Bandung, 1995
Persahabatan
yang terjalin antara Yashinta dan Sylvia selama 6 tahun lamanya hancur
dalam sekejab mata saat kisah masa lalu antara Sylvia dan Geraldy mulai
terkuak. Mencuatnya cerita lama yang terjalin antara Geraldy dan Sylvia
ke permukaan, malah menghancur-leburkan hati Yashinta yang begitu
mencintai Geraldy dengan segenap jiwa raganya. Yashinta dengan
sendirinya terpukul mundur lalu memutuskan untuk melarikan diri ke
Jepang dan meninggalkan serpihan hatinya jauh-jauh dibelakang. Ia bahkan
memutuskan pertunangannya secara sepihak dan tanpa sepengetahuan kedua
orangtua mereka masing-masing, hanya beberapa minggu sebelum hari
pernikahan mereka.
Dibalik rasa kecewanya,
ada hal lain yang membuat Yashinta harus melarikan diri dan menghilang
untuk sementara waktu. Ia hanya menyesal karna sejak awal ia tidak
pernah sekalipun tahu, bagaimana pengorbanan Sylvia selama
bertahun-tahun lamanya hanya untuk menjaga hatinya.
Yashinta akhirnya pergi, ia berpura-pura membenci Sylvia dan
menganggapnya sebagai pengkhianat hanya untuk terlihat jahat. Karna
hanya dengan begitu, rasa sesal Sylvia terhadapnya akan terkikis.
Kabar menghilangnya Yashinta membuat kedua belah pihak keluarga mereka
tercerai-berai. Pihak keluarga mereka bahkan telah menghabiskan ratusan
juta hanya untuk pernikahan putra-putri mereka yang telah mereka
persiapkan sejak lama.
Dan diantara
orang-orang yang merasa kecewa, Danar Ganendra merasa menjadi pihak yang
paling dirugikan. Danar Ganendra sangat murka dan langsung memutuskan
kerja sama perusahaannya dengan perusahaan milik orangtua Yashinta.
Danar Ganendra sama sekali tidak peduli sekalipun ia harus menuai
kerugian yang tidak sedikit. Ia sudah terlanjur merasa dikhianati.
Sampai pada suatu hari, tepatnya sebulan setelah Yashinta menghilang
tanpa kabar, Geraldy nekad menemui Ayahnya. Ia merasa sangat bersalah.
Semua kekacauan ini terjadi bukan karna Yashinta, melainkan karna
dirinya sendiri yang lebih memilih Sylvia.
“Pa… maafkan Aldy, Pa…” ujar Geraldy lirih sambil menunduk dalam. Bahkan
hanya untuk mengangkat wajahnya saja, Geraldy merasa tidak sanggup.
“kenapa kamu harus minta maaf, Geraldy? Jangan merasa bersalah karna
batalnya pernikahanmu dengan Yashinta! Ini bukan salahmu, ini salah
Yashinta yang tidak bisa menjaga janjinya…”
Kali ini Geraldy memberanikan dirinya mengangkat wajahnya dan menatap
lekat-lekat wajah sang Ayah dengan nanar. Geraldy menggelengkan
kepalanya beberapa kali, ia seolah tidak terima dengan pernyataan yang
baru saja dilemparkan oleh Danar. Bukan, ini bukan salah Yashinta, ini
mutlak kesalahannya yang tidak bisa jujur pada Yashinta sejak awal.
“ini bukan salah Shinta, Pa… ini salah Aldy. Penyebab utama dari semua
kekacauan ini adalah Aldy, bukan Shinta. Shinta hanya korban, Pa…”
“maksudmu?”
“Aldy mencintai gadis lain, Pa… gadis itu tidak lain dan tidak bukan
adalah Sylvia, mantan pacar Aldy waktu SMA dulu. Saat Shinta tahu itu,
Shinta sangat kecewa, dan semuanya semakin hancur saat Aldy lebih
memilih Sylvia… ja—jadi.. ini bu—bukan salah Shin—“
PLAK! Sebuah tamparan yang sangat keras langsung mendarat diwajah
Geraldy sebelum ia menyelesaikan penjelasannya. Wajah Danar yang sejak
tadi tampak tenang dan lembut sekarang berubah drastis. Otot-otot
diwajahnya menegang, dan kilat-kilat dimatanya memancarkan kemarahan
yang teramat sangat. Bahkan akibat tamparan itu, tepi bibir Geraldy
sampai mengeluarkan darah.
“apa kamu sadar
berapa banyak kerugian yang harus Papa tanggung karna kebodohan mu itu,
Geraldy? Apa kamu sadar dengan semua kekacauan ini?”
“Pa… Aldy minta maaf, Pa…”
“kecuali kamu bersedia meninggalkan gadis itu dengan suka rela, Papa
akan memaafkan semua kesalahanmu dan menganggap bahwa semua kekacauan
ini tidak pernah terjadi…”
“maksud Papa? Papa nyuruh aku buat ninggalin Sylvia? Iya?”
“dan jika kamu tidak bersedia meninggalkannya, Papa akan membuat
kekacauan yang jauh lebih parah dari apa yang sudah kamu sebabkan, dan
dapat Papa pastikan, seumur hidupnya, gadis itu akan menyesal karna
telah mengenal seorang Geraldy Ganendra. Paham?”
“Pa—“
“kamu masih punya waktu untuk meninggalkannya…”
♫♫♫
Alvin dan Metta sedang menikmati sarapan paginya saat Via turun dari
lantai 2 rumah itu dan ikut bergabung bersama mereka. Sebelum
menjatuhkan tubuhnya dikursi, Via sempat menatap kearah Alvin yang pagi
ini terlihat sangat tenang. Alvin bahkan bersikap seolah-olah kejadian
semalam tak pernah terjadi, dan hal itu membuat Via muak dan ingin
melemparkan sepatunya ke muka Alvin.
“Via, kenapa
berdiri aja? Ayo duduk!” ucapan Metta itu langsung membuyarkan semua
khayalan-khayalan gila Via tentang Alvin. Ia serta merta menggelengkan
kepalanya beberapa kali dan menatap kearah Metta seraya tersenyum. Tanpa
Via sadari, Alvin meliriknya sejenak lalu kembali menikmati sarapan
paginya dengan tak acuh.
“iya, Ma…” jawab Via singkat lalu duduk berhadapan dengan Alvin.
Setelah sarapan usai, seperti biasa, Alvin dan Via berangkat bersama
kesekolah. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini perjalanan
mereka begitu senyap. Alvin terlihat focus menyetir dan menatap jalanan
yang ada dihadapannya dengan lurus. Sementara Via, ia sudah merasa
sangat tidak tenang ditempat duduknya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan
pada cowok menyebalkan ini, tapi melihat bagaimana sikap Alvin pagi ini
malah membuatnya gentar dan berpikir ulang untuk mengeluarkan semua isi
kepalanya.
Bosan dengan suasana canggung yang
tercipta diantara mereka, Viapun terdengar menghela napas panjang. Ia
lalu mengulurkan salah satu tangannya untuk meraih snack yang sudah
tersedia tepat disampingnya, tapi tanpa pernah Via duga, disaat yang
bersamaan Alvin juga mengulurkan tangannya sehingga membuat tangan Via
terperangkap dibawah tangannya.
Via tersentak saat
merasakan kulit tangannya bergesekan dengan kulit Alvin yang terasa
begitu hangat. Jantungnya bahkan bekerja dua kali lebih cepat dari
biasanya. Sial! Kenapa hanya dengan bersentuhan dengan cowok ini bisa
membuatnya nyaris gila seperti ini?
2 detik berlalu, Alvin langsung menyingkirkan tangannya tanpa suara. Ia bahkan tidak sedikitpun menatap kearah Via.
“lo kenapa sih kayak ogah gitu sama gue?!” pertanyaan dengan nada kesal
itu meluncur begitu saja tanpa bisa Via control. Ia langsung membekap
mulutnya dengan salah satu tangannya saat sadar dengan apa yang baru
saja ia ucapkan. Namun bukannya merespon, Alvin malah tetap diam. Via
seakan tidak kasatmata.
Muak dengan kediaman Alvin
yang menyebalkan itu, Via akhirnya memberontak. Dia bukan tipe orang
yang tahan didiamkan seperti ini.
“seenggaknya gue
butuh penjelasan tentang kejadian semalem. Lo bilang lo gak suka sama
gue, tapi kenapa lo malah nyium gue? Hah?”
Alvin
langsung mengerem mendadak mobilnya saat itu juga. Ia bahkan tidak
pernah berpikir sebelumnya bahwa Via akan seberani ini mengungkit
tentang kejadian semalam. Alvin menatap tajam kearah Via yang tampak
sangat kaget dengan perlakuan Alvin yang seakan tanpa perhitungan ini.
Dan Via semakin tidak tahu harus berbuat apa saat Alvin mencodongkan
tubuhnya kearahnya dengan jarak wajah yang semakin mendekat. Kedua mata
Via terbelalak maksimal, jangan bilang akan ada sesi kedua dari kejadian
semalam, Via tidak akan pernah membiarkannya bahkan jika dia harus
membunuh Alvin sekalipun.
Wajah Alvin semakin mendekati wajahnya, sementara tubuh Via sudah benar-benar terpojokan kali ini.
“lo mau ngapain lagi siiiiihhhhh?” tanya Via dengan nada setengah
menjerit. Tapi Alvin malah bergeming tanpa menghentikan pergerakannya.
Saat jarak wajah mereka sudah begitu dekat satu sama lain, Viapun
menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya
beberapa kali. Tapi tidak lama, ia merasakan Alvin membuka pintu mobil
dan kembali menjauhkan dirinya dari Via.
Via serta-merta menurunkan kedua tangannya dari wajahnya dan menatap Alvin dengan pandangan bertanya.
“cepet turun dari mobil gue!” titah Alvin dengan nada dingin tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya.
“hah?” Via terlihat sangat kebingungan.
“apa masih kurang jelas? Gue bilang turun dari mobil gue! SE-KA-RANG!”
“Tapi….”
“elo yang turun apa gue yang turun?!”
Dasar licik! Alvin pasti sengaja berkata seperti itu karna ia tahu Via
tidak bisa menyetir. Via memanyunkan bibirnya hingga beberapa senti
sambil menatap Alvin dengan sebal. Ia lalu melepaskan sabuk pengamannya
dan langsung turun dari mobil Alvin sambil membanting pintu dengan
kekuatan penuh. Dan kurang ajarnya lagi, tanpa perlu menunggu lama-lama,
Alvin langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal dan
meninggalkan Via ditengah jalan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“LO JAHAAAATT! GUE BENCI SAMA LO! LO TAU GAK?” Teriak Via sekeras
mungkin tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya. Ia benar-benar sakit
hati sekarang. Dan ia bersumpah tidak akan pernah memaafkan Alvin seumur
hidupnya.
Alvin menatap Via dari kaca spion dengan
ekspresi tidak terbaca. Setelah bayangan Via menghilang, ia pun meraih
ponselnya dan menghubungi seseorang…
“hallo, Kka? Lo dimana?
♫♫♫
Sepanjang perjalanan Via terus saja merutuki sikap menyebalkan Alvin,
yang akhirnya harus membuat ia melanjutkan perjalanan kesekolah dengan
berjalan kaki. Rasa kesalnya yang benar-benar membeludak sudah tidak
dapat ia tahan. Sampah-sampah jalanan yang tergeletak malang disepanjang
jalan menjadi sasaran tendangannya. Untuk melampiaskan rasa kesal dan
sakit hatinya, ia menendang apa saja yang dapat ia jangkau. Tapi, hal
itu justru tidak berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Calvin Nicholas… jika bisa, ingin sekali rasanya ia memusnahkan pria
itu dari muka bumi ini. Hidup bersama Alvin membuatnya merasa tidak
berharga sama sekali. Tapi masalahnya, Calvin Nicholas adalah
satu-satunya pemuda yang membuatnya tertarik, disaat ada Cakka yang
memberikannya segudang perhatian dan secara terang-terangan menunjukan
rasa sukanya, ia malah menjatuhkan hatinya pada seorang Calvin Nicholas
yang ia tahu tidak akan pernah mau menangkap hatinya. Dan sialnya, pria
menyebalkan bernama Calvin Nicholas itu adalah cinta pertamanya.
Satu-satunya pria yang memperkenalkannya bagaimana rasanya ciuman
pertama.
Brengsek! Via semakin merasa tidak berharga jika mengingat bagaimana cara Alvin merenggut first kiss-nya
malam itu. Alvin dengan keangkuhannya bahkan enggan memberikan alasan
mengapa ia melakukan hal itu disaat ia mengaku, bahwa ia tidak memiliki
perasaan apapun terhadap Via.
Dan disaat rasa kesalnya
sudah benar-benar mencapai puncak klimaks, Cakka tiba-tiba datang
menghampirinya dengan menggunakan ninja merah kebanggaannya. Seperti
biasa, Cakka terlihat begitu bersemangat dengan seulas senyuman manisnya
yang selalu tampak tulus.
Saat menyadari kehadiran Cakka, Via serta-merta menghentikan langkahnya dan menatap Cakka dengan datar.
“Ngapain lo?” tanyanya judes dengan raut wajah terganggu.
“Berangkat bareng yuk!” ajak Cakka yang seakan tidak menghiraukan rasa terganggu yang Via tunjukan.
Via tidak menjawab. Ia malah menatap Cakka dengan sinis. Rasa kesalnya
pada Alvin benar-benar merubah suasana hatinya pagi ini. Bahkan Cakka
yang tidak tahu apapun harus dengan ikhlas dijadikan pelampiasan
amarahnya.
“Bentar lagi masuk lho… lo gak mau telat kan?!” kali ini Cakka menaik-turunkan kedua alisnya.
Setelah cukup lama berpikir, Via akhirnya menaiki motor Cakka tanpa
suara. Cakka tersenyum menang saat itu juga dan langsung menjalankan
motornya dengan kecepatan standart. Diam-diam, Cakka berharap didalam
hatinya, bahwa detik ini juga waktu berhenti berputar agar ia bisa
mengabadikan moment kebersamaannya dengan gadis pencuri hatinya ini.
♫♫♫
“Stop, Yo! Stop!” kata Ify saat mobil Rio hampir tiba disekolah. Hanya
tinggal beberapa meter lagi mereka akan memasuki sekolah, tapi Ify malah
meminta Rio untuk berhenti. Rio yang heran langsung saja mengikuti
perintah Ify.
“kok stop?” tanya Rio bingung.
“aku turun disini aja” jawab Ify singkat sambil membuka sabuk
pengamannya dan telah bersiap-siap untuk keluar dari dalam mobil Rio.
“kok?” Rio semakin bingung. Ify apa-apaan sih? Kenapa mendadak aneh
begini? Apa dia marah? Perasaan daritadi mereka baik-baik saja. itu lah
beberapa pertanyaan yang timbul dikepala Rio saat melihat tingkah aneh
Ify pagi ini.
“aku takut Shilla lihat” jawab Ify
jujur. Ify sudah akan membuka pintu mobil saat tiba-tiba Rio menahan
pergelangan tangannya untuk meminta penjelasan.
“kenapa kalo Shilla lihat?”
Ify memutar kedua bola matanya sambil menghela napas. Rio ini beneran
gak peka atau Cuma pura-pura gak peka sih? Kali ini Ify menatap Rio,
tangan kananya terulur lalu mendarat diwajah Rio,
“Yo,
Shilla sahabat aku, dan Shilla suka sama kamu. Kamu pikir aku bakalan
tega kalo Shilla ngeliat kita bareng kayak gini dan akhirnya tahu kalo
kita… pacaran? Aku gak bisa nyakitin Shilla, Yo…”
Rio
mendesah kecewa. Mimic wajahnya berubah tegang. Ia lalu menyingkirkan
tangan Ify dari wajahnya dan memalingkannya kearah lain.
“terus kamu mau nya kita gimana sekarang? Apa kita harus main kucing-kucingan sama Shilla?”
Ify mengangguk pasti. Ia terlihat sangat yakin sekarang. “kalo emang harus kenapa gak?”
“Fy!” seru Rio yang merasa sedikit putus asa seraya kembali menatap Ify
dengan pandangan memohon, tapi Ify yang ditatap justru bersikap sangat
tenang sekarang.
“Yo… gak apa-apa kan kalo untuk sementara waktu kita backstreet dulu? Ini gak akan mudah buat aku, utamanya buat… Shilla”
“tapi—“
“kita backstreet
aja dulu, seenggaknya sampe kita nemu waktu yang pas buat ngasih tau
Shilla” Ify membalik badannya agar berhadapan dengan Rio. Kali ini ia
menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah Rio, “aku sayang sama
kamu, tapi aku juga gak mau bikin Shilla kecewa karna hubungan kita ini.
Kamu ngerti kan, Yo?” lanjut Ify sambil menatap kedua mata Rio sedalam
mungkin.
Melihat dari bagaimana cara Ify menatapnya
malah membuat Rio luluh dalam sekejab. Meski agak sedikit tidak rela,
tapi toh akhirnya Rio mengangguk juga dan berusaha mengikuti aturan main
Ify. Setidaknya untuk saat ini.
Ify tersenyum lega.
Ia lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut dipipi kanan Rio sebelum
akhirnya turun dari mobil Rio dengan hati berdebar.
‘kenapa
kamu selalu lebih mikirin perasaan orang lain daripada perasaan kamu
sendiri, Fy? Aku Cuma takut, kalo semua ini bakalan nyakitin diri kamu
sendiri…’
Rio membathin sambil menatap Ify yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.
♫♫♫
Via akan memasuki kelas saat tiba-tiba Zevana muncul dan menarik
pergelangan tangannya. Zevana membawa Via ketempat yang agak sepi.
Setelah tiba ditempat yang ia maksud, Zevana lantas melepaskan tangan
Via begitu saja.
“eh, lo udah gila ya? Lo pikir apa
yang baru saja lo lakuin sama gue?! Dasar psikopat!” cecar Via yang
merasa benar-benar kesal dengan ulah Zevana seraya memegangi pergelangan
tangannya yang terasa sakit.
Alih-alih menanggapi
ungkapan Via, Zevana malah tersenyum sinis sambil mendesis. Apa yang Via
lakukan kemarin masih membekas, dan Zevana berencana untuk membelas
perbuatan tidak menyenangkan yang Via lakukan kemarin. Zevana juga ingin
tahu alasan kenapa Via tidak suka melihatnya dekat-dekat dengan Alvin.
Bukankah mereka saudara sepupu? Lalu alasan apa yang membuat Via begitu
gencar menggagalkan segala usahanya dalam menarik perhatian Alvin.
“gue pengen lo ngaku sekarang, lo sengaja kan numpahin jus di rok gue
kemaren?” tembak Zevana langsung tanpa mau repot-repot basa-basi.
Via menatap Zevana dengan pandangan seakan ingin menerkam Zevana
hidup-hidup. Dia pikir Via akan merasa terintimidasi dengan perbuatannya
sekarang? Jangan bermimpi!
“iya gue sengaja! Lo mau apa?” tantang Via.
Sekali lagi Zevana mendesis sinis. Salah satu tangannya terulur lalu
menjambak rambut Via. Via meringis tertahan. “lepasin rambut gue!”
titahnya dingin. Tapi Zevana justru tidak menurut. “sekali lagi gue
bilang, lepasin rambut gue!”
“setelah kejadian
kemaren, lo pikir gue bakalan ngelepasin lo gitu aja? Jangan ngarep!
Sejak kehadiran lo, Alvin jadi berubah. Dan sejak kehadiran lo, Alvin
gak pernah lagi mau deket-deket sama gue, dan lo selalu nyari masalah
sama gue. Lo pikir setelah semua yang lo lakuin, gue bakalan diem aja?
Hah?”
Via memejamkan matanya untuk beberpa saat sambil
menghela napas. Tidak lama, ia menepis tangan Zevana dengan kekuatan
penuh hingga tangan Zevana terlepas dari kepalanya.
“oh… jadi permasalahannya ada sama Alvin? Kalo lo begitu berminta sama
cowok angkuh yang gak punya hati itu, ambil aja! Gue ikhlas
dunia-akhirat. Itu juga… kalo Alvin mau sama lo!” cibir Via dengan keras
yang justru semakin membakar amarah Zevana.
Tamparan
Zevana yang cukup keras secara otomatis mendarat diwajah mulus Via. Via
serta-merta memegangi wajahnya dan menatap Zevana dengan tatapan
pembunuh.
“jaga mulut lo!”
“lo udah
sangat keterlaluan sekarang!” tandas Via, tapi ia merasa tidak ingin
lagi menanggapi cewek psikopat ini. Bukannya takut, tapi Via sudah
terlalu malas menghadapi Zevana. Ia pun memutuskan pergi dari tempat
itu. Tapi saat Via baru saja melangkahkan kakinya, Zevana malah
mendorongnya hingga ia nyaris saja terjatuh jika seseorang tidak dengan
tiba-tiba muncul dan menahan tubuh Via yang limbung.
Zevana terkejut saat melihat sepasang mata elang yang menatapnya dengan
sangat tajam. Dan selama ia mengenal pria berwajah manis itu, ini kali
pertamanya Zevana melihat ia tampak semarah ini.
Kilat-kilat kemarahan dimata Gabriel semakin terlihat jelas…
♫♫♫
Gabriel membantu mengompres wajah Via yang tampak memerah dengan
beberapa keping es batu yang ia bungkus dengan sebuah sapu tangan. Via
meringis saat saputangan dingin itu menyentuh kulit wajahnya. Gabriel
yang peka lantas mengurangi tekanannya.
“thanks, Gabriel” ujar Via tulus lalu mengambil alih saputangan itu dari Gabriel.
“you’re welcome. Tapi, kalo boleh tahu, kenapa lo bisa berantem sama Zeze?”
Via tidak langsung menjawab pertanyaan Gabriel, ia tampak terdiam
sambil tetap mengompres wajahnya. Mengerti dengan isyarat yang Via
sampaikan melalui kediamananya, Gabriel mengangguk paham lantas menatap
lurus kedepan.
“gak apa-apa. Kalo emang gak mau cerita gak masalah…”
Via menoleh lalu menatap wajah Gabriel yang terlihat sangat tenang dari
samping. Ini mungkin kali pertamanya mereka duduk berdua dan berbicara
banyak, tapi entah kenapa Via merasa bahwa sudah sangat lama ia
menantikan saat ini. Via merasa, bahwa apa yang selama ini ia cari
akhirnya bisa ia temukan juga. Via tidak tahu dan tidak mengerti dengan
apa yang dia cari, tapi berada dekat dengan Gabriel membuat Via merasa
tidak perlu mencari apapun lagi.
Kenapa perasaan yang ia rasakan sekarang terasa begitu ajaib dan sangat luar biasa?
“Mama gue pernah bilang, sekuat dan sekeras apapun seseorang membenci,
pada akhirnya kebencian itu pasti akan luluh juga kalau kita membalasnya
dengan cinta dan kesabaran. Dan tadi, gue sengaja gak ngelawan Zeze
karna tiba-tiba aja gue inget pesen itu. Tapi kenapa kesabaran itu
justru melukai gue?”
Gabriel terdiam. Dalam kenangan
lamanya ia merasa pernah mendengar kata-kata yang nyaris sama. Papanya…
ya, mendiang Papanya pernah menasehatinya dengan kata-kata yang hampir
sama dengan apa yang baru saja Via ucapkan. Tapi bagaimana mungkin
semuanya bisa begitu mirip?
‘Jangan
membenci seseorang yang membencimu. Hadapi mereka dengan kesabaran, maka
pasti kebencian itu akan luluh dengan sendirinya…”
Itulah sepenggal ingatan lamanya tentang nasihat yang pernah
disampaikan oleh mendiang Papanya sekitar 6 tahun yang lalu. Selama ini,
Gabriel tidak pernah mengingatnya dengan baik. Tapi setelah Via
mengatakan ucapan yang nyaris sama, ingatannya justru kembali terseret
pada nasihat Papanya.
Sekarang… kenapa ia merasa seperti ada yang janggal dengan semuanya?
“Ma—Mama lo pasti orang baik…” ujar Gabriel sedikit terbata.
Kali ini Via tampak antusias. Kedua matanya berbinar dan ia mendadak
menggebu-gebu saat Gabriel mulai membahas Mamanya.
“Mama gue adalah Mama yang paling keren sedunia. Gue sayang banget sama
Mama, tapi ternyata, Tuhan lebih sayang sama Mama, makanya Tuhan manggil
Mama duluan…” Via tampak lesu, tapi seperti biasa, ia selalu berusaha
tegar jika sudah menyangkut kepergian Mamanya.
Gabriel
menatap Via dengan prihatin. Jauh didasar hatinya yang terdalam, ia
seakan bisa merasakan rasa kehilangan yang Via rasakan detik ini. Dengan
ragu-ragu Gabriel mengangkat salah satu tangannya dan menurunkannya
dipundak Via. Ia lalu menepuk pundak Via beberapa kali dan berkata,
“dan lo pasti beruntung banget karna punya Mama sekeren itu. Gue juga
punya Papa yang sangat keren… tapi 5 tahun yang lalu, Papa meninggal
dalam sebuah kecelakaan pesawat…”
Via serta-merta
menoleh kearah Gabriel. Kali ini, giliran Via yang menatap Gabriel
dengan pandangan prihatin. Jika Via kehilangan Mamanya sejak beberapa
bulan yang lalu, Gabriel justru sudah terlebih dahulu merasakan sebuah
kehilangan yang menghancurkan.
“emmm… nasib kita sama ternyata. Sama-sama ditinggal oleh orang yang kita sayang. Terus… Mama lo sendiri gimana?”
Degh! Pertanyaan yang baru saja Via lontarkan seakan memukul telak
jantung Gabriel tanpa ampun. Mama? Selain kenangan dari masa kecilnya
yang begitu singkat, Gabriel tidak pernah benar-benar tahu bagaimana
sosok wanita yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya. Gabriel
bahkan tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya belaian kasih
sayang seorang Ibu. Kebahagiaannya masa kecilnya, bahkan kenangannya,
semua itu telah dicuri darinya dan hanya menyisakan kepingan-kepingan
rahasia dari kisah masa lalu yang tidak boleh ia ketahui.
“Mama gue? Ma—Mama gue sama kayak Mama lo…” meski harus bersusah payah,
toh pada akhirnya Gabriel bisa memaksakan dirinya untuk melemparkan
sebuah jawaban, yang secara tidak langsung kembali mengguratkan luka
hatinya. Perih… rasanya perih sekali.
Rasa rindunya pada sosok sang Mama telah benar-benar mematikan hatinya secara perlahan dan sangat menyakitkan.
♫♫♫
====================
From: Prissy Alexandra
Aku akan pulang ke New York
Sore ini juga. Aku pikir udah
Gak ada gunanya lagi aku disini.
Maaf karna aku udah ganggu kamu.
=======================
Itulah sepenggal pesan singkat yang dikirimkan oleh Prissy untuk Alvin.
Alvin membaca pesan itu tepat saat ia akan ke lapangan untuk melakukan
latihan basket. Alvin terduduk diruang ganti, mendadak ia mengurungkan
niatnya untuk mengikuti latihan. Kata-kata yang Prissy tuliskan dalam
pesan singkat itu kini malah menjadi hantu disudut pikirnya. Sekitar 5
menit kemudian, Cakka tiba-tiba saja muncul dari arah pintu,
“Vin, buruan! Lo udah ditungguin”
Alvin menatap Cakka untuk beberapa saat dengan pandangan kosong. Tidak
lama, ia meraih tasnya dan berjalan dengan langkah cepat kearah pintu,
“hari ini gue ijin. Ada urusan yang harus gue selesein”
“apa?!”
Alvin tidak menjawab kebingungan Cakka. Ia tetap berjalan dengan tak
acuh. Setidaknya, sebelum gadis itu benar-benar pulang, Alvin harus
menemuinya dan menyampaikan apa yang belum sempat ia katakan kemarin.
Alvin menjalankan Honda jazz putihnya dengan kecepatan maksimal. Tidak
ada hal lain yang ia pikirkan selain ia harus cepat tiba di bandara
sebelum semuanya terlambat. Dan untuk memastikan apakah ia sudah
terlambat atau belum, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi
Prissy.
“hallo, Priss. Kamu dimana sekarang?” tanya Alvin langsung tanpa basa-basi saat Prissy mengangkat telponnya.
“ini pertama kalinya kamu nelpon aku…” jawab Prissy lirih. Alvin menghela napas panjangnya,
“jawab aku! Kamu dimana sekarang? Pesawat kamu take off jam berapa?”
“aku dibandara. Pesawat aku take off jam setengah 4”
Alvin melirik arlojinya lantas memutuskan sambungan telfonnya begitu
saja. Ia masih memiliki waktu 20 menit lagi sebelum Prissy berangkat.
Alvin semakin menambah kecepatannya. Alvin tiba di bandara 10
menit kemudian. Ia berlari memasuki bandara sambil berusaha mencari
sosok Prissy. Dan Alvin langsung menghela napas lega saat melihat gadis
itu masih disana. Alvin melangkah cepat menghampiri Prissy dan berdiri
tepat dihadapannya.
“apa kamu gak bisa tinggal lebih lama lagi disini? At least until your holiday ends…”
Prissy serta-merta mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang begitu
familiar ditelinganya. Ia menatap Alvin seraya tersenyum lebar.
Bibirnya bisa saja mengulas senyum, tapi tidak dengan kedua matanya yang
tampak sendu.
“Calv…” sapanya lirih.
“jadi, apa kamu bisa tinggal lebih lama lagi disini?” Alvin mengulang
pertanyaannya sambil menatap dalam pada kedua bola mata gadis cantik
itu.
Prissy tersenyum miris seraya menggelengkan
kepalanya beberapa kali, “aku gak bisa, Calv! Makin lama aku disini,
rasa bersalahku akan semakin menumpuk. Aku pikir, lebih baik aku pulang
saja”
“apa kamu marah karna ucapan aku kemaren? Aku—“
“No, no… I’m not mad, Calvin! I just think, that what you say is true. Aku baru sadar, bahwa dulu aku bener-bener udah nyakitin kamu, dan gak sepantesnya aku kayak gini setelah aku nyakitin kamu. And now I feel, that I had hurt myself. Kamu gak salah, aku yang salah…”
“I’m sorry for making you feel like it…”
Prissy bangkit dari duduknya, ia meraih salah satu tangan Alvin dan menyentuh wajah Alvin. “Don’t apologize for something that isn’t your fault…”
Alvin tidak menjawab. Ia hanya menatap Prissy dengan pandangan penuh
sesal. Sadar dengan makna yang tersirat dari cara Alvin memandangnya,
Prissy lantas menurunkan tangannya dari wajah Alvin dan kembali
menunduk. Bahkan untuk menatap kedua mata itu dalam waktu yang cukup
lama saja, Prissy merasa tidak sanggup. Rasa bersalah telah benar-benar
memenuhi setiap ruang dihatinya.
“she’s beautiful. Who is she? Your girlfriend?”
“siapa?”
“gadis yang kemarin kamu tarik tangannya di café, siapa namanya?”
Kali ini Alvin terlihat sedikit salah tingkah. Ia bahkan tidak tahu
bagaimana harus menjawab pertanyaan yang Prissy lemparkan. Prissy
mengangguk beberapa kali. Meskipun ia merasa perih, tapi ia tetap
berusaha untuk terlihat baik-baik saja. setidaknya dihadapan Alvin.
“siapapun dia… aku harap dia gak akan pernah nyakitin seperti apa yang
aku lakukan. Aku juga berharap… semoga kamu bahagia bersama dia…”
Baru saja Alvin akan membalas perkataan Prissy, tiba-tiba saja
panggilan untuk para penumpang dengan tujuan New York terdengar dari
pengeras suara. Prissy menghela napas panjangnya. Dengan berat hati, ia
kembali berkata dengan nada memohon,
“Give me your last hug. Please…”
Sekali lagi Alvin tidak menjawab. Tanpa suara ia lantas menarik Prissy
kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan sangat erat. “we’re friends, right?” lirih Prissy dengan isakan tertahan.
“whatever you want…” balas Alvin singkat.
Prissy lalu melepaskan pelukannya dari Alvin dan untuk yang terakhir kalinya mengucapkan selamat tinggal, “goodbye, Calvin…”
Prissy akhirnya melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh kebelakang.
Jika sekali saja ia menoleh dan kembali melihat Alvin, dapat ia pastikan
bahwa ia akan berlari kearah pemuda itu, memeluknya dengan erat, dan
tidak akan pernah melepaskannya untuk selamanya.
Dari
kejauhan, Alvin terus menatap sosok Prissy yang semakin lama semakin
menghilang dari pandangannya. Prissy bisa merelakannya untuk Via. Tapi
apa Alvin bisa melakukan hal yang sama terhadap Via? Apa Alvin
benar-benar bisa merelakan Via untuk Cakka? Mungkin jawabannya tidak,
tapi Alvin ingin terus berusaha.
Via adalah
saudaranya, dan selamanya akan tetap menjadi saudaranya. Apapun tidak
akan pernah bisa mengubah kenyataan itu.
♫♫♫
Via sedang berdiri dibalkon kamarnya sambil menatap pemandangan langit
malam saat Alvin baru saja tiba dibalkon kamarnya. Balkon mereka
bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tembok sebatas pinggang hingga
mereka masih bisa saling melihat satu sama lain. Alvin sedikit melangkah
mundur saat melihat sosok Via, ia ingin kembali masuk kedalam kamarnya,
tapi gadis itu sudah terlanjur melihatnya. Alvin akhirnya memaksakan
dirinya untuk berdiri dimuka balkon. Jaraknya hanya berjarak 2 meter
saja dengan jarak Via sekarang.
“lo gak capek
ngehindar terus?” tanya Via yang seakan mampu membaca gerak tubuh Alvin.
Biar bagaimana pun, ia sudah terlanjur menangkap gelagat Alvin yang
tadi sempat ingin menghindarinya. “disekolah lo mungkin bisa ngehindar,
tapi jangan berpikir lo akan bisa ngehindarin gue dirumah. Kamar kita
aja berseblahan…” lanjutnya tanpa sekalipun menoleh kearah Alvin.
“ck… omongan lo mulai ngaco!”
“tadi gue ngeliat lo pergi sebelum latihan, dan keliatannya lo buru-buru banget. Boleh tau lo kemana?”
“ke bandara nyusulin Prissy…” jawab Alvin apa adanya. Via serta-merta
menoleh kearah Alvin. Jawaban yang baru saja Alvin lontarkan seakan
mengusiknya.
“ny—nyusulin Prissy? Kenapa?”
“hari ini Prissy pulang ke New York, dan tadi… gue Cuma pengen
nyampaiin apa yang belum sempat gue sampaiin kemaren…”
“udah lo sampaiin?” tanya Via sehati-hati mungkin yang dijawab oleh
Alvin hanya dengan sebuah anggukan saja. kali ini Via memilih untuk
diam. Ada ribuan macam pertanyaan yang bersarang diotaknya sekarang,
tapi ia sadar, bahwa bukan kapasitasnya untuk menanyakan lebih jauh lagi
tentang apa yang Alvin sampaikan pada mantan pacarnya itu. Sekalipun ia
sangat ingin tahu, Via akan mencoba menahan dirinya sebisa mungkin.
“kata Iel, tadi lo berantem sama Zeze. Kenapa lo gak bilang gue? Dan
kenapa lo bisa sampe berantem kayak gitu?” Alvin mengeluarkan pertanyaan
itu begitu saja tanpa sadar bahwa rasa cemasnya terlihat dengan sangat
kentara.
“gimana bisa bilang kalo elo nya aja
ngehindar terus…” gerutu Via pelan sambil membuang tatapannya kearah
lain. Alvin menghela napas. Ia sadar ia tidak akan bisa menampik hal
itu.
“gue masuk dulu! Ada tugas yang harus gue
kerjain…” ucap Alvin pada akhirnya setelah cukup lama tenggelam dalam
keheningan yang tidak mengasyikan. Alvin juga merasa, bahwa tidak ada
lagi yang perlu ia bicarakan dengan Via.
“gue rasa… gue gak bisa nerima Cakka…”
Ucapan Via itu langsung membuat langkah Alvin terhenti.
“maaf sebelumnya. Maaf karna gue gak bisa ngelakuin permintaan lo.
Tapi, gue bener-bener gak bisa kalo harus nyakitin Cakka dengan
berpura-pura nerima dia. Gue gak bisa bohongin diri gue sendiri, Alvin.
Yang gue suka itu elo, bukan Cakka… tapi lo tenang aja, walopun gue gak
nerima Cakka, gue gak akan pernah gangguin lo. Gue juga udah mutusin
buat… ngelupain lo”
Tepat saat Alvin akan menoleh
kearahnya, Via malah sudah mengambil langkah untuk pergi tanpa
memberikan Alvin kesempatan untuk berbicara. Itu sudah menjadi keputusan
finalnya. Siapapun itu, termasuk Alvin tidak akan pernah bisa
menghalanginya dan mengubah keputusan yang telah ia ambil.
♫♫♫
Perkataan Via dibalkon tadi benar-benar memecah konsentrasi belajar
Alvin. Ia bahkan belum sama sekali menyentuh tugas yang seharusnya sudah
ia selesaikan malam ini. Seberat apapun masalah yang ia hadapi selama
ini, ia tidak pernah sampai harus kehilangan konsentrasi belajar seperti
ini. Seumur hidupnya, ini kali pertamanya bagi Alvin menghadapi hal
semacam ini. Dan itu semua terjadi hanya karna keputusan Via yang ingin
melupakannya.
Alvin memang tidak bisa memiliki gadis
itu seperti apa yang ia inginkan, tapi keputusan yang Via ambil amat
sangat menyiksa pikirannya. Alvin mendesah lalu membanting pulpennya
dengan penuh emosi. Ia lalu menelungkupkan tangannya diatas meja dan
menenggelamkan wajahnya disana. Kenapa? Kenapa semuanya harus sesulit
ini?
Suara deras hujan yang tiba-tiba saja turun
dengan disertai oleh suara petir yang cukup menggelegar mengagetkan
Alvin. Dengan cepat ia mengangkat wajahnya dan melihat kearah jendela.
Hujan yang turun semakin deras. Dan Alvin ingat, bahwa Via sangat takut
jika mendengar suara hujan yang disertai oleh petir.
Alvin lalu mengalihkan pandangannya kearah pintu. Ia berharap Via
tiba-tiba saja muncul sambil membuka pintunya seperti yang biasa ia
lakukan jika hujan turun dimalam hari. Tapi hingga beberapa menit
berlalu, pintu itu tidak juga terbuka. Dan Via tidak juga muncul dengan
rengekan-rengekannya yang selalu menganggu Alvin.
10
menit berjalan. Alvin masih menunggu dengan harapan yang sama. Ia bahkan
tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari arah pintu, tapi Via
tidak juga muncul. Setelah cukup lama berpikir, Alvin akhirnya
memutuskan untuk melihat langsung bagaimana keadaan Via dikamarnya.
Entah kenapa ia mendadak mengkhawatirkan gadis ceroboh itu.
Alvin kini sudah berdiri didepan pintu kamar Via. Ragu-ragu ia
mengangkat salah satu tangannya untuk mengetuk pintu. Tapi saat kepalan
tangannya nyaris menyentuh pintu, Alvin malah menurunkannya begitu saja
dan langsung menyentuh kenop pintu lalu menariknya. Pintu yang ada
didepannya langsung terbuka, ternyata Via tidak mengunci pintu kamarnya.
Saat pintu terbuka, saat itulah Alvin melihat Via yang sedang meringkuk
ketakutan dibawah selimutnya. Tapi sebenarnya Via tidak sedang
ketakutan, yang terjadi adalah Via sedang mengigil kedinginan. Saat
pulang sekolah tadi, Via mendadak merasa tidak enak badan. Ia mengalami
demam dan langsung meminta obat pada Bi Ningsih. Tadinya Bi Ningsih
menyarankan Via untuk memberitahukan Metta atau Alvin agar Via segera
dibawa kerumah sakit, tapi Via justru menolak dan meminta Bi Ningsih
untuk tidak memberitahukan siapapun. Ia berdalih bahwa ia hanya butuh
obat penurun demam dan istirahat.
Alvin memasuki kamar
Via lebih dalam lagi. Dimeja disamping tempat tidurnya, Alvin menemukan
semangkuk bubur, obat penurun panas dan segelas air putih. Darisana
Alvin merasa bahwa ada yang tidak beres. Alvinpun duduk dipinggir
ranjang Via dan menarik selimutnya begitu saja. saat itulah, Alvin
langsung mendapati Via yang wajahnya terlihat sangat pucat. Keringat
dingin membanjiri wajahnya dan ia terus saja menggigil kedinginan. Saat
mereka bertemu dibalkon sejam yang lalu, Alvin tidak begitu
memperhatikan wajah Via yang terlihat pucat, dan karna itu Alvin
langsung menyesali diri.
“Vi—Via? Lo… lo demam…” ucap Alvin terbata setelah menyentuh kening Via yang terasa panas.
“dingin…” lirih Via pelan sambil terus menggigil.
“gue akan telfon Dokter Goldi sekarang”
Baru saja Alvin akan keluar untuk menelpon Dokter Pribadi keluarganya,
Via malah mencegat pergelangan tangannya, “tetep disini sama gue…”
“tapi…”
“gue gak apa-apa. Gue baik-baik aja, gue sering kayak gini dan ini bukan yang pertama…”
“Via….”
“sekaliii ini aja temenin gue. Gue kedinginan, gue takut…” ucap Via sambil menatap Alvin dengan pandangan nanar.
Mau tidak mau Alvin akhirnya luluh juga saat melihat tatapan mata Via.
Alvin kembali duduk disamping Via sambil menggenggam tangannya. Semakin
lama Via semakin menggigil. Rasa dingin itu seakan menusuk tulangnya
tanpa ampun. Ia terus saja mengeluh kedinginan sampai akhirrnya Alvin
memutuskan untuk berbaring disebelahnya dan memeluknya dengan erat.
“a… apa yang lo lakuin?” tanya Via saat sadar dengan apa yang Alvin lakukan.
“lo gak mau gue panggilin Dokter, jadi udah, jangan banyak nanya…”
Rasa dingin yang semakin menusuknya membuat Via tidak bisa mengajukan
protes lagi. Ia pun menenggelamkan kepalanya didada bidang milik Alvin
yang entah kenapa terasa begitu hangat dan nyaman.
Alvin menarik selimut itu lebih tinggi lagi hingga menutupi tubuh mereka
sampai kebagian pinggang. Dan saat Alvin semakin mempererat pelukannya
untuk menghangatkan tubuh Via, Via pun balas memeluk Alvin dan kembali
menenggelamkan wajahnya didada Alvin dengan nyaman. Alvin meletakan
dagunya diatas puncak kepala Via lalu dengan perlahan mulai memejamkan
kedua matanya.
Dan sepanjang malam itu Alvin habiskan
untuk menjaga Via yang terlelap dalam dekapannya. Biarkan untuk malam
ini saja mereka bisa sedekat ini, karna besok dan untuk seterusnya,
Alvin tidak dapat memastikan apakah dia masih bisa memeluk Via seperti
ini atau tidak.
Saat yakin bahwa Via sudah benar-benar
terlelap dalam napas yang teratur, Alvinpun mengecup puncak kepala Via
dengan lembut, ia melakukannya agak lama.
“gue
sayang lo, Via…” bisiknya pelan dengan begitu lirih. Bahkan anginpun
tidak akan mampu mendengar suara bisikannya. Biarkan itu menjadi
rahasianya dan langit. Via atau siapapun tidak boleh mengetahuinya.
To Be Continued…
Saturday, May 16, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment