P
R O L O G
“CINTA? Ia tidak serta merta turun
dari langit tanpa alasan yang tidak terjelaskan. Cinta pasti tercipta karna
sebuah alasan yang turut menyertainya… Hanya saja, orang-orang tidak pernah
benar-benar tahu alasan mengapa cinta itu ada. Yang mereka tahu hanyalah,
ketika mereka mencintai, semuanya terasa indah, semuanya terasa sangat adil.
Yang mereka tahu, bahwa ketika cinta menyapa, alasan tidak begitu penting
meskipun keberadaannya tidak bisa dibantahkan.
Aku, dia, langit, dan serentetan
kisah panjang ini akan mencari alasan mengapa cinta itu ada…”
♫♫♫
Lombok,
2010
Adryan &
Metta,
Adryan,
Metta… Maaf jika kematianku ini malah merepotkan kalian. Tapi kalian sahabat
yang aku kenal satu-satunya, hanya kalian yang dapat aku percaya. Sekali ini
saja, bisakah aku meminta bantuan kalian?
Dipanti asuhan Sayap Bunda, aku memiliki
seorang anak perempuan. Kalian bisa mencarinya dengan nama Gisselavia Garneta.
Rawat Via untukku. Bawa dia pulang bersama kalian ke Jakarta. Dan tolong jaga
dia seperti kalian menjaga anak kalian sendiri. Sahabat… hanya kalian yang
dapat aku percaya untuk menjaganya.
Sekali lagi maafkan aku jika kematian ku
ini merepotkan kalian…
Salamku…
Sylvia
Adryan
menatap Metta dengan pandangan meminta persetujuan. Tidak perlu menunggu lama,
Metta langsung menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Toh mereka sudah
mengenal Sylvia sejak mereka masih kanak-kanak. Mereka sudah bersahabat baik
dengan Sylvia. Dimasa lalu, Sylvia bahkan membantu usaha Adryan hingga sekarang
Adryan menjadi seorang bisnismen yang
sukses dibidangnya. Bagi Adryan dan Metta, tidak ada alasan untuk menolak
permintaan terakhir Sylvia, sahabat mereka.
Maka
pada keesokan harinya, Adryan dan Metta langsung berangkat ke Panti Asuhan yang
Sylvia sebutkan dalam surat. Di panti itu, kedatangan mereka disambut hangat
oleh kepala panti.
Adryan
dan Metta langsung diperkenalkan dengan Via, anak kandung dari Sylvia yang ia
tinggalkan pergi untuk selamanya. Diawal, baik Adryan maupun Metta sempat berpikir
bahwa Via adalah sosok gadis remaja pendiam yang tertutup apalagi sejak
kepergian Mamanya 2 bulan yang lalu. Tapi pikiran mereka itu langsung
terbantahkan, saat senyuman hangat serta pancaran penuh cinta terpancar dari
sepasang bola mata jernih milik Via.
“Kalian…
Om Adryan sama Tante Metta, kan? sahabat Mama?” Tanya Via dengan pancaran mata
berbinar. Adryan dan Metta saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya
mengangguk secara bersamaan.
Senyuman
diwajah remaja 16 tahun itu kian melebar. Via lalu meraih tangan Metta dan
Adryan secara bergantian seraya menyebutkan namanya.
“Aku
Via… Gisselavia Garneta. Mama sering cerita tentang Om dan Tante…”
Metta
memegang salah satu pundak Via. Ia menatap Via untuk beberapa saat lalu
memeluknya erat.
“panggil
kami, Mama dan Papa. Mulai sekarang kami adalah orangtua mu, Nak…”
♫♫♫
Chapter
1
SMA
Patuh Karya…
“RIO!
RIO! RIO! RIO!” Sorakan dari penonton yang memenuhi lapangan indoor SMA Patuh Karya dipagi menjelang
siang itu semakin membahana saat Rio hendak melakukan tembakan didetik-detik akhir pertandingan basket
yang dilakukan dalam rangka memeriahkan acara Class Meeting. Rio kian bersemangat. Satu orang dideretan bangku
penonton dengan seraut wajah tidak pedulinya, justru berhasil membakar semangat
Rio. Rio tersenyum. Ia melakukan lay-up
dengan sempurna lalu memasukan bola itu kedalam ring dengan gayanya yang selalu
terlihat elegant.
Semua penonton,
terutama penonton dari kelasnya semakin menggila. Dan ketika wasit meniup
peluit tanda berakhirnya pertandingan yang sekaligus juga merupakan tanda
kemenangan bagi kelas Rio, semua teman-teman sekelasnya langsung berlari
ketengah lapangan untuk menyerbu Rio.
“ERGH
SHIT!!” Erang salah satu cowok dari tim kelas lawan dengan kesal. Meski kesal,
ia juga turut senang atas kemenangan yang diraih oleh sahabatnya itu. Dialah
Cakka, salah satu sahabat kental Rio yang juga tergabung dalam tim basket SMA
Patuh Karya. Meskipun Cakka adalah kapten dalam tim inti, tapi tetap saja ia
tidak bisa mengalahkan Rio dipertandingan class meeting kali ini.
Rio
menatap Cakka, ia tersenyum mengejek kearah cowok berwajah tampan itu sambil
membalik jempolnya. Cakka mendengus. Kali ini Rio boleh sombong, tapi di tim
inti, Cakka tetap adalah kaptennya. Awas saja nanti, Cakka akan menghukum Rio
atas kekalahannya ini.
“ARION
ARISTO EMANG KEREEEEN!!!” Teriak Shilla penuh semangat yang langsung disambut
oleh lirikan sengit dari salah satu sahabatnya, Ify.
Ify
mengangkat salah satu alisnya tinggi-tinggi, lalu dalam satu sentakan kuat ia
membalik tubuh Shilla hingga berhadapan dengannya.
“Heh
Shilla! Tim kelas kita kalah. Kenapa lo malah heboh neriakan namanya si Rio?
Gak solid banget sih sama temen kelas?!”
“bodo!
Yang penting Prince Charming gue menang” ujar Shilla tak peduli lalu
menjulurkan lidahnya. Ify hanya menggeleng tak percaya lalu kembali mengalihkan
tatapannya ketengah lapangan yang sudah dipenuhi oleh teman-teman kelas Rio.
Entah
Ify sedang keliru atau tidak, tapi dari tengah lapangan sana, Ify menangkap
basah Rio yang sedang menatap dirinya seraya tersenyum lebar. Tanpa rasa
canggung sedikitpun, Rio mengedipkan mata sebelah kirinya saat sadar bahwa Ify
menatapnya.
Ify
kaget. Apaan-apan tuh? Memangnya dia sebegitu cakepnya sampai-sampai berani
melirik Ify seperti itu?
♫♫♫
Shilla
berdiri didepan pintu Kafetaria dengan gugup sambil diam-diam mengintip keadaan
didalam. Didalam sana, tampak Rio bersama beberapa teman kelasnya juga
sahabat-sahabatnya sedang berkumpul melakukan selebrasi kecil-kecilan. Kedua tangan
Shilla memegang sekaleng minuman
isotonic yang ingin ia berikan pada Rio usai pertandingan tadi.
Shilla
menghela napas panjang dan berusaha mengumpulkan nyalinya untuk memberikan Rio
minuman. Ini sudah setengah perjalanan, Shilla tidak akan menyerah hanya
gara-gara ia mendadak gugup seperti ini.
Shilla
melangkah pasti kedalam Kafetaria dan menghampiri meja Rio CS.
“Hay
Yo…” sapanya berusaha terdengar santai dan wajar.
Rio
yang sejak tadi tertawa bersama kawan-kawannya langsung menghentikan tawanya
saat sebuah suara lembut menyapa gendang telinganya. Sementara Gabriel, ia
langsung membeku ditempat saat menyadari kehadiran Shilla, mantan pacarnya.
“eh,
Shill? Ada apa?”
Cakka,
dan teman-temannya yang lain minus Gabriel, sudah mulai terlihat berbisik-bisik
satu sama lain. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan siswa-siswi SMA Patuh
Karya, termasuk Gabriel, bahwa Shilla begitu mengagumi Rio sejak ia resmi putus
dari Gabriel 4 bulan yang lalu.
“gue
punya minuman buat lo. Nih!” Shilla menjulurkan kaleng minuman itu. Sebelum
menerimanya, Rio sempat berpikir sejenak.
“thanks, Shill!” kata Rio manis sambil
menunjukan minuman itu pada Shilla. Dan sumpah, saat melihat senyuman Rio yang
begitu manis, Shilla seolah-olah terbang ke langit ke-7. Hampir 4 bulan
mengangumi sosok Rio, ini baru pertama kalinya Shilla merasa sesenang ini saat
Rio memberikannya seulas senyuman. Saat Shilla merasa begitu senang, Gabriel
justru merasakan sebaliknya. Seakan-akan ada sebuah silet yang menyayat habis
jantungnya.
Shilla
pergi meninggalkan Kafetaria dengan hati berbunga. Dan ketika Shilla sudah
benar-benar menghilang dari pandangannya, Rio langsung saja melemparkan minuman
yang diberikan Shilla tadi pada Gabriel. Dengan sigap Gabriel menerimanya.
“Buat
lo!” Rio tersenyum miring lalu keluar dari Kafetaria tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
♫♫♫
New
York, 20:15 pm
Dering
ponselnya membuat Alvin dengan terpaksa menghentikan aktifitas makan malamnya
untuk sesaat. Alvin membuka ponsel dan melihat nama ‘Cakka Raditya’ tertera
pada layar. Alvin menggeser tombol hijau dan dengan santai meletakan ponselnya
ditelinga.
“ada
apa, Kka? Lo gangguin makan malem gue tau?” protesnya tanpa mengucapkan hallo
diawal kalimat.
Dari
sebrang sana, Cakka terdengar mendesah
kesal.
“cihhh…
lo pasti udah lupa jalan pulang!” tandasnya dengan nada yang tidak kalah
kesalnya. Alvin hanya tersenyum. “student
exchanges lo berakhir seminggu yang lalu, bukannya seharusnya hari ini lo
udah tiba di Jakarta? Terus kenapa gak nongol? Lo tau, gara-gara lo kelas kita
kalah tanding basket ngelawan kelasnya Rio…”
“bukan
salah gue. Usaha lo yang kurang maksimal…” ujar Alvin diplomatis. Saat itu juga
Cakka langsung memutar kedua bola matanya.
“oke
Tuan Jenius… jadi kapan rencananya lo bakalan tiba di Jakarta?” putus Cakka
yang tidak ingin berdebat panjang lebar lagi dengan Alvin yang terkenal paling
jenius satu sekolah. Melawan Alvin berdebat seperti ini bukan perkara gampang
bagi siapapun.
“gue
masih banyak urusan disini, sekalian juga gue mau refresh otak. 2 minggu lagi, hari pertama di semester 2 kita ketemu.
Salam buat anak-anak yang lain”
Dan
tuuut… Alvin langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa mengucapkan salam
penutup. Alvin tersenyum jahil. Bisa ia bayangkan bagaimana reaksi Cakka saat
ini.
♫♫♫
Via
terkesima melihat dekorasi kamarnya dirumah barunya saat ini. Dekorasi kamarnya
ini bahkan jauuuh lebih bagus dari dekorasi kamarnya yang dulu. Wallpaper dengan tema langit biru
berawan menghiasi setiap bagian dinding dengan sempurna. Via melepas kopernya,
ia lantas membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Benarkah kamar ini
miliknya? Ini bahkan terlampau indah dari apa yang dapat ia bayangkan.
“ini
kamar aku kan? aaaa…. Gilaaa!! Ini keren banget”
Seseorang
tiba-tiba memegang kedua pundak Via dari belakang dan berdiri disamping Via
sambil menatap kamar itu berkeliling. Dialah Metta, Mama angkatnya.
“kamu
suka dekorasinya, Via?”
“Via
suka banget, Ma? Darimana Mama tahu kalo aku suka langit?”
“karna
mendiang Mama kamu suka langit, jadi Mama pikir kamu juga suka….”
Via
menatap Metta dengan pandangan terharu. Tidak pernah ia sangka sebelumnya bahwa
ia akan diterima dengan begitu hangat dirumah mewah ini. Metta bahkan tahu
pasti apa yang Via suka tanpa perlu repot-repot bertanya. Jujur saja, Via
merasa seakan-akan ditarik dalam sebuah dunia dongeng. Jika ini hanyalah mimpi,
Via bersumpah tidak ingin terbangun untuk selamanya.
Via
lalu menghambur kedalam pelukan Metta. Sebisa mungkin ia berusaha keras agar
tidak menitikan air mata setetespun, seperti janjinya pada mendiang Mamanya
beberapa saat sebelum Tuhan memanggilnya untuk selamanya.
“Mama…”
seorang gadis yang berusia sekitar 13 tahun memasuki kamar Via sambil memanggil
Metta dengan sebutan Mama.
Metta
dan Via langsung mengurai pelukan mereka lalu sama-sama melihat kearah gadis
cantik bermata sipit dan berambut panjang itu. Dialah Angel, anak perempuan
Metta dan Adryan.
“Hay
sayang…” sapa Metta.
“ini
Kak Via? Kakak baru aku?” Tanya Angel antusias. Metta hanya mengangguk seraya
tersenyum lebar.
“Yeeee!! Angel akhirnya punya Kakak cewek….”
Angel
menghambur kedalam pelukan Via dan memeluknya seerat mungkin. Angel senang,
benar-benar senang karena akhirnya ia mempunyai seorang Kakak perempuan seperti
apa yang Angel inginkan selama ini.
♫♫♫
Pagi
hari, sekitar pukul 08.00, Via memutuskan untuk berjalan-jalan keliling
komplek. Tadi sebenarnya Via ingin sekali mengajak Angel, tapi melihat Angel
yang begitu nyenyak terlelap dibawah selimutnya membuat Via merasa tidak enak
jika harus membangunkan adik barunya itu. Maka Via pun memutuskan untuk berjalan-jalan
sendiri. Toh hanya keliling komplek. Walaupun masih terbilang baru dilingkungan
itu, Via yakin tidak akan tersesat.
Tibalah
Via dilapangan komplek. Ia berdiri ditepi lapangan dengan perhatiannya yang
tertuju pada segerombolan cowok yang sedang memainkan si kulit orange ditengah
lapangan. Merasa tertarik, Via akhirnya memutuskan untuk menonton.
Dulu
saat masih tinggal di Lombok, Via sering bermain basket. Ia bahkan tergabung
dalam tim basket sekolahnya. Tapi semenjak Mamanya meninggal, Via tidak pernah
menyentuh lagi bola basket.
Saat
sedang focus menonton, tiba-tiba saja Via melihat sebuah bola terlempar
kearahnya. Via yang kaget dengan sigap langsung menangkap bola itu dan membuat
segerombolan cowok ditengah lapangan itu terdiam.
Segerombolan
cowok yang ternyata adalah Cakka CS itu menatap Via dengan pandangan heran.
Saat Rio dan Gabriel diliputi oleh banyak tanda Tanya dikepala mereka, Cakka justru
terpana saat kedua manik matanya menangkap seraut wajah manis yang asing
dimatanya.
“Hey!
Bolanya bisa tolong lo lemparin gak?” Tanya Rio dari tengah lapangan sambil
melambaikan kedua tangannya. Gabriel dan Cakka masih sama-sama terdiam dengan
pikiran yang berbeda. Jika Cakka merasa asing dengan gadis manis itu, Gabriel
justru merasa pernah bertemu dengannya entah dimana.
Via
mengangguk sesaat setelah Rio menyelesaikan perkataannya. Namun bukannya
langsung melempar bola itu kearah Rio, Via malah berjalan ketengah lapangan
lalu mendrible bola itu. Cakka makin terpana dibuatnya.
Merasa
cukup, Via pun melakukan tembakan jarak jauh. Ia memasukan bola itu kedalam
ring dengan sempurna.
Rio
dan Cakka sama-sama terpana kali ini. Namun Cakka bukan hanya terpana, tapi ia
telah terpesona pada pandangan pertama. Via melemparkan senyumannya kearah 3
cowok itu lantas berlalu pergi dari lapangan.
Tidak
ingin kehilangan target begitu saja, Cakka langsung membuyarkan keterpanaannya
dan melangkah mengejar cewek tadi. Cakka sama sekali tidak menghiraukan
panggilan Rio yang menyerukan namanya berkali-kali. Ia sudah terlanjur
terhipnotis. Sementara Gabriel…
‘cewek itu siapa? Kenapa gue ngerasa pernah
ngenal dia sebelumnya? Tapi dimana…?’ bathin Gabriel sambil menatap
punggung Via yang berjalan pergi menjauhi lapangan komplek.
“Hey
tunggu!” Cakka memegang pundak Via hingga membuat langkah Via terhenti. Via
berbalik dan secara otomatis membuat tangan Cakka yang menggantung dipundaknya
terlepas begitu saja.
“maaf?”
ujar Via dengan kedua alis bertaut. Heran.
Cakka
memasang senyum maut andalannya lalu mengulurkan tangan kanannya untuk
bersalaman,
“kenalin
gue Cakka. Lo?”
Kali
ini salah satu alis Via terangkat. “ lo ngajakin gue kenalan? Secepet itu?” Via
melipat kedua tangannya didepan dada lalu menatap Cakka dengan pandangan
sedikit meremehkan. Ia membiarkan tangan Cakka menggantung diudara tanpa
sambutan apapun.
Cakka
menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Hal itu menunjukan
kalau ia mulai kebingungan. Dan hey come
on! Dalam sejarah, ini baru pertama kalinya Cakka mengajak seorang cewek
berkenalan secara langsung. Jika saja cewek didepannya ini tahu bahwa betapa
beruntungnya ia menjadi cewek pertama yang diajak kenalan oleh Cakka. Biasanya
juga Cakka yang dikejar-kejar cewek untuk diajak berkenalan, tapi sekarang?
Yang terjadi malah kebalikannya, tapi respon yang ia dapatkan justru jauh dari
harapan.
“sorry…
terlalu cepet kalo harus kenalan sekarang! Mungkin next time baru kita bisa kenalan… bye!” Via melambaikan tangannya
dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kali ini Cakka
menyerah. Dalam hidupnya, ini baru pertama kalinya ia merasa ditolak oleh
seorang cewek.
Cakka
mengeluarkan seringai liciknya. Tangan kanannya yang sejak tadi terulur
langsung ia cengkram kuat-kuat.
“gue
pastiin gue bakalan bales dendem untuk ini. Dan lo… pasti bakalan nyesel…”
gumam Cakka pelan lalu kembali ke lapangan.
To Be Continued....




ubah template dari wordpress ke blogspot gimana ya?
ReplyDelete