Monday, July 13, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 12B)














27 Desember, 1999

            Geraldy pulang kerumahnya dalam keadaan kalut saat ia mendengar kabar bahwa Sylvia membawa Gissel pergi dari rumah itu. Salah satu asisten kepercayaannya memberitahukan prihal kepergian Sylvia yang seakan tanpa alasan yang pasti itu.
            Geraldy segera memasuki kamar mereka, dan seperti apa yang ia pikirkan selama diperjalanan tadi, kamar itu kosong. Kali ini Geraldy memasuki kamar Gabriel dan Gissel, hasilnya sama, Sylvia dan Gissel tidak disana. Geraldy hanya melihat Gabriel yang sedang tertidur pulas. Geraldy lalu melangkah perlahan mendekati tempat tidur Gabriel dengan kedua matanya yang sudah memerah menahan tangis.
            Tepat disamping Gabriel kecil berbaring, Geraldy menemukan sepucuk surat yang nampaknya belum lama ditinggalkan. Sebelum membaca, Geraldy sudah tahu bahwa Sylvia lah yang meninggalkan surat itu disana. Lalu dengan tangan gemetar, Geraldy meraih sepucuk surat itu dan membacanya:

Geraldy, suamiku…

            Maaf aku pergi dengan cara seperti ini. Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain harus… berhenti sampai disini.
            Ada atau tidak ada aku dihidupmu, tolong untuk tetap melanjutkan hidupmu, setidaknya demi jagoan kecil kita, teruslah bertahan.

Sylvia-

            Ya, isi surat itu bahkan sangat singkat. Sylvia tidak menyebutkan apa alasannya untuk memilih mundur dan akhirnya menyerah. Tapi satu yang pasti Geraldy tahu, dibalik kepergian Sylvia ini, Papa nya pasti turut andil menjadi actor utamanya. Dengan perasaan remuk redam, Geraldy meremas surat itu. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya berdesakan keluar.
            Dan sejak hari itu, hari dimana Sylvia pergi, hidup Geraldy benar-benar hancur. Ia merasa kehilangan separuh nyawanya. Tapi Geraldy tidak ingin terus terlarut dalam kehancurannya. Geraldy tentu tidak akan mendapatkan apapun jika ia terus berdiam diri seperti yang ia lakukan sekarang.
            Maka satu minggu setelah kepergian Sylvia, Geraldy memutuskan untuk pergi ke Lombok dan mencari Sylvia. Tapi setibanya disana, Geraldy justru tidak mendapatkan apapun. Rumah milik kedua orangtua Sylvia telah kosong. Geraldy yang sudah putus asa dan frustasi bersimpuh didepan gerbang rumah Sylvia yang sederhana itu. Ia menangis bisu seraya memegangi dadanya yang terasa sesak.
            Salah seorang yang Geraldy kenal, yang juga merupakan teman akrab Sylvia di Lombok melihat Geraldy menangis didepan rumah Sylvia. Wanita itu terlihat tidak tega, ia memang tidak tahu banyak, tapi entah kenapa ia sangat ingin membantu Geraldy mengingat dari bagaimana hancurnya Sylvia sesaat sebelum ia meninggalkan pulau Lombok. Kehancuran Geraldy sekarang membuatnya mengingat akan kehancuran Sylvia saat ia pamit tepatnya beberapa hari yang lalu. Pada kenyataannya, Sylvia dan Geraldy sama-sama hancur.
            “Mas Aldy…” sapa wanita itu seraya menyentuh pelan pundak Geraldy yang bergetar. Geraldy menghentikan tangisnya untuk beberapa saat dan menoleh kebelakang.
            “Nisa?” panggilnya saat melihat wajah yang ia kenal itu.
            “saya tidak tahu tepatnya dimana, saya juga tidak tahu alamatnya, tapi sekarang… Sylvia dan Ibu Marlita ada di Singapore…”

            “Singapore?”



♣♣♣

Singapore, 2000

            Dengan begitu mudahnya, dan hanya dalam waktu dua hari saja, Geraldy bisa menemukan alamat Sylvia di Singapore. Dan saat ini, Geraldy sedang berdiri depan sebuah rumah minimalis disalah satu komplek perumahan yang terdapat di kota pinggiran diwilayah itu. Geraldy menatap nanar kearah rumah itu, bahkan sebelum mendapatkan penjelasan apapun dari Sylvia, Geraldy tahu, bahwa pasti Ayahnya sendiri yang tega mengirim Sylvia kekota ini.
            10 menit berlalu, gerbang didepan Geraldy sekarang perlahan terbuka dan menampakan Sylvia dengan pakaian kerjanya membuka gerbang. Sylvia kaget setengah mati saat melihat suaminya yang Nampak kurusan sejak mereka terakhir kali bertemu. Penampilan Geraldy juga terlihat sedikit tak terawat. Melihat penampilan lain dari suaminya yang biasanya tampak sempurna, membuat Sylvia terenyuh. Rasa bersalah itu kembali menghinggapi dadanya.
            “jadi disini kamu sembunyi?” tanya Geraldy singkat. Beberapa saat setelahnya, Geraldy langsung tersenyum miris.
            “ke—kenapa Papi bisa tahu?” tanya Sylvia sedikit terbata.
            “Sylvia! Kamu bisa sembunyi dari siapapun, tapi tidak dariku. Kamu bisa sembunyi disebuah tempat paling rahasia diujung dunia sekalipun, tapi aku pasti bisa menemukanmu, lalu kenapa kamu berpikir  kamu bisa bersembunyi dengan gampangnya dariku? Hah?”
            “Pa—Papi, aku…. Aku—“
            Sebelum Sylvia menyelesaikan perkataannya, Geraldy serta-merta mengulurkan salah satu tangannya dan berkata, “sekarang raih tangan aku dan ayo kita pergi dari sini! Kita akan pergi bersama Ibu, dan anak-anak kita, kita akan bersembunyi bersama-sama disuatu tempat yang akan tidak akan pernah bisa ditemukan oleh Papa…”
            Sylvia tersenyumm kecil. Ekspresinya sekarang benar-benar tidak terbaca, ia tampak berpikir lalu menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama, tangan kanannya terangkat lalu meraih tangan Geraldy yang masih dengan setia terulur. Saat itu juga Geraldy langsung bernapas lega, tapi tidak lama…
            “aku juga akan melarikan diri, aku juga akan bersembunyi. Aku ingin kita hidup bersama sebagai keluarga yang utuh… seandainya aku bisa. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa lakukan itu”
            Sylvia melepaskan tangan Geraldy begitu saja dan membuat perasaan Geraldy mencelos.
            “ini semua karna Papa, kan? ayolah, Mi! kita hadapi Papa bersama. Kita harus sama-sama berjuang demi anak-anak kita, kita—“
            “ini semua bukan karna Papa. Papa hanya membuatku sadar, bahwa semakin kesini, dunia kita memang berbeda. Sejak awal…. Seharusnya kita tidak pernah bersama. Sejak awal seharusnya—“
            “cukup! Hentikan semuanya sekarang sebelum kamu melihatku mati didepan matamu!”
            “Pi—“
            “apa kamu sebegitu ingin berpisah dariku? Apa kamu sebegitu tega melepaskan semuanya setelah selama ini kita berjuang bersama? Apa kamu sekejam itu Sylvia Addara?”
            “maaf, Pi…” ujar Sylvia lirih tanpa berani menatap kedua mata Geraldy.
            Geraldy mengangguk beberapa kali dengan perasaan hancur. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga.
            “baiklah, kamu akan aku lepaskan! Semua ini aku lakukan bukan untuk memenuhi keinginanmu ataupun ambisi Papa yang tidak masuk akal itu. Semua ini aku lakukan, karna aku benar-benar tidak bisa memperjuangkan seseorang yang tidak mau diperjuangkan…”
            “Papi—“
            “Sylvia Addara, sekarang kamu bebas. Kamu… kamu bukan isteriku lagi…”
            Geraldy lalu berbalik pergi dengan perasaan remuk redam. Airmatanya kian deras menetes, pun begitu dengan Sylvia. Sylvia menatap kepergian Geraldy dengan perasaan yang tidak kalah remuknya. Secara perlahan, tubuhnya lalu ambruk. Ia terduduk lemah didepan gerbang rumahnya dan berusaha keras melawan keinginannya untuk segera berlari dan memeluk Geraldy. Tidak, Sylvia tidak ingin Geraldy kehilangan segalanya. Cukup sekali Geraldy kehilangan apa yang ia miliki dan rela hidup menderita bersamanya saat mereka tinggal di Lombok beberapa tahun yang lalu. Sylvia tidak akan mengulanginya lagi. Dan ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri.



♫♫♫

Sorano Restaurant

            Danar Ganendra dan Via terlihat sedang menikmati makan siang mereka disalah satu restaurant mewah milik keluarga Sorano. Danar Ganendra memilih tempat dibalkon dengan pemandangan danau buatan yang tampak alami didepannya. Awalnya Via merasa begitu canggung, ia juga bingung kenapa Danar Ganendra tiba-tiba menemuinya disekolah dan mengajaknya pergi ke tampat ini, tapi semakin kesini, Via justru merasa nyaman dengan Danar Ganendra. Bahkan sejak tadi, mereka berdua tampak bersenda gurau sambil tertawa lepas. Dan beberapa pengawal Danar Ganendra yang selama ini mengikutinya merasa sangat heran. Selama bertahun-tahun mereka mengawal seorang Danar Ganendra yang dingin dan kejam,  ini kali pertamanya mereka melihat Danar Ganendra tertawa selepas itu.
            “jadi, Via boleh tahu kenapa Kakek tiba-tiba bawa Via ketempat ini?” tanya Via setelah beberapa saat mereka larut dalam tawa.
            “sejujurnya, sejak pertama saya melihat kamu dipesta ulang tahun Gabriel, saya seperti merasa melihat sosok yang sangat saya rindukan…”
            “apa itu… cucu perempuan Kakek?”
            Degh! Pertanyaan itu dengan telak memukul jantung Danar Ganendra. Kedua mata jernih Via dengan pancaran ketulusannya justru membuat Danar Ganendra luluh dalam sekejab mata. Danar Ganendra lalu mengangguk sebagai jawaban.
            “Via….”
            “iya, Kek?”
            “apa kamu mau nemenin Opa makan lagi kalo nanti Opa meminta?”
            Via mengangguk pasti seraya menyunggingkan seulas senyum lebarnya, “Pasti Kakek!”
            “dan mulai sekarang jangan panggil Kakek. Panggil saja saya Opa seperti yang Gabriel lakukan”
            “hah?” Via tampak terkejut diawal, tapi kemudian… “i—iya, Kek… eh… O—Opa”
            “VIA!!” Dua orang tiba-tiba saja muncul sambil memekikan nama Via. Danar dan Via yang sejak tadi larut dalam kebersamaan mereka serta-merta menoleh kebelakang dan mendapati sosok Alvin dan Gabriel yang sedang berdiri dibelakang mereka dengan raut wajah yang benar-benar terlihat cemas. Danar Ganendra tersenyum kecil, seperti sudah bisa memprediksi segalanya, ia mengambil sapu tangan yang ada didepannya lalu mengelap bibirnya dengan pelan.
            Gabriel menatap tajam kearah Opanya yang tampak santai, begitu juga dengan Alvin. Tidak lama melempar tatapan pada Danar Ganendra, Alvin meraih pergelangan tangan Via dan membuatnya berdiri,
            “Opa, saya pamit” Alvin menunduk hormat dengan emosi tak terjelaskan. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin membawa Via pergi dari tempat itu dan menyisakan Gabriel bersama Opanya.
            Gabriel masih menatap Danar Ganendra dengan dengan tajam. Tatapannya bahkan tidak teralihkan saat Alvin membawa Via pergi. Saat ini, yang menjadi titik fokusnya hanyalah sang tersangka utama, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakeknya sendiri.
            “apa yang sedang Opa rencanakan sekarang? Rencana licik apalagi yang sedang Opa susun?” tuding Gabriel dengan sengit.
            Danar masih tampak santai. Ia menatap Gabriel seraya tersenyum dan berkata, “kenapa kamu selalu curiga dengan gerak-gerik Opa, Gabriel? Apa menurutmu, semua isi kepala Opa  hanya kelicikan semata? Dan apa salah, kalau seorang Kakek mengajak cucu nya makan siang?”
            “CUCU?!” Sergah Gabriel dengan cepat. Nada suaranya terdengar sanksi. “Jadi Opa masih menganggap Via sebagai cucu setelah Opa merebut segalanya? Orangtuanya, Kakaknya, kebahagiaan masa kecilnya, dan bahkan identitasnya. Opa masih berani mengatakan Via sebagai cucu setelah merebut semuanya itu? Opa masih berani mengatakan dia sebagai cucu disaat aku bahkan… tidak memiliki keberanian apapun untuk mengatakan bahwa dia… adikku…” kegetiran terdengar dengan jelas pada kalimat-kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Gabriel. Sebisa mungkin, ia berusaha menahan airmatanya agar tidak terjatuh sedikitpun, setidaknya dihadapan Kakeknya yang kejam ini.
            “Gabriel Ganendra, jaga ucapanmu!”
            “Iel sudah terlalu lelah menahan semuanya, Opa! Opa boleh lakukan apapun yang Opa suka sama Iel, tapi tolong… jangan pernah sentuh Via. Via… Via udah cukup menderita selama ini…”
            “kejam, dingin, bengis, dan bahkan sangat jahat, mungkin itu yang ada dipikiranmu tentang Opa, dan bahkan mungkin lebih, tapi kamu selalu lupa akan satu hal, Gabriel…” Danar Ganendra memotong ucapannya, ia lalu berdiri dan menyentuh pundak Gabriel. Dengan getir ia berucap pelan, “kamu selalu lupa, kalau Opa juga masih punya hati. Dan kamu tidak pernah tahu, dibalik semua kekejaman Opa dana tindakan jahat yang sudah Opa lakukan dimasa lalu, opa… sangat merindukan cucu perempuan Opa….”
            “apa sekarang Opa mau mengatakan kalau Opa… menyesal?” tanya Gabriel ragu-ragu.
            Danar tersenyum meremehkan untuk sesaat lalu menggeleng dengan mantap, “tidak! Opa sama sekali tidak menyesal. Opa hanya merindukan adikmu. Hanya itu…”
            Danar Ganendra berlalu begitu saja. semenntara Gabriel ia hanya terdiam tanpa mampu mengucapkan apapun. Ia terpaku ditempatnya dan mulai berpikir tentang segala hal yang terjadi selama ini.


♫♫♫

            Tidak terjadi obrolan apapun antara Alvin dan Via selama diperjalanan pulang. Alvin terlihat focus menyetir dengan tatapan lurus kedepan yang terlihat dingin, karena itulah Via merasa gentar kalau harus menegurnya. Via tahu betul, jika Alvin sudah diam seperti ini dengan ekspresi dinginnya, itu tandanya Alvin sedang marah dan tidak ingin diganggu. Tapi yang kemudian menjadi pertanyaan dibenak Via adalah, kenapa Alvin jadi tiba-tiba marah saat Danar Ganendra mengajaknya bertemu? Alvin tidak mungkin cemburu, kan?
            Sepuluh menit bergulat dalam keheningan yang tidak mengasyikan, akhirnya tibalah mereka dirumah. Alvin keluar begitu saja dari dalam mobilnya tanpa menghiraukan Via. Merasa ada yang janggal dari semua ini, Via serta merta meloncat turun dari mobil Alvin, mengejarnya lalu menahan pergelangan tangannya untuk meminta penjelasan.
            “lo marah?” tanyanya singkat sambil menatap tajam pada kedua mata Alvin.
            Alvin menghela napas lalu menarik pelan tangannya dari genggaman Via.
            “jangan pernah ketemu sama Opa Danar lagi, apapun alasannya!”
            Kedua alis Via bertaut satu sama lain. Ia heran kenapa Alvin tiba-tiba bersikap aneh seperti ini. Jujur saja, ini tidak seperti Alvin biasanya. “ta—tapi kenapa?”
            “jangan tanya kenapa!!” hardik Alvin dengan cukup keras dan membuat Via terkejut.

            “A—Alvin?”
            Alvin memang dingin dan hampir selalu bersikap kasar pada Via, tapi tidak pernah sekalipun Via melihat Alvin semarah ini. Satu yang pasti, Alvin tidak akan semarah ini jika bukan tanpa alasan. Dan Via yakin, Alvin pasti memiliki alasan yang kuat dibalik semua ini.
            Airmata Via nyaris jatuh dihadapan Alvin. Sekalipun ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis, tetap saja pertahanannya pada akhirnya runtuh begitu saja. Via menunduk untuk beberapa saat lalu berjalan melewati Alvin memasuki rumah mereka. Rasanya… ada yang hancur jauh didalam sana.
            Alvin mengacak rambutnya frustasi. Sial! Apa dia terlalu kasar pada Via?


♫♫♫

            Seorang pria berpakaian serba hitam dan membawa sebuah amplop coklat memasuki ruang kerja Yashinta. Pria itu berdiri didepan meja kerja Yashinta setelah sebelumnya Yashinta memutar kursinya dan berhadapan langsung dengan orang kepercayaannya itu.
            Pria tadi lantas meletakan amplop yang ia bawa diatas meja Yashinta dan mulai melaporkan hasil kerjanya, “ini informasi yang Ibu butuhkan mengenai identitas Gisselavia Garnetta…”
            Dengan jantung berdebar dan tangan yang sedikit gemetaran, Yashinta membuka amplop itu. Sebentar lagi, ia akan mendapatkan jawaban atas kecurigaannya selama ini. Sementara Yashinta sedang membaca semua identitas Via, orang kepercayaannya itu mulai menjelaskan.
            “Gissela Fania Ganendra adalah cucu perempuan dari Danar Ganendra yang merupakan saudara kembar dari Gabriel Fabian Ganendra. Saat Gissel berumur 3 tahun, Sylvia membawanya keluar dari kediaman Ganendra setelah sebelumnya diusir. Mereka tinggal di Singapore, dan saat itu juga, Danar Ganendra mengganti identitas cucunya sendiri untuk menutupi semuanya. Gissel akhirnya berganti nama menjadi Gisselavia Garnetta dengan nama panggilan Via. Dan sekarang, Via diadopsi oleh Adryan Aryadinata dan Metta Indriani atas perintah langsung dari Danar Ganendra…”
            Tanpa sadar, Yashinta menjatuhkan kertas tadi diatas mejanya. Perasaannya sekarang mulai berkecamuk dan deru napasnya terdengar tidak teratur. Ternyata kecurigaannya selama ini terbukti. Via, teman dekat anaknya ternyata adalah putri dari sahabatnya yang sekarang sudah meninggal. Yashinta bahkan tidak bisa membayar penyesalannya pada Sylvia. Dan ia kian hancur saat mengetahui bagaimana kejamnya seorang Danar Ganendra.
            Yashinta tidak bodoh. Ia tahu alasan kenapa Danar Ganendra melakukan semua ini. Batalnya perjodohan dirinya dengan Geraldy dimasa lalu tentu saja menuai kerugian yang tidak sedikit bagi perusahaan Danar, dan saat Geraldy memilih Sylvia menjadi isterinya, praktis Danar semakin merasa dirugikan. Bagi Danar, pernikahan antara Sylvia dan Geraldy sama sekali tidak menguntungkan, dan Sylvia hanya benalu dalam perjalanan bisinisnya.
            Dengan alasan itulah Danar Ganendra berusaha memisahkan Geraldy dan Sylvia. Jika pun ia memilih untuk merawat Gabriel dan bukannya  Via, itu pasti karna hanya Gabriel yang bisa menjadi penerus perusahaannya, apalagi setelah Geraldy meninggal, secara otomatis beban pewaris tunggal sepenuhnya dibebankan pada pundak Gabriel.
            Jantung Yashinta seperti dipukul. Bahkan hanya sekedar membayangkan kekejaman seorang Danar Ganendra, ia merasa tidak sanggup.
            “apa anda baik-baik saja?” tanya Pria itu pada Yashinta.
            Yashinta menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “saya baik-baik saja. kamu boleh pergi”
            Baru saja pria itu akan keluar dari ruang kerja Yashinta, Cakka tiba-tiba saja membuka pintu dan menatap heran pada pria yang berpakaian serba hitam itu. Menyadari kehadiran Cakka, Yashinta buru-buru menyimpan amplop itu didalam laci mejanya, tapi toh terlambat, karna Cakka terlanjur melihatnya dan mendadak merasa penasaran.
            Pria tadi menunduk sejenak pada Cakka lalu keluar dari ruangan Yashinta.
            “dia siapa, Bunda?” tanya Cakka seraya mendekat kearah Yashinta.
            “bukan siapa-siapa, Nak. Kamu sudah makan?” tanya Yashinta berusaha mengalihkan perhatian Cakka. Cakka yang masih didekap rasa curiga hanya menggeleng dan berusaha menyimpan rasa penasarannya.
            “Cakka belum makan, Bund”
            “kalau gitu ayo ikut Bunda, Bunda akan masak makanan kesukaan mu. Lagipula sebentar lagi Eyang akan datang”

            “i—iya Bunda….”



♫♫♫

            Merasa sakit hati karna dimarahi oleh Alvin, Via memilih untuk tidak pulang kerumah. Ia berjalan diterotoar jalan yang cukup sepi sambil terus mengingat semua kemarahan-kemarahan Alvin. Tidak, Via tidak sakit hati karna dimarahi, ia sakit hati karna Alvin sama sekali tidak memberitahukan alasan kenapa ia begitu marah melihat Via bertemu dengan Danar Ganendra. Setidaknya Via butuh alasan agar tidak menjadikan Alvin orang jahat dalam masalah ini.
            Via nyaris kehilangan arah, ia tidak tahu harus kemana lagi karna sejak tadi, ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Via lalu berhenti disebuah jembatan dan menatap nanar kedepan. Mendadak ia merasa ingin pulang ke Lombok. Jika ia mau, ia bisa saja kabur sekarang juga, tapi saat mengingat kedua orangtua angkatnya Via justru merasa tidak tega.
            Sebuah jaguar hitam tahu-tahu berhenti, seseorang dari dalam mobil itu menyembulkan kepalanya dan memanggil nama Via.
            “Via!”
            Via serta-merta berbalik saat merasa namanya dipanggil, saat itu juga ia mendapati sosok Gabriel yang menatapnya dengan cemas. “Ga—Gabriel?” gumamnya pelan.
            “kamu ngapain disini sendiri?”
            “gak ngapa-ngapain. Aku… aku Cuma lagi males pulang kerumah…” jawab Via sekenanya.
            Mendengar jawaban yang Via lemparkan, Gabriel justru merasa ada yang aneh. Ia pun mengingat kejadian direstoran beberapa jam yang lalu, saat dirinya dan Alvin mendapati Via bertemu dengan Opanya. Darisana Gabriel bisa menebak, Alvin pasti memarahinya karna itu.
            Gabriel lalu membuyarkan keterpanaannya dan berkata, “aku juga lagi males pulang. Kamu mau jalan gak sama aku? Kita cari hiburan sama-sama, gimana?”
            “A—APA?” Via terkejut setengah mati sekarang. Apa benar cowok manis ini mengajaknya jalan.
            Gabriel justru terkekeh saat melihat ekspresi kaget Via yang menurutnya sangat lucu.
            “aku jamin bakalan seru banget”
            Tanpa berpikir panjang lagi, Via langsung mengikuti permintaan Gabriel. Entah kenapa, Via juga merasa butuh hiburan. Via lalu memasuki jaguar hitam Gabriel dan duduk disisinya dengan nyaman. “seatbelt nya, Gissel!” Gabriel memperingatkan seperti seorang ayah yang sedang memperingatkan puterinya. Saat Via akan memasang sabuk pengamannya, Gabriel justru mengambil alih dan memasangkan Via dengan penuh perhatian. Untuk sedetik Via membeku ditempatnya. Kenapa Gabriel mendadak jadi perhatian begini? Dan apa? Bukankah tadi Gabriel memanggilnya dengan panggilan Gissel? Apa Via tidak salah dengar?
            “Gi—Giseel?”
            Gabriel tersenyum penuh arti lalu mengusap puncak kepala Via dengan gemas, “mulai hari ini aku mau manggil kamu Gissel. Boleh, kan?”
            Via tampak berpikir untuk beberapa saat lalu mengangguk dengan ragu. Terserahlah Gabriel mau memanggilnya dengan apa saja, toh dulu ia juga dipanggil Gissel oleh Ibu Pantinya. Via rasa itu tidak masalah jika sekarang Gabriel ingin melakukannya juga.
            Gabriel mengajak Via pergi kesebuah mall dan bermain beberapa permainan di Time Zone. Baru setengah jam menikmati setiap permainan, Via seakan larut dan melupakan semua masalahnya. Gabriel, tanpa ia sadari telah benar-benar membuatnya merasa sangat nyaman.
            Setelah puas bermain, mereka memasuki sebuah toko ice cream. Mereka berdiri didepan meja counter dan melihat beberapa pilihan ice cream yang tersedia disana.
            “mau pesan apa?” tanya seorang pramuniaga dengan ramah.
            Gabriel dan Via tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab dengan kompak tanpa mereka sadari, “Double chocolate oreo
            Hening untuk beberapa detik. Mereka lalu saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat lalu tertawa bersama.
            Saat menunggu pesanan, tiba-tiba saja ponsel Gabriel berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Gabriel buru-buru melihat ponselnya dan menemukan nama Alvin tertera dilayar.
            “iya, Vin ada apa?” tanya Gabriel langsung. Mendengar nama Alvin dibawa-bawa, Via kontan kaget, tapi pandangan mata Gabriel yang teduh mengisyaratkan agar ia tetap tenang.
            “iya, gue lagi sama Via. Kenapa?”
            “……”
            “gak apa-apa. Kita lagi jalan-jalan aja”
            “……”
            “iya, nanti jam 8 gue pastiin Via pulang kerumah dalam keadaan selamat. Oke, sampai nanti”
            Gabriel mengakhiri obrolannya ditelfon lalu meletakan ponselnya diatas meja. Ragu-ragu Via mencoba bertanya.
            “A—Alvin gak marah, kan?”
            “dia gak punya alasan buat marah” jawab Gabriel seadanya yang justru membuat Via bingung. Jujur saja, Gabriel memang seru hari ini, Via bahkan merasa sangat nyaman. Tapi tetap saja sikap yang Gabriel tunjukan sekarang ini sangat aneh menurut Via, mengingat mereka yang selama ini tidak begitu dekat satu sama lain.
            Kebingungan Via langsung buyar saat seorang pramuniaga datang dan membawakan pesanan mereka. Gabriel menatap ice cream pesanannya dengan semuringah. Ia bertepuk sekali dan berucap, “selamat makaaaan!!”. Gabriel lalu melahap ice cream-nya dengan gembira.
            “Gissel”
            “hm?”
            Gabriel menghentikan aktifitas menyantap ice cream-nya, sebelum menjawab, ia menatap Via dengan pandangan hampa, “tolong ceritakan sesuatu tentang Mama…” jawab Gabriel dengan nada yang terdengar getir. Salah satu alis Via terangkat,
            “Mama?”
            Gabriel menghela napas. Hatinya semakin terasa perih, “Mama mu…” Gabriel terdiam, ‘Mama kita…’ lanjutnya dalam hati kemudian.
            Via tersenyum lebar. Seperti sebuah kebiasaan, ia selalu merasa bersemangat setiap ada orang yang mengajaknya membahas tentang Mamanya.
            “Mama… Mama itu selalu ngajarin aku untuk jadi cewek yang kuat. Mama pernah bilang, aku gak boleh jadi cewek cengeng, aku juga gak boleh jadi cewek lemah. Mama itu… udah kayak seorang bidadari yang sengaja dikirimin Tuhan kedalam hidupku. Dan seumur hidupnya, Mama selalu berusaha buat bahagiain aku…”
            Hati Gabriel seketika menghangat saat mendengar cerita yang Via tuturkan. Meski tidak merasakannya secara langsung, tapi Gabriel tahu Mamanya memang seorang bidadari.
            “ka—kalo Pa—Pa mu?” tanya Gabriel terbata dan sedikit ragu. Ia takut pertanyaannya itu justru menyinggung perasaan Via, tapi apa yang Gabriel dapatkan justru diluar perkiraannya.
            “terus terang aja, aku tuh gak tau mukanya Papa kayak apa, tapi yang pasti, Papaku adalah orang hebat. Mama selalu memuji Papa, dan Mama pernah bilang, apapun yang terjadi, dan dimanapun Papa berada, Papa selalu menyayangi aku, Papa selalu pengen ketemu sama aku, Cuma aja… ada hal yang bikin Papa gak bisa mencari aku. Tapi… aku tetep percaya dan yakin, kalo Papa menyayangiku lebih dari apapun…”
            Airmata Via tergenang sempurna disudut matanya saat membicarakan tentang Papanya. Mau tidak mau, rasa rindu itu kembali mengusik ketenangan hatinya setelah bertahun-tahun lamanya.
            Tangan Gabriel secara otomatis terangkat lalu menyeka airmata sebelum terjatuh. Via tersenyum miris dan berusaha bersikap biasa saja.
            “sekarang ceritakan, gimana Papa mu!” pinta Via yang sebenarnya hanya berusaha untuk menenangkan perasaannya saat ini.
            Gabriel tersenyum kecil, lalu menghela napas, “Papa itu… sangat luar biasa. Itu aja…” jawab Gabriel singkat. Via menatap Gabriel dengan pandangan tak terima,
            “udah? Itu doang?”
            Gabriel mengangguk dan kembali menyantap ice cream-nya dengan perasaan tidak terjelaskan.
            “masa itu aja sih? Aaahh… Gabriel gak seru deh” rajuk Via.
            Gabriel terkekeh lalu mengusap puncak kepala Via dengan lembut entah untuk yang keberapa kalinya.
           



♫♫♫

            Masih dengan rasa penasaran yang sama seperti tadi siang, Cakka diam-diam memasuki ruang kerja Bunda nya saat Bunda nya sedang keluar makan malam bersama Ayah nya. Cakka duduk dimeja kerja Yashinta lalu mulai membuka laci. Setelah memeriksa beberapa laci, akhirnya Cakka menemukan apa yang ia cari. Amplop cokelat yang tadi disembunyikan oleh Bunda nya. Amplop cokelat yang menjadi sumber rasa penasarannya.
            Dengan tidak sabar, Cakka membuka amplop itu lalu membaca isinya. 2 menit kemudian, Cakka terlihat kaget saat menemukan semua identitas Via yang sebenarnya. Hanya dalam waktu singkat, Cakka telah mengetahui semua rahasia yang tidak pernah ia ketahui selama ini.
            Tangan Cakka gemetaran, ia menghela napas panjang dan berusaha mengumpulkan semua kesadarannya. Dua hal yang ada dikepalanya sekarang; Via adalah cucu dari Danar Ganendra dan Via bukan saudara sepupu Alvin.
            Cakka mendadak lemas.

            “Gissela Fania Ganendra?”



♫♫♫

            Seperti janjinya pada Alvin ditelefon tadi, Gabriel membawa Via pulang kerumah saat waktu menunjukan pukul delapan tepat. Saat jaguar hitam milik Gabriel memasuki halaman rumah Alvin yang cukup luas, Alvin sudah menunggu disana sambil melipat kedua tangannya didada dan memasang wajah dingin yang sukses membuat Via merasa takut lagi. Sebelum keluar dari dalam mobil Gabriel, Via sempat menoleh kearah Gabriel. Gabriel hanya tersenyum dan menyentuh puncak kepala Via, “aku akan urus semuanya. Dan aku pastiin Alvin gak akan berani marahin kamu. Sekarang ayo keluar!”
            Gabriel dan Via keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Dan saat melihat tatapan Alvin yang begitu dingin, Via serta-merta menunduk. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk sekedar mengangkat wajahnya, apalagi harus menatap kedua mata Alvin.
            “masuk kedalem!” perintah Alvin dengan nada tidak ingin dibantah, lalu tanpa berkata apapun, Via masuk kedalam rumah dengan perasaan yang bercampur aduk. Gabriel hanya menatap kepergian Via dengan senyuman geli.
            “ehem… makasih udah nganterin Via pulang. Sekarang baiknya lo pulang juga…”
            Alvin berbalik pergi, tapi langkahnya serta-merta terhenti saat suara milik Gabriel terdengar, “jangan terlalu keras sama adek gue kalo lo gak mau dihajar sama Abangnya, mengerti?”
            Alvin kembali membalik badannya dan menatap Gabriel dengan kedua mata terbelalak maksimal. Apa yang baru saja Gabriel katakan? Apa jangan-jangan dia sudah mengetahui kebenarannya?
            “gak usah tanya apapun! Karna gue gak akan jawab” ujar Gabriel yang seakan mampu membaca isi kepala Alvin. Gabriel lantas hengkang dari hadapan Alvin dan memasuki mobilnya dengan tenang.

♫♫♫

            Via meringkuk dibalik selimutnya sambil berusaha menahan rasa lapar yang mulai menyerangnya. Sejak ia pulang kerumah sejam yang lalu, Via belum sama sekali keluar dari kamarnya. Ia bahkan rela meninggalkan makan malamnya supaya tidak perlu bertemu dan melihat wajah Alvin yang menyebalkan itu. Rasa laparnya kian menjadi. Lagipula Alvin kemana saja? biasanya juga ia selalu memaksa Via untuk makan dalam keadaan apapun, tapi sekarang apa? Alvin justru membiarkan Via kelaparan dikamarnya. Brengsek! Maki Via dalam hati.
            Ia lalu bangkit dari tidurnya dan mengacak rambutnya dengan sebal. “ARRRGGHHH!! ALVIN JAHAT, NYEBELIN! GUE BENCI LOOOOOO!!!” Teriak Via dengan nada yang cukup keras, dan Via sama sekali tidak peduli jikapun Alvin mendengar teriakannya.
            Nada lapar diperutnya kembali terdnegar. “aw, gue lapaaarrr! Tapi liat aja, gue gak akan makan! Sekalipun gue harus mati kelaparan disini, GUE GAK AKAN MAKAAAAAN!!”
            Nada SMS dari ponsel nya tiba-tiba saja  mengagetkan Via. Ia sedikit terperanjat lalu kembali mengutuk saat tahu bahwa Alvin lah yang mengiriminya SMS. Dengan setengah hati, Via membaca pesan singkat yang Alvin kirimkan.

======================
From: Calvin Nicholas
Gue tunggu lo dihalaman belakang skrg!
Gak pake lama.

======================

            Via mendengus kesal setelah membaca pesan yang Alvin kirimkan. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan segera keluar dari dalam kamarnya.

            “jangan panggil gue Gisselavia Garnetta kalo gue gak mutusin lo malem ini juga!!”




♫♫♫

            Via berjalan cepat dengan kekesalan tingkat tinggi untuk memenuhi panggilan Alvin. Dan selama perjalanan, ia terus saja merutuki Alvin tanpa henti. Tapi tiba-tiba langkah Via terhenti saat melihat taburan bunga mawar merah berserakan disepanjang jalan. Via terdiam, jantungnya berhenti berdetak dalam sedetik. Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Lilin-lilin kecil disisi kiri dan kanan jalan kini menyambut setiap langkahnya. Dan Via membekap mulutnya karna terharu. Diujung jalannya, Alvin terduduk disebuah bangku. Taburan bunga mawar merah dengan beberapa lilin kecil membentuk hati seakan membingkai posisinya sekarang. Lalu dikolam renang tepat dibelakang Alvin sekarang, ratusan lilin kecil tertata dengan rapi membentuk kata ‘MAAF’.
            Kali ini Via sudah tidak bisa lagi menahan rasa harunya. Airmatanya seakan berlomba keluar. Dari tempatnya sekarang, Alvin tampak tersenyum lalu berkata,
            “maafin gue…” ucapnya singkat tapi penuh dengan kesungguhan.
            Via yang tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun hanya bisa menggeleng. Ia membekap mulutnya sementara airmatanya terus mengalir, membasahi wajah cantiknya.
            “sebagai tanda permintaan maaf gue, gue akan nyanyiin sebuah lagu buat lo”
            Seperti tadi, Via hanya terdiam.
            Alvin lalu mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang ia tujukan untuk Via.

“Kali ini kusadari…
Aku telah jatuh hati
Dari hatiku terdalam…
Sungguh aku cinta padamu

Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini ku lakukan karna kamu memang untukku…”

            Alvin mengangkat wajahnya dan menatap Via penuh cinta.

“Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku…”

            Bait demi bait lagu akhirnya berhasil Alvin selesaikan. Dan pada akhir lagu itu, sebuah layar dari belakang Via tiba-tiba saja menyala dan memperlihatkan video masa kecil Alvin yang sepertinya diambil oleh Mamanya tanpa sepengetahuan mereka. Via berbalik saat itu juga dan menyaksikan video yang disengaja diputar oleh Alvin.
            Video itu memperlihatkan sosok Alvin kecil yang rupanya baru saja pindah ke Jakarta. Dalam video itu, Alvin kecil menyampaikan rasa rindunya pada sosok Via yang ia panggil sebagai ‘Peri Kecil’ nya.

“Hay Pia! Pia tau gak? Disini Aphin kesepian gak ada Pia, disini Aphin juga gak nemuin temen seasyik Pia. Pia… peri kecilnya Aphin yang paling cantik, Aphin kangen sama Pia… Aphin pengen tinggal di Lombok lagi, bareng Pia….”

            Via tersenyum dengan airmatanya yang masih terus berlinang. Tiba-tiba saja, ia merasakan sepasang tangan kekar yang begitu hangat memeluk erat tubuhnya dari belakang.
            “Maaf udah bikin lo kesel hari ini” bisik Alvin lalu mengecup lembut puncak kepala Via. Ia melakukannya agak lama.
            “Maaf juga udah bikin lo khawatir. Mulai sekarang gue janji, gue gak akan lagi ngelakuin hal-hal yang bikin lo cemas, gue juga gak akan nanya alasannya apa, gue akan percaya sama lo sebanyak yang gue bisa…” lirih Via lalu menyentuh kedua lengan Alvin yang melingkari tubuhnya. “dan makasih buat semua ini…” lanjut Via. Ia lalu berbalik dan kembali memeluk Alvin.
            Nada keroncongan diperut Via kembali terdengar saat mereka sedang larut dalam luapan perasaan mereka. Alvin terkekeh dan membuat kedua pipi Via merona karna malu. Via buru-buru melepaskan pelukannya dari Alvin dan membuang wajahnya agar Alvin tidak melihatnya.
            “lapar?” tanyanya dengan nada meledek.
            Via menggeleng sebagai jawaban. Alvin menghela napas dan berusaha menahan tawanya. Sudah cukup ia membuat gadisnya ini malu. Alvin pun meraih salah satu tangan Via dan menuntunnya ke tepi kolam renang. Disana, Alvin sudah menyiapkan meja dan dua buah kursi. Ia bahkan memasak sendiri makanan kesukaan Via. Mereka berdua duduk berhadapan.
            “karna ini gue yang masak sendiri, jadi… lo harus habisin. Ngerti?”
            Via mengangguk beberapa kali dan dengan lahap memakan masakan Alvin. Ternyata, masakan Alvin terasa sangat enak. Via baru tahu, bahwa pacarnya yang menyebalkan ini ternyata jago masak.
            “lo suka?”
            Kali ini Via mengangguk dengan senyum mengembang diwajah imutnya, tapi tiba-tiba saja Via melepaskan sendok serta garpunya dan menatap Alvin dengan tatapan merajuk.
            “kenapa berhenti?” tanya Alvin lagi.
            “suapin!” pinta Via dengan nada manjanya yang justru membuatnya terlihat semakin imut.
            Alvin yang awalnya merasa risih dan ingin menolak malah merasa tidak tega. Seperti tersihir, tangan kanan Alvin bergerak menggapai sendok lalu menyuapi Via dengan ekspresi yang mendadak terlihat canggung.





To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment