Tuesday, June 4, 2013

0

MY DIARY Part 16 Bag.2



^_^ PART SEBELUMNYA  ^_^


“VIA BURUAAANNN!! LAMA AMAT SIH LO??” Teriak Kak Irsyad dari lantai bawah.
            “IYA KAK, INI JUGA UDAH MAU TURUN….” Jawab Sivia. Saat Sivia akan melangkah keluar, tanpa sengaja Sivia menjatuhkan Diary nya yang saat itu berada dimeja lampunya. Sivia menghentikan langkahnya setelah mengetahui Diary nya terjatuh. Diary Sivia terbuka pas dihalaman terakhir, halaman yang pernah Alvin tulis dulu. Sivia heran, perasaan dia tidak pernah menulis dihalaman terakhir, lantas siapakah yang menulis halaman terakhir Diary nya? Sivia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Secara perlahan ia terduduk dan mengambil Diary nya yang terjatuh.
            “ini siapa yang nulis?” Tanya Sivia pada dirinya sendiri lantas mulai membaca tulisan Alvin yang berisi…..

                                                            Dear: Princess Lemotku….


       Semenjak pengkhianatan Shilla, sejak itulah Kak Alvin ngerasa bahwa hati Kak Alvin sudah benar-benar mati, hati Kak Alvin sudah  gak bisa lagi merasakan cinta, ketulusan, ataupun sejenis itu dari siapapun. Awalnya Kak Alvin yakin dengan semua apa yang Kak Alvin rasakan itu, namun setelah menyadari bahwa betapa Via begitu  sayang sama Kak Alvin dengan tulus dan apa adanya, sebuah pertanyaan mulai timbul dibenak Kak Alvin…
        Via mau tau pertanyaan itu…? Dan pertanyaan itu adalah, apa Kak Alvin akan terus terpuruk dengan pengkhinatan Shilla? Sejak itu juga, Kak Alvin gak pernah berhenti mikirin Via…
        Kak Alvin coba buat ngebuang bayangan Via, tapi bayangan Via tetep aja bandel, bayangan Via tetep gak mau enyah dari fikiran Kak Alvin…. Sesering apapun Kak Alvin  coba buat ngebuang jauh bayangan Via, maka sesering itu pula bayangan  Via selalu balik dan kembali nyiksa batin Kak Alvin…
        Sebuah pertanyaan lain akhirnya bermunculan kembali… pertanyaan ini lah yang paling Kak Alvin hindari, pertanyaan inilah yang paling Kak Alvin benci, pertanyaan inilah yang paling Kak Alvin takuti,  dan pertanyaan inilah yang Kak Alvin gak pernah mau tahu jawabannya, dan pertanyaan itu adalah, “Apa Kak Alvin udah jatuh cinta sama Via….?”
        Meski Kak Alvin gak pernah mau tau jawabannya, tapi hati kecil Kak Alvin selalu berusaha untuk mencari jawabannya. Apa Via tahu? Sampai detik ini Kak Alvin belum menemukan jawabannya….
        Via…. Kak Alvin janji, jika kelak Tuhan mengijinkan Kak Alvin untuk jatuh cinta lagi, Kak Alvin pasti akan jatuh cinta sama Via, apapun yang terjadi dan apapun keadaannya, Kak Alvin akan milih jatuh cinta sama Via….
        Maka itu Via, tunggulah Kak Alvin, tunggulah Kak Alvin setidaknya sampe hati kecil  Kak Alvin menemukan jawaban itu? Jawaban pasti dari pertanyaan yang gak pernah  Kak Alvin inginkan kehadirannya……
        Bantu Kak Alvin Vi buat bisa ngelupain Shilla yang udah nyakitin Kak Alvin, bantu Kak Alvin supaya Kak Alvin bisa sadar bahwa Cuma Via lah satu-satunya cewek yang menyayangi Kak Alvin dengan tulus dan sepenuh hati, bahwa Cuma Via lah yang mau nerima semua kekuarang Kak Alvin, bahwa Cuma Via lah yang terbaik buat Kak Alvin… sekali lagi, bantu Kak Alvin, Vi…. Cuma Via yang bisa bantu Kak Alvin, bukan yang lainnya…!
        Satu hal yang harus Via tahu, kapanpun Via baca catetan ini Kak Alvin selalu inget sama Via, Kak Alvin selalu mikirin Via….
        Meski Kak Alvin belum tahu arah  hati Kak Alvin saat ini, meski hati kecil Kak Alvin belum menemukan jawaban atas pertanyaan itu, ijinkanlah Kak Alvin masuk kedalam hidup Via… ajarin Kak Alvin supaya  bisa cinta  sama Via dan ngelupain semua kesakitan Kak Alvin…
        Kak Alvin punya satu permintaan buat Via… apa Via bersediakbuat ngabulin permintaan Kak Alvin….? Kalo bersedia Kakakbener-bener terimakasih sama Via….
        Permintaan Kak Alvin Cuma satu buat Via….
“Please…. Jangan pernah lupain Kak Alvin apalagi sampe berhenti mencintai Kak Alvin…” Cuma itu Vi….
        Teteplah jadi Princess Lemot kesayangan Kak Alvin, dan satu lagi Vi, tunggu Kak Alvin…. Sebentar lagi Kak Alvin akan sambut cinta Via yang udah lama Kak Alvin abaikan, Kak Alvin akan jemput cinta Via yang udah  lama nunggu hati Kak Alvin…
        Via Cuma perlu bersabar! Maukah melakukan itu buat Kak Alvin…???


                                                Alvin Jonathan. S

            Entah kenapa tiba-tiba Sivia merasa kedua tangan dan kakinya lemas seketika saat membaca catatan Alvin. Sivia terduduk lemah dilantai seraya tetap memegangi buku Diarynya. Air mata Sivia secara perlahan menetes, tubuhnya bergetar menahan tangisannya. Kenapa disaat ia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang Alvin, Alvin malah memintanya untuk tetap menunggunya. Sivia dilemma, ia tak tau harus berbuat apa saat ini.
            “Viaaaa… Buruaann!!” panggilan dari Irsyad membuat Sivia terkesiap. Dengan segera ia menyeka air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja.
            “iya Kak, Via dateng…” balas Sivia dengan suara bergetar. Ia memasukan buku Diarynya didalam tasnya lantas keluar dari kamarnya untuk menyusul Irsyad.


^_^

            “KENAPA LO NGUNDURIN DIRI DARI LOMBA NYANYI?” Sentak Alvin tiba-tiba seraya menggebrak meja Sivia. Sivia yang saat itu tengah menulis Diary pun terkejut karna kedatangan Alvin yang secara tiba-tiba kekelasnya. Alvin menatap Sivia tajam. Melihat tatapan Alvin yang tajam itu nyali Sivia langsung menciut. Ia menunduk sedalam-dalamnya.
            “JAWAB GUE SIVIA” Kata Alvin dengan nada meninggi. Sivia tetap diam. Kali ini Alvin menghela nafas panjang. Ia melanjutkan ucapannya,
            “apa lo semarah itu sama gue sampe-sampe lo ngundurin diri dari Lomba nyanyi? Apa lo bener-bener marah sama gue??” Sivia menggeleng. Alvin kembali menyentak,
            “JAWAB GUE!!”
            “HWAAAAA….. MAMAAAA…. KAK ALVIN JAHAT SAMA VIA, MAMAAAA, HWAAAA….. HIK..HIK…HIK… KAK ALVIN JAHAT, VIA TAKUUT, MAMAAA, PAPAAA, KAK IRSYAADDD…. KAK ALVIN JAHAT LAGI SAMA VIAA…” Teriak Sivia secara tiba-tiba. Sivia memangis persis seperti anak kecil saja. Alvin heran, apa kelemotan Sivia kembali lagi setelah cukup lama menghilang?
            Alvin melongo memandangi Sivia yang masih menangis. Kali ini Alvin dan Sivia menjadi pusat perhatian teman sekelas Sivia. Saat itulah Ify yang baru datang langsung menghampiri Sivia. Ify duduk disamping Sivia yang masih menangis terisak, Ify memegangi pundak Sivia,
            “lo kenapa, Vi…?” Tanya Ify heran. Sivia menunjuk Alvin, dengan isakkan yang lumayan kuat Sivia mengadu pada Ify,
            “itu… Kak Alvin jahat sama Via, hik…hik..hik… Via takut Ify….” Sivia memeluk pundak Ify sekuat-kuatnya. Sejenak Ify melihat kearah Alvin yang waktu itu juga tengah menatapnya dengan pandangan bertanya. Menyadari bahwa arti dari pandangan Ify adalah “Kok lemotnya balik lagi?” Alvin langsung saja mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng pelan beberapa kali. Ify semakin bingung, sementara isakkan Sivia semakin kuat.
            “udah ah, lu kaya anak kecil aja deh….” Bujuk Ify sambil menepuk-nepuk pelan pundak Sivia.
            Alvin menggenggam kedua jemari tangannya sekuat mungkin. Perdebatan yang lumayan sengitpun berkecamuk dalam benaknya. Sebuah pertanyaan muncul, apa dia harus minta maaf pada Sivia? Apa ini saat yang tepat? Dan apa ini adalah waktunya?
            Alvin memejamkan sejenak kedua matanya, ia berusaha meyakinkan hatinya. Tak lama Alvin menarik nafas panjang, ia membuka kedua matanya dan menatap Sivia yang saat itu masih menangis terisak dalam pelukan Ify. Ify tampak kewalahan ketika menghadapi rengekan Sivia. Ketika selangkah lagi Alvin akan mendekati Sivia, sebuah keraguan kembali menahannya. Alvin menghentikan langkahnya, sedetik kemudian, Alvin berdecak lantas menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keluar dari kelas. Sivia heran, isakkannya sudah sedikit berkurang,
            “Ka.. Kak Alvin mau bawa Via ke.. kemana?” Tanya Sivia tergagap. Alvin diam, tak sedikitpun menghiraukan pertanyaan Sivia dan tak sedikitpun melihat Sivia yang waktu itu berjalan setengah terpaksa dibelakangnya.
            Alvin melepaskan peregelangan tangan Sivia saat mereka tiba ditaman sekolah. Selepas Alvin melepaskan tangannya, Sivia langsung memegangi tangannya yang sedikit memerah akibat genggaman Alvin yang lumayan erat.
            “aaw…” rintih Sivia pelan seraya melihat tangannya.
            “Via…” panggil Alvin pelan, Sivia masih sibuk meniup-niupi tangannya, atau lebih tepatnya berpura-pura sibuk.
            “Via…” panggil Alvin sekali lagi. Sivia masih berpura-pura sibuk.
            “VIA GUE MINTA MAAF SAMA LO….” Kata Alvin setengah berteriak. Mendengar teriakan Alvin, Sivia langsung berhenti meniupi tangannya, bola matanya mengarah kedepan tapi tidak menatap Alvin yang saat itu berdiri dengan tegak didepannya.
            Hening pun terjadi. Mereka tiba-tiba bisu untuk beberapa saat. Helaan nafas Sivia terdengar lumayan berat. Alvin menatap Sivia dengan pandangan sayu. Menyadari bahwa Alvin tengah menatapnya, Siviapun menunduk sedalam-dalamnya.
            Secara perlahan Alvin meraih tangan kanan Sivia lalu menggenggamnya dengan lembut,
            “Via mau kan maafin Kak Alvin….?” Tanya Alvin. Sivia berusaha menarik tangannya dari genggaman Alvin namun sayang tak berhasil, Alvin enggan melepaskan tangan Sivia.
            “jawab Kak Alvin, Vi…” pinta Alvin sedikit memohon.
            “Kak Alvin gak salah….” Kata Sivia pada akhirnya,
            “Vi….”
            “Via yang salah….” Sela Sivia,
            “Via dengerin Kak….”
            “Kak Alvin sama sekali gak salah…” lagi-lagi Sivia menyela, “ini semua salah Via, Via yang terlalu ngarep sama Kak Alvin, harusnya sejak awal Via sadar kalo Kak Alvin gak akan pernah bisa sayang sama Via, kalo Kak Alvin gak mungkin sayang sama cewek lemot macam Via…” lanjut Sivia dengan suara bergetar namun terdengar sangat jelas.
            “tapi Kak Alvin tenang aja, mulai sekarang, Via gak akan ngarepin Kak Alvin lagi, karna semakin Via ngarep, semakin Via sakit Kak… Cinta gak pernah bisa dipaksain, sampe kapanpun itu, jujur…..” Sivia menggantungkan kalimatnya untuk menghela nafas sejenak, air matanya mulai menetes, “Via sayang sama Kak Alvin, sayaaang banget, dan mungkin…. Sulit buat Via bisa ngelupain Kak Alvin, Kak Alvin tau kenapa? Karna Kak Alvin adalah cowok pertama yang Via suka, Kak Alvin tuh cinta pertama Via, tapi Via juga harus tau diri, Via gak pantes buat Kak Alvin….”
            Alvin mulai tak tahan. Ia seolah ingin menarik Sivia kedalam pelukannya untuk menenangkan perasaannya saat ini.
            “Via capek Kak, capeek banget… kalo boleh jujur, Kak Alvin tuh udah keterlaluan banget sama Via selama ini, meskipun Via tau, Via tetep berusaha sabar, tapi hari ini Via nyerah Kak, Via udah gak sanggup lagi, semua usaha Via selama ini juga kesabaran Via udah habis Kak, Via bener-bener capek…”
            Secara tiba-tiba Alvin menarik pinggang Sivia dengan kedua tangannya, Alvinpun membawa Sivia kedalam dekapan hangatnya. Sivia tak mencoba membrontak sedikitpun saat Alvin memeluknya karna Sivia merasa sangat nyaman dengan hal itu.
            “Kak Alvin minta maaf… bener-bener minta maaf… Jujur…. sebenernya Kak Alvin udah mulai….” Alvin menghela nafas panjang ada sebuah ungkapan yang tertahan dibibirnya, ungkapan yang masih ia rasa berat untuk menyatakannya.
            ‘Kak Alvin udah mulai sayang sama Via…’ lanjut Alvin dalam hati. Alvin merasakan kedua pundak Sivia bergetar hebat menahan isakkan. Kali ini Sivia menangis hingga bersuara,
            “hik..hik..hik… Via bener-bener capek Kak, Via mau istirahat, sebentaaarr aja… bisa kan Kak Alvin gak nyakitin Via lagi, bisa kan Kak…?” Alvin menyandarkan kepala Sivia didadanya. Kini Siviapun bisa merasakan detak jantung Alvin yang berdetak sangat cepat. Alvin membelai lembut rambut Sivia lalu mendaratkan sebuah kecupan tepat dikeningnya, saat itu Sivia langsung memejamkan matanya berusaha merasakan segala keindahan yang Alvin berikan, keindahan yang mungkin dalam sekejab mata akan segera lenyap.
Hingga beberapa lama Alvin memeluknya, Sivia tak juga membalas pelukan Alvin. Alvin semakin mengeratkan pelukannya pada Sivia, ia seolah tak ingin melepaskan pelukan itu. Alvin memejamkan kedua matanya lalu berbisik lembut tepat didepan daun telinga Sivia,
“please Vi… bales pelukan Kak Alvin…!” Sivia menggeleng pelan,
“sekali ini aja Kak Alvin mohon Vi, bales pelukan Kak Alvin, sebentaar aja, beberapa menit aja….” Lirih Alvin sekali lagi. Kali ini Sivia luluh, dengan gerak yang amat pelan, Sivia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alvin. Saat kedua tangan Sivia telah melingkari pinggangnya, Alvin langsung menghela nafas lega.

“hari ini gue udah bener-bener jatuh cinta….” Batin Alvin.

^_^

            Alvin duduk ditepi kolam renangnya seraya tersenyum-senyum sendiri. Saat ini bayangan Sivia tengah menari-nari dalam fikirannya. Senyum Alvin semakin melebar, bahkan tawanya nyaris saja lepas ketika mengingat kelemotan-kelemotan juga kekonyolan yang sering Sivia buat.

Flash Back Alvin:
“gimana mau pelan-pelan Kak? Kan tadi disuruh cepet-cepet sama Kakak-kakak Osis yang digerbang…” ucap Sivia dengan polosnya. Senior tampan itu tak menyangka bahwa Sivia akan menjawabnya.
            “pake jawab lagi lo….” Ucap Alvin galak.
            “iihh…Kakak ini ganteng-ganteng kok galak banget sih? Entar gak ada yang mau loh sama Kakak….” Sang senior yang ternyata bernama Alvin itu tercengang.
            “lo bilang apa?? Anak baru aja udah belagu lo, gimana entar…?”
            “enggak! Via gak belagu…” kata Sivia lagi dengan wajahnya yang tetap polos. Alvin gemes dan hampir-hampir mau mencubit kedua pipi Sivia.
            “iiihhhh….sekarang balik kebarisan lo sebelum gue naik darah…”
            “Kakak punya penyakit darah tinggi ya…?” Tanya Sivia dengan ekspresi sok cemas, Alvin tak menjawab, namun jelas ia menyimpan kekesalan yang teramat sangat pada Sivia.
            “kasian, masih muda kok udah kena darah tinggi, makanya jangan marah-marah mulu…” oceh Sivia lagi.
            “elo itu bener-bener ya….?”

Alvin menggeleng pelan dengan senyum yang merekah diwajah tampannya, ingatan tentang Sivia kembali menyeruak dibenaknya,

Flash Back Alvin:
“elo itu gimana sih?? Masa’ balik kanan aja lo gak bisa…?”
            “ya  mau gimana lagi? Via kan gak bisa balik kanan? Masa’ mau dipaksain…? Jawab Sivia sesantai mungkin. Alvin menggeleng berkali-kali lantas berkata,
            “sekarang liat kaki gue! Dan ikutin gue!” Sivia mengangguk.
            “kaki kiri kedepan, kaki kanan kesamping, dan tutup….” Ucap Alvin seraya memberi contoh pada Sivia, tapi Sivia tetap saja tak bisa. Meski hampir 5 kali mengulang Sivia tetap saja tidak bisa, Alvin kembali mengoceh,
            “sumpah, putus asa gue sama elo….belajar balik kanan aja susaah banget…”
            “emangnya balik kanannya gak bisa diganti ama balik kiri aja ya Kak…?” Tanya Sivia dengan tampang bodoh,
            “balik kiri mana ada dongooo….??” Kesal Alvin,

Flash Back Alvin:
“hebat Vi, suara kamu bagus banget…sebagus orangnya…”puji Gabriel dengan tatapan yang lumayan menggoda, tapi Sivia tidak menunjukan respon apapun. Kali ini Cakka berkata pada Alvin,
            “masih mau nolak Sivia?” Alvin masih terdiam. Sivia menghela nafas panjang, ia tersenyum sangat manis.
            “udah, kalo Kak Alvin gak mau nerima Via disini, gak apa-apa kok, Kak Alvinnya jangan dipaksa, tapi perlu Kak Alvin tahu, kalo lagu tadi Via nyanyiin buat Kak Alvin….” Kata Sivia sesantai mungkin dan seolah tanpa beban.
            “CIEEEEEE…..” teriak semuanya kompak.

Flash Back Alvin:
“Sivia Azizah, apa alasan anda mengikuti OSIS? Sama seperti Alyssa, disini saya membutuhkan jawaban yang sejujurnya tanpa ada kebohongan dan paksaan…” sebelum menjawab pertanyaan Rio, Sivia sempat menghela nafas panjang, semua perhatian yang ada diruangan itu langsung tertuju pada Sivia, terkecuali Alvin, ia masih pura-pura sibuk dengan i-pad nya,
            “Via ikut OSIS, supaya Via bisa ngeliat Kak Alvin tiap hari, bisa deket-deket sama Kak Alvin tiap waktu, bisa merhatiin Kak Alvin, pokoknya semuanya Kak Alvin,Kak Alvin dan Kak Alvin…”
            Alvin yang waktu itu sedang minumpun langsung menyemburkan minumannya, Shilla langsung menepuk-nepuk pundak Alvin.
            “uhuk..uhuk…” semuanya tercengang mendengarkan jawaban Sivia, sementara Rio, ia hanya bisa cengo, ia tak menyangka bahwa Sivia akan menjawab pertanyaannya dengan sejujur itu. Saat semuanya tercengang, Sivia tetap santai.

Flash Back Alvin:
“emang kenapa kalo Via suka sama kakak…? Gak boleh ya…? Kenapa gak boleh? Tuhan aja gak larang Via suka sama Kakak, kenapa jadi kakak yang marah-marah…?” kata Sivia pada Alvin,
            “HELLOOO…LO ITU SUKA SAMA GUE DAN ITU MASALAH BUAT GUE TAU GAK…??”
            “gimana bisa jadi masalah….?? WOOY SEMUA YANG ADA DISINI, INI VIA, SIVIA AZIZAH SUKA SAMA KAK ALVIN, SUKA BANGET…” semuanya akhirnya mengeluarkan tawa mereka yang sejak tadi mereka tahan, Alvin semakin malu, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ify yang sudah tidak tahan lagi dengan ulah Siviapun akhirnya mendekati Sivia lalu membawa paksa Sivia keluar dari aula sekolah.
            “Iiihhh….Ify mau bawa Via kemana sih? Via kan masih ada urusan sama Kak Alvin…”
            “OGAH GUE PUNYA URUSAN SAMA LO….” Teriak Alvin yang berada tak jauh dari Sivia.

            Ingatan Alvin tentang Sivia terhenti saat Bunda secara tiba-tiba muncul disamping Alvin. Bunda menepuk pelan pundak Alvin lantas berkata,
            “anak Bunda kenapa senyum-senyum terus dari tadi?” mendengar pertanyaan Bunda, Alvin langsung membalik badannya hingga berhadapan dengan Bunda. Alvin menatap Bunda seraya tersenyum sangat manis lalu mulai membuka suara,
            “Alvin jatuh cinta Bund…”
            “jatuh cinta??” Tanya Bunda heran, Alvin kembali menghadap kedepan.
            “awalnya Alvin ngira kalo apa yang Alvin rasain ini salah Bund, tapi ternyata Alvin bener-bener jatuh cinta sama dia Bunda, Alvin sayang sama dia…”
            “DIA?? Dia siapa?” Alvin menghela nafas panjang.
            “Sivia, Bund….”
            “hahahaha… Alvin…Alvin… dulu katanya kamu benci sama Via, sekarang kenapa malah jatuh cinta sama Via?”
            “Alvin gak tau pasti Bund, mungkin ini kali yang namanya benci jadi cinta…” Alvin kembali membayangkan wajah Sivia. Dalam hati ia bergumam,
            ‘Via, I LOVE YOU… mungkin sekarang Tuhan sedang menghukum gue karna gue terlalu benci sama lo dulu, tapi gue gak peduli, yang gue tau lo udah bikin gue jatuh cinta, dan lo harus jadi milik gue, apapun dan gimanapun caranya….’

^_^

            Karna kurang hati-hati saat menuruni anak tangga tanpa sengaja Sivia menginjak tali sepatunya yang waktu itu tanpa ia sadari terlepas. Sivia nyaris saja terjatuh kebawah jika saja Gabriel tak segera menahan tubuhnya. Sivia jatuh tepat dipelukan Gabriel.
            “aaw…” rintih Sivia. Gabriel menatap Sivia yang saat itu berada dalam dekapannya. Gabriel nyaris tak berkedip ketika mendapati Sivia, gadis yang sudah sejak lama ia suka kini berada sangat dekat dengannya. Gabriel menatap Sivia sedalam-dalamnya, Sivia sampai salah tingkah melihat tatapan Gabriel yang lumayan menciutkan nyali itu. Gabriel tersenyum kecil. Tiba-tiba saja ‘DEG….’ Sivia merasakan sebuah getaran yang cukup kuat didadanya. Bukan karna ia menyukai Gabriel, tapi karna Sivia benar-benar merasa tak tahan dengan tatapan Gabriel itu.
            “Ka… Kak Iel..!” panggil Sivia pelan dengan harapan Gabriel segera melepaskannya. Namun sayang, Gabriel terlanjur terhipnotis oleh wajah cantik Sivia, hingga Gabriel sama sekali tak sadar dengan keadaan sekitar.
            Alvin yang saat itu akan menuruni akan tanggapun melihat adegan mesra yang dipertontonkan oleh Gabriel dan Sivia. Air muka Alvin langsung berubah. Rasa cemburu telah membakar hatinya. Panas disertai dengan rasa sakit mulai ia rasakan. Cokelat yang ia sembunyikan dibelakangnya yang rencananya akan ia berikan pada Siviapun terlepas secara perlahan dari tangannya. Alvin mengepalkan tangan kirinya dengan sekuat-kuatnya. Rencana indahnya untuk menyatakan perasaannya pada Sivia hari inipun ia batalkan begitu saja.

            ‘mungkin lo bener-bener pengen ngelupain gue, Vi…’ batin Alvin lalu kembali menaiki anak tangga.





                                    BERSAMBUNG……

0 comments:

Post a Comment