Thursday, October 10, 2013

0

Love, Love And Love [Chapter 6]



Alvin menghembuskan nafas yang sejak tadi ia tahan. Perih mulai ia rasakan atas jawaban Sivia baru saja. Benarkah Sivia tak bisa menerima cinta Alvin yang begitu tulus? Benarkah tak ada kesempatan sedikit saja untuk Alvin masuk kedalam hidup Sivia lebih dari seorang Sahabat? Meski perih itu semakin terasa, Alvin berusaha tersenyum dan berusaha lapang dada demi persahabatannya dengan Sivia. Maka Alvinpun berkata,
            “ok, gak apa-apa, kita tetep sahabat kok…” ucap Alvin pasrah. Sivia meraih tangan Alvin lalu menggenggamnya erat,
            “gue belum selese Vin, lo maen nyamber aja!” Alvin tercengang. Ia heran kenapa Sivia berkata seperti itu,
            “maksud lo?” Tanya Alvin, Sivia masih tersenyum,
            “gue gak bisa nolak lo, lagian mana mungkin sih gue bisa nolak cowok sebaik lo…” mendengar jawaban Sivia, semua rasa kecewa beserta perih yang ia rasakan akhirnya terkikis tanpa bekas. Alvin tertawa kecil,
            “hehehe…lo yang bener?” Tanya Alvin menyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Sivia. Sivia mengangguk berkali-kali, ia kembali berkata,
            “gue sadar,Vin, bahwa Cuma lo yang bisa ngertiin gue, bahwa Cuma elo yang sanggup ada disamping gue saat gue ada masalah, bahwa Cuma lo yang bersedia dengerin rengekan-rengekan gue yang udah kaya’ anak kecil serta curhatan-curhatan gue yang gak penting, bahwa Cuma lo yang sabar ngadepin sifat manja gue, dan bahwa Cuma elo satu-satunya cowok yang bener-bener mencintai gue tulus apa adanya….” Ucap Sivia panjang lebar, dan membuat Alvin merasa terharu atas apa yang telah ia ucapkan. Tanpa berkata apa-apa lagi dan karna Alvin sudah tak bisa lagi membendung segala kebahagiaannya saat ini, ia pun memeluk Sivia erat seraya terus mengucapkan kata ‘Terimakasih’. Semua yang ada dilapangan itu bertepuk tangan dengan meriah untuk Alvin dan Sivia.
            Tak lama Alvin tersadar bahwa apa yang telah ia lakukan pada Sivia cukup berlebihan. Alvinpun melepaskan pelukannya dari Sivia, ia menggaruk-garuk kepalanya dan sedikit tersipu. Sivia hanya tersenyum melihat kesalahtingkahan Alvin yang kini sudah resmi menjadi pacarnya.
            “maaf!”
            “maaf buat apa?”
            “ya maaf, karna gue udah meluk lo sembarangan…”jawab Alvin seraya menunduk dalam. Secara tiba-tiba Sivia mendaratkan sebuah kecupan tepat dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin terkesiap, ia langsung menatap Sivia,
            “buat apa minta maaf? Kita kan udah pacaran….?”
            “CIEEEEEE…..” teriak semua kawan-kawan Alvin dengan kompak. Ditengah keriuhan yang terjadi, Siviapun menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Alvin. Alvin membalas pelukan Sivia lantas membelai lembut rambut Sivia,
            “ajarin gue buat ngelupain Kak Iel Vin, ajarin gue supaya gue bisa sayang sama lo dengan sepenuh hati gue…”
            “pasti!” ucap Alvin mantap.
            Alvin mengangkat tubuh Sivia lalu memutarnya sejenak. Tak lama Alvinpun menurunkan Sivia. Sivia memegang kedua pipi Alvin. Alvin meraih kedua tangan Sivia yang ada dipipinya lantas menggengamnya dengan erat. Alvin mencium kedua tangan Sivia yang dalam genggamannya sembari mendekatkan keningnya dengan kening Sivia. Alvin kembali memeluk Sivia.
           
            ‘Tuhan, apa aku bisa ngejalanin semuanya sama Alvin? Apa aku bisa menerima begitu saja bahwa sekarang, Alvin sahabatku sudah menjadi pacarku? Aku takut menyakiti Alvin,Tuhaan…?’ ujar Sivia dalam hati.


@_@

            “udah belajar Kimia? Besok kita mau ulangan!” ucap Alvin saat menelpon Sivia pada malam harinya. Wajah Sivia menampakkan ekspresi bosan saat Alvin mengingatkannya bahwa besok ada ulangan Kimia.
            “belom,Vin…” jawab Sivia apa adanya,
            “kenapa?” Tanya Alvin kembali,
            “maleesss….”
            “yaelah, males dipelihara, udah belajar dulu sana! Biar besok lo bisa jawab soal ulangan…”
            “Alvin, dengerin gue ya, orang kalo baru pacaran, dia pasti nanyain ke pacarnya, kapan kita ngedate? first date mau kemana? Kamu suka apa? Atau apa kek gitu, ini malah lo nanyain apa gue udah belajar kimia ato belom, bete’….”
Alvin tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia pun berkata pada Sivia,
            “ya itu kan orang laen, gue kan beda! Lo jangan sama ratain semua orang dong…”
            “ok..ok..lo menang, gue kalah!” ucap Sivia dengan nada sangat terpaksa,
            “ya udah, gue kerumah lo ya, gue ajarin Kimia!”
            “iya sayang…” jawab Sivia pasrah.

@_@

             Setelah pulang sekolah pada siang harinya, Sivia mengajak Alvin pergi kesebuah Panti Jompo. Awalnya Alvin sempat heran kenapa Sivia mengajaknya ke Panti Jompo. Sepanjang perjalan menuju Panti Jompo Sivia tak juga menjawab keheranan Alvin. Sebelum tiba dipanti Jompo mereka sempat mampir disebuah restoran untuk membeli makanan, setelah dari restoran barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka kePanti Jompo.
            “sebenernya kita mau ngapain sih,Vi ke Panti Jompo?” Tanya Alvin saat mereka dalam perjalanan,
            “udah jalan aja, entar juga elo tau sendiri…” jawab Sivia singkat. Setelah itu Alvin tak bertanya lagi pada Sivia.
            Setelah sekitar 30 menit diperjalanan tibalah Alvin dan Sivia disebuah Panti Jompo. Alvin memarkirkan motornya tepat didepan panti Jompo. Setelah itu Alvin dan Sivia berjalan beriringan memasuki Panti Jompo yang lumayan besar itu.
            “mau ngapain dipanti Jompo,Vi…?” Tanya Alvin,
            “gue sama Kak Iel dulu sering kesini? Kangen aja sama suasananya…” jawab Sivia dengan enteng dan tanpa beban. Ia seolah tak memikirkan bagaimana perasaan Alvin saat ia kembali menyebut nama Gabriel, mantan pacar yang sudah pernah menyakitinya. Tapi meski begitu, Alvin berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya agak terganggu dengan jawaban Sivia itu. Alvin mengerti, bahwa mungkin Sivia belum bisa melupakan Gabriel.
            Saat ini Alvin dan Sivia sudah berada dihalaman belakang Panti Jompo. Halaman yang lumayan luas itu dipenuhi oleh manula-manula penghuni panti Jompo itu yang tengah melakukan aktifitas mereka. Diantara semua manula-manula itu, perhatian Sivia tertuju pada seorang Nenek yang saat itu tengah duduk disebuah kursi roda sambil menyulam. Sivia tersenyum lalu mendekati Nenek itu, sementara Alvin, ia hanya mengikuti Sivia dari belakang.
            “hallo,Oma, Via dateng….” Ucap Sivia dengan ramah. Nenek yang biasa Sivia panggil dengan panggilan Oma Volly itu langsung mengalihkan perhatiannya dari sulamannya, ia melihat Sivia seraya memperbaiki aturan kaca matanya,
            “Via, kamu dateng lagi?” Tanya Oma Volly. Sivia tertawa kecil lalu memeluk Oma Volly,
            “iya,Oma, Via dateng buat Oma….”
            “makasih sayang…” ujar Oma Volly seraya mencium pipi Sivia. Alvin hanya tersenyum dan dalam hati memuji sikap kasih sayang Sivia pada Oma Volly.melihat sikap Sivia, Alvin semakin jatuh cinta pada Sivia.
            “ini,Oma, Via bawa makanan buat Oma, kita makan bareng ya,Oma…”
            “iya…” kali ini perhatian Oma Volly tertuju pada Alvin yang saat itu berdiri dibelakang Sivia. Beliau memperhatikan Alvin dengan seksama lantas bertanya pada Sivia,
            “Via, ini siapa sayang? Kaya’nya Oma baru liat..”
            “oya,Via hampir lupa, kenalin Oma, ini Alvin, sahabat Via sejak kecil…” ucap Sivia tanpa sadar dan membuat Alvin sedikit tercengang. Sahabat? Kenapa Sivia mengatakan bahwa Alvin adalah sahabatnya? Bukankah mereka sudah resmi berpacaran sejak kemarin? Apa mungkin Sivia belum terbiasa menganggap Alvin sebagai pacarnya yang sudah sejak lama menjadi sahabatnya?
            Tak lama Sivia teringat, ia menepuk keningnya sendiri lalu segera melarat ucapannya. Ternyata Sivia memang benar-benar belum terbiasa dengan statusnya sebagai pacar Alvin saat ini.
            “maksud Via, ini Alvin, pa..pacar Sivia,Oma…” ucap Sivia sedikit terbata. Alvin jelas merasakan keraguan yang ada dihati Sivia.
            “ooo…jadi ini pacar kamu…?” Tanya Oma Volly meyakinkan,
            “i..iya Oma…” Alvinpun menyalami Oma Volly.
            “kenalin Oma, saya Alvin…”
            “ganteng ya pacar kamu,Vi…oya, memangnya kamu sudah putus sama Iel…?”
            “iya,Oma, kita udah putus..”
            “loh kenapa?” Tanya Oma Volly lagi. Sivia bingung harus menjawab apa. Ia tak mungkin menjawab pertanyaan Oma Volly dengan jujur, karna itu semua hanya akan membuat Oma Volly cemas. Oma Volly dan Iel cukup dekat, dulu Iel juga pernah berjanji pada Sivia dihadapan Oma Volly bahwa ia akan selalu setia pada Sivia apapun yang terjadi, tapi sekarang ceritanya sudah berbeda, tentu saja Oma Volly akan cemas kalau sampai beliau tau bahwa Sivia dan Gabriel putus hanya karna Gabriel sudah mendukan cinta Sivia. Maka Siviapun berdalih,
            “ki..kita putus, karna kita berdua udah ngerasa gak ada kecocokan lagi, tapi kita putus secara baik-baik kok Oma…” mendengar jawaban Sivia, Oma Volly tersenyum.
            “ya udah, itu namanya kalian gak jodoh! Lagian kan sekarang kamu udah ada penggantinya… Alvin juga gak kalah ganteng kok dari Iel…” Sivia mengangguk berkali-kali,
            “iya Oma…” ucap Sivia sambil sesekali menatap Alvin.

@_@

            Sivia merebahkan kepalanya dipundak Alvin yang saat itu duduk merenung dihalaman rumahnya pada malam harinya.
            “maafin gue ya,Vin…” ucap Sivia,
            “kok minta maaf…?” Tanya Alvin seraya merangkul Sivia,
            “gue minta maaf karna tadi didepan Oma Volly gue keceplosan bilang lo sahabat gue, padahal lo pacar gue…” Alvin tersenyum,
            “ya ampun,Vi, ngapain pake minta maaf… gue ngerti kok, kalo lo belum terbiasa sama status kita saat ini, semuanya butuh proses Vi, apalagi kan kita sahabatan udah lama terus tiba-tiba kita pacaran, ya elo butuh waktu untuk semua itu…” Sivia mengangkat kepalanya dari pundak Alvin. Kali ini mereka berhadapan,
            “makasih ya Vin, karna lo udah ngertiin gue…”
            “emang kapan gue gak ngertiin lo…?” Tanya Alvin, Sivia menggeleng pelan seraya menatap Alvin lurus.
            Ketika saling menatap satu sama lain, Alvin mengangkat tangannya lalu membelai dengan lembut pipi Sivia seraya tersenyum kecil. Sivia memegang tangan Alvin yang ada dipipinya.
            “dasar jelek!” ledek Sivia. Alvin masih tersenyum, ia melepaskan kedua tangannya dari pipi Sivia lalu menarik kedua tangan Sivia. Kini wajah mereka begitu dekat nyaris saja bersentuhan. Saat Alvin akan mencium bibir Sivia, tiba-tiba saja Sivia menghindar dengan buru-buru menoleh kearah lain. Ia merasa belum siap melakukan hal itu dengan Alvin.
            Sivia menarik kedua tangannya dari genggaman Alvin. Alvin dan Sivia sama-sama terlihat salah tingkah,
            “Vin, ini udah malem, gu..gue pulang ya.. sampe ketemu besok…” ucap Sivia dengan nada sedikit gugup lalu bangkit dari samping Alvin.
            “Good Night,Vi, Have a nice dream!” ucap Alvin saat Sivia akan keluar dari gerbangnya. Sivia menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Alvin,
            “selamat malam juga,Vin…” Siviapun berlari menuju rumahnya yang berada tepat disamping rumah Alvin.
            ‘sepertinya, elo gak akan pernah nganggep gue ada sebagai pacar lo,Vi… gak akan pernah…’ batin Alvin lalu memasuki rumahnya.


@_@

6 Bulan kemudian…..

            Tak terasa 6 sudah Alvin dan Sivia menjalani hari sebagai sepasang kekasih. Meskipun 6 bulan telah berlalu, Sivia tetap tak bisa membohongi perasaannya bahwa sampai saat ini ia masih menyayangi Gabriel dan belum bisa melupakan sosok pemuda sempurna dimatanya itu.
            Sementara Alvin, nampaknya, ia harus ikhlas menerima perubahan sikap Sivia padanya. Awal mereka pacaran yaitu 6 bulan yang lalu, Sivia memang baik pada Alvin, tapi kelamaan Alvin merasa bahwa Sivia semakin menjauhinya. Entah apa yang sudah membuat Sivia tak bisa menganggap Alvin sebagai pacarnya. Alvin hanya pasrah dan terus berharap, semoga kelak seiring berjalannya waktu, Sivia bisa melupakan Gabriel dan bisa menerima sosok dirinya sebagai satu-satunya orang yang mencintai Sivia dengan tulus.
            Saat ini Alvin dan Sivia sudah duduk dibangku kelas 12 SMK. Merekapun sudah menjalani PSG (Praktik Sistem Ganda) disalah satu stasiun TV Swasta. Mereka hanya tinggal bersia-siap menghadapi ujian akhir yang sebentar lagi akan mereka hadapi.

            “Vi, kamu kapan sih punya waktu buat bisa jalan sama aku…? Selama kita pacaran kamu selalu nolak tiap kali aku ajak jalan…” ucap Alvin pada Sivia saat mereka sedang makan dikantin berdua. Sivia melepaskan sendok dan garpunya lalu menatap Alvin,
            “kamu kenapa sih Vin? Bukannya kamu yang selalu nyuruh aku belajar, belajar dan belajar, nah sekarang kenapa kamu malah nanya kaya’ gitu ke aku? Bukannya kamu juga yang selalu minta aku buat focus ngadepin Ujian Akhir yang sebentar lagi akan dimulai…?” ucap Sivia dengan sinis, Alvin sampai menunduk,
            “iya, emang aku yang selalu bilang kaya’ gitu kekamu, tapi aku juga butuh waktu buat bisa jalan sama pacar aku…” ucap Alvin dengan nada santai, ia tak mau ikut terbawa emosi seperti Sivia.
            “itu gak konsisten namanya! Nafsu makan aku jadi ilang! Kamu makan sendiri!” kesal Sivia lalu bangkit dari meja kantin meninggalkan Alvin sendiri.
            “Vi..Via..” panggil Alvin, namun sayang, Sivia tak sedikitpun menghiraukan panggilan Alvin itu.
            ‘aku fikir semakin lama waktu berjalan, kamu bisa nerima kehadiran aku, tapi ternyata enggak Vi, sekarang aku bener-bener ngerasa jauh dari kamu, aku kangen Sivia yang dulu… kaya’nya aku salah udah jadiin kamu pacar aku, kalo tau akan kaya’ gini jadinya, mendingan dulu kita sahabatan aja….’ Ucap  Alvin dalam hati selepas kepergian Sivia.

@_@

            “elo kenapa sih selalu kasar sama Alvin? Alvin kasian tau Vi lo gituin terus…” ucap Ify sedikit emosi pada Sivia,
            “lo gak ngerti perasaan gue Fy, gue gak ada rasa apa-apa sama Alvin, dan gue belum bisa ngelupain Kak Iel..”
            “dan itu karna elo gak pernah usaha buat bisa lupa sama Kak Iel… coba deh buka mata lo! Disamping lo ada Alvin yang bener-bener sayang sama lo dan selalu sabar ngadepin elo yang selalu marah-marah gak jelas sama dia…”
            “elo fikir gue gak tersiksa selama 6 bulan ini Fy..? gue selalu usaha buat bisa sayang sama Alvin, tapi tetep aja gak bisa, rasa sayang gue ke Alvin, hanya sebatas rasa sayang seorang sahabat terhadap sahabatnya, gak lebih…”
            “Terserah lo! Gue udah capek ngomong sama lo…” ucap Ify dengan sinis lalu keluar dari kelas.
            “kenapa sih gak ada yang ngertiin gue? Gue masih sayang sama Kak Iel! Gue belum bisa ngelupain Kak Iel, gue kangen sama Kak Iel….” Ucap Sivia pada dirinya sendiri tanpa ada satu orangpun yang mendengarkannya.


@_@

            “gue harus minta maaf sama Via karna gue udah bikin dia marah-marah” ucap Alvin seraya membawa sebuah cokelat kesukaan Sivia. Alvin membatalkan niatnya untuk mengambil motornya ditempat parkiran saat ia melihat Sivia yang waktu itu sedang menunggu bus dihalte depan sekolah yang terletak disebrang jalan.
            “itu Via, gue samperin dulu deh…!” Alvinpun keluar dari sekolah dan hendak menyusul Sivia.
            “Viaaa….” Panggil Alvin dari sebrang jalan. Siviapun melihat kearah Alvin. Alvin langsung melambaikan tangannya,
            “AKU MAU MINTA MAAF SAMA KAMU VI…” teriak Alvin. Teriakan Alvin itu sukses membuatnya menjadi perhatian semua orang. Sivia memberi isyarat pada Alvin supaya Alvin tidak berteriak lagi, tapi Alvin tak peduli, ia tetap berteriak,
            “AKU BENER-BENER MINTA MAAF VI, PLIS JANGAN MARAH LAGI SAMA AKU…”
            “Alvin norak deh..” sungut Sivia.
            Alvin hendak menyebarang jalan. Karna kurang hati-hati saat menyebrang jalan, Alvin sampai tidak melihat sebuah mobil yang saat itu melaju dengan kecepatan yang tinggi. Sivia yang shock langsung beteriak sekencang-kencangnya,
           

            “ALVIINNN AWAAASSSS…..!!!”



                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment