Thursday, September 18, 2014

1

My Destiny (Anugerah Terindah Pemberian Tuhan) -Prolog-

Aku berdiri diatas reruntuhan hatiku meratapi kisah indah yang aku lalui, menit demi menit berganti hari kini menjelma menjadi sebongkah kenangan pahit yang membekas dalam. Tidak, aku tidak pernah mengingkan hidup yang seperti ini. Bahkan dalam mimpipun, aku tak pernah sekalipun sudi menginginkannya.
            Tapi tangan Tuhan, justru melukiskan kisah yang lain. Kepergian dan kehilangan yang Ia hadiahkan padaku membuat sayapku patah, membuat aku tidak bisa terbang lagi. Kata orang, inilah yang disebut dengan takdir. Takdir? Takdir macam apa ini? Jika ini adalah takdir yang telah tergariskan untukku sejak semula, maka aku ingin berteriak sekeras mungkin, bahwa aku sangat membenci takdir ini.
            Hidup bersama orang yang tidak kau cintai karna suatu keharusan selama bertahun-tahun lamanya, dan bahkan terancam untuk selamanya. Apakah ini yang disebut takdir?
            Aku, dia, dan sekelumit kisah rumit ini akan menjawabnya bersama dengan… takdir kami masing-masing…

♫♫♫



Sebatang  Cokelat Kenangan..., (Terimakasih, Kakak Ganteng!)

            Gadis kecil berusia 12 tahun itu meringkuk ketakutan dibawah salah satu meja. Kedua matanya menangkap dengan jelas beberapa pasang kaki yang bersileweran kesana kemari. Dalam hati ia terus merapalkan sebuah permohonan agar Papa nya tidak menemukannya dalam persembunyiannya kali ini.
            Si Gadis kecil berwajah manis dan berpipi chubby itu harusnya kini sudah bersiap dibelakang panggung, tapi ia merasa gugup sekali. Baginya ini pengalaman pertamanya mengikuti lomba menyanyi antar sekolah. Ia merasa belum siap, bahkan tadi pagi ia sempat adu argument dengan Papanya.
            Karna Papa nya terus memaksa, ia akhirnya dengan terpaksa mengikuti perintah Papanya. Papanya bilang, ia membawa nama baik sekolah yang dipimpin oleh Papanya, jika sekali ini saja ia melakukan tindakan gila seperti ini, maka nama baik sekolah akan tercoreng.
            Tapi setibanya digedung tempat lomba dilaksanakan, gadis kecil itu mengambil kesempatan untuk bersembunyi. Ia merasa tidak mampu melawan rasa gugupnya. Ia takut sekali.
            Tanpa pernah terlintas dibenaknya sekalipun, seorang pemuda tampan yang berusia sekitar 18 tahun menunduk dan tersenyum ketika melihatnya bersembunyi dibawah meja. Pemuda tampan yang ternyata adalah seorang mahasiswa itu terkekeh pelan, ia duduk dihadapan gadis kecil itu dengan manis.
            “Hay adik kecil… kok sembunyi disini?” tanyanya dengan nada bersahabat.
            Gadis kecil itu semakin meringkuk. Takut-takut kalau Kakak ini akan menyeretnya paksa keluar dari persembunyiannya. Tapi tunggu dulu! Kakak ini memanggilnya dengan panggilan ADIK KECIL? Enak saja, ia sudah remaja sekarang. Setidaknya itulah yang ada dipikiran polosnya.
            Ia melupakan sejenak alasan kenapa ia sampai harus bersembunyi dibawah meja begini, ia lalu melotot tajam kearah Kakak sok tahu itu.
            “Aku bukan anak kecil lagi. Aku udah 12 tahun, dan aku udah remaja. Mengerti Kakak sok tahu?” cecarnya dengan wajah sok galak.
            Pemuda itu kembali terkekeh. Ia lalu mengulurkan salah satu tangannya dan mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu.
            “kamu lucu kayak anak kuncing Kakak yang baru kemarin lahir”
            “aku bukan anak kucing. Nama aku Sivia. Sivia Oriza Queen. Kakak ini bener-bener sok tahu!” sekali lagi ia melayangkan protes.
            “Oke… Sivia Oriza Queen… Sivia kenapa sembunyi disini?”
            “Kakak kenapa nanya-nanya? Kakak pasti disuruh Papa buat jemput aku kan, iya kan?”
            “Lho –“
            “Bilang sama Papa, aku gak mau ikut lomba nyanyi. Aku gugup dan aku gak bisa berdiri diatas panggung apalagi bernyanyi dalam keadaan kayak gini” ia memotong dengan nada sok dewasanya.
            Mendengar nada bicara  Sivia yang terkesan dibuat-buat malah membuat pemuda berwajah oriental itu tidak bisa menahan tawanya. Tawanya meledak dan membuat Sivia bingung setengah mati.
            “Kenapa Kakak ketawa? Ada yang lucu?”
            “Udah kakak bilang, kamu itu lucu kayak anak kucing Kakak yang baru kemarin lahir”
            “Aku bukan anak kucing!” tandasnya.
            “hahaha… oke oke oke… Sivia bukan anak kucing, tapi Sivia adalah anak yang pintar. Dimana-mana yang namanya anak pinter itu selalu ngikutin perintah Papanya. Dan yang namanya anak pinter itu gak pernah sembunyi kalo disuruh nyanyi. Mengerti?”
            Sivia diam berpikir. Tidak lama ia menatap pemuda itu dengan tatapan lugu nan polosnya. “Tapi aku gugup, Kak…” ujarnya setengah merajuk.
            “Gugup itu wajar, tapi nanti kalo Sivia udah berdiri diatas panggung dan liat senyuman Papa, gugupnya Sivia pasti bakalan ilang. Dan ini, Kakak punya hadiah kecil biar Sivia gak gugup lagi…” kata pemuda oriental itu sambil menjulurkan sebatang cokelat yang merupakan makanan kesukaan Sivia.
            Sivia tersenyum lebar lalu menerima cokelat itu dengan senang hati.
            “Kakak gak bohongin Sivia, kan?” tanyanya beberapa saat setelah ia menerima cokelat itu. Pemuda itu hanya mengangguk.
            Untuk yang terakhir kalinya pemuda itu tersenyum, dan untuk yang terakhir kalinya juga ia mengusap lembut kepala Sivia dengan sayang. Ia bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Sivia disana.
            Setelah langkah pemuda tadi lumayan jauh, Sivia baru ingat bahwa ia belum sempat mengucapkan terima kasih pada ‘Kakak Ganteng’ yang baik hati itu. Siviapun memilih keluar dari persembunyiannya dan tanpa sadar memanggil pemuda itu dengan nada setengah berteriak,
            “Kakak Ganteng!”
            Pemuda tadi tidak mendengar. Ia bahkan kini telah menghilang dari pandangan Sivia.

            “Terimakasih, Kakak Ganteng…” ucapnya pelan. Bahkan sangat pelan.

            “Siviaaa… kamu darimana saja? Daritadi Papa nyariin. Cepet siep-siep! Bentar lagi giliran kamu buat tampil” kata Papa setengah mengomel sambil menghampiri Sivia.
            Sivia tersenyum. Lalu dengan penuh semangat, ia memberi hormat pada Papanya seraya berkata,  “SIAP BOSS!!”

            Sivia melangkah kearah belakang panggung dengan semangat menggebu. Entah kenapa, rasa gugup yang sejak tadi melingkupi dirinya kini menghilang tanpa bekas sedikitpun. Kakak Ganteng tadi memang benar-benar ajaib.

            Sembari berjalan, Sivia menyimpan baik-baik cokelat itu didadanya.



♫♫♫

1 comment: