Tuesday, October 8, 2013

0

Love, Love, And Love [Chapter 5]



“lo bener-bener brengsek, gue habisin lo!” ucap Alvin yang sudah benar-benar emosi. Saat Alvin akan kembali melayangkan pukulan untuk Gabriel,Sivia langsung menahannya,
            “udah Vin…udaah…!” ucap Sivia terisak. Alvin tak peduli, ia menarik kerah baju Gabriel lalu membangunkannya secara paksa. Alvin memukuli perut Gabriel,Gabriel tidak tinggal diam, ia membalas pukulan dari Alvin itu, karna pukulan dari Gabriel yang cukup keras, Alvin terjatuh, darah segar menetes dari tepi bibirnya,
            “apa urusan lo? Lo jangan macem-macem ya sama gue, lo MASIH ANAK KECIL buat ngadepin gue!” ucap Gabriel dengan sombongnya. Alvin menggenggam erat jemari tangannya, saat ia akan bangkit dan membalas pukulan dari Gabriel, Gabriel malah terlebih dahulu memukulnya, Alvin kembali tergeletak, wajahnya nya sudah terlihat memar. Saat Gabriel akan kembali memukuli Alvin,Sivia langsung melindungi Alvin dengan buru-buru memeluk pundak Alvin yang saat itu terduduk dilantai,
            “CUKUUUUPPP…!!!hik..hik..” teriak Sivia diiringi dengan suara isakkannya. Secara perlahan Gabriel menurunkan tangannya,
            “cukup kak Iel… Kakak boleh aja nyakitin aku, tapi pliss jangan sakitin sahabat aku…” ucap Sivia pada Gabriel masih dengan nada terisak.
            “Via…” lirih Alvin pelan, Sivia membantu Alvin berdiri seraya berkata,
            “kita pergi dari sini ya Vin…” Siviapun membawa Alvin keluar dari café milik Gabriel.
                                   

@_@

            Sivia mengobati luka-luka Alvin disebuah taman yang terletak tak jauh dari Apotik tempat Sivia membeli peralatan P3K. tanpa mengeluarkan sepatah katapun Sivia mengobati luka-luka Alvin dengan telaten. Saat Sivia tengah mengobati lukanya, Alvin meringis kesakitan,
            “aw..pelan-pelan dong lo!” ucap Alvin dengan nada santai seperti biasanya, ia seolah-olah tidak sedang memiliki masalah dengan Sivia. Sivia hanya diam, tak sedikitpun menghiraukan ucapan Alvin.
            “Vi, kok lo diem aja? Lo marah sama gue? Ato lo masih sakit hati gara-gara Iel…?” Sivia menghela nafas panjang lantas menekan luka memar Alvin dengan sengaja menggunakan kapas yang ditangannya,Alvin kembali meringis kesakitan,
            “AAWWWW…. SAKITT…? Gak punya hati banget sih lo?” setelah merasa cukup, Siviapun berhenti mengobati luka Alvin, ia menghadap kedepan dan fikirannya melayang ke beberapa waktu yang lalu saat ia tahu bahwa Gabriel yang sangat ia cinta ternyata menghianati cintanya dan minta maaf dengan begitu mudahnya.
            Sivia menghela nafas berat. Ia berusaha keras untuk tidak menangis dihadapan Alvin. Ia tak ingin Alvin cemas padanya, lebih-lebih sekarang ia tahu bahwa Alvin ternyata menyimpan rasa yang lebih untuknya, Sivia berusaha menjaga perasaan Alvin.
            Alvin terus menatap Sivia yang saat itu duduk disampingnya. Alvin tahu pasti bahwa saat ini Sivia sangat terpukul setelah menerima penghianatan dari Gabriel. Alvin bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Sivia saat ini. Jika boleh jujur pada dirinya sendiri, ingin sekali rasanya Alvin mendorong kepala Sivia lalu menyandarkannya didadanya untuk mengurangi sakit yang saat ini ia rasakan, Alvin ingin menenangkan Sivia dalam pelukannya. Tapi kejadian disekolah tadi, saat Alvin menyatakan cinta secara mendadak pada Sivia membuat Alvin berfikir 2 kali untuk melakukan hal itu. Sivia pasti akan menolak pelukan darinya!
            Maka Alvinpun ikut terdiam didalam keheningan malam. Ia membiarkan Sivia menenangkan perasaannya dulu dengan sendirinya.
            “Vin, makasih ya…?” ucap Sivia secara tiba-tiba dan membuat Alvin langsung terkesiap, ia menoleh kesamping dan melihat Sivia yang waktu itu masih menghadap lurus kedepan,
            “buat?” Tanya Alvin,
            “buat semuanya” jawab Sivia singkat seraya memutar wajahnya menghadap Alvin. Kali ini sebuah senyuman yang sangat Alvin harapkan tersungging dengan manis diwajah cantik Sivia.
            “kalo tadi gak ada lo, gue gak tau gimana nasib harga diri gue selanjutnya, gue…hik..” Sivia tak sanggup melanjutkan ucapannya, air matanya akhirnya menetes juga dan tak bisa membuatnya melanjutkan perkataannya, Alvin menghela nafas panjang, tak lama terlihat berfikir Alvin langsung menarik Sivia kedalam pelukannya,
            “disini ada gue buat elo Vi… gue akan jadi sandaran hati lo, apapun yang terjadi I’ll be there for you, selamanya akan selalu ada buat lo…” Sivia tak berkata apa-apa, yang terdengar hanya isakkannya saja, hati Alvin semakin terasa ngilu saat mendengar suara isakkan Sivia itu. Sivia membalas pelukan Alvin, ia memeluk Alvin dengan erat.
            “jangan nangis lagi ya..?” pinta Alvin, Sivia masih diam. Alvin membelai lembut rambut Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan tepat diatas puncak kepala Sivia.


@_@

3 hari kemudian…

            3 hari berlalu semenjak Sivia putus dengan Gabriel. Selama 3 hari terakhir ini Sivia terlihat baik-baik saja. Mungkin ia memang terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Sesungguhnya hati Sivia begitu rapuh, bahkan lebih rapuh dari apapun yang paling rapuh dimuka bumi ini.
            Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini Sivia berangkat kesekolah bersama Alvin. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Sivia terus diam, sesekali Alvin berdehem, namun Sivia tetap tak bergeming, dalam fikirannya saat ini yang ada hanyalah Gabriel.
            “masih patah hati lo…?” Tanya Alvin tiba-tiba. Sivia yang mendengarkan pertanyaan dari Alvin itu kontan saja menoyor kepala Alvin,
            “sok tau banget lo…” kesal Sivia,
            “ya ampun Vi, gak usah pake noyor segala kali….” Ucap Alvin,
            “elo sih, bikin kesel gue aja…”
            “kesel sih kesel, tapi gak usah lampiasin dikepala gue dong, entar kalo gue jadi jadi bodoh gimana? Kan gak ada lagi yang ngerjain PR lo dan ngasih tau lo pas ulangan…”
            “bodo’…” ucap Sivia secuek-cueknya.
            “jadi lo masih patah hati nih…?”
            “Alvin jangan banyak bacot deh…” setelah itu Alvin tak lagi bertanya pada Sivia. Bisa mendengar suara manja Sivia saja Alvin sudah merasa sangat tenang.
            Setelah sekitar 10 menit diperjalanan akhirnya tibalah Alvin dan Sivia di SMK PANCASILA. Sivia menuruni motor Alvin didepan tempat parkiran. Sementara Alvin sedang memarkirkan motornya, Sivia menunggunya dengan sabar. Tak lama Alvin kembali. Ia berjalan mengendap-endap dari belakang Sivia dan berusaha meredam suara langkahnya supaya tak terdengar oleh Sivia. Saat sudah tiba dibelakang Sivia, Alvin lansung menutup kedua mata Sivia menggunakan kedua telapak tangannya.
            “iisshh…siapa sih? Usil banget…” ucap Sivia, Alvin diam dan berusaha menahan tawanya,
            “buka gak mata gue, kalo gak gue gigit tangan lo!” ancam Sivia sok sadis, Alvin tetap diam, ia seolah menantang Sivia. Sivia mengangguk berkali-kali, ia meraih tangan Alvin lalu menggigitnya, Alvin langsung membuka mata Sivia dan segera meniupi-niupi tangannya yang terlihat memerah akibat gigitan dari Sivia,
            “aw… lo kaya’ harimau tau gak? Maen gigit aja! Untung gak rabies…” ledek Alvin. Sivia yang kesal langsung berteriak sekencang-kencangnya,
            “ALVIIIIINNNNNNN……”
            “KABUURRR….” Teriak Alvin seraya berlari sekencang-kencangnya. Siviapun mengejar Alvin dan berusaha mendapatkannya.

            Sivia mengejar-ngejar Alvin didalam kelas. Mereka berlari mengelilingi kelas. Seisi kelas 11 Mutlimedia langsung heboh saat melihat Sivia mengejar-ngejar Alvin. Bukannya melerai pertengkaran Alvin dan Sivia, mereka malah mengadu Sivia dan Alvin untuk terus bertengkar,
            “kejar,kejar,kejar,kejar….” Ucap anak-anak Multimedia kompak,
            “Alvin,berhenti gak!” ucap Sivia. Alvin menaiki meja lalu menjulurkan lidahnya,
            “weeks… tangkep kalo bisa! Masa’ ngejer gue aja gak bisa, dasar cemen lo…” tantang Alvin. Sivia yang merasa tertantang semakin berusaha keras mengejar Alvin.
            Karna Alvin menaiki meja, Sivia juga ikut menaiki meja, kehebohan anak-anak Multimedia semakin bertambah, apalagi setelah Cakka sang kompor meleduk datang.
            “waw! Ada pertempuran Indonesia Vs Malaysia nih…” ujar Cakka lalu ikut berkumpul bersama ana-anak Multimedia yang lainnya.
            Saat Sivia menaiki meja, Alvin malah turun. Dan saat Sivia hendak turun dari meja, ia malah terpeleset dan hampir saja terjatuh kelantai jika Alvin tak segera menangkapnya. Sivia terjatuh tepat dipelukan Alvin. Suasana hening seketika, Alvin dan Sivia saling menatap satu sama lain.
            Setelah cukup lama saling menatap, Sivia akhirnya tersadar, ia melepaskan tatapannya dari Alvin tapi tidak dengan Alvin, ia masih menatap Sivia dengan tatapan yang begitu dalam dan begitu meneduhkan. Sivia tak menyia-nyikan kesempatan emas itu, saat Alvin sedang lengah karna terus menatapnya, Siviapun menginjak kaki Alvin sekencang-kencangnya. Alvin kembali meringis kesakitan karna ulah Sivia,
            “AAWWW….!!!” Sivia melepaskan dirinya dari pelukan Alvin lantas berlari. Kali ini giliran Alvin yang mengejar Sivia. Dasar anak kecil! Pikir Rio yang baru saja tiba dikelas.
            Ketika mengejar Sivia didalam kelas, tanpa sengaja Alvin menabrak Pricilla yang saat itu baru saja memasuki kelas bersama Rio. Semua buku-buku yang Pricilla bawa terjatuh kelantai, Sivia menghentikan larinya dan memperhatikan Alvin dan Pricilla,
            “maaf ya Priss…” sesal Alvin seraya membantu Pricilla memunguti buku-bukunya,
            “gak apa-apa kok! Gue juga yang gak hati-hati…”
           
            “CIEEEE….ALVIN PRICILLA SO SWEET BANGET….” Teriak Sivia, Alvin langsung bangkit,
            “jangan mulai lagi deh Vi..”
            “iya nih,Via, Alvin kan sukanya sama lo, kenapa lo malah ngejodohin Alvin sama gue…?” timpal Pricilla seraya tersenyum jahil. Kali ini Sivia yang dibuat malu oleh Alvin dan Pricilla. Anak-anak Mulitiemdia langsung meneriaki Alvin dan Sivia, semua itu tentu saja diawali oleh Cakka,
            “Cieeee…Alvin yang suka ama Sivia… terima aja kali Vi,Alvinnya…” goda Cakka. Sivia langsung memplototi Cakka dengan tatapan yang lumayan seram.
            “CIEEEEEEE….” Teriak semuanya kompak.

            Saat seisi kelas menyoraki Alvin dan Sivia, Alvin terus menatap Sivia seraya tersenyum. Melihat tatapan Alvin,Sivia langsung menunduk dalam.
Cakka mendekati Alvin dan membisiki sesuatu ditelinga Alvin,
            “tembak sekarang aja,Vin, mumpung Via lagi jomblo!”
            “udah gila kali ya lo..” balas Alvin dengan suara berbisik,
            “kalo emang lo cowok, tembak dia sekarang! Ato kalo gak lo akan nyesel..”
            “tapi kaann…” Cakka langsung menjauhi Alvin. Tanpa memperdulikan Alvin, Cakka berkata pada semua teman-teman sekelasnya,
            “Ok, perhatian semuanya… pagi ini, kawan kita Alvin akan menembak Sivia…!” Alvin dan Sivia tersentak. Semuanya termasuk Pricilla langsung bertepuk tangan dengan meriah,
            “tembak…tembak..tembak….” ucap semuanya kompak.
            “Wooyy…becanda kalian jelek! Gue gak suka!” sungut Sivia kesal. Setelah lumayan lama berfikir, Alvin melangkahkan kakinya dengan pasti kehadapan Sivia.
            Alvin berhenti tepat didepan Sivia. Alvin sempat menatap Sivia beberapa saat lalu meraih kedua tangan Sivia. Suasana kelas yang tadinya gaduh sekarang mendadak menjadi sepi.
            “Vi, gue bener-bener sayang sama lo… lo mau ngasih gue kesempatan buat bikin lo bahagia? Lo mau jadi pacar gue?” ucap Alvin penuh harapan. Sivia tersenyum,
            “Vin, lo gak usah dengerin omongan anak-anak, mereka semuanya pada usil! Lo kenapa sih malah beneran nembak gue…?” saat Sivia akan melepaskan tangannya dari genggaman Alvin,Alvin malah menahanya,
            “gue bener-bener serius nembak lo,Vi…”
            “Vin…”
            Sivia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia merasa bahwa ia sama sekali tak memiliki rasa apapun pada Alvin kecuali rasa seorang sahabat terhadap sahabatnya, lalu kenapa Alvin harus menembaknya lagi?
            “jawab,Vi, apapun jawaban lo, gue akan terima!” ucap Alvin tulus. Sivia menghela nafas panjang lantas berkata,
            “ok, kalo lo emang bener-bener sayang sama gue, kasi gue kesempatan buat berfikir, elo tau sendiri kan kalo gue baru putus dari Kak Iel? Dan lo pasti tau kalo gue butuh waktu buat nyembuhin semua luka gue, lo mau ngasi gue kesempatan?” Alvin melepaskan genggaman tangannya dari Sivia seraya mengangguk berkali-kali,
            “ok, gue gak akan maksa lo! Gue akan tunggu sampe lo siep,Vi…”
            “makasih ya Vin, lo emang sahabat yang paling pengertian…” ucapan Sivia itu tanpa sadar telah membuat Alvin kecewa. Sampai kapan Sivia akan terus menganggap Alvin sebagai sahabatnya?
            “oya, gue akan jawab pertanyaan lo besok, setelah lo berhasil menyelesaikan pertandingan futsal dengan SMK RAKAM…” Alvin tersenyum,
            “Ok, gue tunggu!”

@_@

            “kalo kata gue lo harus terima Alvin,Vi…” ucap Shilla pada Sivia, saat dirinya bersama Ify tengah menginap dirumah Sivia. Sivia yang memang sejak awal sudah bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan pada Alvin kini semakin dibuat bingung oleh ucapan Shilla.
            “guys…kalian berdua tau kan, kalo gue sama Alvin itu sahabatan udah sejak lama, nah kalo sekarang gue tiba-tiba jadian sama dia, kan gak lucu keliatannya…”
            “tapi Alvin sayang banget sama lo,Vi, apa lo gak ngeliat itu..?” Tanya Ify, Sivia menghela nafas berat,
            “tapi gue gak, dan gue ngerasa selamanya perasaan gue ke Alvin gak akan pernah berubah, gue sayang dia Cuma sebates sahabat, gak lebih, dan gak bisa lebih…”
            “jadi lo akan nolak Alvin besok?” kali ini Shilla yang bertanya,
            “entahlah, gue juga bingung, disatu sisi juga gue masih sayang banget sama Kak Iel, dan gue gak mungkin bisa ngelupain dia dalam waktu secepet ini guys…”
            “halah…Kak Iel lagi,Kak Iel lagi… ngapain sih lo nginget tuh cowok yang udah nyakitin elo,Vi… sekarang udah jelas-jelas ada Alvin yang sayang banget sama lo dan udah pasti ngebahagiain lo, kenapa lo malah ngarepin Kak Iel yang gak mungkin balik keelo lagi…” ucap Ify sedikit emosi. Sivia semakin dibuatnya bingung.
            Shilla memegang kedua pundak Sivia lantas berkata,
            “dengerin gue Vi, lo pasti akan nyesel banget kalo sampe lo nolak Alvin! Gue pastiin, lo pasti akan nyesel banget…” ucap Shilla menakut-nakuti Sivia,
            “lo apa-apaan sih? Udah deh gak usah nakut-nakutin gue…”
            “gue gak nakut-nakutin lo, tapi udah pasti lo akan nyesel banget kalo sampe lo nolak Alvin.. gue yakin itu…”

@_@

            Pertandingan Futsal antara SMK PANCASILA dan SMK RAKAM akhirnya dimenangkan oleh SMK PANCASILA. Cakka dan Rio juga tim yang lainnya langsung memeluk Alvin dengan erat lalu mengangkatnya.
            “lo hebat bro! kemenangan kita ini berkat lo!” ucap Cakka, saat mereka menurunkan Alvin.
            “ini bukan karna gue, tapi karna kekompakan kita semua…” ucap Alvin bijaksana sambil sesekali mencuri perhatian kearah bangku penonton. Semenjak tadi Alvin terus mencari keberadaan Sivia dibangku penonton, namun ternyata Alvin tak juga menemukan Sivia. Apa mungkin dia ingkar?
            “kamu hebat,Vin,Bapak bangga sama kamu!” ucap Pak Wowo. Alvin langsung menyalami Pak Wowo,
            “ini juga semua karna kegigihan Bapak yang selama ini terus melatih saya bersama Tim, kemenangan ini buat Pak Wowo juga buat SMK PANCASILA…” Pak Wowopun memeluk Alvin.
            Setelah memberikan ucapan selamat pada Alvin dan kawan-kawannya Pak Wowopun memohon diri untuk pamit.
            Saat Alvin sedang merayakan kemenangannya bersama Tim-nya ditengah lapangan, tiba-tiba saja Sivia datang. Semua kawan-kawan Alvin memberikan jalan untuk Sivia. Alvin menatap Sivia yang waktu itu semakin mendekatinya, Cakka dan Rio menepuk pundak Alvin lalu berdiri dibelakang Alvin.
            Kali ini, Sivia sudah berdiri tepat dihadapan Alvin. Sivia yang sedari tadi menunduk dalam akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap mata Alvin. Keheningan sempat terjadi diantara mereka.
            “Vin, gue akan jawab pertanyaan lo sekarang seperti janji gue kemaren!” ucap Sivia yang akhirnya memecah keheningan. Alvin mengangguk dan siap mendengarkan jawaban apapun dari Sivia.
            “sebelum gue jawab, gue mau nanya dulu keelo, boleh?” Alvin hanya mengangguk, Sivia tersenyum,
            “apa lo siep nerima apapun jawaban gue hari ini?” Alvin sempat terdiam sejenak untuk berfikir, tak lama ia pun mengangguk, Sivia kembali bertanya,
            “walopun jawaban gue gak sesuai sama apa yang lo mau, kita tetep sahabat kan?” sekali lagi Alvin mengangguk. Sivia tersenyum mantap,
            “Ok…Vin, sebelumnya gue makasih banget sama lo karna lo udah suka sama gue dan mau nerima gue apa adanya, satu yang perlu lo tau, kenal sama seorang Alvin Jonathan Sindunata adalah anugerah terindah yang pernah gue dapetin sepanjang hidup gue, tapi maafin gue Vin…” Sivia menyela ucapannya, Alvin sudah pasrah. Sivia menghela nafas berat dan melanjutkan ucapannya,
            “maafin gue, karna gue gak bisa…” ucap Sivia seraya menggelengkan kepalanya dan membuat dada Alvin terasa tertohok.


                                    BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment