“Jika harus
berakhir dengan cara yang menyakitkan, sejak awal kau seharusnya tidak
memberikanku mimpi indah. Kau yang membawaku kedalam lautan mimpi indah yang
memabukan ini, kau jugalah yang membangunkan secara paksa dan sangat kejam.”
♫♫♫
Tawa
Alvin dan Via pada senja itu seolah menjadi backsound
kebersmaan mereka. Mereka berdua tampak bahagia dan begitu serasi memainkan
bola ditengah lapangan. Sekolah sudah cukup sepi, hanya ada mereka berdua
dilapangan itu, memperebutkan bola dan berusaha memasukannya kedalam ring untuk
mendapatkan poin.
Entah
apa yang ada dipikiran Alvin hari ini, setelah melewati mata ujian terakhir, ia
menahan Via disekolah. Awalnya Via hanya menunggu Alvin yang sedang berlatih
basket dengan kawan-kawannya, tapi setelah latihan usai, Alvin justru menolak
pulang dan menunggu semua kawan-kawannya pulang terlebih dahulu. Saat sore
tiba, ketika semua warga SMA Patuh Karya mengosongkan sekolah, Alvin tiba-tiba
saja mengajak Via bermain basket berdua. Hanya berdua. Banyak yang mengatakan
kalau pacar ‘rahasia’ nya ini jago basket, dan senja ini Alvin ingin
membuktikannya dan menguji sejauh apa kemampuan gadis ini.
“kata
anak-anak lo jago basket. Kalo gitu… lawan gue sekarang!” Alvin mem-passing bola itu kearah Via sesaat sebelum
mereka bermain. Via yang terkesiap kontan saja menangkap umpan Alvin dan
berdiri dengan tatapan bingung.
“gue
udah cukup lama gak main” jawab Via apa adanya.
Salah
satu alis Alvin terangkat, “lama gak main bukan berarti lo lupa caranya, kan? one on one?” tantangnya lagi dengan nada
nya yang selalu terdengar angkuh. Via tersenyum miring saat ia merasa mulai
tertantang.
“gak
usah sombong, Alv! Karna lo…” Via menggantungkan kalimatnya dan melangkah
dengan yakin mendekati Alvin, “karna lo gak akan menang ngelawan gue” lanjutnya
kemudian.
Alvin
mendengus. Sementara Via sudah lebih dulu ketengah lapangan, memulai
permainanya dengan lincah. “hati-hati lo pake rok!” ujar Alvin memperingatkan
yang sebenarnya hanya untuk mengintimidasi Via saja.
“udah
biasa main pake rok!” balas Via dengan sengit. Dalam sekejap Via melakukan lay up dan memasukan bola yang sejak
tadi berada dalam genggamannya dengan santainya.
Untuk
sedetik Alvin terkesima. Ternyata gadis ini boleh juga. Pikirnya.
Via
menangkap bola yang memantul kearahnya lalu mendribble-nya. Ia tersenyum dan menatap Alvin dengan pandangan
menantang.
Pada
awal-awal permainan, Alvin membiarkan Via merasa berada diatas angin. Via terus
memasukan bola kedalam ring tanpa perlawanan yang berarti dari Alvin. Sadar
bahwa saat ini Alvin sedang meremehkannya, ia lantas menghalangi Alvin yang
sedang mendribble seraya berkata, “udah gue bilang kan tadi? Jangan sombong!”
“sayangnya…
gue emang udah sombong dari lahir” jawab Alvin dengan tenang. Ia lalu
mencondongkan wajahnya kearah Via yang sedang berusaha mati-matian menjangkau
bola dari cengkramannya. Via sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan Alvin
lakukan sampai tiba-tiba Alvin mengecup lembut bibirnya dalam sedetik.
Seolah-olah tidak merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan barusan, Alvin pun
melakukan pivot untuk menyelamatkan
bola itu dari jangkauan Via. Salah satu kakinya berputar, sementara kaki yang
satunya lagi ia jadikan sebagai poros, dan dalan sekejab mata, bola itu sudah
memasuki ring dengan sempurna. Alvin serta-merta bersorak, sementara Via, ia
masih terpaku ditempatnya semula sambil menyentuh bibirnya.
Alvin
tersenyum miring. Entah untuk yang keberapa kalinya, ia merasa menang karna
berhasil mencuri satu ciuman lagi dari gadisnya yang polos ini.
Tanpa
mereka tahu, ternyata masih ada satu orang yang tersisa dan menyaksikan semua
hal yang mereka lakukan sejak tadi. Cakka bersembunyi dibalik salah satu pilar
dengan perasaan hancur-lebur. Setelah ia mengetahui semua kenyataan dan rahasia
dibalik kehidupan Via selama ini, Cakka akhirnya mengerti alasan kenapa Via
menolak perasaannya dan selalu bersikap dingin terhadapnya.
Dan
apa yang sedang ia saksikan sekarang ini, adalah jawaban dari jutaan pertanyaan
yang selama ini membelitnya. Jutaan pertanyaan rumit yang selama ini menghantui
pikirannya ternyata hanya memiliki satu jawaban saja; ALVIN.
Via
menyayangi Alvin. Via lebih memilih Alvin dan sekarang… mereka sedang
berpacaran.
Cakka
lalu melangkah pergi, dan meninggalkan serpihan hatinya jauh-jauh dibelakang.
Bagi Cakka, ada hal yang lebih penting dari semua ini.
Kesakitan
dan kehancuran hatinya saat ini bukan akhir dari segalanya. Cakka justru akan
kembali berjuang. Ia yakin, Via hanya miliknya. Apapun yang terjadi, ia akan
tetap bertahan dengan segala keyakinan yang ia miliki.
“aku
bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu
Sesering
kau coba tuk mematikan hatiku
Tak
kan terjadi, yang aku tahu kau hanya untukku
aku
bertahan ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras
kau coba tuk membunuh cintaku
Yang
aku tahu kau hanya untukku” (Rio
Febrian ~ Aku Bertahan)
♫♫♫
The
Arion’s CafĂ©
Setelah
latihannya usai, Gabriel langsung menjemput Shilla kerumahnya tanpa pulang
terlebih dahulu. Ia merasa perlu bicara setelah
melihat dari bagaimana cara Shilla bersikap selama seminggu terakhir ini
terhadap Ify. Beberapa kali, Gabriel sering memergoki Shilla berusaha
menghindari Ify. Shilla juga sama sekali tidak mengacuhkan Ify saat Ify
mengajaknya berbicara. Dan Gabriel, merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan
itu.
“aku
denger-denger, kamu masih gak ngomong sama Ify. Bener, kan?” tanya Gabriel saat
dirinya dan Shilla sudah duduk berhadapan disatu meja yang sama.
Shilla
mendesah pelan. “jadi kamu nyulik aku kesini, Cuma untuk nanyain hal gak
penting itu?”
Gabriel
terkesiap. Ia sungguh sangat tidak terima dengan apa yang baru saja Shilla
ucapkan. “hal gak penting?” tanyanya skeptic. Gabriel mengusap wajah frustasi
setelah sebelumnya ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Baru saja Gabriel
akan melanjutkan perkataannya, Shilla malah mendahuluinya,
“kenapa
semua orang selalu berpihak sama Ify? Aku pikir, kamu bakalan tetep berdiri
dibelakang aku, tapi ternyata… aku salah. Kamu sama aja kayak yang lain.
Kenapa? Kamu juga suka sama Ify? Iya?
“ASHILLA!”
Tukas Gabriel dengan keras. Dalam sekejab Shilla langsung terdiam.
“satu
hal yang aku bener-bener gak suka dari kamu, kamu… selalu gak bisa jaga
ucapanmu. Kamu selalu berkata seenaknya tanpa berpikir terlebih dahulu”
Shilla
tersenyum miris seraya menganggukan kepalanya beberapa kali. Sekarang, ia
merasa sangat kasihan dan menyedihkan. Bahkan seorang Gabriel Fabian Ganendra,
yang sangat ia percayai tidak sudi membelanya.
“kamu
juga musti tahu, Shill. Aku… aku gak akan pernah berdiri didepan kamu, karna
aku gak akan memimpin langkah kamu, aku juga gak akan pernah berdiri dibelakang
kamu, karna aku gak akan ngikutin kamu. Aku? Aku Cuma akan berdiri disamping
kamu, aku akan melangkah sejajar sama kamu, dan aku akan menegur kamu disaat
kamu salah. Kamu sadar, bahwa apa yang kamu lakukan sekarang ini… adalah sebuah
kesalahan fatal”
“jadi
sekarang kamu juga mau nyalahin aku? Hm?”
“karna
kamu memang salah dan patut buat disalahkan Ashilla! Kamu tau dan sadar kalau
Rio dan Ify saling menyayangi satu sama lain, tapi kamu terus-terusan berusaha
buat menyangkal semuanya. Kamu gak seharusnya seperti ini!”
Shilla
terdiam untuk beberapa lama. Meski sulit, ia berusaha untuk mencerna setiap
perkataan yang Gabriel lemparkan. “apa aku gak berhak bahagia, Yel? Aku… aku
juga sayang sama Rio, aku… aku juga pengen ada diposisi Ify sekarang, aku—“
“tapi
Rio gak punya perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasain”
“tapi
setidaknya aku harus berusaha, kan?”
“dengan
cara konyol seperti ini?!” bentak Gabriel yang sudah merasa tidak sabar lagi.
“Yel—“
“apa
kamu mau aku tunjukin cara yang seharusnya kamu lakuin sekarang?” tanya Gabriel
yang masih diliputi oleh luapan emosi.
“karna
aku udah gak punya cara lain lagi, jadi… katakan cara apa yang harus aku
lakuin?” tanya Shilla kembali sambil berusaha menahan getaran pada nada
bicaranya. Rasanya, ia ingin menangis sekarang juga. Hatinya sudah benar-benar
lelah menanggung semua ini.
Gabriel
menatap kedua mata jernih Shilla untuk memastikan sesuatu. Tidak lama ia
mengangguk pelan dan berujar.
“lupain
Rio, dan belajar untuk menyayangi aku lagi, karena aku… masih sayang sama kamu…”
“Ga—Gabriel?”
♫♫♫
“Ma…”
panggil Angel saat dirinya dan Metta sedang bersantai ditepi kolam renang.
Metta yang ketika itu sedang focus membaca sebuah majalah menyahut pelan tanpa
mengalihkan perhatiannya.
“iya,
sayang?”
“eeemm…
Kak Alvin sama Kak Via pacaran, ya?” tanya Angel yang terlihat ragu. Metta yang
kaget serta-merta menghentikan aktifitas membacanya. Metta menggeleng beberapa
kali dan berusaha menepis semua pikiran anehnya.
“kenapa
Angel bisa berpikir kayak gitu?” Metta kembali membaca majalahnya meski fokusnya
sudah terpecah-belah.
“semenjak
Angel pulang dari asrama, Angel ngelihat Kak Alvin dan Kak Via itu dekeeeet
banget. Angel inget banget, dulu sebelum Angel ke asrama, Kak Alvin cuek gitu
sama Kak Via, tapi kok sekarang beda?”
“wajar
dong mereka deket, yaa… kayak kamu deket sama Kak Via juga. Kalian kan… udah
jadi saudara”
“ya
iya sih, Ma. Tapi… deketnya tuh beda, dan Angel bisa ngerasain”
Cukup!
Metta sudah tidak tahan lagi. Ia menutup majalahnya dengan kasar dan menatap
Angel dalam-dalam. “enough, Angel!
Kamu masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang berat seperti ini. Nikmati
liburanmu dengan tenang dan berhenti berpikir yang tidak-tidak, oke?”
“tapi,
Ma—“
“Mama
bilang cukup, Angel! Mama capek. Mama
mau istirahat. Nanti kalo Kak Alvin pulang, suruh langsung nemuin Mama diruang
kerja. Dan… jangan pernah sekalipun sampaikan pemikiran kamu yang gak logis ini
ke Papa, mengerti?”
“i—iya,
Ma…” jawab Angel seraya menunduk dalam.
Baru
saja Metta bangkit dari kursi malasnya, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi dan
menandakan ada panggilan masuk ke nomernya. Untuk sejenak Metta membeku melihat
nama yang tertera pada layar ponselnya. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak
berkomunikasi dengan sahabat lamanya ini, tapi Metta selalu menyimpan nomer itu
dengan rapi diponselnya. Ragu-ragu Metta mengangkatnya…
“ha—hallo
Yashinta?”
♫♫♫
Alvianoszta
Café
Arloji
dipergelangan tangan Yashinta sudah menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh
menit. Pada jam tujuh tepat, ia memiliki janji untuk bertemu dengan Metta di café
ini, café yang dulu sering mereka kunjungi bersama Sylvia dan Adryan saat
mereka masih kuliah.
Meskipun
dulu begitu dekat, hubungan persahabatan Yashinta dan Metta sedikit terganggu
dan akhirnya merenggang setelah Yashinta melarikan diri ke Jepang selama
bertahun-tahun lamanya. Sejak itu, mereka tidak pernah lagi saling
berkomunikasi meskipun anak-anak mereka bersahabat sangat dekat satu sama lain.
Entah siapa yang lebih dulu membentang sekat diantara mereka. Entah sejak kapan
komunikasi diantara mereka mulai terputus, tapi yang pasti, saat ini Yashinta
butuh penjelasan Metta atas beberapa fakta mencengangkan yang ia temukan
belakangan ini.
Jam
tujuh tepat, Metta akhirnya menampakan diri. Ia terlihat mengedarkan
pandangannya kesagala arah untuk mencari sosok Yashinta. Untuk sejenak Yashinta
tertegun, ini bukan kali pertamanya ia melihat Metta setelah hubungan mereka
mulai merenggang, ia beberapa kali pernah melihat dan bahkan bertemu, tapi
seperti biasa, mereka bersikap seolah-olah tidak saling mengenal stu sama lain,
seakan-akan cerita persahabatan mereka dimasa lalu hanyalah sebuah mimpi yang
kemudian lenyap saat mereka terbangun.
Yashinta
lalu melambaikan tangannya kearah Metta yang langsung disambut oleh tatapan
dari Metta. Metta pun melangkah dan duduk berhadapan dengan Yashinta.
“sudah
cukup lama, Metta. Kamu apa kabar?” tanya Yashinta beberapa saat kemudian.
“baik.
Kamu sendiri?” jawab Metta singkat yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan
basa-basi.
Yashinta
tersenyum kecil, ia lalu menyesap capuchino dihadapannya dan menjawab, “seperti
yang kamu lihat sekarang”
Metta
mengangguk beberapa kali. Tapi kemudian ia tiba-tiba teringat akan sesuatu, “setelah
belasan tahun berlalu, ini kali pertamanya kamu menghubungi aku. Dan aku pikir…
ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kamu tanyakan. Apa aku salah?” tanya
Metta yang seakan bisa membaca isi kepala Yashinta.
“kamu
tidak pernah berubah, Metta! Kamu bahkan lebih pintar dari apa yang aku
pikirkan”
“langsung
saja” jawab Metta dingin.
Yashinta
terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah amplop coklat
dengan logo ‘Sorano Corporation’ pada kop nya. Metta memperhatikan baik-baik
amplop itu. Entah kenapa ia mulai merasakan sebuah firasat aneh. Ini pasti hal
yang sangat serius dan tidak main-main, pikirnya.
“belakangan
ini... pikiranku sangat terusik dengan kehadiran seorang gadis bernama
Gisselavia Garnetta. Cakka mengatakan, bahwa Via adalah saudara sepupu Alvin.
Dan saat pertama kali Via memperkenalkan diri, aku merasa sangat sanksi, karna
yang aku tahu, seorang Metta Indriani adalah puteri tunggal dari Hermawan
Sugianto. Dan Adryan sendiri, hanya mempunyai satu saudara yang sekarang sedang
melanjutkan studi nya di London. Sejauh yang aku tahu, saudara kandung dari
Adryan masih berusia 25 tahun dan belum menikah. Lalu kemudian, satu pertanyaan
ini begitu mengusik pikiranku secara terus-menerus, tanpa henti; siapa
Gisselavia Garnetta? Dia anak dari siapa?”
Metta
terkejut bukan main. Ia bahkan belum melakukan antisipasi atas pertanyaan yang
Yashinta ajukan sekarang. Yang ia tahu, Yashinta tidak akan mau repot-repot
terlibat dalam masalah ini, mengingat bagaimana hubungan antara Yashinta dan
Sylvia belasan tahun yang lalu. Metta berpikir, bahwa Yashinta benar-benar
membenci Sylvia. Kenyataan itulah yang membuat Metta berani bertindak hingga
sejauh ini. Alasan itu jugalah yang membuat Metta mati-matian menjaga jarak
dari Yashinta selama belasan tahun lamanya.
Meski
pikirannya sudah sangat kacau sekarang, tapi Metta berusaha untuk tetap
terlihat tenang. Ia tidak ingin cepat terprovokasi dengan keadaan ini.
Yashinta
terdengar menghela napas panjang, ia lalu mengeluarkan setumpuk kertas yang
dijilid rapi dari dalam amplop itu.
“mungkin
selama ini kamu berpikir, bahwa aku sudah tidak peduli lagi dengan Sylvia, tapi
kamu harus tahu… kamu salah besar, Metta Indriani!” Yashinta lalu menunjukan
berkas itu pada Metta.
“aku
sudah mencari tahu semuanya, bukan hanya asal-usul Gisselavia Garnetta, tapi
segala hal kecil menyangkut dia, tidak sedikitpun luput dari pencarianku. Tapi…
ada satu hal yang paling menarik perhatianku sekarang…” Yashinta memotong
perkataannya dan membuat Metta semakin merasa terpojokan. Yashinta tersenyum
miring, tidak lama ia lalu melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat ia
hentikan. “aku tidak tahu, kamu, Adryan, dan… Danar Ganendra punya alasan apa
dibalik semua ini, tapi dari semua bukti-bukti yang aku kumpulkan ini, aku
tahu… bahwa kamu memalsukan surat wasiat Sylvia dan mengadopsi Gissel atas
perintah langsung dari Danar Ganendra. Iya, kan?”
Metta
mencengkram kuat-kuat tangannya. Ia tidak akan membiarkan semua usahanya
berakhir sia-sia hanya karna Yashinta. Apapun akan Metta lakukan untuk
mempertahankan apa yang ia dapatkan sekarang. Dan Yashinta, atau siapapun,
tidak akan pernah bisa menghentikannya. Tidak setelah ia menghalalkan segala
cara demi mencapai semua ambisinya.
“kamu
sangat cerdik, Shinta! Dan kamu sangat lihai bersembunyi dibalik keangkuhan
juga ketidakpedulianmu. Dan aku lupa dengan semua kenyataan itu karna terlalu
terlena dengan ambisi-ambisiku selama ini, aku sadar sekarang… bahwa melupakan
kenyataan itu adalah kesalahan terfatal yang pernah aku lakukan seumur
hidupku.”
“lalu?”
“aku
akui, Sylvia memang tidak pernah memintaku untuk mengadopsi Via, dan aku akui,
aku memalsukan surat itu atas bantuan dari Danar Ganendra. Tapi kamu harus
ingat, bahwa semua hal yang aku lakukan itu, tidak sedikitpun dengan niat untuk
melukai Via dengan sengaja. Sekeras apapun kamu mencari tahu, kamu tidak akan
bisa menyangkal fakta itu, Yashinta, kamu—“
“tapi
Sylvia tidak ingin Gissel hidup dalam jangkauan Kakeknya. Kamu tahu itu!”
Yashinta mulai terpancing emosi.
“ATAS
ALASAN APA?” Tanya Metta keras sambil menatap Yashinta dengan tajam. “aku
tanya, atas alasan apa Sylvia tidak ingin Via hidup dalam jangkauan Kakeknya?”
Yashinta
mendengus dan menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “kamu masih tanya
alasannya setelah kita semua tahu apa penyebabnya? Danar Ganendra tidak pernah menginginkan
kehadiran Gissel sekalipun, ia bahkan mengusir dan memaksa Sylvia dan Gissel
untuk pergi dari kehidupan Geraldy dan Gabriel. Kamu pikir, alasan itu tidak
cukup kuat?! Jangan terlalu naĂŻf, Metta!”
“lalu
kamu? Apa yang kamu lakukan saat tahu semua itu? Kamu hanya berdiam diri?
Tidak… sepertinya aku salah” Metta tertawa meledek disela perkataannya, “kamu
bahkan baru tahu sekarang. Kamu harus sadar, Shinta… kamu sudah terlalu
terlambat untuk peduli, dan semua apa yang kamu lakukan sekarang adalah sia-sia”
Kali
ini Yashinta tercengang. “terus terang… Danar Ganendra membayar mahal atas
semua yang aku lakukan ini. Tapi Danar Ganendra melakukan semua ini hanya
semata-mata untuk menebus semua kesalahannya. Ia mungkin tidak bisa
mengambalikan masa lalu dan memperbaiki semuanya, tapi setidaknya… ia ingin
membayar atas semua hal yang ia lakukan dimasa lalu”
“tapi
demi Tuhan cara ini salah, Metta. Kalaupun Danar Ganendra ingin membayar
semuanya, kenapa ia tidak langsung muncul dan mengadopsi Gissel sendiri? kenapa
ia harus menjadikan kamu dan Adryan sebagai tameng? kenapa… kenapa kalian semua
harus menipu Gissel? Kalian pikir semua ini tidak akan menyakiti Gissel pada
akhirnya nanti? Iya?”
Giliran
Metta yang terdiam. Ia tampak berpikir.
“aku
tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu, Shinta! Aku… aku hanya mengikuti
perintah dari Danar Ganendra”
“untuk
apa?”
“saat
itu perusahaan Ayahku nyaris bangkrut. Kami terlilit hutang yang akhirnya juga
berdampak pada perusahaan Adryan. Lalu tiba-tiba… Danar Ganendra datang
mengulurkan tangannya. Ia memintaku dan Adryan melakukan semua ini. Aku tidak
langsung menerima. Sylvia adalah sahabatku, mana mungkin aku tega
menghianatinya? Tapi keadaan kami semakin terjepit karna Danar Ganendra
terus-terusan menekan kami dari segala arah. Hingga akhirnya, aku menyetujui
syarat yang diajukan oleh Danar Ganendra. Aku melakukan semua yang ia
perintahkan, dan sebagai bayarannya… aku mendapatkan segala yang aku inginkan
dan memenuhi semua ambisiku, bahkan hingga detik ini…”
“aku
punya satu pertanyaan lagi.” ucap Yashinta, kali ini nada bicaranya terdengar
sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
“apa?”
“apa
tidak ada sedikitpun ketulusan dihatimu saat kamu mengangkat Gissel sebagai
anakmu? Apa semua ini kamu lakukan murni hanya demi memenuhi semua ambisimu?
Iya?”
Metta
tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab, “entahlah… yang pasti, aku mulai
menikmati peranku sebagai Mama dari seorang
Gissella Fania Ganendra…”
♫♫♫
Saat
Alvin kembali dari sekolah, Angel langsung menyampaikan pesan dari Mamanya yang
meminta Alvin untuk segera menjemput Metta di Alvianoszta Café. Mobil milik
Metta sedang masuk bengkel, sementara supir yang sehari-hari
mengantar-jemputnya sedang jatuh sakit. Jadi, Alvin lah yang bertanggung jawab
untuk menjemput Mamanya. Tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dahulu, Alvin
segera berangkat menjemput Mamanya.
Alvin
tiba dicafe lima belas menit kemudian. Tanpa menghubungi Mamanya terlebih
dahulu, Alvin langsung memasuki café. Tapi langkah Alvin kemudian terhenti secara
tiba-tiba saat melihat Mamanya sedang duduk berhadapan dengan Bunda Cakka.
Merasa ada yang tidak beres dengan gelagat kedua wanita yang dulunya pernah
menjadi sahabat itu, Alvin melangkah lebih dekat dan bersembunyi pada salah
satu pilar untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
Dan
apa yang Alvin dengarkan, sangat menghancur-leburkan hatinya saat ini. Kontan
saja perasaannya hancur ditempat ketika mengetahui bahwa ternyata Mamanya yang begitu
ia hormati memalsukan surat wasiat Almarhum Mama Via. Dan semua itu ia lakukan
hanya demi… menyelamatkan perusahaan Kakeknya yang nyaris bangkrut juga demi
ambisi-ambisi Mamanya.
Alvin
mendadak merasakan kedua kakinya lemas. Ia bahkan hampir tidak sanggup berdiri
diatas kedua kakinya sendiri. Mendapati bahwa Mamanya adalah seorang penipu
yang ulung adalah hal yang sangat sulit untuk bisa Alvin terima.
Airmatanya
nyaris berdesakan keluar jika saja Alvin
tidak berusaha menahannya. Ia lalu memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Kenyataan ini benar-benar membuatnya sulit bernapas.
Alvin
serta-merta melangkah keluar café saat melihat Mamanya bangkit dari tempat
duduknya dan berjalan keluar dengan langkah yang cukup cepat. Tidak ingin
Mamanya mengetahui bahwa ia telah mendengar semuanya, Alvinpun berlari dan
menunggu Mamanya didalam mobil. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.
Metta
membuka pintu mobil dan duduk disisi Alvin dengan tenang.
“Ma—Mama
udah selese?” tanya Alvin pelan.
Metta
hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. “Mama
baik-baik aja?” tanya Alvin –lagi-. Sekali lagi Metta hanya mengangguk dan
meminta Alvin untuk segera menyetir mobilnya. Saat ini Metta benar-benar ingin
pulang dan beristirahat.
Setengah
perjalanan mereka habiskan dalam hening. Metta bahkan sudah terlihat lebih
tenang dari sebelumnya. Alvin menatap Mamanya beberapa kali sembari mencengkram
erat setirnya. Detik ini juga, ada jutaan pertanyaan yang ingin Alvin tanyakan
pada wanita yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya ini.
“kenapa
Mama melakukan semua ini?” pertanyaan itu akhirnya terlontar begitu saja
setelah Alvin berusaha mati-matian menahan dirinya.
Metta
terkesiap dan buru-buru menoleh kearah Alvin, ragu-ragu ia bertanya, “ma—maksud
kamu?”
“maafin
Alvin sebelumnya karna udah lancang, Ma. Tapi… Alvin denger semua obrolan Mama
dan Tante Shinta tadi”
“a—apa?
Kamu…”
Alvin
menepikan mobilnya dan langsung berhenti. Airmata yang sejak tadi ia tahan
akhirnya menetes keluar.
“Mama
gak setega itu kan? Mama gak mungkin tega memalsukan surat wasiat Tante Sylvia,
kan? iya kan, Ma?”
“Alvin…
maafin Mama, Nak…” Metta berusaha menggapai wajah Alvin, tapi Alvin justru
memalingkan wajahnya sebelum Metta bisa menggapainya. Seketika perasaan Metta
langsung mencelos atas penolakan Alvin baru saja. “Mama bisa jelasin semuanya
sama kamu. Mama—Mama punya alasan, sayang….”
“Mama
emang harus menjelaskan semuanya sekarang. Alvin butuh penjelasan dan alasan,
kenapa Mama melakukan semua ini?”
“Alvin—“
“tapi…
sayangnya Alvin udah terlanjur denger semuanya. Sekarang, Alvin Cuma ingin
bertanya… apa yang Mama dapatkan dari semua ini? Apa Mama merasa senang karna
bisa memenuhi semua ambisi Mama? Iya?”
“kamu
bertanya apa yang Mama dapatkan dari semua ini? Hm?” sebulir airmata Metta menetes keluar bersama rasa menyesal yang
lambat ia sadari. Alvin tidak menjawab, dan tetap membuang wajahnya. “semua
yang kamu nikmati sekarang ini adalah hal yang Mama dapatkan dari semua ini.
Bukankah ada sebuah pengorbanan yang harus kita bayar untuk sebuah keinginan?”
Alvin
menggeleng mantap dan seakan menolak pernyataan Mamanya barusan. Alvin menyeka
airmatanya dengan kasar dan membuka sabuk pengaman ditubuhnya.
“Alvin
gak butuh kehidupan seperti ini kalau Mama mendapatkannya dari sebuah
pengorbanan yang tidak terpuji!”
“Alvin!”
“cukup
sampai disini, Ma! Mama bisa pulang sendiri, kan?”
Baru
saja Alvin keluar dari dalam mobil dan hendak melangkah pergi, perkataan Metta
justru mengehentikan langkahnya, “Mama gak tau dugaan Angel keliru atau justru
sebaliknya, tapi apapun bentuk hubungan yang sedang kamu jalani dengan Via
sekarang, tolong kamu hentikan! Mama gak mau kamu menjalin hubungan selain
hubungan sebagai seorang saudara dengan Via. Mengerti?”
Alvin
tidak menjawab. Ia justru melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang kian
hancur, kian remuk dan nyaris tidak berbentuk lagi. Airmata saja tidak akan
cukup untuk mewakili rasa sakit yang ia derita sekarang.
♫♫♫
Via
sedang sibuk berkutat dengan laptopnya saat tiba-tiba Alvin memasuki kamarnya
dan memeluknya dari belakang. Via yang terkesiap langsung menoleh dan
berhadapan langsung dengan wajah Alvin yang menatap hampa kedepan. “lo apaan
sih, Vin? Ngagetin aja!” protesnya sedikit kesal sembari berusaha melepaskan
pelukan Alvin, namun Alvin justru semakin erat memeluknya.
“sebentar
aja. Gue pengen kayak gini, sebentar aja”
Via
akhirnya mengalah. Ia tidak lagi berusaha untuk melepaskan pelukan Alvin. Tapi sikap
Alvin yang sangat ganjil ini benar-benar membuatnya merasa heran. Tidak biasanya
Alvin bersikap semanis ini padanya. “elo… baik-baik aja, kan?” tanyanya
sehati-hati mungkin, takut Alvin akan merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya
dan malah kembali bersikap dingin seperti biasanya.
Alvin
tidak berkata apapun. Ia hanya menghela napas panjang sebagai jawabannya. Pikirannya
hari ini benar-benar kacau. Ia seakan menemui jalan buntu disebuah lorong yang
gelap dan dingin. Alvin tidak berani membayangkan, bagaimana jika nanti Via
tahu bahwa Mamanya telah memalsukan surat wasiat Ibu kandungnya hanya untuk
menjalankan perintah Danar Ganendra. Bahkan untuk sekedar membayangkannya saja,
Alvin merasa takut. Pada akhirnya nanti, Via pasti akan sangat kecewa. Dan Alvin,
yang juga turut terlibat menyimpan sebuah rahasia besar menyangkut kehidupan
Via, tentu saja akan mendapatkan kebencian dan rasa kecewa yang serupa.
Sejak
awal pertama kedua orangtua nya memulai permainan ini, Alvin sudah dirancang
untuk tetap diam seumur hidupnya. Sekalipun ia sangat ingin menyuarakan
segalanya, ia tetap tak kan bisa. Permasalahan yang sekarang ia hadapi sama
sekali tidak main-main, dan kebencian yang akan ia terima dari Via diakhir
cerita ini, adalah harga yang harus ia bayar atas kediamannya.
Beberapa
saat kemudian, Alvin melepaskan pelukannya dan segera mengambil posisi disofa
yang sejak tadi Via duduki. Mereka berdua duduk bersisian seraya saling menatap
kedalam mata masing-masing. Dan semakin jauh, Via semakin merasa bahwa memang
ada yang tidak beres dengan Alvin sekarang.
“gue
tanya sekali lagi, lo baik-baik aja, kan?”
Alvin
menggeleng pelan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
“kenapa?
Ada masalah apa? Lo mau cerita?”
‘lo pasti akan sangat sakit hati kalo gue
menceritakan semuanya…’ bathin Alvin. Ia meraih salah satu tangan Via,
berbaring dan merebahkan kepalanya dipangkuan gadis itu. Untuk sejenak Via
terpaku dan ingin melayangkan protes sekali lagi, tapi saat melihat Alvin yang
begitu nyaman tidur dipangkuannya, Via justru merasa tidak tega. Dengan perlahan
dan ragu-ragu, Via menggunakan satu tangannya yang bebas untuk membelai lembut
rambut Alvin, sementara tangan yang satunya lagi berada dalam genggaman erat
Alvin.
“sekarang…
gue akan menyampaikan sesuatu. Tapi… ada satu syarat yang harus lo penuhi!”
“a—apa?”
tanya Via takut-takut.
Alvin
lagi-lagi terdengar menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “jangan berkata
dan bertanya apapun. Setuju?”
Meski
ragu, toh pada akhirnya Via tetap mengangguk juga. Apapun yang terjadi, ia
harus bisa mempercayai Alvin. Alvinpun mengecup tangan Via yang berada dalam
genggamannya.
“untuk
kedepannya, kita berdua… sepertinya akan menghadapi masalah yang cukup berat. Dan
gak gampang buat kita untuk keluar dari masalah itu. Tapi seberat apapun
masalahnya, dan… sebesar apapun kesalahan yang gue lakuin, tolong untuk tetep
percaya sama gue”
“Vin—“
“berjanjilah
lo gak akan pernah ninggalin gue meski sebesar apapun kebencian lo sama gue. Berjanjilah
untuk tetap berada disisi gue sekalipun lo sangat membenci gue. Berjanjilah!”
Via
tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Tapi seperti syarat dari Alvin yang tadi
telah terlanjur ia penuhi, Via tidak akan bertanya dan berkata apapun. Ia hanya
perlu mempercayai Alvin dengan baik. Via pun mengangguk dan berujar pelan namun
terdengar mantap, “gue berjanji!”
Alvin
memejamkan mata untuk beberapa saat, dan perih itu semakin mengoyak bathinnya
tanpa ampun saat ia tiba pada sebuah keputusan yang nantinya akan membunuhnya
secara perlahan. Alvin tidak butuh waktu lama untuk berfikir lagi, karna semakin
lama ia berfikir, ia akan semakin merasa ragu dengan keputusan yang akan ia
ambil.
Jalannya
kini semakin gelap dan buntu. Ia benar-benar merasa sendirian, tersesat
diantara keragu-raguan juga ketakutan.
Setelah
memantapkan hatinya, Alvin lalu bangkit dan melepaskan tangan Via begitu saja.
ia berdiri tegak dihadapan gadis itu dan berusaha terlihat tegar meskipun
hatinya tidak melakukan hal yang sama. Alvin menatap tajam pada kedua mata
jernih itu. Pandangan matanya yang beberapa saat lalu terlihat lembut dan penuh
kasih kini berubah menjadi dingin.
“kita
berhenti saja sampai disini!”
Hening.
Dunia seakan berhenti berputar, detak waktu terasa membeku dan dengan telak
memukul dada Via, tanpa ampun.
“A—Alvin?
Ma—maksud lo apa?”
“kita
selesai! Anggap saja ini akhir dari cerita kita. Dan lo harus belajar satu hal…
bahwa gak semua cerita berakhir happy
ending”
Sebelum
perasaannya semakin hancur, Alvin memilih untuk segera pergi dari hadapan Via
tanpa menoleh sedikitpun. Sementara Via, ia hanya membisu ditempatnya dengan
airmata yang perlahan menetes keluar, membasahi wajahnya. Lidahnya seolah kelu,
dan kedua kakinya seperti mati rasa. Ia yang tadinya ingin menyerukan nama
Alvin dan mengejarnya justru merasa sangat tidak berdaya sekarang.
Alvin
telah membangunkannya secara paksa dari mimpi indahnya. Dan sejak awal, Alvin
seharusnya tidak memberikannya mimpi indah jika harus berakhir mengenaskan
seperti ini.
“lo
emang luar biasa Calvin Nicholas, luar biasa nyakitin gue!”
To Be Continued…



