Friday, February 6, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 2B)








Alvin dan Via berhenti disebuah taman saat mereka yakin bahwa ketiga preman tadi telah kehilangan jejak mereka. Mereka sama-sama berusaha mengatur desauan napas mereka yang tidak teratur. Tanpa sengaja, arah mata Via tertuju pada tangannya yang masih berada dalam genggaman Alvin. Untuk sejenak Via tercenung, tidak pernah ada seorang lelakipun yang mengenggenggam tangannya seerat ini. Ini mungkin pertemuan pertama mereka, tapi berada disamping Alvin dalam keadaan yang cukup membahayakan seperti ini membuatnya merasa aman, membuatnya merasa terlindungi.
            “kenapa tadi kita musti lari sih? Kenapa lo gak ngebiarin gue ngadepin ketiga preman jelek itu?” ujar Alvin sedikit kesal dengan napas memburu. Tangannya masih dengan erat menggenggam tangan Via.
            Via terdiam. Ucapan Alvin barusan tidak sedikitpun tertangkap oleh indera pendengarnya. Ia mendadak tuli. Sementara tatapan matanya masih tertuju pada tangan mereka yang masih saling bertautan satu sama lain.
            Semakin kesal karena merasa tidak diacuhkan oleh gadis disebelahnya ini, Alvinpun menoleh kearah Via yang masih terpaku. Sedetik kemudian Alvin lantas tersadar dengan apa yang terjadi. Alvin buru-buru melepaskan genggamannya dan membuat Via akhirnya tersentak dari keterpakuannya.
            “sorry…” sesal Alvin kemudian.
            “ga— gak apa-apa…” Via mendadak gelagapan lalu membuang pandangannya kearah lain.
            “lo kayaknya capek. Duduk disana dulu yuk!” Alvin menunjuk salah satu bangku kosong dibawah naungan sebuah pohon palem yang cukup rindang. Alvin berjalan kearah bangku itu dengan diikuti oleh Via dibelakangnya.
            “udah berapa minggu pindah kerumah?” Tanya Alvin yang mulai membuka obrolan. Tapi nada pertanyaannya terdengar datar dan terkesan tak acuh.
            “baru sekitar 2 mingguan” jawab Via seadanya.
            “sebelum ngejemput lo ke Lombok, Papa sama Mama sempet ngasih tau gue. Tapi mereka gak ngabarin kalo lo udah pindah. Jadi… maaf kalo gue terkesan gak tau apa-apa”
            “gak apa-apa, Calvin”
            “ALVIN!” Ucap Alvin dengan nada meninggi, ia lalu menoleh kearah Via yang Nampak kaget. “panggil gue ALVIN, jangan CALVIN” terangnya dengan beberapa penekanan disetiap namanya.
            “k—kenapa?” Tanya Via ragu-ragu. Sebisa mungkin ia sudah berusaha menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan pertanyaan itu, tapi akhirnya keluar juga tanpa bisa ia control.
            Alvin menghela napas sejenak dan memutuskan untuk tidak menanggapi pertanyaan itu.
            “selamat datang dikeluarga baru kita…”
            “hah?”
            “Pak Yusuf udah dateng. Ayo kita pulang!” kata Alvin saat melihat sedang hitam yang sudah sangat familiar baginya terparkir didepan taman. Ia lagi-lagi tidak menghiraukan Via dan malah berjalan terlebih dahulu tanpa mengajaknya.
            Sikap yang Alvin tunjukan padanya benar-benar berbeda dengan sikap yang ditunjukan oleh Angel, adiknya. Via berharap dia salah, tapi entah kenapa Via merasa bahwa Alvin tidak siap menerima keberadaannya.
            Via menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran-pikiran jeleknya tentang sikap Alvin. Ini kan pertama kalinya mereka bertemu, jadi wajar jika Alvin menunjukan sikap seperti itu. Sifat orang kan beda-beda. Pikir Via lalu bangkit dari tempat duduknya, tapi baru saja ia akan melangkahkan kakinya untuk mengejar langkah Alvin, Via tiba-tiba merasakan rasa sakit dibagian lututnya. Ia pun baru ingat, bahwa tadi ia sempat terjatuh dan terluka.

            Akhirnya dengan langkah terseok, Via menyeret kedua kakinya, menyusul Alvin.




♫♫♫

            Gabriel menatap sebuah figura foto yang didalamnya terdapat gambar 2 orang anak kembar berusia sekitar 3 tahun. Sudah cukup lama Gabriel mengurung diri didalam kamarnya sambil menatap foto itu. Salah satu dari sepasang anak kembar itu adalah dirinya sendiri,  sementara yang satunya lagi adalah seorang anak perempuan lucu dengan dua lesung pipi yang begitu menggemaskan. Dari sang Kakek Gabriel tahu bahwa gadis kecil itu bernama Gissel. Dari sang Kakek pula, Gabriel tahu bahwa gadis kecil menggemaskan itu adalah saudara kembarnya.
            Sudah sangat lama Gabriel tidak pernah mengungkit tentang saudara kembarnya itu dihadapan sang Kakek, namun belakangan ini, sejak beberapa hari yang lalu, entah kenapa, ada sesuatu yang tidak ia mengerti begitu mengusik pikirannya. Gabriel seakan-akan ingin mencari tahu keberadaan adik kembarnya itu.
            Gabriel tidak pernah tahu, apakah sang adik masih hidup atau tidak. Tapi satu hal yang sangat ia inginkan, ia ingin sekali bertemu dengan adiknya. Jika memang adiknya telah meninggal, Gabriel ingin tahu dimana makamnya.
            Saat mereka berpisah dengan alasan yang tidak pernah ia ketahui bahkan sampai hari ini, Gabriel dan Gissel masih sangat kecil. Gabriel bahkan tidak sedikitpun mengingat kenangan yang telah ia lalui bersama adiknya. Segala tentang Gissel menghilang begitu saja mengikuti prahara perceraian kedua orang tuanya. Gabriel begitu terpukul dengan kenyataan ini, dan ia makin terpukul, saat Papanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat 5 tahun yang lalu. Mendiang Papanya meninggal dan terkubur bersama rahasia-rahasia masa lalu yang tidak pernah ia tahu.
            Dan segalanya kian tak terjelaskan, saat Kakeknya memilih bungkam dan mengunci mulut rapat-rapat tentang masa lalunya.
            Untuk mengalihkan perhatian Gabriel dari kenangan masa lalunya, sejak kecil, Papa beserta Kakeknya telah menempanya untuk menjadi seorang pewaris. Gabriel tidak bisa melakukan apapun sekalipun dia sangat ingin. Yang bisa ia lakukan, baik dulu maupun sekarang hanya menerima.
            Tapi sampai waktunya tiba nanti, Gabriel akan memberontak dan membebaskan diri dari kungkungan yang selama ini memenjaranya dalam rasa ketidaktahuan dan ketidakberdayaannya.
            Getar ponsel dimeja belajarnya membuat Gabriel terkesiap. Ia menatap ponselnya sejenak lalu menyimpan kembali figura foto itu dilaci mejanya. Gabriel meraih ponselnya lalu sedikit tersenyum saat melihat nama ‘Ashilla Keiko’ tertera pada layar ponselnya. Tidak ingin membuang waktu lagi, Gabriel segera membaca pesan singkat yang dikirmkan oleh Shilla.



=========================
From: Ashilla Keiko
Yel, besok jemput gue ya?
Plis :)
=========================


            “tanpa perlu bilang please pun dengan senang hati gue bakalan ngejemput elo, Shil..” gumam Gabriel pelan lalu membalas pesan yang Shilla kirimkan.



♫♫♫

            “Mama sama Papa Cuma bilang kalo kalian mau jemput anak temen kalian ke Lombok. Kalian gak pernah bilang kalo kalian mau ngadopsi anak dan tinggal bareng kita. Ma, Pa… aku udah gede sekarang, aku bukan anak kecil lagi. Aku berhak tau apa yang mau kalian lakuin, dan aku berhak ngasih pendapet aku… dan sekarang apa lagi? Kalian memasukan Via ke Patuh Karya…?”
            Alvin akhirnya memuntahkan rasa kecewa yang sejak tadi ia tahan dihadapan kedua orangtua nya. Bukannya Alvin tidak mau menerima kehadiran Via dirumahnya, hanya saja, sikap tidak transparan kedua orangtua nya membuatnya kecewa. Alvin hanya ingin diberitahukan dari sebelum-sebelumnya agar ia bisa bersiap-siap sejak awal. Itu saja.
            “kamu lupa, Vin? Waktu kamu masih kecil dulu, kamu cukup deket sama Via. Papa sama Mama Cuma berpikir kalo ini bakalan jadi kejutan buat kamu…” ujar Metta mengingatkan.
            Sewaktu Alvin masih SD dulu, ia sempat tinggal di Lombok selama kurang lebih 3 tahun. Dari kelas satu SD hingga kelas tiga SD, Alvin dan Via selalu bersama dan nyaris tidak terpisahkan. Tapi bagi Alvin, itu sudah sangat lama. Ia bahkan tidak sedikitpun mengingat wajah Via kecil yang dulu selalu menemaninya.
            “itu masa lalu, Ma. Aku bahkan gak inget sama sekali tentang dia. Bahkan kalo tadi dia gak nyebutin namanya duluan, aku mungkin gak bakalan inget”
            “Via?” ucap Adryan saat melihat Via yang sudah berdiri didepan pintu sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat 3 cangkir teh. Baik Alvin maupun Metta secara bersamaan menoleh kearah pintu. Disana mereka mendapati Via yang tampak canggung dan terlihat kikuk ditempat ia berdiri sekarang.
            Via telah mendengar semuanya.
            “kamu udah lama disana, Nak?” Tanya Metta sehati-hati mungkin.
            Via tahu-tahu menampakan senyumnya lalu berjalan dengan langkah pasti kearah 3 orang itu. Dengan sangat hati-hati Via meletakan 3 cangkir teh itu satu persatu dihadapan Alvin, Metta dan Adryan.
            “ini tehnya, Pa, Ma, Alvin…”
            “Via kamu—“ Metta semakin merasa tidak enak hati pada anak angkatnya itu.
            “ya udah kalo gitu, Via masuk kamar dulu ya, Pa, Ma… Alvin…” saat menyebutkan nama Alvin, tampak sebuah keragu-raguan yang tergurat jelas pada nada bicaranya.
            Via lalu melangkah dan keluar dari ruang keluarga itu.

Beberapa saat setelah Via keluar…

            “Mama mau susul Via kekamarnya dulu, dan buat kamu Alvin. Lain kali jaga dengan hati-hati setiap perkataan kamu!” ujar Metta dengan nada memperingatkan. Tapi sebelum Metta mengayunkan langkah pertamanya, Alvin tahu-tahu mencekal pergelangan tangan Mamanya dan bangkit berdiri.
            “biar aku yang susul dia” ucap Alvin dingin namun tegas.
            Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Metta, Alvin langsung keluar, hendak menyusul Via kekamarnya.



♫♫♫

            “Jadi dia Alvin yang itu? Alvin yang dulu cemen banget itu?” setelah cukup lama memutar memorinya, akhirnya Via ingat juga kalau dulu ia sempat dekat dengan Alvin sebelum akhirnya keluarga Alvin pindah ke Jakarta.
            Via duduk dipinggir ranjangnya dengan pikiran yang melayang jauh ke masa 10 tahun yang lalu, saat ia pertama kalinya bertemu dengan Alvin. Memori diotaknya pun kembali berputar, seperti sebuah film yang diputar ulang.


Flash back on (10 tahun yang lalu)

            Kedua mata Via melotot lebar saat melihat seorang anak laki-laki berkacamata yang seusia dengannya tengah dibully oleh beberapa orang Kakak kelas yang ia kenal. Via melipat kedua tangannya didada. Ia selalu sebal jika sudah melihat pemandangan yang super tidak mengenakan seperti yang ia lihat sekarang ini.
            Dengan berani, Via melangkah maju lalu berdiri tepat disamping Alvin yang duduk bersimpuh ditanah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
            “heh anak nakal! Kalian beraninya main keroyok! Kata Mama aku, kita gak boleh gangguin orang! Kalian mau aku laporin ke Mama biar dihukum?”
            Via adalah anak kepala sekolah di SD. Semua tahu itu. Karena itulah, tidak ada satupun anak yang berani cari masalah dengan Via, termasuk 3 anak nakal yang sekarang tengah berhadapan dengannya. Setelah saling membisiki satu sama lain, ketiga anak nakal itu  langsung membubarkan diri dan membiarkan Alvin dan Via hanya berdua ditempat itu.
            Melihat Alvin yang masih tampak ketakutan, Via pun mengulurkan tangannya untuk Alvin.
            “anak-anak nakal itu udah pergi. Sekarang kita aman. Ayo bangun!”
            Perlahan Alvin mendongak dan menatap wajah manis Via yang saat itu Nampak imut. Alvin tersenyum sekilas lalu menerima uluran tangan Via.

            “makasih ya udah nolongin aku?”
            “sama-sama…”


Flash back off ~

            “dulu dia baik, sekarang kenapa bisa nyebelin banget gitu ya?” pikir Via sesaat setelah ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Alvin.
            “siapa yang nyebelin?”
            Ucap Alvin yang tiba-tiba saja muncul dan berjalan dengan santainya kearah Via. Saat ini, tubuh tinggi menjulang milik Alvin sudah berdiri tepat dihadapan Via. Ia menatap Via dengan heran, dan seakan menagih jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia lemparkan.
            “bukan siapa-siapa..” jawab Via, berusaha terlihat santai.
            “gak nyangka ya? Via yang dulu sok jagoan sekarang berubah jadi penakut”
            Alvin dengan santainya duduk disamping Via dalam jarak yang lumayan dekat. Hal itu kontan saja membuat Via tercekat, belum lagi wangi parfum Alvin yang begitu maskulin semakin membuat perasaannya tidak menentu.
            ‘ini orang bahkan gak minta maaf sama gue atas perkataannya diruang keluarga tadi, dan sekarang? Dia malah seenaknya ngatain gue… huh’ gumam Via dalam hati yang merasa sedikit kesal.
            Cukup lama mereka berdua saling berdiam diri tanpa ada yang berinisiatif untuk memmbuka pembicaraan sampai akhirnya, Alvin melihat luka di lutut sebelah kanan Via. Alvin baru ingat, kalau tadi Via sempat terjatuh saat mereka berdua dikejar-kejar preman. Ternyata gadis cemen ini belum mengobati lukanya.
            “lukanya kenapa belom lo obatin?”
            “hah?  itu— gue belom sempet. Gue bahkan gak ngerasain apapun tadi”
            Alvin tersenyum mencibir lalu berdiri, “gue salah, ternyata sikap sok jagoan lo masih belom berubah…”
            “APA?!”
            Alvin tersenyum mencibir. Sambil melangkah keluar dari kamar Via, Alvin berkata,
            “tunggu bentar! Gue ambil kotak obat”
            3 menit kemudian Alvin kembali kekamar Via sambil membawa sebuah kotak obat. Lalu tanpa banyak bicara, Alvin duduk dibawah Via dan memeriksa lukanya.
            “ini kalo gak segera diobatin bisa infeksi”
            “sini biar gue yang obatin sendiri. Gue bisa kok”
            Alvin mendongak. 2 detik ia menatap Via lantas berkata, “ jangan banyak omong! Biar gue yang selesein ini”
            Dengan sangat telaten, Alvin meneteskan beberapa tetes obat merah diatas secarik kapas lalu mengoleskannya dengan sangat hati-hati dilutut Via. Setelah memeriksa lebih lanjut, ternyata luka itu tidak hanya terdapat dilutut sebelah kananya, tapi juga terdapat dipergelangan kakinya. Alvin mendesah pelan, “ini akibat kecerobohan lo!” rutuk Alvin yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari Via.
            Beberapa menit kemudian, Alvin akhirnya  selesai membalut luka Via. Alvin tersenyum kecil melihat hasil kerjanya yang lumayan.
            “oya, tujuan gue kesi—“
            Alvin tidak melanjutkan perkataannya saat tahu bahwa Via sudah tertidur dengan posisi duduk. Alvin tidak beranjak, tanpa sadar ia menatap wajah Via yang tengah tertidur. Sama seperti Via tadi, memori diotak Alvin berputar kembali ke masa 10 tahun yang lalu.


Flah back on~

            Alvin dan Via sedang duduk berdua dihalaman rumah Alvin sambil menggambar sesuatu dibuku gambar mereka masing-masing. Sedang asyik-asyiknya mewarnai hasil gambarannya, Via berkata pada Alvin,
            “nanti kalo udah besar, aku mau jadi Dokter. Kalo kamu mau jadi apa, Vin?”
            Alvin terdiam untuk beberapa saat. Ia lalu menunjukan hasil gambarnya pada Via. Dalam buku gambar itu, Alvin menggambar seorang super hero dengan tulisan huruf ‘A’ ditengah-tengah dada sang super hero. Dengan bangga Alvin kecil menjawab pertanyaan Via tadi,
            “aku mau jadi super hero kayak digambar ini”
            “kenapa?” Tanya Via penasaran.
            “karna kalo kita udah besar nanti, aku pengen jadi super hero yang selalu ngelindungin kamu…”
            “bener?”
            “bener dong!”
            “janji?”
            Via menjulurkan jari kelingkingnya yang langsung disambut oleh Alvin. Jari kelingking mereka pun terkait satu sama lain.
            “aku janji, Via….”


Flash back off ~


            Via sudah terlelap, dan Alvin masih betah memandanginya. Ia bahkan tidak mengerti, kenapa ia bisa dengan mudahnya melupakan Via, begitu juga dengan Via. Tapi apapun itu, hari ini takdir telah mempertemukan mereka kembali.
            Alvin kaget, saat Via akan menjatuhkan kepalanya dan nyaris saja membentur kepala ranjangnya yang terbuat dari besi itu. Dengan sigap Alvin terbangun dari duduknya dan buru-buru menahan kepala Via dengan salah satu lengannya. Saat itu juga, Alvin langsung menghela napas lega.
            “hufht… hampir aja”
            Via yang terlelap tanpa sadar menjatuhkan kepalanya tepat dipundak Alvin. Ia sempat melenguh pelan dan kembali tenggelam dalam mimpinya.
            “dasar cewek gak sopan! dia bahkan gak ngedengerin omongan gue sampe habis” gerutu Alvin pelan, bahkan sangat pelan nyaris berbisik.

            Dengan sangat hati-hati Alvin membaringkan tubuh Via diranjangnya. Alvin lalu menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.

            “gue kesini mau minta maaf…” gumam Alvin lalu berjalan keluar dari kamar milik Via setelah ia mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan tadi.





To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment