Alvin dan Via berhenti
disebuah taman saat mereka yakin bahwa ketiga preman tadi telah kehilangan
jejak mereka. Mereka sama-sama berusaha mengatur desauan napas mereka yang
tidak teratur. Tanpa sengaja, arah mata Via tertuju pada tangannya yang masih berada
dalam genggaman Alvin. Untuk sejenak Via tercenung, tidak pernah ada seorang
lelakipun yang mengenggenggam tangannya seerat ini. Ini mungkin pertemuan
pertama mereka, tapi berada disamping Alvin dalam keadaan yang cukup
membahayakan seperti ini membuatnya merasa aman, membuatnya merasa terlindungi.
“kenapa
tadi kita musti lari sih? Kenapa lo gak ngebiarin gue ngadepin ketiga preman
jelek itu?” ujar Alvin sedikit kesal dengan napas memburu. Tangannya masih
dengan erat menggenggam tangan Via.
Via
terdiam. Ucapan Alvin barusan tidak sedikitpun tertangkap oleh indera
pendengarnya. Ia mendadak tuli. Sementara tatapan matanya masih tertuju pada
tangan mereka yang masih saling bertautan satu sama lain.
Semakin
kesal karena merasa tidak diacuhkan oleh gadis disebelahnya ini, Alvinpun
menoleh kearah Via yang masih terpaku. Sedetik kemudian Alvin lantas tersadar
dengan apa yang terjadi. Alvin buru-buru melepaskan genggamannya dan membuat
Via akhirnya tersentak dari keterpakuannya.
“sorry…”
sesal Alvin kemudian.
“ga—
gak apa-apa…” Via mendadak gelagapan lalu membuang pandangannya kearah lain.
“lo
kayaknya capek. Duduk disana dulu yuk!” Alvin menunjuk salah satu bangku kosong
dibawah naungan sebuah pohon palem yang cukup rindang. Alvin berjalan kearah
bangku itu dengan diikuti oleh Via dibelakangnya.
“udah
berapa minggu pindah kerumah?” Tanya Alvin yang mulai membuka obrolan. Tapi
nada pertanyaannya terdengar datar dan terkesan tak acuh.
“baru
sekitar 2 mingguan” jawab Via seadanya.
“sebelum
ngejemput lo ke Lombok, Papa sama Mama sempet ngasih tau gue. Tapi mereka gak
ngabarin kalo lo udah pindah. Jadi… maaf kalo gue terkesan gak tau apa-apa”
“gak
apa-apa, Calvin”
“ALVIN!”
Ucap Alvin dengan nada meninggi, ia lalu menoleh kearah Via yang Nampak kaget.
“panggil gue ALVIN, jangan CALVIN” terangnya dengan beberapa penekanan disetiap
namanya.
“k—kenapa?”
Tanya Via ragu-ragu. Sebisa mungkin ia sudah berusaha menahan dirinya untuk
tidak mengeluarkan pertanyaan itu, tapi akhirnya keluar juga tanpa bisa ia
control.
Alvin
menghela napas sejenak dan memutuskan untuk tidak menanggapi pertanyaan itu.
“selamat
datang dikeluarga baru kita…”
“hah?”
“Pak
Yusuf udah dateng. Ayo kita pulang!” kata Alvin saat melihat sedang hitam yang
sudah sangat familiar baginya terparkir didepan taman. Ia lagi-lagi tidak
menghiraukan Via dan malah berjalan terlebih dahulu tanpa mengajaknya.
Sikap
yang Alvin tunjukan padanya benar-benar berbeda dengan sikap yang ditunjukan
oleh Angel, adiknya. Via berharap dia salah, tapi entah kenapa Via merasa bahwa
Alvin tidak siap menerima keberadaannya.
Via
menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran-pikiran jeleknya tentang
sikap Alvin. Ini kan pertama kalinya mereka bertemu, jadi wajar jika Alvin
menunjukan sikap seperti itu. Sifat orang kan beda-beda. Pikir Via lalu bangkit
dari tempat duduknya, tapi baru saja ia akan melangkahkan kakinya untuk
mengejar langkah Alvin, Via tiba-tiba merasakan rasa sakit dibagian lututnya.
Ia pun baru ingat, bahwa tadi ia sempat terjatuh dan terluka.
Akhirnya
dengan langkah terseok, Via menyeret kedua kakinya, menyusul Alvin.
♫♫♫
Gabriel
menatap sebuah figura foto yang didalamnya terdapat gambar 2 orang anak kembar
berusia sekitar 3 tahun. Sudah cukup lama Gabriel mengurung diri didalam
kamarnya sambil menatap foto itu. Salah satu dari sepasang anak kembar itu
adalah dirinya sendiri, sementara yang
satunya lagi adalah seorang anak perempuan lucu dengan dua lesung pipi yang
begitu menggemaskan. Dari sang Kakek Gabriel tahu bahwa gadis kecil itu bernama
Gissel. Dari sang Kakek pula, Gabriel tahu bahwa gadis kecil menggemaskan itu
adalah saudara kembarnya.
Sudah
sangat lama Gabriel tidak pernah mengungkit tentang saudara kembarnya itu
dihadapan sang Kakek, namun belakangan ini, sejak beberapa hari yang lalu,
entah kenapa, ada sesuatu yang tidak ia mengerti begitu mengusik pikirannya.
Gabriel seakan-akan ingin mencari tahu keberadaan adik kembarnya itu.
Gabriel
tidak pernah tahu, apakah sang adik masih hidup atau tidak. Tapi satu hal yang
sangat ia inginkan, ia ingin sekali bertemu dengan adiknya. Jika memang adiknya
telah meninggal, Gabriel ingin tahu dimana makamnya.
Saat
mereka berpisah dengan alasan yang tidak pernah ia ketahui bahkan sampai hari
ini, Gabriel dan Gissel masih sangat kecil. Gabriel bahkan tidak sedikitpun
mengingat kenangan yang telah ia lalui bersama adiknya. Segala tentang Gissel
menghilang begitu saja mengikuti prahara perceraian kedua orang tuanya. Gabriel
begitu terpukul dengan kenyataan ini, dan ia makin terpukul, saat Papanya
meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat 5 tahun yang lalu. Mendiang Papanya
meninggal dan terkubur bersama rahasia-rahasia masa lalu yang tidak pernah ia
tahu.
Dan
segalanya kian tak terjelaskan, saat Kakeknya memilih bungkam dan mengunci
mulut rapat-rapat tentang masa lalunya.
Untuk
mengalihkan perhatian Gabriel dari kenangan masa lalunya, sejak kecil, Papa
beserta Kakeknya telah menempanya untuk menjadi seorang pewaris. Gabriel tidak
bisa melakukan apapun sekalipun dia sangat ingin. Yang bisa ia lakukan, baik
dulu maupun sekarang hanya menerima.
Tapi
sampai waktunya tiba nanti, Gabriel akan memberontak dan membebaskan diri dari
kungkungan yang selama ini memenjaranya dalam rasa ketidaktahuan dan
ketidakberdayaannya.
Getar
ponsel dimeja belajarnya membuat Gabriel terkesiap. Ia menatap ponselnya
sejenak lalu menyimpan kembali figura foto itu dilaci mejanya. Gabriel meraih
ponselnya lalu sedikit tersenyum saat melihat nama ‘Ashilla Keiko’ tertera pada
layar ponselnya. Tidak ingin membuang waktu lagi, Gabriel segera membaca pesan
singkat yang dikirmkan oleh Shilla.
=========================
From:
Ashilla Keiko
Yel,
besok jemput gue ya?
Plis
:)
=========================
“tanpa
perlu bilang please pun dengan senang
hati gue bakalan ngejemput elo, Shil..” gumam Gabriel pelan lalu membalas pesan
yang Shilla kirimkan.
♫♫♫
“Mama
sama Papa Cuma bilang kalo kalian mau jemput anak temen kalian ke Lombok.
Kalian gak pernah bilang kalo kalian mau ngadopsi anak dan tinggal bareng kita.
Ma, Pa… aku udah gede sekarang, aku bukan anak kecil lagi. Aku berhak tau apa
yang mau kalian lakuin, dan aku berhak ngasih pendapet aku… dan sekarang apa
lagi? Kalian memasukan Via ke Patuh Karya…?”
Alvin
akhirnya memuntahkan rasa kecewa yang sejak tadi ia tahan dihadapan kedua
orangtua nya. Bukannya Alvin tidak mau menerima kehadiran Via dirumahnya, hanya
saja, sikap tidak transparan kedua orangtua nya membuatnya kecewa. Alvin hanya
ingin diberitahukan dari sebelum-sebelumnya agar ia bisa bersiap-siap sejak
awal. Itu saja.
“kamu
lupa, Vin? Waktu kamu masih kecil dulu, kamu cukup deket sama Via. Papa sama
Mama Cuma berpikir kalo ini bakalan jadi kejutan buat kamu…” ujar Metta
mengingatkan.
Sewaktu
Alvin masih SD dulu, ia sempat tinggal di Lombok selama kurang lebih 3 tahun.
Dari kelas satu SD hingga kelas tiga SD, Alvin dan Via selalu bersama dan
nyaris tidak terpisahkan. Tapi bagi Alvin, itu sudah sangat lama. Ia bahkan
tidak sedikitpun mengingat wajah Via kecil yang dulu selalu menemaninya.
“itu
masa lalu, Ma. Aku bahkan gak inget sama sekali tentang dia. Bahkan kalo tadi
dia gak nyebutin namanya duluan, aku mungkin gak bakalan inget”
“Via?”
ucap Adryan saat melihat Via yang sudah berdiri didepan pintu sambil membawa
nampan yang diatasnya terdapat 3 cangkir teh. Baik Alvin maupun Metta secara
bersamaan menoleh kearah pintu. Disana mereka mendapati Via yang tampak
canggung dan terlihat kikuk ditempat ia berdiri sekarang.
Via
telah mendengar semuanya.
“kamu
udah lama disana, Nak?” Tanya Metta sehati-hati mungkin.
Via
tahu-tahu menampakan senyumnya lalu berjalan dengan langkah pasti kearah 3
orang itu. Dengan sangat hati-hati Via meletakan 3 cangkir teh itu satu persatu
dihadapan Alvin, Metta dan Adryan.
“ini
tehnya, Pa, Ma, Alvin…”
“Via
kamu—“ Metta semakin merasa tidak enak hati pada anak angkatnya itu.
“ya
udah kalo gitu, Via masuk kamar dulu ya, Pa, Ma… Alvin…” saat menyebutkan nama
Alvin, tampak sebuah keragu-raguan yang tergurat jelas pada nada bicaranya.
Via
lalu melangkah dan keluar dari ruang keluarga itu.
Beberapa saat setelah Via keluar…
“Mama
mau susul Via kekamarnya dulu, dan buat kamu Alvin. Lain kali jaga dengan
hati-hati setiap perkataan kamu!” ujar Metta dengan nada memperingatkan. Tapi
sebelum Metta mengayunkan langkah pertamanya, Alvin tahu-tahu mencekal
pergelangan tangan Mamanya dan bangkit berdiri.
“biar
aku yang susul dia” ucap Alvin dingin namun tegas.
Lalu
tanpa menunggu persetujuan dari Metta, Alvin langsung keluar, hendak menyusul
Via kekamarnya.
♫♫♫
“Jadi
dia Alvin yang itu? Alvin yang dulu cemen banget itu?” setelah cukup lama
memutar memorinya, akhirnya Via ingat juga kalau dulu ia sempat dekat dengan
Alvin sebelum akhirnya keluarga Alvin pindah ke Jakarta.
Via
duduk dipinggir ranjangnya dengan pikiran yang melayang jauh ke masa 10 tahun
yang lalu, saat ia pertama kalinya bertemu dengan Alvin. Memori diotaknya pun
kembali berputar, seperti sebuah film yang diputar ulang.
Flash
back on (10 tahun yang lalu)
Kedua mata Via melotot lebar saat
melihat seorang anak laki-laki berkacamata yang seusia dengannya tengah dibully
oleh beberapa orang Kakak kelas yang ia kenal. Via melipat kedua tangannya
didada. Ia selalu sebal jika sudah melihat pemandangan yang super tidak
mengenakan seperti yang ia lihat sekarang ini.
Dengan berani, Via melangkah maju
lalu berdiri tepat disamping Alvin yang duduk bersimpuh ditanah sambil menutup
wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“heh anak nakal! Kalian beraninya
main keroyok! Kata Mama aku, kita gak boleh gangguin orang! Kalian mau aku laporin
ke Mama biar dihukum?”
Via adalah anak kepala sekolah di
SD. Semua tahu itu. Karena itulah, tidak ada satupun anak yang berani cari
masalah dengan Via, termasuk 3 anak nakal yang sekarang tengah berhadapan
dengannya. Setelah saling membisiki satu sama lain, ketiga anak nakal itu langsung membubarkan diri dan membiarkan Alvin
dan Via hanya berdua ditempat itu.
Melihat Alvin yang masih tampak
ketakutan, Via pun mengulurkan tangannya untuk Alvin.
“anak-anak nakal itu udah pergi.
Sekarang kita aman. Ayo bangun!”
Perlahan Alvin mendongak dan menatap
wajah manis Via yang saat itu Nampak imut. Alvin tersenyum sekilas lalu
menerima uluran tangan Via.
“makasih ya udah nolongin aku?”
“sama-sama…”
Flash
back off ~
“dulu
dia baik, sekarang kenapa bisa nyebelin banget gitu ya?” pikir Via sesaat
setelah ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Alvin.
“siapa
yang nyebelin?”
Ucap
Alvin yang tiba-tiba saja muncul dan berjalan dengan santainya kearah Via. Saat
ini, tubuh tinggi menjulang milik Alvin sudah berdiri tepat dihadapan Via. Ia
menatap Via dengan heran, dan seakan menagih jawaban atas pertanyaan yang baru
saja ia lemparkan.
“bukan
siapa-siapa..” jawab Via, berusaha terlihat santai.
“gak
nyangka ya? Via yang dulu sok jagoan sekarang berubah jadi penakut”
Alvin
dengan santainya duduk disamping Via dalam jarak yang lumayan dekat. Hal itu
kontan saja membuat Via tercekat, belum lagi wangi parfum Alvin yang begitu
maskulin semakin membuat perasaannya tidak menentu.
‘ini orang bahkan gak minta maaf sama gue
atas perkataannya diruang keluarga tadi, dan sekarang? Dia malah seenaknya
ngatain gue… huh’ gumam Via dalam hati yang merasa sedikit kesal.
Cukup
lama mereka berdua saling berdiam diri tanpa ada yang berinisiatif untuk
memmbuka pembicaraan sampai akhirnya, Alvin melihat luka di lutut sebelah kanan
Via. Alvin baru ingat, kalau tadi Via sempat terjatuh saat mereka berdua
dikejar-kejar preman. Ternyata gadis cemen ini belum mengobati lukanya.
“lukanya
kenapa belom lo obatin?”
“hah? itu— gue belom sempet. Gue bahkan gak
ngerasain apapun tadi”
Alvin
tersenyum mencibir lalu berdiri, “gue salah, ternyata sikap sok jagoan lo masih
belom berubah…”
“APA?!”
Alvin
tersenyum mencibir. Sambil melangkah keluar dari kamar Via, Alvin berkata,
“tunggu
bentar! Gue ambil kotak obat”
3
menit kemudian Alvin kembali kekamar Via sambil membawa sebuah kotak obat. Lalu
tanpa banyak bicara, Alvin duduk dibawah Via dan memeriksa lukanya.
“ini
kalo gak segera diobatin bisa infeksi”
“sini
biar gue yang obatin sendiri. Gue bisa kok”
Alvin
mendongak. 2 detik ia menatap Via lantas berkata, “ jangan banyak omong! Biar
gue yang selesein ini”
Dengan
sangat telaten, Alvin meneteskan beberapa tetes obat merah diatas secarik kapas
lalu mengoleskannya dengan sangat hati-hati dilutut Via. Setelah memeriksa
lebih lanjut, ternyata luka itu tidak hanya terdapat dilutut sebelah kananya,
tapi juga terdapat dipergelangan kakinya. Alvin mendesah pelan, “ini akibat
kecerobohan lo!” rutuk Alvin yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari
Via.
Beberapa
menit kemudian, Alvin akhirnya selesai
membalut luka Via. Alvin tersenyum kecil melihat hasil kerjanya yang lumayan.
“oya,
tujuan gue kesi—“
Alvin
tidak melanjutkan perkataannya saat tahu bahwa Via sudah tertidur dengan posisi
duduk. Alvin tidak beranjak, tanpa sadar ia menatap wajah Via yang tengah
tertidur. Sama seperti Via tadi, memori diotak Alvin berputar kembali ke masa
10 tahun yang lalu.
Flah
back on~
Alvin dan Via sedang duduk berdua
dihalaman rumah Alvin sambil menggambar sesuatu dibuku gambar mereka
masing-masing. Sedang asyik-asyiknya mewarnai hasil gambarannya, Via berkata
pada Alvin,
“nanti kalo udah besar, aku mau jadi
Dokter. Kalo kamu mau jadi apa, Vin?”
Alvin terdiam untuk beberapa saat.
Ia lalu menunjukan hasil gambarnya pada Via. Dalam buku gambar itu, Alvin
menggambar seorang super hero dengan tulisan huruf ‘A’ ditengah-tengah dada
sang super hero. Dengan bangga Alvin kecil menjawab pertanyaan Via tadi,
“aku mau jadi super hero kayak
digambar ini”
“kenapa?” Tanya Via penasaran.
“karna kalo kita udah besar nanti,
aku pengen jadi super hero yang selalu ngelindungin kamu…”
“bener?”
“bener dong!”
“janji?”
Via menjulurkan jari kelingkingnya
yang langsung disambut oleh Alvin. Jari kelingking mereka pun terkait satu sama
lain.
“aku janji, Via….”
Flash
back off ~
Via
sudah terlelap, dan Alvin masih betah memandanginya. Ia bahkan tidak mengerti,
kenapa ia bisa dengan mudahnya melupakan Via, begitu juga dengan Via. Tapi
apapun itu, hari ini takdir telah mempertemukan mereka kembali.
Alvin
kaget, saat Via akan menjatuhkan kepalanya dan nyaris saja membentur kepala
ranjangnya yang terbuat dari besi itu. Dengan sigap Alvin terbangun dari
duduknya dan buru-buru menahan kepala Via dengan salah satu lengannya. Saat itu
juga, Alvin langsung menghela napas lega.
“hufht…
hampir aja”
Via
yang terlelap tanpa sadar menjatuhkan kepalanya tepat dipundak Alvin. Ia sempat
melenguh pelan dan kembali tenggelam dalam mimpinya.
“dasar
cewek gak sopan! dia bahkan gak ngedengerin omongan gue sampe habis” gerutu Alvin
pelan, bahkan sangat pelan nyaris berbisik.
Dengan
sangat hati-hati Alvin membaringkan tubuh Via diranjangnya. Alvin lalu menarik
selimutnya hingga menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.
“gue
kesini mau minta maaf…” gumam Alvin lalu berjalan keluar dari kamar milik Via
setelah ia mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan tadi.
To Be Continued…



0 comments:
Post a Comment