Chapter 1
Menemukanmu lagi pada
suatu hari…
Suasana SMA Bintang Bangsa pagi ini Nampak oleh keriuhan
siswa-siswi kelas 3 yang dinyatakan lulus. Mereka semua bersorak, menyuarakan
rasa haru mereka atas kelulusan ini. Semua usaha yang mereka lakukan selama
hampir setahun belakangan ini akhirnya berbuah manis.
Diantara ratusan siswa-siswi yang berkerumun didepan
papan pengumuman, tampak seorang gadis manis dengan rambut panjang lurus yang
sengaja ia ikat ekor kuda, berusaha menyelak diantara kerumunan itu. Setelah
bersusah payah selama bermenit-menit lamanya, akirnya gadis manis itupun kini
berhasil berdiri didepan papan pengumuman yang menjadi target sasarannya sedari
tadi.
Ia menghembuskan napas lega. Ia lalu segera mengusap keningnya seolah-olah menyeka
peluhnya, “Huh! Apa gak ada yang lebih heboh lagi dari ini? Kalian semua
bener-bener berisik” protesnya sedikit keki. Tapi percuma saja ia melayangkan
protes seperti itu, toh tidak ada satupun makhluk yang mendengarnya.
Tidak mau ambil pusing lagi dengan kehebohan yang
terjadi, gadis manis itu langsung melemparkan tatapannya pada papan pengumuman
yang ada didepannya. Ia memindai satu-satu nama yang tertera pada kertas yang
tertempel itu.
3.
Cakka Raditya. A
………………………..
10.
Sivia Oriza Queen
“YEEEEE!! GUE SAMA PACAR GUE LULUUUUUS!!” Teriaknya
histeris, bahkan lebih histeris dari ratusan teman-temannya yang lain.
Sivia melonjak kegirangan. Tapi tiba-tiba saja sesuatu
terlintas dikepalanya dan membuatnya berhenti melonjak dalam hitungan detik.
Sivia memutar kepalanya kekiri dan kekanan untuk mencari Cakka. Sekarang baru
Sivia sadari, bahwa sejak tadi tidak tampak kehadiran Cakka disekolah. Lalu
kemana dia?
“WOOOYY SEMUA! ADA YANG TAU COWOK GUE DIMANA?” Teriaknya
cukup keras dan bertanya entah pada siapa saja yang mau menjawab.
Hening. Semua perhatian tertuju pada Sivia. Tapi tidak
lama…
“HUUUUUUUUUUUUU!!!” Teriak semuanya dengan serempak pada
Sivia, gadis manis ter-populer di SMA Bintang Bangsa itu.
♫♫♫
Cakka duduk melamun disalah satu sudut diruang music
sekolahnya sambil memangku sebuah gitar kesayangannya. Pada tubuh gitar itu,
tertempel stiker berbentuk hurup S ♥ C yang ditempel sendiri oleh Sivia setahun
yang lalu. Meski agak sedikit kesal, tapi Cakka merasa tidak sanggup jika harus
melayangkan protesnya pada gadis manis yang sejak 3 tahun yang lalu menjadi
pacarnya itu. Cakka pun menerimanya dengan terpaksa. Asal gadis itu senang,
apapun akan Cakka lakukan.
Dan disaat teman-temannya merayakan kelulusan mereka
diluar sana, Cakka lebih memilih menyendiri diruang music, bahkan sebelum ia
melihat pengumuman kelulusannya sendiri. Cakka benci keramaian. Ia lebih
menyukai suasana yang sepi, tenang dan damai seperti yang ia rasakan sekarang
ini.
Cakka menghela napas beratnya, ia menyandarkan tubuhnya
didinding lalu menengadahkan kepalanya keatas. Matanya terpejam. Dibalik alasan
ia ingin menyendiri dihari kelulusannya ini, Cakka memiliki alasan lain yang
sesungguhnya jauh lebih penting dari apapun juga.
Mendadak ia merasakan dadanya sesak saat sekelebat
ingatan yang menyakitkan terlintas dikepalanya. Ingin rasanya ia berteriak
sekeras mungkin. Setelah kebahagiaan masa kecilnya terenggut begitu saja oleh
sebentuk keegoisan, sekarang masakah Cakka harus merelakan impiannya terenggut
karena hal yang sama? Kenapa hidup yang ia jalani selama 17 tahun terakhir ini
terasa sangat tidak adil baginya?
Cklek! Suara pintu dibuka langsung menyentak Cakka dan
membuatnya tertarik dari lamunan panjangnya. Cakka melihat kearah pintu, disana
ia dapat melihat dengan sangat jelas Sivia tengah berdiri dengan wajah ditekuk.
Sepertinya gadis itu sedang kesal padanya. tanpa bertanya terlebih dahulu,
Cakka tahu pasti apa penyebabnya.
“udah aku duga, kamu pasti disini”
Sivia melipat kedua tangannya diperut, ia berjalan
menghampiri Cakka lalu duduk disampingnya sambil membuang muka. Cakka tersenyum
jahil.
“kamu nyariin aku?”
“gak! Lagi nyariin tikus” jawabnya keki.
“maaf ya?”
“buat?”
“maaf udah ngilang dari pagi”
“bagus kalo nyadar”
Sivia masih enggan menatap Cakka. Sementara Cakka, ia
terus saja memperhatikan Sivia dari samping dengan pandangan nanar. Ia gamang
memikirkan bahwa impiannya bersama gadis ini sedang dalam keadaan terancam. Dan
Cakka takut, jika suatu saat nanti, keegoisan itu akan benar-benar
mengalahkannya dan membuatnya terpisah jauh dari Sivia.
Sekali lagi Cakka menghela napas beratnya. Tanpa berkata
apapun, ia menarik lengan Sivia lalu membawa gadis itu kedalam pelukannya.
“Cakka… kamu apa-apaan sih?”
“aku sayang sama kamu” bisiknya lirih seraya berusaha
keras menahan isakkanya yang nyaris pecah.
Sivia bingung, tapi saat ia menyadari bahwa ada sesuatu
yang ganjil dari sikap Cakka padanya, ia pun menepikan semua rasa bingungnya
lalu balas memeluk Cakka.
“kamu kenapa tiba-tiba kayak gini? Ada masalah? Mau
cerita?”
Cakka hanya menggelengkan kepalanya dan semakin
mempererat pelukannya yang mengisyaratkan bahwa, selamanya ia tidak pernah
ingin kehilangan Sivia.
Sivia adalah kekuatannya. Sivia adalah hidupnya.
♫♫♫
“Papa gak jadi dateng, Kak”
Ucap seorang cowok berwajah imut yang tiba-tiba muncul dari belakang Sivia lalu duduk
disampingnya sambil mendesah sedikit kecewa. Sivia menatap Ray dengan pandangan
tidak percaya. Ini adalah hari kelulusannya, sejak seminggu yang lalu, Papa nya
sudah berjanji akan mengajak mereka makan diluar jika Sivia lulus dengan nilai
yang bagus. Tapi saat hari ini tiba, Papanya malah ingkar janji tanpa
pemberitahuan apapun.
“Lo yakin Papa gak jadi dateng, Ray?” Sivia berusaha
meyakinkan. Adik bungsunya itu mengangguk sambil menunduk.
Selalu aja kayak gini! Rutuk Sivia dalam hati. Ray yang
bisa menangkap dengan jelas kekecewaan yang terpancar dari wajah manis Kakaknya
itu langung menggenggam erat tangan Sivia untuk menenangkannya.
“Tapi Papa janji akan ngeganti ini dihari lain, Kak. Hari
ini Papa bener-bener gak bisa. Temen deket Papa yang dari Milan hari ini pulang
ke Indonesia, dan Papa harus nemuin temennya itu. Katanya ada hal penting yang
harus dibahas”
“apa hal itu jauh lebih penting dari janji yang udah Papa
bikin? Terus buat apa kita nungguin Papa disini selama sejam lebih kalo
ujung-ujungnya Papa gak bakalan dateng juga?” ungkap Sivia penuh kekecawaan. Ia
lalu bangkit dari hadapan Ray dan keluar dari restoran itu tanpa sekalipun
menoleh kebelakang.
Ray mengusap wajahnya frustasi. Apa lagi yang harus ia
lakukan saat ini untuk membuat mood
Sivia kembali membaik?
“Papa ingkar janji kayak gini aja lo udah marah, Kak.
Gimana coba kalo nanti lo tau Papa punya rencana besar buat lo? Mungkin lo
bukan Cuma marah sama Papa…”
♫♫♫
Sivia sama sekali tidak menyadari sudah seberapa jauh ia
berjalan meninggalkan restoran tempat dimana seharusnya ia bersama Papanya juga
Ray makan malam bersama. Rasa kecewa yang melingkupi dirinya membuat logikanya
seakan tertutup.
Sejak ia masih kecil, Papanya selalu seperti ini. Papa
nya selalu lebih mementingkan urusan pekerjaan daripada harus menghabiskan
waktunya bersama dirinya dan Ray. Saat Sivia berusia 5 tahun dan Ray berusia 3
tahun, Mama nya meninggal dunia karna penyakit leukimia yang sudah lama
dideritanya. Saat itu, baik Sivia maupun Ray, masih sama-sama belum mengerti
tentang arti sebuah kehilangan. Kala itu usia mereka masih terlalu kecil untuk
bisa mengerti.
Sejak saat itu juga, praktis Papanya menjadi sosok Ayah
sekaligus Ibu bagi Ray dan Sivia. Tapi karna kesibukannya yang menjerat,
Papanya akhirnya tidak bisa menjalankan kedua peran itu sekaligus hingga dengan
terpaksa ia meminta pada adik perempuannya untuk membantunya mengurus Sivia dan
Ray.
Sivia hanya membutuhkan sedikit saja waktu dari Papanya.
Hanya waktu yang Sivia inginkan, bukan yang lainnya. Tapi kenapa rasanya sulit
sekali bagi seorang Adryan Hermawan memberikan sedikit saja waktu luangnya
untuk kedua anaknya?
Merasa kekesalannya sudah mencapai puncaknya, tanpa sadar
Sivia menendang sebuah kaleng minuman yang tergeletak tepat dibawah kakinya.
Tendangan Sivia yang cukup keras itu membuat kaleng bekas minuman yang ‘malang’
itu terpental jauh dan mengenai kepala seorang preman yang sedang berjalan
bersama dua orang kawannya tepat didepan Sivia.
Sivia tersadar. Ia membekap mulutnya dengan kedua
tangannya sambil menampakan raut tak percaya. “ups!” gumamnya pelan.
Ketiga preman tadi secara bersamaan menoleh kebelakang
saat sadar bahwa kepala bos besar mereka terkena lemparan sebuah kaleng. Mereka
bertiga menatap Sivia dengan sangar. Mereka benar-benar terlihat seperti tiga
ekor singa kelaparan yang siap menerkan seekor anak domba yang tidak berdaya.
Menyadari akan situasi tidak aman yang sedang dihadapinya sekarang, Sivia
berbalik lalu berlari sekuat ia mampu untuk menghindari ketiga preman itu.
“kurang ajar! Kejar anak itu!” instruksi salah satu dari
preman itu lalu berlari mengejar Sivia. Dua orang lainnya hanya mengikuti dari
belakang.
“MATI GUE! MATI GUE!” pekik Sivia saat ia menyadari bahwa
ketiga preman itu sedang mengejarnya. Sivia semakin mempercepat larinya. Ia
tidak ingin tertangkap.
Lampu merah menyala, Sivia segera mengambil inisiatif
untuk menyebrang jalan. Tapi saat ketiga preman itu semakin mendekat, pikirannya
langsung buntu.
Sebuah
mobil sport merah yang tampak mewah berhenti tepat dihadapan Sivia. Untuk
beberapa detik, Sivia menarik napasnya dalam-dalam dan tanpa perlu susah-susah
berpikir, Sivia langsung membuka pintu mobil itu dan masuk kedalamnya.
Sang pemilik mobil yang masih terlihat muda itu terkejut
bukan main saat seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba nyelonong memasuki
mobilnya. Ia menatap Sivia dengan pandangan tidak percaya tapi juga heran.
“kamu siapa?” Tanya sang pemilik mobil pada Sivia yang
tampak tengah mengatur desuan napasnya yang terdengar tidak teratur.
Kemudian Sivia menoleh, menatap sang pemilik mobil dengan
pandangan seolah meminta pertolongan. Sang pengemudi itu tertegun. Sepertinya…
ia pernah melihat gadis ini sebelumnya.
“Om… Om… tolongin Via, Om… ada 3 preman yang
ngejer-ngejer Via. Kalo sampe Via ketangkep Via gak tau gimana nasib Via
selanjutnya. Tolongin Via, Om… tolongiiiin…” Sivia mengatupkan kedua tangannya
didepan dada dengan tampang memelas.
Pemuda tampan yang terlihat begitu rapi dengan kemeja
putih yang dibalut oleh stelan jas berwarna hitam serta dasi yang berwarna
senada itu hanya melongo menatap Sivia. Pikirannya yang tadi mengatakan bahwa
ia pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya langsung menghilang seketika.
Tapi tiba-tiba, sesuatu menyapa kepalanya. Ia baru menyadari bahwa cewek ABG
ini memanggilnya dengan panggilan… OM?
“kamu manggil saya apa tadi? OM?” tanyanya dengan nada
protes.
Tapi Sivia tidak sedikitpun mendengarkan pertanyaan
dengan nada protes itu. Perhatiannya hanya tertuju pada kaca spion yang
menampakan 3 orang preman yang semakin mendekati mobil tempat persembunyiannya.
Sepertinya ketiga preman tengik itu mulai menyadari keberadaannya.
“Om…. Buruan jalanin mobilnya, Om! Premannya semakin
deket. Via takut Om…”
“BERHENTI PANGGIL GUE OM!” Bentaknya cukup keras. Tapi
Sivia tetap dengan ketidakpeduliannya. Rasa takut benar-benar menyelimutinya
kali ini.
“Om…. Buruan Om…”
“Lo gila? Ini masih lampu merah”
“terobos aja, Om… terobos!” ucapnya dengan nada menyuruh.
Pemuda itu semakin merasa tak terima.
“What??”
“Kalo Om gak mau jalanin mobilnya, sini biar Via aja yang
nyetir”
“lo bener-bener gak waras. SAKIT JIWA!”
“Satu…” Sivia mulai menghitung seraya menatap pemuda itu
dengan tajam.
“apaan?” tanyanya tidak paham.
“Dua…” Sivia kembali menghitung. Hanya tinggal beberapa
langkah lagi preman itu akan menghampiri mobil ini.
“lo nantangin gue? Hm?”
“T – ti – g…”
Lampu hijau menyala tepat sebelum Sivia menyelesaikan
hitungannya. Pemuda itu berdecak frustasi lalu segera menjalankan mobilnya
dengan kecepatan maksimal.
Hufht… akhirnya Sivia lolos dari bahaya. Sivia mengelus
dadanya sambil mengucap syukur. Sekarang, ia sudah bisa bernapas lega.
♫♫♫
“nomor yang anda
tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat
lagi”
Suara manis sang operator telfon disebrang sana beberapa
kali menyapa indera pendengar Ray saat ia mencoba menghubungi Sivia entah untuk
yang keberapa kalinya. Ray frustasi tapi juga khawatir. Meskipun Sivia adalah
Kakaknya dan Ray adalah adiknya, tetap saja sikap Ray jauh lebih mencerminkan pribadi seorang Kakak ketimang
Sivia. Selama ini, Ray selalu menjaga Sivia. Jika terjadi sesuatu pada Kakaknya
yang masih ia anggap childish itu,
maka Ray lah orang pertama yang merasa paling cemas. Dalam segala hal, Ray
selalu lebih dewasa dari Sivia. Tapi Ray, tidak sedikitpun merasa terganggu
dengan itu. Ia justru merasa senang karna bisa melindungi Kakaknya.
“Gimana, Ray? Udah ada jawaban?” Tanya seseorang yang
tiba-tiba muncul dibelakang Ray sambil membawa segelas cokelat hangat untuk
Ray.
Ray menoleh lalu tersenyum kecil pada Ify. Ify adalah
sahabat terdekat Sivia. Saat tahu Sivia menghilang sejam yang lalu, Ray
langsung pergi kerumah Ify untuk mencarinya, tapi apa yang Ray cari dirumah Ify
justru tidak ia temukan.
Perhatian Ray tertuju pada segelas cokelat hangat yang
ada ditangan Ify. Ray tersenyum mencibir lantas berkata,
“bahkan sampe sekarang lo masih nganggep gue anak kecil,
ya?” Tanya Ray dengan nada sarkatis.
Ify tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum lalu meletakan
gelas itu diatas meja.
“minum dulu gih! Susu cokelat baik buat pertumbuhan.
Apalagi kan kamu atlet basket idola Kak Ify”
“Kakak?” Tanya Ray retoris lalu mengambil posisi
disamping Ify. Lagi-lagi Ify tidak menanggapi. Ray yang memang selalu tidak
pernah tega menolak apapun yang Ify berikan padanyapun meminum susu cokelat itu
dengan terpaksa. Catat! Dengan terpaksa.
“ponsel Sivia masih belum aktif juga?”
“belum nih” jawab Ray seadanya seraya meletakan gelas
susu diatas meja. Ify hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya kearah
gerbang rumahnya. Ify seperti sedang menunggu seseorang, tapi Ray sama sekali
tidak menyadarinya.
Beberapa saat setelah Ray meletakan kembali gelas itu
diatas meja, seseorang yang sejak tadi Ify tunggu tiba-tiba saja membuka
gerbang rumah Ify. Ia tersenyum begitu manis untuk Ify lalu melambaikan
tangannya pada gadis berdagu tirus itu.
“Hay, Fy…”
“Rio” sambut Ify antusias. Ia lalu bangkit dari sisi Ray
dan berjalan mendekati Rio lalu memeluknya.
Melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Rio dan Ify, Ray
tiba-tiba merasa jantungnya seakan terbakar. Isi kepalanya pun seolah-olah
mendidih tanpa ia inginkan. Ray berdehem cukup keras lalu bangkit. Deheman Ray
itupun membuat Rio dan Ify langsung mengurai pelukan mereka.
Ray berusaha bersikap normal dan menyembunyikan
rapat-rapat rasa cemburu yang saat ini menderanya. Ray menghampiri mereka lalu
pamit.
“Fy… gue balik dulu!”
“gak mau nunggu Sivia dulu? Siapa tau ntar Sivia kesini,
Ray…”
“gak perlu” jawab Ray dingin lantas berlalu pergi.
Seketika Ify mencelos dengan jawaban serta sikap dingin yang mendadak
ditunjukan oleh Ray. Rasa bersalah itu kembali menghantuinya.
Ify terus menatap kepergian Ray hingga cowok berwajah
imut itu menghilang dibalik gerbang. Rio yang mulai menyadari bahwa ada yang
ganjil dari sikap Ifypun berdehem pelan, sama persis seperti apa yang Ray
lakukan tadi.
“kok ngeliatinnya kayak gitu amat?” Tanya Rio sembari
menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang tadi Ray duduki.
Ify menggeleng pelan. “gak gitu, Yo… aku Cuma ngerasa
bersalah aja sama Ray…”
“kalo gak mau ngerasa bersalah, ya jangan dikasih
harapan”
Ify menatap Rio dengan kening berkerut. Tidak lama Ify
sadar bahwa ternyarta Rio cemburu pada Ray. Ify tersenyum jahil. Ia berjalan
menghampiri Rio lalu duduk dipangkuan cowok berwajah manis itu.
“kamu cemburu?”
“bukan begitu. Aku Cuma gak mau kamu ngasih Ray harapan,
masalahnya yang nantinya bakalan terluka itu Ray, bukan kamu, Fy… kamu ngerti
kan?”
Ify menunduk lesu. Air mukanya langsung berubah drastis.
“aku Cuma gak tau gimana harus bersikap sama Ray, Yo. Aku
gak tau gimana caranya supaya dia gak sakit hati. Itu aja” lirih Ify. Rio pun
langsung membuang napasnya dengan kasar.
♫♫♫
Pemuda tampan itu menghentikan mobilnya tepat didepan
sebuah taman. Rasa kesalnya pada gadis yang ada disampingnya sekarang ini masih
terasa. Setelah menghela napas beberapa kali dan berusaha meredam segala luapan
emosinya, ia pun akhirnya menoleh kearah Sivia. Lagi-lagi, ia merasa seperti
pernah bertemu dengan Sivia sebelumnya. Hanya saja… ia belum begitu yakin
dengan apa yang ia rasakan sekarang ini. Mungkin hanya mirip.
“turun!” titahnya dengan tegas. Tapi Sivia sama sekali
tidak mendengar. Ia terduduk dengan pikiran hampa. Rasa kecewa yang telah
dihadiahkan oleh Papa nya masih membekas. Dan rasa kecewa yang sekarang ia
rasakan hanyalah akumulasi dari semua rasa kecewa yang selalu Papanya berikan.
Sivia tidak bisa terus berpura-pura menerima perlakuan Papanya.
Apa Papanya lupa kalau Sivia juga punya hati? Apa Papanya lupa, kalau Sivia
juga punya batas kesabaran? Ya… mungkin inilah batas kesabaran itu. Ini batas
kesabarannya selama beberapa tahun terakhir ini.
Pemuda itu merasa bingung dengan Sivia. Sedari tadi yang
Sivia lakukan hanyalah duduk melamun sambil menunduk. Pemuda itu tidak tahu
persis, tapi ia yakin bahwa saat ini Sivia sedang dalam masalah.
Pemuda itu berusaha menepikan semua ego nya. Sekali lagi
ia menghela napas panjang dan berinisiatif untuk mengantarkan gadis berpipi
chubby ini pulang kerumahnya. Ia tidak mungkin tega melihat ABG ini pulang
sendirian. Hey, come on! Dia tidak
sejahat itu, kan?
“rumah kamu dimana? Saya anterin pulang” ucapnya berusaha
terdengar sehati-hati mungkin.
Sivia menggeleng pelan. “gak. Aku gak mau pulang!”
“Tapi –“ sebelum pemuda itu menyelesaikan perkataannya,
Sivia langsung mengangkat wajahnya lalu menatap pemuda tampan berwajah oriental
itu.
“makasih ya, Om udah nolongin Via tadi?”
Alvin mengangguk meskipun hatinya merasa sangat tidak
terima dengan panggilan Sivia barusan.
“oya, saya masih 23 tahun. Bisa kan jangan panggil saya
Om?”
Sivia tampak berpikir.tidak lama ia mengangguk lalu
berusaha meralat ucapannya tadi.
“terimakasih Kakak. Via pamit ya?”
Sivia keluar dari dalam mobil itu dengan pikiran yang
masih berantakan. Merasa tidak tega melihat Sivia seperti itu, pemuda itu
buru-buru keluar dari mobilnya. Ia mengejar langkah Sivia dan menarik
pergelangan tangannya saat jarak mereka sudah dekat.
“kenapa lagi, Om? Eh… Ka… kakak?”
“kamu suka ice cream?”
Pemuda itu menatap dalam pada kedua manik mata Sivia.
Tidak lama sebuah ingatan berkelebat dikepalanya. Dalam waktu yang sedimikian
singkat, ia kembali mengingat siapa gadis ini sebenarnya. Sebisa mungkin, ia
berusaha menahan segala gejolak didadanya. Seperti skenarionya diawal. Ia harus
terlihat biasa saja jika mereka dipertemukan kembali.
Setelah cukup lama, Sivia akhirnya mengangguk atas
pertanyaan itu. Pemuda itu tersenyum miring lalu menarik lengan Sivia dan
membawanya kesebuah café ice cream yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi
mereka sekarang.
“nama Kakak siapa?” Tanya Sivia beberapa saat setelah ia
melahap satu sendok ice cream cokelat strawberry favoritnya. Saat ini, mereka
berdua sudah duduk berhadapan diatas balkon sebuah café ice cream yang tadi ia
lihat.
“Alvin” jawab pemuda itu singkat. Untuk sejenak Sivia
tertegun, kenapa pemuda ini tidak menanyakan namanya sejak tadi.
“Kakak kok gak nanyain sama aku?”
Kali ini giliran Alvin yang tertegun. Sedetik ia membeku
ditempat. ‘ternyata dia bener-bener gak
inget’ pikirnya. Tidak lama ia kembali tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan
Sivia tadi ia berkata,
“lain kali, sebesar apapun masalah yang kamu hadapi,
jangan pernah berpikir untuk kabur dari rumah. Papa sama adik kamu pasti
bakalan khawatir banget”
“Papa sama adik? Kok Kakak tau aku punya Papa sama adik?
Kakak ini peramal ya?”
Alvin tersenyum penuh misteri dan semakin membuat Sivia
kebingungan.
♫♫♫
Setelah dari café ice cream, Alvin langsung mengantarkan
Sivia pulang kerumahnya. Dan berkat Alvin, Sivia bisa melupakan semua masalah
yang sekarang ia hadapi. Bahkan tadi, Alvin mampu membuatnya tertawa lepas
bahkan disaat ia tidak ingin tersenyum. Meskipun masih sangat bingung karna
Alvin tidak menanyakan namanya sama sekali, tapi Sivia tetap menikmati
kebersamaannya dengan Alvin. Yang anehnya, bagi Sivia, ini kali pertamanya
mereka bertemu, tapi kenapa ia merasa begitu dekat dengan Alvin?
“sekali lagi makasih ya, Kak? Makasih udah nganterin aku
pulang, dan makasih juga buat traktiran ice
cream nya. Aku ngerasa lebih baik sekarang”
“it’s oke, Sivia…”
jawab Alvin seraya mengedipkan salah satu matanya.
Setelah pamit pada Sivia, Alvin langsung menjalankan
mobilnya dengan kecepatan standart. Sivia melambaikan tangannya pada pemuda
baik hati itu. Melihat apa yang Sivia lakukan dari kaca spion, Alvin tersenyum
dan tersipu. Gadis itu tetap saja keras kepala. Sama persis seperti 5 tahun
yang lalu, saat pertama kali Alvin menemukannya.
Saat mobil Alvin sudah menghilang dari pandangannya Sivia
baru mengingat sesuatu. Tadi bukannya Alvin menyebutkan namanya? Dan… bagaimana
bisa Alvin tahu alamat rumahnya sementara Sivia tidak memberitahunya? Ini aneh
dan Sivia merasa kecolongan.
“Kak Alvin? Kakak siapa sebenernya?”
To Be Continued…


0 comments:
Post a Comment