Saturday, May 16, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 10)

Bandung, 1995

            Persahabatan yang terjalin antara Yashinta dan Sylvia selama 6 tahun lamanya hancur dalam sekejab mata saat kisah masa lalu antara Sylvia dan Geraldy mulai terkuak. Mencuatnya cerita lama yang terjalin antara Geraldy dan Sylvia ke permukaan, malah menghancur-leburkan hati Yashinta yang begitu mencintai Geraldy dengan segenap jiwa raganya. Yashinta dengan sendirinya terpukul mundur lalu memutuskan untuk melarikan diri ke Jepang dan meninggalkan serpihan hatinya jauh-jauh dibelakang. Ia bahkan memutuskan pertunangannya secara sepihak dan tanpa sepengetahuan kedua orangtua mereka masing-masing, hanya beberapa minggu sebelum hari pernikahan mereka.
            Dibalik rasa kecewanya, ada hal lain yang membuat Yashinta harus melarikan diri dan menghilang untuk sementara waktu. Ia hanya menyesal karna sejak awal ia tidak pernah sekalipun tahu, bagaimana pengorbanan Sylvia selama bertahun-tahun lamanya hanya untuk menjaga hatinya.
            Yashinta akhirnya pergi, ia berpura-pura membenci Sylvia dan menganggapnya sebagai pengkhianat hanya untuk terlihat jahat. Karna hanya dengan begitu, rasa sesal Sylvia terhadapnya akan terkikis.
            Kabar menghilangnya Yashinta membuat kedua belah pihak keluarga mereka tercerai-berai. Pihak keluarga mereka bahkan telah menghabiskan ratusan juta hanya untuk pernikahan putra-putri mereka yang telah mereka persiapkan sejak lama.
            Dan diantara orang-orang yang merasa kecewa, Danar Ganendra merasa menjadi pihak yang paling dirugikan. Danar Ganendra sangat murka dan langsung memutuskan kerja sama perusahaannya dengan perusahaan milik orangtua Yashinta. Danar Ganendra sama sekali tidak peduli sekalipun ia harus menuai kerugian yang tidak sedikit. Ia sudah terlanjur merasa dikhianati.
            Sampai pada suatu hari, tepatnya sebulan setelah Yashinta menghilang tanpa kabar, Geraldy nekad menemui Ayahnya. Ia merasa sangat bersalah. Semua kekacauan ini terjadi bukan karna Yashinta, melainkan karna dirinya sendiri yang lebih memilih Sylvia.
            “Pa… maafkan Aldy, Pa…” ujar Geraldy lirih sambil menunduk dalam. Bahkan hanya untuk mengangkat wajahnya saja, Geraldy merasa tidak sanggup.
            “kenapa kamu harus minta maaf, Geraldy? Jangan merasa bersalah karna batalnya pernikahanmu dengan Yashinta! Ini bukan salahmu, ini salah Yashinta yang tidak bisa menjaga janjinya…”
            Kali ini Geraldy memberanikan dirinya mengangkat wajahnya dan menatap lekat-lekat wajah sang Ayah dengan nanar. Geraldy menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia seolah tidak terima dengan pernyataan yang baru saja dilemparkan oleh Danar. Bukan, ini bukan salah Yashinta, ini mutlak kesalahannya yang tidak bisa jujur pada Yashinta sejak awal.
            “ini bukan salah Shinta, Pa… ini salah Aldy. Penyebab utama dari semua kekacauan ini adalah Aldy, bukan Shinta. Shinta hanya korban, Pa…”
            “maksudmu?”
            “Aldy mencintai gadis lain, Pa… gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Sylvia, mantan pacar Aldy waktu SMA dulu. Saat Shinta tahu itu, Shinta sangat kecewa, dan semuanya semakin hancur saat Aldy lebih memilih Sylvia… ja—jadi.. ini bu—bukan salah Shin—“
            PLAK! Sebuah tamparan yang sangat keras langsung mendarat diwajah Geraldy sebelum ia menyelesaikan penjelasannya. Wajah Danar yang sejak tadi tampak tenang dan lembut sekarang berubah drastis. Otot-otot diwajahnya menegang, dan kilat-kilat dimatanya memancarkan kemarahan yang teramat sangat. Bahkan akibat tamparan itu, tepi bibir Geraldy sampai mengeluarkan darah.
            “apa kamu sadar berapa banyak kerugian yang harus Papa tanggung karna kebodohan mu itu, Geraldy? Apa kamu sadar dengan semua kekacauan ini?”
            “Pa… Aldy minta maaf, Pa…”
            “kecuali kamu bersedia meninggalkan gadis itu dengan suka rela, Papa akan memaafkan semua kesalahanmu dan menganggap bahwa semua kekacauan ini tidak pernah terjadi…”
            “maksud Papa? Papa nyuruh aku buat ninggalin Sylvia? Iya?”
            “dan jika kamu tidak bersedia meninggalkannya, Papa akan membuat kekacauan yang jauh lebih parah dari apa yang sudah kamu sebabkan, dan dapat Papa pastikan, seumur hidupnya, gadis itu akan menyesal karna telah mengenal seorang Geraldy Ganendra. Paham?”

            “Pa—“

            “kamu masih punya waktu untuk meninggalkannya…”




♫♫♫



            Alvin dan Metta sedang menikmati sarapan paginya saat Via turun dari lantai 2 rumah itu dan ikut bergabung bersama mereka. Sebelum menjatuhkan tubuhnya dikursi, Via sempat menatap kearah Alvin yang pagi ini terlihat sangat tenang. Alvin bahkan bersikap seolah-olah kejadian semalam tak pernah terjadi, dan hal itu membuat Via muak dan ingin melemparkan sepatunya ke muka Alvin.
            “Via, kenapa berdiri aja? Ayo duduk!” ucapan Metta itu langsung membuyarkan semua khayalan-khayalan gila Via tentang Alvin. Ia serta merta menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menatap kearah Metta seraya tersenyum. Tanpa Via sadari, Alvin meliriknya sejenak lalu kembali menikmati sarapan paginya dengan tak acuh.
            “iya, Ma…” jawab Via singkat lalu duduk berhadapan dengan Alvin.
            Setelah sarapan usai, seperti biasa, Alvin dan Via berangkat bersama kesekolah. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini perjalanan mereka begitu senyap. Alvin terlihat focus menyetir dan menatap jalanan yang ada dihadapannya dengan lurus. Sementara Via, ia sudah merasa sangat tidak tenang ditempat duduknya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada cowok menyebalkan ini, tapi melihat bagaimana sikap Alvin pagi ini malah membuatnya gentar dan berpikir ulang untuk mengeluarkan semua isi kepalanya.
            Bosan dengan suasana canggung yang tercipta diantara mereka, Viapun terdengar menghela napas panjang. Ia lalu mengulurkan salah satu tangannya untuk meraih snack yang sudah tersedia tepat disampingnya, tapi tanpa pernah Via duga, disaat yang bersamaan Alvin juga mengulurkan tangannya sehingga membuat tangan Via terperangkap dibawah tangannya.
            Via tersentak saat merasakan kulit tangannya bergesekan dengan kulit Alvin yang terasa begitu hangat. Jantungnya bahkan bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Sial! Kenapa hanya dengan bersentuhan dengan cowok ini bisa membuatnya nyaris gila seperti ini?
            2 detik berlalu, Alvin langsung menyingkirkan tangannya tanpa suara. Ia bahkan tidak sedikitpun menatap kearah Via.
            “lo kenapa sih kayak ogah gitu sama gue?!” pertanyaan dengan nada kesal itu meluncur begitu saja tanpa bisa Via control. Ia langsung membekap mulutnya dengan salah satu tangannya saat sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Namun bukannya merespon, Alvin malah tetap diam. Via seakan tidak kasatmata.
            Muak dengan kediaman Alvin yang menyebalkan itu, Via akhirnya memberontak. Dia bukan tipe orang yang tahan didiamkan seperti ini.
            “seenggaknya gue butuh penjelasan tentang kejadian semalem. Lo bilang lo gak suka sama gue, tapi kenapa lo malah nyium gue? Hah?”
            Alvin langsung mengerem mendadak mobilnya saat itu juga. Ia bahkan tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa Via akan seberani ini mengungkit tentang kejadian semalam. Alvin menatap tajam kearah Via yang tampak sangat kaget dengan perlakuan Alvin yang seakan tanpa perhitungan ini. Dan Via semakin tidak tahu harus berbuat apa saat Alvin mencodongkan tubuhnya kearahnya dengan jarak wajah yang semakin mendekat. Kedua mata Via terbelalak maksimal, jangan bilang akan ada sesi kedua dari kejadian semalam, Via tidak akan pernah membiarkannya bahkan jika dia harus membunuh Alvin sekalipun.
            Wajah Alvin semakin mendekati wajahnya, sementara tubuh Via sudah benar-benar terpojokan kali ini.
            “lo mau ngapain lagi siiiiihhhhh?” tanya Via dengan nada setengah menjerit. Tapi Alvin malah bergeming tanpa menghentikan pergerakannya. Saat jarak wajah mereka sudah begitu dekat satu sama lain, Viapun menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tapi tidak lama, ia merasakan Alvin membuka pintu mobil dan kembali menjauhkan dirinya dari Via.
            Via serta-merta menurunkan kedua tangannya dari wajahnya dan menatap Alvin dengan pandangan bertanya.
            “cepet turun dari mobil gue!” titah Alvin dengan nada dingin tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya.
            “hah?” Via terlihat sangat kebingungan.
            “apa masih kurang jelas? Gue bilang turun dari mobil gue! SE-KA-RANG!”
            “Tapi….”
            “elo yang turun apa gue yang turun?!”
            Dasar licik! Alvin pasti sengaja berkata seperti itu karna ia tahu Via tidak bisa menyetir. Via memanyunkan bibirnya hingga beberapa senti sambil menatap Alvin dengan sebal. Ia lalu melepaskan sabuk pengamannya dan langsung turun dari mobil Alvin sambil membanting pintu dengan kekuatan penuh. Dan kurang ajarnya lagi, tanpa perlu menunggu lama-lama, Alvin langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal dan meninggalkan Via ditengah jalan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
            “LO JAHAAAATT! GUE BENCI SAMA LO! LO TAU GAK?” Teriak Via sekeras mungkin tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya. Ia benar-benar sakit hati sekarang. Dan ia bersumpah tidak akan pernah memaafkan Alvin seumur hidupnya.
            Alvin menatap Via dari kaca spion dengan ekspresi tidak terbaca. Setelah bayangan Via menghilang, ia pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang…

            “hallo, Kka? Lo dimana?




♫♫♫


            Sepanjang perjalanan Via terus saja merutuki sikap menyebalkan Alvin, yang akhirnya harus membuat ia melanjutkan perjalanan kesekolah dengan berjalan kaki. Rasa kesalnya yang benar-benar membeludak sudah tidak dapat ia tahan. Sampah-sampah jalanan yang tergeletak malang disepanjang jalan menjadi sasaran tendangannya. Untuk melampiaskan rasa kesal dan sakit hatinya, ia menendang apa saja yang dapat ia jangkau. Tapi, hal itu justru tidak berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik.
            Calvin Nicholas… jika bisa, ingin sekali rasanya ia memusnahkan pria itu dari muka bumi ini. Hidup bersama Alvin membuatnya merasa tidak berharga sama sekali. Tapi masalahnya, Calvin Nicholas adalah satu-satunya pemuda yang membuatnya tertarik, disaat ada Cakka yang memberikannya segudang perhatian dan secara terang-terangan menunjukan rasa sukanya, ia malah menjatuhkan hatinya pada seorang Calvin Nicholas yang ia tahu tidak akan pernah mau menangkap hatinya. Dan sialnya, pria menyebalkan bernama Calvin Nicholas itu adalah cinta pertamanya. Satu-satunya pria yang memperkenalkannya bagaimana rasanya ciuman pertama.
            Brengsek! Via semakin merasa tidak berharga jika mengingat bagaimana cara Alvin merenggut first kiss-nya malam itu.  Alvin dengan keangkuhannya bahkan enggan memberikan alasan mengapa ia melakukan hal itu disaat ia mengaku, bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Via.
            Dan disaat rasa kesalnya sudah benar-benar mencapai puncak klimaks, Cakka tiba-tiba datang menghampirinya dengan menggunakan ninja merah kebanggaannya. Seperti biasa, Cakka terlihat begitu bersemangat dengan seulas senyuman manisnya yang selalu tampak tulus.
            Saat menyadari kehadiran Cakka, Via serta-merta menghentikan langkahnya dan menatap Cakka dengan datar.
            “Ngapain lo?” tanyanya judes dengan raut wajah terganggu.
            “Berangkat bareng yuk!” ajak Cakka yang seakan tidak menghiraukan rasa terganggu yang Via tunjukan.
            Via tidak menjawab. Ia malah menatap Cakka dengan sinis. Rasa kesalnya pada Alvin benar-benar merubah suasana hatinya pagi ini. Bahkan Cakka yang tidak tahu apapun harus dengan ikhlas dijadikan pelampiasan amarahnya.
            “Bentar lagi masuk lho… lo gak mau telat kan?!” kali ini Cakka menaik-turunkan kedua alisnya.
            Setelah cukup lama berpikir, Via akhirnya menaiki motor Cakka tanpa suara. Cakka tersenyum menang saat itu juga dan langsung menjalankan motornya dengan kecepatan standart. Diam-diam, Cakka berharap didalam hatinya, bahwa detik ini juga waktu berhenti berputar agar ia bisa mengabadikan moment kebersamaannya dengan gadis pencuri hatinya ini.


♫♫♫

            “Stop, Yo! Stop!” kata Ify saat mobil Rio hampir tiba disekolah. Hanya tinggal beberapa meter lagi mereka akan memasuki sekolah, tapi Ify malah meminta Rio untuk berhenti. Rio yang heran langsung saja mengikuti perintah Ify.
            “kok stop?” tanya Rio bingung.
            “aku turun disini aja” jawab Ify singkat sambil membuka sabuk pengamannya dan telah bersiap-siap untuk keluar dari dalam mobil Rio.
            “kok?” Rio semakin bingung. Ify apa-apaan sih? Kenapa mendadak aneh begini? Apa dia marah? Perasaan daritadi mereka baik-baik saja. itu lah beberapa pertanyaan yang timbul dikepala Rio saat melihat tingkah aneh Ify pagi ini.
            “aku takut Shilla lihat” jawab Ify jujur. Ify sudah akan membuka pintu mobil saat tiba-tiba Rio menahan pergelangan tangannya untuk meminta penjelasan.
            “kenapa kalo Shilla lihat?”
            Ify memutar kedua bola matanya sambil menghela napas. Rio ini beneran gak peka atau Cuma pura-pura gak peka sih? Kali ini Ify menatap Rio, tangan kananya terulur lalu mendarat diwajah Rio,
            “Yo, Shilla sahabat aku, dan Shilla suka sama kamu. Kamu pikir aku bakalan tega kalo Shilla ngeliat kita bareng kayak gini dan akhirnya tahu kalo kita… pacaran? Aku gak bisa nyakitin Shilla, Yo…”
            Rio mendesah kecewa. Mimic wajahnya berubah tegang. Ia lalu menyingkirkan tangan Ify dari wajahnya dan memalingkannya kearah lain.
            “terus kamu mau nya kita gimana sekarang? Apa kita harus main kucing-kucingan sama Shilla?”
            Ify mengangguk pasti. Ia terlihat sangat yakin sekarang. “kalo emang harus kenapa gak?”
            “Fy!” seru Rio yang merasa sedikit putus asa seraya kembali menatap Ify dengan pandangan memohon, tapi Ify yang ditatap justru bersikap sangat tenang sekarang.
            “Yo… gak apa-apa kan kalo untuk sementara waktu kita backstreet dulu? Ini gak akan mudah buat aku, utamanya buat… Shilla”
            “tapi—“
            “kita backstreet aja dulu, seenggaknya sampe kita nemu waktu yang pas buat ngasih tau Shilla” Ify membalik badannya agar berhadapan dengan Rio. Kali ini ia menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah Rio, “aku sayang sama kamu, tapi aku juga gak mau bikin Shilla kecewa karna hubungan kita ini. Kamu ngerti kan, Yo?” lanjut Ify sambil menatap kedua mata Rio sedalam mungkin.
            Melihat dari bagaimana cara Ify menatapnya malah membuat Rio luluh dalam sekejab. Meski agak sedikit tidak rela, tapi toh akhirnya Rio mengangguk juga dan berusaha mengikuti aturan main Ify. Setidaknya untuk saat ini.
            Ify tersenyum lega. Ia lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut dipipi kanan Rio sebelum akhirnya turun dari mobil Rio dengan hati berdebar.

            ‘kenapa kamu selalu lebih mikirin perasaan orang lain daripada perasaan kamu sendiri, Fy? Aku Cuma takut, kalo semua ini bakalan nyakitin diri kamu sendiri…’

            Rio membathin sambil menatap Ify yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.



♫♫♫

            Via akan memasuki kelas saat tiba-tiba Zevana muncul dan menarik pergelangan tangannya. Zevana membawa Via ketempat yang agak sepi. Setelah tiba ditempat yang ia maksud, Zevana lantas melepaskan tangan Via begitu saja.
            “eh, lo udah gila ya? Lo pikir apa yang baru saja lo lakuin sama gue?! Dasar psikopat!” cecar Via yang merasa benar-benar kesal dengan ulah Zevana seraya memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit.
            Alih-alih menanggapi ungkapan Via, Zevana malah tersenyum sinis sambil mendesis. Apa yang Via lakukan kemarin masih membekas, dan Zevana berencana untuk membelas perbuatan tidak menyenangkan yang Via lakukan kemarin. Zevana juga ingin tahu alasan kenapa Via tidak suka melihatnya dekat-dekat dengan Alvin. Bukankah mereka saudara sepupu? Lalu alasan apa yang membuat Via begitu gencar menggagalkan segala usahanya dalam menarik perhatian Alvin.
            “gue pengen lo ngaku sekarang, lo sengaja kan numpahin jus di rok gue kemaren?” tembak Zevana langsung tanpa mau repot-repot basa-basi.
            Via menatap Zevana dengan pandangan seakan ingin menerkam Zevana hidup-hidup. Dia pikir Via akan merasa terintimidasi dengan perbuatannya sekarang? Jangan bermimpi!
            “iya gue sengaja! Lo mau apa?” tantang Via.
            Sekali lagi Zevana mendesis sinis. Salah satu tangannya terulur lalu menjambak rambut Via. Via meringis tertahan. “lepasin rambut gue!” titahnya dingin. Tapi Zevana justru tidak menurut. “sekali lagi gue bilang, lepasin rambut gue!”
            “setelah kejadian kemaren, lo pikir gue bakalan ngelepasin lo gitu aja? Jangan ngarep! Sejak kehadiran lo, Alvin jadi berubah. Dan sejak kehadiran lo, Alvin gak pernah lagi mau deket-deket sama gue, dan lo selalu nyari masalah sama gue. Lo pikir setelah semua yang lo lakuin, gue bakalan diem aja? Hah?”
            Via memejamkan matanya untuk beberpa saat sambil menghela napas. Tidak lama, ia menepis tangan Zevana dengan kekuatan penuh hingga tangan Zevana terlepas dari kepalanya.
            “oh… jadi permasalahannya ada sama Alvin? Kalo lo begitu berminta sama cowok angkuh yang gak punya hati itu, ambil aja! Gue ikhlas dunia-akhirat. Itu juga… kalo Alvin mau sama lo!” cibir Via dengan keras yang justru semakin membakar amarah Zevana.
            Tamparan Zevana yang cukup keras secara otomatis mendarat diwajah mulus Via. Via serta-merta memegangi wajahnya dan menatap Zevana dengan tatapan pembunuh.
            “jaga mulut lo!”
            “lo udah sangat keterlaluan sekarang!” tandas Via, tapi ia merasa tidak ingin lagi menanggapi cewek psikopat ini. Bukannya takut, tapi Via sudah terlalu malas menghadapi Zevana. Ia pun memutuskan pergi dari tempat itu. Tapi saat Via baru saja melangkahkan kakinya, Zevana malah mendorongnya hingga ia nyaris saja terjatuh jika seseorang tidak dengan tiba-tiba muncul dan menahan tubuh Via yang limbung.
            Zevana terkejut saat melihat sepasang mata elang yang menatapnya dengan sangat tajam. Dan selama ia mengenal pria berwajah manis itu, ini kali pertamanya Zevana melihat ia tampak semarah ini.

            Kilat-kilat kemarahan dimata Gabriel semakin terlihat jelas…




♫♫♫


            Gabriel membantu mengompres wajah Via yang tampak memerah dengan beberapa keping es batu yang ia bungkus dengan sebuah sapu tangan. Via meringis saat saputangan dingin itu menyentuh kulit wajahnya. Gabriel yang peka lantas mengurangi tekanannya.
            “thanks, Gabriel” ujar Via tulus lalu mengambil alih saputangan itu dari Gabriel.
            “you’re welcome. Tapi, kalo boleh tahu, kenapa lo bisa berantem sama Zeze?”
            Via tidak langsung menjawab pertanyaan Gabriel, ia tampak terdiam sambil tetap mengompres wajahnya. Mengerti dengan isyarat yang Via sampaikan melalui kediamananya, Gabriel mengangguk paham lantas menatap lurus kedepan.
            “gak apa-apa. Kalo emang gak mau cerita gak masalah…”
            Via menoleh lalu menatap wajah Gabriel yang terlihat sangat tenang dari samping. Ini mungkin kali pertamanya mereka duduk berdua dan berbicara banyak, tapi entah kenapa Via merasa bahwa sudah sangat lama ia menantikan saat ini. Via merasa, bahwa apa yang selama ini ia cari akhirnya bisa ia temukan juga. Via tidak tahu dan tidak mengerti dengan apa yang dia cari, tapi berada dekat dengan Gabriel membuat Via merasa tidak perlu mencari apapun lagi.
            Kenapa perasaan yang ia rasakan sekarang terasa begitu ajaib dan sangat luar biasa?
            “Mama gue pernah bilang, sekuat dan sekeras apapun seseorang membenci, pada akhirnya kebencian itu pasti akan luluh juga kalau kita membalasnya dengan cinta dan kesabaran. Dan tadi, gue sengaja gak ngelawan Zeze karna tiba-tiba aja gue inget pesen itu. Tapi kenapa kesabaran itu justru melukai gue?”
            Gabriel terdiam. Dalam kenangan lamanya ia merasa pernah mendengar kata-kata yang nyaris sama. Papanya… ya, mendiang Papanya pernah menasehatinya dengan kata-kata yang hampir sama dengan apa yang baru saja Via ucapkan. Tapi bagaimana mungkin semuanya bisa begitu mirip?

            ‘Jangan membenci seseorang yang membencimu. Hadapi mereka dengan kesabaran, maka pasti kebencian itu akan luluh dengan sendirinya…”

            Itulah sepenggal ingatan lamanya tentang nasihat yang pernah disampaikan oleh mendiang Papanya sekitar 6 tahun yang lalu. Selama ini, Gabriel tidak pernah mengingatnya dengan baik. Tapi setelah Via mengatakan ucapan yang nyaris sama, ingatannya justru kembali terseret pada nasihat Papanya.
            Sekarang… kenapa ia merasa seperti ada yang janggal dengan semuanya?
            “Ma—Mama lo pasti orang baik…” ujar Gabriel sedikit terbata.
            Kali ini Via tampak antusias. Kedua matanya berbinar dan ia mendadak menggebu-gebu saat Gabriel mulai membahas Mamanya.
            “Mama gue adalah Mama yang paling keren sedunia. Gue sayang banget sama Mama, tapi ternyata, Tuhan lebih sayang sama Mama, makanya Tuhan manggil Mama duluan…” Via tampak lesu, tapi seperti biasa, ia selalu berusaha tegar jika sudah menyangkut kepergian Mamanya.
            Gabriel menatap Via dengan prihatin. Jauh didasar hatinya yang terdalam, ia seakan bisa merasakan rasa kehilangan yang Via rasakan detik ini. Dengan ragu-ragu Gabriel mengangkat salah satu tangannya dan menurunkannya dipundak Via. Ia lalu menepuk pundak Via beberapa kali dan berkata,
            “dan lo pasti beruntung banget karna punya Mama sekeren itu. Gue juga punya Papa yang sangat keren… tapi 5 tahun yang lalu, Papa meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat…”
            Via serta-merta menoleh kearah Gabriel. Kali ini, giliran Via yang menatap Gabriel dengan pandangan prihatin. Jika Via kehilangan Mamanya sejak beberapa bulan yang lalu, Gabriel justru sudah terlebih dahulu merasakan sebuah kehilangan yang menghancurkan.
            “emmm… nasib kita sama ternyata. Sama-sama ditinggal oleh orang yang kita sayang. Terus… Mama lo sendiri gimana?”
            Degh! Pertanyaan yang baru saja Via lontarkan seakan memukul telak jantung Gabriel tanpa ampun. Mama? Selain kenangan dari masa kecilnya yang begitu singkat, Gabriel tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sosok wanita yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya. Gabriel bahkan tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya belaian kasih sayang seorang Ibu. Kebahagiaannya masa kecilnya, bahkan kenangannya, semua itu telah dicuri darinya dan hanya menyisakan kepingan-kepingan rahasia dari kisah masa lalu yang tidak boleh ia ketahui.
            “Mama gue? Ma—Mama gue sama kayak Mama lo…” meski harus bersusah payah, toh pada akhirnya Gabriel bisa memaksakan dirinya untuk melemparkan sebuah jawaban, yang secara tidak langsung kembali mengguratkan luka hatinya. Perih… rasanya perih sekali.
            Rasa rindunya pada sosok sang Mama telah benar-benar mematikan hatinya secara perlahan dan sangat menyakitkan.



♫♫♫



====================
From: Prissy Alexandra

Aku akan pulang ke New York
Sore ini juga. Aku pikir udah
Gak ada gunanya lagi aku disini.
Maaf karna aku udah ganggu kamu.

=======================


            Itulah sepenggal pesan singkat yang dikirimkan oleh Prissy untuk Alvin. Alvin membaca pesan itu tepat saat ia akan ke lapangan untuk melakukan latihan basket. Alvin terduduk diruang ganti, mendadak ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti latihan. Kata-kata yang Prissy tuliskan dalam pesan singkat itu kini malah menjadi hantu disudut pikirnya. Sekitar 5 menit kemudian, Cakka tiba-tiba saja muncul dari arah pintu,
            “Vin, buruan! Lo udah ditungguin”
            Alvin menatap Cakka untuk beberapa saat dengan pandangan kosong. Tidak lama, ia meraih tasnya dan berjalan dengan langkah cepat kearah pintu,
            “hari ini gue ijin. Ada urusan yang harus gue selesein”
            “apa?!”
            Alvin tidak menjawab kebingungan Cakka. Ia tetap berjalan dengan tak acuh. Setidaknya, sebelum gadis itu benar-benar pulang, Alvin harus menemuinya dan menyampaikan apa yang belum sempat ia katakan kemarin.
            Alvin menjalankan Honda jazz putihnya dengan kecepatan maksimal. Tidak ada hal lain yang ia pikirkan selain ia harus cepat tiba di bandara sebelum semuanya terlambat. Dan untuk memastikan apakah ia sudah terlambat atau belum, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Prissy.
            “hallo, Priss. Kamu dimana sekarang?” tanya Alvin langsung tanpa basa-basi saat Prissy mengangkat telponnya.
            “ini pertama kalinya kamu nelpon aku…” jawab Prissy lirih. Alvin menghela napas panjangnya,
            “jawab aku! Kamu dimana sekarang? Pesawat kamu take off jam berapa?”
            “aku dibandara. Pesawat aku take off  jam setengah 4”
            Alvin melirik arlojinya lantas memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Ia masih memiliki waktu 20 menit lagi sebelum Prissy berangkat. Alvin semakin menambah kecepatannya.        Alvin tiba di bandara 10 menit kemudian. Ia berlari memasuki bandara sambil berusaha mencari sosok Prissy. Dan Alvin langsung menghela napas lega saat melihat gadis itu masih disana. Alvin melangkah cepat menghampiri Prissy dan berdiri tepat dihadapannya.
            “apa kamu gak bisa tinggal lebih lama lagi disini? At least until your holiday ends…
            Prissy serta-merta mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Ia menatap Alvin seraya tersenyum lebar. Bibirnya bisa saja mengulas senyum, tapi tidak dengan kedua matanya yang tampak sendu.
            “Calv…” sapanya lirih.
            “jadi, apa kamu bisa tinggal lebih lama lagi disini?” Alvin mengulang pertanyaannya sambil menatap dalam pada kedua bola mata gadis cantik itu.
            Prissy tersenyum miris seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, “aku gak bisa, Calv! Makin lama aku disini, rasa bersalahku akan semakin menumpuk. Aku pikir, lebih baik aku pulang saja”
            “apa kamu marah karna ucapan aku kemaren? Aku—“
            “No, no… I’m not mad, Calvin! I just think, that what you say is true. Aku baru sadar, bahwa dulu aku bener-bener udah nyakitin kamu, dan gak sepantesnya aku kayak gini setelah aku nyakitin kamu. And now I feel, that I had hurt myself. Kamu gak salah, aku yang salah…”
            “I’m sorry for making you feel like it…”
            Prissy bangkit dari duduknya, ia meraih salah satu tangan Alvin dan menyentuh wajah Alvin. “Don’t apologize for something that isn’t your fault…”
            Alvin tidak menjawab. Ia hanya menatap Prissy dengan pandangan penuh sesal. Sadar dengan makna yang tersirat dari cara Alvin memandangnya, Prissy lantas menurunkan tangannya dari wajah Alvin dan kembali menunduk. Bahkan untuk menatap kedua mata itu dalam waktu yang cukup lama saja, Prissy merasa tidak sanggup. Rasa bersalah telah benar-benar memenuhi setiap ruang dihatinya.
            “she’s beautiful. Who is she? Your girlfriend?”
            “siapa?”
            “gadis yang kemarin kamu tarik tangannya di café, siapa namanya?”
            Kali ini Alvin terlihat sedikit salah tingkah. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan yang Prissy lemparkan. Prissy mengangguk beberapa kali. Meskipun ia merasa perih, tapi ia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja. setidaknya dihadapan Alvin.
            “siapapun dia… aku harap dia gak  akan pernah nyakitin seperti apa yang aku lakukan. Aku juga berharap… semoga kamu bahagia bersama dia…”
            Baru saja Alvin akan membalas perkataan Prissy, tiba-tiba saja panggilan untuk para penumpang dengan tujuan New York terdengar dari pengeras suara. Prissy menghela napas panjangnya. Dengan berat hati, ia kembali berkata dengan nada memohon,
            “Give me your last hug. Please…”
            Sekali lagi Alvin tidak menjawab. Tanpa suara ia lantas menarik Prissy kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan sangat erat. “we’re friends, right?” lirih Prissy dengan isakan tertahan.
            “whatever you want…” balas Alvin singkat.
            Prissy lalu melepaskan pelukannya dari Alvin dan untuk yang terakhir kalinya mengucapkan selamat tinggal, “goodbye, Calvin…”
            Prissy akhirnya melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Jika sekali saja ia menoleh dan kembali melihat Alvin, dapat ia pastikan bahwa ia akan berlari kearah pemuda itu, memeluknya dengan erat, dan tidak akan pernah melepaskannya untuk selamanya.
            Dari kejauhan, Alvin terus menatap sosok Prissy yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Prissy bisa merelakannya untuk Via. Tapi apa Alvin bisa melakukan hal yang sama terhadap Via? Apa Alvin benar-benar bisa merelakan Via untuk Cakka? Mungkin jawabannya tidak, tapi Alvin ingin terus berusaha.

            Via adalah saudaranya, dan selamanya akan tetap menjadi saudaranya. Apapun tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan itu.



♫♫♫



            Via sedang berdiri dibalkon kamarnya sambil menatap pemandangan langit malam saat Alvin baru saja tiba dibalkon kamarnya. Balkon mereka bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tembok sebatas pinggang hingga mereka masih bisa saling melihat satu sama lain. Alvin sedikit melangkah mundur saat melihat sosok Via, ia ingin kembali masuk kedalam kamarnya, tapi gadis itu sudah terlanjur melihatnya. Alvin akhirnya memaksakan dirinya untuk berdiri dimuka balkon. Jaraknya hanya berjarak 2 meter saja dengan jarak Via sekarang.
            “lo gak capek ngehindar terus?” tanya Via yang seakan mampu membaca gerak tubuh Alvin. Biar bagaimana pun, ia sudah terlanjur menangkap gelagat Alvin yang tadi sempat ingin menghindarinya. “disekolah lo mungkin bisa ngehindar, tapi jangan berpikir lo akan bisa ngehindarin gue dirumah. Kamar kita aja berseblahan…” lanjutnya tanpa sekalipun menoleh kearah Alvin.
            “ck… omongan lo mulai ngaco!”
            “tadi gue ngeliat lo pergi sebelum latihan, dan keliatannya lo buru-buru banget. Boleh tau lo kemana?”
            “ke bandara nyusulin Prissy…” jawab Alvin apa adanya. Via serta-merta menoleh kearah Alvin. Jawaban yang baru saja Alvin lontarkan seakan mengusiknya.
            “ny—nyusulin Prissy? Kenapa?”
            “hari ini Prissy pulang ke New York, dan tadi… gue Cuma pengen nyampaiin apa yang belum sempat gue sampaiin kemaren…”
            “udah lo sampaiin?” tanya Via sehati-hati mungkin yang dijawab oleh Alvin hanya dengan sebuah anggukan saja. kali ini Via memilih untuk diam. Ada ribuan macam pertanyaan yang bersarang diotaknya sekarang, tapi ia sadar, bahwa bukan kapasitasnya untuk menanyakan lebih jauh lagi tentang apa yang Alvin sampaikan pada mantan pacarnya itu. Sekalipun ia sangat ingin tahu, Via akan mencoba menahan dirinya sebisa mungkin.
            “kata Iel, tadi lo berantem sama Zeze. Kenapa lo gak bilang gue? Dan kenapa lo bisa sampe berantem kayak gitu?” Alvin mengeluarkan pertanyaan itu begitu saja tanpa sadar bahwa rasa cemasnya terlihat dengan sangat kentara.
            “gimana bisa bilang kalo elo nya aja ngehindar terus…” gerutu Via pelan sambil membuang tatapannya kearah lain. Alvin menghela napas. Ia sadar ia tidak akan bisa menampik hal itu.
            “gue masuk dulu! Ada tugas yang harus gue kerjain…” ucap Alvin pada akhirnya setelah cukup lama tenggelam dalam keheningan yang tidak mengasyikan. Alvin juga merasa, bahwa tidak ada lagi yang perlu ia bicarakan dengan Via.
            “gue rasa… gue gak bisa nerima Cakka…”
            Ucapan Via itu langsung membuat langkah Alvin terhenti.
            “maaf sebelumnya. Maaf karna gue gak bisa ngelakuin permintaan lo. Tapi, gue bener-bener gak bisa kalo harus nyakitin Cakka dengan berpura-pura nerima dia. Gue gak bisa bohongin diri gue sendiri, Alvin. Yang gue suka itu elo, bukan Cakka… tapi lo tenang aja, walopun gue gak nerima Cakka, gue gak akan pernah gangguin lo. Gue juga udah mutusin buat… ngelupain lo”
            Tepat saat Alvin akan menoleh kearahnya, Via malah sudah mengambil langkah untuk pergi tanpa memberikan Alvin kesempatan untuk berbicara. Itu sudah menjadi keputusan finalnya. Siapapun itu, termasuk Alvin tidak akan pernah bisa menghalanginya dan mengubah keputusan yang telah ia ambil.



♫♫♫


            Perkataan Via dibalkon tadi benar-benar memecah konsentrasi belajar Alvin. Ia bahkan belum sama sekali menyentuh tugas yang seharusnya sudah ia selesaikan malam ini. Seberat apapun masalah yang ia hadapi selama ini, ia tidak pernah sampai harus kehilangan konsentrasi belajar seperti ini. Seumur hidupnya, ini kali pertamanya bagi Alvin menghadapi hal semacam ini. Dan itu semua terjadi hanya karna keputusan Via yang ingin melupakannya.
            Alvin memang tidak bisa memiliki gadis itu seperti apa yang ia inginkan, tapi keputusan yang Via ambil amat sangat menyiksa pikirannya. Alvin mendesah lalu membanting pulpennya dengan penuh emosi. Ia lalu menelungkupkan tangannya diatas meja dan menenggelamkan wajahnya disana. Kenapa? Kenapa semuanya harus sesulit ini?
            Suara deras hujan yang tiba-tiba saja turun dengan disertai oleh suara petir yang cukup menggelegar mengagetkan Alvin. Dengan cepat ia mengangkat wajahnya dan melihat kearah jendela. Hujan yang turun semakin deras. Dan Alvin ingat, bahwa Via sangat takut jika mendengar suara hujan yang disertai oleh petir.
            Alvin lalu mengalihkan pandangannya kearah pintu. Ia berharap Via tiba-tiba saja muncul sambil membuka pintunya seperti yang biasa ia lakukan jika hujan turun dimalam hari. Tapi hingga beberapa menit berlalu, pintu itu tidak juga terbuka. Dan Via tidak juga muncul dengan rengekan-rengekannya yang selalu menganggu Alvin.
            10 menit berjalan. Alvin masih menunggu dengan harapan yang sama. Ia bahkan tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari arah pintu, tapi Via tidak juga muncul. Setelah cukup lama berpikir, Alvin akhirnya memutuskan untuk melihat langsung bagaimana keadaan Via dikamarnya. Entah kenapa ia mendadak mengkhawatirkan gadis ceroboh itu.
            Alvin kini sudah berdiri didepan pintu kamar Via. Ragu-ragu ia mengangkat salah satu tangannya untuk mengetuk pintu. Tapi saat kepalan tangannya nyaris menyentuh pintu, Alvin malah menurunkannya begitu saja dan langsung menyentuh kenop pintu lalu menariknya. Pintu yang ada didepannya langsung terbuka, ternyata Via tidak mengunci pintu kamarnya.
            Saat pintu terbuka, saat itulah Alvin melihat Via yang sedang meringkuk ketakutan dibawah selimutnya. Tapi sebenarnya Via tidak sedang ketakutan, yang terjadi adalah Via sedang mengigil kedinginan. Saat pulang sekolah tadi, Via mendadak merasa tidak enak badan. Ia mengalami demam dan langsung meminta obat pada Bi Ningsih. Tadinya Bi Ningsih menyarankan Via untuk memberitahukan Metta atau Alvin agar Via segera dibawa kerumah sakit, tapi Via justru menolak dan meminta Bi Ningsih untuk tidak memberitahukan siapapun. Ia berdalih bahwa ia hanya butuh obat penurun demam dan istirahat.
            Alvin memasuki kamar Via lebih dalam lagi. Dimeja disamping tempat tidurnya, Alvin menemukan semangkuk bubur, obat penurun panas dan segelas air putih. Darisana Alvin merasa bahwa ada yang tidak beres. Alvinpun duduk dipinggir ranjang Via dan menarik selimutnya begitu saja. saat itulah, Alvin langsung mendapati Via yang wajahnya terlihat sangat pucat. Keringat dingin membanjiri wajahnya dan ia terus saja menggigil kedinginan. Saat mereka bertemu dibalkon sejam yang lalu, Alvin tidak begitu memperhatikan wajah Via yang terlihat pucat, dan karna itu Alvin langsung menyesali diri.
            “Vi—Via? Lo… lo demam…” ucap Alvin terbata setelah menyentuh kening Via yang terasa panas.
            “dingin…” lirih Via pelan sambil terus menggigil.
            “gue akan telfon Dokter Goldi sekarang”
            Baru saja Alvin akan keluar untuk menelpon Dokter Pribadi keluarganya, Via malah mencegat pergelangan tangannya, “tetep disini sama gue…”
            “tapi…”
            “gue gak apa-apa. Gue baik-baik aja, gue sering kayak gini dan ini bukan yang pertama…”
            “Via….”
            “sekaliii ini aja temenin gue. Gue kedinginan, gue takut…” ucap Via sambil menatap Alvin dengan pandangan nanar.
            Mau tidak mau Alvin akhirnya luluh juga saat melihat tatapan mata Via.
            Alvin kembali duduk disamping Via sambil menggenggam tangannya. Semakin lama Via semakin menggigil. Rasa dingin itu seakan menusuk tulangnya tanpa ampun. Ia terus saja mengeluh kedinginan sampai akhirrnya Alvin memutuskan untuk berbaring disebelahnya dan memeluknya dengan erat.
            “a… apa yang lo lakuin?” tanya Via saat sadar dengan apa yang Alvin lakukan.
            “lo gak mau gue panggilin Dokter, jadi udah, jangan banyak nanya…”
            Rasa dingin yang semakin menusuknya membuat Via tidak bisa mengajukan protes lagi. Ia pun menenggelamkan kepalanya didada bidang milik Alvin yang entah kenapa terasa begitu hangat dan nyaman.
            Alvin menarik selimut itu lebih tinggi lagi hingga menutupi tubuh mereka sampai kebagian pinggang. Dan saat Alvin semakin mempererat pelukannya untuk menghangatkan tubuh Via, Via pun balas memeluk Alvin dan kembali menenggelamkan wajahnya didada Alvin dengan nyaman. Alvin meletakan dagunya diatas puncak kepala Via lalu dengan perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
            Dan sepanjang malam itu Alvin habiskan untuk menjaga Via yang terlelap dalam dekapannya. Biarkan untuk malam ini saja mereka bisa sedekat ini, karna besok dan untuk seterusnya, Alvin tidak dapat memastikan apakah dia masih bisa memeluk Via seperti ini atau tidak.
            Saat yakin bahwa Via sudah benar-benar terlelap dalam napas yang teratur, Alvinpun mengecup puncak kepala Via dengan lembut, ia melakukannya agak lama.

            “gue sayang lo, Via…” bisiknya pelan dengan begitu lirih. Bahkan anginpun tidak akan mampu mendengar suara bisikannya. Biarkan itu menjadi rahasianya dan langit. Via atau siapapun tidak boleh mengetahuinya.







To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment