Saturday, February 14, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 4)






Ketika memasuki kamarnya, Gabriel heran melihat Zahra, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakak sepupunya yang saat itu sedang duduk ditepi ranjangnya sambil melihat sebuah figura foto. Gabriel tidak begitu jelas dengan figura itu, ia bahkan tidak terlalu memperhatikannya.
            “Mbak Zahra kok disini? Dan… tumben kesini? Mas Dayat sama Leon juga ikut?”            Nama Mas Dayat yang baru saja Gabriel sebutkan adalah suami dari Zahra, sementara Leon adalah anak laki-laki mereka yang masih berusia 6 tahun. Mereka memang tidak tinggal serumah, tapi sekali waktu, Zahra dan Dayat selalu berkunjung kerumah itu untuk menemui Kakek mereka.
            “Dayat masih dikantor, dan Leon masih les. Mbak Cuma sendiri kesini”
            “oh…”
            Zahra menghela napas panjang lalu menunjukan figura foto yang sejak tadi ia lihat. Foto itu adalah foto masa kecil Gabriel bersama saudara kembarnya yang masih diam-diam ia simpan.
            “kalo Opa tahu kamu masih nyimpen ini, Opa pasti bakalan sangat marah”
            Gabriel menunduk dan hanya bisa terdiam. Meskipun ia yakin bahwa  tidak ada yang salah dengan apa yang ia lakukan, tapi tetap saja ia merasa tertangkap basah. Baginya, menyimpan masa lalu adalah hal terlarang yang tidak boleh ia lakukan dirumah ini. Sejak masih kecil, ia telah dirancang untuk itu.
            “apa aku salah, Mbak?” tanyanya singkat. Kegetiran Nampak begitu jelas terdengar dari nada suaranya.
            Zahra kembali menghela napas panjangnya. Ia terlihat putus asa kali ini.
            “apa kamu sebegitu inginnya menggali masa lalu kamu? Kamu tahu, Opa udah berusaha mati-matian untuk mengubur semua itu?”
            “apa aku salah, Mbak?” ulangnya lagi.
            Zahra mengangguk beberapa kali. Sejak awal ia sadar, bahwa menyembunyikan cerita masa lalu Gabriel bukanlah perkara gampang. Dan ia juga tahu, jika sudah tiba waktunya, ia pasti akan jadi orang pertama yang harus menjawab semua kebingungan ini. Mungkin ini sudah waktunya bagi Zahra untuk membuka semuanya. Gabriel berhak tahu, dan Kakeknya tidak bisa menghentikan itu.
            Sekali lagi Zahra berusaha mematangkan pikirannya untuk lebih meyakinkan lagi keputusannya. Ia tidak ingin salah langkah. Toh sekarang Gabriel sudah dewasa, sudah saatnya ia tahu. Dan setelah memutuskan sesuatu, yang ia yakini tidak hanya akan membongkar semuanya, tapi juga akan menimbulkan sebentuk luka dari masa lalu yang masih belum mengering  bahkan hingga detik ini, ia bangkit dari duduknya lalu menatap Gabriel, seakan berusaha mencari sesuatu dari sepasang mata itu.
            “waktu Mbak masih kecil dulu, Mbak sering liat Mama kamu pergi keruang bawah tanah. Mbak pikir, itu ruang rahasianya. Mbak belum pernah memastikan itu, jadi silahkan kamu pastiin sendiri, urusan Opa… biar Mbak yang urus…”
            Zahra lalu keluar dari kamar Gabriel dan menyisakan Gabriel hanya seorang diri disana.

            “ruang bawah tanah….?” Tanya Gabriel pada dirinya sendiri.



♫♫♫

“Lamaku memendam rasa didada
Mengagumi indahmu wahai jelita
Tak dapat lagi kuucap kata
Bisuku diam terpesona
Dan andai suatu hari kau jadi milikku
Tak akan kulepas dirimu kasih
Dan bila waktu mengijinkanku untuk menunggu dirimu…
Kurasa ku t’lah jatuh cinta
Pada pandangan yang pertama
Sulit bagiku untuk bisa
Berhenti mengangumi dirinya
Oh Tuhan tolong diriku
‘tuk membuatnya menjadi milikku.
Sayangku,
Kasihku,
Oh cintaku,
She’s all that I need…”


            Dari salah satu balkon rumah yang tampak minimalis dari luar itu, terdengar suara merdu milik Cakka yang sedang menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi oleh permainan gitarnya. Lagu ‘Pandangan Pertama’ dari miliknya RAN adalah lagu yang Cakka pilih untuk menemaninya malam ini. Alasan kenapa Cakka begitu menyukai lagu itu semata-mata hanya karna Via. Lirik yang terdapat dalam syair lagu itu benar-benar menggambarkan bagaimana isi hatinya saat ini. Dan sialnya, ia baru pertama kali merasakan perasaan aneh ini.
            “kayaknya ada yang lagi jatuh cinta pandangan pertama nih” satu suara dari belakang Cakka tiba-tiba saja terdengar hanya sesaat setelah Cakka menyelesaikan lagunya.
            Cakka serta-merta menoleh kebelakang dan mendapati Bundanya sedang berjalan kearahnya sambil membawa segelas susu hangat yang merupakan minuman wajibnya.
            “minum ini dulu biar anak Bunda makin sehat, makin cakep, dan makin pinter” tutur Shinta dengan sangat lembut sambil menjulurkan segelas susu hangat yang tadi ia bawa.
            Cakka memutar kedua bola matanya. Lama-lama ia merasa jengah juga jika terus-terusan diperlakukan seperti anak kecil begini.
            “Bunda, kalo Bunda lagi nawarin aku minum susu, bisa biasa aja gak sih, Bund? Gak usah pake embel-embel ini itulah. Aku udah gede, Bund. Aku udah 17 tahun. Aku bukan anak kecil lagi” protes Cakka sambil menerima gelas susu pemberian Bundanya, lalu dalam sekali teguk saja, susu itu sudah raib diminum oleh Cakka.
            Shinta hanya tersenyum. Cakka sudah terlalu sering menyuarakan protes yang sama, dan sudah terlalu sering juga Shinta enggan menanggapinya. Baginya ini semua sudah biasa, sudah lumrah terjadi.
            “buat Bunda kamu masih bayi” jawab Shinta dengan nada meledek yang disambut oleh Cakka dengan tatapan sebal.
            “BUNDA!!”
            “hahaha… jadi, cewek mana yang udah bikin jagoan Bunda ini jatuh cinta? Pandangan pertama pula” Shinta tertawa lantas mengajukan sebuah pertanyaan untuk Cakka.
            Cakka lalu melepas gitarnya. Ia menepuk sofa disebelahnya agar Shinta duduk disampingnya dan mendengarkan ceritanya. Bagi Cakka, Bunda adalah tempat berbagi paling seru.
            “namanya Via, Bund! Dia itu cantiiiiik banget, udah gitu, jago basket lagi. Pas pertama ketemu, aku udah suka sama dia…”
            Shinta mengangguk paham. Meskipun Cakka baru pertama kali bercerita, tapi terus terang saja, Shinta sudah sangat penasaran dengan sosok gadis yang sudah membuat Putera tunggalnya ini jatuh cinta.
            “apa yang bikin kamu jatuh cinta sama dia? Apa karna dia cantik? Jago basket? Kalo emang itu, Bunda rasa biasa aja. Agni juga begitu kan? cantik, jago basket…”
            “tapi Via ini bener-bener beda, Bund. Diantara semua cewek yang pernah aku kenal, dia tuh cewek pertama yang natap aku dengan pandangan menolak. Dia bahkan judes banget sama aku”
            “jadi itu yang bikin dia beda dimata kamu? Karna dia cewek pertama yang berani judesin kamu?”
            Kali ini Cakka hanya mengangguk. Dan makin kesini, Shinta makin paham.
            Shinta lalu meraih salah satu tangan Cakka dan mengenggenggamnya erat. Ia menatap Cakka dengan lembut lantas berkata, “kapan-kapan tolong kenalin Bunda sama dia. Bunda bener-bener penasaran…”

            “itu udah pasti, Bunda…” jawab Cakka dengan mantap dan yakin.




♫♫♫


            Gabriel berdiri didepan ruang bawah tanah yang tadi sore diberitahukan oleh Zahra. Sudah hampir 10 menit, yang Gabriel lakukan hanyalah berdiri tanpa melakukan apapun. Beberapa kali ia terlihat menyentuh handle pintu tanpa menariknya. Rasa takut didadanya mendadak berkecamuk. Setelah 13 tahun lamanya, akhirnya hari ini Gabriel mungkin akan menemukan sebuah rahasia dari masa lalunya yang tidak pernah ia ketahui.
            Sekali lagi Gabriel meyakinkan dirinya. Ia pun menghela napas panjang untuk lebih menenangkan perasaannya. Dan kali ini, tanpa perlu berpikir lagi, Gabriel akhirnya menarik handle pintu itu hingga terbuka dan menampakan ruangan yang tampak gelap didalam sana.
            Gabriel menyalakan senter ponselnya lalu masuk kedalam dan berusaha menggapai sakelar lampu yang terdapat didinding. Setelah semuanya terang, Gabriel justru tercengang. Ia tidak menemukan apa-apa disana. Yang ia lihat hanyalah setumpukan barang-barang rongosokan yang telah berdebu.
            Tapi Gabriel masih belum menyerah. Pasti ada sesuatu didalam ruangan ini. Gabriel pun memasuki ruangan itu lebih dalam lagi. Dan satu lemari berukuran cukup besar tiba-tiba menarik perhatiannya. Lemari itu cukup usang, namun sangat mencurigakan.
            Gabriel memperhatikan lemari itu baik-baik. Lalu seakan diperintahkan, Gabriel mendorong lemari itu dengan sekuat tenaga sehingga menampakan sebuah pintu rahasia dibelakangnya.
            Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Gabriel langsung membuka pintu yang ternyata menghubungkan antara ruang bawah tanah dan sebuah ruang rahasia yang Gabriel yakini adalah ruang rahasia Mamanya. Gabriel memasuki ruangan itu dan kembali menutup pintunya dengan hati-hati. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun terlihat cukup aman untuk dijadikan sebuah ruang rahasia. Gabriel lalu menyalakan lampu dan menuruni beberapa undakan satu persatu dengan perasaan yang tidak mampu ia jelaskan.
            Dalam ruangan itu terdapat sebuah sofa usang dengan meja didepannya. Ada juga beberapa rak buku yang berisi novel-novel serta roman-roman lama. Dari beberapa rak buku itu, ada satu nakas disudut ruangan yang begitu menarik perhatiannya. Diatas nakas itu, terdapat sebuah figura foto yang menampakan gambar seorang wanita yang sedang menggedong sepasang bayi kembarnya. Gabriel yakin seyakin-yakinnya, bahwa wanita berwajah cantik itu pasti adalah Mamanya.
            Selain sebuah figura foto, Gabriel juga menemukan beberapa buku harian didalam laci. Gabriel mengambil semua buku harian itu. Ia lalu duduk disofa dan membaca salah satu dari beberapa buku harian itu.
            Saat membuka buku harian itu, selembar foto yang terselip dihalaman pertamanya tiba-tiba saja terjatuh. Dalam foto lama itu, ia melihat gambar dirinya serta adik kembarnya yang saat itu berusia 1 tahun sedang berpose bersama Mama dan Papa nya dengan background Disneyland.
            Dibelakang foto itu, terdapat sebuah tulisan berisi:

“Gabriel & Gissel with Mommy and Daddy at Disneyland. 24 Juni, 1998…”

            Tepat sekali, foto itu diambil saat Gabriel dan Gissel berusia 1 tahun. Gabriel tersenyum, tanpa sadar, setetes air matanya jatuh diatas tulisan sang Mama. Sulit ia percaya, bahwa sekali dalam hidupnya, ia pernah menjalani kehidupan yang teramat sempurna seperti dalam foto ini.
            Gabriel menyeka air matanya lantas meletakan foto itu diatas meja. Gabriel pun mulai membaca halaman pertama buku harian sang Mama. Sebuah tulisan dibuku harian itu membuat perasaan Gabriel makin tercabik.

“6 Juli, 1997. Tuhan… terimakasih telah memberikan aku anugerah sepasang bayi kembar. Ini kebahagiaan ku yang paling abadi. Gabriel Fabian Ganendra & Gissela Fannia Ganendra…”

            Dihalaman lain, Gabriel menemukan lagi selembar foto yang tertempel. Dalam foto itu terdapat gambar Mama dan Papanya yang Gabriel yakini diambil saat mereka menikah. Disamping foto itu, terdapat juga sebuah tulisan: “Geraldy Ganendra & Sylvia Addara”


♫♫♫

            “Alvin, Via… besok Papa sama Mama bakalan ngelakuin perjalanan bisnis ke Milan selama 2 minggu. Untuk selama itu, kalian Cuma berdua dirumah. Jadi, saling jaga” Adryan menyampaikan pesannya saat mereka sedang makan malam. Alvin hanya mengangguk dan terlihat begitu santai. Toh ini bukan pertama kalinya kedua orangtua nya pergi ke luar negri untuk urusan bisinis. Sejak kecil, ia sudah terbiasa ditinggalkan seperti ini.
            Sementara Alvin tampak begitu santai menanggapi kabar kepergian kedua orangtuanya, Via justru tampak kaget, apalagi ketika mendengar bahwa selama 2 minggu ia hanya akan tinggal berdua saja dirumah bersama Alvin. Membayangkannya saja Via tidak bisa, apalagi jika harus benar-benar menjalaninya.
            Melihat ada yang ganjil dari respon Via, Metta langsung melepaskan sendok berserta garpunya dan menatap Via yang duduk disebelah Alvin dengan pandangan bertanya.
            “kenapa, Via? Kamu ada masalah?”
            Via kontan saja terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Metta bisa dengan  begitu baik membaca responnya yang tidak wajar. Alvin juga menghentikan aktifitas makannya dan ikut menatap Via yang duduk disebelahnya.
            “gak apa-apa, Ma. Gak ada masalah kok…”
            Metta mengangguk paham. “oke…”
            Tanpa sengaja Via menoleh kesamping dan mendapati Alvin yang sedang menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Setelah 2 detik, Alvin langsung membuang tatapannya dan kembali melanjutkan makannya yang tadi sempat terhenti sejenak.
            Entahlah, tapi firasat Via mengatakan, Alvin telah menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak beres darinya. Cowok ini kelewat jenius untuk bisa ia kelabui.



♫♫♫

            Hari ke-3 disemester 2 yang jatuh pada hari ini, seisi SMA Patuh Karya digemparkan oleh berita pesta ulang tahun Gabriel yang ke-17 yang akan dirayakan secara besar-besaran di Hotel berbintang milik keluarga Cakka minggu ini. Undangan bahkan telah disebar dikalangan teman-temannya tanpa sepengetahuan Gabriel.
            Semua tahu, bahwa Gabriel adalah seorang pewaris tunggal dari sebuah perusahaan yang masuk dalam jajaran 10 perusahaan terbaik se-Asia Tenggara. ‘Ganendra Group’,  siapa yang tak kenal dengan nama perusahaan yang bergerak dalam bidang property itu? Ganendra Group saat ini dipimpin oleh Danar Ganendra yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakek dari Gabriel sendiri. Nama Danar Ganendra sudah tidak asing lagi dalam dunia bisnis. Ia adalah seorang pengusaha berintegritas tinggi yang disegani oleh banyak pihak. Dan Gabriel, sudah digadang-gadang akan menjadi penerusnya dimasa depan.
            Disaat hampir semua orang menghebohkan pesta ulang tahunnya yang akan dirayakan dalam minggu ini, Gabriel justru terlihat santai. Bahkan pagi ini, Gabriel terlihat biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.

            “Danar Ganendra emang bener-bener luar biasa…” decak Cakka dengan kagum sambil meletakan undangan yang tadi ia terima diatas meja. “do’i bahkan bisa ngerencanain pesta gede-gedean gini tanpa sepengetahuan Gabriel…”
            “bukan masalah pestanya, Kka…” Rio tiba-tiba menimpali sambil tetap focus membaca undangannya.
            “terus?”
            “emangnya Gabriel bakalan mau terlibat dalam pesta ini? Kayak yang lo bilang tadi, Gabriel bahkan gak tau apapun tentang rencana ini”
            “apapun itu, Gabriel udah terlanjur terlibat. Dan Gabriel sudah sangat terlambat untuk menghindar” jawab Alvin santai tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca.
            “pagi-pagi udah ngegosip aja nih” Gabriel tiba-tiba muncul dari arah pintu lalu segera mengambil posisi disamping Alvin. Alvin hanya menyapa sejenak lalu kembali membaca bukunya.
            “jangan bilang lo belom tahu apa-apa soal rencana birthday party lo yang bakalan diadain secara gede-gedean di Sorano Hotel…” kata Cakka penuh antisipasi.
            Gabriel hanya menampakan wajah datarnya lalu mengangkat kedua bahunya.
            “itu acara Opa gue, jadi buat apa gue harus tau sesuatu. Kalian semua kayak gak tau aja, kalo semua apa yang Opa gue lakuin Cuma buat kepentingan bisnis…”
            “denger-denger dari Bokap gue, katanya lo bakalan dikenalin secara resmi sebagai pewaris tunggal Ganendra Group” ucap Rio.
            Gabriel menghela napas sejenak sebelum akhirnya menjawab, “gue gak tau…”
            Setelah meletakan tasnya diatas meja, Gabriel malah keluar dari kelas seenaknya tanpa mau memperdulikan kawan-kawannya yang juga ikut-ikutan heboh dengan berita pesta ulang tahunnya ini.
            “Iel lo mau kemana? WOOOY!” Seru Cakka dari dalam kelas. Tapi Gabriel tetap tak acuh dan berjalan tanpa menoleh kebelakang dengan tidak peduli.
            Karna pikirannya yang saat ini benar-benar sedang dalam kondisi kacau, Gabriel jadi tidak focus dengan sekitarnya. Ia bahkan sama sekali tidak memperhatikan jalannya sehingga tanpa sengaja ia menubruk tubuh seorang gadis yang saat itu sedang membawa setumpukan buku tugas. Alhasil, semua buku-buku itu terjatuh ke lantai.
            Gadis tadi sempat menggurutu pelan sebelum akhirnya ia duduk dan membereskan buku-bukunya.
            “sorry… sorry… gue gak sengaja”
            Gabriel juga ikut duduk dan ikut membantu gadis itu membereskan buku-buku yang sudah ia jatuhkan.
            “gak apa-apa, gue juga yang gak merhatiin jalan tadi”
            Gabriel sedikit mengangkat wajahnya dan melihat gadis itu. Ternyata gadis itu adalah Via. Cewek yang belakangan ini selalu jadi tranding topic di kelompoknya. Ya… Cakka selalu membicarakan soal gadis ini jika mereka sedang berkumpul.
            “elo… Via kan?” Tanya Gabriel ragu-ragu. Ada sesuatu dalam hatinya yang seolah-olah minta sebuah kepastian. Sebuah kepastian yang tidak pernah ia mengerti.
            “iya… elo, siapa?” Tanya Via balik. Entah kenapa, ia merasa tidak begitu asing dengan wajah didepannya ini.
            “gue Gabriel, sahabatnya Cakka…” jawab Gabriel sambil mengulurkan tangannya.
            Tanpa perlu berpikir panjang, Via langsung menerima uluran tangan Gabriel dan menjabatnya dengan cukup erat. Tapi, ada sesuatu yang aneh saat tangan mereka saling bertautan satu sama lain. Ketika Via menerima uluran tangan Gabriel, saat itu juga ia langsung merasa tertarik pada satu masa yang tidak ia ketahui. Sekelumit bayangan tiba-tiba saja berpendar dikepalanya.

            ‘Kak Iel… Kak Ieeeel….’

            Desauan napas Via tiba-tiba saja memburu diiringi dengan suara deguban jantungnya yang begitu keras. Suara teriakan ‘KAK IEL’ terus menggema diotaknya tanpa henti. Lalu saat semuanya sudah tiba dipuncaknya, Via serta-merta melepaskan tangannya dan buru-buru pamit pada Gabriel.
            “ya udah. Gue permisi, gue musti ke ruang guru buat nganterin buku-buku ini…” ujarnya dengan nada suara bergetar.
            Tak pelak, nada suara itu membuat Gabriel merasa ada yang janggal dengan semuanya.



♫♫♫

            Via dan Agni sedang makan berdua di kafetaria saat tiba-tiba Ify dan Shilla datang menghampiri dengan membawa makanan mereka masing-masing. Tanpa perlu repot-repot minta ijin, Ify dan Shilla langsung mengambil posisi dimeja Agni dan Via.
            “ciyeee yang ngilang aja setelah dapet temen baru” ledek Shilla sambil mengaduk jus strawberry favoritnya. Sesekali Shilla melirik kearah Via yang Nampak canggung berada ditengah-tengah mereka.
            Lalu tanpa menghiraukan sindiran Shilla barusan, Agni langsung berkata pada Via,
            “kenalin Vi… ini Shilla sama Ify, temen-temen gue. Dan kalian berdua kenalin, ini Via, anak baru dikelas gue…”
            Dengan sangat bersahabat Shilla meraih tangan kanan Via lalu menjabatnya.
            “hay… gue Shilla. Seneng ketemu sama lo”
            “gue juga” jawab Via seadanya.
            “kalo gue Ify” kali ini giliran Ify yang mengulurkan tangannya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Via langsung menerima uluran tangan Ify dan saling tersenyum satu sama lain.
            Nyatanya, Via tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa akrab dengan ketiga cewek dihadapannya ini. Baru 10 menit menghabiskan waktu bersama untuk yang pertama kalinya, mereka berempat sudah terlihat sangat akrab. Dan untuk hari-hari kedepan, mereka akan selalu berbagi tawa dan kesedihan. Semuanya akan mereka lakukan bersama, semuanya akan mereka hadapi bersama mulai hari ini.



♫♫♫


            Setelah dari kafetaria, Agni CS langsung berjalan-jalan disekitar lapangan basket. Selama berjalan, selalu ada saja hal lucu yang mereka bahas hingga membuat mereka tertawa dan makin terlihat akrab satu sama lain.
            Tapi kemudian, mereka tiba-tiba terkejut saat seseorang dari tengah lapangan melempar bola kearah mereka yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Via. Secara bersamaan, mereka berempat melihat kearah lapangan dan mendapati Cakka yang saat itu tengah berdiri ditengah lapangan sambil memamerkan senyumannya yang selalu tampak menjijikan dimata mereka.
            “buat cewek yang menerima bola, gue mau nantang lo tanding one on one sama gue. Gimana?”
            “lo udah mulai gak waras, ya?” timpal Shilla dengan suara yang cukup keras dari pinggir lapangan, tapi Cakka enggan menghiraukannya. Yang menjadi targetnya sekarang adalah Via, bukan Shilla si Nenek Lampir cerewet itu.
            Cakka menatap Via dengan pandangan seolah menunggu jawaban. Beberapa detik kemudian, Via kembali melemparkan bola itu kearah Cakka.
            “gue gak mau!” jawabnya dengan jelas dan tegas. Tapi Cakka belum menampakan tanda-tanda ingin menyerah.
            Tepat saat Via akan berbalik dan pergi, ucapan Cakka mendadak menghentikan langkahnya.
            “lo gak pernah tahu kan? lo itu cewek pertama yang secara terang-terangan nolak gue. Lo berpikir gue bakalan nyerah? Gak semudah itu. Seenggaknya sikap jual mahal lo ini bikin gue sadar, kalo gue harus bener-bener perjuangin apa yang gue mau dengan cara apapun”
            Agni, Ify dan Shilla hanya bisa terheran-heran mendengar ucapan Cakka barusan. Mereka benar-benar tidak percaya bahwa seorang Cakka Sorano Raditya bisa mengeluarkan kata-kata semacam itu.
            “gue gak ngerti lo ngomong apaan” ucap Via tanpa sedikitpun menoleh kearah Cakka.
            Cakka tersenyum maklum. Ia lalu berjalan kearah Via dan berdiri tepat dihadapan gadis itu. Dan sekarang, mereka berdua telah menjadi pusat perhatian semua orang, tidak terkecuali Alvin. Dari kejauhan sana, Alvin diam-diam memperhatikan mereka dengan pandangan mengamati.
            “lo mau gue perjelas semuanya secara terangan-terangan? Disini?”
            Via memilih diam dan tidak menanggapi meskipun sebenarnya ia mulai jengah dengan sikap Cakka.
            “terima tantangan gue buat tanding basket. Kalo gue kalah, gue gak akan gangguin lo lagi dengan alasan apapun. Tapi kalo gue menang… gue berhak ngelakuin pendekatan sama lo”

            “makin gila nih cowok” komentar Shilla yang langsung dibenarkan oleh Ify.
            “elo bener, Shill…”
            Setelah cukup lama tenggelam dalam diamnya, Via akhirnya memilih untuk buka suara. Tapi sebelum itu, ia sempat mengamati wajah Cakka baik-baik. Tidak lama…
            “tadi lo bilang kan, kalo gue cewek pertama yang secara terang-terangan nunjukin penolakan gue sama lo. Dan gue mau ngasih tau lo sesuatu, untuk seterusnya lo bakalan terus nerima penolakan dari gue. Dan itu gak akan pernah berubah. So, don't waste your time
            Senyuman diwajah Cakka membeku untuk beberapa saat. Perkataan Via barusan benar-benar tajam dan dengan telak menusuk jantungnya tepat disasaran. Tapi Cakka belum ingin menyerah.

            “sepertinya gue bener-bener bakalan bales dendem sama lo…”
            Baru saja Cakka akan melangkahkan kakinya dan pergi, ia kembali menatap kedua mata Via sedalam-dalamnya, “mulai hari ini, lo resmi jadi milik gue…” bisiknya pelan lalu benar-benar pergi meninggalkan lapangan basket dengan seulas senyuman licik yang mengotori wajah tampannya.



♫♫♫

            Setelah selesai makan Via langsung membereskan piringnya tanpa menunggu Alvin. Sementara Alvin, ia terus memperhatikan setiap pergerakan yang Via lakukan tanpa terlewatkan sedikitpun. Sejak awal mereka makan malam tadi, Alvin terus saja memperhatikan Via. Ia seakan berusaha menerka-nerka apa yang ada dalam otak gadis itu sehingga bersikap sedimikian dingin pada sosok Cakka yang selama ini ia tahu tidak pernah sekalipun mendapatkan penolakan apapun dari gadis manapun.
            Via bukannya tidak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan daritadi. Ia hanya berusaha membiarkan Alvin tanpa bertanya apapun. Ia ingin Alvin yang bertanya padanya.
            Sebisa mungkin, Via berusaha menahan dirinya agar tidak mengeluarkan pertanyaan apapun. Tapi kemudian pertahanannya runtuh juga disaat rasa penasarannya merong-rong benaknya tanpa ampun.
            Via berhenti disamping Alvin. Untuk sesaat ia memejamkan matanya lalu menghembuskan napasnya kuat-kuat.
            “ada yang pengen lo tanyain?” akhirnya pertanyaan itu keluar juga tanpa bisa ia control. Dalam hati, ia langsung merutuki kebodohan yang ia ciptakan sendiri.
            “gak ada” jawab Alvin setenang mungkin sambil meneguk segelas air putih yang ada dihadapannya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Alvin bangkit dari meja makan dan berjalan dengan santainya melewati Via.
            Via kesal setengah mati dibuatnya. Jika tidak ingat bahwa ia harus menghargai Alvin dirumah ini, mungkin sudah sejak tadi Via melemparkan sandalnya kekepala cowok menyebalkan itu. Maunya apa sih? Kadang baik, kadang cuek.
            Via mengepalkan tangannya lalu bersikap seolah-olah meninju Alvin. Via terus-terusan melakukan itu sampai akhirnya, tanpa ia duga Alvin menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu juga, kepalan tangan Via langsung mengantung diudara. Ia benar-benar malu kali ini, tapi Alvin justru terlihat biasa saja.
            “lo gak bosen dirumah?” Tanya Alvin dingin.
            “hah?”
            “lo mau ikut keluar sama gue?” Tanya Alvin lagi.
            “kemana?”
            “kalo mau, ikut aja. Jangan banyak nanya!” nada bicaranya masih terdengar dingin. Alvinpun berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.



♫♫♫

            Alvin mengajak Via pergi kesebuah pasar malam. Sepanjang perjalanan tadi, Alvin tidak sedikitpun menggubris pertanyaan-pertanyaan yang Via lemparkan. Sejak pertama kali bertemu dengan gadis ini, Alvin sadar, bahwa Via bukan tipe cewek yang bisa diam. Hanya saja, Alvin tidak pernah menduga bahwa ternyata Via jauh lebih cerewet dari apa yang dapat ia perkirakan.
            Saat baru pertama kali menjejakan kakinya dipasar malam, Via terlihat sangat senang. Beberapa kali ia mengungkapkan rasa senangnya itu pada Alvin, tapi beberapa kali juga Alvin tidak sedikitpun meresponnya. Ia membiarkan Via mengoceh sendiri semaunya, sementara Alvin sendiri lebih memilih menikmati keramaian yang ada disekitarnya.
            “Alvin gue mau permen kapas…” rengek Via saat mereka melewati stand penjualan permen kapas. Alvin berdecak sebelum menjawab,
            “ya udah beli sana”
            “minta duit… tadi gue lupa bawa duit” kata Via dengan wajah memelas sambil mengulurkan kedua tangannya.
            Alvin menghela napas kesal. Tapi akhirnya ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang pecahan lima puluh ribu untuk Via. Dengan senang hati Via menerima uang pemberian Alvin lalu segera membelanjakannya.
            Tidak lama kemudian, Via kembali menghampiri Alvin dengan membawa 2 buah permen kapas berwarna pink. Via menyerahkan salah satunya untuk Alvin.
            “apaan nih?”
            “makan!” jawab Via datar. Ia lalu meraih tangan kanan Alvin dan menyerahkan secara paksa untuk Alvin. “biar kita keliatan kompak. Kita kan saudara, haha…”
            Via lalu berjalan mendahului Alvin dan melangkah didepannya dengan ceria. Alvin hanya mengikuti dengan pasrah dibelakang sambil sesekali memakan permen gulanya.
            “lo inget gak? Dulu, kita seriiiiiing banget maen-maen dipasar malam sama Mama gue dan Mama Metta. Gue juga inget, dulu lo pernah nangis dan ngerengek minta dibeliin permen kapas. Waktu itu muka lo lucuuuuu banget, HAHAHAHA…” tanpa sadar Via menepuk pundak Alvin dengan kekuatan penuh. Apa yang Via lakukan itu kontan saja membuat Alvin meringis kesakitan. Ternyata tenaga gadis ini boleh juga.
            “sakit begok!” protes Alvin.
            “ups… sorry sorry…” sesal Via sambil mengelus-elus lembut pundak Alvin. Alvin terdiam untuk sejenak, tapi beberapa detik kemudian, ia malah menepis tangan Via dari pundaknya dan kembali melanjutkan langkahnya.
            Via memanyunkan bibirnya lalu segera mengejar langkah Alvin sebelum cowok itu benar-benar jauh darinya.
            Via lagi-lagi menghentikan langkahnya saat perhatiannya tertuju pada sebuah boneka teddy bear berukuran jumbo. Menyadari bahwa Via jauh tertinggal dibelakangnya, Alvinpun menoleh dan mendapati Via yang saat itu masih terdiam seraya memperhatikan sebuah boneka. Alvin berdecak kesal, sepertinya ia telah salah membawa cewek itu kepasar malam.
            Lalu sambil berusaha keras menahan rasa kesalnya, Alvinpun berlari kearah Via hendak menyusulnya.
            “aduuuhhh… Via apaan lagi sih?” tanyanya kesal yang justru tidak digubris oleh Via.
            “satu pasangan beruntung dateng lagi rupanya…” seorang pria paruh baya tiba-tiba saja keluar dari stand permainan panah asrama itu dengan senyumanya yang kelewat ramah.
            ‘pasangan?’ bathin Alvin yang merasa tak terima.
            “Mas, sepertinya pacar Mas pengen boneka teddy bear ini deh. Kenapa gak dikasih aja? Mas cukup memanah kearah apel ini, kalo apelnya kena dalam sekali panah, Mas berhak atas boneka teddy bear berukuran jumbo itu” jelas Pria paruh baya tadi seperti seorang tukang obat yang mempromosikan dagangannya.
            “gak. Saya gak tertarik. Lagian dia buka pac—“
            “Alvin please gue pengen banget boneka itu. Sekaliiii ini aja dapetin boneka itu buat gue, ya ya ya??” potong Via tiba-tiba sebelum Alvin menyelesaikan kalimatnya.
            Alvin menganga tak percaya. Jangan harap Alvin mau melakukan games super norak ini.
            “Alviiiinnnn…” Via masih saja merengek. Kali ini ia bahkan menarik jaket Alvin dengan wajah yang terlihat sangat memelas.
            Alvin yang kelamaan merasa tidak tega akhirnya berusaha untuk mengalah dan menepikan jauh-jauh egonya. Ia menatap Via dengan kesal, lalu tanpa berkata apapun, Alvin mengambil sebuah panah untuk memulai games yang menurutnya sangat norak ini.
            Setelah Pria paruh baya tadi meletakan apel ditempat sasaran, Alvin berusaha untuk berkonsentrasi sebisa mungkin. Alvin terlihat memejamkan matanya untuk beberapa saat.
            “harus sekali tembak ya, Vin…” ucap Via penuh harap, tapi Alvin tidak menjawab.
            Setelah yakin, Alvinpun melepaskan busurnya dan membiarkan anak panah itu berlari bebas. Dan seperti yang dapat ia perkirakan, anak panah tadi tepat mengenai apel yang menjadi sasarannya. Semua orang yang menyaksikan Alvin memanah malam itu langsung memberikan tepukan yang sangat meriah untuk Alvin.
            Satu boneka teddy bear berukuran jumbo yang sangat Via inginkan akhirnya jatuh juga ke tangan Via. Pria paruh baya itu memberikannya langsung pada Via,
            “selamat ya, kalian… semoga hubungan kalian langgeng”
            “tapi…. Tapi –“ Via baru saja ingin menjelaskan yang sebenarnya saat Alvin dengan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
            “ayo pulang!”
            Belum juga reda rasa kesal Alvin karena merasa dikerjai oleh Via, hujan tiba-tiba saja turun dengan lebat dan mengguyur tubuh mereka. Via menjerit histeris setelah mendengar suara Guntur yang menggelegar dan cukup memekakan pendengaran itu. Orang-orang terlihat berlarian hendak mencari tempat berteduh. Sementara Alvin, ia langsung membuka jaketnya dan membentangkannya diatas kepalanya dan kepala Via agar mereka tidak basah terkena hujan.
            Apa yang Alvin lakukan itu justru membuat jarak diantara mereka nyaris terhapus. Tanpa sengaja, mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat. Deg! Via tiba-tiba merasakan jantungnya berdegub dua kali lebih kencang dari biasanya. Sial, sekarang kenapa ia malah susah bernapas?
            “mau sampe kapan lo bengong disini? Ayo jalan!” ajak Alvin dengan nada bicara yang tidak ada manis-manisnya. Via serta-merta membuyarkan tatapannya dan segera berjalan.
            “tunggu dulu tunggu!” Via menghentikan langkahnya, Alvinpun mau tidak mau harus menghentikan langkahnya juga.
            “apaan lagi siiih? Perasaan daritadi lo tuh kebanyakan acara deh” protesnya.
            Tanpa menjawab ocehan Alvin, Via membuka sweater yang sejak tadi ia kenakan lalu menggunakannya untuk menutupi boneka teddy bear yang didapatkan oleh Alvin dengan susah payah. Alvin terpaku menatapnya.
            “ini gak boleh basah. Dapetinnya aja susah. Ayo jalan lagi!”
            Mereka kembali berjalan dengan posisi yang semakin dekat tanpa mereka sadari. “Vin…” panggil Via sekali lagi.
            “kalo sekali lagi lo ngeluarin suara dalam bentuk apapun, gue pastiin lo bakalan nginep disini malem ini”
            Via pun menutup mulutnya dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara apapun seperti apa yang Alvin perintahkan tadi.
            Mereka baru saja keluar dari arena pasar malam saat tiba-tiba sebuah mobil pick-up melindas genangan air bercampur lumpur yang posisinya tepat berada didepan Alvin dan Via. Tanpa berpikir panjang lagi, dengan cepat Alvin mengambil posisi didepan Via untuk melindunginya agar tidak terkena cipratan air lumpur tadi. Alhasil, Alvinlah yang terkena cipratan air.
            “Shit!” gumamnya pelan.
            “Alvin, lo gak apa-apa?” Tanya Via berusaha untuk memastikan. Sebelum menjawab pertanyaan yang Via lemparkan itu, Alvin terlebih dahulu menghela napas panjangnya, ia pun menyingkir dari depan Via seraya mengoceh.
            “baju gue kena lumpur, dan lo masih nanyain pertanyaan bodoh itu?”
            “sorry…”
            “ergh… udahlah” kesal Alvin lalu berjalan mendahului Via. Sepertinya, ia telah menyesali keputusannya karna telah membawa Via pergi ke pasar malam. Harusnya tadi Alvin membawa gadis ceroboh ini ke bioskop.

Tidak ingin tertinggal jauh, Via buru-buru mengejar langkah Alvin.

            “ALVIN TUNGGUIN GUE!!”






            To Be Continued…


0 comments:

Post a Comment