Tuesday, June 4, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 19 "...... In The Rain"





2 Bulan kemudian…..



                Tidak terasa 2 Bulan sudah Alvin dan Sivia menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Meskipun perjalanan hubungan mereka selama 2 bulan terakhir ini dipenuhi dengan percekcokan-perscekcokan yang sebenarnya tidak penting, tapi mereka tetap bisa mempertahankan hubungan mereka. Kunyuk dan Jelek tetap terlihat serasi.
            “lo maen basket apa maen bola bekel? Lemes amat?” cibir Alvin saat dirinya dan Sivia tengah asyik bermain basket dilapangan basket yang terdapat dihalaman dibelakang Rumah Singgah.
            Sivia menghela nafas kesal seraya berkacak pinggang, ia menatap benci kearah Alvin yang saat itu dengan santainya tengah mendrible bola. Keringat bercucuran membingkai wajah manis Sivia.
            “lo kenapa sih ngeledekin gue terus dari tadi? Nggak bosen apa?” Tanya Sivia dongkol.
            Alvin tersenyum nakal. Alvin melompat lalu menembakkan bola ke ring. Hasilnya, bola itu memasuki ring dengan sempurna. Alvin menangkap kembali bola yang terpental itu lalu mengapitnya dilengannya. Alvin menatap Sivia seraya tersenyum sangat manis,
            “nggak usah senyum-senyum lo! Ngeri tau nggak gue ngeliat lo”
            Dengan sebal Sivia Sivia menududukan dirinya ditengah lapangan. Alvin berjalan perlahan mendekati Sivia.
            “nggak usah cemberut! Udah jelek makin jelek lo!” ledek Alvin –lagi- sambil duduk disamping Sivia. Alvin meletakkan bola itu disampingnya lalu menoleh kearah Sivia yang saat itu membuang mukanya kearah lain. Enggan melihat Alvin.
            Alvin tersenyum, ia mengacak poni Sivia lalu menarik Sivia kedalam pelukannya sambil tertawa kecil,
            “hahaha… ini yang gue suka dari lo”
            “iihhh… apaan sih? Rese lo tau nggak?” kesal Sivia seraya mendorong pelan tubuh kekar Alvin. Sivia melipat kedua tangannya didada lalu kembali membuang mukanya kearah lain.
            Alvin mengambil handuk kecil yang ia kantongi dicelana basketnya. Tanpa berkata apa-apa, Alvin menarik lengan Sivia hingga Sivia berhadapan dengannya.
            “sini lo!”
            “apaan lagi sih?”
            “bisa diem nggak sih lo?” kata Alvin sedikit membentak. Sivia langsung terdiam.
            Alvin mengusap keringat yang bercucuran yang diwajah Sivia dengan penuh perhatian. Dan jujur saja, sikap perhatian Alvin inilah yang sangat Sivia nanti-nantikan. Selama berpacaran dengan Alvin, Alvin memang sangat jarang sekali memperhatikannya, tapi sekalinya perhatian, Alvin selalu sukses membuat Sivia terbang melayang hingga hampir menyentuh langit ketujuh.
            Sivia menatap wajah Alvin nyaris tak berkedip. Ternyata pacarnya ini memang benar-benar sangat mempesona, pantas saja Pricilla Si Kapten Cheers itu mati-matian mengejarnya. Sivia terkekeh geli ketika mengingat kejadian dimalam pesta ulang tahun Pricilla beberapa waktu lalu.
            “kenapa lo malah cengengesan? Udah kayak kunti aja lo”
            Merasa tersindir oleh perkataan Alvin barusan, Sivia langsung menoyor kepala Alvin. Alvin meringis pelan sambil memegagni keningnya,
            “ooo… berani ya lo noyor-noyor gue?”
            “elo yang ngajakin ribut duluan kan?”
            “ooo… jadi sekarang nyalah-nyalahin gue nih ceritanya”
            “biarin, wleee….” Sivia menjulurkan lidahnya lalu bangkit dan berlari menjauhi Alvin.
            “heh, jangan kabur lo! Awas aja kalo ketangkep”
            Dibawah langit yang mendung, Alvin berlari mengejar Sivia. Suara tawa mereka pecah dan menggemakan sebuah kebahagiaan. Setelah cukup lama berusaha mengejar Sivia, akhirnya Alvin berhasil juga meraih Sivia, Alvin menahan Sivia dengan cara memeluknya erat dari belakang.
            “mau lari kemana lo? Hah?”
            “hahaha… Alvin lepas!” kata Sivia seraya menepuk-nepuk pelan lengan Alvin yang menahan tubuhnya.
            “enak aja lo, Jelek!!” Alvin mengangkat tubuh Sivia lalu memutarnya beberapa kali.
            “Alvin udaaahh, gue pusiiingggg”
            Alvinpun melepaskan tubuh Sivia tapi tetap menahannya dalam dekapannya. Sivia berbalik menghadap Alvin. Untuk beberapa saat mereka saling menatap satu sama lain.
            “dulu bukannya lo pernah bilang ke gue, kalo Cuma orang yang nggak waras yang mau jadi cowok gue, tapi sekarang….” Sivia tidak melanjutkan perkataannya. Alvin yang paham langsung mengangguk beberapa kali,
            “itu dia masalahnya sekarang” kata Alvin,
            “masalah apa?”
            “masalahnya sekarang gue udah nggak waras. Lebih tepatnya sih ketuluaran gila sama lo” ucap Alvin enteng dan seolah tanpa beban. Sivia langsung mencubit perut Alvin dengan tidak berprasaan.
            “aww… sakit begok!”
            “lepasin gue ah! Gue udah males sama lo!” pinta Sivia sambil berusaha keras melepaskan dirinya dari Alvin. Alvin menggeleng pelan seraya menatap Sivia lurus.
            Langit yang semula mendung semakin diselimuti oleh awan hitam. Sudah dapat dipastikan bahwa sebentar lagi hujan akan turun mengguyur bumi. Beberapa saat kemudian, Sivia dikagetkan oleh suara petir yang menggelegar. Sivia yang kaget reflex memeluk erat tubuh Alvin dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Alvin. Alvin tersenyum geli. Dasar penakut!
            “haha… lebay lo! Denger suara petir aja pake acara takut segala” cibir Alvin dengan nada meledek. Sivia menghela nafas kesal beberapa kali lalu setelahnya mendorong tubuh kekar Alvin hingga menjauh darinya.
            “lo emang rese ya? Gue salah apa sih sampe dapet musibah jadi pacar lo” kata Sivia yang kekesalannya sudah benar-benar mencapai diambang batas. Alvin hanya tersenyum tipis.
            Beberapa detik kemudian setelah terdengar suara petir yang cukup menggegelegar, hujanpun seakan tumpah dari perut bumi. Hujan disore itu benar-benar lebat. Dan tepat saat Sivia akan berlari memasuki rumah singgah, Alvin buru-buru menahan pergelangan tangannya,
            “mau kemana lo??”
            “gue mau masuk”
            “nggak, lo nggak boleh masuk”
            “Gila aja lo Kunyuk, ini hujannya gede banget….”
            Alvin menggeleng pelan, “temenin gue main hujan”
            Alvin menarik pergelangan tangan Sivia lebih keras hingga berdekatan dengannya. Alvinpun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Gadis itu. Saat ini mereka berdua sudah benar-benar basah kuyup. Sivia bungkam seketika saat kedua manik mata Alvin jatuh tepat pada kedua bola matanya. Dalam.
            Alvin mengangkat tangan kananya secara perlahan, sementara tangan yang satunya lagi masih melingkar pada pinggang Sivia. Alvin mendaratkan tangannya tepat pada pipi chubby Sivia,
            “Jelek… gue cinta sama lo, bener-bener cinta…” ucap Alvin pelan. Sivia menunduk dalam. Entah kenapa setiap kali Alvin mengatakan bahwa dia mencintainya, hati Sivia selalu bergetar hebat. Meskipun Alvin tidak hanya sekali menyatakan perasaannya, dan meskipun kata cinta itu meluncur berkali-kali dari bibir Alvin, hati Sivia tetap bergetar mendengarkannya.
            Sivia mengangkat wajahnya lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher Alvin. Dengan berani Sivia menantang tatapan Alvin,
            “gue juga cinta banget sama lo, Nyuk. Meskipun lo rese, lo nyebelin, lo ngeselin, gue tetep cinta sama lo. Dan justru sifat-sifat nyebelin lo itu yang bikin gue cinta sama lo…”
            “Jelek, apa lo mau tau sesuatu?” Tanya Alvin tiba-tiba,
            “apa?”
            “hari ini gue jatuh cinta lagi untuk yang semilyar kalinya sama cewek yang sama. Sama cewek terjelek sejagad raya…”
            Hening untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, Alvin dan Sivia sama-sama mendekatkan wajah mereka masing-masing. Semakin lama semakin dekat hingga kini kening serta hidung mereka bersentuhan satu sama lain. Sivia tersenyum malu-malu. Saat ini Sivia benar-benar tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya. Sivia bahagia, benar-benar bahagia.
            Alvin memiringkan posisi wajahnya lantas memejamkan kedua matanya. Dan saat bibir Alvin menyentuh bibirnya dengan lembut, Sivia tergetar. Ia pun memejamkan matanya lantas membalas ciuman lembut Alvin. Ini pertama kalinya Sivia membalas ciuman Alvin.
            Dan ketika Alvin semakin memperdalam ciumannya, Sivia seolah merasa bahwa kedua kakinya tidak berpijak dibumi lagi. Alvin telah membawanya terbang jauh menembus langit ketujuh.


                                    “…… In The Rain….”



^_^

            Alvin semakin mempercepat laju motornya saat menyadari bahwa ada sebuah jaguar hitam yang mengikutinya dari belakang. Alvin yakin bahwa jaguar hitam yang saat ini sedang mengikutinya pasti jaguar milik anak buah Papa nya yang sedang mengincarnya. Alvin berusaha tenang. Apapun keadaannya Alvin harus tetap tenang.
            Tapi Dewi keberuntungan nampaknya tidak sedang berpihak pada Alvin saat ini. Karna beberapa saat kemudian, Jaguar hitam itu berhasil mendahului laju motornya dan berhenti tepat dihadapannya. Alvinpun mengerem mendadak Ninja merahnya. Sedikit lagi Alvin nyaris saja menabrak Jaguar Hitam itu. Alvin menghela nafas lega. Tuhan ternyata masih menyayanginya.
            3 orang pria bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam keluar dari dalam jaguar itu dan berjalan menghampiri Alvin.
            “mau apa lo semua?” Tanya Alvin sinis. Tapi tidak ada satupun dari ketiga Pria itu yang menjawab pertanyaannya. Alvin tersenyum meremehkan,
            “Papa yang nyuruh kalian buat ngikutin gue??” Tanya Alvin sekali lagi.
            Salah satu dari ketiga Pria bertubuh kekar itu yang merupakan Boss mereka menunduk memberi hormat untuk Alvin,
            “sebelumnya maafkan kami Tuan Muda. Tapi kami harus tetap menjalankan tugas kami dengan baik…”
            Kedua anak buah dari pria itupun mendekat kearah Alvin, mereka memegangi lengan Alvin dan telah siap membawa Alvin pergi menghadap Tuan Besar mereka.
            “heh! Lepasin gue! Ini perintah!” ucap Alvin tegas. Tapi percuma saja Alvin memberontak.
            Semakin Alvin memberontak, semakin erat pula pegangan kedua anak buah Farish pada lengannya. Karena Alvin terus-terusan memberontak dan mempersulit pekerjaan mereka, salah satu dari merekapun langsung membius Alvin tanpa ampun. Dan hanya beberapa detik saja setelah mereka membius Alvin, Alvin langsung tidak sadarkan diri.
            Kedua anak buah Farish membawa Alvin memasuki jaguar hitam tadi. Sementara yang satunya lagi mengendarai motor Alvin.


^_^

            Sivia cemas, sudah 5 kali dia mencoba menghubungi nomer Alvin, tapi Alvin tidak juga mengangkat telfonnya. Sivia terduduk diatas kasurnya. Padahal baru semalam Alvin berjanji padanya bahwa pagi ini ia akan menjemput Sivia dan berkenalan langsung dengan Mamanya untuk yang pertama kalinya. Dan jika Alvin menepati janjinya, seharunya sekarang Alvin sudah tiba dirumah Sivia, tapi ini?
            Sialan, perasaan Sivia mendadak tidak enak. Ada sebenarnya dengan Kunyuk itu? Kenapa dia senang sekali membuat Sivia cemas seperti ini?
            “Via, kamu belum berangkat sayang?” Tanya Mama yang tiba-tiba saja menyembul dari balik pintu. Sivia kaget dan langsung melihat kearah pintu,
            “i… iya Ma, ini juga udah mau berangkat”
            “berangkat bareng siapa?”
            Sivia berfikir sejenak, “Cakka, Ma…” jawab Sivia berbohong. Mama mengangguk beberapa kali lantas berkata,
            “Via, malem ini kamu nggak ada acara apa-apa kan?”
            “ng… nggak ada Ma, kenapa emang?”
            “barusan Om Farish nelfon Mama, katanya Malem ini Om Farish bakalan ngenalin kita sama anaknya”
            Mendengar penuturan Mama, kedua alis Sivia langsung bertemu. Heran. Yang Sivia tau selama ini Anaknya Om Faris itu sangat menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari Alvin. Sekalipun tidak pernah bertemu secara langsung dengan anaknya Om Farish, tapi Sivia bisa menebak bagaimana sikapnya dari cerita-cerita Mamanya juga cerita-cerita Om Farish.
            Mama yang menyadari bahwa saat ini Sivia sedang heran hanya bisa tersenyum,
            “udah nggak usah heran gitu. Sekarang kamu siep-siep aja kesekolah, nanti telat lho!”
            “i… iya Ma…”


^_^

            Alvin membuka kedua matanya secara perlahan. Setelah hampir selama 1 jam tidak sadarkan diri akhirnya Alvin sadar juga. Saat ini Alvin sudah berada didalam kamarnya, atau lebih tepatnya bekas kamarnya. Ya… saat ini Alvin sudah berada dirumah Papanya.
            2 tahun tidak pernah menghuni kamarnya ini, ternyata tidak ada satupun yang berubah dari kamarnya. Semuanya tetap sama seperti 2 tahun yang lalu. Alvin mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Alvin memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit berdenyut. Semua ini pasti karna efek obat bius tadi.
            “kamu baik-baik saja kan, Nak…?” ucap seorang Pria yang ternyata adalah Papa Alvin. Alvin agak sedikit kaget ketika melihat kehadiran Papa nya yang secara tiba-tiba itu. Alvin melihat sejenak kearah Papanya dan kembali membuang tatapannya ke arah lain.
            Sebenarnya apalagi sih yang Tuan Besar ini inginkan dari Alvin?
            “maaf kalo Papa melakukan cara ini untuk membawa kamu kembali kerumah ini, tapi Papa benar-benar tidak memiliki cara lain selain cara ini”
            “ya terus sekarang Papa mau apa?” sinis Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Papanya.
            “oh… jadi begini cara kamu menyambut kedatangan Papa kamu setelah selama 2 bulan tidak bertemu?”
            “aku malah berharap tidak pernah ketemu Papa lagi” sahut Alvin dengan santai.
            “ternyata Mama kamu sudah benar-benar gagal dalam mendidik kamu”
            “udahlah nggak usah bawa-bawa Mama, sebut aja apa yang Papa mau dari aku!”
            Farish menghela nafas panjang. Biar bagaimanapun Farish harus tetap sabar dalam menghadapi kekerasan Alvin.
            “kalau kamu Tanya apa yang Papa mau dari kamu jawabannya cukup sederhana saja! Malem ini Papa mau kamu ikut sama Papa untuk berkenalan dengan Tante Denita juga kedua anaknya”
            Kali ini Alvin menatap tajam kearah Papanya. Mungkin sudah saatnya Alvin menyerah. Dan Alvin merasa sudah benar-benar muak dengan segalanya.
            “Cuma itu yang Papa mau?” Tanya Alvin, Farish mengangguk pasti.
            “Ok, kalo itu yang Papa mau, aku ikutin” lanjut Alvin. Farishpun tersenyum puas. Akhirnya setelah sekian lama membujuk Alvin dengan berbagai macam cara supaya mau berkenalan dengan Denita dan anak-anaknya, akhirnya hari ini Alvin luluh juga dengan sendirinya.
            ‘Maafin Alvin, Ma…’ batin Alvin…


^_^

            “kenapa lo? Kok dari tadi cemberut terus??” Tanya Cakka seraya duduk disamping Sivia. Saat itu Cakka dan Sivia tengah duduk berdua disebuah bangku panjang yang terdepat didepan kelas mereka.
            “lagi bête sama Alvin…”
            “bête? Bête kenapa? Itu anak nyakitin lo lagi?” Tanya Cakka sedikit emosi,
            “bukan nyakitin Kka, tapi bikin nyesek” jujur Sivia apa adanya didepan Cakka,
            “emang si Alvin kenapa?” Tanya Cakka penasaran –lagi-
            “semalem dia janji sama gue kalo dia bakalan jemput gue hari ini dan kenalan langsung sama Mama, tapi dia malah nggak dateng, dan jahatnya lagi, 5 kali gue coba buat ngehubungin dia tapi dia nggak angkat telfon gue Kka, SMS gue juga dia kacangin gitu aja, gue sebeeeelllllll….”
            “ya mungkin Alvin emang lagi ada urusan yang nggak bisa dia tinggalin….” Cakka berusaha menenangkan,
            “sepenting apa sih sampe ngangkat telfon gue aja dia nggak sempet?” suara Sivia terdengar sedikit parau,
            “selama 2 bulan gue jalan sama dia, Alvin nggak pernah kayak gini sebelumnya sama gue Kka, dan entah kenapa tiba-tiba perasaan gue nggak enak. Gue takut Kka, gue takut bakalan terjadi sesuatu yang menimpa hubungan gue sama Alvin, gue nggak mau itu terjdi Kka, gue nggak mau kehilangan Alvin…”
            “kenapa lo jadi negative thinking kayak gini sih, Vi? Udah lo tenang aja, nggak bakal terjadi apa-apa sama hubungan lo sama Alvin, kalo sampe itu terjadi dan sampe Alvin berani nyakitin lo, maka itu anak bakalan langsung berhadapan sama gue” ucap Cakka bersungguh-sungguh.
            Sivia mengangguk dan berusaha menenangkan dirinya sendiri,
            “iya, Kka…”
            “udah, lo percaya aja sama gue yaa?”
            “gue akan usaha…”
            Tiba-tiba Sivia merasakan handphonenya bergetar. Ia menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang. Saat tahu bahwa yang menelponnya adalah Alvin, Sivia buru-buru mengangkat telfonnya,
            “hallo Kunyuk, dari tadi lo kemana aja? Kenapa lo nggak jadi jemput gue? Lo nggak tau apa kalo tadi pagi tuh gue nungguin lo”
            “maafin gue ya, Vi…?” ucap seseorang dari sebrang sana.
            “gue nggak mau maafin lo pokoknya. Padahal tadinya gue udah seneng banget ngebayangin hari ini lo bakalan kenalan sama Mama gue juga sama Marsha adek gue, tapi ternyata…”
            “gue bener-bener minta maaf, Vi… tadi mendadak gue ada urusan, Papa gue nelfon gue dan minta buat jemput dia dibandara” ucap Alvin berbohong. Alvin hanya tidak ingin menceritakan yang sebenarnya pada Sivia, Alvin takut Sivia cemas jika Alvin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
            “lo nggak lagi ngebohongin gue kan?” Tanya Sivia meyakinkan,
            “nggak, gue nggak bohong! Dan kali ini beneran, besok pagi gue akan jemput lo sekalian kenalan langsung sama Mama lo. Dan untuk hari ini mungkin gue nggak bisa kemana-mana dulu, gue masih ada urusan sama Papa. Emm… lo nggak apa-apa kan hari ini gue tinggal?”
            Sivia mengangguk maklum. Sivia ingat bahwa hubungan Alvin dengan Papanya sedang dalam keadaan tidak baik dan mungkin ini merupakan kesempatan bagi Alvin dan Papanya untuk memperbaiki hubungan mereka.
            “nggak apa-apa, Nyuk! Gue berharap, semoga setelah ini hubungan lo sama Papa lo bisa sedikit membaik” ucap Sivia penuh harap. Kali ini Alvin terdiam dan tidak membalas ucapan Sivia. Ia cukup merasa berdosa karna telah membohongi Sivia.
            “Kunyuk, laen kali elo kenalin gue ya sama Papa lo…”
            “iya” jawab Alvin pendek.
            “Kunyuk…. I love you so much…”
            “I love you too, Jelek”

            Cakka tersenyum miris ketika mendengarkan Sivia mengucapkan kalimat ‘I Love You So Much’ untuk Alvin. Andai saja Sivia mengucapkan kalimat itu untuknya dan bukan untuk Alvin.


^_^

            Malam itu, Sivia, Mamanya dan juga Marsha terlihat tengah duduk bersama disebuah meja restoran yang telah dipesan khusus oleh Farish untuk acara perkenalan mereka secara resmi malam ini.
            Sudah hampir 10 menit, tapi hingga saat ini Farish dan anaknya belum juga menampakkan tanda-tanda kedatangan mereka.
            “Ma, Om Farish sama anaknya mana sih? Kok lama?” Tanya Marsha,
            “Om Farish masih usaha kali ngebujuk anaknya supaya mau kenalan sama kita” sahut Sivia tiba-tiba,
            “stttt…. Via, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu sayang”
            “maaf, Ma…” sesal Sivia seraya menunduk dalam.
            “jangan diulangin lagi, Mama nggak suka!”
            “iya, Ma…”
            Beberapa saat kemudian Sivia pamit ke toilet pada Mama dan Marsha,
            “jangan lama-lama ya, Vi? Om Farish sama anaknya sudah diparkiran soalnya”
            “iya Ma, nggak akan lama kok…” Sivia meraih handphonenya lalu berjalan menuju toilet.
            Tidak lama setelah Sivia pamit ke toilet, Alvin dan Papanya pun datang. Mereka segera menghampiri Denita dan Marsha yang sudah menunggu lama.
            “Nita, kamu sudah lama?”
            “eh Mas? Nggak kok Mas, aku sama anak-anak baru aja dateng” jawab Denita seraya bangkit dari kursinya. Denita melihat kearah Alvin yang saat itu enggan melihatnya.
            “kamu Alvin kan, Nak…?” Tanya Denita pada Alvin,
            “iya” jawab Alvin dingin.
            Alvin dan Papanya pun duduk dihadapan Denita juga Marsha. Saat melihat wajah Alvin, entah kenapa Marsha merasa pernah melihat Alvin sebelumnya. Tapi dimana? Kapan?
            “Via mana?” Tanya Farish saat mereka sudah duduk berhadapan,
            “lagi ditoilet, Mas…”
            Dan Alvin sama sekali tidak ngeh saat Papanya menyebut nama Via. Alvin sudah terlanjur tidak mau ambil pusing dengan segala hal yang Papanya lakukan. Alvin sudah muak, benar-benar muak.
            5 menit kemudian Sivia kembali dari toilet. Dari kejauhan Sivia seperti melihat sosok Alvin tengah berkumpul bersama Mamanya juga Om Farish dan Marsha. Sivia menghentikan langkahnya dan berusaha meyakinkan apa yang ia lihat. Apa benar itu Alvin? Tapi buat Alvin berkumpul bersama Mama nya juga Om Farish? Jangan-jangan…..
            Sivia merasakan dadanya tertohok. Nafasnya seakan memburu, menyesakkan, benar-benar menyesakkan. Jadi Alvin adalah anaknya Om Farish?
            Sivia berharap bahwa semua apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi buruknya saja, tapi ternyata harapan Sivia musnah seketika. Ini bukan mimpi, tapi kenyataan yang harus Sivia hadapi.
            Kedua mata Sivia memanas dan telah siap meremebeskan air mata. Lelucon macam apa semua ini? Sivia benar-benar tidak mengerti. Dan air mata Sivia akhirnya menetes dengan deras saat mengingat bahwa sebentar lagi Mamanya dan Om Farish akan segera melakukan acara pernikahan dalam waktu dekat ini. Berarti Alvin dan Sivia akan menjadi saudara tiri. Sivia menggeleng beberapa kali. Tidak, semua kenyataan ini terlalu sulit untuk Sivia mengerti.
            Sivia sangat mencintai Alvin, tapi….
            Sivia berbalik sebelum semuanya sempat menyadari kehadirannya. Sivia menghela nafas beratnya lantas hengkang dari tempat itu.
            Sivia berlari sekencang-kencangnya tanpa arah dan tujuan yang jelas. Tiba-tiba suara petir menggelegar dan memecah kehingan malam itu. Sivia yang terkejut langsung menghentikan larinya. Sivia terdiam lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat. Air matanya semakin deras menetes, bersamaan dengan itu, hujanpun turun dengan lebatnya. Sivia yang putus asa malah diam ditempat dan membiarkan begitu saja hujan mengguyur tubuhnya yang semakin lama semakin melemah karna kedinginan.
            “Tuhaannn… katakan bahwa semua ini hanya mimpi burukku saja Tuhan… kenapa? Kenapa harus Alvin…??” batin Sivia disertai dengan isak tangis yang kelamaan memecah bersama hujan.


                                    “…. In The Rain…..”



                        BERSAMBUNG….
                       

0 comments:

Post a Comment