Friday, July 24, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 13)






Jika harus berakhir dengan cara yang menyakitkan, sejak awal kau seharusnya tidak memberikanku mimpi indah. Kau yang membawaku kedalam lautan mimpi indah yang memabukan ini, kau jugalah yang membangunkan secara paksa dan sangat kejam.”



♫♫♫


            Tawa Alvin dan Via pada senja itu seolah menjadi backsound kebersmaan mereka. Mereka berdua tampak bahagia dan begitu serasi memainkan bola ditengah lapangan. Sekolah sudah cukup sepi, hanya ada mereka berdua dilapangan itu, memperebutkan bola dan berusaha memasukannya kedalam ring untuk mendapatkan poin.
            Entah apa yang ada dipikiran Alvin hari ini, setelah melewati mata ujian terakhir, ia menahan Via disekolah. Awalnya Via hanya menunggu Alvin yang sedang berlatih basket dengan kawan-kawannya, tapi setelah latihan usai, Alvin justru menolak pulang dan menunggu semua kawan-kawannya pulang terlebih dahulu. Saat sore tiba, ketika semua warga SMA Patuh Karya mengosongkan sekolah, Alvin tiba-tiba saja mengajak Via bermain basket berdua. Hanya berdua. Banyak yang mengatakan kalau pacar ‘rahasia’ nya ini jago basket, dan senja ini Alvin ingin membuktikannya dan menguji sejauh apa kemampuan gadis ini.
            “kata anak-anak lo jago basket. Kalo gitu… lawan gue sekarang!” Alvin mem-passing bola itu kearah Via sesaat sebelum mereka bermain. Via yang terkesiap kontan saja menangkap umpan Alvin dan berdiri dengan tatapan bingung.
            “gue udah cukup lama gak main” jawab Via apa adanya.
            Salah satu alis Alvin terangkat, “lama gak main bukan berarti lo lupa caranya, kan? one on one?” tantangnya lagi dengan nada nya yang selalu terdengar angkuh. Via tersenyum miring saat ia merasa mulai tertantang.
            “gak usah sombong, Alv! Karna lo…” Via menggantungkan kalimatnya dan melangkah dengan yakin mendekati Alvin, “karna lo gak akan menang ngelawan gue” lanjutnya kemudian.
            Alvin mendengus. Sementara Via sudah lebih dulu ketengah lapangan, memulai permainanya dengan lincah. “hati-hati lo pake rok!” ujar Alvin memperingatkan yang sebenarnya hanya untuk mengintimidasi Via saja.
            “udah biasa main pake rok!” balas Via dengan sengit. Dalam sekejap Via melakukan lay up dan memasukan bola yang sejak tadi berada dalam genggamannya dengan santainya.
            Untuk sedetik Alvin terkesima. Ternyata gadis ini boleh juga. Pikirnya.
            Via menangkap bola yang memantul kearahnya lalu mendribble-nya. Ia tersenyum dan menatap Alvin dengan pandangan menantang.
            Pada awal-awal permainan, Alvin membiarkan Via merasa berada diatas angin. Via terus memasukan bola kedalam ring tanpa perlawanan yang berarti dari Alvin. Sadar bahwa saat ini Alvin sedang meremehkannya, ia lantas menghalangi Alvin yang sedang mendribble seraya berkata, “udah gue bilang kan tadi? Jangan sombong!”
            “sayangnya… gue emang udah sombong dari lahir” jawab Alvin dengan tenang. Ia lalu mencondongkan wajahnya kearah Via yang sedang berusaha mati-matian menjangkau bola dari cengkramannya. Via sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan Alvin lakukan sampai tiba-tiba Alvin mengecup lembut bibirnya dalam sedetik. Seolah-olah tidak merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan barusan, Alvin pun melakukan pivot untuk menyelamatkan bola itu dari jangkauan Via. Salah satu kakinya berputar, sementara kaki yang satunya lagi ia jadikan sebagai poros, dan dalan sekejab mata, bola itu sudah memasuki ring dengan sempurna. Alvin serta-merta bersorak, sementara Via, ia masih terpaku ditempatnya semula sambil menyentuh bibirnya.
            Alvin tersenyum miring. Entah untuk yang keberapa kalinya, ia merasa menang karna berhasil mencuri satu ciuman lagi dari gadisnya yang polos ini.
            Tanpa mereka tahu, ternyata masih ada satu orang yang tersisa dan menyaksikan semua hal yang mereka lakukan sejak tadi. Cakka bersembunyi dibalik salah satu pilar dengan perasaan hancur-lebur. Setelah ia mengetahui semua kenyataan dan rahasia dibalik kehidupan Via selama ini, Cakka akhirnya mengerti alasan kenapa Via menolak perasaannya dan selalu bersikap dingin terhadapnya.
            Dan apa yang sedang ia saksikan sekarang ini, adalah jawaban dari jutaan pertanyaan yang selama ini membelitnya. Jutaan pertanyaan rumit yang selama ini menghantui pikirannya ternyata hanya memiliki satu jawaban saja; ALVIN.
            Via menyayangi Alvin. Via lebih memilih Alvin dan sekarang… mereka sedang berpacaran.
            Cakka lalu melangkah pergi, dan meninggalkan serpihan hatinya jauh-jauh dibelakang. Bagi Cakka, ada hal yang lebih penting dari semua ini.
            Kesakitan dan kehancuran hatinya saat ini bukan akhir dari segalanya. Cakka justru akan kembali berjuang. Ia yakin, Via hanya miliknya. Apapun yang terjadi, ia akan tetap bertahan dengan segala keyakinan yang ia miliki.

“aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku
Tak kan terjadi, yang aku tahu kau hanya untukku
aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku
Yang aku tahu kau hanya untukku”   (Rio Febrian ~ Aku Bertahan)
                                                                                        


♫♫♫

The Arion’s CafĂ©

            Setelah latihannya usai, Gabriel langsung menjemput Shilla kerumahnya tanpa pulang terlebih dahulu. Ia merasa perlu bicara  setelah melihat dari bagaimana cara Shilla bersikap selama seminggu terakhir ini terhadap Ify. Beberapa kali, Gabriel sering memergoki Shilla berusaha menghindari Ify. Shilla juga sama sekali tidak mengacuhkan Ify saat Ify mengajaknya berbicara. Dan Gabriel, merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan itu.
            “aku denger-denger, kamu masih gak ngomong sama Ify. Bener, kan?” tanya Gabriel saat dirinya dan Shilla sudah duduk berhadapan disatu meja yang sama.
            Shilla mendesah pelan. “jadi kamu nyulik aku kesini, Cuma untuk nanyain hal gak penting itu?”
            Gabriel terkesiap. Ia sungguh sangat tidak terima dengan apa yang baru saja Shilla ucapkan. “hal gak penting?” tanyanya skeptic. Gabriel mengusap wajah frustasi setelah sebelumnya ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Baru saja Gabriel akan melanjutkan perkataannya, Shilla malah mendahuluinya,
            “kenapa semua orang selalu berpihak sama Ify? Aku pikir, kamu bakalan tetep berdiri dibelakang aku, tapi ternyata… aku salah. Kamu sama aja kayak yang lain. Kenapa? Kamu juga suka sama Ify? Iya?
            “ASHILLA!” Tukas Gabriel dengan keras. Dalam sekejab Shilla langsung terdiam.
            “satu hal yang aku bener-bener gak suka dari kamu, kamu… selalu gak bisa jaga ucapanmu. Kamu selalu berkata seenaknya tanpa berpikir terlebih dahulu”
            Shilla tersenyum miris seraya menganggukan kepalanya beberapa kali. Sekarang, ia merasa sangat kasihan dan menyedihkan. Bahkan seorang Gabriel Fabian Ganendra, yang sangat ia percayai tidak sudi membelanya.
            “kamu juga musti tahu, Shill. Aku… aku gak akan pernah berdiri didepan kamu, karna aku gak akan memimpin langkah kamu, aku juga gak akan pernah berdiri dibelakang kamu, karna aku gak akan ngikutin kamu. Aku? Aku Cuma akan berdiri disamping kamu, aku akan melangkah sejajar sama kamu, dan aku akan menegur kamu disaat kamu salah. Kamu sadar, bahwa apa yang kamu lakukan sekarang ini… adalah sebuah kesalahan fatal”
            “jadi sekarang kamu juga mau nyalahin aku? Hm?”
            “karna kamu memang salah dan patut buat disalahkan Ashilla! Kamu tau dan sadar kalau Rio dan Ify saling menyayangi satu sama lain, tapi kamu terus-terusan berusaha buat menyangkal semuanya. Kamu gak seharusnya seperti ini!”
            Shilla terdiam untuk beberapa lama. Meski sulit, ia berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang Gabriel lemparkan. “apa aku gak berhak bahagia, Yel? Aku… aku juga sayang sama Rio, aku… aku juga pengen ada diposisi Ify sekarang, aku—“
            “tapi Rio gak punya perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasain”
            “tapi setidaknya aku harus berusaha, kan?”
            “dengan cara konyol seperti ini?!” bentak Gabriel yang sudah merasa tidak sabar lagi.
            “Yel—“
            “apa kamu mau aku tunjukin cara yang seharusnya kamu lakuin sekarang?” tanya Gabriel yang masih diliputi oleh luapan emosi.
            “karna aku udah gak punya cara lain lagi, jadi… katakan cara apa yang harus aku lakuin?” tanya Shilla kembali sambil berusaha menahan getaran pada nada bicaranya. Rasanya, ia ingin menangis sekarang juga. Hatinya sudah benar-benar lelah menanggung semua ini.
            Gabriel menatap kedua mata jernih Shilla untuk memastikan sesuatu. Tidak lama ia mengangguk pelan dan berujar.

            “lupain Rio, dan belajar untuk menyayangi aku lagi, karena aku… masih sayang sama kamu…”

            “Ga—Gabriel?”



♫♫♫


            “Ma…” panggil Angel saat dirinya dan Metta sedang bersantai ditepi kolam renang. Metta yang ketika itu sedang focus membaca sebuah majalah menyahut pelan tanpa mengalihkan perhatiannya.
            “iya, sayang?”
            “eeemm… Kak Alvin sama Kak Via pacaran, ya?” tanya Angel yang terlihat ragu. Metta yang kaget serta-merta menghentikan aktifitas membacanya. Metta menggeleng beberapa kali dan berusaha menepis semua pikiran anehnya.
            “kenapa Angel bisa berpikir kayak gitu?” Metta kembali membaca majalahnya meski fokusnya sudah terpecah-belah.
            “semenjak Angel pulang dari asrama, Angel ngelihat Kak Alvin dan Kak Via itu dekeeeet banget. Angel inget banget, dulu sebelum Angel ke asrama, Kak Alvin cuek gitu sama Kak Via, tapi kok sekarang beda?”
            “wajar dong mereka deket, yaa… kayak kamu deket sama Kak Via juga. Kalian kan… udah jadi saudara”
            “ya iya sih, Ma. Tapi… deketnya tuh beda, dan Angel bisa ngerasain”
            Cukup! Metta sudah tidak tahan lagi. Ia menutup majalahnya dengan kasar dan menatap Angel dalam-dalam. “enough, Angel! Kamu masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang berat seperti ini. Nikmati liburanmu dengan tenang dan berhenti berpikir yang tidak-tidak, oke?”
            “tapi, Ma—“
            “Mama bilang cukup, Angel! Mama capek. Mama mau istirahat. Nanti kalo Kak Alvin pulang, suruh langsung nemuin Mama diruang kerja. Dan… jangan pernah sekalipun sampaikan pemikiran kamu yang gak logis ini ke Papa, mengerti?”
            “i—iya, Ma…” jawab Angel seraya menunduk dalam.
            Baru saja Metta bangkit dari kursi malasnya, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk ke nomernya. Untuk sejenak Metta membeku melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengan sahabat lamanya ini, tapi Metta selalu menyimpan nomer itu dengan rapi diponselnya. Ragu-ragu Metta mengangkatnya…

            “ha—hallo Yashinta?”



♫♫♫

Alvianoszta Café

            Arloji dipergelangan tangan Yashinta sudah menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Pada jam tujuh tepat, ia memiliki janji untuk bertemu dengan Metta di cafĂ© ini, cafĂ© yang dulu sering mereka kunjungi bersama Sylvia dan Adryan saat mereka masih kuliah.
            Meskipun dulu begitu dekat, hubungan persahabatan Yashinta dan Metta sedikit terganggu dan akhirnya merenggang setelah Yashinta melarikan diri ke Jepang selama bertahun-tahun lamanya. Sejak itu, mereka tidak pernah lagi saling berkomunikasi meskipun anak-anak mereka bersahabat sangat dekat satu sama lain. Entah siapa yang lebih dulu membentang sekat diantara mereka. Entah sejak kapan komunikasi diantara mereka mulai terputus, tapi yang pasti, saat ini Yashinta butuh penjelasan Metta atas beberapa fakta mencengangkan yang ia temukan belakangan ini.
            Jam tujuh tepat, Metta akhirnya menampakan diri. Ia terlihat mengedarkan pandangannya kesagala arah untuk mencari sosok Yashinta. Untuk sejenak Yashinta tertegun, ini bukan kali pertamanya ia melihat Metta setelah hubungan mereka mulai merenggang, ia beberapa kali pernah melihat dan bahkan bertemu, tapi seperti biasa, mereka bersikap seolah-olah tidak saling mengenal stu sama lain, seakan-akan cerita persahabatan mereka dimasa lalu hanyalah sebuah mimpi yang kemudian lenyap saat mereka terbangun.
            Yashinta lalu melambaikan tangannya kearah Metta yang langsung disambut oleh tatapan dari Metta. Metta pun melangkah dan duduk berhadapan dengan Yashinta.
            “sudah cukup lama, Metta. Kamu apa kabar?” tanya Yashinta beberapa saat kemudian.
            “baik. Kamu sendiri?” jawab Metta singkat yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan basa-basi.
            Yashinta tersenyum kecil, ia lalu menyesap capuchino dihadapannya dan menjawab, “seperti yang kamu lihat sekarang”
            Metta mengangguk beberapa kali. Tapi kemudian ia tiba-tiba teringat akan sesuatu, “setelah belasan tahun berlalu, ini kali pertamanya kamu menghubungi aku. Dan aku pikir… ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kamu tanyakan. Apa aku salah?” tanya Metta yang seakan bisa membaca isi kepala Yashinta.
            “kamu tidak pernah berubah, Metta! Kamu bahkan lebih pintar dari apa yang aku pikirkan”
            “langsung saja” jawab Metta dingin.
            Yashinta terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah amplop coklat dengan logo ‘Sorano Corporation’ pada kop nya. Metta memperhatikan baik-baik amplop itu. Entah kenapa ia mulai merasakan sebuah firasat aneh. Ini pasti hal yang sangat serius dan tidak main-main, pikirnya.
            “belakangan ini... pikiranku sangat terusik dengan kehadiran seorang gadis bernama Gisselavia Garnetta. Cakka mengatakan, bahwa Via adalah saudara sepupu Alvin. Dan saat pertama kali Via memperkenalkan diri, aku merasa sangat sanksi, karna yang aku tahu, seorang Metta Indriani adalah puteri tunggal dari Hermawan Sugianto. Dan Adryan sendiri, hanya mempunyai satu saudara yang sekarang sedang melanjutkan studi nya di London. Sejauh yang aku tahu, saudara kandung dari Adryan masih berusia 25 tahun dan belum menikah. Lalu kemudian, satu pertanyaan ini begitu mengusik pikiranku secara terus-menerus, tanpa henti; siapa Gisselavia Garnetta? Dia anak dari siapa?”
            Metta terkejut bukan main. Ia bahkan belum melakukan antisipasi atas pertanyaan yang Yashinta ajukan sekarang. Yang ia tahu, Yashinta tidak akan mau repot-repot terlibat dalam masalah ini, mengingat bagaimana hubungan antara Yashinta dan Sylvia belasan tahun yang lalu. Metta berpikir, bahwa Yashinta benar-benar membenci Sylvia. Kenyataan itulah yang membuat Metta berani bertindak hingga sejauh ini. Alasan itu jugalah yang membuat Metta mati-matian menjaga jarak dari Yashinta selama belasan tahun lamanya.
            Meski pikirannya sudah sangat kacau sekarang, tapi Metta berusaha untuk tetap terlihat tenang. Ia tidak ingin cepat terprovokasi dengan keadaan ini.
            Yashinta terdengar menghela napas panjang, ia lalu mengeluarkan setumpuk kertas yang dijilid rapi dari dalam amplop itu.
            “mungkin selama ini kamu berpikir, bahwa aku sudah tidak peduli lagi dengan Sylvia, tapi kamu harus tahu… kamu salah besar, Metta Indriani!” Yashinta lalu menunjukan berkas itu pada Metta.
            “aku sudah mencari tahu semuanya, bukan hanya asal-usul Gisselavia Garnetta, tapi segala hal kecil menyangkut dia, tidak sedikitpun luput dari pencarianku. Tapi… ada satu hal yang paling menarik perhatianku sekarang…” Yashinta memotong perkataannya dan membuat Metta semakin merasa terpojokan. Yashinta tersenyum miring, tidak lama ia lalu melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat ia hentikan. “aku tidak tahu, kamu, Adryan, dan… Danar Ganendra punya alasan apa dibalik semua ini, tapi dari semua bukti-bukti yang aku kumpulkan ini, aku tahu… bahwa kamu memalsukan surat wasiat Sylvia dan mengadopsi Gissel atas perintah langsung dari Danar Ganendra. Iya, kan?”
            Metta mencengkram kuat-kuat tangannya. Ia tidak akan membiarkan semua usahanya berakhir sia-sia hanya karna Yashinta. Apapun akan Metta lakukan untuk mempertahankan apa yang ia dapatkan sekarang. Dan Yashinta, atau siapapun, tidak akan pernah bisa menghentikannya. Tidak setelah ia menghalalkan segala cara demi mencapai semua ambisinya.
            “kamu sangat cerdik, Shinta! Dan kamu sangat lihai bersembunyi dibalik keangkuhan juga ketidakpedulianmu. Dan aku lupa dengan semua kenyataan itu karna terlalu terlena dengan ambisi-ambisiku selama ini, aku sadar sekarang… bahwa melupakan kenyataan itu adalah kesalahan terfatal yang pernah aku lakukan seumur hidupku.”
            “lalu?”
            “aku akui, Sylvia memang tidak pernah memintaku untuk mengadopsi Via, dan aku akui, aku memalsukan surat itu atas bantuan dari Danar Ganendra. Tapi kamu harus ingat, bahwa semua hal yang aku lakukan itu, tidak sedikitpun dengan niat untuk melukai Via dengan sengaja. Sekeras apapun kamu mencari tahu, kamu tidak akan bisa menyangkal fakta itu, Yashinta, kamu—“
            “tapi Sylvia tidak ingin Gissel hidup dalam jangkauan Kakeknya. Kamu tahu itu!” Yashinta mulai terpancing emosi.
            “ATAS ALASAN APA?” Tanya Metta keras sambil menatap Yashinta dengan tajam. “aku tanya, atas alasan apa Sylvia tidak ingin Via hidup dalam jangkauan Kakeknya?”
            Yashinta mendengus dan menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “kamu masih tanya alasannya setelah kita semua tahu apa penyebabnya? Danar Ganendra tidak pernah menginginkan kehadiran Gissel sekalipun, ia bahkan mengusir dan memaksa Sylvia dan Gissel untuk pergi dari kehidupan Geraldy dan Gabriel. Kamu pikir, alasan itu tidak cukup kuat?! Jangan terlalu naĂŻf, Metta!”
            “lalu kamu? Apa yang kamu lakukan saat tahu semua itu? Kamu hanya berdiam diri? Tidak… sepertinya aku salah” Metta tertawa meledek disela perkataannya, “kamu bahkan baru tahu sekarang. Kamu harus sadar, Shinta… kamu sudah terlalu terlambat untuk peduli, dan semua apa yang kamu lakukan sekarang adalah sia-sia”
            Kali ini Yashinta tercengang. “terus terang… Danar Ganendra membayar mahal atas semua yang aku lakukan ini. Tapi Danar Ganendra melakukan semua ini hanya semata-mata untuk menebus semua kesalahannya. Ia mungkin tidak bisa mengambalikan masa lalu dan memperbaiki semuanya, tapi setidaknya… ia ingin membayar atas semua hal yang ia lakukan dimasa lalu”
            “tapi demi Tuhan cara ini salah, Metta. Kalaupun Danar Ganendra ingin membayar semuanya, kenapa ia tidak langsung muncul dan mengadopsi Gissel sendiri? kenapa ia harus menjadikan kamu dan Adryan sebagai tameng? kenapa… kenapa kalian semua harus menipu Gissel? Kalian pikir semua ini tidak akan menyakiti Gissel pada akhirnya nanti? Iya?”
            Giliran Metta yang terdiam. Ia tampak berpikir.
            “aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu, Shinta! Aku… aku hanya mengikuti perintah dari Danar Ganendra”
            “untuk apa?”
            “saat itu perusahaan Ayahku nyaris bangkrut. Kami terlilit hutang yang akhirnya juga berdampak pada perusahaan Adryan. Lalu tiba-tiba… Danar Ganendra datang mengulurkan tangannya. Ia memintaku dan Adryan melakukan semua ini. Aku tidak langsung menerima. Sylvia adalah sahabatku, mana mungkin aku tega menghianatinya? Tapi keadaan kami semakin terjepit karna Danar Ganendra terus-terusan menekan kami dari segala arah. Hingga akhirnya, aku menyetujui syarat yang diajukan oleh Danar Ganendra. Aku melakukan semua yang ia perintahkan, dan sebagai bayarannya… aku mendapatkan segala yang aku inginkan dan memenuhi semua ambisiku, bahkan hingga detik ini…”

            “aku punya satu pertanyaan lagi.” ucap Yashinta, kali ini nada bicaranya terdengar sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
            “apa?”
            “apa tidak ada sedikitpun ketulusan dihatimu saat kamu mengangkat Gissel sebagai anakmu? Apa semua ini kamu lakukan murni hanya demi memenuhi semua ambisimu? Iya?”

            Metta tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab, “entahlah… yang pasti, aku mulai menikmati peranku sebagai  Mama dari seorang Gissella Fania Ganendra…”


♫♫♫

            Saat Alvin kembali dari sekolah, Angel langsung menyampaikan pesan dari Mamanya yang meminta Alvin untuk segera menjemput Metta di Alvianoszta CafĂ©. Mobil milik Metta sedang masuk bengkel, sementara supir yang sehari-hari mengantar-jemputnya sedang jatuh sakit. Jadi, Alvin lah yang bertanggung jawab untuk menjemput Mamanya. Tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dahulu, Alvin segera berangkat menjemput Mamanya.
            Alvin tiba dicafe lima belas menit kemudian. Tanpa menghubungi Mamanya terlebih dahulu, Alvin langsung memasuki cafĂ©. Tapi langkah Alvin kemudian terhenti secara tiba-tiba saat melihat Mamanya sedang duduk berhadapan dengan Bunda Cakka. Merasa ada yang tidak beres dengan gelagat kedua wanita yang dulunya pernah menjadi sahabat itu, Alvin melangkah lebih dekat dan bersembunyi pada salah satu pilar untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
            Dan apa yang Alvin dengarkan, sangat menghancur-leburkan hatinya saat ini. Kontan saja perasaannya hancur ditempat ketika mengetahui bahwa ternyata Mamanya yang begitu ia hormati memalsukan surat wasiat Almarhum Mama Via. Dan semua itu ia lakukan hanya demi… menyelamatkan perusahaan Kakeknya yang nyaris bangkrut juga demi ambisi-ambisi Mamanya.
            Alvin mendadak merasakan kedua kakinya lemas. Ia bahkan hampir tidak sanggup berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Mendapati bahwa Mamanya adalah seorang penipu yang ulung adalah hal yang sangat sulit untuk bisa Alvin terima.
            Airmatanya nyaris  berdesakan keluar jika saja Alvin tidak berusaha menahannya. Ia lalu memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Kenyataan ini benar-benar membuatnya sulit bernapas.
            Alvin serta-merta melangkah keluar cafĂ© saat melihat Mamanya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dengan langkah yang cukup cepat. Tidak ingin Mamanya mengetahui bahwa ia telah mendengar semuanya, Alvinpun berlari dan menunggu Mamanya didalam mobil. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.
            Metta membuka pintu mobil dan duduk disisi Alvin dengan tenang.
            “Ma—Mama udah selese?” tanya Alvin pelan.
            Metta hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. “Mama baik-baik aja?” tanya Alvin –lagi-. Sekali lagi Metta hanya mengangguk dan meminta Alvin untuk segera menyetir mobilnya. Saat ini Metta benar-benar ingin pulang dan beristirahat.
            Setengah perjalanan mereka habiskan dalam hening. Metta bahkan sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Alvin menatap Mamanya beberapa kali sembari mencengkram erat setirnya. Detik ini juga, ada jutaan pertanyaan yang ingin Alvin tanyakan pada wanita yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya ini.
           
            “kenapa Mama melakukan semua ini?” pertanyaan itu akhirnya terlontar begitu saja setelah Alvin berusaha mati-matian menahan dirinya.
            Metta terkesiap dan buru-buru menoleh kearah Alvin, ragu-ragu ia bertanya, “ma—maksud kamu?”
            “maafin Alvin sebelumnya karna udah lancang, Ma. Tapi… Alvin denger semua obrolan Mama dan Tante Shinta tadi”
            “a—apa? Kamu…”
            Alvin menepikan mobilnya dan langsung berhenti. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes keluar.

            “Mama gak setega itu kan? Mama gak mungkin tega memalsukan surat wasiat Tante Sylvia, kan? iya kan, Ma?”
            “Alvin… maafin Mama, Nak…” Metta berusaha menggapai wajah Alvin, tapi Alvin justru memalingkan wajahnya sebelum Metta bisa menggapainya. Seketika perasaan Metta langsung mencelos atas penolakan Alvin baru saja. “Mama bisa jelasin semuanya sama kamu. Mama—Mama punya alasan, sayang….”
            “Mama emang harus menjelaskan semuanya sekarang. Alvin butuh penjelasan dan alasan, kenapa Mama melakukan semua ini?”
            “Alvin—“
            “tapi… sayangnya Alvin udah terlanjur denger semuanya. Sekarang, Alvin Cuma ingin bertanya… apa yang Mama dapatkan dari semua ini? Apa Mama merasa senang karna bisa memenuhi semua ambisi Mama? Iya?”
            “kamu bertanya apa yang Mama dapatkan dari semua ini? Hm?” sebulir airmata Metta  menetes keluar bersama rasa menyesal yang lambat ia sadari. Alvin tidak menjawab, dan tetap membuang wajahnya. “semua yang kamu nikmati sekarang ini adalah hal yang Mama dapatkan dari semua ini. Bukankah ada sebuah pengorbanan yang harus kita bayar untuk sebuah keinginan?”
            Alvin menggeleng mantap dan seakan menolak pernyataan Mamanya barusan. Alvin menyeka airmatanya dengan kasar dan membuka sabuk pengaman ditubuhnya.
            “Alvin gak butuh kehidupan seperti ini kalau Mama mendapatkannya dari sebuah pengorbanan yang tidak terpuji!”
            “Alvin!”
            “cukup sampai disini, Ma! Mama bisa pulang sendiri, kan?”
            Baru saja Alvin keluar dari dalam mobil dan hendak melangkah pergi, perkataan Metta justru mengehentikan langkahnya, “Mama gak tau dugaan Angel keliru atau justru sebaliknya, tapi apapun bentuk hubungan yang sedang kamu jalani dengan Via sekarang, tolong kamu hentikan! Mama gak mau kamu menjalin hubungan selain hubungan sebagai seorang saudara dengan Via. Mengerti?”

            Alvin tidak menjawab. Ia justru melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang kian hancur, kian remuk dan nyaris tidak berbentuk lagi. Airmata saja tidak akan cukup untuk mewakili rasa sakit yang ia derita sekarang.


♫♫♫

            Via sedang sibuk berkutat dengan laptopnya saat tiba-tiba Alvin memasuki kamarnya dan memeluknya dari belakang. Via yang terkesiap langsung menoleh dan berhadapan langsung dengan wajah Alvin yang menatap hampa kedepan. “lo apaan sih, Vin? Ngagetin aja!” protesnya sedikit kesal sembari berusaha melepaskan pelukan Alvin, namun Alvin justru semakin erat memeluknya.
            “sebentar aja. Gue pengen kayak gini, sebentar aja”
            Via akhirnya mengalah. Ia tidak lagi berusaha untuk melepaskan pelukan Alvin. Tapi sikap Alvin yang sangat ganjil ini benar-benar membuatnya merasa heran. Tidak biasanya Alvin bersikap semanis ini padanya. “elo… baik-baik aja, kan?” tanyanya sehati-hati mungkin, takut Alvin akan merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya dan malah kembali bersikap dingin seperti biasanya.
            Alvin tidak berkata apapun. Ia hanya menghela napas panjang sebagai jawabannya. Pikirannya hari ini benar-benar kacau. Ia seakan menemui jalan buntu disebuah lorong yang gelap dan dingin. Alvin tidak berani membayangkan, bagaimana jika nanti Via tahu bahwa Mamanya telah memalsukan surat wasiat Ibu kandungnya hanya untuk menjalankan perintah Danar Ganendra. Bahkan untuk sekedar membayangkannya saja, Alvin merasa takut. Pada akhirnya nanti, Via pasti akan sangat kecewa. Dan Alvin, yang juga turut terlibat menyimpan sebuah rahasia besar menyangkut kehidupan Via, tentu saja akan mendapatkan kebencian dan rasa kecewa yang serupa.
            Sejak awal pertama kedua orangtua nya memulai permainan ini, Alvin sudah dirancang untuk tetap diam seumur hidupnya. Sekalipun ia sangat ingin menyuarakan segalanya, ia tetap tak kan bisa. Permasalahan yang sekarang ia hadapi sama sekali tidak main-main, dan kebencian yang akan ia terima dari Via diakhir cerita ini, adalah harga yang harus ia bayar atas kediamannya.
            Beberapa saat kemudian, Alvin melepaskan pelukannya dan segera mengambil posisi disofa yang sejak tadi Via duduki. Mereka berdua duduk bersisian seraya saling menatap kedalam mata masing-masing. Dan semakin jauh, Via semakin merasa bahwa memang ada yang tidak beres dengan Alvin sekarang.
            “gue tanya sekali lagi, lo baik-baik aja, kan?”
            Alvin menggeleng pelan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
            “kenapa? Ada masalah apa? Lo mau cerita?”
            ‘lo pasti akan sangat sakit hati kalo gue menceritakan semuanya…’ bathin Alvin. Ia meraih salah satu tangan Via, berbaring dan merebahkan kepalanya dipangkuan gadis itu. Untuk sejenak Via terpaku dan ingin melayangkan protes sekali lagi, tapi saat melihat Alvin yang begitu nyaman tidur dipangkuannya, Via justru merasa tidak tega. Dengan perlahan dan ragu-ragu, Via menggunakan satu tangannya yang bebas untuk membelai lembut rambut Alvin, sementara tangan yang satunya lagi berada dalam genggaman erat Alvin.
            “sekarang… gue akan menyampaikan sesuatu. Tapi… ada satu syarat yang harus lo penuhi!”
            “a—apa?” tanya Via takut-takut.
            Alvin lagi-lagi terdengar menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “jangan berkata dan bertanya apapun. Setuju?”
            Meski ragu, toh pada akhirnya Via tetap mengangguk juga. Apapun yang terjadi, ia harus bisa mempercayai Alvin. Alvinpun mengecup tangan Via yang berada dalam genggamannya.
            “untuk kedepannya, kita berdua… sepertinya akan menghadapi masalah yang cukup berat. Dan gak gampang buat kita untuk keluar dari masalah itu. Tapi seberat apapun masalahnya, dan… sebesar apapun kesalahan yang gue lakuin, tolong untuk tetep percaya sama gue”
            “Vin—“
            “berjanjilah lo gak akan pernah ninggalin gue meski sebesar apapun kebencian lo sama gue. Berjanjilah untuk tetap berada disisi gue sekalipun lo sangat membenci gue. Berjanjilah!”
            Via tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Tapi seperti syarat dari Alvin yang tadi telah terlanjur ia penuhi, Via tidak akan bertanya dan berkata apapun. Ia hanya perlu mempercayai Alvin dengan baik. Via pun mengangguk dan berujar pelan namun terdengar mantap, “gue berjanji!”
            Alvin memejamkan mata untuk beberapa saat, dan perih itu semakin mengoyak bathinnya tanpa ampun saat ia tiba pada sebuah keputusan yang nantinya akan membunuhnya secara perlahan. Alvin tidak butuh waktu lama untuk berfikir lagi, karna semakin lama ia berfikir, ia akan semakin merasa ragu dengan keputusan yang akan ia ambil.
            Jalannya kini semakin gelap dan buntu. Ia benar-benar merasa sendirian, tersesat diantara keragu-raguan juga ketakutan.
            Setelah memantapkan hatinya, Alvin lalu bangkit dan melepaskan tangan Via begitu saja. ia berdiri tegak dihadapan gadis itu dan berusaha terlihat tegar meskipun hatinya tidak melakukan hal yang sama. Alvin menatap tajam pada kedua mata jernih itu. Pandangan matanya yang beberapa saat lalu terlihat lembut dan penuh kasih kini berubah menjadi dingin.
            “kita berhenti saja sampai disini!”
            Hening. Dunia seakan berhenti berputar, detak waktu terasa membeku dan dengan telak memukul dada Via, tanpa ampun.
            “A—Alvin? Ma—maksud lo apa?”

            “kita selesai! Anggap saja ini akhir dari cerita kita. Dan lo harus belajar satu hal… bahwa gak semua cerita berakhir happy ending
            Sebelum perasaannya semakin hancur, Alvin memilih untuk segera pergi dari hadapan Via tanpa menoleh sedikitpun. Sementara Via, ia hanya membisu ditempatnya dengan airmata yang perlahan menetes keluar, membasahi wajahnya. Lidahnya seolah kelu, dan kedua kakinya seperti mati rasa. Ia yang tadinya ingin menyerukan nama Alvin dan mengejarnya justru merasa sangat tidak berdaya sekarang.
            Alvin telah membangunkannya secara paksa dari mimpi indahnya. Dan sejak awal, Alvin seharusnya tidak memberikannya mimpi indah jika harus berakhir mengenaskan seperti ini.

            “lo emang luar biasa Calvin Nicholas, luar biasa nyakitin gue!”





To Be Continued…

Monday, July 13, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 12B)














27 Desember, 1999

            Geraldy pulang kerumahnya dalam keadaan kalut saat ia mendengar kabar bahwa Sylvia membawa Gissel pergi dari rumah itu. Salah satu asisten kepercayaannya memberitahukan prihal kepergian Sylvia yang seakan tanpa alasan yang pasti itu.
            Geraldy segera memasuki kamar mereka, dan seperti apa yang ia pikirkan selama diperjalanan tadi, kamar itu kosong. Kali ini Geraldy memasuki kamar Gabriel dan Gissel, hasilnya sama, Sylvia dan Gissel tidak disana. Geraldy hanya melihat Gabriel yang sedang tertidur pulas. Geraldy lalu melangkah perlahan mendekati tempat tidur Gabriel dengan kedua matanya yang sudah memerah menahan tangis.
            Tepat disamping Gabriel kecil berbaring, Geraldy menemukan sepucuk surat yang nampaknya belum lama ditinggalkan. Sebelum membaca, Geraldy sudah tahu bahwa Sylvia lah yang meninggalkan surat itu disana. Lalu dengan tangan gemetar, Geraldy meraih sepucuk surat itu dan membacanya:

Geraldy, suamiku…

            Maaf aku pergi dengan cara seperti ini. Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain harus… berhenti sampai disini.
            Ada atau tidak ada aku dihidupmu, tolong untuk tetap melanjutkan hidupmu, setidaknya demi jagoan kecil kita, teruslah bertahan.

Sylvia-

            Ya, isi surat itu bahkan sangat singkat. Sylvia tidak menyebutkan apa alasannya untuk memilih mundur dan akhirnya menyerah. Tapi satu yang pasti Geraldy tahu, dibalik kepergian Sylvia ini, Papa nya pasti turut andil menjadi actor utamanya. Dengan perasaan remuk redam, Geraldy meremas surat itu. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya berdesakan keluar.
            Dan sejak hari itu, hari dimana Sylvia pergi, hidup Geraldy benar-benar hancur. Ia merasa kehilangan separuh nyawanya. Tapi Geraldy tidak ingin terus terlarut dalam kehancurannya. Geraldy tentu tidak akan mendapatkan apapun jika ia terus berdiam diri seperti yang ia lakukan sekarang.
            Maka satu minggu setelah kepergian Sylvia, Geraldy memutuskan untuk pergi ke Lombok dan mencari Sylvia. Tapi setibanya disana, Geraldy justru tidak mendapatkan apapun. Rumah milik kedua orangtua Sylvia telah kosong. Geraldy yang sudah putus asa dan frustasi bersimpuh didepan gerbang rumah Sylvia yang sederhana itu. Ia menangis bisu seraya memegangi dadanya yang terasa sesak.
            Salah seorang yang Geraldy kenal, yang juga merupakan teman akrab Sylvia di Lombok melihat Geraldy menangis didepan rumah Sylvia. Wanita itu terlihat tidak tega, ia memang tidak tahu banyak, tapi entah kenapa ia sangat ingin membantu Geraldy mengingat dari bagaimana hancurnya Sylvia sesaat sebelum ia meninggalkan pulau Lombok. Kehancuran Geraldy sekarang membuatnya mengingat akan kehancuran Sylvia saat ia pamit tepatnya beberapa hari yang lalu. Pada kenyataannya, Sylvia dan Geraldy sama-sama hancur.
            “Mas Aldy…” sapa wanita itu seraya menyentuh pelan pundak Geraldy yang bergetar. Geraldy menghentikan tangisnya untuk beberapa saat dan menoleh kebelakang.
            “Nisa?” panggilnya saat melihat wajah yang ia kenal itu.
            “saya tidak tahu tepatnya dimana, saya juga tidak tahu alamatnya, tapi sekarang… Sylvia dan Ibu Marlita ada di Singapore…”

            “Singapore?”



♣♣♣

Singapore, 2000

            Dengan begitu mudahnya, dan hanya dalam waktu dua hari saja, Geraldy bisa menemukan alamat Sylvia di Singapore. Dan saat ini, Geraldy sedang berdiri depan sebuah rumah minimalis disalah satu komplek perumahan yang terdapat di kota pinggiran diwilayah itu. Geraldy menatap nanar kearah rumah itu, bahkan sebelum mendapatkan penjelasan apapun dari Sylvia, Geraldy tahu, bahwa pasti Ayahnya sendiri yang tega mengirim Sylvia kekota ini.
            10 menit berlalu, gerbang didepan Geraldy sekarang perlahan terbuka dan menampakan Sylvia dengan pakaian kerjanya membuka gerbang. Sylvia kaget setengah mati saat melihat suaminya yang Nampak kurusan sejak mereka terakhir kali bertemu. Penampilan Geraldy juga terlihat sedikit tak terawat. Melihat penampilan lain dari suaminya yang biasanya tampak sempurna, membuat Sylvia terenyuh. Rasa bersalah itu kembali menghinggapi dadanya.
            “jadi disini kamu sembunyi?” tanya Geraldy singkat. Beberapa saat setelahnya, Geraldy langsung tersenyum miris.
            “ke—kenapa Papi bisa tahu?” tanya Sylvia sedikit terbata.
            “Sylvia! Kamu bisa sembunyi dari siapapun, tapi tidak dariku. Kamu bisa sembunyi disebuah tempat paling rahasia diujung dunia sekalipun, tapi aku pasti bisa menemukanmu, lalu kenapa kamu berpikir  kamu bisa bersembunyi dengan gampangnya dariku? Hah?”
            “Pa—Papi, aku…. Aku—“
            Sebelum Sylvia menyelesaikan perkataannya, Geraldy serta-merta mengulurkan salah satu tangannya dan berkata, “sekarang raih tangan aku dan ayo kita pergi dari sini! Kita akan pergi bersama Ibu, dan anak-anak kita, kita akan bersembunyi bersama-sama disuatu tempat yang akan tidak akan pernah bisa ditemukan oleh Papa…”
            Sylvia tersenyumm kecil. Ekspresinya sekarang benar-benar tidak terbaca, ia tampak berpikir lalu menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama, tangan kanannya terangkat lalu meraih tangan Geraldy yang masih dengan setia terulur. Saat itu juga Geraldy langsung bernapas lega, tapi tidak lama…
            “aku juga akan melarikan diri, aku juga akan bersembunyi. Aku ingin kita hidup bersama sebagai keluarga yang utuh… seandainya aku bisa. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa lakukan itu”
            Sylvia melepaskan tangan Geraldy begitu saja dan membuat perasaan Geraldy mencelos.
            “ini semua karna Papa, kan? ayolah, Mi! kita hadapi Papa bersama. Kita harus sama-sama berjuang demi anak-anak kita, kita—“
            “ini semua bukan karna Papa. Papa hanya membuatku sadar, bahwa semakin kesini, dunia kita memang berbeda. Sejak awal…. Seharusnya kita tidak pernah bersama. Sejak awal seharusnya—“
            “cukup! Hentikan semuanya sekarang sebelum kamu melihatku mati didepan matamu!”
            “Pi—“
            “apa kamu sebegitu ingin berpisah dariku? Apa kamu sebegitu tega melepaskan semuanya setelah selama ini kita berjuang bersama? Apa kamu sekejam itu Sylvia Addara?”
            “maaf, Pi…” ujar Sylvia lirih tanpa berani menatap kedua mata Geraldy.
            Geraldy mengangguk beberapa kali dengan perasaan hancur. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga.
            “baiklah, kamu akan aku lepaskan! Semua ini aku lakukan bukan untuk memenuhi keinginanmu ataupun ambisi Papa yang tidak masuk akal itu. Semua ini aku lakukan, karna aku benar-benar tidak bisa memperjuangkan seseorang yang tidak mau diperjuangkan…”
            “Papi—“
            “Sylvia Addara, sekarang kamu bebas. Kamu… kamu bukan isteriku lagi…”
            Geraldy lalu berbalik pergi dengan perasaan remuk redam. Airmatanya kian deras menetes, pun begitu dengan Sylvia. Sylvia menatap kepergian Geraldy dengan perasaan yang tidak kalah remuknya. Secara perlahan, tubuhnya lalu ambruk. Ia terduduk lemah didepan gerbang rumahnya dan berusaha keras melawan keinginannya untuk segera berlari dan memeluk Geraldy. Tidak, Sylvia tidak ingin Geraldy kehilangan segalanya. Cukup sekali Geraldy kehilangan apa yang ia miliki dan rela hidup menderita bersamanya saat mereka tinggal di Lombok beberapa tahun yang lalu. Sylvia tidak akan mengulanginya lagi. Dan ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri.



♫♫♫

Sorano Restaurant

            Danar Ganendra dan Via terlihat sedang menikmati makan siang mereka disalah satu restaurant mewah milik keluarga Sorano. Danar Ganendra memilih tempat dibalkon dengan pemandangan danau buatan yang tampak alami didepannya. Awalnya Via merasa begitu canggung, ia juga bingung kenapa Danar Ganendra tiba-tiba menemuinya disekolah dan mengajaknya pergi ke tampat ini, tapi semakin kesini, Via justru merasa nyaman dengan Danar Ganendra. Bahkan sejak tadi, mereka berdua tampak bersenda gurau sambil tertawa lepas. Dan beberapa pengawal Danar Ganendra yang selama ini mengikutinya merasa sangat heran. Selama bertahun-tahun mereka mengawal seorang Danar Ganendra yang dingin dan kejam,  ini kali pertamanya mereka melihat Danar Ganendra tertawa selepas itu.
            “jadi, Via boleh tahu kenapa Kakek tiba-tiba bawa Via ketempat ini?” tanya Via setelah beberapa saat mereka larut dalam tawa.
            “sejujurnya, sejak pertama saya melihat kamu dipesta ulang tahun Gabriel, saya seperti merasa melihat sosok yang sangat saya rindukan…”
            “apa itu… cucu perempuan Kakek?”
            Degh! Pertanyaan itu dengan telak memukul jantung Danar Ganendra. Kedua mata jernih Via dengan pancaran ketulusannya justru membuat Danar Ganendra luluh dalam sekejab mata. Danar Ganendra lalu mengangguk sebagai jawaban.
            “Via….”
            “iya, Kek?”
            “apa kamu mau nemenin Opa makan lagi kalo nanti Opa meminta?”
            Via mengangguk pasti seraya menyunggingkan seulas senyum lebarnya, “Pasti Kakek!”
            “dan mulai sekarang jangan panggil Kakek. Panggil saja saya Opa seperti yang Gabriel lakukan”
            “hah?” Via tampak terkejut diawal, tapi kemudian… “i—iya, Kek… eh… O—Opa”
            “VIA!!” Dua orang tiba-tiba saja muncul sambil memekikan nama Via. Danar dan Via yang sejak tadi larut dalam kebersamaan mereka serta-merta menoleh kebelakang dan mendapati sosok Alvin dan Gabriel yang sedang berdiri dibelakang mereka dengan raut wajah yang benar-benar terlihat cemas. Danar Ganendra tersenyum kecil, seperti sudah bisa memprediksi segalanya, ia mengambil sapu tangan yang ada didepannya lalu mengelap bibirnya dengan pelan.
            Gabriel menatap tajam kearah Opanya yang tampak santai, begitu juga dengan Alvin. Tidak lama melempar tatapan pada Danar Ganendra, Alvin meraih pergelangan tangan Via dan membuatnya berdiri,
            “Opa, saya pamit” Alvin menunduk hormat dengan emosi tak terjelaskan. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin membawa Via pergi dari tempat itu dan menyisakan Gabriel bersama Opanya.
            Gabriel masih menatap Danar Ganendra dengan dengan tajam. Tatapannya bahkan tidak teralihkan saat Alvin membawa Via pergi. Saat ini, yang menjadi titik fokusnya hanyalah sang tersangka utama, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakeknya sendiri.
            “apa yang sedang Opa rencanakan sekarang? Rencana licik apalagi yang sedang Opa susun?” tuding Gabriel dengan sengit.
            Danar masih tampak santai. Ia menatap Gabriel seraya tersenyum dan berkata, “kenapa kamu selalu curiga dengan gerak-gerik Opa, Gabriel? Apa menurutmu, semua isi kepala Opa  hanya kelicikan semata? Dan apa salah, kalau seorang Kakek mengajak cucu nya makan siang?”
            “CUCU?!” Sergah Gabriel dengan cepat. Nada suaranya terdengar sanksi. “Jadi Opa masih menganggap Via sebagai cucu setelah Opa merebut segalanya? Orangtuanya, Kakaknya, kebahagiaan masa kecilnya, dan bahkan identitasnya. Opa masih berani mengatakan Via sebagai cucu setelah merebut semuanya itu? Opa masih berani mengatakan dia sebagai cucu disaat aku bahkan… tidak memiliki keberanian apapun untuk mengatakan bahwa dia… adikku…” kegetiran terdengar dengan jelas pada kalimat-kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Gabriel. Sebisa mungkin, ia berusaha menahan airmatanya agar tidak terjatuh sedikitpun, setidaknya dihadapan Kakeknya yang kejam ini.
            “Gabriel Ganendra, jaga ucapanmu!”
            “Iel sudah terlalu lelah menahan semuanya, Opa! Opa boleh lakukan apapun yang Opa suka sama Iel, tapi tolong… jangan pernah sentuh Via. Via… Via udah cukup menderita selama ini…”
            “kejam, dingin, bengis, dan bahkan sangat jahat, mungkin itu yang ada dipikiranmu tentang Opa, dan bahkan mungkin lebih, tapi kamu selalu lupa akan satu hal, Gabriel…” Danar Ganendra memotong ucapannya, ia lalu berdiri dan menyentuh pundak Gabriel. Dengan getir ia berucap pelan, “kamu selalu lupa, kalau Opa juga masih punya hati. Dan kamu tidak pernah tahu, dibalik semua kekejaman Opa dana tindakan jahat yang sudah Opa lakukan dimasa lalu, opa… sangat merindukan cucu perempuan Opa….”
            “apa sekarang Opa mau mengatakan kalau Opa… menyesal?” tanya Gabriel ragu-ragu.
            Danar tersenyum meremehkan untuk sesaat lalu menggeleng dengan mantap, “tidak! Opa sama sekali tidak menyesal. Opa hanya merindukan adikmu. Hanya itu…”
            Danar Ganendra berlalu begitu saja. semenntara Gabriel ia hanya terdiam tanpa mampu mengucapkan apapun. Ia terpaku ditempatnya dan mulai berpikir tentang segala hal yang terjadi selama ini.


♫♫♫

            Tidak terjadi obrolan apapun antara Alvin dan Via selama diperjalanan pulang. Alvin terlihat focus menyetir dengan tatapan lurus kedepan yang terlihat dingin, karena itulah Via merasa gentar kalau harus menegurnya. Via tahu betul, jika Alvin sudah diam seperti ini dengan ekspresi dinginnya, itu tandanya Alvin sedang marah dan tidak ingin diganggu. Tapi yang kemudian menjadi pertanyaan dibenak Via adalah, kenapa Alvin jadi tiba-tiba marah saat Danar Ganendra mengajaknya bertemu? Alvin tidak mungkin cemburu, kan?
            Sepuluh menit bergulat dalam keheningan yang tidak mengasyikan, akhirnya tibalah mereka dirumah. Alvin keluar begitu saja dari dalam mobilnya tanpa menghiraukan Via. Merasa ada yang janggal dari semua ini, Via serta merta meloncat turun dari mobil Alvin, mengejarnya lalu menahan pergelangan tangannya untuk meminta penjelasan.
            “lo marah?” tanyanya singkat sambil menatap tajam pada kedua mata Alvin.
            Alvin menghela napas lalu menarik pelan tangannya dari genggaman Via.
            “jangan pernah ketemu sama Opa Danar lagi, apapun alasannya!”
            Kedua alis Via bertaut satu sama lain. Ia heran kenapa Alvin tiba-tiba bersikap aneh seperti ini. Jujur saja, ini tidak seperti Alvin biasanya. “ta—tapi kenapa?”
            “jangan tanya kenapa!!” hardik Alvin dengan cukup keras dan membuat Via terkejut.

            “A—Alvin?”
            Alvin memang dingin dan hampir selalu bersikap kasar pada Via, tapi tidak pernah sekalipun Via melihat Alvin semarah ini. Satu yang pasti, Alvin tidak akan semarah ini jika bukan tanpa alasan. Dan Via yakin, Alvin pasti memiliki alasan yang kuat dibalik semua ini.
            Airmata Via nyaris jatuh dihadapan Alvin. Sekalipun ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis, tetap saja pertahanannya pada akhirnya runtuh begitu saja. Via menunduk untuk beberapa saat lalu berjalan melewati Alvin memasuki rumah mereka. Rasanya… ada yang hancur jauh didalam sana.
            Alvin mengacak rambutnya frustasi. Sial! Apa dia terlalu kasar pada Via?


♫♫♫

            Seorang pria berpakaian serba hitam dan membawa sebuah amplop coklat memasuki ruang kerja Yashinta. Pria itu berdiri didepan meja kerja Yashinta setelah sebelumnya Yashinta memutar kursinya dan berhadapan langsung dengan orang kepercayaannya itu.
            Pria tadi lantas meletakan amplop yang ia bawa diatas meja Yashinta dan mulai melaporkan hasil kerjanya, “ini informasi yang Ibu butuhkan mengenai identitas Gisselavia Garnetta…”
            Dengan jantung berdebar dan tangan yang sedikit gemetaran, Yashinta membuka amplop itu. Sebentar lagi, ia akan mendapatkan jawaban atas kecurigaannya selama ini. Sementara Yashinta sedang membaca semua identitas Via, orang kepercayaannya itu mulai menjelaskan.
            “Gissela Fania Ganendra adalah cucu perempuan dari Danar Ganendra yang merupakan saudara kembar dari Gabriel Fabian Ganendra. Saat Gissel berumur 3 tahun, Sylvia membawanya keluar dari kediaman Ganendra setelah sebelumnya diusir. Mereka tinggal di Singapore, dan saat itu juga, Danar Ganendra mengganti identitas cucunya sendiri untuk menutupi semuanya. Gissel akhirnya berganti nama menjadi Gisselavia Garnetta dengan nama panggilan Via. Dan sekarang, Via diadopsi oleh Adryan Aryadinata dan Metta Indriani atas perintah langsung dari Danar Ganendra…”
            Tanpa sadar, Yashinta menjatuhkan kertas tadi diatas mejanya. Perasaannya sekarang mulai berkecamuk dan deru napasnya terdengar tidak teratur. Ternyata kecurigaannya selama ini terbukti. Via, teman dekat anaknya ternyata adalah putri dari sahabatnya yang sekarang sudah meninggal. Yashinta bahkan tidak bisa membayar penyesalannya pada Sylvia. Dan ia kian hancur saat mengetahui bagaimana kejamnya seorang Danar Ganendra.
            Yashinta tidak bodoh. Ia tahu alasan kenapa Danar Ganendra melakukan semua ini. Batalnya perjodohan dirinya dengan Geraldy dimasa lalu tentu saja menuai kerugian yang tidak sedikit bagi perusahaan Danar, dan saat Geraldy memilih Sylvia menjadi isterinya, praktis Danar semakin merasa dirugikan. Bagi Danar, pernikahan antara Sylvia dan Geraldy sama sekali tidak menguntungkan, dan Sylvia hanya benalu dalam perjalanan bisinisnya.
            Dengan alasan itulah Danar Ganendra berusaha memisahkan Geraldy dan Sylvia. Jika pun ia memilih untuk merawat Gabriel dan bukannya  Via, itu pasti karna hanya Gabriel yang bisa menjadi penerus perusahaannya, apalagi setelah Geraldy meninggal, secara otomatis beban pewaris tunggal sepenuhnya dibebankan pada pundak Gabriel.
            Jantung Yashinta seperti dipukul. Bahkan hanya sekedar membayangkan kekejaman seorang Danar Ganendra, ia merasa tidak sanggup.
            “apa anda baik-baik saja?” tanya Pria itu pada Yashinta.
            Yashinta menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “saya baik-baik saja. kamu boleh pergi”
            Baru saja pria itu akan keluar dari ruang kerja Yashinta, Cakka tiba-tiba saja membuka pintu dan menatap heran pada pria yang berpakaian serba hitam itu. Menyadari kehadiran Cakka, Yashinta buru-buru menyimpan amplop itu didalam laci mejanya, tapi toh terlambat, karna Cakka terlanjur melihatnya dan mendadak merasa penasaran.
            Pria tadi menunduk sejenak pada Cakka lalu keluar dari ruangan Yashinta.
            “dia siapa, Bunda?” tanya Cakka seraya mendekat kearah Yashinta.
            “bukan siapa-siapa, Nak. Kamu sudah makan?” tanya Yashinta berusaha mengalihkan perhatian Cakka. Cakka yang masih didekap rasa curiga hanya menggeleng dan berusaha menyimpan rasa penasarannya.
            “Cakka belum makan, Bund”
            “kalau gitu ayo ikut Bunda, Bunda akan masak makanan kesukaan mu. Lagipula sebentar lagi Eyang akan datang”

            “i—iya Bunda….”



♫♫♫

            Merasa sakit hati karna dimarahi oleh Alvin, Via memilih untuk tidak pulang kerumah. Ia berjalan diterotoar jalan yang cukup sepi sambil terus mengingat semua kemarahan-kemarahan Alvin. Tidak, Via tidak sakit hati karna dimarahi, ia sakit hati karna Alvin sama sekali tidak memberitahukan alasan kenapa ia begitu marah melihat Via bertemu dengan Danar Ganendra. Setidaknya Via butuh alasan agar tidak menjadikan Alvin orang jahat dalam masalah ini.
            Via nyaris kehilangan arah, ia tidak tahu harus kemana lagi karna sejak tadi, ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Via lalu berhenti disebuah jembatan dan menatap nanar kedepan. Mendadak ia merasa ingin pulang ke Lombok. Jika ia mau, ia bisa saja kabur sekarang juga, tapi saat mengingat kedua orangtua angkatnya Via justru merasa tidak tega.
            Sebuah jaguar hitam tahu-tahu berhenti, seseorang dari dalam mobil itu menyembulkan kepalanya dan memanggil nama Via.
            “Via!”
            Via serta-merta berbalik saat merasa namanya dipanggil, saat itu juga ia mendapati sosok Gabriel yang menatapnya dengan cemas. “Ga—Gabriel?” gumamnya pelan.
            “kamu ngapain disini sendiri?”
            “gak ngapa-ngapain. Aku… aku Cuma lagi males pulang kerumah…” jawab Via sekenanya.
            Mendengar jawaban yang Via lemparkan, Gabriel justru merasa ada yang aneh. Ia pun mengingat kejadian direstoran beberapa jam yang lalu, saat dirinya dan Alvin mendapati Via bertemu dengan Opanya. Darisana Gabriel bisa menebak, Alvin pasti memarahinya karna itu.
            Gabriel lalu membuyarkan keterpanaannya dan berkata, “aku juga lagi males pulang. Kamu mau jalan gak sama aku? Kita cari hiburan sama-sama, gimana?”
            “A—APA?” Via terkejut setengah mati sekarang. Apa benar cowok manis ini mengajaknya jalan.
            Gabriel justru terkekeh saat melihat ekspresi kaget Via yang menurutnya sangat lucu.
            “aku jamin bakalan seru banget”
            Tanpa berpikir panjang lagi, Via langsung mengikuti permintaan Gabriel. Entah kenapa, Via juga merasa butuh hiburan. Via lalu memasuki jaguar hitam Gabriel dan duduk disisinya dengan nyaman. “seatbelt nya, Gissel!” Gabriel memperingatkan seperti seorang ayah yang sedang memperingatkan puterinya. Saat Via akan memasang sabuk pengamannya, Gabriel justru mengambil alih dan memasangkan Via dengan penuh perhatian. Untuk sedetik Via membeku ditempatnya. Kenapa Gabriel mendadak jadi perhatian begini? Dan apa? Bukankah tadi Gabriel memanggilnya dengan panggilan Gissel? Apa Via tidak salah dengar?
            “Gi—Giseel?”
            Gabriel tersenyum penuh arti lalu mengusap puncak kepala Via dengan gemas, “mulai hari ini aku mau manggil kamu Gissel. Boleh, kan?”
            Via tampak berpikir untuk beberapa saat lalu mengangguk dengan ragu. Terserahlah Gabriel mau memanggilnya dengan apa saja, toh dulu ia juga dipanggil Gissel oleh Ibu Pantinya. Via rasa itu tidak masalah jika sekarang Gabriel ingin melakukannya juga.
            Gabriel mengajak Via pergi kesebuah mall dan bermain beberapa permainan di Time Zone. Baru setengah jam menikmati setiap permainan, Via seakan larut dan melupakan semua masalahnya. Gabriel, tanpa ia sadari telah benar-benar membuatnya merasa sangat nyaman.
            Setelah puas bermain, mereka memasuki sebuah toko ice cream. Mereka berdiri didepan meja counter dan melihat beberapa pilihan ice cream yang tersedia disana.
            “mau pesan apa?” tanya seorang pramuniaga dengan ramah.
            Gabriel dan Via tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab dengan kompak tanpa mereka sadari, “Double chocolate oreo
            Hening untuk beberapa detik. Mereka lalu saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat lalu tertawa bersama.
            Saat menunggu pesanan, tiba-tiba saja ponsel Gabriel berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Gabriel buru-buru melihat ponselnya dan menemukan nama Alvin tertera dilayar.
            “iya, Vin ada apa?” tanya Gabriel langsung. Mendengar nama Alvin dibawa-bawa, Via kontan kaget, tapi pandangan mata Gabriel yang teduh mengisyaratkan agar ia tetap tenang.
            “iya, gue lagi sama Via. Kenapa?”
            “……”
            “gak apa-apa. Kita lagi jalan-jalan aja”
            “……”
            “iya, nanti jam 8 gue pastiin Via pulang kerumah dalam keadaan selamat. Oke, sampai nanti”
            Gabriel mengakhiri obrolannya ditelfon lalu meletakan ponselnya diatas meja. Ragu-ragu Via mencoba bertanya.
            “A—Alvin gak marah, kan?”
            “dia gak punya alasan buat marah” jawab Gabriel seadanya yang justru membuat Via bingung. Jujur saja, Gabriel memang seru hari ini, Via bahkan merasa sangat nyaman. Tapi tetap saja sikap yang Gabriel tunjukan sekarang ini sangat aneh menurut Via, mengingat mereka yang selama ini tidak begitu dekat satu sama lain.
            Kebingungan Via langsung buyar saat seorang pramuniaga datang dan membawakan pesanan mereka. Gabriel menatap ice cream pesanannya dengan semuringah. Ia bertepuk sekali dan berucap, “selamat makaaaan!!”. Gabriel lalu melahap ice cream-nya dengan gembira.
            “Gissel”
            “hm?”
            Gabriel menghentikan aktifitas menyantap ice cream-nya, sebelum menjawab, ia menatap Via dengan pandangan hampa, “tolong ceritakan sesuatu tentang Mama…” jawab Gabriel dengan nada yang terdengar getir. Salah satu alis Via terangkat,
            “Mama?”
            Gabriel menghela napas. Hatinya semakin terasa perih, “Mama mu…” Gabriel terdiam, ‘Mama kita…’ lanjutnya dalam hati kemudian.
            Via tersenyum lebar. Seperti sebuah kebiasaan, ia selalu merasa bersemangat setiap ada orang yang mengajaknya membahas tentang Mamanya.
            “Mama… Mama itu selalu ngajarin aku untuk jadi cewek yang kuat. Mama pernah bilang, aku gak boleh jadi cewek cengeng, aku juga gak boleh jadi cewek lemah. Mama itu… udah kayak seorang bidadari yang sengaja dikirimin Tuhan kedalam hidupku. Dan seumur hidupnya, Mama selalu berusaha buat bahagiain aku…”
            Hati Gabriel seketika menghangat saat mendengar cerita yang Via tuturkan. Meski tidak merasakannya secara langsung, tapi Gabriel tahu Mamanya memang seorang bidadari.
            “ka—kalo Pa—Pa mu?” tanya Gabriel terbata dan sedikit ragu. Ia takut pertanyaannya itu justru menyinggung perasaan Via, tapi apa yang Gabriel dapatkan justru diluar perkiraannya.
            “terus terang aja, aku tuh gak tau mukanya Papa kayak apa, tapi yang pasti, Papaku adalah orang hebat. Mama selalu memuji Papa, dan Mama pernah bilang, apapun yang terjadi, dan dimanapun Papa berada, Papa selalu menyayangi aku, Papa selalu pengen ketemu sama aku, Cuma aja… ada hal yang bikin Papa gak bisa mencari aku. Tapi… aku tetep percaya dan yakin, kalo Papa menyayangiku lebih dari apapun…”
            Airmata Via tergenang sempurna disudut matanya saat membicarakan tentang Papanya. Mau tidak mau, rasa rindu itu kembali mengusik ketenangan hatinya setelah bertahun-tahun lamanya.
            Tangan Gabriel secara otomatis terangkat lalu menyeka airmata sebelum terjatuh. Via tersenyum miris dan berusaha bersikap biasa saja.
            “sekarang ceritakan, gimana Papa mu!” pinta Via yang sebenarnya hanya berusaha untuk menenangkan perasaannya saat ini.
            Gabriel tersenyum kecil, lalu menghela napas, “Papa itu… sangat luar biasa. Itu aja…” jawab Gabriel singkat. Via menatap Gabriel dengan pandangan tak terima,
            “udah? Itu doang?”
            Gabriel mengangguk dan kembali menyantap ice cream-nya dengan perasaan tidak terjelaskan.
            “masa itu aja sih? Aaahh… Gabriel gak seru deh” rajuk Via.
            Gabriel terkekeh lalu mengusap puncak kepala Via dengan lembut entah untuk yang keberapa kalinya.
           



♫♫♫

            Masih dengan rasa penasaran yang sama seperti tadi siang, Cakka diam-diam memasuki ruang kerja Bunda nya saat Bunda nya sedang keluar makan malam bersama Ayah nya. Cakka duduk dimeja kerja Yashinta lalu mulai membuka laci. Setelah memeriksa beberapa laci, akhirnya Cakka menemukan apa yang ia cari. Amplop cokelat yang tadi disembunyikan oleh Bunda nya. Amplop cokelat yang menjadi sumber rasa penasarannya.
            Dengan tidak sabar, Cakka membuka amplop itu lalu membaca isinya. 2 menit kemudian, Cakka terlihat kaget saat menemukan semua identitas Via yang sebenarnya. Hanya dalam waktu singkat, Cakka telah mengetahui semua rahasia yang tidak pernah ia ketahui selama ini.
            Tangan Cakka gemetaran, ia menghela napas panjang dan berusaha mengumpulkan semua kesadarannya. Dua hal yang ada dikepalanya sekarang; Via adalah cucu dari Danar Ganendra dan Via bukan saudara sepupu Alvin.
            Cakka mendadak lemas.

            “Gissela Fania Ganendra?”



♫♫♫

            Seperti janjinya pada Alvin ditelefon tadi, Gabriel membawa Via pulang kerumah saat waktu menunjukan pukul delapan tepat. Saat jaguar hitam milik Gabriel memasuki halaman rumah Alvin yang cukup luas, Alvin sudah menunggu disana sambil melipat kedua tangannya didada dan memasang wajah dingin yang sukses membuat Via merasa takut lagi. Sebelum keluar dari dalam mobil Gabriel, Via sempat menoleh kearah Gabriel. Gabriel hanya tersenyum dan menyentuh puncak kepala Via, “aku akan urus semuanya. Dan aku pastiin Alvin gak akan berani marahin kamu. Sekarang ayo keluar!”
            Gabriel dan Via keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Dan saat melihat tatapan Alvin yang begitu dingin, Via serta-merta menunduk. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk sekedar mengangkat wajahnya, apalagi harus menatap kedua mata Alvin.
            “masuk kedalem!” perintah Alvin dengan nada tidak ingin dibantah, lalu tanpa berkata apapun, Via masuk kedalam rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Gabriel hanya menatap kepergian Via dengan senyuman geli.
            “ehem… makasih udah nganterin Via pulang. Sekarang baiknya lo pulang juga…”
            Alvin berbalik pergi, tapi langkahnya serta-merta terhenti saat suara milik Gabriel terdengar, “jangan terlalu keras sama adek gue kalo lo gak mau dihajar sama Abangnya, mengerti?”
            Alvin kembali membalik badannya dan menatap Gabriel dengan kedua mata terbelalak maksimal. Apa yang baru saja Gabriel katakan? Apa jangan-jangan dia sudah mengetahui kebenarannya?
            “gak usah tanya apapun! Karna gue gak akan jawab” ujar Gabriel yang seakan mampu membaca isi kepala Alvin. Gabriel lantas hengkang dari hadapan Alvin dan memasuki mobilnya dengan tenang.

♫♫♫

            Via meringkuk dibalik selimutnya sambil berusaha menahan rasa lapar yang mulai menyerangnya. Sejak ia pulang kerumah sejam yang lalu, Via belum sama sekali keluar dari kamarnya. Ia bahkan rela meninggalkan makan malamnya supaya tidak perlu bertemu dan melihat wajah Alvin yang menyebalkan itu. Rasa laparnya kian menjadi. Lagipula Alvin kemana saja? biasanya juga ia selalu memaksa Via untuk makan dalam keadaan apapun, tapi sekarang apa? Alvin justru membiarkan Via kelaparan dikamarnya. Brengsek! Maki Via dalam hati.
            Ia lalu bangkit dari tidurnya dan mengacak rambutnya dengan sebal. “ARRRGGHHH!! ALVIN JAHAT, NYEBELIN! GUE BENCI LOOOOOO!!!” Teriak Via dengan nada yang cukup keras, dan Via sama sekali tidak peduli jikapun Alvin mendengar teriakannya.
            Nada lapar diperutnya kembali terdnegar. “aw, gue lapaaarrr! Tapi liat aja, gue gak akan makan! Sekalipun gue harus mati kelaparan disini, GUE GAK AKAN MAKAAAAAN!!”
            Nada SMS dari ponsel nya tiba-tiba saja  mengagetkan Via. Ia sedikit terperanjat lalu kembali mengutuk saat tahu bahwa Alvin lah yang mengiriminya SMS. Dengan setengah hati, Via membaca pesan singkat yang Alvin kirimkan.

======================
From: Calvin Nicholas
Gue tunggu lo dihalaman belakang skrg!
Gak pake lama.

======================

            Via mendengus kesal setelah membaca pesan yang Alvin kirimkan. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan segera keluar dari dalam kamarnya.

            “jangan panggil gue Gisselavia Garnetta kalo gue gak mutusin lo malem ini juga!!”




♫♫♫

            Via berjalan cepat dengan kekesalan tingkat tinggi untuk memenuhi panggilan Alvin. Dan selama perjalanan, ia terus saja merutuki Alvin tanpa henti. Tapi tiba-tiba langkah Via terhenti saat melihat taburan bunga mawar merah berserakan disepanjang jalan. Via terdiam, jantungnya berhenti berdetak dalam sedetik. Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Lilin-lilin kecil disisi kiri dan kanan jalan kini menyambut setiap langkahnya. Dan Via membekap mulutnya karna terharu. Diujung jalannya, Alvin terduduk disebuah bangku. Taburan bunga mawar merah dengan beberapa lilin kecil membentuk hati seakan membingkai posisinya sekarang. Lalu dikolam renang tepat dibelakang Alvin sekarang, ratusan lilin kecil tertata dengan rapi membentuk kata ‘MAAF’.
            Kali ini Via sudah tidak bisa lagi menahan rasa harunya. Airmatanya seakan berlomba keluar. Dari tempatnya sekarang, Alvin tampak tersenyum lalu berkata,
            “maafin gue…” ucapnya singkat tapi penuh dengan kesungguhan.
            Via yang tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun hanya bisa menggeleng. Ia membekap mulutnya sementara airmatanya terus mengalir, membasahi wajah cantiknya.
            “sebagai tanda permintaan maaf gue, gue akan nyanyiin sebuah lagu buat lo”
            Seperti tadi, Via hanya terdiam.
            Alvin lalu mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang ia tujukan untuk Via.

“Kali ini kusadari…
Aku telah jatuh hati
Dari hatiku terdalam…
Sungguh aku cinta padamu

Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini ku lakukan karna kamu memang untukku…”

            Alvin mengangkat wajahnya dan menatap Via penuh cinta.

“Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku…”

            Bait demi bait lagu akhirnya berhasil Alvin selesaikan. Dan pada akhir lagu itu, sebuah layar dari belakang Via tiba-tiba saja menyala dan memperlihatkan video masa kecil Alvin yang sepertinya diambil oleh Mamanya tanpa sepengetahuan mereka. Via berbalik saat itu juga dan menyaksikan video yang disengaja diputar oleh Alvin.
            Video itu memperlihatkan sosok Alvin kecil yang rupanya baru saja pindah ke Jakarta. Dalam video itu, Alvin kecil menyampaikan rasa rindunya pada sosok Via yang ia panggil sebagai ‘Peri Kecil’ nya.

“Hay Pia! Pia tau gak? Disini Aphin kesepian gak ada Pia, disini Aphin juga gak nemuin temen seasyik Pia. Pia… peri kecilnya Aphin yang paling cantik, Aphin kangen sama Pia… Aphin pengen tinggal di Lombok lagi, bareng Pia….”

            Via tersenyum dengan airmatanya yang masih terus berlinang. Tiba-tiba saja, ia merasakan sepasang tangan kekar yang begitu hangat memeluk erat tubuhnya dari belakang.
            “Maaf udah bikin lo kesel hari ini” bisik Alvin lalu mengecup lembut puncak kepala Via. Ia melakukannya agak lama.
            “Maaf juga udah bikin lo khawatir. Mulai sekarang gue janji, gue gak akan lagi ngelakuin hal-hal yang bikin lo cemas, gue juga gak akan nanya alasannya apa, gue akan percaya sama lo sebanyak yang gue bisa…” lirih Via lalu menyentuh kedua lengan Alvin yang melingkari tubuhnya. “dan makasih buat semua ini…” lanjut Via. Ia lalu berbalik dan kembali memeluk Alvin.
            Nada keroncongan diperut Via kembali terdengar saat mereka sedang larut dalam luapan perasaan mereka. Alvin terkekeh dan membuat kedua pipi Via merona karna malu. Via buru-buru melepaskan pelukannya dari Alvin dan membuang wajahnya agar Alvin tidak melihatnya.
            “lapar?” tanyanya dengan nada meledek.
            Via menggeleng sebagai jawaban. Alvin menghela napas dan berusaha menahan tawanya. Sudah cukup ia membuat gadisnya ini malu. Alvin pun meraih salah satu tangan Via dan menuntunnya ke tepi kolam renang. Disana, Alvin sudah menyiapkan meja dan dua buah kursi. Ia bahkan memasak sendiri makanan kesukaan Via. Mereka berdua duduk berhadapan.
            “karna ini gue yang masak sendiri, jadi… lo harus habisin. Ngerti?”
            Via mengangguk beberapa kali dan dengan lahap memakan masakan Alvin. Ternyata, masakan Alvin terasa sangat enak. Via baru tahu, bahwa pacarnya yang menyebalkan ini ternyata jago masak.
            “lo suka?”
            Kali ini Via mengangguk dengan senyum mengembang diwajah imutnya, tapi tiba-tiba saja Via melepaskan sendok serta garpunya dan menatap Alvin dengan tatapan merajuk.
            “kenapa berhenti?” tanya Alvin lagi.
            “suapin!” pinta Via dengan nada manjanya yang justru membuatnya terlihat semakin imut.
            Alvin yang awalnya merasa risih dan ingin menolak malah merasa tidak tega. Seperti tersihir, tangan kanan Alvin bergerak menggapai sendok lalu menyuapi Via dengan ekspresi yang mendadak terlihat canggung.





To Be Continued…