“Alun
sebuah simponi…
Kata
hati disadari
Merasuk
sukma kalbuku
Dalam
hati ada Satu
Manis
lembut bisikanmu
Merdu
lirih suaramu
Bagai
pelita hidupku…”
Alunan
lagu Shymponi Yang Indah dengan diiringi oleh instrument piano terdengar lembut
mengalun di Grand Ballroom Sorano
Hotel milik keluarga Cakka. Rio menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan.
Suaranya yang begitu merdu dan indah semakin menyempurnakan penampilannya malam
itu.
Malam
itu Rio tampak manis dengan kemeja hitam yang dibaluti dengan jas berwarna
putih yang senada dengan warna dasi serta celananya. Semua perhatian tamu yang
menghadiri acara pesta ulang tahun Gabriel malam itu hanya tertuju dan terfokus
pada Rio. Mereka semua seakan terhipnotis oleh Golden Voice milik Rio.
“Berkilauan
bintang malam
Semilir
anginpun sejuk
Seakan
hidup mendatang
Dapat
kutempuh denganmu
Berpadunya
dua insan
Simponi
dan keindahan
Melahirkan
kedamaian… Melahirkan kedamaian…”
Alvin
dan Ify memasuki ruangan sambil bergandengan tangan satu sama lain. Sama seperti
Rio, malam ini Alvin tampak begitu menawan dengan kemeja biru langit yang
dibaluti dengan stelan jas putih yang tampak simple namun tetap elegant.
Sementara
Ify, ia juga terlihat sangat cantik dengan polesan make-up naturalnya. Ia
menggunakan dress hitam tanpa lengan selutut. Dress hitam itu ia padukan dengan
balutan cardigan putih. Mungkin Ify tidak menyadarinya, tapi warna pakaian yang
ia kenakan sekarang senada dengan warna pakaian yang Rio kenakan.
“Rio
keren malem ini. Lo pasti setuju. Ya kan?” ucap Alvin pelan pada Ify yang
terlihat terkesima mendengarkan suara merdu Rio. Ify tidak menjawab. Pesona Rio
yang tengah bernyanyi diatas panggung sana sudah terlanjur mencuri
perhatiannya.
“Burung-burung
pun bernyanyi
Bunga
pun tersenyum
Melihat
kau hibur hatiku
Hatiku
mekar kembali terhibur simponi
Pasti
hidupku kan bahagia….”
Pada
bait-bait akhir lagu itu, Rio melemparkan tatapannya pada Ify yang masih
terpaku memandanginya nyaris tak berkedip. Rio tersenyum amat lembut, Ify
serta-merta membuang tatapannya kearah lain, ia bahkan tidak menyangka
sebelumnya bahwa Rio akan menangkap basah dirinya yang sedang memandanginya.
Saat
melihat Rio menuruni panggung dan berjalan menghampiri mereka, Alvin langsung
mengambil inisiatif untuk pergi dan memberikan Rio dan Ify waktu untuk berdua
saja.
“Vin,
lo mau kemana?” Tanya Ify sedikit panic. Jujur saja, ia merasa belum siap jika
harus ditinggal berdua saja dengan Rio.
“lo
sama Rio butuh waktu berdua. Gue gak akan gangguin kalian”
“tapi,
Vin—“
Alvin
sudah terlebih dahulu pergi sebelum memberikan Ify kesempatan untuk
menjelaskan. Rasanya Ify ingin menghindar, tapi langkah Rio yang sudah semakin
mendekat kearahnya justru membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Langkahnya
terasa mati detik itu juga.
“hay,
Fy…” sapa Rio dengan hangat saat dirinya sudah berdiri berhadapan dengan Rio.
“ha—hay
juga, Yo…” jawab Ify canggung.
♫♫♫
Pesta
sebentar lagi akan dimulai, tapi Gabriel, yang merupakan tokoh utama dari
pagelaran pesta mewah itu justru terlihat dengan santainya berdiri diatas atap
gedung Sorano Hotel. Saat para tamu-tamu sedang berdatangan di Grand Ballroom,
Gabriel justru Nampak tak peduli. Baginya, suasana langit malam yang
bertahtakan milyaran bintang-bintang yang sedang ia pandangi sekarang jauh
lebih menarik dari hingar-bingar kemewahan pesta yang dihadiahkan oleh
Kakeknya.
Gabriel
memejamkan kedua matanya lalu merentangkan kedua tangannya sambil mendongak.
Sapuan angin malam yang cukup dingin, yang menerpa tubuhnya sama sekali tidak
berpengaruh baginya. Suasana ini terlalu indah untuk ia lewatkan demi pesta
yang penuh kepalsuan dan ambisi itu.
Kemudian
Gabriel tersentak saat ponsel yang ia simpan disaku jas nya tiba-tiba saja
bergetar. Gabriel membuka kedua matanya dan menurunkan tangannya. Gabriel lalu
membuka pesan singkatnya yang ternyata dikirimkan oleh Shilla:
============================
From:
Ashilla Keiko
Kmu
dimana, Yel? Pestanya udh
hampir
dimulai kmu nya malah ngilang.
============================
Gabriel
tersipu. Dengan cepat jari jemarinya mengetikan balasan pesan untuk Shilla.
============================
To:
Ashilla Keiko
Aku
lagi diatap. Kamu kesini gih.
============================
Tanpa
ragu, Gabriel menekan tombol send. Hanya selang beberapa menit setelah Gabriel
membalas pesan Shilla, Shilla tiba-tiba saja muncul. Ia berjalan menghampiri
Gabriel dan berdiri tepat disamping cowok yang dulu pernah mengisi relung
hatinya itu.
“kamu
gak berniat bunuh diri kan? malem-malem begini berdiri diatas atap, orang yang
gak tau bisa nyangkain kamu mau bunuh diri”
Gabriel
terkekeh pelan mendengarkan perkataan Shilla. Baginya, dari dulu hingga
sekarang, tidak ada satu hal pun yang berubah dari Shilla, gadis cantik bermata
jernih ini masih tetap saja lucu dengan kepolosan dan keluguannya.
“malah
ketawa! Ayo masuk. Kamu gak mau kan Opa Danar tiba-tiba marah gara-gara kamu
ninggalin pesta?”
Senyum
yang sejak tadi menghiasi wajah manis Gabriel tiba-tiba saja tenggelam dalam
sekejab mata saat mendengar Shilla membawa-bawa nama Kakeknya. Mendengar nama
Kakeknya membuat Gabriel mengingat kembali isi surat yang Mamanya tuliskan
untuk dirinya.
Dadanya
terasa sesak kembali, membayangkan bagaimana kejamnya sang Kakek yang telah
memecah belah keluarganya justru membuat hatinya terasa sangat sakit. Secara
tidak langsung, Kakeknya telah merenggut kebahagiaan hidupnya yang semestinya
bisa ia rasakan tanpa tekanan apapun.
“Iel,
kamu kok diem? Kenapa? Kamu gak enak badan?” Tanya Shilla sedikit cemas saat
menyadari bahwa ada yang berbeda dari Iel malam ini. Ini pesta ulang tahunnya,
harusnya Gabriel terlihat berbahagia malam ini, tapi apa yang Shilla lihat
sekarang justru berbanding terbalik dengan apa yang dapat ia bayangkan.
Saat
tangan lembut milik Shilla menyentuh wajahnya, saat itulah Gabriel merasakan
keadaannya bisa sedikit membaik dari sebelumnya. Gabriel memejamkan matanya.
Rasanya begitu nyaman mendapati Shilla yang mencoba untuk menenangkannya.
Gabriel
lalu menyentuh tangan Shilla yang bertengger dipipinya, “Shill… aku boleh peluk
kamu?” tanya Gabriel dengan nada yang terdengar lirih. Namun bukannya langsung
paham, Shilla malah bingung sendiri.
“hah?”
“sekaliii
ini aja apa aku boleh peluk kamu?” tanya Gabriel sekali lagi. Ragu-ragu Shilla
akhirnya mengangguk.
Gabriel
yang tidak ingin membuang-buang waktu lagi langsung menarik Shilla kedalam
pelukannya. Hangat, rasanya begitu hangat dan menenangkan. Gabriel lantas
memejamkan kedua matanya sambil membelai lembut rambut panjang Shilla yang
terurai.
“apa
ada masalah?” tanya Shilla pelan. Ia masih belum membalas pelukan Gabriel.
Gabriel
mengangguk sebagai jawaban.
“kamu
mau cerita?” Shilla kembali melemparkan pertanyaan, tapi kali ini Gabriel
menggeleng sebagai jawabannya.
“Shill...
apa aku boleh minta tolong?” tanya Gabriel dengan nadanya yang masih terdengar
lirih.
“minta
tolong apa?”
“bisa
tolong kamu katakan, kalo semua ini bakalan baik-baik aja. Bisa tolong kamu
katakan, kalo aku bisa ngelewatin semua ini. Bisa tolong katakan kalo aku…. Gak
sendirian…”
Ada
getaran pada nada suara Iel yang dapat Via tangkap pada 2 kata terakhirnya.
Getaran itu entah kenapa begitu lirih dan amat memilukan. Shilla tidak tahu
pasti apa yang terjadi pada mantan pacarnya ini, tapi Shilla ingin selalu
menenangkannya dan tetap berada disampingnya.
Dengan
pelan, Shilla mengangkat kedua tangannya lalu secara perlahan-lahan mulai
membalas pelukan Gabriel. Saat itulah, Gabriel langsung mengeratkan pelukannya,
dan tanpa ia sadari, sebulir airmata nya lolos begitu saja.
“semuanya
akan baik-baik aja, Yel. Aku yakin kamu bisa ngelewatin semua ini, dan kamu
harus inget satu hal… kamu gak pernah sendirian…” ujar Shilla sambil menepuk
lembut punggung Gabriel yang mulai terasa bergetar pelan.
Untuk
yang pertama kalinya Shilla menyaksikan langsung bagaimana seorang Gabriel
Fabian Ganendra yang terkenal kuat dan tegar menangis terisak dalam pelukannya.
Shilla tidak bisa berbuat apa-apa selain
memeluknya. Shilla harap itu cukup.
♫♫♫
Makin
lama, tamu undangan yang sebagian besar adalah rekan-rekan bisnis Danar
Ganendra semakin banyak yang berdatangan. Tidak hanya itu, beberapa wartawan
dari Koran, majalah bahkan televise terlihat wara-wiri di Grand Ballroom yang
sangat mewah itu. Selain beberapa wartawan, Alvin juga melihat beberapa artis
terkenal turut hadir dipesta itu. Gabriel benar, pesta malam ini bukan mutlak
digelar untuknya. Danar Ganendra mengadakan pesta ini hanya semata-mata demi
kepentingan bisnisnya. Alvin sendiri baru menyadari itu saat ia menyaksikan
secara langsng.
Alvin
yang sejak tadi duduk sendirian sambil memperhatikan para tamu yang berdatangan
mendadak terkejut saat melihat Via datang bersama Cakka. Sebelumnya Alvin sudah
tahu kalau Cakka akan datang bersama Via, sejak beberapa hari yang lalu, Cakka
bahkan sudah gembar-gembor. Tapi entah alasan apa yang membuat Alvin sampai
harus terkejut begini.
Cakka
melambai kearah Alvin dengan seulas senyuman lebar, sementara Via yang datang
bersama Cakka justru menunduk sedalam-dalamnya saat melihat sosok Alvin.
Cakka
dan Via lalu menghampiri Alvin dan duduk disatu meja yang sama.
“hay,
bro! udah lama?”
“lumayan”
jawab Alvin singkat. Kali ini perhatiannya tertuju pada Via yang terlihat
sedikit dewasa dari usianya sekarang. Alvin tampak mengamati Via sebaik
mungkin, tapi dari apa yang dapat Via tangkap, Alvin tidak sedikitpun terlihat
kagum dengan penampilannya malam ini.
“anak-anak
yang lain mana?” tanya Cakka –lagi-
“Rio
lagi sama Ify. Kalo Gabriel… mungkin lagi siep-siep…” jawab Alvin sekenanya
tanpa mengalihkan tatapannya dari Via yang tampak salah tingkah.
Menyadari
bahwa sejak tadi titik focus Alvin hanya tertuju pada Via, Cakka langsung
tersenyum jahil dan berkata, “gimana? Via cantik kan malem ini? Tapi
secantik-cantiknya Via, lo tetep gak bisa ngegebet dia. Inget, Via tuh sepupu
lo” kelakar Cakka sambil berusaha keras menahan tawanya.
Via
semakin salah tingkah dibuatnya. Cakka apa-apaan sih? Gerutunya dalam hati.
“ngaco
lo!” bantah Alvin. Ia lalu menyesap minuman yang sejak tadi ada dihadapannya.
“tapi
Via cantik kan male mini?”
Alvin
tampak berpikir. Sementara Via, ia sudah harap-harap cemas.
“biasa
aja. Nothing special… malah menurut
gue, dandanan Via terlalu menor…” jawab Alvin seenaknya dengan raut wajah tanpa
dosa yang benar-benar terlihat sangat menyebalkan dimata Cakka dan Via.
“ELO??!”
Geram Cakka dan Via secara bersamaan.
“gue
kenapa?”
Alvin,
Cakka dan Via tiba-tiba saja dikejutkan saat beberapa wartawan yang sejak tadi
terlihat wara-wiri didalam ruangan mendadak gaduh. Mereka semua berjalan cepat
kearah pintu saat Danar Ganendra dengan ditemani oleh Gabriel, Anton Bramantya,
Hoshi Sorano (Ayah Cakka) dan beberapa rekan bisnis lainnya memasuki ruangan.
Danar
terlihat mengumbar senyumannya saat beberapa wartawan mulai mengajukan beberapa
pertanyaan.
“terimakasih
karena kalian semua telah bersedia datang dihari bahagia cucu saya, Gabriel
Fabian Ganendra. Karena hari ini Gabriel telah menginjak usia 17 tahun, jadi
saya akan menyampaikan pengumuman yang sangat penting…” kata Danar sambil
merangkul pundak Iel yang justru tidak terlihat bersemangat sama sekali.
“gak
ada yang lebih keren dari acting seorang Danar Ganendra…” komentar Cakka sambil
berdecak beberapa kali.
Saat
Via untuk yang pertama kalinya melihat wajah seorang Danar Ganendra, ia
tiba-tiba saja merasa sangat ketakutan untuk sebuah alasan yang tidak ia
ketahui. Jantungnya berdegub dengan sangat cepat tanpa bisa ia kendalika. Entah
kenapa ia merasa seperti pernah melihat wajah itu.
‘hiks
hiks hiks…. Opaaaaaaa’
Satu
suara tanpa wujud seakan berteriak kencang dari dalam ingatannya. Suara isak
tangis anak kecil itu semakin jelas terdengar bahkan sampai berulang-ulang
kali. Dan hal itu kontan saja membuat kepala Via terasa sakit.
‘hiks
hiks hiks…. Opaaaa!!!’
Perasaan
Via semakin tidak terjelaskan saat Danar Ganendra dan rekan-rekannya
menghampiri meja yang saat ini ia duduki bersama Cakka dan Alvin. Alvin
serta-merta bangkit, ia tersenyum sangat manis lalu menghampiri Danar Ganendra.
“selamat
malam, Opa Danar…” sapa Alvin seraya menyalami Danar.
“selamat
malam juga, Alvin” balas Danar dengan sangat ramah dan bersahabat.
“oya,
Papa sama Mama saya mengirimkan salam untuk Opa Danar, beliau menyampaikan
permintaan maaf yang sebesar-besarnya karna tidak bisa hadir dipesta malam ini.
Beliau harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di Milan”
Danar
mengangguk beberapa kali seraya berkata, “saya tahu, Nak. Bisnis kedua orangtua
mu juga sedang maju-majunya untuk saat ini, jadi wajar saja kalau mereka sangat
sibuk”
Alvin
menunduk takzim sambil tersenyum lebar. Tapi apa yang Alvin lakukan itu justru
membuat Cakka sangat muak, ‘mulai deh sok
ramahnya…’ gumam Cakka pelan nyaris tak bersuara.
“Cakka
Sorano Raditya… kamu sendiri apa kabar? Apa kamu sudah mempersiapkan diri
sematang mungkin untuk menjadi pimpinan Sorano Hotel dimasa depan?” kali ini
Danar melemparkan perhatiannya pada Cakka.
“saya
rasa… masih terlalu dini untuk membahas masalah itu. Saya juga tidak begitu
tertarik untuk menjadi pimpinan hotel ini…” jawab Cakka asal yang langsung
mendapatkan pelototan tajam Ayahnya.
“Cakka,
jaga ucapanmu!” Hoshi memperingatkan dengan cukup keras.
Danar
tidak lantas merasa tersinggung dengan jawaban Cakka yang agak sedikit tak
sopan itu. Danar justru tersenyum sambil menepuk pelan pundak Cakka beberapa
kali.
“tidak
seperti Ayah mu, rupanya… kamu memiliki jiwa pemberontak yang sangat kuat, dan
hal itulah yang juga kita butuhkan dalam menjalani hidup ini. Belajar yang
rajin, Cakka… dan pertahankan sikap mu ini…”
Setelah
Cakka, kali ini perhatian Danar tertuju pada Via yang sejak tadi hanya diam
sambil menatapnya. Danar balas menatap Via dengan lembut. Sama seperti Via,
tidak lama setelah saling menatap tanpa suara, Danar mendadak merasa pernah
melihat wajah ini sebelumnya. Wajah ini juga mengingatkannya pada seseorang
dari masa lalunya.
“Gisselavia
Garneta?” tanya Danar ragu-ragu.
Via
langsung terkesiap. Darimana Danar tahu namanya?
“be—benar?
Da—darimana anda tahu?” tanya Via balik dengan terbata-bata.
Danar
tersenyum penuh misteri. Tanpa ada yang menduga, Danar menepuk pelan puncak
kepala Via seraya berkata, “terimakasih…”
Alvin,
Cakka, tidak terkecuali Gabriel benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja
Danar katakan pada Via. Ini bahkan kali pertamanya mereka bertemu, tapi kenapa
Danar tiba-tiba saja mengucapkan terimakasih untuk Via? Ada apa dibalik semua
ini?
“nikmati
pestanya anak-anak…” pesan Danar untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya
ia melewati Via begitu saja dan meninggalkan berjuta-juta tanda tanya dibenak
Alvin, Cakka dan Gabriel.
‘Mama… Opa Danar siapa sebenarnya? Kenapa
Via ngerasa pernah kenal sama Opa Danar, Ma…’ bathin Via sambil menatap
punggung Danar yang berjalan perlahan menjauhinya.
♫♫♫
Sudah
satu jam pesta berlangsung, namun semakin berjalannya waktu, Alvin malah merasa
jenuh. Disaat teman-temannya begitu menikmati pesta, Alvin justru ingin pulang.
Dan Alvin semakin merasa jenuh saat melihat Via dan Cakka yang tampak sangat
serasi malam ini.
Dalam
diamnya, Alvin mengamati mereka sebaik mungkin. Via mungkin bisa menyembunyikan
rasa tidak suka serta rasa tidak nyamannya dihadapan Cakka, tapi tidak
dihadapan Alvin. Alvin bisa menangkap bagaimana tidak nyamannya Via berada
ditengah-tengah dipesta itu, dan senyum serta tawa yang Via umbar malam ini
hanyalah sebuah kepalsuan yang membuat Alvin muak.
Alvin
mengalihkan pandangannya kearah lain. Jika saja pesta malam ini bukanlah pesta
ulang tahun Gabriel, mungkin sudah sejak tadi Alvin memilih untuk angkat kaki.
Hanya saja rasa tidak enak hati terhadap Gabriel serta Opa Danar malah menahan
Alvin dipesta ini.
Alvin
tahu-tahu merasakan ponselnya bergetar. Ia menerima sebuah pesan yang ternyata
dikirimkan oleh Via. Sebelum membaca pesannya, Alvin sempat melirik sejenak
kearah Via yang waktu itu kebetulan sedang melihat kearahnya juga. Via lalu
memberikan kode untuk Alvin agar segera membaca pesannya. Paham dengan kode
yang Via berikan, Alvinpun segera membaca pesannya:
==============================
From:
Via “Otak Ayam”
Vin…
please bawa gue pulang :(
==============================
Namun
bukannya membalas pesan itu, Alvin malah kembali melempar tatapannya kearah
Via. Saat itu juga, Via langsung memasang wajah memelas. Awalnya Alvin tidak
ingin menghiraukannya, tapi kelamaan Alvin lagi-lagi merasa tidak tega. Kenapa
gadis ini selalu bisa membuat Alvin luluh disaat tidak ada satupun orang yang
bisa membuatnya luluh?
Alvin
berpikir cukup lama. Setelah menemukan alasan yang menurutnya cukup masuk akal
untuk meninggalkan pesta terlebih dahulu, Alvin lantas menghela napas panjang
dan bangkit. Dengan mantap, ia berjalan menghampiri Via yang saat itu sedang
berkumpul bersama Cakka, Rio, Shilla, Ify, Agni dan Gabriel.
“Vi,
kita pulang sekarang!”
Cakka
serta-merta kaget. Apa-apan Alvin? Kenapa mendadak mengajak Via pulang?
Pestanya bahkan belum selesai. Pikir Cakka sambil menatap tajam kearah Alvin.
Dasar! Sahabat tidak pengertian.
“kok
pulang? Kan pestanya belum kelar, Vin” kata Gabriel.
“maafin
gue sebelumnya Iel, tapi Nyokap nya Via mendadak datang dari Lombok malam ini.
Jadi kami harus segera pulang. Ya kan, Vi?”
‘semoga gak ketahuan bohongnya… mana si
Alvin pakai acara bawa-bawa Nyokap segala lagi’ bathin Via. Tidak lama Via lalu mengangguk, menyetujui apa
yang baru saja Alvin katakan.
“kalo
gitu gue ikut. Gue mau kenalan sama Mama nya Via” ucap Cakka seraya berdiri dan
menarik pergelangan tangan Via. Dan kali ini, Via benar-benar tidak bisa
menyembunyikan rasa kagetnya. Bagaimana ini?
Secara
refleks, Alvin juga menarik pergelangan tangan Via yang lainnya. Otaknya
bekerja secepat mungkin, berusaha mencari alibi lain.
“kedekatan
lo sama Via saat ini belum sampai pada tahap kenalan sama orangtua nya. Jadi
sebaiknya lo tahan”
“tapi,
Vin—“
“lagian
kan gak solid kalo kita berdua harus mangkir dari birthday party-nya Iel. Seenggaknya salah satu diantara kita harus
tetap tinggal disini, dan itu udah pasti lo…” ujar Alvin sambil menatap Cakka
dengan serius, ‘sorry, Kka… gue terpaksa
bohong gara-gara si Otak Ayam ini…’ lanjut Alvin dalam hati dengan tetap
berusaha bersikap tenang.
Cakka
mengangguk paham. Meskipun agak sedikit tidak terima, tapi Cakka tetap tidak
bisa memungkiri bahwa apa yang baru saja Alvin ucapkan ada benarnya juga. Cakka
akhirnya mengalah, ia lalu melepaskan pergelangan tangan Via dengan berat hati.
“ya
udah deh…”
♫♫♫
Alvin
melangkahkan kakinya dengan cepat dan sama sekali tidak menghiraukan Via yang
susah payah menguktinya dibelakang. Dari bagaimana cara Alvin bersikap saat
ini, Via tahu pasti bahwa Alvin sedang marah.
“lo
marah sama gue? Kalo emang tadi lo gak mau ninggalin pesta sampe harus
ngebohongin Cakka segala, terus kenapa lo mau bawa gue pulang? Dengan temperament lo yang kayak gini lo bisa
aja kan nolak permintaan gue asal lo mau. Terus kenapa lo harus kayak gini?”
Oceh
Via yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari Alvin. Alvin malah semakin
mempercepat langkahnya dan membuat Via semakin kuwalahan mengikutinya.
“ALVIN!”
seru Via dengan cukup keras, “jawab gue!” lanjutnya. Tapi lagi-lagi ia tidak
mendepatakan respon apapun dari Alvin.
Muak
dengan kediaman Alvin yang sangat menyebalkan itu, Via pun berlari kecil
mengejar langkah Alvin. “CALVIN!!” Jerit Via pada akhirnya. Tapi baru saja ia
akan meraih pergelangan tangan Alvin, secara mengejutkan dan tanpa Via
perhitungkan sebelumnya, Alvin malah berbalik dan membuat wajah mereka nyaris
bersentuhan satu sama lain. Suasana langsung menghening. Via tidak mendengarkan
suara apapun selain suara deru napasnya yang memburu. Kedua matanya membelalak
maksimal saat tatapan Alvin jatuh tepat dan menghujam tajam pada kedua manik
matanya.
“udah
gue bilang! jangan panggil gue dengan nama itu” kecam Alvin yang kontan saja
membuat Via merinding. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Alvin semarah ini.
“lo sama sekali gak berhak manggil gue dengan nama itu. Jadi jangan sekalipun
lo coba-coba manggil gue dengan nama itu. Ini bukan nasihat tapi peringatan.
Ngerti lo?”
Alvin
kembali melanjutkan langkahnya, tapi kali ini Via tidak mengikutinya. Beberapa
saat setelah kepergian Alvin, Via langsung terduduk saat ia merasa kedua
kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Selama ini Via memang
sering melihat Alvin marah, tapi tidak pernah sekalipun Via melihat Alvin
begitu mengerikan seperti apa yang ia lihat beberapa saat yang lalu.
Beberapa
menit kemudian, seseorang tiba-tiba saja muncul. Ia berdiri tepat dihadapan Via
yang terduduk lemas dilantai seraya mengulurkan tangannya. Via serta-merta
mengangkat wajahnya dan menangkap seraut wajah yang beberapa menit yang lalu
terlihat begitu mengerikan kini berubah melembut.
“A—Alvin…?”
ujar Via terbata.
“maaf
udah bikin lo takut” ucap Alvin penuh kesungguhan.
Via
berpikir sesaat sebelum akhirnya ia menyambut uluran tangan Alvin dan berdiri.
“sekali
lagi gue minta maaf…” ulang Alvin.
“gue
yang salah. Maafin gue… maaf karna gue gak pernah mau dengerin omongan lo…”
Alvin
terdiam, tapi tangannya mengenggenggam erat tangan Via yang terasa dingin.
Mungkin tadi Alvin benar-benar keterlaluan sampai membuat gadis ini ketakutan.
Tidak seharusnya Alvin menakuti Via seperti itu disaat Via tidak tahu alasan
kenapa dia tidak suka dipanggil dengan nama ‘CALVIN’. Lain kali Alvin akan
lebih berhati-hati lagi dan berusaha mengontrol emosinya agar tidak lepas
seperti tadi.
“apa
lo mau pergi sama gue ke suatu tempat?”
“a—apa?”
♫♫♫
“AAAAAAA…..
INI KEREEEEEEENN!!” Teriak Via sekeras-kerasnya saat Alvin membawanya kesebuah
bukit. Bukit buatan yang sekarang mereka pijaki ini begitu indah. Ada ratusan
kunang-kunang yang mengelilingi mereka. Kilau bintang-bintang dan cahaya
rembulan diatas langit sana semakin menyempurnakan keindahan itu. Dan seumur
hidupnya, ini pertama kalinya Via melihat keindahan se-luar biasa ini.
“Alvin
siniiiiiiii!!” panggil Via sambil melambai kearah Alvin yang berdiri cukup jauh
dari posisinya sekarang. Alvin berusaha keras menahan dirinya agar tidak
tersenyum, tapi usahanya itu berantakan sudah saat melihat Via yang begitu
gembira. Ini cara yang Alvin gunakan untuk menebus kesalahannya tadi.
Alvin
tersenyum kecil lalu melangkah mendekati Via,
“gimana
bisa lo tahu tempat seindah ini? Ini kereeen banget…”
“lo
suka?” tanya Alvin singkat.
“gue
suka, gue suka, gue suka, GUE SUKAAAAA BANGET!!”
“ini
tempat favorit gue dibelahan bumi ini, dan… elo orang pertama yang gue bawa
kesini…”
Hening.
Senyuman yang sejak tadi terlukis diwajah Via mendadak membeku untuk beberapa
saat. Benarkah dia adalah orang pertama yang Alvin bawa ke tempat ini? Benarkah
Alvin tidak pernah membawa siapapun ketempat ini kecuali dirinya? Apa Alvin
tidak sedang membohonginya? Atau apa Alvin hanya berusaha untuk menghiburnya
karna telah membuatnya ketakutan tadi?
Menyadari
bahwa baru saja ia telah salah bicara, Alvinpun menarik pergelangan tangan Via
dan membawanya untuk duduk direrumputan yang hijau. Alvin tidak berniat untuk
menarik ucapannya tadi, ia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
“bisa
lo certain gimana kehidupan lo setelah gue pindah ke Jakarta 11 tahun yang
lalu?”
Via
tersenyum mencibir. Satu pertanyaan itu saja ternyata cukup untuk bisa membuat
Via mengalihkan perhatiannya.
“kenapa
kesannnya gue jadi menderita banget setelah lo pindah?”
“maybe…”
Via
mendorong pelan pundak Alvin sambil tertawa. Ternyata dibalik sikap dingin dan
cueknya Alvin, ia menyimpan tingkat kepedean yang sudah memasuki level tinggi,
dan ini benar-benar surprise.
“yang
jelas setelah lo pindah, gue bisa sedikit lebih tenang…”
“kok?”
tanya Alvin heran. Salah satu alisnya terangkat.
“karna
gue gak perlu repot-repot ngelindungin lo dari kakak-kakak kelas yang sering
nge-bully lo, hahaha…”
Tepat
saat melihat keatas langit, sebuah bintang jatuh. Via buru-buru memejamkan
kedua matanya dan segera membuat permohonan. Alvin hanya menatapnya dari
samping. Gadis ini pasti kebanyakan menonton drama. Hidupnya saja sama persis
seperti di drama. Alvin mendesis lalu menatap kearah langit.
“bikin
permohonan tuh sama Tuhan, bukan sama Bintang…” cibir Alvin. Tuh kan,
nyebelinnya keluar lagi. Pikir Via.
“waktu
masih hidup, Mama sering bilang kalo Bintang bisa nyampein permintaan kita sama
Tuhan. Dan gue yakin dengan itu, makanya setiap Bintang jatuh, gue selalu bikin
permohonan. Langit itu tinggi tapi pasti memiliki batas, gue percaya itu. Yang
berarti, harapan apapun yang tidak mungkin pasti akan menjadi mungkin kalo kita
mau percaya…”
“terus,
permohonan apa yang lo bikin?”
“gue
memohon sama Tuhan buat jagain Mama baik-baik. Gue juga pengen Mama tau kalo
disini gue baik-baik aja. Gue bahagia punya Papa Adryan dan Mama Metta, gue
bahagia punya sahabat-sahabat kayak Agni, Ify dan Shilla, gue bahagia punya
Angel juga punya… lo. Jadi, Mama gak perlu khawatirin gue disini. Gue pengen
Mama tahu, kalo gue gak pernah sendirian. Asal Mama bahagia disana, gue juga
pasti bahagia disini…”
Via
berusaha keras menahan airmata nya. Tidak, Via tidak akan pernah meneteskan
setitikpun airmatanya. Ia telah berjanji pada Mama nya untuk tidak menangis
apapun yang terjadi. Jika sekarang Via akhirnya menangis, Mamanya pasti akan
sangat sedih. Dan Via tidak ingin itu terjadi.
“kalo
lo mau nangis… nangis aja. Gak usah ditahan…”
Via
menggeleng mantap, “gak! Gue gak akan nangis. Gue udah janji sama Mama gak
bakalan nangis. Gue gak mau ingkar janji. Gue gak bisa”
Mengikuti
nalurinya, Alvin menangkat lengannya dan secara perlahan melingkarkannya
dipundak Via. Sejak awal Alvin tahu bahwa Via adalah sosok seorang gadis yang
kuat, bahwa Via adalah sosok seorang gadis yang tegar. Alvin mengusap pundak
Via beberapa kali untuk lebih menenangkan perasaannya.
Alvinpun
sedikit menarik gadis itu agar lebih dekat lagi dengannya. Biarlah untuk malam
ini mereka bisa sedekat ini. Alvin tidak akan pernah tahu apa yang terjadi
nanti, tapi untuk saat ini, Alvin ingin berada disisi Via. Alvin tidak ingin
membuat Via merasa sendirian.
Via
pun menjatuhkan kepalanya didada bidang milik Alvin sambil berusaha keras
menahan tangisannya. Sebelumnya, Via tidak pernah merasa senyaman ini. Pelukan
Alvin bahkan sama nyamannya dengan pelukan mendiang Mamanya, dan berada
disamping Alvin seperti ini membuat Via merasa terlindungi.
Alvin
lebih merapatkan lagi pelukannya pada pundak Via. Ia lalu mengusap lembut
kepala Via dan memejamkan kedua matanya.
2
menit berlalu, merekapun mengurai pelukan mereka. Alvin dan Via sama-sama
merasa canggung. Mereka lantas melemparkan tatapan mereka kearah lain dengan
perasaan yang tidak bisa mereka jelaskan dalam rangkaian kata-kata.
“oya…”
Alvin merogoh kantong jasnya dan menemukan sebuah kotak berwarna biru langit
dengan pita berwarna putih sebagai hiasannya, Alvin lalu menjulurkan kotak itu
dihadapan Via seraya berkata, “happy
birthday…”
“hah?”
“terima
ini dan ayo kita pulang”
Alvin
menyerahkan paksa kado kecil ditangan Via dan bangkit berdiri. Alvin telah
siap-siap melangkah pergi sebelum akhirnya Via menahan pergelangan tangannya
dan berkata,
“gue
boleh buka ini disini?”
“terserah
lo!” jawab Alvin dingin lalu melangkah terlebih dahulu.
Via
menatap sosok Alvin yang berjalan perlahan menjauhinya. Karena merasa sangat
penasaran dengan kado pemberian Alvin, Via pun langsung membukanya tanpa pikir
panjang.
Dan
Via terkejut sekaligus terharu saat melihat hadiah yang diberikan oleh Alvin.
Ternyata Alvin memberikannya kalung SkyLova yang sangat ia inginkan. Via bahkan
tidak pernah berkata pada Alvin bahwa dia sangat menginginkan kalung ini, lalu
bagaimana Alvin bisa tahu?
Via
yang merasa tidak sanggup lagi menahan luapan emsoinya langsung berlari
mengejar langkah Alvin dan memeluknya dari belakang. Hari ini, Alvin telah
menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun serta memberikannya
kado yang sangat ia inginkan.
Alvin
terdiam sejenak, ia pun menyentuh kedua tangan Via yang melingkari pinggangnya
dari belakang, “lo kenapa?” tanyanya singkat.
“terimakasih,
Alvin… terimakasih…”
To Be Continued...



0 comments:
Post a Comment