Saturday, February 21, 2015

0

S K Y L O V A (Chapter 6A)








Rio sudah berdiri didepan gerbang rumah Ify selama 15 menit untuk menunggunya keluar. Rio sengaja datang sepagi mungkin agar tidak terlambat. Ini kali pertamanya Rio menjemput Ify tanpa mengabari Ify terlebih dahulu. Bagaimana reaksi Ify nanti, Rio tidak begitu memikirkannya. Yang Rio pikirkan sekarang adalah ia harus menyelesaikan masalahnya dengan gadis cantik berdagu runcing itu.
            Semenjak Rio menyatakan perasaannya pada Ify beberapa hari yang lalu, Ify seakan sengaja membentang sekat diantara mereka. Jika mereka berpapasan disekolah, Ify pasti akan berpura-pura tidak melihat Rio dan sebisa mungkin menghindari kontak mata diantara mereka.
            Rio tidak bodoh, ia bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana perubahan Ify. Dan Rio harus menyelesaikan semua permasalahan ini entah dengan cara apapun.
            Tepat 15 menit berlalu, Ify membuka pintu gerbangnya. Ia tampak kaget saat melihat sosok Rio yang sudah menunggunya didepan rumah. Rio berdiri dengan santainya didepan mobil miliknya sambil memasukan tangannya pada kedua sisi kantong celana seragamnya.
            Ify terlihat kikuk, tapi ia tetap menyeret langkahnya menghampiri pemuda berwajah manis itu.
            “ada apa?” Tanya Ify ragu-ragu.
            Rio menatap Ify sejenak. Lalu tanpa berkata apapun, Rio membuka pintu mobilnya dan memaksa Ify masuk. Ia menarik pergelangan tangan Ify lalu memasukannya kedalam mobil.
            “lo apa-apaan sih?”
            “gue Cuma pengen tahu, kenapa lo ngehindarin gue?” cecar Rio saat ia baru saja memasuki mobilnya dan duduk dibelakang kemudi.
            Mimic wajah Ify langsung berubah seketika. Jadi Rio ‘menculik’ nya seperti ini hanya untuk menanyakan hal itu?
            “gu—gue… gue gak ngehindarin lo!” jawab Ify dengan sedikit terbata.
            Rio mendengus. Ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa Ify sedang berusaha untuk membohonginya.
            “apa salah kalo gue suka sama lo?” cecar Rio lagi yang justru membuat Ify makin tidak tahu harus berkata apa.
            “gue gak ngerti lo ngomong apa”
            “gak, Fy. Lo tahu pasti apa yang gue omongin” bantah Rio dengan yakin.
            Ify memejamkan matanya untuk beberapa saat. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu pada Rio. Tapi Ify tahu pasti, bahwa bukan saatnya untuk ia berbicara. Ify mengehela napas panjang untuk menenangkan perasaannya. Setelah merasa cukup tenang Ify pun menatap kedua mata Rio dengan berani,
            “elo… beneran suka sama gue?”
            “Fy—“
            “jawab gue! Apa lo beneran suka sama gue?”
            “kenapa lo harus nanyain sesuatu yang lo udah tahu pasti apa jawabannya”
            Ify mengangguk paham. Sekali lagi ia terdengar menghela napas panjangnya lantas berkata pada Rio, “kalo lo beneran suka sama gue, sebaiknya… perasaan itu lo buang jauh-jauh. Gue gak akan ngehindarin lo lagi mulai hari ini, tapi gue mohon dengan sangat.. tolong lupain perasaan lo ke gue”
            Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Ify seakan menjelma menjadi sebuah pukulan telak yang menohok jantungnya tanpa ampun. Rio pikir dia memiliki perasaan yang sama dengan Ify. Rio pikir Ify juga menginginkannya seperti ia menginginkan Ify, tapi kenyataan yang ia dapatkan sekarang justru menghempaskannya dan mematahkan sayapanya dalam sekejab mata.
             Ify boleh saja meremukan jantungnya dengan pernyataan yang baru saja ia lemparkan, tapi entah kenapa, hati kecil Rio justru berkata bahwa Ify sedang berusaha untuk membohonginya. Kedua mata gadis itu sama sekali tidak mampu menutupi kebenaran kata hatinya.
            “gue harap lo bisa mengerti, Yo. Dan… cobalah untuk sedikit peka sama orang-orang yang ada disekitar lo”
            Ify baru saja akan keluar dari mobil Rio saat tiba-tiba Rio mencekal pergelangan tangan Ify dan menahannya, “sebaiknya kita berangkat bareng. Lo bakalan telat kalo harus nungguin taksi”
            “tapi—“

            “sekaliiii ini aja dengerin gue sebagai… temen lo”

            Rio lalu menjalankan mobilnya dan membelah jalanan dalam keheningan sambil berusaha menata setiap kepingan hatinya yang telah terserak.



♫♫♫



“Hari ini lo berangkat sendiri. Gue ada urusan. Dan… Happy birthday”

                                             -Alvin-


            Itulah secarik pesan singkat yang Alvin tulis dalam bentuk memo. Ia menempelkan memo itu didepan kulkas. Tapi bukan itu yang membuat Via terkesima. Ucapan ‘Happy Birthday’ yang Alvin tuliskan diakhir pesannya membuat Via bertanya-tanya, mengingat bahwa selama ini Alvin tidak pernah menanyakan prihal hari ulang tahunnya, lalu darimana Alvin tahu hari ulang tahunnya?  Alvin bahkan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya pagi ini.
            Via meletakan memo itu diatas meja makan. Dengan sejuta tanda Tanya yang memenuhi ruang dikepalanya, Via pun menyantap sarapannya dengan setengah hati. Selama tinggal dirumah ini, bagi Via, ini baru pertama kalinya ia menikmati sarapan pagi sendirian.
            “Mbak Ningsih, Alvin kapan keluarnya sih?” Tanya Via saat Mbak Ningsih sedang membereskan meja makan.
            Mbak Ningsih menghentikan aktifitasnya sejenak lantas menjawab pertanyaan yang Via ajukan.
            “semalem, sekitar pukul setengah duabelas Den Alvin keluar. Den Alvin sih bilang kalo dia sama Den Cakka dan Den Rio mau ngasih kejutan buat Den Iel yang hari ini ulang tahun. Begitu…”
            “terus Alvin gak pulang?”
            “Den Alvin pulang kok tadi subuh. Tapi tadi pagi-pagi sekali, sebelum Non bangun, Den Alvin sudah berangkat kesekolah”
            Via mengangguk paham lalu meneguk segelas cokelat hangatnya hingga tandas. Mungkin Via salah, tapi entah kenapa Via merasa bahwa Alvin sedang berusaha untuk menghindarinya pagi ini. Apa jangan-jangan Alvin mendengarkan semua pengakuannya semalam?
            Jangan! Jangan sampai Alvin mendengarnya. Kalau Alvin sampai mendengarnya, bisa tamat riwayatnya. Bisa-bisa juga Alvin menganggapnya tidak tahu diri karna diam-diam menyimpan perasaan untuknya. Via menggelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha membuang semua pikiran jeleknya.

            Via pun meraih tasnya lalu segera berangkat kesekolah.



♫♫♫

            Via berjalan sendirian dikoridor sambil melihat-lihat kesekitar untuk mencari keberadaan Alvin. Tapi hingga jauh waktu, Via tidak juga menemukan sosok Alvin diantara kerumunan para siswa-siswi SMA Patuh Karya yang tengah berlalu lalang dikoridor. Jika biasanya, 10 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, Alvin dan sahabat-sahabatnya terlihat berkumpul dikoridor, maka hari ini mereka justru tidak menampakan diri sama sekali.
            Via tertunduk lesu. Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan bodoh itu mengusik pikirannya, apa Alvin mendengarkan semua pengakuannya semalam? Apa hari ini Alvin sengaja menghindarinya?
            Disaat pikirannya tengah kalut, seseorang tiba-tiba saja memanggil nama Via dari belakang. Merasa namanya dipanggil, Via pun menghentikan langkahnya lantas menoleh kebelakang. Saat itulah kedua indera pelihatnya langsung menangkap sosok Alvin yang sedang berjalan bersama kawan-kawannya, tapi bukan Alvin yang memanggil namanya, melainkan Cakka.
            Tidak seperti apa yang Via pikirkan sejak tadi, pagi ini Alvin justru biasa saja. Ia bersikap wajar  seperti sebelum-sebelumnya, dan hal itu serta-merta membuat Via menghela napas lega. Dari apa yang ia lihat pagi ini, Via dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa semalam Alvin sama sekali tidak mendengarkan pengakuannya. Bagi Via, tidak ada yang lebih melegakan lagi dari itu.
            “lo hari ini berangkat sendiri, Vi?” Tanya Cakka saat dirinya sudah berdiri tepat dihadapan Via. Alvin, Gabriel, dan Rio hanya mengikuti Cakka dibelakang.
            Via sempat melirik kearah Alvin sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Cakka, “iya, Kka…”
            Tanpa ada yang menyadari, Gabriel terus mengamati wajah Via dalam kediamananya.
            “Vi…” panggil Cakka dengan lembut. Mendengar nada bicara Cakka yang tidak biasanya malah membuat Rio ingin muntah mendengarnya.
            “kenapa?”
            “gue bukannya mau nagih janji atau apa, tapi gue Cuma mau ngingetin sesuatu, gue—“
            “apa permintaan lo?” sela Via sebelum Cakka menyelesaikan kalimatnya. Tanpa harus berbicara panjang lebar, Via paham dengan maksud Cakka. Lagipula, Via paling tidak suka memiliki hutang budi terhadap seseorang. Dengan cara apapun, Via akan melunasinya.
            Cakka tersenyum lega. Tidak salah jika Cakka memilih Gadis ini sebagai pemilik tunggal atas hatinya.
            “apa lo… mau pergi sama gue ke acara birthday party nya Iel malem ini?” Tanya Cakka sehati-hati mungkin. Dalam hati ia merasa was-was juga kalau-kalau Via menolak ajakannya.
            Via sempat kaget saat mendengarkan pertanyaan Cakka. Namun alih-alih menjawab, Via malah melemparkan tatapannya kearah Alvin yang justru terlihat tak acuh.
            Menyadari bahwa Via seakan menanti persetujuan dari Alvin, Cakka kontan tertawa kecil lalu merangkul pundak Alvin,
            “tenang aja, Vi! Tadi gue udah minta ijin terlebih dahulu sama Alvin, dan dia setuju. Iya kan, Vin?” Tanya Cakka seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
            Alvin mendengus lalu menurunkan lengan Cakka dari pundaknya, “iya…” jawabnya kemudian dengan nada bicaranya yang selalu terdengar dingin.
            Via sama sekali tidak percaya, kenapa Alvin begitu saja setuju dengan permintaan Cakka. Meski dalam hatinya Via menolak keras dengan keputusan yang Alvin ambil, tetap saja ia harus menerima ajakan Cakka. Via lalu menatap Cakka, dengan sangat berat hati Via mengangguk seraya berkata, “o—oke kalo gitu…”
            “thank you, Via…”
            Tanpa sengaja, perhatian Via tertuju pada Iel yang saat itu masih betah menatapnya dengan pandangan mengamati. Merasa tertangkap basah, Iel buru-buru mengalihkan pandangannya sambil berdehem. Tapi Via tidak lantas berpikir yang aneh-aneh dengan sikap Gabriel itu. Pandangan Gabriel bahkan tidak sedikitpun mengisyaratkan bahwa ia tertarik dengan Via.
            Via tersenyum pada Gabriel, ia pun mengulurkan tangannya dan berkata, “happy birthday, Gabriel…”
            Gabriel terkesiap, ia pun menatap tangan Via yang terulur beserta wajahnya secara bergantian. Tidak lama, Gabriel menerima uluran tangan Via dan menjabatnya dengan erat, “terimakasih…”


♫♫♫

            Alvin menatap kotak cokelat yang ada ditangannya sambil sesekali menatap Via yang saat itu sedang berkumpul bersama Agni, Shilla dan Ify di kafetaria pada jam istirahat. Cukup lama Alvin menimbang, apakah ia harus memberikan sekotak cokelat itu pada Via atau tidak, tapi bermenit-menit lamanya, Alvin tidak juga tiba pada sebuah keputusan. Alvin hanya takut, jika ia terlalu memperhatikan gadis itu, yang ada nanti Via akan semakin menggantungkan harapan padanya. Alvin pernah terluka dan terhempas karena harapan hampanya pada Prissy, dan sekarang, Alvin tidak ingin hal yang sama padanya dulu terjadi juga pada Via. Alvin tidak sampai hati jika harus melukai perasaan Via. Tidak setelah Alvin tahu betapa menderitanya gadis itu karena telah kehilangan kedua orangtuanya.
            Tapi ini hari ulang tahunnya. Sejauh yang Alvin tahu, tidak seorangpun yang tahu  bahwa hari ini Via berulang ulang tahun. Bahkan jika semalam Alvin secara tidak sengaja melihat kartu pelajarnya, mungkin Alvin tidak akan pernah tahu bahwa hari ini Via berulang tahun.
            Alvin menghela napas panjangnya. Sekali ini saja Alvin berusaha menepikan segala egonya. Apapun resikonya, Alvin akan memberikan sekotak cokelat itu untuk Via. Toh ini hanya hadiah ulang tahun. Alvin yakin Via tidak sebodoh itu untuk bisa menangkap maksudnya.
            Alvin baru saja akan mengambil langkah pertamanya saat Cakka tiba-tiba saja muncul dan menjulurkan setangkai bunga mawar merah dihadapan Via. Yang Alvin lihat, Via tampak kaget untuk beberapa saat, tidak lama Via menerima bunga itu sambil tersenyum lebar.
            Alvin serta-merta menyembunyikan cokelat itu belakang punggungnya. Secara perlahan Alvin berjalan mundur dan benar-benar pergi meninggalkan kafetaria dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.


♫♫♫

            “Happy birthday, Via…” Cakka tiba-tiba saja muncul tepat dari belakang Via seraya menjulurkan setangkai bunga mawar merah dihadapan gadis berpipi chubby itu. Tidak hanya Via yang merasa kaget dengan kehadiran Cakka yang secara mendadak, tapi Agni, Ify dan Shilla yang juga ada ditempat itu benar-benar kaget dengan kehadiran Cakka. Mereka tidak hanya kaget, tapi juga bingung.
            “kok lo tau kalo hari ini gue ulang tahun?” Tanya Via heran sambil menerima mawar merah pemberian Cakka. Cakka tersenyum lalu menjawab, “gak sulit untuk mencari tahu tanggal lahir lo, Vi…”
            “jadi hari ini lo ulang tahun, Vi? Kok kita gak tau sih?” Tanya Shilla dengan nada protes sambil mengerucutkan bibirnya.
            “takut dimintai pajak ulang tahun kali” celetuk Agni sambil menyesap jus apel kesukaannya.
            Mendengar ucapan Agni, Cakka kontan saja melayangkan sebuah toyoran dikening Agni yang langsung disambut oleh tatapan tajam dari Agni.
            “CAKKA!!” seru Agni galak.
            “Apa lo?!” jawab Cakka tidak kalah galaknya.
            “ciyeeee… gebetannya dibelain” sindir Ify sambil menampakan wajah tidak berdosanya.
            Cakka tidak menghiraukan sindiran Ify barusan. Ia hanya meleletkan lidahnya lalu kembali menatap Via dengan serius.
            “Vi… ntar sepulang sekolah lo ikut gue ya?”
            “ke –kemana?”
            “ada deh… pokoknya lo ikut aja. Ini beneran penting banget. Masalah Alvin gak usah lo pikirin, dia udah tahu kok”

            Via mengangguk pasrah. Toh ia juga tidak memiliki alibi apapun untuk menolak.

            “ciyeee… yang mau nge-date” ledek Shilla dan Ify secara bersamaan yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari Cakka.
            Sementara Cakka terlihat begitu wajar, Via justru merasa salah tingkah. Tanpa ia inginkan, semburat warna merah tiba-tiba saja muncul dikedua pipi chubby-nya.

            ‘sial’ rutuknya dalam hati sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dalam-dalam.



♫♫♫

            Rio menghentikan laju mobilnya saat melihat Shilla yang ketika itu sedang berdiri digerbang sekolah dengan risau. Awalnya Rio ingin melewati Shilla begitu saja, tapi saat melihat wajah Shilla yang Nampak kebingungan, Rio jadi merasa tidak tega dan dengan tiba-tiba menghentikan mobilnya. Rio berhenti tepat disamping Shilla, ia pun membuka kaca mobilnya lantas menyapa Shilla.
            “Shill, lo belom pulang?”
            Shilla terlihat kaget, ia menatap Rio untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rio, “belom nih, Yo. Tadi sopir gue nelpon, katanya ban mobil tiba-tiba pecah ditengah jalan, dan sekarang sopir gue masih dibengkel”
            Rio mengangguk paham lantas berkata, “gue anter pulang, yuk! Lagian kan kita searah, udah gitu satu komplek lagi”
            Shilla kaget bukan main. Benarkah baru saja Rio menawarinya untuk pulang bersama? Shilla tidak sedang bermimpi kan?
            “Shill… lo doyan banget sih bengong kayak gitu? Mau gak pulang bareng gue?”
            Shilla buru-buru membuyarkan keterpanaannya, “sorry, Yo… sorry…”
            “ya udah yuk! Kita pulang bareng” ajak Rio sekali lagi.
            Tanpa berpikir panjang lagi, Shilla langsung masuk kedalam mobil Rio dan duduk disampingnya dengan manis. Mereka sempat saling melempar senyum satu sama lain sebelum akhirnya Rio menjalankan mobilnya.
            Tanpa sepengetahuan Rio dan Shilla, Ify lagi-lagi melihat apa yang terjadi diantara mereka. Pancaran dari kedua mata jernih Shilla sama sekali tidak bisa berbohong. Meskipun Shilla tidak memberitahukannya secara langsung, tapi Ify dapat menangkap bahwa ada sesuatu yang berbeda dari cara Shilla menatap Rio. Dan hal itu sudah Ify tangkap sejak dulu. Ify sadar, bahkan sangat sadar, bahwa Shilla diam-diam menyimpan hati untuk Rio. Sekalipun sangat ingin, Ify tahu ia tidak akan pernah bisa membantah kenyataan itu.
            Pada akhirnya Ify hanya bisa menerima tanpa pernah bisa memilih.
            Ify pun melangkahkah kakinya keatas atap  gedung sekolah. Tempat itu selalu menjadi tempat tujuan Ify disaat ia merasa gundah.
            Sekarang, Ify sudah berdiri diatas atap gedung sekolahnya sambil menatap hampa kedepan. Bayang-bayang saat Shilla tersenyum begitu manis ketika Rio menyapanya kembali terbersit dibenaknya. Apa Ify tega menghilangkan senyuman itu? Apa Ify tega merebut satu-satunya alasan yang selalu bisa membuat Shilla tersenyum?
            “Shilla adalah alasan kenapa lo minta Rio buat ngelupain lo, kan?” seseorang tiba-tiba saja muncul dan berdiri tepat disamping Ify. Dialah Alvin. Alvin mengikuti arah pandangan Ify lalu terdengar menghela napas panjangnya.
            Ify melirik Alvin sejenak lalu kembali mengalihkan tatapannya,
            “secepet itu ya lo tau semuanya?” Ify tersenyum miris.
            “apa itu penting sekarang? Pertama-tama gue pengen tahu, kenapa Ify sahabat gue, yang selama ini gue kenal pantang untuk berbohong sama siapapun malah dengan gampangnya membohongi diri sendiri? Kenapa?”
            Pertanyaan Alvin itu benar-benar telak menusuk jantung Ify. Ify mendadak bungkam. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Alvin yang cukup mematikan itu.
            Kali ini Alvin menatap Ify. Ia sangat menanti bagaimana jawaban sahabatnya ini.
            Semenit berlalu. Ify tidak juga membuka mulutnya. Alvin yang paham langsung menganggukan kepalanya beberapa kali seraya berkata,
            “tolong tegur gue kalo gue emang salah…” jeda sesaat. Alvin menghela napas lalu melanjutkan perkataannya, “apa lo ngelakuin semua ini karna Shilla? Hm?”
            “gue gak perlu repot-repot ngejelasin semuanya ke elo Vin, lo pasti udah tau apa alesannya. Kita sahabatan sejak kita masih sama-sama ingusan bahkan sampai hari ini, apa itu gak cukup buat bikin lo ngertiin posisi gue?”
            “Fy… dengerin gue! Apapun alesannya, lo gak sepantesnya ngebohongin diri lo sendiri. Gue tau lo ngelakuin semua ini karna lo mikirin perasaan Shilla. Tapi lo harus tahu dampak dari semua ini, yang terluka bukan Cuma lo. Dan keputusan yang lo buat ini, bukan hanya menyangkut perasaan lo aja, tapi perasaan banyak orang”
            “Vin—“
            “Elo, Rio, Shilla, utamanya Gabriel pasti sangat terluka dengan semua ini. Lo gak bisa pura-pura menutup mata dengan perasaan Gabriel terhadap Shilla disaat lo bisa ngeliat semuanya dengan sangat jelas. Dan kalo lo terus maksain Rio supaya bisa cinta sama Shilla, maka Shilla akan menjadi pihak yang paling tersakiti dalam hal ini. Sebaiknya, lo jujur sama diri lo sendiri, lo jujur sama Rio. Dan urusan Shilla akan menjadi urusan Gabriel. Shilla Cuma gak sadar dengan perasaannya. Itu aja…”
            “Shilla sahabat gue Vin, dan Shilla suka sama Rio. Lo pikir semuanya bakalan gampang? Gak, semuanya gak segampang seperti apa yang lo pikirin…”
            “dan semuanya gak sesulit seperti apa yang lo bayangin, Fy. Perasaan yang Shilla rasain sama Rio sebenernya Cuma perasaan kagum yang Shilla artikan sebagai rasa sayang. Dan kalo lo ngasih Gabriel kesempatan buat ngubah semua itu, semuanya akan berjalan baik-baik aja. Mungkin diawal bakalan sulit buat Shilla, tapi itu semua hanya untuk sementara, Fy. Trust me…”
            “Alvin—“
            “elo gak Cuma ngebohongin diri lo sendiri, Fy. Tapi lo juga udah ngebohongin Rio dan Shilla sekaligus”
            Sebulir air mata Ify menetes perlahan tanpa ia sadari. Dadanya sudah terlalu sesak untuk terus menahan semua ini. Alvin benar. Ify sama sekali tidak menyalahkannya dan ia bahkan tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan ini. Tapi Ify harus bagaimana? Ia sudah terlanjur melepaskan Rio untuk Shilla. Ia sudah terlanjur melambungkan harapan Shilla tinggi-tinggi, lalu sekarang apa Ify tega menghancurkan semuanya?
            “gue gak tau harus gimana, Vin. Dada gue rasanya sesak banget… gue gak bisa napas, Vin. Gue gak bisa, hiks…” Ify mengisak pelan sambil menepuk dadanya agar jalan pernapasannya bisa terasa sedikit lapang.
            Alvin memejamkan matanya seraya menghela napas. Seumur-umur mengenal sosok seorang Melodify Clara, tapi ini kali pertamanya bagi Alvin melihat gadis ini menangis.
            “hey, sini!” Alvin menarik salah satu pergelangan tangan Ify dan membawa gadis kedalam pelukan hangatnya.
            Alvin membiarkan Ify menangis sepuasnya dalam dekapannya. Semakin lama, isakan itu semakin kuat. Tangisan itupun semakin terdengar memilukan. Alvin lantas membelai lembut rambut Ify untuk menenangkannya.

            “I’ll be there for you, Fy! Lampiasin semuanya ke gue. Nangis sekuat yang lo mau dipelukan gue. You’re not alone, gue Cuma pengen lo inget itu. Gue sahabat lo, gue akan selalu ada buat lo, oke?”


♫♫♫

            Tidak lama menunggu Cakka didepan areal parkir, Cakka akhirnya datang menghampiri Via dengan ninja merahnya. Cakka menyerahkan sebuah helm untuk Via yang langsung diterima oleh Via dengan senang hati.
            “thanks” ucap Via seraya memasang helm-nya. Tapi Via tampak agak kesulitan saat memasang tali helm-nya. Cakka menggeleng beberapa kali, tanpa permisi, ia lalu meraih kedua pundak Via hingga jarak diantara mereka terpaut begitu dekat.
            Via tersentak. Ia pun menahan napasnya saat Cakka membantunya memasang tali helm-nya. Jarak wajah mereka begitu dekat, Via bahkan bisa merasakan bagaimana hangatnya desauan napas Cakka yang seakan menyapu kulit wajahnya.
            “lo udah bisa napas sekarang!” ujar Cakka sambil tersenyum jahil. Ia lalu melepaskan kedua pundak Via dan membuat Via secara otomatis melangkah mundur. Via mendelik tajam, baru kemarin mereka mulai akrab, sekarang Cakka sudah berani-beraninya berbuat seperti ini pada Via. Awas saja nanti!
            “ciyeee melotot…” ledek Cakka seraya mendorong pelan kepalanya hingga menyentuh kepala Via yang sudah terlindungi helm.
            “Cakka apaan sih?” rengek Via manja dengan menampakan wajah kesalnya yang justru terlihat sangat imut dimata Cakka.
            Cakka tertawa geli dan segera meminta Via untuk menaiki motornya, “ya udah, yuk naik! Takutnya ntar telat”
            “kita mau kemana sih?” Tanya Via penasaran saat dirinya sudah menaiki motor Cakka. Cakka pura-pura memasang wajah berpikir dengan seulas senyuman jahilnya yang masih betah tersungging diwajah tampannya.
            “ntar juga lo tau. Anggep ini sebagai perayaan hari ulang tahun lo” jawab Cakka seenaknya, “lo gak pegangan?” Tanya Cakka kemudian.
            Via menggeleng, “gak perlu”
            “yakin?” Cakka berusaha memastikan yang langsung disambut oleh anggukan mantap dari Via.
            Tiba-tiba saja, sebuah ide jahil terbersit diotak Cakka. Tanpa peringatan, Cakka meng-gas motornya dengan kuat. Hal itu kontan saja membuat Via kaget dan secara otomatis melingkarkan kedua tangannya dipinggang Cakka. Saat itu juga, tawa Cakka langsung pecah.

            “CAKKAAAAA!!!”


♫♫♫

            Gabriel duduk termenung diruang rahasia Mama nya sambil menatap sebuah amplop surat usang yang ditujukan untuknya. Selama beberapa hari terakhir ini, Gabriel terus saja menimbang apakah ia harus membaca surat itu atau tidak, dan sampai hari ini, tepatnya dihari ulang tahunya yang ke-17, Gabriel akhirnya tiba pada sebuah keputusan. Ada rasa takut bercampur bimbang dihati kecilnya. Ia bahkan tidak tahu, apakah ia sudah merasa siap atau tidak untuk membaca surat dari Mamanya.
            Gabriel menghela napas panjang. Lalu tanpa pikir panjang lagi, Gabriel langsung membuka amplop surat itu dan membaca isinya:

Untuk Anak yang Mama rindukan,
Gabriel Fabian Ganendra…

            Hay jagoan kesayangannya Mama… kamu apa kabar sayang? Kapanpun kamu baca surat ini, Mama yakin kamu sudah bisa mengerti dan menangkap dengan baik tentang apa yang akan Mama sampaikan disurat ini.
            Iel… Mama sayang sama Iel. Dan jangan pernah sekalipun Iel berpikir kalau Mama sengaja membuang kamu. Tidak, Nak. Mama tidak akan pernah melakukan hal itu sekalipun Mama harus mati.
            Alasan kenapa sampai detik ini kita harus berpisah bukanlah keinginan Mama, Nak. Jika bisa Mama ingin bawa Iel juga, Mama ingin hidup sama Iel juga sama Gissel, hanya saja… keadaan yang ada tidak pernah mengijinkan kita untuk tetap hidup bersama.
            Mama harus bawa Gissel pergi karna Opa kamu tidak mau punya cucu seorang gadis dari Mama dan Papa sebagai anak sulung di keluarga Ganendra. Opa hanya ingin punya cucu laki-laki yang nantinya akan beliau jadikan sebagai pewaris tunggal Ganendra Grup.
            Sejak awal Papa menikahi Mama, Opa memang tidak pernah setuju. Opa selalu menentang pernikahan Papa dan Mama. Sampai akhirnya kalian lahir, Papa sama Mama pikir setelah kamu dan Gissel lahir, Opa bisa luluh, Opa bisa berubah, tapi ternyata Mama keliru.
            Opa hanya memilih dan mengakui kamu dan Papa sebagai bagian dari hidupnya.
            Suatu hari… Opa dan Papa bertengkar hebat. Opa bahkan mengancam akan mencabut hak waris Papa kamu jika Papa tetep mempertahankan pernikahannya dengan Mama. Tapi Papa tidak gentar, Papa tetap kekeuh ingin mempertahankan kita, Papa bahkan rela melepaskan semuanya demi kita, tapi Mama justru merasa sangat jahat jika membiarkan hal itu terjadi.
            Mama akhirnya pergi membawa Gissel dan meninggalkan kamu. Tapi sungguh, itu bukan keinginan Mama. Apapun keadaannya, dulu ataupun sekarang, hidup ataupun mati, Mama sangat menyayangi Iel.
            Jagain Papa sama Opa ya, sayang? Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Kita pasti akan hidup bersama lagi. Iel percaya kan sama Mama?


Salam kangen…
Mommy ~

           
            Tanpa terasa, airmata Gabriel menetes membasahi surat itu. Dadanya terasa benar-benar sesak. Dan dalam keheningan yang menyesakkan itu, Gabriel menangis bisu tanpa airmata.
            Gabriel sangat merindukan Mamanya. Lebih dari apapun itu, Gabriel ingin bertemu dengan Mamanya sekali lagi.

            “Ma… sekaliii aja Iel pengen ketemu Mama. Sekaliiii aja Iel pengen dipeluk sama Mama. Sekaliiiii aja, Ma….”




♫♫♫


            Ternyata Cakka membawa Via pergi kesebuah mall. Via sama sekali belum mengetahui apa maksud dan tujuan Cakka membawanya ketempat ini. Via sudah mencoba untuk bertanya sejak tadi, tapi Cakka enggan menjawab yang akhirnya membuat Via mengalah dan dengan pasrah mengikuti kemanapun Cakka melangkah.
            “Vi, tunggu disini bentar ya? Bentaaar aja” kata Cakka saat mereka baru saja menjejakan kaki dilantai 2. Via belum sempat memberikan ijinnya, tapi Cakka malah sudah kabur duluan. Via mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Kalau tidak ingat bahwa  kemarin Cakka telah membantunya, jangan harap Via mau menuruti semua permintaan-permintaan gilanya.
            Tidak lama setelah Cakka pergi, perhatian Via langsung teralihkan pada perhiasan-perhiasan cantik yang terpajang disebuah etalase. Merasa penasaran, Via pun mendekat kesalah satu etalase dan melihat beberapa perhiasan. Dan perhatian Via langsung tertarik pada sebuah kalung dengan bandul yang cukup unik. Kalung cantik itu berbandul gitar bertahtakan permata-permata kecil berwarna biru dengan detail beberapa lambang melodi dibeberapa bagian.
            Via tersenyum. Baginya kalung itu sangat cantik, dan Via sangat tertarik. Sempat terbersit dibenaknya, andai saja dia bisa memiliki kalung itu. Tapi kemudian, keinginannya itu seketika buyar saat melihat harga yang tertera pada kalung itu.
            Via tersentak. Bagaimana bisa benda kecil itu begitu mahal?
            “Via ngapain disini?” Tanya Cakka yang tiba-tiba saja muncul tepat dari belakang Via. Tanpa sengaja, perhatian Cakka tertuju pada kalung yang sejak tadi menjadi titik focus Via.
            “Cuma liat-liat aja kok…” jawab Via sekenanya, “emm… sekarang kita mau kemana?” lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.
            “lo ikut gue aja. Bentar lagi nyampe ditempat tujuan kok” jawab Cakka tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari kalung unik itu. Jauh didalam sana, Cakka yakin Via pasti menginginkan kalung itu.
            “ya udah ayo!”
            Cakka mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Via dan membawanya pergi dari tempat itu.
            Cakka membawa Via memasuki sebuah butik milik Bundanya. Dengan dibantu oleh beberapa asisten toko, disana Cakka sempat memilih beberapa gaun untuk Via yang akan ia kenakan dipesta ulang tahun Gabriel malam ini.
            “Cakka ini apaan sih?” Tanya Via yang merasa sedikit bingung.
            “udah gak usah protes! Lo pokoknya harus keliatan cantik di birthday party-nya Iel malam ini”
            “Tapi Cakka—“
            Via tidak sempat melemparkan protes saat Cakka mendorongnya begitu saja ke ruang ganti dengan beberapa pilihan gaun ditangannya, “udah sana masuk! Cobain satu-satu. Oke?”
            Setelah bermenit-menit lamanya keluar-masuk ruang ganti, mencoba beberapa gaun pilihannya, akhirnya Cakka tertarik pada sebuah gaun brokat putih seatas lutut dengan lengan panjang yang terlihat sangat pas ditubuh Via. Via memadukan gaun dengan sebuah stocking hitam yang semakin menyempurnakan kecantikan gaun itu sendiri. Cakka terkesima saat Via keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun itu. Cakka terdiam untuk beberapa lama lalu mengacungkan jempolnya seraya tersenyum kagum.
            “cantik…” puji Cakka singkat yang kontan saja membuat Via salah tingkah sampai harus tertunduk malu.
            Setelah mementukan pilihan gaun yang akan dikenakan Via, Cakka kembali menarik pergelangan tangan Via dan membawanya ke bagian sepatu. Sementara Cakka sedang memilih-milih sepatu untuk Via, Via justru terlihat santai duduk disebuah sofa. Sebenarnya Via ingin membantu Cakka, tapi Cakka malah menolak bantuannya dengan mentah-mentah.
            Senada dengan warna gaun Via, Cakka memilih sebuah high heels putih yang terlihat simple untuk Via. Cakka tersenyum, ia mengambil sepasang high heels pilihannya lalu menghampiri Via.
            “Gue dapet, Via!” ujar Cakka antusias lalu duduk tepat dibawah Via dengan posisi berlutut. Via lagi-lagi terkejut dengan apa yang Cakka lakukan.
            “Cakka apaan lagi sih?”
            “sepatunya dicoba dong, Vi…”
            “sini biar gue coba sendiri” kata Via sambil berusaha mengambil sepatu itu dari Cakka, tapi dengan sigap, Cakka justru menjauhkan tangannya.
            “sini kaki lo!” Cakka menarik salah satu kaki Via dan memasangkannya sepatu tadi. Via hanya melihat apa yang Cakka lakukan tanpa berusaha untuk melawan lagi.

            “tuh kan beneran cocok!”

            Setelah memilih gaun serta sepatu yang akan ia kenakan di pesta malam nanti, Cakka lalu membawa Via kesebuah salon mewah milik Tantenya. Protes yang Via ajukan lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Cakka. Dan jika sudah bosan mendengarkan protes yang Via lemparkan, Cakka akan berkata, “kemarin kan lo udah janji bakalan Menuhin semua permintaan gue”
            Dan jika sudah begitu, Via akan secara otomatis bungkam. Senjata makan tuan, itulah ungkapan yang tepat untuk Via saat ini.
            “Tan, ini temen aku. Bikin dia jadi secantik mungkin. Dan nanti sekitar pukul setengah tujuh, aku bakalan jemput dia” ujar Cakka yang langsung disambut oleh persetujuan mutlak dari Tantenya.
            “lo mau kemana, Kka?” Tanya Via sambil memegang lengan Cakka. Cakka tersenyum sebelum akhirnya menjawab,

            “gue kan juga harus siep-siep, Via. Udah, lo pokoknya disini aja. Lo bakalan aman sama Tante gue. Dan masalah Alvin, lo gak perlu pikirin. Itu urusan gue”

            Lagi-lagi Via pasrah dan terpaksa menyerah.



♫♫♫

            Setelah menyerahkan Via disalon, diam-diam tanpa sepengetahuan Via, Cakka kembali ke toko perhiasan tadi dan mencari kalung cantik yang Via inginkan. Tapi sial, kalung tadi sudah tidak ada lagi ditempat. Cakka merutuk. Harusnya tadi ia lebih cepat lagi.
            “ada yang bisa saya bantu?” seorang pramuniaga cantik tiba-tiba menghampiri Cakka dengan senyuman manisnya.
            “gini Mbak, kalung yang tadi dipajang disini kemana? Udah ada yang beli, ya?” Tanya Cakka tak sabar sambil menunjuk ke etalase.
            Prmuniaga itu terlihat mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya menjawab, “oohh… kalung skylova? Kebetulan 10 menit yang lalu sudah ada yang membeli”
            “su—sudah ada yang beli? Siapa?”
            “saya kurang tahu, Mas. Tapi yang jelas, dia seumuran sama Mas. Dia juga menggunakan seragam yang sama dengan Mas…”
            Apa? Seumuran dengan Cakka? Menggunakan seragam yang sama dengan Cakka? Berarti pembeli itu satu sekolah dengannya. Tapi siapa? Apa Cakka mengenalnya? Itulah beberapa pertanyaan yang timbul secara membabi buta diotak Cakka. Tapi bagi Cakka, pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak penting, yang terpenting sekarang adalah, Cakka harus menemukan kalung yang sama seperti kalung itu.
            “Mbak, apa kalung dengan model yang sama seperti itu masih ada?” Tanya Cakka penuh harap.
            “Maaf Mas sebelumnya. Kalung SkyLova itu Limited Edition, Cuma ada 1 di Indonesia…”
            “hah? yang bener?” kaget Cakka sekaget-kagetnya. Apa masih ada kalung limited edition seperti itu? Cuma satu di Indonesia? Benar-benar tidak masuk akal!
            “iya, Mas. Kalung itu sudah di desain eksklusif oleh seorang desainer dari Prancis. Kalung dengan model yang sama seperti skylova hanya ada 10 didunia, itupun tidak persis sama…”
            Cakka tertunduk lesu setelah mendengarkan penjelasan dari Prmauniaga tadi. Ia sangat kecewa pada dirinya sendiri karna tidak bisa memberikan apa yang Via inginkan. Kalau saja Cakka bertindak lebih cepat, ia tidak akan terlambat dan menelan kekecewaan seperti ini.
            Lalu pertanyaan yang sama seperti tadi lagi-lagi timbul dikepalanya: siapa yang telah mendahuluinya membeli kalung itu? Pasti bukan orang biasa. Kenal atau tidak kenal, jika Cakka diberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang itu, Cakka bersumpah akan membeli kalung itu, meskipun ia harus membayar 10 kali lipat, Cakka akan melakukannya.


♫♫♫

            Tepat pukul setengah tujuh malam, Cakka datang kembali ke salon untuk menjemput Via  seperti janjinya tadi sore. Cakka duduk diruang tamu sambil membaca-baca sebuah majalah. Malam ini Cakka terlihat sangat tampan dengan balutan stelan jas formal berwarna abu gelap. Ia juga menggunakan sebuah kemeja putih dengan warna dasi yang senada dengan jas berserta celananya.
            Setelah sekitar 10 menit menunggu, Via dengan ditemani oleh Tante Linda keluar dari ruang ganti. Tante Linda melirik kearah Cakka dan Via secara bergantian, ia lalu memegang kedua pundak Via dan seakan memberikan kode melalui matanya. Tante Linda lalu pergi dan meninggalkan Cakka dan Via hanya berdua saja diruangan itu.
            Merasa bahwa Cakka belum menyadari kehadirannya, Via pun berdehem pelan. Tepat ketika itu juga, Cakka langsung mengangkat wajahnya. Dan Cakka benar-benar sangat terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari Via malam ini.
            Gaun brokat putih yang tadi dipilih langsung oleh Cakka, dipadukan dengan dandanan yang cukup glamour oleh Tante Linda. Make-up yang Via gunakan bisa terbilang cukup natural, hanya saja lipstic merah terang yang ia gunakan justru membuat penampilannya malam ini terlihat glamour dan elegant. Rambut panjang lurusnya dibiarkan tergerai dengan poni yang menjuntai indah didahinya.
            Via tersenyum canggung seraya menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Pandangan yang Cakka lemparkan padanya justru membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
            “kok ngeliatnya gitu sih? Dandanan gue aneh ya? Menor?”
            Cakka tidak menjawab dan hanya menatap Via dengan pandangan yang tetap sama. Tidak lama, Cakka lalu bangkit dan berjalan menghampiri Via.
            “lo keliatan cantik banget malem ini, Vi. Serius…” puji Cakka sambil menatap lurus tepat pada kedua bola mata Via.
            Sekali Via tersenyum canggung. Ia sudah sangat speechless untuk bisa menjawab perkataan Cakka barusan.
            Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Cakka langsung saja menjulurkan lengannya dan memberi isyarat pada Via untuk segera menggandengnya.
            “kita jalan sekarang?”

            Dengan ragu-ragu Via melingkarkan lengannya pada lengan Cakka. Cakka tersenyum puas saat itu juga. Entah kenapa ia merasa kesempatannya untuk merebut hati gadis ini semakin terbuka lebar saja.




To Be Continued…


0 comments:

Post a Comment