Tuesday, June 11, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 22 "SURVIVE"






Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan…

Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam…

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan kucabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini….
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri juga bagi…
Engkau yang hatinya terluka

Dipeluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya…

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan kucabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini….
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri juga bagi…
Engkau yang sedang patah hati…”

            Sivia merebahkan kepalanya dipundak Cakka beberapa saat setelah Cakka menyelesaikan lagu itu. Malam itu, setelah pertengkaran yang terjadi antara Sivia dan Alvin selesai, Cakka langsung membawa Sivia pergi ke Bukit. Disana Cakka berusaha menghibur Sivia. Meskipun sulit untuk membuat Sivia tersenyum apalagi tertawa, tapi Cakka tetap berusaha. Cakka merasa sama sekali tidak tahan jika terus-terusan melihat Sivia seperti ini. Dan apapun akan Cakka lakukan untuk bisa membuat Sivia tersenyum lagi, tertawa lepas lagi.
            Cakka melepaskan gitarnya lalu memeluk pundak Sivia erat, berusaha menguatkan hatinya yang saat ini benar-benar rapuh dan nyaris remuk. Cakka menghelakan nafas panjangnya lalu mendorong pelan kepala Sivia hingga bersandar pada dada bidang miliknya.
            Cakka mengusap pundak Sivia beberapa kali,
            “menangislah, Vi. Menangis sekuat lo mampu, menangis sampe lo bener-bener lelah, gue akan selalu ada disamping lo buat menguatkan lo…”
            Isak tangis yang sejak tadi berusaha Sivia tahan akhirnya pecah juga. Dalam pelukan Cakka, Sivia menumpahkan segala tangisan juga kesakitan yang beberapa hari terakhir ini membuatnya sulit untuk bernafas.
            “gue harus gimana, Kka? Gue udah salah banget sama Alvin, gue udah nyakitin dia. Alvin nggak tau apa-apa, tapi kenapa gue malah kejam banget sama dia? Hiks… hiks.. gue jahat Kka, gue jahat, gue nggak pantes dimaafin” ujar Sivia disela-sela isakkannya dengan susah payah.
            Cakka menggeleng beberapa kali,
            “nggak, nggak, lo nggak salah Vi, lo nggak kejam, dan lo juga nggak jahat. Semua apa yang lo lakuin ini Cuma semata-mata demi kebahagian Tante Nita, lo nggak jahat. Percaya sama gue, ada sesuatu yang indah dibalik semua ini. Karna kita semua nggak pernah tahu apa rencana Tuhan. Kelak, lo akan bahagia, percaya sama gue, lo Cuma tinggal tunggu waktu lo aja. Anggep semua ini ujian dalam hubungan lo sama Alvin…”
            Tangisan Sivia bukannya reda tapi malah semakin menjadi-jadi. Ada sebuah perasaan ngilu yang Cakka rasakan jauh dilubuk hatinya yang terdalam saat melihat Gadis yang sangat ia cintai menangis seperti sekarang ini.
            Jika bisa, rasanya Cakka ingin sekali menukar semua kesakitan Sivia saat ini dengan kebahagiaan. Sungguh, Cakka benar-benar tidak kuat melihat Sivia berada dalam kondisi sesakit seperti sekarang ini.
            “tapi lo musti inget, Vi! Masih ada gue yang akan selalu disamping lo, gue nggak akan biarin lo nanggung semua ini sendirian, nggak akan, dan lo juga musti tahu—“ Cakka menggantungkan kalimatnya. Ia melepaskan pelukannya dari Sivia lalu memegang kedua pundak Sivia.
            Cakka tersenyum pada Sivia, ia mengangkat dagu Sivia hingga wajah Sivia tegak menghadap wajahnya. Kedua mata mereka bertemu. Cakka menatap Sivia dengan pandangan yang begitu meneduhkan.
            Setelah cukup lama saling memandang, Cakka mengalihkan pandangannya keatas langit. Senyum diwajah Cakka semakin melebar,
            “lo juga musti tahu, bahwa bintang-bintang itu masih bersinar dengan terang dan mereka akan selalu tersenyum buat lo”
            Sivia mengikuti arah pandangan Cakka.
            “jadi lo nggak sendirian, Via. Dan nggak akan pernah sendirian…”

^_^

            Sepulangnya dari rumah Sivia, Alvin langsung memasuki kamarnya. Dengan emosi yang sudah meluap hebat dan telah sampai pada puncak klimaks, Alvin memberantakkan semua barang-barang yang ada dikamarnya. Alvin melempar dan membanting apa saja yang ada dihadapannya. Bahkan Alvin tidak segan-segan menghantam kaca lemarinya hingga pecah.
            Darah segar menetes dari tangan sebelah kiri Alvin. Setelah cukup puas membuat onar didalam kamarnya dan melukai dirinya sendiri, Alvin terduduk lemah didepan ranjangnya.
            Dan Alvin yang seumur-umur pantang untuk meneteskan air mata akhirnya hari ini meneteskan air mata juga. Alvin membiarkan darahnya menetes begitu saja tanpa sedikitpun memperdulikan kondisi tangannya yang sudah benr-benar sangat parah.
            Alvin telah mati rasa. Sedikitpun ia tidak bisa merasakan rasa sakit yang kini menderanya. Luka yang Sivia berikan terlalu menyakitkan hingga membuatnya mati rasa. Jauh didasar hatinya yang terdalam, Alvin mulai merasakan sebuah penyesalan. Ia menyesal telah jatuh cinta pada Sivia.
            Bi Ningsih –Pembantu dirumah Alvin- yang merasa bahwa Alvin sedang melakukan hal tidak terduga didalam kamarnya langsung memutuskan untuk menelpon seseorang.
            Bi Ningsih benar-benar cemas pada Tuan Mudanya itu. Apalagi sekarang Mama Alvin sedang melakukan kunjungan kerja ke Maroko. Dari pada menelpn Nonya besarnya dan membuat Nyonya besarnya cemas lebih baik Bi Ningsih menghubungi seseorang yang saat ini Alvin sangat butuhkan.
            Ya… Siapa lagi seseorang yang sangat butuhkan selain Sivia. Selama 2 bulan belakangan ini Sivia memang sering kerumah Alvin. Bahkan tanpa Alvinpun Sivia sering datang sendiri. Mama Alvin dan Bi Ningsih sudah sangat mengenal Sivia dengan baik.
            Bi Ningsih tentu tidak akan mampu mengatasi Alvin sendiri. Bi Ningsih butuh Sivia, dan Sivia harus datang sesegera mungkin sebelum Alvin tindakan-tindakan nekad yang nantinya akan melukainya.
            Buru-buru Bi Ningsih berlari kemeja telfon. Ia membuka buku telfon dan mencari nomer handphone Sivia yang sudah dicatat oleh Mama Alvin. Beberapa saat setelah menemukan nomer Handphone Sivia, Bi Ningsih langsung menghubunginya tanpa berfikir panjang lagi.
            “hallo Non Via, tolongin Bibi Non. Den Alvin Non…..”


^_^

            Sekitar 10 menit kemudian tibalah Sivia dirumah Alvin. Sivia datang sendiri tanpa Cakka. Sebenarnya tadi Cakka bersikeras untuk ikut bersama Sivia, tapi setelah mati-matian menolak, akhirnya Cakka membiarkan Sivia pergi sendiri tanpa dirinya.
            “Alvin kenapa, Bi?” Tanya Sivia yang sudah sangat cemas dengan kondisi Alvin saat Bi Ningsih baru saja membukakan pintu untuknya,
            “Bibi juga nggak tau, Non. Tadi pas pulang Den Alvin langsung masuk kamar, terus kayaknya Den Alvin membanting semua barang-barang yang ada dikamarnya”
            Sivia tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berlari memasuki rumah Alvn dan mencari kamar Alvin. Setelah tiba didepan sebuah kamar yang adalah kamar Alvin, Siviapun memasuki kamarnya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Ternyata pintu kamar Alvin tidak terkunci, dan memang itulah yang Sivia inginkan.
            Rasa cemas Sivia semakin memuncak ketika melihat Alvin yang saat itu terduduk sambil menunduk dalam didepan ranjang dengan darah yang terus menetes dari tangannya. Sivia membekap mulutnya sendiri. Tidak lama Sivia berjalan cepat kearah Alvin dan menghampirinya.
            “Alvin??” ujar Sivia cemas sembari duduk disamping Alvin.
            Sivia meraih tangan Alvin yang sudah bersimbah darah. Saat itulah air mata Sivia kembali menetes. Entah untuk yang keberapa kalinya.
            “tangan lo…”
            Tiba-tiba Alvin menarik tangannya dari genggaman Sivia tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun. Alvin menatap kedepan dengan pandangan kosong yang amat dingin.
            “Bi… Bi Ningsih, tolong ambilin kotak obat Bi, sekarang!!”
            “baik Non…” jawab Bi Ningsih yang sejak tadi berdiri didepan pintu kamar Alvin. Bi Ningsihpun berlari dengan terburu-buru untuk mengambil kotak obat.
            “dasar banci!! Cuma gara-gara putus cinta lo rela kayak gini. Lo nggak gentle tau nggak Vin?” cibir Sivia dengan sangat sinis.
            Kali ini Alvin mengalihkan tatapan tajamnya pada Sivia. Beberapa saat kemudian, Alvin langsung tersenyum meledek,
            “gue banci? Gue nggak gentle? Itu semua gara-gara lo, Sivia! Lo fikir cowok mana yang nggak gila kalo cewek yang sangat dia cinta lebih dari apapun malah mutusin dia gitu aja tanpa alasan yang jelas??”
            Sivia langsung bungkam seketika. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dalam hati Sivia menyadari bahwa semua ini adalah mutlak kesalahannya.
            Sivia menunduk dalam. Berusaha mencari kalimat yang tepat untuk membalas perkataan Alvin. Seandainya Sivia bisa melakukan sesuatu saat ini juga. Tapi apa yang bisa Sivia lakukan? Tidak, Sivia tidak bisa melakukan apapun.
            Kebekuan yang terjadi antara Alvin Sivia langsung mencair seketika saat Bi Ningsih memasuki kamar Alvin dengan membawakan kotak obat yang tadi Sivia minta. Setelah menyerahkan kotak obat itu pada Sivia, Bi Ningsih langsung keluar.
            Sivia membuka kotak obat itu, ia mengambil secarik kapas lalu meneteskan beberapa tetes obat merah pada secarik kapas itu.
            “tangan lo!” kata Sivia dingin. Tapi Alvin bergeming dan malah membuang mukanya. Enggan melihat Sivia.
            Sivia menghelakan nafas beratnya. Tanpa berfikir panjang lagi Sivia langsung meraih tangan Alvin dengan paksa. Tidak peduli sekuat apapun Alvin menolaknya, Sivia tetap bersikeras. Ia menggenggam kuat pergelangan tangan Alvin lantas memberishkan luka Alvin dengan secarik kapas yang tadi ia teteskan dengan beberapa tetes cairan obat merah.
            Sivia tidak berkata apapun, begitupun dengan Alvin. Bahkan kali ini Alvin tidak melakukan perlawanan apapun. Ia menerima begitu saja apapun yang Sivia lakukan dengan tangannya.
            Dalam hati Sivia kembali merasa sangat bersalah. Dia tidak hanya melukai Alvin, tapi ia juga telah membuat Alvin melukai dirinya sendiri hingga seperti ini. Sivia menyesali diri. Apa memang seharusnya Sivia menjelaskan semuanya pada Alvin? Tapi bagaimana jika Alvin tidak mau mengerti dan malah berbalik membencinya?
            Dengan cekatan dan penuh perhatian, Sivia membalut luka Alvin dengan perban. 5 menit kemudian akhirnya luka pada tangan Alvin telah terbalut sempurna oleh perban. Sivia menghela nafas leganya meskipun perih itu kembali ia rasakan, berhembus bersama nafasnya, menguap bersama segala kesakitannya.
            Sivia terduduk disebelah Alvin. Ia memeluk lututnya seerat mungkin lalu mengikuti arah pandangan Alvin yang penuh dengan kekosongan. Hampa.
            “apa yang bisa gue lakuin buat bisa nebus kesalahan gue?”
            “lo ngerasa bersalah aja udah bagus” sahut Alvin cepat. perih itu lagi-lagi mencabik jantung Sivia. Sebulir air matanya menetes pelan.
            Sivia menunduk dalam. Ia berfikir keras bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Alvin tanpa harus mengecewakannya apalagi menyakitinya. Hingga beberapa lama Sivia berfikir ia tidak juga menemukan sebuah jawaban. Dan pada akhirnya, sampailah Sivia pada sebuah keputusan final. Keputusan final yang mungkin akan semakin menjerumuskannya lagi.
            “satu hal, Vin yang belakangan ini baru gue sadari—“ Sivia memotong ucapannya sejenak untuk menghela nafas dan lebih mengumpulkan keberaniannya, “gue…. Sama sekali nggak bisa—“ ada sesuatu yang terasa mengganjal dihatinya, menghimpit dadanya hingga menyebabkan sesak yang tertahankan.
            Alvin masih menatap hampa kedepan. Belum tertarik sama sekali dengan apa yang akan Sivia ucapkan padanya. Sementara air mata Sivia semakin deras menetes. Inilah saat yang paling memberatkan dalam hidupnya tapi harus tetap ia hadapi bagaimanapun caranya.
            “gue nggak bisa mencintai seseorang yang membenci Mama gue…” kata Sivia pada akhirnya. Kalimat yang paling pantang itu akhirnya Sivia keluarkan juga setelah mati-matian melawan hatinya.
            Alvin melirik cepat kearah Sivia. Apa yang baru saja Sivia ucapkan? Alvin tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.
            “maksud lo?”
            Sivia balik menatap Alvin dengan linangan air mata yang semakin deras menetes membasahi kedua pipi chubby nya. Ditengah lautan air mata yang membanjiri wajahnya, Sivia masih bisa menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum kepedihan yang telah menghantarkannya pada sebuah kehancuran.
            “lo benci kan sama calon Mama tiri lo?”
            Sivia meraih kerah baju Alvin lalu meremasnya dengan kuat. Detik ini juga, pertahanan Sivia telah rubuh, rubuh dalam hitungan detik saja.
            “calon Mama tiri lo adalah Mama gue, Alvin Jonathan. Gimana gue bisa mengatakan bahwa gue, cewek yang katanya sangat lo cintai lebih dari apapun adalah anak kandung dari Denita Rahmania yang sangat lo benci itu, gue anaknya, darah dagingnya. Dan gue, adalah CALON SAUDARA TIRI LO….” Kata Sivia dengan suara serak. Dan hatinya semakin teriris saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat terakhir itu, bagaikan sebuah sembilu yang telah mengiris hatinya dan menghancurkan segala harapannya juga mimpinya tentang Alvin selama ini.
            Dan ketika Sivia telah berhasil meraih mimpi itu –Alvin- ia malah harus melepaskannya begitu saja dari genggaman karna sebuah kenyataan yang memilukan.
            Dalam hati Alvin meronta putus asa. Ucapan yang baru saja Sivia ucapkan padanya seakan menjelma menjadi sebuah pukulan yang telah memukul telak jantungnya hingga remuk. Pegangan Sivia pada kerah baju Alvin mulai melemah, bahkan tanpa ia sadari, Sivia menjatuhkan kepalanya tepat didada Alvin.
            Alvin membisu dalam keheningan. Jantungnya terlalu remuk untuk bisa ia tata. Dan kenyataan ini telah benar-benar membungkam mulutnya. Bahkan Alvin sama sekali tidak peduli saat Sivia menangis terisak dalam dekapannya. Tidak sedikitpun Alvin berusaha untuk menenangkannya, tidak sama sekali. Alvin mengepalkan tangan kanannya sekuat mungkin. Ia marah pada semuanya. Marah pada kenyataan yang menurutnya sangat tidak adil ini, marah pada Takdir Tuhan yang seakan tidak pernah berpihak padanya, marah pada dirinya sendiri, dan marah pada semua hal yang telah mengusik ketenangan dan kebahagiaannya.
            Dan tiba-tiba saja Alvin mendorong Sivia dari dekapannya. Sivia yang limbung berusaha sebisa mungkin agar tidak terjatuh tepat dihadapan Alvin. Lalu tanpa melihat Sivia sedikitpun, Alvin berkata,
            “sekarang pergi lo dari rumah gue”
            “Vin—“
            “PERGI!! GUE BILANG PERGI, SEKARANG!!”
            Alvin telah mengusirnya, bahkan tanpa sedikitpun menatapnya. Sekarang Sivia tau bagaimana Alvin yang sesungguhnya, ternyata semua dugaannya tepat tanpa meleset sedikitpun. Alvin sudah membencinya, bukan hanya membenci, tapi sangat membencinya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi Sivia bangkit dari sisi Alvin lalu berlari meninggalkan Alvin bersama perasaannya telah hancur. Sebelumnya, Sivia tidak pernah merasa sehancur seperti sekarang ini.

            Berakhir, semuanya telah benar-benar berakhir. Akhir kisah ini ternyata tidak seindah seperti apa yang terfikirkan oleh Sivia selama ini. Kenyataan ini telah benar-benar melemparkannya dan menghempaskannya pada jurang keputusasaan.
            Sivia tersesat dalam kegelapan. Ia tidak menemukan setitikpun cahaya lagi. Semuanya gelap, benar-benar gelap. Dunia Sivia sudah menghilang, dan saat ini yang Sivia butuhkan hanya satu hal saja; Bintang penjaga hatinya.

^_^

            Alvin mengetok pintu rumah Papanya dengan tidak berperasaan. Jarum jam sudah menunjukan pukul dua puluh tiga lewat. Alvin tidak peduli dengan keributan yang nantinya akan dia sebabkan tengah malam begini. Yang Alvin tahu saat ini hanya satu, ia harus segera menemui Papanya dan menuntut semua kebahagiaannya yang selama ini telah Papanya renggut dari hidupnya dengan segala keegoisannya.
            “Den Alvin…” ucap seorang Pembantu dirumah Papa Alvin saat membukakan pintu untuk Alvin.
            “PAPA MANA??” Teriak Alvin dengan luapan emosi yang sudah tidak kuasa lagi ia tahan.
            “Tuan, Tuan ada—“ sebelum Bi Imah menyelesaikan ucapannya, Alvin buru-buru memasuki rumah hendak mencari keberadaan Papanya.
            Dan tepat ketika Alvin memasuki ruang tengah, saat itulah Farish turun dari anak tangga dengan mengenakan piamanya. Merasa ada yang mengusik tidurnya mala mini, Farish buru-buru keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang sudah lancang membuat keributan dirumahnya malam-malam begini. Dan ternyata pembuat keributan itu adalah Alvin,Putera sulungnya sendiri.
            “kamu ada apa Vin bikin keributan malam-malam begini? Apa kamu tidah tahu ini sudah jam berapa?”
            Alvin menatap Farish dengan tatapan tajamnya. Kilat dimata Alvin yang benar-benar menyiratkan sebuah kemarahan besar membuat Farish bertanya-tanya. Apa yang telah membuat anaknya terlihat marah seperti itu?
            Alvin berjalan cepat lebih mendekat kearah Papanya. Ketika Alvin sudah berdiri dengan tegak dihadapan Papanya, kemarahannya langsung pecah seketika.
            “udah puas Papa ngerebut semua kebahagiaan aku, Pa? UDAH PUAS?” Bentak Alvin.
            “maksud kamu apa, Vin?” Farish tak paham.
            Alvin tersenyum miris, ia membuang mukanya sejenak lalu kembali menatap Papanya dengan pandangan menantang.
            “pertama, Papa ngerebut kebahagiaan aku dengan menceraikan Mama yang kita semua tahu sangat mencintai Papa bahkan sampai detik ini, dan sekarang, Papa ngerebut lagi kebahagiaan aku? Nanti apa lagi, Pa? APA??”
            “Ngerebut kebahagiaan kamu?? Kebahagiaan mana yang kamu maksud??”
            “Sivia Azizah, Pa. Anaknya Tante Denita yang sangat Papa puja-puja itu, yang katanya adalah calon isteri Papa, dia itu pacar aku, Pa. Aku sangat mencinta dia….”
            “APA??”
            “Iya, Pa. dan asal Papa tau, Sivia itu cinta pertama aku. Sejak kehadiran dia dihidup aku, aku jadi paham arti kehidupan yang sebenernya itu kayak apa. Awalnya aku berfikir, bahwa dunia ini dan seluruh isinya itu semua busuk, tidak ada artinya sama sekali, tapi semuanya berbeda saat Sivia hadir dihidup aku dan membuat segalanya menjadi indah dan terasa sangat mudah. Dan  Papa juga harus tahu, saat ini aku nggak akan ngalah lagi, apapun yang terjadi aku tetap mempertahankan Sivia disisi aku, dan Papa atau siapapun itu nggak akan bisa menghentikan aku lagi…. Nggak akan pernah, Pa”
            “Alvin, kamu tidak bisa seperti itu. Pernikahan Papa dan Tante Denita sudah dipersiapkan. Mana mungkin  kamu bisa berpacaran dengan saudara kamu sendiri, Sivia itu calon Kakak tiri kamu, Alvin…”
            “AKU TIDAK PEDULI! Yang aku tahu aku sangat mencintai dia. Aku bersumpah, Pa, aku nggak akan mengalah lagi buat Papa, buat semua keegoisan Papa selama ini. Cukup Mama yang Papa buat menderita selama 2 tahun terakhir ini, cukup Pa…”
            “Papa tidak akan membiarkan kamu begitu saja. Apapun yang terjadi kamu tetep anak Papa yang hidup dibawah kendali Papa”
            Alvin tertawa mencibir,
            “oh ya? Inget Pa, hari ini aku sudah bersumpah dihadapan Papa, dan aku nggak akan perna ngelanggar sumpah yang sudah aku buat sendiri. Aku pastikan, Sivia akan jadi milik aku, dan aku juga akan pastikan—“
            Alvin lebih mendekatkan dirinya kearah Papanya,
            “Mama akan dapatkan kebahagiaannya lagi, aku bersumpah, Pa…” ujar Alvin, tapi kali ini dengan nada yang lebih pelan lagi.
            Farish bergetar mendengarkan apa yang baru saja Alvin tuturkan. Seumur hidupnya Farish tidak pernah menyangka bahwa Alvin akan seberani ini padanya, bahwa darah dagingnya sendiri akan menantangnya dengan cara seperti ini. Apa semua ini karma dari keegoisannya selama ini?
            Setelah merasa cukup menumpahkan segala yang mengganjal dihatinya, Alvin berbalik lalu pergi dari rumah Farish tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
            Malam ini Alvin telah bersumpah dihadapan Papanya. Dan Alvin berjanji tidak akan pernah melanggar sumpahnya itu.


            Semuanya telah dimulai hari ini. Alvin telah memilih untuk bertahan, dan Alvin akan berusaha atas pilihannya itu….




                        BERSAMBUNG…

Wednesday, June 5, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 21 "Kita Harus Selesai"





“Bukan…. Bukan keinginanku tuk mencoba meninggalkanmu,
Namun tak bisa ku jelaskan aku takut menyakitimu….”


2 Hari kemudian…..

                Selama 2 hari terakhir ini Alvin terus mengurung diri didalam kamarnya. Bahkan hari ini Alvin tidak ikut mengamen bersama Dayat dan Rizky. Alvin menyapu pandangannya keseluruh penjuru kamarnya. Tiba-tiba saja ingatannya menyeretnya kembali pada saat ia masih menjadikan Sivia sebagai pembantu dirumah singgah ini.

Flash Back Alvin;
Alvin menarik pergelangan Sivia dengan keras lalu melepaskannya begitu saja hingga tubuh Sivia terlempar ketempat tidur. Sivia semakin ketakutan. Apa yang akan Alvin perbuat padanya?
Alvin berjalan pelan kearah tempat tidur. Sebenarnya Alvin ingin sekali tertawa ketika melihat wajah Sivia yang sudah mulai pucat pasi, tapi Alvin berusaha menahan. Rencananya harus sukses.
Dengan cepat Alvin menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh Sivia. Saat itu Sivia merasa bahwa jantungnya berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Alvin semakin menatap mata Sivia dalam-dalam, lantas sepersekian detik kemdian Alvin memamerkan senyum maut andalannya yang begitu mempesona. Deg…. Sebuah debaran tak biasa yang berbeda dari debaran-debaran sebelumnya mendadak mengusik dada Sivia. Tatapan itu, senyuman itu… Sivia nyaris tak bisa bernafas lagi karenanya.
“ma… mau apa lo?” Tanya Sivia dengan nada suara setengah berbisik. Alvin semakin memperlebar senyumannya.
“gue mau lo bayar semuanya… semua yang udah lo lakuin ke gue tadi…” Alvin mengangkat tangan kanannya lalu membelai lembut kening Sivia.
Sivia memejamkan matanya kuat-kuat. Demi apapun, selama beberapa hari terakhir ini mengenal Alvin, Sivia belum pernah melihat Alvin semengerikan seperti sekarang ini.
“aduuhh… Kunyuukk!! Lo mau ngapain gue siiihhh??” Tanya Sivia putus asa. Alvin tertawa sinis.
“haha… coba deh Tanya Kediri lo sendiri. Menurut lo, apa yang akan terjadi jika seorang cowok dan seorang cewek Cuma berdua aja didalam kamar yang sepi?”
Sivia menggeleng berkali-kali. Ucapan Alvin barusan seakan menjadi terror yang paling mengerikan seumur hidupnya. Kali ini Alvin menyentuh lembut bibir Sivia dengan menggunakan jari tangannya.
“lo inget? Baru kemaren bibir mungil lo ini nyentuh bibir gue, dan gue yakin, itu adalah first kiss lo kan?”
Sekali lagi Sivia hanya bisa menggeleng tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Desaun hangat nafas Alvin membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“jadi sekarang, gimana kalo kita ulang lagi adegan kemaren dengan lebih romantis lagi…?”
“nggak mau!” lirih Sivia putus asa. Alvin meringis pelan dan kembali menatap Gadis Bawel itu lekat-lekat,
“lo tenang aja! Gue akan buat ini menjadi second kiss terindah dalam hidup lo”
Alvin akhirnya mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang merasa tidak memiliki daya lagi untuk membrontak akhirnya memilih untuk pasrah saja. Sivia memejamkan kedua matanya kuat-kuat sementara wajah Alvin semakin lama semakin mendekati wajahnya.
Alvin memiringkan posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia, Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa dia sendiri sadari, kedua matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras Sivia dalam jarak yang amat sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan mempesona. Alvin tersenyum kecil. Setelah selama 5 detik menatap keindahan Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak berminat sama sekali buat nyium cewek kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu saja dari dalam kamarnya. Sivia membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci kearah Alvin yang saat itu nyaris menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!! NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2 buah bantal kearah pintu.

Flashback off~

            Alvin tertawa kecil setelah mengingat kejadian yang benar-benar membuat Sivia sangat marah, kesal plus malu itu. Tapi saat itu Alvin merasa benar-benar puas karna telah berhasil mengerjai Si Jelek itu. Tiba-tiba Alvin menghentikan tawanya saat mengingat bahwa saat ini Sivia sedang bersikap dingin padanya.
            Alvin kembali memikirkan kesalahan apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga membuat Sivia sampai bersikap seperti ini padanya. 2 bulan menjalani hubungan sebagai sepasangan kekasih dengan Sivia, Alvin cukup mengenal betul bagaimana sikap Gadis itu. Jika sudah diam seperti ini, itu artinya Sivia benar-benar merasa marah dan kecewa. Tapi apa yang menyebabkan semua itu?
            Alvin mengacak rambutnya dengan putus asa. Si Jelek itu sudah benar-benar menyusahkannya. Awas saja nanti, jangan harap Alvin akan sudi memaafkannya.
            Setelah berfikir lumayan lama, Alvin akhirnya membuang semua egonya. Ia menghela nafas panjangnya lalu meraih handphone yang ada disamping bantalnya. Alvin sudah tidak tahan lagi, ia harus menghubungi Sivia dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. Jika tidak seperti ini bisa-bisa nanti Alvin jadi gila karna terus memikirkan kesalahan yang ia sendiri bahkan tidak tahu pernah melakukannya atau tidak.
            Alvin mencari nomer Sivia pada contact listnya. Setelah menemukan nama ‘JELEK’ Alvin buru-buru menekan tombol hijau untuk menghubungi Sivia.
            Tuut… tuttt…. Tidak aja jawaban apapun dari Sivia. Amarah Alvin yang semula menurun kini malah menaik lagi. Dengan segala luapan emosi yang tidak bisa ia tahan lagi, Alvin membanting keras Handphone unik itu diatas kasurnya.
            “Ergh Damn!!”
            Alvin benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sudah cukup Gadis itu mempermainkannya.

^_^

            “Marsha, lo nggak boleh keluar! Masa lo mau ninggalin gue sendirian dirumah sih? Mama pergi sama Om Farish, dan sekarang lo mau pergi juga. Dasar adek kurang asem lo” kata Sivia emosi saat Marsha akan meninggalkan rumah untuk pergi bermalam minggu bersama teman-temannya.
            Marsha berdecak kesal. Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang, menghadap Kakak Galaknya,
            “Kak, tapi Marsha udah janji malem ini mau keluar sama temen-temen Marsha”
            “halah, alesan lo! Bilang aja kalo lo mau jalan sama pacar lo”
            “Marsha nggak punya pacar! Lagian Kakak juga tau sendirikan kalo Mama belom bolehin Marsha pacaran. Ayolah, Kak, Marsha udah bener-bener janji sama temen-temen Marsha”
            Sivia menggeleng beberapa kali dan dengan tegas berkata,
            “nggak boleh”
            “yah, Kak Via mah jahaattt….”
            “biarin gue jahat. Dulu aja pas gue seusia lo, gue mana pernah keluar malam mingguan sama temen-temen gue”
            “itu kan jaman dulu Kak. Jaman primitive!”
            Sivia agak sedikit tercengang mendengarkan ucapan terakhir Marsha. Berani-beraninya anak kecil ini mengatakannya primitive. Sivia berkacak pinggang lalu menatap Marsha dengan tatapan tajam. Saat ini Sivia sudah terlihat seperti seekor singa betina yang tengah mengamuk dan hendak ingin menerkam lawan. Marsha langsung bergidik ngeri ketika melihat tatapan tajam Kakakanya itu.
            “lo bilang apa tadi? Primitive? Elo tuh yang primitive, masih kelas 8 aja udah sok-sokan gaul lo! Diam dirumah, belajar!!”
            “belajar? Ini kan malam minggu Kakak Via ku tercintaaaaaa….” Kata Marsha gemes hampir menjawil kedua pipi chubby milik Sivia.
            “bodo! Lo itu harus kayak gue, belajar tanpa kenal waktu”
            “belajar tanpa kenal waktu?? Nggak salah??”
            Sivia mengangguk mantap. Marsha terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya.
            “kalo Kakak belajarnya emang nggak kenal waktu terus kenapa nggak pernah dapet juara kelas? Masuk 10 besar aja jarang-jarang. Contoh tuh Kak Cakka, keliatannya santé tapi selalu jadi juara kelas”
            Sivia semakin naik pitam. Adiknya yang satu ini benar-benar sangat menyebalkan.
            “benar-benar kurang ajar ya lo, Sha? Siapa yang ajarin?”
            Saat Sivia nyaris melayangkan sebuah toyoran pada kening Marsha, tiba-tiba saja Cakka datang lalu berjalan menghampiri kedua Kakak beradik itu seraya berkata,
            “ada apa ini? Ada apa??” ucap Cakka dengan gaya sok dewasanya yang terlihat sangat dibuat-buat.
            “Kak Cakka…. Kak Via jahat deh sama aku. Masa aku nggak dikasih keluar sama temen-temen aku? Terus nih ya, masa Kak Via mau cekik leher aku”
            “waah… udah kurang ajar sama Kakak sendiri sekarang lo fitnah gue lagi didepen si Cecak ini…”
            “CAKKA” Ralat Cakka cepat. Tapi Sivia malah menunjukan ekspresi masa bodohnya.
            Untuk yang kedua kalinya Sivia kembali berusaha menoyor kepala Marsha. Tapi Sivia kalah cepat, karna saat ini Marsha sudah bersembunyi dibalik punggung Cakka.
            “Kak Cakka toloonggggg!!!”
            “Via udah ah” kata Cakka seraya menepis tangan Sivia.
            “Cakka kok lo malah belain si Centil ini sih….?”
            Cakka tidak memperdulikan perkataan Sivia. Cakka menoleh kearah Marsha lalu memegang kedua pundak Marsha dan berkata,
            “Marsha, sekarang kalo kamu mau keluar jalan-jalan sama temen-temen kamu, keluar aja! Nanti Kak Via biar Kak Cakka yang beresin, okey?”
            “okey deh!!” jawab Marsha lalu kabur begitu saja dari rumah.
            Sivia yang tidak terima dengan ulah Cakka langsung berlari mengejar Marsha. Cakka mengikutinya.
            Sivia berhenti didepan pintu ketika melihat Marsha sudah memasuki sebuah mobil jazz berwarna merah. Sebelum mobil jazz merah itu melesat pergi, Marsha sempat mengeluarkan kepalanya dari jendela lalu melambaikan tagannya kearah Sivia yang saat itu menatapnya dengan tatapan pembunuh,
            “Bubaaayyyy Kak Via tercintaaaaa… nanti aku beliin cokelat yaa?? MUAACHHHHH….”
            Mobil yang membawa Marshapun akhirnya melesat pergi dan meninggalkan Sivia bersama kenelengsaannya.
            “Marsha udah gede ya sekarang??” kata Cakka yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Sivia dengan santainya seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Kali ini Sivia menatap Cakka tajam. Gara-gara ulah Cakka yang terlalu memanjakan Marsha, Marsha sekarang jadi ngelunjak sama Kakaknya sendiri.
            “ini semua gara-gara lo tau??” ucap Sivia keki.
            Cakka menoleh kearah Sivia dan menatapnya dengan tatapan jahil,
            “kok marah-marah? Nggak usah marah-marah dong…”
            “bodo…”
            “Marsha kan udah pergi sama temen-temennya. Tante Nita juga udah pergi sama Om Farish, tinggal kita berdua nih dirumah….”
            “terus??” Tanya Sivia yang masih enggan menatap Cakka.
            Secara mengejutkan Cakka mendekati Sivia. Sivia yang terkejut langsung menyandarkan tubuhnya pada pintu. Cakka menatap Sivia dengan tatapan menggoda. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Sivia melihat Cakka menatapnya dengan tatapan menggoda seperti itu. Sivia saja sampai bergidik ngeri gara-gara tatapan Cakka itu.
            “heh, nggak usah natap gue kayak gitu! Gue ngeri tau sama lo?”
            “emangya gue peduli?” Cakka semakin mendekati Sivia lalu menghempaskan telapak tangannya pada pintu –tepat disamping Sivia-
            “Cakka sumpah nggak lucu!!”
            Sivia menunduk lalu kabur begitu saja dari bawah lengan Cakka. Siviapun berlari kedalam rumah. Cakka yang merasa kecolongan langsung mengejar Sivia,
            “aaaa….. Mamaaaaaa….” Teriak Sivia,
            “hahaha…. Jangan kabur lo, Vi…”
            Semenjak memiliki masalah dengan Alvin, ini baru pertama kalinya Sivia bisa tertawa selepas seperti sekarang ini. Dan itu semua karna Cakka, Bintang penjaga hatinya.
            Berada disamping Cakka benar-benar membuat Sivia melupakan semua masalahnya. Cakka memang sangat pintar, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan jika Sivia sedang dilanda galau seperti sekarang ini.

^_^

            “setelah makan kita kebukit ya? Mumpung cuaca malem ini lagi terang” ucap Cakka pada Sivia seraya melepaskan sepiring nasi goreng hangat dihadapan Sivia. Cakka sendiri yang memasak nasi goreng itu special untuk Sivia. Cakka duduk didepan Sivia lalu mulai menyantap nasi gorengnya dengan lahap.
            Melihat Cakka yang begitu lahap menyantap nasi gorengnya, tiba-tiba saja Sivia teringat pada Alvin. 2 bulan yang lalu saat Alvin dirawat dirumah sakit akibat luka tusuk yang dialaminya setelah menyelamatkan Sivia dari 2 orang preman, Alvin sempat menyampaikan keinginannya pada Sivia untuk makan nasi goreng buatan Sivia sendiri, tapi saat itu Sivia tidak bisa memenuhi keinginan Alvin. Dan sekarang Sivia menyesal.
            Sivia menunduk lesu, pandangannya menatap hampa kearah sepiring nasi goreng yang tersaji dihadapannya. Sivia merasakan kedua matanya mulai memanas hendak menghamburkan air mata, tapi Sivia mencoba untuk menahan.

Flashback Sivia;

“Hay…. Kunyuukkkk!! Pacar lo yang super kece ini balik lagi dengan membawa sepiring nasi goreng special buat elo…” Ucap Sivia tanpa rasa berdosa sedikitpun.
            Sivia duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur Alvin sambil menyodorkan sepiring nasi goreng itu dihadapan Alvin. Alvin menatap sepiring nasi goreng itu dengan tatapan curiga. Sepertinya ada yang tidak beres. Fikir Alvin.
            “kok malah ditonton? Dimakan dong sayang…” ucap Sivia dengan nada sok manis. “atau…. Apa perlu gue supain? Sini gue suapin” lanjut Sivia sambil menyendokan sesendok nasi goreng itu untuk Alvin.
            Alvin menahan tangan Sivia yang hendak menyuapinya seraya menggeleng beberapa kali,
            “nggak,  gue nggak mau” tolak Alvin mentah-mentah,
            “lho, kenapa??”
            “lo fikir gue begok? Gue tau ini bukan nasi goreng buatan lo. Jadi jangan coba-coba buat nipu gue”
            Sivia langsung menunduk putus asa.
            “sekarang lo keluar lagi, dan masak nasi goreng buat gue”
            Hening untuk beberapa saat. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan…….
            “Hwaaaaa….. Mamaaaaaaa!! Alvin jahaaattttt…. Hiks… hikss….”
            Sivia menangis sejadi-jadinya dihadapan Alvin. Melihat Sivia yang menangis seperti anak kecil Alvin terlihat kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
            “Heh, jelek! Kenapa lo malah nangis??”
            “HIKS… HIKS… HIKS… LO JAHAT BANGET SAMA GUE?? Gue kan sekarang udah jadi pacar lo bukan jongos lo lagi, kenapa lo nggak berubah-berubah juga? Hik… hiks… hikss….” Isakkan Sivia semakin kuat terdengar dan membuat Alvin semakin kebingungan.
            “aduh… lo jangan nangis lagi kek! Jangan nangis nangis lagi yaa? Nanti gue beliin cokelat”
            Sivia langsung terdiam seketika. Ia menyeka air matanya lalu melirik kearah Alvin,

            “beneran yaa??”

Flashback off~

            Tanpa sadar air mata Sivia menetes secara perlahan membasahi kedua pipinya.
            “nasi gorengnya jangan dianggurin, Via. Dimakan dong, gue udah susah-susah bikin juga buat lo” ucap Cakka yang belum menyadari bahwa saat itu Sivia tengah menangis.
            “Via, kok lo diem aja? Lo kenapa?” Tanya Cakka sedikit cemas.
            Sivia mengangkat wajahnya seraya menyeka air matanya. Saat itulah Cakka tau bahwa Sivia sudah menangis.
            “Via, lo nangis? Kenapa? Nasi gorengnya kepedesan ya?”
            Sivia menggeleng beberapa kali sambil berusaha tersenyum pada Cakka.
            “nggak kok, Kka, nasi gorengnya nggak kepedesan”
            “lha terus?”
            “gue… gue Cuma kangen aja sama Alvin…” jawab Sivia dengan suara parau lalu kambali menunduk.
            Cakka melepaskan sendok beserta garpunya lalu mengangkat dagu Sivia. Dengan penuh perhatian Cakka menyeka air mata Sivia dengan jarinya. Cakka menggeleng beberapa kali,
            “katanya lo mau usaha buat nggak nangis lagi, tapi sekarang kok nangis?”
            “sorry, Kka… tapi gue bener-bener kangen sama Alvin, gue pengen ketemu sama Alvin. 2 Hari ini gue udah jahat banget sama dia, gue nyesel…” kata Sivia dengan penuh penyesalan. Air matanya semakin deras menetes.
            Cakka bangkit dari kursinya lalu mendekati Sivia. Cakka berdiri disamping Sivia, ia menarik pundak Sivia lantas memeluknya,
            “semuanya akan baik-baik aja, Vi… percaya sama gue. Semuanya akan indah pada waktunya…” Cakka mengusap lengan Sivia beberapa kali untuk membesarkan hatinya.
            Sivia mengangguk lalu menyeka air matanya sendiri. Ia pun mengangkat kedua tangannya lalu memeluk pinggang Cakka erat.

Ting tong…
            Suara bel yang berubunyi membuat Cakka dan Sivia terkesiap. Mereka berdua segera mengurai pelukan mereka.
            “biar gue yang buka, Vi!”
            “nggak usah, Kka! Gue aja” kata Sivia seraya menahan Cakka. Siviapun bangkit dari meja makan dan berlalu dari hadapan Cakka.

^_^

            Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Sivia melihat Alvin yang berdiri didepan pintunya. Kedua mata Sivia membelalak lebar. Dan Sivia sama sekali tidak bisa menghindar dari rasa khawatirnya ketika melihat wajah Alvin yang tampak pucat. Sivia terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kalimatpun.
            “udah puas lo mainin perasaan gue selama 2 hari ini?” Tanya Alvin sinis.
            Sivia mendesah pelan. kedua matanya kembali terasa panas, dan tatapannya mulai nanar. ‘Tahan Vi, lo nggak boleh nangis, tahan’ Sivia mengusap dadanya beberapa kali.
            “selama 2 hari ini gue coba buat nahan emosi gue, Vi, dan jujur gue tersiksa banget rasanya. Tapi gue terus bertahan, gue nggak mau gara-gara sedikit saja emosi gue yang meledak semuanya akan hancur. 2 bulan Vi, 2 bulan kita jalanin hubungan ini dan sekarang gue nggak mau semuanya hancur gitu aja, gue nggak rela…”
            “terus sekarang lo mau apa?”
            Alvin tertawa miris ketika mendengarkan pertanyaan Sivia yang terakhir.
            “Apa? Lo masih Tanya mau gue apa? Lo emang begok apa pura-pura begok sih sebenernya?” Tanya Alvin sedikit membentak.
            Cakka yang saat itu diam-diam menyaksikan pertengkaran mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur. Cakka berbalik dan kembali keruang makan.
            “GUE CUMA MAU TAU KESALAHAN GUE APA SAMA LO SAMPE LO KAYAK GINI KE GUE! ITU AJA!!” Teriak Alvin pada akhirnya. Sivia memejamkan kedua matanya saat Alvin berteriak dihadapannya.
            “gue nggak suka ngeliat lo diem kayak gini. Gue Cuma mau lo ngomong sama gue apa masalahnya dan ayo kita bicarakan semuanya dengan jelas. Kita cari penyelesaiannya bareng-bareng, itu yang gue mau, Cuma itu. Apa itu terlalu sulit buat elo, Sivia?”
            Sivia mengangguk dengan mantap. Setetes air matanya terjatuh mengiringi kepedihan hatinya yang benar-benar terasa begitu menyiksa.
            “iya Vin, semuanya terlalu sulit buat gue”
            Kali ini Alvin menatap Sivia dengan pandangan tidak percaya. Semakin kesini, Alvin semakin tidak memahami Gadisnya ini.
            “sekalipun mudah, semuanya akan sangat sulit untuk kita mengerti”
            “lo udah gila! Gue nggak ngerti maksud lo apaan”
            “lo fikir gue juga ngerti? Gue lebih-lebih nggak ngerti Alvin… hiks…” sebisa mungkin Sivia berusaha untuk menahan isakkannya. Tidak, Sivia tidak boleh menangis dihadapan Alvin. Apapun keadaannya Sivia harus terlihat kuat didepan pria ini. Sivia bisa. Sivia pasti bisa.
            “KALO GITU BISA LO JELASIN SEMUANYA KE GUE SEKARANG!!” Alvin lagi-lagi membentaknya. Tapi Sivia tidak gentar sedikitpun. Ia masih cukup kuat dengan pertahanannya saat ini.
            “plis Via, lo jangan siksa gue kayak gini, gue Cuma mau lo ngomong, itu aja dan gue—“
            “KITA PUTUS SAJA….” Sela Sivia ditengah-tengah ucapan Alvin.
            Bagai tersambar petir disiang bolong, itulah yang Alvin rasakan saat ini. Dada Alvin terasa mencelos ketika mendengarkan sebuah kalimat yang sebenarnya tidak pernah ingin ia dengarkan dari Sivia. Alvin seakan kehabisan kata-kata. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam, Alvin berharap bahwa Sivia hanya mengerjainya saja, membalas semua perlakuan jahil yang ia limpahkan pada Sivia selama ini. Namun harapan Alvin musnah seketika saat sekali lagi Sivia mengulang perkataannya.
            “kita putus saja Alvin…”
            “elo…. Elo bener-bener udah gila” ucap Alvin dengan emosi tertahan.
Sivia menggeleng berkali-kali. Apa lagi hal yang paling memberatkan dalam hidup Sivia selain harus dengan terpaksa melepaskan Alvin begitu saja? Sivia tidak ada pilihan lain, Tuhan tidak memberikannya pilihan sama sekali. Apapun keadaannya saat ini, Sivia harus mengalah demi Mamanya, Mama yang selama ini sudah banyak berkorban untuk hidupnya.
“iya Alvin, kita selesaikan saja semuanya cukup sampai disini… gue… capek Vin… gue—“ Sivia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ada rasa tidak sanggup yang membungkus relung hatinya. Jauh didasar hatinya yang terdalam, Sivia tidak ingin kisahnya berakhir begitu saja dengan Alvin. Sama sekali tidak ingin. Tapi sekali lagi, Sivia tidak punya pilihan.
Alvin mengangguk pelan. ia berusaha untuk tetap berada dalam keadaan senyaman dan setenang mungkin. Alvin harus tetap menahan luapan emosinya. Alvin percaya Sivia memiliki alasan kuat dibalik keputusan mendadaknya ini, dan Alvin bersumpah akan mencari dan menemukan alasan itu.
“dan lo nggak bisa jelasin semuanya? Bener-bener nggak bisa, Vi?” Tanya Alvin sekali lagi berusaha mencari jawaban dengan menyelami fikiran gadis ini. Sivia menggeleng –lagi-
“berakhir tanpa kepastian dan alasan yang nggak jelas? Berakhir karna sebuah kesalahan yang gue sendiri bahkan nggak tau pernah melakukannya atau nggak? Berakhir begitu saja?”
Kali ini Sivia mengangguk. Alvin tersenyum menahan kepedihan hatinya. Dan siapapun bahkan Sivia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa saat ini Alvin tengah menangis dalam. Alvin menangis bisu tanpa air mata. Dan Alvin baru tahu bahwa akan sesakit ini rasanya saat putus cinta tanpa alasan yang pasti.
“makasih buat semuanya, Via… makasih…”
Itulah ucapan terakhir Alvin yang penuh dengan nada keputusasaan juga kepasrahan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Sivia. Alvin berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun kearah Sivia.
Air mata yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya menetes juga dengan deras. Sivia memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia nyaris tidak bisa bernafas lagi. Apa begini rasanya ketika Malaikat Maut mencabut sebuah nyawa dari raga yang tidak berdaya? Apa akan sesakit ini rasanya?
Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Secara perlahan Sivia ambruk. Sivia terduduk lemah didepan pintunya dengan isak tangis yang semakin lama semakin terdengar memilukan. Benar-benar menyayat hati.
Ditengah-tengah tangis kesakitannya, tiba-tiba saja Sivia merasakan ada seseorang yang menarik tubuhnya dan membawanya kedalam sebuah dekapan hangat. Sivia memejamkan matanya untuk sejenak,
“gue sayang lo, Vin, sayaaangg banget! Maaf karna gue udah bikin lo kayak gini. Maaf karna gue sama sekali nggak bisa ngejelasin semuanya, gue takut nyakitin lo Vin, dan gue nggak mau lo tambah benci sama gue kalo tau bahwa gue ini CALON SAUDARA TIRI LO, maaf…. Maaf…”
“sttt…. Lo jangan nangis lagi, Vi! Percaya sama gue, akan ada hal indah dibalik semua ini…” bisik Cakka pelan seraya membelai lembut rambut Sivia beberapa kali.
Sivia membalas pelukan Cakka. Ia mencengkram erat-erat tubuh pria itu dan berusaha mengurangi sedikit saja rasa sakitnya. Tapi tidak bisa. Rasa sakit itu sudah terlanjur menjalar kesekujur raganya.
“gue udah mati Kka, gue bener-bener udah mati….” Lirih Sivia pelan ditengah-tengah isak tangisnya.




                        BERSAMBUNG….