Flashback…
Diam-diam Alvin mengikuti Cakka dan Via
pergi kesebuah mall. Diawal, Alvin sudah bertekad tidak ingin ikut campur
dengan urusan kedua orang itu. Tapi setelah melewati perdebatan ego yang cukup
sengit, Alvin akhirnya mengikuti mereka sambil terus-menerus merutuki dirinya.
Alvin bersumpah, dia merasa tidak seperti Alvin yang sebenarnya.
Seorang Alvin, bukan tipe cowok yang
mau repot-repot melakukan hal tidak berguna seperti ini. Jika biasanya Alvin
selalu berpikir rasional, maka kali ini hal itu tidak berlaku. Ia berusaha
menepikan segalanya dan hanya mendengar kata hatinya saja.
Alvin bersembunyi dibelakang salah
satu pilar saat melihat Cakka dan Via berhenti didepan sebuah toko perhiasan.
Alvin mengamati mereka baik-baik sampai akhirnya Cakka terlihat pergi dan
meninggalkan Via sendiri disana.
Sekarang focus Alvin hanya tertuju
pada Via. Tanpa ia sadari, ia terus saja mengikuti setiap pergerakan yang Via
lakukan. Sampai pada akhirnya, Alvin mendapati Via yang terlihat begitu jatuh
cinta pada sebuah kalung. Dari bagaimana cara Via menatap kalung itu, Alvin
tahu pasti bahwa Via sangat menginginkannya.
Cakka lalu datang kembali dan
membawa Via pergi dari tempat itu, tapi untuk kali ini Alvin memilih untuk
tidak lagi mengikuti mereka. Alvin hanya diam dan berpikir. Setelah cukup lama,
Alvin pun akhirnya tiba pada sebuah keputusan.
Setelah memastikan bahwa Cakka dan
Via sudah tidak terlihat lagi, Alvin pun segera melangkahkan kaki nya ke toko
perhiasan tadi. Alvin melihat kedalam etalase dan menemukan satu kalung yang
membuat Via jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.
“ada yang bisa saya bantu, Mas?”
seorang Pramuniaga cantik tiba-tiba muncul. Alvin terkesiap sesaat lalu
mengangkat wajahnya dan tersenyum.
“bisa lihat kalung ini?” tanya Alvin
sembari menunjuk salah satu kalung didalam etalase.
Pramuniaga cantik tadi langsung mengambil
kalung itu dan menyerahkannya pada Alvin.
“kalung SkyLova ini limited edition,
Mas. Hanya ada 1 di Indonesia. Kalung ini dirancang eksklusif oleh seorang desainer dari Prancis.
Kalung SkyLova melambangkan cinta sejati yang abadi…” terang Pramuniaga itu
dengan sangat detail.
Awalnya Alvin merasa biasa saja
dengan penjelasan itu, tapi saat mendengar kalimat terakhir sang pramuniaga
yang membawa-bawa kata cinta sejati, Alvin malah merasa geli sendiri. Masakah
ia harus memberikan kalung ini untuk Via?
Alvin kembali berpikir dan mulai
menimbang-nimbang keputusannya untuk membelikan Via kalung ini. Tidak lama…
“saya ambil. Di bungkus yang rapi
ya? Ini mau saya jadikan kado ulang tahun”
“pasti buat pacarnya ya, Mas?”
“emm… iya…”
♫♫♫
“cepetan,
Vi! Nanti telat” kata Alvin dari depan pintu kamar Via yang terbuka.
Via
yang saat itu sedang kuwalahan memasang kalungnya menatap Alvin dari cermin.
Raut wajahnya terlihat begitu payah, “ntar dulu, Vin. Ini kalungnya susah
banget buat dipasangnya…”
Alvin
berdecak kesal, ia sama sekali tidak habis fikir, kenapa ada cewek seribet Via
yang hidup didunia ini. Setelah menghela napas panjangnya, Alvin memasuki kamar
Via dan berdiri tepat dibelakangnya.
“sini
gue pasangin” ujarnya dingin sambil mengambil alih kalung itu dari tangan Via.
Lagi-lagi Via hanya bisa menatap bayangan Alvin dicermin.
Tanpa
ia inginkan, jantungnya beredebar dengan sangat cepat ketika Alvin
memasangkannya kalung itu. Secara tidak sadar, ia tidak juga menurunkan tatapannya
dari wajah Alvin dicermin.
“lo
liat apa?” tanya Alvin dengan wajah datar sesaat setelah ia memasangkan Via
kalungnya. Via yang kaget serta-merta melepaskan tatapannya dari wajah Alvin.
“gak
liat apa-apa…” jawab Via yang merasa sedikit salah tingkah.
“kita
jalan sekarang. Gue gak mau telat”
Alvin
berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Via, tapi kemudian Alvin menghentikan
langkahnya dipintu.
“kalung
itu jangan sampe hilang…” ucapnya tanpa menoleh kebelakang dan kembali
melanjutkan langkahnya.
♫♫♫
Gabriel
menatap Kakeknya yang terlihat sangat tenang menyantap sarapan paginya. Selama
3 bulan terakhir, ini kali pertamanya bagi Gabriel duduk berhadapan bersama
Kakeknya dan menikmati sarapan berdua. Pekerjaan Kakeknya yang seakan tidak ada
habisnya telah banyak menyita waktu mereka, apalagi semenjak kepergian Papa nya
5 tahun yang lalu, praktis, seluruh urusan bisnis dikerjakan sendiri oleh
Kakeknya.
Sejak
semalam ada satu hal yang begitu mengganjal dipikirannya. Gabriel sangat merasa
penasaran dan ingin menanyakannya langsung. Tapi keraguan justru menahannya.
“apa
ada yang ingin kamu tanyakan, Gabriel?”
Tanya
Danar yang seolah mampu membaca pikiran Gabriel. Gabriel terkesiap dan
menghentikan aktifitas memotong sandwichnya. Alih-alih menjawab Gabriel malah
terlihat menimbang-nimbang.
Danar
masih menunggu Gabriel membuka mulut. Sudah 17 tahun ia merawat cucunya ini,
meski jarang bersama, tapi Danar tahu betul bagaimana sikap dan sifat Gabriel.
“kalo
ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan sekarang. Kalau tidak, selamanya kamu
tidak akan pernah mendapatkan jawaban apapun” pancing Danar, ia lalu mengambil
Koran pagi yang ada dimeja makan dan membacanya.
“Via…
bagaimana bisa Opa tau namanya?” Gabriel akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang
sejak semalam mengusik pikirannya. Bagaimanapun, Gabriel harus mencari tahu.
Danar
menghentikan bacaannya. Dari balik korannya, tanpa Gabriel ketahui, otot-otot
diwajahnya tampak menegang, tapi itu tidak lama. Danar berusaha bersikap normal
dan menjauhkan Koran itu darinya hingga tidak lagi menutupi wajahnya.
“Gisselavia
Garneta… dia adalah keponakan dari Adryan Adhyasta, salah satu rekan bisinis
Opa, bagaimana mungkin Opa tidak tahu menau soal anak itu?”
Rasa
tidak puas langsung menyeruak dibenak Gabriel setelah Danar melemparkan
jawaban. Mungkin bagi kebanyakan orang, jawaban itu sangat masuk di akal, tapi
tidak demikian dengan Gabriel. Firasatnya justru mengatakan hal lain yang ia
sendiri bahkan tidak mengerti sama sekali. Semuanya seakan abu-abu, dan Gabriel
ingin terus mencari tahu.
“apa
hanya itu yang ingin kamu tanyakan?” tanya Danar sekali lagi. Gabriel terdiam.
Kediaman
Gabriel itu justru mengisyaratkan jawaban ‘IYA’ untuk Danar. Danar lalu bangkit
dan melangkah pergi dari ruang makan.
“Opa!”
seru Gabriel tanpa menoleh ke belakang.
Danar
serta merta menghentikan langkahnya. Tapi sama seperti Gabriel, Danar tidak
menoleh kebelakang hingga posisi mereka saat ini saling membelakangi satu sama
lain.
“Mama
dan Gissel…” Gabriel menghela napas dalam-dalam lantas melanjutkan dengan nada
lirih, “apa mereka masih hidup? Kalo iya, dimana mereka sekarang?”
Kembali,
otot-otot diwajah Danar tampak menegang. Geraknya terasa mati, sementara
lidahnya seakan kelu. 14 tahun menyimpan rahasia ini dari Gabriel, akhirnya
setelah cukup lama bungkam, Gabriel kembali membuka mulutnya. Jika dulu, ia
bisa dengan sangat gampang memberikan jawaban yang sederhana untuk Gabriel,
maka kali ini lain lagi ceritanya. Danar sadar, bahkan sangat sadar bahwa saat
ini Gabriel telah dewasa, Gabriel juga tumbuh menjadi sosok anak yang cerdas,
ia tidak akan percaya begitu saja jika Danar kembali melemparkan jawaban yang
sama seperti ia masih kecil dulu. Dalam waktu yang sedimikian singkat, Danar
berusaha memutar otaknya dan membentuk kebohongan yang sempurna, seperti yang
sering ia lakukan selama 14 tahun terakhir ini.
“mereka
sudah lama meninggal!” jawab Danar singkat namun telak menghantam dada Gabriel
tanpa ampun.
Mendadak
Gabriel merasakan sesak didadanya. Ia sangat berharap, ada seseorang yang
tiba-tiba berdiri disampingnya dan mengatakan bahwa apa yang baru saja Kakeknya
ucapkan adalah sebuah kebohongan gigantis. Ya… Gabriel hanya butuh seseorang
untuk mengatakannya.
Gabriel
merasakan kedua matanya mulai memanas, pandangannya berangsur kabur karna
airmata yang menggenang sempurna dikedua
pelupuk matanya. Tidak mudah bagi siapapun untuk menerima kenyataan semacam
ini. Setelah selama belasan tahun lamanya menunggu sebuah jawaban, pada
akhirnya ia hanya mendapatkan sebuah jawaban yang justru mematikan setiap
harapannya.
Danar
melanjutkan langkahnya. Tapi langkah itu kembali terhenti saat Gabriel
berteriak lantang dari belakangnya,
“PEMBOHONG!!”
Danar
yang kaget secara otomatis menoleh kebelakang. Urat-urat diwajahnya makin
menegang. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya ada seseorang yang berani
berteriak padanya dan mengatakan bahwa dirinya adalah pembohong. Danar sama
sekali tidak menyangkal itu. Ia bahkan sadar bahwa dirinya memang adalah
seorang pembohong besar.
“tolong
bilang kalo Opa bohong sama Iel! Bahkan sekalipun Opa berbohong, Iel gak akan
marah. Tolong bilang kalo Opa bohong… tolong…” lirih Gabriel dengan terisak.
Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes keluar.
Pedih…
rasanya pedih sekali.
“OPA
PEMBOHONG! IYA, KAN?”
Danar
tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya dan hanya meninggalkan Gabriel
sendiri diruang makan itu. Setibanya diluar, Danar segera menghubungi seseorang
melalui sambungan telfon.
“Adryan…
pastikan identitas Via benar-benar serahasia mungkin. Gabriel mulai memberontak
dan saya merasa sangat terganggu…”
♫♫♫
“gue
udah memutuskan sesuatu…” kata Cakka pada Alvin dan Rio saat mereka sedang
berkumpul dikelas Rio ketika jam istirahat. Hari itu, Gabriel tidak masuk
sekaloh. Ia bahkan tidak memberitahukan alasan kenapa ia tidak masuk sekolah
pada sahabat-sahabatnya.
“memutuskan
apa?” tanya Rio penasaran, tapi Alvin justru menunjukan sikap sebaliknya. Ia
tampak tidak peduli dengan apa yang baru saja Cakka ucapkan. Alvin malah
terlihat sangat santai memainkan gadget-nya.
“gue
bakalan nembak Via…” kata Cakka yakin yang sukses membuat Rio dan Alvin kaget
setengah mati. Alvin kontan mengangkat wajahnya dari gadget yang sejak tadi
menjadi titik fokusnya lalu menatap Cakka dengan tajam. Sulit Alvin percaya
dengan apa yang baru saja Cakka katakan.
“elo
yakin bakalan diterima? Elo kenal sama Via baru 3 minggu, deketnya juga Cuma
seminggu. Dan dengan kenyataan yang ada, gue gak yakin dia bakalan nerima lo…”
ujar Rio skeptis. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Cakka
yang benar-benar ekstrem.
“gue
gak bilang bakalan nembak dia hari ini juga, Yo. Yaaa… gue juga bakalan
ngelakuin pendeketan sama dia. Lo pikir otak gue sesempit itu apa?”
“who knows?”
Cakka
mendengus. Kali ini ia mengalihkan perhatiannya pada Alvin yang masih terlihat
tak percaya, “Vin… dalam hal ini gue butuh bantuan lo. Lo mau kan ngebantuin
gue buat ngedeketin Via? Iya kan, Vin…?” Cakka merajuk sambil menarik-narik
lengan baju Alvin.
“ck…
apaan sih?” Alvin berdecak kesal seraya menepis tangan Cakka.
“lagian
lo main deketin aja… lo udah tanya belom dia udah punya pacar apa belom?” kata
Rio mengingatkan.
Cakka
terdiam sejenak, kali ini ia tidak bisa berkelit lagi. Apa yang Rio katakan
baru saja benar juga. Siapa tahu sikap jutek yang Via tunjukan pada Cakka
selama ini karna memang ia telah memiliki seorang tambatan hati alias pacar.
Cakka kembali menatap Alvin, “Vin… Via udah punya pacar belom?” tanyanya
kemudian.
Alvin
kembali memainkan gadgetnya, lalu dengan tidak peduli Alvin menjawab, “dia
belom punya pacar kok…”
Cakka
menatap Rio seraya menaik-turunkan kedua alisnya yang justru membuat Rio merasa
jijik. Baru saja Cakka bernapas lega dengan jawaban Alvin, Alvin malah kembali
membuat Cakka susah bernapas dengan perkataannya, “tapi udah ada cowok yang dia
taksir” lanjut Alvin seraya mengingat pengakuan Via malam itu padanya. Meskipun
hingga detik ini Alvin masih pura-pura tidak tahu, tapi tak pernah sekalipun
Alvin melupakan pengakuan itu.
“siapa?
Siapa cowok yang dia suka?” tanya Cakka tak sabar.
Alvin
menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “gue gak tau!”
♫♫♫
“ALVIN!!”
Seru Via dari kejauhan saat melihat sosok Alvin yang sedang berjalan sendirian.
Ketika Alvin menghentikan langkahnya dan menoleh, Via buru-buru berlari kecil
kearah Alvin dan menghampirinya.
“lo
ngapain pake lari-lari segala sih?” tanya Alvin yang merasa sedikit kesal.
“gue
takut lo ninggalin gue…” jawab Via dengan napas terengah sambil memegangi
kalung yang melingkari lehernya. Via seakan memastikan kalau kalung pemberian
Alvin masih ada dilehernya dan tidak hilang seperti apa yang ia takuti.
Alvin
menatap Via untuk beberapa saat. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia sama
sekali tidak bisa menyangkal rasa kagumnya pada gadis ini. Bukan karena apapun,
hanya saja melihat Via yang begitu menjaga barang pemberiannya dengan sebaik
mungkin membuat perasaan Alvin terasa hangat.
“ada
apa?” tanya Alvin berusaha terdengar tak acuh.
“makan
siang bareng yuk! Gue lapeeeer…” rengek Via sambil memegangi perutnya dengan
wajah memelas.
Alvin
terdiam sejenak. Sejujurnya ia ingin sekali memberikan jawaban iya untuk Via,
tapi mengingat bagaimana Cakka begitu menyukai Via dan ingin memilikinya malah
membuat Alvin bimbang. Disatu sisi, Alvin tahu bahwa gadis ini sangat
menyukainya. Tapi disisi lain, Alvin tidak bisa membiarkan perasaan gadis ini
terus berkembang disaat ia bahkan tidak bisa memberikan harapan apapun. Ia
tidak ingin mengecewakan Cakka juga Via. Dari sini Alvin mulai berfikir, bahwa
mungkin menjauhi Via adalah jalan terbaik satu-satunya yang harus ia lakukan
tanpa pilihan. Setidaknya untuk saat ini. Setidaknya sampai Via menyadari bahwa
hanya Cakka yang dengan tulus menyukainya.
Bukankah
Alvin harus memberikan Cakka kesempatan untuk membuktikan ketulusannya? Dan
bukankah Cakka berhak untuk berjuang?
“sorry,
Vi. Gue gak bisa. Gue udah ada janji…”
“janji?
Sama siapa?” rasa kecewa tiba-tiba saja menelusupi hati kecilnya tanpa ia
inginkan.
Alvin
mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari objek yang tepat atas
alibi yang akan ia sampaikan. Dan saat melihat sosok Zevana yang sudah hampir dekat
dengan posisinya sekarang, Alvin langsung memanggil namanya seraya melambai,
“Zeze!”
Zevana
sempat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Alvin memanggil
namanya? Benarkah? Apa Zevana tidak salah dengar?
Untuk
memastikan pendengarannya, Zevana menatap kearah Alvin tanpa kata sembari
menunjuk dirinya sendiri dengan isyarat, ‘lo manggil gue?’. Alvin mengangguk
pasti lalu berjalan melewati Via dan menghampiri Zevana. Rasa ngilu entah
darimana datangnya tiba-tiba saja Via rasakan menyerang jantungnya.
“emmm…
keruang osis bentar yuk! Ada yang harus kita omongin” Alvin sedikit mengeraskan
volume suaranya agar Via mendengar.
Zevana
yang bingung hanya bisa mengangguk pasrah saat Alvin menarik lengannya dan
membawanya pergi setengah paksa dari tempat itu.
Via
memegangi dadanya. Kenapa disana rasanya sakit sekali?
♫♫♫
Via
sedang duduk melamun sendirian di kafetaria sambil mengaduk-aduk jus apel
pesanannya saat Cakka tiba-tiba saja muncul dihadapannya dan mengejutkannya.
Via yang kaget kontan saja melemparkan tatapan protes kearah Cakka.
“Cakka!
Bikin kaget aja deeeh…” sungutnya.
“hahaha…
sorry! Abisnya lo ngelamun sih. Gue panggil gak nyahut-nyahut juga. Lo udah
makan siang?”
Via
menggeleng sebagai jawabannya. Ia pun kembali mengaduk-aduk jus apelnya seraya
menumpu kepalanya dengan tangannya.
“kenapa
belom makan?” tanya Cakka lagi.
“gak
laper!” jawab Via singkat.
Sadar
bahwa ada yang tidak beres dengan gadis ini, Cakka pun memindah posisinya dan
duduk disamping Via.
“lo
lagi bête, ya?”
Via
hanya mengangguk.
“boleh
tau kenapa?”
‘GARA-GARA CEWEK CENTIL BERNAMA ZEVANA YANG
SOK-SOKAN NGEDEKETIN ALVIN!!’ teriaknya dalam hati lalu tanpa sadar memukul
meja dengan sekuat tenaga. Apa yang Via lakukan itu kontan saja mengundang
perhatian semua orang. Beberapa dari mereka yang melihat Via terlihat berbisik
satu sama lain lalu cekikikan, tapi Via justru tidak menyadarinya.
Cakka
tersenyum sungkan pada setiap orang sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia
seakan memintakan maaf untuk Via.
Ponsel
Via tiba-tiba saja bergetar. Dengan emosi tertahan ia membuka ponselnya lalu
membaca pesannya yang ternyata dikirimkan oleh Alvin:
======================
From:
Calvin Nicholas
Hari
ini lo pulang sendiri.
Gue
ada latihan basket setelah
jam
sekolah nanti.
======================
Emosi
yang Via tahan akhirnya meledak juga. Jika tidak ingat bahwa ponsel itu adalah
ponsel satu-satu miliknya, mungkin sudah sejak tadi Via membantingnya. Tanpa
sadar, Via lagi-lagi memukul meja.
“LO
JAHAAAAAT!!! KENAPA LO KAYAK GINI SAMA GUEEEE??” teriakan Via itu semakin
menarik perhatian semua orang. Kali ini Cakka menjadi tersangka tunggal. Mereka
berpikir bahwa Cakka lah penyebab utama yang membuat Via sampai harus berteriak
seperti orang gila.
Menyadari
pandangan-pandangan penuh vonis yang mengarah padanya, Cakka buru-buru membela
diri,
“bukan
gue. Bukan gue….”
Tanpa
memperdulikan apa yang terjadi pada Cakka sekarang ini, Via malah melipat kedua
tangannya diatas meja dan menenggelamkan wajahnya disana. Via menangis seperti
anak kecil, dan Cakka pun semakin dibuat kuwalahan.
“hiks
hiks hiks… kenapa lo jahat banget sama gue? Kenapaaaa???” isaknya dengan pelan.
“Viaaaaa!!!
Lo kenapa sih? Udah dong jangan nangis kayak gini. Kan gak enak dilihat banyak
orang…” bujuk Cakka.
Alih-alih
mereda, tangisan Via justru semakin kencang. Cakka yang merasa sudah kehabisan
akalpun menarik kedua pundak Via dan membiarkan gadis itu menangis didadanya.
Semenjak kepergian mendiang Mamanya, ini kali pertamanya Via menangis sampai
seperti ini.
“udah
dooong… jangan nangis lagi! Nanti gue beliin ice cream deh” bujuk Cakka sekali
lagi.
“HWAAAAAA!!
LO PIKIR GUE ANAK KECIL??” Via buru-buru menarik diri dari rangkulan Cakka.
Karna
kebingungan, Cakkapun menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak
gatal. Sekarang apalagi yang harus dia lakukan supaya Via tidak menangis lagi?
“gue
mau ice cream cokelat, hiks…” ucap Via disela-sela isakannya yang berangsur
mereda.
Cakka
terbelalak, lalu memasang raut wajah yang tampak bodoh. Apa baru saja dia tidak
salah dengar?
“hah?”
♫♫♫
Benar
saja, saat jam pulang sekolah tiba, Alvin membiarkan Via pulang sendirian.
Untuk membuktikan apakah Alvin tidak membohonginya, Via pergi ke lapangan
basket untuk memastikan. Dan ternyata, Alvin memang ada disana. Tapi yang
membuat pemandangan itu tampak begitu mengesalkan adalah, Zevana yang juga
adalah anggota tim basket putri terlihat duduk disamping Alvin. Mereka berdua
tampak begitu akrab satu sama lain. Sesekali Zevana terlihat tertawa lepas,
sementara Alvin hanya memandanginya seraya tersenyum hangat. Via merasakan
hatinya nelangsa, Alvin bahkan tidak pernah tersenyum sehangat itu padanya
selama hampir satu bulan lamanya mereka tingga bersama.
Via
menggenggam kuat-kuat kalung SkyLova pemberian Alvin lalu pergi meninggalkan
lapangan basket sambil tertunduk lesu. Melihat kedekatan yang terjalin antara
Alvin dan Zevana membuat seluruh tulang yang menyangga tubuhnya seakan remuk.
Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk menyeret langkahnya.
Menyadari
bahwa sejak tadi Via diam-diam memperhatikannya dari jauh dan kini telah pergi,
Alvin langsung membuyarkan senyuman palsu yang sejak tadi terlukis diwajah
orientalnya. Alvin bangkit dan menjauh dari kumpulan kawan-kawannya.
“Alvin,
lo mau kemana?” tanya Zevana.
“gue
mau kesana bentar” jawab Alvin dingin. Zevana lantas berdiri dan mengamit
lengan Alvin dengan percaya dirinya.
“gue
temenin, ya?”
Alvin
berdecak kesal lantas menyingkirkan tangan Zevana yang melingkari lengannya,
“gak
usah!” jawabnya dingin lalu berjalan melewati Zevana begitu saja dan diam-diam
mengikuti Via yang jaraknya sudah cukup jauh.
Alvin
menatap sosok Via yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Saat
gadis itu sudah benar-benar menghilang, Alvin justru merasakan penyesalan
dihatinya. Apakah ia sampai harus melakukan hal ini? Apakah ia sampai harus
berbuat sejauh ini?
♫♫♫
Via
duduk melamun disebuah halte sambil terus memegangi kalung pemberian Alvin.
Bayangan saat Alvin tersenyum begitu manis pada Zevana kembali terbersit
dibenaknya dan membuat jantungnya terasa sangat panas. Jika tadi Via tidak
berusaha menahan emosinya, mungkin ia akan akan menghampiri Zevana dan
menjambak rambut gadis itu hingga habis. Tapi untungnya Via masih bisa menahan
diri meskipun sulit.
“apa
gue harus ikutan ekskul basket biar cewek centil itu gak bisa ngedeketin Alvin
lagi?” pikir Via tiba-tiba.
Ya!
Sepertinya ide yang sangat bagus. Jika Via benar-benar ikut ekskul basket dia
pasti akan punya lebih banyak kesempatan lagi untuk terus bersama Alvin selain
dirumah. Tapi apa nantinya Alvin tidak akan marah kalau Via ikut ekskul basket?
Masa bodohlah! Siapa yang mau peduli. Asalkan Via bisa menjauhkan Alvin dari
cewek centil itu, apapun akan Via lakukan.
Via
tersenyum puas. Keputusannya kali ini sudah benar-benar bulat. Dan besok ia
akan langsung berbicara dengan Cakka yang bertindak sebagai ketua ekskul
basket. Cakka pasti akan menerimanya. Via yakin.
Perhatian
Via tiba-tiba saja tertuju pada seseorang Nenek-Nenek yang tampak kuwalahan
membawa barang belanjaannya disebrang jalan sana. Sang Nenek terlihat seperti
sudah berbelanja disebuah mini market yang letaknya ada disebrang jalan.
Mengikuti naluri penolongnya, Via serta-merta bangkit dari duduknya dan segera
berinisiatif untuk membantu Nenek itu. Via menyebrang jalan dan langsung
membantu sang Nenek.
“Nek,
sini biar saya bantu bawa barang-barangnya”
Walaupun
sudah berusia lanjut, tapi Nenek itu tetap terlihat cantik. Sang Nenek menatap
Via dengan pandangan mengamati. Saat menangkap adanya binar ketulusan yang
terpancar dari kedua mata teduh Via, Nenek itu langsung menyerahkan sebagian
barangnya pada Via.
“terimakasih
ya, Nak?”
“sama-sama
Nenek… oya, barang-barang ini mau dibawa kemana?” tanya Via kemudian.
“mobil
Eyang ada disana…” jawab Nenek itu sambil menunjuk kesalah satu mobil sedan
berwarna hitam.
Via
dengan dibantu oleh supir Nenek itu memasukan barang-barang belanjaannya
kedalam bagasi. Setelah semuanya selesai, Nenek itu langsung bertanya pada Via.
“namamu
siapa, Nak?”
“hah?
nama saya Via, Nek…” jawab Via sambil meraih tangan kanan Nenek itu dan
menciumnya.
“kenalin,
saya Eyang Rahayu. Kamu panggil saja Eyang, jangan Nenek…”
Eyang
Rahayu terlihat kagum dengan sikap sopan yang ditunjukan oleh Via. Dan entah
kenapa, meskipun ini kali pertamanya mereka bertemu, Eyang Rahayu langsung
menyukai Via. Wajah Via juga mengingatkannya pada seseorang.
“emmm…
sebagai ucapan terimakasih, kamu mau ikut sama Eyang gak?”
“kemana
Eyang?”
“Eyang
punya toko bunga, dan hari ini ada acara makan siang bersama dengan para
karyawan. Kamu ikut ya?”
Via
terlihat berpikir sebelum menjawab. Jika Via ikut, nanti pasti ia akan pulang
telat lagi yang akibatnya akan menimbulkan kemarahan Alvin. Lagipula Via juga
sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Tapi Via kan sedang
ngambek, jadi bodo amatlah Alvin mau marah atau tidak, lagian siapa suruh cuek?
Pikir Via sebelum akhirnya ia mengangguk dan menyetujui ajakan Eyang Rahayu.
Eyang
Rahayu tersenyum lega dan langsung mempersilakan Via masuk kedalam mobilnya.
Sedan
hitam yang membawa Via dan Eyang Rahayu berhenti didepan sebuah toko bunga
dengan nama “Yashinta Florist” setelah menempuh perjalanan selama 10 menit.
Dengan sangat perhatian, Eyang Rahayu menarik pergelangan tangan Via dan
membawanya masuk kedalam.
Saat
mereka masuk kedalam, seorang Wanita cantik yang memasuki usia 40 tahun awal
langsung menyambut mereka dengan senyuman ramah. Wanita cantik yang belakangan
Via tahu adalah anak dari Eyang Rahayu itu tampak sedikit kaget saat melihat Via
untuk yang pertama kalinya.
“i—ini
siapa, Bu?” tanyanya seraya menatap Via dengan pandangan mengamati. Sama
seperti Eyang Rahayu, wajah Via juga mengingatkan wanita itu pada seseorang
dimasa lalunya.
“kenalin,
ini Via. Tadi dia bantuin Ibu bawa barang-barang Ibu di mini market…”
“ha—halo
Tante… kenalin aku Via…” ujar Via sungkan sambil mengulurkan tangannya.
Wanita
itu menyambut uluran tangan Via seraya menyebutkan namanya, “saya Yashinta,
panggil saja Tante Shinta…”
‘Sylvia… kenapa aku seperti melihat kamu
dalam diri anak ini?’ bathin Yashinta tanpa sedikitpun menurunkan
pandangannya dari kedua mata jernih Via.
♫♫♫
Sudah
satu jam berlalu semenjak kepergian Via. Semakin lama rasa cemas didada Alvin
semakin berkecamuk. Dan entah kenapa, Alvin mendadak merasakan sebuah firasat
buruk. Sejak tadi ia berusaha menenangkan dirinya dengan terus berpikir
positif, tapi rasa bersalah terhadap Via yang memenuhi hati kecilnya justru
membuat perasaannya tidak karuan.
Alvin
lalu menghentikan latihannya. Ia bergegas menepi ke pinggir lapangan dan
mencoba menghubungi Via. Sial! Alvin merutuk saat suara operator lah yang
menjawab telfonnya. Saat ini, ponsel Via sedang dalam keadaan tidak aktif, dan
hal itu semakin membuat Alvin risau.
Alvinpun
akhirnya memutuskan untuk menelpon kerumah. Tidak perlu menunggu lama, Mbak
Ningsih langsung menjawab telfonnya.
“hallo
Mbak Ningsih. Apa Via udah pulang?” tanya Alvin yang sudah tidak bisa lagi
menyembunyikan rasa cemasnya.
“belum, Den. Non Via belum pulang”
“sama
sekali belum? Terus dia udah nelpon kerumah dan bilang dia bakalan pulang telat?” Alvin mulai tak sabar.
Sementara nada bicaranya sudah terdengar membentak.
“Non Via juga belum nelpon, Den…” jawab
Mbak Ningsih yang terdengar takut-takut dari sebrang sana.
Alvin
mendesah lalu mematikan sambungan telfonnya. Rasa cemas yang ia rasakan semakin
mencapai puncaknya. Alvin lalu meninju udara untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Kenapa Via selalu seperti ini? Kenapa Via selalu membuat Alvin cemas disaat
Alvin tidak ingin memperdulikannya?
Tanpa
pikir panjang lagi, Alvin langsung meraih tas nya dan memutuskan untuk pulang
tanpa mengganti pakaian. Alvin harus segera menemukan Via dan memberikannya
hukuman karena telah membuat Alvin khawatir.
“ALVIN!!
LO MAU KEMANA??” Teriak Cakka dari kejauhan. Tapi Alvin bahkan tidak
menghiraukan panggilannya. Bagi Alvin, untuk saat ini tidak ada yang lebih
penting lagi selain menemukan Via.
Alvin
membanting keras pintu mobilnya saat tiba dirumah. Ia pun segera memastikan
apakah Via sudah pulang atau belum.
“Mbak
Ningsih, Via masih belum pulang?”
Tanya
Alvin saat Mbak Ningsih membukakan pintu untuknya.
“ma—masih
belum, Den…”
“ergh!
DAMN!”
Alvin
bergegas ke lantai dua rumahnya dan masuk kedalam kamar Via. Ternyata kamar Via
sedang dalam keadaan kosong. Alvin bahkan tidak menemukan tanda-tanda bahwa Via
telah pulang lalu pergi lagi.
Sebuah
kanvas dibalkon kamar Via tiba-tiba menarik perhatian Alvin. Diatas kanvas itu,
Alvin mendapati gambar dirinya dalam bentuk lukisan. Alvin mendekat lalu
memperhatikan lukisan itu baik-baik. Pada lembar kedua kanvas itu, Alvin
lagi-lagi menemukan lukisan wajahnya. Untuk sesaat Alvin terpaku memandangi
lukisan itu.
Tidak
lama….
“Bodoh!
Lo dimana sekarang?!” rutuk Alvin.
♫♫♫
Tepat
pukul 5 sore acara makan-makan yang diadakan oleh Eyang Rahayu di ‘Yashinta
Florist’ pun telah usai. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, Via berhasil
mengambil hati Eyang Rahayu dan Yashinta. Tidak hanya kedua Ibu dan anak itu
saja, tapi Via juga berhasil mengambil hati para karyawan di toko bunga itu
dengan sikap ramah dan bersahabatnya.
“Via…
kamu sekolah di Patuh Karya, kan?” tanya Yashinta saat mereka berdua bersama
Eyang Rahayu sedang minum teh bersama dihalaman belakang toko bunga itu.
Via
mengangguk pasti, “iya, Tan. Kenapa?”
“anak
Tante juga sekolah disana”
“oya??”
tanya Via antusias.
Yashinta
hanya mengangguk lalu menyeruput teh nya. Obrolan mereka terus berlanjut sampai
tidak terasa satu jam sudah waktu yang mereka habiskan. Via yang baru sadar
bahwa hari mulai beranjak gelap buru-buru melirik arlojinya yang saat itu sudah
menunjukan pukul 6 sore. Kedua mata Via membelalak maksimal. Saat ini Alvin
pasti sudah tiba dirumah. Via juga baru ingat bahwa ponsel nya lowbat, jadi Alvin pasti sangat
kesusahan menghubunginya.
“Tante,
Eyang… Via pamit pulang ya? Ini udah sore banget. Nanti takutnya Via nyampe
rumahnya malah kemaleman…”
“tunggu
Via! Nanti biar anak Tante aja yang nganterin kamu pulang. Sekalian kenalan,
kan kalian satu sekolah…” cegat Yashinta buru-buru.
“tapi,
Tan—“
“tenang,
Nak. Rumah Tante deket dari sini kok, jadi pasti anak Tante bakalan cepet
nyampe sini. Kamu pasti gak bakalan kemaleman…”
“ba—baik,
tante…” jawab Via pasrah yang sudah tidak bisa menolak lagi.
Yashinta
tersenyum manis pada Via. Ia lalu bangkit dari kursinya dan sedikit menjauh
dari Via dan Eyang Rahayu untuk menghubungi anaknya.
Hanya
selang 5 menit setelah Yashinta menelpon, anak laki-lakinya pun datang ke toko
bunga. Yashinta tersenyum lalu melambai kearah anaknya yang sedang berdiri
dipintu,
“Cakka,
sini!”
Panggilan
Yashinta itu langsung membuat Via kaget setengah mati. Cakka? Cakka yang mana?
Merasa sangat mengenal nama itu, Via pun menoleh kebelakang. Ternyata dugaannya
beberapa detik yang lalu tepat. Ternyata anaknya Tante Yashinta adalah Cakka.
Cakka yang selama ini mengejar-ngejarnya.
“Ca—Cakka?”
ujar Via terbata.
“Via?
Lo kok disini sih?”
Cakka
dan Via saling menatap satu sama lain dengan pandangan tak percaya. Cakka
bahkan tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Via ditoko bunga
milik Eyangnya.
“kalian
berdua saling kenal?” tanya Eyang Rahayu seraya menatap Cakka dan Via secara
bergantian.
Sementara
Yashinta, ia hanya menatap kedua anak itu tanpa bersuara. VIA? Sepertinya Yashinta
sering mendengar nama itu dari Cakka? Apa Via yang selama ini Cakka maksud
adalah Via yang sekarang sedang bersama mereka? Jika iya, Yashinta akan
langsung merestui putranya dengan gadis ini.
“ooo…
jadi ini dia yang namanya Via? Jadi ini dia cewek yang selama ini kamu certain
ke Bunda?”
“APA?!”
Kaget Via tak percaya.
♫♫♫
“jadi…
lo cerita apa aja tentang gue sama Tante Shinta?” tanya Via pada Cakka yang
saat itu terlihat sangat asyik melahap ice cream vanilla favoritnya.
Sebelum
mengantarkan Via pulang, Cakka memutuskan untuk mengajak Via mampir ke sebuah
playground. Mereka berdua duduk berdampingan disebuah ayunan yang telah
disediakan ditempat bermain khusus anak-anak itu.
“gak
cerita apa-apa. Gue Cuma bilang sama Bunda kalo gue punya temen cewek jutek
plus judes bernama Gisselavia Garneta. Udah, itu aja…” jawab Cakka dengan raut
wajah tanpa dosanya.
Via
serta merta menampakan wajah kesal. Mendadak ia sudah tidak bernapsu lagi
menghabiskan ice cream cokelatnya. “elo? Elo bener-bener cerita kayak gitu?”
Cakka
mengangguk pasti. “kenapa? Itu emang fakta, kan?”
Sumpah
demi apapun itu, Via kesal setengah mati pada cowok yang ada disampingnya ini.
Jika bisa, rasanya Via ingin sekali menendang cowok ini jauh-jauh sampai ke
planet mars. Kalau Cakka benar-benar bercerita seperti itu pada Bundanya, lalu
Via mau taruh dimana mukanya setelah ini jika mereka bertemu lagi nanti? Cakka
memang sangat menyebalkan! Bahkan lebih menyebalkan dari Alvin.
“kenapa
lo musti cerita kayak gitu sih, Kka? Lo tau? Lo udah bikin gue gak punya muka
lagi didepan Nyokap lo…” oceh Via tanpa melihat kearah Cakka. “sekarang gue
bener-bener malu. Apalagi sama Eyang Rahayu… lo tuh kalo mau cerita tentang gue
ya dipikir-pikir dulu kek. Oke, gue ngaku, dulu gue emang jutek sama lo. Tapi
kan sekarang gue udah berubah, kita juga udah temenan…”
Kesal
tidak mendapatkan respon apapun dari Cakka, Viapun menoleh kesamping, disaat
yang bersamaan Cakka langsung mendekatkan wajahnya dengan wajah Via hingga
nyaris menghapus jarak diantara mereka. Kedua mata Via membelalak maksimal dan
napasnya langsung tercekat dalam hitungan detik. Cakka hampir saja menciumnya.
Melihat
respon Via yang langsung terdiam, Cakka malah tersenyum miring, “lo tuh bawel
banget…” kata Cakka dengan pelan dan kembali membentang jarak diantara mereka.
“selama
ini banyak cewek yang tebar pesona sama gue dan secara terang-terangan ngejer
gue, tapi satupun dari mereka gak ada yang bisa bikin gue ngerasa tertarik.
Tapi lo? Yang gak pernah ngelakuin apapun, yang nolak kenalan sama gue saat
kita pertama kali ketemu, yang selalu judesin gue disetiap kesempatan malah
bikin gue… suka sama lo” aku Cakka dengan terus terang didepan Via yang masih
terdiam.
“semua
tau gue suka sama lo, tapi lo gak sedikitpun mau nanggepin dan terkesan menutup
hati buat gue. Hhh… sepertinya butuh perjuangan yang gak main-main buat
ngedapetin hati lo” Cakka tertawa miris di sela ucapannya dan kembali menatap
Via.
Cakka
terdiam untuk beberapa saat. Tidak lama Cakka bangkit dari ayunan yang sejak tadi
ia duduki lalu berlutut dihadapan Via. Ragu-ragu Cakka meraih kedua tangan Via
dan menggenggamnya erat. Awalnya Cakka berpikir bahwa Via akan langsung menepis
tangannya saat Cakka pertama kali menyentuh. Tapi pikiran Cakka itu langsung
terbantahkan saat Via justru tidak melakukan apapun dan menerima perlakuan
Cakka tanpa suara.
“Gisselavia
Garneta… gue bener-bener suka sama lo. Apa lo mau ngasih gue kesempatan buat
jadi… pacar lo?”
♫♫♫
Alvin
tiba dirumah saat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Ia sudah
mencari Via hampir kesemua tempat, ia bahkan mencari Via kerumah Agni, Ify dan
Shilla, tapi hasil yang Alvin dapatkan malah nihil.
Alvin
pulang kerumah dengan putus asa, dan saat ia tiba, keadaan rumah tampak gelap.
Alvin berjalan lesu menaiki anak tangga satu per satu. Ketika melewati kamar
Via, Alvin sempat melihat kedalam, tapi sama seperti tadi sore, kamar Via
tampak kosong.
Alvin
menghela napas panjangnya. Harusnya tadi Alvin tidak membiarkan Via pulang
sendirian. Harusnya tadi Alvin mengantar gadis itu pulang sebelum latihan.
Harusnya, harusnya dan harusnya. Kata ‘Harusnya’ yang terus menari-nari
dikepala Alvin tanpa henti justru semakin membuatnya kalut. Jika gadis itu
benar-benar hilang, lalu apa yang harus Alvin katakan pada kedua orangtua nya?
Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa gadis itu? Dan semua pikiran-pikiran
aneh terus menghantui benaknya. Alvin kian merasa bersalah, tapi ia sadar bahwa
ia telah terlambat untuk menyesal. Semuanya sudah terjadi.
Alvin
lalu memasuki kamarnya. Saat ia menyalakan lampu kamarnya, betapa kagetnya
Alvin ketika ia mendapati Via yang sedang tertidur pulas diatas kasurnya sambil
memeluk erat-erat boneka teddy bear berukuran jumbo yang dulu pernah ia
berikan. Rasa kesal, rasa cemas, rasa takut bercampur kalut, serta semua rasa
yang Alvin rasakan tadi seolah menghilang tanpa bekas saat melihat wajah tenang
Via yang tampak terlelap dalam tidurnya.
Alvin
mendekat dengan sangat hati-hati lalu duduk disamping Via. Dalam keheningan
malam itu, Alvin menatap Via.
10
menit berlalu, Alvin masih betah memandangi wajah gadis ini. Jika bisa, Alvin
ingin terus menatapnya dan menikmati kecantikannya dalam diam. Lalu tanpa Alvin
sadari, salah satu tangannya terangkat dan bergerak perlahan hendak menyentuh
kepala Via. Tapi saat tangan itu nyaris menyentuh ubun-ubun Via, Alvin malah
menjauhkan tangannya dan merutuki apa yang baru saja ia lakukan.
Alvin
kembali menatap Via dalam hening. Semenit berlalu, tanpa Alvin duga, Via
tahu-tahu membuka kedua matanya dan terlihat sedikit kaget saat mendapati Alvin
yang tengah duduk disampingnya sambil menatap dirinya yang sedang tertidur
pulas,
“Alvin?
Lo udah pulang?” tanya Via seraya bangkit dan mengambil posisi duduk dihadapan
Alvin.
Alvin
mendengus. Sebal juga mendengarkan pertanyaan yang dilemparkan oleh Via.
“gak
salah lo nanya kayak gitu sama gue? Harusnya tuh gue yang nanya pertanyaan
bodoh itu sama lo! Darimana aja lo seharian ini?”
“ta—tadi
gue abis nolongin Nenek-nenek bawa barang belanjaannya. Terus sebagai ucapan
terimakasihnya, Nenek itu ngajakin gue makan siang sama anaknya di toko bunga
miliknya. Baru setelah kita ngobrol bareng, gue akhirnya tahu kalo Nenek itu
adalah Eyang Rahayu, dan anaknya Nenek itu adalah Tante Shinta, Bundanya Cakka,
makanya itu—“
“apa
sekarang lo mulai lupa fungsi dari handphone?”
potong Alvin sebelum Via menyelesaikan penjelasannya. Via langsung terdiam.
Sejak awal ia sudah tahu, Alvin pasti akan memarahinya, dan Via sudah bersiap
untuk itu. “lo lupa juga janji lo sama gue waktu itu? Lo tau? Dari tadi sore
gue nyariin lo kesana-kemari, dan ternyata elo yang gue cari-cari malah
enak-enakan makan sama keluarganya Cakka? Apa lo mau mempermainkan gue? HAH?”
cecar Alvin yang merasa sudah benar-benar muak.
Kembali
Via hanya bisa diam. Ia menunduk dalam tanpa berani menatap wajah Alvin. Kalau Alvin
sudah marah begini, ia akan tiba-tiba menjelma menjadi monster yang paling
menyeramkan.
“gue
bisa mentolerir kesalahan apapun, tapi tidak dengan ingkar janji! Dan apa yang
lo lakuin hari ini sudah melampaui batas toleransi gue!”
“Alvin
gue minta ma—“
“lo
gak usah minta maaf, dan sekarang cepet lo keluar dari kamar gue!” usir Alvin
sambil menunjuk kearah pintu. Otot-otot diwajahnya tampak menegang menahan
marah.
Via
semakin tertunduk dalam. Airmata yang sejak tadi tergenang sempurna dipelupuk
matanya akhirnya menetes juga tanpa bisa ia tahan lagi. Selama ini Via selalu
berusaha kuat. Semampunya ia mencoba untuk tidak menitikan airmata walaupun
hanya setetes. Tapi kemarahan Alvin kali ini benar-benar membuatnya sakit hati.
Kenapa Alvin tidak pernah memberikannya kesempatan untuk berbicara?
“apa
perlu lo gue seret keluar?!” bentak Alvin dengan keras.
Tidak
tahan dengan perlakuan Alvin, Via pun mengangkat wajahnya dan menatap Alvin
dengan linangan airmata yang tidak dapat ia bendung lagi. Sementara Alvin, ia
merasa jantungnya dipukul saat melihat gadis ini menangis. Tidak ada yang lebih
buruk bagi Alvin dari ini.
“gue
akan keluar tanpa perlu lo seret! Dan maaf karna gue udah bikin lo nyariin gue…”
lirih Via dengan nada suara bergetar. Ia lalu berlari keluar dari kamar Alvin
dengan perasaan hancur. Mungkin Alvin tidak sadar, tapi ia telah benar-benar
meremukan jantung Via hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang nyaris tidak
berbentuk lagi.
Selepas
kepergian Via, Alvin langsung membuka jaketnya dan membantingnya tanpa ampun
dilantai. Awalnya Alvin tidak ingin marah seperti ini, tapi setelah mendengar
alasan Via yang sebenarnya, entah kenapa Alvin mendadak lepas control dan
membuat semua pertahananya porak poranda.
“errghhh!
Elo kenapa sih, Viiiiinnnn? Kenapa jadi lepas control gini??” ujar Alvin
frustasi sambil mengusap wajahnya. Ia bahkan sama sekali tidak mengerti dengan
apa yang baru saja ia lakukan.
Tanpa
Alvin sadari, ada sesuatu yang luput dari kepekaan hatinya.
To Be Continued...



0 comments:
Post a Comment