Aku berdiri diatas
reruntuhan hatiku meratapi kisah indah yang aku lalui, menit demi menit
berganti hari kini menjelma menjadi sebongkah kenangan pahit yang membekas
dalam. Tidak, aku tidak pernah mengingkan hidup yang seperti ini. Bahkan dalam
mimpipun, aku tak pernah sekalipun sudi menginginkannya.
Tapi tangan Tuhan, justru melukiskan kisah yang lain.
Kepergian dan kehilangan yang Ia hadiahkan padaku membuat sayapku patah,
membuat aku tidak bisa terbang lagi. Kata orang, inilah yang disebut dengan
takdir. Takdir? Takdir macam apa ini? Jika ini adalah takdir yang telah
tergariskan untukku sejak semula, maka aku ingin berteriak sekeras mungkin,
bahwa aku sangat membenci takdir ini.
Hidup bersama orang yang tidak kau cintai karna suatu
keharusan selama bertahun-tahun lamanya, dan bahkan terancam untuk selamanya.
Apakah ini yang disebut takdir?
Aku, dia, dan sekelumit kisah rumit ini akan menjawabnya
bersama dengan… takdir kami masing-masing…
♫♫♫
Sebatang Cokelat Kenangan..., (Terimakasih, Kakak
Ganteng!)
Gadis kecil berusia 12 tahun itu meringkuk ketakutan
dibawah salah satu meja. Kedua matanya menangkap dengan jelas beberapa pasang
kaki yang bersileweran kesana kemari. Dalam hati ia terus merapalkan sebuah
permohonan agar Papa nya tidak menemukannya dalam persembunyiannya kali ini.
Si Gadis kecil berwajah manis dan berpipi chubby itu
harusnya kini sudah bersiap dibelakang panggung, tapi ia merasa gugup sekali.
Baginya ini pengalaman pertamanya mengikuti lomba menyanyi antar sekolah. Ia
merasa belum siap, bahkan tadi pagi ia sempat adu argument dengan Papanya.
Karna Papa nya terus memaksa, ia akhirnya dengan terpaksa
mengikuti perintah Papanya. Papanya bilang, ia membawa nama baik sekolah yang
dipimpin oleh Papanya, jika sekali ini saja ia melakukan tindakan gila seperti
ini, maka nama baik sekolah akan tercoreng.
Tapi setibanya digedung tempat lomba dilaksanakan, gadis
kecil itu mengambil kesempatan untuk bersembunyi. Ia merasa tidak mampu melawan
rasa gugupnya. Ia takut sekali.
Tanpa pernah terlintas dibenaknya sekalipun, seorang
pemuda tampan yang berusia sekitar 18 tahun menunduk dan tersenyum ketika
melihatnya bersembunyi dibawah meja. Pemuda tampan yang ternyata adalah seorang
mahasiswa itu terkekeh pelan, ia duduk dihadapan gadis kecil itu dengan manis.
“Hay adik kecil… kok sembunyi disini?” tanyanya dengan
nada bersahabat.
Gadis kecil itu semakin meringkuk. Takut-takut kalau
Kakak ini akan menyeretnya paksa keluar dari persembunyiannya. Tapi tunggu
dulu! Kakak ini memanggilnya dengan panggilan ADIK KECIL? Enak saja, ia sudah
remaja sekarang. Setidaknya itulah yang ada dipikiran polosnya.
Ia melupakan sejenak alasan kenapa ia sampai harus
bersembunyi dibawah meja begini, ia lalu melotot tajam kearah Kakak sok tahu
itu.
“Aku bukan anak kecil lagi. Aku udah 12 tahun, dan aku
udah remaja. Mengerti Kakak sok tahu?” cecarnya dengan wajah sok galak.
Pemuda itu kembali terkekeh. Ia lalu mengulurkan salah
satu tangannya dan mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu.
“kamu lucu kayak anak kuncing Kakak yang baru kemarin
lahir”
“aku bukan anak kucing. Nama aku Sivia. Sivia Oriza
Queen. Kakak ini bener-bener sok tahu!” sekali lagi ia melayangkan protes.
“Oke… Sivia Oriza Queen… Sivia kenapa sembunyi disini?”
“Kakak kenapa nanya-nanya? Kakak pasti disuruh Papa buat
jemput aku kan, iya kan?”
“Lho –“
“Bilang sama Papa, aku gak mau ikut lomba nyanyi. Aku
gugup dan aku gak bisa berdiri diatas panggung apalagi bernyanyi dalam keadaan
kayak gini” ia memotong dengan nada sok dewasanya.
Mendengar nada bicara
Sivia yang terkesan dibuat-buat malah membuat pemuda berwajah oriental
itu tidak bisa menahan tawanya. Tawanya meledak dan membuat Sivia bingung
setengah mati.
“Kenapa Kakak ketawa? Ada yang lucu?”
“Udah kakak bilang, kamu itu lucu kayak anak kucing Kakak
yang baru kemarin lahir”
“Aku bukan anak kucing!” tandasnya.
“hahaha… oke oke oke… Sivia bukan anak kucing, tapi Sivia
adalah anak yang pintar. Dimana-mana yang namanya anak pinter itu selalu
ngikutin perintah Papanya. Dan yang namanya anak pinter itu gak pernah sembunyi
kalo disuruh nyanyi. Mengerti?”
Sivia diam berpikir. Tidak lama ia menatap pemuda itu
dengan tatapan lugu nan polosnya. “Tapi aku gugup, Kak…” ujarnya setengah
merajuk.
“Gugup itu wajar, tapi nanti kalo Sivia udah berdiri
diatas panggung dan liat senyuman Papa, gugupnya Sivia pasti bakalan ilang. Dan
ini, Kakak punya hadiah kecil biar Sivia gak gugup lagi…” kata pemuda oriental
itu sambil menjulurkan sebatang cokelat yang merupakan makanan kesukaan Sivia.
Sivia tersenyum lebar lalu menerima cokelat itu dengan
senang hati.
“Kakak gak bohongin Sivia, kan?” tanyanya beberapa saat setelah
ia menerima cokelat itu. Pemuda itu hanya mengangguk.
Untuk yang terakhir kalinya pemuda itu tersenyum, dan
untuk yang terakhir kalinya juga ia mengusap lembut kepala Sivia dengan sayang.
Ia bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Sivia disana.
Setelah langkah pemuda tadi lumayan jauh, Sivia baru
ingat bahwa ia belum sempat mengucapkan terima kasih pada ‘Kakak Ganteng’ yang
baik hati itu. Siviapun memilih keluar dari persembunyiannya dan tanpa sadar
memanggil pemuda itu dengan nada setengah berteriak,
“Kakak Ganteng!”
Pemuda tadi tidak mendengar. Ia bahkan kini telah
menghilang dari pandangan Sivia.
“Terimakasih, Kakak Ganteng…” ucapnya pelan. Bahkan
sangat pelan.
“Siviaaa… kamu darimana saja? Daritadi Papa nyariin.
Cepet siep-siep! Bentar lagi giliran kamu buat tampil” kata Papa setengah
mengomel sambil menghampiri Sivia.
Sivia tersenyum. Lalu dengan penuh semangat, ia memberi
hormat pada Papanya seraya berkata,
“SIAP BOSS!!”
Sivia melangkah kearah belakang panggung dengan semangat
menggebu. Entah kenapa, rasa gugup yang sejak tadi melingkupi dirinya kini menghilang
tanpa bekas sedikitpun. Kakak Ganteng tadi memang benar-benar ajaib.
Sembari berjalan, Sivia menyimpan baik-baik cokelat itu
didadanya.



koo smua cerpennya gak di slesain
ReplyDelete