Wednesday, June 5, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 21 "Kita Harus Selesai"





“Bukan…. Bukan keinginanku tuk mencoba meninggalkanmu,
Namun tak bisa ku jelaskan aku takut menyakitimu….”


2 Hari kemudian…..

                Selama 2 hari terakhir ini Alvin terus mengurung diri didalam kamarnya. Bahkan hari ini Alvin tidak ikut mengamen bersama Dayat dan Rizky. Alvin menyapu pandangannya keseluruh penjuru kamarnya. Tiba-tiba saja ingatannya menyeretnya kembali pada saat ia masih menjadikan Sivia sebagai pembantu dirumah singgah ini.

Flash Back Alvin;
Alvin menarik pergelangan Sivia dengan keras lalu melepaskannya begitu saja hingga tubuh Sivia terlempar ketempat tidur. Sivia semakin ketakutan. Apa yang akan Alvin perbuat padanya?
Alvin berjalan pelan kearah tempat tidur. Sebenarnya Alvin ingin sekali tertawa ketika melihat wajah Sivia yang sudah mulai pucat pasi, tapi Alvin berusaha menahan. Rencananya harus sukses.
Dengan cepat Alvin menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh Sivia. Saat itu Sivia merasa bahwa jantungnya berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Alvin semakin menatap mata Sivia dalam-dalam, lantas sepersekian detik kemdian Alvin memamerkan senyum maut andalannya yang begitu mempesona. Deg…. Sebuah debaran tak biasa yang berbeda dari debaran-debaran sebelumnya mendadak mengusik dada Sivia. Tatapan itu, senyuman itu… Sivia nyaris tak bisa bernafas lagi karenanya.
“ma… mau apa lo?” Tanya Sivia dengan nada suara setengah berbisik. Alvin semakin memperlebar senyumannya.
“gue mau lo bayar semuanya… semua yang udah lo lakuin ke gue tadi…” Alvin mengangkat tangan kanannya lalu membelai lembut kening Sivia.
Sivia memejamkan matanya kuat-kuat. Demi apapun, selama beberapa hari terakhir ini mengenal Alvin, Sivia belum pernah melihat Alvin semengerikan seperti sekarang ini.
“aduuhh… Kunyuukk!! Lo mau ngapain gue siiihhh??” Tanya Sivia putus asa. Alvin tertawa sinis.
“haha… coba deh Tanya Kediri lo sendiri. Menurut lo, apa yang akan terjadi jika seorang cowok dan seorang cewek Cuma berdua aja didalam kamar yang sepi?”
Sivia menggeleng berkali-kali. Ucapan Alvin barusan seakan menjadi terror yang paling mengerikan seumur hidupnya. Kali ini Alvin menyentuh lembut bibir Sivia dengan menggunakan jari tangannya.
“lo inget? Baru kemaren bibir mungil lo ini nyentuh bibir gue, dan gue yakin, itu adalah first kiss lo kan?”
Sekali lagi Sivia hanya bisa menggeleng tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Desaun hangat nafas Alvin membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“jadi sekarang, gimana kalo kita ulang lagi adegan kemaren dengan lebih romantis lagi…?”
“nggak mau!” lirih Sivia putus asa. Alvin meringis pelan dan kembali menatap Gadis Bawel itu lekat-lekat,
“lo tenang aja! Gue akan buat ini menjadi second kiss terindah dalam hidup lo”
Alvin akhirnya mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang merasa tidak memiliki daya lagi untuk membrontak akhirnya memilih untuk pasrah saja. Sivia memejamkan kedua matanya kuat-kuat sementara wajah Alvin semakin lama semakin mendekati wajahnya.
Alvin memiringkan posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia, Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa dia sendiri sadari, kedua matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras Sivia dalam jarak yang amat sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan mempesona. Alvin tersenyum kecil. Setelah selama 5 detik menatap keindahan Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak berminat sama sekali buat nyium cewek kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu saja dari dalam kamarnya. Sivia membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci kearah Alvin yang saat itu nyaris menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!! NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2 buah bantal kearah pintu.

Flashback off~

            Alvin tertawa kecil setelah mengingat kejadian yang benar-benar membuat Sivia sangat marah, kesal plus malu itu. Tapi saat itu Alvin merasa benar-benar puas karna telah berhasil mengerjai Si Jelek itu. Tiba-tiba Alvin menghentikan tawanya saat mengingat bahwa saat ini Sivia sedang bersikap dingin padanya.
            Alvin kembali memikirkan kesalahan apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga membuat Sivia sampai bersikap seperti ini padanya. 2 bulan menjalani hubungan sebagai sepasangan kekasih dengan Sivia, Alvin cukup mengenal betul bagaimana sikap Gadis itu. Jika sudah diam seperti ini, itu artinya Sivia benar-benar merasa marah dan kecewa. Tapi apa yang menyebabkan semua itu?
            Alvin mengacak rambutnya dengan putus asa. Si Jelek itu sudah benar-benar menyusahkannya. Awas saja nanti, jangan harap Alvin akan sudi memaafkannya.
            Setelah berfikir lumayan lama, Alvin akhirnya membuang semua egonya. Ia menghela nafas panjangnya lalu meraih handphone yang ada disamping bantalnya. Alvin sudah tidak tahan lagi, ia harus menghubungi Sivia dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. Jika tidak seperti ini bisa-bisa nanti Alvin jadi gila karna terus memikirkan kesalahan yang ia sendiri bahkan tidak tahu pernah melakukannya atau tidak.
            Alvin mencari nomer Sivia pada contact listnya. Setelah menemukan nama ‘JELEK’ Alvin buru-buru menekan tombol hijau untuk menghubungi Sivia.
            Tuut… tuttt…. Tidak aja jawaban apapun dari Sivia. Amarah Alvin yang semula menurun kini malah menaik lagi. Dengan segala luapan emosi yang tidak bisa ia tahan lagi, Alvin membanting keras Handphone unik itu diatas kasurnya.
            “Ergh Damn!!”
            Alvin benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sudah cukup Gadis itu mempermainkannya.

^_^

            “Marsha, lo nggak boleh keluar! Masa lo mau ninggalin gue sendirian dirumah sih? Mama pergi sama Om Farish, dan sekarang lo mau pergi juga. Dasar adek kurang asem lo” kata Sivia emosi saat Marsha akan meninggalkan rumah untuk pergi bermalam minggu bersama teman-temannya.
            Marsha berdecak kesal. Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang, menghadap Kakak Galaknya,
            “Kak, tapi Marsha udah janji malem ini mau keluar sama temen-temen Marsha”
            “halah, alesan lo! Bilang aja kalo lo mau jalan sama pacar lo”
            “Marsha nggak punya pacar! Lagian Kakak juga tau sendirikan kalo Mama belom bolehin Marsha pacaran. Ayolah, Kak, Marsha udah bener-bener janji sama temen-temen Marsha”
            Sivia menggeleng beberapa kali dan dengan tegas berkata,
            “nggak boleh”
            “yah, Kak Via mah jahaattt….”
            “biarin gue jahat. Dulu aja pas gue seusia lo, gue mana pernah keluar malam mingguan sama temen-temen gue”
            “itu kan jaman dulu Kak. Jaman primitive!”
            Sivia agak sedikit tercengang mendengarkan ucapan terakhir Marsha. Berani-beraninya anak kecil ini mengatakannya primitive. Sivia berkacak pinggang lalu menatap Marsha dengan tatapan tajam. Saat ini Sivia sudah terlihat seperti seekor singa betina yang tengah mengamuk dan hendak ingin menerkam lawan. Marsha langsung bergidik ngeri ketika melihat tatapan tajam Kakakanya itu.
            “lo bilang apa tadi? Primitive? Elo tuh yang primitive, masih kelas 8 aja udah sok-sokan gaul lo! Diam dirumah, belajar!!”
            “belajar? Ini kan malam minggu Kakak Via ku tercintaaaaaa….” Kata Marsha gemes hampir menjawil kedua pipi chubby milik Sivia.
            “bodo! Lo itu harus kayak gue, belajar tanpa kenal waktu”
            “belajar tanpa kenal waktu?? Nggak salah??”
            Sivia mengangguk mantap. Marsha terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya.
            “kalo Kakak belajarnya emang nggak kenal waktu terus kenapa nggak pernah dapet juara kelas? Masuk 10 besar aja jarang-jarang. Contoh tuh Kak Cakka, keliatannya santé tapi selalu jadi juara kelas”
            Sivia semakin naik pitam. Adiknya yang satu ini benar-benar sangat menyebalkan.
            “benar-benar kurang ajar ya lo, Sha? Siapa yang ajarin?”
            Saat Sivia nyaris melayangkan sebuah toyoran pada kening Marsha, tiba-tiba saja Cakka datang lalu berjalan menghampiri kedua Kakak beradik itu seraya berkata,
            “ada apa ini? Ada apa??” ucap Cakka dengan gaya sok dewasanya yang terlihat sangat dibuat-buat.
            “Kak Cakka…. Kak Via jahat deh sama aku. Masa aku nggak dikasih keluar sama temen-temen aku? Terus nih ya, masa Kak Via mau cekik leher aku”
            “waah… udah kurang ajar sama Kakak sendiri sekarang lo fitnah gue lagi didepen si Cecak ini…”
            “CAKKA” Ralat Cakka cepat. Tapi Sivia malah menunjukan ekspresi masa bodohnya.
            Untuk yang kedua kalinya Sivia kembali berusaha menoyor kepala Marsha. Tapi Sivia kalah cepat, karna saat ini Marsha sudah bersembunyi dibalik punggung Cakka.
            “Kak Cakka toloonggggg!!!”
            “Via udah ah” kata Cakka seraya menepis tangan Sivia.
            “Cakka kok lo malah belain si Centil ini sih….?”
            Cakka tidak memperdulikan perkataan Sivia. Cakka menoleh kearah Marsha lalu memegang kedua pundak Marsha dan berkata,
            “Marsha, sekarang kalo kamu mau keluar jalan-jalan sama temen-temen kamu, keluar aja! Nanti Kak Via biar Kak Cakka yang beresin, okey?”
            “okey deh!!” jawab Marsha lalu kabur begitu saja dari rumah.
            Sivia yang tidak terima dengan ulah Cakka langsung berlari mengejar Marsha. Cakka mengikutinya.
            Sivia berhenti didepan pintu ketika melihat Marsha sudah memasuki sebuah mobil jazz berwarna merah. Sebelum mobil jazz merah itu melesat pergi, Marsha sempat mengeluarkan kepalanya dari jendela lalu melambaikan tagannya kearah Sivia yang saat itu menatapnya dengan tatapan pembunuh,
            “Bubaaayyyy Kak Via tercintaaaaa… nanti aku beliin cokelat yaa?? MUAACHHHHH….”
            Mobil yang membawa Marshapun akhirnya melesat pergi dan meninggalkan Sivia bersama kenelengsaannya.
            “Marsha udah gede ya sekarang??” kata Cakka yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Sivia dengan santainya seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Kali ini Sivia menatap Cakka tajam. Gara-gara ulah Cakka yang terlalu memanjakan Marsha, Marsha sekarang jadi ngelunjak sama Kakaknya sendiri.
            “ini semua gara-gara lo tau??” ucap Sivia keki.
            Cakka menoleh kearah Sivia dan menatapnya dengan tatapan jahil,
            “kok marah-marah? Nggak usah marah-marah dong…”
            “bodo…”
            “Marsha kan udah pergi sama temen-temennya. Tante Nita juga udah pergi sama Om Farish, tinggal kita berdua nih dirumah….”
            “terus??” Tanya Sivia yang masih enggan menatap Cakka.
            Secara mengejutkan Cakka mendekati Sivia. Sivia yang terkejut langsung menyandarkan tubuhnya pada pintu. Cakka menatap Sivia dengan tatapan menggoda. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Sivia melihat Cakka menatapnya dengan tatapan menggoda seperti itu. Sivia saja sampai bergidik ngeri gara-gara tatapan Cakka itu.
            “heh, nggak usah natap gue kayak gitu! Gue ngeri tau sama lo?”
            “emangya gue peduli?” Cakka semakin mendekati Sivia lalu menghempaskan telapak tangannya pada pintu –tepat disamping Sivia-
            “Cakka sumpah nggak lucu!!”
            Sivia menunduk lalu kabur begitu saja dari bawah lengan Cakka. Siviapun berlari kedalam rumah. Cakka yang merasa kecolongan langsung mengejar Sivia,
            “aaaa….. Mamaaaaaa….” Teriak Sivia,
            “hahaha…. Jangan kabur lo, Vi…”
            Semenjak memiliki masalah dengan Alvin, ini baru pertama kalinya Sivia bisa tertawa selepas seperti sekarang ini. Dan itu semua karna Cakka, Bintang penjaga hatinya.
            Berada disamping Cakka benar-benar membuat Sivia melupakan semua masalahnya. Cakka memang sangat pintar, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan jika Sivia sedang dilanda galau seperti sekarang ini.

^_^

            “setelah makan kita kebukit ya? Mumpung cuaca malem ini lagi terang” ucap Cakka pada Sivia seraya melepaskan sepiring nasi goreng hangat dihadapan Sivia. Cakka sendiri yang memasak nasi goreng itu special untuk Sivia. Cakka duduk didepan Sivia lalu mulai menyantap nasi gorengnya dengan lahap.
            Melihat Cakka yang begitu lahap menyantap nasi gorengnya, tiba-tiba saja Sivia teringat pada Alvin. 2 bulan yang lalu saat Alvin dirawat dirumah sakit akibat luka tusuk yang dialaminya setelah menyelamatkan Sivia dari 2 orang preman, Alvin sempat menyampaikan keinginannya pada Sivia untuk makan nasi goreng buatan Sivia sendiri, tapi saat itu Sivia tidak bisa memenuhi keinginan Alvin. Dan sekarang Sivia menyesal.
            Sivia menunduk lesu, pandangannya menatap hampa kearah sepiring nasi goreng yang tersaji dihadapannya. Sivia merasakan kedua matanya mulai memanas hendak menghamburkan air mata, tapi Sivia mencoba untuk menahan.

Flashback Sivia;

“Hay…. Kunyuukkkk!! Pacar lo yang super kece ini balik lagi dengan membawa sepiring nasi goreng special buat elo…” Ucap Sivia tanpa rasa berdosa sedikitpun.
            Sivia duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur Alvin sambil menyodorkan sepiring nasi goreng itu dihadapan Alvin. Alvin menatap sepiring nasi goreng itu dengan tatapan curiga. Sepertinya ada yang tidak beres. Fikir Alvin.
            “kok malah ditonton? Dimakan dong sayang…” ucap Sivia dengan nada sok manis. “atau…. Apa perlu gue supain? Sini gue suapin” lanjut Sivia sambil menyendokan sesendok nasi goreng itu untuk Alvin.
            Alvin menahan tangan Sivia yang hendak menyuapinya seraya menggeleng beberapa kali,
            “nggak,  gue nggak mau” tolak Alvin mentah-mentah,
            “lho, kenapa??”
            “lo fikir gue begok? Gue tau ini bukan nasi goreng buatan lo. Jadi jangan coba-coba buat nipu gue”
            Sivia langsung menunduk putus asa.
            “sekarang lo keluar lagi, dan masak nasi goreng buat gue”
            Hening untuk beberapa saat. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan…….
            “Hwaaaaa….. Mamaaaaaaa!! Alvin jahaaattttt…. Hiks… hikss….”
            Sivia menangis sejadi-jadinya dihadapan Alvin. Melihat Sivia yang menangis seperti anak kecil Alvin terlihat kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
            “Heh, jelek! Kenapa lo malah nangis??”
            “HIKS… HIKS… HIKS… LO JAHAT BANGET SAMA GUE?? Gue kan sekarang udah jadi pacar lo bukan jongos lo lagi, kenapa lo nggak berubah-berubah juga? Hik… hiks… hikss….” Isakkan Sivia semakin kuat terdengar dan membuat Alvin semakin kebingungan.
            “aduh… lo jangan nangis lagi kek! Jangan nangis nangis lagi yaa? Nanti gue beliin cokelat”
            Sivia langsung terdiam seketika. Ia menyeka air matanya lalu melirik kearah Alvin,

            “beneran yaa??”

Flashback off~

            Tanpa sadar air mata Sivia menetes secara perlahan membasahi kedua pipinya.
            “nasi gorengnya jangan dianggurin, Via. Dimakan dong, gue udah susah-susah bikin juga buat lo” ucap Cakka yang belum menyadari bahwa saat itu Sivia tengah menangis.
            “Via, kok lo diem aja? Lo kenapa?” Tanya Cakka sedikit cemas.
            Sivia mengangkat wajahnya seraya menyeka air matanya. Saat itulah Cakka tau bahwa Sivia sudah menangis.
            “Via, lo nangis? Kenapa? Nasi gorengnya kepedesan ya?”
            Sivia menggeleng beberapa kali sambil berusaha tersenyum pada Cakka.
            “nggak kok, Kka, nasi gorengnya nggak kepedesan”
            “lha terus?”
            “gue… gue Cuma kangen aja sama Alvin…” jawab Sivia dengan suara parau lalu kambali menunduk.
            Cakka melepaskan sendok beserta garpunya lalu mengangkat dagu Sivia. Dengan penuh perhatian Cakka menyeka air mata Sivia dengan jarinya. Cakka menggeleng beberapa kali,
            “katanya lo mau usaha buat nggak nangis lagi, tapi sekarang kok nangis?”
            “sorry, Kka… tapi gue bener-bener kangen sama Alvin, gue pengen ketemu sama Alvin. 2 Hari ini gue udah jahat banget sama dia, gue nyesel…” kata Sivia dengan penuh penyesalan. Air matanya semakin deras menetes.
            Cakka bangkit dari kursinya lalu mendekati Sivia. Cakka berdiri disamping Sivia, ia menarik pundak Sivia lantas memeluknya,
            “semuanya akan baik-baik aja, Vi… percaya sama gue. Semuanya akan indah pada waktunya…” Cakka mengusap lengan Sivia beberapa kali untuk membesarkan hatinya.
            Sivia mengangguk lalu menyeka air matanya sendiri. Ia pun mengangkat kedua tangannya lalu memeluk pinggang Cakka erat.

Ting tong…
            Suara bel yang berubunyi membuat Cakka dan Sivia terkesiap. Mereka berdua segera mengurai pelukan mereka.
            “biar gue yang buka, Vi!”
            “nggak usah, Kka! Gue aja” kata Sivia seraya menahan Cakka. Siviapun bangkit dari meja makan dan berlalu dari hadapan Cakka.

^_^

            Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Sivia melihat Alvin yang berdiri didepan pintunya. Kedua mata Sivia membelalak lebar. Dan Sivia sama sekali tidak bisa menghindar dari rasa khawatirnya ketika melihat wajah Alvin yang tampak pucat. Sivia terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kalimatpun.
            “udah puas lo mainin perasaan gue selama 2 hari ini?” Tanya Alvin sinis.
            Sivia mendesah pelan. kedua matanya kembali terasa panas, dan tatapannya mulai nanar. ‘Tahan Vi, lo nggak boleh nangis, tahan’ Sivia mengusap dadanya beberapa kali.
            “selama 2 hari ini gue coba buat nahan emosi gue, Vi, dan jujur gue tersiksa banget rasanya. Tapi gue terus bertahan, gue nggak mau gara-gara sedikit saja emosi gue yang meledak semuanya akan hancur. 2 bulan Vi, 2 bulan kita jalanin hubungan ini dan sekarang gue nggak mau semuanya hancur gitu aja, gue nggak rela…”
            “terus sekarang lo mau apa?”
            Alvin tertawa miris ketika mendengarkan pertanyaan Sivia yang terakhir.
            “Apa? Lo masih Tanya mau gue apa? Lo emang begok apa pura-pura begok sih sebenernya?” Tanya Alvin sedikit membentak.
            Cakka yang saat itu diam-diam menyaksikan pertengkaran mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur. Cakka berbalik dan kembali keruang makan.
            “GUE CUMA MAU TAU KESALAHAN GUE APA SAMA LO SAMPE LO KAYAK GINI KE GUE! ITU AJA!!” Teriak Alvin pada akhirnya. Sivia memejamkan kedua matanya saat Alvin berteriak dihadapannya.
            “gue nggak suka ngeliat lo diem kayak gini. Gue Cuma mau lo ngomong sama gue apa masalahnya dan ayo kita bicarakan semuanya dengan jelas. Kita cari penyelesaiannya bareng-bareng, itu yang gue mau, Cuma itu. Apa itu terlalu sulit buat elo, Sivia?”
            Sivia mengangguk dengan mantap. Setetes air matanya terjatuh mengiringi kepedihan hatinya yang benar-benar terasa begitu menyiksa.
            “iya Vin, semuanya terlalu sulit buat gue”
            Kali ini Alvin menatap Sivia dengan pandangan tidak percaya. Semakin kesini, Alvin semakin tidak memahami Gadisnya ini.
            “sekalipun mudah, semuanya akan sangat sulit untuk kita mengerti”
            “lo udah gila! Gue nggak ngerti maksud lo apaan”
            “lo fikir gue juga ngerti? Gue lebih-lebih nggak ngerti Alvin… hiks…” sebisa mungkin Sivia berusaha untuk menahan isakkannya. Tidak, Sivia tidak boleh menangis dihadapan Alvin. Apapun keadaannya Sivia harus terlihat kuat didepan pria ini. Sivia bisa. Sivia pasti bisa.
            “KALO GITU BISA LO JELASIN SEMUANYA KE GUE SEKARANG!!” Alvin lagi-lagi membentaknya. Tapi Sivia tidak gentar sedikitpun. Ia masih cukup kuat dengan pertahanannya saat ini.
            “plis Via, lo jangan siksa gue kayak gini, gue Cuma mau lo ngomong, itu aja dan gue—“
            “KITA PUTUS SAJA….” Sela Sivia ditengah-tengah ucapan Alvin.
            Bagai tersambar petir disiang bolong, itulah yang Alvin rasakan saat ini. Dada Alvin terasa mencelos ketika mendengarkan sebuah kalimat yang sebenarnya tidak pernah ingin ia dengarkan dari Sivia. Alvin seakan kehabisan kata-kata. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam, Alvin berharap bahwa Sivia hanya mengerjainya saja, membalas semua perlakuan jahil yang ia limpahkan pada Sivia selama ini. Namun harapan Alvin musnah seketika saat sekali lagi Sivia mengulang perkataannya.
            “kita putus saja Alvin…”
            “elo…. Elo bener-bener udah gila” ucap Alvin dengan emosi tertahan.
Sivia menggeleng berkali-kali. Apa lagi hal yang paling memberatkan dalam hidup Sivia selain harus dengan terpaksa melepaskan Alvin begitu saja? Sivia tidak ada pilihan lain, Tuhan tidak memberikannya pilihan sama sekali. Apapun keadaannya saat ini, Sivia harus mengalah demi Mamanya, Mama yang selama ini sudah banyak berkorban untuk hidupnya.
“iya Alvin, kita selesaikan saja semuanya cukup sampai disini… gue… capek Vin… gue—“ Sivia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ada rasa tidak sanggup yang membungkus relung hatinya. Jauh didasar hatinya yang terdalam, Sivia tidak ingin kisahnya berakhir begitu saja dengan Alvin. Sama sekali tidak ingin. Tapi sekali lagi, Sivia tidak punya pilihan.
Alvin mengangguk pelan. ia berusaha untuk tetap berada dalam keadaan senyaman dan setenang mungkin. Alvin harus tetap menahan luapan emosinya. Alvin percaya Sivia memiliki alasan kuat dibalik keputusan mendadaknya ini, dan Alvin bersumpah akan mencari dan menemukan alasan itu.
“dan lo nggak bisa jelasin semuanya? Bener-bener nggak bisa, Vi?” Tanya Alvin sekali lagi berusaha mencari jawaban dengan menyelami fikiran gadis ini. Sivia menggeleng –lagi-
“berakhir tanpa kepastian dan alasan yang nggak jelas? Berakhir karna sebuah kesalahan yang gue sendiri bahkan nggak tau pernah melakukannya atau nggak? Berakhir begitu saja?”
Kali ini Sivia mengangguk. Alvin tersenyum menahan kepedihan hatinya. Dan siapapun bahkan Sivia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa saat ini Alvin tengah menangis dalam. Alvin menangis bisu tanpa air mata. Dan Alvin baru tahu bahwa akan sesakit ini rasanya saat putus cinta tanpa alasan yang pasti.
“makasih buat semuanya, Via… makasih…”
Itulah ucapan terakhir Alvin yang penuh dengan nada keputusasaan juga kepasrahan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Sivia. Alvin berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun kearah Sivia.
Air mata yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya menetes juga dengan deras. Sivia memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia nyaris tidak bisa bernafas lagi. Apa begini rasanya ketika Malaikat Maut mencabut sebuah nyawa dari raga yang tidak berdaya? Apa akan sesakit ini rasanya?
Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Secara perlahan Sivia ambruk. Sivia terduduk lemah didepan pintunya dengan isak tangis yang semakin lama semakin terdengar memilukan. Benar-benar menyayat hati.
Ditengah-tengah tangis kesakitannya, tiba-tiba saja Sivia merasakan ada seseorang yang menarik tubuhnya dan membawanya kedalam sebuah dekapan hangat. Sivia memejamkan matanya untuk sejenak,
“gue sayang lo, Vin, sayaaangg banget! Maaf karna gue udah bikin lo kayak gini. Maaf karna gue sama sekali nggak bisa ngejelasin semuanya, gue takut nyakitin lo Vin, dan gue nggak mau lo tambah benci sama gue kalo tau bahwa gue ini CALON SAUDARA TIRI LO, maaf…. Maaf…”
“sttt…. Lo jangan nangis lagi, Vi! Percaya sama gue, akan ada hal indah dibalik semua ini…” bisik Cakka pelan seraya membelai lembut rambut Sivia beberapa kali.
Sivia membalas pelukan Cakka. Ia mencengkram erat-erat tubuh pria itu dan berusaha mengurangi sedikit saja rasa sakitnya. Tapi tidak bisa. Rasa sakit itu sudah terlanjur menjalar kesekujur raganya.
“gue udah mati Kka, gue bener-bener udah mati….” Lirih Sivia pelan ditengah-tengah isak tangisnya.




                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment