Tuesday, June 4, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 20 "Almost Ended"





                Sedikit demi sedikit hujan mulai reda meski tidak reda sepenuhnya. Sivia duduk diatas bukit sendirian sambil menangis tersedu. Menangisi kenyataan yang kini ia hadapi. Tangis Sivia semakin menjadi saat semua kebersamaan demi kebersamaan yang telah ia lalui bersama Alvin kembali berkelebat dikepalanya. Sesak itu semakin kuat menyiksa dada Sivia.
            Alvin…. Sivia benar-benar sangat mencintainya. Apapun bisa Sivia hadapi asal bisa berada disisi Alvin untuk seterusnya, tapi tidak dengan kenyataan ini. Kenyataan yang sekarang Sivia hadapi benar-benar sulit ia mengerti. Ia memang sangat mencintai Alvin, melebihi apapun. Tetapi, Mama nya juga begitu mencintai Papa Alvin. Apa Sivia harus menyerah dan mengalah begitu saja?
            Sivia memegangi kepalanya, isak tangisnya semakin pecah. Seakan mengerti dengan kesakitan yang Sivia rasakan saat ini, Langitpun kembali menangis. Hujan turun dengan lebatnya dan kembali mengguyur tubuh Sivia.
            Tiba-tiba Sivia merasakan ada seseorang yang memayunginya, melindunginya dari guyuran hujan. Sivia mengangkat wajahnya dan mendapati Cakka yang waktu tengah berdiri dihadapannya dengan tatapan mata yang sendu. Cakka memayungi tubuh Sivia dan membiarkan tubuhnya sendiri yang terguyur hujan. Melihat kehadiran Cakka, tangis Sivia malah semakin pecah,
            “lo kenapa, Vi? Lo bisa kan cerita sama gue?”
            Sivia diam, tidak menjawab pertanyaan Cakka sama sekali. Cakka lalu duduk disamping Sivia, ia membuka jaketnya yang belum terlalu kuyup lalu memasangkannya pada tubuh lemah Sivia.
            “Alvin lagi??” Tanya Cakka sekali lagi. Sivia menggeleng berkali-kali lalu menghambur kedalam pelukan Cakka. Sebisa mungkin Cakka berusaha memegangi payung itu seerat mungkin agar tidak terjatuh.
            “lo kenapa, Vi?”
            “Alvin, Kka…. Alvin… Alvin ternyata—“
            “Alvin? Kenapa?”
            “hik… hik… hik… Alvin ter… ternyata Calon saudara tiri gue, Cakka….” Dengan susah payah Sivia akhirnya bisa menyelesaikan perkataannya.
            Cakka kaget dan semakin mempererat dekapannya pada Sivia. Alvin calon saudara tiri Sivia? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Tapi Cakka belum mampu mengeluarkan sepatah katapun. Melihat Sivia menangis seperti ini benar-benar membuat Cakka rapuh.
            Cakka mengusap lengan Sivia beberapa kali untuk memberikannya sedikit kehangatan dan ketenangan. Dengan pelan Cakka berucap,
            “ya, udah kita pulang yuk! Ceritanya nanti dirumah aja. Kasian lo udah basah kuyup kayak gini, nanti lo sakit. Lo nggak mau sakit kan?”
            Sivia menggeleng cepat,
            “gue nggak mau pulang Kka, gue takut Mama marah gara-gara tadi gue kabur dari resotan, hiks…”
            “nggak, Tante nggak akan marah. Kan ada gue, lo percaya ya sama gue?”
            Sekali lagi Sivia menggeleng,
            “nggak, gue tetep nggak mau”
            Cakka menghela nafas beratnya lalu membelai lembut rambut Sivia yang basah,
            “ya udah, kalo gitu pulang kerumah gue yuk…”


^_^

            Tubuh lemah Sivia sudah terbaring diatas tempat tidur milik Cakka dengan kedua mata terpejam. Sivia mengenakan baju kaos Cakka juga celana training Cakka yang sedikit kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Sebuah kain kompres yang mulai sedikit mengering bertengger diatas keningnya. Sekujur tubuh Sivia menggigil kedinginan saat Cakka membawanya pulang tadi. Dan ketika tahu kalau Sivia demam, Cakka langsung panic.
            Cakka menatap wajah Sivia dengan pandangan sayu. Cakka benar-benar merasa tidak sanggup melihat Gadis bawelnya berada dalam kondisi seperti sekarang ini. Jika bisa, rasanya Cakka ingin sekali menggantikan posisi Sivia detik ini juga.
            Cakka meraih tangan Sivia yang terasa dingin. Cakka menggenggamnya kuat-kuat lantas mengecupnya lama.
            “kalo udah seperti ini gue harus gimana, Vi?Apa yang harus gue lakuin? Jujur gue bingung. Maafin gue, Vi…. Saat ini otak gue bener-bener buntu, gue nggak tau harus ngelakuin apa. Maafin gue, maaf karna gue nggak bisa jadi sahabat yang baik buat lo, Vi. Maaf….” Ucap Cakka lirih tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Sivia.
            “seandainya waktu itu lo selangkah lebih maju dari Alvin, mungkin ini semua nggak bakalan terjadi….”
            Ucap Mas Elang yang sejak tadi berdiri didepan pintu kamar Cakka. Mas Elang memang mengetahui segalanya antara Sivia dan Cakka. Mas Elang tahu betul bagaimana perasaan Cakka pada Sivia. Sejak awal Mas Elang selalu berusaha untuk memberikan Cakka dorongan agar mau mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya pada Sivia, tapi Cakka selalu saja keras kepala.
            “dia nggak cinta sama gue, Mas. Mau kayak apapun dia  tetep nggak cinta sama gue" ujar Cakka tanpa sedikitpun menoleh kearah Mas Elang.
            “itu kan kata lo…”
            “tapi faktanya yang Sivia cinta itu Cuma Alvin”
            “itu juga karna kesalahan lo yang selalu berusaha nutup-nutupin perasaan lo didepan Sivia”
            “Cukup, Mas! Nggak usah bahas itu lagi, nanti Sivia denger”
            “terserah elo” Mas Elangpun akhirnya meninggalkan kamar Cakka.
            Cakka menghela nafas panjang dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Sivia. Jika sudah menatap Gadis Bawel ini lekat-lekat seperti ini, Cakka seakan lupa waktu. Ia merasa jarum jam tidak berdetak lagi saat kedua matanya menelusuri setiap lekuk kecantikan Sivia.


^_^

            Secara mengejutkan Denita memasuki kamar Cakka. Cakka yang kaget langsung menoleh kebelakang ketika mendengar ada suara seseorang yang membuka pintu kamarnya tanpa mengetok terlebih dahulu,
            “Via, bangun kamu, Via!!” Ucap Denita sedikit keras.
            Denita merasa benar-benar marah pada Sivia saat tahu bahwa Sivia kabur dari Restoran tanpa sepengetahuannya. Bagaimana Denita tidak marah? Setelah Farish berusaha mati-matian membujuk Alvin supaya mau berkenalan dengannya hingga akhirnya Alvin luluh, malah sekarang Sivia yang kabur.
            “Tante, jangan keras-keras Tan, Via lagi sakit” ucap Cakka setengah berbisik berusaha menenangkan Denita.
            “Sa… sakit? Kok bisa?” Tanya Denita cemas.
            Denita yang awalnya diselimuti oleh amarah langsung cemas seketika saat Cakka mengatakan bahwa Sivia sakit. Sebelum Cakka menjawab pertanyaannya, Denita buru-buru menghampiri Sivia dan duduk disamping anak sulungnya itu,
            “Via… kok kamu bisa sakit sih, sayang??”
            “tadi, Via pulang dalam keadaan ujan-ujanan Tante, makanya langsung sakit” jawab Cakka apa adanya,
            “kamu tau kenapa Sivia pulang terlebih dahulu, Cakka?” Tanya Denita pada Cakka.
            Otak Cakka langsung berfikir dengan cepat. jika ia jujur sekarang, pasti urusannya akan semakin runyam. Apalagi kan Cakka belum sempat berdiskusi apa-apa dengan Sivia mengenai masalah ini. Tapi Cakka yakin, Sivia pasti tidak menginginkannya untuk jujur kepada Mamanya.
            Cakkapun mulai memutar otak. Mencari alasan yang tepat untuk melindungi Sivia dari amarah Mamanya. Tidak lama….
            “kita ada tugas kelompok yang harus kita kumpulin besok pagi. Tapi tadi sebelum Via berangkat ke restoran sama Tante, aku lupa ngasih tau Via kalo malem ini kita bakalan nyelesein tugas bareng. Makanya tadi aku nelpon Via buru-buru dan minta supaya Via pulang, soalnya kan buku tugas Via yang pegang, Tante. Tapi ternyata sepulangnya Via dari restoran, Via malah kehujanan dan basa kuyup kayak gini. Via demam dan aku langsung minta Bi Imah buat ganti baju Via pake baju aku untuk sementara”
            Sempurna. Kebohongan Cakka benar-benar sangat sempurna. Bahkan Cakka tidak perlu repot-repot meyakinkan Denita dengan cara-cara yang aneh, karna kinipun Denita sudah mempercayainya seratus persen. Dalam hati sebenarnya Cakka merasa sangat bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Cakka tidak memiliki cara lain untuk melindungi Sivia selain harus membohongi Denita.
            “tapi syukurlah Kka kamu cepet-cepet nolongin Via, kalo nggak, mungkin sekarang Via bakalan lebih parah dari ini…”
            Cakka menghela nafas lega. Ia mengusap dada beberapa kali lantas bergumam dalam hati,

            “maafin aku, Tante…..”


^_^

            Alvin membanting keras handphonenya diatas kasur dengan kekesalan yang sudah mencapai puncak klimaks. Sejak semalam ia berusaha menelpon Sivia, tapi Sivia tidak juga mengangkat telfonnya. SMS dari Alvin juga sama sekali tidak balas oleh Sivia.
            Alvin bingung. Ada apa sebenarnya dengan Si Jelek itu? Apa mungkin Sivia marah pada Alvin karna kemarin selama seharian penuh mereka tidak bertemu.
            Alvin terduduk dipinggir tempat tidurnya sembari berfikir.
            “awas lo Jelek! Jangan harep lo bakalan bebas dari gue hari ini…” ucap Alvin lebih kepada dirinya sendiri. Alvin bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar menuju meja makan.

^_^

            “gimana semalem pertemuanmu dengan keluarga Tante Denita?” Tanya Mama saat Alvin baru saja duduk meja makan.
            Alvin meraih  roti beserta selai cokelat yang ada dihadapannya,
            “nggak seru, Ma” jawab Alvin seadanya seraya mengoleskan selai cokelat pada rotinya,
            “nggak seru gimana?” Tanya Mama –lagi-
            “ya gitu, anak sulungnya Tante Denita kabur sebelum kita sempet kenalan”
            “kabur? Kok bisa?”
            Alvin mengangkat kedua bahunya tanda ketidakpeduliannya,
            “tau deh, Ma. Yang jelas Alvin bersyukur banget anaknya Tante Denita kabur, dengan begitukan Alvin nggak perlu susah-susah nyari cara buat ngacauin acara semalem…”
            “sttt… Alvin, jangan sembarangan ngomong deh”
            “emang fakta kok Ma. Si Anaknya Tante Denita itu juga nggak setuju kali dengan acara perkenalan semalam…”
            “udah ah, ganti topic, tiap kali ngomongin masalah Papa kamu sama Tante Denita kamu selalu aja kayak gini. Oya, kapan nih kamu mau bawa Via kesini? Mama pengen deh ketemu lagi sama pacar kamu”
            “tenang, nanti Via nya Alvin bawa’in deh…”
            “janji ya?”
            Alvin mengangkat wajahnya lantas menatap Mamanya sambil tersenyum,
            “janji, Ma….”


^_^

            Alvin menghentikan motornya tepat didepan rumah Sivia. Kedua mata Alvin langsung menangkap siluet Sivia yang saat itu tengah asyik menyiram bunga dihalaman rumahnya. Yang membuat Alvin heran adalah, sampai jam segini Sivia masih belum siap. Bahkan Sivia masih mengenakan pakaian tidurnya. Apa Gadis itu sakit dan berniat untuk tidak masuk sekolah hari ini?
            Alvin turun dari motornya lalu berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah Sivia. Posisi Sivia yang saat itu membelakangi Alvin membuat Sivia belum menyadari kehadiran Alvin.
            “lo marah?” Tanya Alvin yang tiba-tiba saja sudah berdiri dengan tegak disamping Sivia. Sivia menghentikan aktifitasnya menyiram bunga lantas menoleh kearah Alvin,
            “elo?” kata Sivia pelan. wajah Sivia terlihat sedikit pucat, dan hal itu semakin membuat Alvin heran. Alvin memegangi wajah Sivia,
            “Via, elo kok pucet? Lo sakit? Sakit apa?”
            Sivia berdecak pelan lantas menurunkan kedua tangan Alvin dari wajahnya.
            “gue nggak sakit” jawab Sivia dingin.
            “lo bohong!”
            “terserah elo mau percaya ato nggak. Ngapain lo kerumah gue?”
            Sikap Sivia pagi ini benar-benar sangat aneh dan membuat Alvin bertanya-tanya. Bukankah baru kemarin Alvin berjanji bahwa pagi ini ia akan mejemput Sivia dan berkenalan langsung dengan Mamanya. Apa Sivia lupa? Atau jangan-jangan Sivia benar-benar marah gara-gara kemarin Alvin menghilang.
            “Lo kenapa sih berubah aneh, Vi? Dari semalem gue telfon lo nggak angkat, gue sms juga lo nggak bales, dan sekarang gue kerumah lo buat ngejemput lo, lo malah nanya gue kesini mau ngapain. Ada apa sih? Apa lo marah gara-gara kemarin gue ilang? gue kan udah minta maaf” ucap Alvin sedikit emosi.
            “udah marah-marahnya?” sahut Sivia cepat. kali ini Alvin menatap Sivia dengan pandangan bertanya. Sivia bukan hanya aneh, tapi sangat aneh.
            “kalo lo udah puas marahin gue, sekarang mending lo pergi kesekolah. Nanti lo telat” sinis Sivia.
            Saat Sivia akan melangkah pergi meninggalkan halaman rumahnya, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya dan menarikknya hingga berdekatan dengannya.
            “sekarang lo kasi tau gue, Via. Elo kenapa?”
            “lepasin tangan gue!” pinta Sivia sedikit keras. Alvin menggeleng cepat,
            “nggak sebelum lo ngomong lo kenapa”
            “udah gue bilang gue nggak apa-apa”
            “gue tau lo bohong Sivia Azizah. Dan jangan fikir gue begok, gue tau ada yang nggak beres dari lo”
            “sekali lagi gue bilang lepasin tangan gue dan tinggalin gue sendiri…”
            “VIA!!!” Teriak Alvin tak sabar.
            “GUE MAU SENDIRI ALVIN, PLIS NGERTIIN GUE!” Setetes air mata Sivia jatuh membasahi pipi chubbynya.
            Genggaman tangan Alvin pada pergelangan tangan Sivia mulai sedikit melonggar. Sivia tidak menyia-nyikan kesempatan itu. Karna beberapa saat kemudian, Sivia langsung menarik pergelangan tangannya dari genggaman Alvin.
            Sivia menyeka air matanya. Ia memejamkan kedua matanya sejenak seraya menghela nafas beratnya.
            “udah hampir jam 7 Vin, mending sekarang lo berangkat kesekolah. Gue nggak mau lo telat” kata Sivia lebih lembut lagi.
            Alvin mengangguk beberapa kali. Meski sulit memahami perubahan sikap Sivia, tapi Alvin mencoba tetap tenang dan berusaha untuk tidak membalas emosi Sivia dengan emosi juga. Alvin sama sekali tidak ingin sedikit saja emosinya akan membuat semuanya jadi kacau. Alvin lebih memilih untuk mengalah meskipun sangat bertentangan dengan kata hatinya.
            “ok, untuk kali ini gue ngalah, Vi. Tapi asal lo tau, gue ngalah bukan karna lo, tapi semata-mata karna gue mau mempertahankan apa yang udah kita jalanin selama 2 bulan ini. Gue nggak mau semuanya berakhir sia-sia. Dan meskipun gue nggak tau salah gue  apa sama lo, gue tetep minta maaf…”
            Alvin mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepala Sivia beberapa kali,
            “maafin gue ya, Jelek? Gue sayang lo” Alvin mendorong pelan kepala Sivia lantas mengecup puncak kepala Sivia untuk beberapa lama.
            Sivia memejamkan kedua matanya saat Alvin mengecup lembut puncak kepalanya. Air mata Sivia lagi-lagi menetes.
            “gue berangkat sekarang!”
            Alvinpun pergi meninggalkan rumah Sivia tanpa sekalipun menoleh kebalakang. Alvin berjalan dengan langkah yang cepat. seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Alvin merasakan rasa sesakit ini.
            Ketika jarak Alvin sudah lumayan jauh dari jaraknya sekarang, Siviapun mengejar langkah Alvin. Tapi sia-sia, karna sekarang Alvin bersama motornya sudah menghilang dari pandangan Sivia.
            Sivia terduduk lemah didepan gerbangnya. Isak tangisnya terdengar pelan,
            “maafin gue, Vin, maafin gue…. Maaf karna gue udah nyakitin lo, maaf…” lirih Sivia disela-sela isakkannya.


^_^

            “gimana keadaan lo?” Tanya Cakka yang tiba-tiba saja muncul disamping Sivia. Udah kayak jin botol aja. Sivia mengomel dalam hati.
            “udah agak baikan sih, Kka…” jawab Sivia cepat lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada novel yang sejak tadi ia baca.
            Cakka menyentuh kening Sivia dan berusaha merasakan suhu tubuhnya. Merasa terganggu dengan apa yang Cakka lakukan, Sivia buru-buru menepis tangan Cakka dari keningnya,
            “Cecak, gue udah bilang gue nggak apa-apa kan…. Eh, kok lo pulangnya pagi sih? Lo bolos ya?”
            Cakka membenahi posisi duduknya lalu menjawab pertanyaan Sivia,
            “terpaksa bolos sih sebenernya, habis didalem kelas gue kefikiran elo terus sih, jadi nggak konsen belajar” Cakka melirik kearah Sivia sejenak,
            “gue cemas sama keadaan lo” Cakka melanjutkan perkataannya dengan penuh kesungguhan. Jujur, Sivia merasa sedikit terharu ketika mendengarkan ucapan cakka barusan.
            “oh….” Gumam Sivia pelan,
            “gimana sama Alvin? Alvin udah tau?” Tanya Cakka berusaha mengalihkan topic.
            Sivia mengangkat kedua bahunya lalu menggeleng beberapa kali,
            “tadi Alvin kesini, Kka…” ujar Sivia pelan seraya memainkan ujung pakaian tidurnya.
            “terus?”
            “gue usir. Gue suruh pergi”
            “kok….?”
            “gue bingung Kka, gue nggak tau harus ngelakuin apa. Mau ngejelasin sama Alvin aja rasanya susah banget, gue juga nggak tau harus mulai darimana buat ngejelasin semuanya ke Alvin, gue bingung…. Disatu sisi, gue cinta banget sama Alvin, tapi disisi lain, ada Mama gue yang sangat mencintai Om Farish, Papa Alvin. Udah sejak lama Mama pengen nikah sama Om Farish, tapi sekarang apa gue tega mempertaruhkan keinginan Mama gue Cuma karna cinta gue ke Alvin? Sumpah, gue bingung Kka. Kayaknya gue emang harus nyerah aja deh….” Sivia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya lantas menunduk dalam.
            Cakka terdiam. Bukannya Cakka tidak mau menanggapai ucapan Sivia, hanya saja Cakka sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa pada Sivia. Menurut Cakka, masalah yang sekarang Sivia hadapi benar-benar sulit dan susah dimengerti. Andai Cakka bisa melakukan sesuatu untuk Sivia. Tapi Cakka tidak bisa, sekalipun dia ingin.
            “lo sendiri gimana sama Agni?” Tanya Sivia tiba-tiba yang langsung membuat Cakka terkesiap,
            “eh…”
            “iya, lo gimana sama Agni?”
            “kok jadi bawa-bawa gue sama Agni sih?” kata Cakka bingung, Sivia tersenyum kecil,
            “udah saatnya Kka lo nyari seorang pacar. Emang dari sekian banyak cewek yang ngefans sama lo nggak ada satupun gitu yang nyantol dihati lo?”
            Cakka menggeleng. Bagaimana bisa Cakka jatuh cinta pada Gadis lain sementara dihatinya hanya terukir satu nama yang mungkin selamanya tidak akan pernah terhapus dan tidak akan pernah tergantikan. Selama-lamanya. Dan nama itu tentu saja milik Sivia.
            “ato jangan-jangan lo homo ya?” gurau Sivia. Cakka langsung menatap Sivia dengan tajam.
            “haha… Viss!” ujar Sivia seraya mengacungkan kedua jarinya dan dengan disertai oleh suara tawa yang berusaha ia paksakan.
            “sebenernya ada satu cewek yang gue sayang, bahkan gue cinta” ucap Cakka tiba-tiba.
            Perkataan dari Cakka itu sukses membuat suara tawa Sivia terhenti seketika. Cakka mencintai seorang Gadis? Siapa? Kenapa Sivia tidak tahu sama sekali? Dan kenapa Cakka tidak pernah bercerita selama ini?
            “siapa??” Tanya Sivia yang mulai digeletiki oleh rasa penasaran. Cakka tersenyum penuh arti pada Sivia,
            “lo nggak perlu tau lah”
            “iiiii….. Cakka jahaaatt!!!” rengek Sivia dengan suara manjanya.
            Cakka terkekeh geli lantas beringsut dari sofa yang ia duduki. Setelah berdiri dihadapan Sivia, Cakka langsung mengulurkan tangan kananya pada Si Bawel itu.
            “ikut gue yuk!”
            Sivia melirik sebentar kearah tangan Cakka yang terulur,
            “kemana?”
            “kesuatu tempat. Yang jelas hari ini gue mau bikin lo seneng. Gue mau ngehibur lo”
            Sivia terlihat berfikir sejenak. Tidak lama Sivia tersenyum lantas menyambut uluran tangan Cakka.


^_^
            Alvin mendrible bolanya dengan keras. Bayang-bayang wajah Sivia terus berpendar diingatannya dan membuat jantungnya semakin terasa sakit. Jujur saja, sampai saat ini Alvin masih belum mengerti dengan perubahan sikap Sivia. Sepanjang hari ini Alvin terus berfikir kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga membuat Sivia berubah dingin seperti itu.
            Sekarang Alvin tau bagaimana rasanya diacuhkan oleh seseorang yang sangat ia sendiri sayangi. Dulu Alvin pernah melakukan hal ini pada Sivia, dan sekarang giliran ia yang merasakan, Alvin malah merasa tidak sanggup menanggung semuanya. Rasanya sakit sekali.
            Alvin meloncat lalu memasukan bola yang sejak tadi ia drible kedalam ring. Bola itu memasuki ring dengan sempurna tanpa meleset sedikitpun.
            Alvin membiarkan bola itu terpental beberapa kali dilapangan hingga akhirnya menggelinding entah kemana. Alvin menunduk sambil menopang kedua lututnya. Alvin berusaha mengatur nafas yang terdengar tidak teratur. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
            “terserah elo mau ngelakuin apa aja, Vi. Gue nggak peduli. Tapi, jangan pernah berfikir gue akan melepaskan lo. Selamanya elo Cuma boleh jadi milik gue, dan apapun nggak boleh ngubah itu….”


^_^

            Cakka membawa Sivia kesebuah lapangan hijau yang luas. Hari ini Cakka benar-benar ingin menyenangkan hati Sivia. Meskipun tidak bisa membantu Sivia sepenuhnya, tapi setidaknya Cakka akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa mengurangi sakit yang kini mendera Sivia.
            Sivia menatap kesekeliling lapangan, tidak ada satupun hal menarik yang bisa ditangkap olehnya. Menyadari apa yang tengah Sivia fikirkan, Cakka hanya bisa tersenyum,
            “ngapain lo bawa gue kelapangan kosong kayak gini?”
            “tunggu bentar ya disini? Bentaaarr aja. Jangan kemana-mana! Awas lo” kata Cakka lalu berlari meninggalkan Sivia sebelum Sivia sempat menghentikannya.
            Sivia hanya pasrah dan menanti hal apa yang akan Cakka lakukan padanya. Beberapa menit kemudian, Cakka kembali lagi seraya membawa 2 buah layangan lengkap dengan talinya. Dengan wajah yang ceria layaknya anak kecil, Cakka menghampiri Sivia.
            “layangan??” Tanya Sivia heran,
            “lo lupa? Dulu kan pas masih kecil, lo suka ngerengek sama gue minta diajakin maen layangan, terus pas tali layangan lo putus lo pasti bakalan nangis-nangisan dan minta layangan gue…”
            Sivia tertawa kecil ketika mengingat masa kecilnya bersama Cakka. Cakka mengulurkan layangan yang satunya lagi dihadapan Sivia. Dengan senang hati Siviapun menerima layangan pemberian Cakka.
            Cakka dan dan Sivia berdiri ditengah-tengah lapangan memainkan layangan mereka masing-masing. Sesekali Sivia berjalan mundur bahkan sampa berlari kecil mengikuti gerak layangannya. Tawa Sivia pecah seketika, dan jujur, Cakka merasa begitu damai ketika mendengar suara tawa lepas Sivia. Tidak ada yang lebih penting lagi bagi Cakka selain bisa mendengar tawa nyaring Sivia juga bisa melihat senyuman manisnnya yang selalu merekah indah menghiasi wajah cantiknya.
            Cakka menatap Sivia sejenak. Dalam hati Cakka berjanji, semua ini hanyalah bagian-bagian kecil dari kebahagiaan yang nantinya akan Cakka berikan pada Sivia.
            Setelah merasa puas bermain layangan, Cakka dan Siviapun duduk ditengah lapangan sambil memeluk lutut mereka masing-masing. Setelah cukup lama terjadi keheningan diantara mereka, Sivia akhirnya buka suara,
            “makasih ya, Kka?”
            “buat?”
            “ya buat semuanya. Lo itu bukan Cuma sahabat gue Kka, tapi malaikat pelindung gue, dan gue bener-bener nggak bisa bayangin gimana hidup gue jika tanpa lo….” Lirih Sivia dengan suara sedikit bergetar.
            Cakka tersenyum miris, tanpa sadar mulutnya berucap,
            “Vi, apa gue boleh mencintai lo?”
            Sivia tersentak, ia langsung melirik tajam kearah Cakka. Apa yang baru saja Cakka tanyakan padanya? Sivia benar-benar tidak mengerti.
            “ma… maksud lo?”
            Cakka merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan. Pertanyaan macam apa yang Cakka tanyakan pada Sivia? Itu sih sama saja artinya Cakka menelanjangi perasaannya didepan Sivia. Dan Cakka sadar, Cakka tidak boleh melakukan hal itu.
            Cakka membalas tatapan Sivia. Ia berusaha terlihat biasa saja dan berusaha bersikap sewajar mungkin,
            “nggak apa-apa, gue Cuma asal nyablak aja tadi, hehe….” Kata Cakka dengan diiringi oleh cengiran khasnya.
            Sivia mengangguk beberapa kali. Meskipun agak sanksi dengan ucapan Cakka barusan, tapi Sivia berusaha untuk mempercayai Cakka seratus persen. Cakka sahabatnya, malaikat pelindungnya. Jadi sudah sewajarnya Sivia menyerahkan seluruh kepercayaannya pada Cakka.
            Tiba-tiba, Sivia bangkit dari duduknya lalu meminta Cakka untuk berdiri dihadapannya. Tanpa banyak bicara lagi, Cakka langsung berdiri dihadapan Sivia. Sivia menatap Cakka sejenak lalu membawa dirinya kedalam pelukan Cakka.
            Cakka sempat terkejut dengan apa yang Sivia lakukan, tapi itu tidak lama, karna setelahnya Cakka buru-buru membalas pelukan Sivia,
            “Via sayang Cakka…. Via sahabat Cakka selamanya….” Bisik Sivia pelan didepan telinga Cakka. Cakka diam, ia lebih memilih untuk tidak membalas ucapan Sivia. Selamanya status dan posisi Cakka dihati Sivia tidak akan pernah berubah, dan apapun tidak akan pernah bisa mengubahnya. Selamanya pula, Cakka hanya akan menjadi sahabat Sivia, malaikat pelindung bagi Sivia, tidak akan pernah lebih dari itu.
            “gue boleh minta sesuatu sama lo, Vi…?”
            “apapun…” jawab Sivia seraya tetap memeluk Cakka,
            “jangan nangis lagi ya? Gue paling nggak suka ngeliat lo nangis”
            Sivia menghela nafas panjang lalu membalas perkataan Cakka,
            “gue nggak bisa janji. Tapi, gue akan usaha, demi elo, demi persahabatan kita….”
            “iya, demi persahabatan kita….” Sahut Cakka.




                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment