Cinta pertama dalam
mimpi? Kenapa harus muncul kembali? (5 tahun yang lalu)
Sivia
berdiri canggung diatas panggung sambil mengenggenggam erat-erat sebuah microphone dengan kedua tangan
mungilnya. Semangat yang beberapa menit yang lalu baru saja terpatri dalam
dirinya tiba-tiba saja surut. Ternyata berdiri diatas panggung dengan disaksikan
banyak orang sangat tidak gampang, sama persis seperti apa yang ia pikirkan
selama ini. Dalam diamnya, Sivia mendesah pelan. Ternyata benar, Kakak Ganteng
itu membohonginya. Rasa gugupnya sama sekali tidak hilang.
Alunan music dari sebuah grand piano
yang dimainkan tiba-tiba saja mengalun pelan. Mendadak pikirannya berkabut,
Sivia tidak tahu harus melakukan apa saat lagu itu hampir saja mendekati intro.
Sivia lalu mengangkat wajahnya, tatapannya langsung tertuju pada Papa nya juga
Ray kecil yang duduk dideretan kursi paling depan untuk memberikannya semangat
dan kekuatan, tapi rasa gugup itu tidak juga beranjak meninggalkannya.
Sivia rasanya ingin berlari turun
meninggalkan panggung dan tidak kembali lagi. Sebersit penyesalan tiba-tiba
saja melingkupi kepalanya. Harusnya tadi, Sivia tidak mendengarkan apa yang
Kakak Ganteng itu katakan, harusnya tadi Sivia tetap bersembunyi dan menolak
cokelat pemberian Kakak Ganteng itu.
Saat rasa gugup itu semakin mendekap
erat dirinya, tahu-tahu sepasang mata sipitnya menangkap sosok Kakak Ganteng
yang tadi ia temui tengah berdiri dengan manis bersama beberapa penonton lain
dibelakang. Kakak Ganteng itu tersenyum lembut padanya sambil menganggukan
pelan kepalanya. Entah bagaimana caranya, semangat itu kembali lagi. Sivia
tersenyum kecil dan mulai bernyanyi…
“Everyone can see
There's a change in me
The all say I'm not the same
Kid I used to be…”
There's a change in me
The all say I'm not the same
Kid I used to be…”
Suara tepuk
tangan langsung terdengar saat Sivia menyelesaikan bait pertama lagunya. Ia
ternyata memiliki suara yang sangat indah dengan improvisasi yang begitu
mengagumkan.
Papa nya
tersenyum bangga, begitu juga dengan Kakak Ganteng itu. Sivia dapat melihatnya
dengan jelas. Sivia semakin bersemangat menyelesaikan bait demi bait lagunya.
“Don't
go out and play
I'll just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
I'll just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's
my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My First love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Coz I'm feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all?
Will he ever notice me?
Could he ever fall?
Tell me Teddy Bear
Why love is so unfair?
Will I ever find a way?
And answer to my pray?
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My First love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Coz I'm feeling my first love
Mirror on the wall
Does he care at all?
Will he ever notice me?
Could he ever fall?
Tell me Teddy Bear
Why love is so unfair?
Will I ever find a way?
And answer to my pray?
For my
first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My First love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Coz I'm feeling my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My First love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Coz I'm feeling my first love
My
first love…” (First Love: Nikka Costa)
Sivia
akhirnya sukses menyelesaikan lagu itu dan membuat semua yang menyaksikan suara
memukaunya bangun untuk memberikan tepuk tangan. Sivia tidak pernah menyangka
akan seperti ini hasilnya, dan Sivia sangat bangga pada dirinya sendiri.
Bukan hanya
Sivia seorang yang merasa bangga pada dirinya sendiri, tapi 2 orang yang sangat
berharga dalam hidupnya, Ray dan Papa juga tampak sangat bangga dengan apa yang
Sivia lakukan hari ini. Sejak awal, baik Adryan maupun Ray sudah pesimis bahwa
Sivia akan memberikan penampilan terbaiknya. Tapi anggapan mereka itu langsung
terpatahkan saat hari ini mereka menyaksikan sendiri bagaimana berbakatnya
gadis itu.
Tapi tunggu
dulu, ini semua tidak akan berhasil jika bukan karna Kakak Ganteng itu. Tapi…
kemana perginya Kakak Ganteng yang baik hati itu? Baru beberapa menit yang lalu
ia masih berdiri disana, tapi sekarang? Saat Sivia berhasil menyelesaikan lagu
itu dengan baik dan membuat semua penonton melakukan standing applause, ia malah menghilang begitu saja.
Apa Kakak
Ganteng itu adalah seorang Malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya? Kenapa cepat
sekali menghilangnya? Ya… itulah yang terbersit dalam pikiran polos Sivia.
Sivia lantas
segera turun dari atas panggung untuk mencari Kakak Gantengnya. Sivia ingin
mengucapkan kata terimakasih yang tadi belum sempat ia sampaikan. Sivia juga
ingin memberikannya sebatang cokelat seperti apa yang ia berikan pada gadis
kecil itu. Tapi sayangnya, Sivia tidak menemukannya.
Sekali lagi
ia mendesah kecewa. Kapan lagi ia bisa bertemu dengan Kakak Ganteng itu dan
mengucapkan terimakasih?
Dan Sivia
kaget saat menemukan sebuah boneka teddy bear mungil bersama sepucuk surat
bertengger dengan manis diatas tas nya yang ia letakan disalah satu meja
disebuah ruang rias. Sivia mengambil boneka itu dan membaca surat singkat itu.
Sebuah surat singkat yang membuat Sivia yakin bahwa itu pasti dari Kakak
Gantengnya.
“Adik
kecil… kamu bernyanyi dengan baik.
Sukses yaa? Sampai ketemu lagi… nanti ;)…”
Sivia
tersenyum. Apa itu berarti dia masih punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan
Kakak gantengnya?
Sivia
memeluk boneka itu erat-erat. Ah… first
love…
♫♫♫
Sivia terjaga dari tidurnya dengan
sejuta tanda Tanya yang memenuhi ruang diotaknya. Kenapa kejadian 5 tahun yang
lalu itu kembali muncul dalam mimpinya? Sivia berdecak pelan. Mimpi itu datang
lagi setelah bertahun-tahun lamanya, tapi kenapa wajah Kakak Ganteng itu sama
sekali tidak jelas dalam ingatannya?
Sivia turun dari tempat tidurnya dan
mengambil sebuah kotak berukuran sedang dari kolong tempat tidurnya. Sivia
membuka kotak itu setelah ia kembali duduk dikasurnya. Dari dalam kotak itu,
Sivia mengambil sebuah boneka teddy bear yang dulu pernah diberikan padanya.
Untuk beberapa saat, Sivia menatap boneka itu. Ia tidak mengerti dengan apa
yang ia rasakan saat ini, apa mungkin Sivia merindukan Kakak Ganteng itu? Kakak
Ganteng yang sekaligus menjadi first love
nya?
Sivia tersenyum mencibir dan kembali
meletakan boneka itu kedalam kotak lalu menutupnya.
“cihhh… lo gak usah konyol, Vi.
Cowok itu pasti udah nikah dan punya anak sekarang. Lagian… lo juga udah punya
Cakka. So… ngapain mikirin cowok itu lagi?”
Baru saja Sivia akan kembali
merebahkan tubuhnya, tiba-tiba saja sebuah suara yang begitu menyebalkan
menghentikannya dari arah pintu.
“cowok yang mana?”
Sivia menatap malas kearah Ray yang
waktu itu membawakan sarapan untuknya, tidak lama ia lalu kembali bersembunyi
dibawah selimut teddy bear-nya. Sivia masih ngambek gara-gara kejadian semalam.
Jangan harap dia mau sarapan pagi ini.
“keluar dari kamar gue! Dan bilang
sama Papa, gue masih ngambek”
Ray tersenyum mencibir. Bukannya
mendengarkan ucapan Kakaknya, Ray malah melangkah masuk dan duduk disisi tempat
tidur setelah sebelumnya meletakan nampan diatas meja.
“Papa udah berangkat ke sekolah
pagi-pagi, katanya hari ini ada rapat buat acara perpisahan kelas dua belas”
Keterlaluan! Sivia ngambek bukannya
dihibur malah ditinggal rapat. Papa nyebelin! Cibir Sivia dalam hati yang masih
betah bersembunyi dibawah selimutnya.
“makan gih! Dari semalem lo kan
belom makan apa-apa”
“gue gak laper” sahut Sivia malas.
Tapi sialnya, nada lapar dari perut
Sivia terdengar cukup jelas oleh Ray. Ray berusaha menahan tawanya, sementara
Sivia, ia mati-matian menekan perutnya agar bunyi ‘memalukan’ itu tidak
terdengar.
Ray melirik arloji hitam pemberian
Ify dipergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 tepat, dan
Ray harus segera berangkat kesekolah.
“Kak, gue berangkat ya? Dan sarapan
ini harus lo abisin, gue udah capek-capek masak juga buat lo”
“gue gak minta lo masak buat gue”
jawab Sivia tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ray mendengus lalu tanpa ampun
langsung menjitak kepala Kakaknya dengan cukup keras dari balik selimut.
“AWWWW!! Bocah tengik!”
Sivia meringis kesakitan seraya
melayangkan protes. Baru saja ia bangkit dari tidurnya dan hendak membalas
perlakuan Ray, Ray malah sudah lebih dahulu mengambil langkah seribu sebelum
mendapatkan amukan dari Kakaknya.
Sivia semakin sebal. Kenapa semua
orang seolah sengaja membuatnya kesal dari kemarin? Tapi biar bagaimanapun,
Sivia hanya bisa menelan bulat-bulat kekesalannya itu.
Sivia lalu meraih ponselnya. Ia
menerima sebuah SMS yang beberapa jam yang lalu dikirimkan oleh Cakka,
pacarnya.
From: My Lovely
Bangun cantik! Udah siang ini.
Jangan tidur mulu kalo gak mau dibilang kebo! :p
Oya, ntar siang aku jemput ya?
Kamu gak lupa kan kalo hari ini kita ada GR terakhir
Sebelum perfom ntar malem diacara perpisahan?
Bodo! Rutuk Sivia dalam hati. Gak
Papa, gak Ray, gak Cakka, semuanya emang bener-bener ngeselin!
♫♫♫
NosztaHolic
Group
Rapat telah usai setengah jam yang lalu, tapi Alvin masih
betah duduk dikursinya dengan perhatiannya yang sepenuhnya tertuju pada layar
LCD yang terpampang didepannya. Layar LCD itu menampakan seorang gadis kecil berusia
12 tahun tengah bernyanyi diatas panggung membawakan lagu First Love nya Nikka
Costa.
Alvin tersenyum sedikit tersipu pada
bait awal lagu itu. Lama kelamaan senyuman Alvin semakin melebar seiring gadis
kecil itu bernyanyi dengan senyuman cantiknya. Senyuman cantik yang selalu
membuat Alvin jatuh cinta berkali-kali setiap kali ia memutar ulang video. Ia
bahkan menyanyikan lagu itu jauh lebih baik dari penyanyi aslinya, setidaknya
itulah menurut Alvin.
5 tahun berlalu semenjak pertemuan
pertamanya dengan Sivia, tidak pernah sekalipun Alvin melupakannya. Hingga
kemarin, hari dimana takdir kembali mempertemukan mereka secara tidak sengaja,
perasaan Alvin tidak berubah setitikpun. Perasaan itu masih tetap sama seperti
5 tahun yang lalu. Alvin bahkan masih mengingat wajahnya dengan baik meskipun
sekarang Sivia sudah beranjak dewasa.
“5 tahun mantengin video itu kamu
gak ada bosennya ya, Alv?” satu suara dari arah pintu langsung membuat Alvin
terkesiap.
Alvin mengangkat wajahnya dan
mendapati sekertaris cantiknya tengah berjalan menghampirinya lalu duduk
disalah satu kursi terdekat dengan Alvin. Alvin mendesah pelan lantas
melemparkan tatapan sedikit terganggu. Pricilla, sekertaris cantik dengan
penampilan yang nyaris sempurna itu hanya tersenyum pada Alvin, ia tidak
sedikitpun merasa berdosa karna telah menganggu aktivitas boss besarnya.
“aku kan udah bilang sama kamu, kalo
kita lagi dikantor tolong panggil aku ‘PAK’ okey?”
Pricilla tersenyum mencibir pada Alvin
yang merupakan boss nya sekaligus mantan pacarnya semasa ia masih SMA dulu.
“Kita emang lagi dikantor, tapi situasinya kan kita lagi berdua diruang rapat,
jadi… sah-sah aja kan kalo aku manggil kamu Cuma dengan nama tanpa embel-embel
PAK?”
“Whatever”
jawab Alvin malas lalu kembali menatap layar yang ada didepannya.
Pricilla mendesah tidak kentara lalu
mengikuti titik focus Alvin saat ini. Sebuah rasa perih yang entah darimana
datangnya tiba-tiba saja menyergap benaknya tanpa peringatan. Sepertinya gadis kecil yang ada dalam video ini sangat berarti
untuk Alvin. Dan mungkin gadis kecil itulah yang membuat Alvin enggan membuka
kembali pintu hatinya untuk Pricilla setelah mereka putus beberapa tahun yang
lalu.
Hingga saat ini, Pricilla bahkan
masih menyimpan rasa serta harapan untuk Alvin. Sekalipun Alvin bersikap tak
acuh pada hatinya dan bersikap seolah menutup kesempatan baginya, Pricilla
tidak gentar sedikitpun. Ia tetap berusaha merebut hati Alvin entah dengan cara
apapun. Siapapun tidak akan pernah bisa menghentikannya, termasuk gadis kecil
yang ada dalam video ini.
Pricilla tersenyum licik untuk
beberapa detik. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, ia langsung meraih mouse yang terhubung dengan laptop Alvin
dan meng-klik stop pada video itu. Alvin terpana untuk beberapa saat. Pricilla
memang benar-benar sangat menganggu.
“makan siang dulu yuk!” ajaknya
sambil menarik lengan Alvin dan membawanya setengah paksa keluar dari ruang
rapat. Alvin yang tidak sempat menolak akhirnya dengan terpaksa mengikuti
Pricilla.
♫♫♫
SMA
Bintang Bangsa
Ray yang bertindak sebagai Ketua
Osis SMA Bintang Bangsa pagi itu benar-benar terlihat sibuk mengurus acara
perpisahan Kakak kelasnya yang akan digelar malam ini juga. Daritadi, ia
bersama Olive –wakil ketua osis- terus mondar mandir diaula sekolah untuk
mengarahkan teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan untuk acara perpisahan kelas dua belas.
“Oya, Liv… pastiin kalo proposal
buat acara class meeting kelar
sebelum kita UKK. Bilaperlu, minta sama Oik untuk mulai bikin proposalnya
setelah acara perpisahan ini selese. Gue bener-bener berharap semuanya cepet
kelar supaya pas UKK nanti kita gak ada beban, dan setelah UKK selese, kita
bisa langsung ngadain class meeting..”
Olive hanya mengangguk sebagai tanda
setuju.
“Ciyeee…. Yang berdua terus dari
pagi” sindir Ozy dan Deva yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Ray dan
Olive.
Olive Nampak salah tingkah tapi tidak
dengan Ray. Ia justru terlihat sebaliknya.
“Apaan sih kalian? Orang lagi sibuk
ngurus acara perpisahan juga” protes Ray yang merasa sedikit tidak terima.
Ozy dan Deva tersenyum menggoda.
Merasa tidak tahan lagi dengan godaan kedua makhluk itu dan sebelum ia semakin
merasa malu karna diganggu, Olive akhirnya lebih memilih pergi dari tempat itu.
Toh semua pekerjaannya sudah selesai.
“Ray, gue pergi nemuin Oik dulu ya?”
“Oke! Sampein sama Oik apa yang tadi
gue bilang”
“Oke” jawab Olive mantap lalu segera
hengkang dari tempat itu untuk mencari Oik.
Deva dan Ozy saling melirik satu
sama lain. Mereka berdua seakan mampu menangkap dengan baik gelagat tidak wajar
yang ditunjukan oleh Olive.
“Ray… lo sadar gak sih kalo Olive
tuh sebenernya suka sama lo?” kata Ozy tiba-tiba. Bukannya kaget, Ray malah
terlihat biasa saja.
“Ck… gak usah sok tau” decaknya.
“lo gak peka sih jadi cowok. Orang
udah jelas-jelas sikapnya nunjukin kalo dia suka sama lo” kali ini Deva yang
terdengar menimpali.
Ray bukannya tidak sadar dengan
gelagat serta bahasa tubuh Olive yang tidak biasa jika mereka sedang bersama.
Ray tahu, bahkan Ray bisa membaca dengan jelas bagaimana perasaan gadis tomboy
itu padanya. Hanya saja, Ray berpikir bahwa dia tidak ingin memberikan harapan
palsu pada Olive, untuk itulah Ray selalu bersikap biasa. Ia tidak ingin
sikapnya nanti malah membuat Olive menumbuhkan harapan lebih padanya. Ray tidak
ingin menyakiti Olive. Sejak awal ia tahu bahwa hatinya Cuma milik Ify seorang.
Dan Ray sama sekali tidak ingin kenyataan itu nantinya akan membuat Olive
terhempas.
“udah ah! Gak usah pada ngaco.
Sekarang mending kita siepin apa yang belom disiepin, biar semuanya cepet
kelar”
Ray melangkah terlebih dulu
meninggalkan Ozy dan Deva dibelakang. Hal itu ia lakukan demi menutupi apa yang
saat ini rasakan. Entah kenapa, apa yang Deva dan Ozy katakan baru saja malah
membuatnya berpikir. Biasanya dia tidak pernah mau susah-susah memikirkan
tentang perasaan Olive padanya, tapi sekarang ia justru merasa pikirannya mulai
terbebani.
Olive… apa Ray bilang saja pada
Olive kalau sebenarnya ia tidak memiliki rasa apapun pada Olive? Apa hal itu
tidak terkesan jahat nantinya?
♫♫♫
Cakka dan Sivia tiba disekolah saat
waktu sudah menunjukan pukul 13.00. Dengan saling bergandengan tangan satu sama
lain, mereka segera pergi keruang latihan. Disana, Ify, Shilla serta
kawan-kawan mereka yang akan menjadi pengisi acara untuk acara perpisahan nanti
malam sudah menunggu. Setelah latihan selesai, mereka akan segera melakukan
Gladi Bersih diaula.
Siang ini Cakka dan Sivia terlihat
sangat serasi. Mereka berdua sama-sama menggunakan kemeja putih polos dengan
celana jeans hitam yang senada. Penampilan mereka hari inipun tidak luput dari
perhatian teman-teman mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang melemparkan
tatapan iri pada pasangan yang selalu tampak serasi dalam setiap kesempatan
itu.
Dalam acara perpisahan ini, Cakka
dan Sivia didaulat menjadi pasangan duet. Semuanya bahkan sudah sangat optimis,
bahwa penampilan duet antara Cakka dan Sivia akan menjadi penampilan duet
paling mengangumkan sepanjang acara digelar.
Setelah melakukan latihan vocal
untuk yang terakhir kalinya, mereka semua segera bergegas ke aula untuk
melakukan gladi bersih. Cakka dan Sivia sudah berdiri diatas panggung
menyanyikan lagu A Thousand Years dari miliknya Christina Perri. Dan alunan
lagu romantis itu semakin membuat mereka tampak sangat serasi satu sama lain.
Cakka menggenggam salah satu tangan Sivia sambil menatap dalam pada kedua manik
mata gadis berwajah manis itu.
Suara tepuk tangan langsung
membahana sesaat setelah Cakka dan Sivia selesai membawakan lagu itu. Diantara
beberapa teman-teman mereka itu, tampak Bu Uchie yang merupakan guru vocal
mereka menatap mereka dengan bangga.
“Yee! Good job, Cakka… Sivia! Saya harap kalian akan memberikan
penampilan yang lebih istimewa dari ini saat acara dimulai nanti”
Sebagai jawabannya, Cakka dan Sivia
hanya mengangguk seraya melemparkan senyuman paling manis yang pernah mereka
punya.
“Maaf
maaf maaf bila kini kau terluka
Aku
hanya ingin kau memahami apa adanya…”
Sivia yang tengah asyik mengobrol
bersama Ify dan Shilla langsung menghentikan obrolannya beberapa saat ketika
mendengarkan suara merdu milik Cakka menyanyikan sebuah lagu. Diatas panggung
sana, Cakka sedang bernyanyi seraya memainkan sebuah gitar. Tatapannya mengarah
pada Sivia. Dan entah kenapa Sivia merasa tatapan Cakka itu tampak hampa dan
sendu.
Sivia berusaha membaca dengan
baik-baik kedua mata Cakka sambil terus mendengarkan bait demi bait lagu yang
Cakka nyanyikan.
“Jangan
jangan lagi tangisi hari kemarin
Penguasa
cahaya menanti senyuman
Bila
pada saatnya nanti
Akhirnya
kita bisa bersama
Teruslah
engkau bertahan sampai waktunya datang
Aku
pasti akan menemukanmu
Teruslah
engkau berjalan sampai waktunya datang
Aku
yang berlari menemuimu…”
Kenapa? Kenapa mendadak Sivia
merasakan firasat buruk seperti ini? Kenapa tiba-tiba Sivia merasa bahwa Cakka
akan pergi meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama? Apa yang salah dengan
perasaannya? Tidak… Sivia tidak berharap firasatnya itu akan menjadi kenyataan.
Dan Sivia berharap semoga firasatnya ini salah.
“Jangan
jangan lagi tangisi hari kemarin
Penguasa
cahaya menanti senyuman
Bila
pada saatnya nanti
Akhirnya
kita bisa bersama
Teruslah
engkau bertahan sampai waktunya datang
Aku
pasti akan menemukanmu
Teruslah
engkau berjalan sampai waktunya datang
Aku
yang berlari menemuimu
Percaya
akan kedatangan sinarnya
Bersama
menanti hingga waktunya tiba
Teruslah
engkau bertahan sampai waktunya datang
Aku
pasti akan menemukanmu
Teruslah
engkau berjalan sampai waktunya datang
Aku
yang berlari menemuimu…” (The Finest Tree ~ Sampai Waktunya Datang)
“Aku gak suka lagu yang kamu nyanyiin tadi” protes Sivia
tanpa tedeng aling-aling saat Cakka turun dari panggung lalu menghampirinya.
Untuk beberapa detik Cakka membeku. Sesuatu
seperti menghantam telak dadanya. Tapi itu tidak lama, karna setelahnya Cakka
kembali menampakan senyuman manisnya. Ia mengusap puncak kepala Sivia dengan
gemes, menariknya pelan lalu mengecupnya dengan cepat.
“kok gak suka? Kenapa?” Tanya Cakka
sambil merangkul mesra pundak Sivia.
“gak suka aja. Pokoknya kamu jangan
nyaniin lagu itu lagi” Sivia melipat kedua tangannya diperut lantas membuang
tatapannya kearah lain.
“iya, tapi aku kan perlu tahu
alesannya apa”
“waktu kamu nyanyiin lagu itu tadi,
gak tau kenapa aku ngerasa kalo kamu bakalan pergi ninggalin aku” Sivia
tertunduk sedih setelahnya. Firasatnya kali ini benar-benar mengerikan.
Degh! Ucapan Sivia itu kembali
memukul dada Cakka. Rangkulannya pada Sivia terlepas begitu saja. Cakka
terdengar menghela napas berat sebelum akhirnya meraih wajah Sivia hingga
mereka berhadapan satu sama lain.
“sayang… aku gak akan kemana-mana.
Aku gak akan ninggalin kamu. Gak akan pernah” ucap Cakka yakin.
Sivia tersenyum semuringah lalu
mendaratkan sebuah kecupan hangat dipipi sebelah kanan Cakka. Ia percaya, Cakka
tidak akan pernah pergi meninggalkannya. Sejak pertama kali mereka berpacaran,
tidak pernah sekalipun Cakka mengingkari setiap perkataannya, itulah kenapa
sekarang, Sivia begitu mempercayai Cakka.
“janji?” Sivia menjulurkan jari
kelingkingnya dengan wajah penuh harap.
Cakka mengangguk lemah lalu segera
mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Sivia.
Cakka telah berjanji. Dan ia akan
berusaha sebisanya untuk menepati janji itu… SEANDAINYA DIA BISA.
♫♫♫
Malam harinya Sivia datang kesekolah
bersama Ray. Malam ini Sivia tampak sangat cantik dengan gaun baby pink
selututnya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan indahnya tanpa hiasan
kepala apapun, dan make up natural
yang menghiasi wajahnya semakin membuatnya terlihat mempesona. Sementara Ray,
ia mengenakan kemeja biru gelap yang lengannya sengaja ia lipat sebatas siku.
Ray dan Sivia segera berpisah saat
mereka tiba didalam aula. Alunan music yang cukup menghentak menyambut
kedatangan mereka.
“Hay Ray!” sapa Deva yang baru saja
tiba bersama Ozy. Mereka bertiga lalu ber- high five dan tertawa lepas. Deva
dan Ozy juga terlihat tidak kalah kerennya dari penampilan Ray.
Saat mereka bertiga sedang mengobrol
sambil memegang gelas minuman masing-masing, tiba-tiba saja seorang gadis imut
bermata terang hadir ditengah-tengah mereka. Gadis imut itu berdiri disamping
Ray lalu mengamit lengan Ray dengan wajah yang terlihat kelewat ceria. Dia
Acha, adik Deva.
“Hay Kak Raaaay…. Udah lama gak
ketemu. Tau gak? Acha kangeeeen banget sama Kak Ray…” ucap Acha lalu merebahkan
kepalanya dipundak Ray. Ray tampak risih dengan apa yang Acha lakukan, tapi
Acha sama sekali tidak mau ambil pusing dengan kerisihan itu.
“Cha… jangan mulai centil kalo lo
gak mau gue tendang dari sini” ancam Deva dengan nada sok sadis. Bukannya
takut, Acha malah menantang. Ia meleletkan lidahnya kearah Deva dan kembali
tersenyum manis saat bertatapan dengan Ray.
“Kak Ray tau gak? Nanti setelah
lulus SMP aku mau sekolah disini juga lho. Kak Ray tungguin Acha, yaa? Jangan
ngelirik cewek laen dulu, nanti Acha sedih”
Dasar anak SMP! Teriak Ray dalam
hati. Ingin rasanya ia melepaskan lengannya dari Acha. Tapi apa daya? Gadis itu
terlalu erat menahan lengannya.
Sementara tanpa mereka sadari, Ozy
terus menatap kearah Ray dan Acha dengan tatapan tidak suka. Sebentuk perasaan
mengganggu bernama cemburu tiba-tiba menggelitik hatinya.
Ray mendesah pelan. Kali ini ia
pasrah. Tepat saat Ray membuang tatapannya kearah pintu, kedua matanya langsung
menangkap sosok Ify dan Rio memasuki aula sambil bergandengan tangan satu sama
lain. Mereka tampak sangat serasi dan malah membuat aliran darah Ray berdesir.
Tidak jauh beda dengan apa yang Ozy rasakan saat ini, jutaan jarum seakan
menusuk-nusuk jantungnya tanpa ampun.
Sepasang mata Ify dan Ray bertemu
untuk beberapa saat sebelum akhirnya Ray terlebih dahulu membuang tatapannya
kearah lain. Sesak. Sesak itu kembali menyiksanya tiap kali ia melihat Ify
bersama Rio.
Yang ada dipikiran Ray sekarang ini
selain Ify adalah, ia ingin membebaskan diri dari kungkungan Acha. Semua ini
benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Saat Ray sibuk mencari akal,
tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada Olive yang saat itu sedang berjalan
beriringan bersama Oik. Ray tersenyum licik. Ia menarik paksa lengannya dari
kungkungan Acha lalu melambai kearah Olive dengan senyuman paling manis yang
pernah ia miliki.
“Olive!” panggilan Ray yang cukup keras
itu sukses membuat langkah Olive dan Oik terhenti. Senyuman Ray semakin melebar
saat ia merasa rencananya akan berhasil.
“tunggu bentar ya semua” Ray
berjalan dengan langkah pasti menghampiri Olive dan Oik yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari posisi mereka sekarang.
“Olive… dari tadi lo kemana aja? Gue
nungguin lo tau?”
Tanpa beban sedikitpun, Ray
merangkul pundak Olive dengan santainya. Deva, Ozy, Oik, termasuk Acha
benar-benar tercengang nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini Ray
lakukan. Olive sendiri langsung merasakan jantungnya bertalu-talu, berada
sangat dekat dengan cowok yang ia taksir sejak pertama kali masuk SMA ternyata
membuat perasaannya tidak menentu. Olive bahkan dapat mencium wangi parfume Ray
yang begitu menenangkannya. Tuhan… apa sekarang Olive sedang bermimpi?
♫♫♫
Sebelum memasuki mobilnya, Cakka
sempat mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomer ponsel Sivia. Cakka sudah akan
membuka pintu mobillnya saat tiba-tiba 3 orang bertubuh kekar berpakaian serba
hitam menghentikannya.
“Mas Cakka… anda harus ikut kami
sekarang juga” ucap salah satu dari mereka dengan nada tidak ingin dibantah.
Cakka membuang napas kesal sebelum akhirnya ia menoleh kebelakang.
“kalian mau bawa gue kemana? Gue gak
mau!” tolak Cakka dengan tegas. Tapi penolakan itu justru tidak digubris oleh
ketiga orang suruhan Papanya itu.
“tapi anda harus tetap ikut kami.
Mau tidak mau. Suka tidak suka” ucap yang lainnya.
Cakka tersenyum mencibir. “gue harus
ke acara perpisahan sekolah gue, dan lo berdua gak berhak menghentikan gue”
“maafkan kami, Mas Cakka. Tapi anda
harus tetap ikut dengan kami” dua orang dari mereka menahan lengan Cakka dan
siap-siap membawa paksa Cakka dari areal parkir apartemen yang selama ini Cakka
tinggali.
Cakka berusaha memberontak. Dan ia
berhasil melawan dengan menyikut perut kedua orang suruhan Papanya itu. Cakka
kembali berusaha memasuki mobilnya, tapi sebelum Cakka berhasil masuk kedalam
mobilnya, salah satu dari ketiga orang tadi langsung membius Cakka.
Dalam beberapa detik, Cakka langsung
tidak berkutik. Cakka sudah tidak sadarkan diri lagi.
♫♫♫
From: My Lovely
Sayang tungguin ya?
Aku udah jalan nih. I love you :*
Sivia tersenyum membaca pesan
singkat yang baru saja masuk ke nomornya. Tapi meski begitu, firasat buruk itu
masih tetap saja menghantuinya. Ia berusaha menepikan semua pikiran-pikiran
aneh yang mengganggu itu, tapi semakin ia mencoba, semakin ia tidak bisa.
Firasat itu malah semakin kuat.
Sivia lantas memutar kursinya dan
menatap kearah panggung. Disana sudah ada Deva yang bertindak sebagai MC tengah
bercuap-cuap sesukanya. Sekitar 3 menit kemudian, Deva lalu memanggilkan tim
paduan suara SMA Bintang Bangsa sebagai pembuka untuk acara malam ini. Sivia
berdiri dan berjalan kebelakang panggung untuk bersiap-siap. Beberapa saat lagi
gilirannya bersama Cakka yang akan tampil.
Sesaat setelah Sivia hengkang dari
tempat itu, Alvin tiba-tiba saja muncul lalu menatap punggung Sivia yang nyaris
menghilang dari pandangannya. Alvin tersenyum, gadis itu selalu terlihat cantik
dimatanya.
Malam ini Alvin datang ke acara
perpisahan SMA Bintang Bangsa untuk memenuhi undangan dari Adryan Hermawan,
yang tidak lain dan tidak bukan adalah Papa Sivia dan Ray sekaligus sahabat
dekat Papa Alvin sejak beliau masih sama-sama duduk dibangku SMP.
Alvin juga tampak menawan malam ini.
Ia menggunakan kemeja hitam yang dibalut oleh jas berwarna putih serta dasi
yang berwarna senada dengan jas nya. Kehadiran Alvin pun malam itu tidak luput
dari tatapan-tatapan kagum orang-orang yang melihatnya.
“Alvin… akhirnya kamu datang juga,
Nak” Adryan tiba-tiba muncul dari belakang Alvin sambil menepuk pelan
punggungnya beberapa kali. Alvin menoleh lalu melemparkan senyuman pada Adryan.
“jelas datenglah, Om. Kalo Om sudah
mengundang, aku gak mungkin gak dateng”
“Oke, terimakasih telah datang. Oya…
apa kamu sudah siap bertemu dengan Sivia malam ini? Kamu masih ingat kan dengan
janji kita 5 tahun yang lalu?”
Alvin mengangguk pasti seraya
tersenyum. “aku selalu ingat itu, Om”
♫♫♫
2 menit lagu Sivia bersama Cakka
akan tampil. Tapi hingga detik Cakka belum juga menampakan tanda-tanda
kehadirannya. Sudah belasan kali Sivia mencoba menghubungi Cakka, tapi tetap
tidak ada jawaban apapun.
“Vi, Cakka mana? Setelah ini giliran
kalian yang tampil” kata Shilla dengan nada cemas. Ify, Rio dan semua yang ada
dibelakang panggung juga sama-sama menampakan wajah cemas. Jika Cakka tidak
datang, acara ini pasti berantakan.
Sivia hanya diam dan tidak
menggubris sedikitpun pertanyaan Shilla barusan. Pada kenyataannya, ia jauh
lebih cemas dari semua orang yang ada ditempat ini.
Suara ceria Deva dipanggung sana
sudah memanggilkan nama Cakka dan Sivia. Semuanya semakin risau.
“apa kita minta waktu sebentar sama
Deva?” Rio mencoba memberi solusi.
“gak mungkin. Ini urutan tampil
Cakka dan Sivia, Yo…” jawab Shilla.
“terus kita harus gimana?” Rio
hampir frustasi.
“show
must go on!” Sivia menimpali dengan nada suara bergetar. Tapi meski begitu,
ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
“tapi Cakka gimana, Vi?” kali ini
Ify yang terdengar melemparkan pertanyaan.
“ada atau gak ada Cakka, gue tetep
tampil”
Sebelum mendapat jawaban dari
kawan-kawannya, Sivia malah sudah menaiki panggung. Semuanya semakin bingung
dan tampak frustasi.
“INI GILA!” Pekik Rio dengan sedikit
emosi.
Sivia sudah menaiki panggung dengan
tatapan kosong. Dan saat ia benar-benar berdiri diatas panggung, disaksikan
oleh ratusan orang yang menghadiri acara malam itu, semuanya tampak kebingungan
dan mencari-cari sosok Cakka. Sivia meremas kedua sisi gaunnya. Tiba-tiba ia
merasa sangat gugup. Apa Cakka benar-benar tidak datang?
Sivia lantas memejamkan matanya
untuk beberapa saat. Dalam hitungan ketiga ia kembali membuka mata, tapi Cakka
belum juga tiba. Sivia mengartikan bahwa Cakka benar-benar tidak datang. Dia
ingkar!
Alunan music pembuka dari lagu A
Thousand Years mulai terdengar diantara kebingungan semua orang yang
menyaksikan acara itu. Sivia semakin gugup. Mendadak, telingannya seakan tuli.
Semuanya sunyi.
Dan saat ia merasa akan benar-benar
terjatuh karna kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya, seseorang tiba-tiba
saja menggenggam lembut tangannya dan beranyanyi.
“The day we met Frozen, I held my
breath
Right from the start
Knew that I found a home
For my Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt Suddenly goes away somehow…”
Sivia
tercengang dengan apa yang ia lihat saat ini. Yang datangnya bukannya Cakka
tapi malah… Alvin. Seseorang yang baru kemarin ia temui. Seseorang yang menurut
Sivia sangat aneh. Ditengah-tengah keheranannya, Sivia langsung menyambut
nyanyian Alvin.
(Alvin
& Sivia)
“One step closer…”
Sivia
terus menatap pada kedua mata Alvin, begitu juga dengan Alvin. Dari tatapan
matanya, Alvin seakan memberikan Sivia keyakianan, bahwa semuanya akan
baik-baik saja. Lalu tanpa sepatah kata, tanpa sebentuk kalimat, Sivia mengerti
dengan apa yang Alvin sampaikan melalui tatapan matanya. Untuk sejenak ia
melupakan Cakka dan tanpa sadar menikmati suara indah milik Alvin. Bagian yang
seharusnya dinyanyikan oleh Sivia, malah dinyanyikan oleh Alvin. Tapi semuanya
tidak masalah, toh mereka yakin bisa membawakannya dengan baik.
Sivia
menghela napas sebelum akhirnya bernyanyi, memainkan bagiannya…
(Sivia)
“I have died
everyday waiting for you
Darling
don't be afraid I have loved you
I'll
love you for a thousand more…”
(Alvin)
“Time
stands still
Beauty
in all she is
I will
be brave
I will
not let anything take away
What's
standing in front of me
Every
breath
Every
hour has come to this”
(Alvin
& Sivia)
“One
step closer…
And
all along I believed I would find you
Time
has brought your heart to me
I have
loved you for a thousand years
I'll
love you for a thousand more
One
step closer
One
step closer
And
all along I believed I would find you
Time
has brought your heart to me
I have
loved you for a thousand years
I'll
love you for a thousand more….”
Seluruh tamu yang menghadiri pesta perpisahan itu langsung
memberikan tepuk tangan yang sangat
meriah sesaat setelah Alvin dan Sivia menyelesaikan lagu romantis itu. Mereka membawakan
lagu itu dengan sangat baik dan dengan cara mereka sendiri. Dan tanpa Sivia
sadari, selama ia bernyanyi, tangannya terus berada dalam genggaman lembut
Alvin.
Untuk sedetik, Sivia tersadar. Ia menatap
sejenak kearah Alvin hingga mereka berpandangan satu sama lain dalam beberapa
detik. Sivia lalu melepaskan tangannya begitu saja dan turun dari panggung
sambil berlari.
Alvin… ia hanya bisa menatap
kepergian Sivia tanpa bisa menghentikan. Meskipun mereka berpandangan dalam
waktu yang lumayan singkat, tapi Alvin bisa menangkap ada sebentuk luka dan
kekecewaan yang terpancar dari kedua mata indah itu. Alvin tidak tahu apa
penyebabnya, tapi satu yang pasti, Alvin ingin sekali menenangkan Sivia dalam
pelukannya.
To Be Continued....


0 comments:
Post a Comment