“Bukan….
Bukan keinginanku tuk mencoba meninggalkanmu,
Namun
tak bisa ku jelaskan aku takut menyakitimu….”
2 Hari kemudian…..
Selama 2 hari terakhir ini Alvin
terus mengurung diri didalam kamarnya. Bahkan hari ini Alvin tidak ikut
mengamen bersama Dayat dan Rizky. Alvin menyapu pandangannya keseluruh penjuru
kamarnya. Tiba-tiba saja ingatannya menyeretnya kembali pada saat ia masih
menjadikan Sivia sebagai pembantu dirumah singgah ini.
Flash
Back Alvin;
Alvin menarik
pergelangan Sivia dengan keras lalu melepaskannya begitu saja hingga tubuh
Sivia terlempar ketempat tidur. Sivia semakin ketakutan. Apa yang akan Alvin
perbuat padanya?
Alvin berjalan pelan
kearah tempat tidur. Sebenarnya Alvin ingin sekali tertawa ketika melihat wajah
Sivia yang sudah mulai pucat pasi, tapi Alvin berusaha menahan. Rencananya
harus sukses.
Dengan cepat Alvin
menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh Sivia. Saat itu Sivia merasa bahwa
jantungnya berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Alvin semakin menatap mata
Sivia dalam-dalam, lantas sepersekian detik kemdian Alvin memamerkan senyum
maut andalannya yang begitu mempesona. Deg…. Sebuah debaran tak biasa yang
berbeda dari debaran-debaran sebelumnya mendadak mengusik dada Sivia. Tatapan
itu, senyuman itu… Sivia nyaris tak bisa bernafas lagi karenanya.
“ma… mau apa lo?” Tanya
Sivia dengan nada suara setengah berbisik. Alvin semakin memperlebar
senyumannya.
“gue mau lo bayar
semuanya… semua yang udah lo lakuin ke gue tadi…” Alvin mengangkat tangan
kanannya lalu membelai lembut kening Sivia.
Sivia memejamkan
matanya kuat-kuat. Demi apapun, selama beberapa hari terakhir ini mengenal
Alvin, Sivia belum pernah melihat Alvin semengerikan seperti sekarang ini.
“aduuhh… Kunyuukk!! Lo
mau ngapain gue siiihhh??” Tanya Sivia putus asa. Alvin tertawa sinis.
“haha… coba deh Tanya
Kediri lo sendiri. Menurut lo, apa yang akan terjadi jika seorang cowok dan
seorang cewek Cuma berdua aja didalam kamar yang sepi?”
Sivia menggeleng
berkali-kali. Ucapan Alvin barusan seakan menjadi terror yang paling mengerikan
seumur hidupnya. Kali ini Alvin menyentuh lembut bibir Sivia dengan menggunakan
jari tangannya.
“lo inget? Baru kemaren
bibir mungil lo ini nyentuh bibir gue, dan gue yakin, itu adalah first kiss lo
kan?”
Sekali lagi Sivia hanya
bisa menggeleng tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Desaun hangat nafas
Alvin membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“jadi sekarang, gimana
kalo kita ulang lagi adegan kemaren dengan lebih romantis lagi…?”
“nggak mau!” lirih
Sivia putus asa. Alvin meringis pelan dan kembali menatap Gadis Bawel itu
lekat-lekat,
“lo tenang aja! Gue
akan buat ini menjadi second kiss terindah dalam hidup lo”
Alvin akhirnya
mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang merasa tidak memiliki daya
lagi untuk membrontak akhirnya memilih untuk pasrah saja. Sivia memejamkan
kedua matanya kuat-kuat sementara wajah Alvin semakin lama semakin mendekati
wajahnya.
Alvin memiringkan
posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia,
Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa dia sendiri sadari, kedua
matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras Sivia dalam jarak yang amat
sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan mempesona. Alvin tersenyum kecil.
Setelah selama 5 detik menatap keindahan Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik
pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak
berminat sama sekali buat nyium cewek kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung
bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu saja dari dalam kamarnya. Sivia
membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia mengubah posisinya yang semula
berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci kearah Alvin yang saat itu nyaris
menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!!
NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2
buah bantal kearah pintu.
Flashback
off~
Alvin tertawa kecil setelah
mengingat kejadian yang benar-benar membuat Sivia sangat marah, kesal plus malu
itu. Tapi saat itu Alvin merasa benar-benar puas karna telah berhasil mengerjai
Si Jelek itu. Tiba-tiba Alvin menghentikan tawanya saat mengingat bahwa saat
ini Sivia sedang bersikap dingin padanya.
Alvin kembali memikirkan kesalahan
apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga membuat Sivia sampai bersikap
seperti ini padanya. 2 bulan menjalani hubungan sebagai sepasangan kekasih
dengan Sivia, Alvin cukup mengenal betul bagaimana sikap Gadis itu. Jika sudah
diam seperti ini, itu artinya Sivia benar-benar merasa marah dan kecewa. Tapi
apa yang menyebabkan semua itu?
Alvin mengacak rambutnya dengan
putus asa. Si Jelek itu sudah benar-benar menyusahkannya. Awas saja nanti,
jangan harap Alvin akan sudi memaafkannya.
Setelah berfikir lumayan lama, Alvin
akhirnya membuang semua egonya. Ia menghela nafas panjangnya lalu meraih
handphone yang ada disamping bantalnya. Alvin sudah tidak tahan lagi, ia harus
menghubungi Sivia dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. Jika tidak seperti
ini bisa-bisa nanti Alvin jadi gila karna terus memikirkan kesalahan yang ia
sendiri bahkan tidak tahu pernah melakukannya atau tidak.
Alvin mencari nomer Sivia pada
contact listnya. Setelah menemukan nama ‘JELEK’ Alvin buru-buru menekan tombol
hijau untuk menghubungi Sivia.
Tuut… tuttt…. Tidak aja jawaban
apapun dari Sivia. Amarah Alvin yang semula menurun kini malah menaik lagi.
Dengan segala luapan emosi yang tidak bisa ia tahan lagi, Alvin membanting
keras Handphone unik itu diatas kasurnya.
“Ergh Damn!!”
Alvin benar-benar sudah tidak tahan
lagi. Sudah cukup Gadis itu mempermainkannya.
^_^
“Marsha, lo nggak boleh keluar! Masa
lo mau ninggalin gue sendirian dirumah sih? Mama pergi sama Om Farish, dan
sekarang lo mau pergi juga. Dasar adek kurang asem lo” kata Sivia emosi saat
Marsha akan meninggalkan rumah untuk pergi bermalam minggu bersama teman-temannya.
Marsha berdecak kesal. Ia menghentikan
langkahnya lalu menoleh kebelakang, menghadap Kakak Galaknya,
“Kak, tapi Marsha udah janji malem
ini mau keluar sama temen-temen Marsha”
“halah, alesan lo! Bilang aja kalo
lo mau jalan sama pacar lo”
“Marsha nggak punya pacar! Lagian Kakak
juga tau sendirikan kalo Mama belom bolehin Marsha pacaran. Ayolah, Kak, Marsha
udah bener-bener janji sama temen-temen Marsha”
Sivia menggeleng beberapa kali dan
dengan tegas berkata,
“nggak boleh”
“yah, Kak Via mah jahaattt….”
“biarin gue jahat. Dulu aja pas gue
seusia lo, gue mana pernah keluar malam mingguan sama temen-temen gue”
“itu kan jaman dulu Kak. Jaman primitive!”
Sivia agak sedikit tercengang
mendengarkan ucapan terakhir Marsha. Berani-beraninya anak kecil ini
mengatakannya primitive. Sivia berkacak pinggang lalu menatap Marsha dengan
tatapan tajam. Saat ini Sivia sudah terlihat seperti seekor singa betina yang
tengah mengamuk dan hendak ingin menerkam lawan. Marsha langsung bergidik ngeri
ketika melihat tatapan tajam Kakakanya itu.
“lo bilang apa tadi? Primitive? Elo
tuh yang primitive, masih kelas 8 aja udah sok-sokan gaul lo! Diam dirumah,
belajar!!”
“belajar? Ini kan malam minggu Kakak
Via ku tercintaaaaaa….” Kata Marsha gemes hampir menjawil kedua pipi chubby
milik Sivia.
“bodo! Lo itu harus kayak gue,
belajar tanpa kenal waktu”
“belajar tanpa kenal waktu?? Nggak salah??”
Sivia mengangguk mantap. Marsha
terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya.
“kalo Kakak belajarnya emang nggak
kenal waktu terus kenapa nggak pernah dapet juara kelas? Masuk 10 besar aja
jarang-jarang. Contoh tuh Kak Cakka, keliatannya santé tapi selalu jadi juara
kelas”
Sivia semakin naik pitam. Adiknya yang
satu ini benar-benar sangat menyebalkan.
“benar-benar kurang ajar ya lo, Sha?
Siapa yang ajarin?”
Saat Sivia nyaris melayangkan sebuah
toyoran pada kening Marsha, tiba-tiba saja Cakka datang lalu berjalan
menghampiri kedua Kakak beradik itu seraya berkata,
“ada apa ini? Ada apa??” ucap Cakka
dengan gaya sok dewasanya yang terlihat sangat dibuat-buat.
“Kak Cakka…. Kak Via jahat deh sama
aku. Masa aku nggak dikasih keluar sama temen-temen aku? Terus nih ya, masa Kak
Via mau cekik leher aku”
“waah… udah kurang ajar sama Kakak
sendiri sekarang lo fitnah gue lagi didepen si Cecak ini…”
“CAKKA” Ralat Cakka cepat. Tapi
Sivia malah menunjukan ekspresi masa bodohnya.
Untuk yang kedua kalinya Sivia
kembali berusaha menoyor kepala Marsha. Tapi Sivia kalah cepat, karna saat ini
Marsha sudah bersembunyi dibalik punggung Cakka.
“Kak Cakka toloonggggg!!!”
“Via udah ah” kata Cakka seraya
menepis tangan Sivia.
“Cakka kok lo malah belain si Centil
ini sih….?”
Cakka tidak memperdulikan perkataan
Sivia. Cakka menoleh kearah Marsha lalu memegang kedua pundak Marsha dan
berkata,
“Marsha, sekarang kalo kamu mau
keluar jalan-jalan sama temen-temen kamu, keluar aja! Nanti Kak Via biar Kak
Cakka yang beresin, okey?”
“okey deh!!” jawab Marsha lalu kabur
begitu saja dari rumah.
Sivia yang tidak terima dengan ulah
Cakka langsung berlari mengejar Marsha. Cakka mengikutinya.
Sivia berhenti didepan pintu ketika
melihat Marsha sudah memasuki sebuah mobil jazz berwarna merah. Sebelum mobil
jazz merah itu melesat pergi, Marsha sempat mengeluarkan kepalanya dari jendela
lalu melambaikan tagannya kearah Sivia yang saat itu menatapnya dengan tatapan
pembunuh,
“Bubaaayyyy Kak Via tercintaaaaa…
nanti aku beliin cokelat yaa?? MUAACHHHHH….”
Mobil yang membawa Marshapun
akhirnya melesat pergi dan meninggalkan Sivia bersama kenelengsaannya.
“Marsha udah gede ya sekarang??”
kata Cakka yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Sivia dengan santainya
seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Kali ini Sivia menatap Cakka tajam.
Gara-gara ulah Cakka yang terlalu memanjakan Marsha, Marsha sekarang jadi
ngelunjak sama Kakaknya sendiri.
“ini semua gara-gara lo tau??” ucap
Sivia keki.
Cakka menoleh kearah Sivia dan
menatapnya dengan tatapan jahil,
“kok marah-marah? Nggak usah
marah-marah dong…”
“bodo…”
“Marsha kan udah pergi sama
temen-temennya. Tante Nita juga udah pergi sama Om Farish, tinggal kita berdua
nih dirumah….”
“terus??” Tanya Sivia yang masih
enggan menatap Cakka.
Secara mengejutkan Cakka mendekati
Sivia. Sivia yang terkejut langsung menyandarkan tubuhnya pada pintu. Cakka menatap
Sivia dengan tatapan menggoda. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Sivia
melihat Cakka menatapnya dengan tatapan menggoda seperti itu. Sivia saja sampai
bergidik ngeri gara-gara tatapan Cakka itu.
“heh, nggak usah natap gue kayak
gitu! Gue ngeri tau sama lo?”
“emangya gue peduli?” Cakka semakin
mendekati Sivia lalu menghempaskan telapak tangannya pada pintu –tepat disamping
Sivia-
“Cakka sumpah nggak lucu!!”
Sivia menunduk lalu kabur begitu
saja dari bawah lengan Cakka. Siviapun berlari kedalam rumah. Cakka yang merasa
kecolongan langsung mengejar Sivia,
“aaaa….. Mamaaaaaa….” Teriak Sivia,
“hahaha…. Jangan kabur lo, Vi…”
Semenjak memiliki masalah dengan
Alvin, ini baru pertama kalinya Sivia bisa tertawa selepas seperti sekarang ini.
Dan itu semua karna Cakka, Bintang penjaga hatinya.
Berada disamping Cakka benar-benar
membuat Sivia melupakan semua masalahnya. Cakka memang sangat pintar, ia sudah
tahu apa yang harus ia lakukan jika Sivia sedang dilanda galau seperti sekarang
ini.
^_^
“setelah makan kita kebukit ya? Mumpung
cuaca malem ini lagi terang” ucap Cakka pada Sivia seraya melepaskan sepiring
nasi goreng hangat dihadapan Sivia. Cakka sendiri yang memasak nasi goreng itu
special untuk Sivia. Cakka duduk didepan Sivia lalu mulai menyantap nasi
gorengnya dengan lahap.
Melihat Cakka yang begitu lahap
menyantap nasi gorengnya, tiba-tiba saja Sivia teringat pada Alvin. 2 bulan
yang lalu saat Alvin dirawat dirumah sakit akibat luka tusuk yang dialaminya setelah
menyelamatkan Sivia dari 2 orang preman, Alvin sempat menyampaikan keinginannya
pada Sivia untuk makan nasi goreng buatan Sivia sendiri, tapi saat itu Sivia
tidak bisa memenuhi keinginan Alvin. Dan sekarang Sivia menyesal.
Sivia menunduk lesu, pandangannya
menatap hampa kearah sepiring nasi goreng yang tersaji dihadapannya. Sivia
merasakan kedua matanya mulai memanas hendak menghamburkan air mata, tapi Sivia
mencoba untuk menahan.
Flashback
Sivia;
“Hay….
Kunyuukkkk!! Pacar lo yang super kece ini balik lagi dengan membawa sepiring
nasi goreng special buat elo…” Ucap Sivia tanpa rasa berdosa sedikitpun.
Sivia duduk dikursi yang ada
disamping tempat tidur Alvin sambil menyodorkan sepiring nasi goreng itu
dihadapan Alvin. Alvin menatap sepiring nasi goreng itu dengan tatapan curiga.
Sepertinya ada yang tidak beres. Fikir Alvin.
“kok malah ditonton? Dimakan dong
sayang…” ucap Sivia dengan nada sok manis. “atau…. Apa perlu gue supain? Sini
gue suapin” lanjut Sivia sambil menyendokan sesendok nasi goreng itu untuk
Alvin.
Alvin menahan tangan Sivia yang
hendak menyuapinya seraya menggeleng beberapa kali,
“nggak, gue nggak mau” tolak Alvin mentah-mentah,
“lho, kenapa??”
“lo fikir gue begok? Gue tau ini
bukan nasi goreng buatan lo. Jadi jangan coba-coba buat nipu gue”
Sivia langsung menunduk putus asa.
“sekarang lo keluar lagi, dan masak
nasi goreng buat gue”
Hening untuk beberapa saat. Satu
detik, dua detik, tiga detik, dan…….
“Hwaaaaa….. Mamaaaaaaa!! Alvin
jahaaattttt…. Hiks… hikss….”
Sivia menangis sejadi-jadinya
dihadapan Alvin. Melihat Sivia yang menangis seperti anak kecil Alvin terlihat
kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Heh, jelek! Kenapa lo malah
nangis??”
“HIKS… HIKS… HIKS… LO JAHAT BANGET
SAMA GUE?? Gue kan sekarang udah jadi pacar lo bukan jongos lo lagi, kenapa lo
nggak berubah-berubah juga? Hik… hiks… hikss….” Isakkan Sivia semakin kuat
terdengar dan membuat Alvin semakin kebingungan.
“aduh… lo jangan nangis lagi kek!
Jangan nangis nangis lagi yaa? Nanti gue beliin cokelat”
Sivia langsung terdiam seketika. Ia
menyeka air matanya lalu melirik kearah Alvin,
“beneran yaa??”
Flashback
off~
Tanpa sadar air mata Sivia menetes secara
perlahan membasahi kedua pipinya.
“nasi gorengnya jangan dianggurin,
Via. Dimakan dong, gue udah susah-susah bikin juga buat lo” ucap Cakka yang
belum menyadari bahwa saat itu Sivia tengah menangis.
“Via, kok lo diem aja? Lo kenapa?” Tanya
Cakka sedikit cemas.
Sivia mengangkat wajahnya seraya
menyeka air matanya. Saat itulah Cakka tau bahwa Sivia sudah menangis.
“Via, lo nangis? Kenapa? Nasi gorengnya
kepedesan ya?”
Sivia menggeleng beberapa kali
sambil berusaha tersenyum pada Cakka.
“nggak kok, Kka, nasi gorengnya
nggak kepedesan”
“lha terus?”
“gue… gue Cuma kangen aja sama Alvin…”
jawab Sivia dengan suara parau lalu kambali menunduk.
Cakka melepaskan sendok beserta
garpunya lalu mengangkat dagu Sivia. Dengan penuh perhatian Cakka menyeka air
mata Sivia dengan jarinya. Cakka menggeleng beberapa kali,
“katanya lo mau usaha buat nggak
nangis lagi, tapi sekarang kok nangis?”
“sorry, Kka… tapi gue bener-bener
kangen sama Alvin, gue pengen ketemu sama Alvin. 2 Hari ini gue udah jahat
banget sama dia, gue nyesel…” kata Sivia dengan penuh penyesalan. Air matanya
semakin deras menetes.
Cakka bangkit dari kursinya lalu
mendekati Sivia. Cakka berdiri disamping Sivia, ia menarik pundak Sivia lantas
memeluknya,
“semuanya akan baik-baik aja, Vi…
percaya sama gue. Semuanya akan indah pada waktunya…” Cakka mengusap lengan
Sivia beberapa kali untuk membesarkan hatinya.
Sivia mengangguk lalu menyeka air matanya
sendiri. Ia pun mengangkat kedua tangannya lalu memeluk pinggang Cakka erat.
Ting tong…
Suara bel yang berubunyi membuat
Cakka dan Sivia terkesiap. Mereka berdua segera mengurai pelukan mereka.
“biar gue yang buka, Vi!”
“nggak usah, Kka! Gue aja” kata
Sivia seraya menahan Cakka. Siviapun bangkit dari meja makan dan berlalu dari
hadapan Cakka.
^_^
Saat membuka pintu, betapa
terkejutnya Sivia melihat Alvin yang berdiri didepan pintunya. Kedua mata Sivia
membelalak lebar. Dan Sivia sama sekali tidak bisa menghindar dari rasa
khawatirnya ketika melihat wajah Alvin yang tampak pucat. Sivia terdiam, tidak
mengeluarkan sepatah kalimatpun.
“udah puas lo mainin perasaan gue
selama 2 hari ini?” Tanya Alvin sinis.
Sivia mendesah pelan. kedua matanya
kembali terasa panas, dan tatapannya mulai nanar. ‘Tahan Vi, lo nggak boleh
nangis, tahan’ Sivia mengusap dadanya beberapa kali.
“selama 2 hari ini gue coba buat
nahan emosi gue, Vi, dan jujur gue tersiksa banget rasanya. Tapi gue terus
bertahan, gue nggak mau gara-gara sedikit saja emosi gue yang meledak semuanya
akan hancur. 2 bulan Vi, 2 bulan kita jalanin hubungan ini dan sekarang gue
nggak mau semuanya hancur gitu aja, gue nggak rela…”
“terus sekarang lo mau apa?”
Alvin tertawa miris ketika
mendengarkan pertanyaan Sivia yang terakhir.
“Apa? Lo masih Tanya mau gue apa? Lo
emang begok apa pura-pura begok sih sebenernya?” Tanya Alvin sedikit membentak.
Cakka yang saat itu diam-diam
menyaksikan pertengkaran mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur. Cakka
berbalik dan kembali keruang makan.
“GUE CUMA MAU TAU KESALAHAN GUE APA
SAMA LO SAMPE LO KAYAK GINI KE GUE! ITU AJA!!” Teriak Alvin pada akhirnya.
Sivia memejamkan kedua matanya saat Alvin berteriak dihadapannya.
“gue nggak suka ngeliat lo diem
kayak gini. Gue Cuma mau lo ngomong sama gue apa masalahnya dan ayo kita
bicarakan semuanya dengan jelas. Kita cari penyelesaiannya bareng-bareng, itu
yang gue mau, Cuma itu. Apa itu terlalu sulit buat elo, Sivia?”
Sivia mengangguk dengan mantap. Setetes
air matanya terjatuh mengiringi kepedihan hatinya yang benar-benar terasa
begitu menyiksa.
“iya Vin, semuanya terlalu sulit
buat gue”
Kali ini Alvin menatap Sivia dengan
pandangan tidak percaya. Semakin kesini, Alvin semakin tidak memahami Gadisnya
ini.
“sekalipun mudah, semuanya akan
sangat sulit untuk kita mengerti”
“lo udah gila! Gue nggak ngerti
maksud lo apaan”
“lo fikir gue juga ngerti? Gue lebih-lebih
nggak ngerti Alvin… hiks…” sebisa mungkin Sivia berusaha untuk menahan isakkannya.
Tidak, Sivia tidak boleh menangis dihadapan Alvin. Apapun keadaannya Sivia
harus terlihat kuat didepan pria ini. Sivia bisa. Sivia pasti bisa.
“KALO GITU BISA LO JELASIN SEMUANYA
KE GUE SEKARANG!!” Alvin lagi-lagi membentaknya. Tapi Sivia tidak gentar
sedikitpun. Ia masih cukup kuat dengan pertahanannya saat ini.
“plis Via, lo jangan siksa gue kayak
gini, gue Cuma mau lo ngomong, itu aja dan gue—“
“KITA PUTUS SAJA….” Sela Sivia
ditengah-tengah ucapan Alvin.
Bagai tersambar petir disiang
bolong, itulah yang Alvin rasakan saat ini. Dada Alvin terasa mencelos ketika
mendengarkan sebuah kalimat yang sebenarnya tidak pernah ingin ia dengarkan
dari Sivia. Alvin seakan kehabisan kata-kata. Jauh dilubuk hatinya yang
terdalam, Alvin berharap bahwa Sivia hanya mengerjainya saja, membalas semua
perlakuan jahil yang ia limpahkan pada Sivia selama ini. Namun harapan Alvin
musnah seketika saat sekali lagi Sivia mengulang perkataannya.
“kita putus saja Alvin…”
“elo…. Elo bener-bener udah gila”
ucap Alvin dengan emosi tertahan.
Sivia menggeleng berkali-kali. Apa lagi hal yang paling
memberatkan dalam hidup Sivia selain harus dengan terpaksa melepaskan Alvin
begitu saja? Sivia tidak ada pilihan lain, Tuhan tidak memberikannya pilihan sama
sekali. Apapun keadaannya saat ini, Sivia harus mengalah demi Mamanya, Mama
yang selama ini sudah banyak berkorban untuk hidupnya.
“iya Alvin, kita selesaikan saja semuanya cukup sampai disini…
gue… capek Vin… gue—“ Sivia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ada rasa tidak
sanggup yang membungkus relung hatinya. Jauh didasar hatinya yang terdalam,
Sivia tidak ingin kisahnya berakhir begitu saja dengan Alvin. Sama sekali tidak
ingin. Tapi sekali lagi, Sivia tidak punya pilihan.
Alvin mengangguk pelan. ia berusaha untuk tetap berada dalam
keadaan senyaman dan setenang mungkin. Alvin harus tetap menahan luapan
emosinya. Alvin percaya Sivia memiliki alasan kuat dibalik keputusan
mendadaknya ini, dan Alvin bersumpah akan mencari dan menemukan alasan itu.
“dan lo nggak bisa jelasin semuanya? Bener-bener nggak bisa,
Vi?” Tanya Alvin sekali lagi berusaha mencari jawaban dengan menyelami fikiran
gadis ini. Sivia menggeleng –lagi-
“berakhir tanpa kepastian dan alasan yang nggak jelas? Berakhir
karna sebuah kesalahan yang gue sendiri bahkan nggak tau pernah melakukannya
atau nggak? Berakhir begitu saja?”
Kali ini Sivia mengangguk. Alvin tersenyum menahan kepedihan
hatinya. Dan siapapun bahkan Sivia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa saat
ini Alvin tengah menangis dalam. Alvin menangis bisu tanpa air mata. Dan Alvin
baru tahu bahwa akan sesakit ini rasanya saat putus cinta tanpa alasan yang
pasti.
“makasih buat semuanya, Via… makasih…”
Itulah ucapan terakhir Alvin yang penuh dengan nada
keputusasaan juga kepasrahan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi
meninggalkan rumah Sivia. Alvin berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh
sedikitpun kearah Sivia.
Air mata yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya menetes juga
dengan deras. Sivia memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia nyaris tidak bisa
bernafas lagi. Apa begini rasanya ketika Malaikat Maut mencabut sebuah nyawa
dari raga yang tidak berdaya? Apa akan sesakit ini rasanya?
Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua
kakinya sendiri. Secara perlahan Sivia ambruk. Sivia terduduk lemah didepan
pintunya dengan isak tangis yang semakin lama semakin terdengar memilukan. Benar-benar
menyayat hati.
Ditengah-tengah tangis kesakitannya, tiba-tiba saja Sivia
merasakan ada seseorang yang menarik tubuhnya dan membawanya kedalam sebuah
dekapan hangat. Sivia memejamkan matanya untuk sejenak,
“gue sayang lo, Vin, sayaaangg banget! Maaf karna gue udah
bikin lo kayak gini. Maaf karna gue sama sekali nggak bisa ngejelasin semuanya,
gue takut nyakitin lo Vin, dan gue nggak mau lo tambah benci sama gue kalo tau
bahwa gue ini CALON SAUDARA TIRI LO, maaf…. Maaf…”
“sttt…. Lo jangan nangis lagi, Vi! Percaya sama gue, akan ada
hal indah dibalik semua ini…” bisik Cakka pelan seraya membelai lembut rambut
Sivia beberapa kali.
Sivia membalas pelukan Cakka. Ia mencengkram erat-erat tubuh
pria itu dan berusaha mengurangi sedikit saja rasa sakitnya. Tapi tidak bisa. Rasa
sakit itu sudah terlanjur menjalar kesekujur raganya.
“gue udah mati Kka, gue bener-bener udah mati….” Lirih Sivia
pelan ditengah-tengah isak tangisnya.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment