Sedikit demi sedikit hujan mulai reda
meski tidak reda sepenuhnya. Sivia duduk diatas bukit sendirian sambil menangis
tersedu. Menangisi kenyataan yang kini ia hadapi. Tangis Sivia semakin menjadi
saat semua kebersamaan demi kebersamaan yang telah ia lalui bersama Alvin
kembali berkelebat dikepalanya. Sesak itu semakin kuat menyiksa dada Sivia.
Alvin…. Sivia benar-benar sangat
mencintainya. Apapun bisa Sivia hadapi asal bisa berada disisi Alvin untuk
seterusnya, tapi tidak dengan kenyataan ini. Kenyataan yang sekarang Sivia
hadapi benar-benar sulit ia mengerti. Ia memang sangat mencintai Alvin,
melebihi apapun. Tetapi, Mama nya juga begitu mencintai Papa Alvin. Apa Sivia
harus menyerah dan mengalah begitu saja?
Sivia memegangi kepalanya, isak
tangisnya semakin pecah. Seakan mengerti dengan kesakitan yang Sivia rasakan
saat ini, Langitpun kembali menangis. Hujan turun dengan lebatnya dan kembali
mengguyur tubuh Sivia.
Tiba-tiba Sivia merasakan ada
seseorang yang memayunginya, melindunginya dari guyuran hujan. Sivia mengangkat
wajahnya dan mendapati Cakka yang waktu tengah berdiri dihadapannya dengan
tatapan mata yang sendu. Cakka memayungi tubuh Sivia dan membiarkan tubuhnya
sendiri yang terguyur hujan. Melihat kehadiran Cakka, tangis Sivia malah
semakin pecah,
“lo kenapa, Vi? Lo bisa kan cerita
sama gue?”
Sivia diam, tidak menjawab
pertanyaan Cakka sama sekali. Cakka lalu duduk disamping Sivia, ia membuka
jaketnya yang belum terlalu kuyup lalu memasangkannya pada tubuh lemah Sivia.
“Alvin lagi??” Tanya Cakka sekali
lagi. Sivia menggeleng berkali-kali lalu menghambur kedalam pelukan Cakka.
Sebisa mungkin Cakka berusaha memegangi payung itu seerat mungkin agar tidak
terjatuh.
“lo kenapa, Vi?”
“Alvin, Kka…. Alvin… Alvin
ternyata—“
“Alvin? Kenapa?”
“hik… hik… hik… Alvin ter… ternyata
Calon saudara tiri gue, Cakka….” Dengan susah payah Sivia akhirnya bisa
menyelesaikan perkataannya.
Cakka kaget dan semakin mempererat
dekapannya pada Sivia. Alvin calon saudara tiri Sivia? Bagaimana semua ini bisa
terjadi? Tapi Cakka belum mampu mengeluarkan sepatah katapun. Melihat Sivia
menangis seperti ini benar-benar membuat Cakka rapuh.
Cakka mengusap lengan Sivia beberapa
kali untuk memberikannya sedikit kehangatan dan ketenangan. Dengan pelan Cakka
berucap,
“ya, udah kita pulang yuk! Ceritanya
nanti dirumah aja. Kasian lo udah basah kuyup kayak gini, nanti lo sakit. Lo
nggak mau sakit kan?”
Sivia menggeleng cepat,
“gue nggak mau pulang Kka, gue takut
Mama marah gara-gara tadi gue kabur dari resotan, hiks…”
“nggak, Tante nggak akan marah. Kan
ada gue, lo percaya ya sama gue?”
Sekali lagi Sivia menggeleng,
“nggak, gue tetep nggak mau”
Cakka menghela nafas beratnya lalu
membelai lembut rambut Sivia yang basah,
“ya udah, kalo gitu pulang kerumah
gue yuk…”
^_^
Tubuh lemah Sivia sudah terbaring
diatas tempat tidur milik Cakka dengan kedua mata terpejam. Sivia mengenakan
baju kaos Cakka juga celana training Cakka yang sedikit kebesaran untuk ukuran
tubuhnya. Sebuah kain kompres yang mulai sedikit mengering bertengger diatas keningnya.
Sekujur tubuh Sivia menggigil kedinginan saat Cakka membawanya pulang tadi. Dan
ketika tahu kalau Sivia demam, Cakka langsung panic.
Cakka menatap wajah Sivia dengan
pandangan sayu. Cakka benar-benar merasa tidak sanggup melihat Gadis bawelnya
berada dalam kondisi seperti sekarang ini. Jika bisa, rasanya Cakka ingin
sekali menggantikan posisi Sivia detik ini juga.
Cakka meraih tangan Sivia yang
terasa dingin. Cakka menggenggamnya kuat-kuat lantas mengecupnya lama.
“kalo udah seperti ini gue harus
gimana, Vi?Apa yang harus gue lakuin? Jujur gue bingung. Maafin gue, Vi…. Saat
ini otak gue bener-bener buntu, gue nggak tau harus ngelakuin apa. Maafin gue,
maaf karna gue nggak bisa jadi sahabat yang baik buat lo, Vi. Maaf….” Ucap
Cakka lirih tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Sivia.
“seandainya waktu itu lo selangkah
lebih maju dari Alvin, mungkin ini semua nggak bakalan terjadi….”
Ucap Mas Elang yang sejak tadi
berdiri didepan pintu kamar Cakka. Mas Elang memang mengetahui segalanya antara
Sivia dan Cakka. Mas Elang tahu betul bagaimana perasaan Cakka pada Sivia.
Sejak awal Mas Elang selalu berusaha untuk memberikan Cakka dorongan agar mau
mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya pada Sivia, tapi Cakka selalu saja
keras kepala.
“dia nggak cinta sama gue, Mas. Mau kayak
apapun dia tetep nggak cinta sama
gue" ujar Cakka tanpa sedikitpun menoleh kearah Mas Elang.
“itu kan kata lo…”
“tapi faktanya yang Sivia cinta itu
Cuma Alvin”
“itu juga karna kesalahan lo yang
selalu berusaha nutup-nutupin perasaan lo didepan Sivia”
“Cukup, Mas! Nggak usah bahas itu
lagi, nanti Sivia denger”
“terserah elo” Mas Elangpun akhirnya
meninggalkan kamar Cakka.
Cakka menghela nafas panjang dan
kembali mengalihkan perhatiannya pada Sivia. Jika sudah menatap Gadis Bawel ini
lekat-lekat seperti ini, Cakka seakan lupa waktu. Ia merasa jarum jam tidak
berdetak lagi saat kedua matanya menelusuri setiap lekuk kecantikan Sivia.
^_^
Secara mengejutkan Denita memasuki
kamar Cakka. Cakka yang kaget langsung menoleh kebelakang ketika mendengar ada
suara seseorang yang membuka pintu kamarnya tanpa mengetok terlebih dahulu,
“Via, bangun kamu, Via!!” Ucap
Denita sedikit keras.
Denita merasa benar-benar marah pada
Sivia saat tahu bahwa Sivia kabur dari Restoran tanpa sepengetahuannya.
Bagaimana Denita tidak marah? Setelah Farish berusaha mati-matian membujuk
Alvin supaya mau berkenalan dengannya hingga akhirnya Alvin luluh, malah
sekarang Sivia yang kabur.
“Tante, jangan keras-keras Tan, Via
lagi sakit” ucap Cakka setengah berbisik berusaha menenangkan Denita.
“Sa… sakit? Kok bisa?” Tanya Denita
cemas.
Denita yang awalnya diselimuti oleh
amarah langsung cemas seketika saat Cakka mengatakan bahwa Sivia sakit. Sebelum
Cakka menjawab pertanyaannya, Denita buru-buru menghampiri Sivia dan duduk
disamping anak sulungnya itu,
“Via… kok kamu bisa sakit sih,
sayang??”
“tadi, Via pulang dalam keadaan
ujan-ujanan Tante, makanya langsung sakit” jawab Cakka apa adanya,
“kamu tau kenapa Sivia pulang
terlebih dahulu, Cakka?” Tanya Denita pada Cakka.
Otak Cakka langsung berfikir dengan
cepat. jika ia jujur sekarang, pasti urusannya akan semakin runyam. Apalagi kan
Cakka belum sempat berdiskusi apa-apa dengan Sivia mengenai masalah ini. Tapi
Cakka yakin, Sivia pasti tidak menginginkannya untuk jujur kepada Mamanya.
Cakkapun mulai memutar otak. Mencari
alasan yang tepat untuk melindungi Sivia dari amarah Mamanya. Tidak lama….
“kita ada tugas kelompok yang harus
kita kumpulin besok pagi. Tapi tadi sebelum Via berangkat ke restoran sama
Tante, aku lupa ngasih tau Via kalo malem ini kita bakalan nyelesein tugas
bareng. Makanya tadi aku nelpon Via buru-buru dan minta supaya Via pulang,
soalnya kan buku tugas Via yang pegang, Tante. Tapi ternyata sepulangnya Via
dari restoran, Via malah kehujanan dan basa kuyup kayak gini. Via demam dan aku
langsung minta Bi Imah buat ganti baju Via pake baju aku untuk sementara”
Sempurna. Kebohongan Cakka
benar-benar sangat sempurna. Bahkan Cakka tidak perlu repot-repot meyakinkan
Denita dengan cara-cara yang aneh, karna kinipun Denita sudah mempercayainya
seratus persen. Dalam hati sebenarnya Cakka merasa sangat bersalah. Tapi mau
bagaimana lagi? Cakka tidak memiliki cara lain untuk melindungi Sivia selain
harus membohongi Denita.
“tapi syukurlah Kka kamu cepet-cepet
nolongin Via, kalo nggak, mungkin sekarang Via bakalan lebih parah dari ini…”
Cakka menghela nafas lega. Ia
mengusap dada beberapa kali lantas bergumam dalam hati,
“maafin aku, Tante…..”
^_^
Alvin membanting keras handphonenya
diatas kasur dengan kekesalan yang sudah mencapai puncak klimaks. Sejak semalam
ia berusaha menelpon Sivia, tapi Sivia tidak juga mengangkat telfonnya. SMS
dari Alvin juga sama sekali tidak balas oleh Sivia.
Alvin bingung. Ada apa sebenarnya
dengan Si Jelek itu? Apa mungkin Sivia marah pada Alvin karna kemarin selama
seharian penuh mereka tidak bertemu.
Alvin terduduk dipinggir tempat
tidurnya sembari berfikir.
“awas lo Jelek! Jangan harep lo
bakalan bebas dari gue hari ini…” ucap Alvin lebih kepada dirinya sendiri.
Alvin bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar menuju meja makan.
^_^
“gimana semalem pertemuanmu dengan
keluarga Tante Denita?” Tanya Mama saat Alvin baru saja duduk meja makan.
Alvin meraih roti beserta selai cokelat yang ada
dihadapannya,
“nggak seru, Ma” jawab Alvin
seadanya seraya mengoleskan selai cokelat pada rotinya,
“nggak seru gimana?” Tanya Mama
–lagi-
“ya gitu, anak sulungnya Tante
Denita kabur sebelum kita sempet kenalan”
“kabur? Kok bisa?”
Alvin mengangkat kedua bahunya tanda
ketidakpeduliannya,
“tau deh, Ma. Yang jelas Alvin
bersyukur banget anaknya Tante Denita kabur, dengan begitukan Alvin nggak perlu
susah-susah nyari cara buat ngacauin acara semalem…”
“sttt… Alvin, jangan sembarangan
ngomong deh”
“emang fakta kok Ma. Si Anaknya
Tante Denita itu juga nggak setuju kali dengan acara perkenalan semalam…”
“udah ah, ganti topic, tiap kali
ngomongin masalah Papa kamu sama Tante Denita kamu selalu aja kayak gini. Oya,
kapan nih kamu mau bawa Via kesini? Mama pengen deh ketemu lagi sama pacar
kamu”
“tenang, nanti Via nya Alvin bawa’in
deh…”
“janji ya?”
Alvin mengangkat wajahnya lantas
menatap Mamanya sambil tersenyum,
“janji, Ma….”
^_^
Alvin menghentikan motornya tepat
didepan rumah Sivia. Kedua mata Alvin langsung menangkap siluet Sivia yang saat
itu tengah asyik menyiram bunga dihalaman rumahnya. Yang membuat Alvin heran
adalah, sampai jam segini Sivia masih belum siap. Bahkan Sivia masih mengenakan
pakaian tidurnya. Apa Gadis itu sakit dan berniat untuk tidak masuk sekolah
hari ini?
Alvin turun dari motornya lalu
berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah Sivia. Posisi Sivia yang saat itu membelakangi
Alvin membuat Sivia belum menyadari kehadiran Alvin.
“lo marah?” Tanya Alvin yang
tiba-tiba saja sudah berdiri dengan tegak disamping Sivia. Sivia menghentikan
aktifitasnya menyiram bunga lantas menoleh kearah Alvin,
“elo?” kata Sivia pelan. wajah Sivia
terlihat sedikit pucat, dan hal itu semakin membuat Alvin heran. Alvin
memegangi wajah Sivia,
“Via, elo kok pucet? Lo sakit? Sakit
apa?”
Sivia berdecak pelan lantas
menurunkan kedua tangan Alvin dari wajahnya.
“gue nggak sakit” jawab Sivia
dingin.
“lo bohong!”
“terserah elo mau percaya ato nggak.
Ngapain lo kerumah gue?”
Sikap Sivia pagi ini benar-benar
sangat aneh dan membuat Alvin bertanya-tanya. Bukankah baru kemarin Alvin
berjanji bahwa pagi ini ia akan mejemput Sivia dan berkenalan langsung dengan
Mamanya. Apa Sivia lupa? Atau jangan-jangan Sivia benar-benar marah gara-gara
kemarin Alvin menghilang.
“Lo kenapa sih berubah aneh, Vi?
Dari semalem gue telfon lo nggak angkat, gue sms juga lo nggak bales, dan
sekarang gue kerumah lo buat ngejemput lo, lo malah nanya gue kesini mau
ngapain. Ada apa sih? Apa lo marah gara-gara kemarin gue ilang? gue kan udah
minta maaf” ucap Alvin sedikit emosi.
“udah marah-marahnya?” sahut Sivia
cepat. kali ini Alvin menatap Sivia dengan pandangan bertanya. Sivia bukan
hanya aneh, tapi sangat aneh.
“kalo lo udah puas marahin gue,
sekarang mending lo pergi kesekolah. Nanti lo telat” sinis Sivia.
Saat Sivia akan melangkah pergi
meninggalkan halaman rumahnya, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya
dan menarikknya hingga berdekatan dengannya.
“sekarang lo kasi tau gue, Via. Elo
kenapa?”
“lepasin tangan gue!” pinta Sivia
sedikit keras. Alvin menggeleng cepat,
“nggak sebelum lo ngomong lo kenapa”
“udah gue bilang gue nggak apa-apa”
“gue tau lo bohong Sivia Azizah. Dan
jangan fikir gue begok, gue tau ada yang nggak beres dari lo”
“sekali lagi gue bilang lepasin
tangan gue dan tinggalin gue sendiri…”
“VIA!!!” Teriak Alvin tak sabar.
“GUE MAU SENDIRI ALVIN, PLIS
NGERTIIN GUE!” Setetes air mata Sivia jatuh membasahi pipi chubbynya.
Genggaman tangan Alvin pada
pergelangan tangan Sivia mulai sedikit melonggar. Sivia tidak menyia-nyikan
kesempatan itu. Karna beberapa saat kemudian, Sivia langsung menarik
pergelangan tangannya dari genggaman Alvin.
Sivia menyeka air matanya. Ia
memejamkan kedua matanya sejenak seraya menghela nafas beratnya.
“udah hampir jam 7 Vin, mending
sekarang lo berangkat kesekolah. Gue nggak mau lo telat” kata Sivia lebih
lembut lagi.
Alvin mengangguk beberapa kali.
Meski sulit memahami perubahan sikap Sivia, tapi Alvin mencoba tetap tenang dan
berusaha untuk tidak membalas emosi Sivia dengan emosi juga. Alvin sama sekali
tidak ingin sedikit saja emosinya akan membuat semuanya jadi kacau. Alvin lebih
memilih untuk mengalah meskipun sangat bertentangan dengan kata hatinya.
“ok, untuk kali ini gue ngalah, Vi.
Tapi asal lo tau, gue ngalah bukan karna lo, tapi semata-mata karna gue mau
mempertahankan apa yang udah kita jalanin selama 2 bulan ini. Gue nggak mau
semuanya berakhir sia-sia. Dan meskipun gue nggak tau salah gue apa sama lo, gue tetep minta maaf…”
Alvin mengangkat tangannya lalu
mengusap puncak kepala Sivia beberapa kali,
“maafin gue ya, Jelek? Gue sayang
lo” Alvin mendorong pelan kepala Sivia lantas mengecup puncak kepala Sivia
untuk beberapa lama.
Sivia memejamkan kedua matanya saat
Alvin mengecup lembut puncak kepalanya. Air mata Sivia lagi-lagi menetes.
“gue berangkat sekarang!”
Alvinpun pergi meninggalkan rumah
Sivia tanpa sekalipun menoleh kebalakang. Alvin berjalan dengan langkah yang
cepat. seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Alvin merasakan rasa sesakit
ini.
Ketika jarak Alvin sudah lumayan
jauh dari jaraknya sekarang, Siviapun mengejar langkah Alvin. Tapi sia-sia,
karna sekarang Alvin bersama motornya sudah menghilang dari pandangan Sivia.
Sivia terduduk lemah didepan
gerbangnya. Isak tangisnya terdengar pelan,
“maafin gue, Vin, maafin gue…. Maaf
karna gue udah nyakitin lo, maaf…” lirih Sivia disela-sela isakkannya.
^_^
“gimana keadaan lo?” Tanya Cakka
yang tiba-tiba saja muncul disamping Sivia. Udah kayak jin botol aja. Sivia
mengomel dalam hati.
“udah agak baikan sih, Kka…” jawab
Sivia cepat lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada novel yang sejak tadi ia
baca.
Cakka menyentuh kening Sivia dan
berusaha merasakan suhu tubuhnya. Merasa terganggu dengan apa yang Cakka
lakukan, Sivia buru-buru menepis tangan Cakka dari keningnya,
“Cecak, gue udah bilang gue nggak
apa-apa kan…. Eh, kok lo pulangnya pagi sih? Lo bolos ya?”
Cakka membenahi posisi duduknya lalu
menjawab pertanyaan Sivia,
“terpaksa bolos sih sebenernya,
habis didalem kelas gue kefikiran elo terus sih, jadi nggak konsen belajar”
Cakka melirik kearah Sivia sejenak,
“gue cemas sama keadaan lo” Cakka
melanjutkan perkataannya dengan penuh kesungguhan. Jujur, Sivia merasa sedikit
terharu ketika mendengarkan ucapan cakka barusan.
“oh….” Gumam Sivia pelan,
“gimana sama Alvin? Alvin udah tau?”
Tanya Cakka berusaha mengalihkan topic.
Sivia mengangkat kedua bahunya lalu
menggeleng beberapa kali,
“tadi Alvin kesini, Kka…” ujar Sivia
pelan seraya memainkan ujung pakaian tidurnya.
“terus?”
“gue usir. Gue suruh pergi”
“kok….?”
“gue bingung Kka, gue nggak tau
harus ngelakuin apa. Mau ngejelasin sama Alvin aja rasanya susah banget, gue
juga nggak tau harus mulai darimana buat ngejelasin semuanya ke Alvin, gue
bingung…. Disatu sisi, gue cinta banget sama Alvin, tapi disisi lain, ada Mama
gue yang sangat mencintai Om Farish, Papa Alvin. Udah sejak lama Mama pengen
nikah sama Om Farish, tapi sekarang apa gue tega mempertaruhkan keinginan Mama
gue Cuma karna cinta gue ke Alvin? Sumpah, gue bingung Kka. Kayaknya gue emang harus
nyerah aja deh….” Sivia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya
lantas menunduk dalam.
Cakka terdiam. Bukannya Cakka tidak
mau menanggapai ucapan Sivia, hanya saja Cakka sudah tidak tahu lagi harus
berbicara apa pada Sivia. Menurut Cakka, masalah yang sekarang Sivia hadapi
benar-benar sulit dan susah dimengerti. Andai Cakka bisa melakukan sesuatu
untuk Sivia. Tapi Cakka tidak bisa, sekalipun dia ingin.
“lo sendiri gimana sama Agni?” Tanya
Sivia tiba-tiba yang langsung membuat Cakka terkesiap,
“eh…”
“iya, lo gimana sama Agni?”
“kok jadi bawa-bawa gue sama Agni
sih?” kata Cakka bingung, Sivia tersenyum kecil,
“udah saatnya Kka lo nyari seorang
pacar. Emang dari sekian banyak cewek yang ngefans sama lo nggak ada satupun
gitu yang nyantol dihati lo?”
Cakka menggeleng. Bagaimana bisa
Cakka jatuh cinta pada Gadis lain sementara dihatinya hanya terukir satu nama
yang mungkin selamanya tidak akan pernah terhapus dan tidak akan pernah
tergantikan. Selama-lamanya. Dan nama itu tentu saja milik Sivia.
“ato jangan-jangan lo homo ya?”
gurau Sivia. Cakka langsung menatap Sivia dengan tajam.
“haha… Viss!” ujar Sivia seraya
mengacungkan kedua jarinya dan dengan disertai oleh suara tawa yang berusaha ia
paksakan.
“sebenernya ada satu cewek yang gue
sayang, bahkan gue cinta” ucap Cakka tiba-tiba.
Perkataan dari Cakka itu sukses
membuat suara tawa Sivia terhenti seketika. Cakka mencintai seorang Gadis?
Siapa? Kenapa Sivia tidak tahu sama sekali? Dan kenapa Cakka tidak pernah
bercerita selama ini?
“siapa??” Tanya Sivia yang mulai
digeletiki oleh rasa penasaran. Cakka tersenyum penuh arti pada Sivia,
“lo nggak perlu tau lah”
“iiiii….. Cakka jahaaatt!!!” rengek
Sivia dengan suara manjanya.
Cakka terkekeh geli lantas beringsut
dari sofa yang ia duduki. Setelah berdiri dihadapan Sivia, Cakka langsung
mengulurkan tangan kananya pada Si Bawel itu.
“ikut gue yuk!”
Sivia melirik sebentar kearah tangan
Cakka yang terulur,
“kemana?”
“kesuatu tempat. Yang jelas hari ini
gue mau bikin lo seneng. Gue mau ngehibur lo”
Sivia terlihat berfikir sejenak.
Tidak lama Sivia tersenyum lantas menyambut uluran tangan Cakka.
^_^
Alvin mendrible bolanya dengan
keras. Bayang-bayang wajah Sivia terus berpendar diingatannya dan membuat jantungnya
semakin terasa sakit. Jujur saja, sampai saat ini Alvin masih belum mengerti
dengan perubahan sikap Sivia. Sepanjang hari ini Alvin terus berfikir kesalahan
apa yang telah ia lakukan hingga membuat Sivia berubah dingin seperti itu.
Sekarang Alvin tau bagaimana rasanya
diacuhkan oleh seseorang yang sangat ia sendiri sayangi. Dulu Alvin pernah
melakukan hal ini pada Sivia, dan sekarang giliran ia yang merasakan, Alvin
malah merasa tidak sanggup menanggung semuanya. Rasanya sakit sekali.
Alvin meloncat lalu memasukan bola
yang sejak tadi ia drible kedalam ring. Bola itu memasuki ring dengan sempurna
tanpa meleset sedikitpun.
Alvin membiarkan bola itu terpental
beberapa kali dilapangan hingga akhirnya menggelinding entah kemana. Alvin
menunduk sambil menopang kedua lututnya. Alvin berusaha mengatur nafas yang
terdengar tidak teratur. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
“terserah elo mau ngelakuin apa aja,
Vi. Gue nggak peduli. Tapi, jangan pernah berfikir gue akan melepaskan lo.
Selamanya elo Cuma boleh jadi milik gue, dan apapun nggak boleh ngubah itu….”
^_^
Cakka membawa Sivia kesebuah
lapangan hijau yang luas. Hari ini Cakka benar-benar ingin menyenangkan hati
Sivia. Meskipun tidak bisa membantu Sivia sepenuhnya, tapi setidaknya Cakka
akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa mengurangi sakit yang kini mendera
Sivia.
Sivia menatap kesekeliling lapangan,
tidak ada satupun hal menarik yang bisa ditangkap olehnya. Menyadari apa yang
tengah Sivia fikirkan, Cakka hanya bisa tersenyum,
“ngapain lo bawa gue kelapangan
kosong kayak gini?”
“tunggu bentar ya disini? Bentaaarr
aja. Jangan kemana-mana! Awas lo” kata Cakka lalu berlari meninggalkan Sivia
sebelum Sivia sempat menghentikannya.
Sivia hanya pasrah dan menanti hal
apa yang akan Cakka lakukan padanya. Beberapa menit kemudian, Cakka kembali
lagi seraya membawa 2 buah layangan lengkap dengan talinya. Dengan wajah yang
ceria layaknya anak kecil, Cakka menghampiri Sivia.
“layangan??” Tanya Sivia heran,
“lo lupa? Dulu kan pas masih kecil,
lo suka ngerengek sama gue minta diajakin maen layangan, terus pas tali
layangan lo putus lo pasti bakalan nangis-nangisan dan minta layangan gue…”
Sivia tertawa kecil ketika mengingat
masa kecilnya bersama Cakka. Cakka mengulurkan layangan yang satunya lagi
dihadapan Sivia. Dengan senang hati Siviapun menerima layangan pemberian Cakka.
Cakka dan dan Sivia berdiri
ditengah-tengah lapangan memainkan layangan mereka masing-masing. Sesekali
Sivia berjalan mundur bahkan sampa berlari kecil mengikuti gerak layangannya.
Tawa Sivia pecah seketika, dan jujur, Cakka merasa begitu damai ketika
mendengar suara tawa lepas Sivia. Tidak ada yang lebih penting lagi bagi Cakka
selain bisa mendengar tawa nyaring Sivia juga bisa melihat senyuman manisnnya
yang selalu merekah indah menghiasi wajah cantiknya.
Cakka menatap Sivia sejenak. Dalam
hati Cakka berjanji, semua ini hanyalah bagian-bagian kecil dari kebahagiaan
yang nantinya akan Cakka berikan pada Sivia.
Setelah merasa puas bermain
layangan, Cakka dan Siviapun duduk ditengah lapangan sambil memeluk lutut
mereka masing-masing. Setelah cukup lama terjadi keheningan diantara mereka,
Sivia akhirnya buka suara,
“makasih ya, Kka?”
“buat?”
“ya buat semuanya. Lo itu bukan Cuma
sahabat gue Kka, tapi malaikat pelindung gue, dan gue bener-bener nggak bisa
bayangin gimana hidup gue jika tanpa lo….” Lirih Sivia dengan suara sedikit
bergetar.
Cakka tersenyum miris, tanpa sadar
mulutnya berucap,
“Vi, apa gue boleh mencintai lo?”
Sivia tersentak, ia langsung melirik
tajam kearah Cakka. Apa yang baru saja Cakka tanyakan padanya? Sivia
benar-benar tidak mengerti.
“ma… maksud lo?”
Cakka merutuki kebodohan yang baru
saja ia lakukan. Pertanyaan macam apa yang Cakka tanyakan pada Sivia? Itu sih
sama saja artinya Cakka menelanjangi perasaannya didepan Sivia. Dan Cakka
sadar, Cakka tidak boleh melakukan hal itu.
Cakka membalas tatapan Sivia. Ia
berusaha terlihat biasa saja dan berusaha bersikap sewajar mungkin,
“nggak apa-apa, gue Cuma asal nyablak
aja tadi, hehe….” Kata Cakka dengan diiringi oleh cengiran khasnya.
Sivia mengangguk beberapa kali.
Meskipun agak sanksi dengan ucapan Cakka barusan, tapi Sivia berusaha untuk
mempercayai Cakka seratus persen. Cakka sahabatnya, malaikat pelindungnya. Jadi
sudah sewajarnya Sivia menyerahkan seluruh kepercayaannya pada Cakka.
Tiba-tiba, Sivia bangkit dari
duduknya lalu meminta Cakka untuk berdiri dihadapannya. Tanpa banyak bicara
lagi, Cakka langsung berdiri dihadapan Sivia. Sivia menatap Cakka sejenak lalu
membawa dirinya kedalam pelukan Cakka.
Cakka sempat terkejut dengan apa
yang Sivia lakukan, tapi itu tidak lama, karna setelahnya Cakka buru-buru
membalas pelukan Sivia,
“Via sayang Cakka…. Via sahabat
Cakka selamanya….” Bisik Sivia pelan didepan telinga Cakka. Cakka diam, ia
lebih memilih untuk tidak membalas ucapan Sivia. Selamanya status dan posisi
Cakka dihati Sivia tidak akan pernah berubah, dan apapun tidak akan pernah bisa
mengubahnya. Selamanya pula, Cakka hanya akan menjadi sahabat Sivia, malaikat
pelindung bagi Sivia, tidak akan pernah lebih dari itu.
“gue boleh minta sesuatu sama lo,
Vi…?”
“apapun…” jawab Sivia seraya tetap
memeluk Cakka,
“jangan nangis lagi ya? Gue paling
nggak suka ngeliat lo nangis”
Sivia menghela nafas panjang lalu
membalas perkataan Cakka,
“gue nggak bisa janji. Tapi, gue
akan usaha, demi elo, demi persahabatan kita….”
“iya, demi persahabatan kita….”
Sahut Cakka.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment