Rio sudah berdiri
didepan gerbang rumah Ify selama 15 menit untuk menunggunya keluar. Rio sengaja
datang sepagi mungkin agar tidak terlambat. Ini kali pertamanya Rio menjemput
Ify tanpa mengabari Ify terlebih dahulu. Bagaimana reaksi Ify nanti, Rio tidak
begitu memikirkannya. Yang Rio pikirkan sekarang adalah ia harus menyelesaikan
masalahnya dengan gadis cantik berdagu runcing itu.
Semenjak
Rio menyatakan perasaannya pada Ify beberapa hari yang lalu, Ify seakan sengaja
membentang sekat diantara mereka. Jika mereka berpapasan disekolah, Ify pasti
akan berpura-pura tidak melihat Rio dan sebisa mungkin menghindari kontak mata
diantara mereka.
Rio
tidak bodoh, ia bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana perubahan Ify. Dan
Rio harus menyelesaikan semua permasalahan ini entah dengan cara apapun.
Tepat
15 menit berlalu, Ify membuka pintu gerbangnya. Ia tampak kaget saat melihat
sosok Rio yang sudah menunggunya didepan rumah. Rio berdiri dengan santainya
didepan mobil miliknya sambil memasukan tangannya pada kedua sisi kantong
celana seragamnya.
Ify
terlihat kikuk, tapi ia tetap menyeret langkahnya menghampiri pemuda berwajah
manis itu.
“ada
apa?” Tanya Ify ragu-ragu.
Rio
menatap Ify sejenak. Lalu tanpa berkata apapun, Rio membuka pintu mobilnya dan
memaksa Ify masuk. Ia menarik pergelangan tangan Ify lalu memasukannya kedalam
mobil.
“lo
apa-apaan sih?”
“gue
Cuma pengen tahu, kenapa lo ngehindarin gue?” cecar Rio saat ia baru saja
memasuki mobilnya dan duduk dibelakang kemudi.
Mimic
wajah Ify langsung berubah seketika. Jadi Rio ‘menculik’ nya seperti ini hanya
untuk menanyakan hal itu?
“gu—gue…
gue gak ngehindarin lo!” jawab Ify dengan sedikit terbata.
Rio
mendengus. Ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa Ify sedang berusaha untuk
membohonginya.
“apa
salah kalo gue suka sama lo?” cecar Rio lagi yang justru membuat Ify makin
tidak tahu harus berkata apa.
“gue
gak ngerti lo ngomong apa”
“gak,
Fy. Lo tahu pasti apa yang gue omongin” bantah Rio dengan yakin.
Ify
memejamkan matanya untuk beberapa saat. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu
pada Rio. Tapi Ify tahu pasti, bahwa bukan saatnya untuk ia berbicara. Ify
mengehela napas panjang untuk menenangkan perasaannya. Setelah merasa cukup
tenang Ify pun menatap kedua mata Rio dengan berani,
“elo…
beneran suka sama gue?”
“Fy—“
“jawab
gue! Apa lo beneran suka sama gue?”
“kenapa
lo harus nanyain sesuatu yang lo udah tahu pasti apa jawabannya”
Ify
mengangguk paham. Sekali lagi ia terdengar menghela napas panjangnya lantas
berkata pada Rio, “kalo lo beneran suka sama gue, sebaiknya… perasaan itu lo
buang jauh-jauh. Gue gak akan ngehindarin lo lagi mulai hari ini, tapi gue
mohon dengan sangat.. tolong lupain perasaan lo ke gue”
Perkataan
yang baru saja keluar dari mulut Ify seakan menjelma menjadi sebuah pukulan
telak yang menohok jantungnya tanpa ampun. Rio pikir dia memiliki perasaan yang
sama dengan Ify. Rio pikir Ify juga menginginkannya seperti ia menginginkan
Ify, tapi kenyataan yang ia dapatkan sekarang justru menghempaskannya dan
mematahkan sayapanya dalam sekejab mata.
Ify boleh saja meremukan jantungnya dengan
pernyataan yang baru saja ia lemparkan, tapi entah kenapa, hati kecil Rio
justru berkata bahwa Ify sedang berusaha untuk membohonginya. Kedua mata gadis
itu sama sekali tidak mampu menutupi kebenaran kata hatinya.
“gue
harap lo bisa mengerti, Yo. Dan… cobalah untuk sedikit peka sama orang-orang
yang ada disekitar lo”
Ify
baru saja akan keluar dari mobil Rio saat tiba-tiba Rio mencekal pergelangan
tangan Ify dan menahannya, “sebaiknya kita berangkat bareng. Lo bakalan telat
kalo harus nungguin taksi”
“tapi—“
“sekaliiii
ini aja dengerin gue sebagai… temen lo”
Rio
lalu menjalankan mobilnya dan membelah jalanan dalam keheningan sambil berusaha
menata setiap kepingan hatinya yang telah terserak.
♫♫♫
“Hari ini lo berangkat sendiri. Gue ada urusan. Dan… Happy
birthday”
-Alvin-
Itulah
secarik pesan singkat yang Alvin tulis dalam bentuk memo. Ia menempelkan memo
itu didepan kulkas. Tapi bukan itu yang membuat Via terkesima. Ucapan ‘Happy
Birthday’ yang Alvin tuliskan diakhir pesannya membuat Via bertanya-tanya, mengingat
bahwa selama ini Alvin tidak pernah menanyakan prihal hari ulang tahunnya, lalu
darimana Alvin tahu hari ulang tahunnya? Alvin bahkan menjadi orang pertama yang
mengucapkan selamat ulang tahun untuknya pagi ini.
Via
meletakan memo itu diatas meja makan. Dengan sejuta tanda Tanya yang memenuhi
ruang dikepalanya, Via pun menyantap sarapannya dengan setengah hati. Selama
tinggal dirumah ini, bagi Via, ini baru pertama kalinya ia menikmati sarapan
pagi sendirian.
“Mbak
Ningsih, Alvin kapan keluarnya sih?” Tanya Via saat Mbak Ningsih sedang
membereskan meja makan.
Mbak
Ningsih menghentikan aktifitasnya sejenak lantas menjawab pertanyaan yang Via
ajukan.
“semalem,
sekitar pukul setengah duabelas Den Alvin keluar. Den Alvin sih bilang kalo dia
sama Den Cakka dan Den Rio mau ngasih kejutan buat Den Iel yang hari ini ulang
tahun. Begitu…”
“terus
Alvin gak pulang?”
“Den
Alvin pulang kok tadi subuh. Tapi tadi pagi-pagi sekali, sebelum Non bangun,
Den Alvin sudah berangkat kesekolah”
Via
mengangguk paham lalu meneguk segelas cokelat hangatnya hingga tandas. Mungkin
Via salah, tapi entah kenapa Via merasa bahwa Alvin sedang berusaha untuk
menghindarinya pagi ini. Apa jangan-jangan Alvin mendengarkan semua
pengakuannya semalam?
Jangan!
Jangan sampai Alvin mendengarnya. Kalau Alvin sampai mendengarnya, bisa tamat
riwayatnya. Bisa-bisa juga Alvin menganggapnya tidak tahu diri karna diam-diam
menyimpan perasaan untuknya. Via menggelengkan kepalanya beberapa kali,
berusaha membuang semua pikiran jeleknya.
Via
pun meraih tasnya lalu segera berangkat kesekolah.
♫♫♫
Via
berjalan sendirian dikoridor sambil melihat-lihat kesekitar untuk mencari
keberadaan Alvin. Tapi hingga jauh waktu, Via tidak juga menemukan sosok Alvin
diantara kerumunan para siswa-siswi SMA Patuh Karya yang tengah berlalu lalang
dikoridor. Jika biasanya, 10 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, Alvin dan
sahabat-sahabatnya terlihat berkumpul dikoridor, maka hari ini mereka justru
tidak menampakan diri sama sekali.
Via
tertunduk lesu. Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan bodoh itu mengusik
pikirannya, apa Alvin mendengarkan semua pengakuannya semalam? Apa hari ini
Alvin sengaja menghindarinya?
Disaat
pikirannya tengah kalut, seseorang tiba-tiba saja memanggil nama Via dari
belakang. Merasa namanya dipanggil, Via pun menghentikan langkahnya lantas
menoleh kebelakang. Saat itulah kedua indera pelihatnya langsung menangkap
sosok Alvin yang sedang berjalan bersama kawan-kawannya, tapi bukan Alvin yang
memanggil namanya, melainkan Cakka.
Tidak
seperti apa yang Via pikirkan sejak tadi, pagi ini Alvin justru biasa saja. Ia
bersikap wajar seperti
sebelum-sebelumnya, dan hal itu serta-merta membuat Via menghela napas lega.
Dari apa yang ia lihat pagi ini, Via dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa
semalam Alvin sama sekali tidak mendengarkan pengakuannya. Bagi Via, tidak ada
yang lebih melegakan lagi dari itu.
“lo
hari ini berangkat sendiri, Vi?” Tanya Cakka saat dirinya sudah berdiri tepat
dihadapan Via. Alvin, Gabriel, dan Rio hanya mengikuti Cakka dibelakang.
Via
sempat melirik kearah Alvin sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Cakka,
“iya, Kka…”
Tanpa
ada yang menyadari, Gabriel terus mengamati wajah Via dalam kediamananya.
“Vi…”
panggil Cakka dengan lembut. Mendengar nada bicara Cakka yang tidak biasanya
malah membuat Rio ingin muntah mendengarnya.
“kenapa?”
“gue
bukannya mau nagih janji atau apa, tapi gue Cuma mau ngingetin sesuatu, gue—“
“apa
permintaan lo?” sela Via sebelum Cakka menyelesaikan kalimatnya. Tanpa harus
berbicara panjang lebar, Via paham dengan maksud Cakka. Lagipula, Via paling
tidak suka memiliki hutang budi terhadap seseorang. Dengan cara apapun, Via
akan melunasinya.
Cakka
tersenyum lega. Tidak salah jika Cakka memilih Gadis ini sebagai pemilik
tunggal atas hatinya.
“apa
lo… mau pergi sama gue ke acara birthday
party nya Iel malem ini?” Tanya Cakka sehati-hati mungkin. Dalam hati ia
merasa was-was juga kalau-kalau Via menolak ajakannya.
Via
sempat kaget saat mendengarkan pertanyaan Cakka. Namun alih-alih menjawab, Via
malah melemparkan tatapannya kearah Alvin yang justru terlihat tak acuh.
Menyadari
bahwa Via seakan menanti persetujuan dari Alvin, Cakka kontan tertawa kecil
lalu merangkul pundak Alvin,
“tenang
aja, Vi! Tadi gue udah minta ijin terlebih dahulu sama Alvin, dan dia setuju.
Iya kan, Vin?” Tanya Cakka seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
Alvin
mendengus lalu menurunkan lengan Cakka dari pundaknya, “iya…” jawabnya kemudian
dengan nada bicaranya yang selalu terdengar dingin.
Via
sama sekali tidak percaya, kenapa Alvin begitu saja setuju dengan permintaan
Cakka. Meski dalam hatinya Via menolak keras dengan keputusan yang Alvin ambil,
tetap saja ia harus menerima ajakan Cakka. Via lalu menatap Cakka, dengan
sangat berat hati Via mengangguk seraya berkata, “o—oke kalo gitu…”
“thank you, Via…”
Tanpa
sengaja, perhatian Via tertuju pada Iel yang saat itu masih betah menatapnya
dengan pandangan mengamati. Merasa tertangkap basah, Iel buru-buru mengalihkan
pandangannya sambil berdehem. Tapi Via tidak lantas berpikir yang aneh-aneh
dengan sikap Gabriel itu. Pandangan Gabriel bahkan tidak sedikitpun
mengisyaratkan bahwa ia tertarik dengan Via.
Via
tersenyum pada Gabriel, ia pun mengulurkan tangannya dan berkata, “happy birthday, Gabriel…”
Gabriel
terkesiap, ia pun menatap tangan Via yang terulur beserta wajahnya secara
bergantian. Tidak lama, Gabriel menerima uluran tangan Via dan menjabatnya
dengan erat, “terimakasih…”
♫♫♫
Alvin
menatap kotak cokelat yang ada ditangannya sambil sesekali menatap Via yang
saat itu sedang berkumpul bersama Agni, Shilla dan Ify di kafetaria pada jam
istirahat. Cukup lama Alvin menimbang, apakah ia harus memberikan sekotak
cokelat itu pada Via atau tidak, tapi bermenit-menit lamanya, Alvin tidak juga
tiba pada sebuah keputusan. Alvin hanya takut, jika ia terlalu memperhatikan
gadis itu, yang ada nanti Via akan semakin menggantungkan harapan padanya.
Alvin pernah terluka dan terhempas karena harapan hampanya pada Prissy, dan
sekarang, Alvin tidak ingin hal yang sama padanya dulu terjadi juga pada Via.
Alvin tidak sampai hati jika harus melukai perasaan Via. Tidak setelah Alvin
tahu betapa menderitanya gadis itu karena telah kehilangan kedua orangtuanya.
Tapi
ini hari ulang tahunnya. Sejauh yang Alvin tahu, tidak seorangpun yang
tahu bahwa hari ini Via berulang ulang
tahun. Bahkan jika semalam Alvin secara tidak sengaja melihat kartu pelajarnya,
mungkin Alvin tidak akan pernah tahu bahwa hari ini Via berulang tahun.
Alvin
menghela napas panjangnya. Sekali ini saja Alvin berusaha menepikan segala
egonya. Apapun resikonya, Alvin akan memberikan sekotak cokelat itu untuk Via.
Toh ini hanya hadiah ulang tahun. Alvin yakin Via tidak sebodoh itu untuk bisa
menangkap maksudnya.
Alvin
baru saja akan mengambil langkah pertamanya saat Cakka tiba-tiba saja muncul
dan menjulurkan setangkai bunga mawar merah dihadapan Via. Yang Alvin lihat,
Via tampak kaget untuk beberapa saat, tidak lama Via menerima bunga itu sambil
tersenyum lebar.
Alvin
serta-merta menyembunyikan cokelat itu belakang punggungnya. Secara perlahan
Alvin berjalan mundur dan benar-benar pergi meninggalkan kafetaria dengan
perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
♫♫♫
“Happy birthday, Via…” Cakka tiba-tiba
saja muncul tepat dari belakang Via seraya menjulurkan setangkai bunga mawar
merah dihadapan gadis berpipi chubby itu. Tidak hanya Via yang merasa kaget
dengan kehadiran Cakka yang secara mendadak, tapi Agni, Ify dan Shilla yang
juga ada ditempat itu benar-benar kaget dengan kehadiran Cakka. Mereka tidak
hanya kaget, tapi juga bingung.
“kok
lo tau kalo hari ini gue ulang tahun?” Tanya Via heran sambil menerima mawar
merah pemberian Cakka. Cakka tersenyum lalu menjawab, “gak sulit untuk mencari
tahu tanggal lahir lo, Vi…”
“jadi
hari ini lo ulang tahun, Vi? Kok kita gak tau sih?” Tanya Shilla dengan nada
protes sambil mengerucutkan bibirnya.
“takut
dimintai pajak ulang tahun kali” celetuk Agni sambil menyesap jus apel
kesukaannya.
Mendengar
ucapan Agni, Cakka kontan saja melayangkan sebuah toyoran dikening Agni yang
langsung disambut oleh tatapan tajam dari Agni.
“CAKKA!!”
seru Agni galak.
“Apa
lo?!” jawab Cakka tidak kalah galaknya.
“ciyeeee…
gebetannya dibelain” sindir Ify sambil menampakan wajah tidak berdosanya.
Cakka
tidak menghiraukan sindiran Ify barusan. Ia hanya meleletkan lidahnya lalu
kembali menatap Via dengan serius.
“Vi…
ntar sepulang sekolah lo ikut gue ya?”
“ke
–kemana?”
“ada
deh… pokoknya lo ikut aja. Ini beneran penting banget. Masalah Alvin gak usah
lo pikirin, dia udah tahu kok”
Via
mengangguk pasrah. Toh ia juga tidak memiliki alibi apapun untuk menolak.
“ciyeee…
yang mau nge-date” ledek Shilla dan Ify secara bersamaan yang justru tidak
mendapatkan respon apapun dari Cakka.
Sementara
Cakka terlihat begitu wajar, Via justru merasa salah tingkah. Tanpa ia
inginkan, semburat warna merah tiba-tiba saja muncul dikedua pipi chubby-nya.
‘sial’ rutuknya dalam hati sambil
berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dalam-dalam.
♫♫♫
Rio
menghentikan laju mobilnya saat melihat Shilla yang ketika itu sedang berdiri
digerbang sekolah dengan risau. Awalnya Rio ingin melewati Shilla begitu saja,
tapi saat melihat wajah Shilla yang Nampak kebingungan, Rio jadi merasa tidak
tega dan dengan tiba-tiba menghentikan mobilnya. Rio berhenti tepat disamping
Shilla, ia pun membuka kaca mobilnya lantas menyapa Shilla.
“Shill,
lo belom pulang?”
Shilla
terlihat kaget, ia menatap Rio untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab
pertanyaan Rio, “belom nih, Yo. Tadi sopir gue nelpon, katanya ban mobil tiba-tiba
pecah ditengah jalan, dan sekarang sopir gue masih dibengkel”
Rio
mengangguk paham lantas berkata, “gue anter pulang, yuk! Lagian kan kita
searah, udah gitu satu komplek lagi”
Shilla
kaget bukan main. Benarkah baru saja Rio menawarinya untuk pulang bersama?
Shilla tidak sedang bermimpi kan?
“Shill…
lo doyan banget sih bengong kayak gitu? Mau gak pulang bareng gue?”
Shilla
buru-buru membuyarkan keterpanaannya, “sorry, Yo… sorry…”
“ya
udah yuk! Kita pulang bareng” ajak Rio sekali lagi.
Tanpa
berpikir panjang lagi, Shilla langsung masuk kedalam mobil Rio dan duduk
disampingnya dengan manis. Mereka sempat saling melempar senyum satu sama lain
sebelum akhirnya Rio menjalankan mobilnya.
Tanpa
sepengetahuan Rio dan Shilla, Ify lagi-lagi melihat apa yang terjadi diantara
mereka. Pancaran dari kedua mata jernih Shilla sama sekali tidak bisa
berbohong. Meskipun Shilla tidak memberitahukannya secara langsung, tapi Ify
dapat menangkap bahwa ada sesuatu yang berbeda dari cara Shilla menatap Rio.
Dan hal itu sudah Ify tangkap sejak dulu. Ify sadar, bahkan sangat sadar, bahwa
Shilla diam-diam menyimpan hati untuk Rio. Sekalipun sangat ingin, Ify tahu ia
tidak akan pernah bisa membantah kenyataan itu.
Pada
akhirnya Ify hanya bisa menerima tanpa pernah bisa memilih.
Ify
pun melangkahkah kakinya keatas atap
gedung sekolah. Tempat itu selalu menjadi tempat tujuan Ify disaat ia
merasa gundah.
Sekarang,
Ify sudah berdiri diatas atap gedung sekolahnya sambil menatap hampa kedepan.
Bayang-bayang saat Shilla tersenyum begitu manis ketika Rio menyapanya kembali
terbersit dibenaknya. Apa Ify tega menghilangkan senyuman itu? Apa Ify tega
merebut satu-satunya alasan yang selalu bisa membuat Shilla tersenyum?
“Shilla
adalah alasan kenapa lo minta Rio buat ngelupain lo, kan?” seseorang tiba-tiba
saja muncul dan berdiri tepat disamping Ify. Dialah Alvin. Alvin mengikuti arah
pandangan Ify lalu terdengar menghela napas panjangnya.
Ify
melirik Alvin sejenak lalu kembali mengalihkan tatapannya,
“secepet
itu ya lo tau semuanya?” Ify tersenyum miris.
“apa
itu penting sekarang? Pertama-tama gue pengen tahu, kenapa Ify sahabat gue,
yang selama ini gue kenal pantang untuk berbohong sama siapapun malah dengan
gampangnya membohongi diri sendiri? Kenapa?”
Pertanyaan
Alvin itu benar-benar telak menusuk jantung Ify. Ify mendadak bungkam. Ia
bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Alvin yang cukup mematikan itu.
Kali
ini Alvin menatap Ify. Ia sangat menanti bagaimana jawaban sahabatnya ini.
Semenit
berlalu. Ify tidak juga membuka mulutnya. Alvin yang paham langsung
menganggukan kepalanya beberapa kali seraya berkata,
“tolong
tegur gue kalo gue emang salah…” jeda sesaat. Alvin menghela napas lalu
melanjutkan perkataannya, “apa lo ngelakuin semua ini karna Shilla? Hm?”
“gue
gak perlu repot-repot ngejelasin semuanya ke elo Vin, lo pasti udah tau apa
alesannya. Kita sahabatan sejak kita masih sama-sama ingusan bahkan sampai hari
ini, apa itu gak cukup buat bikin lo ngertiin posisi gue?”
“Fy…
dengerin gue! Apapun alesannya, lo gak sepantesnya ngebohongin diri lo sendiri.
Gue tau lo ngelakuin semua ini karna lo mikirin perasaan Shilla. Tapi lo harus
tahu dampak dari semua ini, yang terluka bukan Cuma lo. Dan keputusan yang lo buat
ini, bukan hanya menyangkut perasaan lo aja, tapi perasaan banyak orang”
“Vin—“
“Elo,
Rio, Shilla, utamanya Gabriel pasti sangat terluka dengan semua ini. Lo gak
bisa pura-pura menutup mata dengan perasaan Gabriel terhadap Shilla disaat lo
bisa ngeliat semuanya dengan sangat jelas. Dan kalo lo terus maksain Rio supaya
bisa cinta sama Shilla, maka Shilla akan menjadi pihak yang paling tersakiti
dalam hal ini. Sebaiknya, lo jujur sama diri lo sendiri, lo jujur sama Rio. Dan
urusan Shilla akan menjadi urusan Gabriel. Shilla Cuma gak sadar dengan perasaannya.
Itu aja…”
“Shilla
sahabat gue Vin, dan Shilla suka sama Rio. Lo pikir semuanya bakalan gampang?
Gak, semuanya gak segampang seperti apa yang lo pikirin…”
“dan
semuanya gak sesulit seperti apa yang lo bayangin, Fy. Perasaan yang Shilla
rasain sama Rio sebenernya Cuma perasaan kagum yang Shilla artikan sebagai rasa
sayang. Dan kalo lo ngasih Gabriel kesempatan buat ngubah semua itu, semuanya
akan berjalan baik-baik aja. Mungkin diawal bakalan sulit buat Shilla, tapi itu
semua hanya untuk sementara, Fy. Trust me…”
“Alvin—“
“elo
gak Cuma ngebohongin diri lo sendiri, Fy. Tapi lo juga udah ngebohongin Rio dan
Shilla sekaligus”
Sebulir
air mata Ify menetes perlahan tanpa ia sadari. Dadanya sudah terlalu sesak
untuk terus menahan semua ini. Alvin benar. Ify sama sekali tidak
menyalahkannya dan ia bahkan tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan ini. Tapi
Ify harus bagaimana? Ia sudah terlanjur melepaskan Rio untuk Shilla. Ia sudah
terlanjur melambungkan harapan Shilla tinggi-tinggi, lalu sekarang apa Ify tega
menghancurkan semuanya?
“gue
gak tau harus gimana, Vin. Dada gue rasanya sesak banget… gue gak bisa napas,
Vin. Gue gak bisa, hiks…” Ify mengisak pelan sambil menepuk dadanya agar jalan
pernapasannya bisa terasa sedikit lapang.
Alvin
memejamkan matanya seraya menghela napas. Seumur-umur mengenal sosok seorang
Melodify Clara, tapi ini kali pertamanya bagi Alvin melihat gadis ini menangis.
“hey,
sini!” Alvin menarik salah satu pergelangan tangan Ify dan membawa gadis
kedalam pelukan hangatnya.
Alvin
membiarkan Ify menangis sepuasnya dalam dekapannya. Semakin lama, isakan itu
semakin kuat. Tangisan itupun semakin terdengar memilukan. Alvin lantas
membelai lembut rambut Ify untuk menenangkannya.
“I’ll be there for you, Fy! Lampiasin
semuanya ke gue. Nangis sekuat yang lo mau dipelukan gue. You’re not alone, gue Cuma pengen lo inget itu. Gue sahabat lo, gue
akan selalu ada buat lo, oke?”
♫♫♫
Tidak
lama menunggu Cakka didepan areal parkir, Cakka akhirnya datang menghampiri Via
dengan ninja merahnya. Cakka menyerahkan sebuah helm untuk Via yang langsung
diterima oleh Via dengan senang hati.
“thanks” ucap Via seraya memasang
helm-nya. Tapi Via tampak agak kesulitan saat memasang tali helm-nya. Cakka
menggeleng beberapa kali, tanpa permisi, ia lalu meraih kedua pundak Via hingga
jarak diantara mereka terpaut begitu dekat.
Via
tersentak. Ia pun menahan napasnya saat Cakka membantunya memasang tali
helm-nya. Jarak wajah mereka begitu dekat, Via bahkan bisa merasakan bagaimana
hangatnya desauan napas Cakka yang seakan menyapu kulit wajahnya.
“lo
udah bisa napas sekarang!” ujar Cakka sambil tersenyum jahil. Ia lalu
melepaskan kedua pundak Via dan membuat Via secara otomatis melangkah mundur.
Via mendelik tajam, baru kemarin mereka mulai akrab, sekarang Cakka sudah
berani-beraninya berbuat seperti ini pada Via. Awas saja nanti!
“ciyeee
melotot…” ledek Cakka seraya mendorong pelan kepalanya hingga menyentuh kepala
Via yang sudah terlindungi helm.
“Cakka
apaan sih?” rengek Via manja dengan menampakan wajah kesalnya yang justru
terlihat sangat imut dimata Cakka.
Cakka
tertawa geli dan segera meminta Via untuk menaiki motornya, “ya udah, yuk naik!
Takutnya ntar telat”
“kita
mau kemana sih?” Tanya Via penasaran saat dirinya sudah menaiki motor Cakka.
Cakka pura-pura memasang wajah berpikir dengan seulas senyuman jahilnya yang
masih betah tersungging diwajah tampannya.
“ntar
juga lo tau. Anggep ini sebagai perayaan hari ulang tahun lo” jawab Cakka
seenaknya, “lo gak pegangan?” Tanya Cakka kemudian.
Via
menggeleng, “gak perlu”
“yakin?”
Cakka berusaha memastikan yang langsung disambut oleh anggukan mantap dari Via.
Tiba-tiba
saja, sebuah ide jahil terbersit diotak Cakka. Tanpa peringatan, Cakka meng-gas
motornya dengan kuat. Hal itu kontan saja membuat Via kaget dan secara otomatis
melingkarkan kedua tangannya dipinggang Cakka. Saat itu juga, tawa Cakka
langsung pecah.
“CAKKAAAAA!!!”
♫♫♫
Gabriel
duduk termenung diruang rahasia Mama nya sambil menatap sebuah amplop surat
usang yang ditujukan untuknya. Selama beberapa hari terakhir ini, Gabriel terus
saja menimbang apakah ia harus membaca surat itu atau tidak, dan sampai hari
ini, tepatnya dihari ulang tahunya yang ke-17, Gabriel akhirnya tiba pada
sebuah keputusan. Ada rasa takut bercampur bimbang dihati kecilnya. Ia bahkan
tidak tahu, apakah ia sudah merasa siap atau tidak untuk membaca surat dari
Mamanya.
Gabriel
menghela napas panjang. Lalu tanpa pikir panjang lagi, Gabriel langsung membuka
amplop surat itu dan membaca isinya:
Untuk Anak yang Mama rindukan,
Gabriel Fabian Ganendra…
Hay jagoan
kesayangannya Mama… kamu apa kabar sayang? Kapanpun kamu baca surat ini, Mama
yakin kamu sudah bisa mengerti dan menangkap dengan baik tentang apa yang akan
Mama sampaikan disurat ini.
Iel… Mama
sayang sama Iel. Dan jangan pernah sekalipun Iel berpikir kalau Mama sengaja
membuang kamu. Tidak, Nak. Mama tidak akan pernah melakukan hal itu sekalipun
Mama harus mati.
Alasan
kenapa sampai detik ini kita harus berpisah bukanlah keinginan Mama, Nak. Jika
bisa Mama ingin bawa Iel juga, Mama ingin hidup sama Iel juga sama Gissel,
hanya saja… keadaan yang ada tidak pernah mengijinkan kita untuk tetap hidup
bersama.
Mama harus
bawa Gissel pergi karna Opa kamu tidak mau punya cucu seorang gadis dari Mama
dan Papa sebagai anak sulung di keluarga Ganendra. Opa hanya ingin punya cucu
laki-laki yang nantinya akan beliau jadikan sebagai pewaris tunggal Ganendra
Grup.
Sejak awal
Papa menikahi Mama, Opa memang tidak pernah setuju. Opa selalu menentang
pernikahan Papa dan Mama. Sampai akhirnya kalian lahir, Papa sama Mama pikir
setelah kamu dan Gissel lahir, Opa bisa luluh, Opa bisa berubah, tapi ternyata
Mama keliru.
Opa hanya
memilih dan mengakui kamu dan Papa sebagai bagian dari hidupnya.
Suatu hari…
Opa dan Papa bertengkar hebat. Opa bahkan mengancam akan mencabut hak waris
Papa kamu jika Papa tetep mempertahankan pernikahannya dengan Mama. Tapi Papa
tidak gentar, Papa tetap kekeuh ingin mempertahankan kita, Papa bahkan rela
melepaskan semuanya demi kita, tapi Mama justru merasa sangat jahat jika
membiarkan hal itu terjadi.
Mama
akhirnya pergi membawa Gissel dan meninggalkan kamu. Tapi sungguh, itu bukan
keinginan Mama. Apapun keadaannya, dulu ataupun sekarang, hidup ataupun mati,
Mama sangat menyayangi Iel.
Jagain Papa
sama Opa ya, sayang? Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Kita pasti
akan hidup bersama lagi. Iel percaya kan sama Mama?
Salam
kangen…
Mommy
~
Tanpa
terasa, airmata Gabriel menetes membasahi surat itu. Dadanya terasa benar-benar
sesak. Dan dalam keheningan yang menyesakkan itu, Gabriel menangis bisu tanpa
airmata.
Gabriel
sangat merindukan Mamanya. Lebih dari apapun itu, Gabriel ingin bertemu dengan
Mamanya sekali lagi.
“Ma…
sekaliii aja Iel pengen ketemu Mama. Sekaliiii aja Iel pengen dipeluk sama
Mama. Sekaliiiii aja, Ma….”
♫♫♫
Ternyata
Cakka membawa Via pergi kesebuah mall. Via sama sekali belum mengetahui apa
maksud dan tujuan Cakka membawanya ketempat ini. Via sudah mencoba untuk
bertanya sejak tadi, tapi Cakka enggan menjawab yang akhirnya membuat Via
mengalah dan dengan pasrah mengikuti kemanapun Cakka melangkah.
“Vi,
tunggu disini bentar ya? Bentaaar aja” kata Cakka saat mereka baru saja
menjejakan kaki dilantai 2. Via belum sempat memberikan ijinnya, tapi Cakka
malah sudah kabur duluan. Via mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua
tangannya didepan dada. Kalau tidak ingat bahwa
kemarin Cakka telah membantunya, jangan harap Via mau menuruti semua
permintaan-permintaan gilanya.
Tidak
lama setelah Cakka pergi, perhatian Via langsung teralihkan pada
perhiasan-perhiasan cantik yang terpajang disebuah etalase. Merasa penasaran,
Via pun mendekat kesalah satu etalase dan melihat beberapa perhiasan. Dan
perhatian Via langsung tertarik pada sebuah kalung dengan bandul yang cukup
unik. Kalung cantik itu berbandul gitar bertahtakan permata-permata kecil
berwarna biru dengan detail beberapa lambang melodi dibeberapa bagian.
Via
tersenyum. Baginya kalung itu sangat cantik, dan Via sangat tertarik. Sempat
terbersit dibenaknya, andai saja dia bisa memiliki kalung itu. Tapi kemudian,
keinginannya itu seketika buyar saat melihat harga yang tertera pada kalung
itu.
Via
tersentak. Bagaimana bisa benda kecil itu begitu mahal?
“Via
ngapain disini?” Tanya Cakka yang tiba-tiba saja muncul tepat dari belakang
Via. Tanpa sengaja, perhatian Cakka tertuju pada kalung yang sejak tadi menjadi
titik focus Via.
“Cuma
liat-liat aja kok…” jawab Via sekenanya, “emm… sekarang kita mau kemana?”
lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.
“lo
ikut gue aja. Bentar lagi nyampe ditempat tujuan kok” jawab Cakka tanpa
sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari kalung unik itu. Jauh didalam sana,
Cakka yakin Via pasti menginginkan kalung itu.
“ya
udah ayo!”
Cakka
mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Via dan
membawanya pergi dari tempat itu.
Cakka
membawa Via memasuki sebuah butik milik Bundanya. Dengan dibantu oleh beberapa
asisten toko, disana Cakka sempat memilih beberapa gaun untuk Via yang akan ia
kenakan dipesta ulang tahun Gabriel malam ini.
“Cakka
ini apaan sih?” Tanya Via yang merasa sedikit bingung.
“udah
gak usah protes! Lo pokoknya harus keliatan cantik di birthday party-nya Iel malam ini”
“Tapi
Cakka—“
Via
tidak sempat melemparkan protes saat Cakka mendorongnya begitu saja ke ruang
ganti dengan beberapa pilihan gaun ditangannya, “udah sana masuk! Cobain
satu-satu. Oke?”
Setelah
bermenit-menit lamanya keluar-masuk ruang ganti, mencoba beberapa gaun
pilihannya, akhirnya Cakka tertarik pada sebuah gaun brokat putih seatas lutut
dengan lengan panjang yang terlihat sangat pas ditubuh Via. Via memadukan gaun
dengan sebuah stocking hitam yang
semakin menyempurnakan kecantikan gaun itu sendiri. Cakka terkesima saat Via
keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun itu. Cakka terdiam untuk
beberapa lama lalu mengacungkan jempolnya seraya tersenyum kagum.
“cantik…”
puji Cakka singkat yang kontan saja membuat Via salah tingkah sampai harus
tertunduk malu.
Setelah
mementukan pilihan gaun yang akan dikenakan Via, Cakka kembali menarik
pergelangan tangan Via dan membawanya ke bagian sepatu. Sementara Cakka sedang
memilih-milih sepatu untuk Via, Via justru terlihat santai duduk disebuah sofa.
Sebenarnya Via ingin membantu Cakka, tapi Cakka malah menolak bantuannya dengan
mentah-mentah.
Senada
dengan warna gaun Via, Cakka memilih sebuah high
heels putih yang terlihat simple
untuk Via. Cakka tersenyum, ia mengambil sepasang high heels pilihannya lalu menghampiri Via.
“Gue
dapet, Via!” ujar Cakka antusias lalu duduk tepat dibawah Via dengan posisi
berlutut. Via lagi-lagi terkejut dengan apa yang Cakka lakukan.
“Cakka
apaan lagi sih?”
“sepatunya
dicoba dong, Vi…”
“sini
biar gue coba sendiri” kata Via sambil berusaha mengambil sepatu itu dari
Cakka, tapi dengan sigap, Cakka justru menjauhkan tangannya.
“sini
kaki lo!” Cakka menarik salah satu kaki Via dan memasangkannya sepatu tadi. Via
hanya melihat apa yang Cakka lakukan tanpa berusaha untuk melawan lagi.
“tuh
kan beneran cocok!”
Setelah
memilih gaun serta sepatu yang akan ia kenakan di pesta malam nanti, Cakka lalu
membawa Via kesebuah salon mewah milik Tantenya. Protes yang Via ajukan
lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Cakka. Dan jika sudah bosan mendengarkan protes
yang Via lemparkan, Cakka akan berkata, “kemarin kan lo udah janji bakalan
Menuhin semua permintaan gue”
Dan
jika sudah begitu, Via akan secara otomatis bungkam. Senjata makan tuan, itulah
ungkapan yang tepat untuk Via saat ini.
“Tan,
ini temen aku. Bikin dia jadi secantik mungkin. Dan nanti sekitar pukul
setengah tujuh, aku bakalan jemput dia” ujar Cakka yang langsung disambut oleh
persetujuan mutlak dari Tantenya.
“lo
mau kemana, Kka?” Tanya Via sambil memegang lengan Cakka. Cakka tersenyum
sebelum akhirnya menjawab,
“gue
kan juga harus siep-siep, Via. Udah, lo pokoknya disini aja. Lo bakalan aman
sama Tante gue. Dan masalah Alvin, lo gak perlu pikirin. Itu urusan gue”
Lagi-lagi
Via pasrah dan terpaksa menyerah.
♫♫♫
Setelah
menyerahkan Via disalon, diam-diam tanpa sepengetahuan Via, Cakka kembali ke
toko perhiasan tadi dan mencari kalung cantik yang Via inginkan. Tapi sial,
kalung tadi sudah tidak ada lagi ditempat. Cakka merutuk. Harusnya tadi ia
lebih cepat lagi.
“ada
yang bisa saya bantu?” seorang pramuniaga cantik tiba-tiba menghampiri Cakka
dengan senyuman manisnya.
“gini
Mbak, kalung yang tadi dipajang disini kemana? Udah ada yang beli, ya?” Tanya
Cakka tak sabar sambil menunjuk ke etalase.
Prmuniaga
itu terlihat mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya menjawab, “oohh… kalung
skylova? Kebetulan 10 menit yang lalu sudah ada yang membeli”
“su—sudah
ada yang beli? Siapa?”
“saya
kurang tahu, Mas. Tapi yang jelas, dia seumuran sama Mas. Dia juga menggunakan
seragam yang sama dengan Mas…”
Apa?
Seumuran dengan Cakka? Menggunakan seragam yang sama dengan Cakka? Berarti
pembeli itu satu sekolah dengannya. Tapi siapa? Apa Cakka mengenalnya? Itulah
beberapa pertanyaan yang timbul secara membabi buta diotak Cakka. Tapi bagi
Cakka, pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak penting, yang terpenting
sekarang adalah, Cakka harus menemukan kalung yang sama seperti kalung itu.
“Mbak,
apa kalung dengan model yang sama seperti itu masih ada?” Tanya Cakka penuh
harap.
“Maaf
Mas sebelumnya. Kalung SkyLova itu Limited
Edition, Cuma ada 1 di Indonesia…”
“hah?
yang bener?” kaget Cakka sekaget-kagetnya. Apa masih ada kalung limited edition seperti itu? Cuma satu
di Indonesia? Benar-benar tidak masuk akal!
“iya,
Mas. Kalung itu sudah di desain eksklusif oleh seorang desainer dari Prancis.
Kalung dengan model yang sama seperti skylova hanya ada 10 didunia, itupun
tidak persis sama…”
Cakka
tertunduk lesu setelah mendengarkan penjelasan dari Prmauniaga tadi. Ia sangat
kecewa pada dirinya sendiri karna tidak bisa memberikan apa yang Via inginkan.
Kalau saja Cakka bertindak lebih cepat, ia tidak akan terlambat dan menelan
kekecewaan seperti ini.
Lalu
pertanyaan yang sama seperti tadi lagi-lagi timbul dikepalanya: siapa yang
telah mendahuluinya membeli kalung itu? Pasti bukan orang biasa. Kenal atau
tidak kenal, jika Cakka diberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang itu,
Cakka bersumpah akan membeli kalung itu, meskipun ia harus membayar 10 kali
lipat, Cakka akan melakukannya.
♫♫♫
Tepat
pukul setengah tujuh malam, Cakka datang kembali ke salon untuk menjemput Via seperti janjinya tadi sore. Cakka duduk
diruang tamu sambil membaca-baca sebuah majalah. Malam ini Cakka terlihat
sangat tampan dengan balutan stelan jas formal berwarna abu gelap. Ia juga
menggunakan sebuah kemeja putih dengan warna dasi yang senada dengan jas
berserta celananya.
Setelah
sekitar 10 menit menunggu, Via dengan ditemani oleh Tante Linda keluar dari
ruang ganti. Tante Linda melirik kearah Cakka dan Via secara bergantian, ia
lalu memegang kedua pundak Via dan seakan memberikan kode melalui matanya.
Tante Linda lalu pergi dan meninggalkan Cakka dan Via hanya berdua saja
diruangan itu.
Merasa
bahwa Cakka belum menyadari kehadirannya, Via pun berdehem pelan. Tepat ketika
itu juga, Cakka langsung mengangkat wajahnya. Dan Cakka benar-benar sangat terpesona
dengan kecantikan yang terpancar dari Via malam ini.
Gaun
brokat putih yang tadi dipilih langsung oleh Cakka, dipadukan dengan dandanan
yang cukup glamour oleh Tante Linda. Make-up
yang Via gunakan bisa terbilang cukup natural, hanya saja lipstic merah terang yang ia gunakan justru membuat penampilannya
malam ini terlihat glamour dan elegant. Rambut panjang lurusnya dibiarkan
tergerai dengan poni yang menjuntai indah didahinya.
Via
tersenyum canggung seraya menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak
gatal. Pandangan yang Cakka lemparkan padanya justru membuatnya merasa sangat
tidak nyaman.
“kok
ngeliatnya gitu sih? Dandanan gue aneh ya? Menor?”
Cakka
tidak menjawab dan hanya menatap Via dengan pandangan yang tetap sama. Tidak
lama, Cakka lalu bangkit dan berjalan menghampiri Via.
“lo
keliatan cantik banget malem ini, Vi. Serius…” puji Cakka sambil menatap lurus
tepat pada kedua bola mata Via.
Sekali
Via tersenyum canggung. Ia sudah sangat speechless
untuk bisa menjawab perkataan Cakka barusan.
Tidak
ingin membuang-buang waktu lagi, Cakka langsung saja menjulurkan lengannya dan
memberi isyarat pada Via untuk segera menggandengnya.
“kita
jalan sekarang?”
Dengan
ragu-ragu Via melingkarkan lengannya pada lengan Cakka. Cakka tersenyum puas
saat itu juga. Entah kenapa ia merasa kesempatannya untuk merebut hati gadis
ini semakin terbuka lebar saja.
To Be Continued…



0 comments:
Post a Comment