Via sedang sibuk
memasak didapur saat Alvin turun dari lantai 2 rumahnya. Pemandangan yang tidak
biasa itu benar-benar membuat Alvin terheran-heran. Satu minggu tinggal seatap
dengan Via, ini baru pertama kalinya Alvin melihat gadis itu menyentuh dapur.
“pagi,
Alviiinnnn!!” sapa Via penuh semangat sambil melepaskan apronnya. Ia lalu
membawa 2 gelas susu kemeja makan dan meletakannya dengan hati-hati.
“kenapa
jadi elo yang masak? Mbak Ningsih kemana?” Tanya Alvin sambil melirik kearah
dapur dan mencari penampakan Mbak Ningsih.
“Mbak
Ningsih udah kepasar tadi pagi. Gue juga yang ngotot masak buat sarapan pagi
ini”
“ngotot
masak?” Tanya Alvin bingung.
Via
meletakan telur mata sapi yang nyaris tidak berbentuk lagi diatas piring Alvin.
Alvin ternganga, kenapa bentuk telur ini begitu menyedihkan?
“iya.
Ini sebagai tanda permintaan maaf gue karna udah nyusahin lo semalem” jawab Via
apa adanya yang justru membuat Alvin semakin bingung.
Alvin
hanya mengangguk. Ia terlalu malas menanggapi apapun yang Via katakan.
“ini
telur ceplok apa telur orak-arik sih? Kok gak ada bentuknya?” komentar Alvin.
“makan
aja. Gue gak terlalu ahli dalam menggoreng telur”
Alvin
mendesis. Dengan setengah hati ia mulai menyantap nasi goreng hasil karya Via
yang katanya ia buat sebagai tanda permintaan maafnya.
Alvin
mengunyah makananya dengan hati-hati, tapi… ia merasa seperti ada yang aneh
dengan rasa nasi goreng ini. Sekali lagi Alvin mengunyah, mencoba mengamati
rasanya baik-baik. Tidak lama, Alvin akhirnya bisa menarik satu kesimpulan. Ini
nasi goreng dengan rasa teraneh yang pernah masuk ke perutnya. Semoga tidak ada
yang bermasalah dengan system pencernaannya setelah ini.
“ehem…
lain kali lo gak usah repot-repot masak, ya? Cukup buat hari ini aja” ucap
Alvin datar sambil tetap memaksakan dirinya mengunyah nasi goreng itu.
“kenapa?
Gak enak ya?” Tanya Via harap-harap cemas.
“kenapa
lo gak coba sendiri aja?”
Via
segera mengikuti ucapan Alvin. Sekecap rasa aneh yang tidak terjelaskan
langsung menyambut lidahnya saat ia mencicipi masakannya sendiri. Via yang
batuk-batuk langsung meraih segelas air putih yang ada dihadapannya dan
meneguknya sampai tandas. Via sama sekali tidak mengerti, semua bumbu sudah ia
racik dengan sangat hati-hati, tapi kenapa rasa masakannya bisa seaneh ini ya?
Alvin
hanya berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh gadis
yang ada dihadapannya ini.
“nasi
gorengnya gak enak. Maaf yaa? Sini piring lo! Lo sarapan pake roti aja. Ini
biar gue buang”
Alvin
langsung menepis kedua tangan Via sebelum menyentuh piring makanannya. Ia
seakan tidak membiarkan Via menyentuh piringnya.
“gak
usah dibuang! Ini biar gue abisin aja. Lo pikir ini buatnya gak pake duit? Lo
pikir ini buatnya gak ngeluarin tenaga? Udah makan aja sampe abis. Tapi lain
kali, jangan lo ulangi lagi!”
ANEH,
itulah satu kata yang menggambarkan keadaan Alvin pagi ini. Ternyata, Alvin
sama anehnya dengan nasi goreng yang ia buat. Ralat, sepertinya Alvin jauh
lebih aneh dari rasa nasi gorengnya.
Via
yang awalnya merasa sangat aneh dengan Alvin, sekarang malah merasa tidak tega.
Sekeras apapun Alvin berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya, tapi tetap
saja semuanya dapat Via tangkap dengan sangat jelas.
♫♫♫
Shilla
sedang sibuk mengerjakan PR Fisika nya dikafetaria saat seseorang tiba-tiba
saja datang lalu duduk tepat dihadapannya. Shilla menghentikan aktifitas
mencatatnya lalu mengangkat wajahnya. Dan Shilla kaget bukan main saat melihat
bahwa Rio lah yang tiba-tiba datang lalu duduk dihadapannya.
“eh…
elo, Yo?” ucap Shilla tanpa bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
“gue
boleh gabung kan?” Tanya Rio sambil menatap tepat pada kedua mata jernih
Shilla. Apa yang Rio lakukan itu justru membuat perasaan Shilla makin tidak
menentu. Sial! Apa cowok ini tidak bisa lebih manis lagi dari ini?
“kok
bengong, Shill? Gue boleh gabung gak?” Tanya Rio sekali lagi yang merasa heran
dengan sikap yang Shilla tunjukan.
Shilla
tersadar, ia membuyarkan keterpanaannya lalu buru-buru mengangguk.
“boleh
kok boleh”
Rio
tersenyum manis sambil menggumamkan kata terimakasih.
“oya,
lo lagi ngapain nih? Sibuk banget kayaknya” Rio menatap buku catatan Shilla
dengan seksama.
“ini,
gue lagi ngerjain PR Fisika. Tadi buku PR gue ketinggalan, jadi terpaksa gue
kerjain sekarang sebelum bel masuk”
Rio
sempat mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya menjawab perkataan Shilla.
“terus gimana? Udah jadi belom?”
“dikit
lagi kok”
“ya
udah lanjutin aja. Gue gak mau ganggu”
Baru
saja Rio akan bangkit dari hadapan Shilla, Shilla malah dengan refleks mencekal
pergelangan tangan Rio. Rio mengernyit heran. Ia mengangkat salah satu alisnya
tinggi-tinggi,
“ada
apa, Shill?”
“lo
pergi sama siapa ke birthday party-nya
Iel?” tanpa sadar pertanyaan itu meluncur begitu saja. Sesaat setelah Shilla
melemparkan pertanyaan itu pada Rio, ia baru menyadari bahwa apa yang ia
lakukan baru saja benar-benar gila.
“hah?”
Rio berusaha memastikan pendengarannya, tapi Shilla sudah terlanjur merasa
sangat malu. Shillapun segera melepaskan tangan Rio,
“gak
apa-apa. Lupain aja pertanyaan gue tadi. Gue Cuma asal nanya aja kok”
Rio
tampak berpikir. Bagaimanapun ia tidak bisa pura-pura tidak mendengar apa yang
barusan Shilla ucapkan. Rio juga merasa sangat tidak tega jika harus menolak
ajakan Shilla yang ia sampaikan secara tersirat itu. Toh juga Shilla adalah
mantan pacar sahabatnya. Jadi tidak ada salahnya kan jika Rio menerima ajakan
Shilla? Siapa tahu nanti Rio bisa menemukan cara untuk mempersatukan Shilla dan
Gabriel kembali.
“emmm…
sebenernya gue belom punya pasangan, Shill. Elo mau gak pergi sama gue ke birthday party nya Iel?”
Apa
Rio baru saja memintanya untuk pergi ke pesta ulang tahun Gabriel? Apa Rio baru
saja memintanya untuk jadi pasangannya? Apa semua ini nyata? Apa semua ini
bukan mimpi?
Shilla
menatap Rio tanpa suara. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia
dengar.
“Shill?
Kok bengong lagi? Gimana? Lo mau gak pergi sama gue ke birthday party-nya Iel?”
Shilla
mengangguk beberapa kali tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari kedua
mata Rio yang tampak begitu yakin. “gue mau, Yo…” jawabnya singkat. ‘MAU BANGET!’ teriaknya dalam hati
dengan girang.
Tanpa
mereka tahu, tepat dibelakang posisi mereka sekarang, Ify melihat dan mendengar
semuanya dengan sangat jelas. Tidak bisa ia pungkiri, ada semilir perih yang
seakan menyapa jantungnya. Kuota udara disekitarnyapun seolah menipis dan
membuatnya sesak.
Kenapa?
Kenapa rasanya harus semenyesakan ini?
♫♫♫
Baru
saja Alvin dan Via keluar dari dalam mobil, secara mengejutkan Cakka tahu-tahu
muncul diantara mereka dengan pandangan bertanya. Cakka menatap Alvin dan Via
secara bergantian. Disaat Via merasa tertangkap basah oleh Cakka, Alvin justru
terlihat begitu santai. Alvin seperti telah memperkirakan bahwa hal ini akan
terjadi jauh hari sebelumnya.
“Vin?
Kok lo bisa sama Via, sih? Kalian saling kenal?” Tanya Cakka yang berusaha
keras untuk memastikan satu hal.
Cakka
bukannya tidak tahu bahwa Alvin begitu tertutup bahkan pada sahabat-sahabatnya
sendiri, hanya saja Cakka tidak pernah menyangka bahwa Alvin menyembunyikan
rahasia sebesar dan sepenting ini dari mereka, utamanya dari dirinya sendiri.
Sejak awal Alvin tahu bahwa Cakka mengincar Via secara terang-terangan, bahkan
seluruh warga SMA Patuh Karya mengetahui hal itu, tapi pertanyaan yang
berkecamuk dibenak Cakka adalah: kenapa Alvin pura-pura tidak mengenal Via?
Via
tampak gugup. Pikirannya mendadak buntu. Sebelumnya ia tak pernah menduga hal
ini akan terjadi, jadi Via belum menyiapkan apapun. Dengan susah payah dan
terbata, Via berusaha menjawab pertanyaan Cakka tadi,
“ta—tadi,
tadi ki—ta… kita gak…”
“Via
sepupu gue, dan sekarang dia tinggal dirumah gue karna suatu dan lain hal. Ini
urusan keluarga, jadi kita gak bisa ngasih tau lo alesan yang sebenernya” jawab
Alvin santai sambil merangkul pundak Via. Sebisa mungkin, Ia berusaha terlihat
semeyakinkan mungkin.
“sepupu?
Kok lo gak ngasih tau sejak awal?” Cakka masih bingung.
“kalian
semua gak nanya” pungkas Alvin.
Cakka
terlihat berpikir keras. Entah kenapa ia merasa bahwa ada yang tidak beres
dengan semua ini. Tapi, Alvin adalah sahabat dekatnya sejak ia masih duduk
dibangku SMP, bertahun-tahun mengenal Alvin, tidak pernah sekalipun Alvin
membohonginya meskipun ia begitu tertutup. Jadi… sangat tidak mungkin jika
sekarang Alvin tiba-tiba membohonginya.
Cakka
mengangguk paham sambil berusaha menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk
seulas senyum. Cakka lalu menepuk salah satu pundak Alvin dengan cukup keras.
Apa yang Cakka lakukan itu kontan saja membuat Alvin melepaskan rangkulannya
dari pundak Via.
“jahat
lu! Kalo sejak awal lo ngasih tau gue, gue pasti bakalan lebih mudah ngedeketin
Via” kata Cakka yang seakan tidak menganggap kehadiran Via diantara mereka.
Via
mendelik tajam kearah dua cowok rese yang sedang menertawakannya sekarang. Muak
dengan semuanya, Via pun memutuskan untuk pergi dari areal parkir. Ia melewati
Alvin dan Cakka begitu saja tanpa sekalipun menoleh kebelakang.
“Vin…
Via udah punya pasangan buat birthday
party-nya Iel belum?” Tanya Cakka pada Alvin beberapa saat setelah Via
pergi. Alvin tampak berpikir,
“Via
kan anak baru, Kka. Jadi dia gak dapet undangan…”
“ya
udah, Via pergi sama gue aja yaaa? Urusan Iel nanti gampanglah. Biar gue yang
urus”
Alvin
menatap Cakka sejenak. Ia pun tersenyum mengejek lalu berkata,
“pergi
aja kalo dia mau diajak pergi sama lo” ledeknya lalu pergi meninggalkan Cakka
sendirian ditempat itu.
Cakka
mendengus kesal. Alvin benar-benar telah meremehkannya kali ini.
“Alvin
tunggu!” seru Cakka sambil berlari mengejar langkah Alvin.
♫♫♫
Via
berdiri risau dikoridor saat jam pulang sekolah menunggu kedatangan Shilla.
Tadi, saat bel tanda pulang berbunyi, Via langsung keluar dari kelas dan segera
pergi ke koridor. Besok ada ulangan harian Bahasa Inggris, dan Via harus
memberikan beberapa catatan pada Agni yang hari ini tidak masuk sekolah karna
sakit, sementara Via tidak tahu dimana rumah Agni. Dengan alasan itulah, Via
akan meminta bantuan Shilla untuk mengantarnya pergi kerumah Agni dan
memberikan catatan Bahasa Inggris.
Sekitar
5 menit kemudian, Via akhirnya melihat sosok Shilla yang sejak tadi ia tunggu.
Via tersenyum semuringah lalu berjalan menghampiri Shilla.
“Shill!”
panggilnya cukup keras.
Shilla
serta-merta menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya.
“eh,
Via? Ada apa, Vi?” Tanya Shilla.
“gini,
kan besok ada ulangan bahasa inggris, tapi hari ini Agni gak masuk karna sakit.
Jadi… gue harus nganterin catetan kerumahnya Agni. Lo mau gak nganterin gue
kerumah Agni? Gue gak tau rumahnya dimana”
Shilla
tampak kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“kenapa,
Shill?” Tanya Via yang merasa janggal dengan sikap Shilla.
“duuhh…
gini ya Vi. Sebenernya gue gak bisa nganterin lo kerumah Agni, soalnya setelah
ini gue musti jemput Nyokap kerumah temennya. Maaf, ya?”
Via
tersenyum maklum seraya berkata, “gak apa-apa, Shill. Nanti biar Agninya gue
kabarin lewat sms…”
Sesaat
setelah Via berkata seperti itu, tiba-tiba saja Shilla melihat sosok Cakka yang
saat itu tengah berjalan sendirian dikoridor. Tiba-tiba saja, sebuah ide muncul
dikepalanya. Shilla tersenyum lebar, ia melambaikan tangannya sambil menyerukan
nama Cakka, “CAKKA!”
Via
kaget setengah mati dengan apa yang baru saja Shilla lakukan. Jangan bilang…
Merasa
namanya dipanggil, Cakka segera berjalan dan menghampiri kedua cewek itu.
“ada
apa?” Tanya Cakka singkat sambil sesekali mencuri pandang kearah Via.
“gini,
jadi hari ini kan Agni gak masuk, dia lagi sakit. Nah, sementara besok tuh dia
ada ulangan bahasa inggris, jadiiii… tadi Via minta gue buat nganterin kerumah
Agni dan nganterin catetan bahasa inggris, tapi gue gak bisa. Kira-kira lo bisa
gak nganterin Via kerumah Agni?”
Tuh
kan benar dugaan Via. Shilla apa-apaan sih?
“g—gak
usah repot-repot! Nanti gue anterin sendiri. Lo cukup ngasih alamatnya aja” Via
buru-buru menolak dengan cepat sebelum Cakka mengatakan apapun.
“lho,
kok gitu sih, Vi? Lo kan orang baru disini, ntar takutnya lo malah nyasar lagi.
Udah, Kka anterin aja” kata Shilla sambil mengedipkan mata sebelah kirinya
seakan memberikan kode pada Cakka. Cakka tersenyum miring, ternyata Shilla
memang teman yang pengertian.
“ta—tapi…”
“udah
sanaaa! Kasian Agni nanti gak bisa belajar” ucap Shilla. Kali ini ia mendorong
tubuh Via hingga berdekatan dengan Cakka. Cakka terkesiap saat merasakan kulitnya
bersentuhan langsung dengan kulit Via.
“Kka,
jagain temen gue baik-baik ya? Awas lo!”
“siap
bos!!” ujar Cakka sambil memberikan hormat pada Shilla.
Via
yang sudah tidak bisa menolakpun akhirnya dengan terpaksa menerima ide gila
Shilla yang sepertinya sengaja ingin menjebaknya. Ingin sekali Via menolak jika
ia bisa, tapi kenyataan bahwa ia harus memberikan catatan pada Agni malah tidak
bisa membuatnya mengeluarkan penolakan dengan alasan apapun.
“ayo,
Vi…” ajak Cakka berusaha terdengar dingin lalu berjalan mendahului Via. Via pun
mengikuti Cakka dan berjalan beriringan bersama cowok berwajah tampan itu.
Shilla
tersenyum puas saat ide isengnya ternyata berhasil. Shilla terus menatap
punggung Cakka dan Via yang berjalan perlahan menjauhinya hingga akhirnya Cakka
menoleh kebelakang dan mengacungkan jempol untuk Shilla.
“haha…
good luck, my bro!”
♫♫♫
Setelah
menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 menit, tibalah Cakka dan Via dirumah
Agni. Selama diperjalanan tadi, tidak terjadi obrolan apapun antara Via dan
Cakka. Anehnya, meski begitu Cakka tidak sedikitpun merasa jenuh. Cakka sangat
menikmati perjalanannya, dalam hati ia justru berharap bisa menempuh perjalanan
yang lebih lama lagi dari ini.
Via
turun dari ninja merah milik Cakka lalu berdiri didepannya dengan canggung,
“thanks ya? Kalo mau lo bisa pulang
duluan, nanti gue pulang sendiri. Gue udah tau kok jalannya sekarang”
Cakka
menatap Via untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “lo pikir gue tukang
ojeg lo? Ayo masuk bareng! Gue juga mau liat kondisi Agni” Cakka berpura-pura
tersinggung kali ini, dan sepertinya acting Cakka berhasil. Itu terlihat jelas
dari mimic wajah Via yang langsung berubah. Via terlihat tidak enak hati pada
Cakka, dan itu malah membuat Cakka bersorak gembira dalam hati.
Cakka
masuk kedalam pekarangan rumah Agni setelah satpam membukakan gerbang. Cakka
lalu memarkirkan motornya tidak jauh dari beranda rumah Agni. Melihat dari
bagaimana cara Cakka bersikap, sepertinya ia sudah biasa keluar-masuk rumah Agni.
Setelah
pelayan dirumah besar itu mempersilahkan mereka masuk, Cakka dan Via langsung
melangkah ke kamar Agni yang letaknya ada dilantai 2 rumah itu. Cakka berjalan
dengan santai didepan dengan diikuti oleh Via dibelakangnya.
Cakka
berhenti didepan sebuah kamar, ia pun memasuki kamar itu yang Via yakini adalah
kamar milik Agni tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“lo
bisa sakit juga?” Tanya Cakka seraya berjalan menghampiri Agni yang sedang
berbaring diranjangnya. Cakka pun duduk dipinggir ranjang Agni lantas menyentuh
keningnya yang terasa panas.
“gak
usah sok care. Gue Cuma gak enak
badan aja” jawab Agni sambil menepis tangan Cakka dari keningnya. “lo kesini
mau ngejenguk gue? Gak salah?”
“gak
usah kegeeran lu!” Cakka menoyor kepala Agni, “gue kesini nganterin Via buat
ngasih lo catetan bahasa inggris. Besok kalian ulangan harian” lanjutnya yang
langsung membuat Agni cembrut.
Via
pun memasuki kamar Agni dan mengambil alih posisi Cakka setelah Cakka berdiri
dan mempersilahkannya untuk duduk.
“hay,
Agni! Gimana keadaan lo? Udah baikan?”
“udah
kok, Vi. Besok juga udah bisa masuk sekolah. Maaf ya gue jadi ngerepotin lo. Eh
iya, kok lo bisa sih kesini sama Cakka? Lo gak dijampi-jampi kan?”
“sembarangan
lo!” lagi-lagi Cakka menghadiahkan sebuah toyoran dikening Agni. Melihat adegan
itu, Via malah tertawa pelan.
“bagus
deh kalo keadaan lo emang udah baikan. Oya, ini catetan bahasa inggris buat
ulangan besok. Belajar yaaa?”
“siep…”
kata Agni sambil menerima buku catatan itu.
♫♫♫
The
Arion’s Café
Ponsel
Alvin, Rio dan Gabriel bergetar secara bersamaan menandakan ada sebuah pesan
singkat yang masuk ke nomor mereka masing-masing. Alvin, Rio dan Gabriel saling
melirik satu sama lain sebelum membaca SMS mereka yang dikirimkan oleh satu
orang yang sama yaitu; Cakka.
From:
Cakka Raditya
Tebak
gue lagi sama siapa sekarang? GUE LAGI SAMA VIA.
Gue
ngenterin do’i kerumah Agni. Amazing kan?
Nanti
malem lo semua gue traktir. See you guys.
“dari
Cakka?” Tanya Rio pada teman-temannya sesaat setelah ia membaca SMS yang
dikirimkan oleh Cakka. Sebagai jawabannya, Gabriel dan Alvin hanya mengangguk.
“kayaknya
si Cakka mulai ngeluarin jurus andelannya nih. Mau sekeras apapun Via nolak,
pasti ujung-ujungnya bakalan jatoh juga. Dia Cuma belom tau aja gimana reputasi
Cakka…” ucap Rio mantap yang memang sudah mengetahui betul bagaimana sikap dan
sifat Cakka.
Rio
melirik kedua sahabatnya secara bergantian lalu tersenyum miring.
“gue
berani taruhan –“ Rio menggantungkan kalimatnya lalu menatap Gabriel, “Cakka
pasti dateng bareng Via ke acara birthday
party lo”
Alvin
menghela napas panjangnya. Mendadak ia merasa sesak jika harus berlama-lama
ditempat ini. Alvinpun pura-pura melirik arlojinya, berusaha mencari sebuah
alibi.
“Yel,
Yo… gue musti pulang sekarang” Alvin bangkit lalu memasang jaket beserta
tasnya.
“kok
cepet amat? Lo gak mau ikut taruhan nih?” Tanya Rio meyakinkan.
Sekali
lagi Alvin menghela napas panjangnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rio,
“gue gak tertarik!”
Alvinpun
akhirnya benar-benar hengkang dari café itu dan meninggalkan setumpuk
kebingungan dikepala Rio. Hari ini Alvin benar-benar aneh.
Rio
lalu menatap Gabriel, berharap Gabriel tahu sesuatu dan mau suka rela
menjelaskannya. Tapi harapan Rio langsung musnah seketika saat Gabriel, dengan
gayanya yang tetap cool mengangkat
kedua bahunya tinggi-tinggi. Ternyata Gabriel tidak bisa diandalkan.
Alvin
membanting kedua tangannya diatas setir dengan frustasi. Sudah beberapa kali ia
mencoba menghubungi Via, tapi Via malah tidak merespon panggilannya sama
sekali. Alvin begini bukan karna apapun, ia murni hanya sebatas khawatir pada
gadis ceroboh itu. Ia termasuk orang baru disini, sekalipun ia keluar bersama
Cakka, tapi tetap saja Alvin merasa sangat cemas mengingat bagaimana sifat
keras kepala Via yang sulit untuk diatasi.
Kemudian
Alvin tersentak saat ponselnya kembali bergetar. Alvin buru-buru merogoh
kantong celana seragamnya lalu mengambil ponselnya. Dan Alvin terkejut setengah
mati ketika melihat satu nama tertera pada layar ponsel touch screen nya.
‘Prissy
Alexandra Calling…’
♫♫♫
“Via, biar gimanapun gue harus
nganterin elo pulang, Vi. Kalo lo gak mau, gue bisa dibunuh sama Alvin karna
udah ngebiarin lo pulang sendirian” kata Cakka memelas sambil terus mengikuti
Via dengan motornya.
Saat mereka pulang dari rumah Agni
tadi, Via bersikeras ingin pulang sendiri. Ia tidak ingin diantar oleh Cakka.
Tapi Cakka tidak lantas menyerah, ia tetap mengikuti Via.
“udah gue bilang, urusan Alvin tuh
urusan gue, bukan urusan lo! Jadi gak usah cemas” jawab Via sedikit emosi
sambil terus berjalan.
“Via! Ayolah jangan kayak gini”
Via menghentikan langkahnya, begitu
juga dengan Cakka, ia langsung menghentikan laju motornya. Via menghembuskan
napasnya dengan keras lalu menatap Cakka dengan pandangan muak.
“please, Kka… berhenti ikutin gue!
Gue emang bener-bener pengen pulang sendirian”
“tapi –“
“sekaliii ini aja gue minta tolong
sama lo, please dengerin gue”
Untuk beberapa saat Cakka menatap
kedua bola mata Via. Ia seakan mencari-cari sesuatu dari sepasang mata itu.
Cakka tampak berpikir sebelum akhirnya ia menganggukan kepalanya dan berkata,
“oke, kalo itu mau lo. Gue akan biarin lo pulang sendirian”
Cakka pun kembali menjalankan ninja
merahnya dengan berat hati dan meninggalkan Via hanya seorang diri dijalanan
yang cukup lengang itu. Ia sebenarnya merasa sangat was-was jika harus
meninggalkan Via, tapi mau bagaimana lagi? Ini permintaan langsung dari Via.
Cakka tidak bisa menolaknya sekalipun ia sangat ingin.
Setelah Cakka meninggalkannya, Via benar-benar sendirian.
Jika ingin jujur, sebenarnya Via sangat takut. Ia benar-benar buta dengan
daerah ini, tapi mau bagaimana lagi? Rasa gengsinya terlalu kuat untuk bisa ia
kalahkan. Maka Via pun memutuskan untuk tetap bertahan dengan rasa gengsinya dan
mencoba melawan rasa takutnya sebisa mungkin.
Setelah berjalan cukup jauh, Via
tidak juga menemukan sebuah taksi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk istirahat
sebentar disebuah halte. Jam ditangannya sudah menunjukan pukul lima sore, Via
makin risau. Bagaimana nanti kalau dia kemalaman? Bisa kena amuk Alvin.
Via bangkit lalu berdiri ditepi
jalan. Beberapa kali ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi berharap bisa
menemukan sebuah taksi, tapi hingga jauh waktu, taksi belum juga muncul. Via
menghembuskan napas panjangnya. Kali ini ia benar-benar frustasi.
Via baru ingat bahwa daritadi ia
sama sekali belum memeriksa ponselnya. Via pun bergegas membuka tas nya dan
mengambil ponselnya. tapi baru saja ia akan membuka ponselnya, seseorang yang
tidak ia kenal tiba-tiba saja merenggut tas berserta ponselnya lalu kabur
begitu saja.
Via yang panic langsung berteriak
histeris, “COPEEETTT! TOLONG ADA COPEEETTTT!!”
Teriakan itu sia-sia. Tak ada satu
orangpun yang mendengarnya. Merasa tidak memiliki harapan lagi dan takut pencopet
itu berlari semakin jauh, Via pun langsung mengambil inisiatif untuk
mengerjarnya. Via yakin bisa menghadapinya sendiri. Biar bagaimanapun juga dulu
Via pernah ikut ekskul karate di sekolahnya yang lama.
“HEH! BALIKIN TAS GUEEE!” Teriaknya dengan napas
yang tidak teratur. Pencopet tadi semakin mempercepat larinya, begitu juga
dengan Via. Apapun alasannya, Via tidak akan pernah membiarkan pencopet jelek
itu kabur.
Sesuatu yang tidak pernah Via duga
sebelumnya terjadi ditengah-tengah pengejarannya. Pencopet tadi tiba-tiba saja
jatuh terjerembab saat seseorang menendang kakinya dari belakang.
“mau lari kemana lagi lo? Hah?”
Kedua mata Via membelalak maksimal
saat melihat seseorang yang sudah menolongnya. Dia lah Cakka.
“Ca—Cakka?”
Saat Cakka lengah, pencopet itu
tiba-tiba saja bangkit lalu mendaratkan sebuah pukulan yang cukup keras diwajah
Cakka. Cakka kontan saja terjatuh. Sial, wajahnya terluka.
“oh… rupanya lo mau main-main sama
gue…” Cakka bangkit, ia lalu menarik kerah baju pencopet tadi dan menghajarnya
habis-habisan.
Beberapa menit kemudian, terdengar
suara memelas si pencopet itu yang memohon untuk dilepaskan oleh Cakka. Saat
itu juga, Cakka langsung memutuskan untuk berhenti menghajar si Pencopet tadi.
“ampuni saya… tolong ampuni saya…”
“udah, Kka… lepasin aja, kasian”
ucap Via yang berdiri tepat dibelakang Cakka. Cakka menoleh sejenak kearah Via
dan kembali mengalihkan perhatiannya pada pencopet yang masih berada dalam
genggamannya.
“kali ini lo gue lepasin. Kalo
sekali lagi gue ngeliat muka lo, gue pastiin lo gak akan hidup lagi. NGERTI
LO?”
“Iya… iya… ampun…”
Cakka melepaskan copet itu begitu
saja dan membiarkannya lari terbirit-birit. Beberapa saat setelah pencopet itu
pergi, Cakka pun mengambil ponsel serta tas milik Via dan mengembalikannya
langsung.
“ini barang-barang lo”
“makasih, Kka…” balas Via seraya
menerima barang-barangnya, “kalo gak ada lo, gue gak tau gimana nasib gue
selanjutnya” lanjutnya sambil menunduk.
“makanya lain kali, kalo orang
ngomong tuh didengerin. Sekarang… lo gak punya alesan lagi buat nolak, gue
harus nganterin lo pulang. Mau gak mau, suka gak suka”
Via hanya mengangguk yang langsung
disambut oleh senyuman lega dari Cakka.
“pulang yuk. Udah sore nih”
“tunggu dulu!” Via mencekal
pergelangan tangan Cakka saat menyadari wajahnya terluka akibat pukulan dari
pencopet tadi. “lo luka. Ini sebaiknya kita obatin dulu” ucap Via penuh
perhatian sambil menyentuh pelan luka diwajah Cakka.
“aww…” ringis Cakka, “gak apa-apa
kok. Ini Cuma luka kecil. Nanti biar gue yang obatin sendiri”
“seenggaknya lo udah nolongin gue,
jadi biarin gue ngobatin luka lo”
“ta—tapi…”
“kita cari apotik sekarang. Kita
butuh obat merah sama plester” kata Via yang sudah tidak ingin lagi
mendengarkan alasan apapun dari Cakka.
Tanpa sadar, Via menarik pergelangan
tangan Cakka dan membawanya berjalan kearah motor Cakka yang letaknya tidak
begitu jauh dari posisi mereka sekarang.
♫♫♫
Setelah membeli obat merah dan
plester disebuah apotik, Via buru-buru menghampiri Cakka yang saat itu sedang
menunggunya dibangku sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari apotik yang ia
datangi. Via duduk disamping Cakka. Lalu dengan sangat telaten, Via meneteskan
beberapa tetes obat merah diatas secarik kapas dan langsung mengoleskannya pada
luka kecil yang terdapat diwajah Cakka.
Cakka berusaha menahan perih yang
terasa. Dalam hatinya, ia merasa sangat bahagia dengan perlakuan penuh
perhatian yang Via tunjukan padanya.
Setelah selesai membersihkan luka
diwajah Cakka, Via pun menempelkan sebuah plester untuk menutupi luka itu.
“gimana? Udah baikan?”
Cakka mengangguk pasti, “iya. Thanks, ya?”
“gue yang harusnya ngucapin makasih,
bukan elo…”
“apa sekarang kita teman?” Tanya
Cakka tanpa tedeng aling-aling sambil mengulurkan salah satu tangannya.
Via menatap tangan Cakka yang
terulur untuk beberapa saat, ia terlihat berpikir. Tidak lama kemudian, Via pun
menerima uluran tangan Cakka. Berteman dengan Cakka? Sepertinya tidak masalah,
toh Cakka sudah membantunya tadi.
“temenan? Apa lo yakin Cuma mau minta
itu dari gue? Tadi, lo bukan Cuma sekedar nolongin gue aja, tapi lo udah
nyelametin gue”
“apa lo yakin bisa ngasih lebih buat
gue?” tantang Cakka beberapa saat setelah Via melepaskan jabatan tangannya.
Jangan bilang Cakka berpikir yang
aneh-aneh dengan apa yang baru saja Via ucapkan padanya.
“Lo gak lagi berpikir kalo gue
bakalan minta yang aneh-aneh kan?” kata Cakka yang seakan bisa membaca pikiran
Via. Via kaget lalu menatap Cakka setajam mungkin.
Cakka terkekeh pelan. Ia pun
mengusap puncak kepala Via dengan gemes sambil terus tertawa.
“e—emang lo mau minta apa?”
“yakin lo bisa penuhin permintaan
gue?”
“karna lo udah nyelametin gue, jadi
sebisa mungkin gue bakalan usaha buat bisa… penuhin permintaan lo. Gue cewek
yang tau balas budi kok…” ucap Via yang sebenarnya mulai meragu.
Cakka lagi-lagi hanya tersenyum.
Tapi kali ini, seulas senyum yang terukir diwajah tampannya benar-benar
berbeda. Senyuman itu menandakan seakan-akan Cakka telah mendapatkan sebuah ide
brilian.
“gue punya satu permintaan!” kata
Cakka sambil menunjukan jari telunjuknya dihadapan Via.
“apa?” Tanya Via penasaran.
Senyuman itu kian melebar. Cakka
lantas menjawab, “besok lo akan tahu apa permintaan gue…”
♫♫♫
Jam sudah menunjukan pukul 18.30
saat Via tiba dirumah. Dengan sangat hati-hati ia membuka pintu. Suasana
didalam rumah tampak sepi saat Via menjejakan kakinya diruang tamu. Via menatap
kesekeliling, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Alvin. Tadi Via sempat
melihat Honda jazz Alvin terparkir di garasi, yang itu berarti Alvin sudah
pulang, tapi kenapa sekarang Via justru tidak menemukan tanda-tanda keberadaan
Alvin? Mungkin Alvin sedang dikamar, baguslah.
Via lalu menapaki tangga dengan
hati-hati dan memasuki kamarnya sambil menghela napas lega. Ia mengelus dadanya
dan sangat berharap tidak ketahuan oleh Alvin karna pulang telat. Saat Via
menyalakan lampu kamarnya, saat itu juga Via langsung terkejut setengah mati
ketika melihat sosok Alvin yang sudah duduk dengan manis ditepi ranjangnya
sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Alvin menatap Via dengan pandangan
datar.
“ngagetin aja lo!” ucap Via sambil
berusaha mengatur detakan jantungnya yang terasa tidak beraturan.
“kenapa lo musti kaget? Apa lo udah
ngelakuin tindakan kejahatan?” Tanya Alvin dengan santai tapi syarat akan
emosi. “darimana aja lo? Kenapa jam segini baru pulang?” lanjutnya kemudian.
“abis dari rumah Agni. Tadi gue udah
nganterin catetan bahasa inggris buat ulangan harian besok” jawab Via apa
adanya.
Alvin mendengus kesal. Jawaban Via
barusan benar-benar sangat tidak memuaskan.
“apa rumahnya Agni udah pindah ke
Antartika?” cecar Alvin lagi.
Via yang bisa menangkap maksud Alvin
pun berusaha memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya pada cowok berwajah
oriental itu.
“bukannya begitu, tadi ditengah
jalan gue keco—“ Via tidak melanjutkan kalimatnya saat mengingat sesuatu. Alvin
tidak boleh tahu kalau tadi ia sempat kecopetan dijalan, kalau sampai Alvin
tahu, bisa tamat riwayatnya hari ini juga.
“kenapa gak lo lanjutin?”
“gak apa-apa”
“selama Papa dan Mama ngelakuin
perjalanan bisnis mereka, elo diserahin secara penuh ke gue. Kalo ada apa-apa
sama lo, gue bakalan langsung jadi tersangka utama. Gue gak pernah mau peduli
sama lo, tapi lo maksa gue buat terlibat dalam hidup lo sejak kehadiran lo
dirumah ini. Jadi gue minta tolong kerja sama lo selama Papa dan Mama gak ada.”
kata Alvin penuh emosi. Ia sudah berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, tapi
entah kenapa, semuanya lepas begitu saja tanpa bisa ia control.
Ucapan yang Alvin lemparkan baru
saja seakan menjelma menjadi sepasang tangan yang meremas-remas jantungnya
tanpa ampun. Via merasakan dadanya terhimpit, ia mendadak sesak. Tapi Via harus
kuat. Apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meneteskan setitikpun air
matanya.
“maaf…” lirih Via pelan sambil
menunduk dalam.
Kata maaf yang Via ucapkan entah
kenapa membuat hati Alvin luluh dalam sekejab. Emosinya yang sejak tadi
berapi-api seakan padam begitu saja. Dan entah darimana datangnya rasa sesal
yang tiba-tiba saja terbersit dibenaknya. Alvin menghela napas panjangnya, ia
menatap Via untuk beberapa saat lantas berkata,
“lo udah makan?”
Via menggeleng sebagai jawaban.
“ayo kita makan!” ajak Alvin dengan
nada yang tetap terdengar dingin. Alvin pun berjalan melewati Via.
Sadar bahwa Via tidak mengikutinya,
Alvin pun menghentikan langkahnya dipintu dan kembali berbalik menghadap Via.
“apa
sekarang lo mau mogok makan?”
♫♫♫
Suara hujan yang sangat deras
disertai dengan suara petir yang menggelegar diluar sana membuat Via meringkuk
ketakutan dibawah selimutnya. Sejak ia masih kecil dulu, Via memang paling
takut mendengarkan suara hujan yang sangat deras seperti sekarang ini. Jika
sudah begitu, Via akan memeluk mendiang Mamanya erat-erat. Pelukan dari Mamanya
selalu bisa membuat perasaannya terasa jauh lebih tenang. Tapi untuk sekarang
ini, Via bahkan tidak bisa memeluk Mamanya. Mamanya telah pergi untuk
selamanya.
Suara hujan itu semakin keras.
Merasa tidak sanggup menahan rasa takutnya, Via pun bangkit dari ranjangnya dan
segera mengungsi kekamar Alvin untuk sementara, setidaknya sampai hujan malam
ini reda.
“Alvin, lo udah tidur?” Via mengetuk
pintu kamar Alvin beberapa kali. Tidak lama, pintu yang ada dihadapan Via itu
pun terbuka dan menampakan Alvin yang
menatapnya dengan datar.
“ada apa?” Tanya Alvin dingin.
“lo masih marah?”
“kenapa?”
Via tampak gugup. Berbagai macam
pikiran aneh tiba-tiba saja menghantui sudut pikirnya. Bagaimana jika Alvin
tidak mengijinkannya untuk mengungsi sementara? Bagaimana jika Alvin justru
menendangnya keluar bahkan sebelum ia memasuki kamar Alvin?
Kesal menghadapi kediaman Via,
Alvinpun mendengus lantas berkata dengan sinis,
“ 3 detik lo gak mau ngomong juga,
ini pintu bakalan gue tutup. SATU…”
Alvin mulai berhitung. Tapi Via masih
bertahan dengan kediamannya.
“DUA”
Via mulai terlihat risau.
“TI—“
“Gue boleh tidur dikamar lo gak
malem ini?” ucap Via dengan nada cepat sambil menutup rapat kedua matanya.
Alvin kontan menganga tak percaya.
Apa yang baru saja Via katakan? Apa Alvin tidak salah dengar? Atau apa gadis
ini sedang mengigau? Menangkap adanya raut ketidakpercayaan yang terpeta dengan
sangat jelas diwajah orientalnya, Via buru-buru meraih salah satu tangan Alvin
dan memasang wajah sememelas mungkin agar lebih meyakinkan.
“gue paling takut dengerin suara
hujan yang deras banget kayak gini. Sekaliiii ini aja tolongin gue. Gue beneran
takuuuut…”
Sepertinya gadis ini serius.
Setidaknya itulah yang bisa Alvin tangkap dari raut wajah Via yang benar-benar
terlihat sangat ketakutan. Walaupun terkenal dingin dan sangat menyebalkan,
tapi Alvin merasa tidak tega juga jika harus membiarkan gadis ini meringkuk
ketakutan dalam keadaan sendiri dikamarnya.
Alvin mengusap wajahnya frustasi,
entah senjata apa yang Via gunakan hingga selalu berhasil membuat seorang
Calvin Nicholas mengalah dengan begitu cepat. Alvin lalu menghela napas
panjangnya dan mempersilahkan Via masuk kekamarnya.
“ya udah deh, lo masuk gih! Tapi lo
tidur di sofa” ucapnya berusaha terdengar galak dan tidak peduli. Tapi Via sama
sekali tidak menghiraukannya. Asal ada yang menemaninya malam ini, Via rela
melakukan apapun.
Via mengangguk berkali-kali dengan
wajah semuringah. Raut ketakutan diwajahnya yang terlukis sejak tadi langsung
tersapu begitu saja.
Setelah memasuki kamar Alvin, Via
pun segera mengambil posisi disofa yang letaknya tidak begitu jauh dengan
posisi ranjang Alvin. Sementara Alvin, ia langsung merebahkan tubuhnya diatas
ranjang dan kembali melanjutkan bacaan novel nya yang tadi sempat terganggu.
Baru saja Via akan membuka suara
untuk memulai obrolan, Alvin langsung mendahuluinya. Ia seakan bisa membaca
pikiran Via.
“peraturan pertama dikamar gue: LO
GAK BOLEH BANYAK BICARA!” Ucapnya dengan penakanan yang cukup kuat pada
beberapa kata. Via yang tadinya ingin menanyakan sesuatu pada Alvin pun
langsung menelan bulat-bulat pertanyaannya.
5 menit sudah waktu yang Via
habiskan dikamar Alvin dalam keheningan yang sangat membosankan. Berkali-kali
Via mencoba memejamkan matanya dan tertidur,
tapi tetap saja ia tidak bisa. Sesekali Via mencuri pandang kearah Alvin
yang masih tampak focus membaca lembar demi lembar novelnya, dan untuk yang
pertama kalinya, Via menyadari betapa tampannya manusia menyebalkan yang satu
itu. Mata sipitnya, kulit putihnya, tubuh atletisnya, alis tebalnya… semuanya
benar-benar mempesona.
Via serta-merta menggelengkan
kepalanya saat sadar dengan apa yang baru saja dia pikirkan. Via pun berusaha
membuang jauh-jauh semua pikiran-pikiran gilanya tentang Alvin. Oke, Alvin
memang tampan dengan segala kelebihan yang ia miliki, tapi tetap saja Alvin itu
sangat menyebalkan. Lihat saja sekarang, ia terlihat betah dan santai-santai
saja mendiamkan Via seenak hatinya.
Via mengerucutkan bibirnya, tanpa
sadar ia pun melemparkan sebuah pertanyaan untuk Alvin,
“lo masih marah sama gue?”
“buat apa gue harus marah?” jawab
Alvin sambil tetap focus membaca.
“soal tadi gue bener-bener minta
maaf. Gue janji gak akan ulangin itu lagi”
“jangan Cuma janji, tapi buktiin!”
“gue akan berusaha”
Kali ini Alvin tidak terdengar
menjawab. Ia hanya membalik lembaran novelnya dan kembali membaca.
“kenapa sih lo gak suka dipanggil
Calvin?”
Seketika Alvin langsung menghentikan
bacaannya. Alasan kenapa Alvin tidak suka dipanggil dengan nama Calvin adalah,
dulu Prissy sering memanggilnya dengan nama itu. Dan diantara semua orang yang
ia kenal, hanya Prissy yang memanggilnya dengan nama itu. Untuk itulah sekarang
Alvin merasa sangat tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan nama Calvin.
Panggilan itu hanya akan membuatnya kembali mengingat Prissy yang sudah melukai
hatinya.
Tadi saat Prissy meneleponnya untuk
yang pertama kalinya semenjak mereka putus beberapa minggu yang lalu, Alvin
memutuskan untuk tidak mengangkat telfonnya. Bahkan sejak Prissy menghubunginya
tadi, Alvin jadi berpikir untuk mengganti nomor ponselnya agar gadis itu tidak
bisa menghubunginya lagi. Tapi pertanyaannya sekarang adalah: Apa Alvin siap
melupakan Prissy dan membuang Prissy jauh-jauh dari ingatannya?
“bukan urusan lo!” jawab Alvin pada
akhirnya setelah cukup lama tenggelam dalam diamnya.
“Vin –“
Sebelum Via melanjutkan
perkataannya, Alvin langsung menutup novelnya dan membantingnya dengan cukup
keras diatas meja. Apa yang Alvin lakukan itu kontan saja membuat Via terkejut.
Beberapa saat, Alvin melemparkan
tatapan tajamnya kearah Via. Tatapan itu seakan mengisyaratkan bahwa Alvin
sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi Via lemparkan.
Via yang ciut dengan tatapan tajam
Alvin langsung menunduk.
“lo tuh banyak omong, ya? Lo tau?
Gue muak dengerin ocehan-ocehan lo yang gak mutu itu!”
Setelah puas memuntahkan emosinya,
Alvin meraih earphone-nya dan
menancapkannya diponselnya. Hal itu Alvin lakukan supaya ia tidak bisa lagi
menangkap suara sekecil apapun yang Via ciptakan.
Namun bukannya peka dengan apa yang
Alvin lakukan itu, Via malah melanjutkan ocehannya tanpa rasa bersalah
sedikitpun.
“lo pake earphone, ya? Bagus deh, dengan begitu gue bisa ungkapin apa yang
pengen gue ungkapin sama lo tanpa takut lo bakalan denger…”
Alvin bergeming. Sepertinya ia
benar-benar tidak mendengar apa yang Via bicarakan.
“lo tahu? Sejak pertama ketemu lo
dibandara beberapa minggu yang lalu, gak tau kenapa gue ngerasa jantung gue
berdebar dengan sangat cepat. Gue pikir itu Cuma debaran sesaat yang akan
menghilang dan gak akan gue rasain lagi, tapi ternyata gue salah… tiap kali ada
dideket lo, gue kembali ngerasain debaran-debaran aneh yang gue gak tau apa
penyebab pastinya. Tanpa pernah gue tau apa sebabnya, debaran itu selalu gue rasain
tiap hari, bahkan detik ini. Selama beberapa minggu terakhir kita bareng, semua
ini bener-bener nyiksa gue. Tapi… kayaknya sekarang gue udah tau apa yang bikin
jantung gue selalu berdebar tiap kali gue ada dideket lo. Kayanya sekarang… gue
udah mulai ngerti dengan semua rasa aneh yang belakangan ini gue rasain…”
Via tersenyum sambil menatap Alvin
yang masih terlihat sangat tenang mendengarkan music melalui ponselnya. Alvin
bahkan tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia mendengar semua perkataan Via barusan.
Via tersenyum lega. Lega karna Alvin benar-benar tidak mendengarkannya.
Via lalu merebahkan tubuhnya diatas
sofa dan menutup kedua matanya yang mulai terasa sangat berat. Dalam hitungan
detik, Via langsung tenggelam dalam lautan mimpinya.
Tidak berselang lama setelah itu,
Alvin membuka earphone yang sejak
tadi menutupi kedua telinganya. Yang Via tahu adalah, sejak tadi Alvin
mengenakan earphone dan sama sekali
tidak mendengarkan semua perkataannya. Tapi yang Via tidak pernah tahu adalah,
bahwa Alvin hanya mengenakan earphone-nya
tanpa menyalakan music apapun.
Tanpa sepengetahuan Via, diam-diam
Alvin telah mengetahui apa yang tidak seharusnya dia ketahui dalam waktu yang
sangat cepat.
Alvin menatap Via yang terlelap
dengan pandangan hampa. Pengakuan yang Via sampaikan secara gamblang tadi
benar-benar memukul telak dadanya tanpa ampun. Alvin menghela napas panjang. Ia
lalu bangkit dari ranjangnya dan menggendong tubuh Via lantas memindahkannya
dengan hati-hati keatas ranjangnya. Alvin lalu menarik selimutnya dan menutupi
tubuh Via hingga kebagian leher.
Alvin menghabiskan 15 menit
terakhirnya dengan menatap wajah Via tanpa suara. Besok semuanya akan tetap
berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Dan untuk seterusnya, Alvin akan tetap
bersikap seolah-olah ia tidak pernah tahu apapun.
To
Be Continued…




ayolah cepet di lanjut. saya gak bisa komen banyak^^, dan gak bisa mengkritik apa^^
ReplyDeleteyang saya bisa, cuma menunggu kelanjutan semua cerita kamu ini :) kerennnnnnnnnn