Lombok,
2004…
Alvin dan keluarganya sudah akan berangkat
ke Jakarta, tapi Alvin malah mengajak Via bersembunyi dibawah salah satu meja
yang ada disudut ruang tamu rumah Alvin. Alvin melakukan itu sebagai bentuk
protesnya karna ia tidak ingin pindah. Alvin sudah betah di Lombok, dan ia
sudah merasa sangat nyaman berteman dengan Via, dua alasan itulah yang membuat
Alvin enggan untuk pindah.
“Apin, kenapa kita sembunyi disini
sih? Apin kan mau berangkat ke Jakarta pagi ini, nanti Tante Metta sama Om
Adryan bakalan ninggalin Apin lho…” ucap Via kecil memperingatkan Alvin. Tapi
Alvin yang diperingati malah tampak tak acuh. Ia memanyunkan bibirnya lalu
berkata,
“biarin aja. Apin gak mau pindah.
Apin mau tetep disini sama Pia…”
“tapi Apin harus ikut Om sama Tante
dong. Apin gak boleh sembunyi kayak gini”
“Pia kok gitu sih? Emang Pia gak mau
terus bareng-bareng sama Apin? Pia gak mau temenan lagi sama Apin? Iya?” cecar
Alvin bertubi-tubi sambil menunjukan raut tak sukanya yang justru membuatnya
terlihat semakin menggemaskan.
“Pia gak gitu. Via mau terus bareng-bareng
sama Apin. Pia seneng temenan sama Apin, Cuma aja kan Apin harus ikut Om sama
Tante. Lagian kan, nanti Apin sama Pia bisa ketemu lagi…”
“janji kita bisa ketemu lagi?” tanya
Alvin tak yakin sambil menunjulurkan jari kelingkingnya.
Via tersenyum mantap. Ia lalu
mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Alvin. Dengan yakin Via
berujar, “Apin sama Via pasti bakalan ketemu lagi…”
Mereka tersenyum satu sama lain
seraya saling menatap. Alvin kecil yang tadinya merasa tak yakin bisa bertemu
lagi dengan Via akhirnya sekarang merasa yakin. Tapi… ada satu hal yang
mengganjal pikiran polosnya saat itu…
“kalo Apin kangen sama Pia gimana?”
“lihat ke atas langit. Kangennya
pasti hilang…”
“kok bisa gitu?”
“kata Mama Pia, sejauh apapun jarak
yang misahin kita, kita tetep akan ngeliat satu langit yang sama, dan langit
bisa nyampaiin rasa kangen kita sama siapapun yang kita mau…”
Sekali lagi Alvin tersenyum. Dengan
cepat ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Via lalu mendaratkan sebuah kecupan
kilat dipipi sebelah kanan Via.
♫♫♫
Ify
bosan. Jam pelajaran pertama dikelasnya pagi itu kosong. Guru mata pelajaran
yang memegang Matematika hari itu sedang mengikuti rapat. Suasana kelas Ify
benar-benar gaduh, tapi ditengah-tengah kegaduhan itu Ify justru merasa sangat
kesepian. Pikirannya melayang entah kemana. Ify bahkan tidak sedikitpun
menghiraukan panggilan Shilla yang memintanya untuk ikut bergabung bersama
teman-temannya yang lain dideretan bangku paling belakang.
Beberapa
menit kemudian, Ify terdengar menghela napas panjangnya. Satu tempat yang
mungkin bisa menenangkannya untuk saat ini langsung terbersit dipikirannya. Ya,
atap sekolah. Itu tempat rahasianya bersama Alvin. Jika sedang bosan, Ify
selalu kesana. Dan sekarang pun Ify berfikir untuk segera kesana.
Ify
bangkit lalu berjalan keluar dari kelasnya tanpa suara. Alvin yang sejak tadi
diam-diam memperhatikan Ify langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan
singkat untuk seseorang,
========================
To:
Arion Aristo
Lo
cepetan ke atap. Skrg!
========================
Setelah
mengirimi Rio sms, perhatian Alvin tahu-tahu tertuju pada Shilla yang terlihat
bangkit dari tempat duduknya dan hendak mengikuti Ify. Tidak ingin kalah
langkah, Alvin buru-buru mengejar langkah Shilla untuk menghentikannya. Alvin
menarik pergelangan tangan Shilla dan berkata,
“temenin
gue ke perpus sekarang!”
“tapi
Vin, tapi—“
Shilla
yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengelak lagi akhirnya dengan
terpaksa mengikuti Alvin ke perpustakaan. Lagipula Alvin kenapa sih? Kenapa
jadi mendadak aneh begini? Itulah dua pertanyaan tanpa jawaban yang memenuhi
pikiran Shilla.
♫♫♫
Ify
sedikit kaget saat melihat sosok Rio yang berdiri cukup jauh dari posisinya sekarang. Ify yang
baru saja tiba diatap mendadak merasa gentar. Sebagian dirinya memerintahkannya
untuk mundur dan pergi dari tempat itu, tapi sebagian lagi, yang tentu saja
lebih dominan, justru memintanya untuk maju dan menghampiri Rio.
Mengikuti
kata hatinya, Ify berjalan maju dengan langkah yang entah kenapa terasa begitu
sangat ringan. Saat jaraknya sudah tepat berada dibelakang punggung Rio, Ify
merasakan perasaannya semakin tidak menentu. Tanpa sadar, salah satu tangannya
terangkat dan bersiap-siap untuk mendarat dipundak Rio, tapi disaat yang
bersamaan Rio justru berbalik. Kali ini Ify kaget setengah mati. Ia buru-buru
menurunkan tangannya dan menyimpannya dibelakang punggung.
Rio
kini mengerti alasan kenapa Alvin memintanya untuk datang ketempat ini.
“Ify?”
kata Rio pelan.
“e—elo
ngapain disini?” tanya Ify sedikit terbata.
Rio
tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab,
“gue
lagi males ngikutin pelajaran, makanya bolos dan kesini…” alibi Rio.
“oh?
Kalo gitu gue yang pergi…” putus Ify yang merasa sudah tidak tahu lagi harus
berbuat apa.
Baru
saja Ify akan berbalik dan pergi, Rio buru-buru mencegat pergelangan tangannya
sehingga membuat Ify mau tak mau harus menghentikan langkahnya, “biar gue aja
yang pergi…” ujar Rio berusaha mengalah. Ia lalu melepaskan tangan Ify dan
berjalan melewati Ify begitu saja.
Tapi
tanpa Rio duga sebelumnya, Ify menahan lengannya dari belakang seraya berkata,
“apa
kita berdua bisa tetap… tinggal disini? Ada yang harus gue omongin…” ucap Ify
ragu-ragu. Rio menoleh kebelakang dan menatap Ify dengan pandangan bertanya.
“gue
minta maaf atas sikap gue selama ini. Gue minta maaf karna selalu nganggep lo
gak pernah kelihatan dimata gue, tapi—“ Ify menggantungkan kalimatnya dan
membuat Rio merasa sangat penasaran. “gue udah coba ngelakuin banyak hal, gue
berusaha ngejauhin lo, gue berusaha buat bisa benci sama lo, tapi ternyata…”
jeda sesaat. Ify menghela napas panjang dan berusaha meyakinkan hatinya, “tapi
ternyata gue gak bisa ngelakuin semua itu, Rio. Semua yang gue lakuin itu malah
nyiksa batin gue sendiri… gue… gue sayang sama lo… dan gue ngerasa kita gak
bisa terus-terusan kayak gini…”
Apa
Rio tidak salah dengar? Apa Rio tidak sedang berkhayal? Apa benar baru saja Ify
menyatakan perasaannya pada Rio?
“jadi
bisakan mulai sekarang kita gak perlu saling menghindar? Ini semua bener-bener
nyakitin gue, Yo… gue… gue sama sekali gak bisa jauh dari lo…”
Rio
tersenyum lega. Semua beban yang selama ini ia pikul dipundaknya seakan lepas
semua. Dan tidak ada satu katapun yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya
ia saat ini. Ify membalas perasaannya. Bagi Rio itu sudah cukup, dan ia tidak
menginginkan apapun lagi. Begini saja sudah cukup.
Rio
menarik Ify kedalam dekapannya dan memeluk gadis itu dengan sangat erat. Ini
adalah mimpinya yang akhirnya menjadi kenyataan.
Meski
awalnya ragu-ragu, Ify pun memberanikan dirinya membalas pelukan Rio. Ia lalu
menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Rio yang terasa sangat nyaman.
Sekarang, Ify sudah merasa sangat dekat dengan Rio, tidak hanya dekat, Ify
bahkan bisa menyentuhnya, Ify bahkan bisa memeluknya, merasakan detak
jantungnya dan mengatakan kebenaran perasaannya yang selama ini berusaha ia
tutup-tutupi dibalik tembok kemunafikannya. Dan seumur hidupnya, Ify tidak
pernah merasa selega ini. Menjadi milik seorang Arion Aristo? Bagi Ify, tidak
ada yang lebih indah lagi dari itu.
“makasih,
Fy… makasih buat kesempatan yang lo kasih ke gue…”
Sekarang,
mereka telah resmi saling memiliki satu sama lain.
♫♫♫
Via
sudah akan menghampiri Agni, Ify dan Shilla yang duduk disatu meja yang sama
saat tiba-tiba perhatiannya tertuju pada Zevana yang terlihat hendak
menghampiri Alvin. Saat itu, Alvin hanya duduk sendirian di kafetaria sambil
menikmati makan siangnya. Sadar dengan gelagat Zevana, Via buru-buru mengambil
langkah seribu sebelum cewek centil itu mendahuluinya. Dan tepat saat Zevana
akan duduk berhadapan dengan Alvin disatu meja yang sama, Via malah dengan
sengaja menumpahkan jus alpukat pesananya dirok Zevana.
Zevana
yang kaget kontan saja membelalak saat sadar ada seseorang yang menumpahkan jus
di roknya. Zevana serta-merta menatap tajam kearah Via. Via yang ditatap dan
telah resmi dijadikan tersangka utama oleh Zevana malah dengan santainya
menampakan raut wajah tak berdosanya. Dan apa yang Via lakukan itu malah
membuat Zevana semakin geram.
“ups!
Sorry, gue gak SENGAJA!” Ucap Via nyolot seraya memberikan penekanan pada kata
‘SENGAJA’.
Alvin
hanya menatap kedua orang itu dengan bingung. Begitu juga dengan penghuni kafetaria
yang lainnya.
“gue
tau lo sengaja ya? Masalah lo tuh apa sih sama gue? Perasaan sejak awal lo
disini lo udah nunjukin gelagat gak suka sama gue!” cecar Zevana yang merasa
sudah benar-benar ingin meledak sekarang.
Via
tersenyum sinis dan dalam hati berteriak dengan keras bahwa apa yang baru saja
Zevana katakan memang benar adanya. Via mengangguk beberapa kali dan berkata,
“gue bener-bener gak sengaja… kan udah minta maaf…” Via pura-pura menampakan
raut menyesal yang justru membuat Zevana semakin muak.
“gak
usah belaga innocent deh! Lo pikir
gue gak tau kalo lo gak suka ngeliat gue deket-deket sama Alvin?!”
“OYA?
Sampe segitunya ya?”
Respon
Via yang benar-benar sangat mengesalkan malah membuat Zevana tidak bisa lagi
membendung emosinya. Tanpa pikir panjang, Zevana mengambil segelas air putih
milik Alvin lalu menyiramkannya pada wajah Via. Tidak puas hanya dengan itu,
kali ini Zevana berniat mendaratkan
sebuah tamparan diwajah Via. Tapi sebelum tamparan Zevana mendarat diwajah Via,
tangan kekar milik Alvin malah lebih dulu menahannya.
“gak
usah kelewatan, Ze! Via udah bilang kalo dia gak sengaja” cegat Alvin lalu
melepaskan tangan Zevana begitu saja. dalam hati, Via langsung bersorak
kegirangan. Alvin benar-benar memihaknya kali ini.
“tapi,
Vin—“
“please gak usah bikin keributan disini!
Lo gak sadar sekarang kita udah jadi pusat perhatian semua orang? Lo bukan tipe
cewek yang suka nyari sensasi kan, Ze?”
Zevana
hanya bisa menahan amarahnya. Awalnya ia pikir kalau Alvin tidak akan bereaksi
apapun dengan semua ini, ia juga berpikir bahwa Alvin tidak akan mau
repot-repot untuk ikut campur sekalipun Via adalah sepupunya, tapi ternyata
Zevana salah. Dan Zevana merasa, bahwa Alvin yang saat ini ada dihadapannya
bukanlah Alvin seperti yang biasanya. Alvin benar-benar berbeda. Alvin
benar-benar berubah, dan semua itu terjadi semenjak kehadiran Via dihidupnya.
Zevana
yang sudah tidak tahu lagi harus berkata apa akhirnya memilih untuk
meninggalkan kafetaria. Saat ia berjalan keluar, tanpa sengaja perhatiannya
tertuju pada Agni CS yang sedang menatapnya dengan pandangan meledek. Bahkan
secara terang-terangan Agni mengucapkan
dua buah kata tanpa volume: ‘MAMPUS LU!’
Zevana
menghentakan kedua kakinya dengan sebal lalu benar-benar keluar dari kafetaria
dengan perasaan dongkol minta ampun.
“gue
gak suka kelakuan lo tadi! Percaya ataupun gak, gue tau lo sengaja numpahin
minuman itu ke rok Zeze…” ucap Alvin pelan sambil menuntun Via untuk duduk
disampingnya. Dengan sangat perhatian, Alvin lalu mengelap wajah Via dengan
saputangan nya.
Via
sedikit kaget dengan pengakuan Alvin. Tapi ia juga merasa heran.
“kalo
lo tahu, terus kenapa lo malah ngebelain gue?!” tanya Via bingung.
“gak
usah geer!” Alvin menoyor pelan kepala Via saat sedang mengelap wajahnya. Ia
lalu melanjutkan perkataannya, “Gue gak ngebelain lo kok. Gue Cuma gak suka ada
keributan disini. Biar gimanapun, gue ketua osis, jadi gue bertanggung jawab
penuh kalau ada anak yang bikin keributan” terang Alvin sambil menyerahkan
saputangan itu ditangan Via.
“thanks… dan maaf atas perbuatan gue
tadi, gue Cuma gak suka aja ngeliat Zevana de—“
“gak
usah lo ulangin lagi! Sekali lagi lo kayak gitu, gue pastiin gue gak akan
tinggal diem kayak tadi!” sela Alvin sebelum Via menyelesaikan penjelasannya.
Alvin seakan tahu kemana arah pembicaraan Via, dan ia seperti sengaja memotong
karna ia memang tidak ingin mendengar penjelasan Via.
“maaf…”
lirih Via sekali lagi.
Dengan
tak acuh, Alvin kembali melanjutkan makan siangnya yang tadi sempat terganggu.
“makan gih!” perintah Alvin kemudian. Alvin menyampaikan perintah itu tanpa
menatap mata Via. Ia takut Via akan melihat mimic wajahnya yang perlahan mulai
melembut.
Tidak
berselang lama, Cakka tiba-tiba muncul diantara mereka dan langsung memecahkan
keheningan yang tercipta. Cakka mengambil posisi tepat dihadapan Via,
“hay
semuaaaa! Boleh gabung, kan?”
Via
tersedak saat tahu Cakka tiba-tiba muncul dan duduk berhadapan dengannya. Cakka
yang tampak cemas melihat Via batuk-batuk seperti itu langung menjulurkan
segelas air putih untuk Via.
“duh
lo keselek ya? Maaf deh udah bikin kaget…” ucap Cakka dengan sangat menyesal.
“uhuk
uhuk… gue gak apa-apa…” jawab Via seraya menerima air pemberian Cakka dan
meminumnya hingga tandas.
Saat
Via begitu sibuk meredakan batuknya, Cakka menatap Alvin sambil menaik-turunkan
kedua alisnya. Ia seolah memberikan kode untuk Alvin agar meninggalkannya hanya
berdua saja dengan Via. Meski sangat tidak rela, pada akhirnya Alvin mengikuti
kode yang Cakka berikan.
“Vi,
Kka… gue pamit ya?” Alvin bangkit dari duduknya.
“lo
mau kemana, Vin?” tanya Via sambil menahan pergelangan tangan Alvin. Saat itu
juga, Alvin langsung membeku. Kedua matanya langsung teralihkan pada
pergelangan tangannya yang saat ini sedang berada dalam genggaman Via.
“gue
harus ke sekertariat sekarang. Gue baru inget gue ada janji sama Pak Dave!”
alibi Alvin sambil menarik pergelangan tangannya dari genggaman Via. Via
mengangguk paham dan tidak mengajukan pertanyaan apapun lagi.
Dengan
sangat berat hati, Alvin akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Cakka dan Via
hanya berdua saja. saat jarak mereka sudah cukup jauh, Alvin memegangi dadanya
yang mendadak terasa sesak.
“elo
gak suka daun bawang ya, Vi?” tanya Cakka saat melihat Via yang tidak memasukan
daun bawang ke dalam bakso nya. Entahlah, melihat Via yang memisahkan daun
bawang dengan bakso nya malah membuat Cakka teringat dengan kebiasaan seseorang
yang sangat ia kenal.
Via
menatap Cakka sejenak lalu mengangguk dengan mantap.
“iya,
gue gak suka. Kenapa?”
“gak
kenapa-napa, Cuma aja gue pikir lo mirip sama seseorang. Dia juga gak suka daun
bawang, sama persis kayak lo….”
“siapa?”
tanya Via,
“Gabriel…”
♫♫♫
=================
From:
Prissy Alexandra
Calv,
kmu masih di sekolah?
I've
been in Jakarta.
I
want to meet you now.
And
I miss you...
=================
Alvin
mendesah pelan sesaat setelah ia membaca pesan singkat yang Prissy kirimkan.
Ini sms pertama yang dikirimkan oleh Prissy sejak Alvin tidak pernah merespon
telfonnya selama beberapa hari terakhir ini. Namun bukannya merasa terkejut
apalagi antusias saat Prissy mengabarinya, Alvin justru tampak biasa saja dan
malah terkesan tidak acuh. Bagi Alvin, masa lalu adalah masa lalu. Selamanya
masa lalu akan selalu ia tempatkan jauh-jauh dibelakang. Itu adalah prinsip
hidup yang akan selalu dipegang olehnya.
Alvin
hanya bingung bagaimana harus menanggapi kedatangan Prissy sekarang. Ia bahkan
tidak pernah berpikir bahwa Prissy akan sampai nekad datang ke Indonesia hanya
untuk menemuinya. Ini semua diluar perkiraannya mengingat bagaimana dulu Prissy
memutuskan hubungan mereka secara sepihak, bahkan tanpa memberikan Alvin
kesempatan untuk berjuang terlebih dahulu.
Mungkin
gadis itu berpikir Alvin masih marah ataupun kecewa. Tapi ternyata tidak, Alvin
sekarang justru baik-baik saja. ia telah melupakan semuanya dan mengubur masa
lalunya dalam-dalam. Bagi Alvin, kenangan lamanya bersama Prissy selama di New
York sudah tidak ada artinya lagi. Perasaannya pun dengan begitu cepat berubah.
Sekarang, ia telah memiliki sepotong hati pengganti.
Setelah
cukup lama diam berpikir, Alvinpun menghapus pesan itu dan memasukan ponselnya
kedalam saku celana seragam kotak-kotaknya. Alvin lalu kembali melanjutkan
permainan basketnya yang tadi sempat terhenti sampai bel tanda masuk berbunyi
dengan nyaring.
Tidak
hanya untuk hari itu, tapi untuk hari-hari berikutnya, Alvin terus mengabaikan
segala bentuk komunikasi non-verbal yang dilakukan oleh Prissy. Sampai pada
hari ketiga, hari dimana Alvin tetap diam dan tidak melakukan tindakan apapun,
Prissy akhirnya nekad datang kesekolah Alvin dan menunggunya didepan gedung
sekolah beberapa saat sebelum bel tanda pulang berbunyi.
Setelah
mendapatkan ijin dari seorang satpam dengan menyampaikan alasannya, Prissy
dengan diantarkan oleh supir pribadinya diperbolehkan masuk ke area sekolah.
Prissy menunggu dengan
sabar didalam mobilnya. Setelah hampir selama setengah jam menunggu, akhirnya
bel tanda pulang berbunyi. Prissy tersenyum lebar. Sebentar lagi ia akan
bertemu dengan Alvin setelah selama satu
bulan lamanya berpisah.
Prissy
lalu memperbaiki aturan rambut panjangnya yang tergerai dengan indahnya saat
melihat sosok Alvin yang sangat ia rindukan berjalan kearah parkiran bersama
Via. Prissy tidak begitu memperhatikan Via, yang menjadi titik focus Prissy
saat ini hanyalah Alvin.
Setelah
merasa penampilannya cukup sempurna, Prissy pun keluar dari dalam mobilnya dan
berjalan menghampiri Alvin yang saat itu sedang berjalan berlawanan arah
dengannya.
Alvin
yang kaget melihat kehadiran Prissy serta-merta menghentikan langkahnya,
begitupun dengan Via. Sama seperti Alvin, ia juga menghentikan langkahnya.
“itu
cewek siapa, Vin? Kayaknya dia mau nyamperin kita deh…” ujar Via seraya
memperhatikan Prissy dengan pandangan menerawang, tapi Alvin malah tidak
sedikitpun menangkap ujaran Via.
“hay, Calvin! Long time no see…” sapa
Prissy sambil melambaikan tangannya saat ia dan Alvin sudah berdiri berhadapan.
Alvin hanya terdiam sambil menatap gadis Indo itu dengan pandangan datar.
‘HAH? KOK DIA MANGGIL ALVIN CALVIN SIH?’
itulah satu pertanyaan yang langsung menyapa otak Via saat mendengar Prissy
memanggil nama Alvin. Dan Via semakin bingung saat Alvin malah tidak bereaksi
apapun ketika Prissy memanggilnya dengan nama itu. ‘Perasaan kalo gue yang manggil Calvin dia marah deh, ini sekarang
kenapa dianya biasa aja?’ bathin Via sambil menatap Alvin dan Prissy secara
bergantian dengan pandangan menyelidik.
“buat
apa kamu dateng kesini?” tanya Alvin singkat. Via yang ada diantara mereka kini
mulai memutuskan untuk menyimak. Siapa tahu saja ada yang sangat penting
diantara mereka. Dan Via sudah bersiap-siap menjambak rambut gadis ini jika
nanti ia berani-beraninya menggoda Alvin-nya.
“kenapa
kamu gak jawab telfon dan bales sms aku?” Prissy malah mengajukan pertanyaan
balik untuk Alvin.
“apa
itu penting?!” tanya Alvin dingin. Pertanyaan itu cukup singkat namun telak
menusuk jantung Prissy.
‘sok romantis banget sih ngomong pake
‘aku-kamu’ segala….’ Sekali lagi, Via hanya bisa membathin.
“it’s very important to me, Calvin. Why do
you ask like that?”
“after you hurt me? Kamu bilang itu
sangat penting setelah kamu nyakitin aku?” cecar Alvin yang mulai merasa tidak
sabar lagi. Alvin tidak menyangka bahwa gadis ini masih punya muka untuk
menemuinya setelah ia menyakiti dan memutuskan Alvin secara sepihak.
“I know I was wrong. Therefore I came to
apologize. Please give me a chance to fix all the mistakes…”
“kamu
bahkan gak mau ngasih aku kesempatan untuk merjuangin kamu, jadi kenapa
sekarang aku harus ngasih kamu kesempatan?”
“CALVIN!!”
seru Prissy dengan emosi tertahan,
“Stop
semuanya sampe disini! Kamu harus tahu, jauh waktu sebelum kamu minta maaf
kayak gini, aku bahkan udah maafin kamu, tapi untuk ngasih kamu kesempatan lagi… sorry, I can’t….”
Dari
pembicaraan yang terjadi antara Prissy dan Alvin, Via dapat menarik kesimpulan
bahwa dimasa lalu, mereka pernah menjalin sebuah hubungan. Dengan kata lain,
Prissy adalah mantan pacar Alvin yang datang kembali untuk menuntut cinta dari
Alvin. Dan makin kesini Via semakin dapat membaca alasan kenapa Alvin tidak
suka dipanggil dengan nama Calvin.
Prissy
terdengar menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, “kita butuh bicara
sekarang, Calv!” Prissy meraih salah
satu tangan Alvin dan menatap Alvin dengan pandangan yang benar-benar memohon.
Alvin
menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia lalu menarik tangannya dari genggaman
Prissy dan menjawab, “sorry… but, I have
nothing to say….”
“sekaliiii ini
saja tolong kasih aku kesempatan untuk bicara Calvin. Setelah ini aku janji,
kalo kamu masih gak mau maafin aku, aku gak akan gangguin kamu lagi… kita
benar-benar butuh bicara, Calvin. Please….”
Alvin
sepertinya mulai luluh. Ia juga berpikir, sebaiknya ia memberikan Prissy
kesempatan untuk berbicara. Toh tidak ada salahnya, kan? Lagipula setiap orang
berhak diberikan kesempatan. Dulu Prissy memang pernah menutup kesempatan untuk
Alvin, tapi bukan berarti Alvin harus ikut-ikutan menutup kesempatan yang sama
untuk Prissy, kan? jika begitu, lalu apa bedanya Alvin dengan Prissy?
Setelah
cukup lama berpikir dan berusaha melawan egonya, Alvin akhirnya mengangguk dan
berkata,
“oke,
kita bicara. But… this last one!
Sekarang kamu ikut aku”
Sebelum
membawa Prissy pergi dari tempat itu, Alvin sempat pamit pada Via terlebih
dahulu.
“Vi…
lo pulang sendirian, ya? gue ada urusan bentar…”
“tapi,
Vin—“
“nanti
gue jelasin semuanya…” ucap Alvin setengah berbisik. Ia lalu mengusap puncak
kepala Via sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Prissy dan membawanya
pergi dari tempat itu.
Via
menatap kedua orang itu dengan nelangsa. Dari bagaimana cara Alvin bersikap,
Via tahu pasti bahwa Prissy pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Alvin
meskipun hanya dimasa lalu.
“hallo
Viaaaa!! Kok ngelamun sendirian disini sih?” tanya Cakka sedikit heran saat
melihat Via yang berdiri mematung ditengah jalan.
Via
menatap Cakka. Dan saat itu juga, Via langsung memiliki sebuah ide untuk
mengikuti kemana Alvin dan Prissy pergi. Setelah ini, Via akan sangat
berterimakasih pada Cakka jika Cakka mau mengantarnya.
Tanpa
meminta ijin terlebih dahulu, Via langsung menaiki motor Cakka dan berkata,
“Kka…
boleh minta tolong?” tanya Via sambil menepuk pelan pundak Cakka.
“anything for you, Via…” jawab Cakka
sedikit gombal.
“tolong
ikutin mobil Alvin dong!” jawab Via seraya menunjuk kearah mobil Alvin yang
baru saja keluar dari area parkir SMA Patuh Karya.
♫♫♫
The
Arion’s Café…
Untuk
menjaga jarak aman, Via dan Cakka duduk dimeja yang jaraknya cukup jauh dengan
jarak meja Alvin dan Prissy. Dan agar tidak ketahuan, Via menutup wajahnya
dengan buku menu sambil sesekali mengintip Alvin dan Prissy dan berusaha
mendengarkan obrolan mereka. Namun sial, Via sama sekali tidak bisa menangkap
suara mereka karna jarak yang cukup jauh.
“percuma,
Vi! Lo gak bakalan denger omongan mereka…” kata Cakka tak acuh sambil melahap
kentang goreng yang tersedia diatas
meja. Namun alih-alih mendengarkan perkataan Cakka, Via tetap focus dengan
usahanya. Cakka mendesah pelan, lama-lama ia merasa gemas juga dengan tingkah
Via yang konyol ini.
“itu
Prissy, Vi. Mantan pacar Alvin. Mereka pacaran waktu Alvin ngikutin program student exchanges di New York…”
Via
terdiam sebentar saat mendengarkan perkataan Cakka, tapi ia sama sekali tidak
menanggapi dan kembali focus dengan kedua targetnya itu. Kali ini perhatian
Cakka tertuju pada leher Via dan melihat kalung SkyLova yang dulu sempat ingin
ia belikan untuk Via. Cakka terkejut dan semakin memperhatikannya baik-baik.
“Vi…
yang lo pake itu kalung SkyLova, ya?” tanya Cakka dengan hati-hati. Cakka tahu
itu kalung SkyLova, tapi yang Cakka ingin tanyakan adalah: siapa yang
memberikan Via kalung itu?
Via
melupakan sejenak kedua targetnya itu saat mendengarkan pertanyaan yang Cakka
ajukan. Via memegang kalungnya, ia lalu tersenyum dan menjawab, “iya…”
“si—siapa
yang ngasih?” Cakka semakin penasaran, apalagi saat melihat dari bagaimana cara
Via menjawab pertanyaannya.
“Alvin.
Dia ngasih ini sebagai hadiah ulang tahun gue…”
“A—ALVIN?!”
Cakka benar-benar kaget kali ini. Alvin? Bagaimana bisa Alvin yang memberikan
kalung itu dan Cakka tidak tahu? Bagaimana juga Cakka bisa tidak menyadari
kalau selama ini Via mengenakan kalung itu?
Awalnya
Cakka curiga kenapa Alvin bisa memberikan kalung itu untuk Via. Tapi setelah
mengingat kalau Alvin dan Via adalah saudara sepupu, semua rasa curiga itu
langsung tersapu. Jelas saja Alvin tahu Via menginginkan kalung itu, Via pasti
sudah bercerita banyak hal pada Alvin.
Tapi
entah kenapa, ada rasa tidak puas dihati kecil Cakka. Entahlah, dia hanya
merasa bahwa ada yang salah diantara Alvin dan Via.
“Vi,
apa lo… udah punya jawaban buat gue?” tanya Cakka yang sekaligus berusaha
menepis semua pikiran anehnya tentang Alvin dan Via. Via kembali terdiam. Kali
ini, untuk sekedar mengangkat wajahnya dan menatap Cakka saja, Via merasa tidak
sanggup.
Via
bahkan belum memikirkan sama sekali jawaban apa yang akan ia berikan untuk
Cakka. Ini mungkin gila dan sangat mustahil, tapi terus terang saja, Via masih
menginginkan kepastian dari Alvin. Via ingin tahu bagaimana perasaan Alvin yang
sesungguhnya terhadap dirinya.
“belum,
Kka… gue masih belum punya jawaban…”
♫♫♫
Alvin
tersenyum kecil dan nyaris tidak kentara saat menyadari bahwa Via diam-diam
mengikutinya bersama Cakka. Meskipun Via berusaha untuk sembunyi, tapi Alvin
masih bisa melihatnya. Alvin merasa aneh akhir-akhir ini, entah kenapa ia
merasa sangat terhibur saat melihat tingkah-tingkah konyol Via yang hampir
selalu ia perlihatkan baik secara sengaja maupun tidak.
“soal
waktu itu aku bener-bener minta maaf, Calv… aku tahu aku gak pantes buat kamu
maafin, tapi… aku bener-bener butuh maaf dari kamu…”
“aku
udah bilang kan diawal, aku udah maafin kamu…” jawab Alvin dingin dan sedikit
enggan.
“tapi
sikap kamu ini bener-bener gak mencerminkan kalau kamu udah maafin aku,
Calvin…”
“terus
kamu mau aku bersikap kayak apa sekarang? Bukannya kita udah berakhir atas
kemauan kamu, terus aku harus bersikap kayak apa?” mau tidak mau Alvin akhirnya
mulai terpancing emosi.
“aku
mau… aku mau kamu balik lagi sama aku. Aku masih sayang banget sama kamu, Calv!
Aku pikir aku bisa ngelupain kamu, tapi ternyata aku salah… aku gak pernah bisa
ngelupain kamu sekeras apapun aku nyoba, yang ada itu semua itu malah nyakitin
aku…”
“ I don’t care about it! Yang aku tahu
kamu udah mutusin aku dan semuanya udah berakhir sekarang…”
“Calvin.. please don't do this! It’s hurt me”
“kamu
tahu, Priss? Kamu terlihat sangat menyedihkan sekarang. Ibaratnya tuh, kamu
udah kayak buang barang kamu ke tong sampah, tapi kemudian kamu ngubek-ngubek
tong sampah itu buat nyari lagi barang yang udah kamu buang. Kamu gak pernah
tau kan? kalo ada orang lain yang udah ngambil barang itu dan membuatnya jadi
lebih berharga… disini sebenarnya siapa yang menyakiti siapa?”
“tapi
kamu bukan ‘barang’ Calvin…”
“tapi
kamu memang nganggep aku ‘barang’ kan? kalo kamu gak nganggep aku ‘barang’,
kamu gak mungkin kayak gini sekarang. Kamu seenaknya buang aku, dan sekarang
kamu seenaknya juga minta aku buat kembali
lagi sama kamu. Kamu pikir hidup ini sesederhana itu apa?”
Prissy
hanya menunduk. Ia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa sekarang.
“aku
pikir udah gak ada lagi yang perlu kita omongin sekarang…” Alvin bangkit dan
berdiri dihadapan Prissy yang nyaris menangis. Tapi sebelum beranjak, Alvin
sempat berkata, “cobalah untuk menghargai apa yang kamu punya. Dan… selamat
menikmati liburan musim panas kamu di sini…”
Alvin
akhirnya benar-benar pergi dan menyisakan Prissy hanya seorang diri ditempat
itu. Tanpa Via duga sebelumnya, ketika Alvin melewati meja yang ia duduki
bersama Cakka, Alvin menarik pergelangan tangan Via dan membawanya keluar
bersama dari tempat itu. Cakka hanya terpaku ditempatnya sambil menatap
kepergian Alvin dan Via yang semakin menjauh dari pandangannya.
Kali
ini Cakka mengalihkan perhatiannya kearah Prissy yang terlihat masih menunduk
dalam dimejanya. Cakka tidak ingin melakukan apapun, tapi mendadak ia kepikiran
sesuatu. Cakka lalu bangkit dari mejanya dan segera berjalan kearah meja counter. Cakka memesan sebuah ice cream
dan langsung memberikannya pada Prissy.
“makan
itu, biar pikiran lo tenang”
Prissy
mengangkat wajahnya dan menatap Cakka dengan nanar.
“who are you?”
♫♫♫
Sejak
pulang dari café, Alvin benar-benar mengurung diri didalam kamarnya. Ia bahkan
tidak mengucapkan sepatah katapun saat diperjalanan pulang tadi. Sikap yang
Alvin tunjukan ini benar-benar membuat Via sangat mencemaskan cowok yang selalu
berkata dingin padanya itu.
Alvin
juga melewatkan jam makan malam mereka. Untungnya Metta sedang sibuk dikantor,
jadi Metta sama sekali tidak tahu-menau bahwa hari ini Alvin mogok makan.
Via
mencoba peruntungannya dengan mengantarkan Alvin makanan kekamarnya.
Syukur-syukur Alvin mau makan meskipun tidak mau menegurnya. Untungnya, Alvin
tidak mengunci pintu kamarnya hingga Via bisa masuk kedalam.
Suasana
kamar Alvin tampak remang-remang saat Via memasukinya. Dengan sangat hati-hati
Via meletakan napan yang diatasnya terdapat makan malam untuk Alvin disalah
satu meja, disudut kamar Alvin. Perhatian Via lalu tertuju pada pintu balkon
kamar Alvin yang sedikit terbuka. Merasa yakin bahwa Alvin sedang dibalkon, Via
pun melangkahkah kakinya kearah balkon hendak menghampiri cowok es itu.
Ternyata
benar saja, Alvin sedang berdiri dimuka balkon sambil menatap jutaan
bintang-bintang yang bertahta diatas langit malam. Ragu-ragu Via mendekati
Alvin dan berdiri sejajar dengannya.
“makan
dulu, Vin. Makanan lo udah gue ditaroh dimeja tuh…” kata Via sehati-hati
mungkin.
“gue
gak laper” jawab Alvin tanpa menatap Via.
“soal
di café tadi, gue—“
“bisa
gak usah bahas masalah itu lagi? Gue lagi bener-bener gak mood sekarang…” potong Alvin sebelum Via menyelesaikan
perkataannya. Ia bahkan masih enggan menatap wajah Via. Via pun langsung
bungkam seketika.
“ada
hal lain yang pengen lo omongin?” tanya Alvin sesaat setelah ia menghela napas
panjangnya.
“hah?”
“kalo
gak ada mending lo keluar deh. Gue lagi pengen sendiri…”
Alvin
berbalik dan memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. Tapi sebelum Alvin
mengayunkan langkah pertamanya, Via cepat-cepat meraih lengan Alvin dan
menahannya agar tidak pergi. Ia benar-benar harus mengatakan sesuatu pada Alvin
sekarang.
Alvin
menatap Via dengan bingung sambil sesekali melihat kearah lengannya yang sedang
berada dalam genggaman Via. Tidak lama, Alvin lalu menarik lengannya dan berkata,
“apa
yang mau lo omongin cepet omongin sekarang”
“hari
ini… Cakka nagih jawaban gue. Tapi gue… gak tahu musti ngasih jawaban apa,
gue—“
“terus
apa urusannya sama gue?” lagi-lagi Alvin menyela perkataan Via.
Via
sempat terdiam sejenak dan berpikir. Apa Alvin benar-benar tidak peka dengan
perasaannya? Jelaslah ini semua ada urusannya dengan Alvin. Yang Via suka itu
Alvin, dan Via butuh kepastian dari Alvin. Bagaimana bisa Via menerima Cakka
begitu saja sementara ia masih belum mendapatkan kepastian apapun dari Alvin?
“jadi
lo bener-bener gak tahu… soal perasaan gue ke elo?”
Alvin
membeku ditempatnya. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa Via akan
mengungkit tentang hal ini. Jujur saja, Alvin masih belum siap.
“gue
gak ngerti lo ngomong apa”
“Vin—“
“lagi
pula gue bukan paranormal yang bisa baca pikiran orang. Gue gak akan pernah
tahu isi hati lo kalo lo gak ngomong langsung…”
Alvin
sudah ingin beranjak pergi lagi saat tiba-tiba Via menahannya dipintu balkon.
Alvin terperangah. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini Via
lakukan. Alvin hanya ingin menghindar, tapi kenapa gadis ini malah mempersulit
semuanya?
“sekarang
gue akan perjelas semuanya disini, sekarang juga!”
Alvin
diam dan memilih untuk tidak merespon. Sebisa mungkin ia harus mampu menahan
dirinya.
“jelas
ini semua ada urusannya sama lo, gimana bisa lo bilang kalo semua ini gak ada
urusannya sama lo…” jeda sesaat untuk menghela napas, “Alvin…. Gue suka sama lo
dan gue butuh kepastian dari lo! Kalo lo gak ngasih gue kepastian, gimana bisa
gue nerima Cakka gitu aja?”
Dan
dalam sekejab, runtuh sudah semua pertahanan yang selama ini Alvin bangun. Hal
yang paling ia takuti akhirnya terjadi. Via menyatakan perasaannya disaat Alvin
bahkan tidak memiliki hak apapun untuk membalas perasaan gadis ini. Detik ini
juga, Via seakan melemparkannya pada dilemma yang mungkin tidak berkesudahan.
Tapi untuk melindungi gadis ini, Alvin harus tetap bungkam dalam aliran
perasaannya.
Alvin
terdengar menghela napas. Ia merasa kedua kakinya sudah tidak mampu lagi
menopang berat tubuhnya. Jika tidak bisa menahan diri, mungkin sudah sejak tadi
Alvin ambruk dihadapan gadis ini bersama reruntuhan-reruntuhan hatinya.
“Vin…
kenapa lo diem aja?” nada suara Via mulai terdengar bergetar lirih. Tapi Alvin
tetap bertahan dengan kebisuannya. “Alvin… jangan diem aja. Tolong bilang
sesuatu, gue—“
“terima
perasaan Cakka, dan kalau bisa, berusaha semampu lo untuk bisa menyukai dia”
“Alvin…”
“mungkin
lo salah paham sama sikap perhatian gue selama ini, gue minta maaf. Tapi lo
musti tahu, kalo semua sikap perhatian yang gue tunjukin sama lo selama ini
hanya semata-mata karna lo adalah saudara angkat gue. Gue Cuma pengen jadi
saudara yang baik buat lo… gak lebih, dan gak akan pernah lebih dari itu…”
Dengan
perlahan, Alvin menurunkan kedua tangan Via dari lengannya. Ia menatap wajah
Via baik-baik sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi.
“tapi
kenapa gue ngerasa kalo lo sedang ngebohongin gue sekarang?”
Pertanyaan
yang Via lemparkan itu langsung membuat Alvin menghentikan langkahnya. Perih
itu seakan merobek jantungnya tanpa ampun. Tidak bisakah gadis ini
membiarkannya pergi? Tidak bisakah gadis ini berhenti membuatnya untuk
mengungkapkan kebohongan-kebohongan lain yang jauh lebih menyakitkan lagi dari
ini? Setidaknya Alvin juga sangat terluka dalam hal ini. Ia bahkan harus
menjelma menjadi seorang yang munafik hanya untuk menutupi kebenaran
perasaannya.
“gue
pengen tahu, pernah gak, sekaliiii aja dalam hidup lo, jantung lo pernah
berdebar karna gue? Pernah gak sekaliiii aja gue terbersit dibenak lo? Gue
pengen tahu, setidaknya sekali aja gue pernah punya arti yang lebih buat lo”
Alvin
masih mematung ditempatnya tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Dalam hati ia
terus merapalkan kata ‘PERNAH’ berkali-kali. Alvin memejamkan matanya dan
berusaha semakin keras untuk menahan dirinya. Tidak, Alvin tidak akan pernah
goyah dengan pendiriannya sekarang.
“apa
sedikitpun lo bener-bener gak punya perasaan sama gue?” tanya Via untuk yang
terakhir kalinya. Meskipun ia tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia
inginkan, tapi Via ingin terus mencoba.
Tanpa
Via duga sebelumnya, Alvin berbalik lalu meraih kedua pundaknya dan
memojokannya dipintu. Via benar-benar kaget. Dan saat sepasang mata mereka
saling bertemu satu sama lain, Via dapat melihat dengan jelas kilat-kilat
dimata Alvin. Alvin seakan menghujam kedua manik matanya sedalam mungkin.
Via
merasakan bahwa Alvin semakin memojokannya dipintu. Dan Via hanya terdiam
pasrah saat Alvin semakin mendekatkan wajahnya dan menghapus jarak diantara
mereka. Via seakan melayang saat sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya dengan
lembut.
Lima
detik berlalu, Alvin kembali membentang jarak diantara mereka. Kedua tangannya
masih bertengger diwajah Via dengan desauan napas yang terdengar memburu. Alvin
lalu menyentuhkan keningnya dengan kening Via. Kedua mata mereka masih
sama-sama terpejam.
“tadinya
gue pikir gue punya rasa sama lo, tapi ternyata… gue sama sekali gak ngerasain
apapun…”
Alvin
menurunkan tangannya lalu pergi begitu saja meninggalkan Via setelah merenggut first kiss-nya. Via langsung ambruk
seketika. Jantungnya seakan meletup-letup jauh didalam sana. Apa benar baru
saja Alvin menciumnya dan mengatakan ia tidak memiliki rasa apapun pada Via?
Apa semudah itu Alvin menarik kesimpulan? Via lalu menyentuh bibirnya dan
meratapi kepergian Alvin yang telah menghilang dari jangkauan pandangnya.
“lo
bener-bener jahat, Calvin Nicholas…”
To Be Continued…



0 comments:
Post a Comment