Ketika memasuki
kamarnya, Gabriel heran melihat Zahra, yang tidak lain dan tidak bukan adalah
Kakak sepupunya yang saat itu sedang duduk ditepi ranjangnya sambil melihat
sebuah figura foto. Gabriel tidak begitu jelas dengan figura itu, ia bahkan
tidak terlalu memperhatikannya.
“Mbak
Zahra kok disini? Dan… tumben kesini? Mas Dayat sama Leon juga ikut?” Nama Mas Dayat yang baru saja
Gabriel sebutkan adalah suami dari Zahra, sementara Leon adalah anak laki-laki
mereka yang masih berusia 6 tahun. Mereka memang tidak tinggal serumah, tapi
sekali waktu, Zahra dan Dayat selalu berkunjung kerumah itu untuk menemui Kakek
mereka.
“Dayat
masih dikantor, dan Leon masih les. Mbak Cuma sendiri kesini”
“oh…”
Zahra
menghela napas panjang lalu menunjukan figura foto yang sejak tadi ia lihat.
Foto itu adalah foto masa kecil Gabriel bersama saudara kembarnya yang masih
diam-diam ia simpan.
“kalo
Opa tahu kamu masih nyimpen ini, Opa pasti bakalan sangat marah”
Gabriel
menunduk dan hanya bisa terdiam. Meskipun ia yakin bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang ia
lakukan, tapi tetap saja ia merasa tertangkap basah. Baginya, menyimpan masa
lalu adalah hal terlarang yang tidak boleh ia lakukan dirumah ini. Sejak masih
kecil, ia telah dirancang untuk itu.
“apa
aku salah, Mbak?” tanyanya singkat. Kegetiran Nampak begitu jelas terdengar
dari nada suaranya.
Zahra
kembali menghela napas panjangnya. Ia terlihat putus asa kali ini.
“apa
kamu sebegitu inginnya menggali masa lalu kamu? Kamu tahu, Opa udah berusaha
mati-matian untuk mengubur semua itu?”
“apa
aku salah, Mbak?” ulangnya lagi.
Zahra
mengangguk beberapa kali. Sejak awal ia sadar, bahwa menyembunyikan cerita masa
lalu Gabriel bukanlah perkara gampang. Dan ia juga tahu, jika sudah tiba
waktunya, ia pasti akan jadi orang pertama yang harus menjawab semua
kebingungan ini. Mungkin ini sudah waktunya bagi Zahra untuk membuka semuanya.
Gabriel berhak tahu, dan Kakeknya tidak bisa menghentikan itu.
Sekali
lagi Zahra berusaha mematangkan pikirannya untuk lebih meyakinkan lagi
keputusannya. Ia tidak ingin salah langkah. Toh sekarang Gabriel sudah dewasa,
sudah saatnya ia tahu. Dan setelah memutuskan sesuatu, yang ia yakini tidak
hanya akan membongkar semuanya, tapi juga akan menimbulkan sebentuk luka dari
masa lalu yang masih belum mengering
bahkan hingga detik ini, ia bangkit dari duduknya lalu menatap Gabriel,
seakan berusaha mencari sesuatu dari sepasang mata itu.
“waktu
Mbak masih kecil dulu, Mbak sering liat Mama kamu pergi keruang bawah tanah.
Mbak pikir, itu ruang rahasianya. Mbak belum pernah memastikan itu, jadi
silahkan kamu pastiin sendiri, urusan Opa… biar Mbak yang urus…”
Zahra
lalu keluar dari kamar Gabriel dan menyisakan Gabriel hanya seorang diri
disana.
“ruang
bawah tanah….?” Tanya Gabriel pada dirinya sendiri.
♫♫♫
“Lamaku
memendam rasa didada
Mengagumi
indahmu wahai jelita
Tak
dapat lagi kuucap kata
Bisuku
diam terpesona
Dan
andai suatu hari kau jadi milikku
Tak
akan kulepas dirimu kasih
Dan
bila waktu mengijinkanku untuk menunggu dirimu…
Kurasa
ku t’lah jatuh cinta
Pada
pandangan yang pertama
Sulit
bagiku untuk bisa
Berhenti
mengangumi dirinya
Oh
Tuhan tolong diriku
‘tuk
membuatnya menjadi milikku.
Sayangku,
Kasihku,
Oh
cintaku,
She’s
all that I need…”
Dari
salah satu balkon rumah yang tampak minimalis dari luar itu, terdengar suara
merdu milik Cakka yang sedang menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi oleh
permainan gitarnya. Lagu ‘Pandangan Pertama’ dari miliknya RAN adalah lagu yang
Cakka pilih untuk menemaninya malam ini. Alasan kenapa Cakka begitu menyukai
lagu itu semata-mata hanya karna Via. Lirik yang terdapat dalam syair lagu itu
benar-benar menggambarkan bagaimana isi hatinya saat ini. Dan sialnya, ia baru
pertama kali merasakan perasaan aneh ini.
“kayaknya
ada yang lagi jatuh cinta pandangan pertama nih” satu suara dari belakang Cakka
tiba-tiba saja terdengar hanya sesaat setelah Cakka menyelesaikan lagunya.
Cakka
serta-merta menoleh kebelakang dan mendapati Bundanya sedang berjalan kearahnya
sambil membawa segelas susu hangat yang merupakan minuman wajibnya.
“minum
ini dulu biar anak Bunda makin sehat, makin cakep, dan makin pinter” tutur
Shinta dengan sangat lembut sambil menjulurkan segelas susu hangat yang tadi ia
bawa.
Cakka
memutar kedua bola matanya. Lama-lama ia merasa jengah juga jika terus-terusan
diperlakukan seperti anak kecil begini.
“Bunda,
kalo Bunda lagi nawarin aku minum susu, bisa biasa aja gak sih, Bund? Gak usah
pake embel-embel ini itulah. Aku udah gede, Bund. Aku udah 17 tahun. Aku bukan
anak kecil lagi” protes Cakka sambil menerima gelas susu pemberian Bundanya,
lalu dalam sekali teguk saja, susu itu sudah raib diminum oleh Cakka.
Shinta
hanya tersenyum. Cakka sudah terlalu sering menyuarakan protes yang sama, dan
sudah terlalu sering juga Shinta enggan menanggapinya. Baginya ini semua sudah
biasa, sudah lumrah terjadi.
“buat
Bunda kamu masih bayi” jawab Shinta dengan nada meledek yang disambut oleh
Cakka dengan tatapan sebal.
“BUNDA!!”
“hahaha…
jadi, cewek mana yang udah bikin jagoan Bunda ini jatuh cinta? Pandangan
pertama pula” Shinta tertawa lantas mengajukan sebuah pertanyaan untuk Cakka.
Cakka
lalu melepas gitarnya. Ia menepuk sofa disebelahnya agar Shinta duduk
disampingnya dan mendengarkan ceritanya. Bagi Cakka, Bunda adalah tempat
berbagi paling seru.
“namanya
Via, Bund! Dia itu cantiiiiik banget, udah gitu, jago basket lagi. Pas pertama
ketemu, aku udah suka sama dia…”
Shinta
mengangguk paham. Meskipun Cakka baru pertama kali bercerita, tapi terus terang
saja, Shinta sudah sangat penasaran dengan sosok gadis yang sudah membuat
Putera tunggalnya ini jatuh cinta.
“apa
yang bikin kamu jatuh cinta sama dia? Apa karna dia cantik? Jago basket? Kalo
emang itu, Bunda rasa biasa aja. Agni juga begitu kan? cantik, jago basket…”
“tapi
Via ini bener-bener beda, Bund. Diantara semua cewek yang pernah aku kenal, dia
tuh cewek pertama yang natap aku dengan pandangan menolak. Dia bahkan judes
banget sama aku”
“jadi
itu yang bikin dia beda dimata kamu? Karna dia cewek pertama yang berani
judesin kamu?”
Kali
ini Cakka hanya mengangguk. Dan makin kesini, Shinta makin paham.
Shinta
lalu meraih salah satu tangan Cakka dan mengenggenggamnya erat. Ia menatap
Cakka dengan lembut lantas berkata, “kapan-kapan tolong kenalin Bunda sama dia.
Bunda bener-bener penasaran…”
“itu
udah pasti, Bunda…” jawab Cakka dengan mantap dan yakin.
♫♫♫
Gabriel
berdiri didepan ruang bawah tanah yang tadi sore diberitahukan oleh Zahra.
Sudah hampir 10 menit, yang Gabriel lakukan hanyalah berdiri tanpa melakukan
apapun. Beberapa kali ia terlihat menyentuh handle pintu tanpa menariknya. Rasa
takut didadanya mendadak berkecamuk. Setelah 13 tahun lamanya, akhirnya hari
ini Gabriel mungkin akan menemukan sebuah rahasia dari masa lalunya yang tidak
pernah ia ketahui.
Sekali
lagi Gabriel meyakinkan dirinya. Ia pun menghela napas panjang untuk lebih
menenangkan perasaannya. Dan kali ini, tanpa perlu berpikir lagi, Gabriel
akhirnya menarik handle pintu itu hingga terbuka dan menampakan ruangan yang
tampak gelap didalam sana.
Gabriel
menyalakan senter ponselnya lalu masuk kedalam dan berusaha menggapai sakelar
lampu yang terdapat didinding. Setelah semuanya terang, Gabriel justru
tercengang. Ia tidak menemukan apa-apa disana. Yang ia lihat hanyalah
setumpukan barang-barang rongosokan yang telah berdebu.
Tapi
Gabriel masih belum menyerah. Pasti ada sesuatu didalam ruangan ini. Gabriel
pun memasuki ruangan itu lebih dalam lagi. Dan satu lemari berukuran cukup
besar tiba-tiba menarik perhatiannya. Lemari itu cukup usang, namun sangat
mencurigakan.
Gabriel
memperhatikan lemari itu baik-baik. Lalu seakan diperintahkan, Gabriel
mendorong lemari itu dengan sekuat tenaga sehingga menampakan sebuah pintu
rahasia dibelakangnya.
Tidak
ingin membuang-buang waktu lagi, Gabriel langsung membuka pintu yang ternyata
menghubungkan antara ruang bawah tanah dan sebuah ruang rahasia yang Gabriel
yakini adalah ruang rahasia Mamanya. Gabriel memasuki ruangan itu dan kembali
menutup pintunya dengan hati-hati. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun
terlihat cukup aman untuk dijadikan sebuah ruang rahasia. Gabriel lalu
menyalakan lampu dan menuruni beberapa undakan satu persatu dengan perasaan
yang tidak mampu ia jelaskan.
Dalam
ruangan itu terdapat sebuah sofa usang dengan meja didepannya. Ada juga
beberapa rak buku yang berisi novel-novel serta roman-roman lama. Dari beberapa
rak buku itu, ada satu nakas disudut ruangan yang begitu menarik perhatiannya.
Diatas nakas itu, terdapat sebuah figura foto yang menampakan gambar seorang
wanita yang sedang menggedong sepasang bayi kembarnya. Gabriel yakin
seyakin-yakinnya, bahwa wanita berwajah cantik itu pasti adalah Mamanya.
Selain
sebuah figura foto, Gabriel juga menemukan beberapa buku harian didalam laci.
Gabriel mengambil semua buku harian itu. Ia lalu duduk disofa dan membaca salah
satu dari beberapa buku harian itu.
Saat
membuka buku harian itu, selembar foto yang terselip dihalaman pertamanya
tiba-tiba saja terjatuh. Dalam foto lama itu, ia melihat gambar dirinya serta
adik kembarnya yang saat itu berusia 1 tahun sedang berpose bersama Mama dan
Papa nya dengan background Disneyland.
Dibelakang
foto itu, terdapat sebuah tulisan berisi:
“Gabriel
& Gissel with Mommy and Daddy at Disneyland. 24 Juni, 1998…”
Tepat
sekali, foto itu diambil saat Gabriel dan Gissel berusia 1 tahun. Gabriel
tersenyum, tanpa sadar, setetes air matanya jatuh diatas tulisan sang Mama.
Sulit ia percaya, bahwa sekali dalam hidupnya, ia pernah menjalani kehidupan
yang teramat sempurna seperti dalam foto ini.
Gabriel
menyeka air matanya lantas meletakan foto itu diatas meja. Gabriel pun mulai
membaca halaman pertama buku harian sang Mama. Sebuah tulisan dibuku harian itu
membuat perasaan Gabriel makin tercabik.
“6
Juli, 1997. Tuhan… terimakasih telah memberikan aku anugerah sepasang bayi
kembar. Ini kebahagiaan ku yang paling abadi. Gabriel Fabian Ganendra & Gissela
Fannia Ganendra…”
Dihalaman
lain, Gabriel menemukan lagi selembar foto yang tertempel. Dalam foto itu
terdapat gambar Mama dan Papanya yang Gabriel yakini diambil saat mereka
menikah. Disamping foto itu, terdapat juga sebuah tulisan: “Geraldy Ganendra & Sylvia
Addara”
♫♫♫
“Alvin,
Via… besok Papa sama Mama bakalan ngelakuin perjalanan bisnis ke Milan selama 2
minggu. Untuk selama itu, kalian Cuma berdua dirumah. Jadi, saling jaga” Adryan
menyampaikan pesannya saat mereka sedang makan malam. Alvin hanya mengangguk
dan terlihat begitu santai. Toh ini bukan pertama kalinya kedua orangtua nya
pergi ke luar negri untuk urusan bisinis. Sejak kecil, ia sudah terbiasa
ditinggalkan seperti ini.
Sementara
Alvin tampak begitu santai menanggapi kabar kepergian kedua orangtuanya, Via
justru tampak kaget, apalagi ketika mendengar bahwa selama 2 minggu ia hanya
akan tinggal berdua saja dirumah bersama Alvin. Membayangkannya saja Via tidak
bisa, apalagi jika harus benar-benar menjalaninya.
Melihat
ada yang ganjil dari respon Via, Metta langsung melepaskan sendok berserta
garpunya dan menatap Via yang duduk disebelah Alvin dengan pandangan bertanya.
“kenapa,
Via? Kamu ada masalah?”
Via
kontan saja terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Metta bisa dengan begitu baik membaca responnya yang tidak
wajar. Alvin juga menghentikan aktifitas makannya dan ikut menatap Via yang
duduk disebelahnya.
“gak
apa-apa, Ma. Gak ada masalah kok…”
Metta
mengangguk paham. “oke…”
Tanpa
sengaja Via menoleh kesamping dan mendapati Alvin yang sedang menatapnya dengan
wajah datar tanpa ekspresi. Setelah 2 detik, Alvin langsung membuang tatapannya
dan kembali melanjutkan makannya yang tadi sempat terhenti sejenak.
Entahlah,
tapi firasat Via mengatakan, Alvin telah menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak
beres darinya. Cowok ini kelewat jenius untuk bisa ia kelabui.
♫♫♫
Hari
ke-3 disemester 2 yang jatuh pada hari ini, seisi SMA Patuh Karya digemparkan
oleh berita pesta ulang tahun Gabriel yang ke-17 yang akan dirayakan secara
besar-besaran di Hotel berbintang milik keluarga Cakka minggu ini. Undangan
bahkan telah disebar dikalangan teman-temannya tanpa sepengetahuan Gabriel.
Semua
tahu, bahwa Gabriel adalah seorang pewaris tunggal dari sebuah perusahaan yang
masuk dalam jajaran 10 perusahaan terbaik se-Asia Tenggara. ‘Ganendra
Group’, siapa yang tak kenal dengan nama
perusahaan yang bergerak dalam bidang property itu? Ganendra Group saat ini
dipimpin oleh Danar Ganendra yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakek dari
Gabriel sendiri. Nama Danar Ganendra sudah tidak asing lagi dalam dunia bisnis.
Ia adalah seorang pengusaha berintegritas tinggi yang disegani oleh banyak
pihak. Dan Gabriel, sudah digadang-gadang akan menjadi penerusnya dimasa depan.
Disaat
hampir semua orang menghebohkan pesta ulang tahunnya yang akan dirayakan dalam
minggu ini, Gabriel justru terlihat santai. Bahkan pagi ini, Gabriel terlihat
biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.
“Danar
Ganendra emang bener-bener luar biasa…” decak Cakka dengan kagum sambil
meletakan undangan yang tadi ia terima diatas meja. “do’i bahkan bisa
ngerencanain pesta gede-gedean gini tanpa sepengetahuan Gabriel…”
“bukan
masalah pestanya, Kka…” Rio tiba-tiba menimpali sambil tetap focus membaca
undangannya.
“terus?”
“emangnya
Gabriel bakalan mau terlibat dalam pesta ini? Kayak yang lo bilang tadi,
Gabriel bahkan gak tau apapun tentang rencana ini”
“apapun
itu, Gabriel udah terlanjur terlibat. Dan Gabriel sudah sangat terlambat untuk
menghindar” jawab Alvin santai tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari
buku yang ia baca.
“pagi-pagi
udah ngegosip aja nih” Gabriel tiba-tiba muncul dari arah pintu lalu segera
mengambil posisi disamping Alvin. Alvin hanya menyapa sejenak lalu kembali
membaca bukunya.
“jangan
bilang lo belom tahu apa-apa soal rencana birthday
party lo yang bakalan diadain secara gede-gedean di Sorano Hotel…” kata
Cakka penuh antisipasi.
Gabriel
hanya menampakan wajah datarnya lalu mengangkat kedua bahunya.
“itu
acara Opa gue, jadi buat apa gue harus tau sesuatu. Kalian semua kayak gak tau
aja, kalo semua apa yang Opa gue lakuin Cuma buat kepentingan bisnis…”
“denger-denger
dari Bokap gue, katanya lo bakalan dikenalin secara resmi sebagai pewaris
tunggal Ganendra Group” ucap Rio.
Gabriel
menghela napas sejenak sebelum akhirnya menjawab, “gue gak tau…”
Setelah
meletakan tasnya diatas meja, Gabriel malah keluar dari kelas seenaknya tanpa
mau memperdulikan kawan-kawannya yang juga ikut-ikutan heboh dengan berita
pesta ulang tahunnya ini.
“Iel
lo mau kemana? WOOOY!” Seru Cakka dari dalam kelas. Tapi Gabriel tetap tak acuh
dan berjalan tanpa menoleh kebelakang dengan tidak peduli.
Karna
pikirannya yang saat ini benar-benar sedang dalam kondisi kacau, Gabriel jadi
tidak focus dengan sekitarnya. Ia bahkan sama sekali tidak memperhatikan
jalannya sehingga tanpa sengaja ia menubruk tubuh seorang gadis yang saat itu
sedang membawa setumpukan buku tugas. Alhasil, semua buku-buku itu terjatuh ke
lantai.
Gadis
tadi sempat menggurutu pelan sebelum akhirnya ia duduk dan membereskan
buku-bukunya.
“sorry…
sorry… gue gak sengaja”
Gabriel
juga ikut duduk dan ikut membantu gadis itu membereskan buku-buku yang sudah ia
jatuhkan.
“gak
apa-apa, gue juga yang gak merhatiin jalan tadi”
Gabriel
sedikit mengangkat wajahnya dan melihat gadis itu. Ternyata gadis itu adalah
Via. Cewek yang belakangan ini selalu jadi tranding
topic di kelompoknya. Ya… Cakka selalu membicarakan soal gadis ini jika
mereka sedang berkumpul.
“elo…
Via kan?” Tanya Gabriel ragu-ragu. Ada sesuatu dalam hatinya yang seolah-olah
minta sebuah kepastian. Sebuah kepastian yang tidak pernah ia mengerti.
“iya…
elo, siapa?” Tanya Via balik. Entah kenapa, ia merasa tidak begitu asing dengan
wajah didepannya ini.
“gue
Gabriel, sahabatnya Cakka…” jawab Gabriel sambil mengulurkan tangannya.
Tanpa
perlu berpikir panjang, Via langsung menerima uluran tangan Gabriel dan
menjabatnya dengan cukup erat. Tapi, ada sesuatu yang aneh saat tangan mereka
saling bertautan satu sama lain. Ketika Via menerima uluran tangan Gabriel,
saat itu juga ia langsung merasa tertarik pada satu masa yang tidak ia ketahui.
Sekelumit bayangan tiba-tiba saja berpendar dikepalanya.
‘Kak
Iel… Kak Ieeeel….’
Desauan
napas Via tiba-tiba saja memburu diiringi dengan suara deguban jantungnya yang
begitu keras. Suara teriakan ‘KAK IEL’ terus menggema diotaknya tanpa henti.
Lalu saat semuanya sudah tiba dipuncaknya, Via serta-merta melepaskan tangannya
dan buru-buru pamit pada Gabriel.
“ya
udah. Gue permisi, gue musti ke ruang guru buat nganterin buku-buku ini…”
ujarnya dengan nada suara bergetar.
Tak
pelak, nada suara itu membuat Gabriel merasa ada yang janggal dengan semuanya.
♫♫♫
Via
dan Agni sedang makan berdua di kafetaria saat tiba-tiba Ify dan Shilla datang
menghampiri dengan membawa makanan mereka masing-masing. Tanpa perlu
repot-repot minta ijin, Ify dan Shilla langsung mengambil posisi dimeja Agni
dan Via.
“ciyeee
yang ngilang aja setelah dapet temen baru” ledek Shilla sambil mengaduk jus
strawberry favoritnya. Sesekali Shilla melirik kearah Via yang Nampak canggung
berada ditengah-tengah mereka.
Lalu
tanpa menghiraukan sindiran Shilla barusan, Agni langsung berkata pada Via,
“kenalin
Vi… ini Shilla sama Ify, temen-temen gue. Dan kalian berdua kenalin, ini Via,
anak baru dikelas gue…”
Dengan
sangat bersahabat Shilla meraih tangan kanan Via lalu menjabatnya.
“hay…
gue Shilla. Seneng ketemu sama lo”
“gue
juga” jawab Via seadanya.
“kalo
gue Ify” kali ini giliran Ify yang mengulurkan tangannya. Tanpa membuang-buang
waktu lagi, Via langsung menerima uluran tangan Ify dan saling tersenyum satu
sama lain.
Nyatanya,
Via tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa akrab dengan ketiga cewek
dihadapannya ini. Baru 10 menit menghabiskan waktu bersama untuk yang pertama
kalinya, mereka berempat sudah terlihat sangat akrab. Dan untuk hari-hari
kedepan, mereka akan selalu berbagi tawa dan kesedihan. Semuanya akan mereka
lakukan bersama, semuanya akan mereka hadapi bersama mulai hari ini.
♫♫♫
Setelah
dari kafetaria, Agni CS langsung berjalan-jalan disekitar lapangan basket.
Selama berjalan, selalu ada saja hal lucu yang mereka bahas hingga membuat
mereka tertawa dan makin terlihat akrab satu sama lain.
Tapi
kemudian, mereka tiba-tiba terkejut saat seseorang dari tengah lapangan
melempar bola kearah mereka yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Via.
Secara bersamaan, mereka berempat melihat kearah lapangan dan mendapati Cakka
yang saat itu tengah berdiri ditengah lapangan sambil memamerkan senyumannya
yang selalu tampak menjijikan dimata mereka.
“buat
cewek yang menerima bola, gue mau nantang lo tanding one on one sama gue. Gimana?”
“lo
udah mulai gak waras, ya?” timpal Shilla dengan suara yang cukup keras dari
pinggir lapangan, tapi Cakka enggan menghiraukannya. Yang menjadi targetnya
sekarang adalah Via, bukan Shilla si Nenek Lampir cerewet itu.
Cakka
menatap Via dengan pandangan seolah menunggu jawaban. Beberapa detik kemudian,
Via kembali melemparkan bola itu kearah Cakka.
“gue
gak mau!” jawabnya dengan jelas dan tegas. Tapi Cakka belum menampakan
tanda-tanda ingin menyerah.
Tepat
saat Via akan berbalik dan pergi, ucapan Cakka mendadak menghentikan
langkahnya.
“lo
gak pernah tahu kan? lo itu cewek pertama yang secara terang-terangan nolak
gue. Lo berpikir gue bakalan nyerah? Gak semudah itu. Seenggaknya sikap jual
mahal lo ini bikin gue sadar, kalo gue harus bener-bener perjuangin apa yang
gue mau dengan cara apapun”
Agni,
Ify dan Shilla hanya bisa terheran-heran mendengar ucapan Cakka barusan. Mereka
benar-benar tidak percaya bahwa seorang Cakka Sorano Raditya bisa mengeluarkan
kata-kata semacam itu.
“gue
gak ngerti lo ngomong apaan” ucap Via tanpa sedikitpun menoleh kearah Cakka.
Cakka
tersenyum maklum. Ia lalu berjalan kearah Via dan berdiri tepat dihadapan gadis
itu. Dan sekarang, mereka berdua telah menjadi pusat perhatian semua orang,
tidak terkecuali Alvin. Dari kejauhan sana, Alvin diam-diam memperhatikan
mereka dengan pandangan mengamati.
“lo
mau gue perjelas semuanya secara terangan-terangan? Disini?”
Via
memilih diam dan tidak menanggapi meskipun sebenarnya ia mulai jengah dengan
sikap Cakka.
“terima
tantangan gue buat tanding basket. Kalo gue kalah, gue gak akan gangguin lo
lagi dengan alasan apapun. Tapi kalo gue menang… gue berhak ngelakuin
pendekatan sama lo”
“makin
gila nih cowok” komentar Shilla yang langsung dibenarkan oleh Ify.
“elo
bener, Shill…”
Setelah
cukup lama tenggelam dalam diamnya, Via akhirnya memilih untuk buka suara. Tapi
sebelum itu, ia sempat mengamati wajah Cakka baik-baik. Tidak lama…
“tadi
lo bilang kan, kalo gue cewek pertama yang secara terang-terangan nunjukin
penolakan gue sama lo. Dan gue mau ngasih tau lo sesuatu, untuk seterusnya lo
bakalan terus nerima penolakan dari gue. Dan itu gak akan pernah berubah. So, don't waste your time …”
Senyuman
diwajah Cakka membeku untuk beberapa saat. Perkataan Via barusan benar-benar
tajam dan dengan telak menusuk jantungnya tepat disasaran. Tapi Cakka belum
ingin menyerah.
“sepertinya
gue bener-bener bakalan bales dendem sama lo…”
Baru
saja Cakka akan melangkahkan kakinya dan pergi, ia kembali menatap kedua mata
Via sedalam-dalamnya, “mulai hari ini, lo resmi jadi milik gue…” bisiknya pelan
lalu benar-benar pergi meninggalkan lapangan basket dengan seulas senyuman
licik yang mengotori wajah tampannya.
♫♫♫
Setelah
selesai makan Via langsung membereskan piringnya tanpa menunggu Alvin.
Sementara Alvin, ia terus memperhatikan setiap pergerakan yang Via lakukan
tanpa terlewatkan sedikitpun. Sejak awal mereka makan malam tadi, Alvin terus
saja memperhatikan Via. Ia seakan berusaha menerka-nerka apa yang ada dalam
otak gadis itu sehingga bersikap sedimikian dingin pada sosok Cakka yang selama
ini ia tahu tidak pernah sekalipun mendapatkan penolakan apapun dari gadis
manapun.
Via
bukannya tidak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan daritadi. Ia hanya
berusaha membiarkan Alvin tanpa bertanya apapun. Ia ingin Alvin yang bertanya
padanya.
Sebisa
mungkin, Via berusaha menahan dirinya agar tidak mengeluarkan pertanyaan
apapun. Tapi kemudian pertahanannya runtuh juga disaat rasa penasarannya
merong-rong benaknya tanpa ampun.
Via
berhenti disamping Alvin. Untuk sesaat ia memejamkan matanya lalu menghembuskan
napasnya kuat-kuat.
“ada
yang pengen lo tanyain?” akhirnya pertanyaan itu keluar juga tanpa bisa ia
control. Dalam hati, ia langsung merutuki kebodohan yang ia ciptakan sendiri.
“gak
ada” jawab Alvin setenang mungkin sambil meneguk segelas air putih yang ada
dihadapannya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Alvin bangkit dari meja
makan dan berjalan dengan santainya melewati Via.
Via
kesal setengah mati dibuatnya. Jika tidak ingat bahwa ia harus menghargai Alvin
dirumah ini, mungkin sudah sejak tadi Via melemparkan sandalnya kekepala cowok
menyebalkan itu. Maunya apa sih? Kadang baik, kadang cuek.
Via
mengepalkan tangannya lalu bersikap seolah-olah meninju Alvin. Via
terus-terusan melakukan itu sampai akhirnya, tanpa ia duga Alvin menghentikan
langkahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu juga, kepalan tangan Via langsung
mengantung diudara. Ia benar-benar malu kali ini, tapi Alvin justru terlihat
biasa saja.
“lo
gak bosen dirumah?” Tanya Alvin dingin.
“hah?”
“lo
mau ikut keluar sama gue?” Tanya Alvin lagi.
“kemana?”
“kalo
mau, ikut aja. Jangan banyak nanya!” nada bicaranya masih terdengar dingin.
Alvinpun berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.
♫♫♫
Alvin
mengajak Via pergi kesebuah pasar malam. Sepanjang perjalanan tadi, Alvin tidak
sedikitpun menggubris pertanyaan-pertanyaan yang Via lemparkan. Sejak pertama
kali bertemu dengan gadis ini, Alvin sadar, bahwa Via bukan tipe cewek yang
bisa diam. Hanya saja, Alvin tidak pernah menduga bahwa ternyata Via jauh lebih
cerewet dari apa yang dapat ia perkirakan.
Saat
baru pertama kali menjejakan kakinya dipasar malam, Via terlihat sangat senang.
Beberapa kali ia mengungkapkan rasa senangnya itu pada Alvin, tapi beberapa
kali juga Alvin tidak sedikitpun meresponnya. Ia membiarkan Via mengoceh
sendiri semaunya, sementara Alvin sendiri lebih memilih menikmati keramaian
yang ada disekitarnya.
“Alvin
gue mau permen kapas…” rengek Via saat mereka melewati stand penjualan permen
kapas. Alvin berdecak sebelum menjawab,
“ya
udah beli sana”
“minta
duit… tadi gue lupa bawa duit” kata Via dengan wajah memelas sambil mengulurkan
kedua tangannya.
Alvin
menghela napas kesal. Tapi akhirnya ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan
selembar uang pecahan lima puluh ribu untuk Via. Dengan senang hati Via
menerima uang pemberian Alvin lalu segera membelanjakannya.
Tidak
lama kemudian, Via kembali menghampiri Alvin dengan membawa 2 buah permen kapas
berwarna pink. Via menyerahkan salah satunya untuk Alvin.
“apaan
nih?”
“makan!”
jawab Via datar. Ia lalu meraih tangan kanan Alvin dan menyerahkan secara paksa
untuk Alvin. “biar kita keliatan kompak. Kita kan saudara, haha…”
Via
lalu berjalan mendahului Alvin dan melangkah didepannya dengan ceria. Alvin
hanya mengikuti dengan pasrah dibelakang sambil sesekali memakan permen
gulanya.
“lo
inget gak? Dulu, kita seriiiiiing banget maen-maen dipasar malam sama Mama gue
dan Mama Metta. Gue juga inget, dulu lo pernah nangis dan ngerengek minta
dibeliin permen kapas. Waktu itu muka lo lucuuuuu banget, HAHAHAHA…” tanpa
sadar Via menepuk pundak Alvin dengan kekuatan penuh. Apa yang Via lakukan itu
kontan saja membuat Alvin meringis kesakitan. Ternyata tenaga gadis ini boleh
juga.
“sakit
begok!” protes Alvin.
“ups…
sorry sorry…” sesal Via sambil mengelus-elus lembut pundak Alvin. Alvin terdiam
untuk sejenak, tapi beberapa detik kemudian, ia malah menepis tangan Via dari
pundaknya dan kembali melanjutkan langkahnya.
Via
memanyunkan bibirnya lalu segera mengejar langkah Alvin sebelum cowok itu
benar-benar jauh darinya.
Via
lagi-lagi menghentikan langkahnya saat perhatiannya tertuju pada sebuah boneka
teddy bear berukuran jumbo. Menyadari bahwa Via jauh tertinggal dibelakangnya,
Alvinpun menoleh dan mendapati Via yang saat itu masih terdiam seraya
memperhatikan sebuah boneka. Alvin berdecak kesal, sepertinya ia telah salah
membawa cewek itu kepasar malam.
Lalu
sambil berusaha keras menahan rasa kesalnya, Alvinpun berlari kearah Via hendak
menyusulnya.
“aduuuhhh…
Via apaan lagi sih?” tanyanya kesal yang justru tidak digubris oleh Via.
“satu
pasangan beruntung dateng lagi rupanya…” seorang pria paruh baya tiba-tiba saja
keluar dari stand permainan panah asrama itu dengan senyumanya yang kelewat
ramah.
‘pasangan?’ bathin Alvin yang merasa tak
terima.
“Mas,
sepertinya pacar Mas pengen boneka teddy bear ini deh. Kenapa gak dikasih aja?
Mas cukup memanah kearah apel ini, kalo apelnya kena dalam sekali panah, Mas
berhak atas boneka teddy bear berukuran jumbo itu” jelas Pria paruh baya tadi
seperti seorang tukang obat yang mempromosikan dagangannya.
“gak.
Saya gak tertarik. Lagian dia buka pac—“
“Alvin
please gue pengen banget boneka itu.
Sekaliiii ini aja dapetin boneka itu buat gue, ya ya ya??” potong Via tiba-tiba
sebelum Alvin menyelesaikan kalimatnya.
Alvin
menganga tak percaya. Jangan harap Alvin mau melakukan games super norak ini.
“Alviiiinnnn…”
Via masih saja merengek. Kali ini ia bahkan menarik jaket Alvin dengan wajah
yang terlihat sangat memelas.
Alvin
yang kelamaan merasa tidak tega akhirnya berusaha untuk mengalah dan menepikan
jauh-jauh egonya. Ia menatap Via dengan kesal, lalu tanpa berkata apapun, Alvin
mengambil sebuah panah untuk memulai games
yang menurutnya sangat norak ini.
Setelah
Pria paruh baya tadi meletakan apel ditempat sasaran, Alvin berusaha untuk
berkonsentrasi sebisa mungkin. Alvin terlihat memejamkan matanya untuk beberapa
saat.
“harus
sekali tembak ya, Vin…” ucap Via penuh harap, tapi Alvin tidak menjawab.
Setelah
yakin, Alvinpun melepaskan busurnya dan membiarkan anak panah itu berlari
bebas. Dan seperti yang dapat ia perkirakan, anak panah tadi tepat mengenai
apel yang menjadi sasarannya. Semua orang yang menyaksikan Alvin memanah malam
itu langsung memberikan tepukan yang sangat meriah untuk Alvin.
Satu
boneka teddy bear berukuran jumbo yang sangat Via inginkan akhirnya jatuh juga
ke tangan Via. Pria paruh baya itu memberikannya langsung pada Via,
“selamat
ya, kalian… semoga hubungan kalian langgeng”
“tapi….
Tapi –“ Via baru saja ingin menjelaskan yang sebenarnya saat Alvin dengan
tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
“ayo
pulang!”
Belum
juga reda rasa kesal Alvin karena merasa dikerjai oleh Via, hujan tiba-tiba
saja turun dengan lebat dan mengguyur tubuh mereka. Via menjerit histeris
setelah mendengar suara Guntur yang menggelegar dan cukup memekakan pendengaran
itu. Orang-orang terlihat berlarian hendak mencari tempat berteduh. Sementara
Alvin, ia langsung membuka jaketnya dan membentangkannya diatas kepalanya dan
kepala Via agar mereka tidak basah terkena hujan.
Apa
yang Alvin lakukan itu justru membuat jarak diantara mereka nyaris terhapus.
Tanpa sengaja, mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat. Deg!
Via tiba-tiba merasakan jantungnya berdegub dua kali lebih kencang dari
biasanya. Sial, sekarang kenapa ia malah susah bernapas?
“mau
sampe kapan lo bengong disini? Ayo jalan!” ajak Alvin dengan nada bicara yang
tidak ada manis-manisnya. Via serta-merta membuyarkan tatapannya dan segera
berjalan.
“tunggu
dulu tunggu!” Via menghentikan langkahnya, Alvinpun mau tidak mau harus
menghentikan langkahnya juga.
“apaan
lagi siiih? Perasaan daritadi lo tuh kebanyakan acara deh” protesnya.
Tanpa
menjawab ocehan Alvin, Via membuka sweater yang sejak tadi ia kenakan lalu
menggunakannya untuk menutupi boneka teddy bear yang didapatkan oleh Alvin
dengan susah payah. Alvin terpaku menatapnya.
“ini
gak boleh basah. Dapetinnya aja susah. Ayo jalan lagi!”
Mereka
kembali berjalan dengan posisi yang semakin dekat tanpa mereka sadari. “Vin…”
panggil Via sekali lagi.
“kalo
sekali lagi lo ngeluarin suara dalam bentuk apapun, gue pastiin lo bakalan
nginep disini malem ini”
Via
pun menutup mulutnya dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara
apapun seperti apa yang Alvin perintahkan tadi.
Mereka
baru saja keluar dari arena pasar malam saat tiba-tiba sebuah mobil pick-up
melindas genangan air bercampur lumpur yang posisinya tepat berada didepan
Alvin dan Via. Tanpa berpikir panjang lagi, dengan cepat Alvin mengambil posisi
didepan Via untuk melindunginya agar tidak terkena cipratan air lumpur tadi.
Alhasil, Alvinlah yang terkena cipratan air.
“Shit!” gumamnya pelan.
“Alvin,
lo gak apa-apa?” Tanya Via berusaha untuk memastikan. Sebelum menjawab
pertanyaan yang Via lemparkan itu, Alvin terlebih dahulu menghela napas
panjangnya, ia pun menyingkir dari depan Via seraya mengoceh.
“baju
gue kena lumpur, dan lo masih nanyain pertanyaan bodoh itu?”
“sorry…”
“ergh…
udahlah” kesal Alvin lalu berjalan mendahului Via. Sepertinya, ia telah
menyesali keputusannya karna telah membawa Via pergi ke pasar malam. Harusnya
tadi Alvin membawa gadis ceroboh ini ke bioskop.
Tidak ingin tertinggal
jauh, Via buru-buru mengejar langkah Alvin.
“ALVIN
TUNGGUIN GUE!!”
To
Be Continued…



0 comments:
Post a Comment