Flashback, 1996…
Setelah menikah diam-diam di Lombok tanpa
sepengetahuan Danar Ganendra, Geraldy memutuskan membawa Sylvia pergi ke London
untuk bersembunyi. Tidak hanya karena alasan itu, tapi Geraldy memang ingin
hidup bahagia jauh dari Ayahnya. Berada dekat dengan Ayahnya justru membuat
Geraldy mencemaskan nasib Sylvia selanjutnya.
3 bulan setelah pernikahan mereka
yang sangat sederhana, Sylvia positif hamil dan semakin menambah kebahagiaan
mereka. Dan karena luapan kebahagian itu, mereka sempat melupakan nasib kedua
orangtua Sylvia yang mereka tinggalkan di Lombok demi menempuh kehidupan baru
mereka di London.
Hingga pada suatu hari, hal yang
tidak pernah mereka inginkan akhirnya terjadi. Ayah Sylvia meninggal karena
serangan jantung setelah sekolah gratis yang ia bangun untuk anak-anak
terlantar digusur begitu saja. 25 tahun ia mengabdi menjadi seorang Guru hanya
demi mengumpulkan dana untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah sekolah
gratis. Dan saat impian itu baru saja ia raih, Danar Ganendra justru
menghancurkannya dalam sekejab mata.
Mendengar kabar kematian sang Ayah,
Geraldy dan Sylvia langsung pulang ke tanah air dengan perasaan terpukul.
Geraldy yang sejak awal memang menduga bahwa Ayahnya adalah dalang dibalik
semua ini kontan saja diliputi oleh rasa marah yang teramat sangat. Tapi
Sylvia, dengan berlapang dada ia berusaha meredakan kemarahan suaminya.
Kendatipun ia sangat terpukul dengan kenyataan ini, Sylvia tetap berusaha
ikhlas dan memaafkan. Ia hanya percaya, bahwa apa yang menimpanya saat ini
pasti terjadi karena kehendak Tuhan. Ia pasti bisa memetik hikmah dari apa yang
terjadi sekarang.
Semenjak kematian Ayah Sylvia,
Sylvia dan Geraldy memutuskan untuk menetap di Lombok dan menjaga Ibu Marlita
–Ibu Sylvia- yang mengalami depresi berat semenjak kematian suaminya. Selama
setengah tahun mereka menghabiskan waktu di Lombok, selama itu pula Sylvia dan
Geraldy melewati kehidupan yang benar-benar sulit. Danar Ganendra seolah
sengaja menjerat mereka. Uang tabungan mereka habis untuk biaya pengobatan Ibu
Marlita, Geraldy pun telah menjadi seorang pengangguran semenjak ia menetap di
Lombok. Geraldy tidak memiliki pekerjaan tetap, lamaran pekerjaan yang ia
ajukan bahkan di tolak dimana-mana, sementara Sylvia akan melahirkan tidak
kurang dari 2 bulan lagi. Geraldy nyaris putus asa jika saja Sylvia tidak
dengan setia menemaninya dan selalu berdiri disampingnya dengan tegar dalam
keadaan apapun.
Suatu hari Danar tiba-tiba muncul
dan meminta Geraldy serta Sylvia pulang kerumahnya. Jika mereka bersedia untuk
pulang, maka Danar berjanji akan memberikan mereka kehidupan yang jauh lebih
baik lagi. Awalnya Geraldy menolak permintaan itu. Ia tahu, dibalik semua ini,
Ayahnya pasti sudah menyusun sebuah rencana licik untuk memisahkannya dengan
Sylvia, tapi saat melihat keadaan Sylvia yang sedang dalam keadaan hamil tua
serta keadaan Ibu Mertuanya yang semakin hari semakin memperihatinkan, akhirnya
Geraldy menyerah.
Setelah berdiskusi dan mendapat
persetujuan mutlak dari isterinya, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sylvia berkata,
“mungkin Papa sudah berubah. Tidak
ada salahnya kita memberikan Papa kesempatan, kan?”
Setelah mereka pulang ke Jakarta,
Danar Ganendra benar-benar menepati janjinya. Meskipun ia tidak seratus persen
menerima kehadiran Sylvia sebagai menantunya, ia tetap memberikan kehidupan
yang layak untuk Geraldy dan Sylvia hingga akhirnya Sylvia melahirkan sepasang
anak kembar. Keadaan Ibu Marlita pun berangsur membaik setelah menempuh
perawatan disebuah rumah sakit di Singapore.
“terimakasih sudah membawa Geraldy
pulang…”
Itulah kata penyambutan yang Danar
ucapkan saat Sylvia untuk yang pertama kalinya menginjakan kakinya diistana
megahnya. Tanpa bisa mereka baca, Danar Ganendra telah menyiapkan sebuah
rencana yang jauh lebih besar dari ini.
♫♫♫
Via
terbangun dari tidurnya saat jam didinding kamarnya sudah menunjukan pukul
setengah enam pagi. Via yang masih dalam keadaan setengah sadar, secara
perlahan mulai membuka kedua matanya. Dan ia sedikit terjeut saat mendapati
sosok Alvin yang berbaring disampingnya dengan posisi yang berhadapan langsung
dengannya. Via bahkan tidak pernah menyangka bahwa Alvin akan bertahan
menjaganya hingga pagi.
Jarak
wajah mereka yang begitu dekat membuat Via dapat melhat dengan jelas bagaimana
ketampanan wajah pemuda ini setiap lekuk demi lekuknya. Kendatipun Alvin lebih
sering menyakitinya dengan perkataan serta sikapnya yang sangat menyebalkan,
tapi tetap saja rasa sayangnya pada Alvin tidak berkurang sedikitpun, dan
sekuat apapun dia berusaha membenci Alvin, tetap saja rasa sayangnya terlampau
kuat untuk bisa ia kalahkan dengan gampang.
Via
lalu mengangkat salah satu tangannya dan mendaratkannya diwajah Alvin dengan
hati-hati. Dan saat tangannya menyentuh wajah itu, tiba-tiba saja sekelebat
ingatan muncul dengan sekilas dikepalanya.
‘gue
sayang elo, Via…’
Via
tahu betul itu adalah suara Alvin. Tapi Via tidak yakin, apakah yang ia dengar
semalam adalah kenyataan atau hanyalah suara dari mimpinya.
Via
berpikir untuk beberapa saat lalu menurunkan tangannya dari wajah Alvin. Ia
tersenyum miris dan merasa sangat konyol karena sempat berpikir bahwa apa yang
ia dengar semalam adalah kenyataan. Bagaimanapun ia berharap, pernyataan Alvin
yang semalam ia dengar hanyalah bagian dari mimpi indahnya yang tidak akan
pernah menjadi kenyataan.
Tidak
berselang lama, Alvin mulai menunjukan gerak-gerik bahwa ia akan terbangun dari
tidurnya. Sesaat sebelum Alvin membuka kedua matanya, Via buru-buru memejamkan
matanya dan berpura-pura masih tertidur.
Alvin
mengangkat wajahnya dan melirik jam didinding kamar Via yang saat itu sudah
menunjukan pukul lima lewat empat puluh menit. Alvin lantas mendesah pelan saat
menyadari salah satu tangannya masih melingkar diperut Via. Alvin baru ingat,
bahwa semalaman ia tidur disamping Via sambil memeluknya. Alvin lalu melepaskan
pelukannya dan duduk disamping Via yang ‘tampaknya’ masih terlelap.
Untuk
memastikan keadaan gadis ini, Alvin menyentuh kening Via. Ternyata panasnya
sudah turun. Alvin menghela napas lega. Ia pun menarik selimut itu hingga
menutupi tubuh Via sampai ke pundak.
Sebelum
gadis ini terbangun, Alvin memutuskan untuk keluar dari kamar Via. Disaat yang
bersamaan, Via membuka matanya dan menatap sosok Alvin yang keluar dari
kamarnya sambil menutup pintu. Via mendesis sinis lalu berujar,
“cish..
sok gak peduli padahal sebenernya peduli…”
♫♫♫
Semalaman
Via tidak tidur memikirkan keputusan yang hendak ia pilih untuk Cakka. Dan saat
ia tiba pada sebuah keputusan final yang berusaha ia yakini, Via justru harus
berusaha mati-matian untuk mengumpulkan keberaniannya dan memberikan jawaban
yang mungkin tidak pernah Cakka inginkan. Via tahu pasti konsekuensi apa yang
akan ia dapatkan jika menolak perasaan Cakka. Menolak perasaan Cakka, berarti
Via telah melepaskan begitu saja seseorang yang menyayanginya dengan tulus dan
rela melakukan apapun untuknya. Via tahu Cakka akan terluka dengan pilihannya,
tetapi jika Via memilih untuk menerima Cakka, itu artinya ia akan membohongi
perasaannya sendiri juga perasaan Cakka. Diawal mungkin Cakka tidak merasakan
apapun, tapi seiring berjalannya waktu, semuanya pasti tampak dengan jelas dan
justru akan mengguratkan luka yang jauh lebih parah dihati Cakka.
Dan
saat ini, Via sedang duduk menunggu Cakka disalah satu cafe yang terdapat
disebuah Mall yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung sekolah mereka. Sudah
5 menit Via menunggu Cakka. Dan 5 menit yang telah ia lewati ini, adalah 5
menit yang paling berat yang pernah ia lalui.
Beberapa
menit berlalu, Cakka yang sejak tadi ia tunggu akhirnya muncul dengan senyumnya
yang selalu tampak hangat dan menenangkan. Melihat kehadiran Cakka, justru
membuat kerja jantung Via semakin meningkat dua kali lipat. Siapkah ia
menyatakan kebenaran perasaannya pada Cakka?
“tadi
kenapa kita gak bareng aja sih kesininya?” tanya Cakka dengan nada protes lalu
mengambil posisi duduk tepat dihadapan Via.
Via
terkesiap dan secara otomatis membuyarkan lamunan panjangnya.
“jadi…
lo mau ngomongin apa nih? Kayaknya serius banget…” Cakka lagi-lagi melemparkan
komentar yang semakin membuat perasaan Via kian tak menentu. Semuanya ternyata
jauh lebih sulit dari apa yang ia bayangkan sejak semalam.
“Kka…”
panggil Via pelan dengan ragu-ragu.
“hm?”
jawab Cakka singkat. Kedua alisnya terangkat saat melihat riak diwajah Via yang
tampak berbeda dari biasanya, dan entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.
Ia memiliki firasat buruk.
“hari
ini… gue akan ngasih lo jawaban. Ma—maaf… karena gue ngegantung lo terlalu
lama…” ujar Via penuh penyesalan. Tiba-tiba saja dadanya terasa seperti
terhimpit.
“no problem! Malah lo ngasih jawaban
lebih cepat dari perkiraan gue sebelumnya”
“Cakka…
gue… gue pengen ngucapin makasih sebelumnya. Makasih karna selama ini lo udah
sabar nungguin jawaban gue, makasih karna lo selalu ikhlas ngedengerin
rengekan-rengekan gue, dan makasih juga… karna lo udah sayang sama gue, tapi
gue… gue—“
“cukup,
Vi!” sela Cakka tiba-tiba saat mendapati ada sesuatu yang janggal dari kedua
mata Via juga dari raut wajahnya yang terlihat tak biasa. Dari gerak-gerik yang
Via tunjukan saja, Cakka sudah dapat menebak jawaban apa yang akan Via berikan
padanya. Tapi Cakka tidak ingin menyerah. Tidak sebelum ia benar-benar bisa
menaklukan gadis ini dan memenangkan hatinya. “Elo masih punya waktu buat
mikirin jawaban lo. Gak peduli seberapa lamapun itu, gue akan tetep nungguin
lo…”
“tapi,
Kka—“
“gue
belum siep dan gak akan pernah siep kalo harus ngedenger jawaban penolakan dari
lo. Dan lo musti tau, gue akan tetep berjuang buat ngedapetin hati lo. Sejak
awal gue udah yakin sama lo, dan siapapun itu, termasuk lo, gak berhak buat
mematahkan keyakinan gue…” ucap Cakka serius sambil menatap tajam pada kedua
bola mata Via.
Dan
Via tidak tahu harus berkata apa lagi. Respon Cakka benar-benar melenceng jauh
dari perkiraannya diawal. Kenapa? Kenapa Cakka begitu gigih memperjuangkannya
yang bahkan tidak pernah sekalipun menoleh kearahnya? Kenapa Cakka harus
membuatnya merasa sangat berdosa seperti ini? Andai ia bisa menerima Cakka dan
memberikan Cakka satu kesempatan saja, tapi sayangnya… Via tidak akan pernah
bisa melakukan itu. Ia bukan tipe gadis yang akan melanggar kata hatinya dengan
mudah.
“entah
kapan, gue yakin lo pasti bisa nerima gue. Dan gue, akan tetep nungguin jawaban
‘iya’ dari lo…”
Merasa
tidak perlu mendengar perkataan Via lagi, Cakkapun bangkit dari tempat duduknya
dan hendak hengkang dari tempat itu. Tapi sebelum pergi, ia sempat berkata pada
Via,
“jangan
pernah berpikir gue akan nyerah dengan gampang.” Cakka melirik arlojinya
sejenak dan kembali menatap Via, “gue ada urusan. Jadi gue harus pergi
sekarang. Lo bisa pulang sendiri, kan?”
Baru
saja Via akan melontarkan jawaban, Cakka malah sudah angkat kaki dari
hadapannya tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Berbulan-bulan mengenal sosok
seorang Cakka Sorano, ini kali pertamanya Via melihat Cakka seserius ini. Dan
entah kenapa Via merasa, bahwa Cakka tidak main-main dengan semua perkataannya.
Via
menyandarkan tubuh lelahnya dikursi dan menghela napas panjangnya. Semuanya
jadi terasa semakin sulit sekarang.
♫♫♫
Via
berjalan perlahan menyusuri lantai dua mall itu dengan pikiran yang melayang
entah kemana. Matanya menatap kosong kedepan, dan ia sama sekali tidak focus
dengan keadaan sekitarnya. Ia hanya berjalan mengikuti langkah kakinya dengan
sejuta kegetiran yang melingkupi setiap ruang diotaknya. Lalu tiba-tiba saja,
kenangan kebersamaannya dengan Cakka
melintas dikepalanya seperti sebuah film yang diputar ulang. Ia mengingat
bagaimana wajah bahagia Cakka saat pertama kali memperkenalkannya dengan Eyang
Rahayu juga dengan Yashinta, Bundanya. Ia juga mengingat, bagaimana Cakka yang
selama ini selalu mengejarnya tanpa menyerah dan rela melakukan hal-hal bodoh
untuk memenuhi setiap rengekannya, dan detik itu juga, sekelebat rasa bersalah
tiba-tiba saja melingkupi hati kecilnya.
Yang
berjuang untuknya selama ini adalah Cakka, bukan Alvin. Tapi kenapa ia harus
jatuh dan menyerah pada keangkuhan Alvin dan bukan pada kelembutan Cakka?
Kenapa harus Alvin? Kenapa bukan Cakka? Dan pertanyaan-pertanyaan itu justru
membuatnya semakin kalut. Meskipun ia berusaha mengelak, tapi ia sama sekali
tidak bisa menepis rasa sesalnya karena telah memberikan jawaban yang tidak
pernah Cakka inginkan. Ia menyesal karna tidak bisa memberikan jawaban ‘iya’
untuk Cakka. Dan ia sangat menyesali diri karna telah melukai perasaan Cakka
dengan pilihannya.
Via
yang sama sekali tidak memperhatikan jalannya tanpa sengaja menubruk seorang
pemuda yang saat itu sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Pemuda itu
terdengar meringis, tapi Via hanya bisa menunduk sambil mengucapkan kata maaf.
ia bahkan tidak menatap wajah pemuda itu dan malah melanjutkan langkahnya.
“Vi…
Via?” panggil seseorang dengan ragu-ragu tepat dari belakang Via. Merasa namanya
dipanggil, Via lantas menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu
juga, ia langsung mendapati sosok Gabriel yang sedang menatapnya dengan
pandangan bertanya.
“Ga—Gabriel?”
balasnya kemudian seraya berusaha menarik diri dari kekalutannya.
“lo
ngapain disini?” tanya Gabriel sembari berjalan mendekati Via dan berdiri tepat
dihadapannya.
“ta—tadi,
gue udah ketemu sama seseorang. Lo sendiri ngapain disini?” tanya Via kembali
yang sebenarnya sedang berusaha mengalihkan topic. Tapi Gabriel tidak selugu
itu, ia tahu pasti bahwa sesuatu sedang terjadi pada gadis ini. Selain pada
Shilla dan sahabat-sahabatnya, Gabriel tidak pernah sekalipun merasa mengenal
seseorang dengan sebaik ini. Gabriel bahkan mampu membaca isi kepala Via dari
raut wajahnya. Entahlah, semuanya terjadi tanpa proses yang panjang. Ia bahkan
baru mengenal Via, tapi ia justru merasa telah lama mengenal gadis ini.
“gue
abis beli buku buat persiepan UKK minggu depan…” jawab Gabriel sambil
menunjukan barang bawaannya. Via hanya mengangguk dan kembali menunduk.
“lo
sendiri aja?” sekali lagi Via mengangguk.
“lo
udah mau pulang?” tanyanya lagi.
“iya
nih…” jawab Via seadanya.
Gabriel
tampak berpikir sebelum akhirnya berkata, “gue anter yuk!”
Via
menatap Gabriel sekilas lalu berpikir sejenak persis seperti apa yang Gabriel
lakukan barusan. Tidak lama, Via lantas mengangguk sebagai jawaban atas ajakan
Gabriel.
Setelah
menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 menit, akhirnya tibalah mereka
didepan rumah Alvin. Selama diperjalanan tidak terjadi obrolan apapun antara
Gabriel dan Via. Mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Via
bahkan tidak sadar saat Gabriel menghentikan mobilnya saat baru saja tiba
didepan gerbang kediaman Alvin. Gabriel menatap Via sebentar dan mengalihkan
tatapannya pada gerbang yang tertutup dihadapannya. Gabriel lalu berdehem,
“ehem… kita udah nyampe, Vi…”
Via
serta-merta membuyarkan lamunan panjangnya dan buru-buru menatap Gabriel seraya
meringis bersalah.
“oh?
Udah nyampe ya?”
Gabriel
hanya mengangguk. Via lalu pamit dan segera keluar dari mobil Gabriel setelah
mengucapkan kata terimakasih. Gabriel hanya menatap Via yang tampak menghilang
dibalik gerbang. Saat Via sudah tidak terlihat lagi, Gabrielpun bersiap kembali
menjalankan mobilnya, tapi sebuah dompet milik Via yang tertinggal dikursi
penumpang yang ada disampingnya tahu-tahu mengalihkan pandangannya.
Entah
kenapa, dompet berwarna pink itu begitu menarik perhatiannya dan mengusik rasa
penasarannya. Gabriel lantas meraih dompet itu lalu membukanya mengikuti
perintah hatinya yang datang bahkan
tanpa ia sadari. Dan selembar foto seorang wanita dengan seorang gadis
kecil yang Gabriel yakini adalah Via langsung membuat jantung Gabriel berdebar
sangat kencang. Kedua tangannya tiba-tiba saja gemetaran dengan perasaan yang
tidak bisa ia jelaskan dengan rangkaian kata-kata. Semuanya mengabur. Untuk
beberapa detik, bumi seolah berhenti berputar. Segalanya hening, seisi dunia
seakan-akan membeku seiring dengan debaran jantungnya yang semakin kuat berdetak.
Antara
percaya atau tidak, antara yakin dan tidak yakin. Foto wanita yang sedang
tersenyum dengan lembut itu adalah Sylvia, Mamanya. Jika wanita itu adalah
Sylvia, maka Gadis kecil yang ada bersamanya adalah gambar adik kembarnya. Dan
jika gadis kecil itu adalah Via, berarti Via adalah… GI—GI… Sial! Bahkan untuk
menyebutkan namanya saja Gabriel merasa tidak sanggup.
Gabriel
pun berusaha menyatukan kepingan demi kepingan dugaannya dengan pertemuan
pertama yang terjadi antara Opa nya dan Via dihari ulang tahunnya yang ke-17
beberapa waktu yang lalu. Saat itu Opa nya berhenti tepat didepan Via dan
menatap Via dengan pandangan yang tidak bisa ia artikan. Gabriel ingat jelas,
saat itu Opanya menyebutkan nama Via dengan sangat tepat seraya mengucapkan kata
terimakasih untuk sesuatu yang tidak ia mengerti. Saat itu Gabriel sama sekali
tidak sadar dengan apa yang terjadi. Tapi apa yang dapatkan hari ini, justru
menguatkan segala prasangka dan keyakinanya.
Gabriel
berusaha menenangkan dirinya meskipun harus bersusah payah. Bukannya
mengembalikan dompet itu, Gabriel malah menyimpan dompet itu dashboard. Dengan tubuh yang masih
gemetaran, Gabriel berusaha focus dan menjalankan mobilnya dengan hati-hati.
Ia
sudah sangat tidak sabar untuk segera menemui seseorang dan meminta penjelasan
atas apa yang ia temukan hari ini.
Opanya.
Dia harus segera menemui Opa nya sekarang juga!
♫♫♫
“Dia
nolak aku, Bund. Ternyata dia gak punya perasaan yang sama seperti yang aku
rasain…” kata Cakka sambil dengan manja merebahkan kepalanya dipangkuan sang
Bunda.
Yashinta
tersenyum sekilas sambil membelai lembut kepala putera tunggal kesayangannya
ini. Mau tidak mau, kisah Cakka ini justru mengingatkannya pada cerita masa
lalunya. Tapi bagaimana bisa Cakka mengalami nasib yang nyaris serupa dengan
apa yang ia alami dimasa lalu. Kenapa Cakka harus turut terlibat dalam sebuah
cerita berjudul ‘Kasih Tak Sampai’ seperti apa yang ia telah ia lalui belasan
tahun yang lalu? Tapi kemudian Yashinta tersadar, didunia ini, apapun bisa terjadi.
Bahkan sesuatu yang tidak diinginkan sekalipun. Dan Yashinta ingin, jagoannya
ini bisa menerimanya dengan lapang dada.
“kamu
tahu? Dulu, Bunda punya seorang cinta pertama yang mungkin belum bisa Bunda
lupakan sampai saat ini. Cinta pertama Bunda itu, ternyata mencintai sahabat
Bunda sendiri…”
Mendengar
cerita Bundanya, Cakka mulai tertarik. Ia bangkit dan menatap wajah Bundanya.
“kesalahan
yang Bunda yang lakukan saat itu adalah… Bunda melepaskan lelaki itu begitu
saja tanpa perjuangan apapun. Bunda justru membiarkan dia memilih sahabat
Bunda, dan parahnya lagi, Bunda malah bersembunyi untuk menghindari mereka.
Tapi kamu musti tahu, Nak…” Yashinta menyentuh wajah Cakka dengan kedua
tangannya dan menatap wajah anaknya dengan pandangan nanar. Seulas senyuman
lembutnya masih menghiasi wajah cantiknya. “Bunda tidak pernah menyesal dengan
kesalahan yang sudah Bunda lakukan itu. Kesalahan itu justru menuntun Bunda
untuk mengenal seorang lelaki hebat yang sangat mencintai Bunda dan menerima
Bunda apa adanya. Kesalahan itu, justru membuat Bunda mengenal seorang Hoshi
Sorano yang telah memberikan segalanya untuk Bunda. Dan kesalahan itu, telah
membuat Bunda memiliki hadiah terindah dari Tuhan bernama Cakka Sorano. Disini…
intinya kamu harus yakin, bahwa kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih
baik lagi. Gak ada yang perlu kamu sesali. Semuanya terjadi atas rencana
Tuhan…”
“tapi
Cakka gak mau ngelepasin Via gitu aja, Bund? Gak tau kenapa, Cakka rasanya
pengen memperjuangkan Via sampai akhir. Apa keyakinan Cakka itu salah, Bunda?”
Sekali
lagi Yashinta tersenyum lalu membawa Cakka kedalam pelukannya. “Bunda justru
akan sangat berterimakasih jika kamu terus berjuang sampai akhir. Setidaknya,
kamu tidak melakukan kesalahan yang Bunda lakukan dimasa lalu, kesalahan Bunda
yang telah menyerah begitu saja bahkan tanpa melakukan perjuangan apapun.
Berjuanglah sampai akhir, Nak! Bunda percaya, seratus persen percaya, kamu
pasti bisa menaklukan hati Via…”
Cakka
mengurai pelukannya dan kembali merebahkan kepalanya diatas pangkuan Bundanya
dengan nyaman. Perasaannya yang tadi kalut sekarang berangsur membaik, dan itu
semua karena Bundanya. Karena Bundanya yang telah menguatkannya.
“Cakka
pasti akan berjuang sampai akhir, Bund. Cakka gak akan nyerah sebelum dapetin
hati Via. Makasih buat segalanya, Bunda…” Cakka meraih tangan kanan Bundanya
lalu menciumnya dengan lembut. Cakka melakukannya agak lama.
“Bunda…”
“iya,
sayang?”
“boleh
nyanyiin satu lagu gak buat Cakka?” tanya Cakka sambil memejamkan matanya dan
memeluk tangan Bundanya seerat mungkin.
“Cakka
mau lagu apa?”
“lagu
yang dulu sering Bunda nyanyiin buat Cakka waktu Cakka masih kecil…”
Yashinta
terkekeh pelan sebelum akhirnya mulai bernyanyi. Cakka memang selalu menyukai
suara merdu sang Bunda.
“twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!
Up above the world so high
Like a diamond in the sky!
When the blazing sun is gone,
When he nothing shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, all the night….”
Cakka
mulai terlelap sesaat sebelum Yashinta menyelesaikan penutup lagunya.
“… though I know not what you are,
Twinkle, twinkle, little star…”
Untuk
yang kesekian kalinya, Yashinta kembali tersenyum lembut dan mendaratkan sebuah
kecupan lembut yang hangat dikening anaknya.
“sweet dream kesayangannya, Bunda….”
♫♫♫
“jelaskan,
bagaimana bisa gadis kecil yang ada difoto ini adalah Via! Bagaimana bisa
seorang Gisselavia Garneta adalah gadis kecil yang ada dalam foto lama ini!”
kata Gabriel dengan nada bergetar namun penuh dengan emosi yang menggelegak disetiap kalimatnya.
Air mata sudah tergenang sempurna dipelupuk sepasang mata elangnya. Gabriel
menghempaskan foto itu begitu saja dimeja kerja Opa nya dan membuat Opanya
kaget setengah mati.
Danar
Ganendra tertegun untuk beberapa saat. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka
bahwa hal tidak terduga ini akan terjadi dengan begitu cepat tanpa
perkiraannya. Lalu sekarang, alasan apa yang harus ia berikan pada Gabriel?
Kebohongan macam apalagi yang harus ia jejalkan agar Gabriel percaya? Atau jika
tidak, atau jika ia harus mengakui semuanya sekarang, lalu darimana ia harus
mulai menjelaskan?
“da—darimana
kamu dapatkan foto ini?” ujar Danar dengan nada sedikit sedikit terbata.
Pertama kali dalam hidupnya, ia akhirnya merasa gentar didepan cucunya sendiri.
“APA
ITU PENTING SEKARANG?!” Teriak Gabriel dengan cukup keras. Sebulir air matanya
menetes begitu saja membasahi wajah manisnya yang tampak sangat lelah.
“selama
tujuh belas tahun ini aku hanya diam dan selalu ngedengerin setiap PERINTAH
yang Opa berikan, lalu sekarang apa salahnya kalau aku mulai memberontak, AKU
CAPEK!”
“Gabriel
Fabian Ganendra!!” seru Danar dengan emosi yang coba ia tahan sebisanya.
“mungkin
sulit bagi Opa buat menjelaskan semuanya, dan Opa harus tahu, aku gak butuh
penjelasan apapun. Yang aku butuhkan hanya jawaban YA atau TIDAK. Apa benar
gadis yang ada difoto ini adalah Via? Apa benar Via yang selama ini aku kenal
adalah Gissel?”
“bahkan
jika jawabannya adalah ya, kamu tidak akan pernah bisa melakukan apapun,
Gabriel!” Danar berbalik dan dengan sengaja membelakangi Gabriel. Gabriel
mungkin tidak menyadarinya, tapi Danar seperti sengaja menyembunyikan raut
wajahnya dari Gabriel sekarang.
Mendengar
jawaban yang dilemparkan oleh Danar mendadak membuat sekujur tubuh Gabriel
melemah. Kedua kakinya bahkan sudah tidak sanggup lagi menopang berat badannya.
Gabriel lalu jatuh bersimpuh dilantai dengan air matanya yang semakin deras
menetes. Semua ini masih sangat membingungkan. Dan ia merasa, ia tidak akan pernah
bisa mengerti dengan alasan apapun yang akan Opanya keluarkan.
“jangankan
memberitahukan Gissel yang sebenarnya, kamu bahkan tidak akan sanggup mengakui
bahwa dia adalah adikmu. Karena Gissel, tidak akan dengan gampang menerima
kenyataan itu. Dalam pikirannya, kita telah ‘membuang’nya begitu saja, lalu apa
kamu pikir mungkin dia akan memaafkan kita dengan ‘cacat’ dihatinya? Jangan
bertindak gegabah! Seperti apa yang kamu lakukan selama tujuh belas tahun
terakhir ini, tetaplah diam ditempat kamu berdiri sekarang. Opa akan urus
semuanya dan menyembuhkan ‘cacat’ dihatinya. Sebagai gantinya… Opa akan
mengembalikan identitasnya dan akan mengembalikan Gissel ke ‘tempat’ dimana
seharusnya dia berada….”
“aku
gak bisa percaya lagi sama Opa…” lirih Gabriel dengan putus asa sambil
menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Dengan
masih menatap kearah luar jendela, Danar kembali buka suara, “ Opa tidak akan
meminta kepercayaanmu, Gabriel. Opa tidak akan meminta apa-apa lagi. Tapi untuk
sekaliiii ini saja Opa minta tolong. Tolong untuk tetap diam ditempatmu. Biar
Opa yang bereskan semuanya…”
“kalau
Via adalah Gissel, berarti Mama…. Berarti Mama sudah me—meninggal?” kata
terakhirnya seakan menjelma menjadi sebuah pisau tajam yang merobek jantung
Gabriel tanpa ampun.
Danar
mengangguk beberapa kali, “iya. Kamu benar. Mama mu telah meninggal karna
penyakit leukimia yang ia derita sejak 2 tahun yang lalu, dan Mama mu meninggal
sekitar 6 bulan yang lalu… karna alasan itu sekarang, Via berada dibawah asuhan
orangtua Alvin. Orangtua Alvin adalah sahabat kepercayaan Mamamu.”
“dan
Opa tidak mengatakan apapun sama Iel?” isakan Gabriel mulai terdengar menyayat
hati.
“Opa
minta maaf untuk itu…”
Gabriel
menyeka airmata nya dengan kasar. Ia lalu bangkit dan mengambil foto itu dari
meja kerja Opanya. Tanpa berkata apapun, Gabriel keluar dari ruang kerja Opanya
dengan perasaan yang remuk redam.
Sesaat
setelah kepergian Gabriel, Danar Ganendra langsung membalik tubuhnya dan
menatap kearah pintu dengan pandangannya yang selalu tidak terbaca. Tangan
renta nya perlahan terangkat dan menyeka sebulir Kristal bening yang tertahan
dipelupuk matanya.
“maafkan
Opa, Gabriel… sekali lagi Opa harus berbohong dan menutupi kenyataan yang
sebenarnya….”
♫♫♫
Langkah
Via terhenti dipekarangan rumahnya saat sesuatu menarik perhatiannya tepat
dibawah kedua kakinya sekarang. Dompet berwarna pink miliknya yang sejak
kemarin ia cari akhirnya ia temukan juga. Awalnya Via pikir dompet itu telah
menghilang entah dimana. Tapi ternyata ia salah. Ia telah menjatuhkan dompetnya
dipekarangan rumahnya. Dan Via merasa sangat lega ketika menemukan kembali
dompetnya.
Via
lantas menunduk dan mengambil dompet itu. Tanpa buang-buang waktu lagi, Via
langsung membukanya dan memeriksa isinya. Senyumannya kian melebar saat melihat
foto semasa kecilnya bersama mendiang sang Mama masih tersimpan dengan rapi
ditempatnya. Dalam hati Via bersyukur karna tidak kehilangan foto itu. Bagi
Via, foto itu adalah benda paling berharga yang pernah ia miliki.
Lalu
tiba-tiba, sebuah suara klakson mobil yang terdengar menyalak tepat
dibelakangnya membuat Via terkesiap. Via serta-merta menoleh kebelakang dan
mendapati sosok Alvin yang dengan sengaja menyembulkan kepalanya dari kaca
jendela sembari menatapnya dengan pandangannya yang selalu terlihat dingin dan
super tidak bersahabat. Via menatap sebal kearah pemuda itu.
“Lo
gak mau masuk, nih?” tanya Alvin dengan nada yang tidak kalah dinginnya. Dan
sikap Alvin pagi ini yang sangat amat mengesalkan, malah membuat Via
mempertanyakan kembali ketulusan Alvin saat pemuda itu menjaganya selama
semalaman penuh ketika ia terbaring sakit beberapa waktu yang lalu. Via tidak
yakin, apakah Alvin menjaganya dengan ikhlas malam itu. Dasar cowok bermuka
dua!
Via
menyimpan dompet itu didalam tasnya dan buru-buru memasuki mobil Alvin sebelum
pemuda menyebalkan itu benar-benar meninggalkannya. Alvin menatap Via sekilas
yang tampak enggan menatapnya sebelum akhirnya ia menjalankan mobilnya dan
membelah jalanan menempuh perjalanan kesekolah.
Ada
yang berbeda dan sangat janggal dengan sikap yang Via tunjukan pagi ini. Jika
biasanya ia begitu cerewet dan selalu mengoceh semauanya saat sedang dalam
perjalanan menuju sekolah, maka kali ini Via hanya diam sambil mendengarkan
music melalui earphonenya. Alvin sangat heran, tapi ia merasa terlalu gengsi
jika harus menanyakan alasannya langsung pada Via. Biarkan saja Via terus diam
seperti ini! Ini adalah hal yang sangat bagus untuk Alvin. Setidaknya, Via
tidak akan menganggunya lagi. Walaupun hanya untuk sementara waktu, setidaknya
Alvin bisa merasakan hari-harinya tenang.
Setelah
menempuh perjalanan selama beberapa menit, tibalah mereka disekolah. Yang
mengejutkan adalah, Via keluar begitu saja dari mobil Alvin tanpa mengucapkan
sepatah katapun. Hal itu semakin ganjil bagi Alvin mengingat bagaimana selama
ini Via bersikap biasanya. Ia seperti menemukan Via yang lain. Tapi sama
seperti tadi. Alvin tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa menatap punggung
Via yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
Meski
terkesan tidak peduli. Tapi Alvin sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada
gadis cerewet itu. Apa yang salah dengannya?
♫♫♫
Langkah
kaki Via kian melambat saat dari kejauhan ia melihat Cakka berjalan kearahnya.
Otaknya memerintahkannya untuk segera berbalik pergi dan menghindar sebisanya.
Tapi kedua kakinya seakan terpaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan
untuk sekedar menggerakan kakinya saja ia merasa tidak berdaya. Kenyataannya,
rasa bersalah itu masih melingkupi hati kecilnya hingga sekarang.
“hay,
Via…” sapa Cakka seperti biasanya dengan senyumannya yang selalu tampak tulus.
Bahkan ia bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apapun antara dirinya dan
Via kemarin sore. Dan sikap yang Cakka tunjukan ini kian menambah rasa bersalahnya.
Cakka
tersenyum maklum saat gadis manis berlesung pipi ini sama sekali tidak membalas
sapaannya atau sekedar tersenyum padanya. Ada semilir perih yang berusaha ia
tutupi jauh didalam sana. Beberapa detik kemudian, Cakka menyentuh salah satu
pundak Via dan berkata, “gue duluan…”
Baru
dua langkah Cakka beranjak, tanpa ia pernah ia duga sebelumnya, Via mencekal
pergelangan tangannya dan menarik pelan Cakka hingga kembali berdiri
dihadapannya. Salah satu alis Cakka terangkat saat melihat Via yang terus saja
menatapnya tanpa berkata apapun. Dan disaat yang bersamaan, tidak jauh dari
posisi mereka sekarang, diam-diam Alvin memperhatikan mereka dengan pandangan
menyelidik.
“elo…
baik-baik aja, kan?” tanya Via ragu-ragu setelah cukup lama ia tenggelam dalam
kebisuannya.
Cakka
terdengar menghela napas lalu tersenyum meledek. Ia lantas terkekeh pelan dan
menjawab, “kalo gue bilang gue gak baik-baik aja, apa… jawaban lo yang kemarin
akan berubah?”
Via
serta-merta melepaskan pergelangan tangan Cakka dari genggamannya. Pertanyaan
yang baru saja Cakka lemparkan benar-benar mengejutkannya. “selama gue masih
bisa ngeliat lo… gue pasti akan baik-baik aja…”. Dan kali ini, Cakka
benar-benar berlalu dari hadapannya tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Saat
langkah Cakka sudah cukup jauh, Via berbalik dan menatap sosok Cakka yang
semakin lama semakin menghilang diantara kerumunan siswa-siswi SMA Patuh Karya.
Alvin
masih bertahan ditempatnya bahkan ketika Via sudah pergi dari hadapannya.
Banyak hal yang menganggu pikirannya belakangan ini. Dan sikap Via yang
mendadak berubah hari ini semakin membuat semuanya kacau. Alvin lalu terkesiap
saat sebuah tangan tiba-tiba saja menepuk pundaknya dari belakang. Saat ia
menoleh kesamping, Alvin langsung mendapati sosok Gabriel yang sedang berdiri
disisinya seraya menatap kearah yang sama dengan titik focus Alvin sejak tadi.
“ngapain
lo disini?” tanya Alvin singkat, berusaha terdengar tidak peduli.
“harusnya
gue yang nanya, lo ngapain disini?” tanya Gabriel kembali sambil menatap Alvin.
“sejak
kapan lo jadi ngebalikin pertanyaan gue kayak gini?” tanya Alvin sedikit kesal.
Gabriel tersenyum misterius dan kembali buka suara,
“apapun
itu… terimakasih karna selama ini lo udah jagain Via dengan baik…”
Alvin
sedikit bingung. Kenapa Gabriel tiba-tiba berterimakasih padanya menyangkut
Via? Atau apa jangan-jangan… tidak! Tidak mungkin. Alvin langsung menggelengkan
kepalanya beberapa kali dan berusaha membuang semua pikiran-pikiran anehnya.
Gabriel tidak mungkin tahu secepat itu.
“kenapa
mendadak lo… berterimakasih?”
♫♫♫
Satu
minggu dari hari ini, Ujian Kenaikan Kelas akan segera tiba. Para siswa-siswi
SMA Patuh Karya semakin terlihat giat belajar. Dan pihak sekolah semakin intens
menambah jam pelajaran agar hasil Ujian nanti bisa memuaskan.
Lepas
dari ujian kenaikan kelas, hari ini genap 2 minggu sudah Via menjaga jarak dari
Alvin. Nampaknya Via benar-benar menepati perkataannya pada Alvin malam itu.
Malam dimana ia memutuskan untuk melepaskan dan melupakan Alvin sepenuhnya.
Diawal, Alvin berpikir bahwa Via sama sekali tidak serius dengan ucapannya,
tapi selama dua minggu terakhir ini, Via telah benar-benar membuktikan
perkataannya dan mematahkan anggapan Alvin dalam sekejab mata.
Disaat
Via semakin serius menjauhinya dan selalu bersikap bahwa seakan-akan Alvin
tidak pernah ada, Alvin justru merasakan sebagian dirinya menghilang. Yang
semakin membuat segalanya sulit adalah, Via ada didepan matanya, setiap hari
ada disampingnya, tapi gadis itu justru hanya menganggap Alvin tidak lebih dari
sekedar angin yang berlalu. Kenyataan itu entah kenapa begitu menyesakkan dada
Alvin. Mungkin ia enggan mengakuinya secara gamblang, tapi jauh didasar hatinya
yang terdalam, ia benar-benar merindukan sosok Via yang cerewet, sosok Via yang
selalu menganggunya dan hampir setiap hari membuatnya kesal. Sosok Via yang
berprilaku unik yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati. Dan sekarang, Alvin
benar-benar kehilangan semua itu.
Kalau
saja bukan karena ikatan kuat yang terjalin antara kedua orangtuanya dan Danar
Ganendra, mungkin Alvin tidak akan pernah berada dalam posisi yang tidak
mengenakan ini. Kalau saja kedua orangtuanya tidak pernah terlibat dan ikut
terseret dalam urusan keluarga Ganendra, mungkin Alvin tidak perlu membohongi
dirinya sendiri seperti sekarang ini dan bersikap munafik.
Demi
apapun itu, Alvin ingin keluar dari lingkaran ini dan meraih apa yang ingin ia
raih tanpa merasa takut dengan tekanan
yang ada disekelilingnya.
Dan
sejak hari dimana Via mulai menjahuinya, sejak saat itulah, Alvin selalu
diam-diam memperhatikan Via dari kejauhan. Untuk saat ini, mungkin itu hal
terbaik satu-satunya yang bisa Alvin lakukan. Sekalipun mereka tinggal satu
atap, tapi Via selalu berusaha membentang sekat diantara mereka. Sekat yang
sebenarnya bisa Alvin lampaui dengan gampang hanya jika ia mau. Tapi sekali
lagi, kenyataan yang sekarang sedang ia hadapi membuatnya tidak bisa melakukan
apapun, bahkan untuk sekedar bergerak.
Malam
itu, Via terlihat sangat kesulitan saat menyelesaikan soal-soal latihan fisika.
Dalam pelajaran eksak seperti ini, otak Via memang tergolong lemah. Sejak kecil
ia benci pelajaran berhitung, tapi seumur hidupnya, ia sepertinya tidak akan
pernah bisa lepas dari sesuatu yang namanya berhitung.
Kesulitan
yang Via alami itu tertangkap oleh
Adryan yang tanpa sengaja lewat didepan kamar Via. Adryan yang penasaranpun
masuk kedalam kamar Via dan berdiri disamping Putri angkatnya itu. Via yang
masih tampak bingung memecahkan soal latihannya sepertinya belum menyadari
kehadiran Adryan. Adryan lalu menepuk pelan pundak Via seraya berkata, “kamu
kesulitan, ya?”
Via
yang terkesiap langsung mengangkat wajahnya dan menatap Adryan seraya
menganggukan kepalanya.
“haha…
persis sama! Kamu tahu? Sekalipun dulu mendiang Mama mu terkenal sebagai
mahasiswi paling pintar seangkatan, tapi tetap saja ia merasa kesulitan saat
harus berhadapan dengan mata kuliah berhitung…” kenang Adryan sambil menatap
lurus kedepan. Via hanya mengangguk beberapa kali sambil tersenyum kecil. “dan
kamu tahu lagi?” lanjut Adryan yang terdengar semakin antusias, “Mama mu sangat
berambisi menaklukan semua mata kuliah berhitung yang sangat ia benci. Jadi…
kamu harus gigih seperti mendiang Mamamu. Jangan terlalu gampang menyerah
dengan sesuatu yang kamu benci”
“makasih,
Pa…” jawab Via singkat lalu kembali melanjutkan menyelesaikan latihan soalnya.
“kalo
kamu bener-bener ngerasa kesulitan, minta bantuan Alvin gih! Walaupun
menyebalkan begitu, tapi otaknya sangat encer menyelesaikan soal berhitung
seperti ini”
Degh!
Baru mendengar nama Alvin saja jantung Via sudah berdegub dengan sangat cepat,
apalagi jika harus menemuinya dan meminta pertolongannya. Bisa runtuh
semua pertahanan yang mati-matian ia
bangun selama dua minggu terakhir ini. Via lantas menggelengkan kepalanya beberapa
kali. Ia pun kembali menatap Adryan dan berkata, “Via bisa sendiri kok, Pa…”
“yakin?”
♫♫♫
Suara
ketukan pintu dari luar membuat Alvin yang tengah asyik menekuri lembar dari
lembar komiknya sedikit terkejut. Alvin menatap sebal kearah pintu sebelum
akhirnya berkata dengan nada yang cukup keras, “MASUK!”
Dan
Alvin lebih terkejut lagi saat tahu ternyata Via lah yang membuka pintu
kamarnya sambil membawa beberapa buku pelajaran. Via menatap Alvin sekilas lalu
menunduk dalam. Ia menunggu Alvin mempersilahkannya masuk. Alvin yang awalnya
kaget dengan kehadiran Via berusaha bersikap wajar. Ia tidak ingin membuat
gadis ini besar kepala setelah dua minggu lamanya ia sama sekali tidak
mengacuhkan Alvin.
“tujuan
lo kekamar gue?” tanya Alvin tanpa basa-basi dan berusaha terdengar dingin. Ia
pun berpura-pura sibuk dengan membolak-balik lembar komiknya.
“gue
agak kesulitan nyelesein beberapa soal fisika. Bisa tolong bantuin gue?” tanya
Via dengan nada sepelan mungkin. Alvin berdehem cukup keras.
“lo
gak liat gue lagi sibuk?!” tanyanya skeptis tanpa sedikitpun menatap lawan
bicaranya. Via menghela napas panjang-panjang. Selama dua minggu, ini kali
pertamanya ia mengajak Alvin berbicara. Awalnya Via berpikir Alvin akan sedikit
berubah, tapi ternyata sama saja. Via lalu semakin kesal saat tanpa sengaja ia
melihat apa yang Alvin baca. Komik? Alvin sedang membaca komik dan mengatakan
bahwa ia sedang sibuk? Benar-benar keterlaluan! Oke, tidak seharusnya Via
mengikuti perkataan Papanya dan pergi menemui Alvin.
“ya
udah kalo lo sibuk, SORRY GANGGU!” Ucap Via dengan penakanan yang cukup kuat
pada dua kata terakhirnya. Tepat saat Via akan berbalik dan pergi, tiba-tiba
saja Alvin kembali buka suara dengan nada bicaranya yang tetap terdengar
dingin.
“Masuk
gih!”
Via
serta-merta menghentikan langkahnya dan kembali menoleh kearah Alvin yang saat
itu sudah duduk manis dimeja belajarnya. Bahkan Via sudah tidak melihat lagi
komik yang tadi Alvin baca.
“Apa?”
tanya Via yang merasa sangat sanksi dengan apa yang baru saja ia dengar.
“masuk
sebelum gue berubah pikiran!”
Via
terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menyeret langkah kakinya dan
duduk berhadapan dengan Alvin dimeja belajarnya. Tanpa berkata apapun, Via
langsung membuka buku cetak fisikanya dan menunjukannya pada Alvin.
“disini.
Gue kesulitan di nomor ini…” kata Via sambil menunjuk soal nomor 13.
Alvin
menganggukan kepalanya beberapa kali dan mulai menjelaskan rumus apa yang harus
Via gunakan untuk menyelesaikan soal itu. Dan selama Alvin menerangkan, Via justru
tanpa sadar terus menatap Alvin. Alih-alih mendengarkan penjelasan Alvin,
konsentrasinya malah buyar begitu saja saat melihat wajah Alvin yang ntah
kenapa tampak begitu meneduhkan malam ini. Sadar bahwa Via sedang
memperhatikannya, dengan cepat Alvin mengangkat kepalanya dan menangkap basah
Via yang secepat kilat mengalihkan pandangannya kearah buku. Alvin berdecak
pelan. Meskipun diam-diam terselip rasa bahagia dihatinya dengan apa yang baru
saja terjadi, tapi tetap saja Alvin tidak suka jika seseorang tidak serius saat
sedang belajar.
“kalo
gue lagi serius tolong serius. Kecuali… lo mau dengan senang hati keluar dari
kamar gue tanpa perlu gue suruh…” kata Alvin dengan nada memperingatkan.
“maaf…”
ucap Via singkat.
Alvin
kembali melanjutkan penjelasannya dengan memberikan beberapa contoh. 10 menit
berlalu, Via akhirnya mengerti dan berhasil menyelesaikan beberapa soal dengan
baik. Kelamaan, suasana belajar mereka semakin mengasyikan. Alvin memberikan
Via beberapa rumus sederhana yang cukup efektif. Alvin juga memberikan dan
menjelaskan Via beberapa prediksi soal yang mungkin keluar di Ujian kenaikan
kelas nanti.
Satu
jam berlalu, Via tampak serius menyelesaikan beberapa soal. Ia tersenyum saat
melihat hasil kerjanya yang cukup memuaskan. Ternyata Alvin cukup banyak
membantunya.
“udah
selese, Vin. Ini gima—“ Via tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Alvin yang
sudah tertidur pulas dengan menelungkupkan kepalanya diatas meja. Via tertegun
untuk beberapa saat ketika melihat wajah tenang tanpa riak dihadapannya.
Sama
seperti Alvin, dengan perlahan Via menelungkupkan kepalanya diatas meja. Posisi
wajah mereka pun kini saling berhadapan satu sama lain dengan jarak yang
lumayan dekat. Via bahkan dapat merasakan desauan napas Alvin yang terdengar
teratur. Senyuman diwajah Via kian melebar. Kedua bola matanya tanpa henti
terus menelusuri setiap lekuk demi lekuk wajah pemuda angkuh dihadapannya ini.
Wajah tenang Alvin ketika tidur justru mengingatkan Via pada masa kecil mereka
dulu. Tepatnya beberapa tahun yang lalu.
Flashback…
Lombok, 2004
“Alvin, Via. Alvin, Via!!” teriak
beberapa anak saat melihat Alvin membonceng Via dengan sebuah sepeda. Via yang
duduk dibelakang Alvin tampak malu-malu saat beberapa teman mereka menggoda.
Tapi Alvin yang mengayuh sepeda dihadapannya justru terlihat santai-santai
saja.
“temen-temen apa-apaan sih? Kenapa
mereka seheboh itu? Kita kan Cuma boncengan…”
Alvin tersenyum lalu terkekeh pelan,
“kenapa? Pia gak suka ya digodain kayak gitu?”
“bukannya gitu, Phin. Tapi kan, Pia
maluuuu…”
Alvin tiba-tiba menghentikan
sepedanya ditepi sebuah danau buatan dengan pemandangan yang sangat indah. Via
yang merasa heran dengan apa yang Alvin lakukan langsung turun dari atas
sepeda. “kok berhenti, Phin?”
“tiba-tiba Aphin mikir, Aphin pengen
bareng-bareng terus sama Pia selamanya…”
“Pia juga pengen kayak gitu. Tapi
kan… sebentar lagi Aphin mau pindah ke Jakarta…” kata Via lalu menunduk sedih.
Alvin kecil menyentuh wajah Via dengan lembut sambil tersenyum.
“kalo kita udah besar nanti, kita
nikah ya? Pokoknya Pia harus nikah sama Aphin, gak boleh sama yang lain”
“kok gitu?”
“supaya kita bisa terus
bareng-bareng selamanya. Papa dan Mama Aphin juga bisa terus bareng-bareng
selamanya karna mereka nikah. Untuk itu, Aphin pengen banget bisa kayak Papa
dan Mama. Pia mau kan nikah sama Aphin kalo kita udah besar nanti?”
Via mengangguk beberapa kali sambil
tersenyum lebar. Sebagai symbol atas janji mereka, Alvin lalu memasangkan
sebuah cincin yang ia buat sendiri dengan akar pohon dijari mungil Via. Mereka
lalu saling menatap satu sama lain dan tertawa bersama-sama.
Via
tersenyum geli beberapa saat setelah ia mengingat kenangan masa kecilnya dengan
Alvin sekitar sepuluh tahun yang lalu itu. Apa mungkin Alvin yang menyebalkan
ini masih mengingat janji konyol yang ia buat itu? Via rasa… Alvin sudah
melupakannya. Lalu senyuman itu tiba-tiba saja menghilang tanpa bekas. Saat
mereka masih kecil dulu, mereka begitu dekat dan nyaris tidak terpisahkan.
Tapi, setelah mereka berpisah selama beberapa tahun lamanya dan kembali
dipertemukan, Alvin justru bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal Via
sebelumnya.
Tidak
seperti tadi, kali ini Via menatap wajah Alvin dengan perasaan nelangsa. Tanpa
ia sadari, tangan kananya tiba-tiba saja terangkat dan mendarat dengan sangat
pelan diwajah Alvin. Via membelainya dengan lembut sambil terus menatapnya
tanpa henti.
Lalu
tanpa Via sadari, kedua mata Alvin tiba-tiba saja terbuka. Via yang kaget baru
saja akan menyingkirkan tangannya dari wajah Alvin, tapi Alvin dengan cepat
malah menahan tangan Via dan mengenggamnya erat-erat. Alvin menatap kedua bola
mata Via sedalam mungkin. Ia seolah ingin menyampaikan sesuatu dari tatapan
matanya.
“A—Alvin?
Ma—maaf udah nge—ngebangunin lo…” ucap Via terbata dengan susah payah. Kali ini
ia menarik tangannya dari genggaman Alvin dan buru-buru membereskan
buku-bukunya, “gu—gue balik kekamar dulu…”. Via sangat gugup sekarang.
Memangnya apa lagi yang lebih memalukan dari ini? Alvin menangkap basah dirinya
yang sedang menyentuh sambil menatap wajahnya tanpa henti dalam jarak yang
sangat dekat. Via malu, benar-benar malu. Ia bahkan merasa tidak yakin apakah
ia masih punya muka dihadapan Alvin setelah kejadian ini.
Via
berjalan kearah pintu meninggalkan Alvin seorang diri dikamarnya. Tapi baru
saja tangan Via akan menyentuh kenop pintu, Alvin tiba-tiba menarik lengannya
dan membuat buku-buku yang ada ditangan Via terjatuh begitu saja. dalam satu
gerakan cepat, Alvin memutar tubuh Via dan sedikit memojokannya dipintu.
“a—apa
yang lo lakuin, Vin?” tanya Via dengan nada setengah berbisik. Jantungnya
semakin berdegub kencang dan seakan-akan nyaris keluar dari tempatnya.
“ada
yang harus lo tahu…” kata Alvin seraya menatap lurus pada kedua manik mata Via.
“a—apa
emangnya?”
“tentang
perkataan gue malam itu… malam dimana lo nyatain perasaan lo…”
Via
terdiam untuk beberapa saat dan berusaha mengontrol detak jantungnya yang
semakin menggila. “gue akan dengerin, ta—tapi…” Via tidak melanjutkan
perkataannya. Ia justru berusaha melepaskan diri dari Alvin sebagai isyarat
agar Alvin segera melepaskannya. Tapi Alvin malah menggelengkan kepalanya.
Kali
ini Alvin memegang kedua pundak Via. Ia menatap Via untuk beberapa saat sebelum
akhirnya ia menundukan kepalanya seraya memejamkan mata. “disini gue jujur… apa
yang gue omongin malem itu adalah… bohong…”
“maksud
lo?” tanya Via yang merasa sangat kaget sekarang.
“banyak
hal yang terjadi belakangan ini. Malam dimana lo nyatain perasaan lo ke gue,
adalah hal diluar perkiraan gue selama ini. Dan waktu itu, gue belum terlalu
yakin dengan apa yang gue rasain sampai akhirnya lo ngejauhin gue dan bikin gue
menyadari semuanya, gue—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Kedua matanya masih
terpejam, dan kepalanya masih ia tundukan. “gue pikir… kita punya perasaan yang
sama…” kata Alvin pada akhirnya setelah ia berusaha menepikan segala hal yang
selama ini memberatkan setiap langkahnya. Dan untuk malam ini saja, ia ingin
melupakan ikatan yang terjalin begitu kuat antara kedua orangtuanya dan Danar
Ganendra. Biarkan untuk malam ini saja Alvin jujur pada hatinya dan pada
dirinya sendiri. Setidaknya sekali saja dalam hidupnya, Alvin ingin mengikuti
kata hatinya tanpa setitikpun kebohongan.
“ja—jadi
lo??”
Kali
ini Alvin mengangkat wajahnya dan kembali menatap dalam pada sepasang mata
jernih penuh pengharapan itu, “Gisselavia Garnetta, gue sayang sama lo” ucap
Alvin dengan tegas dan sangat lugas.
Via
yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar malah tertawa
kecil sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, “haha… gak mungkin. Ini
pasti Cuma mimpi, kan? iya kan? haha…”
“hey
dengerin gue!”
“hahaha…
gue gak percaya. Seorang Calvin Nicholas gak mungkin suka sama gue. Iya, ini
pasti mimpi…”
“Via,
dengerin gue, hey—“
“gak
mungkin. Atau lo lagi bercanda? Atau mungkin aja lo Cuma mainin pe—“
Via
langsung bungkam seketika saat Alvin menempelkan bibirnya dengan bibir tipis
gadis itu. Saat itu juga, jutaan kembang api didalam dada Via seakan meletup
dengan semarak. Via mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin untuk
menetralisir rasa gugupnya. Tidak, ia tidak berharap setelah ini Alvin
mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun pada Via seperti yang ia
lakukan malam itu. Jika sekali lagi Alvin melakukannya, maka Alvin telah
benar-benar membunuh hatinya dengan sangat kejam.
Dengan
perlahan Alvin meraih kedua tangan Via lantas mengenggamnya dengan lembut. Ia
hanya ingin meyakinkan Via bahwa semua ini bukan mimpi. Ia hanya ingin Via
tahu, bahwa memang inilah kebenaran persaannya. Via yang awalnya sangat gugup
dan mengira bahwa semuanya hanya mimpi, sekarang akhirnya yakin. Ini adalah
kenyataan. Ini adalah mimpinya yang sekarang menjadi nyata. Semenit berlalu,
Alvin melepaskan tautan diantara mereka dan mendekatkan keningnya dengan kening
Via. “apa sekarang lo masih belom yakin kalo semua ini nyata? Gue bener-bener
sayang sama lo…”
Via
menatap Alvin untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia berjinjit dan memeluk
pemuda itu erat-erat. Sekarang ia telah memiliki Alvin. Apapun yang terjadi, ia
tidak ingin kehilangan Alvin. Dan ia tidak akan pernah melepaskan Alvin untuk
selamanya. Ini janjinya pada langit.
Untuk
beberapa saat, Via melepaskan pelukannya, ia menatap Alvin seraya tersenyum
lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dipipi kirinya. Ia pun kembali memeluk
Alvin.
“terimakasih
karna lo udah bikin mimpi gue jadi nyata… Langitku…”
To
Be Continued…

