Friday, June 19, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 12A)

Jakarta, 13 Juni 1999…

            Malam itu, Sylvia dan Geraldy terlihat duduk diatas ranjang mereka sambil menimang anak kembar mereka yang sudah berusia dua tahun. Gabriel terlihat pulas tidur dipelukan sang Mama, sedangkan Gissel terlihat begitu nyaman dan damai dalam pelukan Papanya.
            Sylvia terus berpikir sambil membelai lembut kepala Gabriel dengan penuh kasih. Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada Yashinta, sahabatnya yang sampai hari ini menghilang tanpa kabar apapun.
            Sudah tiga malam berturut-turut, Sylvia terus saja memikirkan Yashinta tanpa henti. sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, jujur saja, Sylvia sangat merindukan sahabatnya itu.
            “Mi, apa yang sedang Mami pikirkan sekarang?” tanya Geraldy sambil memeluk pundak isterinya dengan salah satu tangannya.
            “gak tau kenapa, Mami tiba-tiba kepikiran Yashinta, Pi. Meskipun hanya sekali, Mami ingin ketemu dengan Yashinta lagi, Mami mau minta maaf, Pi…”
            “sejujurnya… Papi juga memikirkan hal yang sama. Dengar-dengar dari salah satu relasi Papi, katanya beliau melihat Yashinta di Jepang saat upacara peresmian Sorano Hotel, kata beliau juga, Yashinta sudah menikah dan mempunyai seorang anak dengan pewaris tunggal Sorano Group, Hoshi Sorano.”
            Sylvia terlihat antusias. Matanya tampak berbinar menahan haru.
            “Pi… tolong bawa Mami ke Jepang. Mami benar-benar ingin ketemu dengan Yashinta, Pi…”
            Geraldy mengangguk beberapa kali dan semakin mempererat pelukannya pada pundak Sylvia, “kita akan pergi ke Jepang. Tapi tidak sekarang. Kita tunggu sampai Gabriel dan Gissel berusia 3 tahun…”
            “tapi itu terlalu lama…”                          
            “tidak lama jika Mami mau lebih bersabar lagi….”


♣♣♣

            Kehidupan rumah tangga Geraldy dan Sylvia berjalan nyaris sempurna kalau saja Danar Ganendra bisa menerima Sylvia dan Gissel dengan baik. Sylvia sama sekali tidak mempermasalahkan kebencian Ayah mertuanya itu padanya, yang ia sesali adalah, kenapa Danar Ganendra seolah bersikap bahwa ia tidak pernah menganggap kehadiran Gissel ada sebagai cucunya. Danar Ganendra selalu lebih memperdulikan Gabriel. Bahkan saat Gissel kecil menangis karna ingin bermain dan bermanja dalam pangkuannya, Danar justru bergeming.
            Kenyataan itu membuat Sylvia kian terluka. Dan hal yang paling Sylvia takuti selama beberapa tahun terakhir ini akhirnya terjadi juga. Danar Ganendra benar-benar memaksanya untuk keluar dari kehidupan Geraldy juga anaknya sendiri… Gabriel.
            “jadi, bagaimana keputusanmu? Saya sudah cukup bersabar selama beberapa tahun terakhir ini. Awalnya saya pikir kamu tidak akan jadi penghalang dalam urusan bisnis saya, tapi semakin jauh, kamu semakin menjadi duri disetiap jengkal langkahku…”
            “Pa—“
            “kamu tidak berhak memanggil saya dengan dengan panggilan itu! Tinggalkan Geraldy dan Gabriel disini, lalu bawa pergi anakmu dari rumah ini. Ini bukan tempat ‘duri-duri’ seperti kalian. Mengerti? Sekali lagi saya  tekankan, pergi sejauh mungkin dan usahakan untuk tidak muncul lagi. Sebagai gantinya, aku akan menjamin kehidupanmu dan anakmu ditempat persembunyian kalian. Atau jika kamu tidak ingin pergi dan ingin tetap tinggal bersama Geraldy dan Gabriel, maka sebagai bayarannya saya akan ‘membuang’ kalian semua dan membuat hidup kalian sengsara… kamu tahu sendiri Sylvia, saya bukan tipe orang yang suka bermain-main dengan perkataannya…”
            Sylvia menunduk dalam mendengar setiap perkataan tajam mengiris hati yang Danar Ganendra lontarkan. Sylvia tidak pernah menyangka, bahwa Ayah mertuanya ini akan dengan tega dan kejam membuangnya seperti ini. Airmatanya pun menetes sederas mungkin. Sebisa mungkin, ia berusaha keras menahan isakannya agar tidak terdengar. Sekarang, ia tidak memiliki pilihan lain selain harus… menyerah.

            “aku akan pergi, seperti apa yang Papa inginkan”
            “sudah saya bilang, jangan panggil saya dengan sebutan itu!!”

            “setidaknya untuk yang terakhir kalinya, Sylvia ingin memanggil Papa. Sylvia sangat menyayangi dan menghormati Papa sekalipun Papa sangat membenci Sylvia. Dan nanti, saat Gissel sudah tumbuh dewasa, akan Sylvia ceritakan padanya bahwa dia memiliki seorang Opa yang luar biasa. Sylvia janji sama Papa… dan tolong, jaga Geraldy dan Gabriel sebaik mungkin….”
            “Akan saya pastikan saya akan menjaga Geraldy dan Gabriel dengan sebaik mungkin. Maka dari itu kamu juga harus memastikan, bahwa kamu dan anak perempuanmu itu tidak akan pernah muncul lagi dihadapan saya, Geraldy dan Gabriel. Sekali kalian muncul, saya berjanji hidup kalian akan hancur sehancur-hancurnya….”

            Sylvia pun keluar dari ruang kerja Danar Ganendra dan benar-benar pergi meninggalkan istana megah itu saat Gabriel sedang tertidur dan ketika Geraldy masih dikantor. Sylvia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Geraldy yang pada akhirnya menghancurkan hidup Geraldy untuk selamanya. Ya… untuk selamanya.
           

♫♫♫


            2 minggu setelah Gabriel mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan oleh seluruh dunia, hidupnya seakan terhenti pada satu titik yang menjenuhkan. Setiap pulang sekolah, ia selalu mengunci dirinya diruang rahasia mendiang sang Mama. Tidak ada satupun yang tahu apa yang Gabriel lakukan didalam sana. Ia bahkan tidak berbicara pada siapapun, terutama pada Opanya yang ia anggap telah mencuri kebahagiaan masa kecilnya dan secara tidak langsung telah menghancurkan kehidupannya.
            Selama 2 minggu ini, Gabriel seperti mayat hidup yang berjalan. Separuh nyawanya seakan hilang entah kemana. Yang lebih menyakitkan lagi, setiap hari ia bisa melihat Via, saudara kembarnya. Tapi ia bahkan tidak bisa memeluk gadis itu dan meluapkan segala kerinduan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun lamanya. Gabriel merasa seperti ingin mati saja. dunia tempatnya berpijak seolah runtuh.
            Dan satu-satunya kekuatan yang ia miliki adalah, kenyataan bahwa adik kembarnya masih hidup. Bagi Gabriel, setidaknya ada seseorang yang harus ia perjuangkan. Dan setidaknya ia memiliki satu alasan agar tetap hidup.
            Suara ketukan pintu dari luar sana sama sekali tidak membuat Gabriel terusik. Sudah hampir tiga kali asisten rumah tangga memanggilnya untuk mengingatkannya makan. Sejak pagi tadi, Gabriel belum sama sekali menyentuh makanan. Tapi Gabriel tetap bergeming ditempatnya.  Hal itu membuat Zahra –Kakak sepupunya- merasa sangat cemas. Dan Gabriel yang biasanya sangat menurut pada Zahra, sekarang malah tak acuh dan membiarkan Kakak sepupunya itu semakin cemas.
            Gabriel sudah terlanjur menulikan pendengarannya dan menumpulkan hatinya untuk tidak memaafkan siapapun yang menjadi penyebab yang turut terlibat menghancurkan kehidupannya yang sempurna.
            Hari hampir menjelang malam, tapi airmata itu belum juga mau surut. Gabriel menangis bisu, tanpa suara, tanpa isakan. Dadanya kian sesak saat sekelebat bayangan dari masa kecilnya yang bahagia menghantam sanubarinya dan menyeret kembali memori itu. Selama empat belas tahun ia hidup seperti robot bodoh yang dikendalikan oleh sang kakek, ia tidak berhak mengetahui apapun tentang Mama dan saudara kembarnya. Lalu saat semuanya terbongkar, Tuhan justru telah memanggil Mamanya terlebih dahulu, bahkan sebelum mereka dipertemukan, bahkan sebelum Gabriel dapat memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
            Kenyataan ini seakan memukul telak dadanya dan membunuhnya secara perlahan, amat perlahan, dan sangat menyakitkan.
            “sampai kapan kamu akan terus menyiksa diri seperti ini, Gabriel?!” sebuah suara baritone milik Danar Ganendra terdengar menggema didalam ruangan itu. Gabriel serta-merta membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam.
            “apapun yang kamu lakukan sekarang, sekuat apapun kamu menyiksa diri, semua itu tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan yang sudah terjadi. Jadi, berhenti bertindak konyol, keluar dari ruangan ini dan hadapi semuanya dengan berani! Opa mendidik kamu untuk menjadi anak lelaki yang kuat, bukan justru menjadi anak kecil cengeng yang terus menangisi kedaannya seperti ini!”
            “setidaknya Iel ingin menghukum diri sendiri…” pungkas Gabriel sambil menatap Danar Ganendra dengan berani.
            Danar Ganendra terdiam dengan otot-otot diwajahnya yang tampak menegang.
            “apa yang kamu bicarakan, Gabriel?”
            Gabriel bangkit dari sofa usang yang sejak tadi ia duduki dan berdiri dengan tegak dan menantang didepan Opanya.
            “Iel ingin menghukum diri Iel sendiri atas kebodohan dan ketidakberdayaan Iel selama empat belas tahun ini…”
            Itulah ucapan terakhir Gabriel sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Danar Ganendra seorang diri disana.
            Gabriel sudah tidak ingin peduli lagi. Dan ia sudah terlalu lelah untuk mengalah.



♫♫♫

            Sore itu Rio dan Ify sedang belajar bersama dihalaman belakang rumah Ify untuk persiapan menghadapi ujian Biologi besok pagi. Mereka berdua tampak focus dengan beberapa materi yang sedang mereka bahas meskipun sesekali Rio terlihat menggoda Ify.
            “Rio serius, ah!” protes Ify saat Rio terus menggodanya tanpa henti.
            “gak usah terlalu serius lah, Fy, santai aja. Toh kita bakalan naik kelas juga…” ucap Rio enteng yang justru semakin menyulut kekesalan Ify.
            “otak aku gak sepinter kamu, Yo. Aku juga gak bisa sesantai kamu sekarang!” ketus Ify dengan wajahnya yang tampak masam.
            “lho, kok jadi marah sih?”
            “kamu sih nyebelin” jawab Ify tidak kalah ketusnya sambil terus mencatat beberapa istilah latin yang menurutnya lebih menyebalkan dari pacarnya ini.
            “gak usah ngambek! Nanti jelek. Pacarnya Arion Aristo gak boleh jelek…” sindir Rio dengan jahil.
            “It’s your problem, Rio…” balas Ify dengan nada masa bodoh seraya melihat Rio sekilas. Ia lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada buku cetak biologinya.
            Dan tanpa mereka tahu, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dan mendengarkan semua perbincangan mereka tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan.
            Shilla berjalan mundur dengan perasaan yang hancur lebur. Cukup lama ia memendam perasaan pada Rio dan mengharapkan pemuda itu untuk membalas perasaannya. Tapi apa yang justru ia dapatkan dari Rio? Rio bahkan tidak sedikitpun melihatnya ada sebagai sosok seorang gadis yang menyimpan hati padanya. Rio hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang teman biasa yang juga merupakan mantan pacar dari sahabatnya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, ternyata Rio memilih Ify –yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri- menjadi pacarnya.
            Shilla baru menyadari bahwa ada banyak hal yang luput dari kepekaan hatinya. Dan sesuatu yang luput itu justru menghancurkan leburkan hatinya tanpa ampun.
            Baru saja Shilla akan berbalik pergi dan meninggalkan rumah Ify, seorang asisten rumah tangga dikediaman itu justru menghampirinya, “Non Shilla kenapa gak gabung sama Non Ify dan Den Rio?”
            Rio dan Ify serta-merta menoleh saat mendengar seseorang menyebutkan satu nama yang sudah sangat familiar bagi mereka. Dan Ify kaget setengah mati saat kedua manic matanya menangkap sepasang mata indah Shilla yang memerah dengan linangan airmata yang tertahan sempurna dipelupuk matanya.
            “Shi—Shilla?” lirihnya setengah percaya setengah tidak. Ify lalu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Shilla dengan diikuti oleh Rio dibelakangnya.
            “gu—gue ada urusan lain. Gu—gue pamit dulu…”
            Shill akhirnya memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengar apapun. Sebisa mungkin ia juga berpura-pura terlihat kuat dan tegar untuk menutupi perih dihatinya. Apapun yang terjadi, Shilla harus bisa melakukannya.
            “gue bisa jelasin semuanya, Shill…” Ify masih berusaha untuk menjelaskan.
            “gu—gue gak ngerti lo ngomong apaan, Fy. Gu—gue harus pergi sekarang…”
            Rio buru-buru mencekal pergelangan tangan Shilla saat Shilla baru saja akan beranjak pergi. Untuk beberapa saat, Rio menatap kedua mata Shilla.
            “gue anterin…” ujarnya kemudian seraya mempererat genggaman tangannya.
            Shilla lalu menarik pergelangan tangannya dari genggaman Rio seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
            “gue udah pesen taksi. Dan satu lagi… untuk sementara ini gue mau sendiri. Jadi, kalian berdua tolong jangan gangguin gue dulu…”
            Shilla akhirnya benar-benar pergi. Airmata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya menetes dan berdesakan keluar. Jantungnya seakan dipukul oleh sebuah benda berduri. Dadanya terasa sesak dan sangat perih sekarang.



♫♫♫

            Hari sudah beranjak gelap. Hujanpun tiba-tiba turun dengan lebatnya. Padahal sore tadi, tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa malam ini hujan akan turun mengguyur sebagian kota. Para pejalan kaki yang beberapa saat lalu terlihat berjalan dengan tenang disepanjang pinggir jalan mulai terlihat berlarian mencari tempat berteduh. Dan Gabriel yang sejak tadi mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan yang jelas mulai memperlambat kecepatannya saat ia melihat sosok yang ia begitu kenal berjalan dengan wajah sendu diantara rintikan hujan dan diantara orang-orang yang terlihat berlalu-lalang mencari tempat berteduh.
            Shilla terlihat berjalan sendirian ditepi jalan seraya memeluk erat tubuhnya sendiri yang tampak menggigil menahan dingin. Meskipun dari jarak yang lumayan jauh, tapi Gabriel tahu pasti, bahwa mantan kekasihnya itu sedang menangis. Gabriel lalu buru-buru menepi dan menghentikan mobilnya tepat disamping Shilla. Ia lantas membuka kaca mobilnya,
            “Shilla!” panggilnya dengan cukup keras. Raut panic serta cemas mewarnai wajah manisnya.
            Shilla serta-merta menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Gabriel. Rasa cemas itu kian menyeruak saat Gabriel melihat seraut wajah cantik itu memucat dengan bibir tipisnya yang tampak membiru, “Shill, kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu ujan-ujanan malem-malem begini?” ujar Gabriel dengan emosi dan rasa kalut yang gagal ia bendung.
            “Iel….” Lirih Shilla dengan isakan yang coba ia tahan.
            Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Gabriel segera turun dari mobilnya dan menghampiri Shilla, “Shill, kamu ken—“ sebelum Gabriel menyelesaikan pertanyaannya, secara tiba-tiba Shilla memeluk Gabriel erat dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Gabriel.
            “Iel… hiks hiks hiks…”
            “kamu kenapa, Shill?” Gabriel mengulang kembali pertanyaannya seraya dengan ragu-ragu membalas pelukan Shilla dan membelai lembut rambutnya yang sudah basah terguyur hujan. Tangis Shilla semakin kuat diiringi dengan guyuran hujan yang semakin lebat membasahi tubuh mereka.
            “hiks hiks hiks… Rio, Yel… ternyata Rio udah jadian sama Ify. Sakit Yel, dada aku rasanya sakit banget pas tau itu…”
            Tanpa sadar, kedua tangan Gabriel yang baru saja mendekap erat tubuh ramping Shilla terlepas begitu saja. Memangnya apalagi yang lebih menyakitkan dari ini? Seseorang yang sangat dia sayangi, menangisi laki-laki lain dalam pelukannya. Hati Gabriel yang semula hancur karna rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Opanya dan kenyataan bahwa Mamanya telah meninggal dunia, kini kian hancur karena menyaksikan bagaimana cara Shilla menangisi Rio.
            Hatinya nyaris tidak berbentuk lagi. Keadaan yang sangat kejam ini seakan membunuhnya dua kali, secara bertubi-tubi.
            “aku gak tahu harus gimana sekarang, Yel. Aku gak tahu, hiks hiks hiks… tolongin aku, Yel…”
            Gabriel memejamkan kedua matanya untuk meredam segala rasa sakit yang kini seakan menyerangnya secara membabi buta dari segala arah. Gabriel menghela napas dalam-dalam untuk menetralisir rasa sesak yang kian menyiksanya tanpa ampun. Ia lalu berusaha menguatkan hatinya yang nyaris tidak tertolong dan kembali memeluk tubuh ringkih Shilla dengan sekuat hatinya.

            “semuanya akan baik-baik aja, Shill. Selama ada aku disamping kamu, aku janji semuanya akan baik-baik aja. Jadi, kamu gak perlu takut….”




♫♫♫


            SIAL!! Alvin mengumpat saat tahu ia kesiangan bangun. Waktu sudah menunjukan pukul enam lewat lima belas menit saat ia membuka mata. Harusnya Alvin bangun tiga puluh menit lebih awal untuk mempersiapkan diri. Hari ini adalah hari pertama ujian kenaikan kelas, tapi ia justru telat bangun.
            Pagi ini semua persiapan Alvin benar-benar super kilat. Mengingat jarak sekolah yang cukup jauh dari rumahnya membuat Alvin tidak bisa mengulur waktu lagi. Setelah berpakaian, mengenakan sepatu, dan menyiapkan beberapa buku, Alvin segera keluar dari kamarnya. Dalam waktu yang bersamaan, Via juga keluar dari kamarnya dengan wajah yang tidak kalah panic nya dari wajah Alvin sekarang. Mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya lari terbirit-birit menuruni anak tangga.
            “Den Alvin sarapannya!” ucap Bi Ningsih dengan nada cukup keras saat melihat Tuan Mudanya yang berlari keluar rumah. Alvin tidak menggubris ucapan Bi Ningsih, ia justru berteriak dan meminta Via untuk lebih cepat lagi.
            “VIA CEPETAN!”
            “Iya, iya…” jawab Via dengan napas tersengal seraya berusaha mengejar langkah Alvin.
            “Non Via!” Bi Ningsih buru-buru menghalangi Via dan memegang lengannya.
            “ada apa, Bi? Udah mau telat nih…” tanya Via sambil berusaha mengatur napasnya yang terdengar memburu.
            “tadi sebelum Tuan dan Nyonya berangkat kekantor, mereka ninggalin pesan. Katanya hari ini mereka bakalan ke Surabaya untuk 3 hari. Dan sore nanti, setelah pulang sekolah, Den Alvin diminta untuk menjemput Non Angel di asrama…”
            “iya, Bi. Nanti Via sampein ke Alvin. Ya udah ya, Bi… Via berangkat dulu…”
            “sarapannya?”
            “nanti aja! Sekarang kita udah mau telat…”
            Via kembali berlari dan menyusul Alvin yang sudah menunggu didalam mobilnya dengan pandangan sebal. “lama amat! Ngapain aja sih lo?” tanya Alvin judes saat Via sudah duduk dijok penumpang dengan napasnya yang terdengar memburu.
            “hari ini Mama sama Papa mau ke Surabaya. Dan tadi kata Bi Ningsih, nanti sore kita disuruh jemput Angel di asrama”
            Alvin berdecak kesal. Arloji yang melingkar dipergelangan tangannya sudah hampir menunjukan  pukul setengah tujuh. Alvin lantas menjalankan mobilnya tanpa mengucapkan apapun. Saat ini yang paling penting adalah, ia harus tiba disekolah tepat waktu bagaimanapun caranya.
            Tepat sepuluh menit sebelum bel tanda masuk berkumandang, Alvin dan Via tiba disekolah. Mereka berdua sama-sama menghela napas lega. Tapi itu tidak lama, karena setelahnya Via menatap sengit kearah Alvin yang sejak tadi hanya marah-marah disepanjang jalan.
            “makanya jangan marah-marah mulu! Liat tuh kita belum telat. Lagian jadi cowok lebay banget sih” protes Via keki. Ia melipat kedua tangannya diperut dan membuang wajahnya kearah lain. Baru semalam mereka resmi berpacaran, tapi sekarang apa? Bukannya bersikap lembut pada Via, Alvin malah marah-marah.
            “lo marah?” tanya Alvin singkat dan terdengar nyaris tidak peduli.
            “bukan marah, tapi kesel! Pacar sendiri lo omel-omelin”
            “PACAR?!” Tanya Alvin sarkatis dengan raut wajah protes.
            Ups! Apa ada yang salah dengan ucapan Via barusan? Pikir Via sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Via tampak berpikir. Ia merasa tidak ada yang salah, lalu kenapa Alvin justru menunjukan reaksi berlebihan seperti ini?
            “kenapa? Ada yang salah sama omongan gue?” Via memberanikan dirinya menatap kedua mata Alvin dengan pandangan menantang dan menuntut.
            “sejak kapan lo jadi pacar gue?! Gak usah ngaco!”
            Via membelalak maksimal. Jadi intinya Alvin tidak menganggapnya pacar? Lalu yang semalam itu apa? Atau apa kejadian semalam hanya bagian dari mimpinya? Tidak, tidak mungkin. Semuanya terasa sangat nyata, bahkan sampai detik ini.
            “kan… kan se—semalem, e—lo bilang, elo sa—sa—sayang sama gue” ucap Via terbata. Kekuatan yang sejak tadi terpatri dalam dirinya entah kenapa pupus begitu saja.
            Alvin tersenyum meremehkan. Ia tertawa meledek untuk beberapa saat lalu mengangkat dagu Via hingga sepasang mata mereka kembali bertemu.
            “gue Cuma bilang gue sayang sama lo. Dan gue… gak pernah bilang kalo kita pacaran…”
            Keterlaluan! Alvin sudah benar-benar kelewatan batas sekarang. Jangan harap Via sudi memaafkannya setelah Alvin mempermalukannya habis-habisan seperti ini.
            Via yang sudah merasa tidak punya muka lagi dihadapan Alvin segera menepis tangan Alvin dari dagunya. Tapi baru saja ia akan membuka pintu, Alvin malah menarik salah satu tangannya dan menahannya. “lepas! Gue mau keluar.” Titah Via sambil berusaha memberontak dari kungkungan Alvin.
            “hahaha… just kidding, Gisselavia” kata Alvin pada akhirnya setelah cukup lama berusaha mati-matian menahan tawanya.
            “APA?!” Kaget Via. Alvin tidak hanya mempermalukannya, tapi juga membuatnya benar-benar merasa sangat bodoh sekarang. Alvin mengusap puncak kepala Via dengan sayang. Seumur hidupnya, bagi Alvin, ini kali pertamanya ia bisa bercanda selepas ini.
            “marahnya ditunda aja sampai nanti. Sekarang kita cepet-cepet kekelas. Bentar lagi bel, lho…” ucap Alvin dengan nada super lembut yang sukses meluluh-lantakkan hati Via hanya dalam hitungan detik. Via yang beberapa saat lalu merasa sangat marah pada Alvin sekarang justru terlihat biasa saja. Via tersipu malu untuk sesaat sebelum akhirnya ia mengingat sesuatu. Dan sebelum Alvin keluar dari mobil, giliran Via yang menahan salah satu tangan Alvin.
            “kenapa lagi?” tanya Alvin bingung.
            “tadi lo ngingetin gue sesuatu”
            “apa?”
            “kalo semalem… elo belom nembak gue. Lo Cuma bilang, kalo lo… sayang sama gue. Dan lo… belom minta gue buat jadi cewek lo, jadi—“
            “jadi lo minta gue tembak sekarang?!” sela Alvin sebelum Via sempat menyelesaikan kalimatnya. Dengan muka polosnya Via menganggukan kepalanya. Alvin terkekeh lalu menoyor pelan kepala Via, yang kemudian langsung disambut oleh tatapan sebal dari Via.
            “lo musti inget, kita udah mau kelas dua belas sekarang, dan kita bukan anak SMP lagi yang mainnya tembak-tembakan. Cukup lo tahu kalo gue sayang sama lo, dan gue tahu lo sayang sama gue, ya udah kita jalan. Gak perlu tuh pake tembak-tembakan segala, menurut gue, itu tuh childish banget, dan kalo lo beneran sayang sama gue, lo harus ikutin aturan main gue, mengerti Nona?”
            Seperti seorang anak kecil lugu yang mengikuti perintah sang Ayah, Via hanya mengangguk tanpa mengajukan protes apapun lagi. Perkataan terakhir Alvin cukup ‘menamparnya’. Ia baru mengerti, ternyata seorang Calvin Nicholas tidak hanya dewasa dalam perkataan, tapi juga dalam sikap dan prilaku. Dan hal yang baru saja ia mengerti itu justru menyentak kesadarannya, bahwa sikapnya dan sikap Alvin amat berseberangan satu sama lain. Dan ia takut, hal itu justru akan menjadi boomerang bagi mereka dikemudian hari.
            Dan Via mulai ragu, apakah Alvin akan bisa menerima sikapnya atau justru menyerah pada sikap kekanak-kanakannya.



♫♫♫


            Ify menunggu Shilla dengan risau didepan ruang ujiannya. Tujuannya ada disana sekarang tentu saja untuk menjelaskan semuanya pada Shilla. Ia tidak ingin Shilla terus membencinya. Dan ia tidak ingin persahabatannya dengan Shilla pada akhirnya hancur. Sebenarnya Rio sudah meminta Ify untuk tidak menemui Shilla sendiri. Rio juga meminta supaya Ify memberikan Shilla waktu untuk berfikir seperti apa yang dia minta, tapi Ify sudah benar-benar tidak sabar.
            Sudah hampir sepuluh menit Ify menunggu didepan ruangan itu, tapi hingga sekarang, Shilla belum juga menampakan tanda-tanda kehadirannya. Dan tepat lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, Ify akhirnya melihat sosok Shilla yang terlihat berjalan lunglai diantara kerumunan siswa-siswi lainnya. Meskipun dari jarak yang cukup jauh, tapi Ify dapat menangkap ada kesedihan yang mendalam dikedua mata jernih itu. Dan sialnya, Ify sendirilah yang menyebabkan kesedihan itu.
            Ify buru-buru menghampiri Shilla. Ia meraih salah satu tangan Shilla dan menghalangi jalannya, “Shill, kita harus ngomong!”
            Shilla menarik kasar tangannya dari genggaman Ify lalu kembali berjalan dan melewati Ify begitu saja. Hatinya sudah terlanjur sakit, dan ia sudah terlanjur merasa dikhianati. Sekalipun sangat ingin, tapi sulit bagi Shilla untuk bisa memaafkan Ify.
            “Shill… please sekali ini aja dengerin gue. Kita berdua bener-bener butuh bicara”
            Ify lagi-lagi menghalangi Shilla. Kali ini Shilla tidak melawan, ia melipat kedua tangannya diperut dan menatap Ify datar.
            “gue minta maaf karna gak bisa jujur sama lo, gue—“
            KRIIIIIING!! Bel tanda masuk berkumandang panjang sebelum Ify menyelesaikan pembicaraannya. Shilla menghela napas seraya menatap Ify dengan salah satu alis terangkat. Shilla terdiam untuk beberapa saat, dan setelah bel tidak lagi berbunyi, Shilla lantas berkata, “masuk kelas gih. Dan kerjain ujian lo dengan baik”
            Shilla kembali melangkah tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Dan Ify hanya menatap kepergian Shilla tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Shilla ternyata benar-benar marah padanya. Tidak, Shilla tidak hanya sekedar marah padanya, tapi Shilla sudah benar-benar kecewa padanya, dan mungkin sangat kecewa.


♫♫♫

            Sial! Alvin benar-benar tidak mengacuhkan Via selama disekolah. Dihadapan teman-temannya dan dihadapan semua orang, Via seakan tidak kasatmata bagi Alvin. Bahkan tadi, saat Via berusaha menggandeng tangannya, Alvin malah menepis tangan Via begitu saja. Via kesal, saat jam istirahat tiba, Alvin bahkan lebih memilih berkutat dengan bukunya sendiri, ia tidak mengijinkan Via menemaninya belajar seperti pasangan-pasangan lain pada umumnya. Hari ini, Alvin benar-benar membuatnya gondok setengah mati. Jika bisa, rasanya Via ingin mengenyahkan Alvin dari muka bumi ini. Via benar-benar muak.
            Dihari pertama mereka jadian saja Alvin sudah sangat menyebalkan, bagaimana nanti?
            Via duduk sendirian ditepi lapangan basket. Teman-temannya, Ify, Shilla dan Agni terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Via tidak enak jika harus menganggu kesibukan teman-temannya itu.
            Dari seberang lapangan yang berhadapan langsung dengan perpustakaan, Via dapat melihat Alvin dari kaca jendela yang terlihat focus membaca sebuah buku cetak. Dan melihat bagaimana cara Alvin bersikap hari ini justru membuat Via kembali berpikir, kenapa ia harus menerima Alvin jadi pacarnya semalam? Kenapa Via tidak meminta waktu untuk berpikir? Ergh! Via merasa benar-benar bodoh sekarang.
            Via tiba-tiba tersentak saat seseorang melemparkan bola basket kearahnya dan jatuh tepat dibawah kakinya. Via mengambil bola basket itu lalu mengangkat wajahnya. Saat itu, Cakka sudah berdiri tepat dihadapannya seraya menatap kedua mata Via dalam-dalam.
            Via lalu mengangkat wajahnya, berusaha terlihat tenang dan langsung melempar bola itu kearah Cakka. Saat itu juga, Cakka tersenyum dengan kesan meremehkan.
            “lo mau main sama gue, gak?” tanya Cakka dingin. Sepertinya Cakka masih menyimpan kecewa atas penolakan Via tempo hari. Cakka mem-passing bola itu yang langsung ditangkap dengan sangat baik oleh Via.
            “daripada main, mending lo belajar buat ujian biologi nanti” Via mem-passing kembali bola itu kearah Cakka.
            Saat Via sudah berbalik pergi dan akan melangkahkan kakinya, Cakka kembali buka suara.
            “kalo lo bisa ngalahin gue sekarang, gue pastiin gue bakalan ngelepasin lo. Tapi kalo gak… yang terjadi justru sebaliknya. Gue… gak akan pernah ngelepasin lo”
            “gak usah ngaco!”
            “dan kalo nolak, berarti lo ngaku kalah, dan secara gak langsung, elo sendiri yang minta gue buat tetep memperjuangkan lo”

            Via diam berpikir. Apa yang harus ia lakukan sekarang?



♫♫♫


            Alvin tersenyum kecil saat melihat Via yang duduk sendirian dipinggir lapangan basket dengan muka sebalnya. Entah kenapa, Alvin selalu merasa terhibur saat melihat muka sebal yang Via tampakan. Tanpa sepengetahuan gadis yang kini resmi menjadi miliknya itu, Alvin selalu diam-diam memperhatikannya, dan meskipun terkesan cuek, Alvin sangat peduli dengan segala hal menyangkut gadisnya itu. Bagi Alvin, sekarang Via adalah dunianya. Hanya dengan gadis itu berada disampingnya, Alvin tidak takut pada apapun. Dan bisa memiliki Via seutuhnya sudah lebih dari cukup bagi Alvin. Maka Alvin sudah tidak menginginkan apapun lagi.
            Saat tengah asyik memperhatikan Via, Via tiba-tiba saja melihat kearah Alvin. Tidak ingin tertangkap basah sedang memperhatikannya, Alvin buru-buru mengalihkan pandangannya kearah buku yang sejak tadi ada ditangannya. Dan Alvin sangat pandai dalam berakting, buktinya sekarang, Via percaya begitu saja bahwa Alvin benar-benar tidak melihatnya… sama sekali. Alvin berdehem pelan dan berusaha mengatur detak jantungnya yang mulai belingsatan. Hufht… hampir saja.
            Saat Alvin kembali mengangkat wajahnya dan melihat kearah Via, secara tiba-tiba Cakka dan Via sudah berdiri berhadapan seraya saling mengoper bola basket satu sama lain. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Merasa ada yang tidak beres, Alvin segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari perpustakaan.



♫♫♫

            “gak ada yang boleh tanding basket!!”
            Satu suara dari belakang Via membuat Cakka dan Via sama-sama terkejut dan melihat kearah sumber suara. Kedua mata Via terbelalak maksimal saat melihat sosok Alvin yang berdiri dengan cool dibelakangnya sambil memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celananya.
            “Via! Apa lo udah ngerasa pinter sekarang? Kenapa lo malah nongkrong disini dan bukannya pergi belajar sama Ify dan Agni?” tanya Alvin dengan tegas sambil menatap tajam kearah Via. Via yang awalnya kaget sekarang akhirnya bisa bernafas lega. Mungkin Alvin tidak menyadarinya, tapi cowok es itu sudah menyelamatkannya kali ini.
            “gu—gue…” Via tampak gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya sambil menatap bingung kearah Alvin dan sesekali menatap Cakka yang terlihat membeku ditempatnya.
            “dan lo Cakka! Apa lo udah siep dapet hukuman dari bokap lo karna nilai lo disemester ini?” Alvin menatap sengit kearah Cakka, begitu juga dengan Cakka. Entah kenapa, Cakka mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dibalik semua ini.
            Setelah cukup lama diam dalam ketegangan, Alvin lantas menarik salah satu tangan Via dan membawanya pergi dari hadapan Cakka. “ikut gue!”
            Cakka menatap Alvin dan Via yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Biasanya Alvin mengerti dengan apa yang Cakka mau, tapi kenapa sekarang Alvin seolah tidak tahu apapun dan dengan seakan dengan sengaja menghancurkan rencananya. Pasti ada yang tidak beres! Fikirnya.
            Cakka mencengkram kuat tangan kananya. Dengan pelan ia bergumam,

            “gue pastiin ini yang terakhir!”



♫♫♫


            Via tersipu saat melihat tangannya yang berada dalam genggaman Alvin. Ia terus berjalan mengikuti Alvin dibelakang sambil membekap mulutnya dengan salah satu tangannya yang bebas. Jantungnya berdegub dengan sangat kencang saat Alvin mengenggam erat tangannya. Alvin lalu menghentikan langkahnya dan menatap Via dengan kesal,
            “lo apa-apaan sih? Bukannya belajar malah keliaran. Gue gak mau tanggung jawab ya sama Mama dan Papa kalo sampe nilai lo jelek. Bisa gak sih, sehariiii aja lo gak usah nyusahin gue?”
            Jika biasanya Via melawan saat dimarahi oleh Alvin, maka kali ini Via terlihat menerima, bahkan dengan senang hati. Bukan karna apapun, hanya saja genggaman tangan Alvin pada tangannya membuat ia tidak bisa berpikir dengan baik. Via terlalu senang hingga tidak menyadari bahwa saat ini Alvin sedang memarahinya habis-habisan.
            Merasa ada yang ganjal dengan sikap gadis ini, Alvinpun merasa aneh. Ia bahkan belum menyadari bahwa saat ini tangan mereka saling bertaut satu sama lain. Dan saat Alvin mulai menyadarinya, ia terlihat salah tingkah dan berusaha melepaskan tangannya. Tapi Via tidak membiarkannya begitu saja, Via menahan tangan Alvin sekuat yang ia bisa.
            Pada akhirnya Alvin mengalah. Toh ia juga merasa nyaman dengan kedaan ini. Dan Alvin tidak ingin membohongi perasaannya. Untuk beberapa saat, Alvin dan Via saling menatap dalam diam. Via tersenyum sangat manis, sementara Alvin, ia hanya menampakan wajah dinginnya untuk menutupi segala rasa tidak terjelaskan yang kini yang berkecamuk didadanya.
            “ehem…”
            Gabriel tiba-tiba saja muncul diantara mereka sambil berdehem keras. Alvin yang kaget dengan kehadiran Gabriel buru-buru melepaskan genggamannya dari tangan Via. Seketika Via langsung mencelos dengan apa yang Alvin lakukan baru saja. Yang Via tangkap adalah, Alvin seakan-akan sengaja menyembunyikan hubungan mereka.
            “ngapain kalian disini? Berduaan lagi” tanya Gabriel dengan tatapan menyelidik. Pandangan mata elang milik Gabriel terhenti diwajah Via. Gabriel bahkan belum bisa mempercayai bahwa saat ini, ia sedang berhadapan dengaan saudara kembarnya sendiri, tapi yang menyakitkan bagi Gabriel adalah, ia justru tidak bisa memeluk Gissel-nya dan mengatakan bahwa ia sangat merindukannya.
            “siapa yang berduaan?” tanya Alvin dingin.
            Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada kedua orang itu, Via akhirnya memilih untuk hengkang terlebih dahulu. Dan baru saja Alvin akan menyusul Via, Gabriel malah menghalangi langkahnya. Kali ini giliran Alvin yang menatap Gabriel dengan bingung. Sementara Gabriel, ia terlihat tetap tenang sambil memamerkan evil smile-nya.

            “gue tahu, lo dan Via bukan saudara sepupu!”

            Alvin terkejut bukan main. Darimana Gabriel tahu rahasianya ini? Ini gila. Benar-benar sangat gila!



♫♫♫


            Ujian biologi sudah berakhir, dan melegakannya lagi, Via dapat menyelesaikan soal-soal dengan baik. Ia berani jamin hasilnya nanti pasti akan memuaskan, dan Alvin tidak akan memiliki alasan lagi untuk memarah-marahinya. Dan jika nanti ia mendapatkan nilai yang memuaskan pada Ujian Kenaikan Kelas ini, Via bersumpah akan meminta hadiah pada Alvin.
            Via membereskan barang-barang yang ada diatas mejanya dengan terburu-buru, kelas sudah sepi dan hanya ada Via seorang yang tertinggal didalamnya. Saat semuanya sudah beres, Via pun keluar dari kelasnya. Tapi seseorang yang tiba-tiba saja datang dan muncul dipintu membuatnya tercengang dan secara otomatis menghentikan langkahnya. Via mundur selangkah. Jantungnya mendadak berdegub dengan sangat kencang. Rasa aneh yang selama ini membayanginya dalam rasa takut kembali muncul.

            “se—sedang apa anda disini?” tanya Via terbata.

            “Gisselavia Garnetta… apa kabar, Nak?” sapanya kemudian dengan sangat ramah dan bersahabat.

            Ia tersenyum hangat dan membuat hati siapa yang melihatnya akan menjadi tenang. Dialah Danar Ganendra, yang kini sedang menemui cucu nya setelah cukup lama bersembunyi.


♫♫♫

            Alvin menggeram marah. Sudah 5 kali ia mencoba menghubungi Via, tapi tetap saja tidak ada jawaban apapun. Alvin lantas melirik arlojinya dan melihat waktu yang saat itu sudah menunjukan pukul setengah satu siang. Ujian sudah berakhir sekitar setengah jam yang lalu, sekolah bahkan hampir sepi, lalu kemana perginya gadis ceroboh itu? Memangnya dia pikir dia siapa bisa dengan seenaknya membuat Alvin menunggu seperti ini?
            Alvin yang sudah tidak bisa lagi membendung rasa kesalnya pada akhirnya memutuskan untuk menyusul Via keruangannya yang terletak dilantai tiga. Baru saja ia menginjakan kaki dilantai dua, Alvin tahu-tahu berpapasan dengan seorang siswa yang ia ketahui adalah teman satu ruangan Via di Ujian Kenaikan Kelas semester ini. Alvin memanggil namanya dan menghentikannya.
            “Irsyad! Lo liat Via gak?”
            Cowok berwajah manis dan berkulit agak gelap itu terlihat berpikir untuk sejenak sebelum akhirnya menjawab.
            “tadi setelah ujian dia diem dikelas. Setau gue, Via yang terakhir keluar dari kelas”
            “hah? terus sekarang masih dikelas?” tanya Alvin berusaha untuk tetap tenang.
            “gak tau juga! Tapi coba lo cek deh” jawab Irsyad seadanya yang sama sekali tidak memberikan petunjuk yang ‘membantu’ untuk Alvin.
            Alvin yang tidak mau ambil pusing  lagi kembali melanjutkan langkahnya. Dengan setengah berlari ia menyusuri anak tangga untuk mencapai lantai 3. Dan saat ia tiba diruang ujian Via, Alvin tidak menemukan siapapun, kecuali seorang cleaning service yang sedang membersihkan ruang kelas. Jujur saja, firasat Alvin mendadak tidak enak.
            “Pak Anas, Pak…” panggil Alvin dengan tergesa-tergesa sambil menghampiri Pak Anas yang sedang sibuk membersihkan ruang kelas.
            “ada apa?” tanya Pak Anas singkat sambil menghentikan sejenak aktifitasnya.
            “Pak Anas  liat ada siswi gak tadi dikelas ini?”
            “siswi? Maksud Den itu, Neng Via?”
            “iya. Pak Anas liat Via gak?”
            “tadi sih saya sempat melihat Neng Via dari jauh. Neng Via masuk kesebuah mobil sedan  dengan seseorang yang kelihatannya sudah lanjut usia?”
            “hah? siapa?” kaget Alvin.
            “saya gak tau, Den…”
            Saat Alvin nyaris frustasi karna rasa cemasnya, ia tiba-tiba saja dikejutkan oleh getaran ponselnya. Alvin sedikit tersentak lalu buru-buru mengecek sms-nya. Dan ternyata… Alvin mendapatkan sms dari Via. Gadis yang saat ini berhasil membuatnya diliputi oleh rasa cemas yang teramat sangat.


From: Gisselavia Garnetta
Maaf gue gak angkat telfon lo.
Pak Danar Ganendra tiba-tiba aja dateng
Dan ngajak gue ke suatu tempat.
Katanya ada hal penting yang harus beliau omongin sama gue.
Untuk saat ini cukup sms aja, gak usah nelpon.
Gue gak enak sama Pak Danar.
Sekali lagi maaf.


            Danar Ganendra? Jika itu benar Danar Ganendra berarti sekarang Via sedang bertemu dengan Opa nya. Pikiran Alvin semakin kacau saat mengingat perkataan kedua orangtuanya mengenai Danar Ganendra dan Via.
            ‘Danar Ganendra bisa saja melakukan hal tidak terduga pada Via. Sekalipun Via adalah cucunya, tetap saja Danar Ganendra menganggapnya sebagai benalu yang harus disingkirkan. Jadi sebisa mungkin, kita harus merahasiakan identitas Via dari siapapun. Karna Cuma dengan cara itu kita bisa terus melindungi Via, Alvin…’

            DAMN! Alvin mengumpat dalam hati lalu segera berlari keluar hendak menyusul Via. Ia takut, benar-benar takut jika Danar Ganendra berbuat sesuatu yang tidak diinginkan pada Via. Alvin bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan Danar Ganendra melukai Via sedikitpun. Alvin akan melindunginya dengan segala cara yang ia bisa.
            Gabriel yang sejak tadi berdiri didepan kelas dan mendengarkan obrolan yang terjadi antara Pak Anas dan Alvin pun langsung merasa ada yang tidak beres dengan semuanya. Gabriel lalu buru-buru menghubungi seseorang via telefon. Setelah menemukan nama yang ia cari pada contact list-nya, Gabriel langsung saja mengetuk tombol hijau pada layar ponsel touch screen-nya.

            “Opa sekarang lagi dimana? Sama siapa?” tanya Gabriel pada seseorang disebrang sana dengan nada suara bergetar. Karna tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan dan setelah mengetahui bahwa saat ini Opanya sedang bersama Via, Gabriel semakin tidak sabar dan berteriak dengan keras.


            “AKU TANYA SEKARANG KALIAN DIMANA??”







To Be Continued...