Sunday, March 1, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 7)






Flashback…

            Diam-diam Alvin mengikuti Cakka dan Via pergi kesebuah mall. Diawal, Alvin sudah bertekad tidak ingin ikut campur dengan urusan kedua orang itu. Tapi setelah melewati perdebatan ego yang cukup sengit, Alvin akhirnya mengikuti mereka sambil terus-menerus merutuki dirinya. Alvin bersumpah, dia merasa tidak seperti Alvin yang sebenarnya.
            Seorang Alvin, bukan tipe cowok yang mau repot-repot melakukan hal tidak berguna seperti ini. Jika biasanya Alvin selalu berpikir rasional, maka kali ini hal itu tidak berlaku. Ia berusaha menepikan segalanya dan hanya mendengar kata hatinya saja.
            Alvin bersembunyi dibelakang salah satu pilar saat melihat Cakka dan Via berhenti didepan sebuah toko perhiasan. Alvin mengamati mereka baik-baik sampai akhirnya Cakka terlihat pergi dan meninggalkan Via sendiri disana.
            Sekarang focus Alvin hanya tertuju pada Via. Tanpa ia sadari, ia terus saja mengikuti setiap pergerakan yang Via lakukan. Sampai pada akhirnya, Alvin mendapati Via yang terlihat begitu jatuh cinta pada sebuah kalung. Dari bagaimana cara Via menatap kalung itu, Alvin tahu pasti bahwa Via sangat menginginkannya.
            Cakka lalu datang kembali dan membawa Via pergi dari tempat itu, tapi untuk kali ini Alvin memilih untuk tidak lagi mengikuti mereka. Alvin hanya diam dan berpikir. Setelah cukup lama, Alvin pun akhirnya tiba pada sebuah keputusan.
            Setelah memastikan bahwa Cakka dan Via sudah tidak terlihat lagi, Alvin pun segera melangkahkan kaki nya ke toko perhiasan tadi. Alvin melihat kedalam etalase dan menemukan satu kalung yang membuat Via jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.
            “ada yang bisa saya bantu, Mas?” seorang Pramuniaga cantik tiba-tiba muncul. Alvin terkesiap sesaat lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum.
            “bisa lihat kalung ini?” tanya Alvin sembari menunjuk salah satu kalung didalam etalase.
            Pramuniaga cantik tadi langsung mengambil kalung itu dan menyerahkannya pada Alvin.
            “kalung SkyLova ini limited edition, Mas. Hanya ada 1 di Indonesia. Kalung ini dirancang  eksklusif oleh seorang desainer dari Prancis. Kalung SkyLova melambangkan cinta sejati yang abadi…” terang Pramuniaga itu dengan sangat detail.
            Awalnya Alvin merasa biasa saja dengan penjelasan itu, tapi saat mendengar kalimat terakhir sang pramuniaga yang membawa-bawa kata cinta sejati, Alvin malah merasa geli sendiri. Masakah ia harus memberikan kalung ini untuk Via?
            Alvin kembali berpikir dan mulai menimbang-nimbang keputusannya untuk membelikan Via kalung ini. Tidak lama…

            “saya ambil. Di bungkus yang rapi ya? Ini mau saya jadikan kado ulang tahun”

            “pasti buat pacarnya ya, Mas?”

            “emm… iya…”



♫♫♫


            “cepetan, Vi! Nanti telat” kata Alvin dari depan pintu kamar Via yang terbuka.
            Via yang saat itu sedang kuwalahan memasang kalungnya menatap Alvin dari cermin. Raut wajahnya terlihat begitu payah, “ntar dulu, Vin. Ini kalungnya susah banget buat dipasangnya…”
            Alvin berdecak kesal, ia sama sekali tidak habis fikir, kenapa ada cewek seribet Via yang hidup didunia ini. Setelah menghela napas panjangnya, Alvin memasuki kamar Via dan berdiri tepat dibelakangnya.
            “sini gue pasangin” ujarnya dingin sambil mengambil alih kalung itu dari tangan Via. Lagi-lagi Via hanya bisa menatap bayangan Alvin dicermin.
            Tanpa ia inginkan, jantungnya beredebar dengan sangat cepat ketika Alvin memasangkannya kalung itu. Secara tidak sadar, ia tidak juga menurunkan tatapannya dari wajah Alvin dicermin.
            “lo liat apa?” tanya Alvin dengan wajah datar sesaat setelah ia memasangkan Via kalungnya. Via yang kaget serta-merta melepaskan tatapannya dari wajah Alvin.           
            “gak liat apa-apa…” jawab Via yang merasa sedikit salah tingkah.
            “kita jalan sekarang. Gue gak mau telat”
            Alvin berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Via, tapi kemudian Alvin menghentikan langkahnya dipintu.

            “kalung itu jangan sampe hilang…” ucapnya tanpa menoleh kebelakang dan kembali melanjutkan langkahnya.



♫♫♫

            Gabriel menatap Kakeknya yang terlihat sangat tenang menyantap sarapan paginya. Selama 3 bulan terakhir, ini kali pertamanya bagi Gabriel duduk berhadapan bersama Kakeknya dan menikmati sarapan berdua. Pekerjaan Kakeknya yang seakan tidak ada habisnya telah banyak menyita waktu mereka, apalagi semenjak kepergian Papa nya 5 tahun yang lalu, praktis, seluruh urusan bisnis dikerjakan sendiri oleh Kakeknya.
            Sejak semalam ada satu hal yang begitu mengganjal dipikirannya. Gabriel sangat merasa penasaran dan ingin menanyakannya langsung. Tapi keraguan justru menahannya.
            “apa ada yang ingin kamu tanyakan, Gabriel?”
            Tanya Danar yang seolah mampu membaca pikiran Gabriel. Gabriel terkesiap dan menghentikan aktifitas memotong sandwichnya. Alih-alih menjawab Gabriel malah terlihat menimbang-nimbang.
            Danar masih menunggu Gabriel membuka mulut. Sudah 17 tahun ia merawat cucunya ini, meski jarang bersama, tapi Danar tahu betul bagaimana sikap dan sifat Gabriel.
            “kalo ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan sekarang. Kalau tidak, selamanya kamu tidak akan pernah mendapatkan jawaban apapun” pancing Danar, ia lalu mengambil Koran pagi yang ada dimeja makan dan membacanya.
            “Via… bagaimana bisa Opa tau namanya?” Gabriel akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sejak semalam mengusik pikirannya. Bagaimanapun, Gabriel harus mencari tahu.
            Danar menghentikan bacaannya. Dari balik korannya, tanpa Gabriel ketahui, otot-otot diwajahnya tampak menegang, tapi itu tidak lama. Danar berusaha bersikap normal dan menjauhkan Koran itu darinya hingga tidak lagi menutupi wajahnya.
            “Gisselavia Garneta… dia adalah keponakan dari Adryan Adhyasta, salah satu rekan bisinis Opa, bagaimana mungkin Opa tidak tahu menau soal anak itu?”
            Rasa tidak puas langsung menyeruak dibenak Gabriel setelah Danar melemparkan jawaban. Mungkin bagi kebanyakan orang, jawaban itu sangat masuk di akal, tapi tidak demikian dengan Gabriel. Firasatnya justru mengatakan hal lain yang ia sendiri bahkan tidak mengerti sama sekali. Semuanya seakan abu-abu, dan Gabriel ingin terus mencari tahu.
            “apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan?” tanya Danar sekali lagi. Gabriel terdiam.
            Kediaman Gabriel itu justru mengisyaratkan jawaban ‘IYA’ untuk Danar. Danar lalu bangkit dan melangkah pergi dari ruang makan.
            “Opa!” seru Gabriel tanpa menoleh ke belakang.
            Danar serta merta menghentikan langkahnya. Tapi sama seperti Gabriel, Danar tidak menoleh kebelakang hingga posisi mereka saat ini saling membelakangi satu sama lain.
            “Mama dan Gissel…” Gabriel menghela napas dalam-dalam lantas melanjutkan dengan nada lirih, “apa mereka masih hidup? Kalo iya, dimana mereka sekarang?”
            Kembali, otot-otot diwajah Danar tampak menegang. Geraknya terasa mati, sementara lidahnya seakan kelu. 14 tahun menyimpan rahasia ini dari Gabriel, akhirnya setelah cukup lama bungkam, Gabriel kembali membuka mulutnya. Jika dulu, ia bisa dengan sangat gampang memberikan jawaban yang sederhana untuk Gabriel, maka kali ini lain lagi ceritanya. Danar sadar, bahkan sangat sadar bahwa saat ini Gabriel telah dewasa, Gabriel juga tumbuh menjadi sosok anak yang cerdas, ia tidak akan percaya begitu saja jika Danar kembali melemparkan jawaban yang sama seperti ia masih kecil dulu. Dalam waktu yang sedimikian singkat, Danar berusaha memutar otaknya dan membentuk kebohongan yang sempurna, seperti yang sering ia lakukan selama 14 tahun terakhir ini.
            “mereka sudah lama meninggal!” jawab Danar singkat namun telak menghantam dada Gabriel tanpa ampun.
            Mendadak Gabriel merasakan sesak didadanya. Ia sangat berharap, ada seseorang yang tiba-tiba berdiri disampingnya dan mengatakan bahwa apa yang baru saja Kakeknya ucapkan adalah sebuah kebohongan gigantis. Ya… Gabriel hanya butuh seseorang untuk mengatakannya.
            Gabriel merasakan kedua matanya mulai memanas, pandangannya berangsur kabur karna airmata yang  menggenang sempurna dikedua pelupuk matanya. Tidak mudah bagi siapapun untuk menerima kenyataan semacam ini. Setelah selama belasan tahun lamanya menunggu sebuah jawaban, pada akhirnya ia hanya mendapatkan sebuah jawaban yang justru mematikan setiap harapannya.
            Danar melanjutkan langkahnya. Tapi langkah itu kembali terhenti saat Gabriel berteriak lantang dari belakangnya,

            “PEMBOHONG!!”

            Danar yang kaget secara otomatis menoleh kebelakang. Urat-urat diwajahnya makin menegang. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya ada seseorang yang berani berteriak padanya dan mengatakan bahwa dirinya adalah pembohong. Danar sama sekali tidak menyangkal itu. Ia bahkan sadar bahwa dirinya memang adalah seorang pembohong besar.

            “tolong bilang kalo Opa bohong sama Iel! Bahkan sekalipun Opa berbohong, Iel gak akan marah. Tolong bilang kalo Opa bohong… tolong…” lirih Gabriel dengan terisak. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes keluar.
            Pedih… rasanya pedih sekali.

            “OPA PEMBOHONG! IYA, KAN?”

            Danar tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya dan hanya meninggalkan Gabriel sendiri diruang makan itu. Setibanya diluar, Danar segera menghubungi seseorang melalui sambungan telfon.

            “Adryan… pastikan identitas Via benar-benar serahasia mungkin. Gabriel mulai memberontak dan saya merasa sangat terganggu…”


♫♫♫


            “gue udah memutuskan sesuatu…” kata Cakka pada Alvin dan Rio saat mereka sedang berkumpul dikelas Rio ketika jam istirahat. Hari itu, Gabriel tidak masuk sekaloh. Ia bahkan tidak memberitahukan alasan kenapa ia tidak masuk sekolah pada sahabat-sahabatnya.
            “memutuskan apa?” tanya Rio penasaran, tapi Alvin justru menunjukan sikap sebaliknya. Ia tampak tidak peduli dengan apa yang baru saja Cakka ucapkan. Alvin malah terlihat sangat santai memainkan gadget-nya.
            “gue bakalan nembak Via…” kata Cakka yakin yang sukses membuat Rio dan Alvin kaget setengah mati. Alvin kontan mengangkat wajahnya dari gadget yang sejak tadi menjadi titik fokusnya lalu menatap Cakka dengan tajam. Sulit Alvin percaya dengan apa yang baru saja Cakka katakan.
            “elo yakin bakalan diterima? Elo kenal sama Via baru 3 minggu, deketnya juga Cuma seminggu. Dan dengan kenyataan yang ada, gue gak yakin dia bakalan nerima lo…” ujar Rio skeptis. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Cakka yang benar-benar ekstrem.
            “gue gak bilang bakalan nembak dia hari ini juga, Yo. Yaaa… gue juga bakalan ngelakuin pendeketan sama dia. Lo pikir otak gue sesempit itu apa?”
            “who knows?
            Cakka mendengus. Kali ini ia mengalihkan perhatiannya pada Alvin yang masih terlihat tak percaya, “Vin… dalam hal ini gue butuh bantuan lo. Lo mau kan ngebantuin gue buat ngedeketin Via? Iya kan, Vin…?” Cakka merajuk sambil menarik-narik lengan baju Alvin.
            “ck… apaan sih?” Alvin berdecak kesal seraya menepis tangan Cakka.
            “lagian lo main deketin aja… lo udah tanya belom dia udah punya pacar apa belom?” kata Rio mengingatkan.
            Cakka terdiam sejenak, kali ini ia tidak bisa berkelit lagi. Apa yang Rio katakan baru saja benar juga. Siapa tahu sikap jutek yang Via tunjukan pada Cakka selama ini karna memang ia telah memiliki seorang tambatan hati alias pacar. Cakka kembali menatap Alvin, “Vin… Via udah punya pacar belom?” tanyanya kemudian.
            Alvin kembali memainkan gadgetnya, lalu dengan tidak peduli Alvin menjawab, “dia belom punya pacar kok…”
            Cakka menatap Rio seraya menaik-turunkan kedua alisnya yang justru membuat Rio merasa jijik. Baru saja Cakka bernapas lega dengan jawaban Alvin, Alvin malah kembali membuat Cakka susah bernapas dengan perkataannya, “tapi udah ada cowok yang dia taksir” lanjut Alvin seraya mengingat pengakuan Via malam itu padanya. Meskipun hingga detik ini Alvin masih pura-pura tidak tahu, tapi tak pernah sekalipun Alvin melupakan pengakuan itu.

            “siapa? Siapa cowok yang dia suka?” tanya Cakka tak sabar.

            Alvin menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab,  “gue gak tau!”




♫♫♫


            “ALVIN!!” Seru Via dari kejauhan saat melihat sosok Alvin yang sedang berjalan sendirian. Ketika Alvin menghentikan langkahnya dan menoleh, Via buru-buru berlari kecil kearah Alvin dan menghampirinya.
            “lo ngapain pake lari-lari segala sih?” tanya Alvin yang merasa sedikit kesal.
            “gue takut lo ninggalin gue…” jawab Via dengan napas terengah sambil memegangi kalung yang melingkari lehernya. Via seakan memastikan kalau kalung pemberian Alvin masih ada dilehernya dan tidak hilang seperti apa yang ia takuti.
            Alvin menatap Via untuk beberapa saat. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia sama sekali tidak bisa menyangkal rasa kagumnya pada gadis ini. Bukan karena apapun, hanya saja melihat Via yang begitu menjaga barang pemberiannya dengan sebaik mungkin membuat perasaan Alvin terasa hangat.
            “ada apa?” tanya Alvin berusaha terdengar tak acuh.
            “makan siang bareng yuk! Gue lapeeeer…” rengek Via sambil memegangi perutnya dengan wajah memelas.
            Alvin terdiam sejenak. Sejujurnya ia ingin sekali memberikan jawaban iya untuk Via, tapi mengingat bagaimana Cakka begitu menyukai Via dan ingin memilikinya malah membuat Alvin bimbang. Disatu sisi, Alvin tahu bahwa gadis ini sangat menyukainya. Tapi disisi lain, Alvin tidak bisa membiarkan perasaan gadis ini terus berkembang disaat ia bahkan tidak bisa memberikan harapan apapun. Ia tidak ingin mengecewakan Cakka juga Via. Dari sini Alvin mulai berfikir, bahwa mungkin menjauhi Via adalah jalan terbaik satu-satunya yang harus ia lakukan tanpa pilihan. Setidaknya untuk saat ini. Setidaknya sampai Via menyadari bahwa hanya Cakka yang dengan tulus menyukainya.
            Bukankah Alvin harus memberikan Cakka kesempatan untuk membuktikan ketulusannya? Dan bukankah Cakka berhak untuk berjuang?
            “sorry, Vi. Gue gak bisa. Gue udah ada janji…”
            “janji? Sama siapa?” rasa kecewa tiba-tiba saja menelusupi hati kecilnya tanpa ia inginkan.
            Alvin mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari objek yang tepat atas alibi yang akan ia sampaikan. Dan saat melihat sosok Zevana yang sudah hampir dekat dengan posisinya sekarang, Alvin langsung memanggil namanya seraya melambai,
            “Zeze!”
            Zevana sempat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Alvin memanggil namanya? Benarkah? Apa Zevana tidak salah dengar?
            Untuk memastikan pendengarannya, Zevana menatap kearah Alvin tanpa kata sembari menunjuk dirinya sendiri dengan isyarat, ‘lo manggil gue?’. Alvin mengangguk pasti lalu berjalan melewati Via dan menghampiri Zevana. Rasa ngilu entah darimana datangnya tiba-tiba saja Via rasakan menyerang jantungnya.
            “emmm… keruang osis bentar yuk! Ada yang harus kita omongin” Alvin sedikit mengeraskan volume suaranya agar Via mendengar.
            Zevana yang bingung hanya bisa mengangguk pasrah saat Alvin menarik lengannya dan membawanya pergi setengah paksa dari tempat itu.

            Via memegangi dadanya. Kenapa disana rasanya sakit sekali?


♫♫♫

            Via sedang duduk melamun sendirian di kafetaria sambil mengaduk-aduk jus apel pesanannya saat Cakka tiba-tiba saja muncul dihadapannya dan mengejutkannya. Via yang kaget kontan saja melemparkan tatapan protes kearah Cakka.
            “Cakka! Bikin kaget aja deeeh…” sungutnya.
            “hahaha… sorry! Abisnya lo ngelamun sih. Gue panggil gak nyahut-nyahut juga. Lo udah makan siang?”
            Via menggeleng sebagai jawabannya. Ia pun kembali mengaduk-aduk jus apelnya seraya menumpu kepalanya dengan tangannya.
            “kenapa belom makan?” tanya Cakka lagi.
            “gak laper!” jawab Via singkat.
            Sadar bahwa ada yang tidak beres dengan gadis ini, Cakka pun memindah posisinya dan duduk disamping Via.
            “lo lagi bête, ya?”
            Via hanya mengangguk.
            “boleh tau kenapa?”
            ‘GARA-GARA CEWEK CENTIL BERNAMA ZEVANA YANG SOK-SOKAN NGEDEKETIN ALVIN!!’ teriaknya dalam hati lalu tanpa sadar memukul meja dengan sekuat tenaga. Apa yang Via lakukan itu kontan saja mengundang perhatian semua orang. Beberapa dari mereka yang melihat Via terlihat berbisik satu sama lain lalu cekikikan, tapi Via justru tidak menyadarinya.
            Cakka tersenyum sungkan pada setiap orang sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia seakan memintakan maaf untuk Via.
            Ponsel Via tiba-tiba saja bergetar. Dengan emosi tertahan ia membuka ponselnya lalu membaca pesannya yang ternyata dikirimkan oleh Alvin:

======================
From: Calvin Nicholas

Hari ini lo pulang sendiri.
Gue ada latihan basket setelah
jam sekolah nanti.
======================


            Emosi yang Via tahan akhirnya meledak juga. Jika tidak ingat bahwa ponsel itu adalah ponsel satu-satu miliknya, mungkin sudah sejak tadi Via membantingnya. Tanpa sadar, Via lagi-lagi memukul meja.
            “LO JAHAAAAAT!!! KENAPA LO KAYAK GINI SAMA GUEEEE??” teriakan Via itu semakin menarik perhatian semua orang. Kali ini Cakka menjadi tersangka tunggal. Mereka berpikir bahwa Cakka lah penyebab utama yang membuat Via sampai harus berteriak seperti orang gila.
            Menyadari pandangan-pandangan penuh vonis yang mengarah padanya, Cakka buru-buru membela diri,
            “bukan gue. Bukan gue….”
            Tanpa memperdulikan apa yang terjadi pada Cakka sekarang ini, Via malah melipat kedua tangannya diatas meja dan menenggelamkan wajahnya disana. Via menangis seperti anak kecil, dan Cakka pun semakin dibuat kuwalahan.

            “hiks hiks hiks… kenapa lo jahat banget sama gue? Kenapaaaa???” isaknya dengan pelan.

            “Viaaaaa!!! Lo kenapa sih? Udah dong jangan nangis kayak gini. Kan gak enak dilihat banyak orang…” bujuk Cakka.
            Alih-alih mereda, tangisan Via justru semakin kencang. Cakka yang merasa sudah kehabisan akalpun menarik kedua pundak Via dan membiarkan gadis itu menangis didadanya. Semenjak kepergian mendiang Mamanya, ini kali pertamanya Via menangis sampai seperti ini.

            “udah dooong… jangan nangis lagi! Nanti gue beliin ice cream deh” bujuk Cakka sekali lagi.

            “HWAAAAAA!! LO PIKIR GUE ANAK KECIL??” Via buru-buru menarik diri dari rangkulan Cakka.
            Karna kebingungan, Cakkapun menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Sekarang apalagi yang harus dia lakukan supaya Via tidak menangis lagi?

            “gue mau ice cream cokelat, hiks…” ucap Via disela-sela isakannya yang berangsur mereda.

            Cakka terbelalak, lalu memasang raut wajah yang tampak bodoh. Apa baru saja dia tidak salah dengar?

            “hah?”


♫♫♫

            Benar saja, saat jam pulang sekolah tiba, Alvin membiarkan Via pulang sendirian. Untuk membuktikan apakah Alvin tidak membohonginya, Via pergi ke lapangan basket untuk memastikan. Dan ternyata, Alvin memang ada disana. Tapi yang membuat pemandangan itu tampak begitu mengesalkan adalah, Zevana yang juga adalah anggota tim basket putri terlihat duduk disamping Alvin. Mereka berdua tampak begitu akrab satu sama lain. Sesekali Zevana terlihat tertawa lepas, sementara Alvin hanya memandanginya seraya tersenyum hangat. Via merasakan hatinya nelangsa, Alvin bahkan tidak pernah tersenyum sehangat itu padanya selama hampir satu bulan lamanya mereka tingga bersama.
            Via menggenggam kuat-kuat kalung SkyLova pemberian Alvin lalu pergi meninggalkan lapangan basket sambil tertunduk lesu. Melihat kedekatan yang terjalin antara Alvin dan Zevana membuat seluruh tulang yang menyangga tubuhnya seakan remuk. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk menyeret langkahnya.
            Menyadari bahwa sejak tadi Via diam-diam memperhatikannya dari jauh dan kini telah pergi, Alvin langsung membuyarkan senyuman palsu yang sejak tadi terlukis diwajah orientalnya. Alvin bangkit dan menjauh dari kumpulan kawan-kawannya.
            “Alvin, lo mau kemana?” tanya Zevana.
            “gue mau kesana bentar” jawab Alvin dingin. Zevana lantas berdiri dan mengamit lengan Alvin dengan percaya dirinya.
            “gue temenin, ya?”
            Alvin berdecak kesal lantas menyingkirkan tangan Zevana yang melingkari lengannya,
            “gak usah!” jawabnya dingin lalu berjalan melewati Zevana begitu saja dan diam-diam mengikuti Via yang jaraknya sudah cukup jauh.
            Alvin menatap sosok Via yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Saat gadis itu sudah benar-benar menghilang, Alvin justru merasakan penyesalan dihatinya. Apakah ia sampai harus melakukan hal ini? Apakah ia sampai harus berbuat sejauh ini?



♫♫♫

            Via duduk melamun disebuah halte sambil terus memegangi kalung pemberian Alvin. Bayangan saat Alvin tersenyum begitu manis pada Zevana kembali terbersit dibenaknya dan membuat jantungnya terasa sangat panas. Jika tadi Via tidak berusaha menahan emosinya, mungkin ia akan akan menghampiri Zevana dan menjambak rambut gadis itu hingga habis. Tapi untungnya Via masih bisa menahan diri meskipun sulit.
            “apa gue harus ikutan ekskul basket biar cewek centil itu gak bisa ngedeketin Alvin lagi?” pikir Via tiba-tiba.
            Ya! Sepertinya ide yang sangat bagus. Jika Via benar-benar ikut ekskul basket dia pasti akan punya lebih banyak kesempatan lagi untuk terus bersama Alvin selain dirumah. Tapi apa nantinya Alvin tidak akan marah kalau Via ikut ekskul basket? Masa bodohlah! Siapa yang mau peduli. Asalkan Via bisa menjauhkan Alvin dari cewek centil itu, apapun akan Via lakukan.
            Via tersenyum puas. Keputusannya kali ini sudah benar-benar bulat. Dan besok ia akan langsung berbicara dengan Cakka yang bertindak sebagai ketua ekskul basket. Cakka pasti akan menerimanya. Via yakin.
            Perhatian Via tiba-tiba saja tertuju pada seseorang Nenek-Nenek yang tampak kuwalahan membawa barang belanjaannya disebrang jalan sana. Sang Nenek terlihat seperti sudah berbelanja disebuah mini market yang letaknya ada disebrang jalan. Mengikuti naluri penolongnya, Via serta-merta bangkit dari duduknya dan segera berinisiatif untuk membantu Nenek itu. Via menyebrang jalan dan langsung membantu sang Nenek.
            “Nek, sini biar saya bantu bawa barang-barangnya”
            Walaupun sudah berusia lanjut, tapi Nenek itu tetap terlihat cantik. Sang Nenek menatap Via dengan pandangan mengamati. Saat menangkap adanya binar ketulusan yang terpancar dari kedua mata teduh Via, Nenek itu langsung menyerahkan sebagian barangnya pada Via.
            “terimakasih ya, Nak?”
            “sama-sama Nenek… oya, barang-barang ini mau dibawa kemana?” tanya Via kemudian.
            “mobil Eyang ada disana…” jawab Nenek itu sambil menunjuk kesalah satu mobil sedan berwarna hitam.
            Via dengan dibantu oleh supir Nenek itu memasukan barang-barang belanjaannya kedalam bagasi. Setelah semuanya selesai, Nenek itu langsung bertanya pada Via.
            “namamu siapa, Nak?”
            “hah? nama saya Via, Nek…” jawab Via sambil meraih tangan kanan Nenek itu dan menciumnya.
            “kenalin, saya Eyang Rahayu. Kamu panggil saja Eyang, jangan Nenek…”
            Eyang Rahayu terlihat kagum dengan sikap sopan yang ditunjukan oleh Via. Dan entah kenapa, meskipun ini kali pertamanya mereka bertemu, Eyang Rahayu langsung menyukai Via. Wajah Via juga mengingatkannya pada seseorang.
            “emmm… sebagai ucapan terimakasih, kamu mau ikut sama Eyang gak?”
            “kemana Eyang?”
            “Eyang punya toko bunga, dan hari ini ada acara makan siang bersama dengan para karyawan. Kamu ikut ya?”
            Via terlihat berpikir sebelum menjawab. Jika Via ikut, nanti pasti ia akan pulang telat lagi yang akibatnya akan menimbulkan kemarahan Alvin. Lagipula Via juga sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Tapi Via kan sedang ngambek, jadi bodo amatlah Alvin mau marah atau tidak, lagian siapa suruh cuek? Pikir Via sebelum akhirnya ia mengangguk dan menyetujui ajakan Eyang Rahayu.
            Eyang Rahayu tersenyum lega dan langsung mempersilakan Via masuk kedalam mobilnya.
            Sedan hitam yang membawa Via dan Eyang Rahayu berhenti didepan sebuah toko bunga dengan nama “Yashinta Florist” setelah menempuh perjalanan selama 10 menit. Dengan sangat perhatian, Eyang Rahayu menarik pergelangan tangan Via dan membawanya masuk kedalam.
            Saat mereka masuk kedalam, seorang Wanita cantik yang memasuki usia 40 tahun awal langsung menyambut mereka dengan senyuman ramah. Wanita cantik yang belakangan Via tahu adalah anak dari Eyang Rahayu itu tampak sedikit kaget saat melihat Via untuk yang pertama kalinya.
            “i—ini siapa, Bu?” tanyanya seraya menatap Via dengan pandangan mengamati. Sama seperti Eyang Rahayu, wajah Via juga mengingatkan wanita itu pada seseorang dimasa lalunya.
            “kenalin, ini Via. Tadi dia bantuin Ibu bawa barang-barang Ibu di mini market…”
            “ha—halo Tante… kenalin aku Via…” ujar Via sungkan sambil mengulurkan tangannya.
            Wanita itu menyambut uluran tangan Via seraya menyebutkan namanya, “saya Yashinta, panggil saja Tante Shinta…”


            ‘Sylvia… kenapa aku seperti melihat kamu dalam diri anak ini?’ bathin Yashinta tanpa sedikitpun menurunkan pandangannya dari kedua mata jernih Via.



♫♫♫

            Sudah satu jam berlalu semenjak kepergian Via. Semakin lama rasa cemas didada Alvin semakin berkecamuk. Dan entah kenapa, Alvin mendadak merasakan sebuah firasat buruk. Sejak tadi ia berusaha menenangkan dirinya dengan terus berpikir positif, tapi rasa bersalah terhadap Via yang memenuhi hati kecilnya justru membuat perasaannya tidak karuan.
            Alvin lalu menghentikan latihannya. Ia bergegas menepi ke pinggir lapangan dan mencoba menghubungi Via. Sial! Alvin merutuk saat suara operator lah yang menjawab telfonnya. Saat ini, ponsel Via sedang dalam keadaan tidak aktif, dan hal itu semakin membuat Alvin risau.
            Alvinpun akhirnya memutuskan untuk menelpon kerumah. Tidak perlu menunggu lama, Mbak Ningsih langsung menjawab telfonnya.
            “hallo Mbak Ningsih. Apa Via udah pulang?” tanya Alvin yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya.
            “belum, Den. Non Via belum pulang”
            “sama sekali belum? Terus dia udah nelpon kerumah dan bilang dia bakalan  pulang telat?” Alvin mulai tak sabar. Sementara nada bicaranya sudah terdengar membentak.
            “Non Via juga belum nelpon, Den…” jawab Mbak Ningsih yang terdengar takut-takut dari sebrang sana.
            Alvin mendesah lalu mematikan sambungan telfonnya. Rasa cemas yang ia rasakan semakin mencapai puncaknya. Alvin lalu meninju udara untuk melampiaskan rasa kesalnya. Kenapa Via selalu seperti ini? Kenapa Via selalu membuat Alvin cemas disaat Alvin tidak ingin memperdulikannya?
            Tanpa pikir panjang lagi, Alvin langsung meraih tas nya dan memutuskan untuk pulang tanpa mengganti pakaian. Alvin harus segera menemukan Via dan memberikannya hukuman karena telah membuat Alvin khawatir.
            “ALVIN!! LO MAU KEMANA??” Teriak Cakka dari kejauhan. Tapi Alvin bahkan tidak menghiraukan panggilannya. Bagi Alvin, untuk saat ini tidak ada yang lebih penting lagi selain menemukan Via.
            Alvin membanting keras pintu mobilnya saat tiba dirumah. Ia pun segera memastikan apakah Via sudah pulang atau belum.
            “Mbak Ningsih, Via masih belum pulang?”
            Tanya Alvin saat Mbak Ningsih membukakan pintu untuknya.
            “ma—masih belum, Den…”
            “ergh! DAMN!
            Alvin bergegas ke lantai dua rumahnya dan masuk kedalam kamar Via. Ternyata kamar Via sedang dalam keadaan kosong. Alvin bahkan tidak menemukan tanda-tanda bahwa Via telah pulang lalu pergi lagi.
            Sebuah kanvas dibalkon kamar Via tiba-tiba menarik perhatian Alvin. Diatas kanvas itu, Alvin mendapati gambar dirinya dalam bentuk lukisan. Alvin mendekat lalu memperhatikan lukisan itu baik-baik. Pada lembar kedua kanvas itu, Alvin lagi-lagi menemukan lukisan wajahnya. Untuk sesaat Alvin terpaku memandangi lukisan itu.

            Tidak lama….

            “Bodoh! Lo dimana sekarang?!” rutuk Alvin.



♫♫♫

            Tepat pukul 5 sore acara makan-makan yang diadakan oleh Eyang Rahayu di ‘Yashinta Florist’ pun telah usai. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, Via berhasil mengambil hati Eyang Rahayu dan Yashinta. Tidak hanya kedua Ibu dan anak itu saja, tapi Via juga berhasil mengambil hati para karyawan di toko bunga itu dengan sikap ramah dan bersahabatnya.
            “Via… kamu sekolah di Patuh Karya, kan?” tanya Yashinta saat mereka berdua bersama Eyang Rahayu sedang minum teh bersama dihalaman belakang toko bunga itu.
            Via mengangguk pasti, “iya, Tan. Kenapa?”
            “anak Tante juga sekolah disana”
            “oya??” tanya Via antusias.
            Yashinta hanya mengangguk lalu menyeruput teh nya. Obrolan mereka terus berlanjut sampai tidak terasa satu jam sudah waktu yang mereka habiskan. Via yang baru sadar bahwa hari mulai beranjak gelap buru-buru melirik arlojinya yang saat itu sudah menunjukan pukul 6 sore. Kedua mata Via membelalak maksimal. Saat ini Alvin pasti sudah tiba dirumah. Via juga baru ingat bahwa ponsel nya lowbat, jadi Alvin pasti sangat kesusahan menghubunginya.
            “Tante, Eyang… Via pamit pulang ya? Ini udah sore banget. Nanti takutnya Via nyampe rumahnya malah kemaleman…”
            “tunggu Via! Nanti biar anak Tante aja yang nganterin kamu pulang. Sekalian kenalan, kan kalian satu sekolah…” cegat Yashinta buru-buru.
            “tapi, Tan—“
            “tenang, Nak. Rumah Tante deket dari sini kok, jadi pasti anak Tante bakalan cepet nyampe sini. Kamu pasti gak bakalan kemaleman…”
            “ba—baik, tante…” jawab Via pasrah yang sudah tidak bisa menolak lagi.
            Yashinta tersenyum manis pada Via. Ia lalu bangkit dari kursinya dan sedikit menjauh dari Via dan Eyang Rahayu untuk menghubungi anaknya.
            Hanya selang 5 menit setelah Yashinta menelpon, anak laki-lakinya pun datang ke toko bunga. Yashinta tersenyum lalu melambai kearah anaknya yang sedang berdiri dipintu,

            “Cakka, sini!”
            Panggilan Yashinta itu langsung membuat Via kaget setengah mati. Cakka? Cakka yang mana? Merasa sangat mengenal nama itu, Via pun menoleh kebelakang. Ternyata dugaannya beberapa detik yang lalu tepat. Ternyata anaknya Tante Yashinta adalah Cakka. Cakka yang selama ini mengejar-ngejarnya.

            “Ca—Cakka?” ujar Via terbata.
            “Via? Lo kok disini sih?”
            Cakka dan Via saling menatap satu sama lain dengan pandangan tak percaya. Cakka bahkan tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Via ditoko bunga milik Eyangnya.
            “kalian berdua saling kenal?” tanya Eyang Rahayu seraya menatap Cakka dan Via secara bergantian.
            Sementara Yashinta, ia hanya menatap kedua anak itu tanpa bersuara. VIA? Sepertinya Yashinta sering mendengar nama itu dari Cakka? Apa Via yang selama ini Cakka maksud adalah Via yang sekarang sedang bersama mereka? Jika iya, Yashinta akan langsung merestui putranya dengan gadis ini.

            “ooo… jadi ini dia yang namanya Via? Jadi ini dia cewek yang selama ini kamu certain ke Bunda?”

            “APA?!” Kaget Via tak percaya.


♫♫♫


            “jadi… lo cerita apa aja tentang gue sama Tante Shinta?” tanya Via pada Cakka yang saat itu terlihat sangat asyik melahap ice cream vanilla favoritnya.
            Sebelum mengantarkan Via pulang, Cakka memutuskan untuk mengajak Via mampir ke sebuah playground. Mereka berdua duduk berdampingan disebuah ayunan yang telah disediakan ditempat bermain khusus anak-anak itu.
            “gak cerita apa-apa. Gue Cuma bilang sama Bunda kalo gue punya temen cewek jutek plus judes bernama Gisselavia Garneta. Udah, itu aja…” jawab Cakka dengan raut wajah tanpa dosanya.
            Via serta merta menampakan wajah kesal. Mendadak ia sudah tidak bernapsu lagi menghabiskan ice cream cokelatnya. “elo? Elo bener-bener cerita kayak gitu?”
            Cakka mengangguk pasti. “kenapa? Itu emang fakta, kan?”
            Sumpah demi apapun itu, Via kesal setengah mati pada cowok yang ada disampingnya ini. Jika bisa, rasanya Via ingin sekali menendang cowok ini jauh-jauh sampai ke planet mars. Kalau Cakka benar-benar bercerita seperti itu pada Bundanya, lalu Via mau taruh dimana mukanya setelah ini jika mereka bertemu lagi nanti? Cakka memang sangat menyebalkan! Bahkan lebih menyebalkan dari Alvin.
            “kenapa lo musti cerita kayak gitu sih, Kka? Lo tau? Lo udah bikin gue gak punya muka lagi didepan Nyokap lo…” oceh Via tanpa melihat kearah Cakka. “sekarang gue bener-bener malu. Apalagi sama Eyang Rahayu… lo tuh kalo mau cerita tentang gue ya dipikir-pikir dulu kek. Oke, gue ngaku, dulu gue emang jutek sama lo. Tapi kan sekarang gue udah berubah, kita juga udah temenan…”
            Kesal tidak mendapatkan respon apapun dari Cakka, Viapun menoleh kesamping, disaat yang bersamaan Cakka langsung mendekatkan wajahnya dengan wajah Via hingga nyaris menghapus jarak diantara mereka. Kedua mata Via membelalak maksimal dan napasnya langsung tercekat dalam hitungan detik. Cakka hampir saja menciumnya.
            Melihat respon Via yang langsung terdiam, Cakka malah tersenyum miring, “lo tuh bawel banget…” kata Cakka dengan pelan dan kembali membentang jarak diantara mereka.
            “selama ini banyak cewek yang tebar pesona sama gue dan secara terang-terangan ngejer gue, tapi satupun dari mereka gak ada yang bisa bikin gue ngerasa tertarik. Tapi lo? Yang gak pernah ngelakuin apapun, yang nolak kenalan sama gue saat kita pertama kali ketemu, yang selalu judesin gue disetiap kesempatan malah bikin gue… suka sama lo” aku Cakka dengan terus terang didepan Via yang masih terdiam.
            “semua tau gue suka sama lo, tapi lo gak sedikitpun mau nanggepin dan terkesan menutup hati buat gue. Hhh… sepertinya butuh perjuangan yang gak main-main buat ngedapetin hati lo” Cakka tertawa miris di sela ucapannya dan kembali menatap Via.
            Cakka terdiam untuk beberapa saat. Tidak lama Cakka bangkit dari ayunan yang sejak tadi ia duduki lalu berlutut dihadapan Via. Ragu-ragu Cakka meraih kedua tangan Via dan menggenggamnya erat. Awalnya Cakka berpikir bahwa Via akan langsung menepis tangannya saat Cakka pertama kali menyentuh. Tapi pikiran Cakka itu langsung terbantahkan saat Via justru tidak melakukan apapun dan menerima perlakuan Cakka tanpa suara.

            “Gisselavia Garneta… gue bener-bener suka sama lo. Apa lo mau ngasih gue kesempatan buat jadi… pacar lo?”





♫♫♫


            Alvin tiba dirumah saat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Ia sudah mencari Via hampir kesemua tempat, ia bahkan mencari Via kerumah Agni, Ify dan Shilla, tapi hasil yang Alvin dapatkan malah nihil.
            Alvin pulang kerumah dengan putus asa, dan saat ia tiba, keadaan rumah tampak gelap. Alvin berjalan lesu menaiki anak tangga satu per satu. Ketika melewati kamar Via, Alvin sempat melihat kedalam, tapi sama seperti tadi sore, kamar Via tampak kosong.
            Alvin menghela napas panjangnya. Harusnya tadi Alvin tidak membiarkan Via pulang sendirian. Harusnya tadi Alvin mengantar gadis itu pulang sebelum latihan. Harusnya, harusnya dan harusnya. Kata ‘Harusnya’ yang terus menari-nari dikepala Alvin tanpa henti justru semakin membuatnya kalut. Jika gadis itu benar-benar hilang, lalu apa yang harus Alvin katakan pada kedua orangtua nya? Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa gadis itu? Dan semua pikiran-pikiran aneh terus menghantui benaknya. Alvin kian merasa bersalah, tapi ia sadar bahwa ia telah terlambat untuk menyesal. Semuanya sudah terjadi.
            Alvin lalu memasuki kamarnya. Saat ia menyalakan lampu kamarnya, betapa kagetnya Alvin ketika ia mendapati Via yang sedang tertidur pulas diatas kasurnya sambil memeluk erat-erat boneka teddy bear berukuran jumbo yang dulu pernah ia berikan. Rasa kesal, rasa cemas, rasa takut bercampur kalut, serta semua rasa yang Alvin rasakan tadi seolah menghilang tanpa bekas saat melihat wajah tenang Via yang tampak terlelap dalam tidurnya.
            Alvin mendekat dengan sangat hati-hati lalu duduk disamping Via. Dalam keheningan malam itu, Alvin menatap Via.
            10 menit berlalu, Alvin masih betah memandangi wajah gadis ini. Jika bisa, Alvin ingin terus menatapnya dan menikmati kecantikannya dalam diam. Lalu tanpa Alvin sadari, salah satu tangannya terangkat dan bergerak perlahan hendak menyentuh kepala Via. Tapi saat tangan itu nyaris menyentuh ubun-ubun Via, Alvin malah menjauhkan tangannya dan merutuki apa yang baru saja ia lakukan.
            Alvin kembali menatap Via dalam hening. Semenit berlalu, tanpa Alvin duga, Via tahu-tahu membuka kedua matanya dan terlihat sedikit kaget saat mendapati Alvin yang tengah duduk disampingnya sambil menatap dirinya yang sedang tertidur pulas,
            “Alvin? Lo udah pulang?” tanya Via seraya bangkit dan mengambil posisi duduk dihadapan Alvin.
            Alvin mendengus. Sebal juga mendengarkan pertanyaan yang dilemparkan oleh Via.
            “gak salah lo nanya kayak gitu sama gue? Harusnya tuh gue yang nanya pertanyaan bodoh itu sama lo! Darimana aja lo seharian ini?”
            “ta—tadi gue abis nolongin Nenek-nenek bawa barang belanjaannya. Terus sebagai ucapan terimakasihnya, Nenek itu ngajakin gue makan siang sama anaknya di toko bunga miliknya. Baru setelah kita ngobrol bareng, gue akhirnya tahu kalo Nenek itu adalah Eyang Rahayu, dan anaknya Nenek itu adalah Tante Shinta, Bundanya Cakka, makanya itu—“
            “apa sekarang lo mulai lupa fungsi dari handphone?” potong Alvin sebelum Via menyelesaikan penjelasannya. Via langsung terdiam. Sejak awal ia sudah tahu, Alvin pasti akan memarahinya, dan Via sudah bersiap untuk itu. “lo lupa juga janji lo sama gue waktu itu? Lo tau? Dari tadi sore gue nyariin lo kesana-kemari, dan ternyata elo yang gue cari-cari malah enak-enakan makan sama keluarganya Cakka? Apa lo mau mempermainkan gue? HAH?” cecar Alvin yang merasa sudah benar-benar muak.
            Kembali Via hanya bisa diam. Ia menunduk dalam tanpa berani menatap wajah Alvin. Kalau Alvin sudah marah begini, ia akan tiba-tiba menjelma menjadi monster yang paling menyeramkan.
            “gue bisa mentolerir kesalahan apapun, tapi tidak dengan ingkar janji! Dan apa yang lo lakuin hari ini sudah melampaui batas toleransi gue!”
            “Alvin gue minta ma—“
            “lo gak usah minta maaf, dan sekarang cepet lo keluar dari kamar gue!” usir Alvin sambil menunjuk kearah pintu. Otot-otot diwajahnya tampak menegang menahan marah.
            Via semakin tertunduk dalam. Airmata yang sejak tadi tergenang sempurna dipelupuk matanya akhirnya menetes juga tanpa bisa ia tahan lagi. Selama ini Via selalu berusaha kuat. Semampunya ia mencoba untuk tidak menitikan airmata walaupun hanya setetes. Tapi kemarahan Alvin kali ini benar-benar membuatnya sakit hati. Kenapa Alvin tidak pernah memberikannya kesempatan untuk berbicara?

            “apa perlu lo gue seret keluar?!” bentak Alvin dengan keras.

            Tidak tahan dengan perlakuan Alvin, Via pun mengangkat wajahnya dan menatap Alvin dengan linangan airmata yang tidak dapat ia bendung lagi. Sementara Alvin, ia merasa jantungnya dipukul saat melihat gadis ini menangis. Tidak ada yang lebih buruk bagi Alvin dari ini.

            “gue akan keluar tanpa perlu lo seret! Dan maaf karna gue udah bikin lo nyariin gue…” lirih Via dengan nada suara bergetar. Ia lalu berlari keluar dari kamar Alvin dengan perasaan hancur. Mungkin Alvin tidak sadar, tapi ia telah benar-benar meremukan jantung Via hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang nyaris tidak berbentuk lagi.
            Selepas kepergian Via, Alvin langsung membuka jaketnya dan membantingnya tanpa ampun dilantai. Awalnya Alvin tidak ingin marah seperti ini, tapi setelah mendengar alasan Via yang sebenarnya, entah kenapa Alvin mendadak lepas control dan membuat semua pertahananya porak poranda.

            “errghhh! Elo kenapa sih, Viiiiinnnn? Kenapa jadi lepas control gini??” ujar Alvin frustasi sambil mengusap wajahnya. Ia bahkan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia lakukan.

            Tanpa Alvin sadari, ada sesuatu yang luput dari kepekaan hatinya.






To Be Continued...

0 comments:

Post a Comment