dalam tim basket SMA Patuh Karya. Meskipun Cakka adalah kapten dalam tim inti, tapi tetap saja ia tidak bisa mengalahkan Rio dipertandingan class meeting kali ini.
            Rio menatap Cakka, ia tersenyum mengejek kearah cowok berwajah tampan itu sambil membalik jempolnya. Cakka mendengus. Kali ini Rio boleh sombong, tapi di tim inti, Cakka tetap adalah kaptennya. Awas saja nanti, Cakka akan menghukum Rio atas kekalahannya ini.
            “ARION ARISTO EMANG KEREEEEN!!!” Teriak Shilla penuh semangat yang langsung disambut oleh lirikan sengit dari salah satu sahabatnya, Ify.
            Ify mengangkat salah satu alisnya tinggi-tinggi, lalu dalam satu sentakan kuat ia membalik tubuh Shilla hingga berhadapan dengannya.
            “Heh Shilla! Tim kelas kita kalah. Kenapa lo malah heboh neriakan namanya si Rio? Gak solid banget sih sama temen kelas?!”
            “bodo! Yang penting Prince Charming gue menang” ujar Shilla tak peduli lalu menjulurkan lidahnya. Ify hanya menggeleng tak percaya lalu kembali mengalihkan tatapannya ketengah lapangan yang sudah dipenuhi oleh teman-teman kelas Rio.
            Entah Ify sedang keliru atau tidak, tapi dari tengah lapangan sana, Ify menangkap basah Rio yang sedang menatap dirinya seraya tersenyum lebar. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Rio mengedipkan mata sebelah kirinya saat sadar bahwa Ify menatapnya.
            Ify kaget. Apaan-apan tuh? Memangnya dia sebegitu cakepnya sampai-sampai berani melirik Ify seperti itu?


♫♫♫

            Shilla berdiri didepan pintu Kafetaria dengan gugup sambil diam-diam mengintip keadaan didalam. Didalam sana, tampak Rio bersama beberapa teman kelasnya juga sahabat-sahabatnya sedang berkumpul melakukan selebrasi kecil-kecilan. Kedua tangan Shilla memegang  sekaleng minuman isotonic yang ingin ia berikan pada Rio usai pertandingan tadi.
            Shilla menghela napas panjang dan berusaha mengumpulkan nyalinya untuk memberikan Rio minuman. Ini sudah setengah perjalanan, Shilla tidak akan menyerah hanya gara-gara ia mendadak gugup seperti ini.
            Shilla melangkah pasti kedalam Kafetaria dan menghampiri meja Rio CS.
            “Hay Yo…” sapanya berusaha terdengar santai dan wajar.
            Rio yang sejak tadi tertawa bersama kawan-kawannya langsung menghentikan tawanya saat sebuah suara lembut menyapa gendang telinganya. Sementara Gabriel, ia langsung membeku ditempat saat menyadari kehadiran Shilla, mantan pacarnya.
            “eh, Shill? Ada apa?”
            Cakka, dan teman-temannya yang lain minus Gabriel, sudah mulai terlihat berbisik-bisik satu sama lain. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan siswa-siswi SMA Patuh Karya, termasuk Gabriel, bahwa Shilla begitu mengagumi Rio sejak ia resmi putus dari Gabriel 4 bulan yang lalu.
            “gue punya minuman buat lo. Nih!” Shilla menjulurkan kaleng minuman itu. Sebelum menerimanya, Rio sempat berpikir sejenak.
            “thanks, Shill!” kata Rio manis sambil menunjukan minuman itu pada Shilla. Dan sumpah, saat melihat senyuman Rio yang begitu manis, Shilla seolah-olah terbang ke langit ke-7. Hampir 4 bulan mengangumi sosok Rio, ini baru pertama kalinya Shilla merasa sesenang ini saat Rio memberikannya seulas senyuman. Saat Shilla merasa begitu senang, Gabriel justru merasakan sebaliknya. Seakan-akan ada sebuah silet yang menyayat habis jantungnya.
            Shilla pergi meninggalkan Kafetaria dengan hati berbunga. Dan ketika Shilla sudah benar-benar menghilang dari pandangannya, Rio langsung saja melemparkan minuman yang diberikan Shilla tadi pada Gabriel. Dengan sigap Gabriel menerimanya.

            “Buat lo!” Rio tersenyum miring lalu keluar dari Kafetaria tanpa mengucapkan sepatah katapun.
           

♫♫♫

New York, 20:15 pm

            Dering ponselnya membuat Alvin dengan terpaksa menghentikan aktifitas makan malamnya untuk sesaat. Alvin membuka ponsel dan melihat nama ‘Cakka Raditya’ tertera pada layar. Alvin menggeser tombol hijau dan dengan santai meletakan ponselnya ditelinga.
            “ada apa, Kka? Lo gangguin makan malem gue tau?” protesnya tanpa mengucapkan hallo diawal kalimat.
            Dari sebrang sana, Cakka  terdengar mendesah kesal.
            “cihhh… lo pasti udah lupa jalan pulang!” tandasnya dengan nada yang tidak kalah kesalnya. Alvin hanya tersenyum. “student exchanges lo berakhir seminggu yang lalu, bukannya seharusnya hari ini lo udah tiba di Jakarta? Terus kenapa gak nongol? Lo tau, gara-gara lo kelas kita kalah tanding basket ngelawan kelasnya Rio…”
            “bukan salah gue. Usaha lo yang kurang maksimal…” ujar Alvin diplomatis. Saat itu juga Cakka langsung memutar kedua bola matanya.
            “oke Tuan Jenius… jadi kapan rencananya lo bakalan tiba di Jakarta?” putus Cakka yang tidak ingin berdebat panjang lebar lagi dengan Alvin yang terkenal paling jenius satu sekolah. Melawan Alvin berdebat seperti ini bukan perkara gampang bagi siapapun.
            “gue masih banyak urusan disini, sekalian juga gue mau refresh otak. 2 minggu lagi, hari pertama di semester 2 kita ketemu. Salam buat anak-anak yang lain”
            Dan tuuut… Alvin langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa mengucapkan salam penutup. Alvin tersenyum jahil. Bisa ia bayangkan bagaimana reaksi Cakka saat ini.



♫♫♫


            Via terkesima melihat dekorasi kamarnya dirumah barunya saat ini. Dekorasi kamarnya ini bahkan jauuuh lebih bagus dari dekorasi kamarnya yang dulu. Wallpaper dengan tema langit biru berawan menghiasi setiap bagian dinding dengan sempurna. Via melepas kopernya, ia lantas membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Benarkah kamar ini miliknya? Ini bahkan terlampau indah dari apa yang dapat ia bayangkan.
            “ini kamar aku kan? aaaa…. Gilaaa!! Ini keren banget”
            Seseorang tiba-tiba memegang kedua pundak Via dari belakang dan berdiri disamping Via sambil menatap kamar itu berkeliling. Dialah Metta, Mama angkatnya.
            “kamu suka dekorasinya, Via?”
            “Via suka banget, Ma? Darimana Mama tahu kalo aku suka langit?”
            “karna mendiang Mama kamu suka langit, jadi Mama pikir kamu juga suka….”
            Via menatap Metta dengan pandangan terharu. Tidak pernah ia sangka sebelumnya bahwa ia akan diterima dengan begitu hangat dirumah mewah ini. Metta bahkan tahu pasti apa yang Via suka tanpa perlu repot-repot bertanya. Jujur saja, Via merasa seakan-akan ditarik dalam sebuah dunia dongeng. Jika ini hanyalah mimpi, Via bersumpah tidak ingin terbangun untuk selamanya.
            Via lalu menghambur kedalam pelukan Metta. Sebisa mungkin ia berusaha keras agar tidak menitikan air mata setetespun, seperti janjinya pada mendiang Mamanya beberapa saat sebelum Tuhan memanggilnya untuk selamanya.
            “Mama…” seorang gadis yang berusia sekitar 13 tahun memasuki kamar Via sambil memanggil Metta dengan sebutan Mama.
            Metta dan Via langsung mengurai pelukan mereka lalu sama-sama melihat kearah gadis cantik bermata sipit dan berambut panjang itu. Dialah Angel, anak perempuan Metta dan Adryan.
            “Hay sayang…” sapa Metta.
            “ini Kak Via? Kakak baru aku?” Tanya Angel antusias. Metta hanya mengangguk seraya tersenyum lebar.
           
            “Yeeee!! Angel akhirnya punya Kakak cewek….”
            Angel menghambur kedalam pelukan Via dan memeluknya seerat mungkin. Angel senang, benar-benar senang karena akhirnya ia mempunyai seorang Kakak perempuan seperti apa yang Angel inginkan selama ini.

♫♫♫


            Pagi hari, sekitar pukul 08.00, Via memutuskan untuk berjalan-jalan keliling komplek. Tadi sebenarnya Via ingin sekali mengajak Angel, tapi melihat Angel yang begitu nyenyak terlelap dibawah selimutnya membuat Via merasa tidak enak jika harus membangunkan adik barunya itu. Maka Via pun memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Toh hanya keliling komplek. Walaupun masih terbilang baru dilingkungan itu, Via yakin tidak akan tersesat.
            Tibalah Via dilapangan komplek. Ia berdiri ditepi lapangan dengan perhatiannya yang tertuju pada segerombolan cowok yang sedang memainkan si kulit orange ditengah lapangan. Merasa tertarik, Via akhirnya memutuskan untuk menonton.
            Dulu saat masih tinggal di Lombok, Via sering bermain basket. Ia bahkan tergabung dalam tim basket sekolahnya. Tapi semenjak Mamanya meninggal, Via tidak pernah menyentuh lagi bola basket.
            Saat sedang focus menonton, tiba-tiba saja Via melihat sebuah bola terlempar kearahnya. Via yang kaget dengan sigap langsung menangkap bola itu dan membuat segerombolan cowok ditengah lapangan itu terdiam.
            Segerombolan cowok yang ternyata adalah Cakka CS itu menatap Via dengan pandangan heran. Saat Rio dan Gabriel diliputi oleh banyak tanda Tanya dikepala mereka, Cakka justru terpana saat kedua manik matanya menangkap seraut wajah manis yang asing dimatanya.
            “Hey! Bolanya bisa tolong lo lemparin gak?” Tanya Rio dari tengah lapangan sambil melambaikan kedua tangannya. Gabriel dan Cakka masih sama-sama terdiam dengan pikiran yang berbeda. Jika Cakka merasa asing dengan gadis manis itu, Gabriel justru merasa pernah bertemu dengannya entah dimana.
            Via mengangguk sesaat setelah Rio menyelesaikan perkataannya. Namun bukannya langsung melempar bola itu kearah Rio, Via malah berjalan ketengah lapangan lalu mendrible bola itu. Cakka makin terpana dibuatnya.
            Merasa cukup, Via pun melakukan tembakan jarak jauh. Ia memasukan bola itu kedalam ring dengan sempurna.
            Rio dan Cakka sama-sama terpana kali ini. Namun Cakka bukan hanya terpana, tapi ia telah terpesona pada pandangan pertama. Via melemparkan senyumannya kearah 3 cowok itu lantas berlalu pergi dari lapangan.
            Tidak ingin kehilangan target begitu saja, Cakka langsung membuyarkan keterpanaannya dan melangkah mengejar cewek tadi. Cakka sama sekali tidak menghiraukan panggilan Rio yang menyerukan namanya berkali-kali. Ia sudah terlanjur terhipnotis. Sementara Gabriel…

            ‘cewek  itu siapa? Kenapa gue ngerasa pernah ngenal dia sebelumnya? Tapi dimana…?’ bathin Gabriel sambil menatap punggung Via yang berjalan pergi menjauhi lapangan komplek.

            “Hey tunggu!” Cakka memegang pundak Via hingga membuat langkah Via terhenti. Via berbalik dan secara otomatis membuat tangan Cakka yang menggantung dipundaknya terlepas begitu saja.
            “maaf?” ujar Via dengan kedua alis bertaut. Heran.
            Cakka memasang senyum maut andalannya lalu mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman,
            “kenalin gue Cakka. Lo?”
            Kali ini salah satu alis Via terangkat. “ lo ngajakin gue kenalan? Secepet itu?” Via melipat kedua tangannya didepan dada lalu menatap Cakka dengan pandangan sedikit meremehkan. Ia membiarkan tangan Cakka menggantung diudara tanpa sambutan apapun.
            Cakka menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Hal itu menunjukan kalau ia mulai kebingungan. Dan hey come on! Dalam sejarah, ini baru pertama kalinya Cakka mengajak seorang cewek berkenalan secara langsung. Jika saja cewek didepannya ini tahu bahwa betapa beruntungnya ia menjadi cewek pertama yang diajak kenalan oleh Cakka. Biasanya juga Cakka yang dikejar-kejar cewek untuk diajak berkenalan, tapi sekarang? Yang terjadi malah kebalikannya, tapi respon yang ia dapatkan justru jauh dari harapan.
            “sorry… terlalu cepet kalo harus kenalan sekarang! Mungkin next time baru kita bisa kenalan… bye!” Via melambaikan tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kali ini Cakka menyerah. Dalam hidupnya, ini baru pertama kalinya ia merasa ditolak oleh seorang cewek.
            Cakka mengeluarkan seringai liciknya. Tangan kanannya yang sejak tadi terulur langsung ia cengkram kuat-kuat.


            “gue pastiin gue bakalan bales dendem untuk ini. Dan lo… pasti bakalan nyesel…” gumam Cakka pelan lalu kembali ke lapangan.







To Be Continued....

1 comment: