Mata Alvin tertuju pada Sivia yang
saat itu sudah berbalik badan hendak meninggalkan kelas. Maka dengan perlahan
Alvin melepaskan pelukannya dengan Pricilla. Ia bangkit dari samping Sivia lalu
berjalan kearah Sivia. Alvin menarik lengan Sivia dan mendapati Sivia yang
waktu itu meneteskan air mata. Alvin tercengang? Kenapa Sivia bisa menangis
seperti itu?
“Vi,
lo kenapa? Kok nangis? Apa Iel nyakitin lo lagi…?” Tanya Alvin cemas. Sivia
menggeleng lalu melepaskan tangannya dari genggaman Alvin.
“aku
gak apa-apa kok,Vin…” Sivia kembali melangkah, tapi lagi-lagi Alvin
mencegatnya. Pricilla melihat apa yang dilakukan oleh Alvin dan Sivia dari
depan pintu kelas. Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu menyeka air mata
Sivia yang menetes,
“Via,
bilang sama gue, lo kenapa?” Tanya Alvin sekali lagi.
“aku
bilang aku gak apa-apa! Kamu kenapa sih? Oya, selamat, karna kamu udah jadian sama
Prissy…”
Mendengarkan
ucapan Sivia, tentu saja Alvin dan Pricilla merasa terkejut. Karna apa yang
Sivia ucapkan baru saja sudah jelas-jelas adalah sebuah kesalahan. Kening Alvin
berkerut karna heran,
“ma…maksud
kamu apa?” kali ini giliran Alvin yang bertanya,
“aku
pergi,Vin, maaf udah ganggu kalian….”
Sivia
akhirnya benar-benar pergi. Berkali-kali Alvin berusaha memanggil Sivia, namun
Sivia tak sedikitpun menghiraukan panggilan Alvin.
Sivia
berlari kehalaman belakang sekolah. Disana Sivia menangis sejadi-jadinya. Rasa
penyesalan dengan rasa cinta yang sudah terlambat bercampur menjadi satu dengan
rasa cemburu berat yang kini mulai memenuhi ruang dihatinya. Sivia tak
menyangka, bahwa perasaannya pada Alvin akan berbalik seperti ini. Sivia
teringat, betapa dulu ia telah menyakiti Alvin sampai-sampai ia tak memberikan
setitik saja kesempatan untuk Alvin memasuki relung hatinya. Sivia menyesali
diri, tapi yang ia rasakan sekarang, penyesalannya sudah tidak berguna lagi dan
tidak akan mampu mengembalikan Alvin kesisinya.
Semakin
lama tangis Sivia semakin menjadi. Ia bahkan sampai sesak. Kesakitan Sivia
semakin bertambah saat bayangan Alvin yang tengah memeluk Pricilla mencul
secara tiba-tiba dibenaknya dan semakin menghancurkan semuanya.
“hik..hik…aku
gak bisa Vin, ngeliat kamu sama Prissy, bener-bener gak bisa… hik..hik, aku mau
kamu balik lagi ke aku, aku mau kamu jadi milik aku lagi, Cuma milik aku, kamu
gak boleh jadi milik cewek manapun termasuk Prissy, aku bener-bener cinta sama
kamu,Vin, bener-bener cinta sama kamu… demi Tuhan, aku gak ikhlas ngeliat kamu
sama Prissy, hik..hik..hik…”
Sivia
berbicara pada dirinya sendiri berharap Alvin bisa merasakan semua
penyesalannya saat ini.
@_@
2
minggu berlalu, akhirnya Ujian Akhirpun dilaksanakan. Selama 2 minggu terakhir
ini, Sivia tak pernah sekalipun berbicara pada Alvin. Meski berkali-kali Alvin
berusaha untuk menegur Sivia, tapi Sivia tetap acuh dan enggan peduli. Hatinya
masih sakit, dan rasa cemburu itu masih membekas meninggalkan luka yang sukar
disembuhkan.
Setelah
selama 4 hari berjuang menghadapi ujian akhir, Alvinpun secara diam-diam mulai
mempersiapkan kuliahnya yang akan ia lanjutkan di Australia. Dan 1 minggu lagi
adalah pengumuman kelulusan. Sebenarnya Alvin ingin mengatakan pada Sivia bahwa
ia akan melanjutkan kuliahnya diluar Negri, tapi kediaman Sivia membuat Alvin
berfikir 2 kali untuk memberitaukan yang sebenarnya pada Sivia. Disamping itu,
Alvin juga takut menyakiti Sivia dengan keputusannya yang akan melanjutkan
kuliah di Australia. Sivia tentu takkan pernah membiarkan Alvin pergi jauh
darinya.
Hari
pengunguman kelulusanpun tiba. Semua anak-anak kelas 12 Multimedia dinyatakan
lulus 100%. Rasa haru, bahagia, sedih semuanya berkumpul memenuhi batin mereka.
Setelah 3 tahun bersama dan melewati semuanya dengan bersama pula, akhirnya
hari ini mereka harus berpisah mengejar impian mereka masing-masing.
“apa
lo yakin Vin, gak akan ngasih tau Via kalo lo akan ngelanjutin kuliah lo di
Aussie..?” Tanya Rio pada Alvin saat mereka sedang melakukan acara perpisahan
disebuah café pada malam harinya. Mendengar pertanyaan Rio, Alvin menggeleng,
ia terlihat begitu berat.
“apa
gak sebaiknya lo kasih tau Via yang sebenernya..?” kali ini Cakka yang
bertanya.
“sepertinya
Via gak akan peduli gue mau kuliah dimanapun, lo tau senidirikan udah beberapa
minggu ini Via cuek sama gue, dan jelas, Via udah gak peduli lagi sama gue…”
“tapi
apapun keadaanya lo harus tetep ngasih tau Via, dia itu mantan lo dan sekaligus
sahabat deket lo…”
“mantan?
Sahabat deket? Sepertinya itu dulu, karna mungkin sekarang Via udah gak anggep
gue sebagai sahabtnya dia, dan masalah mantan, sepertinya salah, karna selama
pacaran dengan Via, dia gak pernah sekalipun nganggep gue ada sebagai
pacarnya…” Alvin tersenyum kecil. Cakka dan Riopun diam, mereka sudah tak tau
harus berkata apa lagi pada Alvin.
“jadi
kamu akan pergi ninggalin aku,Vin…?” Tanya Sivia secara tiba-tiba dari belakang
Alvin. Alvin terkejut, ia langsung menoleh kebelakang,
“Via…?
Sejak kapan lo disini?” Tanya Alvin. Sivia menghela nafas panjang dan secara
tiba-tiba Sivia langsung mendaratkan sebuah tamparan keras tepat dipipi sebelah
kanan Alvin.
“kamu
jahat tau gak Alvin, AKU BENCI SAMA KAMU…!” Ucap Sivia dengan amarah yang sudah
tak bisa lagi ia tahan. Siviapun berlari keluar dari Café. Alvin langsung
mengejarnya.
Tak
lama berusaha mengejar Sivia, Alvinpun akhirnya berhasil menarik lengan Sivia.
Sivia mencoba melepaskan lengannya dari genggaman Alvin, namun sayang tak
berhasil.
“Alvin
lepas! Aku gak mau ngeliat kamu lagi, aku gak mau….”
“Via
dengerin aku ya…” pinta Alvin,
“ENGGAK…!
Aku gak mau… kalo kamu mau pergi,pergi aja, lagian aku udah gak butuh kamu
lagi, silahkan kamu pergi sejauh-jauhnya aku gak peduli…”
Alvin
yang sudah merasa bosanpun akirnya menarik Sivia kedalam pelukannya. Sivia
berontak dalam pelukan Alvin, namun Alvin tetap tak peduli, ia tetap memeluk
Sivia dengan erat.
“asal
kamu bilang jangan pergi, aku gak akan pergi,Vi, aku akan tetep ada disisimu,
jadi sahabat terbaik kamu yang akan selalu ngelindungin kamu selamanya…”
“memangnya
aku punya hak apa buat ngelarang-larangan kamu? Kalo kamu mau pergi, pergi aja,
aku gak peduli…” kali ini Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia menggenggam
jemari tangan Sivia lalu menatap mata Sivia dalam,
“Vi…
apa kamu cinta sama aku..?” Tanya Alvin, Sivia tercengang, dan tak menyangka
bahwa Alvin akan menanyakan tentang hal itu padanya. Kali ini Sivia terdiam,
mulutnya terasa bungkam, ia tak tau harus berkata apa lagi pada Alvin.
Alvin
memegang kedua pipi Sivia lalu mendekatkan keningnya dengan kening Sivia.
“jujur,
apa kamu cinta sama aku? Asal kamu bilang kamu cinta sama aku, dan minta aku
buat gak pergi, maka aku gak akan pergi,Vi, selangkahpun aku gak akan pernah
pergi dari kamu aku janji…” Sivia memejamkan matanya, ia menarik nafas panjang,
perlahan air matanya menetes, Alvin masih menunggu jawaban dari Sivia.
“Plis
jawab aku sekarang,Vi…” pinta Alvin sekali lagi. Entah apa yang ada didalam
fikiran Sivia, ia mendorong tubuh Alvin hingga lumayan jauh darinya. Setelah
mendorong tubuh Alvin Siviapun hendak berlari, tapi gagal ketika Alvin kembali
menarik lengannya, lalu membawa Sivia kedalam pelukannya dan mencium bibirnya
untuk yang pertama kalinya.
Sivia
yang shock sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakinya terasa membeku, dan
seluruh tubuhnya bergetar hebat. Alvin memegangi kedua pipi Sivia dan masih
menciuminya. Sementara Sivia yang lemah, ia hanya bisa diam pasrah, ia
menggenggam erat jemari tangannya. Ingin rasanya ia terlepas dari Alvin, tapi
tak bisa, karna Sivia benar-benar merasa nyaman berada dalam posisi itu.
10
detik berlalu, Sivia tersadar. Ia membuka matanya lalu kembali mendorong tubuh
Alvin. Untuk yang kedua kalinya, Sivia menampar Alvin,
“berani-beraninya
kamu Vin ngelakuin hal itu sama aku… dan sekarang aku bener-bener gak peduli
kalopun kamu mau pergi! Selamat jalan!” itulah ucapan terakhir Sivia sebelum ia
pergi meninggalkan Alvin.
Selepas
kepergian Sivia, air mata Alvinpun menetes, namun ia berusaha untuk tersenyum
dalam hati ia berkata,
‘aku
tau kamu gak cinta sama aku,Vi, kalo emang kepergian aku bisa buat kamu
bahagia, maka aku akan pergi untuk kamu dan untuk cinta aku yang gak pernah
terbalas ini, makasih buat semuanya Vi…’
@_@
3 hari kemudian….
Meskipun
Gabriel berbicara tak henti semenjak tadi, Sivia tak sedikitpun menghiraukan
Gabriel. Saat ini fikiran Sivia hanya tertuju pada Alvin. Pagi ini sekitar
pukul 9 Alvin akan berangkat ke Aussie, dan semakin waktu berjalan, Sivia
semakin merasa tak tenang.
Tiba-tiba
saja Pricilla datang kerumah Sivia dan membawakan sebuah kado yang lumayan
besar untuk Sivia. Kado itu adalah kado titipan dari Alvin. Sebelum membuka
kado dari Alvin, Sivia sempat menatap Gabriel untuk meminta ijin membuka kado
dari Alvin. Tanpa berkata apa-apa, Gabriel langsung mengangguk seraya
tersenyum.
Siviapun
membuka kado dari Alvin. Ternyata isi kado itu adalah sebuah lukisan wajah
Sivia. Sivia tersentak, ia tau bahwa Alvin tak bisa melukis, tapi demi bisa
menggambar wajah Sivia, Alvinpun berusaha mati-matian untuk bisa belajar
melukis. Diatas lukisan itu terdapat sebuah surat. Dengan tangan gemetar, Sivia
membuka surat dari Alvin dan membacanya. Ternyata isi surat itu adalah sebuah
puisi yang berisi;
Selesai sudah kita…
Usai sudah sebuah
cerita aku, kamu juga kita…
Tak ada jika…
Tak ada lagi bila,
Ini adalah titik,
tak lagi koma
Maafkan aku untuk
semua,
Tuk disisimu saat
senja,
Bersamamu dalam
parade dan air mata,
Dalam pasang,
pertentangan, juga tawa…
Maafkan aku Tuk
semua,
Tuk semua yang
pernah kukata,
Tuk semua yang
membuatmu kecewa,
Tuk semua yang tak
kita lalui bersama…
Maafkan aku karna
tak pernah jadi yang
Terbaik bagimu…
Tak pernah dapat
berikanmu sekeping hati,
Hanya pecahan ini,
Tak pernah dapat
berikanmu arti,
Hanya seruang sepi,
Juga tolong maafkan
aku untuk semua
Yang tak dapat
kupenuhi…
Dan disinilah kita
diam dalam ragu dan Tanya,
Sunyi dan kelu tak
berkata,
Karam dan tak kuasa
meminta….
Kutak ingin menatap
matamu yang berkaca,
Kubenci memelukmu
dan tinggalkan kegalauan diujung sana…
Kau adalah
kekasihku,
Dan akan tetap jadi
kekasihku
Sampai kapanpun
jua….
Ini adalah rinduku
untumu,
Dan akan tetap
untukmu, selamanya…
Dan jika ku boleh
berkata,
Terimakasih kau
telah berikan ruangmu untukku,
Berikan langitmu
yang biru,
Penuhi langitku
dengan udaramu..
Langkapiku dengan
gelombangmu,
Dengan badaimu,
dengan gerimismu,
Juga dengan
rotasimu…
Terimakasih untuk
pecahkanku,
Untuk retakkanku,
untuk lukaiku,
Untuk sayangimu
dengan sepenuh hatiku,
Juga untuk semua
yang takkan terganti
Dalam seputaran
sang waktu…
Aku mencintaimu,
dan hanya itu…
Tidak karenamu,
tidak pula karenaku..
Kutak perlu alasan
mengapa aku untukmu,
Cukuplah bagiku…
Air mata Sivia menetes setelah
membaca puisi dari Alvin. Saat ini juga ia ingin mengejar Alvin kebandara
sebelum terlambat, tapi saat melihat wajah Gabriel, Sivia merasa berat. Gabriel
yang memang mengerti dengan apa yang ada difikiran Sivia hanya bisa tersenyum,
dengan ikhlas Gabriel berkata,
“kalo kamu emang masih cinta sama
Alvin, kejer dia Vi, kejer dia sebelum terlambat, dan bilang kalo kamu sangat
mencintai dia…”
“tapi Kak Iel gimana?” Tanya Sivia,
Gabriel menggeleng,
“jangan fikirin aku, yang harus kamu
lakuin sekarang adalah mencegah kepergian Alvin sebelum terlambat, paham…”
“tapi…”
“sekarang Via!” ucap Gabriel tegas.
Tak lama berfikir. Siviapun bangkit lalu berlari keluar dari rumahnya hendak
menyusul Alvin kebandara sebelum terlambat.
@_@
Sivia menjalankan mobilnya dengan
kecepatan maksimal menuju bandara. Ia tak ingin terlambat mengejar Alvin dan
tak ingin menyesal lagi karna harus kehilangan Alvin.
‘plis tunggu aku,Vin, jangan pergi
sebelum aku dateng, plisss…” itulah yang terus Sivia ucapkan sepanjang
perjalanan.
Namun sayang, Sivia terjebak macet
yang lumayan parah ditengah jalan, sementara waktu sudah menunjukan pukul
08.30. Sivia yang tak mau terlambat mengejar Alvin akhirnya memutuskan untuk
berlari menuju bandara. Sivia meninggalkan mobilnya dan melanjutkan
perjalanannya dengan berlari.
‘aku cinta kamu Vin, aku gak mau
kamu pergi, tunggu aku, jangan pergi sebelum aku dateng…’ Sivia membatin, waktu
terus berjalan.
Tepat saat waktu menunjukan pukul
09.00 tibalah Sivia dibandara. Keringatnya bercucuran, sementara desauan
nafasnya terdengar tak teratur. Sivia berkeliling dibandara berusaha mencari
Alvin. Cukup lama Sivia mencari keberadaan Alvin, namun sayang pesawat yang
membawa Alvin ke Aussie sudah berangkat 10 menit yang lalu.
Sivia terkulai lemah tak berdaya. Ia
keluar dari bandara dengan langkah yang gontai, Sivia sama sekali tak
memperdulikan keadaan sekitar. Ia terus melangkah sambil mengingat semua
kenangannya bersama Alvin. Meski berusaha tegar, tapi Sivia tak bisa, air
matanya tetap menetes dengan deras dan tak bisa dihentikan. Saat tiba diluar
bandara. Sivia melihat pesawat yang membawa Alvin pergi. Melihat pesawat itu,
Sivia langsung berteriak sekencang-kencangnya,
“ALVIIIINNN….AKU CINTA SAMA
KAMUU….KEMBALILAH VIN, DISINI AKU AKAN NUNGGUIN KAMU, SAMPAI KAPANPUN AKAN TETEP
NUNGGUIN KAMUUUUUU…..” Teriak Sivia seraya terisak.
@_@
6 Tahun
kemudian….
“selamat ulang tahu Siviaaaa….!!!!”
Ucap Ify,Shilla,Pricilla dan Febby kompak. Bukannya merasa senang atas ucapan
itu, Sivia malah menggaruk-garuk kepalanya. Shilla mendekati Sivia lalu
berkata,
“Kak Iel punya kado special buat
lo…”
“apaan?” Tanya Sivia tanpa minat
sama sekali,
“udaaahh ikut aja…” ucap Shilla.
Ify,Pricilla dan Febbypun menarik-narik lengan Sivia dan membawanya kesuatu
tempat.
Ternyata mereka membawa Sivia
kesebuah café, café yang biasa mereka kunjungi saat masih duduk bangku SMK. Tak
ada yang special dari café itu, lalu dimana kejutannya? Fikir Sivia. Tak lama
setelah tiba disana, Rio dan Cakka pun datang, mereka memberikan ucapan selamat
ulang tahun untuk Sivia yang masih saja cuek. Kini tinggal menunggu Gabriel.
Tak lama menunggu Gabriel, tiba-tiba Gabriel datang
seraya membawa sebuah kue tart sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Sivia tersnyum dan memberikan hormat takzim pada Gabriel.
“ayo Vi, make a wish dulu, baru tiup
lilinnya…” Sivia mengangguk berkali-kali, lalu mulai membuat sebuah harapan
didalam hatinya,
‘Tuhan, meskipun gak mungkin, tapi
aku berharap bisa merayakan ulang tahunku kali ini bersama Alvin..’ setelah
membuat harapan, Siviapun membuka matanya lalu meniup lilinya. Semua memberikan
tepuk tangan untuk Sivia.
Setelah meniup lilin, tiba-tiba saja
Rio dan Cakka datang sambil mendorong sebuah kado yang sangat besar untuk
Sivia, dan kado itu special dari Gabriel untuk Sivia.
“itu apa isinya Kak, gede banget..?”
Tanya Sivia penasaran, Gabriel tersenyum,
“sebentar juga kamu tau kok isinya!
Cakka, Rio, silahkan dibuka kadonya…” Cakka dan Rio mengangkat jempolnya lalu
membuka penutup kado yang berbentuk tabung itu.
Dari dalam kado itu menyembullah
sosok Alvin. Sosok yang selama 6 tahun terakhir ini sangat Sivia rindukan.
Sivia nyaris tak percaya, benarkah itu Alvin?
“HAPPY BIRTHDAY SIVIAAAAA…..” Ucap
Alvin antusias. Sivia masih mematung tak percaya, ia pun menatap Gabriel,
“itu Alvin, Vi, bener-bener Alvin..”
air matanya Sivia menetes, secara perlahan ia mendekati Alvin.
Setelah dekat dengan Alvin, Sivia
langsung meraba-raba wajah Alvin dan berusaha meyakinkan bahwa yang ada
dihadapannya saat ini memang benar adalah Alvin.
“kamu bener-bener Alvin…?” Tanya
Sivia dengan suara bergetar,
“menurut kamu?” Tanya Alvin kembali.
Sivia sempat terdiam sejenak, tak lama ia langsung menghambur kedalam pelukan
Alvin,
“hik..hik..Alvin, kamu kemana aja
selama 6 tahun ini? Aku kangen sama kamu tau gak? Kamu pergi seenaknya dan gak
pernah ngabarin aku apapun, kamu jahat tau gak, hik..hik..”
“udahlah,Vi, yang pentingkan
sekarang, aku udah ada disini, dan kembali buat kamu…” Sivia menggeleng
berkali-kali dan semakin mengeratkan pelukannya pada Alvin.
@_@
Alvin dan Sivia duduk berdua
disebuah bangku panjang yang terdapat disebuah taman. Mereka duduk dengan
posisi yang agak menjauh. Sivia terus menatap wajah Alvin dan masih belum bisa
mempercayai, bahwa Alvin yang selama 6 tahun ini meninggalkannya akhirnya
kembali juga. Setelah cukup lama diam, akhirnya Alvin membuka pembicaraan,
“gimana Vi? Apa sekarang kamu udah
cinta sama aku?” Tanya Alvin, Sivia langsung berkata,
“begok! Apa perlu kamu nanyain hal
itu? Aku cinta sama kamu udah sejak lama tau gak..” Alvin tersenyum puas, ia
merasa lega dengan apa yang ia dengar dari Sivia.
“yang bener?” Tanya Alvin
meyakinkan, Sivia mengangguk berkali-kali dengan linangan air mata yang sudah
tak bisa lagi ia tahan.
Alvinpun membuka lebar kedua tangannya
dan meminta Sivia untuk segera memeluknya. Siviapun langsung memeluk Alvin
erat,
“maafin aku, karna dulu aku gak
pernah sadar, bahwa ternyata Cuma kamulah satu-satunya cowok yang bener-bener
tulus sama aku, mulai detik ini aku berjanji, aku gak akan nyia-nyiain cinta
kamu lagi, aku janji Vin….hik..hik..” Alvin tersenyum. Tak lama ia melepaskan
pelukannya dari Sivia lalu mengambil sesuatu dikantong jaketnya.
“Vi, sekarang, kamu pejemin mata
ya..?”
“tapi buat apa?”
“udah pejemin aja mata kamu…!”
Saat Sivia sudah memejamkan matanya.
Alvin bangkit dari samping Sivia lalu bersujud dihadapan Sivia. Alvin bersujud
seraya menjulurkan sebuah cincin untuk Sivia.
“sekarang buka mata kamu!” pinta
Alvin. Secara perlahan Sivia membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia saat
melihat Alvin bersujud dihadapannya sambil menjulurkan sebuah cincin,
“Vin…”
“Sivia Azizah, Will You Marry Me…?”
Tanya Alvin dengan tatapan lurus kemata Sivia. Sivia menutup mulutnya,
lagi-lagi air matanya menetes, ia tak menyangka bahwa Alvin akan langsung
melamarnya.
“jawab,Vi…!” ucap Alvin sekali lagi.
Sivia mengangguk berkali-kali sambil berkata,
“aku gak ada alasan apapun buat aku
nolak kamu, kalopun ada, aku gak akan peduliin alasan itu…”
“terus jawaban kamu…?”
“aku mau nikah sama kamu, sangat
mau…” Alvin tersenyum puas. Ia memasangkan cincin itu dijari manis Sivia.
Setelah memasangkan cincin, Alvin langsung menarik tangan Sivia.
Saat ini Alvin dan Sivia sudah sama-sama
berdiri, Sivia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alvin, sementara Alvin
ia mendekatkan keningnya dengan kening Sivia sembari memegangi kedua pipi
Sivia,
“makasih ya udah mau nikah sama
aku…?”
“nikah sama kamu, dan jadi isteri
kamu adalah mimpi terindah dalam hidup aku yang harus terwujud,Vin, aku mencintai
kamu, sangat mencintai kamu…”
Alvin dan Sivia meneteskan air mata
kebahagiaan. Setelah melewati banyak rintangan dan harus menghadapi kerasnya
hati mereka, akhirnya hari ini mereka bersatu dan takkan ada lagi yang bisa
memisahkan cinta mereka.
Alvin mendekatkan wajahnya dengan
wajah Sivia hendak mencium Sivia. Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, Alvin
malah membatalkan niatnya untuk mencium Sivia.
“maaf!” lirih Alvin. Kali ini Sivia
yang memegang wajah Alvin. Sivia menurunkan sedikit posisi wajah Alvin supaya
sejajar dengan posisi wajahnya, Sivia menatap Alvin lurus, Sivia meninggikan
posisi tubuhnya sedikit supaya bisa menjangkau Alvin, dan tanpa berkata apa-apa
lagi, Sivia langsung mencium bibir Alvin.
‘terimakasih Tuhan karna sudah
mengembalikan cinta itu… terimakasih telah mengembalikan Alvinku, dan
terimakasih karna kau telah menutup kisah ini dengan indah dan sempurna…’ batin
Sivia.
Tak lama Sivia menjauhkan wajahnya
dari wajah Alvin. Ia tersenyum lalu memeluk Alvin.
“I love you Vin…”
“I love you too Via…”
Alvin mengangkat tubuh Sivia lantas
memutarnya beberapa kali. Sungguh saat ini Alvin dan Sivia benar-benar merasa
bahagia. Semoga kebahagiaan itu untuk selamanya.
“Cintailah seseorang yang mencintamu dengan tulus,
dan jangan pernah kamu menyia-nyikan cinta dari seseorang yang sangat tulus
mencintaimu… karna hanya seseorang yang mencintaimulah yang mampu memahamimu,
bukan orang yang kamu cintai, dan bukan pula orang kamu kasihi…..”
~THE END~

