“lo bener-bener brengsek, gue habisin
lo!” ucap Alvin yang sudah benar-benar emosi. Saat Alvin akan kembali
melayangkan pukulan untuk Gabriel,Sivia langsung menahannya,
“udah
Vin…udaah…!” ucap Sivia terisak. Alvin tak peduli, ia menarik kerah baju
Gabriel lalu membangunkannya secara paksa. Alvin memukuli perut Gabriel,Gabriel
tidak tinggal diam, ia membalas pukulan dari Alvin itu, karna pukulan dari
Gabriel yang cukup keras, Alvin terjatuh, darah segar menetes dari tepi
bibirnya,
“apa
urusan lo? Lo jangan macem-macem ya sama gue, lo MASIH ANAK KECIL buat ngadepin
gue!” ucap Gabriel dengan sombongnya. Alvin menggenggam erat jemari tangannya,
saat ia akan bangkit dan membalas pukulan dari Gabriel, Gabriel malah terlebih
dahulu memukulnya, Alvin kembali tergeletak, wajahnya nya sudah terlihat memar.
Saat Gabriel akan kembali memukuli Alvin,Sivia langsung melindungi Alvin dengan
buru-buru memeluk pundak Alvin yang saat itu terduduk dilantai,
“CUKUUUUPPP…!!!hik..hik..”
teriak Sivia diiringi dengan suara isakkannya. Secara perlahan Gabriel
menurunkan tangannya,
“cukup
kak Iel… Kakak boleh aja nyakitin aku, tapi pliss jangan sakitin sahabat aku…”
ucap Sivia pada Gabriel masih dengan nada terisak.
“Via…”
lirih Alvin pelan, Sivia membantu Alvin berdiri seraya berkata,
“kita
pergi dari sini ya Vin…” Siviapun membawa Alvin keluar dari café milik Gabriel.
@_@
Sivia
mengobati luka-luka Alvin disebuah taman yang terletak tak jauh dari Apotik
tempat Sivia membeli peralatan P3K. tanpa mengeluarkan sepatah katapun Sivia
mengobati luka-luka Alvin dengan telaten. Saat Sivia tengah mengobati lukanya,
Alvin meringis kesakitan,
“aw..pelan-pelan
dong lo!” ucap Alvin dengan nada santai seperti biasanya, ia seolah-olah tidak
sedang memiliki masalah dengan Sivia. Sivia hanya diam, tak sedikitpun
menghiraukan ucapan Alvin.
“Vi,
kok lo diem aja? Lo marah sama gue? Ato lo masih sakit hati gara-gara Iel…?”
Sivia menghela nafas panjang lantas menekan luka memar Alvin dengan sengaja
menggunakan kapas yang ditangannya,Alvin kembali meringis kesakitan,
“AAWWWW….
SAKITT…? Gak punya hati banget sih lo?” setelah merasa cukup, Siviapun berhenti
mengobati luka Alvin, ia menghadap kedepan dan fikirannya melayang ke beberapa
waktu yang lalu saat ia tahu bahwa Gabriel yang sangat ia cinta ternyata
menghianati cintanya dan minta maaf dengan begitu mudahnya.
Sivia
menghela nafas berat. Ia berusaha keras untuk tidak menangis dihadapan Alvin.
Ia tak ingin Alvin cemas padanya, lebih-lebih sekarang ia tahu bahwa Alvin
ternyata menyimpan rasa yang lebih untuknya, Sivia berusaha menjaga perasaan
Alvin.
Alvin
terus menatap Sivia yang saat itu duduk disampingnya. Alvin tahu pasti bahwa
saat ini Sivia sangat terpukul setelah menerima penghianatan dari Gabriel.
Alvin bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Sivia saat ini. Jika boleh
jujur pada dirinya sendiri, ingin sekali rasanya Alvin mendorong kepala Sivia
lalu menyandarkannya didadanya untuk mengurangi sakit yang saat ini ia rasakan,
Alvin ingin menenangkan Sivia dalam pelukannya. Tapi kejadian disekolah tadi,
saat Alvin menyatakan cinta secara mendadak pada Sivia membuat Alvin berfikir 2
kali untuk melakukan hal itu. Sivia pasti akan menolak pelukan darinya!
Maka
Alvinpun ikut terdiam didalam keheningan malam. Ia membiarkan Sivia menenangkan
perasaannya dulu dengan sendirinya.
“Vin,
makasih ya…?” ucap Sivia secara tiba-tiba dan membuat Alvin langsung terkesiap,
ia menoleh kesamping dan melihat Sivia yang waktu itu masih menghadap lurus
kedepan,
“buat?”
Tanya Alvin,
“buat
semuanya” jawab Sivia singkat seraya memutar wajahnya menghadap Alvin. Kali ini
sebuah senyuman yang sangat Alvin harapkan tersungging dengan manis diwajah
cantik Sivia.
“kalo
tadi gak ada lo, gue gak tau gimana nasib harga diri gue selanjutnya,
gue…hik..” Sivia tak sanggup melanjutkan ucapannya, air matanya akhirnya
menetes juga dan tak bisa membuatnya melanjutkan perkataannya, Alvin menghela
nafas panjang, tak lama terlihat berfikir Alvin langsung menarik Sivia kedalam
pelukannya,
“disini
ada gue buat elo Vi… gue akan jadi sandaran hati lo, apapun yang terjadi I’ll be there for you, selamanya akan
selalu ada buat lo…” Sivia tak berkata apa-apa, yang terdengar hanya isakkannya
saja, hati Alvin semakin terasa ngilu saat mendengar suara isakkan Sivia itu.
Sivia membalas pelukan Alvin, ia memeluk Alvin dengan erat.
“jangan
nangis lagi ya..?” pinta Alvin, Sivia masih diam. Alvin membelai lembut rambut
Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan tepat diatas puncak kepala Sivia.
@_@
3 hari kemudian…
3
hari berlalu semenjak Sivia putus dengan Gabriel. Selama 3 hari terakhir ini
Sivia terlihat baik-baik saja. Mungkin ia memang terlihat baik-baik saja, tapi
tidak dengan hatinya. Sesungguhnya hati Sivia begitu rapuh, bahkan lebih rapuh
dari apapun yang paling rapuh dimuka bumi ini.
Seperti
pagi-pagi sebelumnya, pagi ini Sivia berangkat kesekolah bersama Alvin.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Sivia terus diam, sesekali Alvin berdehem,
namun Sivia tetap tak bergeming, dalam fikirannya saat ini yang ada hanyalah
Gabriel.
“masih
patah hati lo…?” Tanya Alvin tiba-tiba. Sivia yang mendengarkan pertanyaan dari
Alvin itu kontan saja menoyor kepala Alvin,
“sok
tau banget lo…” kesal Sivia,
“ya
ampun Vi, gak usah pake noyor segala kali….” Ucap Alvin,
“elo
sih, bikin kesel gue aja…”
“kesel
sih kesel, tapi gak usah lampiasin dikepala gue dong, entar kalo gue jadi jadi
bodoh gimana? Kan gak ada lagi yang ngerjain PR lo dan ngasih tau lo pas
ulangan…”
“bodo’…”
ucap Sivia secuek-cueknya.
“jadi
lo masih patah hati nih…?”
“Alvin
jangan banyak bacot deh…” setelah itu Alvin tak lagi bertanya pada Sivia. Bisa
mendengar suara manja Sivia saja Alvin sudah merasa sangat tenang.
Setelah
sekitar 10 menit diperjalanan akhirnya tibalah Alvin dan Sivia di SMK
PANCASILA. Sivia menuruni motor Alvin didepan tempat parkiran. Sementara Alvin
sedang memarkirkan motornya, Sivia menunggunya dengan sabar. Tak lama Alvin
kembali. Ia berjalan mengendap-endap dari belakang Sivia dan berusaha meredam
suara langkahnya supaya tak terdengar oleh Sivia. Saat sudah tiba dibelakang Sivia,
Alvin lansung menutup kedua mata Sivia menggunakan kedua telapak tangannya.
“iisshh…siapa
sih? Usil banget…” ucap Sivia, Alvin diam dan berusaha menahan tawanya,
“buka
gak mata gue, kalo gak gue gigit tangan lo!” ancam Sivia sok sadis, Alvin tetap
diam, ia seolah menantang Sivia. Sivia mengangguk berkali-kali, ia meraih
tangan Alvin lalu menggigitnya, Alvin langsung membuka mata Sivia dan segera
meniupi-niupi tangannya yang terlihat memerah akibat gigitan dari Sivia,
“aw…
lo kaya’ harimau tau gak? Maen gigit aja! Untung gak rabies…” ledek Alvin.
Sivia yang kesal langsung berteriak sekencang-kencangnya,
“ALVIIIIINNNNNNN……”
“KABUURRR….”
Teriak Alvin seraya berlari sekencang-kencangnya. Siviapun mengejar Alvin dan
berusaha mendapatkannya.
Sivia
mengejar-ngejar Alvin didalam kelas. Mereka berlari mengelilingi kelas. Seisi
kelas 11 Mutlimedia langsung heboh saat melihat Sivia mengejar-ngejar Alvin.
Bukannya melerai pertengkaran Alvin dan Sivia, mereka malah mengadu Sivia dan
Alvin untuk terus bertengkar,
“kejar,kejar,kejar,kejar….”
Ucap anak-anak Multimedia kompak,
“Alvin,berhenti
gak!” ucap Sivia. Alvin menaiki meja lalu menjulurkan lidahnya,
“weeks…
tangkep kalo bisa! Masa’ ngejer gue aja gak bisa, dasar cemen lo…” tantang
Alvin. Sivia yang merasa tertantang semakin berusaha keras mengejar Alvin.
Karna
Alvin menaiki meja, Sivia juga ikut menaiki meja, kehebohan anak-anak
Multimedia semakin bertambah, apalagi setelah Cakka sang kompor meleduk datang.
“waw!
Ada pertempuran Indonesia Vs Malaysia nih…” ujar Cakka lalu ikut berkumpul
bersama ana-anak Multimedia yang lainnya.
Saat
Sivia menaiki meja, Alvin malah turun. Dan saat Sivia hendak turun dari meja,
ia malah terpeleset dan hampir saja terjatuh kelantai jika Alvin tak segera
menangkapnya. Sivia terjatuh tepat dipelukan Alvin. Suasana hening seketika,
Alvin dan Sivia saling menatap satu sama lain.
Setelah
cukup lama saling menatap, Sivia akhirnya tersadar, ia melepaskan tatapannya
dari Alvin tapi tidak dengan Alvin, ia masih menatap Sivia dengan tatapan yang
begitu dalam dan begitu meneduhkan. Sivia tak menyia-nyikan kesempatan emas
itu, saat Alvin sedang lengah karna terus menatapnya, Siviapun menginjak kaki
Alvin sekencang-kencangnya. Alvin kembali meringis kesakitan karna ulah Sivia,
“AAWWW….!!!”
Sivia melepaskan dirinya dari pelukan Alvin lantas berlari. Kali ini giliran
Alvin yang mengejar Sivia. Dasar anak kecil! Pikir Rio yang baru saja tiba
dikelas.
Ketika
mengejar Sivia didalam kelas, tanpa sengaja Alvin menabrak Pricilla yang saat
itu baru saja memasuki kelas bersama Rio. Semua buku-buku yang Pricilla bawa
terjatuh kelantai, Sivia menghentikan larinya dan memperhatikan Alvin dan
Pricilla,
“maaf
ya Priss…” sesal Alvin seraya membantu Pricilla memunguti buku-bukunya,
“gak
apa-apa kok! Gue juga yang gak hati-hati…”
“CIEEEE….ALVIN
PRICILLA SO SWEET BANGET….” Teriak Sivia, Alvin langsung bangkit,
“jangan
mulai lagi deh Vi..”
“iya
nih,Via, Alvin kan sukanya sama lo, kenapa lo malah ngejodohin Alvin sama gue…?”
timpal Pricilla seraya tersenyum jahil. Kali ini Sivia yang dibuat malu oleh
Alvin dan Pricilla. Anak-anak Mulitiemdia langsung meneriaki Alvin dan Sivia,
semua itu tentu saja diawali oleh Cakka,
“Cieeee…Alvin
yang suka ama Sivia… terima aja kali Vi,Alvinnya…” goda Cakka. Sivia langsung
memplototi Cakka dengan tatapan yang lumayan seram.
“CIEEEEEEE….”
Teriak semuanya kompak.
Saat
seisi kelas menyoraki Alvin dan Sivia, Alvin terus menatap Sivia seraya
tersenyum. Melihat tatapan Alvin,Sivia langsung menunduk dalam.
Cakka mendekati Alvin dan membisiki
sesuatu ditelinga Alvin,
“tembak
sekarang aja,Vin, mumpung Via lagi jomblo!”
“udah
gila kali ya lo..” balas Alvin dengan suara berbisik,
“kalo
emang lo cowok, tembak dia sekarang! Ato kalo gak lo akan nyesel..”
“tapi
kaann…” Cakka langsung menjauhi Alvin. Tanpa memperdulikan Alvin, Cakka berkata
pada semua teman-teman sekelasnya,
“Ok,
perhatian semuanya… pagi ini, kawan kita Alvin akan menembak Sivia…!” Alvin dan
Sivia tersentak. Semuanya termasuk Pricilla langsung bertepuk tangan dengan
meriah,
“tembak…tembak..tembak….”
ucap semuanya kompak.
“Wooyy…becanda
kalian jelek! Gue gak suka!” sungut Sivia kesal. Setelah lumayan lama berfikir,
Alvin melangkahkan kakinya dengan pasti kehadapan Sivia.
Alvin
berhenti tepat didepan Sivia. Alvin sempat menatap Sivia beberapa saat lalu
meraih kedua tangan Sivia. Suasana kelas yang tadinya gaduh sekarang mendadak
menjadi sepi.
“Vi,
gue bener-bener sayang sama lo… lo mau ngasih gue kesempatan buat bikin lo
bahagia? Lo mau jadi pacar gue?” ucap Alvin penuh harapan. Sivia tersenyum,
“Vin,
lo gak usah dengerin omongan anak-anak, mereka semuanya pada usil! Lo kenapa
sih malah beneran nembak gue…?” saat Sivia akan melepaskan tangannya dari
genggaman Alvin,Alvin malah menahanya,
“gue
bener-bener serius nembak lo,Vi…”
“Vin…”
Sivia
tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia merasa bahwa ia sama sekali tak memiliki rasa
apapun pada Alvin kecuali rasa seorang sahabat terhadap sahabatnya, lalu kenapa
Alvin harus menembaknya lagi?
“jawab,Vi,
apapun jawaban lo, gue akan terima!” ucap Alvin tulus. Sivia menghela nafas
panjang lantas berkata,
“ok,
kalo lo emang bener-bener sayang sama gue, kasi gue kesempatan buat berfikir,
elo tau sendiri kan kalo gue baru putus dari Kak Iel? Dan lo pasti tau kalo gue
butuh waktu buat nyembuhin semua luka gue, lo mau ngasi gue kesempatan?” Alvin
melepaskan genggaman tangannya dari Sivia seraya mengangguk berkali-kali,
“ok,
gue gak akan maksa lo! Gue akan tunggu sampe lo siep,Vi…”
“makasih
ya Vin, lo emang sahabat yang paling pengertian…” ucapan Sivia itu tanpa sadar
telah membuat Alvin kecewa. Sampai kapan Sivia akan terus menganggap Alvin
sebagai sahabatnya?
“oya,
gue akan jawab pertanyaan lo besok, setelah lo berhasil menyelesaikan
pertandingan futsal dengan SMK RAKAM…” Alvin tersenyum,
“Ok,
gue tunggu!”
@_@
“kalo
kata gue lo harus terima Alvin,Vi…” ucap Shilla pada Sivia, saat dirinya
bersama Ify tengah menginap dirumah Sivia. Sivia yang memang sejak awal sudah
bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan pada Alvin kini semakin dibuat
bingung oleh ucapan Shilla.
“guys…kalian
berdua tau kan, kalo gue sama Alvin itu sahabatan udah sejak lama, nah kalo
sekarang gue tiba-tiba jadian sama dia, kan gak lucu keliatannya…”
“tapi
Alvin sayang banget sama lo,Vi, apa lo gak ngeliat itu..?” Tanya Ify, Sivia
menghela nafas berat,
“tapi
gue gak, dan gue ngerasa selamanya perasaan gue ke Alvin gak akan pernah
berubah, gue sayang dia Cuma sebates sahabat, gak lebih, dan gak bisa lebih…”
“jadi
lo akan nolak Alvin besok?” kali ini Shilla yang bertanya,
“entahlah,
gue juga bingung, disatu sisi juga gue masih sayang banget sama Kak Iel, dan
gue gak mungkin bisa ngelupain dia dalam waktu secepet ini guys…”
“halah…Kak
Iel lagi,Kak Iel lagi… ngapain sih lo nginget tuh cowok yang udah nyakitin
elo,Vi… sekarang udah jelas-jelas ada Alvin yang sayang banget sama lo dan udah
pasti ngebahagiain lo, kenapa lo malah ngarepin Kak Iel yang gak mungkin balik
keelo lagi…” ucap Ify sedikit emosi. Sivia semakin dibuatnya bingung.
Shilla
memegang kedua pundak Sivia lantas berkata,
“dengerin
gue Vi, lo pasti akan nyesel banget kalo sampe lo nolak Alvin! Gue pastiin, lo
pasti akan nyesel banget…” ucap Shilla menakut-nakuti Sivia,
“lo
apa-apaan sih? Udah deh gak usah nakut-nakutin gue…”
“gue
gak nakut-nakutin lo, tapi udah pasti lo akan nyesel banget kalo sampe lo nolak
Alvin.. gue yakin itu…”
@_@
Pertandingan
Futsal antara SMK PANCASILA dan SMK RAKAM akhirnya dimenangkan oleh SMK
PANCASILA. Cakka dan Rio juga tim yang lainnya langsung memeluk Alvin dengan
erat lalu mengangkatnya.
“lo
hebat bro! kemenangan kita ini berkat lo!” ucap Cakka, saat mereka menurunkan
Alvin.
“ini
bukan karna gue, tapi karna kekompakan kita semua…” ucap Alvin bijaksana sambil
sesekali mencuri perhatian kearah bangku penonton. Semenjak tadi Alvin terus
mencari keberadaan Sivia dibangku penonton, namun ternyata Alvin tak juga
menemukan Sivia. Apa mungkin dia ingkar?
“kamu
hebat,Vin,Bapak bangga sama kamu!” ucap Pak Wowo. Alvin langsung menyalami Pak
Wowo,
“ini
juga semua karna kegigihan Bapak yang selama ini terus melatih saya bersama
Tim, kemenangan ini buat Pak Wowo juga buat SMK PANCASILA…” Pak Wowopun memeluk
Alvin.
Setelah
memberikan ucapan selamat pada Alvin dan kawan-kawannya Pak Wowopun memohon
diri untuk pamit.
Saat
Alvin sedang merayakan kemenangannya bersama Tim-nya ditengah lapangan,
tiba-tiba saja Sivia datang. Semua kawan-kawan Alvin memberikan jalan untuk
Sivia. Alvin menatap Sivia yang waktu itu semakin mendekatinya, Cakka dan Rio
menepuk pundak Alvin lalu berdiri dibelakang Alvin.
Kali
ini, Sivia sudah berdiri tepat dihadapan Alvin. Sivia yang sedari tadi menunduk
dalam akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap mata Alvin. Keheningan sempat
terjadi diantara mereka.
“Vin,
gue akan jawab pertanyaan lo sekarang seperti janji gue kemaren!” ucap Sivia
yang akhirnya memecah keheningan. Alvin mengangguk dan siap mendengarkan
jawaban apapun dari Sivia.
“sebelum
gue jawab, gue mau nanya dulu keelo, boleh?” Alvin hanya mengangguk, Sivia
tersenyum,
“apa
lo siep nerima apapun jawaban gue hari ini?” Alvin sempat terdiam sejenak untuk
berfikir, tak lama ia pun mengangguk, Sivia kembali bertanya,
“walopun
jawaban gue gak sesuai sama apa yang lo mau, kita tetep sahabat kan?” sekali
lagi Alvin mengangguk. Sivia tersenyum mantap,
“Ok…Vin,
sebelumnya gue makasih banget sama lo karna lo udah suka sama gue dan mau
nerima gue apa adanya, satu yang perlu lo tau, kenal sama seorang Alvin
Jonathan Sindunata adalah anugerah terindah yang pernah gue dapetin sepanjang
hidup gue, tapi maafin gue Vin…” Sivia menyela ucapannya, Alvin sudah pasrah.
Sivia menghela nafas berat dan melanjutkan ucapannya,
“maafin
gue, karna gue gak bisa…” ucap Sivia seraya menggelengkan kepalanya dan membuat
dada Alvin terasa tertohok.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment