Tuesday, October 15, 2013

0

Love, Love And Love [Chapter 8]



Sivia tercengang setelah melihat Gabriel. Sama seperti Gabriel, Alvin juga tersenyum, bedanya, senyum yang terlukis diwajah tampan Alvin adalah sebuah senyum keterpaksaan. Hatinya perih tak terkira saat ia harus dengan ikhlas melepaskan gadis yang begitu ia cintai sudah sejak lama. Sivia mengalihkan perhatiannya pada Alvin, ia menatap Alvin penuh Tanya, perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. Menanggapi tatapan Sivia, Alvin mengangguk pasti ‘ayo, berjalanlah kearah Iel, lalu peluk dia dengan erat dan jangan pernah lepaskan ia…’ itulah makna anggukan Alvin yang mampu dipahami oleh Sivia. Maka Siviapun menggeleng. Senyum Alvin semakin melebar, ia ingin menujukan pada Sivia, bahwa ia benar-benar rela melepaskan Sivia untuk orang yang sangat ia cintai.
            Tak lama, Alvin mengulurkan tangannya untuk Sivia. Sivia terkesiap, dalam hati ia meronta tak ingin lepas dari Alvin dan tak ingin kembali pada Gabriel, meskipun mungkin ia masih menyimpan sedikit rasa untuk Gabriel, karna kini separuh hatinya sudah ada pada Alvin.
            Alvin mengangguk, matanya mulai terasa panas karna air mata yang kini sudah tergenang dipelupuk matanya. Dengan hati yang hancur, Sivia menerima uluran tangan Alvin. Alvin menggenggam erat tangan Sivia lalu membawanya turun dari panggung.
            Alvin dan Sivia berjalan beriringan menghampiri Gabriel. Tibalah mereka dihadapan Gabriel. Alvinpun menyerahkan Sivia pada Gabriel,
            “gue balikin Sivia ke elo, jaga dia baik-baik, dan jangan pernah sakitin dia lagi! Kalo sampe lo sakitin dia lagi, gue gak akan segan-segan buat ngerebut dia dari lo….” Dengan perlahan, Alvin melepaskan tangan Sivia dari genggamanya, Alvin terlihat berat saat harus melepaskan Sivia, begitu juga dengan Sivia, Sivia menggeleng berkali-kali. Alvin menyatukan tangan Sivia dengan tangan Gabriel, Alvin menghela nafas panjang lalu berkata,
            “semoga dengan kembalinya Iel ke kamu, kamu bisa lebih bahagia lagi,Vi, dan gak marah-marah lagi… kamu baik-baik ya sama Iel….?” Ucap Alvin dengan suara bergetar, ia jelas tengah berusaha mati-matian menahan tangisnya yang hampir pecah.
            Setelah berhasil menyatukan Sivia dan Gabriel, Alvinpun memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan membiarkan mereka membicarakan kelanjutan hubungan mereka. Saat berbalik badan, air mata yang sejak tadi Alvin tahan akhirnya keluar juga. Ia berusaha meredam isakkannya supaya tak terdengar oleh Sivia,
            ‘semoga setelah ini kebahagiaan kamu balik lagi,Vi… ini pengorbanan cinta ku buat kamu, selamanya aku gak akan pernah berhenti mencintai kamu…..’ baru saja Alvin akan melanjutkan perjalanannya meninggalkan Gabriel dan Sivia, Sivia malah memanggilnya,
            “ALVIN…” mendengar Sivia memanggil namanya, Alvin langsung menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Sivia,
            “kenapa,Vi…?” Tanya Alvin, Sivia terlihat berfikir, ia seperti ingin mengucapkan sesuatu pada Alvin, tapi entah kenapa mulutnya malah berucap,
            “makasih,buat semuanya, kamu sahabat yang baik….hik..” Dengan ucapannya itu, Sivia seolah menaburkan garam diluka hati Alvin, Alvin memejamkan matanya, perih itu semakin ia rasakan, semakin dalam, semakin parah, Alvin memejamkan matanya, ia menyeka air matanya lantas berbalik badan menatap Sivia,
            “sama-sama Vi, jangan lupa belajar ya, dan jangan pacaran terus…” Sivia mengangguk. Alvinpun akhirnya benar-benar melangkah pergi meninggalkan Gabriel dan Sivia dengan perasaan yang sangat hancur.

            Beberapa saat setelah Alvin pergi, Gabriel langsung memeluk Sivia erat, tapi Sivia tak membalas pelukan Gabriel,
            “aku minta maaf sama kamu,Vi, karna aku udah nyakitin kamu dan ninggalin kamu demi cewek yang ternyata gak pernah aku cintai sama sekali…” Sivia melepaskan dirinya dari pelukan Gabriel, ia menatap Gabriel heran, dan ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Gabriel maksud.
            “maksud Kakak apa?” Tanya Sivia, Gabriel meraih kedua tangan Sivia lalu menggamnya erat,
            “setelah kita putus, aku mulai sadar, bahwa ternyata kamu adalah satu-satunya cewek yang aku cintai bukan Zahra….”
            “tapi bukannya…” Gabriel mengangguk,
            “iya, aku mutusin pertunangan aku dengan Zahra, dan itu secara baik-baik kok…”
            “darimana aku tau kalo Kakak gak bohong….?”
            Gabriel memegang kedua pipi Sivia lalu menatap mata Sivia dalam, Gabrielpun berkata,
            “tatap mata aku, dan lihat, disana ada banyak ketulusan, aku bener-bener nyesel Vi udah nyia-nyiain kamu, plis maafin aku, dan kembalilah sama aku…” Sivia terdiam, Gabriel kembali memeluknya,
            “pokoknya mulai sekarang, aku janji, aku gak akan nyakitin kamu lagi, aku akan setia sama kamu, selamanya…” perlahan Sivia membalas pelukan Gabriel, Gabrielpun mengecup puncak kepala Sivia seperti yang biasa Alvin lakukan padanya.
            “ini semua karna Alvin,Vi, kalo bukan karna dia, mungkin sekarang aku gak akan ada disini dan meluk kamu seperti ini…apa kamu tau, tadi Alvin dateng nemuin aku, dan minta aku buat minta maaf lalu kembali ke kamu, ya aku seneng dan aku makasih banget sama Alvin, apalagi kan, aku udah mutusin pertunangan aku dengan Zahra, sebenernya selama ini aku gak ada keberanian buat ngajak kamu balik, tapi Alvin, sahabat kamu itu, dengan begitu mudahnya numbuhin rasa keberanian aku lagi…”
            ‘Alvin, kamu rela ngelakuin itu demi aku yang selama ini nyakitin kamu…? Tapi kenapa Alvin? Kenapa kamu masih aja baik sama aku yang selalu jahat sama kamu…? Dan sekarang aku malah ragu sama perasaan aku ke Kak Iel, Tuhaaan, apa aku sudah tidak mencintai Kak Iel lagi…? Seharusnya aku seneng Kak Iel bisa balik lagi sama aku, tapi kenapa aku malah ngerasa sebaliknya…?’ batin Sivia.

            Tanpa Sivia dan Gabriel sadari, ternyata Alvin masih disana dan melihat apa yang mereka berdua lakukan. Alvin semakin sakit. Perlahan ia terduduk, ia mengusap wajahnya dan berkali-kali berkata,
            “gue ikhlas, gue ikhlas, harus ikhlas, ini demi kebahagiaan Sivia….”

@_@

            “WHAAATT….? JADI LO PUTUS SAMA ALVIN, TERUS BALIK SAMA KAK IEL DAN SAHABATAN LAGI SAMA ALVIN….?” Tanya Ify dan Shilla kompak saat Sivia menceritakan semuanya pada pagi harinya. Sivia diam, ia terlihat bingung dan tidak menjawab pertanyaan Shilla dan Ify.
            “gak usah sok heboh deh, biasa aja lagi!” ucap seseorang dari arah pintu yang ternyata adalah Alvin. Sivia langsung melihat kearah Alvin. Pagi itu Alvin benar-benar terlihat biasa saja, ia seperti tidak memiliki masalah apapun dengan Sivia. Alvin tersenyum lalu menghampiri Sivia,Ify dan Shilla. Alvin berhenti disamping Shilla lalu merangkul mantan pacarnya itu.
            “elo juga Shill, ngapain sok heboh? Biarin aja si Ify heboh sendiri…!” mendengar ucapan Alvin, Ify langsung melengos kesal. Sementara Shilla, ia langsung menyingkirkan tangan Alvin dari pundaknya,
            “gak usah pake ngerangkul segala kali,Vin, ntar kalo Cakka liat bisa salah paham dia…”
            “oya, emangnya gue peduli…?”
            “iihh…elo mah…” kesal Shilla hampir menoyor kepala Alvin.
            Saat Alvin,Ify dan Shilla tengah bercanda bersama, Sivia malah diam saja sambil menunduk. Ia masih merasa bersalah dan malu pada Alvin. Alvin yang memang mengerti dengan apa yang Sivia rasakan hanya bisa tersenyum. Alvinpun menyingkirkan Ify dari samping Sivia, kini Alvin duduk disamping Sivia, ia merangkul Sivia lalu menarik dengan gemes pipi Sivia,
            “iiiihhhh…..elo kok diam aja sih? Lo sebel ama gue? bĂȘte ama gue? Kesel sama gue? Marah sama gue? Ataauuu….” Sebelum Alvin sempat melanjutkan perkataannya, Sivia malah memotongnya dengan buru-buru memeluk Alvin,
            “maafin aku,Vin, aku emang jahat sama kamu selama ini, maafin aku yaa…?” Alvin melepaskan Sivia dari pelukannya, lagi-lagi ia menarik hidung Sivia lalu berkata,
            “formal banget lo pake AKU-KAMU segala? Udahlah pake LO-GUE aja kaya’ yang dulu, biar lebih santĂ© kedengerannya dan gak KAKU….”
            Melihat sikap Alvin yang kembali seperti yang dulu lagi, Sivia semakin merasa bersalah. Sesungguhnya Sivia tau bagaimana hancurnya perasaaan Alvin saat ini. Alvin hanya berpura-pura tegar demi persahabatnnya dengan Sivia.
            ‘aku tau kamu sakit,Vin, karna akupun ngerasain hal sama kaya’ kamu, aku tau kamu berusaha kuat demi persahabatn kita… maafin aku, maaf…’  batin Sivia seraya menatap Alvin.


@_@

            Sivia duduk disebuah bangku panjang yang ada dipinggir lapangan. Sembari menunggu Alvin yang sedang berlatih futsal, Sivia menggambar wajah Alvin diatas buku gambar kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Setelah selesai berlatih, Alvin langsung menghampiri Sivia, ia duduk disamping Sivia seraya berkata,
            “hoby lo menggambar gak akan bisa ngebantu lo buat lulus ujian nasional…” Sivia menghentikan aktifitas menggambarnya lalu menatap Alvin sejenak,
            “ini kan Cuma buat selingan,Vin, masa’ gue lo suruh belajar doang…? Bisa mati gue…” Alvin mengangguk berkali-kali lalu merebut buku gambar milik Sivia, Sivia hanya pasrah, Alvin memperhatikan gambar wajahnya dengan seksama, ia memicingkan matanya dan terlihat sok serius, tak lama Alvin berkomentar,
            “gila! Gue jelek banget digambaran lo! Sengaja ya lo…!” tuduh Alvin sambil menunjuk Sivia, Sivia tercengang,
            “maksud lo…?”
            “lo sengaja kan gambar muka gua yang ganteng ini terus digambar lo bikin muka gue jadi sejelek ini… jangan-jangan lo suka ya sama gue…” ucap Alvin pede,
            “iihhh…gak deh… lagian siapa bilang itu gambar muka lo?” ucap Sivia seraya berpura-pura bergidik.
            “HAA..?? emang ini gambar muka siapa?” Tanya Alvin,
            “TUKUL….” Jawab Sivia dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Alvin yang tak terima langsung menarik kunciran Sivia,
            “aaww…sakit Alvin…”
            “ralat dulu ucapan lo! Seenak jidat lo nyamain gue sama Tukul…”
            “abisnya elo sih pake ngeledek hasil karya gue segala, gue kan sebel” Alvin semakin keras menarik kunciran Sivia,
            “aaww… sumpah Alvin, sakit BANGET…” saat Sivia berusaha menyingkirkan tangan Alvin dari rambutnya, Alvin malah menarik kedua tangan Sivia hingga wajah mereka berdekatan nyaris bersentuhan. Alvin menatap mata Sivia sedalam-dalamnya begitu juga dengan Sivia,
            ‘apa kamu tau kalo sakit itu masih terasa disini?’ batin Alvin.

            “Via…!” panggil Gabriel dari kejauhan. Alvin langsung melepaskan tangan Sivia lalu menjauhkan posisinya dari posisi Sivia. Gabriel menghampiri Alvin dan Sivia. Ia berdiri dibelakang Sivia yang saat itu duduk dibangku panjang bersama Alvin,
            “kita pulang yuk Vi…” ajak Gabriel,
            “i..iya Kak…” ucap Sivia ragu sambil  menatap Alvin. Alvin mengangguk pada Sivia. Siviapun langsung membereskan barang-barangnya dan bangkit dari samping Alvin.
            “ya udah,Vin gue pulang sama Kak Iel ya… oya, ini minuman buat lo…” Sivia menjulurkan sebotol minuman isotonic untuk Alvin. Alvin menerimanya dengan senang hati lalu berkata,
            “thanks ya…”
            “i..iya, elo gak pulang…?”
            “entar aja sekalian setelah les sore…”
            “oooo..ya udah, gue duluan ya…”
            Gabriel merangkul Sivia. Sebelum mereka pergi, Gabriel sempat pamit pada Alvin. Dan saat Sivia berjalan bersama Gabriel, ia menoleh kebelakang dan melihat Alvin yang waktu itu tersenyum padanya sambil mengangkat kedua jempolnya untuk Sivia. Tanpa Sivia sadari, senyum Alvin itu adalah sebuah senyum kehancuran.

@_@

            “kalau memang kamu sudah gak sayang lagi sama Iel, terus kenapa kamu mau balik sama dia…? Kamu jangan bohongin perasaan kamu sayang, kalo emang kamu gak sayang jangan dipaksain…” ucap Oma Volly bijak saat Sivia menemuinya dipanti Jompo sebelum ia berangkat untuk les Sore.
            “Via juga gak tau Oma! Via bingung sama apa yang Via rasain sekarang! Yang jelas saat ini yang ada difikiran Via Cuma Alvin, Via bener-bener ngerasa bersalah sama Alvin,Oma, Alvin udah baik ama Via selama ini, tapi Via selalu nyakitin dia, dan Alvin tetep sabar….”
            “dari sana udah jelas Via, kalau yang kamu cinta itu Alvin…”
            “Via emang cinta sama Alvin, tapi Via belum yakin sama apa yang Via rasain, Via takut nyakitin Alvin lagi,Oma…” Oma Volly menggeleng pelan dan kembali memberi nasihat untuk Sivia,
            “kamu gak akan nyaikitin siapa-siapa lagi! Sekarang yang perlu kamu lakuin, yakini hati kamu bahwa yang kamu cinta itu Cuma Alvin, bukan Iel atapun orang lain, setelah kamu yakin, segera temui Alvin dan bilang yang sebenernya ke Alvin, katakan sebelum semuanya terlambat dan kamu gak akan menyesal sayang…”

            Mendengarkan ucapan Oma Volly, Sivia langsung memejamkan matanya dan berusaha meyakini hatinya. Selama memejamkan matanya, Sivia mengingat semua kebersamaannya dengan Alvin, Sivia juga teringat akan pengorbanan-pengorbanan Alvin padanya. Setelah cukup lama memejamkan mata dan merenungkan semuanya, secara perlahan Sivia membuka matanya lalu berkata dalam hati,
            ‘ternyata yang aku cinta Alvin, bukan Kak Iel….’
            Oma Volly mengangkat dagu Sivia lalu menatap Sivia penuh makna,
            “gimana sayang…?” Sivia tersenyum pada Oma Volly,
            “sekarang Via udah yakin Oma, kalo yang Via cinta itu Alvin, Cuma Alvin dan bukan Kak Iel, cinta Via selama ini ternyata adalah Alvin, Oma….” Oma Volly tersenyum lantas berkata,
            “kalau sekarang kamu udah yakin, segera temui Alvin dan katakan semuanya pada Alvin…”
            “sekarang,Oma?”
            “ya sekarang dong! Sekalian kamu les sore kan disekolah..” Sivia mengangguk berkali-kali lalu mencium punggung tangan Oma Volly,
            “makasih,Oma, sekarang juga Via akan ngomong ke Alvin, kalo dialah yang Via cinta…”
            “ya udah! Good luck ya sayang…”
            “iya,Oma makasih yaa…?”

            Dengan perasaan yang bercampur aduk. Sivia berangkat kesekolah hendak menemui Alvin dan mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya pada Alvin. Sivia sudah tak sabar ingin segera tiba disekolah dan melihat wajah tampan Alvin.
            ‘Cinta itu adalah Alvin…lalu kenapa selama ini aku gak pernah peduli sama cinta itu, cinta yang bener-bener tulus sama aku…?’


@_@

            “elo yang sabar ya,Vin, pengorbanan lo ini pasti ada hasilnya, gue yakin…” ucap Pricilla pada Alvin seraya menepuk pundak Alvin. Alvin dan Pricilla tengah berdua didalam kelas. Saat itu Alvin sedang menyampaikan semua curahan hatinya pada Pricilla, gadis yang pernah menyayanginya itu.
            “iya,Prissy… gue tulus kok ngelakuin semua ini buat Via, kalo pun nanti gue sama Via emang gak jodoh, gue percaya itu jalan terbaik dari Tuhan, lagian kan, cinta gak selamanya harus saling memiliki…” Pricilla tersenyum,
            “bener banget,Vin, elo harus tetep sabar dan tetep semangat, gue sama yang lainnya akan selalu ngedukung lo, apapun yang terjadi…”
            “makasih ya..?”
            “sama-sama,Vin…”
            “Prissy…”
            “iya…?”
            “gue boleh meluk lo…??” Tanya Alvin pada Pricilla. Pricilla sedikit tercengang,
            “Haaa…??”
            “sebentaarr aja! Siapa tau setelah meluk lo, gue bisa ngerasa sedikit lebih baik, tapi kalo lo gak mau juga gak apa-apa kok….” Pricilla tersenyum, lantas berkata pada Alvin,
            “ya boleh lah,Vin, hehehe….” Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung mendaratkan tubuhnya dipelukan Pricilla, dengan sigap Pricilla  membalas pelukan Alvin. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya hari ini Pricilla bisa memeluk pemuda yang sudah sejak lama ia sayangi. Meskipun pelukan persahabatan, Pricilla tetap merasa bahagia.
            Bertepatan saat Alvin dan Pricilla sedang berpelukan, Siviapun memasuki kelas. Ia tersentak saat mendapati Alvin dan Pricilla tengah berpelukan. Mata Sivia mulai berkaca-kaca, ia merasa hatinya tercambuk berkali-kali, tulang-tulangnya pun seperti dipresto, lemah, tak ada tenaga sama sekali. Secara perlahan Sivia mundur dan berusaha meredam suara langkahnya supaya tak mengganggu Alvin dan Pricilla. Sivia mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, air matanya menetes dengan deras dari pelupuk matanya.
           
            ‘Prissy emang lebih pantes buat Alvin daripada gue…’ batin Sivia dengan suara isakkan yang berusaha ia tahan…


                                                BERSAMBUNG……

0 comments:

Post a Comment