Monday, February 23, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 6B)






“Alun sebuah simponi…
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati ada Satu
Manis lembut bisikanmu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku…”


            Alunan lagu Shymponi Yang Indah dengan diiringi oleh instrument piano terdengar lembut mengalun di Grand Ballroom Sorano Hotel milik keluarga Cakka. Rio menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Suaranya yang begitu merdu dan indah semakin menyempurnakan penampilannya malam itu.
            Malam itu Rio tampak manis dengan kemeja hitam yang dibaluti dengan jas berwarna putih yang senada dengan warna dasi serta celananya. Semua perhatian tamu yang menghadiri acara pesta ulang tahun Gabriel malam itu hanya tertuju dan terfokus pada Rio. Mereka semua seakan terhipnotis oleh Golden Voice milik Rio.

“Berkilauan bintang malam
Semilir anginpun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat kutempuh denganmu
Berpadunya dua insan
Simponi dan keindahan
Melahirkan kedamaian… Melahirkan kedamaian…”

            Alvin dan Ify memasuki ruangan sambil bergandengan tangan satu sama lain. Sama seperti Rio, malam ini Alvin tampak begitu menawan dengan kemeja biru langit yang dibaluti dengan stelan jas putih yang tampak simple namun tetap elegant.
            Sementara Ify, ia juga terlihat sangat cantik dengan polesan make-up naturalnya. Ia menggunakan dress hitam tanpa lengan selutut. Dress hitam itu ia padukan dengan balutan cardigan putih. Mungkin Ify tidak menyadarinya, tapi warna pakaian yang ia kenakan sekarang senada dengan warna pakaian yang Rio kenakan.
            “Rio keren malem ini. Lo pasti setuju. Ya kan?” ucap Alvin pelan pada Ify yang terlihat terkesima mendengarkan suara merdu Rio. Ify tidak menjawab. Pesona Rio yang tengah bernyanyi diatas panggung sana sudah terlanjur mencuri perhatiannya.

“Burung-burung pun bernyanyi
Bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali terhibur simponi
Pasti hidupku kan bahagia….”

            Pada bait-bait akhir lagu itu, Rio melemparkan tatapannya pada Ify yang masih terpaku memandanginya nyaris tak berkedip. Rio tersenyum amat lembut, Ify serta-merta membuang tatapannya kearah lain, ia bahkan tidak menyangka sebelumnya bahwa Rio akan menangkap basah dirinya yang sedang memandanginya.
            Saat melihat Rio menuruni panggung dan berjalan menghampiri mereka, Alvin langsung mengambil inisiatif untuk pergi dan memberikan Rio dan Ify waktu untuk berdua saja.
            “Vin, lo mau kemana?” Tanya Ify sedikit panic. Jujur saja, ia merasa belum siap jika harus ditinggal berdua saja dengan Rio.
            “lo sama Rio butuh waktu berdua. Gue gak akan gangguin kalian”
            “tapi, Vin—“
            Alvin sudah terlebih dahulu pergi sebelum memberikan Ify kesempatan untuk menjelaskan. Rasanya Ify ingin menghindar, tapi langkah Rio yang sudah semakin mendekat kearahnya justru membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Langkahnya terasa mati detik itu juga.
            “hay, Fy…” sapa Rio dengan hangat saat dirinya sudah berdiri berhadapan dengan Rio.

            “ha—hay juga, Yo…” jawab Ify canggung.



♫♫♫

            Pesta sebentar lagi akan dimulai, tapi Gabriel, yang merupakan tokoh utama dari pagelaran pesta mewah itu justru terlihat dengan santainya berdiri diatas atap gedung Sorano Hotel. Saat para tamu-tamu sedang berdatangan di Grand Ballroom, Gabriel justru Nampak tak peduli. Baginya, suasana langit malam yang bertahtakan milyaran bintang-bintang yang sedang ia pandangi sekarang jauh lebih menarik dari hingar-bingar kemewahan pesta yang dihadiahkan oleh Kakeknya.
            Gabriel memejamkan kedua matanya lalu merentangkan kedua tangannya sambil mendongak. Sapuan angin malam yang cukup dingin, yang menerpa tubuhnya sama sekali tidak berpengaruh baginya. Suasana ini terlalu indah untuk ia lewatkan demi pesta yang penuh kepalsuan dan ambisi itu.
            Kemudian Gabriel tersentak saat ponsel yang ia simpan disaku jas nya tiba-tiba saja bergetar. Gabriel membuka kedua matanya dan menurunkan tangannya. Gabriel lalu membuka pesan singkatnya yang ternyata dikirimkan oleh Shilla:



============================

From: Ashilla Keiko

Kmu dimana, Yel? Pestanya udh
hampir dimulai kmu nya malah ngilang.

============================
           

            Gabriel tersipu. Dengan cepat jari jemarinya mengetikan balasan pesan untuk Shilla.


============================

To: Ashilla Keiko

Aku lagi diatap. Kamu kesini gih.

============================

            Tanpa ragu, Gabriel menekan tombol send. Hanya selang beberapa menit setelah Gabriel membalas pesan Shilla, Shilla tiba-tiba saja muncul. Ia berjalan menghampiri Gabriel dan berdiri tepat disamping cowok yang dulu pernah mengisi relung hatinya itu.
            “kamu gak berniat bunuh diri kan? malem-malem begini berdiri diatas atap, orang yang gak tau bisa nyangkain kamu mau bunuh diri”
            Gabriel terkekeh pelan mendengarkan perkataan Shilla. Baginya, dari dulu hingga sekarang, tidak ada satu hal pun yang berubah dari Shilla, gadis cantik bermata jernih ini masih tetap saja lucu dengan kepolosan dan keluguannya.
            “malah ketawa! Ayo masuk. Kamu gak mau kan Opa Danar tiba-tiba marah gara-gara kamu ninggalin pesta?”
            Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah manis Gabriel tiba-tiba saja tenggelam dalam sekejab mata saat mendengar Shilla membawa-bawa nama Kakeknya. Mendengar nama Kakeknya membuat Gabriel mengingat kembali isi surat yang Mamanya tuliskan untuk dirinya.
            Dadanya terasa sesak kembali, membayangkan bagaimana kejamnya sang Kakek yang telah memecah belah keluarganya justru membuat hatinya terasa sangat sakit. Secara tidak langsung, Kakeknya telah merenggut kebahagiaan hidupnya yang semestinya bisa ia rasakan tanpa tekanan apapun.
            “Iel, kamu kok diem? Kenapa? Kamu gak enak badan?” Tanya Shilla sedikit cemas saat menyadari bahwa ada yang berbeda dari Iel malam ini. Ini pesta ulang tahunnya, harusnya Gabriel terlihat berbahagia malam ini, tapi apa yang Shilla lihat sekarang justru berbanding terbalik dengan apa yang dapat ia bayangkan.
            Saat tangan lembut milik Shilla menyentuh wajahnya, saat itulah Gabriel merasakan keadaannya bisa sedikit membaik dari sebelumnya. Gabriel memejamkan matanya. Rasanya begitu nyaman mendapati Shilla yang mencoba untuk menenangkannya.
            Gabriel lalu menyentuh tangan Shilla yang bertengger dipipinya, “Shill… aku boleh peluk kamu?” tanya Gabriel dengan nada yang terdengar lirih. Namun bukannya langsung paham, Shilla malah bingung sendiri.
            “hah?”
            “sekaliii ini aja apa aku boleh peluk kamu?” tanya Gabriel sekali lagi. Ragu-ragu Shilla akhirnya mengangguk.
            Gabriel yang tidak ingin membuang-buang waktu lagi langsung menarik Shilla kedalam pelukannya. Hangat, rasanya begitu hangat dan menenangkan. Gabriel lantas memejamkan kedua matanya sambil membelai lembut rambut panjang Shilla yang terurai.
            “apa ada masalah?” tanya Shilla pelan. Ia masih belum membalas pelukan Gabriel.
            Gabriel mengangguk sebagai jawaban.
            “kamu mau cerita?” Shilla kembali melemparkan pertanyaan, tapi kali ini Gabriel menggeleng sebagai jawabannya.
            “Shill... apa aku boleh minta tolong?” tanya Gabriel dengan nadanya yang masih terdengar lirih.
            “minta tolong apa?”
            “bisa tolong kamu katakan, kalo semua ini bakalan baik-baik aja. Bisa tolong kamu katakan, kalo aku bisa ngelewatin semua ini. Bisa tolong katakan kalo aku…. Gak sendirian…”
            Ada getaran pada nada suara Iel yang dapat Via tangkap pada 2 kata terakhirnya. Getaran itu entah kenapa begitu lirih dan amat memilukan. Shilla tidak tahu pasti apa yang terjadi pada mantan pacarnya ini, tapi Shilla ingin selalu menenangkannya dan tetap berada disampingnya.
            Dengan pelan, Shilla mengangkat kedua tangannya lalu secara perlahan-lahan mulai membalas pelukan Gabriel. Saat itulah, Gabriel langsung mengeratkan pelukannya, dan tanpa ia sadari, sebulir airmata nya lolos begitu saja.

            “semuanya akan baik-baik aja, Yel. Aku yakin kamu bisa ngelewatin semua ini, dan kamu harus inget satu hal… kamu gak pernah sendirian…” ujar Shilla sambil menepuk lembut punggung Gabriel yang mulai terasa bergetar pelan.

            Untuk yang pertama kalinya Shilla menyaksikan langsung bagaimana seorang Gabriel Fabian Ganendra yang terkenal kuat dan tegar menangis terisak dalam pelukannya. Shilla tidak  bisa berbuat apa-apa selain memeluknya. Shilla harap itu cukup.


♫♫♫

            Makin lama, tamu undangan yang sebagian besar adalah rekan-rekan bisnis Danar Ganendra semakin banyak yang berdatangan. Tidak hanya itu, beberapa wartawan dari Koran, majalah bahkan televise terlihat wara-wiri di Grand Ballroom yang sangat mewah itu. Selain beberapa wartawan, Alvin juga melihat beberapa artis terkenal turut hadir dipesta itu. Gabriel benar, pesta malam ini bukan mutlak digelar untuknya. Danar Ganendra mengadakan pesta ini hanya semata-mata demi kepentingan bisnisnya. Alvin sendiri baru menyadari itu saat ia menyaksikan secara langsng.
            Alvin yang sejak tadi duduk sendirian sambil memperhatikan para tamu yang berdatangan mendadak terkejut saat melihat Via datang bersama Cakka. Sebelumnya Alvin sudah tahu kalau Cakka akan datang bersama Via, sejak beberapa hari yang lalu, Cakka bahkan sudah gembar-gembor. Tapi entah alasan apa yang membuat Alvin sampai harus terkejut begini.
            Cakka melambai kearah Alvin dengan seulas senyuman lebar, sementara Via yang datang bersama Cakka justru menunduk sedalam-dalamnya saat melihat sosok Alvin.
            Cakka dan Via lalu menghampiri Alvin dan duduk disatu meja yang sama.
            “hay, bro! udah lama?”
            “lumayan” jawab Alvin singkat. Kali ini perhatiannya tertuju pada Via yang terlihat sedikit dewasa dari usianya sekarang. Alvin tampak mengamati Via sebaik mungkin, tapi dari apa yang dapat Via tangkap, Alvin tidak sedikitpun terlihat kagum dengan penampilannya malam ini.
            “anak-anak yang lain mana?” tanya Cakka –lagi-
            “Rio lagi sama Ify. Kalo Gabriel… mungkin lagi siep-siep…” jawab Alvin sekenanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Via yang tampak salah tingkah.
            Menyadari bahwa sejak tadi titik focus Alvin hanya tertuju pada Via, Cakka langsung tersenyum jahil dan berkata, “gimana? Via cantik kan malem ini? Tapi secantik-cantiknya Via, lo tetep gak bisa ngegebet dia. Inget, Via tuh sepupu lo” kelakar Cakka sambil berusaha keras menahan tawanya.
            Via semakin salah tingkah dibuatnya. Cakka apa-apaan sih? Gerutunya dalam hati.
            “ngaco lo!” bantah Alvin. Ia lalu menyesap minuman yang sejak tadi ada dihadapannya.
            “tapi Via cantik kan male mini?”
            Alvin tampak berpikir. Sementara Via, ia sudah harap-harap cemas.
            “biasa aja. Nothing special… malah menurut gue, dandanan Via terlalu menor…” jawab Alvin seenaknya dengan raut wajah tanpa dosa yang benar-benar terlihat sangat menyebalkan dimata Cakka dan Via.

            “ELO??!” Geram Cakka dan Via secara bersamaan.

            “gue kenapa?”

            Alvin, Cakka dan Via tiba-tiba saja dikejutkan saat beberapa wartawan yang sejak tadi terlihat wara-wiri didalam ruangan mendadak gaduh. Mereka semua berjalan cepat kearah pintu saat Danar Ganendra dengan ditemani oleh Gabriel, Anton Bramantya, Hoshi Sorano (Ayah Cakka) dan beberapa rekan bisnis lainnya memasuki ruangan.
            Danar terlihat mengumbar senyumannya saat beberapa wartawan mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

            “terimakasih karena kalian semua telah bersedia datang dihari bahagia cucu saya, Gabriel Fabian Ganendra. Karena hari ini Gabriel telah menginjak usia 17 tahun, jadi saya akan menyampaikan pengumuman yang sangat penting…” kata Danar sambil merangkul pundak Iel yang justru tidak terlihat bersemangat sama sekali.

            “gak ada yang lebih keren dari acting seorang Danar Ganendra…” komentar Cakka sambil berdecak beberapa kali.
            Saat Via untuk yang pertama kalinya melihat wajah seorang Danar Ganendra, ia tiba-tiba saja merasa sangat ketakutan untuk sebuah alasan yang tidak ia ketahui. Jantungnya berdegub dengan sangat cepat tanpa bisa ia kendalika. Entah kenapa ia merasa seperti pernah melihat wajah itu.

            ‘hiks hiks hiks…. Opaaaaaaa’
            Satu suara tanpa wujud seakan berteriak kencang dari dalam ingatannya. Suara isak tangis anak kecil itu semakin jelas terdengar bahkan sampai berulang-ulang kali. Dan hal itu kontan saja membuat kepala Via terasa sakit.

            ‘hiks hiks hiks…. Opaaaa!!!’

            Perasaan Via semakin tidak terjelaskan saat Danar Ganendra dan rekan-rekannya menghampiri meja yang saat ini ia duduki bersama Cakka dan Alvin. Alvin serta-merta bangkit, ia tersenyum sangat manis lalu menghampiri Danar Ganendra.

            “selamat malam, Opa Danar…” sapa Alvin seraya menyalami Danar.
            “selamat malam juga, Alvin” balas Danar dengan sangat ramah dan bersahabat.
            “oya, Papa sama Mama saya mengirimkan salam untuk Opa Danar, beliau menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karna tidak bisa hadir dipesta malam ini. Beliau harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di Milan”
            Danar mengangguk beberapa kali seraya berkata, “saya tahu, Nak. Bisnis kedua orangtua mu juga sedang maju-majunya untuk saat ini, jadi wajar saja kalau mereka sangat sibuk”
            Alvin menunduk takzim sambil tersenyum lebar. Tapi apa yang Alvin lakukan itu justru membuat Cakka sangat muak, ‘mulai deh sok ramahnya…’ gumam Cakka pelan nyaris tak bersuara.
            “Cakka Sorano Raditya… kamu sendiri apa kabar? Apa kamu sudah mempersiapkan diri sematang mungkin untuk menjadi pimpinan Sorano Hotel dimasa depan?” kali ini Danar melemparkan perhatiannya pada Cakka.
            “saya rasa… masih terlalu dini untuk membahas masalah itu. Saya juga tidak begitu tertarik untuk menjadi pimpinan hotel ini…” jawab Cakka asal yang langsung mendapatkan pelototan tajam Ayahnya.
            “Cakka, jaga ucapanmu!” Hoshi memperingatkan dengan cukup keras.
            Danar tidak lantas merasa tersinggung dengan jawaban Cakka yang agak sedikit tak sopan itu. Danar justru tersenyum sambil menepuk pelan pundak Cakka beberapa kali.
            “tidak seperti Ayah mu, rupanya… kamu memiliki jiwa pemberontak yang sangat kuat, dan hal itulah yang juga kita butuhkan dalam menjalani hidup ini. Belajar yang rajin, Cakka… dan pertahankan sikap mu ini…”
            Setelah Cakka, kali ini perhatian Danar tertuju pada Via yang sejak tadi hanya diam sambil menatapnya. Danar balas menatap Via dengan lembut. Sama seperti Via, tidak lama setelah saling menatap tanpa suara, Danar mendadak merasa pernah melihat wajah ini sebelumnya. Wajah ini juga mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya.

            “Gisselavia Garneta?” tanya Danar ragu-ragu.

            Via langsung terkesiap. Darimana Danar tahu namanya?
            “be—benar? Da—darimana anda tahu?” tanya Via balik dengan terbata-bata.

            Danar tersenyum penuh misteri. Tanpa ada yang menduga, Danar menepuk pelan puncak kepala Via seraya berkata, “terimakasih…”
            Alvin, Cakka, tidak terkecuali Gabriel benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja Danar katakan pada Via. Ini bahkan kali pertamanya mereka bertemu, tapi kenapa Danar tiba-tiba saja mengucapkan terimakasih untuk Via? Ada apa dibalik semua ini?

            “nikmati pestanya anak-anak…” pesan Danar untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya ia melewati Via begitu saja dan meninggalkan berjuta-juta tanda tanya dibenak Alvin, Cakka dan Gabriel.


            ‘Mama… Opa Danar siapa sebenarnya? Kenapa Via ngerasa pernah kenal sama Opa Danar, Ma…’ bathin Via sambil menatap punggung Danar yang berjalan perlahan menjauhinya.



♫♫♫

            Sudah satu jam pesta berlangsung, namun semakin berjalannya waktu, Alvin malah merasa jenuh. Disaat teman-temannya begitu menikmati pesta, Alvin justru ingin pulang. Dan Alvin semakin merasa jenuh saat melihat Via dan Cakka yang tampak sangat serasi malam ini.
            Dalam diamnya, Alvin mengamati mereka sebaik mungkin. Via mungkin bisa menyembunyikan rasa tidak suka serta rasa tidak nyamannya dihadapan Cakka, tapi tidak dihadapan Alvin. Alvin bisa menangkap bagaimana tidak nyamannya Via berada ditengah-tengah dipesta itu, dan senyum serta tawa yang Via umbar malam ini hanyalah sebuah kepalsuan yang membuat Alvin muak.
            Alvin mengalihkan pandangannya kearah lain. Jika saja pesta malam ini bukanlah pesta ulang tahun Gabriel, mungkin sudah sejak tadi Alvin memilih untuk angkat kaki. Hanya saja rasa tidak enak hati terhadap Gabriel serta Opa Danar malah menahan Alvin dipesta ini.
            Alvin tahu-tahu merasakan ponselnya bergetar. Ia menerima sebuah pesan yang ternyata dikirimkan oleh Via. Sebelum membaca pesannya, Alvin sempat melirik sejenak kearah Via yang waktu itu kebetulan sedang melihat kearahnya juga. Via lalu memberikan kode untuk Alvin agar segera membaca pesannya. Paham dengan kode yang Via berikan, Alvinpun segera membaca pesannya:



==============================

From: Via “Otak Ayam”

Vin… please bawa gue pulang :(

==============================

            Namun bukannya membalas pesan itu, Alvin malah kembali melempar tatapannya kearah Via. Saat itu juga, Via langsung memasang wajah memelas. Awalnya Alvin tidak ingin menghiraukannya, tapi kelamaan Alvin lagi-lagi merasa tidak tega. Kenapa gadis ini selalu bisa membuat Alvin luluh disaat tidak ada satupun orang yang bisa membuatnya luluh?
            Alvin berpikir cukup lama. Setelah menemukan alasan yang menurutnya cukup masuk akal untuk meninggalkan pesta terlebih dahulu, Alvin lantas menghela napas panjang dan bangkit. Dengan mantap, ia berjalan menghampiri Via yang saat itu sedang berkumpul bersama Cakka, Rio, Shilla, Ify, Agni dan Gabriel.
            “Vi, kita pulang sekarang!”
            Cakka serta-merta kaget. Apa-apan Alvin? Kenapa mendadak mengajak Via pulang? Pestanya bahkan belum selesai. Pikir Cakka sambil menatap tajam kearah Alvin. Dasar! Sahabat tidak pengertian.
            “kok pulang? Kan pestanya belum kelar, Vin” kata Gabriel.
            “maafin gue sebelumnya Iel, tapi Nyokap nya Via mendadak datang dari Lombok malam ini. Jadi kami harus segera pulang. Ya kan, Vi?”
            ‘semoga gak ketahuan bohongnya… mana si Alvin pakai acara bawa-bawa Nyokap segala lagi’ bathin Via.  Tidak lama Via lalu mengangguk, menyetujui apa yang baru saja Alvin katakan.
            “kalo gitu gue ikut. Gue mau kenalan sama Mama nya Via” ucap Cakka seraya berdiri dan menarik pergelangan tangan Via. Dan kali ini, Via benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Bagaimana ini?
            Secara refleks, Alvin juga menarik pergelangan tangan Via yang lainnya. Otaknya bekerja secepat mungkin, berusaha mencari alibi lain.
            “kedekatan lo sama Via saat ini belum sampai pada tahap kenalan sama orangtua nya. Jadi sebaiknya lo tahan”
            “tapi, Vin—“
            “lagian kan gak solid kalo kita berdua harus mangkir dari birthday party-nya Iel. Seenggaknya salah satu diantara kita harus tetap tinggal disini, dan itu udah pasti lo…” ujar Alvin sambil menatap Cakka dengan serius, ‘sorry, Kka… gue terpaksa bohong gara-gara si Otak Ayam ini…’ lanjut Alvin dalam hati dengan tetap berusaha bersikap tenang.
            Cakka mengangguk paham. Meskipun agak sedikit tidak terima, tapi Cakka tetap tidak bisa memungkiri bahwa apa yang baru saja Alvin ucapkan ada benarnya juga. Cakka akhirnya mengalah, ia lalu melepaskan pergelangan tangan Via dengan berat hati.

            “ya udah deh…”



♫♫♫


            Alvin melangkahkan kakinya dengan cepat dan sama sekali tidak menghiraukan Via yang susah payah menguktinya dibelakang. Dari bagaimana cara Alvin bersikap saat ini, Via tahu pasti bahwa Alvin sedang marah.
            “lo marah sama gue? Kalo emang tadi lo gak mau ninggalin pesta sampe harus ngebohongin Cakka segala, terus kenapa lo mau bawa gue pulang? Dengan temperament lo yang kayak gini lo bisa aja kan nolak permintaan gue asal lo mau. Terus kenapa lo harus kayak gini?”
            Oceh Via yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari Alvin. Alvin malah semakin mempercepat langkahnya dan membuat Via semakin kuwalahan mengikutinya.
            “ALVIN!” seru Via dengan cukup keras, “jawab gue!” lanjutnya. Tapi lagi-lagi ia tidak mendepatakan respon apapun dari Alvin.
            Muak dengan kediaman Alvin yang sangat menyebalkan itu, Via pun berlari kecil mengejar langkah Alvin. “CALVIN!!” Jerit Via pada akhirnya. Tapi baru saja ia akan meraih pergelangan tangan Alvin, secara mengejutkan dan tanpa Via perhitungkan sebelumnya, Alvin malah berbalik dan membuat wajah mereka nyaris bersentuhan satu sama lain. Suasana langsung menghening. Via tidak mendengarkan suara apapun selain suara deru napasnya yang memburu. Kedua matanya membelalak maksimal saat tatapan Alvin jatuh tepat dan menghujam tajam pada kedua manik matanya.
            “udah gue bilang! jangan panggil gue dengan nama itu” kecam Alvin yang kontan saja membuat Via merinding. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Alvin semarah ini. “lo sama sekali gak berhak manggil gue dengan nama itu. Jadi jangan sekalipun lo coba-coba manggil gue dengan nama itu. Ini bukan nasihat tapi peringatan. Ngerti lo?”
            Alvin kembali melanjutkan langkahnya, tapi kali ini Via tidak mengikutinya. Beberapa saat setelah kepergian Alvin, Via langsung terduduk saat ia merasa kedua kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Selama ini Via memang sering melihat Alvin marah, tapi tidak pernah sekalipun Via melihat Alvin begitu mengerikan seperti apa yang ia lihat beberapa saat yang lalu.
            Beberapa menit kemudian, seseorang tiba-tiba saja muncul. Ia berdiri tepat dihadapan Via yang terduduk lemas dilantai seraya mengulurkan tangannya. Via serta-merta mengangkat wajahnya dan menangkap seraut wajah yang beberapa menit yang lalu terlihat begitu mengerikan kini berubah melembut.

            “A—Alvin…?” ujar Via terbata.

            “maaf udah bikin lo takut” ucap Alvin penuh kesungguhan.

            Via berpikir sesaat sebelum akhirnya ia menyambut uluran tangan Alvin dan berdiri.
            “sekali lagi gue minta maaf…” ulang Alvin.
            “gue yang salah. Maafin gue… maaf karna gue gak pernah mau dengerin omongan lo…”

            Alvin terdiam, tapi tangannya mengenggenggam erat tangan Via yang terasa dingin. Mungkin tadi Alvin benar-benar keterlaluan sampai membuat gadis ini ketakutan. Tidak seharusnya Alvin menakuti Via seperti itu disaat Via tidak tahu alasan kenapa dia tidak suka dipanggil dengan nama ‘CALVIN’. Lain kali Alvin akan lebih berhati-hati lagi dan berusaha mengontrol emosinya agar tidak lepas seperti tadi.

            “apa lo mau pergi sama gue ke suatu tempat?”

            “a—apa?”



♫♫♫


            “AAAAAAA….. INI KEREEEEEEENN!!” Teriak Via sekeras-kerasnya saat Alvin membawanya kesebuah bukit. Bukit buatan yang sekarang mereka pijaki ini begitu indah. Ada ratusan kunang-kunang yang mengelilingi mereka. Kilau bintang-bintang dan cahaya rembulan diatas langit sana semakin menyempurnakan keindahan itu. Dan seumur hidupnya, ini pertama kalinya Via melihat keindahan se-luar biasa ini.
            “Alvin siniiiiiiii!!” panggil Via sambil melambai kearah Alvin yang berdiri cukup jauh dari posisinya sekarang. Alvin berusaha keras menahan dirinya agar tidak tersenyum, tapi usahanya itu berantakan sudah saat melihat Via yang begitu gembira. Ini cara yang Alvin gunakan untuk menebus kesalahannya tadi.
            Alvin tersenyum kecil lalu melangkah mendekati Via,
            “gimana bisa lo tahu tempat seindah ini? Ini kereeen banget…”
            “lo suka?” tanya Alvin singkat.
            “gue suka, gue suka, gue suka, GUE SUKAAAAA BANGET!!”
            “ini tempat favorit gue dibelahan bumi ini, dan… elo orang pertama yang gue bawa kesini…”
            Hening. Senyuman yang sejak tadi terlukis diwajah Via mendadak membeku untuk beberapa saat. Benarkah dia adalah orang pertama yang Alvin bawa ke tempat ini? Benarkah Alvin tidak pernah membawa siapapun ketempat ini kecuali dirinya? Apa Alvin tidak sedang membohonginya? Atau apa Alvin hanya berusaha untuk menghiburnya karna telah membuatnya ketakutan tadi?
            Menyadari bahwa baru saja ia telah salah bicara, Alvinpun menarik pergelangan tangan Via dan membawanya untuk duduk direrumputan yang hijau. Alvin tidak berniat untuk menarik ucapannya tadi, ia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
            “bisa lo certain gimana kehidupan lo setelah gue pindah ke Jakarta 11 tahun yang lalu?”
            Via tersenyum mencibir. Satu pertanyaan itu saja ternyata cukup untuk bisa membuat Via mengalihkan perhatiannya.
            “kenapa kesannnya gue jadi menderita banget setelah lo pindah?”
            “maybe…”
            Via mendorong pelan pundak Alvin sambil tertawa. Ternyata dibalik sikap dingin dan cueknya Alvin, ia menyimpan tingkat kepedean yang sudah memasuki level tinggi, dan ini benar-benar surprise.
            “yang jelas setelah lo pindah, gue bisa sedikit lebih tenang…”
            “kok?” tanya Alvin heran. Salah satu alisnya terangkat.
            “karna gue gak perlu repot-repot ngelindungin lo dari kakak-kakak kelas yang sering nge-bully lo, hahaha…”
            Tepat saat melihat keatas langit, sebuah bintang jatuh. Via buru-buru memejamkan kedua matanya dan segera membuat permohonan. Alvin hanya menatapnya dari samping. Gadis ini pasti kebanyakan menonton drama. Hidupnya saja sama persis seperti di drama. Alvin mendesis lalu menatap kearah langit.
            “bikin permohonan tuh sama Tuhan, bukan sama Bintang…” cibir Alvin. Tuh kan, nyebelinnya keluar lagi. Pikir Via.
            “waktu masih hidup, Mama sering bilang kalo Bintang bisa nyampein permintaan kita sama Tuhan. Dan gue yakin dengan itu, makanya setiap Bintang jatuh, gue selalu bikin permohonan. Langit itu tinggi tapi pasti memiliki batas, gue percaya itu. Yang berarti, harapan apapun yang tidak mungkin pasti akan menjadi mungkin kalo kita mau percaya…”
            “terus, permohonan apa yang lo bikin?”
            “gue memohon sama Tuhan buat jagain Mama baik-baik. Gue juga pengen Mama tau kalo disini gue baik-baik aja. Gue bahagia punya Papa Adryan dan Mama Metta, gue bahagia punya sahabat-sahabat kayak Agni, Ify dan Shilla, gue bahagia punya Angel juga punya… lo. Jadi, Mama gak perlu khawatirin gue disini. Gue pengen Mama tahu, kalo gue gak pernah sendirian. Asal Mama bahagia disana, gue juga pasti bahagia disini…”
            Via berusaha keras menahan airmata nya. Tidak, Via tidak akan pernah meneteskan setitikpun airmatanya. Ia telah berjanji pada Mama nya untuk tidak menangis apapun yang terjadi. Jika sekarang Via akhirnya menangis, Mamanya pasti akan sangat sedih. Dan Via tidak ingin itu terjadi.
            “kalo lo mau nangis… nangis aja. Gak usah ditahan…”
            Via menggeleng mantap, “gak! Gue gak akan nangis. Gue udah janji sama Mama gak bakalan nangis. Gue gak mau ingkar janji. Gue gak bisa”
            Mengikuti nalurinya, Alvin menangkat lengannya dan secara perlahan melingkarkannya dipundak Via. Sejak awal Alvin tahu bahwa Via adalah sosok seorang gadis yang kuat, bahwa Via adalah sosok seorang gadis yang tegar. Alvin mengusap pundak Via beberapa kali untuk lebih menenangkan perasaannya.
            Alvinpun sedikit menarik gadis itu agar lebih dekat lagi dengannya. Biarlah untuk malam ini mereka bisa sedekat ini. Alvin tidak akan pernah tahu apa yang terjadi nanti, tapi untuk saat ini, Alvin ingin berada disisi Via. Alvin tidak ingin membuat Via merasa sendirian.
            Via pun menjatuhkan kepalanya didada bidang milik Alvin sambil berusaha keras menahan tangisannya. Sebelumnya, Via tidak pernah merasa senyaman ini. Pelukan Alvin bahkan sama nyamannya dengan pelukan mendiang Mamanya, dan berada disamping Alvin seperti ini membuat Via merasa terlindungi.
            Alvin lebih merapatkan lagi pelukannya pada pundak Via. Ia lalu mengusap lembut kepala Via dan memejamkan kedua matanya.
            2 menit berlalu, merekapun mengurai pelukan mereka. Alvin dan Via sama-sama merasa canggung. Mereka lantas melemparkan tatapan mereka kearah lain dengan perasaan yang tidak bisa mereka jelaskan dalam rangkaian kata-kata.
            “oya…” Alvin merogoh kantong jasnya dan menemukan sebuah kotak berwarna biru langit dengan pita berwarna putih sebagai hiasannya, Alvin lalu menjulurkan kotak itu dihadapan Via seraya berkata, “happy birthday…”
            “hah?”
            “terima ini dan ayo kita pulang”
            Alvin menyerahkan paksa kado kecil ditangan Via dan bangkit berdiri. Alvin telah siap-siap melangkah pergi sebelum akhirnya Via menahan pergelangan tangannya dan berkata,
            “gue boleh buka ini disini?”
            “terserah lo!” jawab Alvin dingin lalu melangkah terlebih dahulu.
            Via menatap sosok Alvin yang berjalan perlahan menjauhinya. Karena merasa sangat penasaran dengan kado pemberian Alvin, Via pun langsung membukanya tanpa pikir panjang.
            Dan Via terkejut sekaligus terharu saat melihat hadiah yang diberikan oleh Alvin. Ternyata Alvin memberikannya kalung SkyLova yang sangat ia inginkan. Via bahkan tidak pernah berkata pada Alvin bahwa dia sangat menginginkan kalung ini, lalu bagaimana Alvin bisa tahu?
            Via yang merasa tidak sanggup lagi menahan luapan emsoinya langsung berlari mengejar langkah Alvin dan memeluknya dari belakang. Hari ini, Alvin telah menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun serta memberikannya kado yang sangat ia inginkan.
            Alvin terdiam sejenak, ia pun menyentuh kedua tangan Via yang melingkari pinggangnya dari belakang, “lo kenapa?” tanyanya singkat.


            “terimakasih, Alvin… terimakasih…”





To Be Continued...

0 comments:

Post a Comment