Thursday, October 9, 2014

0

My Destiny [Chapter 2]

Cinta pertama dalam mimpi? Kenapa harus muncul kembali?  (5 tahun yang lalu)

            Sivia berdiri canggung diatas panggung sambil mengenggenggam erat-erat sebuah microphone dengan kedua tangan mungilnya. Semangat yang beberapa menit yang lalu baru saja terpatri dalam dirinya tiba-tiba saja surut. Ternyata berdiri diatas panggung dengan disaksikan banyak orang sangat tidak gampang, sama persis seperti apa yang ia pikirkan selama ini. Dalam diamnya, Sivia mendesah pelan. Ternyata benar, Kakak Ganteng itu membohonginya. Rasa gugupnya sama sekali tidak hilang.
            Alunan music dari sebuah grand piano yang dimainkan tiba-tiba saja mengalun pelan. Mendadak pikirannya berkabut, Sivia tidak tahu harus melakukan apa saat lagu itu hampir saja mendekati intro. Sivia lalu mengangkat wajahnya, tatapannya langsung tertuju pada Papa nya juga Ray kecil yang duduk dideretan kursi paling depan untuk memberikannya semangat dan kekuatan, tapi rasa gugup itu tidak juga beranjak meninggalkannya.
            Sivia rasanya ingin berlari turun meninggalkan panggung dan tidak kembali lagi. Sebersit penyesalan tiba-tiba saja melingkupi kepalanya. Harusnya tadi, Sivia tidak mendengarkan apa yang Kakak Ganteng itu katakan, harusnya tadi Sivia tetap bersembunyi dan menolak cokelat pemberian Kakak Ganteng itu.
            Saat rasa gugup itu semakin mendekap erat dirinya, tahu-tahu sepasang mata sipitnya menangkap sosok Kakak Ganteng yang tadi ia temui tengah berdiri dengan manis bersama beberapa penonton lain dibelakang. Kakak Ganteng itu tersenyum lembut padanya sambil menganggukan pelan kepalanya. Entah bagaimana caranya, semangat itu kembali lagi. Sivia tersenyum kecil dan mulai bernyanyi…


Everyone can see
There's a change in me
The all say I'm not the same
Kid I used to be…”

            Suara tepuk tangan langsung terdengar saat Sivia menyelesaikan bait pertama lagunya. Ia ternyata memiliki suara yang sangat indah dengan improvisasi yang begitu mengagumkan.
            Papa nya tersenyum bangga, begitu juga dengan Kakak Ganteng itu. Sivia dapat melihatnya dengan jelas. Sivia semakin bersemangat menyelesaikan bait demi bait lagunya.

“Don't go out and play
I'll just dream all day
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say

It's my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do

My First love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Coz I'm feeling my first love

Mirror on the wall
Does he care at all?
Will he ever notice me?
Could he ever fall?

Tell me Teddy Bear
Why love is so unfair?
Will I ever find a way?
And answer to my pray?
For my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do

My First love
He thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
Coz I'm feeling my first love

My first love…” (First Love: Nikka Costa)

            Sivia akhirnya sukses menyelesaikan lagu itu dan membuat semua yang menyaksikan suara memukaunya bangun untuk memberikan tepuk tangan. Sivia tidak pernah menyangka akan seperti ini hasilnya, dan Sivia sangat bangga pada dirinya sendiri.
            Bukan hanya Sivia seorang yang merasa bangga pada dirinya sendiri, tapi 2 orang yang sangat berharga dalam hidupnya, Ray dan Papa juga tampak sangat bangga dengan apa yang Sivia lakukan hari ini. Sejak awal, baik Adryan maupun Ray sudah pesimis bahwa Sivia akan memberikan penampilan terbaiknya. Tapi anggapan mereka itu langsung terpatahkan saat hari ini mereka menyaksikan sendiri bagaimana berbakatnya gadis itu.
            Tapi tunggu dulu, ini semua tidak akan berhasil jika bukan karna Kakak Ganteng itu. Tapi… kemana perginya Kakak Ganteng yang baik hati itu? Baru beberapa menit yang lalu ia masih berdiri disana, tapi sekarang? Saat Sivia berhasil menyelesaikan lagu itu dengan baik dan membuat semua penonton melakukan standing applause, ia malah menghilang begitu saja.
            Apa Kakak Ganteng itu adalah seorang Malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya? Kenapa cepat sekali menghilangnya? Ya… itulah yang terbersit dalam pikiran polos Sivia.
            Sivia lantas segera turun dari atas panggung untuk mencari Kakak Gantengnya. Sivia ingin mengucapkan kata terimakasih yang tadi belum sempat ia sampaikan. Sivia juga ingin memberikannya sebatang cokelat seperti apa yang ia berikan pada gadis kecil itu. Tapi sayangnya, Sivia tidak menemukannya.
            Sekali lagi ia mendesah kecewa. Kapan lagi ia bisa bertemu dengan Kakak Ganteng itu dan mengucapkan terimakasih?
            Dan Sivia kaget saat menemukan sebuah boneka teddy bear mungil bersama sepucuk surat bertengger dengan manis diatas tas nya yang ia letakan disalah satu meja disebuah ruang rias. Sivia mengambil boneka itu dan membaca surat singkat itu. Sebuah surat singkat yang membuat Sivia yakin bahwa itu pasti dari Kakak Gantengnya.

“Adik kecil… kamu bernyanyi dengan baik.  Sukses yaa? Sampai ketemu lagi… nanti ;)…”
                                                                                      
            Sivia tersenyum. Apa itu berarti dia masih punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan Kakak gantengnya?
            Sivia memeluk boneka itu erat-erat. Ah… first love


♫♫♫

            Sivia terjaga dari tidurnya dengan sejuta tanda Tanya yang memenuhi ruang diotaknya. Kenapa kejadian 5 tahun yang lalu itu kembali muncul dalam mimpinya? Sivia berdecak pelan. Mimpi itu datang lagi setelah bertahun-tahun lamanya, tapi kenapa wajah Kakak Ganteng itu sama sekali tidak jelas dalam ingatannya?
            Sivia turun dari tempat tidurnya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang dari kolong tempat tidurnya. Sivia membuka kotak itu setelah ia kembali duduk dikasurnya. Dari dalam kotak itu, Sivia mengambil sebuah boneka teddy bear yang dulu pernah diberikan padanya. Untuk beberapa saat, Sivia menatap boneka itu. Ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini, apa mungkin Sivia merindukan Kakak Ganteng itu? Kakak Ganteng yang sekaligus menjadi first love nya?
            Sivia tersenyum mencibir dan kembali meletakan boneka itu kedalam kotak lalu menutupnya.
            “cihhh… lo gak usah konyol, Vi. Cowok itu pasti udah nikah dan punya anak sekarang. Lagian… lo juga udah punya Cakka. So… ngapain mikirin cowok itu lagi?”
            Baru saja Sivia akan kembali merebahkan tubuhnya, tiba-tiba saja sebuah suara yang begitu menyebalkan menghentikannya dari arah pintu.
            “cowok yang mana?”
            Sivia menatap malas kearah Ray yang waktu itu membawakan sarapan untuknya, tidak lama ia lalu kembali bersembunyi dibawah selimut teddy bear-nya. Sivia masih ngambek gara-gara kejadian semalam. Jangan harap dia mau sarapan pagi ini.
            “keluar dari kamar gue! Dan bilang sama Papa, gue masih ngambek”
            Ray tersenyum mencibir. Bukannya mendengarkan ucapan Kakaknya, Ray malah melangkah masuk dan duduk disisi tempat tidur setelah sebelumnya meletakan nampan diatas meja.
            “Papa udah berangkat ke sekolah pagi-pagi, katanya hari ini ada rapat buat acara perpisahan kelas dua belas”
            Keterlaluan! Sivia ngambek bukannya dihibur malah ditinggal rapat. Papa nyebelin! Cibir Sivia dalam hati yang masih betah bersembunyi dibawah selimutnya.
            “makan gih! Dari semalem lo kan belom makan apa-apa”
            “gue gak laper” sahut Sivia malas.
            Tapi sialnya, nada lapar dari perut Sivia terdengar cukup jelas oleh Ray. Ray berusaha menahan tawanya, sementara Sivia, ia mati-matian menekan perutnya agar bunyi ‘memalukan’ itu tidak terdengar.
            Ray melirik arloji hitam pemberian Ify dipergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 tepat, dan Ray harus segera berangkat kesekolah.
            “Kak, gue berangkat ya? Dan sarapan ini harus lo abisin, gue udah capek-capek masak juga buat lo”
            “gue gak minta lo masak buat gue” jawab Sivia tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ray mendengus lalu tanpa ampun langsung menjitak kepala Kakaknya dengan cukup keras dari balik selimut.

            “AWWWW!! Bocah tengik!”
            Sivia meringis kesakitan seraya melayangkan protes. Baru saja ia bangkit dari tidurnya dan hendak membalas perlakuan Ray, Ray malah sudah lebih dahulu mengambil langkah seribu sebelum mendapatkan amukan dari Kakaknya.
            Sivia semakin sebal. Kenapa semua orang seolah sengaja membuatnya kesal dari kemarin? Tapi biar bagaimanapun, Sivia hanya bisa menelan bulat-bulat kekesalannya itu.
            Sivia lalu meraih ponselnya. Ia menerima sebuah SMS yang beberapa jam yang lalu dikirimkan oleh Cakka, pacarnya.


From: My Lovely
Bangun cantik! Udah siang ini.
Jangan tidur mulu kalo gak mau dibilang kebo!  :p
Oya, ntar siang aku jemput ya?
Kamu gak lupa kan kalo hari ini kita ada GR terakhir
Sebelum perfom ntar malem diacara perpisahan?

            Bodo! Rutuk Sivia dalam hati. Gak Papa, gak Ray, gak Cakka, semuanya emang bener-bener ngeselin!


♫♫♫

NosztaHolic Group

            Rapat telah usai setengah jam yang lalu, tapi Alvin masih betah duduk dikursinya dengan perhatiannya yang sepenuhnya tertuju pada layar LCD yang terpampang didepannya. Layar LCD itu menampakan seorang gadis kecil berusia 12 tahun tengah bernyanyi diatas panggung membawakan lagu First Love nya Nikka Costa.
            Alvin tersenyum sedikit tersipu pada bait awal lagu itu. Lama kelamaan senyuman Alvin semakin melebar seiring gadis kecil itu bernyanyi dengan senyuman cantiknya. Senyuman cantik yang selalu membuat Alvin jatuh cinta berkali-kali setiap kali ia memutar ulang video. Ia bahkan menyanyikan lagu itu jauh lebih baik dari penyanyi aslinya, setidaknya itulah menurut Alvin.
            5 tahun berlalu semenjak pertemuan pertamanya dengan Sivia, tidak pernah sekalipun Alvin melupakannya. Hingga kemarin, hari dimana takdir kembali mempertemukan mereka secara tidak sengaja, perasaan Alvin tidak berubah setitikpun. Perasaan itu masih tetap sama seperti 5 tahun yang lalu. Alvin bahkan masih mengingat wajahnya dengan baik meskipun sekarang Sivia sudah beranjak dewasa.
            “5 tahun mantengin video itu kamu gak ada bosennya ya, Alv?” satu suara dari arah pintu langsung membuat Alvin terkesiap.
            Alvin mengangkat wajahnya dan mendapati sekertaris cantiknya tengah berjalan menghampirinya lalu duduk disalah satu kursi terdekat dengan Alvin. Alvin mendesah pelan lantas melemparkan tatapan sedikit terganggu. Pricilla, sekertaris cantik dengan penampilan yang nyaris sempurna itu hanya tersenyum pada Alvin, ia tidak sedikitpun merasa berdosa karna telah menganggu aktivitas boss besarnya.
            “aku kan udah bilang sama kamu, kalo kita lagi dikantor tolong panggil aku ‘PAK’ okey?”
            Pricilla tersenyum mencibir pada Alvin yang merupakan boss nya sekaligus mantan pacarnya semasa ia masih SMA dulu. “Kita emang lagi dikantor, tapi situasinya kan kita lagi berdua diruang rapat, jadi… sah-sah aja kan kalo aku manggil kamu Cuma dengan nama tanpa embel-embel PAK?”
            “Whatever” jawab Alvin malas lalu kembali menatap layar yang ada didepannya.
            Pricilla mendesah tidak kentara lalu mengikuti titik focus Alvin saat ini. Sebuah rasa perih yang entah darimana datangnya tiba-tiba saja menyergap benaknya tanpa peringatan. Sepertinya gadis  kecil yang ada dalam video ini sangat berarti untuk Alvin. Dan mungkin gadis kecil itulah yang membuat Alvin enggan membuka kembali pintu hatinya untuk Pricilla setelah mereka putus beberapa tahun yang lalu.
            Hingga saat ini, Pricilla bahkan masih menyimpan rasa serta harapan untuk Alvin. Sekalipun Alvin bersikap tak acuh pada hatinya dan bersikap seolah menutup kesempatan baginya, Pricilla tidak gentar sedikitpun. Ia tetap berusaha merebut hati Alvin entah dengan cara apapun. Siapapun tidak akan pernah bisa menghentikannya, termasuk gadis kecil yang ada dalam video ini.
            Pricilla tersenyum licik untuk beberapa detik. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, ia langsung meraih mouse yang terhubung dengan laptop Alvin dan meng-klik stop pada video itu. Alvin terpana untuk beberapa saat. Pricilla memang benar-benar sangat menganggu.
            “makan siang dulu yuk!” ajaknya sambil menarik lengan Alvin dan membawanya setengah paksa keluar dari ruang rapat. Alvin yang tidak sempat menolak akhirnya dengan terpaksa mengikuti Pricilla.


♫♫♫

SMA Bintang Bangsa

            Ray yang bertindak sebagai Ketua Osis SMA Bintang Bangsa pagi itu benar-benar terlihat sibuk mengurus acara perpisahan Kakak kelasnya yang akan digelar malam ini juga. Daritadi, ia bersama Olive –wakil ketua osis- terus mondar mandir diaula sekolah untuk mengarahkan teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara perpisahan kelas dua belas.
            “Oya, Liv… pastiin kalo proposal buat acara class meeting kelar sebelum kita UKK. Bilaperlu, minta sama Oik untuk mulai bikin proposalnya setelah acara perpisahan ini selese. Gue bener-bener berharap semuanya cepet kelar supaya pas UKK nanti kita gak ada beban, dan setelah UKK selese, kita bisa langsung ngadain class meeting..”
            Olive hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
            “Ciyeee…. Yang berdua terus dari pagi” sindir Ozy dan Deva yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Ray dan Olive.
            Olive Nampak salah tingkah tapi tidak dengan Ray. Ia justru terlihat sebaliknya.
            “Apaan sih kalian? Orang lagi sibuk ngurus acara perpisahan juga” protes Ray yang merasa sedikit tidak terima.
            Ozy dan Deva tersenyum menggoda. Merasa tidak tahan lagi dengan godaan kedua makhluk itu dan sebelum ia semakin merasa malu karna diganggu, Olive akhirnya lebih memilih pergi dari tempat itu. Toh semua pekerjaannya sudah selesai.
            “Ray, gue pergi nemuin Oik dulu ya?”
            “Oke! Sampein sama Oik apa yang tadi gue bilang”
            “Oke” jawab Olive mantap lalu segera hengkang dari tempat itu untuk mencari Oik.
            Deva dan Ozy saling melirik satu sama lain. Mereka berdua seakan mampu menangkap dengan baik gelagat tidak wajar yang ditunjukan oleh Olive.
            “Ray… lo sadar gak sih kalo Olive tuh sebenernya suka sama lo?” kata Ozy tiba-tiba. Bukannya kaget, Ray malah terlihat biasa saja.
            “Ck… gak usah sok tau” decaknya.
            “lo gak peka sih jadi cowok. Orang udah jelas-jelas sikapnya nunjukin kalo dia suka sama lo” kali ini Deva yang terdengar menimpali.
            Ray bukannya tidak sadar dengan gelagat serta bahasa tubuh Olive yang tidak biasa jika mereka sedang bersama. Ray tahu, bahkan Ray bisa membaca dengan jelas bagaimana perasaan gadis tomboy itu padanya. Hanya saja, Ray berpikir bahwa dia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Olive, untuk itulah Ray selalu bersikap biasa. Ia tidak ingin sikapnya nanti malah membuat Olive menumbuhkan harapan lebih padanya. Ray tidak ingin menyakiti Olive. Sejak awal ia tahu bahwa hatinya Cuma milik Ify seorang. Dan Ray sama sekali tidak ingin kenyataan itu nantinya akan membuat Olive terhempas.
            “udah ah! Gak usah pada ngaco. Sekarang mending kita siepin apa yang belom disiepin, biar semuanya cepet kelar”
            Ray melangkah terlebih dulu meninggalkan Ozy dan Deva dibelakang. Hal itu ia lakukan demi menutupi apa yang saat ini rasakan. Entah kenapa, apa yang Deva dan Ozy katakan baru saja malah membuatnya berpikir. Biasanya dia tidak pernah mau susah-susah memikirkan tentang perasaan Olive padanya, tapi sekarang ia justru merasa pikirannya mulai terbebani.
            Olive… apa Ray bilang saja pada Olive kalau sebenarnya ia tidak memiliki rasa apapun pada Olive? Apa hal itu tidak terkesan jahat nantinya?


♫♫♫

            Cakka dan Sivia tiba disekolah saat waktu sudah menunjukan pukul 13.00. Dengan saling bergandengan tangan satu sama lain, mereka segera pergi keruang latihan. Disana, Ify, Shilla serta kawan-kawan mereka yang akan menjadi pengisi acara untuk acara perpisahan nanti malam sudah menunggu. Setelah latihan selesai, mereka akan segera melakukan Gladi Bersih diaula.
            Siang ini Cakka dan Sivia terlihat sangat serasi. Mereka berdua sama-sama menggunakan kemeja putih polos dengan celana jeans hitam yang senada. Penampilan mereka hari inipun tidak luput dari perhatian teman-teman mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang melemparkan tatapan iri pada pasangan yang selalu tampak serasi dalam setiap kesempatan itu.
            Dalam acara perpisahan ini, Cakka dan Sivia didaulat menjadi pasangan duet. Semuanya bahkan sudah sangat optimis, bahwa penampilan duet antara Cakka dan Sivia akan menjadi penampilan duet paling mengangumkan sepanjang acara digelar.
            Setelah melakukan latihan vocal untuk yang terakhir kalinya, mereka semua segera bergegas ke aula untuk melakukan gladi bersih. Cakka dan Sivia sudah berdiri diatas panggung menyanyikan lagu A Thousand Years dari miliknya Christina Perri. Dan alunan lagu romantis itu semakin membuat mereka tampak sangat serasi satu sama lain. Cakka menggenggam salah satu tangan Sivia sambil menatap dalam pada kedua manik mata gadis berwajah manis itu.
            Suara tepuk tangan langsung membahana sesaat setelah Cakka dan Sivia selesai membawakan lagu itu. Diantara beberapa teman-teman mereka itu, tampak Bu Uchie yang merupakan guru vocal mereka menatap mereka dengan bangga.
            “Yee! Good job, Cakka… Sivia! Saya harap kalian akan memberikan penampilan yang lebih istimewa dari ini saat acara dimulai nanti”
            Sebagai jawabannya, Cakka dan Sivia hanya mengangguk seraya melemparkan senyuman paling manis yang pernah mereka punya.

“Maaf maaf maaf bila kini kau terluka
Aku hanya ingin kau memahami apa adanya…”
            Sivia yang tengah asyik mengobrol bersama Ify dan Shilla langsung menghentikan obrolannya beberapa saat ketika mendengarkan suara merdu milik Cakka menyanyikan sebuah lagu. Diatas panggung sana, Cakka sedang bernyanyi seraya memainkan sebuah gitar. Tatapannya mengarah pada Sivia. Dan entah kenapa Sivia merasa tatapan Cakka itu tampak hampa dan sendu.
            Sivia berusaha membaca dengan baik-baik kedua mata Cakka sambil terus mendengarkan bait demi bait lagu yang Cakka nyanyikan.

“Jangan jangan lagi tangisi hari kemarin
Penguasa cahaya menanti senyuman
Bila pada saatnya nanti
Akhirnya kita bisa bersama

Teruslah engkau bertahan sampai waktunya datang
Aku pasti akan menemukanmu
Teruslah engkau berjalan sampai waktunya datang
Aku yang berlari menemuimu…”

            Kenapa? Kenapa mendadak Sivia merasakan firasat buruk seperti ini? Kenapa tiba-tiba Sivia merasa bahwa Cakka akan pergi meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama? Apa yang salah dengan perasaannya? Tidak… Sivia tidak berharap firasatnya itu akan menjadi kenyataan. Dan Sivia berharap semoga firasatnya ini salah.

“Jangan jangan lagi tangisi hari kemarin
Penguasa cahaya menanti senyuman
Bila pada saatnya nanti
Akhirnya kita bisa bersama

Teruslah engkau bertahan sampai waktunya datang
Aku pasti akan menemukanmu
Teruslah engkau berjalan sampai waktunya datang
Aku yang berlari menemuimu

Percaya akan kedatangan sinarnya
Bersama menanti hingga waktunya tiba
Teruslah engkau bertahan sampai waktunya datang
Aku pasti akan menemukanmu
Teruslah engkau berjalan sampai waktunya datang
Aku yang berlari menemuimu…” (The Finest Tree ~ Sampai Waktunya Datang)

            “Aku gak suka lagu yang kamu nyanyiin tadi” protes Sivia tanpa tedeng aling-aling saat Cakka turun dari panggung lalu menghampirinya.
            Untuk beberapa detik Cakka membeku. Sesuatu seperti menghantam telak dadanya. Tapi itu tidak lama, karna setelahnya Cakka kembali menampakan senyuman manisnya. Ia mengusap puncak kepala Sivia dengan gemes, menariknya pelan lalu mengecupnya dengan cepat.
            “kok gak suka? Kenapa?” Tanya Cakka sambil merangkul mesra pundak Sivia.
            “gak suka aja. Pokoknya kamu jangan nyaniin lagu itu lagi” Sivia melipat kedua tangannya diperut lantas membuang tatapannya kearah lain.
            “iya, tapi aku kan perlu tahu alesannya apa”
            “waktu kamu nyanyiin lagu itu tadi, gak tau kenapa aku ngerasa kalo kamu bakalan pergi ninggalin aku” Sivia tertunduk sedih setelahnya. Firasatnya kali ini benar-benar mengerikan.
            Degh! Ucapan Sivia itu kembali memukul dada Cakka. Rangkulannya pada Sivia terlepas begitu saja. Cakka terdengar menghela napas berat sebelum akhirnya meraih wajah Sivia hingga mereka berhadapan satu sama lain.
            “sayang… aku gak akan kemana-mana. Aku gak akan ninggalin kamu. Gak akan pernah” ucap Cakka yakin.
            Sivia tersenyum semuringah lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dipipi sebelah kanan Cakka. Ia percaya, Cakka tidak akan pernah pergi meninggalkannya. Sejak pertama kali mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Cakka mengingkari setiap perkataannya, itulah kenapa sekarang, Sivia begitu mempercayai Cakka.
            “janji?” Sivia menjulurkan jari kelingkingnya dengan wajah penuh harap.
            Cakka mengangguk lemah lalu segera mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Sivia.
            Cakka telah berjanji. Dan ia akan berusaha sebisanya untuk menepati janji itu… SEANDAINYA DIA BISA.


♫♫♫

            Malam harinya Sivia datang kesekolah bersama Ray. Malam ini Sivia tampak sangat cantik dengan gaun baby pink selututnya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan indahnya tanpa hiasan kepala apapun, dan make up natural yang menghiasi wajahnya semakin membuatnya terlihat mempesona. Sementara Ray, ia mengenakan kemeja biru gelap yang lengannya sengaja ia lipat sebatas siku.
            Ray dan Sivia segera berpisah saat mereka tiba didalam aula. Alunan music yang cukup menghentak menyambut kedatangan mereka.
            “Hay Ray!” sapa Deva yang baru saja tiba bersama Ozy. Mereka bertiga lalu ber- high five dan tertawa lepas. Deva dan Ozy juga terlihat tidak kalah kerennya dari penampilan Ray.
            Saat mereka bertiga sedang mengobrol sambil memegang gelas minuman masing-masing, tiba-tiba saja seorang gadis imut bermata terang hadir ditengah-tengah mereka. Gadis imut itu berdiri disamping Ray lalu mengamit lengan Ray dengan wajah yang terlihat kelewat ceria. Dia Acha, adik Deva.
            “Hay Kak Raaaay…. Udah lama gak ketemu. Tau gak? Acha kangeeeen banget sama Kak Ray…” ucap Acha lalu merebahkan kepalanya dipundak Ray. Ray tampak risih dengan apa yang Acha lakukan, tapi Acha sama sekali tidak mau ambil pusing dengan kerisihan itu.
            “Cha… jangan mulai centil kalo lo gak mau gue tendang dari sini” ancam Deva dengan nada sok sadis. Bukannya takut, Acha malah menantang. Ia meleletkan lidahnya kearah Deva dan kembali tersenyum manis saat bertatapan dengan Ray.
            “Kak Ray tau gak? Nanti setelah lulus SMP aku mau sekolah disini juga lho. Kak Ray tungguin Acha, yaa? Jangan ngelirik cewek laen dulu, nanti Acha sedih”
            Dasar anak SMP! Teriak Ray dalam hati. Ingin rasanya ia melepaskan lengannya dari Acha. Tapi apa daya? Gadis itu terlalu erat menahan lengannya.
            Sementara tanpa mereka sadari, Ozy terus menatap kearah Ray dan Acha dengan tatapan tidak suka. Sebentuk perasaan mengganggu bernama cemburu tiba-tiba menggelitik hatinya.
            Ray mendesah pelan. Kali ini ia pasrah. Tepat saat Ray membuang tatapannya kearah pintu, kedua matanya langsung menangkap sosok Ify dan Rio memasuki aula sambil bergandengan tangan satu sama lain. Mereka tampak sangat serasi dan malah membuat aliran darah Ray berdesir. Tidak jauh beda dengan apa yang Ozy rasakan saat ini, jutaan jarum seakan menusuk-nusuk jantungnya tanpa ampun.
            Sepasang mata Ify dan Ray bertemu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Ray terlebih dahulu membuang tatapannya kearah lain. Sesak. Sesak itu kembali menyiksanya tiap kali ia melihat Ify bersama Rio.
            Yang ada dipikiran Ray sekarang ini selain Ify adalah, ia ingin membebaskan diri dari kungkungan Acha. Semua ini benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Saat Ray sibuk mencari akal, tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada Olive yang saat itu sedang berjalan beriringan bersama Oik. Ray tersenyum licik. Ia menarik paksa lengannya dari kungkungan Acha lalu melambai kearah Olive dengan senyuman paling manis yang pernah ia miliki.
            “Olive!” panggilan Ray yang cukup keras itu sukses membuat langkah Olive dan Oik terhenti. Senyuman Ray semakin melebar saat ia merasa rencananya akan berhasil.
            “tunggu bentar ya semua” Ray berjalan dengan langkah pasti menghampiri Olive dan Oik yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang.
            “Olive… dari tadi lo kemana aja? Gue nungguin lo tau?”
            Tanpa beban sedikitpun, Ray merangkul pundak Olive dengan santainya. Deva, Ozy, Oik, termasuk Acha benar-benar tercengang nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini Ray lakukan. Olive sendiri langsung merasakan jantungnya bertalu-talu, berada sangat dekat dengan cowok yang ia taksir sejak pertama kali masuk SMA ternyata membuat perasaannya tidak menentu. Olive bahkan dapat mencium wangi parfume Ray yang begitu menenangkannya. Tuhan… apa sekarang Olive sedang bermimpi?


♫♫♫

            Sebelum memasuki mobilnya, Cakka sempat mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomer ponsel Sivia. Cakka sudah akan membuka pintu mobillnya saat tiba-tiba 3 orang bertubuh kekar berpakaian serba hitam menghentikannya.
            “Mas Cakka… anda harus ikut kami sekarang juga” ucap salah satu dari mereka dengan nada tidak ingin dibantah. Cakka membuang napas kesal sebelum akhirnya ia menoleh kebelakang.
            “kalian mau bawa gue kemana? Gue gak mau!” tolak Cakka dengan tegas. Tapi penolakan itu justru tidak digubris oleh ketiga orang suruhan Papanya itu.
            “tapi anda harus tetap ikut kami. Mau tidak mau. Suka tidak suka” ucap yang lainnya.
            Cakka tersenyum mencibir. “gue harus ke acara perpisahan sekolah gue, dan lo berdua gak berhak menghentikan gue”
            “maafkan kami, Mas Cakka. Tapi anda harus tetap ikut dengan kami” dua orang dari mereka menahan lengan Cakka dan siap-siap membawa paksa Cakka dari areal parkir apartemen yang selama ini Cakka tinggali.
            Cakka berusaha memberontak. Dan ia berhasil melawan dengan menyikut perut kedua orang suruhan Papanya itu. Cakka kembali berusaha memasuki mobilnya, tapi sebelum Cakka berhasil masuk kedalam mobilnya, salah satu dari ketiga orang tadi langsung membius Cakka.
            Dalam beberapa detik, Cakka langsung tidak berkutik. Cakka sudah tidak sadarkan diri lagi.


♫♫♫

From: My Lovely

Sayang tungguin ya?
Aku udah jalan nih. I love you :*

            Sivia tersenyum membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke nomornya. Tapi meski begitu, firasat buruk itu masih tetap saja menghantuinya. Ia berusaha menepikan semua pikiran-pikiran aneh yang mengganggu itu, tapi semakin ia mencoba, semakin ia tidak bisa. Firasat itu malah semakin kuat.
            Sivia lantas memutar kursinya dan menatap kearah panggung. Disana sudah ada Deva yang bertindak sebagai MC tengah bercuap-cuap sesukanya. Sekitar 3 menit kemudian, Deva lalu memanggilkan tim paduan suara SMA Bintang Bangsa sebagai pembuka untuk acara malam ini. Sivia berdiri dan berjalan kebelakang panggung untuk bersiap-siap. Beberapa saat lagi gilirannya bersama Cakka yang akan tampil.
            Sesaat setelah Sivia hengkang dari tempat itu, Alvin tiba-tiba saja muncul lalu menatap punggung Sivia yang nyaris menghilang dari pandangannya. Alvin tersenyum, gadis itu selalu terlihat cantik dimatanya.
            Malam ini Alvin datang ke acara perpisahan SMA Bintang Bangsa untuk memenuhi undangan dari Adryan Hermawan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Papa Sivia dan Ray sekaligus sahabat dekat Papa Alvin sejak beliau masih sama-sama duduk dibangku SMP.
            Alvin juga tampak menawan malam ini. Ia menggunakan kemeja hitam yang dibalut oleh jas berwarna putih serta dasi yang berwarna senada dengan jas nya. Kehadiran Alvin pun malam itu tidak luput dari tatapan-tatapan kagum orang-orang yang melihatnya.
            “Alvin… akhirnya kamu datang juga, Nak” Adryan tiba-tiba muncul dari belakang Alvin sambil menepuk pelan punggungnya beberapa kali. Alvin menoleh lalu melemparkan senyuman pada Adryan.
            “jelas datenglah, Om. Kalo Om sudah mengundang, aku gak mungkin gak dateng”
            “Oke, terimakasih telah datang. Oya… apa kamu sudah siap bertemu dengan Sivia malam ini? Kamu masih ingat kan dengan janji kita 5 tahun yang lalu?”
            Alvin mengangguk pasti seraya tersenyum. “aku selalu ingat itu, Om”


♫♫♫

            2 menit lagu Sivia bersama Cakka akan tampil. Tapi hingga detik Cakka belum juga menampakan tanda-tanda kehadirannya. Sudah belasan kali Sivia mencoba menghubungi Cakka, tapi tetap tidak ada jawaban apapun.
            “Vi, Cakka mana? Setelah ini giliran kalian yang tampil” kata Shilla dengan nada cemas. Ify, Rio dan semua yang ada dibelakang panggung juga sama-sama menampakan wajah cemas. Jika Cakka tidak datang, acara ini pasti berantakan.
            Sivia hanya diam dan tidak menggubris sedikitpun pertanyaan Shilla barusan. Pada kenyataannya, ia jauh lebih cemas dari semua orang yang ada ditempat ini.
            Suara ceria Deva dipanggung sana sudah memanggilkan nama Cakka dan Sivia. Semuanya semakin risau.
            “apa kita minta waktu sebentar sama Deva?” Rio mencoba memberi solusi.
            “gak mungkin. Ini urutan tampil Cakka dan Sivia, Yo…” jawab Shilla.
            “terus kita harus gimana?” Rio hampir frustasi.
            “show must go on!” Sivia menimpali dengan nada suara bergetar. Tapi meski begitu, ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
            “tapi Cakka gimana, Vi?” kali ini Ify yang terdengar melemparkan pertanyaan.
            “ada atau gak ada Cakka, gue tetep tampil”
            Sebelum mendapat jawaban dari kawan-kawannya, Sivia malah sudah menaiki panggung. Semuanya semakin bingung dan tampak frustasi.
            “INI GILA!” Pekik Rio dengan sedikit emosi.
            Sivia sudah menaiki panggung dengan tatapan kosong. Dan saat ia benar-benar berdiri diatas panggung, disaksikan oleh ratusan orang yang menghadiri acara malam itu, semuanya tampak kebingungan dan mencari-cari sosok Cakka. Sivia meremas kedua sisi gaunnya. Tiba-tiba ia merasa sangat gugup. Apa Cakka benar-benar tidak datang?
            Sivia lantas memejamkan matanya untuk beberapa saat. Dalam hitungan ketiga ia kembali membuka mata, tapi Cakka belum juga tiba. Sivia mengartikan bahwa Cakka benar-benar tidak datang. Dia ingkar!
            Alunan music pembuka dari lagu A Thousand Years mulai terdengar diantara kebingungan semua orang yang menyaksikan acara itu. Sivia semakin gugup. Mendadak, telingannya seakan tuli. Semuanya sunyi.
            Dan saat ia merasa akan benar-benar terjatuh karna kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya, seseorang tiba-tiba saja menggenggam lembut tangannya dan beranyanyi.

The day we met Frozen, I held my breath
Right from the start
Knew that I found a home
For my Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt Suddenly goes away somehow…”

            Sivia tercengang dengan apa yang ia lihat saat ini. Yang datangnya bukannya Cakka tapi malah… Alvin. Seseorang yang baru kemarin ia temui. Seseorang yang menurut Sivia sangat aneh. Ditengah-tengah keheranannya, Sivia langsung menyambut nyanyian Alvin.

(Alvin & Sivia)
“One step closer…”
            Sivia terus menatap pada kedua mata Alvin, begitu juga dengan Alvin. Dari tatapan matanya, Alvin seakan memberikan Sivia keyakianan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu tanpa sepatah kata, tanpa sebentuk kalimat, Sivia mengerti dengan apa yang Alvin sampaikan melalui tatapan matanya. Untuk sejenak ia melupakan Cakka dan tanpa sadar menikmati suara indah milik Alvin. Bagian yang seharusnya dinyanyikan oleh Sivia, malah dinyanyikan oleh Alvin. Tapi semuanya tidak masalah, toh mereka yakin bisa membawakannya dengan baik.
            Sivia menghela napas sebelum akhirnya bernyanyi, memainkan bagiannya…

(Sivia)
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
I'll love you for a thousand more…”

(Alvin)
“Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this

(Alvin & Sivia)

“One step closer…

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more….”


            Seluruh tamu yang menghadiri pesta perpisahan itu langsung memberikan tepuk tangan  yang sangat meriah sesaat setelah Alvin dan Sivia menyelesaikan lagu romantis itu. Mereka membawakan lagu itu dengan sangat baik dan dengan cara mereka sendiri. Dan tanpa Sivia sadari, selama ia bernyanyi, tangannya terus berada dalam genggaman lembut Alvin.
            Untuk sedetik, Sivia tersadar. Ia menatap sejenak kearah Alvin hingga mereka berpandangan satu sama lain dalam beberapa detik. Sivia lalu melepaskan tangannya begitu saja dan turun dari panggung sambil berlari.

            Alvin… ia hanya bisa menatap kepergian Sivia tanpa bisa menghentikan. Meskipun mereka berpandangan dalam waktu yang lumayan singkat, tapi Alvin bisa menangkap ada sebentuk luka dan kekecewaan yang terpancar dari kedua mata indah itu. Alvin tidak tahu apa penyebabnya, tapi satu yang pasti, Alvin ingin sekali menenangkan Sivia dalam pelukannya.





                                                                  To Be Continued....

0 comments:

Post a Comment