Tuesday, June 11, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 22 "SURVIVE"






Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan…

Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam…

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan kucabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini….
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri juga bagi…
Engkau yang hatinya terluka

Dipeluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya…

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan kucabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini….
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri juga bagi…
Engkau yang sedang patah hati…”

            Sivia merebahkan kepalanya dipundak Cakka beberapa saat setelah Cakka menyelesaikan lagu itu. Malam itu, setelah pertengkaran yang terjadi antara Sivia dan Alvin selesai, Cakka langsung membawa Sivia pergi ke Bukit. Disana Cakka berusaha menghibur Sivia. Meskipun sulit untuk membuat Sivia tersenyum apalagi tertawa, tapi Cakka tetap berusaha. Cakka merasa sama sekali tidak tahan jika terus-terusan melihat Sivia seperti ini. Dan apapun akan Cakka lakukan untuk bisa membuat Sivia tersenyum lagi, tertawa lepas lagi.
            Cakka melepaskan gitarnya lalu memeluk pundak Sivia erat, berusaha menguatkan hatinya yang saat ini benar-benar rapuh dan nyaris remuk. Cakka menghelakan nafas panjangnya lalu mendorong pelan kepala Sivia hingga bersandar pada dada bidang miliknya.
            Cakka mengusap pundak Sivia beberapa kali,
            “menangislah, Vi. Menangis sekuat lo mampu, menangis sampe lo bener-bener lelah, gue akan selalu ada disamping lo buat menguatkan lo…”
            Isak tangis yang sejak tadi berusaha Sivia tahan akhirnya pecah juga. Dalam pelukan Cakka, Sivia menumpahkan segala tangisan juga kesakitan yang beberapa hari terakhir ini membuatnya sulit untuk bernafas.
            “gue harus gimana, Kka? Gue udah salah banget sama Alvin, gue udah nyakitin dia. Alvin nggak tau apa-apa, tapi kenapa gue malah kejam banget sama dia? Hiks… hiks.. gue jahat Kka, gue jahat, gue nggak pantes dimaafin” ujar Sivia disela-sela isakkannya dengan susah payah.
            Cakka menggeleng beberapa kali,
            “nggak, nggak, lo nggak salah Vi, lo nggak kejam, dan lo juga nggak jahat. Semua apa yang lo lakuin ini Cuma semata-mata demi kebahagian Tante Nita, lo nggak jahat. Percaya sama gue, ada sesuatu yang indah dibalik semua ini. Karna kita semua nggak pernah tahu apa rencana Tuhan. Kelak, lo akan bahagia, percaya sama gue, lo Cuma tinggal tunggu waktu lo aja. Anggep semua ini ujian dalam hubungan lo sama Alvin…”
            Tangisan Sivia bukannya reda tapi malah semakin menjadi-jadi. Ada sebuah perasaan ngilu yang Cakka rasakan jauh dilubuk hatinya yang terdalam saat melihat Gadis yang sangat ia cintai menangis seperti sekarang ini.
            Jika bisa, rasanya Cakka ingin sekali menukar semua kesakitan Sivia saat ini dengan kebahagiaan. Sungguh, Cakka benar-benar tidak kuat melihat Sivia berada dalam kondisi sesakit seperti sekarang ini.
            “tapi lo musti inget, Vi! Masih ada gue yang akan selalu disamping lo, gue nggak akan biarin lo nanggung semua ini sendirian, nggak akan, dan lo juga musti tahu—“ Cakka menggantungkan kalimatnya. Ia melepaskan pelukannya dari Sivia lalu memegang kedua pundak Sivia.
            Cakka tersenyum pada Sivia, ia mengangkat dagu Sivia hingga wajah Sivia tegak menghadap wajahnya. Kedua mata mereka bertemu. Cakka menatap Sivia dengan pandangan yang begitu meneduhkan.
            Setelah cukup lama saling memandang, Cakka mengalihkan pandangannya keatas langit. Senyum diwajah Cakka semakin melebar,
            “lo juga musti tahu, bahwa bintang-bintang itu masih bersinar dengan terang dan mereka akan selalu tersenyum buat lo”
            Sivia mengikuti arah pandangan Cakka.
            “jadi lo nggak sendirian, Via. Dan nggak akan pernah sendirian…”

^_^

            Sepulangnya dari rumah Sivia, Alvin langsung memasuki kamarnya. Dengan emosi yang sudah meluap hebat dan telah sampai pada puncak klimaks, Alvin memberantakkan semua barang-barang yang ada dikamarnya. Alvin melempar dan membanting apa saja yang ada dihadapannya. Bahkan Alvin tidak segan-segan menghantam kaca lemarinya hingga pecah.
            Darah segar menetes dari tangan sebelah kiri Alvin. Setelah cukup puas membuat onar didalam kamarnya dan melukai dirinya sendiri, Alvin terduduk lemah didepan ranjangnya.
            Dan Alvin yang seumur-umur pantang untuk meneteskan air mata akhirnya hari ini meneteskan air mata juga. Alvin membiarkan darahnya menetes begitu saja tanpa sedikitpun memperdulikan kondisi tangannya yang sudah benr-benar sangat parah.
            Alvin telah mati rasa. Sedikitpun ia tidak bisa merasakan rasa sakit yang kini menderanya. Luka yang Sivia berikan terlalu menyakitkan hingga membuatnya mati rasa. Jauh didasar hatinya yang terdalam, Alvin mulai merasakan sebuah penyesalan. Ia menyesal telah jatuh cinta pada Sivia.
            Bi Ningsih –Pembantu dirumah Alvin- yang merasa bahwa Alvin sedang melakukan hal tidak terduga didalam kamarnya langsung memutuskan untuk menelpon seseorang.
            Bi Ningsih benar-benar cemas pada Tuan Mudanya itu. Apalagi sekarang Mama Alvin sedang melakukan kunjungan kerja ke Maroko. Dari pada menelpn Nonya besarnya dan membuat Nyonya besarnya cemas lebih baik Bi Ningsih menghubungi seseorang yang saat ini Alvin sangat butuhkan.
            Ya… Siapa lagi seseorang yang sangat butuhkan selain Sivia. Selama 2 bulan belakangan ini Sivia memang sering kerumah Alvin. Bahkan tanpa Alvinpun Sivia sering datang sendiri. Mama Alvin dan Bi Ningsih sudah sangat mengenal Sivia dengan baik.
            Bi Ningsih tentu tidak akan mampu mengatasi Alvin sendiri. Bi Ningsih butuh Sivia, dan Sivia harus datang sesegera mungkin sebelum Alvin tindakan-tindakan nekad yang nantinya akan melukainya.
            Buru-buru Bi Ningsih berlari kemeja telfon. Ia membuka buku telfon dan mencari nomer handphone Sivia yang sudah dicatat oleh Mama Alvin. Beberapa saat setelah menemukan nomer Handphone Sivia, Bi Ningsih langsung menghubunginya tanpa berfikir panjang lagi.
            “hallo Non Via, tolongin Bibi Non. Den Alvin Non…..”


^_^

            Sekitar 10 menit kemudian tibalah Sivia dirumah Alvin. Sivia datang sendiri tanpa Cakka. Sebenarnya tadi Cakka bersikeras untuk ikut bersama Sivia, tapi setelah mati-matian menolak, akhirnya Cakka membiarkan Sivia pergi sendiri tanpa dirinya.
            “Alvin kenapa, Bi?” Tanya Sivia yang sudah sangat cemas dengan kondisi Alvin saat Bi Ningsih baru saja membukakan pintu untuknya,
            “Bibi juga nggak tau, Non. Tadi pas pulang Den Alvin langsung masuk kamar, terus kayaknya Den Alvin membanting semua barang-barang yang ada dikamarnya”
            Sivia tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berlari memasuki rumah Alvn dan mencari kamar Alvin. Setelah tiba didepan sebuah kamar yang adalah kamar Alvin, Siviapun memasuki kamarnya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Ternyata pintu kamar Alvin tidak terkunci, dan memang itulah yang Sivia inginkan.
            Rasa cemas Sivia semakin memuncak ketika melihat Alvin yang saat itu terduduk sambil menunduk dalam didepan ranjang dengan darah yang terus menetes dari tangannya. Sivia membekap mulutnya sendiri. Tidak lama Sivia berjalan cepat kearah Alvin dan menghampirinya.
            “Alvin??” ujar Sivia cemas sembari duduk disamping Alvin.
            Sivia meraih tangan Alvin yang sudah bersimbah darah. Saat itulah air mata Sivia kembali menetes. Entah untuk yang keberapa kalinya.
            “tangan lo…”
            Tiba-tiba Alvin menarik tangannya dari genggaman Sivia tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun. Alvin menatap kedepan dengan pandangan kosong yang amat dingin.
            “Bi… Bi Ningsih, tolong ambilin kotak obat Bi, sekarang!!”
            “baik Non…” jawab Bi Ningsih yang sejak tadi berdiri didepan pintu kamar Alvin. Bi Ningsihpun berlari dengan terburu-buru untuk mengambil kotak obat.
            “dasar banci!! Cuma gara-gara putus cinta lo rela kayak gini. Lo nggak gentle tau nggak Vin?” cibir Sivia dengan sangat sinis.
            Kali ini Alvin mengalihkan tatapan tajamnya pada Sivia. Beberapa saat kemudian, Alvin langsung tersenyum meledek,
            “gue banci? Gue nggak gentle? Itu semua gara-gara lo, Sivia! Lo fikir cowok mana yang nggak gila kalo cewek yang sangat dia cinta lebih dari apapun malah mutusin dia gitu aja tanpa alasan yang jelas??”
            Sivia langsung bungkam seketika. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dalam hati Sivia menyadari bahwa semua ini adalah mutlak kesalahannya.
            Sivia menunduk dalam. Berusaha mencari kalimat yang tepat untuk membalas perkataan Alvin. Seandainya Sivia bisa melakukan sesuatu saat ini juga. Tapi apa yang bisa Sivia lakukan? Tidak, Sivia tidak bisa melakukan apapun.
            Kebekuan yang terjadi antara Alvin Sivia langsung mencair seketika saat Bi Ningsih memasuki kamar Alvin dengan membawakan kotak obat yang tadi Sivia minta. Setelah menyerahkan kotak obat itu pada Sivia, Bi Ningsih langsung keluar.
            Sivia membuka kotak obat itu, ia mengambil secarik kapas lalu meneteskan beberapa tetes obat merah pada secarik kapas itu.
            “tangan lo!” kata Sivia dingin. Tapi Alvin bergeming dan malah membuang mukanya. Enggan melihat Sivia.
            Sivia menghelakan nafas beratnya. Tanpa berfikir panjang lagi Sivia langsung meraih tangan Alvin dengan paksa. Tidak peduli sekuat apapun Alvin menolaknya, Sivia tetap bersikeras. Ia menggenggam kuat pergelangan tangan Alvin lantas memberishkan luka Alvin dengan secarik kapas yang tadi ia teteskan dengan beberapa tetes cairan obat merah.
            Sivia tidak berkata apapun, begitupun dengan Alvin. Bahkan kali ini Alvin tidak melakukan perlawanan apapun. Ia menerima begitu saja apapun yang Sivia lakukan dengan tangannya.
            Dalam hati Sivia kembali merasa sangat bersalah. Dia tidak hanya melukai Alvin, tapi ia juga telah membuat Alvin melukai dirinya sendiri hingga seperti ini. Sivia menyesali diri. Apa memang seharusnya Sivia menjelaskan semuanya pada Alvin? Tapi bagaimana jika Alvin tidak mau mengerti dan malah berbalik membencinya?
            Dengan cekatan dan penuh perhatian, Sivia membalut luka Alvin dengan perban. 5 menit kemudian akhirnya luka pada tangan Alvin telah terbalut sempurna oleh perban. Sivia menghela nafas leganya meskipun perih itu kembali ia rasakan, berhembus bersama nafasnya, menguap bersama segala kesakitannya.
            Sivia terduduk disebelah Alvin. Ia memeluk lututnya seerat mungkin lalu mengikuti arah pandangan Alvin yang penuh dengan kekosongan. Hampa.
            “apa yang bisa gue lakuin buat bisa nebus kesalahan gue?”
            “lo ngerasa bersalah aja udah bagus” sahut Alvin cepat. perih itu lagi-lagi mencabik jantung Sivia. Sebulir air matanya menetes pelan.
            Sivia menunduk dalam. Ia berfikir keras bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Alvin tanpa harus mengecewakannya apalagi menyakitinya. Hingga beberapa lama Sivia berfikir ia tidak juga menemukan sebuah jawaban. Dan pada akhirnya, sampailah Sivia pada sebuah keputusan final. Keputusan final yang mungkin akan semakin menjerumuskannya lagi.
            “satu hal, Vin yang belakangan ini baru gue sadari—“ Sivia memotong ucapannya sejenak untuk menghela nafas dan lebih mengumpulkan keberaniannya, “gue…. Sama sekali nggak bisa—“ ada sesuatu yang terasa mengganjal dihatinya, menghimpit dadanya hingga menyebabkan sesak yang tertahankan.
            Alvin masih menatap hampa kedepan. Belum tertarik sama sekali dengan apa yang akan Sivia ucapkan padanya. Sementara air mata Sivia semakin deras menetes. Inilah saat yang paling memberatkan dalam hidupnya tapi harus tetap ia hadapi bagaimanapun caranya.
            “gue nggak bisa mencintai seseorang yang membenci Mama gue…” kata Sivia pada akhirnya. Kalimat yang paling pantang itu akhirnya Sivia keluarkan juga setelah mati-matian melawan hatinya.
            Alvin melirik cepat kearah Sivia. Apa yang baru saja Sivia ucapkan? Alvin tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.
            “maksud lo?”
            Sivia balik menatap Alvin dengan linangan air mata yang semakin deras menetes membasahi kedua pipi chubby nya. Ditengah lautan air mata yang membanjiri wajahnya, Sivia masih bisa menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum kepedihan yang telah menghantarkannya pada sebuah kehancuran.
            “lo benci kan sama calon Mama tiri lo?”
            Sivia meraih kerah baju Alvin lalu meremasnya dengan kuat. Detik ini juga, pertahanan Sivia telah rubuh, rubuh dalam hitungan detik saja.
            “calon Mama tiri lo adalah Mama gue, Alvin Jonathan. Gimana gue bisa mengatakan bahwa gue, cewek yang katanya sangat lo cintai lebih dari apapun adalah anak kandung dari Denita Rahmania yang sangat lo benci itu, gue anaknya, darah dagingnya. Dan gue, adalah CALON SAUDARA TIRI LO….” Kata Sivia dengan suara serak. Dan hatinya semakin teriris saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat terakhir itu, bagaikan sebuah sembilu yang telah mengiris hatinya dan menghancurkan segala harapannya juga mimpinya tentang Alvin selama ini.
            Dan ketika Sivia telah berhasil meraih mimpi itu –Alvin- ia malah harus melepaskannya begitu saja dari genggaman karna sebuah kenyataan yang memilukan.
            Dalam hati Alvin meronta putus asa. Ucapan yang baru saja Sivia ucapkan padanya seakan menjelma menjadi sebuah pukulan yang telah memukul telak jantungnya hingga remuk. Pegangan Sivia pada kerah baju Alvin mulai melemah, bahkan tanpa ia sadari, Sivia menjatuhkan kepalanya tepat didada Alvin.
            Alvin membisu dalam keheningan. Jantungnya terlalu remuk untuk bisa ia tata. Dan kenyataan ini telah benar-benar membungkam mulutnya. Bahkan Alvin sama sekali tidak peduli saat Sivia menangis terisak dalam dekapannya. Tidak sedikitpun Alvin berusaha untuk menenangkannya, tidak sama sekali. Alvin mengepalkan tangan kanannya sekuat mungkin. Ia marah pada semuanya. Marah pada kenyataan yang menurutnya sangat tidak adil ini, marah pada Takdir Tuhan yang seakan tidak pernah berpihak padanya, marah pada dirinya sendiri, dan marah pada semua hal yang telah mengusik ketenangan dan kebahagiaannya.
            Dan tiba-tiba saja Alvin mendorong Sivia dari dekapannya. Sivia yang limbung berusaha sebisa mungkin agar tidak terjatuh tepat dihadapan Alvin. Lalu tanpa melihat Sivia sedikitpun, Alvin berkata,
            “sekarang pergi lo dari rumah gue”
            “Vin—“
            “PERGI!! GUE BILANG PERGI, SEKARANG!!”
            Alvin telah mengusirnya, bahkan tanpa sedikitpun menatapnya. Sekarang Sivia tau bagaimana Alvin yang sesungguhnya, ternyata semua dugaannya tepat tanpa meleset sedikitpun. Alvin sudah membencinya, bukan hanya membenci, tapi sangat membencinya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi Sivia bangkit dari sisi Alvin lalu berlari meninggalkan Alvin bersama perasaannya telah hancur. Sebelumnya, Sivia tidak pernah merasa sehancur seperti sekarang ini.

            Berakhir, semuanya telah benar-benar berakhir. Akhir kisah ini ternyata tidak seindah seperti apa yang terfikirkan oleh Sivia selama ini. Kenyataan ini telah benar-benar melemparkannya dan menghempaskannya pada jurang keputusasaan.
            Sivia tersesat dalam kegelapan. Ia tidak menemukan setitikpun cahaya lagi. Semuanya gelap, benar-benar gelap. Dunia Sivia sudah menghilang, dan saat ini yang Sivia butuhkan hanya satu hal saja; Bintang penjaga hatinya.

^_^

            Alvin mengetok pintu rumah Papanya dengan tidak berperasaan. Jarum jam sudah menunjukan pukul dua puluh tiga lewat. Alvin tidak peduli dengan keributan yang nantinya akan dia sebabkan tengah malam begini. Yang Alvin tahu saat ini hanya satu, ia harus segera menemui Papanya dan menuntut semua kebahagiaannya yang selama ini telah Papanya renggut dari hidupnya dengan segala keegoisannya.
            “Den Alvin…” ucap seorang Pembantu dirumah Papa Alvin saat membukakan pintu untuk Alvin.
            “PAPA MANA??” Teriak Alvin dengan luapan emosi yang sudah tidak kuasa lagi ia tahan.
            “Tuan, Tuan ada—“ sebelum Bi Imah menyelesaikan ucapannya, Alvin buru-buru memasuki rumah hendak mencari keberadaan Papanya.
            Dan tepat ketika Alvin memasuki ruang tengah, saat itulah Farish turun dari anak tangga dengan mengenakan piamanya. Merasa ada yang mengusik tidurnya mala mini, Farish buru-buru keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang sudah lancang membuat keributan dirumahnya malam-malam begini. Dan ternyata pembuat keributan itu adalah Alvin,Putera sulungnya sendiri.
            “kamu ada apa Vin bikin keributan malam-malam begini? Apa kamu tidah tahu ini sudah jam berapa?”
            Alvin menatap Farish dengan tatapan tajamnya. Kilat dimata Alvin yang benar-benar menyiratkan sebuah kemarahan besar membuat Farish bertanya-tanya. Apa yang telah membuat anaknya terlihat marah seperti itu?
            Alvin berjalan cepat lebih mendekat kearah Papanya. Ketika Alvin sudah berdiri dengan tegak dihadapan Papanya, kemarahannya langsung pecah seketika.
            “udah puas Papa ngerebut semua kebahagiaan aku, Pa? UDAH PUAS?” Bentak Alvin.
            “maksud kamu apa, Vin?” Farish tak paham.
            Alvin tersenyum miris, ia membuang mukanya sejenak lalu kembali menatap Papanya dengan pandangan menantang.
            “pertama, Papa ngerebut kebahagiaan aku dengan menceraikan Mama yang kita semua tahu sangat mencintai Papa bahkan sampai detik ini, dan sekarang, Papa ngerebut lagi kebahagiaan aku? Nanti apa lagi, Pa? APA??”
            “Ngerebut kebahagiaan kamu?? Kebahagiaan mana yang kamu maksud??”
            “Sivia Azizah, Pa. Anaknya Tante Denita yang sangat Papa puja-puja itu, yang katanya adalah calon isteri Papa, dia itu pacar aku, Pa. Aku sangat mencinta dia….”
            “APA??”
            “Iya, Pa. dan asal Papa tau, Sivia itu cinta pertama aku. Sejak kehadiran dia dihidup aku, aku jadi paham arti kehidupan yang sebenernya itu kayak apa. Awalnya aku berfikir, bahwa dunia ini dan seluruh isinya itu semua busuk, tidak ada artinya sama sekali, tapi semuanya berbeda saat Sivia hadir dihidup aku dan membuat segalanya menjadi indah dan terasa sangat mudah. Dan  Papa juga harus tahu, saat ini aku nggak akan ngalah lagi, apapun yang terjadi aku tetap mempertahankan Sivia disisi aku, dan Papa atau siapapun itu nggak akan bisa menghentikan aku lagi…. Nggak akan pernah, Pa”
            “Alvin, kamu tidak bisa seperti itu. Pernikahan Papa dan Tante Denita sudah dipersiapkan. Mana mungkin  kamu bisa berpacaran dengan saudara kamu sendiri, Sivia itu calon Kakak tiri kamu, Alvin…”
            “AKU TIDAK PEDULI! Yang aku tahu aku sangat mencintai dia. Aku bersumpah, Pa, aku nggak akan mengalah lagi buat Papa, buat semua keegoisan Papa selama ini. Cukup Mama yang Papa buat menderita selama 2 tahun terakhir ini, cukup Pa…”
            “Papa tidak akan membiarkan kamu begitu saja. Apapun yang terjadi kamu tetep anak Papa yang hidup dibawah kendali Papa”
            Alvin tertawa mencibir,
            “oh ya? Inget Pa, hari ini aku sudah bersumpah dihadapan Papa, dan aku nggak akan perna ngelanggar sumpah yang sudah aku buat sendiri. Aku pastikan, Sivia akan jadi milik aku, dan aku juga akan pastikan—“
            Alvin lebih mendekatkan dirinya kearah Papanya,
            “Mama akan dapatkan kebahagiaannya lagi, aku bersumpah, Pa…” ujar Alvin, tapi kali ini dengan nada yang lebih pelan lagi.
            Farish bergetar mendengarkan apa yang baru saja Alvin tuturkan. Seumur hidupnya Farish tidak pernah menyangka bahwa Alvin akan seberani ini padanya, bahwa darah dagingnya sendiri akan menantangnya dengan cara seperti ini. Apa semua ini karma dari keegoisannya selama ini?
            Setelah merasa cukup menumpahkan segala yang mengganjal dihatinya, Alvin berbalik lalu pergi dari rumah Farish tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
            Malam ini Alvin telah bersumpah dihadapan Papanya. Dan Alvin berjanji tidak akan pernah melanggar sumpahnya itu.


            Semuanya telah dimulai hari ini. Alvin telah memilih untuk bertahan, dan Alvin akan berusaha atas pilihannya itu….




                        BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment