Wednesday, October 16, 2013

0

Love, Love, And Love [Last Part]



Mata Alvin tertuju pada Sivia yang saat itu sudah berbalik badan hendak meninggalkan kelas. Maka dengan perlahan Alvin melepaskan pelukannya dengan Pricilla. Ia bangkit dari samping Sivia lalu berjalan kearah Sivia. Alvin menarik lengan Sivia dan mendapati Sivia yang waktu itu meneteskan air mata. Alvin tercengang? Kenapa Sivia bisa menangis seperti itu?
            “Vi, lo kenapa? Kok nangis? Apa Iel nyakitin lo lagi…?” Tanya Alvin cemas. Sivia menggeleng lalu melepaskan tangannya dari genggaman Alvin.
            “aku gak apa-apa kok,Vin…” Sivia kembali melangkah, tapi lagi-lagi Alvin mencegatnya. Pricilla melihat apa yang dilakukan oleh Alvin dan Sivia dari depan pintu kelas. Alvin memegang kedua pundak Sivia lalu menyeka air mata Sivia yang menetes,
            “Via, bilang sama gue, lo kenapa?” Tanya Alvin sekali lagi.
            “aku bilang aku gak apa-apa! Kamu kenapa sih? Oya, selamat, karna kamu udah jadian sama Prissy…”
            Mendengarkan ucapan Sivia, tentu saja Alvin dan Pricilla merasa terkejut. Karna apa yang Sivia ucapkan baru saja sudah jelas-jelas adalah sebuah kesalahan. Kening Alvin berkerut karna heran,
            “ma…maksud kamu apa?” kali ini giliran Alvin yang bertanya,
            “aku pergi,Vin, maaf udah ganggu kalian….”
            Sivia akhirnya benar-benar pergi. Berkali-kali Alvin berusaha memanggil Sivia, namun Sivia tak sedikitpun menghiraukan panggilan Alvin.

            Sivia berlari kehalaman belakang sekolah. Disana Sivia menangis sejadi-jadinya. Rasa penyesalan dengan rasa cinta yang sudah terlambat bercampur menjadi satu dengan rasa cemburu berat yang kini mulai memenuhi ruang dihatinya. Sivia tak menyangka, bahwa perasaannya pada Alvin akan berbalik seperti ini. Sivia teringat, betapa dulu ia telah menyakiti Alvin sampai-sampai ia tak memberikan setitik saja kesempatan untuk Alvin memasuki relung hatinya. Sivia menyesali diri, tapi yang ia rasakan sekarang, penyesalannya sudah tidak berguna lagi dan tidak akan mampu mengembalikan Alvin kesisinya.
            Semakin lama tangis Sivia semakin menjadi. Ia bahkan sampai sesak. Kesakitan Sivia semakin bertambah saat bayangan Alvin yang tengah memeluk Pricilla mencul secara tiba-tiba dibenaknya dan semakin menghancurkan semuanya.
            “hik..hik…aku gak bisa Vin, ngeliat kamu sama Prissy, bener-bener gak bisa… hik..hik, aku mau kamu balik lagi ke aku, aku mau kamu jadi milik aku lagi, Cuma milik aku, kamu gak boleh jadi milik cewek manapun termasuk Prissy, aku bener-bener cinta sama kamu,Vin, bener-bener cinta sama kamu… demi Tuhan, aku gak ikhlas ngeliat kamu sama Prissy, hik..hik..hik…”
            Sivia berbicara pada dirinya sendiri berharap Alvin bisa merasakan semua penyesalannya saat ini.


@_@

            2 minggu berlalu, akhirnya Ujian Akhirpun dilaksanakan. Selama 2 minggu terakhir ini, Sivia tak pernah sekalipun berbicara pada Alvin. Meski berkali-kali Alvin berusaha untuk menegur Sivia, tapi Sivia tetap acuh dan enggan peduli. Hatinya masih sakit, dan rasa cemburu itu masih membekas meninggalkan luka yang sukar disembuhkan.
            Setelah selama 4 hari berjuang menghadapi ujian akhir, Alvinpun secara diam-diam mulai mempersiapkan kuliahnya yang akan ia lanjutkan di Australia. Dan 1 minggu lagi adalah pengumuman kelulusan. Sebenarnya Alvin ingin mengatakan pada Sivia bahwa ia akan melanjutkan kuliahnya diluar Negri, tapi kediaman Sivia membuat Alvin berfikir 2 kali untuk memberitaukan yang sebenarnya pada Sivia. Disamping itu, Alvin juga takut menyakiti Sivia dengan keputusannya yang akan melanjutkan kuliah di Australia. Sivia tentu takkan pernah membiarkan Alvin pergi jauh darinya.
            Hari pengunguman kelulusanpun tiba. Semua anak-anak kelas 12 Multimedia dinyatakan lulus 100%. Rasa haru, bahagia, sedih semuanya berkumpul memenuhi batin mereka. Setelah 3 tahun bersama dan melewati semuanya dengan bersama pula, akhirnya hari ini mereka harus berpisah mengejar impian mereka masing-masing.

            “apa lo yakin Vin, gak akan ngasih tau Via kalo lo akan ngelanjutin kuliah lo di Aussie..?” Tanya Rio pada Alvin saat mereka sedang melakukan acara perpisahan disebuah cafĂ© pada malam harinya. Mendengar pertanyaan Rio, Alvin menggeleng, ia terlihat begitu berat.
            “apa gak sebaiknya lo kasih tau Via yang sebenernya..?” kali ini Cakka yang bertanya.
            “sepertinya Via gak akan peduli gue mau kuliah dimanapun, lo tau senidirikan udah beberapa minggu ini Via cuek sama gue, dan jelas, Via udah gak peduli lagi sama gue…”
            “tapi apapun keadaanya lo harus tetep ngasih tau Via, dia itu mantan lo dan sekaligus sahabat deket lo…”
            “mantan? Sahabat deket? Sepertinya itu dulu, karna mungkin sekarang Via udah gak anggep gue sebagai sahabtnya dia, dan masalah mantan, sepertinya salah, karna selama pacaran dengan Via, dia gak pernah sekalipun nganggep gue ada sebagai pacarnya…” Alvin tersenyum kecil. Cakka dan Riopun diam, mereka sudah tak tau harus berkata apa lagi pada Alvin.

            “jadi kamu akan pergi ninggalin aku,Vin…?” Tanya Sivia secara tiba-tiba dari belakang Alvin. Alvin terkejut, ia langsung menoleh kebelakang,
            “Via…? Sejak kapan lo disini?” Tanya Alvin. Sivia menghela nafas panjang dan secara tiba-tiba Sivia langsung mendaratkan sebuah tamparan keras tepat dipipi sebelah kanan Alvin.
            “kamu jahat tau gak Alvin, AKU BENCI SAMA KAMU…!” Ucap Sivia dengan amarah yang sudah tak bisa lagi ia tahan. Siviapun berlari keluar dari CafĂ©. Alvin langsung mengejarnya.
            Tak lama berusaha mengejar Sivia, Alvinpun akhirnya berhasil menarik lengan Sivia. Sivia mencoba melepaskan lengannya dari genggaman Alvin, namun sayang tak berhasil.
            “Alvin lepas! Aku gak mau ngeliat kamu lagi, aku gak mau….”
            “Via dengerin aku ya…” pinta Alvin,
            “ENGGAK…! Aku gak mau… kalo kamu mau pergi,pergi aja, lagian aku udah gak butuh kamu lagi, silahkan kamu pergi sejauh-jauhnya aku gak peduli…”
            Alvin yang sudah merasa bosanpun akirnya menarik Sivia kedalam pelukannya. Sivia berontak dalam pelukan Alvin, namun Alvin tetap tak peduli, ia tetap memeluk Sivia dengan erat.
            “asal kamu bilang jangan pergi, aku gak akan pergi,Vi, aku akan tetep ada disisimu, jadi sahabat terbaik kamu yang akan selalu ngelindungin kamu selamanya…”
            “memangnya aku punya hak apa buat ngelarang-larangan kamu? Kalo kamu mau pergi, pergi aja, aku gak peduli…” kali ini Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia menggenggam jemari tangan Sivia lalu menatap mata Sivia dalam,
            “Vi… apa kamu cinta sama aku..?” Tanya Alvin, Sivia tercengang, dan tak menyangka bahwa Alvin akan menanyakan tentang hal itu padanya. Kali ini Sivia terdiam, mulutnya terasa bungkam, ia tak tau harus berkata apa lagi pada Alvin.
            Alvin memegang kedua pipi Sivia lalu mendekatkan keningnya dengan kening Sivia.
            “jujur, apa kamu cinta sama aku? Asal kamu bilang kamu cinta sama aku, dan minta aku buat gak pergi, maka aku gak akan pergi,Vi, selangkahpun aku gak akan pernah pergi dari kamu aku janji…” Sivia memejamkan matanya, ia menarik nafas panjang, perlahan air matanya menetes, Alvin masih menunggu jawaban dari Sivia.
            “Plis jawab aku sekarang,Vi…” pinta Alvin sekali lagi. Entah apa yang ada didalam fikiran Sivia, ia mendorong tubuh Alvin hingga lumayan jauh darinya. Setelah mendorong tubuh Alvin Siviapun hendak berlari, tapi gagal ketika Alvin kembali menarik lengannya, lalu membawa Sivia kedalam pelukannya dan mencium bibirnya untuk yang pertama kalinya.
            Sivia yang shock sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakinya terasa membeku, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Alvin memegangi kedua pipi Sivia dan masih menciuminya. Sementara Sivia yang lemah, ia hanya bisa diam pasrah, ia menggenggam erat jemari tangannya. Ingin rasanya ia terlepas dari Alvin, tapi tak bisa, karna Sivia benar-benar merasa nyaman berada dalam posisi itu.
            10 detik berlalu, Sivia tersadar. Ia membuka matanya lalu kembali mendorong tubuh Alvin. Untuk yang kedua kalinya, Sivia menampar Alvin,
            “berani-beraninya kamu Vin ngelakuin hal itu sama aku… dan sekarang aku bener-bener gak peduli kalopun kamu mau pergi! Selamat jalan!” itulah ucapan terakhir Sivia sebelum ia pergi meninggalkan Alvin.
            Selepas kepergian Sivia, air mata Alvinpun menetes, namun ia berusaha untuk tersenyum dalam hati ia berkata,
            ‘aku tau kamu gak cinta sama aku,Vi, kalo emang kepergian aku bisa buat kamu bahagia, maka aku akan pergi untuk kamu dan untuk cinta aku yang gak pernah terbalas ini, makasih buat semuanya Vi…’


@_@

3 hari kemudian….

            Meskipun Gabriel berbicara tak henti semenjak tadi, Sivia tak sedikitpun menghiraukan Gabriel. Saat ini fikiran Sivia hanya tertuju pada Alvin. Pagi ini sekitar pukul 9 Alvin akan berangkat ke Aussie, dan semakin waktu berjalan, Sivia semakin merasa tak tenang.
            Tiba-tiba saja Pricilla datang kerumah Sivia dan membawakan sebuah kado yang lumayan besar untuk Sivia. Kado itu adalah kado titipan dari Alvin. Sebelum membuka kado dari Alvin, Sivia sempat menatap Gabriel untuk meminta ijin membuka kado dari Alvin. Tanpa berkata apa-apa, Gabriel langsung mengangguk seraya tersenyum.
            Siviapun membuka kado dari Alvin. Ternyata isi kado itu adalah sebuah lukisan wajah Sivia. Sivia tersentak, ia tau bahwa Alvin tak bisa melukis, tapi demi bisa menggambar wajah Sivia, Alvinpun berusaha mati-matian untuk bisa belajar melukis. Diatas lukisan itu terdapat sebuah surat. Dengan tangan gemetar, Sivia membuka surat dari Alvin dan membacanya. Ternyata isi surat itu adalah sebuah puisi yang berisi;

Selesai sudah kita…
Usai sudah sebuah cerita aku, kamu juga kita…
Tak ada jika…
Tak ada lagi bila,
Ini adalah titik, tak lagi koma
Maafkan aku untuk semua,
Tuk disisimu saat senja,
Bersamamu dalam parade dan air mata,
Dalam pasang, pertentangan, juga tawa…
Maafkan aku Tuk semua,
Tuk semua yang pernah kukata,
Tuk semua yang membuatmu kecewa,
Tuk semua yang tak kita lalui bersama…
Maafkan aku karna tak pernah jadi yang
Terbaik bagimu…
Tak pernah dapat berikanmu sekeping hati,
Hanya pecahan ini,
Tak pernah dapat berikanmu arti,
Hanya seruang sepi,
Juga tolong maafkan aku untuk semua
Yang tak dapat kupenuhi…
Dan disinilah kita diam dalam ragu dan Tanya,
Sunyi dan kelu tak berkata,
Karam dan tak kuasa meminta….
Kutak ingin menatap matamu yang berkaca,
Kubenci memelukmu dan tinggalkan kegalauan diujung sana…
Kau adalah kekasihku,
Dan akan tetap jadi kekasihku
Sampai kapanpun jua….
Ini adalah rinduku untumu,
Dan akan tetap untukmu, selamanya…
Dan jika ku boleh berkata,
Terimakasih kau telah berikan ruangmu untukku,
Berikan langitmu yang biru,
Penuhi langitku dengan udaramu..
Langkapiku dengan gelombangmu,
Dengan badaimu, dengan gerimismu,
Juga dengan rotasimu…
Terimakasih untuk pecahkanku,
Untuk retakkanku, untuk lukaiku,
Untuk sayangimu dengan sepenuh hatiku,
Juga untuk semua yang takkan terganti
Dalam seputaran sang waktu…
Aku mencintaimu, dan hanya itu…
Tidak karenamu, tidak pula karenaku..
Kutak perlu alasan mengapa aku untukmu,
Cukuplah bagiku…


            Air mata Sivia menetes setelah membaca puisi dari Alvin. Saat ini juga ia ingin mengejar Alvin kebandara sebelum terlambat, tapi saat melihat wajah Gabriel, Sivia merasa berat. Gabriel yang memang mengerti dengan apa yang ada difikiran Sivia hanya bisa tersenyum, dengan ikhlas Gabriel berkata,
            “kalo kamu emang masih cinta sama Alvin, kejer dia Vi, kejer dia sebelum terlambat, dan bilang kalo kamu sangat mencintai dia…”
            “tapi Kak Iel gimana?” Tanya Sivia, Gabriel menggeleng,
            “jangan fikirin aku, yang harus kamu lakuin sekarang adalah mencegah kepergian Alvin sebelum terlambat, paham…”
            “tapi…”
            “sekarang Via!” ucap Gabriel tegas. Tak lama berfikir. Siviapun bangkit lalu berlari keluar dari rumahnya hendak menyusul Alvin kebandara sebelum terlambat.

@_@

            Sivia menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju bandara. Ia tak ingin terlambat mengejar Alvin dan tak ingin menyesal lagi karna harus kehilangan Alvin.
            ‘plis tunggu aku,Vin, jangan pergi sebelum aku dateng, plisss…” itulah yang terus Sivia ucapkan sepanjang perjalanan.
            Namun sayang, Sivia terjebak macet yang lumayan parah ditengah jalan, sementara waktu sudah menunjukan pukul 08.30. Sivia yang tak mau terlambat mengejar Alvin akhirnya memutuskan untuk berlari menuju bandara. Sivia meninggalkan mobilnya dan melanjutkan perjalanannya dengan berlari.
            ‘aku cinta kamu Vin, aku gak mau kamu pergi, tunggu aku, jangan pergi sebelum aku dateng…’ Sivia membatin, waktu terus berjalan.
            Tepat saat waktu menunjukan pukul 09.00 tibalah Sivia dibandara. Keringatnya bercucuran, sementara desauan nafasnya terdengar tak teratur. Sivia berkeliling dibandara berusaha mencari Alvin. Cukup lama Sivia mencari keberadaan Alvin, namun sayang pesawat yang membawa Alvin ke Aussie sudah berangkat 10 menit yang lalu.
            Sivia terkulai lemah tak berdaya. Ia keluar dari bandara dengan langkah yang gontai, Sivia sama sekali tak memperdulikan keadaan sekitar. Ia terus melangkah sambil mengingat semua kenangannya bersama Alvin. Meski berusaha tegar, tapi Sivia tak bisa, air matanya tetap menetes dengan deras dan tak bisa dihentikan. Saat tiba diluar bandara. Sivia melihat pesawat yang membawa Alvin pergi. Melihat pesawat itu, Sivia langsung berteriak sekencang-kencangnya,
            “ALVIIIINNN….AKU CINTA SAMA KAMUU….KEMBALILAH VIN, DISINI AKU AKAN NUNGGUIN KAMU, SAMPAI KAPANPUN AKAN TETEP NUNGGUIN KAMUUUUUU…..” Teriak Sivia seraya terisak.


@_@

6 Tahun kemudian….

            “selamat ulang tahu Siviaaaa….!!!!” Ucap Ify,Shilla,Pricilla dan Febby kompak. Bukannya merasa senang atas ucapan itu, Sivia malah menggaruk-garuk kepalanya. Shilla mendekati Sivia lalu berkata,
            “Kak Iel punya kado special buat lo…”
            “apaan?” Tanya Sivia tanpa minat sama sekali,
            “udaaahh ikut aja…” ucap Shilla. Ify,Pricilla dan Febbypun menarik-narik lengan Sivia dan membawanya kesuatu tempat.
            Ternyata mereka membawa Sivia kesebuah cafĂ©, cafĂ© yang biasa mereka kunjungi saat masih duduk bangku SMK. Tak ada yang special dari cafĂ© itu, lalu dimana kejutannya? Fikir Sivia. Tak lama setelah tiba disana, Rio dan Cakka pun datang, mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Sivia yang masih saja cuek. Kini tinggal menunggu Gabriel.
            Tak lama  menunggu Gabriel, tiba-tiba Gabriel datang seraya membawa sebuah kue tart sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Sivia tersnyum dan memberikan hormat takzim pada Gabriel.
            “ayo Vi, make a wish dulu, baru tiup lilinnya…” Sivia mengangguk berkali-kali, lalu mulai membuat sebuah harapan didalam hatinya,
            ‘Tuhan, meskipun gak mungkin, tapi aku berharap bisa merayakan ulang tahunku kali ini bersama Alvin..’ setelah membuat harapan, Siviapun membuka matanya lalu meniup lilinya. Semua memberikan tepuk tangan untuk Sivia.
            Setelah meniup lilin, tiba-tiba saja Rio dan Cakka datang sambil mendorong sebuah kado yang sangat besar untuk Sivia, dan kado itu special dari Gabriel untuk Sivia.
            “itu apa isinya Kak, gede banget..?” Tanya Sivia penasaran, Gabriel tersenyum,
            “sebentar juga kamu tau kok isinya! Cakka, Rio, silahkan dibuka kadonya…” Cakka dan Rio mengangkat jempolnya lalu membuka penutup kado yang berbentuk tabung itu.
            Dari dalam kado itu menyembullah sosok Alvin. Sosok yang selama 6 tahun terakhir ini sangat Sivia rindukan. Sivia nyaris tak percaya, benarkah itu Alvin?
            “HAPPY BIRTHDAY SIVIAAAAA…..” Ucap Alvin antusias. Sivia masih mematung tak percaya, ia pun menatap Gabriel,
            “itu Alvin, Vi, bener-bener Alvin..” air matanya Sivia menetes, secara perlahan ia mendekati Alvin.
            Setelah dekat dengan Alvin, Sivia langsung meraba-raba wajah Alvin dan berusaha meyakinkan bahwa yang ada dihadapannya saat ini memang benar adalah Alvin.
            “kamu bener-bener Alvin…?” Tanya Sivia dengan suara bergetar,
            “menurut kamu?” Tanya Alvin kembali. Sivia sempat terdiam sejenak, tak lama ia langsung menghambur kedalam pelukan Alvin,
            “hik..hik..Alvin, kamu kemana aja selama 6 tahun ini? Aku kangen sama kamu tau gak? Kamu pergi seenaknya dan gak pernah ngabarin aku apapun, kamu jahat tau gak, hik..hik..”
            “udahlah,Vi, yang pentingkan sekarang, aku udah ada disini, dan kembali buat kamu…” Sivia menggeleng berkali-kali dan semakin mengeratkan pelukannya pada Alvin.



@_@

            Alvin dan Sivia duduk berdua disebuah bangku panjang yang terdapat disebuah taman. Mereka duduk dengan posisi yang agak menjauh. Sivia terus menatap wajah Alvin dan masih belum bisa mempercayai, bahwa Alvin yang selama 6 tahun ini meninggalkannya akhirnya kembali juga. Setelah cukup lama diam, akhirnya Alvin membuka pembicaraan,
            “gimana Vi? Apa sekarang kamu udah cinta sama aku?” Tanya Alvin, Sivia langsung berkata,
            “begok! Apa perlu kamu nanyain hal itu? Aku cinta sama kamu udah sejak lama tau gak..” Alvin tersenyum puas, ia merasa lega dengan apa yang ia dengar dari Sivia.
            “yang bener?” Tanya Alvin meyakinkan, Sivia mengangguk berkali-kali dengan linangan air mata yang sudah tak bisa lagi ia tahan.
            Alvinpun membuka lebar kedua tangannya dan meminta Sivia untuk segera memeluknya. Siviapun langsung memeluk Alvin erat,
            “maafin aku, karna dulu aku gak pernah sadar, bahwa ternyata Cuma kamulah satu-satunya cowok yang bener-bener tulus sama aku, mulai detik ini aku berjanji, aku gak akan nyia-nyiain cinta kamu lagi, aku janji Vin….hik..hik..” Alvin tersenyum. Tak lama ia melepaskan pelukannya dari Sivia lalu mengambil sesuatu dikantong jaketnya.
            “Vi, sekarang, kamu pejemin mata ya..?”
            “tapi buat apa?”
            “udah pejemin aja mata kamu…!”
            Saat Sivia sudah memejamkan matanya. Alvin bangkit dari samping Sivia lalu bersujud dihadapan Sivia. Alvin bersujud seraya menjulurkan sebuah cincin untuk Sivia.
            “sekarang buka mata kamu!” pinta Alvin. Secara perlahan Sivia membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Alvin bersujud dihadapannya sambil menjulurkan sebuah cincin,
            “Vin…”
            “Sivia Azizah, Will You Marry Me…?” Tanya Alvin dengan tatapan lurus kemata Sivia. Sivia menutup mulutnya, lagi-lagi air matanya menetes, ia tak menyangka bahwa Alvin akan langsung melamarnya.
            “jawab,Vi…!” ucap Alvin sekali lagi. Sivia mengangguk berkali-kali sambil berkata,
            “aku gak ada alasan apapun buat aku nolak kamu, kalopun ada, aku gak akan peduliin alasan itu…”
            “terus jawaban kamu…?”
            “aku mau nikah sama kamu, sangat mau…” Alvin tersenyum puas. Ia memasangkan cincin itu dijari manis Sivia. Setelah memasangkan cincin, Alvin langsung menarik tangan Sivia.
            Saat ini Alvin dan Sivia sudah sama-sama berdiri, Sivia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alvin, sementara Alvin ia mendekatkan keningnya dengan kening Sivia sembari memegangi kedua pipi Sivia,
            “makasih ya udah mau nikah sama aku…?”
            “nikah sama kamu, dan jadi isteri kamu adalah mimpi terindah dalam hidup aku yang harus terwujud,Vin, aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu…”
            Alvin dan Sivia meneteskan air mata kebahagiaan. Setelah melewati banyak rintangan dan harus menghadapi kerasnya hati mereka, akhirnya hari ini mereka bersatu dan takkan ada lagi yang bisa memisahkan cinta mereka.
            Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia hendak mencium Sivia. Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, Alvin malah membatalkan niatnya untuk mencium Sivia.
            “maaf!” lirih Alvin. Kali ini Sivia yang memegang wajah Alvin. Sivia menurunkan sedikit posisi wajah Alvin supaya sejajar dengan posisi wajahnya, Sivia menatap Alvin lurus, Sivia meninggikan posisi tubuhnya sedikit supaya bisa menjangkau Alvin, dan tanpa berkata apa-apa lagi, Sivia langsung mencium bibir Alvin.
            ‘terimakasih Tuhan karna sudah mengembalikan cinta itu… terimakasih telah mengembalikan Alvinku, dan terimakasih karna kau telah menutup kisah ini dengan indah dan sempurna…’ batin Sivia.

            Tak lama Sivia menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin. Ia tersenyum lalu memeluk Alvin.
            “I love you Vin…”
            “I love you too Via…”
            Alvin mengangkat tubuh Sivia lantas memutarnya beberapa kali. Sungguh saat ini Alvin dan Sivia benar-benar merasa bahagia. Semoga kebahagiaan itu untuk selamanya.

                        “Cintailah seseorang yang mencintamu dengan tulus, dan jangan pernah kamu menyia-nyikan cinta dari seseorang yang sangat tulus mencintaimu… karna hanya seseorang yang mencintaimulah yang mampu memahamimu, bukan orang yang kamu cintai, dan bukan pula orang kamu kasihi…..”     



                                    ~THE END~

Tuesday, October 15, 2013

0

Love, Love And Love [Chapter 8]



Sivia tercengang setelah melihat Gabriel. Sama seperti Gabriel, Alvin juga tersenyum, bedanya, senyum yang terlukis diwajah tampan Alvin adalah sebuah senyum keterpaksaan. Hatinya perih tak terkira saat ia harus dengan ikhlas melepaskan gadis yang begitu ia cintai sudah sejak lama. Sivia mengalihkan perhatiannya pada Alvin, ia menatap Alvin penuh Tanya, perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. Menanggapi tatapan Sivia, Alvin mengangguk pasti ‘ayo, berjalanlah kearah Iel, lalu peluk dia dengan erat dan jangan pernah lepaskan ia…’ itulah makna anggukan Alvin yang mampu dipahami oleh Sivia. Maka Siviapun menggeleng. Senyum Alvin semakin melebar, ia ingin menujukan pada Sivia, bahwa ia benar-benar rela melepaskan Sivia untuk orang yang sangat ia cintai.
            Tak lama, Alvin mengulurkan tangannya untuk Sivia. Sivia terkesiap, dalam hati ia meronta tak ingin lepas dari Alvin dan tak ingin kembali pada Gabriel, meskipun mungkin ia masih menyimpan sedikit rasa untuk Gabriel, karna kini separuh hatinya sudah ada pada Alvin.
            Alvin mengangguk, matanya mulai terasa panas karna air mata yang kini sudah tergenang dipelupuk matanya. Dengan hati yang hancur, Sivia menerima uluran tangan Alvin. Alvin menggenggam erat tangan Sivia lalu membawanya turun dari panggung.
            Alvin dan Sivia berjalan beriringan menghampiri Gabriel. Tibalah mereka dihadapan Gabriel. Alvinpun menyerahkan Sivia pada Gabriel,
            “gue balikin Sivia ke elo, jaga dia baik-baik, dan jangan pernah sakitin dia lagi! Kalo sampe lo sakitin dia lagi, gue gak akan segan-segan buat ngerebut dia dari lo….” Dengan perlahan, Alvin melepaskan tangan Sivia dari genggamanya, Alvin terlihat berat saat harus melepaskan Sivia, begitu juga dengan Sivia, Sivia menggeleng berkali-kali. Alvin menyatukan tangan Sivia dengan tangan Gabriel, Alvin menghela nafas panjang lalu berkata,
            “semoga dengan kembalinya Iel ke kamu, kamu bisa lebih bahagia lagi,Vi, dan gak marah-marah lagi… kamu baik-baik ya sama Iel….?” Ucap Alvin dengan suara bergetar, ia jelas tengah berusaha mati-matian menahan tangisnya yang hampir pecah.
            Setelah berhasil menyatukan Sivia dan Gabriel, Alvinpun memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan membiarkan mereka membicarakan kelanjutan hubungan mereka. Saat berbalik badan, air mata yang sejak tadi Alvin tahan akhirnya keluar juga. Ia berusaha meredam isakkannya supaya tak terdengar oleh Sivia,
            ‘semoga setelah ini kebahagiaan kamu balik lagi,Vi… ini pengorbanan cinta ku buat kamu, selamanya aku gak akan pernah berhenti mencintai kamu…..’ baru saja Alvin akan melanjutkan perjalanannya meninggalkan Gabriel dan Sivia, Sivia malah memanggilnya,
            “ALVIN…” mendengar Sivia memanggil namanya, Alvin langsung menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Sivia,
            “kenapa,Vi…?” Tanya Alvin, Sivia terlihat berfikir, ia seperti ingin mengucapkan sesuatu pada Alvin, tapi entah kenapa mulutnya malah berucap,
            “makasih,buat semuanya, kamu sahabat yang baik….hik..” Dengan ucapannya itu, Sivia seolah menaburkan garam diluka hati Alvin, Alvin memejamkan matanya, perih itu semakin ia rasakan, semakin dalam, semakin parah, Alvin memejamkan matanya, ia menyeka air matanya lantas berbalik badan menatap Sivia,
            “sama-sama Vi, jangan lupa belajar ya, dan jangan pacaran terus…” Sivia mengangguk. Alvinpun akhirnya benar-benar melangkah pergi meninggalkan Gabriel dan Sivia dengan perasaan yang sangat hancur.

            Beberapa saat setelah Alvin pergi, Gabriel langsung memeluk Sivia erat, tapi Sivia tak membalas pelukan Gabriel,
            “aku minta maaf sama kamu,Vi, karna aku udah nyakitin kamu dan ninggalin kamu demi cewek yang ternyata gak pernah aku cintai sama sekali…” Sivia melepaskan dirinya dari pelukan Gabriel, ia menatap Gabriel heran, dan ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Gabriel maksud.
            “maksud Kakak apa?” Tanya Sivia, Gabriel meraih kedua tangan Sivia lalu menggamnya erat,
            “setelah kita putus, aku mulai sadar, bahwa ternyata kamu adalah satu-satunya cewek yang aku cintai bukan Zahra….”
            “tapi bukannya…” Gabriel mengangguk,
            “iya, aku mutusin pertunangan aku dengan Zahra, dan itu secara baik-baik kok…”
            “darimana aku tau kalo Kakak gak bohong….?”
            Gabriel memegang kedua pipi Sivia lalu menatap mata Sivia dalam, Gabrielpun berkata,
            “tatap mata aku, dan lihat, disana ada banyak ketulusan, aku bener-bener nyesel Vi udah nyia-nyiain kamu, plis maafin aku, dan kembalilah sama aku…” Sivia terdiam, Gabriel kembali memeluknya,
            “pokoknya mulai sekarang, aku janji, aku gak akan nyakitin kamu lagi, aku akan setia sama kamu, selamanya…” perlahan Sivia membalas pelukan Gabriel, Gabrielpun mengecup puncak kepala Sivia seperti yang biasa Alvin lakukan padanya.
            “ini semua karna Alvin,Vi, kalo bukan karna dia, mungkin sekarang aku gak akan ada disini dan meluk kamu seperti ini…apa kamu tau, tadi Alvin dateng nemuin aku, dan minta aku buat minta maaf lalu kembali ke kamu, ya aku seneng dan aku makasih banget sama Alvin, apalagi kan, aku udah mutusin pertunangan aku dengan Zahra, sebenernya selama ini aku gak ada keberanian buat ngajak kamu balik, tapi Alvin, sahabat kamu itu, dengan begitu mudahnya numbuhin rasa keberanian aku lagi…”
            ‘Alvin, kamu rela ngelakuin itu demi aku yang selama ini nyakitin kamu…? Tapi kenapa Alvin? Kenapa kamu masih aja baik sama aku yang selalu jahat sama kamu…? Dan sekarang aku malah ragu sama perasaan aku ke Kak Iel, Tuhaaan, apa aku sudah tidak mencintai Kak Iel lagi…? Seharusnya aku seneng Kak Iel bisa balik lagi sama aku, tapi kenapa aku malah ngerasa sebaliknya…?’ batin Sivia.

            Tanpa Sivia dan Gabriel sadari, ternyata Alvin masih disana dan melihat apa yang mereka berdua lakukan. Alvin semakin sakit. Perlahan ia terduduk, ia mengusap wajahnya dan berkali-kali berkata,
            “gue ikhlas, gue ikhlas, harus ikhlas, ini demi kebahagiaan Sivia….”

@_@

            “WHAAATT….? JADI LO PUTUS SAMA ALVIN, TERUS BALIK SAMA KAK IEL DAN SAHABATAN LAGI SAMA ALVIN….?” Tanya Ify dan Shilla kompak saat Sivia menceritakan semuanya pada pagi harinya. Sivia diam, ia terlihat bingung dan tidak menjawab pertanyaan Shilla dan Ify.
            “gak usah sok heboh deh, biasa aja lagi!” ucap seseorang dari arah pintu yang ternyata adalah Alvin. Sivia langsung melihat kearah Alvin. Pagi itu Alvin benar-benar terlihat biasa saja, ia seperti tidak memiliki masalah apapun dengan Sivia. Alvin tersenyum lalu menghampiri Sivia,Ify dan Shilla. Alvin berhenti disamping Shilla lalu merangkul mantan pacarnya itu.
            “elo juga Shill, ngapain sok heboh? Biarin aja si Ify heboh sendiri…!” mendengar ucapan Alvin, Ify langsung melengos kesal. Sementara Shilla, ia langsung menyingkirkan tangan Alvin dari pundaknya,
            “gak usah pake ngerangkul segala kali,Vin, ntar kalo Cakka liat bisa salah paham dia…”
            “oya, emangnya gue peduli…?”
            “iihh…elo mah…” kesal Shilla hampir menoyor kepala Alvin.
            Saat Alvin,Ify dan Shilla tengah bercanda bersama, Sivia malah diam saja sambil menunduk. Ia masih merasa bersalah dan malu pada Alvin. Alvin yang memang mengerti dengan apa yang Sivia rasakan hanya bisa tersenyum. Alvinpun menyingkirkan Ify dari samping Sivia, kini Alvin duduk disamping Sivia, ia merangkul Sivia lalu menarik dengan gemes pipi Sivia,
            “iiiihhhh…..elo kok diam aja sih? Lo sebel ama gue? bĂȘte ama gue? Kesel sama gue? Marah sama gue? Ataauuu….” Sebelum Alvin sempat melanjutkan perkataannya, Sivia malah memotongnya dengan buru-buru memeluk Alvin,
            “maafin aku,Vin, aku emang jahat sama kamu selama ini, maafin aku yaa…?” Alvin melepaskan Sivia dari pelukannya, lagi-lagi ia menarik hidung Sivia lalu berkata,
            “formal banget lo pake AKU-KAMU segala? Udahlah pake LO-GUE aja kaya’ yang dulu, biar lebih santĂ© kedengerannya dan gak KAKU….”
            Melihat sikap Alvin yang kembali seperti yang dulu lagi, Sivia semakin merasa bersalah. Sesungguhnya Sivia tau bagaimana hancurnya perasaaan Alvin saat ini. Alvin hanya berpura-pura tegar demi persahabatnnya dengan Sivia.
            ‘aku tau kamu sakit,Vin, karna akupun ngerasain hal sama kaya’ kamu, aku tau kamu berusaha kuat demi persahabatn kita… maafin aku, maaf…’  batin Sivia seraya menatap Alvin.


@_@

            Sivia duduk disebuah bangku panjang yang ada dipinggir lapangan. Sembari menunggu Alvin yang sedang berlatih futsal, Sivia menggambar wajah Alvin diatas buku gambar kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Setelah selesai berlatih, Alvin langsung menghampiri Sivia, ia duduk disamping Sivia seraya berkata,
            “hoby lo menggambar gak akan bisa ngebantu lo buat lulus ujian nasional…” Sivia menghentikan aktifitas menggambarnya lalu menatap Alvin sejenak,
            “ini kan Cuma buat selingan,Vin, masa’ gue lo suruh belajar doang…? Bisa mati gue…” Alvin mengangguk berkali-kali lalu merebut buku gambar milik Sivia, Sivia hanya pasrah, Alvin memperhatikan gambar wajahnya dengan seksama, ia memicingkan matanya dan terlihat sok serius, tak lama Alvin berkomentar,
            “gila! Gue jelek banget digambaran lo! Sengaja ya lo…!” tuduh Alvin sambil menunjuk Sivia, Sivia tercengang,
            “maksud lo…?”
            “lo sengaja kan gambar muka gua yang ganteng ini terus digambar lo bikin muka gue jadi sejelek ini… jangan-jangan lo suka ya sama gue…” ucap Alvin pede,
            “iihhh…gak deh… lagian siapa bilang itu gambar muka lo?” ucap Sivia seraya berpura-pura bergidik.
            “HAA..?? emang ini gambar muka siapa?” Tanya Alvin,
            “TUKUL….” Jawab Sivia dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Alvin yang tak terima langsung menarik kunciran Sivia,
            “aaww…sakit Alvin…”
            “ralat dulu ucapan lo! Seenak jidat lo nyamain gue sama Tukul…”
            “abisnya elo sih pake ngeledek hasil karya gue segala, gue kan sebel” Alvin semakin keras menarik kunciran Sivia,
            “aaww… sumpah Alvin, sakit BANGET…” saat Sivia berusaha menyingkirkan tangan Alvin dari rambutnya, Alvin malah menarik kedua tangan Sivia hingga wajah mereka berdekatan nyaris bersentuhan. Alvin menatap mata Sivia sedalam-dalamnya begitu juga dengan Sivia,
            ‘apa kamu tau kalo sakit itu masih terasa disini?’ batin Alvin.

            “Via…!” panggil Gabriel dari kejauhan. Alvin langsung melepaskan tangan Sivia lalu menjauhkan posisinya dari posisi Sivia. Gabriel menghampiri Alvin dan Sivia. Ia berdiri dibelakang Sivia yang saat itu duduk dibangku panjang bersama Alvin,
            “kita pulang yuk Vi…” ajak Gabriel,
            “i..iya Kak…” ucap Sivia ragu sambil  menatap Alvin. Alvin mengangguk pada Sivia. Siviapun langsung membereskan barang-barangnya dan bangkit dari samping Alvin.
            “ya udah,Vin gue pulang sama Kak Iel ya… oya, ini minuman buat lo…” Sivia menjulurkan sebotol minuman isotonic untuk Alvin. Alvin menerimanya dengan senang hati lalu berkata,
            “thanks ya…”
            “i..iya, elo gak pulang…?”
            “entar aja sekalian setelah les sore…”
            “oooo..ya udah, gue duluan ya…”
            Gabriel merangkul Sivia. Sebelum mereka pergi, Gabriel sempat pamit pada Alvin. Dan saat Sivia berjalan bersama Gabriel, ia menoleh kebelakang dan melihat Alvin yang waktu itu tersenyum padanya sambil mengangkat kedua jempolnya untuk Sivia. Tanpa Sivia sadari, senyum Alvin itu adalah sebuah senyum kehancuran.

@_@

            “kalau memang kamu sudah gak sayang lagi sama Iel, terus kenapa kamu mau balik sama dia…? Kamu jangan bohongin perasaan kamu sayang, kalo emang kamu gak sayang jangan dipaksain…” ucap Oma Volly bijak saat Sivia menemuinya dipanti Jompo sebelum ia berangkat untuk les Sore.
            “Via juga gak tau Oma! Via bingung sama apa yang Via rasain sekarang! Yang jelas saat ini yang ada difikiran Via Cuma Alvin, Via bener-bener ngerasa bersalah sama Alvin,Oma, Alvin udah baik ama Via selama ini, tapi Via selalu nyakitin dia, dan Alvin tetep sabar….”
            “dari sana udah jelas Via, kalau yang kamu cinta itu Alvin…”
            “Via emang cinta sama Alvin, tapi Via belum yakin sama apa yang Via rasain, Via takut nyakitin Alvin lagi,Oma…” Oma Volly menggeleng pelan dan kembali memberi nasihat untuk Sivia,
            “kamu gak akan nyaikitin siapa-siapa lagi! Sekarang yang perlu kamu lakuin, yakini hati kamu bahwa yang kamu cinta itu Cuma Alvin, bukan Iel atapun orang lain, setelah kamu yakin, segera temui Alvin dan bilang yang sebenernya ke Alvin, katakan sebelum semuanya terlambat dan kamu gak akan menyesal sayang…”

            Mendengarkan ucapan Oma Volly, Sivia langsung memejamkan matanya dan berusaha meyakini hatinya. Selama memejamkan matanya, Sivia mengingat semua kebersamaannya dengan Alvin, Sivia juga teringat akan pengorbanan-pengorbanan Alvin padanya. Setelah cukup lama memejamkan mata dan merenungkan semuanya, secara perlahan Sivia membuka matanya lalu berkata dalam hati,
            ‘ternyata yang aku cinta Alvin, bukan Kak Iel….’
            Oma Volly mengangkat dagu Sivia lalu menatap Sivia penuh makna,
            “gimana sayang…?” Sivia tersenyum pada Oma Volly,
            “sekarang Via udah yakin Oma, kalo yang Via cinta itu Alvin, Cuma Alvin dan bukan Kak Iel, cinta Via selama ini ternyata adalah Alvin, Oma….” Oma Volly tersenyum lantas berkata,
            “kalau sekarang kamu udah yakin, segera temui Alvin dan katakan semuanya pada Alvin…”
            “sekarang,Oma?”
            “ya sekarang dong! Sekalian kamu les sore kan disekolah..” Sivia mengangguk berkali-kali lalu mencium punggung tangan Oma Volly,
            “makasih,Oma, sekarang juga Via akan ngomong ke Alvin, kalo dialah yang Via cinta…”
            “ya udah! Good luck ya sayang…”
            “iya,Oma makasih yaa…?”

            Dengan perasaan yang bercampur aduk. Sivia berangkat kesekolah hendak menemui Alvin dan mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya pada Alvin. Sivia sudah tak sabar ingin segera tiba disekolah dan melihat wajah tampan Alvin.
            ‘Cinta itu adalah Alvin…lalu kenapa selama ini aku gak pernah peduli sama cinta itu, cinta yang bener-bener tulus sama aku…?’


@_@

            “elo yang sabar ya,Vin, pengorbanan lo ini pasti ada hasilnya, gue yakin…” ucap Pricilla pada Alvin seraya menepuk pundak Alvin. Alvin dan Pricilla tengah berdua didalam kelas. Saat itu Alvin sedang menyampaikan semua curahan hatinya pada Pricilla, gadis yang pernah menyayanginya itu.
            “iya,Prissy… gue tulus kok ngelakuin semua ini buat Via, kalo pun nanti gue sama Via emang gak jodoh, gue percaya itu jalan terbaik dari Tuhan, lagian kan, cinta gak selamanya harus saling memiliki…” Pricilla tersenyum,
            “bener banget,Vin, elo harus tetep sabar dan tetep semangat, gue sama yang lainnya akan selalu ngedukung lo, apapun yang terjadi…”
            “makasih ya..?”
            “sama-sama,Vin…”
            “Prissy…”
            “iya…?”
            “gue boleh meluk lo…??” Tanya Alvin pada Pricilla. Pricilla sedikit tercengang,
            “Haaa…??”
            “sebentaarr aja! Siapa tau setelah meluk lo, gue bisa ngerasa sedikit lebih baik, tapi kalo lo gak mau juga gak apa-apa kok….” Pricilla tersenyum, lantas berkata pada Alvin,
            “ya boleh lah,Vin, hehehe….” Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung mendaratkan tubuhnya dipelukan Pricilla, dengan sigap Pricilla  membalas pelukan Alvin. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya hari ini Pricilla bisa memeluk pemuda yang sudah sejak lama ia sayangi. Meskipun pelukan persahabatan, Pricilla tetap merasa bahagia.
            Bertepatan saat Alvin dan Pricilla sedang berpelukan, Siviapun memasuki kelas. Ia tersentak saat mendapati Alvin dan Pricilla tengah berpelukan. Mata Sivia mulai berkaca-kaca, ia merasa hatinya tercambuk berkali-kali, tulang-tulangnya pun seperti dipresto, lemah, tak ada tenaga sama sekali. Secara perlahan Sivia mundur dan berusaha meredam suara langkahnya supaya tak mengganggu Alvin dan Pricilla. Sivia mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, air matanya menetes dengan deras dari pelupuk matanya.
           
            ‘Prissy emang lebih pantes buat Alvin daripada gue…’ batin Sivia dengan suara isakkan yang berusaha ia tahan…


                                                BERSAMBUNG……