“Cinta
itu tidak segampang dari mata turun ke hati.
Cinta
itu tidak sesederhana kata ‘AKU CINTA KAMU’
Cinta
itu rumit, juga tidak sederhana.
Cinta
bahkan lebih sulit terpecahkan dari sederetan rumus matematika yang paling
sulit terpecahkan sekalipun.
Ia
tidak terhitung, seperti rintik hujan.
Ia
memiliki batas, namun tak kasatmata,
Ia
memiliki akhir yang jawaban satu-satunya hanyalah kematian.
Ia
seperti langit… biru, tinggi, tak tergapai, tetapi selalu ada… selalu terlihat…
Ini
bukan soal bagaimana kita akan menggapai langit. Tapi ini adalah tentang,
bagaimana kita akan selalu menyadari keberadaannya…
Cinta
bukanlah langit. Namun langit adalah cinta…”
♫♫♫
Pagi
ini Via terlihat sangat manis dengan seragam barunya. Tanpa perlu susah-susah
berdandan seperti cewek-cewek seusianya kebanyakan, Via sudah terlihat sangat
cantik dengan bedak tipis yang melapisi kulit wajahnya serta lip gloss berwarna
pink muda yang mewarnai bibir tipisnya. Penampilannya pun sangat simple. Rambut
panjangnya ia ikat ekor kuda dan membiarkan poninya menjuntai didahi. Via
tersenyum menatap bayangan dirinya yang memantul dicermin. Ia lalu
menyemprotkan parfum dengan wangi orange yang menyegarkan dibagian leher dan
pergelangan tangannya.
Setelah
semuanya siap, Via meraih tas nya lalu segera turun ke lantai bawah untuk
sarapan bersama keluarga barunya.
Alvin
serta merta mengangkat wajahnya saat indera penciumnya menangkap semerbak wangi
orange yang begitu familiar baginya. Satu nama dibenaknya langsung terbersit. Aroma
parfum ini langsung mengingatkannya pada
sosok mantan pacarnya. Prissy.
“pagi
semua…” sapa Via dengan nada yang kelewat ceria lalu duduk dihadapan Alvin.
Wangi itu semakin jelas tercium dan membuat perasaan Alvin kian tak menentu.
Disaat ia sedang berusaha melupakan mantan pacarnya itu, Via justru
mengingatkannya lagi karna aroma parfum mereka yang sama.
Alvin
berdehem pelan dan memilih untuk tidak menanggapi sapaan Via tadi seperti yang
lainnya. Alvin menampakan wajah tak acuh lalu kembali menyantap roti bakar yang
merupakan menu sarapan favoritnya.
Menanggapi
sikap Alvin yang lagi-lagi sangat menyebalkan ini, Via mendengus sambil sedikit
memanyunkan bibirnya.
‘rese…’ bathinya.
“aku
udah selesai” ucap Alvin singkat lalu bangkit berdiri.
“Vin,
kamu berangkat bareng Via, ya? Kan satu sekolah” kata Metta sebelum Alvin
keluar dari ruang makan.
Alvin
tidak menjawab, ia menatap Via sekilas lantas berkata,
“3
menit lo udah harus selesai. Gue tunggu didepan…” ucap Alvin dingin lalu
melangkah keluar.
Tepat
3 menit kemudian, Via menyusul Alvin yang saat itu sudah menunggunya didalam
Honda jazz putihnya. Baru saja Via duduk disebalah Alvin, Alvin langsung
menjalankan mobilnya tanpa sepatah katapun.
Via
benar-benar dibikin keki oleh cowok disebelahnya ini. Dan Via yakin seribu
persen, perjalanan kesekolah ini akan menjadi perjalanan yang paling
membosankan yang pernah ia tempuh.
♫♫♫
Alvin
dan Via berjalan dikoridor dengan jarak yang cukup jauh. Alvin berjalan dengan
santainya didepan, sementara Via hanya mengikuti dibelakang. Baru saja Alvin
memasuki koridor, semua teman-temannya sudah menyapa. Bahkan ada beberapa dari
mereka yang menghampiri dan mengucapkan selamat datang.
Di
loby utama gedung sekolah SMA Patuh Karya, semua teman-teman dari kelasnya
berkumpul. Dan mereka yang berdiri dilantai 2, langsung membentangkan sepanduk
ucapan selamat datang untuk Alvin. Alvin hanya tersenyum. Ia tidak pernah
menyangka, bahwa sambutan selamat datang untuknya akan seheboh ini.
Sementara
Via yang masih berdiri dibelakangnya
jauh lebih tidak menyangka lagi. Apa Alvin sepopuler itu sampai disambut
sebegini hebohnya oleh teman-temannya? Via cengo menyaksikan pemandangan yang
benar-benar ‘tak biasa’ itu.
“welcome back, Alviiiinnnn…” seorang
cewek berwajah cantik tahu-tahu menghampiri Alvin sambil bergelayut manja
dipundak Alvin. Cewek itu adalah Zevana, teman sekelas Alvin yang sudah
mengejar-ngejar Alvin sejak pertama kali masuk di Patuh Karya.
Namun
bukannya risih dengan tingkah Zevana itu, Alvin justru menerima saja dengan apa
yang Zevana lakukan.
“thanks, Ze” jawab Alvin seraya tersenyum
kearah Zevana.
Muak
melihat kecentilan Zevana yang sok-sokan bergelayut manja pada Alvin, Via pun
akhirnya memilih untuk pergi kekelasnya saja.
“WOYYY…
ALVIN!!” Rio dan Gabriel tiba-tiba saja muncul ditengah-tengah Alvin dan
Zevana. Apa yang Rio dan Gabriel lakukan itu membuat Zevana harus dengan terpaksa
menyingkir dari samping Alvin.
“masih
inget jalan pulang juga?” Tanya Rio sedikit bercanda yang malah diamini oleh
Gabriel.
“kenapa?
Kalian gak suka gue balik lagi? Takut bersaing lagi sama gue? Hm?”
“setelah
balik dari New York, ternyata Mr.Genius kita makin songong aja, ya?” cibir
Gabriel.
“Hahahaha…”
Alvin hanya tertawa. 3 bulan tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya ini
membuat Alvin rindu. “eh iya, Cakka mana Cakka?”
“dia
lagi ada urusan katanya. Gak tau urusan apaan…” jawab Rio seraya mengangkat
kedua bahunya.
♫♫♫
Via
memasuki kelas XI Bahasa 3 yang merupakan kelas barunya. Saat ia baru pertama
kali menjejakan kakinya dikelas itu, tidak cukup banyak anak-anak yang ia
temui. Beberapa dari penghuni kelas itu menatap kearah pintu saat melihat satu
wajah asing yang memasuki kelas mereka. Via hanya tersenyum canggung lalu
melangkah ke deretan bangku kedua dari depan.
Namun
baru saja ia akan duduk dibangkunya, Via serta merta membatalkan niatnya saat
melihat setangkai mawar merah dengan selembar kartu ucapan dibawahnya. Via
heran. Ia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang siapa pelaku utama
yang telah meletakan kedua benda ini dibangkunya.
Hari
ini bahkan hari pertamanya bersekolah disini, ia juga belum mengenal
teman-teman barunya disekolah ini kecuali Alvin. Lalu pertanyaannya adalah,
siapa yang meletakan bunga mawar beserta kartu ucapan ini?
Via
meraih kedua benda itu lalu membaca kartu ucapan yang berisi:
Selamat
datang,
C
“C?
siapa?” Tanya Via pada dirinya sendiri sesaat setelah ia membaca kartu ucapan
yang berisi sangat singkat itu.
Belum
terjawab rasa penasarannya, tiba-tiba saja seorang cewek berwajah ayu khas
wajah gadis-gadis jawa kebanyakan menghampirinya. Ia menepuk pelan pundak Via.
Via yang kaget langsung saja menyembunyikan kedua benda itu dibelakang
punggungnya.
“Hay…
lo anak baru disini, kan? lo Via?”
“iya…”
jawab Via berusaha terlihat seramah mungkin.
Cewek
berkulit sedikit gelap yang mengenakan kostum basket itu langsung mengulurkan
tangannya dihadapan Via.
“kenalin
gue Agni. Ketua kelas disini.”
Via
menyambut uluran tangan Agni seraya menyebutkan namanya, “Gue Via”
Agni
melepaskan jabatan tangan mereka dan kembali berkata,
“Tadi Bu Ana, wali
kelas kita bilang ke gue kalo ada anak baru dikelas. Gue disuruh nyamperin elo.
Oya, karna ini hari pertama kita masuk disemester 2, jadi kegiatan belajar
mengajar dikosongkan untuk hari ini…”
“hmmm…
gitu ya?”
“biar
gak bête dikelas seharian, mending lu ikut gue yuk!”
“ke—kemana?”
“hari
ini ada pertandingan basket putri dilapangan. Dan gue sama beberapa anak kelas
yang lain mewakili kelas XI Bahasa 3 dipertandingan ini. Lo ikut aja buat
ngasih support, sekalian juga kenalan
sama temen-temen yang lain. Dan satu lagi, setelah pertandingan nanti, gue siep
jadi tour guide lo disini”
“tour guide?”
“haha…
iya, tour guide! Oya, hari ini juga
ada pensi. Pasti bakalan seru banget. Makanya ayo ikut aja!”
Dengan
santainya Agni merangkul pundak Via lalu membawanya keluar setengah paksa dari
kelas itu. Via yang awalnya merasa aneh dengan Agni, berusaha untuk membiasakan
dirinya. Sepertinya Agni cukup asyik untuk dijadikan teman.
♫♫♫
Rio
sedang berkumpul bersama Cakka, Alvin dan Gabriel diruang sekertariat Osis saat
tiba-tiba Ify masuk tanpa permisi dan menarik pergelangan tangan Rio. Alvin,
Cakka, Gabriel tidak terkecuali Rio benar-benar kaget dengan kedatangan Ify
yang secara tiba-tiba ini.
“ikut
gue! Kita harus ngomong”
Alvin,
Cakka dan Gabriel menatap kearah Ify dan Rio dengan pandangan heran. Ify yang
cukup dekat dengan Alvinpun bahkan tidak mengucapkan selamat datang untuk Alvin
begitu melihatnya. Pasti ada yang salah.
“ngomong
apa dulu nih?” Tanya Rio bingung tapi juga senang.
“tentang
undangan makan siang” jawab Ify sekenanya dengan emosi yang coba ia tahan
sebisanya.
“undangan
makan siang…” bisik Cakka pada Alvin dan Gabriel. Alvin dan Gabriel hanya diam
dan tidak merespon. Mereka berdua masih focus pada Rio dan Ify.
Rio
berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk beberapa kali seraya
menggumamkan kata ‘oh’ yang cukup panjang. Ify makin muak dibuatnya. Cowok ini
benar-benar menjengkelkan.
“ngomong
diluar yuk!” ajaknya lalu meraih pergelangan tangan Ify. Ify serta merta
menepis tangan Rio dari pergelangan tangannya. “gak usah pegang-pegang!”
hardiknya dengan galak lantas berjalan mendahului Rio. Seperti biasa, Rio hanya
mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi lalu mengikuti langkah Ify dibelakang.
“urusan
rumah tangga” komentar Cakka sambil menampakan wajah polosnya. Ia pun kembali
focus dengan gadget nya.
“Si
Rio masih belom nembak Ify juga?” Tanya Alvin entah pada siapa saja yang mau
menjawab.
“haha…
boro-boro nembak, ngungkapin perasaan aja belom” jawab Cakka dengan nada meledek sambil tetap focus dengan
game-nya.
“kok
gitu? Kan Rio naksirnya udah lama” Tanya Alvin lagi dengan muka bego.
“jelasin,
Yel!” pinta Cakka pada Gabriel.
“si
Rio lagi berusaha menjinakan Ify. Lo tau sendirikan gimana galaknya cewek satu
itu? Macan aja takut kali ngedeketin dia”
Cakka
lantas tertawa sembari mengacungkan jempolnya untuk Gabriel. “gue mutlak
setuju!” ujarnya disela-sela tawanya.
“elo
sendiri gimana sama Shilla? Mau tetep fight
apa move on, masa 3 bulan gue tinggalin
ke New York lo masih belom ada perkembangan juga?” kali ini topic pertanyaan
Alvin berganti.
Gabriel
terdiam sejenak. Ia menghela napas lantas menjawab, “gak tau juga. Shilla
kayaknya lagi naksir cowok lain”
“siapa?”
“RIO!!”
Celetuk Cakka tiba-tiba yang langsung membuat Alvin kaget setengah mati.
Gabriel
suka Shilla, Shilla suka Rio, Rio suka Ify? Apa kisah mereka sepelik itu?
♫♫♫
“lo
ngomong apa sama Bokap gue sampe lo diundang makan siang segala? Hm?” Tanya Ify
pada Rio saat mereka hanya berdua saja diruang kelas Ify. Rio yang sudah bisa
menebak arah pertanyaan Ify hanya mengangguk beberapa kali dengan bersikap
setenang mungkin.
“gak
ngomong apa-apa. Waktu ujian kemaren gue dapet nilai A, terus Om Anton ngundang
gue buat makan siang. Itu aja” terang Rio dengan sejelas-jelasnya. Tapi Ify
masih tidak terima.
“dari
sekian ratus murid di SkyHigh apa Cuma lo yang dapet A?”
“gak
juga!”
“terus
kenapa Bokap gue Cuma ngundang lo?”
“apa
Bokap lo musti ngundang anak-anak yang lain juga?”
Kali
ini Ify terdiam, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjawab perkataan Rio
barusan. Rio tersenyum miring, lalu tanpa Ify duga sebelumnya, Rio memojokannya
pada salah satu dinding.
“apa-apaan
nih?” Ify sedikit salah tingkah. Mati-matian ia berusaha menyembunyikan
wajahnya yang sudah semerah tomat dari hadapan Rio.
“apa
lo kesel karna gue gak mau ngasih tau lo darimana gue tau tentang lagu favorit
lo itu? Iya?”
“gak
juga” jawab Ify seraya memalingkan wajahnya. Tapi kedua manik mata Rio terus
mengikutinya.
“lo
masih penasaran? Lo masih pengen tahu jawabannya?”
Ify
menggeleng. Rio tersenyum licik. Ia tahu Ify sedang berbohong.
“hari
ini lo pulang bareng gue. Lo gak ada alesan buat nolak karna ini permintaan
langsung dari Om Anton”
Rio
menatap kesekelilingnya seolah memastikan sesuatu. Setelah merasa pasti, Rio
mendekatkan wajahnya dengan wajah Ify. Jauh didalam sana, jantung Ify sudah
meloncat kegirangangan seakan-akan ingin keluar dari tempatnya detik ini juga.
Dan
ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, Rio langsung
menghentikan pergerakan wajahnya dan menatap Ify yang sudah memejamkan kedua
matanya. Lagi-lagi Rio tersenyum dan menjauhkan wajahnya.
“I make you nervous, right?” kata Rio
sambil berusaha keras menahan tawanya.
Seketika
itu juga Ify langsung membuka kedua matanya dan menatap Rio dengan galak. Kali
ini Rio sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawanya meledak begitu saja dan
membuat Ify makin jengkel.
1…
2… 3, Ify pun menginjak salah satu kaki Rio dengan kekuatan penuh. Apa yang Ify
lakukan itu kontan saja membuat Rio meringis kesakitan.
“itu
balesan buat lo!”
Ify
melangkah keluar dengan perasaan jengkel dan rasa kesalnya yang sudah
benar-benar mencapai puncaknya. Tapi dibalik semua itu, Ify merasakan bahwa ada
yang aneh dalam dirinya. Jantungnya berdetak 2 kali lebih kencang dari
seharusnya. Ini benar-benar salah.
Ify
menghentikan langkahnya lalu menyentuh dadanya.
“kenapa
jadi deg-degan gini sihhhhhh??”
♫♫♫
“AGNI!
AGNI! ADA BAD NEWS…” Teriak Dea –salah satu anggota tim Agni- dari kejauhan
sambil berlari-lari menghampiri Agni dengan wajah panic.
“ada
apa sih?” Tanya Agni bingung ketika Dea sudah berdiri dihadapannya. Via yang
saat itu berdiri disebelah Agni juga tidak kalah bingungnya dari Agni sekarang.
“Aren,
Ag… Aren!” Dea berusaha mengatur napasnya.
“Aren
kenapa?”
“tadi
Aren nge-sms, katanya hari ini dia sakit. Dia gak bisa masuk”
“APA?!”
Pekik Agni kaget. “terus gimana dong? Siapa yang bakalan ngegantiin dia? Kita
kan gak punya cadangan”
“tim
basket inti dari kelasnya Zeze kan lebih. Lo gak bisa minta bantuan apa?” Dea
mencoba memberi solusi.
“ya
gak bisalah, De! Kan hari ini kita ngelawan tim dari kelasnya Zeze” jawab Agni
sedikit emosi. Ia sudah benar-benar frustasi kali ini.
Via
yang sejak tadi hanya mendengar mulai paham dengan duduk perkara yang
dibicarakan oleh 2 cewek disebelahnya ini. Dan tiba-tiba saja, sebuah ide
timbul dikepalanya.
“terus
gimana doooong??” ujar Dea yang sama frustasinya dengan Agni.
“gue
aja yang ngegantiin Aren. Gue juga dulu ikutan basket disekolah yang lama”
Agni
dan Dea serta merta menatap kearah Via yang tampak begitu yakin. Sementara Agni
sedang berfikir, Dea justru bingung saat melihat seraut wajah asing baginya.
“elo
siapa?” Tanya Dea tanpa sedikitpun menurunkan pandangannya dari kedua mata Via.
Via
tersenyum mantap lalu mengulurkan tangannya, “gue Via. Anak baru dikelas XI
Bahasa 3”
♫♫♫
Suasana
lapangan outdoor SMA Patuh Karya
sudah dipenuhi oleh siswa-siswi yang ingin menyaksikan pertandingan antar kelas
di Pensi kali ini. Cuaca yang cukup terik dipagi menjelang siang itu tidak
sedikitpun menyurutkan semangat mereka untuk memberikan dukungan penuh pada
kawan mereka yang sedang bertanding.
Diantara
kerumunan para penonton, tampak Alvin, Rio, Cakka, dan Gabriel yang juga ikut
andil dalam memberikan semangat. Cakka dan Gabriel sudah heboh meneriakan nama
Agni yang justru tampak tidak acuh. Sementara Alvin, ia hanya diam dan
memperhatikan ketengah lapangan dengan serius. Lain Alvin, lain juga Rio. Rio
malah sibuk sendiri mencuri pandang kearah Ify yang saat itu berdiri disebrang
lapangan bersama Shilla.
Beberapa
kali ia tertangkap basah oleh Ify. Namun bukannya Rio yang salah tingkah, tapi
Ify.
“Fy,
Rio kok ngeliat kesini terus sih? Dia ngeliatin elo, ya?” Tanya Shilla. Dalam
hati ia sangat berharap, bahwa yang saat ini menjadi pusat perhatian Rio adalah
dirinya, bukan Ify, bukan juga yang lainnya.
Ify
terkesiap, ia lalu menatap kearah Shilla dan menjawab, “ck, gak kok! Dia
ngeliatin elo”
“SERIUS?”
Tanya Shilla –lagi- antusias. Kali ini Ify hanya mengangguk dan semakin tinggi
melambungkan harapan Shilla.
Pertandingan
nyaris saja dimulai saat Via tiba-tiba muncul ditengah lapangan sambil berlari.
Ia sudah mengenakan kostum basket berwarna merah, rambutnya yang panjang ia
gulung keatas. Kehadiran Via yang secara tiba-tiba itu kontan saja membuat
semua siswa-siswi yang memang belum familiar dengan wajahnya merasa sangat
bingung. Mereka semua bertanya-tanya, siapa Via? Kenapa dia bisa menggantikan
Aren?
Jika
yang lainnya merasa sangat bingung dengan kehadiran Via, Alvin justru kaget
setengah mati. Kenapa gadis cemen itu bisa bergabung ditengah lapangan? Alvin
menatap Via dengan kedua mata yang terbuka lebar. Menyadari bahwa Alvin sedang
menatapnya, Via yang berada ditengah lapangan langsung melemparkan senyum
sungkan kearah Alvin sambil menundukan kepalanya.
“Kka…
Kka… bukannya itu cewek yang nolak kenalan sama lo di lapangan komplek waktu
itu?” Tanya Rio seraya menunjuk kearah Via. Alvin tetap bergeming. Ia tidak
sedikitpun mendengar perkataan Rio menyangkut Via. Alvin terlalu focus menatap
ketengah lapangan.
“gue
tau!” jawab Cakka dengan santainya sambil memamerkan evil smile andalannya.
“elo
kalo udah senyum kayak gitu pasti udah nyusun rencana licik” tebak Rio yang
memang sudah mengenal betul bagaimana sifat dan sikap sahabatnya yang terkenal
sebagai penakluk wanita ini.
“bukan
rencana licik, tapi rencana masa depan antara gue sama dia” jawab Cakka gombal
tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sosok Via yang sama sekali tidak
menyadari keberadaan Cakka diantara kerumunan para penonton.
“lo
udah tau kalo dia pindah kesini? Kapan?”
“apa
itu penting sekarang?” kali ini Cakka menatap Rio.
“gak
juga sih…” gumam Rio pelan. Sekarang giliran Rio yang meneriakan nama Dea,
sepupunya.
♫♫♫
Pertandingan
basket antar kelas itu dimenangkan oleh tim dari kelas XI Bahasa 3.
Pertandingan itupun diakhiri oleh rasa kagum warga SMA Patuh Karya pada
kelincahan serta kelihaian Via dalam memainkan si kulit orange itu ditengah lapangan. Mereka tidak pernah
menyangka sebelumnya, bahwa si anak baru itu ternyata memiliki skill yang wow dalam bermain basket.
Bahkan Agni, yang terkenal paling jago di tim putri terlihat cukup kuwalahan
mengimbangi permainan Via.
Namun
Agni tidak merasa iri apalagi merasa disaingi oleh kemampuan yang Via miliki
itu. Agni justru merasa senang karna Via bisa membawa kelasnya pada kemenangan.
Setelah ini, Agni juga memiliki rencana untuk menarik Via masuk ke tim inti
putri.
“AAAA…
VIA HARI INI LO KEREEEEN!!” Puji Dea sambil memeluk pundak Via saat mereka
sedang beristirahat dipinggir lapangan. Suasana lapangan basket sudah tidak
seramai tadi. Bahkan Cakka CS sudah tidak tampak dilapangan.
“kalian
semua juga keren! Gue gak akan bisa apa-apa kalo kalian semua gak ngasih kepercayaan
buat gue. Thanks, ya?”
“Vi…”
panggil Agni tiba-tiba.
“kenapa?”
“kayaknya
tim basket sekolah kita butuh elo deh. Lo gak niat masuk ekskul basket setelah
ini?”
“pengen
sih… ntar deh gue liat situasi dulu”
“lo
masuk aja, Vi. Kalo ngeliat dari permainan lo tadi kayaknya Pak Imam bakalan
langsung masukin lo ke tim inti” ucap Dea yakin seratus persen.
Tapi
tiba-tiba saja…
“siapa
bilang dia bakalan masuk segampang itu? Dia harus bisa ngalahin gue dulu baru
bisa masuk ekskul basket sekolah kita” ucap seseorang dengan angkuhnya yang
tahu-tahu sudah berdiri tepat dihadapan Via. Via dan kawan-kawannya sontak
mendongak. Senyuman maut milik Cakka langsung menyambut mereka.
“oh my god…” gumam Dea kaget tapi juga
kagum.
“ELO?”
Pekik Via nyaris berteriak. Dalam sekali lihat saja, Via bisa mengenali cowok
ini dengan jelas. Dia Cakka, cowok super pede yang mengajaknya berkenalan
seminggu yang lalu.
“yang
berhak nentuin Via bisa masuk apa gak itu Pak Imam, bukan elo” timpal Agni yang
merasa sedikit sewot.
“gue
anak didik kesayangan Pak Imam. Lo jangan lupa itu!” jawab Cakka dengan
santainya.
Ternyata
dugaan Via diawal tentang Cakka memang benar dan tidak melenceng sedikitpun.
Cakka ini memang angkuh. Sikapnya hari ini telah menjawab semua dugaan yang Via
gelontorkan sejak mereka pertama kali bertemu dilapangan komplek tempo hari.
Muak
dengan keangkuhan yang ditunjukan oleh Cakka, Via menghela napas panjang lalu
bangkit berdiri hingga berhadapan dengan Cakka. Ia menatap Cakka dengan muak
lalu tersenyum sinis untuk sejenak.
“tadinya
gue tertarik ikutan ekskul basket, tapi waktu tau lo juga ikut basket, gue jadi
gak tertarik lagi”
Hening
untuk sejenak. Via lantas membuang wajahnya kearah lain lantas berkata pada
kawan-kawannya,
“gue
ganti baju dulu ya semua? Thanks buat kesempatan yang udah kalian kasih hari
ini”
Lalu
tanpa melihat Cakka sedikitpun, Via berjalan melewati Cakka begitu saja. Cakka
tersenyum meremehkan. Ternyata gadis ini jauh lebih sulit dari apa yang dapat
ia bayangkan.
“Gisselavia
Garneta… senang bisa ketemu lo lagi”
Seakan
dikomando, Via serta-merta menghentikan langkahnya tapi tidak sedikitpun
menoleh kebelakang. Kali ini ia benar-benar kaget, darimana Cakka tahu namanya?
Sementara semua teman-temannya yang menyaksikan apa yang terjadi antara Cakka
dan Via hanya bisa terbengong-bengong. Setidaknya dalam pikiran mereka, Cakka
dan Via baru saja bertemu, tapi kenapa tingkah mereka menunjukan seolah-olah
mereka adalah sepasang musuh yang dipertemukan kembali setelah cukup lama tidak
bertemu.
Disamping
semua rasa penasaran dan rasa ingin tahunya, Agni malah merasa ada yang tidak
beres dengan sikap Cakka. Ia mengenal Cakka hampir separuh hidupnya, dan selama
ini, Cakka tidak begitu respect
dengan orang baru, tapi dengan Via… entah kenapa Agni merasa ada yang lain. Dan
Agni mulai takut.
Cakka
melangkah mendekati Via yang masih diam mematung ditempatnya. Dan ketika Cakka
sudah berdiri tepat dihadapannya, Via langsung melemparkan sebuah pertanyaan.
“darimana
lo tau nama gue?”
“apa
itu penting buat lo?” Cakka malah balik bertanya.
Via
mengangguk beberapa kali. Oke, tidak penting darimana Cakka tahu namanya, yang
terpenting sekarang adalah, ia harus memastikan siapa pelaku yang telah
meletakan bunga beserta kartu ucapan dibangkunya pagi tadi. Via lantas teringat
pada huruf ‘C’ yang tertulis dibagian penutup
surat. Setelah berhasil menghubungkan semuanya dan yakin bahwa tidak ada
yang salah dengan caranya berpikir, Via bertanya dengan lugas pada Cakka,
“bunga
sama kartu ucapan itu… apa lo yang punya kerjaan?”
Cakka
mengangguk pasti. “kenapa, lo gak suka?”
Via
menatap kedua bola mata Cakka seakan menerawang sesuatu dari sepasang mata
elang itu. Setelah menemukan apa yang ia cari, Via menghembuskan napasnya lalu
kembali melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Cakka.
“elo
bener-bener tipe gue, Via….” Ujar Cakka pada dirinya sendiri lalu melangkah
pergi dengan arah yang berlawanan dengan Via.
♫♫♫
Ify
baru tiba di pos satpam saat tiba-tiba Rio menghampirinya dengan ninja putih
kebanggaannya. Ify menghentikan langkahnya lalu menatap Rio seperti seekor
singa yang tengah diganggu. Padahal tadi Ify sudah berusaha melarikan diri,
tapi Rio malah berhasil mengejarnya. Menerima kenyataan bahwa ia harus pulang
bersama Rio dan makan siang bersamanya membuat Ify merasa sangat menyesal
menolak ajakan Shilla yang tadi mengajaknya untuk pulang bersama dan shoping
sebelum pulang. Kalau saja tadi Ify menerima ajakan Shilla, ia tidak mungkin
pulang bersama Rio apalagi sampai harus makan siang dengan cowok yang selalu
tebar pesona dimana-mana ini.
“naik!”
titah Rio yang tidak ingin berlama-lama lagi.
Ify
menggeleng mantap.
“apa
harus gue telfonin Om Anton?” ancam Rio. Ify langsung ciut seketika dan menaiki
motor Rio tanpa banyak bicara.
Dari
dalam mobilnya, diam-diam Shilla melihat Ify yang menaiki motor Rio lalu
memegang kedua pinggangnya dengan nyaman, setidaknya itu yang dapat Shilla
tangkap.
“jadi
ini alesan lo nolak ajakan gue, Fy? Gue bener-bener butuh penjelasan…” tutur
Shilla sedikit gemetaran. Tapi biar bagaimanapun, Ify adalah sahabatnya. Ify
tidak akan menghianatinya. Shilla lalu menghela napas panajngnya dan berusaha
menyingkirkan semua pikiran buruk tentang Ify. Shilla sangat yakin dengan
sahabatnya itu.
“jalan,
Pak!” kata Shilla pada supirnya.
♫♫♫
Rio,
Ify bersama kedua orangtua nya tengah duduk berhadapan dimeja makan sambil
menikmati santap siang mereka masing-masing. Ify membiarkan Papa dan Mama nya
mengoceh semau mereka bersama Rio. Dan sebisa mungkin, Ify berusaha untuk tidak
sedikitpun ikut andil dalam pembicaraan ketiga orang ini. Dengan perasaan
dongkol dan tanpa selera sedikitpun, Ify memakan makanan yang tersaji
dihadapannya sesendok demi sesendok.
Melihat
sikap tidak menyenangkan yang ditunjukan oleh Putrinya, Anton tampak sebal. Tapi
itu tidak penting sekarang. Yang terpenting sekarang, Anton harus segera
menyampaikan maksudnya pada anak dan murid kesayangannya ini.
“Rio,
Ify. Ada yang ingin Papa sampaikan”
“apa,
Om?” Tanya Rio penasaran, tapi Ify justru tampak tidak tertarik sedikitpun.
Anton
menatap Rio seraya tersenyum, “Om, udah punya rencana buat bikin project duet untuk kalian berdua…”
“APA?!”
Mau tidak mau Ify akhirnya merespon juga. Apa-apaan ini? Project duet? Bersama Rio? Jangan berharap Ify mau melakukannya.
Berbeda
dengan Ify, Rio justru tidak kaget sama sekali dengan apa yang disampaikan oleh
Anton. Dulu, Anton sempat menyampaikan rencananya ini pada Rio. Rio setuju,
dengan catatan Ify harus setuju juga tanpa paksaan. Tapi respon yang Ify
tunjukan sekarang ini malah membuat Rio pesimis.
“Papa
ngaco ih! Aku kan udah bilang aku gak mau jadi penyanyi. Aku mau jadi dokter”
“Papa
gak nyuruh kamu untuk jadi penyanyi tetap dan ngelepas cita-cita kamu jadi
Dokter, Fy. Sekali ini saja, Papa mau bikin project duet buat kalian berdua.
Kalo nanti sukses, kalian berhak milih mau lanjut apa gak. Pilihan ada ditangan
kalian”
“apapun
itu Ify gak mau, Pa. cari aja pasangan duet lain buat Rio, tapi jangan Ify”
Mendadak
Ify merasa selera makannya hilang begitu saja. Ia pun bangkit dari meja makan
lalu menaiki anak tangga tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun.
“Fy,
kamu mau kemana? Abisin dulu makanan kamu, Fy…”
Ify
tidak sedikitpun menghiraukan panggilan Mamanya. Kali ini kekesalannya sudah
benar-benar mencapai ambang maksimal.
♫♫♫
Ify
duduk disebuah kursi gantung yang terdapat dibalkon kamarnya dengan pandangan
menarawang jauh dan pikiran entah kemana. Permintaan Papanya tadi benar-benar
membuatnya merasa sangat tertekan dari segala arah. Jika Papanya sudah punya
keinginan, pasti keinginan itu akan benar-benar dikejarnya hingga dapat. Bilau
tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Itulah yang Ify
takutkan sekarang ini.
“jujur,
gue ngerasa sangat kecewa atas penolakan lo tadi” satu suara dari belakangnya langsung
membuat Ify terkesiap. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Rio sudah berdiri
dengan santainya dipintu balkon sambil memasukan tangannya pada kedua saku
celana seragamnya.
“lo
gak pernah diajarin ya? Kalo masuk kamar orang harus permisi dulu” Ify kembali
menatap kedepan.
“pintu
gak ditutup. Terus salah siapa?”
“udah
ah. Gue gak mau debat gak penting sama lo. Mending lo pulang sana”
“setelah
ditolak, sekarang gue diusir juga ya?”
“terserah
elo lah mau ngartiin apa aja, gue lagi pusing. Lagi gak bisa berpikir dengan
jernih”
Rio
mengangguk maklum. Ia lalu berdiri tepat dihadapan Ify dan bersandar dengan
nyaman pada pembatas balkon.
“minggir!
Lo udah ngerusak pemandangan gue”
“gue
gak peduli. Karna gue mau pandangan mata lo terus tertuju sama gue. Gue tahu
sulit untuk bisa kelihatan dimata lo, tapi gue akan mencoba”
“lo
ngomong apaan sih? Gak jelas!”
Rio
duduk bersimpuh dihadapan Ify lalu memegang kedua tangannya dengan erat. Ify
mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rio tapi tidak berhasil. “lepas
gak?” sinis Ify. Rio hanya menggeleng.
“gak
apa-apa kalo lo gak mau duet sama gue. Sejak awal Om Anton ngutarain
keinginannya ini, gue udah pesimis lo bakalan mau. Dan sekarang, semua dugaan
gue akhirnya terjawab. Lo emang gak mau”
“terus…?”
“lo
pernah nanya, kenapa gue bisa tahu lagu kesukaan lo. Dan sekarang… gue bakalan
jawab”
Deg!
Deguban sialan itu kembali terasa didada Ify. Rio hanya akan menyampaikan
alasannya, lalu kenapa ia harus repot-repot gugup seperti ini?
“gue
jujur, sejak SMP gue udah kagum sama lo. Awalnya gue kagum karna lo adalah
putri dari Om Anton, idola gue. Tapi makin kesini, semakin gue kenal sama lo,
gue jadi menyadari satu hal. Akhirnya gue mulai nyari tahu semua tentang lo.
Gue masuk ke SkyHigh dan berusaha narik perhatian Om Anton dengan kemampuan
gue, sampai pada akhirnya gue berhasil narik perhatian Om Anton dengan selalu
mendapatkan nilai sempurna diujian. Gue bisa deket sama Om Anton dan mulai
nanya-nanyain semua tentang lo dari hal terkecil. Untungnya Om Anton sangat
terbuka…”
Ify
tercengang dan berusaha mencerna baik-baik apa yang barusan Rio ucapkan. Tapi
mendadak otaknya seakan buntu. Mulutnya bahkan terkunci rapat. Ify yang
biasanya cerewet tiba-tiba bungkam, dan itu karna Rio.
Setelah
saling bertatapan untuk sejenak dan setelah Rio merasa cukup dengan
penjelasannya, ia pun melepaskan kedua tangan Ify lalu bangkit dari hadapannya.
“gue
pulang, ya?”
Rio
berjalan keluar dari kamar Ify dengan langkah gontai. Sebagian apa yang ia
pendam selama ini akhirnya bisa ia ungkapkan. Meski hanya sebagian, Rio sama
sekali tidak bisa menampik perasaan lega yang menjalari setiap inci
perasaannya.
Dan
Ify masih terpaku ditempatnya dengan ketidakpahamanannya.
♫♫♫
Sekitar
pukul 5 sore Alvin tiba dirumahnya. Sepulang sekolah tadi, ia langsung
mengadakan acara kecil-kecilan bersama sahabat-sahabatnya untuk melepas kangen.
Meskipun sudah sangat dekat dengan Rio, Cakka dan Gabriel, tapi Alvin masih
belum memiliki keberanian sedikitpun untuk memberitahukan pada mereka bahwa Via
adalah saudara angkatnya.
Disekolah,
Alvin bahkan bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal Via. Tapi Via tidak
terlalu memikirkan hal itu. Saat ini, ia sedang berusaha membiasakan diri dengan
sikap Alvin yang sering berubah-ubah itu.
Alvin
menuruni anak tangga setelah mengganti seragam sekolahnya dengan baju kaos
serta celana kain pendek yang terlihat nyaman melekat ditubuh atletisnya. Tanpa
sengaja, tatapan Alvin tertuju pada Via yang sedang duduk ditepi kolam renang
sambil memainkan sebuah gitar. Alvin menghentikan langkahnya sejenak. Ia diam
berpikir untuk beberapa lama lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“kok
sepi sih? Orang-orang pada kemana? Biasanya jam segini Papa sama Mama udah
dirumah”
Alvin
langsung mengambil posisi disamping Via. Ia duduk bersila dengan santainya
sambil menatap kearah Via.
“Papa
Mama lagi nganterin Angel ke asrama”
Alvin
tampak mengingat sesuatu. “oh iya, gue lupa! Besok kan Angel udah mulai sekolah
lagi”
“gimana
sih? Sama adik sendiri lupa” cibir Via sambil tetap focus memainkan gitarnya.
Alvin menggaruk tengkuknya, ia tampak kebingungan sekarang.
“lo
bisa main gitar?” Tanya Alvin berusaha mencari topic lain agar keadaan diantara
mereka bisa sedikit cair.
“Cuma
sekedar bisa. Gak jago!”
Alvin
mengangguk. Kenapa mendadak ia merasa canggung begini sih?
“oya, maaf ya gue ngebiarin lo pulang sendirian
hari ini. Tadi Cakka mendadak ngadain acara”
“gak
apa-apa, kan ada pak Yusuf yang jemput”
“gue
gak nyangka kalo lo bisa main basket. Kenapa itu gak lo kembangin aja di
ekskul, pasti seru”
“gue
gak tertarik ikutan ekskul”
“gara-gara
Cakka?”
Permainan
gitarnya langsung terhenti. Kok Alvin tahu sih?
“tadi
Cakka ngomongin lo terus. Dari Cakka juga gue tahu kalo ternyata elo lebih dulu
ketemu sama dia daripada sama gue”
“hmm…
gimana ya? Gue gak begitu suka sama sahabat lo yang satu itu. Dari awal ketemu
kesannya aja udah gak enak. Dan dia nyari tahu nama gue diem-diem, dia bahkan
naroh setangkai bunga mawar dimeja gue tadi pagi. Apa dia selalu kayak gitu
sama cewek yang baru dia kenal?”
Alvin
terdiam sejenak untuk berpikir. Lalu tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya
dari Via, Alvin menggeleng beberapa kali.
“gak.
Cakka gak pernah kayak gitu sebelumnya. Elo… elo cewek pertama yang bikin dia
kayak gitu?”
“APA??”
Via benar-benar kaget setengah mati kali ini. Apa ia tidak sedang salah dengar?
Atau apa Alvin yang sedang membohonginya sekarang
Tidak tahu harus
memberikan tanggapan yang seperti apa, Via kembali melanjutkan permainan
gitarnya dan membiarkan berjuta-juta tanda Tanya bergumul menjadi satu memenuhi
ruang dikepalanya.
Suasana
yang tadinya hening langsung mencair kembali saat Alvin dengan sengaja
mencipratkan air kewajah Via. Via yang kaget kontan saja melepaskan gitarnya
lalu menatap Alvin yang sedang berusaha keras menahan tawanya.
“Alvin
rese ih!” Via pun membalas. Ia mencipratkan air yang lebih banyak lagi ke wajah
Alvin.
Tidak
ingin mendapat serangan lagi dari Alvin, Via buru-buru bangkit dari tempatnya
lalu berlari. Alvin tidak mau kalah, ia mengejar Via untuk membalas.
Via
semakin mempercepat larinya saat sadar bahwa Alvin sedang mengejarnya dan
berusaha menangkapnya. Mereka berdua bahkan sampai mengelilingi sebuah pilar.
“nyerah
gak lo?!” kata Alvin dengan nada mengancam.
“gak
mau! Lo duluan sih yang nyebelin” balas Via.
Saat
Via sedang lengah, dalam satu tarikan kuat Alvin menarik lengannya dan membawa
Via dalam bopongannya. Via sempat meronta dalam bopongan Alvin dan meminta
untuk dilepaskan, tapi Alvin malah mengabaikannya begitu saja.
Alvin
lalu menceburkan tubuh Via dikolam dalam sekali lempar saja.
“ALVIIIINNNN!!
Diem-diem lo rese banget ya ternyata?”
protes Via sambil mengusap wajahnya. Ia bahkan sampai batuk-batuk gara-gara
kemasukan air. Alvin tidak menjawab, ia hanya tersenyum jahil lalu mengulurkan
tangannya untuk Via.
“ayo
naik!” ucapnya.
Saat
tangan Alvin terulur, saat itulah sebuah ide licik tiba-tiba muncul
dikepalanya. Alvin menerima uluran tangan Alvin dan menariknya keras-keras
hingga Alvin tercebur kekolam, sama seperti dirinya.
Kali
ini Via tertawa keras. Ia benar-benar puas kali ini karna bisa membalas ulah
jahil Alvin.
“hahaha….
Jangan jahil makanya kalo gak mau dijahilin balik”
Alvin
lagi-lagi mencipratkan air kewajah Via yang langsung dibalas oleh Via. Tawa
mereka berdua akhirnya pecah, menandakan bahwa mereka telah bisa saling menerima
satu sama lain.
Untuk
selanjutnya, tawa itu akan terus berlanjut, membuka jalan lapang menuju hati
mereka masing-masing.
Luka
itu akan segera sembuh. Menghapuskan setiap perih dan hanya menyisakan bahagia
yang luput dari kepekaan hati mereka.
To Be Continued...





Kak..aku izin repost cerbung cinta begini ya di blog aku..judulnya tetap sama..tapi nama pemainnya aku ganti..boleh nggak kak??
ReplyDeleteTerima kasih infonya gan, mantabbbsss.
ReplyDeleteDitunggu postingan2 lainnya.
Gema Parfum :
Parfum Terbaik Wanita.
-------------