27
Desember, 1999
Geraldy pulang kerumahnya dalam keadaan
kalut saat ia mendengar kabar bahwa Sylvia membawa Gissel pergi dari rumah itu.
Salah satu asisten kepercayaannya memberitahukan prihal kepergian Sylvia yang
seakan tanpa alasan yang pasti itu.
Geraldy segera memasuki kamar
mereka, dan seperti apa yang ia pikirkan selama diperjalanan tadi, kamar itu
kosong. Kali ini Geraldy memasuki kamar Gabriel dan Gissel, hasilnya sama,
Sylvia dan Gissel tidak disana. Geraldy hanya melihat Gabriel yang sedang
tertidur pulas. Geraldy lalu melangkah perlahan mendekati tempat tidur Gabriel
dengan kedua matanya yang sudah memerah menahan tangis.
Tepat disamping Gabriel kecil
berbaring, Geraldy menemukan sepucuk surat yang nampaknya belum lama
ditinggalkan. Sebelum membaca, Geraldy sudah tahu bahwa Sylvia lah yang
meninggalkan surat itu disana. Lalu dengan tangan gemetar, Geraldy meraih
sepucuk surat itu dan membacanya:
Geraldy,
suamiku…
Maaf aku pergi dengan cara seperti
ini. Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain harus… berhenti
sampai disini.
Ada atau tidak ada aku dihidupmu,
tolong untuk tetap melanjutkan hidupmu, setidaknya demi jagoan kecil kita,
teruslah bertahan.
Sylvia-
Ya, isi surat itu bahkan sangat
singkat. Sylvia tidak menyebutkan apa alasannya untuk memilih mundur dan
akhirnya menyerah. Tapi satu yang pasti Geraldy tahu, dibalik kepergian Sylvia
ini, Papa nya pasti turut andil menjadi actor utamanya. Dengan perasaan remuk
redam, Geraldy meremas surat itu. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya
berdesakan keluar.
Dan sejak hari itu, hari dimana
Sylvia pergi, hidup Geraldy benar-benar hancur. Ia merasa kehilangan separuh
nyawanya. Tapi Geraldy tidak ingin terus terlarut dalam kehancurannya. Geraldy
tentu tidak akan mendapatkan apapun jika ia terus berdiam diri seperti yang ia
lakukan sekarang.
Maka satu minggu setelah kepergian
Sylvia, Geraldy memutuskan untuk pergi ke Lombok dan mencari Sylvia. Tapi
setibanya disana, Geraldy justru tidak mendapatkan apapun. Rumah milik kedua
orangtua Sylvia telah kosong. Geraldy yang sudah putus asa dan frustasi
bersimpuh didepan gerbang rumah Sylvia yang sederhana itu. Ia menangis bisu
seraya memegangi dadanya yang terasa sesak.
Salah seorang yang Geraldy kenal,
yang juga merupakan teman akrab Sylvia di Lombok melihat Geraldy menangis
didepan rumah Sylvia. Wanita itu terlihat tidak tega, ia memang tidak tahu
banyak, tapi entah kenapa ia sangat ingin membantu Geraldy mengingat dari
bagaimana hancurnya Sylvia sesaat sebelum ia meninggalkan pulau Lombok.
Kehancuran Geraldy sekarang membuatnya mengingat akan kehancuran Sylvia saat ia
pamit tepatnya beberapa hari yang lalu. Pada kenyataannya, Sylvia dan Geraldy
sama-sama hancur.
“Mas Aldy…” sapa wanita itu seraya
menyentuh pelan pundak Geraldy yang bergetar. Geraldy menghentikan tangisnya
untuk beberapa saat dan menoleh kebelakang.
“Nisa?” panggilnya saat melihat
wajah yang ia kenal itu.
“saya tidak tahu tepatnya dimana,
saya juga tidak tahu alamatnya, tapi sekarang… Sylvia dan Ibu Marlita ada di
Singapore…”
“Singapore?”
♣♣♣
Singapore,
2000
Dengan begitu mudahnya, dan hanya
dalam waktu dua hari saja, Geraldy bisa menemukan alamat Sylvia di Singapore.
Dan saat ini, Geraldy sedang berdiri depan sebuah rumah minimalis disalah satu
komplek perumahan yang terdapat di kota pinggiran diwilayah itu. Geraldy
menatap nanar kearah rumah itu, bahkan sebelum mendapatkan penjelasan apapun
dari Sylvia, Geraldy tahu, bahwa pasti Ayahnya sendiri yang tega mengirim
Sylvia kekota ini.
10 menit berlalu, gerbang didepan
Geraldy sekarang perlahan terbuka dan menampakan Sylvia dengan pakaian kerjanya
membuka gerbang. Sylvia kaget setengah mati saat melihat suaminya yang Nampak
kurusan sejak mereka terakhir kali bertemu. Penampilan Geraldy juga terlihat
sedikit tak terawat. Melihat penampilan lain dari suaminya yang biasanya tampak
sempurna, membuat Sylvia terenyuh. Rasa bersalah itu kembali menghinggapi
dadanya.
“jadi disini kamu sembunyi?” tanya
Geraldy singkat. Beberapa saat setelahnya, Geraldy langsung tersenyum miris.
“ke—kenapa Papi bisa tahu?” tanya
Sylvia sedikit terbata.
“Sylvia! Kamu bisa sembunyi dari
siapapun, tapi tidak dariku. Kamu bisa sembunyi disebuah tempat paling rahasia
diujung dunia sekalipun, tapi aku pasti bisa menemukanmu, lalu kenapa kamu
berpikir kamu bisa bersembunyi dengan
gampangnya dariku? Hah?”
“Pa—Papi, aku…. Aku—“
Sebelum Sylvia menyelesaikan
perkataannya, Geraldy serta-merta mengulurkan salah satu tangannya dan berkata,
“sekarang raih tangan aku dan ayo kita pergi dari sini! Kita akan pergi bersama
Ibu, dan anak-anak kita, kita akan bersembunyi bersama-sama disuatu tempat yang
akan tidak akan pernah bisa ditemukan oleh Papa…”
Sylvia tersenyumm kecil. Ekspresinya
sekarang benar-benar tidak terbaca, ia tampak berpikir lalu menunduk untuk
beberapa saat. Tidak lama, tangan kanannya terangkat lalu meraih tangan Geraldy
yang masih dengan setia terulur. Saat itu juga Geraldy langsung bernapas lega,
tapi tidak lama…
“aku juga akan melarikan diri, aku
juga akan bersembunyi. Aku ingin kita hidup bersama sebagai keluarga yang utuh…
seandainya aku bisa. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa lakukan itu”
Sylvia melepaskan tangan Geraldy
begitu saja dan membuat perasaan Geraldy mencelos.
“ini semua karna Papa, kan? ayolah,
Mi! kita hadapi Papa bersama. Kita harus sama-sama berjuang demi anak-anak
kita, kita—“
“ini semua bukan karna Papa. Papa
hanya membuatku sadar, bahwa semakin kesini, dunia kita memang berbeda. Sejak
awal…. Seharusnya kita tidak pernah bersama. Sejak awal seharusnya—“
“cukup! Hentikan semuanya sekarang
sebelum kamu melihatku mati didepan matamu!”
“Pi—“
“apa kamu sebegitu ingin berpisah
dariku? Apa kamu sebegitu tega melepaskan semuanya setelah selama ini kita
berjuang bersama? Apa kamu sekejam itu Sylvia Addara?”
“maaf, Pi…” ujar Sylvia lirih tanpa
berani menatap kedua mata Geraldy.
Geraldy mengangguk beberapa kali
dengan perasaan hancur. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga.
“baiklah, kamu akan aku lepaskan!
Semua ini aku lakukan bukan untuk memenuhi keinginanmu ataupun ambisi Papa yang
tidak masuk akal itu. Semua ini aku lakukan, karna aku benar-benar tidak bisa
memperjuangkan seseorang yang tidak mau diperjuangkan…”
“Papi—“
“Sylvia Addara, sekarang kamu bebas.
Kamu… kamu bukan isteriku lagi…”
Geraldy lalu berbalik pergi dengan
perasaan remuk redam. Airmatanya kian deras menetes, pun begitu dengan Sylvia.
Sylvia menatap kepergian Geraldy dengan perasaan yang tidak kalah remuknya. Secara
perlahan, tubuhnya lalu ambruk. Ia terduduk lemah didepan gerbang rumahnya dan
berusaha keras melawan keinginannya untuk segera berlari dan memeluk Geraldy.
Tidak, Sylvia tidak ingin Geraldy kehilangan segalanya. Cukup sekali Geraldy
kehilangan apa yang ia miliki dan rela hidup menderita bersamanya saat mereka
tinggal di Lombok beberapa tahun yang lalu. Sylvia tidak akan mengulanginya
lagi. Dan ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri.
♫♫♫
Sorano
Restaurant
Danar
Ganendra dan Via terlihat sedang menikmati makan siang mereka disalah satu
restaurant mewah milik keluarga Sorano. Danar Ganendra memilih tempat dibalkon
dengan pemandangan danau buatan yang tampak alami didepannya. Awalnya Via
merasa begitu canggung, ia juga bingung kenapa Danar Ganendra tiba-tiba
menemuinya disekolah dan mengajaknya pergi ke tampat ini, tapi semakin kesini,
Via justru merasa nyaman dengan Danar Ganendra. Bahkan sejak tadi, mereka
berdua tampak bersenda gurau sambil tertawa lepas. Dan beberapa pengawal Danar
Ganendra yang selama ini mengikutinya merasa sangat heran. Selama
bertahun-tahun mereka mengawal seorang Danar Ganendra yang dingin dan kejam, ini kali pertamanya mereka melihat Danar
Ganendra tertawa selepas itu.
“jadi,
Via boleh tahu kenapa Kakek tiba-tiba bawa Via ketempat ini?” tanya Via setelah
beberapa saat mereka larut dalam tawa.
“sejujurnya,
sejak pertama saya melihat kamu dipesta ulang tahun Gabriel, saya seperti
merasa melihat sosok yang sangat saya rindukan…”
“apa
itu… cucu perempuan Kakek?”
Degh!
Pertanyaan itu dengan telak memukul jantung Danar Ganendra. Kedua mata jernih
Via dengan pancaran ketulusannya justru membuat Danar Ganendra luluh dalam
sekejab mata. Danar Ganendra lalu mengangguk sebagai jawaban.
“Via….”
“iya,
Kek?”
“apa
kamu mau nemenin Opa makan lagi kalo nanti Opa meminta?”
Via
mengangguk pasti seraya menyunggingkan seulas senyum lebarnya, “Pasti Kakek!”
“dan
mulai sekarang jangan panggil Kakek. Panggil saja saya Opa seperti yang Gabriel
lakukan”
“hah?”
Via tampak terkejut diawal, tapi kemudian… “i—iya, Kek… eh… O—Opa”
“VIA!!”
Dua orang tiba-tiba saja muncul sambil memekikan nama Via. Danar dan Via yang
sejak tadi larut dalam kebersamaan mereka serta-merta menoleh kebelakang dan
mendapati sosok Alvin dan Gabriel yang sedang berdiri dibelakang mereka dengan
raut wajah yang benar-benar terlihat cemas. Danar Ganendra tersenyum kecil,
seperti sudah bisa memprediksi segalanya, ia mengambil sapu tangan yang ada
didepannya lalu mengelap bibirnya dengan pelan.
Gabriel
menatap tajam kearah Opanya yang tampak santai, begitu juga dengan Alvin. Tidak
lama melempar tatapan pada Danar Ganendra, Alvin meraih pergelangan tangan Via
dan membuatnya berdiri,
“Opa,
saya pamit” Alvin menunduk hormat dengan emosi tak terjelaskan. Lalu tanpa
berkata apa-apa lagi, Alvin membawa Via pergi dari tempat itu dan menyisakan
Gabriel bersama Opanya.
Gabriel
masih menatap Danar Ganendra dengan dengan tajam. Tatapannya bahkan tidak
teralihkan saat Alvin membawa Via pergi. Saat ini, yang menjadi titik fokusnya
hanyalah sang tersangka utama, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakeknya
sendiri.
“apa
yang sedang Opa rencanakan sekarang? Rencana licik apalagi yang sedang Opa
susun?” tuding Gabriel dengan sengit.
Danar
masih tampak santai. Ia menatap Gabriel seraya tersenyum dan berkata, “kenapa
kamu selalu curiga dengan gerak-gerik Opa, Gabriel? Apa menurutmu, semua isi
kepala Opa hanya kelicikan semata? Dan
apa salah, kalau seorang Kakek mengajak cucu nya makan siang?”
“CUCU?!”
Sergah Gabriel dengan cepat. Nada suaranya terdengar sanksi. “Jadi Opa masih
menganggap Via sebagai cucu setelah Opa merebut segalanya? Orangtuanya,
Kakaknya, kebahagiaan masa kecilnya, dan bahkan identitasnya. Opa masih berani
mengatakan Via sebagai cucu setelah merebut semuanya itu? Opa masih berani
mengatakan dia sebagai cucu disaat aku bahkan… tidak memiliki keberanian apapun
untuk mengatakan bahwa dia… adikku…” kegetiran terdengar dengan jelas pada
kalimat-kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Gabriel. Sebisa mungkin, ia
berusaha menahan airmatanya agar tidak terjatuh sedikitpun, setidaknya
dihadapan Kakeknya yang kejam ini.
“Gabriel
Ganendra, jaga ucapanmu!”
“Iel
sudah terlalu lelah menahan semuanya, Opa! Opa boleh lakukan apapun yang Opa
suka sama Iel, tapi tolong… jangan pernah sentuh Via. Via… Via udah cukup
menderita selama ini…”
“kejam,
dingin, bengis, dan bahkan sangat jahat, mungkin itu yang ada dipikiranmu
tentang Opa, dan bahkan mungkin lebih, tapi kamu selalu lupa akan satu hal,
Gabriel…” Danar Ganendra memotong ucapannya, ia lalu berdiri dan menyentuh
pundak Gabriel. Dengan getir ia berucap pelan, “kamu selalu lupa, kalau Opa
juga masih punya hati. Dan kamu tidak pernah tahu, dibalik semua kekejaman Opa
dana tindakan jahat yang sudah Opa lakukan dimasa lalu, opa… sangat merindukan
cucu perempuan Opa….”
“apa
sekarang Opa mau mengatakan kalau Opa… menyesal?” tanya Gabriel ragu-ragu.
Danar
tersenyum meremehkan untuk sesaat lalu menggeleng dengan mantap, “tidak! Opa
sama sekali tidak menyesal. Opa hanya merindukan adikmu. Hanya itu…”
Danar
Ganendra berlalu begitu saja. semenntara Gabriel ia hanya terdiam tanpa mampu
mengucapkan apapun. Ia terpaku ditempatnya dan mulai berpikir tentang segala
hal yang terjadi selama ini.
♫♫♫
Tidak
terjadi obrolan apapun antara Alvin dan Via selama diperjalanan pulang. Alvin
terlihat focus menyetir dengan tatapan lurus kedepan yang terlihat dingin,
karena itulah Via merasa gentar kalau harus menegurnya. Via tahu betul, jika
Alvin sudah diam seperti ini dengan ekspresi dinginnya, itu tandanya Alvin
sedang marah dan tidak ingin diganggu. Tapi yang kemudian menjadi pertanyaan dibenak
Via adalah, kenapa Alvin jadi tiba-tiba marah saat Danar Ganendra mengajaknya
bertemu? Alvin tidak mungkin cemburu, kan?
Sepuluh
menit bergulat dalam keheningan yang tidak mengasyikan, akhirnya tibalah mereka
dirumah. Alvin keluar begitu saja dari dalam mobilnya tanpa menghiraukan Via.
Merasa ada yang janggal dari semua ini, Via serta merta meloncat turun dari
mobil Alvin, mengejarnya lalu menahan pergelangan tangannya untuk meminta
penjelasan.
“lo
marah?” tanyanya singkat sambil menatap tajam pada kedua mata Alvin.
Alvin
menghela napas lalu menarik pelan tangannya dari genggaman Via.
“jangan
pernah ketemu sama Opa Danar lagi, apapun alasannya!”
Kedua
alis Via bertaut satu sama lain. Ia heran kenapa Alvin tiba-tiba bersikap aneh
seperti ini. Jujur saja, ini tidak seperti Alvin biasanya. “ta—tapi kenapa?”
“jangan
tanya kenapa!!” hardik Alvin dengan cukup keras dan membuat Via terkejut.
“A—Alvin?”
Alvin
memang dingin dan hampir selalu bersikap kasar pada Via, tapi tidak pernah
sekalipun Via melihat Alvin semarah ini. Satu yang pasti, Alvin tidak akan
semarah ini jika bukan tanpa alasan. Dan Via yakin, Alvin pasti memiliki alasan
yang kuat dibalik semua ini.
Airmata
Via nyaris jatuh dihadapan Alvin. Sekalipun ia berusaha menahan diri untuk
tidak menangis, tetap saja pertahanannya pada akhirnya runtuh begitu saja. Via
menunduk untuk beberapa saat lalu berjalan melewati Alvin memasuki rumah
mereka. Rasanya… ada yang hancur jauh didalam sana.
Alvin
mengacak rambutnya frustasi. Sial! Apa dia terlalu kasar pada Via?
♫♫♫
Seorang
pria berpakaian serba hitam dan membawa sebuah amplop coklat memasuki ruang
kerja Yashinta. Pria itu berdiri didepan meja kerja Yashinta setelah sebelumnya
Yashinta memutar kursinya dan berhadapan langsung dengan orang kepercayaannya
itu.
Pria
tadi lantas meletakan amplop yang ia bawa diatas meja Yashinta dan mulai
melaporkan hasil kerjanya, “ini informasi yang Ibu butuhkan mengenai identitas
Gisselavia Garnetta…”
Dengan
jantung berdebar dan tangan yang sedikit gemetaran, Yashinta membuka amplop
itu. Sebentar lagi, ia akan mendapatkan jawaban atas kecurigaannya selama ini.
Sementara Yashinta sedang membaca semua identitas Via, orang kepercayaannya itu
mulai menjelaskan.
“Gissela
Fania Ganendra adalah cucu perempuan dari Danar Ganendra yang merupakan saudara
kembar dari Gabriel Fabian Ganendra. Saat Gissel berumur 3 tahun, Sylvia
membawanya keluar dari kediaman Ganendra setelah sebelumnya diusir. Mereka
tinggal di Singapore, dan saat itu juga, Danar Ganendra mengganti identitas
cucunya sendiri untuk menutupi semuanya. Gissel akhirnya berganti nama menjadi
Gisselavia Garnetta dengan nama panggilan Via. Dan sekarang, Via diadopsi oleh
Adryan Aryadinata dan Metta Indriani atas perintah langsung dari Danar
Ganendra…”
Tanpa
sadar, Yashinta menjatuhkan kertas tadi diatas mejanya. Perasaannya sekarang
mulai berkecamuk dan deru napasnya terdengar tidak teratur. Ternyata
kecurigaannya selama ini terbukti. Via, teman dekat anaknya ternyata adalah
putri dari sahabatnya yang sekarang sudah meninggal. Yashinta bahkan tidak bisa
membayar penyesalannya pada Sylvia. Dan ia kian hancur saat mengetahui
bagaimana kejamnya seorang Danar Ganendra.
Yashinta
tidak bodoh. Ia tahu alasan kenapa Danar Ganendra melakukan semua ini. Batalnya
perjodohan dirinya dengan Geraldy dimasa lalu tentu saja menuai kerugian yang
tidak sedikit bagi perusahaan Danar, dan saat Geraldy memilih Sylvia menjadi
isterinya, praktis Danar semakin merasa dirugikan. Bagi Danar, pernikahan
antara Sylvia dan Geraldy sama sekali tidak menguntungkan, dan Sylvia hanya
benalu dalam perjalanan bisinisnya.
Dengan
alasan itulah Danar Ganendra berusaha memisahkan Geraldy dan Sylvia. Jika pun
ia memilih untuk merawat Gabriel dan bukannya Via, itu pasti karna hanya Gabriel yang bisa
menjadi penerus perusahaannya, apalagi setelah Geraldy meninggal, secara
otomatis beban pewaris tunggal sepenuhnya dibebankan pada pundak Gabriel.
Jantung
Yashinta seperti dipukul. Bahkan hanya sekedar membayangkan kekejaman seorang
Danar Ganendra, ia merasa tidak sanggup.
“apa
anda baik-baik saja?” tanya Pria itu pada Yashinta.
Yashinta
menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “saya baik-baik saja. kamu boleh
pergi”
Baru
saja pria itu akan keluar dari ruang kerja Yashinta, Cakka tiba-tiba saja
membuka pintu dan menatap heran pada pria yang berpakaian serba hitam itu.
Menyadari kehadiran Cakka, Yashinta buru-buru menyimpan amplop itu didalam laci
mejanya, tapi toh terlambat, karna Cakka terlanjur melihatnya dan mendadak
merasa penasaran.
Pria
tadi menunduk sejenak pada Cakka lalu keluar dari ruangan Yashinta.
“dia
siapa, Bunda?” tanya Cakka seraya mendekat kearah Yashinta.
“bukan
siapa-siapa, Nak. Kamu sudah makan?” tanya Yashinta berusaha mengalihkan
perhatian Cakka. Cakka yang masih didekap rasa curiga hanya menggeleng dan
berusaha menyimpan rasa penasarannya.
“Cakka
belum makan, Bund”
“kalau
gitu ayo ikut Bunda, Bunda akan masak makanan kesukaan mu. Lagipula sebentar
lagi Eyang akan datang”
“i—iya
Bunda….”
♫♫♫
Merasa
sakit hati karna dimarahi oleh Alvin, Via memilih untuk tidak pulang kerumah.
Ia berjalan diterotoar jalan yang cukup sepi sambil terus mengingat semua
kemarahan-kemarahan Alvin. Tidak, Via tidak sakit hati karna dimarahi, ia sakit
hati karna Alvin sama sekali tidak memberitahukan alasan kenapa ia begitu marah
melihat Via bertemu dengan Danar Ganendra. Setidaknya Via butuh alasan agar
tidak menjadikan Alvin orang jahat dalam masalah ini.
Via
nyaris kehilangan arah, ia tidak tahu harus kemana lagi karna sejak tadi, ia
hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Via lalu berhenti disebuah jembatan
dan menatap nanar kedepan. Mendadak ia merasa ingin pulang ke Lombok. Jika ia
mau, ia bisa saja kabur sekarang juga, tapi saat mengingat kedua orangtua
angkatnya Via justru merasa tidak tega.
Sebuah
jaguar hitam tahu-tahu berhenti, seseorang dari dalam mobil itu menyembulkan
kepalanya dan memanggil nama Via.
“Via!”
Via
serta-merta berbalik saat merasa namanya dipanggil, saat itu juga ia mendapati
sosok Gabriel yang menatapnya dengan cemas. “Ga—Gabriel?” gumamnya pelan.
“kamu
ngapain disini sendiri?”
“gak
ngapa-ngapain. Aku… aku Cuma lagi males pulang kerumah…” jawab Via sekenanya.
Mendengar
jawaban yang Via lemparkan, Gabriel justru merasa ada yang aneh. Ia pun
mengingat kejadian direstoran beberapa jam yang lalu, saat dirinya dan Alvin
mendapati Via bertemu dengan Opanya. Darisana Gabriel bisa menebak, Alvin pasti
memarahinya karna itu.
Gabriel
lalu membuyarkan keterpanaannya dan berkata, “aku juga lagi males pulang. Kamu
mau jalan gak sama aku? Kita cari hiburan sama-sama, gimana?”
“A—APA?”
Via terkejut setengah mati sekarang. Apa benar cowok manis ini mengajaknya jalan.
Gabriel
justru terkekeh saat melihat ekspresi kaget Via yang menurutnya sangat lucu.
“aku
jamin bakalan seru banget”
Tanpa
berpikir panjang lagi, Via langsung mengikuti permintaan Gabriel. Entah kenapa,
Via juga merasa butuh hiburan. Via lalu memasuki jaguar hitam Gabriel dan duduk
disisinya dengan nyaman. “seatbelt
nya, Gissel!” Gabriel memperingatkan seperti seorang ayah yang sedang
memperingatkan puterinya. Saat Via akan memasang sabuk pengamannya, Gabriel
justru mengambil alih dan memasangkan Via dengan penuh perhatian. Untuk sedetik
Via membeku ditempatnya. Kenapa Gabriel mendadak jadi perhatian begini? Dan
apa? Bukankah tadi Gabriel memanggilnya dengan panggilan Gissel? Apa Via tidak
salah dengar?
“Gi—Giseel?”
Gabriel
tersenyum penuh arti lalu mengusap puncak kepala Via dengan gemas, “mulai hari
ini aku mau manggil kamu Gissel. Boleh, kan?”
Via
tampak berpikir untuk beberapa saat lalu mengangguk dengan ragu. Terserahlah
Gabriel mau memanggilnya dengan apa saja, toh dulu ia juga dipanggil Gissel
oleh Ibu Pantinya. Via rasa itu tidak masalah jika sekarang Gabriel ingin
melakukannya juga.
Gabriel
mengajak Via pergi kesebuah mall dan bermain beberapa permainan di Time Zone. Baru
setengah jam menikmati setiap permainan, Via seakan larut dan melupakan semua
masalahnya. Gabriel, tanpa ia sadari telah benar-benar membuatnya merasa sangat
nyaman.
Setelah
puas bermain, mereka memasuki sebuah toko ice cream. Mereka berdiri didepan
meja counter dan melihat beberapa pilihan ice cream yang tersedia disana.
“mau
pesan apa?” tanya seorang pramuniaga dengan ramah.
Gabriel
dan Via tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab dengan kompak tanpa mereka
sadari, “Double chocolate oreo”
Hening
untuk beberapa detik. Mereka lalu saling menatap satu sama lain untuk beberapa
saat lalu tertawa bersama.
Saat
menunggu pesanan, tiba-tiba saja ponsel Gabriel berdering menandakan ada sebuah
panggilan masuk. Gabriel buru-buru melihat ponselnya dan menemukan nama Alvin tertera
dilayar.
“iya,
Vin ada apa?” tanya Gabriel langsung. Mendengar nama Alvin dibawa-bawa, Via
kontan kaget, tapi pandangan mata Gabriel yang teduh mengisyaratkan agar ia
tetap tenang.
“iya,
gue lagi sama Via. Kenapa?”
“……”
“gak
apa-apa. Kita lagi jalan-jalan aja”
“……”
“iya,
nanti jam 8 gue pastiin Via pulang kerumah dalam keadaan selamat. Oke, sampai
nanti”
Gabriel
mengakhiri obrolannya ditelfon lalu meletakan ponselnya diatas meja. Ragu-ragu
Via mencoba bertanya.
“A—Alvin
gak marah, kan?”
“dia
gak punya alasan buat marah” jawab Gabriel seadanya yang justru membuat Via
bingung. Jujur saja, Gabriel memang seru hari ini, Via bahkan merasa sangat
nyaman. Tapi tetap saja sikap yang Gabriel tunjukan sekarang ini sangat aneh
menurut Via, mengingat mereka yang selama ini tidak begitu dekat satu sama
lain.
Kebingungan
Via langsung buyar saat seorang pramuniaga datang dan membawakan pesanan
mereka. Gabriel menatap ice cream pesanannya dengan semuringah. Ia bertepuk
sekali dan berucap, “selamat makaaaan!!”. Gabriel lalu melahap ice cream-nya
dengan gembira.
“Gissel”
“hm?”
Gabriel
menghentikan aktifitas menyantap ice cream-nya, sebelum menjawab, ia menatap
Via dengan pandangan hampa, “tolong ceritakan sesuatu tentang Mama…” jawab
Gabriel dengan nada yang terdengar getir. Salah satu alis Via terangkat,
“Mama?”
Gabriel
menghela napas. Hatinya semakin terasa perih, “Mama mu…” Gabriel terdiam, ‘Mama kita…’ lanjutnya dalam hati
kemudian.
Via
tersenyum lebar. Seperti sebuah kebiasaan, ia selalu merasa bersemangat setiap
ada orang yang mengajaknya membahas tentang Mamanya.
“Mama…
Mama itu selalu ngajarin aku untuk jadi cewek yang kuat. Mama pernah bilang,
aku gak boleh jadi cewek cengeng, aku juga gak boleh jadi cewek lemah. Mama itu…
udah kayak seorang bidadari yang sengaja dikirimin Tuhan kedalam hidupku. Dan seumur
hidupnya, Mama selalu berusaha buat bahagiain aku…”
Hati
Gabriel seketika menghangat saat mendengar cerita yang Via tuturkan. Meski tidak
merasakannya secara langsung, tapi Gabriel tahu Mamanya memang seorang
bidadari.
“ka—kalo
Pa—Pa mu?” tanya Gabriel terbata dan sedikit ragu. Ia takut pertanyaannya itu
justru menyinggung perasaan Via, tapi apa yang Gabriel dapatkan justru diluar
perkiraannya.
“terus
terang aja, aku tuh gak tau mukanya Papa kayak apa, tapi yang pasti, Papaku
adalah orang hebat. Mama selalu memuji Papa, dan Mama pernah bilang, apapun
yang terjadi, dan dimanapun Papa berada, Papa selalu menyayangi aku, Papa
selalu pengen ketemu sama aku, Cuma aja… ada hal yang bikin Papa gak bisa
mencari aku. Tapi… aku tetep percaya dan yakin, kalo Papa menyayangiku lebih
dari apapun…”
Airmata
Via tergenang sempurna disudut matanya saat membicarakan tentang Papanya. Mau tidak
mau, rasa rindu itu kembali mengusik ketenangan hatinya setelah bertahun-tahun
lamanya.
Tangan
Gabriel secara otomatis terangkat lalu menyeka airmata sebelum terjatuh. Via
tersenyum miris dan berusaha bersikap biasa saja.
“sekarang
ceritakan, gimana Papa mu!” pinta Via yang sebenarnya hanya berusaha untuk
menenangkan perasaannya saat ini.
Gabriel
tersenyum kecil, lalu menghela napas, “Papa itu… sangat luar biasa. Itu aja…”
jawab Gabriel singkat. Via menatap Gabriel dengan pandangan tak terima,
“udah?
Itu doang?”
Gabriel
mengangguk dan kembali menyantap ice cream-nya dengan perasaan tidak
terjelaskan.
“masa
itu aja sih? Aaahh… Gabriel gak seru deh” rajuk Via.
Gabriel
terkekeh lalu mengusap puncak kepala Via dengan lembut entah untuk yang
keberapa kalinya.
♫♫♫
Masih
dengan rasa penasaran yang sama seperti tadi siang, Cakka diam-diam memasuki
ruang kerja Bunda nya saat Bunda nya sedang keluar makan malam bersama Ayah
nya. Cakka duduk dimeja kerja Yashinta lalu mulai membuka laci. Setelah memeriksa
beberapa laci, akhirnya Cakka menemukan apa yang ia cari. Amplop cokelat yang
tadi disembunyikan oleh Bunda nya. Amplop cokelat yang menjadi sumber rasa
penasarannya.
Dengan
tidak sabar, Cakka membuka amplop itu lalu membaca isinya. 2 menit kemudian,
Cakka terlihat kaget saat menemukan semua identitas Via yang sebenarnya. Hanya dalam
waktu singkat, Cakka telah mengetahui semua rahasia yang tidak pernah ia
ketahui selama ini.
Tangan
Cakka gemetaran, ia menghela napas panjang dan berusaha mengumpulkan semua
kesadarannya. Dua hal yang ada dikepalanya sekarang; Via adalah cucu dari Danar
Ganendra dan Via bukan saudara sepupu Alvin.
Cakka
mendadak lemas.
“Gissela
Fania Ganendra?”
♫♫♫
Seperti
janjinya pada Alvin ditelefon tadi, Gabriel membawa Via pulang kerumah saat
waktu menunjukan pukul delapan tepat. Saat jaguar hitam milik Gabriel memasuki
halaman rumah Alvin yang cukup luas, Alvin sudah menunggu disana sambil melipat
kedua tangannya didada dan memasang wajah dingin yang sukses membuat Via merasa
takut lagi. Sebelum keluar dari dalam mobil Gabriel, Via sempat menoleh kearah
Gabriel. Gabriel hanya tersenyum dan menyentuh puncak kepala Via, “aku akan
urus semuanya. Dan aku pastiin Alvin gak akan berani marahin kamu. Sekarang ayo
keluar!”
Gabriel
dan Via keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Dan saat melihat tatapan
Alvin yang begitu dingin, Via serta-merta menunduk. Ia bahkan tidak memiliki
keberanian untuk sekedar mengangkat wajahnya, apalagi harus menatap kedua mata
Alvin.
“masuk
kedalem!” perintah Alvin dengan nada tidak ingin dibantah, lalu tanpa berkata
apapun, Via masuk kedalam rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Gabriel
hanya menatap kepergian Via dengan senyuman geli.
“ehem…
makasih udah nganterin Via pulang. Sekarang baiknya lo pulang juga…”
Alvin
berbalik pergi, tapi langkahnya serta-merta terhenti saat suara milik Gabriel
terdengar, “jangan terlalu keras sama adek gue kalo lo gak mau dihajar sama
Abangnya, mengerti?”
Alvin
kembali membalik badannya dan menatap Gabriel dengan kedua mata terbelalak maksimal.
Apa yang baru saja Gabriel katakan? Apa jangan-jangan dia sudah mengetahui
kebenarannya?
“gak
usah tanya apapun! Karna gue gak akan jawab” ujar Gabriel yang seakan mampu
membaca isi kepala Alvin. Gabriel lantas hengkang dari hadapan Alvin dan memasuki
mobilnya dengan tenang.
♫♫♫
Via
meringkuk dibalik selimutnya sambil berusaha menahan rasa lapar yang mulai
menyerangnya. Sejak ia pulang kerumah sejam yang lalu, Via belum sama sekali
keluar dari kamarnya. Ia bahkan rela meninggalkan makan malamnya supaya tidak
perlu bertemu dan melihat wajah Alvin yang menyebalkan itu. Rasa laparnya kian
menjadi. Lagipula Alvin kemana saja? biasanya juga ia selalu memaksa Via untuk
makan dalam keadaan apapun, tapi sekarang apa? Alvin justru membiarkan Via
kelaparan dikamarnya. Brengsek! Maki Via dalam hati.
Ia
lalu bangkit dari tidurnya dan mengacak rambutnya dengan sebal. “ARRRGGHHH!!
ALVIN JAHAT, NYEBELIN! GUE BENCI LOOOOOO!!!” Teriak Via dengan nada yang cukup
keras, dan Via sama sekali tidak peduli jikapun Alvin mendengar teriakannya.
Nada
lapar diperutnya kembali terdnegar. “aw, gue lapaaarrr! Tapi liat aja, gue gak
akan makan! Sekalipun gue harus mati kelaparan disini, GUE GAK AKAN
MAKAAAAAN!!”
Nada
SMS dari ponsel nya tiba-tiba saja mengagetkan Via. Ia sedikit terperanjat lalu
kembali mengutuk saat tahu bahwa Alvin lah yang mengiriminya SMS. Dengan
setengah hati, Via membaca pesan singkat yang Alvin kirimkan.
======================
From:
Calvin Nicholas
Gue
tunggu lo dihalaman belakang skrg!
Gak
pake lama.
======================
Via
mendengus kesal setelah membaca pesan yang Alvin kirimkan. Ia lalu bangkit dari
tempat tidurnya dan segera keluar dari dalam kamarnya.
“jangan
panggil gue Gisselavia Garnetta kalo gue gak mutusin lo malem ini juga!!”
♫♫♫
Via
berjalan cepat dengan kekesalan tingkat tinggi untuk memenuhi panggilan Alvin.
Dan selama perjalanan, ia terus saja merutuki Alvin tanpa henti. Tapi tiba-tiba
langkah Via terhenti saat melihat taburan bunga mawar merah berserakan
disepanjang jalan. Via terdiam, jantungnya berhenti berdetak dalam sedetik. Ia
kemudian melanjutkan langkahnya. Lilin-lilin kecil disisi kiri dan kanan jalan
kini menyambut setiap langkahnya. Dan Via membekap mulutnya karna terharu.
Diujung jalannya, Alvin terduduk disebuah bangku. Taburan bunga mawar merah
dengan beberapa lilin kecil membentuk hati seakan membingkai posisinya
sekarang. Lalu dikolam renang tepat dibelakang Alvin sekarang, ratusan lilin
kecil tertata dengan rapi membentuk kata ‘MAAF’.
Kali
ini Via sudah tidak bisa lagi menahan rasa harunya. Airmatanya seakan berlomba
keluar. Dari tempatnya sekarang, Alvin tampak tersenyum lalu berkata,
“maafin
gue…” ucapnya singkat tapi penuh dengan kesungguhan.
Via
yang tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun hanya bisa menggeleng. Ia
membekap mulutnya sementara airmatanya terus mengalir, membasahi wajah
cantiknya.
“sebagai
tanda permintaan maaf gue, gue akan nyanyiin sebuah lagu buat lo”
Seperti
tadi, Via hanya terdiam.
Alvin
lalu mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang ia tujukan untuk
Via.
“Kali
ini kusadari…
Aku
telah jatuh hati
Dari
hatiku terdalam…
Sungguh
aku cinta padamu
Terimalah
pengakuanku
Percayalah
kepadaku
Semua
ini ku lakukan karna kamu memang untukku…”
Alvin
mengangkat wajahnya dan menatap Via penuh cinta.
“Cintaku
bukanlah cinta biasa
Jika
kamu yang memiliki
Dan
kamu yang temaniku seumur hidupku…”
Bait
demi bait lagu akhirnya berhasil Alvin selesaikan. Dan pada akhir lagu itu,
sebuah layar dari belakang Via tiba-tiba saja menyala dan memperlihatkan video
masa kecil Alvin yang sepertinya diambil oleh Mamanya tanpa sepengetahuan
mereka. Via berbalik saat itu juga dan menyaksikan video yang disengaja diputar
oleh Alvin.
Video
itu memperlihatkan sosok Alvin kecil yang rupanya baru saja pindah ke Jakarta.
Dalam video itu, Alvin kecil menyampaikan rasa rindunya pada sosok Via yang ia
panggil sebagai ‘Peri Kecil’ nya.
“Hay
Pia! Pia tau gak? Disini Aphin kesepian gak ada Pia, disini Aphin juga gak
nemuin temen seasyik Pia. Pia… peri kecilnya Aphin yang paling cantik, Aphin
kangen sama Pia… Aphin pengen tinggal di Lombok lagi, bareng Pia….”
Via
tersenyum dengan airmatanya yang masih terus berlinang. Tiba-tiba saja, ia
merasakan sepasang tangan kekar yang begitu hangat memeluk erat tubuhnya dari
belakang.
“Maaf
udah bikin lo kesel hari ini” bisik Alvin lalu mengecup lembut puncak kepala
Via. Ia melakukannya agak lama.
“Maaf
juga udah bikin lo khawatir. Mulai sekarang gue janji, gue gak akan lagi
ngelakuin hal-hal yang bikin lo cemas, gue juga gak akan nanya alasannya apa,
gue akan percaya sama lo sebanyak yang gue bisa…” lirih Via lalu menyentuh
kedua lengan Alvin yang melingkari tubuhnya. “dan makasih buat semua ini…”
lanjut Via. Ia lalu berbalik dan kembali memeluk Alvin.
Nada
keroncongan diperut Via kembali terdengar saat mereka sedang larut dalam luapan
perasaan mereka. Alvin terkekeh dan membuat kedua pipi Via merona karna malu.
Via buru-buru melepaskan pelukannya dari Alvin dan membuang wajahnya agar Alvin
tidak melihatnya.
“lapar?”
tanyanya dengan nada meledek.
Via
menggeleng sebagai jawaban. Alvin menghela napas dan berusaha menahan tawanya.
Sudah cukup ia membuat gadisnya ini malu. Alvin pun meraih salah satu tangan
Via dan menuntunnya ke tepi kolam renang. Disana, Alvin sudah menyiapkan meja
dan dua buah kursi. Ia bahkan memasak sendiri makanan kesukaan Via. Mereka
berdua duduk berhadapan.
“karna
ini gue yang masak sendiri, jadi… lo harus habisin. Ngerti?”
Via
mengangguk beberapa kali dan dengan lahap memakan masakan Alvin. Ternyata,
masakan Alvin terasa sangat enak. Via baru tahu, bahwa pacarnya yang
menyebalkan ini ternyata jago masak.
“lo
suka?”
Kali
ini Via mengangguk dengan senyum mengembang diwajah imutnya, tapi tiba-tiba
saja Via melepaskan sendok serta garpunya dan menatap Alvin dengan tatapan
merajuk.
“kenapa
berhenti?” tanya Alvin lagi.
“suapin!”
pinta Via dengan nada manjanya yang justru membuatnya terlihat semakin imut.
Alvin
yang awalnya merasa risih dan ingin menolak malah merasa tidak tega. Seperti
tersihir, tangan kanan Alvin bergerak menggapai sendok lalu menyuapi Via dengan
ekspresi yang mendadak terlihat canggung.
To Be Continued…



0 comments:
Post a Comment