“Engkau
yang sedang patah hati
Menangislah
dan jangan ragu ungkapkan
Betapa
pedih hati yang tersakiti
Racun
yang membunuhmu secara perlahan…
Engkau
yang saat ini pilu
Betapa
menanggung beban kepedihan
Tumpahkan
sakit itu dalam tangismu
Yang
menusuk relung hati yang paling dalam…
Hanya
diri sendiri
Yang
tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini
ku temani kau dalam tangismu
Bila
air mata dapat cairkan hati
Kan
kucabut duri pedih dalam hatimu
Agar
kulihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah
semua ini….
Satu
langkah dewasakan diri
Dan
tak terpungkiri juga bagi…
Engkau
yang hatinya terluka
Dipeluk
nestapa tersapu derita
Seiring
saat keringnya air mata
Tak
mampu menahan pedih yang tak ada habisnya…
Hanya
diri sendiri
Yang
tak mungkin orang lain akan mengerti
Disini
ku temani kau dalam tangismu
Bila
air mata dapat cairkan hati
Kan
kucabut duri pedih dalam hatimu
Agar
kulihat senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah
semua ini….
Satu
langkah dewasakan diri
Dan
tak terpungkiri juga bagi…
Engkau
yang sedang patah hati…”
Sivia merebahkan kepalanya dipundak
Cakka beberapa saat setelah Cakka menyelesaikan lagu itu. Malam itu, setelah
pertengkaran yang terjadi antara Sivia dan Alvin selesai, Cakka langsung
membawa Sivia pergi ke Bukit. Disana Cakka berusaha menghibur Sivia. Meskipun
sulit untuk membuat Sivia tersenyum apalagi tertawa, tapi Cakka tetap berusaha.
Cakka merasa sama sekali tidak tahan jika terus-terusan melihat Sivia seperti
ini. Dan apapun akan Cakka lakukan untuk bisa membuat Sivia tersenyum lagi,
tertawa lepas lagi.
Cakka melepaskan gitarnya lalu
memeluk pundak Sivia erat, berusaha menguatkan hatinya yang saat ini
benar-benar rapuh dan nyaris remuk. Cakka menghelakan nafas panjangnya lalu
mendorong pelan kepala Sivia hingga bersandar pada dada bidang miliknya.
Cakka mengusap pundak Sivia beberapa
kali,
“menangislah, Vi. Menangis sekuat lo
mampu, menangis sampe lo bener-bener lelah, gue akan selalu ada disamping lo buat
menguatkan lo…”
Isak tangis yang sejak tadi berusaha
Sivia tahan akhirnya pecah juga. Dalam pelukan Cakka, Sivia menumpahkan segala
tangisan juga kesakitan yang beberapa hari terakhir ini membuatnya sulit untuk
bernafas.
“gue harus gimana, Kka? Gue udah
salah banget sama Alvin, gue udah nyakitin dia. Alvin nggak tau apa-apa, tapi
kenapa gue malah kejam banget sama dia? Hiks… hiks.. gue jahat Kka, gue jahat,
gue nggak pantes dimaafin” ujar Sivia disela-sela isakkannya dengan susah
payah.
Cakka menggeleng beberapa kali,
“nggak, nggak, lo nggak salah Vi, lo
nggak kejam, dan lo juga nggak jahat. Semua apa yang lo lakuin ini Cuma
semata-mata demi kebahagian Tante Nita, lo nggak jahat. Percaya sama gue, ada
sesuatu yang indah dibalik semua ini. Karna kita semua nggak pernah tahu apa
rencana Tuhan. Kelak, lo akan bahagia, percaya sama gue, lo Cuma tinggal tunggu
waktu lo aja. Anggep semua ini ujian dalam hubungan lo sama Alvin…”
Tangisan Sivia bukannya reda tapi
malah semakin menjadi-jadi. Ada sebuah perasaan ngilu yang Cakka rasakan jauh
dilubuk hatinya yang terdalam saat melihat Gadis yang sangat ia cintai menangis
seperti sekarang ini.
Jika bisa, rasanya Cakka ingin
sekali menukar semua kesakitan Sivia saat ini dengan kebahagiaan. Sungguh,
Cakka benar-benar tidak kuat melihat Sivia berada dalam kondisi sesakit seperti
sekarang ini.
“tapi lo musti inget, Vi! Masih ada
gue yang akan selalu disamping lo, gue nggak akan biarin lo nanggung semua ini
sendirian, nggak akan, dan lo juga musti tahu—“ Cakka menggantungkan
kalimatnya. Ia melepaskan pelukannya dari Sivia lalu memegang kedua pundak
Sivia.
Cakka tersenyum pada Sivia, ia
mengangkat dagu Sivia hingga wajah Sivia tegak menghadap wajahnya. Kedua mata
mereka bertemu. Cakka menatap Sivia dengan pandangan yang begitu meneduhkan.
Setelah cukup lama saling memandang,
Cakka mengalihkan pandangannya keatas langit. Senyum diwajah Cakka semakin
melebar,
“lo juga musti tahu, bahwa
bintang-bintang itu masih bersinar dengan terang dan mereka akan selalu
tersenyum buat lo”
Sivia mengikuti arah pandangan
Cakka.
“jadi lo nggak sendirian, Via. Dan
nggak akan pernah sendirian…”
^_^
Sepulangnya dari rumah Sivia, Alvin
langsung memasuki kamarnya. Dengan emosi yang sudah meluap hebat dan telah
sampai pada puncak klimaks, Alvin memberantakkan semua barang-barang yang ada
dikamarnya. Alvin melempar dan membanting apa saja yang ada dihadapannya.
Bahkan Alvin tidak segan-segan menghantam kaca lemarinya hingga pecah.
Darah segar menetes dari tangan
sebelah kiri Alvin. Setelah cukup puas membuat onar didalam kamarnya dan
melukai dirinya sendiri, Alvin terduduk lemah didepan ranjangnya.
Dan Alvin yang seumur-umur pantang
untuk meneteskan air mata akhirnya hari ini meneteskan air mata juga. Alvin
membiarkan darahnya menetes begitu saja tanpa sedikitpun memperdulikan kondisi
tangannya yang sudah benr-benar sangat parah.
Alvin telah mati rasa. Sedikitpun ia
tidak bisa merasakan rasa sakit yang kini menderanya. Luka yang Sivia berikan
terlalu menyakitkan hingga membuatnya mati rasa. Jauh didasar hatinya yang
terdalam, Alvin mulai merasakan sebuah penyesalan. Ia menyesal telah jatuh
cinta pada Sivia.
Bi Ningsih –Pembantu dirumah Alvin-
yang merasa bahwa Alvin sedang melakukan hal tidak terduga didalam kamarnya
langsung memutuskan untuk menelpon seseorang.
Bi Ningsih benar-benar cemas pada
Tuan Mudanya itu. Apalagi sekarang Mama Alvin sedang melakukan kunjungan kerja
ke Maroko. Dari pada menelpn Nonya besarnya dan membuat Nyonya besarnya cemas
lebih baik Bi Ningsih menghubungi seseorang yang saat ini Alvin sangat butuhkan.
Ya… Siapa lagi seseorang yang sangat
butuhkan selain Sivia. Selama 2 bulan belakangan ini Sivia memang sering
kerumah Alvin. Bahkan tanpa Alvinpun Sivia sering datang sendiri. Mama Alvin
dan Bi Ningsih sudah sangat mengenal Sivia dengan baik.
Bi Ningsih tentu tidak akan mampu
mengatasi Alvin sendiri. Bi Ningsih butuh Sivia, dan Sivia harus datang
sesegera mungkin sebelum Alvin tindakan-tindakan nekad yang nantinya akan
melukainya.
Buru-buru Bi Ningsih berlari kemeja
telfon. Ia membuka buku telfon dan mencari nomer handphone Sivia yang sudah
dicatat oleh Mama Alvin. Beberapa saat setelah menemukan nomer Handphone Sivia,
Bi Ningsih langsung menghubunginya tanpa berfikir panjang lagi.
“hallo Non Via, tolongin Bibi Non.
Den Alvin Non…..”
^_^
Sekitar 10 menit kemudian tibalah
Sivia dirumah Alvin. Sivia datang sendiri tanpa Cakka. Sebenarnya tadi Cakka
bersikeras untuk ikut bersama Sivia, tapi setelah mati-matian menolak, akhirnya
Cakka membiarkan Sivia pergi sendiri tanpa dirinya.
“Alvin kenapa, Bi?” Tanya Sivia yang
sudah sangat cemas dengan kondisi Alvin saat Bi Ningsih baru saja membukakan
pintu untuknya,
“Bibi juga nggak tau, Non. Tadi pas
pulang Den Alvin langsung masuk kamar, terus kayaknya Den Alvin membanting
semua barang-barang yang ada dikamarnya”
Sivia tidak berkata apa-apa lagi. Ia
langsung berlari memasuki rumah Alvn dan mencari kamar Alvin. Setelah tiba
didepan sebuah kamar yang adalah kamar Alvin, Siviapun memasuki kamarnya tanpa
mengetok pintu terlebih dahulu. Ternyata pintu kamar Alvin tidak terkunci, dan
memang itulah yang Sivia inginkan.
Rasa cemas Sivia semakin memuncak
ketika melihat Alvin yang saat itu terduduk sambil menunduk dalam didepan
ranjang dengan darah yang terus menetes dari tangannya. Sivia membekap mulutnya
sendiri. Tidak lama Sivia berjalan cepat kearah Alvin dan menghampirinya.
“Alvin??” ujar Sivia cemas sembari
duduk disamping Alvin.
Sivia meraih tangan Alvin yang sudah
bersimbah darah. Saat itulah air mata Sivia kembali menetes. Entah untuk yang
keberapa kalinya.
“tangan lo…”
Tiba-tiba Alvin menarik tangannya
dari genggaman Sivia tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun. Alvin menatap kedepan
dengan pandangan kosong yang amat dingin.
“Bi… Bi Ningsih, tolong ambilin
kotak obat Bi, sekarang!!”
“baik Non…” jawab Bi Ningsih yang
sejak tadi berdiri didepan pintu kamar Alvin. Bi Ningsihpun berlari dengan
terburu-buru untuk mengambil kotak obat.
“dasar banci!! Cuma gara-gara putus
cinta lo rela kayak gini. Lo nggak gentle tau nggak Vin?” cibir Sivia dengan
sangat sinis.
Kali ini Alvin mengalihkan tatapan
tajamnya pada Sivia. Beberapa saat kemudian, Alvin langsung tersenyum meledek,
“gue banci? Gue nggak gentle? Itu
semua gara-gara lo, Sivia! Lo fikir cowok mana yang nggak gila kalo cewek yang
sangat dia cinta lebih dari apapun malah mutusin dia gitu aja tanpa alasan yang
jelas??”
Sivia langsung bungkam seketika. Ia
tidak tahu harus berkata apa lagi. Dalam hati Sivia menyadari bahwa semua ini
adalah mutlak kesalahannya.
Sivia menunduk dalam. Berusaha
mencari kalimat yang tepat untuk membalas perkataan Alvin. Seandainya Sivia
bisa melakukan sesuatu saat ini juga. Tapi apa yang bisa Sivia lakukan? Tidak,
Sivia tidak bisa melakukan apapun.
Kebekuan yang terjadi antara Alvin
Sivia langsung mencair seketika saat Bi Ningsih memasuki kamar Alvin dengan
membawakan kotak obat yang tadi Sivia minta. Setelah menyerahkan kotak obat itu
pada Sivia, Bi Ningsih langsung keluar.
Sivia membuka kotak obat itu, ia
mengambil secarik kapas lalu meneteskan beberapa tetes obat merah pada secarik
kapas itu.
“tangan lo!” kata Sivia dingin. Tapi
Alvin bergeming dan malah membuang mukanya. Enggan melihat Sivia.
Sivia menghelakan nafas beratnya.
Tanpa berfikir panjang lagi Sivia langsung meraih tangan Alvin dengan paksa.
Tidak peduli sekuat apapun Alvin menolaknya, Sivia tetap bersikeras. Ia
menggenggam kuat pergelangan tangan Alvin lantas memberishkan luka Alvin dengan
secarik kapas yang tadi ia teteskan dengan beberapa tetes cairan obat merah.
Sivia tidak berkata apapun,
begitupun dengan Alvin. Bahkan kali ini Alvin tidak melakukan perlawanan
apapun. Ia menerima begitu saja apapun yang Sivia lakukan dengan tangannya.
Dalam hati Sivia kembali merasa
sangat bersalah. Dia tidak hanya melukai Alvin, tapi ia juga telah membuat
Alvin melukai dirinya sendiri hingga seperti ini. Sivia menyesali diri. Apa
memang seharusnya Sivia menjelaskan semuanya pada Alvin? Tapi bagaimana jika
Alvin tidak mau mengerti dan malah berbalik membencinya?
Dengan cekatan dan penuh perhatian,
Sivia membalut luka Alvin dengan perban. 5 menit kemudian akhirnya luka pada
tangan Alvin telah terbalut sempurna oleh perban. Sivia menghela nafas leganya
meskipun perih itu kembali ia rasakan, berhembus bersama nafasnya, menguap
bersama segala kesakitannya.
Sivia terduduk disebelah Alvin. Ia
memeluk lututnya seerat mungkin lalu mengikuti arah pandangan Alvin yang penuh
dengan kekosongan. Hampa.
“apa yang bisa gue lakuin buat bisa
nebus kesalahan gue?”
“lo ngerasa bersalah aja udah bagus”
sahut Alvin cepat. perih itu lagi-lagi mencabik jantung Sivia. Sebulir air
matanya menetes pelan.
Sivia menunduk dalam. Ia berfikir
keras bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Alvin tanpa harus
mengecewakannya apalagi menyakitinya. Hingga beberapa lama Sivia berfikir ia
tidak juga menemukan sebuah jawaban. Dan pada akhirnya, sampailah Sivia pada
sebuah keputusan final. Keputusan final yang mungkin akan semakin
menjerumuskannya lagi.
“satu hal, Vin yang belakangan ini
baru gue sadari—“ Sivia memotong ucapannya sejenak untuk menghela nafas dan lebih
mengumpulkan keberaniannya, “gue…. Sama sekali nggak bisa—“ ada sesuatu yang
terasa mengganjal dihatinya, menghimpit dadanya hingga menyebabkan sesak yang
tertahankan.
Alvin masih menatap hampa kedepan.
Belum tertarik sama sekali dengan apa yang akan Sivia ucapkan padanya.
Sementara air mata Sivia semakin deras menetes. Inilah saat yang paling
memberatkan dalam hidupnya tapi harus tetap ia hadapi bagaimanapun caranya.
“gue nggak bisa mencintai seseorang
yang membenci Mama gue…” kata Sivia pada akhirnya. Kalimat yang paling pantang
itu akhirnya Sivia keluarkan juga setelah mati-matian melawan hatinya.
Alvin melirik cepat kearah Sivia.
Apa yang baru saja Sivia ucapkan? Alvin tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.
“maksud lo?”
Sivia balik menatap Alvin dengan
linangan air mata yang semakin deras menetes membasahi kedua pipi chubby nya.
Ditengah lautan air mata yang membanjiri wajahnya, Sivia masih bisa
menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum kepedihan yang telah menghantarkannya
pada sebuah kehancuran.
“lo benci kan sama calon Mama tiri
lo?”
Sivia meraih kerah baju Alvin lalu
meremasnya dengan kuat. Detik ini juga, pertahanan Sivia telah rubuh, rubuh
dalam hitungan detik saja.
“calon Mama tiri lo adalah Mama gue,
Alvin Jonathan. Gimana gue bisa mengatakan bahwa gue, cewek yang katanya sangat
lo cintai lebih dari apapun adalah anak kandung dari Denita Rahmania yang
sangat lo benci itu, gue anaknya, darah dagingnya. Dan gue, adalah CALON
SAUDARA TIRI LO….” Kata Sivia dengan suara serak. Dan hatinya semakin teriris
saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat terakhir itu, bagaikan sebuah
sembilu yang telah mengiris hatinya dan menghancurkan segala harapannya juga
mimpinya tentang Alvin selama ini.
Dan ketika Sivia telah berhasil
meraih mimpi itu –Alvin- ia malah harus melepaskannya begitu saja dari
genggaman karna sebuah kenyataan yang memilukan.
Dalam hati Alvin meronta putus asa. Ucapan
yang baru saja Sivia ucapkan padanya seakan menjelma menjadi sebuah pukulan
yang telah memukul telak jantungnya hingga remuk. Pegangan Sivia pada kerah
baju Alvin mulai melemah, bahkan tanpa ia sadari, Sivia menjatuhkan kepalanya
tepat didada Alvin.
Alvin membisu dalam keheningan.
Jantungnya terlalu remuk untuk bisa ia tata. Dan kenyataan ini telah
benar-benar membungkam mulutnya. Bahkan Alvin sama sekali tidak peduli saat
Sivia menangis terisak dalam dekapannya. Tidak sedikitpun Alvin berusaha untuk
menenangkannya, tidak sama sekali. Alvin mengepalkan tangan kanannya sekuat
mungkin. Ia marah pada semuanya. Marah pada kenyataan yang menurutnya sangat
tidak adil ini, marah pada Takdir Tuhan yang seakan tidak pernah berpihak
padanya, marah pada dirinya sendiri, dan marah pada semua hal yang telah
mengusik ketenangan dan kebahagiaannya.
Dan tiba-tiba saja Alvin mendorong
Sivia dari dekapannya. Sivia yang limbung berusaha sebisa mungkin agar tidak
terjatuh tepat dihadapan Alvin. Lalu tanpa melihat Sivia sedikitpun, Alvin
berkata,
“sekarang pergi lo dari rumah gue”
“Vin—“
“PERGI!! GUE BILANG PERGI,
SEKARANG!!”
Alvin telah mengusirnya, bahkan
tanpa sedikitpun menatapnya. Sekarang Sivia tau bagaimana Alvin yang
sesungguhnya, ternyata semua dugaannya tepat tanpa meleset sedikitpun. Alvin
sudah membencinya, bukan hanya membenci, tapi sangat membencinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi Sivia
bangkit dari sisi Alvin lalu berlari meninggalkan Alvin bersama perasaannya
telah hancur. Sebelumnya, Sivia tidak pernah merasa sehancur seperti sekarang
ini.
Berakhir, semuanya telah benar-benar
berakhir. Akhir kisah ini ternyata tidak seindah seperti apa yang terfikirkan
oleh Sivia selama ini. Kenyataan ini telah benar-benar melemparkannya dan
menghempaskannya pada jurang keputusasaan.
Sivia tersesat dalam kegelapan. Ia
tidak menemukan setitikpun cahaya lagi. Semuanya gelap, benar-benar gelap.
Dunia Sivia sudah menghilang, dan saat ini yang Sivia butuhkan hanya satu hal
saja; Bintang penjaga hatinya.
^_^
Alvin mengetok pintu rumah Papanya
dengan tidak berperasaan. Jarum jam sudah menunjukan pukul dua puluh tiga
lewat. Alvin tidak peduli dengan keributan yang nantinya akan dia sebabkan
tengah malam begini. Yang Alvin tahu saat ini hanya satu, ia harus segera
menemui Papanya dan menuntut semua kebahagiaannya yang selama ini telah Papanya
renggut dari hidupnya dengan segala keegoisannya.
“Den Alvin…” ucap seorang Pembantu
dirumah Papa Alvin saat membukakan pintu untuk Alvin.
“PAPA MANA??” Teriak Alvin dengan
luapan emosi yang sudah tidak kuasa lagi ia tahan.
“Tuan, Tuan ada—“ sebelum Bi Imah
menyelesaikan ucapannya, Alvin buru-buru memasuki rumah hendak mencari
keberadaan Papanya.
Dan tepat ketika Alvin memasuki
ruang tengah, saat itulah Farish turun dari anak tangga dengan mengenakan
piamanya. Merasa ada yang mengusik tidurnya mala mini, Farish buru-buru keluar
dari kamarnya untuk melihat siapa yang sudah lancang membuat keributan
dirumahnya malam-malam begini. Dan ternyata pembuat keributan itu adalah
Alvin,Putera sulungnya sendiri.
“kamu ada apa Vin bikin keributan
malam-malam begini? Apa kamu tidah tahu ini sudah jam berapa?”
Alvin menatap Farish dengan tatapan
tajamnya. Kilat dimata Alvin yang benar-benar menyiratkan sebuah kemarahan
besar membuat Farish bertanya-tanya. Apa yang telah membuat anaknya terlihat
marah seperti itu?
Alvin berjalan cepat lebih mendekat
kearah Papanya. Ketika Alvin sudah berdiri dengan tegak dihadapan Papanya,
kemarahannya langsung pecah seketika.
“udah puas Papa ngerebut semua
kebahagiaan aku, Pa? UDAH PUAS?” Bentak Alvin.
“maksud kamu apa, Vin?” Farish tak
paham.
Alvin tersenyum miris, ia membuang
mukanya sejenak lalu kembali menatap Papanya dengan pandangan menantang.
“pertama, Papa ngerebut kebahagiaan
aku dengan menceraikan Mama yang kita semua tahu sangat mencintai Papa bahkan
sampai detik ini, dan sekarang, Papa ngerebut lagi kebahagiaan aku? Nanti apa
lagi, Pa? APA??”
“Ngerebut kebahagiaan kamu??
Kebahagiaan mana yang kamu maksud??”
“Sivia Azizah, Pa. Anaknya Tante
Denita yang sangat Papa puja-puja itu, yang katanya adalah calon isteri Papa,
dia itu pacar aku, Pa. Aku sangat mencinta dia….”
“APA??”
“Iya, Pa. dan asal Papa tau, Sivia
itu cinta pertama aku. Sejak kehadiran dia dihidup aku, aku jadi paham arti
kehidupan yang sebenernya itu kayak apa. Awalnya aku berfikir, bahwa dunia ini
dan seluruh isinya itu semua busuk, tidak ada artinya sama sekali, tapi
semuanya berbeda saat Sivia hadir dihidup aku dan membuat segalanya menjadi
indah dan terasa sangat mudah. Dan Papa
juga harus tahu, saat ini aku nggak akan ngalah lagi, apapun yang terjadi aku
tetap mempertahankan Sivia disisi aku, dan Papa atau siapapun itu nggak akan
bisa menghentikan aku lagi…. Nggak akan pernah, Pa”
“Alvin, kamu tidak bisa seperti itu.
Pernikahan Papa dan Tante Denita sudah dipersiapkan. Mana mungkin kamu bisa berpacaran dengan saudara kamu
sendiri, Sivia itu calon Kakak tiri kamu, Alvin…”
“AKU TIDAK PEDULI! Yang aku tahu aku
sangat mencintai dia. Aku bersumpah, Pa, aku nggak akan mengalah lagi buat
Papa, buat semua keegoisan Papa selama ini. Cukup Mama yang Papa buat menderita
selama 2 tahun terakhir ini, cukup Pa…”
“Papa tidak akan membiarkan kamu
begitu saja. Apapun yang terjadi kamu tetep anak Papa yang hidup dibawah
kendali Papa”
Alvin tertawa mencibir,
“oh ya? Inget Pa, hari ini aku sudah
bersumpah dihadapan Papa, dan aku nggak akan perna ngelanggar sumpah yang sudah
aku buat sendiri. Aku pastikan, Sivia akan jadi milik aku, dan aku juga akan
pastikan—“
Alvin lebih mendekatkan dirinya
kearah Papanya,
“Mama akan dapatkan kebahagiaannya
lagi, aku bersumpah, Pa…” ujar Alvin, tapi kali ini dengan nada yang lebih
pelan lagi.
Farish bergetar mendengarkan apa
yang baru saja Alvin tuturkan. Seumur hidupnya Farish tidak pernah menyangka
bahwa Alvin akan seberani ini padanya, bahwa darah dagingnya sendiri akan
menantangnya dengan cara seperti ini. Apa semua ini karma dari keegoisannya
selama ini?
Setelah merasa cukup menumpahkan
segala yang mengganjal dihatinya, Alvin berbalik lalu pergi dari rumah Farish
tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Malam ini Alvin telah bersumpah
dihadapan Papanya. Dan Alvin berjanji tidak akan pernah melanggar sumpahnya
itu.
Semuanya telah dimulai hari ini.
Alvin telah memilih untuk bertahan, dan Alvin akan berusaha atas pilihannya
itu….
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment