2 Bulan kemudian…..
Tidak terasa 2 Bulan sudah Alvin dan
Sivia menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Meskipun perjalanan hubungan
mereka selama 2 bulan terakhir ini dipenuhi dengan percekcokan-perscekcokan
yang sebenarnya tidak penting, tapi mereka tetap bisa mempertahankan hubungan
mereka. Kunyuk dan Jelek tetap terlihat serasi.
“lo maen basket apa maen bola bekel?
Lemes amat?” cibir Alvin saat dirinya dan Sivia tengah asyik bermain basket
dilapangan basket yang terdapat dihalaman dibelakang Rumah Singgah.
Sivia menghela nafas kesal seraya
berkacak pinggang, ia menatap benci kearah Alvin yang saat itu dengan santainya
tengah mendrible bola. Keringat bercucuran membingkai wajah manis Sivia.
“lo kenapa sih ngeledekin gue terus
dari tadi? Nggak bosen apa?” Tanya Sivia dongkol.
Alvin tersenyum nakal. Alvin
melompat lalu menembakkan bola ke ring. Hasilnya, bola itu memasuki ring dengan
sempurna. Alvin menangkap kembali bola yang terpental itu lalu mengapitnya
dilengannya. Alvin menatap Sivia seraya tersenyum sangat manis,
“nggak usah senyum-senyum lo! Ngeri
tau nggak gue ngeliat lo”
Dengan sebal Sivia Sivia menududukan
dirinya ditengah lapangan. Alvin berjalan perlahan mendekati Sivia.
“nggak usah cemberut! Udah jelek
makin jelek lo!” ledek Alvin –lagi- sambil duduk disamping Sivia. Alvin
meletakkan bola itu disampingnya lalu menoleh kearah Sivia yang saat itu
membuang mukanya kearah lain. Enggan melihat Alvin.
Alvin tersenyum, ia mengacak poni
Sivia lalu menarik Sivia kedalam pelukannya sambil tertawa kecil,
“hahaha… ini yang gue suka dari lo”
“iihhh… apaan sih? Rese lo tau
nggak?” kesal Sivia seraya mendorong pelan tubuh kekar Alvin. Sivia melipat
kedua tangannya didada lalu kembali membuang mukanya kearah lain.
Alvin mengambil handuk kecil yang ia
kantongi dicelana basketnya. Tanpa berkata apa-apa, Alvin menarik lengan Sivia
hingga Sivia berhadapan dengannya.
“sini lo!”
“apaan lagi sih?”
“bisa diem nggak sih lo?” kata Alvin
sedikit membentak. Sivia langsung terdiam.
Alvin mengusap keringat yang
bercucuran yang diwajah Sivia dengan penuh perhatian. Dan jujur saja, sikap
perhatian Alvin inilah yang sangat Sivia nanti-nantikan. Selama berpacaran
dengan Alvin, Alvin memang sangat jarang sekali memperhatikannya, tapi
sekalinya perhatian, Alvin selalu sukses membuat Sivia terbang melayang hingga
hampir menyentuh langit ketujuh.
Sivia menatap wajah Alvin nyaris tak
berkedip. Ternyata pacarnya ini memang benar-benar sangat mempesona, pantas
saja Pricilla Si Kapten Cheers itu mati-matian mengejarnya. Sivia terkekeh geli
ketika mengingat kejadian dimalam pesta ulang tahun Pricilla beberapa waktu
lalu.
“kenapa lo malah cengengesan? Udah
kayak kunti aja lo”
Merasa tersindir oleh perkataan
Alvin barusan, Sivia langsung menoyor kepala Alvin. Alvin meringis pelan sambil
memegagni keningnya,
“ooo… berani ya lo noyor-noyor gue?”
“elo yang ngajakin ribut duluan
kan?”
“ooo… jadi sekarang nyalah-nyalahin
gue nih ceritanya”
“biarin, wleee….” Sivia menjulurkan
lidahnya lalu bangkit dan berlari menjauhi Alvin.
“heh, jangan kabur lo! Awas aja kalo
ketangkep”
Dibawah langit yang mendung, Alvin
berlari mengejar Sivia. Suara tawa mereka pecah dan menggemakan sebuah
kebahagiaan. Setelah cukup lama berusaha mengejar Sivia, akhirnya Alvin
berhasil juga meraih Sivia, Alvin menahan Sivia dengan cara memeluknya erat
dari belakang.
“mau lari kemana lo? Hah?”
“hahaha… Alvin lepas!” kata Sivia
seraya menepuk-nepuk pelan lengan Alvin yang menahan tubuhnya.
“enak aja lo, Jelek!!” Alvin
mengangkat tubuh Sivia lalu memutarnya beberapa kali.
“Alvin udaaahh, gue pusiiingggg”
Alvinpun melepaskan tubuh Sivia tapi
tetap menahannya dalam dekapannya. Sivia berbalik menghadap Alvin. Untuk
beberapa saat mereka saling menatap satu sama lain.
“dulu bukannya lo pernah bilang ke
gue, kalo Cuma orang yang nggak waras yang mau jadi cowok gue, tapi sekarang….”
Sivia tidak melanjutkan perkataannya. Alvin yang paham langsung mengangguk
beberapa kali,
“itu dia masalahnya sekarang” kata
Alvin,
“masalah apa?”
“masalahnya sekarang gue udah nggak
waras. Lebih tepatnya sih ketuluaran gila sama lo” ucap Alvin enteng dan seolah
tanpa beban. Sivia langsung mencubit perut Alvin dengan tidak berprasaan.
“aww… sakit begok!”
“lepasin gue ah! Gue udah males sama
lo!” pinta Sivia sambil berusaha keras melepaskan dirinya dari Alvin. Alvin
menggeleng pelan seraya menatap Sivia lurus.
Langit yang semula mendung semakin
diselimuti oleh awan hitam. Sudah dapat dipastikan bahwa sebentar lagi hujan
akan turun mengguyur bumi. Beberapa saat kemudian, Sivia dikagetkan oleh suara
petir yang menggelegar. Sivia yang kaget reflex memeluk erat tubuh Alvin dan
menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Alvin. Alvin tersenyum geli.
Dasar penakut!
“haha… lebay lo! Denger suara petir
aja pake acara takut segala” cibir Alvin dengan nada meledek. Sivia menghela
nafas kesal beberapa kali lalu setelahnya mendorong tubuh kekar Alvin hingga
menjauh darinya.
“lo emang rese ya? Gue salah apa sih
sampe dapet musibah jadi pacar lo” kata Sivia yang kekesalannya sudah
benar-benar mencapai diambang batas. Alvin hanya tersenyum tipis.
Beberapa detik kemudian setelah
terdengar suara petir yang cukup menggegelegar, hujanpun seakan tumpah dari
perut bumi. Hujan disore itu benar-benar lebat. Dan tepat saat Sivia akan
berlari memasuki rumah singgah, Alvin buru-buru menahan pergelangan tangannya,
“mau kemana lo??”
“gue mau masuk”
“nggak, lo nggak boleh masuk”
“Gila aja lo Kunyuk, ini hujannya
gede banget….”
Alvin menggeleng pelan, “temenin gue
main hujan”
Alvin menarik pergelangan tangan
Sivia lebih keras hingga berdekatan dengannya. Alvinpun melingkarkan kedua
tangannya pada pinggang Gadis itu. Saat ini mereka berdua sudah benar-benar
basah kuyup. Sivia bungkam seketika saat kedua manik mata Alvin jatuh tepat
pada kedua bola matanya. Dalam.
Alvin mengangkat tangan kananya
secara perlahan, sementara tangan yang satunya lagi masih melingkar pada
pinggang Sivia. Alvin mendaratkan tangannya tepat pada pipi chubby Sivia,
“Jelek… gue cinta sama lo,
bener-bener cinta…” ucap Alvin pelan. Sivia menunduk dalam. Entah kenapa setiap
kali Alvin mengatakan bahwa dia mencintainya, hati Sivia selalu bergetar hebat.
Meskipun Alvin tidak hanya sekali menyatakan perasaannya, dan meskipun kata
cinta itu meluncur berkali-kali dari bibir Alvin, hati Sivia tetap bergetar
mendengarkannya.
Sivia mengangkat wajahnya lalu
melingkarkan kedua tangannya pada leher Alvin. Dengan berani Sivia menantang
tatapan Alvin,
“gue juga cinta banget sama lo,
Nyuk. Meskipun lo rese, lo nyebelin, lo ngeselin, gue tetep cinta sama lo. Dan
justru sifat-sifat nyebelin lo itu yang bikin gue cinta sama lo…”
“Jelek, apa lo mau tau sesuatu?”
Tanya Alvin tiba-tiba,
“apa?”
“hari ini gue jatuh cinta lagi untuk
yang semilyar kalinya sama cewek yang sama. Sama cewek terjelek sejagad raya…”
Hening untuk beberapa saat. Tidak
lama kemudian, Alvin dan Sivia sama-sama mendekatkan wajah mereka
masing-masing. Semakin lama semakin dekat hingga kini kening serta hidung
mereka bersentuhan satu sama lain. Sivia tersenyum malu-malu. Saat ini Sivia
benar-benar tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya. Sivia bahagia,
benar-benar bahagia.
Alvin memiringkan posisi wajahnya
lantas memejamkan kedua matanya. Dan saat bibir Alvin menyentuh bibirnya dengan
lembut, Sivia tergetar. Ia pun memejamkan matanya lantas membalas ciuman lembut
Alvin. Ini pertama kalinya Sivia membalas ciuman Alvin.
Dan ketika Alvin semakin memperdalam
ciumannya, Sivia seolah merasa bahwa kedua kakinya tidak berpijak dibumi lagi.
Alvin telah membawanya terbang jauh menembus langit ketujuh.
“…… In The Rain….”
^_^
Alvin semakin mempercepat laju
motornya saat menyadari bahwa ada sebuah jaguar hitam yang mengikutinya dari
belakang. Alvin yakin bahwa jaguar hitam yang saat ini sedang mengikutinya
pasti jaguar milik anak buah Papa nya yang sedang mengincarnya. Alvin berusaha
tenang. Apapun keadaannya Alvin harus tetap tenang.
Tapi Dewi keberuntungan nampaknya
tidak sedang berpihak pada Alvin saat ini. Karna beberapa saat kemudian, Jaguar
hitam itu berhasil mendahului laju motornya dan berhenti tepat dihadapannya.
Alvinpun mengerem mendadak Ninja merahnya. Sedikit lagi Alvin nyaris saja
menabrak Jaguar Hitam itu. Alvin menghela nafas lega. Tuhan ternyata masih
menyayanginya.
3 orang pria bertubuh kekar dan
berpakaian serba hitam keluar dari dalam jaguar itu dan berjalan menghampiri
Alvin.
“mau apa lo semua?” Tanya Alvin
sinis. Tapi tidak ada satupun dari ketiga Pria itu yang menjawab pertanyaannya.
Alvin tersenyum meremehkan,
“Papa yang nyuruh kalian buat
ngikutin gue??” Tanya Alvin sekali lagi.
Salah satu dari ketiga Pria bertubuh
kekar itu yang merupakan Boss mereka menunduk memberi hormat untuk Alvin,
“sebelumnya maafkan kami Tuan Muda.
Tapi kami harus tetap menjalankan tugas kami dengan baik…”
Kedua anak buah dari pria itupun
mendekat kearah Alvin, mereka memegangi lengan Alvin dan telah siap membawa
Alvin pergi menghadap Tuan Besar mereka.
“heh! Lepasin gue! Ini perintah!”
ucap Alvin tegas. Tapi percuma saja Alvin memberontak.
Semakin Alvin memberontak, semakin
erat pula pegangan kedua anak buah Farish pada lengannya. Karena Alvin
terus-terusan memberontak dan mempersulit pekerjaan mereka, salah satu dari merekapun
langsung membius Alvin tanpa ampun. Dan hanya beberapa detik saja setelah
mereka membius Alvin, Alvin langsung tidak sadarkan diri.
Kedua anak buah Farish membawa Alvin
memasuki jaguar hitam tadi. Sementara yang satunya lagi mengendarai motor Alvin.
^_^
Sivia cemas, sudah 5 kali dia
mencoba menghubungi nomer Alvin, tapi Alvin tidak juga mengangkat telfonnya.
Sivia terduduk diatas kasurnya. Padahal baru semalam Alvin berjanji padanya
bahwa pagi ini ia akan menjemput Sivia dan berkenalan langsung dengan Mamanya
untuk yang pertama kalinya. Dan jika Alvin menepati janjinya, seharunya
sekarang Alvin sudah tiba dirumah Sivia, tapi ini?
Sialan, perasaan Sivia mendadak
tidak enak. Ada sebenarnya dengan Kunyuk itu? Kenapa dia senang sekali membuat
Sivia cemas seperti ini?
“Via, kamu belum berangkat sayang?”
Tanya Mama yang tiba-tiba saja menyembul dari balik pintu. Sivia kaget dan
langsung melihat kearah pintu,
“i… iya Ma, ini juga udah mau
berangkat”
“berangkat bareng siapa?”
Sivia berfikir sejenak, “Cakka, Ma…”
jawab Sivia berbohong. Mama mengangguk beberapa kali lantas berkata,
“Via, malem ini kamu nggak ada acara
apa-apa kan?”
“ng… nggak ada Ma, kenapa emang?”
“barusan Om Farish nelfon Mama,
katanya Malem ini Om Farish bakalan ngenalin kita sama anaknya”
Mendengar penuturan Mama, kedua alis
Sivia langsung bertemu. Heran. Yang Sivia tau selama ini Anaknya Om Faris itu
sangat menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari Alvin. Sekalipun tidak pernah
bertemu secara langsung dengan anaknya Om Farish, tapi Sivia bisa menebak
bagaimana sikapnya dari cerita-cerita Mamanya juga cerita-cerita Om Farish.
Mama yang menyadari bahwa saat ini
Sivia sedang heran hanya bisa tersenyum,
“udah nggak usah heran gitu.
Sekarang kamu siep-siep aja kesekolah, nanti telat lho!”
“i… iya Ma…”
^_^
Alvin membuka kedua matanya secara
perlahan. Setelah hampir selama 1 jam tidak sadarkan diri akhirnya Alvin sadar
juga. Saat ini Alvin sudah berada didalam kamarnya, atau lebih tepatnya bekas
kamarnya. Ya… saat ini Alvin sudah berada dirumah Papanya.
2 tahun tidak pernah menghuni
kamarnya ini, ternyata tidak ada satupun yang berubah dari kamarnya. Semuanya
tetap sama seperti 2 tahun yang lalu. Alvin mengubah posisinya yang semula
berbaring menjadi duduk. Alvin memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit
berdenyut. Semua ini pasti karna efek obat bius tadi.
“kamu baik-baik saja kan, Nak…?”
ucap seorang Pria yang ternyata adalah Papa Alvin. Alvin agak sedikit kaget
ketika melihat kehadiran Papa nya yang secara tiba-tiba itu. Alvin melihat
sejenak kearah Papanya dan kembali membuang tatapannya ke arah lain.
Sebenarnya apalagi sih yang Tuan
Besar ini inginkan dari Alvin?
“maaf kalo Papa melakukan cara ini
untuk membawa kamu kembali kerumah ini, tapi Papa benar-benar tidak memiliki
cara lain selain cara ini”
“ya terus sekarang Papa mau apa?”
sinis Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Papanya.
“oh… jadi begini cara kamu menyambut
kedatangan Papa kamu setelah selama 2 bulan tidak bertemu?”
“aku malah berharap tidak pernah
ketemu Papa lagi” sahut Alvin dengan santai.
“ternyata Mama kamu sudah
benar-benar gagal dalam mendidik kamu”
“udahlah nggak usah bawa-bawa Mama,
sebut aja apa yang Papa mau dari aku!”
Farish menghela nafas panjang. Biar
bagaimanapun Farish harus tetap sabar dalam menghadapi kekerasan Alvin.
“kalau kamu Tanya apa yang Papa mau
dari kamu jawabannya cukup sederhana saja! Malem ini Papa mau kamu ikut sama
Papa untuk berkenalan dengan Tante Denita juga kedua anaknya”
Kali ini Alvin menatap tajam kearah
Papanya. Mungkin sudah saatnya Alvin menyerah. Dan Alvin merasa sudah
benar-benar muak dengan segalanya.
“Cuma itu yang Papa mau?” Tanya
Alvin, Farish mengangguk pasti.
“Ok, kalo itu yang Papa mau, aku
ikutin” lanjut Alvin. Farishpun tersenyum puas. Akhirnya setelah sekian lama
membujuk Alvin dengan berbagai macam cara supaya mau berkenalan dengan Denita
dan anak-anaknya, akhirnya hari ini Alvin luluh juga dengan sendirinya.
‘Maafin Alvin, Ma…’ batin Alvin…
^_^
“kenapa lo? Kok dari tadi cemberut
terus??” Tanya Cakka seraya duduk disamping Sivia. Saat itu Cakka dan Sivia
tengah duduk berdua disebuah bangku panjang yang terdepat didepan kelas mereka.
“lagi bête sama Alvin…”
“bête? Bête kenapa? Itu anak
nyakitin lo lagi?” Tanya Cakka sedikit emosi,
“bukan nyakitin Kka, tapi bikin
nyesek” jujur Sivia apa adanya didepan Cakka,
“emang si Alvin kenapa?” Tanya Cakka
penasaran –lagi-
“semalem dia janji sama gue kalo dia
bakalan jemput gue hari ini dan kenalan langsung sama Mama, tapi dia malah
nggak dateng, dan jahatnya lagi, 5 kali gue coba buat ngehubungin dia tapi dia
nggak angkat telfon gue Kka, SMS gue juga dia kacangin gitu aja, gue
sebeeeelllllll….”
“ya mungkin Alvin emang lagi ada
urusan yang nggak bisa dia tinggalin….” Cakka berusaha menenangkan,
“sepenting apa sih sampe ngangkat
telfon gue aja dia nggak sempet?” suara Sivia terdengar sedikit parau,
“selama 2 bulan gue jalan sama dia,
Alvin nggak pernah kayak gini sebelumnya sama gue Kka, dan entah kenapa
tiba-tiba perasaan gue nggak enak. Gue takut Kka, gue takut bakalan terjadi
sesuatu yang menimpa hubungan gue sama Alvin, gue nggak mau itu terjdi Kka, gue
nggak mau kehilangan Alvin…”
“kenapa lo jadi negative thinking
kayak gini sih, Vi? Udah lo tenang aja, nggak bakal terjadi apa-apa sama
hubungan lo sama Alvin, kalo sampe itu terjadi dan sampe Alvin berani nyakitin
lo, maka itu anak bakalan langsung berhadapan sama gue” ucap Cakka
bersungguh-sungguh.
Sivia mengangguk dan berusaha
menenangkan dirinya sendiri,
“iya, Kka…”
“udah, lo percaya aja sama gue yaa?”
“gue akan usaha…”
Tiba-tiba Sivia merasakan
handphonenya bergetar. Ia menerima sebuah panggilan masuk dari seseorang. Saat
tahu bahwa yang menelponnya adalah Alvin, Sivia buru-buru mengangkat telfonnya,
“hallo Kunyuk, dari tadi lo kemana
aja? Kenapa lo nggak jadi jemput gue? Lo nggak tau apa kalo tadi pagi tuh gue
nungguin lo”
“maafin gue ya, Vi…?” ucap seseorang
dari sebrang sana.
“gue nggak mau maafin lo pokoknya.
Padahal tadinya gue udah seneng banget ngebayangin hari ini lo bakalan kenalan
sama Mama gue juga sama Marsha adek gue, tapi ternyata…”
“gue bener-bener minta maaf, Vi…
tadi mendadak gue ada urusan, Papa gue nelfon gue dan minta buat jemput dia
dibandara” ucap Alvin berbohong. Alvin hanya tidak ingin menceritakan yang
sebenarnya pada Sivia, Alvin takut Sivia cemas jika Alvin menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi.
“lo nggak lagi ngebohongin gue kan?”
Tanya Sivia meyakinkan,
“nggak, gue nggak bohong! Dan kali
ini beneran, besok pagi gue akan jemput lo sekalian kenalan langsung sama Mama
lo. Dan untuk hari ini mungkin gue nggak bisa kemana-mana dulu, gue masih ada
urusan sama Papa. Emm… lo nggak apa-apa kan hari ini gue tinggal?”
Sivia mengangguk maklum. Sivia ingat
bahwa hubungan Alvin dengan Papanya sedang dalam keadaan tidak baik dan mungkin
ini merupakan kesempatan bagi Alvin dan Papanya untuk memperbaiki hubungan
mereka.
“nggak apa-apa, Nyuk! Gue berharap,
semoga setelah ini hubungan lo sama Papa lo bisa sedikit membaik” ucap Sivia
penuh harap. Kali ini Alvin terdiam dan tidak membalas ucapan Sivia. Ia cukup
merasa berdosa karna telah membohongi Sivia.
“Kunyuk, laen kali elo kenalin gue
ya sama Papa lo…”
“iya” jawab Alvin pendek.
“Kunyuk…. I love you so much…”
“I love you too, Jelek”
Cakka tersenyum miris ketika
mendengarkan Sivia mengucapkan kalimat ‘I Love You So Much’ untuk Alvin. Andai
saja Sivia mengucapkan kalimat itu untuknya dan bukan untuk Alvin.
^_^
Malam itu, Sivia, Mamanya dan juga
Marsha terlihat tengah duduk bersama disebuah meja restoran yang telah dipesan
khusus oleh Farish untuk acara perkenalan mereka secara resmi malam ini.
Sudah hampir 10 menit, tapi hingga
saat ini Farish dan anaknya belum juga menampakkan tanda-tanda kedatangan
mereka.
“Ma, Om Farish sama anaknya mana
sih? Kok lama?” Tanya Marsha,
“Om Farish masih usaha kali ngebujuk
anaknya supaya mau kenalan sama kita” sahut Sivia tiba-tiba,
“stttt…. Via, kamu nggak boleh
ngomong kayak gitu sayang”
“maaf, Ma…” sesal Sivia seraya
menunduk dalam.
“jangan diulangin lagi, Mama nggak
suka!”
“iya, Ma…”
Beberapa saat kemudian Sivia pamit
ke toilet pada Mama dan Marsha,
“jangan lama-lama ya, Vi? Om Farish
sama anaknya sudah diparkiran soalnya”
“iya Ma, nggak akan lama kok…” Sivia
meraih handphonenya lalu berjalan menuju toilet.
Tidak lama setelah Sivia pamit ke
toilet, Alvin dan Papanya pun datang. Mereka segera menghampiri Denita dan
Marsha yang sudah menunggu lama.
“Nita, kamu sudah lama?”
“eh Mas? Nggak kok Mas, aku sama
anak-anak baru aja dateng” jawab Denita seraya bangkit dari kursinya. Denita
melihat kearah Alvin yang saat itu enggan melihatnya.
“kamu Alvin kan, Nak…?” Tanya Denita
pada Alvin,
“iya” jawab Alvin dingin.
Alvin dan Papanya pun duduk
dihadapan Denita juga Marsha. Saat melihat wajah Alvin, entah kenapa Marsha
merasa pernah melihat Alvin sebelumnya. Tapi dimana? Kapan?
“Via mana?” Tanya Farish saat mereka
sudah duduk berhadapan,
“lagi ditoilet, Mas…”
Dan Alvin sama sekali tidak ngeh
saat Papanya menyebut nama Via. Alvin sudah terlanjur tidak mau ambil pusing
dengan segala hal yang Papanya lakukan. Alvin sudah muak, benar-benar muak.
5 menit kemudian Sivia kembali dari toilet.
Dari kejauhan Sivia seperti melihat sosok Alvin tengah berkumpul bersama
Mamanya juga Om Farish dan Marsha. Sivia menghentikan langkahnya dan berusaha
meyakinkan apa yang ia lihat. Apa benar itu Alvin? Tapi buat Alvin berkumpul
bersama Mama nya juga Om Farish? Jangan-jangan…..
Sivia merasakan dadanya tertohok.
Nafasnya seakan memburu, menyesakkan, benar-benar menyesakkan. Jadi Alvin
adalah anaknya Om Farish?
Sivia berharap bahwa semua apa yang
terjadi saat ini hanyalah mimpi buruknya saja, tapi ternyata harapan Sivia
musnah seketika. Ini bukan mimpi, tapi kenyataan yang harus Sivia hadapi.
Kedua mata Sivia memanas dan telah
siap meremebeskan air mata. Lelucon macam apa semua ini? Sivia benar-benar
tidak mengerti. Dan air mata Sivia akhirnya menetes dengan deras saat mengingat
bahwa sebentar lagi Mamanya dan Om Farish akan segera melakukan acara
pernikahan dalam waktu dekat ini. Berarti Alvin dan Sivia akan menjadi saudara
tiri. Sivia menggeleng beberapa kali. Tidak, semua kenyataan ini terlalu sulit
untuk Sivia mengerti.
Sivia sangat mencintai Alvin, tapi….
Sivia berbalik sebelum semuanya
sempat menyadari kehadirannya. Sivia menghela nafas beratnya lantas hengkang
dari tempat itu.
Sivia berlari sekencang-kencangnya
tanpa arah dan tujuan yang jelas. Tiba-tiba suara petir menggelegar dan memecah
kehingan malam itu. Sivia yang terkejut langsung menghentikan larinya. Sivia
terdiam lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat. Air matanya semakin deras
menetes, bersamaan dengan itu, hujanpun turun dengan lebatnya. Sivia yang putus
asa malah diam ditempat dan membiarkan begitu saja hujan mengguyur tubuhnya
yang semakin lama semakin melemah karna kedinginan.
“Tuhaannn… katakan bahwa semua ini
hanya mimpi burukku saja Tuhan… kenapa? Kenapa harus Alvin…??” batin Sivia
disertai dengan isak tangis yang kelamaan memecah bersama hujan.
“….
In The Rain…..”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment