Sivia tercengang setelah melihat
Gabriel. Sama seperti Gabriel, Alvin juga tersenyum, bedanya, senyum yang
terlukis diwajah tampan Alvin adalah sebuah senyum keterpaksaan. Hatinya perih
tak terkira saat ia harus dengan ikhlas melepaskan gadis yang begitu ia cintai
sudah sejak lama. Sivia mengalihkan perhatiannya pada Alvin, ia menatap Alvin
penuh Tanya, perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. Menanggapi tatapan
Sivia, Alvin mengangguk pasti ‘ayo, berjalanlah kearah Iel, lalu peluk dia
dengan erat dan jangan pernah lepaskan ia…’ itulah makna anggukan Alvin yang
mampu dipahami oleh Sivia. Maka Siviapun menggeleng. Senyum Alvin semakin
melebar, ia ingin menujukan pada Sivia, bahwa ia benar-benar rela melepaskan
Sivia untuk orang yang sangat ia cintai.
Tak
lama, Alvin mengulurkan tangannya untuk Sivia. Sivia terkesiap, dalam hati ia
meronta tak ingin lepas dari Alvin dan tak ingin kembali pada Gabriel, meskipun
mungkin ia masih menyimpan sedikit rasa untuk Gabriel, karna kini separuh
hatinya sudah ada pada Alvin.
Alvin
mengangguk, matanya mulai terasa panas karna air mata yang kini sudah tergenang
dipelupuk matanya. Dengan hati yang hancur, Sivia menerima uluran tangan Alvin.
Alvin menggenggam erat tangan Sivia lalu membawanya turun dari panggung.
Alvin
dan Sivia berjalan beriringan menghampiri Gabriel. Tibalah mereka dihadapan
Gabriel. Alvinpun menyerahkan Sivia pada Gabriel,
“gue
balikin Sivia ke elo, jaga dia baik-baik, dan jangan pernah sakitin dia lagi!
Kalo sampe lo sakitin dia lagi, gue gak akan segan-segan buat ngerebut dia dari
lo….” Dengan perlahan, Alvin melepaskan tangan Sivia dari genggamanya, Alvin
terlihat berat saat harus melepaskan Sivia, begitu juga dengan Sivia, Sivia
menggeleng berkali-kali. Alvin menyatukan tangan Sivia dengan tangan Gabriel,
Alvin menghela nafas panjang lalu berkata,
“semoga
dengan kembalinya Iel ke kamu, kamu bisa lebih bahagia lagi,Vi, dan gak
marah-marah lagi… kamu baik-baik ya sama Iel….?” Ucap Alvin dengan suara
bergetar, ia jelas tengah berusaha mati-matian menahan tangisnya yang hampir
pecah.
Setelah
berhasil menyatukan Sivia dan Gabriel, Alvinpun memutuskan untuk meninggalkan
mereka berdua dan membiarkan mereka membicarakan kelanjutan hubungan mereka.
Saat berbalik badan, air mata yang sejak tadi Alvin tahan akhirnya keluar juga.
Ia berusaha meredam isakkannya supaya tak terdengar oleh Sivia,
‘semoga
setelah ini kebahagiaan kamu balik lagi,Vi… ini pengorbanan cinta ku buat kamu,
selamanya aku gak akan pernah berhenti mencintai kamu…..’ baru saja Alvin akan
melanjutkan perjalanannya meninggalkan Gabriel dan Sivia, Sivia malah
memanggilnya,
“ALVIN…”
mendengar Sivia memanggil namanya, Alvin langsung menghentikan langkahnya tanpa
menoleh kearah Sivia,
“kenapa,Vi…?”
Tanya Alvin, Sivia terlihat berfikir, ia seperti ingin mengucapkan sesuatu pada
Alvin, tapi entah kenapa mulutnya malah berucap,
“makasih,buat
semuanya, kamu sahabat yang baik….hik..” Dengan ucapannya itu, Sivia seolah
menaburkan garam diluka hati Alvin, Alvin memejamkan matanya, perih itu semakin
ia rasakan, semakin dalam, semakin parah, Alvin memejamkan matanya, ia menyeka
air matanya lantas berbalik badan menatap Sivia,
“sama-sama
Vi, jangan lupa belajar ya, dan jangan pacaran terus…” Sivia mengangguk.
Alvinpun akhirnya benar-benar melangkah pergi meninggalkan Gabriel dan Sivia
dengan perasaan yang sangat hancur.
Beberapa
saat setelah Alvin pergi, Gabriel langsung memeluk Sivia erat, tapi Sivia tak
membalas pelukan Gabriel,
“aku
minta maaf sama kamu,Vi, karna aku udah nyakitin kamu dan ninggalin kamu demi
cewek yang ternyata gak pernah aku cintai sama sekali…” Sivia melepaskan
dirinya dari pelukan Gabriel, ia menatap Gabriel heran, dan ia sama sekali tak
mengerti dengan apa yang Gabriel maksud.
“maksud
Kakak apa?” Tanya Sivia, Gabriel meraih kedua tangan Sivia lalu menggamnya
erat,
“setelah
kita putus, aku mulai sadar, bahwa ternyata kamu adalah satu-satunya cewek yang
aku cintai bukan Zahra….”
“tapi
bukannya…” Gabriel mengangguk,
“iya,
aku mutusin pertunangan aku dengan Zahra, dan itu secara baik-baik kok…”
“darimana
aku tau kalo Kakak gak bohong….?”
Gabriel
memegang kedua pipi Sivia lalu menatap mata Sivia dalam, Gabrielpun berkata,
“tatap
mata aku, dan lihat, disana ada banyak ketulusan, aku bener-bener nyesel Vi
udah nyia-nyiain kamu, plis maafin aku, dan kembalilah sama aku…” Sivia
terdiam, Gabriel kembali memeluknya,
“pokoknya
mulai sekarang, aku janji, aku gak akan nyakitin kamu lagi, aku akan setia sama
kamu, selamanya…” perlahan Sivia membalas pelukan Gabriel, Gabrielpun mengecup
puncak kepala Sivia seperti yang biasa Alvin lakukan padanya.
“ini
semua karna Alvin,Vi, kalo bukan karna dia, mungkin sekarang aku gak akan ada
disini dan meluk kamu seperti ini…apa kamu tau, tadi Alvin dateng nemuin aku, dan
minta aku buat minta maaf lalu kembali ke kamu, ya aku seneng dan aku makasih
banget sama Alvin, apalagi kan, aku udah mutusin pertunangan aku dengan Zahra,
sebenernya selama ini aku gak ada keberanian buat ngajak kamu balik, tapi
Alvin, sahabat kamu itu, dengan begitu mudahnya numbuhin rasa keberanian aku
lagi…”
‘Alvin,
kamu rela ngelakuin itu demi aku yang selama ini nyakitin kamu…? Tapi kenapa
Alvin? Kenapa kamu masih aja baik sama aku yang selalu jahat sama kamu…? Dan
sekarang aku malah ragu sama perasaan aku ke Kak Iel, Tuhaaan, apa aku sudah
tidak mencintai Kak Iel lagi…? Seharusnya aku seneng Kak Iel bisa balik lagi
sama aku, tapi kenapa aku malah ngerasa sebaliknya…?’ batin Sivia.
Tanpa
Sivia dan Gabriel sadari, ternyata Alvin masih disana dan melihat apa yang
mereka berdua lakukan. Alvin semakin sakit. Perlahan ia terduduk, ia mengusap
wajahnya dan berkali-kali berkata,
“gue
ikhlas, gue ikhlas, harus ikhlas, ini demi kebahagiaan Sivia….”
@_@
“WHAAATT….?
JADI LO PUTUS SAMA ALVIN, TERUS BALIK SAMA KAK IEL DAN SAHABATAN LAGI SAMA
ALVIN….?” Tanya Ify dan Shilla kompak saat Sivia menceritakan semuanya pada
pagi harinya. Sivia diam, ia terlihat bingung dan tidak menjawab pertanyaan
Shilla dan Ify.
“gak
usah sok heboh deh, biasa aja lagi!” ucap seseorang dari arah pintu yang
ternyata adalah Alvin. Sivia langsung melihat kearah Alvin. Pagi itu Alvin
benar-benar terlihat biasa saja, ia seperti tidak memiliki masalah apapun
dengan Sivia. Alvin tersenyum lalu menghampiri Sivia,Ify dan Shilla. Alvin berhenti
disamping Shilla lalu merangkul mantan pacarnya itu.
“elo
juga Shill, ngapain sok heboh? Biarin aja si Ify heboh sendiri…!” mendengar
ucapan Alvin, Ify langsung melengos kesal. Sementara Shilla, ia langsung
menyingkirkan tangan Alvin dari pundaknya,
“gak
usah pake ngerangkul segala kali,Vin, ntar kalo Cakka liat bisa salah paham
dia…”
“oya,
emangnya gue peduli…?”
“iihh…elo
mah…” kesal Shilla hampir menoyor kepala Alvin.
Saat
Alvin,Ify dan Shilla tengah bercanda bersama, Sivia malah diam saja sambil
menunduk. Ia masih merasa bersalah dan malu pada Alvin. Alvin yang memang
mengerti dengan apa yang Sivia rasakan hanya bisa tersenyum. Alvinpun
menyingkirkan Ify dari samping Sivia, kini Alvin duduk disamping Sivia, ia
merangkul Sivia lalu menarik dengan gemes pipi Sivia,
“iiiihhhh…..elo
kok diam aja sih? Lo sebel ama gue? bĂȘte ama gue? Kesel sama gue? Marah sama
gue? Ataauuu….” Sebelum Alvin sempat melanjutkan perkataannya, Sivia malah
memotongnya dengan buru-buru memeluk Alvin,
“maafin
aku,Vin, aku emang jahat sama kamu selama ini, maafin aku yaa…?” Alvin
melepaskan Sivia dari pelukannya, lagi-lagi ia menarik hidung Sivia lalu
berkata,
“formal
banget lo pake AKU-KAMU segala? Udahlah pake LO-GUE aja kaya’ yang dulu, biar
lebih santĂ© kedengerannya dan gak KAKU….”
Melihat
sikap Alvin yang kembali seperti yang dulu lagi, Sivia semakin merasa bersalah.
Sesungguhnya Sivia tau bagaimana hancurnya perasaaan Alvin saat ini. Alvin
hanya berpura-pura tegar demi persahabatnnya dengan Sivia.
‘aku
tau kamu sakit,Vin, karna akupun ngerasain hal sama kaya’ kamu, aku tau kamu
berusaha kuat demi persahabatn kita… maafin aku, maaf…’ batin Sivia seraya menatap Alvin.
@_@
Sivia
duduk disebuah bangku panjang yang ada dipinggir lapangan. Sembari menunggu
Alvin yang sedang berlatih futsal, Sivia menggambar wajah Alvin diatas buku
gambar kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Setelah selesai berlatih, Alvin
langsung menghampiri Sivia, ia duduk disamping Sivia seraya berkata,
“hoby
lo menggambar gak akan bisa ngebantu lo buat lulus ujian nasional…” Sivia
menghentikan aktifitas menggambarnya lalu menatap Alvin sejenak,
“ini
kan Cuma buat selingan,Vin, masa’ gue lo suruh belajar doang…? Bisa mati gue…”
Alvin mengangguk berkali-kali lalu merebut buku gambar milik Sivia, Sivia hanya
pasrah, Alvin memperhatikan gambar wajahnya dengan seksama, ia memicingkan
matanya dan terlihat sok serius, tak lama Alvin berkomentar,
“gila!
Gue jelek banget digambaran lo! Sengaja ya lo…!” tuduh Alvin sambil menunjuk
Sivia, Sivia tercengang,
“maksud
lo…?”
“lo
sengaja kan gambar muka gua yang ganteng ini terus digambar lo bikin muka gue
jadi sejelek ini… jangan-jangan lo suka ya sama gue…” ucap Alvin pede,
“iihhh…gak
deh… lagian siapa bilang itu gambar muka lo?” ucap Sivia seraya berpura-pura
bergidik.
“HAA..??
emang ini gambar muka siapa?” Tanya Alvin,
“TUKUL….”
Jawab Sivia dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Alvin yang tak terima
langsung menarik kunciran Sivia,
“aaww…sakit
Alvin…”
“ralat
dulu ucapan lo! Seenak jidat lo nyamain gue sama Tukul…”
“abisnya
elo sih pake ngeledek hasil karya gue segala, gue kan sebel” Alvin semakin
keras menarik kunciran Sivia,
“aaww…
sumpah Alvin, sakit BANGET…” saat Sivia berusaha menyingkirkan tangan Alvin
dari rambutnya, Alvin malah menarik kedua tangan Sivia hingga wajah mereka
berdekatan nyaris bersentuhan. Alvin menatap mata Sivia sedalam-dalamnya begitu
juga dengan Sivia,
‘apa
kamu tau kalo sakit itu masih terasa disini?’ batin Alvin.
“Via…!”
panggil Gabriel dari kejauhan. Alvin langsung melepaskan tangan Sivia lalu
menjauhkan posisinya dari posisi Sivia. Gabriel menghampiri Alvin dan Sivia. Ia
berdiri dibelakang Sivia yang saat itu duduk dibangku panjang bersama Alvin,
“kita
pulang yuk Vi…” ajak Gabriel,
“i..iya
Kak…” ucap Sivia ragu sambil menatap
Alvin. Alvin mengangguk pada Sivia. Siviapun langsung membereskan
barang-barangnya dan bangkit dari samping Alvin.
“ya
udah,Vin gue pulang sama Kak Iel ya… oya, ini minuman buat lo…” Sivia
menjulurkan sebotol minuman isotonic untuk Alvin. Alvin menerimanya dengan
senang hati lalu berkata,
“thanks
ya…”
“i..iya,
elo gak pulang…?”
“entar
aja sekalian setelah les sore…”
“oooo..ya
udah, gue duluan ya…”
Gabriel
merangkul Sivia. Sebelum mereka pergi, Gabriel sempat pamit pada Alvin. Dan
saat Sivia berjalan bersama Gabriel, ia menoleh kebelakang dan melihat Alvin
yang waktu itu tersenyum padanya sambil mengangkat kedua jempolnya untuk Sivia.
Tanpa Sivia sadari, senyum Alvin itu adalah sebuah senyum kehancuran.
@_@
“kalau
memang kamu sudah gak sayang lagi sama Iel, terus kenapa kamu mau balik sama
dia…? Kamu jangan bohongin perasaan kamu sayang, kalo emang kamu gak sayang
jangan dipaksain…” ucap Oma Volly bijak saat Sivia menemuinya dipanti Jompo
sebelum ia berangkat untuk les Sore.
“Via
juga gak tau Oma! Via bingung sama apa yang Via rasain sekarang! Yang jelas
saat ini yang ada difikiran Via Cuma Alvin, Via bener-bener ngerasa bersalah
sama Alvin,Oma, Alvin udah baik ama Via selama ini, tapi Via selalu nyakitin
dia, dan Alvin tetep sabar….”
“dari
sana udah jelas Via, kalau yang kamu cinta itu Alvin…”
“Via
emang cinta sama Alvin, tapi Via belum yakin sama apa yang Via rasain, Via
takut nyakitin Alvin lagi,Oma…” Oma Volly menggeleng pelan dan kembali memberi
nasihat untuk Sivia,
“kamu
gak akan nyaikitin siapa-siapa lagi! Sekarang yang perlu kamu lakuin, yakini
hati kamu bahwa yang kamu cinta itu Cuma Alvin, bukan Iel atapun orang lain,
setelah kamu yakin, segera temui Alvin dan bilang yang sebenernya ke Alvin, katakan
sebelum semuanya terlambat dan kamu gak akan menyesal sayang…”
Mendengarkan
ucapan Oma Volly, Sivia langsung memejamkan matanya dan berusaha meyakini
hatinya. Selama memejamkan matanya, Sivia mengingat semua kebersamaannya dengan
Alvin, Sivia juga teringat akan pengorbanan-pengorbanan Alvin padanya. Setelah
cukup lama memejamkan mata dan merenungkan semuanya, secara perlahan Sivia
membuka matanya lalu berkata dalam hati,
‘ternyata
yang aku cinta Alvin, bukan Kak Iel….’
Oma
Volly mengangkat dagu Sivia lalu menatap Sivia penuh makna,
“gimana
sayang…?” Sivia tersenyum pada Oma Volly,
“sekarang
Via udah yakin Oma, kalo yang Via cinta itu Alvin, Cuma Alvin dan bukan Kak
Iel, cinta Via selama ini ternyata adalah Alvin, Oma….” Oma Volly tersenyum
lantas berkata,
“kalau
sekarang kamu udah yakin, segera temui Alvin dan katakan semuanya pada Alvin…”
“sekarang,Oma?”
“ya
sekarang dong! Sekalian kamu les sore kan disekolah..” Sivia mengangguk
berkali-kali lalu mencium punggung tangan Oma Volly,
“makasih,Oma,
sekarang juga Via akan ngomong ke Alvin, kalo dialah yang Via cinta…”
“ya
udah! Good luck ya sayang…”
“iya,Oma
makasih yaa…?”
Dengan
perasaan yang bercampur aduk. Sivia berangkat kesekolah hendak menemui Alvin
dan mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya pada Alvin. Sivia sudah tak
sabar ingin segera tiba disekolah dan melihat wajah tampan Alvin.
‘Cinta
itu adalah Alvin…lalu kenapa selama ini aku gak pernah peduli sama cinta itu,
cinta yang bener-bener tulus sama aku…?’
@_@
“elo
yang sabar ya,Vin, pengorbanan lo ini pasti ada hasilnya, gue yakin…” ucap
Pricilla pada Alvin seraya menepuk pundak Alvin. Alvin dan Pricilla tengah
berdua didalam kelas. Saat itu Alvin sedang menyampaikan semua curahan hatinya
pada Pricilla, gadis yang pernah menyayanginya itu.
“iya,Prissy…
gue tulus kok ngelakuin semua ini buat Via, kalo pun nanti gue sama Via emang
gak jodoh, gue percaya itu jalan terbaik dari Tuhan, lagian kan, cinta gak
selamanya harus saling memiliki…” Pricilla tersenyum,
“bener
banget,Vin, elo harus tetep sabar dan tetep semangat, gue sama yang lainnya
akan selalu ngedukung lo, apapun yang terjadi…”
“makasih
ya..?”
“sama-sama,Vin…”
“Prissy…”
“iya…?”
“gue
boleh meluk lo…??” Tanya Alvin pada Pricilla. Pricilla sedikit tercengang,
“Haaa…??”
“sebentaarr
aja! Siapa tau setelah meluk lo, gue bisa ngerasa sedikit lebih baik, tapi kalo
lo gak mau juga gak apa-apa kok….” Pricilla tersenyum, lantas berkata pada
Alvin,
“ya
boleh lah,Vin, hehehe….” Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung mendaratkan
tubuhnya dipelukan Pricilla, dengan sigap Pricilla membalas pelukan Alvin. Setelah sekian lama
menunggu, akhirnya hari ini Pricilla bisa memeluk pemuda yang sudah sejak lama
ia sayangi. Meskipun pelukan persahabatan, Pricilla tetap merasa bahagia.
Bertepatan
saat Alvin dan Pricilla sedang berpelukan, Siviapun memasuki kelas. Ia
tersentak saat mendapati Alvin dan Pricilla tengah berpelukan. Mata Sivia mulai
berkaca-kaca, ia merasa hatinya tercambuk berkali-kali, tulang-tulangnya pun
seperti dipresto, lemah, tak ada tenaga sama sekali. Secara perlahan Sivia
mundur dan berusaha meredam suara langkahnya supaya tak mengganggu Alvin dan
Pricilla. Sivia mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya menggunakan
kedua tangannya, air matanya menetes dengan deras dari pelupuk matanya.
‘Prissy
emang lebih pantes buat Alvin daripada gue…’ batin Sivia dengan suara isakkan
yang berusaha ia tahan…
BERSAMBUNG……


0 comments:
Post a Comment