Saturday, May 16, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter11)



Flashback, 1996…

            Setelah menikah diam-diam di Lombok tanpa sepengetahuan Danar Ganendra, Geraldy memutuskan membawa Sylvia pergi ke London untuk bersembunyi. Tidak hanya karena alasan itu, tapi Geraldy memang ingin hidup bahagia jauh dari Ayahnya. Berada dekat dengan Ayahnya justru membuat Geraldy mencemaskan nasib Sylvia selanjutnya.
            3 bulan setelah pernikahan mereka yang sangat sederhana, Sylvia positif hamil dan semakin menambah kebahagiaan mereka. Dan karena luapan kebahagian itu, mereka sempat melupakan nasib kedua orangtua Sylvia yang mereka tinggalkan di Lombok demi menempuh kehidupan baru mereka di London.
            Hingga pada suatu hari, hal yang tidak pernah mereka inginkan akhirnya terjadi. Ayah Sylvia meninggal karena serangan jantung setelah sekolah gratis yang ia bangun untuk anak-anak terlantar digusur begitu saja. 25 tahun ia mengabdi menjadi seorang Guru hanya demi mengumpulkan dana untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah sekolah gratis. Dan saat impian itu baru saja ia raih, Danar Ganendra justru menghancurkannya dalam sekejab mata.
            Mendengar kabar kematian sang Ayah, Geraldy dan Sylvia langsung pulang ke tanah air dengan perasaan terpukul. Geraldy yang sejak awal memang menduga bahwa Ayahnya adalah dalang dibalik semua ini kontan saja diliputi oleh rasa marah yang teramat sangat. Tapi Sylvia, dengan berlapang dada ia berusaha meredakan kemarahan suaminya. Kendatipun ia sangat terpukul dengan kenyataan ini, Sylvia tetap berusaha ikhlas dan memaafkan. Ia hanya percaya, bahwa apa yang menimpanya saat ini pasti terjadi karena kehendak Tuhan. Ia pasti bisa memetik hikmah dari apa yang terjadi sekarang.
            Semenjak kematian Ayah Sylvia, Sylvia dan Geraldy memutuskan untuk menetap di Lombok dan menjaga Ibu Marlita –Ibu Sylvia- yang mengalami depresi berat semenjak kematian suaminya. Selama setengah tahun mereka menghabiskan waktu di Lombok, selama itu pula Sylvia dan Geraldy melewati kehidupan yang benar-benar sulit. Danar Ganendra seolah sengaja menjerat mereka. Uang tabungan mereka habis untuk biaya pengobatan Ibu Marlita, Geraldy pun telah menjadi seorang pengangguran semenjak ia menetap di Lombok. Geraldy tidak memiliki pekerjaan tetap, lamaran pekerjaan yang ia ajukan bahkan di tolak dimana-mana, sementara Sylvia akan melahirkan tidak kurang dari 2 bulan lagi. Geraldy nyaris putus asa jika saja Sylvia tidak dengan setia menemaninya dan selalu berdiri disampingnya dengan tegar dalam keadaan apapun.
            Suatu hari Danar tiba-tiba muncul dan meminta Geraldy serta Sylvia pulang kerumahnya. Jika mereka bersedia untuk pulang, maka Danar berjanji akan memberikan mereka kehidupan yang jauh lebih baik lagi. Awalnya Geraldy menolak permintaan itu. Ia tahu, dibalik semua ini, Ayahnya pasti sudah menyusun sebuah rencana licik untuk memisahkannya dengan Sylvia, tapi saat melihat keadaan Sylvia yang sedang dalam keadaan hamil tua serta keadaan Ibu Mertuanya yang semakin hari semakin memperihatinkan, akhirnya Geraldy menyerah.
            Setelah berdiskusi dan mendapat persetujuan mutlak dari isterinya, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Sylvia berkata,
            “mungkin Papa sudah berubah. Tidak ada salahnya kita memberikan Papa kesempatan, kan?”
            Setelah mereka pulang ke Jakarta, Danar Ganendra benar-benar menepati janjinya. Meskipun ia tidak seratus persen menerima kehadiran Sylvia sebagai menantunya, ia tetap memberikan kehidupan yang layak untuk Geraldy dan Sylvia hingga akhirnya Sylvia melahirkan sepasang anak kembar. Keadaan Ibu Marlita pun berangsur membaik setelah menempuh perawatan disebuah rumah sakit di Singapore.

            “terimakasih sudah membawa Geraldy pulang…”

            Itulah kata penyambutan yang Danar ucapkan saat Sylvia untuk yang pertama kalinya menginjakan kakinya diistana megahnya. Tanpa bisa mereka baca, Danar Ganendra telah menyiapkan sebuah rencana yang jauh lebih besar dari ini.





♫♫♫



            Via terbangun dari tidurnya saat jam didinding kamarnya sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Via yang masih dalam keadaan setengah sadar, secara perlahan mulai membuka kedua matanya. Dan ia sedikit terjeut saat mendapati sosok Alvin yang berbaring disampingnya dengan posisi yang berhadapan langsung dengannya. Via bahkan tidak pernah menyangka bahwa Alvin akan bertahan menjaganya hingga pagi.
            Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Via dapat melhat dengan jelas bagaimana ketampanan wajah pemuda ini setiap lekuk demi lekuknya. Kendatipun Alvin lebih sering menyakitinya dengan perkataan serta sikapnya yang sangat menyebalkan, tapi tetap saja rasa sayangnya pada Alvin tidak berkurang sedikitpun, dan sekuat apapun dia berusaha membenci Alvin, tetap saja rasa sayangnya terlampau kuat untuk bisa ia kalahkan dengan gampang.
            Via lalu mengangkat salah satu tangannya dan mendaratkannya diwajah Alvin dengan hati-hati. Dan saat tangannya menyentuh wajah itu, tiba-tiba saja sekelebat ingatan muncul dengan sekilas dikepalanya.
            ‘gue sayang elo, Via…’
            Via tahu betul itu adalah suara Alvin. Tapi Via tidak yakin, apakah yang ia dengar semalam adalah kenyataan atau hanyalah suara dari mimpinya.
            Via berpikir untuk beberapa saat lalu menurunkan tangannya dari wajah Alvin. Ia tersenyum miris dan merasa sangat konyol karena sempat berpikir bahwa apa yang ia dengar semalam adalah kenyataan. Bagaimanapun ia berharap, pernyataan Alvin yang semalam ia dengar hanyalah bagian dari mimpi indahnya yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
            Tidak berselang lama, Alvin mulai menunjukan gerak-gerik bahwa ia akan terbangun dari tidurnya. Sesaat sebelum Alvin membuka kedua matanya, Via buru-buru memejamkan matanya dan berpura-pura masih tertidur.
            Alvin mengangkat wajahnya dan melirik jam didinding kamar Via yang saat itu sudah menunjukan pukul lima lewat empat puluh menit. Alvin lantas mendesah pelan saat menyadari salah satu tangannya masih melingkar diperut Via. Alvin baru ingat, bahwa semalaman ia tidur disamping Via sambil memeluknya. Alvin lalu melepaskan pelukannya dan duduk disamping Via yang ‘tampaknya’ masih terlelap.
            Untuk memastikan keadaan gadis ini, Alvin menyentuh kening Via. Ternyata panasnya sudah turun. Alvin menghela napas lega. Ia pun menarik selimut itu hingga menutupi tubuh Via sampai ke pundak.
            Sebelum gadis ini terbangun, Alvin memutuskan untuk keluar dari kamar Via. Disaat yang bersamaan, Via membuka matanya dan menatap sosok Alvin yang keluar dari kamarnya sambil menutup pintu. Via mendesis sinis lalu berujar,

            “cish.. sok gak peduli padahal sebenernya peduli…”





♫♫♫

            Semalaman Via tidak tidur memikirkan keputusan yang hendak ia pilih untuk Cakka. Dan saat ia tiba pada sebuah keputusan final yang berusaha ia yakini, Via justru harus berusaha mati-matian untuk mengumpulkan keberaniannya dan memberikan jawaban yang mungkin tidak pernah Cakka inginkan. Via tahu pasti konsekuensi apa yang akan ia dapatkan jika menolak perasaan Cakka. Menolak perasaan Cakka, berarti Via telah melepaskan begitu saja seseorang yang menyayanginya dengan tulus dan rela melakukan apapun untuknya. Via tahu Cakka akan terluka dengan pilihannya, tetapi jika Via memilih untuk menerima Cakka, itu artinya ia akan membohongi perasaannya sendiri juga perasaan Cakka. Diawal mungkin Cakka tidak merasakan apapun, tapi seiring berjalannya waktu, semuanya pasti tampak dengan jelas dan justru akan mengguratkan luka yang jauh lebih parah dihati Cakka.
            Dan saat ini, Via sedang duduk menunggu Cakka disalah satu cafe yang terdapat disebuah Mall yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung sekolah mereka. Sudah 5 menit Via menunggu Cakka. Dan 5 menit yang telah ia lewati ini, adalah 5 menit yang paling berat yang pernah ia lalui.
            Beberapa menit berlalu, Cakka yang sejak tadi ia tunggu akhirnya muncul dengan senyumnya yang selalu tampak hangat dan menenangkan. Melihat kehadiran Cakka, justru membuat kerja jantung Via semakin meningkat dua kali lipat. Siapkah ia menyatakan kebenaran perasaannya pada Cakka?
            “tadi kenapa kita gak bareng aja sih kesininya?” tanya Cakka dengan nada protes lalu mengambil posisi duduk tepat dihadapan Via.
            Via terkesiap dan secara otomatis membuyarkan lamunan panjangnya.
            “jadi… lo mau ngomongin apa nih? Kayaknya serius banget…” Cakka lagi-lagi melemparkan komentar yang semakin membuat perasaan Via kian tak menentu. Semuanya ternyata jauh lebih sulit dari apa yang ia bayangkan sejak semalam.
            “Kka…” panggil Via pelan dengan ragu-ragu.
            “hm?” jawab Cakka singkat. Kedua alisnya terangkat saat melihat riak diwajah Via yang tampak berbeda dari biasanya, dan entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. Ia memiliki firasat buruk.
            “hari ini… gue akan ngasih lo jawaban. Ma—maaf… karena gue ngegantung lo terlalu lama…” ujar Via penuh penyesalan. Tiba-tiba saja dadanya terasa seperti terhimpit.
            no problem! Malah lo ngasih jawaban lebih cepat dari perkiraan gue sebelumnya”
            “Cakka… gue… gue pengen ngucapin makasih sebelumnya. Makasih karna selama ini lo udah sabar nungguin jawaban gue, makasih karna lo selalu ikhlas ngedengerin rengekan-rengekan gue, dan makasih juga… karna lo udah sayang sama gue, tapi gue… gue—“
            “cukup, Vi!” sela Cakka tiba-tiba saat mendapati ada sesuatu yang janggal dari kedua mata Via juga dari raut wajahnya yang terlihat tak biasa. Dari gerak-gerik yang Via tunjukan saja, Cakka sudah dapat menebak jawaban apa yang akan Via berikan padanya. Tapi Cakka tidak ingin menyerah. Tidak sebelum ia benar-benar bisa menaklukan gadis ini dan memenangkan hatinya. “Elo masih punya waktu buat mikirin jawaban lo. Gak peduli seberapa lamapun itu, gue akan tetep nungguin lo…”
            “tapi, Kka—“
            “gue belum siep dan gak akan pernah siep kalo harus ngedenger jawaban penolakan dari lo. Dan lo musti tau, gue akan tetep berjuang buat ngedapetin hati lo. Sejak awal gue udah yakin sama lo, dan siapapun itu, termasuk lo, gak berhak buat mematahkan keyakinan gue…” ucap Cakka serius sambil menatap tajam pada kedua bola mata Via.
            Dan Via tidak tahu harus berkata apa lagi. Respon Cakka benar-benar melenceng jauh dari perkiraannya diawal. Kenapa? Kenapa Cakka begitu gigih memperjuangkannya yang bahkan tidak pernah sekalipun menoleh kearahnya? Kenapa Cakka harus membuatnya merasa sangat berdosa seperti ini? Andai ia bisa menerima Cakka dan memberikan Cakka satu kesempatan saja, tapi sayangnya… Via tidak akan pernah bisa melakukan itu. Ia bukan tipe gadis yang akan melanggar kata hatinya dengan mudah.
            “entah kapan, gue yakin lo pasti bisa nerima gue. Dan gue, akan tetep nungguin jawaban ‘iya’ dari lo…”
            Merasa tidak perlu mendengar perkataan Via lagi, Cakkapun bangkit dari tempat duduknya dan hendak hengkang dari tempat itu. Tapi sebelum pergi, ia sempat berkata pada Via,
            “jangan pernah berpikir gue akan nyerah dengan gampang.” Cakka melirik arlojinya sejenak dan kembali menatap Via, “gue ada urusan. Jadi gue harus pergi sekarang. Lo bisa pulang sendiri, kan?”
            Baru saja Via akan melontarkan jawaban, Cakka malah sudah angkat kaki dari hadapannya tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Berbulan-bulan mengenal sosok seorang Cakka Sorano, ini kali pertamanya Via melihat Cakka seserius ini. Dan entah kenapa Via merasa, bahwa Cakka tidak main-main dengan semua perkataannya.
            Via menyandarkan tubuh lelahnya dikursi dan menghela napas panjangnya. Semuanya jadi terasa semakin sulit sekarang.



♫♫♫


            Via berjalan perlahan menyusuri lantai dua mall itu dengan pikiran yang melayang entah kemana. Matanya menatap kosong kedepan, dan ia sama sekali tidak focus dengan keadaan sekitarnya. Ia hanya berjalan mengikuti langkah kakinya dengan sejuta kegetiran yang melingkupi setiap ruang diotaknya. Lalu tiba-tiba saja, kenangan kebersamaannya dengan Cakka  melintas dikepalanya seperti sebuah film yang diputar ulang. Ia mengingat bagaimana wajah bahagia Cakka saat pertama kali memperkenalkannya dengan Eyang Rahayu juga dengan Yashinta, Bundanya. Ia juga mengingat, bagaimana Cakka yang selama ini selalu mengejarnya tanpa menyerah dan rela melakukan hal-hal bodoh untuk memenuhi setiap rengekannya, dan detik itu juga, sekelebat rasa bersalah tiba-tiba saja melingkupi hati kecilnya.
            Yang berjuang untuknya selama ini adalah Cakka, bukan Alvin. Tapi kenapa ia harus jatuh dan menyerah pada keangkuhan Alvin dan bukan pada kelembutan Cakka? Kenapa harus Alvin? Kenapa bukan Cakka? Dan pertanyaan-pertanyaan itu justru membuatnya semakin kalut. Meskipun ia berusaha mengelak, tapi ia sama sekali tidak bisa menepis rasa sesalnya karena telah memberikan jawaban yang tidak pernah Cakka inginkan. Ia menyesal karna tidak bisa memberikan jawaban ‘iya’ untuk Cakka. Dan ia sangat menyesali diri karna telah melukai perasaan Cakka dengan pilihannya.
            Via yang sama sekali tidak memperhatikan jalannya tanpa sengaja menubruk seorang pemuda yang saat itu sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Pemuda itu terdengar meringis, tapi Via hanya bisa menunduk sambil mengucapkan kata maaf. ia bahkan tidak menatap wajah pemuda itu dan malah melanjutkan langkahnya.
            “Vi… Via?” panggil seseorang dengan ragu-ragu tepat dari belakang Via. Merasa namanya dipanggil, Via lantas menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu juga, ia langsung mendapati sosok Gabriel yang sedang menatapnya dengan pandangan bertanya.
            “Ga—Gabriel?” balasnya kemudian seraya berusaha menarik diri dari kekalutannya.
            “lo ngapain disini?” tanya Gabriel sembari berjalan mendekati Via dan berdiri tepat dihadapannya.
            “ta—tadi, gue udah ketemu sama seseorang. Lo sendiri ngapain disini?” tanya Via kembali yang sebenarnya sedang berusaha mengalihkan topic. Tapi Gabriel tidak selugu itu, ia tahu pasti bahwa sesuatu sedang terjadi pada gadis ini. Selain pada Shilla dan sahabat-sahabatnya, Gabriel tidak pernah sekalipun merasa mengenal seseorang dengan sebaik ini. Gabriel bahkan mampu membaca isi kepala Via dari raut wajahnya. Entahlah, semuanya terjadi tanpa proses yang panjang. Ia bahkan baru mengenal Via, tapi ia justru merasa telah lama mengenal gadis ini.
            “gue abis beli buku buat persiepan UKK minggu depan…” jawab Gabriel sambil menunjukan barang bawaannya. Via hanya mengangguk dan kembali menunduk.
            “lo sendiri aja?” sekali lagi Via mengangguk.
            “lo udah mau pulang?” tanyanya lagi.
            “iya nih…” jawab Via seadanya.
            Gabriel tampak berpikir sebelum akhirnya berkata, “gue anter yuk!”
            Via menatap Gabriel sekilas lalu berpikir sejenak persis seperti apa yang Gabriel lakukan barusan. Tidak lama, Via lantas mengangguk sebagai jawaban atas ajakan Gabriel.
            Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 menit, akhirnya tibalah mereka didepan rumah Alvin. Selama diperjalanan tidak terjadi obrolan apapun antara Gabriel dan Via. Mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Via bahkan tidak sadar saat Gabriel menghentikan mobilnya saat baru saja tiba didepan gerbang kediaman Alvin. Gabriel menatap Via sebentar dan mengalihkan tatapannya pada gerbang yang tertutup dihadapannya. Gabriel lalu berdehem, “ehem… kita udah nyampe, Vi…”
            Via serta-merta membuyarkan lamunan panjangnya dan buru-buru menatap Gabriel seraya meringis bersalah.
            “oh? Udah nyampe ya?”
            Gabriel hanya mengangguk. Via lalu pamit dan segera keluar dari mobil Gabriel setelah mengucapkan kata terimakasih. Gabriel hanya menatap Via yang tampak menghilang dibalik gerbang. Saat Via sudah tidak terlihat lagi, Gabrielpun bersiap kembali menjalankan mobilnya, tapi sebuah dompet milik Via yang tertinggal dikursi penumpang yang ada disampingnya tahu-tahu mengalihkan pandangannya.
            Entah kenapa, dompet berwarna pink itu begitu menarik perhatiannya dan mengusik rasa penasarannya. Gabriel lantas meraih dompet itu lalu membukanya mengikuti perintah hatinya yang datang bahkan  tanpa ia sadari. Dan selembar foto seorang wanita dengan seorang gadis kecil yang Gabriel yakini adalah Via langsung membuat jantung Gabriel berdebar sangat kencang. Kedua tangannya tiba-tiba saja gemetaran dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan rangkaian kata-kata. Semuanya mengabur. Untuk beberapa detik, bumi seolah berhenti berputar. Segalanya hening, seisi dunia seakan-akan membeku seiring dengan debaran jantungnya yang semakin kuat berdetak.
Antara percaya atau tidak, antara yakin dan tidak yakin. Foto wanita yang sedang tersenyum dengan lembut itu adalah Sylvia, Mamanya. Jika wanita itu adalah Sylvia, maka Gadis kecil yang ada bersamanya adalah gambar adik kembarnya. Dan jika gadis kecil itu adalah Via, berarti Via adalah… GI—GI… Sial! Bahkan untuk menyebutkan namanya saja Gabriel merasa tidak sanggup.
            Gabriel pun berusaha menyatukan kepingan demi kepingan dugaannya dengan pertemuan pertama yang terjadi antara Opa nya dan Via dihari ulang tahunnya yang ke-17 beberapa waktu yang lalu. Saat itu Opa nya berhenti tepat didepan Via dan menatap Via dengan pandangan yang tidak bisa ia artikan. Gabriel ingat jelas, saat itu Opanya menyebutkan nama Via dengan sangat tepat seraya mengucapkan kata terimakasih untuk sesuatu yang tidak ia mengerti. Saat itu Gabriel sama sekali tidak sadar dengan apa yang terjadi. Tapi apa yang dapatkan hari ini, justru menguatkan segala prasangka dan keyakinanya.
Gabriel berusaha menenangkan dirinya meskipun harus bersusah payah. Bukannya mengembalikan dompet itu, Gabriel malah menyimpan dompet itu dashboard. Dengan tubuh yang masih gemetaran, Gabriel berusaha focus dan menjalankan mobilnya dengan hati-hati.
            Ia sudah sangat tidak sabar untuk segera menemui seseorang dan meminta penjelasan atas apa yang ia temukan hari ini.
            Opanya. Dia harus segera menemui Opa nya sekarang juga!




♫♫♫

            “Dia nolak aku, Bund. Ternyata dia gak punya perasaan yang sama seperti yang aku rasain…” kata Cakka sambil dengan manja merebahkan kepalanya dipangkuan sang Bunda.
            Yashinta tersenyum sekilas sambil membelai lembut kepala putera tunggal kesayangannya ini. Mau tidak mau, kisah Cakka ini justru mengingatkannya pada cerita masa lalunya. Tapi bagaimana bisa Cakka mengalami nasib yang nyaris serupa dengan apa yang ia alami dimasa lalu. Kenapa Cakka harus turut terlibat dalam sebuah cerita berjudul ‘Kasih Tak Sampai’ seperti apa yang ia telah ia lalui belasan tahun yang lalu? Tapi kemudian Yashinta tersadar, didunia ini, apapun bisa terjadi. Bahkan sesuatu yang tidak diinginkan sekalipun. Dan Yashinta ingin, jagoannya ini bisa menerimanya dengan lapang dada.
            “kamu tahu? Dulu, Bunda punya seorang cinta pertama yang mungkin belum bisa Bunda lupakan sampai saat ini. Cinta pertama Bunda itu, ternyata mencintai sahabat Bunda sendiri…”
            Mendengar cerita Bundanya, Cakka mulai tertarik. Ia bangkit dan menatap wajah Bundanya.
            “kesalahan yang Bunda yang lakukan saat itu adalah… Bunda melepaskan lelaki itu begitu saja tanpa perjuangan apapun. Bunda justru membiarkan dia memilih sahabat Bunda, dan parahnya lagi, Bunda malah bersembunyi untuk menghindari mereka. Tapi kamu musti tahu, Nak…” Yashinta menyentuh wajah Cakka dengan kedua tangannya dan menatap wajah anaknya dengan pandangan nanar. Seulas senyuman lembutnya masih menghiasi wajah cantiknya. “Bunda tidak pernah menyesal dengan kesalahan yang sudah Bunda lakukan itu. Kesalahan itu justru menuntun Bunda untuk mengenal seorang lelaki hebat yang sangat mencintai Bunda dan menerima Bunda apa adanya. Kesalahan itu, justru membuat Bunda mengenal seorang Hoshi Sorano yang telah memberikan segalanya untuk Bunda. Dan kesalahan itu, telah membuat Bunda memiliki hadiah terindah dari Tuhan bernama Cakka Sorano. Disini… intinya kamu harus yakin, bahwa kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik lagi. Gak ada yang perlu kamu sesali. Semuanya terjadi atas rencana Tuhan…”
            “tapi Cakka gak mau ngelepasin Via gitu aja, Bund? Gak tau kenapa, Cakka rasanya pengen memperjuangkan Via sampai akhir. Apa keyakinan Cakka itu salah, Bunda?”
            Sekali lagi Yashinta tersenyum lalu membawa Cakka kedalam pelukannya. “Bunda justru akan sangat berterimakasih jika kamu terus berjuang sampai akhir. Setidaknya, kamu tidak melakukan kesalahan yang Bunda lakukan dimasa lalu, kesalahan Bunda yang telah menyerah begitu saja bahkan tanpa melakukan perjuangan apapun. Berjuanglah sampai akhir, Nak! Bunda percaya, seratus persen percaya, kamu pasti bisa menaklukan hati Via…”
            Cakka mengurai pelukannya dan kembali merebahkan kepalanya diatas pangkuan Bundanya dengan nyaman. Perasaannya yang tadi kalut sekarang berangsur membaik, dan itu semua karena Bundanya. Karena Bundanya yang telah menguatkannya.
            “Cakka pasti akan berjuang sampai akhir, Bund. Cakka gak akan nyerah sebelum dapetin hati Via. Makasih buat segalanya, Bunda…” Cakka meraih tangan kanan Bundanya lalu menciumnya dengan lembut. Cakka melakukannya agak lama.
            “Bunda…”
            “iya, sayang?”
            “boleh nyanyiin satu lagu gak buat Cakka?” tanya Cakka sambil memejamkan matanya dan memeluk tangan Bundanya seerat mungkin.
            “Cakka mau lagu apa?”
            “lagu yang dulu sering Bunda nyanyiin buat Cakka waktu Cakka masih kecil…”
            Yashinta terkekeh pelan sebelum akhirnya mulai bernyanyi. Cakka memang selalu menyukai suara merdu sang Bunda.

“twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!
Up above the world so high
Like a diamond in the sky!
When the blazing sun is gone,
When he nothing shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, all the night….”

            Cakka mulai terlelap sesaat sebelum Yashinta menyelesaikan penutup lagunya.

“… though I know not what you are,
Twinkle, twinkle, little star…”

            Untuk yang kesekian kalinya, Yashinta kembali tersenyum lembut dan mendaratkan sebuah kecupan lembut yang hangat dikening anaknya.

            sweet dream kesayangannya, Bunda….”



♫♫♫


           
            “jelaskan, bagaimana bisa gadis kecil yang ada difoto ini adalah Via! Bagaimana bisa seorang Gisselavia Garneta adalah gadis kecil yang ada dalam foto lama ini!” kata Gabriel dengan nada bergetar namun penuh dengan  emosi yang menggelegak disetiap kalimatnya. Air mata sudah tergenang sempurna dipelupuk sepasang mata elangnya. Gabriel menghempaskan foto itu begitu saja dimeja kerja Opa nya dan membuat Opanya kaget setengah mati.
            Danar Ganendra tertegun untuk beberapa saat. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa hal tidak terduga ini akan terjadi dengan begitu cepat tanpa perkiraannya. Lalu sekarang, alasan apa yang harus ia berikan pada Gabriel? Kebohongan macam apalagi yang harus ia jejalkan agar Gabriel percaya? Atau jika tidak, atau jika ia harus mengakui semuanya sekarang, lalu darimana ia harus mulai menjelaskan?
            “da—darimana kamu dapatkan foto ini?” ujar Danar dengan nada sedikit sedikit terbata. Pertama kali dalam hidupnya, ia akhirnya merasa gentar didepan cucunya sendiri.
            “APA ITU PENTING SEKARANG?!” Teriak Gabriel dengan cukup keras. Sebulir air matanya menetes begitu saja membasahi wajah manisnya yang tampak sangat lelah.
            “selama tujuh belas tahun ini aku hanya diam dan selalu ngedengerin setiap PERINTAH yang Opa berikan, lalu sekarang apa salahnya kalau aku mulai memberontak, AKU CAPEK!”
            “Gabriel Fabian Ganendra!!” seru Danar dengan emosi yang coba ia tahan sebisanya.
            “mungkin sulit bagi Opa buat menjelaskan semuanya, dan Opa harus tahu, aku gak butuh penjelasan apapun. Yang aku butuhkan hanya jawaban YA atau TIDAK. Apa benar gadis yang ada difoto ini adalah Via? Apa benar Via yang selama ini aku kenal adalah Gissel?”
            “bahkan jika jawabannya adalah ya, kamu tidak akan pernah bisa melakukan apapun, Gabriel!” Danar berbalik dan dengan sengaja membelakangi Gabriel. Gabriel mungkin tidak menyadarinya, tapi Danar seperti sengaja menyembunyikan raut wajahnya dari Gabriel sekarang.
            Mendengar jawaban yang dilemparkan oleh Danar mendadak membuat sekujur tubuh Gabriel melemah. Kedua kakinya bahkan sudah tidak sanggup lagi menopang berat badannya. Gabriel lalu jatuh bersimpuh dilantai dengan air matanya yang semakin deras menetes. Semua ini masih sangat membingungkan. Dan ia merasa, ia tidak akan pernah bisa mengerti dengan alasan apapun yang akan Opanya keluarkan.
            “jangankan memberitahukan Gissel yang sebenarnya, kamu bahkan tidak akan sanggup mengakui bahwa dia adalah adikmu. Karena Gissel, tidak akan dengan gampang menerima kenyataan itu. Dalam pikirannya, kita telah ‘membuang’nya begitu saja, lalu apa kamu pikir mungkin dia akan memaafkan kita dengan ‘cacat’ dihatinya? Jangan bertindak gegabah! Seperti apa yang kamu lakukan selama tujuh belas tahun terakhir ini, tetaplah diam ditempat kamu berdiri sekarang. Opa akan urus semuanya dan menyembuhkan ‘cacat’ dihatinya. Sebagai gantinya… Opa akan mengembalikan identitasnya dan akan mengembalikan Gissel ke ‘tempat’ dimana seharusnya dia berada….”
            “aku gak bisa percaya lagi sama Opa…” lirih Gabriel dengan putus asa sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
            Dengan masih menatap kearah luar jendela, Danar kembali buka suara, “ Opa tidak akan meminta kepercayaanmu, Gabriel. Opa tidak akan meminta apa-apa lagi. Tapi untuk sekaliiii ini saja Opa minta tolong. Tolong untuk tetap diam ditempatmu. Biar Opa yang bereskan semuanya…”
            “kalau Via adalah Gissel, berarti Mama…. Berarti Mama sudah me—meninggal?” kata terakhirnya seakan menjelma menjadi sebuah pisau tajam yang merobek jantung Gabriel tanpa ampun.
            Danar mengangguk beberapa kali, “iya. Kamu benar. Mama mu telah meninggal karna penyakit leukimia yang ia derita sejak 2 tahun yang lalu, dan Mama mu meninggal sekitar 6 bulan yang lalu… karna alasan itu sekarang, Via berada dibawah asuhan orangtua Alvin. Orangtua Alvin adalah sahabat kepercayaan Mamamu.”
            “dan Opa tidak mengatakan apapun sama Iel?” isakan Gabriel mulai terdengar menyayat hati.
            “Opa minta maaf untuk itu…”
            Gabriel menyeka airmata nya dengan kasar. Ia lalu bangkit dan mengambil foto itu dari meja kerja Opanya. Tanpa berkata apapun, Gabriel keluar dari ruang kerja Opanya dengan perasaan yang remuk redam.
            Sesaat setelah kepergian Gabriel, Danar Ganendra langsung membalik tubuhnya dan menatap kearah pintu dengan pandangannya yang selalu tidak terbaca. Tangan renta nya perlahan terangkat dan menyeka sebulir Kristal bening yang tertahan dipelupuk matanya.

            “maafkan Opa, Gabriel… sekali lagi Opa harus berbohong dan menutupi kenyataan yang sebenarnya….”



♫♫♫


            Langkah Via terhenti dipekarangan rumahnya saat sesuatu menarik perhatiannya tepat dibawah kedua kakinya sekarang. Dompet berwarna pink miliknya yang sejak kemarin ia cari akhirnya ia temukan juga. Awalnya Via pikir dompet itu telah menghilang entah dimana. Tapi ternyata ia salah. Ia telah menjatuhkan dompetnya dipekarangan rumahnya. Dan Via merasa sangat lega ketika menemukan kembali dompetnya.
            Via lantas menunduk dan mengambil dompet itu. Tanpa buang-buang waktu lagi, Via langsung membukanya dan memeriksa isinya. Senyumannya kian melebar saat melihat foto semasa kecilnya bersama mendiang sang Mama masih tersimpan dengan rapi ditempatnya. Dalam hati Via bersyukur karna tidak kehilangan foto itu. Bagi Via, foto itu adalah benda paling berharga yang pernah ia miliki.
            Lalu tiba-tiba, sebuah suara klakson mobil yang terdengar menyalak tepat dibelakangnya membuat Via terkesiap. Via serta-merta menoleh kebelakang dan mendapati sosok Alvin yang dengan sengaja menyembulkan kepalanya dari kaca jendela sembari menatapnya dengan pandangannya yang selalu terlihat dingin dan super tidak bersahabat. Via menatap sebal kearah pemuda itu.
            “Lo gak mau masuk, nih?” tanya Alvin dengan nada yang tidak kalah dinginnya. Dan sikap Alvin pagi ini yang sangat amat mengesalkan, malah membuat Via mempertanyakan kembali ketulusan Alvin saat pemuda itu menjaganya selama semalaman penuh ketika ia terbaring sakit beberapa waktu yang lalu. Via tidak yakin, apakah Alvin menjaganya dengan ikhlas malam itu. Dasar cowok bermuka dua!
            Via menyimpan dompet itu didalam tasnya dan buru-buru memasuki mobil Alvin sebelum pemuda menyebalkan itu benar-benar meninggalkannya. Alvin menatap Via sekilas yang tampak enggan menatapnya sebelum akhirnya ia menjalankan mobilnya dan membelah jalanan menempuh perjalanan kesekolah.
            Ada yang berbeda dan sangat janggal dengan sikap yang Via tunjukan pagi ini. Jika biasanya ia begitu cerewet dan selalu mengoceh semauanya saat sedang dalam perjalanan menuju sekolah, maka kali ini Via hanya diam sambil mendengarkan music melalui earphonenya. Alvin sangat heran, tapi ia merasa terlalu gengsi jika harus menanyakan alasannya langsung pada Via. Biarkan saja Via terus diam seperti ini! Ini adalah hal yang sangat bagus untuk Alvin. Setidaknya, Via tidak akan menganggunya lagi. Walaupun hanya untuk sementara waktu, setidaknya Alvin bisa merasakan hari-harinya tenang.
            Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, tibalah mereka disekolah. Yang mengejutkan adalah, Via keluar begitu saja dari mobil Alvin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal itu semakin ganjil bagi Alvin mengingat bagaimana selama ini Via bersikap biasanya. Ia seperti menemukan Via yang lain. Tapi sama seperti tadi. Alvin tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa menatap punggung Via yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
            Meski terkesan tidak peduli. Tapi Alvin sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis cerewet itu. Apa yang salah dengannya?


♫♫♫


            Langkah kaki Via kian melambat saat dari kejauhan ia melihat Cakka berjalan kearahnya. Otaknya memerintahkannya untuk segera berbalik pergi dan menghindar sebisanya. Tapi kedua kakinya seakan terpaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan untuk sekedar menggerakan kakinya saja ia merasa tidak berdaya. Kenyataannya, rasa bersalah itu masih melingkupi hati kecilnya hingga sekarang.
            “hay, Via…” sapa Cakka seperti biasanya dengan senyumannya yang selalu tampak tulus. Bahkan ia bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apapun antara dirinya dan Via kemarin sore. Dan sikap yang Cakka tunjukan ini kian menambah rasa bersalahnya.
            Cakka tersenyum maklum saat gadis manis berlesung pipi ini sama sekali tidak membalas sapaannya atau sekedar tersenyum padanya. Ada semilir perih yang berusaha ia tutupi jauh didalam sana. Beberapa detik kemudian, Cakka menyentuh salah satu pundak Via dan berkata, “gue duluan…”
            Baru dua langkah Cakka beranjak, tanpa ia pernah ia duga sebelumnya, Via mencekal pergelangan tangannya dan menarik pelan Cakka hingga kembali berdiri dihadapannya. Salah satu alis Cakka terangkat saat melihat Via yang terus saja menatapnya tanpa berkata apapun. Dan disaat yang bersamaan, tidak jauh dari posisi mereka sekarang, diam-diam Alvin memperhatikan mereka dengan pandangan menyelidik.
            “elo… baik-baik aja, kan?” tanya Via ragu-ragu setelah cukup lama ia tenggelam dalam kebisuannya.
            Cakka terdengar menghela napas lalu tersenyum meledek. Ia lantas terkekeh pelan dan menjawab, “kalo gue bilang gue gak baik-baik aja, apa… jawaban lo yang kemarin akan berubah?”
            Via serta-merta melepaskan pergelangan tangan Cakka dari genggamannya. Pertanyaan yang baru saja Cakka lemparkan benar-benar mengejutkannya. “selama gue masih bisa ngeliat lo… gue pasti akan baik-baik aja…”. Dan kali ini, Cakka benar-benar berlalu dari hadapannya tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Saat langkah Cakka sudah cukup jauh, Via berbalik dan menatap sosok Cakka yang semakin lama semakin menghilang diantara kerumunan siswa-siswi SMA Patuh Karya.
            Alvin masih bertahan ditempatnya bahkan ketika Via sudah pergi dari hadapannya. Banyak hal yang menganggu pikirannya belakangan ini. Dan sikap Via yang mendadak berubah hari ini semakin membuat semuanya kacau. Alvin lalu terkesiap saat sebuah tangan tiba-tiba saja menepuk pundaknya dari belakang. Saat ia menoleh kesamping, Alvin langsung mendapati sosok Gabriel yang sedang berdiri disisinya seraya menatap kearah yang sama dengan titik focus Alvin sejak tadi.
            “ngapain lo disini?” tanya Alvin singkat, berusaha terdengar tidak peduli.
            “harusnya gue yang nanya, lo ngapain disini?” tanya Gabriel kembali sambil menatap Alvin.
            “sejak kapan lo jadi ngebalikin pertanyaan gue kayak gini?” tanya Alvin sedikit kesal. Gabriel tersenyum misterius dan kembali buka suara,
            “apapun itu… terimakasih karna selama ini lo udah jagain Via dengan baik…”
            Alvin sedikit bingung. Kenapa Gabriel tiba-tiba berterimakasih padanya menyangkut Via? Atau apa jangan-jangan… tidak! Tidak mungkin. Alvin langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali dan berusaha membuang semua pikiran-pikiran anehnya. Gabriel tidak mungkin tahu secepat itu.

            “kenapa mendadak lo… berterimakasih?”



♫♫♫


            Satu minggu dari hari ini, Ujian Kenaikan Kelas akan segera tiba. Para siswa-siswi SMA Patuh Karya semakin terlihat giat belajar. Dan pihak sekolah semakin intens menambah jam pelajaran agar hasil Ujian nanti bisa memuaskan.
            Lepas dari ujian kenaikan kelas, hari ini genap 2 minggu sudah Via menjaga jarak dari Alvin. Nampaknya Via benar-benar menepati perkataannya pada Alvin malam itu. Malam dimana ia memutuskan untuk melepaskan dan melupakan Alvin sepenuhnya. Diawal, Alvin berpikir bahwa Via sama sekali tidak serius dengan ucapannya, tapi selama dua minggu terakhir ini, Via telah benar-benar membuktikan perkataannya dan mematahkan anggapan Alvin dalam sekejab mata.
            Disaat Via semakin serius menjauhinya dan selalu bersikap bahwa seakan-akan Alvin tidak pernah ada, Alvin justru merasakan sebagian dirinya menghilang. Yang semakin membuat segalanya sulit adalah, Via ada didepan matanya, setiap hari ada disampingnya, tapi gadis itu justru hanya menganggap Alvin tidak lebih dari sekedar angin yang berlalu. Kenyataan itu entah kenapa begitu menyesakkan dada Alvin. Mungkin ia enggan mengakuinya secara gamblang, tapi jauh didasar hatinya yang terdalam, ia benar-benar merindukan sosok Via yang cerewet, sosok Via yang selalu menganggunya dan hampir setiap hari membuatnya kesal. Sosok Via yang berprilaku unik yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati. Dan sekarang, Alvin benar-benar kehilangan semua itu.
            Kalau saja bukan karena ikatan kuat yang terjalin antara kedua orangtuanya dan Danar Ganendra, mungkin Alvin tidak akan pernah berada dalam posisi yang tidak mengenakan ini. Kalau saja kedua orangtuanya tidak pernah terlibat dan ikut terseret dalam urusan keluarga Ganendra, mungkin Alvin tidak perlu membohongi dirinya sendiri seperti sekarang ini dan bersikap munafik.
            Demi apapun itu, Alvin ingin keluar dari lingkaran ini dan meraih apa yang ingin ia raih tanpa  merasa takut dengan tekanan yang ada disekelilingnya.
            Dan sejak hari dimana Via mulai menjahuinya, sejak saat itulah, Alvin selalu diam-diam memperhatikan Via dari kejauhan. Untuk saat ini, mungkin itu hal terbaik satu-satunya yang bisa Alvin lakukan. Sekalipun mereka tinggal satu atap, tapi Via selalu berusaha membentang sekat diantara mereka. Sekat yang sebenarnya bisa Alvin lampaui dengan gampang hanya jika ia mau. Tapi sekali lagi, kenyataan yang sekarang sedang ia hadapi membuatnya tidak bisa melakukan apapun, bahkan  untuk sekedar bergerak.
            Malam itu, Via terlihat sangat kesulitan saat menyelesaikan soal-soal latihan fisika. Dalam pelajaran eksak seperti ini, otak Via memang tergolong lemah. Sejak kecil ia benci pelajaran berhitung, tapi seumur hidupnya, ia sepertinya tidak akan pernah bisa lepas dari sesuatu yang namanya berhitung.
            Kesulitan yang Via alami itu  tertangkap oleh Adryan yang tanpa sengaja lewat didepan kamar Via. Adryan yang penasaranpun masuk kedalam kamar Via dan berdiri disamping Putri angkatnya itu. Via yang masih tampak bingung memecahkan soal latihannya sepertinya belum menyadari kehadiran Adryan. Adryan lalu menepuk pelan pundak Via seraya berkata, “kamu kesulitan, ya?”
            Via yang terkesiap langsung mengangkat wajahnya dan menatap Adryan seraya menganggukan kepalanya.
            “haha… persis sama! Kamu tahu? Sekalipun dulu mendiang Mama mu terkenal sebagai mahasiswi paling pintar seangkatan, tapi tetap saja ia merasa kesulitan saat harus berhadapan dengan mata kuliah berhitung…” kenang Adryan sambil menatap lurus kedepan. Via hanya mengangguk beberapa kali sambil tersenyum kecil. “dan kamu tahu lagi?” lanjut Adryan yang terdengar semakin antusias, “Mama mu sangat berambisi menaklukan semua mata kuliah berhitung yang sangat ia benci. Jadi… kamu harus gigih seperti mendiang Mamamu. Jangan terlalu gampang menyerah dengan sesuatu yang kamu benci”
            “makasih, Pa…” jawab Via singkat lalu kembali melanjutkan menyelesaikan latihan soalnya.
            “kalo kamu bener-bener ngerasa kesulitan, minta bantuan Alvin gih! Walaupun menyebalkan begitu, tapi otaknya sangat encer menyelesaikan soal berhitung seperti ini”
            Degh! Baru mendengar nama Alvin saja jantung Via sudah berdegub dengan sangat cepat, apalagi jika harus menemuinya dan meminta pertolongannya. Bisa runtuh semua  pertahanan yang mati-matian ia bangun selama dua minggu terakhir ini. Via lantas menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia pun kembali menatap Adryan dan berkata, “Via bisa sendiri kok, Pa…”

            “yakin?”


♫♫♫


            Suara ketukan pintu dari luar membuat Alvin yang tengah asyik menekuri lembar dari lembar komiknya sedikit terkejut. Alvin menatap sebal kearah pintu sebelum akhirnya berkata dengan nada yang cukup keras, “MASUK!”
            Dan Alvin lebih terkejut lagi saat tahu ternyata Via lah yang membuka pintu kamarnya sambil membawa beberapa buku pelajaran. Via menatap Alvin sekilas lalu menunduk dalam. Ia menunggu Alvin mempersilahkannya masuk. Alvin yang awalnya kaget dengan kehadiran Via berusaha bersikap wajar. Ia tidak ingin membuat gadis ini besar kepala setelah dua minggu lamanya ia sama sekali tidak mengacuhkan Alvin.
            “tujuan lo kekamar gue?” tanya Alvin tanpa basa-basi dan berusaha terdengar dingin. Ia pun berpura-pura sibuk dengan membolak-balik lembar komiknya.
            “gue agak kesulitan nyelesein beberapa soal fisika. Bisa tolong bantuin gue?” tanya Via dengan nada sepelan mungkin. Alvin berdehem cukup keras.
            “lo gak liat gue lagi sibuk?!” tanyanya skeptis tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya. Via menghela napas panjang-panjang. Selama dua minggu, ini kali pertamanya ia mengajak Alvin berbicara. Awalnya Via berpikir Alvin akan sedikit berubah, tapi ternyata sama saja. Via lalu semakin kesal saat tanpa sengaja ia melihat apa yang Alvin baca. Komik? Alvin sedang membaca komik dan mengatakan bahwa ia sedang sibuk? Benar-benar keterlaluan! Oke, tidak seharusnya Via mengikuti perkataan Papanya dan pergi menemui Alvin.
            “ya udah kalo lo sibuk, SORRY GANGGU!” Ucap Via dengan penakanan yang cukup kuat pada dua kata terakhirnya. Tepat saat Via akan berbalik dan pergi, tiba-tiba saja Alvin kembali buka suara dengan nada bicaranya yang tetap terdengar dingin.
            “Masuk gih!”
            Via serta-merta menghentikan langkahnya dan kembali menoleh kearah Alvin yang saat itu sudah duduk manis dimeja belajarnya. Bahkan Via sudah tidak melihat lagi komik yang tadi Alvin baca.
            “Apa?” tanya Via yang merasa sangat sanksi dengan apa yang baru saja ia dengar.
            “masuk sebelum gue berubah pikiran!”
            Via terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menyeret langkah kakinya dan duduk berhadapan dengan Alvin dimeja belajarnya. Tanpa berkata apapun, Via langsung membuka buku cetak fisikanya dan menunjukannya pada Alvin.
            “disini. Gue kesulitan di nomor ini…” kata Via sambil menunjuk soal nomor 13.
            Alvin menganggukan kepalanya beberapa kali dan mulai menjelaskan rumus apa yang harus Via gunakan untuk menyelesaikan soal itu. Dan selama Alvin menerangkan, Via justru tanpa sadar terus menatap Alvin. Alih-alih mendengarkan penjelasan Alvin, konsentrasinya malah buyar begitu saja saat melihat wajah Alvin yang ntah kenapa tampak begitu meneduhkan malam ini. Sadar bahwa Via sedang memperhatikannya, dengan cepat Alvin mengangkat kepalanya dan menangkap basah Via yang secepat kilat mengalihkan pandangannya kearah buku. Alvin berdecak pelan. Meskipun diam-diam terselip rasa bahagia dihatinya dengan apa yang baru saja terjadi, tapi tetap saja Alvin tidak suka jika seseorang tidak serius saat sedang belajar.
            “kalo gue lagi serius tolong serius. Kecuali… lo mau dengan senang hati keluar dari kamar gue tanpa perlu gue suruh…” kata Alvin dengan nada memperingatkan.
            “maaf…” ucap Via singkat.
            Alvin kembali melanjutkan penjelasannya dengan memberikan beberapa contoh. 10 menit berlalu, Via akhirnya mengerti dan berhasil menyelesaikan beberapa soal dengan baik. Kelamaan, suasana belajar mereka semakin mengasyikan. Alvin memberikan Via beberapa rumus sederhana yang cukup efektif. Alvin juga memberikan dan menjelaskan Via beberapa prediksi soal yang mungkin keluar di Ujian kenaikan kelas nanti.
            Satu jam berlalu, Via tampak serius menyelesaikan beberapa soal. Ia tersenyum saat melihat hasil kerjanya yang cukup memuaskan. Ternyata Alvin cukup banyak membantunya.
            “udah selese, Vin. Ini gima—“ Via tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Alvin yang sudah tertidur pulas dengan menelungkupkan kepalanya diatas meja. Via tertegun untuk beberapa saat ketika melihat wajah tenang tanpa riak dihadapannya.
            Sama seperti Alvin, dengan perlahan Via menelungkupkan kepalanya diatas meja. Posisi wajah mereka pun kini saling berhadapan satu sama lain dengan jarak yang lumayan dekat. Via bahkan dapat merasakan desauan napas Alvin yang terdengar teratur. Senyuman diwajah Via kian melebar. Kedua bola matanya tanpa henti terus menelusuri setiap lekuk demi lekuk wajah pemuda angkuh dihadapannya ini. Wajah tenang Alvin ketika tidur justru mengingatkan Via pada masa kecil mereka dulu. Tepatnya beberapa tahun yang lalu.


Flashback…
               
Lombok, 2004

            “Alvin, Via. Alvin, Via!!” teriak beberapa anak saat melihat Alvin membonceng Via dengan sebuah sepeda. Via yang duduk dibelakang Alvin tampak malu-malu saat beberapa teman mereka menggoda. Tapi Alvin yang mengayuh sepeda dihadapannya justru terlihat santai-santai saja.
            “temen-temen apa-apaan sih? Kenapa mereka seheboh itu? Kita kan Cuma boncengan…”
            Alvin tersenyum lalu terkekeh pelan, “kenapa? Pia gak suka ya digodain kayak gitu?”
            “bukannya gitu, Phin. Tapi kan, Pia maluuuu…”
            Alvin tiba-tiba menghentikan sepedanya ditepi sebuah danau buatan dengan pemandangan yang sangat indah. Via yang merasa heran dengan apa yang Alvin lakukan langsung turun dari atas sepeda. “kok berhenti, Phin?”
            “tiba-tiba Aphin mikir, Aphin pengen bareng-bareng terus sama Pia selamanya…”
            “Pia juga pengen kayak gitu. Tapi kan… sebentar lagi Aphin mau pindah ke Jakarta…” kata Via lalu menunduk sedih. Alvin kecil menyentuh wajah Via dengan lembut sambil tersenyum.
            “kalo kita udah besar nanti, kita nikah ya? Pokoknya Pia harus nikah sama Aphin, gak boleh sama yang lain”
            “kok gitu?”
            “supaya kita bisa terus bareng-bareng selamanya. Papa dan Mama Aphin juga bisa terus bareng-bareng selamanya karna mereka nikah. Untuk itu, Aphin pengen banget bisa kayak Papa dan Mama. Pia mau kan nikah sama Aphin kalo kita udah besar nanti?”
            Via mengangguk beberapa kali sambil tersenyum lebar. Sebagai symbol atas janji mereka, Alvin lalu memasangkan sebuah cincin yang ia buat sendiri dengan akar pohon dijari mungil Via. Mereka lalu saling menatap satu sama lain dan tertawa bersama-sama.


            Via tersenyum geli beberapa saat setelah ia mengingat kenangan masa kecilnya dengan Alvin sekitar sepuluh tahun yang lalu itu. Apa mungkin Alvin yang menyebalkan ini masih mengingat janji konyol yang ia buat itu? Via rasa… Alvin sudah melupakannya. Lalu senyuman itu tiba-tiba saja menghilang tanpa bekas. Saat mereka masih kecil dulu, mereka begitu dekat dan nyaris tidak terpisahkan. Tapi, setelah mereka berpisah selama beberapa tahun lamanya dan kembali dipertemukan, Alvin justru bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal Via sebelumnya.
            Tidak seperti tadi, kali ini Via menatap wajah Alvin dengan perasaan nelangsa. Tanpa ia sadari, tangan kananya tiba-tiba saja terangkat dan mendarat dengan sangat pelan diwajah Alvin. Via membelainya dengan lembut sambil terus menatapnya tanpa henti.
            Lalu tanpa Via sadari, kedua mata Alvin tiba-tiba saja terbuka. Via yang kaget baru saja akan menyingkirkan tangannya dari wajah Alvin, tapi Alvin dengan cepat malah menahan tangan Via dan mengenggamnya erat-erat. Alvin menatap kedua bola mata Via sedalam mungkin. Ia seolah ingin menyampaikan sesuatu dari tatapan matanya.
            “A—Alvin? Ma—maaf udah nge—ngebangunin lo…” ucap Via terbata dengan susah payah. Kali ini ia menarik tangannya dari genggaman Alvin dan buru-buru membereskan buku-bukunya, “gu—gue balik kekamar dulu…”. Via sangat gugup sekarang. Memangnya apa lagi yang lebih memalukan dari ini? Alvin menangkap basah dirinya yang sedang menyentuh sambil menatap wajahnya tanpa henti dalam jarak yang sangat dekat. Via malu, benar-benar malu. Ia bahkan merasa tidak yakin apakah ia masih punya muka dihadapan Alvin setelah kejadian ini.
            Via berjalan kearah pintu meninggalkan Alvin seorang diri dikamarnya. Tapi baru saja tangan Via akan menyentuh kenop pintu, Alvin tiba-tiba menarik lengannya dan membuat buku-buku yang ada ditangan Via terjatuh begitu saja. dalam satu gerakan cepat, Alvin memutar tubuh Via dan sedikit memojokannya dipintu.
            “a—apa yang lo lakuin, Vin?” tanya Via dengan nada setengah berbisik. Jantungnya semakin berdegub kencang dan seakan-akan nyaris keluar dari tempatnya.
            “ada yang harus lo tahu…” kata Alvin seraya menatap lurus pada kedua manik mata Via.
            “a—apa emangnya?”
            “tentang perkataan gue malam itu… malam dimana lo nyatain perasaan lo…”
            Via terdiam untuk beberapa saat dan berusaha mengontrol detak jantungnya yang semakin menggila. “gue akan dengerin, ta—tapi…” Via tidak melanjutkan perkataannya. Ia justru berusaha melepaskan diri dari Alvin sebagai isyarat agar Alvin segera melepaskannya. Tapi Alvin malah menggelengkan kepalanya.
            Kali ini Alvin memegang kedua pundak Via. Ia menatap Via untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menundukan kepalanya seraya memejamkan mata. “disini gue jujur… apa yang gue omongin malem itu adalah… bohong…”
            “maksud lo?” tanya Via yang merasa sangat kaget sekarang.
            “banyak hal yang terjadi belakangan ini. Malam dimana lo nyatain perasaan lo ke gue, adalah hal diluar perkiraan gue selama ini. Dan waktu itu, gue belum terlalu yakin dengan apa yang gue rasain sampai akhirnya lo ngejauhin gue dan bikin gue menyadari semuanya, gue—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Kedua matanya masih terpejam, dan kepalanya masih ia tundukan. “gue pikir… kita punya perasaan yang sama…” kata Alvin pada akhirnya setelah ia berusaha menepikan segala hal yang selama ini memberatkan setiap langkahnya. Dan untuk malam ini saja, ia ingin melupakan ikatan yang terjalin begitu kuat antara kedua orangtuanya dan Danar Ganendra. Biarkan untuk malam ini saja Alvin jujur pada hatinya dan pada dirinya sendiri. Setidaknya sekali saja dalam hidupnya, Alvin ingin mengikuti kata hatinya tanpa setitikpun kebohongan.
            “ja—jadi lo??”
            Kali ini Alvin mengangkat wajahnya dan kembali menatap dalam pada sepasang mata jernih penuh pengharapan itu, “Gisselavia Garnetta, gue sayang sama lo” ucap Alvin dengan tegas dan sangat lugas.
            Via yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar malah tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, “haha… gak mungkin. Ini pasti Cuma mimpi, kan? iya kan? haha…”
            “hey dengerin gue!”
            “hahaha… gue gak percaya. Seorang Calvin Nicholas gak mungkin suka sama gue. Iya, ini pasti mimpi…”
            “Via, dengerin gue, hey—“
            “gak mungkin. Atau lo lagi bercanda? Atau mungkin aja lo Cuma mainin pe—“
            Via langsung bungkam seketika saat Alvin menempelkan bibirnya dengan bibir tipis gadis itu. Saat itu juga, jutaan kembang api didalam dada Via seakan meletup dengan semarak. Via mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin untuk menetralisir rasa gugupnya. Tidak, ia tidak berharap setelah ini Alvin mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun pada Via seperti yang ia lakukan malam itu. Jika sekali lagi Alvin melakukannya, maka Alvin telah benar-benar membunuh hatinya dengan sangat kejam.
            Dengan perlahan Alvin meraih kedua tangan Via lantas mengenggamnya dengan lembut. Ia hanya ingin meyakinkan Via bahwa semua ini bukan mimpi. Ia hanya ingin Via tahu, bahwa memang inilah kebenaran persaannya. Via yang awalnya sangat gugup dan mengira bahwa semuanya hanya mimpi, sekarang akhirnya yakin. Ini adalah kenyataan. Ini adalah mimpinya yang sekarang menjadi nyata. Semenit berlalu, Alvin melepaskan tautan diantara mereka dan mendekatkan keningnya dengan kening Via. “apa sekarang lo masih belom yakin kalo semua ini nyata? Gue bener-bener sayang sama lo…”
            Via menatap Alvin untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia berjinjit dan memeluk pemuda itu erat-erat. Sekarang ia telah memiliki Alvin. Apapun yang terjadi, ia tidak ingin kehilangan Alvin. Dan ia tidak akan pernah melepaskan Alvin untuk selamanya. Ini janjinya pada langit.
            Untuk beberapa saat, Via melepaskan pelukannya, ia menatap Alvin seraya tersenyum lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dipipi kirinya. Ia pun kembali memeluk Alvin.

            “terimakasih karna lo udah bikin mimpi gue jadi nyata… Langitku…”





To Be Continued…