^_^ PART SEBELUMNYA ^_^
“VIA
BURUAAANNN!! LAMA AMAT SIH LO??” Teriak Kak Irsyad dari lantai bawah.
“IYA KAK, INI JUGA UDAH MAU TURUN….”
Jawab Sivia. Saat Sivia akan melangkah keluar, tanpa sengaja Sivia menjatuhkan
Diary nya yang saat itu berada dimeja lampunya. Sivia menghentikan langkahnya
setelah mengetahui Diary nya terjatuh. Diary Sivia terbuka pas dihalaman
terakhir, halaman yang pernah Alvin tulis dulu. Sivia heran, perasaan dia tidak
pernah menulis dihalaman terakhir, lantas siapakah yang menulis halaman
terakhir Diary nya? Sivia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Secara
perlahan ia terduduk dan mengambil Diary nya yang terjatuh.
“ini siapa yang nulis?” Tanya Sivia
pada dirinya sendiri lantas mulai membaca tulisan Alvin yang berisi…..
Dear: Princess Lemotku….
Semenjak pengkhianatan Shilla, sejak itulah
Kak Alvin ngerasa bahwa hati Kak Alvin sudah benar-benar mati, hati Kak Alvin
sudah gak bisa lagi merasakan cinta,
ketulusan, ataupun sejenis itu dari siapapun. Awalnya Kak Alvin yakin dengan
semua apa yang Kak Alvin rasakan itu, namun setelah menyadari bahwa betapa Via
begitu sayang sama Kak Alvin dengan
tulus dan apa adanya, sebuah pertanyaan mulai timbul dibenak Kak Alvin…
Via mau tau pertanyaan itu…? Dan
pertanyaan itu adalah, apa Kak Alvin akan terus terpuruk dengan pengkhinatan
Shilla? Sejak itu juga, Kak Alvin gak pernah berhenti mikirin Via…
Kak Alvin coba buat ngebuang bayangan
Via, tapi bayangan Via tetep aja bandel, bayangan Via tetep gak mau enyah dari
fikiran Kak Alvin…. Sesering apapun Kak Alvin
coba buat ngebuang jauh bayangan Via, maka sesering itu pula
bayangan Via selalu balik dan kembali
nyiksa batin Kak Alvin…
Sebuah pertanyaan lain akhirnya
bermunculan kembali… pertanyaan ini lah yang paling Kak Alvin hindari,
pertanyaan inilah yang paling Kak Alvin benci, pertanyaan inilah yang paling
Kak Alvin takuti, dan pertanyaan inilah
yang Kak Alvin gak pernah mau tahu jawabannya, dan pertanyaan itu adalah, “Apa
Kak Alvin udah jatuh cinta sama Via….?”
Meski Kak Alvin gak pernah mau tau
jawabannya, tapi hati kecil Kak Alvin selalu berusaha untuk mencari jawabannya.
Apa Via tahu? Sampai detik ini Kak Alvin belum menemukan jawabannya….
Via…. Kak Alvin janji, jika kelak Tuhan
mengijinkan Kak Alvin untuk jatuh cinta lagi, Kak Alvin pasti akan jatuh cinta
sama Via, apapun yang terjadi dan apapun keadaannya, Kak Alvin akan milih jatuh
cinta sama Via….
Maka itu Via, tunggulah Kak Alvin,
tunggulah Kak Alvin setidaknya sampe hati kecil
Kak Alvin menemukan jawaban itu? Jawaban pasti dari pertanyaan yang gak
pernah Kak Alvin inginkan kehadirannya……
Bantu Kak Alvin Vi buat bisa ngelupain
Shilla yang udah nyakitin Kak Alvin, bantu Kak Alvin supaya Kak Alvin bisa
sadar bahwa Cuma Via lah satu-satunya cewek yang menyayangi Kak Alvin dengan
tulus dan sepenuh hati, bahwa Cuma Via lah yang mau nerima semua kekuarang Kak
Alvin, bahwa Cuma Via lah yang terbaik buat Kak Alvin… sekali lagi, bantu Kak
Alvin, Vi…. Cuma Via yang bisa bantu Kak Alvin, bukan yang lainnya…!
Satu hal yang harus Via tahu, kapanpun
Via baca catetan ini Kak Alvin selalu inget sama Via, Kak Alvin selalu mikirin
Via….
Meski Kak Alvin belum tahu arah hati Kak Alvin saat ini, meski hati kecil Kak
Alvin belum menemukan jawaban atas pertanyaan itu, ijinkanlah Kak Alvin masuk
kedalam hidup Via… ajarin Kak Alvin supaya
bisa cinta sama Via dan ngelupain
semua kesakitan Kak Alvin…
Kak Alvin punya satu permintaan buat
Via… apa Via bersediakbuat ngabulin permintaan Kak Alvin….? Kalo bersedia Kakakbener-bener
terimakasih sama Via….
Permintaan Kak Alvin Cuma satu buat
Via….
“Please…. Jangan
pernah lupain Kak Alvin apalagi sampe berhenti mencintai Kak Alvin…” Cuma itu
Vi….
Teteplah jadi Princess Lemot kesayangan
Kak Alvin, dan satu lagi Vi, tunggu Kak Alvin…. Sebentar lagi Kak Alvin akan
sambut cinta Via yang udah lama Kak Alvin abaikan, Kak Alvin akan jemput cinta
Via yang udah lama nunggu hati Kak
Alvin…
Via Cuma perlu bersabar! Maukah
melakukan itu buat Kak Alvin…???
Alvin
Jonathan. S
Entah
kenapa tiba-tiba Sivia merasa kedua tangan dan kakinya lemas seketika saat
membaca catatan Alvin. Sivia terduduk lemah dilantai seraya tetap memegangi
buku Diarynya. Air mata Sivia secara perlahan menetes, tubuhnya bergetar
menahan tangisannya. Kenapa disaat ia memutuskan untuk melupakan segalanya
tentang Alvin, Alvin malah memintanya untuk tetap menunggunya. Sivia dilemma,
ia tak tau harus berbuat apa saat ini.
“Viaaaa…
Buruaann!!” panggilan dari Irsyad membuat Sivia terkesiap. Dengan segera ia
menyeka air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja.
“iya
Kak, Via dateng…” balas Sivia dengan suara bergetar. Ia memasukan buku Diarynya
didalam tasnya lantas keluar dari kamarnya untuk menyusul Irsyad.
^_^
“KENAPA
LO NGUNDURIN DIRI DARI LOMBA NYANYI?” Sentak Alvin tiba-tiba seraya menggebrak
meja Sivia. Sivia yang saat itu tengah menulis Diary pun terkejut karna
kedatangan Alvin yang secara tiba-tiba kekelasnya. Alvin menatap Sivia tajam.
Melihat tatapan Alvin yang tajam itu nyali Sivia langsung menciut. Ia menunduk
sedalam-dalamnya.
“JAWAB
GUE SIVIA” Kata Alvin dengan nada meninggi. Sivia tetap diam. Kali ini Alvin
menghela nafas panjang. Ia melanjutkan ucapannya,
“apa
lo semarah itu sama gue sampe-sampe lo ngundurin diri dari Lomba nyanyi? Apa lo
bener-bener marah sama gue??” Sivia menggeleng. Alvin kembali menyentak,
“JAWAB
GUE!!”
“HWAAAAA…..
MAMAAAA…. KAK ALVIN JAHAT SAMA VIA, MAMAAAA, HWAAAA….. HIK..HIK…HIK… KAK ALVIN
JAHAT, VIA TAKUUT, MAMAAA, PAPAAA, KAK IRSYAADDD…. KAK ALVIN JAHAT LAGI SAMA
VIAA…” Teriak Sivia secara tiba-tiba. Sivia memangis persis seperti anak kecil
saja. Alvin heran, apa kelemotan Sivia kembali lagi setelah cukup lama
menghilang?
Alvin
melongo memandangi Sivia yang masih menangis. Kali ini Alvin dan Sivia menjadi
pusat perhatian teman sekelas Sivia. Saat itulah Ify yang baru datang langsung
menghampiri Sivia. Ify duduk disamping Sivia yang masih menangis terisak, Ify
memegangi pundak Sivia,
“lo
kenapa, Vi…?” Tanya Ify heran. Sivia menunjuk Alvin, dengan isakkan yang
lumayan kuat Sivia mengadu pada Ify,
“itu…
Kak Alvin jahat sama Via, hik…hik..hik… Via takut Ify….” Sivia memeluk pundak
Ify sekuat-kuatnya. Sejenak Ify melihat kearah Alvin yang waktu itu juga tengah
menatapnya dengan pandangan bertanya. Menyadari bahwa arti dari pandangan Ify
adalah “Kok lemotnya balik lagi?” Alvin langsung saja mengangkat kedua bahunya
seraya menggeleng pelan beberapa kali. Ify semakin bingung, sementara isakkan
Sivia semakin kuat.
“udah
ah, lu kaya anak kecil aja deh….” Bujuk Ify sambil menepuk-nepuk pelan pundak
Sivia.
Alvin
menggenggam kedua jemari tangannya sekuat mungkin. Perdebatan yang lumayan
sengitpun berkecamuk dalam benaknya. Sebuah pertanyaan muncul, apa dia harus
minta maaf pada Sivia? Apa ini saat yang tepat? Dan apa ini adalah waktunya?
Alvin
memejamkan sejenak kedua matanya, ia berusaha meyakinkan hatinya. Tak lama
Alvin menarik nafas panjang, ia membuka kedua matanya dan menatap Sivia yang
saat itu masih menangis terisak dalam pelukan Ify. Ify tampak kewalahan ketika
menghadapi rengekan Sivia. Ketika selangkah lagi Alvin akan mendekati Sivia,
sebuah keraguan kembali menahannya. Alvin menghentikan langkahnya, sedetik
kemudian, Alvin berdecak lantas menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya
keluar dari kelas. Sivia heran, isakkannya sudah sedikit berkurang,
“Ka..
Kak Alvin mau bawa Via ke.. kemana?” Tanya Sivia tergagap. Alvin diam, tak
sedikitpun menghiraukan pertanyaan Sivia dan tak sedikitpun melihat Sivia yang
waktu itu berjalan setengah terpaksa dibelakangnya.
Alvin
melepaskan peregelangan tangan Sivia saat mereka tiba ditaman sekolah. Selepas
Alvin melepaskan tangannya, Sivia langsung memegangi tangannya yang sedikit
memerah akibat genggaman Alvin yang lumayan erat.
“aaw…”
rintih Sivia pelan seraya melihat tangannya.
“Via…”
panggil Alvin pelan, Sivia masih sibuk meniup-niupi tangannya, atau lebih
tepatnya berpura-pura sibuk.
“Via…”
panggil Alvin sekali lagi. Sivia masih berpura-pura sibuk.
“VIA
GUE MINTA MAAF SAMA LO….” Kata Alvin setengah berteriak. Mendengar teriakan
Alvin, Sivia langsung berhenti meniupi tangannya, bola matanya mengarah kedepan
tapi tidak menatap Alvin yang saat itu berdiri dengan tegak didepannya.
Hening
pun terjadi. Mereka tiba-tiba bisu untuk beberapa saat. Helaan nafas Sivia
terdengar lumayan berat. Alvin menatap Sivia dengan pandangan sayu. Menyadari
bahwa Alvin tengah menatapnya, Siviapun menunduk sedalam-dalamnya.
Secara
perlahan Alvin meraih tangan kanan Sivia lalu menggenggamnya dengan lembut,
“Via
mau kan maafin Kak Alvin….?” Tanya Alvin. Sivia berusaha menarik tangannya dari
genggaman Alvin namun sayang tak berhasil, Alvin enggan melepaskan tangan
Sivia.
“jawab
Kak Alvin, Vi…” pinta Alvin sedikit memohon.
“Kak
Alvin gak salah….” Kata Sivia pada akhirnya,
“Vi….”
“Via
yang salah….” Sela Sivia,
“Via
dengerin Kak….”
“Kak
Alvin sama sekali gak salah…” lagi-lagi Sivia menyela, “ini semua salah Via,
Via yang terlalu ngarep sama Kak Alvin, harusnya sejak awal Via sadar kalo Kak
Alvin gak akan pernah bisa sayang sama Via, kalo Kak Alvin gak mungkin sayang
sama cewek lemot macam Via…” lanjut Sivia dengan suara bergetar namun terdengar
sangat jelas.
“tapi
Kak Alvin tenang aja, mulai sekarang, Via gak akan ngarepin Kak Alvin lagi,
karna semakin Via ngarep, semakin Via sakit Kak… Cinta gak pernah bisa
dipaksain, sampe kapanpun itu, jujur…..” Sivia menggantungkan kalimatnya untuk
menghela nafas sejenak, air matanya mulai menetes, “Via sayang sama Kak Alvin,
sayaaang banget, dan mungkin…. Sulit buat Via bisa ngelupain Kak Alvin, Kak
Alvin tau kenapa? Karna Kak Alvin adalah cowok pertama yang Via suka, Kak Alvin
tuh cinta pertama Via, tapi Via juga harus tau diri, Via gak pantes buat Kak
Alvin….”
Alvin
mulai tak tahan. Ia seolah ingin menarik Sivia kedalam pelukannya untuk
menenangkan perasaannya saat ini.
“Via
capek Kak, capeek banget… kalo boleh jujur, Kak Alvin tuh udah keterlaluan
banget sama Via selama ini, meskipun Via tau, Via tetep berusaha sabar, tapi
hari ini Via nyerah Kak, Via udah gak sanggup lagi, semua usaha Via selama ini
juga kesabaran Via udah habis Kak, Via bener-bener capek…”
Secara
tiba-tiba Alvin menarik pinggang Sivia dengan kedua tangannya, Alvinpun membawa
Sivia kedalam dekapan hangatnya. Sivia tak mencoba membrontak sedikitpun saat
Alvin memeluknya karna Sivia merasa sangat nyaman dengan hal itu.
“Kak
Alvin minta maaf… bener-bener minta maaf… Jujur…. sebenernya Kak Alvin udah
mulai….” Alvin menghela nafas panjang ada sebuah ungkapan yang tertahan
dibibirnya, ungkapan yang masih ia rasa berat untuk menyatakannya.
‘Kak
Alvin udah mulai sayang sama Via…’ lanjut Alvin dalam hati. Alvin merasakan
kedua pundak Sivia bergetar hebat menahan isakkan. Kali ini Sivia menangis
hingga bersuara,
“hik..hik..hik…
Via bener-bener capek Kak, Via mau istirahat, sebentaaarr aja… bisa kan Kak
Alvin gak nyakitin Via lagi, bisa kan Kak…?” Alvin menyandarkan kepala Sivia
didadanya. Kini Siviapun bisa merasakan detak jantung Alvin yang berdetak
sangat cepat. Alvin membelai lembut rambut Sivia lalu mendaratkan sebuah
kecupan tepat dikeningnya, saat itu Sivia langsung memejamkan matanya berusaha
merasakan segala keindahan yang Alvin berikan, keindahan yang mungkin dalam
sekejab mata akan segera lenyap.
Hingga
beberapa lama Alvin memeluknya, Sivia tak juga membalas pelukan Alvin. Alvin
semakin mengeratkan pelukannya pada Sivia, ia seolah tak ingin melepaskan
pelukan itu. Alvin memejamkan kedua matanya lalu berbisik lembut tepat didepan
daun telinga Sivia,
“please
Vi… bales pelukan Kak Alvin…!” Sivia menggeleng pelan,
“sekali
ini aja Kak Alvin mohon Vi, bales pelukan Kak Alvin, sebentaar aja, beberapa
menit aja….” Lirih Alvin sekali lagi. Kali ini Sivia luluh, dengan gerak yang
amat pelan, Sivia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alvin. Saat kedua
tangan Sivia telah melingkari pinggangnya, Alvin langsung menghela nafas lega.
“hari
ini gue udah bener-bener jatuh cinta….” Batin Alvin.
^_^
Alvin
duduk ditepi kolam renangnya seraya tersenyum-senyum sendiri. Saat ini bayangan
Sivia tengah menari-nari dalam fikirannya. Senyum Alvin semakin melebar, bahkan
tawanya nyaris saja lepas ketika mengingat kelemotan-kelemotan juga kekonyolan
yang sering Sivia buat.
Flash Back Alvin:
“gimana
mau pelan-pelan Kak? Kan tadi disuruh cepet-cepet sama Kakak-kakak Osis yang
digerbang…” ucap Sivia dengan polosnya. Senior tampan itu tak menyangka bahwa
Sivia akan menjawabnya.
“pake jawab lagi lo….” Ucap Alvin
galak.
“iihh…Kakak ini ganteng-ganteng kok
galak banget sih? Entar gak ada yang mau loh sama Kakak….” Sang senior yang
ternyata bernama Alvin itu tercengang.
“lo bilang apa?? Anak baru aja udah
belagu lo, gimana entar…?”
“enggak! Via gak belagu…” kata Sivia
lagi dengan wajahnya yang tetap polos. Alvin gemes dan hampir-hampir mau
mencubit kedua pipi Sivia.
“iiihhhh….sekarang balik kebarisan
lo sebelum gue naik darah…”
“Kakak punya penyakit darah tinggi
ya…?” Tanya Sivia dengan ekspresi sok cemas, Alvin tak menjawab, namun jelas ia
menyimpan kekesalan yang teramat sangat pada Sivia.
“kasian, masih muda kok udah kena
darah tinggi, makanya jangan marah-marah mulu…” oceh Sivia lagi.
“elo itu bener-bener ya….?”
Alvin menggeleng pelan dengan senyum
yang merekah diwajah tampannya, ingatan tentang Sivia kembali menyeruak
dibenaknya,
Flash Back Alvin:
“elo
itu gimana sih?? Masa’ balik kanan aja lo gak bisa…?”
“ya
mau gimana lagi? Via kan gak bisa balik kanan? Masa’ mau dipaksain…?
Jawab Sivia sesantai mungkin. Alvin menggeleng berkali-kali lantas berkata,
“sekarang liat kaki gue! Dan ikutin
gue!” Sivia mengangguk.
“kaki kiri kedepan, kaki kanan
kesamping, dan tutup….” Ucap Alvin seraya memberi contoh pada Sivia, tapi Sivia
tetap saja tak bisa. Meski hampir 5 kali mengulang Sivia tetap saja tidak bisa,
Alvin kembali mengoceh,
“sumpah, putus asa gue sama
elo….belajar balik kanan aja susaah banget…”
“emangnya balik kanannya gak bisa
diganti ama balik kiri aja ya Kak…?” Tanya Sivia dengan tampang bodoh,
“balik kiri mana ada dongooo….??”
Kesal Alvin,
Flash Back Alvin:
“hebat
Vi, suara kamu bagus banget…sebagus orangnya…”puji Gabriel dengan tatapan yang
lumayan menggoda, tapi Sivia tidak menunjukan respon apapun. Kali ini Cakka
berkata pada Alvin,
“masih mau nolak Sivia?” Alvin masih
terdiam. Sivia menghela nafas panjang, ia tersenyum sangat manis.
“udah, kalo Kak Alvin gak mau nerima
Via disini, gak apa-apa kok, Kak Alvinnya jangan dipaksa, tapi perlu Kak Alvin
tahu, kalo lagu tadi Via nyanyiin buat Kak Alvin….” Kata Sivia sesantai mungkin
dan seolah tanpa beban.
“CIEEEEEE…..” teriak semuanya
kompak.
Flash Back Alvin:
“Sivia
Azizah, apa alasan anda mengikuti OSIS? Sama seperti Alyssa, disini saya
membutuhkan jawaban yang sejujurnya tanpa ada kebohongan dan paksaan…” sebelum
menjawab pertanyaan Rio, Sivia sempat menghela nafas panjang, semua perhatian
yang ada diruangan itu langsung tertuju pada Sivia, terkecuali Alvin, ia masih
pura-pura sibuk dengan i-pad nya,
“Via ikut OSIS, supaya Via bisa
ngeliat Kak Alvin tiap hari, bisa deket-deket sama Kak Alvin tiap waktu, bisa
merhatiin Kak Alvin, pokoknya semuanya Kak Alvin,Kak Alvin dan Kak Alvin…”
Alvin yang waktu itu sedang
minumpun langsung menyemburkan minumannya, Shilla langsung menepuk-nepuk pundak
Alvin.
“uhuk..uhuk…” semuanya tercengang
mendengarkan jawaban Sivia, sementara Rio, ia hanya bisa cengo, ia tak
menyangka bahwa Sivia akan menjawab pertanyaannya dengan sejujur itu. Saat semuanya
tercengang, Sivia tetap santai.
Flash Back Alvin:
“emang
kenapa kalo Via suka sama kakak…? Gak boleh ya…? Kenapa gak boleh? Tuhan aja
gak larang Via suka sama Kakak, kenapa jadi kakak yang marah-marah…?” kata
Sivia pada Alvin,
“HELLOOO…LO ITU SUKA SAMA GUE DAN
ITU MASALAH BUAT GUE TAU GAK…??”
“gimana bisa jadi masalah….?? WOOY
SEMUA YANG ADA DISINI, INI VIA, SIVIA AZIZAH SUKA SAMA KAK ALVIN, SUKA BANGET…”
semuanya akhirnya mengeluarkan tawa mereka yang sejak tadi mereka tahan, Alvin
semakin malu, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ify yang sudah tidak tahan
lagi dengan ulah Siviapun akhirnya mendekati Sivia lalu membawa paksa Sivia
keluar dari aula sekolah.
“Iiihhh….Ify mau bawa Via kemana
sih? Via kan masih ada urusan sama Kak Alvin…”
“OGAH GUE PUNYA URUSAN SAMA LO….”
Teriak Alvin yang berada tak jauh dari Sivia.
Ingatan
Alvin tentang Sivia terhenti saat Bunda secara tiba-tiba muncul disamping
Alvin. Bunda menepuk pelan pundak Alvin lantas berkata,
“anak
Bunda kenapa senyum-senyum terus dari tadi?” mendengar pertanyaan Bunda, Alvin
langsung membalik badannya hingga berhadapan dengan Bunda. Alvin menatap Bunda
seraya tersenyum sangat manis lalu mulai membuka suara,
“Alvin
jatuh cinta Bund…”
“jatuh
cinta??” Tanya Bunda heran, Alvin kembali menghadap kedepan.
“awalnya
Alvin ngira kalo apa yang Alvin rasain ini salah Bund, tapi ternyata Alvin
bener-bener jatuh cinta sama dia Bunda, Alvin sayang sama dia…”
“DIA??
Dia siapa?” Alvin menghela nafas panjang.
“Sivia,
Bund….”
“hahahaha…
Alvin…Alvin… dulu katanya kamu benci sama Via, sekarang kenapa malah jatuh
cinta sama Via?”
“Alvin
gak tau pasti Bund, mungkin ini kali yang namanya benci jadi cinta…” Alvin
kembali membayangkan wajah Sivia. Dalam hati ia bergumam,
‘Via,
I LOVE YOU… mungkin sekarang Tuhan sedang menghukum gue karna gue terlalu benci
sama lo dulu, tapi gue gak peduli, yang gue tau lo udah bikin gue jatuh cinta,
dan lo harus jadi milik gue, apapun dan gimanapun caranya….’
^_^
Karna
kurang hati-hati saat menuruni anak tangga tanpa sengaja Sivia menginjak tali
sepatunya yang waktu itu tanpa ia sadari terlepas. Sivia nyaris saja terjatuh
kebawah jika saja Gabriel tak segera menahan tubuhnya. Sivia jatuh tepat
dipelukan Gabriel.
“aaw…”
rintih Sivia. Gabriel menatap Sivia yang saat itu berada dalam dekapannya.
Gabriel nyaris tak berkedip ketika mendapati Sivia, gadis yang sudah sejak lama
ia suka kini berada sangat dekat dengannya. Gabriel menatap Sivia
sedalam-dalamnya, Sivia sampai salah tingkah melihat tatapan Gabriel yang lumayan
menciutkan nyali itu. Gabriel tersenyum kecil. Tiba-tiba saja ‘DEG….’ Sivia
merasakan sebuah getaran yang cukup kuat didadanya. Bukan karna ia menyukai
Gabriel, tapi karna Sivia benar-benar merasa tak tahan dengan tatapan Gabriel
itu.
“Ka…
Kak Iel..!” panggil Sivia pelan dengan harapan Gabriel segera melepaskannya.
Namun sayang, Gabriel terlanjur terhipnotis oleh wajah cantik Sivia, hingga
Gabriel sama sekali tak sadar dengan keadaan sekitar.
Alvin
yang saat itu akan menuruni akan tanggapun melihat adegan mesra yang
dipertontonkan oleh Gabriel dan Sivia. Air muka Alvin langsung berubah. Rasa
cemburu telah membakar hatinya. Panas disertai dengan rasa sakit mulai ia
rasakan. Cokelat yang ia sembunyikan dibelakangnya yang rencananya akan ia
berikan pada Siviapun terlepas secara perlahan dari tangannya. Alvin
mengepalkan tangan kirinya dengan sekuat-kuatnya. Rencana indahnya untuk
menyatakan perasaannya pada Sivia hari inipun ia batalkan begitu saja.
‘mungkin
lo bener-bener pengen ngelupain gue, Vi…’ batin Alvin lalu kembali menaiki anak
tangga.
BERSAMBUNG……


0 comments:
Post a Comment