Alvin menghembuskan nafas yang sejak
tadi ia tahan. Perih mulai ia rasakan atas jawaban Sivia baru saja. Benarkah
Sivia tak bisa menerima cinta Alvin yang begitu tulus? Benarkah tak ada
kesempatan sedikit saja untuk Alvin masuk kedalam hidup Sivia lebih dari
seorang Sahabat? Meski perih itu semakin terasa, Alvin berusaha tersenyum dan
berusaha lapang dada demi persahabatannya dengan Sivia. Maka Alvinpun berkata,
“ok,
gak apa-apa, kita tetep sahabat kok…” ucap Alvin pasrah. Sivia meraih tangan
Alvin lalu menggenggamnya erat,
“gue
belum selese Vin, lo maen nyamber aja!” Alvin tercengang. Ia heran kenapa Sivia
berkata seperti itu,
“maksud
lo?” Tanya Alvin, Sivia masih tersenyum,
“gue
gak bisa nolak lo, lagian mana mungkin sih gue bisa nolak cowok sebaik lo…”
mendengar jawaban Sivia, semua rasa kecewa beserta perih yang ia rasakan
akhirnya terkikis tanpa bekas. Alvin tertawa kecil,
“hehehe…lo
yang bener?” Tanya Alvin menyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari mulut
Sivia. Sivia mengangguk berkali-kali, ia kembali berkata,
“gue
sadar,Vin, bahwa Cuma lo yang bisa ngertiin gue, bahwa Cuma elo yang sanggup
ada disamping gue saat gue ada masalah, bahwa Cuma lo yang bersedia dengerin
rengekan-rengekan gue yang udah kaya’ anak kecil serta curhatan-curhatan gue yang
gak penting, bahwa Cuma lo yang sabar ngadepin sifat manja gue, dan bahwa Cuma
elo satu-satunya cowok yang bener-bener mencintai gue tulus apa adanya….” Ucap
Sivia panjang lebar, dan membuat Alvin merasa terharu atas apa yang telah ia
ucapkan. Tanpa berkata apa-apa lagi dan karna Alvin sudah tak bisa lagi
membendung segala kebahagiaannya saat ini, ia pun memeluk Sivia erat seraya
terus mengucapkan kata ‘Terimakasih’. Semua yang ada dilapangan itu bertepuk
tangan dengan meriah untuk Alvin dan Sivia.
Tak
lama Alvin tersadar bahwa apa yang telah ia lakukan pada Sivia cukup
berlebihan. Alvinpun melepaskan pelukannya dari Sivia, ia menggaruk-garuk
kepalanya dan sedikit tersipu. Sivia hanya tersenyum melihat kesalahtingkahan
Alvin yang kini sudah resmi menjadi pacarnya.
“maaf!”
“maaf
buat apa?”
“ya
maaf, karna gue udah meluk lo sembarangan…”jawab Alvin seraya menunduk dalam.
Secara tiba-tiba Sivia mendaratkan sebuah kecupan tepat dipipi sebelah kanan
Alvin. Alvin terkesiap, ia langsung menatap Sivia,
“buat
apa minta maaf? Kita kan udah pacaran….?”
“CIEEEEEE…..”
teriak semua kawan-kawan Alvin dengan kompak. Ditengah keriuhan yang terjadi,
Siviapun menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Alvin. Alvin membalas pelukan
Sivia lantas membelai lembut rambut Sivia,
“ajarin
gue buat ngelupain Kak Iel Vin, ajarin gue supaya gue bisa sayang sama lo
dengan sepenuh hati gue…”
“pasti!”
ucap Alvin mantap.
Alvin
mengangkat tubuh Sivia lalu memutarnya sejenak. Tak lama Alvinpun menurunkan
Sivia. Sivia memegang kedua pipi Alvin. Alvin meraih kedua tangan Sivia yang
ada dipipinya lantas menggengamnya dengan erat. Alvin mencium kedua tangan
Sivia yang dalam genggamannya sembari mendekatkan keningnya dengan kening
Sivia. Alvin kembali memeluk Sivia.
‘Tuhan,
apa aku bisa ngejalanin semuanya sama Alvin? Apa aku bisa menerima begitu saja
bahwa sekarang, Alvin sahabatku sudah menjadi pacarku? Aku takut menyakiti
Alvin,Tuhaan…?’ ujar Sivia dalam hati.
@_@
“udah
belajar Kimia? Besok kita mau ulangan!” ucap Alvin saat menelpon Sivia pada
malam harinya. Wajah Sivia menampakkan ekspresi bosan saat Alvin
mengingatkannya bahwa besok ada ulangan Kimia.
“belom,Vin…”
jawab Sivia apa adanya,
“kenapa?”
Tanya Alvin kembali,
“maleesss….”
“yaelah,
males dipelihara, udah belajar dulu sana! Biar besok lo bisa jawab soal
ulangan…”
“Alvin,
dengerin gue ya, orang kalo baru pacaran, dia pasti nanyain ke pacarnya, kapan
kita ngedate? first date mau kemana? Kamu suka apa? Atau apa kek gitu, ini
malah lo nanyain apa gue udah belajar kimia ato belom, bete’….”
Alvin
tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia pun berkata pada Sivia,
“ya
itu kan orang laen, gue kan beda! Lo jangan sama ratain semua orang dong…”
“ok..ok..lo
menang, gue kalah!” ucap Sivia dengan nada sangat terpaksa,
“ya
udah, gue kerumah lo ya, gue ajarin Kimia!”
“iya
sayang…” jawab Sivia pasrah.
@_@
Setelah pulang sekolah pada siang harinya,
Sivia mengajak Alvin pergi kesebuah Panti Jompo. Awalnya Alvin sempat heran
kenapa Sivia mengajaknya ke Panti Jompo. Sepanjang perjalan menuju Panti Jompo
Sivia tak juga menjawab keheranan Alvin. Sebelum tiba dipanti Jompo mereka
sempat mampir disebuah restoran untuk membeli makanan, setelah dari restoran
barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka kePanti Jompo.
“sebenernya
kita mau ngapain sih,Vi ke Panti Jompo?” Tanya Alvin saat mereka dalam
perjalanan,
“udah
jalan aja, entar juga elo tau sendiri…” jawab Sivia singkat. Setelah itu Alvin
tak bertanya lagi pada Sivia.
Setelah
sekitar 30 menit diperjalanan tibalah Alvin dan Sivia disebuah Panti Jompo.
Alvin memarkirkan motornya tepat didepan panti Jompo. Setelah itu Alvin dan
Sivia berjalan beriringan memasuki Panti Jompo yang lumayan besar itu.
“mau
ngapain dipanti Jompo,Vi…?” Tanya Alvin,
“gue
sama Kak Iel dulu sering kesini? Kangen aja sama suasananya…” jawab Sivia
dengan enteng dan tanpa beban. Ia seolah tak memikirkan bagaimana perasaan
Alvin saat ia kembali menyebut nama Gabriel, mantan pacar yang sudah pernah
menyakitinya. Tapi meski begitu, Alvin berusaha menutupi perasaannya yang
sebenarnya agak terganggu dengan jawaban Sivia itu. Alvin mengerti, bahwa
mungkin Sivia belum bisa melupakan Gabriel.
Saat
ini Alvin dan Sivia sudah berada dihalaman belakang Panti Jompo. Halaman yang
lumayan luas itu dipenuhi oleh manula-manula penghuni panti Jompo itu yang
tengah melakukan aktifitas mereka. Diantara semua manula-manula itu, perhatian
Sivia tertuju pada seorang Nenek yang saat itu tengah duduk disebuah kursi roda
sambil menyulam. Sivia tersenyum lalu mendekati Nenek itu, sementara Alvin, ia
hanya mengikuti Sivia dari belakang.
“hallo,Oma,
Via dateng….” Ucap Sivia dengan ramah. Nenek yang biasa Sivia panggil dengan
panggilan Oma Volly itu langsung mengalihkan perhatiannya dari sulamannya, ia
melihat Sivia seraya memperbaiki aturan kaca matanya,
“Via,
kamu dateng lagi?” Tanya Oma Volly. Sivia tertawa kecil lalu memeluk Oma Volly,
“iya,Oma,
Via dateng buat Oma….”
“makasih
sayang…” ujar Oma Volly seraya mencium pipi Sivia. Alvin hanya tersenyum dan
dalam hati memuji sikap kasih sayang Sivia pada Oma Volly.melihat sikap Sivia,
Alvin semakin jatuh cinta pada Sivia.
“ini,Oma,
Via bawa makanan buat Oma, kita makan bareng ya,Oma…”
“iya…”
kali ini perhatian Oma Volly tertuju pada Alvin yang saat itu berdiri
dibelakang Sivia. Beliau memperhatikan Alvin dengan seksama lantas bertanya
pada Sivia,
“Via,
ini siapa sayang? Kaya’nya Oma baru liat..”
“oya,Via
hampir lupa, kenalin Oma, ini Alvin, sahabat Via sejak kecil…” ucap Sivia tanpa
sadar dan membuat Alvin sedikit tercengang. Sahabat? Kenapa Sivia mengatakan
bahwa Alvin adalah sahabatnya? Bukankah mereka sudah resmi berpacaran sejak
kemarin? Apa mungkin Sivia belum terbiasa menganggap Alvin sebagai pacarnya
yang sudah sejak lama menjadi sahabatnya?
Tak
lama Sivia teringat, ia menepuk keningnya sendiri lalu segera melarat
ucapannya. Ternyata Sivia memang benar-benar belum terbiasa dengan statusnya
sebagai pacar Alvin saat ini.
“maksud
Via, ini Alvin, pa..pacar Sivia,Oma…” ucap Sivia sedikit terbata. Alvin jelas
merasakan keraguan yang ada dihati Sivia.
“ooo…jadi
ini pacar kamu…?” Tanya Oma Volly meyakinkan,
“i..iya
Oma…” Alvinpun menyalami Oma Volly.
“kenalin
Oma, saya Alvin…”
“ganteng
ya pacar kamu,Vi…oya, memangnya kamu sudah putus sama Iel…?”
“iya,Oma,
kita udah putus..”
“loh
kenapa?” Tanya Oma Volly lagi. Sivia bingung harus menjawab apa. Ia tak mungkin
menjawab pertanyaan Oma Volly dengan jujur, karna itu semua hanya akan membuat
Oma Volly cemas. Oma Volly dan Iel cukup dekat, dulu Iel juga pernah berjanji
pada Sivia dihadapan Oma Volly bahwa ia akan selalu setia pada Sivia apapun
yang terjadi, tapi sekarang ceritanya sudah berbeda, tentu saja Oma Volly akan
cemas kalau sampai beliau tau bahwa Sivia dan Gabriel putus hanya karna Gabriel
sudah mendukan cinta Sivia. Maka Siviapun berdalih,
“ki..kita
putus, karna kita berdua udah ngerasa gak ada kecocokan lagi, tapi kita putus
secara baik-baik kok Oma…” mendengar jawaban Sivia, Oma Volly tersenyum.
“ya
udah, itu namanya kalian gak jodoh! Lagian kan sekarang kamu udah ada penggantinya…
Alvin juga gak kalah ganteng kok dari Iel…” Sivia mengangguk berkali-kali,
“iya
Oma…” ucap Sivia sambil sesekali menatap Alvin.
@_@
Sivia
merebahkan kepalanya dipundak Alvin yang saat itu duduk merenung dihalaman
rumahnya pada malam harinya.
“maafin
gue ya,Vin…” ucap Sivia,
“kok
minta maaf…?” Tanya Alvin seraya merangkul Sivia,
“gue
minta maaf karna tadi didepan Oma Volly gue keceplosan bilang lo sahabat gue,
padahal lo pacar gue…” Alvin tersenyum,
“ya
ampun,Vi, ngapain pake minta maaf… gue ngerti kok, kalo lo belum terbiasa sama
status kita saat ini, semuanya butuh proses Vi, apalagi kan kita sahabatan udah
lama terus tiba-tiba kita pacaran, ya elo butuh waktu untuk semua itu…” Sivia
mengangkat kepalanya dari pundak Alvin. Kali ini mereka berhadapan,
“makasih
ya Vin, karna lo udah ngertiin gue…”
“emang
kapan gue gak ngertiin lo…?” Tanya Alvin, Sivia menggeleng pelan seraya menatap
Alvin lurus.
Ketika
saling menatap satu sama lain, Alvin mengangkat tangannya lalu membelai dengan
lembut pipi Sivia seraya tersenyum kecil. Sivia memegang tangan Alvin yang ada
dipipinya.
“dasar
jelek!” ledek Sivia. Alvin masih tersenyum, ia melepaskan kedua tangannya dari
pipi Sivia lalu menarik kedua tangan Sivia. Kini wajah mereka begitu dekat
nyaris saja bersentuhan. Saat Alvin akan mencium bibir Sivia, tiba-tiba saja
Sivia menghindar dengan buru-buru menoleh kearah lain. Ia merasa belum siap
melakukan hal itu dengan Alvin.
Sivia
menarik kedua tangannya dari genggaman Alvin. Alvin dan Sivia sama-sama terlihat
salah tingkah,
“Vin,
ini udah malem, gu..gue pulang ya.. sampe ketemu besok…” ucap Sivia dengan nada
sedikit gugup lalu bangkit dari samping Alvin.
“Good
Night,Vi, Have a nice dream!” ucap Alvin saat Sivia akan keluar dari
gerbangnya. Sivia menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Alvin,
“selamat
malam juga,Vin…” Siviapun berlari menuju rumahnya yang berada tepat disamping
rumah Alvin.
‘sepertinya,
elo gak akan pernah nganggep gue ada sebagai pacar lo,Vi… gak akan pernah…’
batin Alvin lalu memasuki rumahnya.
@_@
6 Bulan kemudian…..
Tak
terasa 6 sudah Alvin dan Sivia menjalani hari sebagai sepasang kekasih.
Meskipun 6 bulan telah berlalu, Sivia tetap tak bisa membohongi perasaannya
bahwa sampai saat ini ia masih menyayangi Gabriel dan belum bisa melupakan
sosok pemuda sempurna dimatanya itu.
Sementara
Alvin, nampaknya, ia harus ikhlas menerima perubahan sikap Sivia padanya. Awal
mereka pacaran yaitu 6 bulan yang lalu, Sivia memang baik pada Alvin, tapi
kelamaan Alvin merasa bahwa Sivia semakin menjauhinya. Entah apa yang sudah
membuat Sivia tak bisa menganggap Alvin sebagai pacarnya. Alvin hanya pasrah
dan terus berharap, semoga kelak seiring berjalannya waktu, Sivia bisa
melupakan Gabriel dan bisa menerima sosok dirinya sebagai satu-satunya orang
yang mencintai Sivia dengan tulus.
Saat
ini Alvin dan Sivia sudah duduk dibangku kelas 12 SMK. Merekapun sudah
menjalani PSG (Praktik Sistem Ganda) disalah satu stasiun TV Swasta. Mereka
hanya tinggal bersia-siap menghadapi ujian akhir yang sebentar lagi akan mereka
hadapi.
“Vi,
kamu kapan sih punya waktu buat bisa jalan sama aku…? Selama kita pacaran kamu
selalu nolak tiap kali aku ajak jalan…” ucap Alvin pada Sivia saat mereka
sedang makan dikantin berdua. Sivia melepaskan sendok dan garpunya lalu menatap
Alvin,
“kamu
kenapa sih Vin? Bukannya kamu yang selalu nyuruh aku belajar, belajar dan
belajar, nah sekarang kenapa kamu malah nanya kaya’ gitu ke aku? Bukannya kamu
juga yang selalu minta aku buat focus ngadepin Ujian Akhir yang sebentar lagi akan
dimulai…?” ucap Sivia dengan sinis, Alvin sampai menunduk,
“iya,
emang aku yang selalu bilang kaya’ gitu kekamu, tapi aku juga butuh waktu buat
bisa jalan sama pacar aku…” ucap Alvin dengan nada santai, ia tak mau ikut
terbawa emosi seperti Sivia.
“itu
gak konsisten namanya! Nafsu makan aku jadi ilang! Kamu makan sendiri!” kesal
Sivia lalu bangkit dari meja kantin meninggalkan Alvin sendiri.
“Vi..Via..”
panggil Alvin, namun sayang, Sivia tak sedikitpun menghiraukan panggilan Alvin
itu.
‘aku
fikir semakin lama waktu berjalan, kamu bisa nerima kehadiran aku, tapi
ternyata enggak Vi, sekarang aku bener-bener ngerasa jauh dari kamu, aku kangen
Sivia yang dulu… kaya’nya aku salah udah jadiin kamu pacar aku, kalo tau akan
kaya’ gini jadinya, mendingan dulu kita sahabatan aja….’ Ucap Alvin dalam hati selepas kepergian Sivia.
@_@
“elo
kenapa sih selalu kasar sama Alvin? Alvin kasian tau Vi lo gituin terus…” ucap
Ify sedikit emosi pada Sivia,
“lo
gak ngerti perasaan gue Fy, gue gak ada rasa apa-apa sama Alvin, dan gue belum
bisa ngelupain Kak Iel..”
“dan
itu karna elo gak pernah usaha buat bisa lupa sama Kak Iel… coba deh buka mata
lo! Disamping lo ada Alvin yang bener-bener sayang sama lo dan selalu sabar
ngadepin elo yang selalu marah-marah gak jelas sama dia…”
“elo
fikir gue gak tersiksa selama 6 bulan ini Fy..? gue selalu usaha buat bisa
sayang sama Alvin, tapi tetep aja gak bisa, rasa sayang gue ke Alvin, hanya
sebatas rasa sayang seorang sahabat terhadap sahabatnya, gak lebih…”
“Terserah
lo! Gue udah capek ngomong sama lo…” ucap Ify dengan sinis lalu keluar dari
kelas.
“kenapa
sih gak ada yang ngertiin gue? Gue masih sayang sama Kak Iel! Gue belum bisa
ngelupain Kak Iel, gue kangen sama Kak Iel….” Ucap Sivia pada dirinya sendiri
tanpa ada satu orangpun yang mendengarkannya.
@_@
“gue
harus minta maaf sama Via karna gue udah bikin dia marah-marah” ucap Alvin
seraya membawa sebuah cokelat kesukaan Sivia. Alvin membatalkan niatnya untuk
mengambil motornya ditempat parkiran saat ia melihat Sivia yang waktu itu
sedang menunggu bus dihalte depan sekolah yang terletak disebrang jalan.
“itu
Via, gue samperin dulu deh…!” Alvinpun keluar dari sekolah dan hendak menyusul
Sivia.
“Viaaa….”
Panggil Alvin dari sebrang jalan. Siviapun melihat kearah Alvin. Alvin langsung
melambaikan tangannya,
“AKU
MAU MINTA MAAF SAMA KAMU VI…” teriak Alvin. Teriakan Alvin itu sukses
membuatnya menjadi perhatian semua orang. Sivia memberi isyarat pada Alvin
supaya Alvin tidak berteriak lagi, tapi Alvin tak peduli, ia tetap berteriak,
“AKU
BENER-BENER MINTA MAAF VI, PLIS JANGAN MARAH LAGI SAMA AKU…”
“Alvin
norak deh..” sungut Sivia.
Alvin
hendak menyebarang jalan. Karna kurang hati-hati saat menyebrang jalan, Alvin
sampai tidak melihat sebuah mobil yang saat itu melaju dengan kecepatan yang
tinggi. Sivia yang shock langsung beteriak sekencang-kencangnya,
“ALVIINNN
AWAAASSSS…..!!!”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment