Friday, August 30, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 18 [a New Story]





Seperti sungai mengalir yang mencari lautnya
Begitulah waktu terus berjalan, aku hanyut didalamnya
Bersama sebongkah kenangan yang membekas dihati

Aku tak tahu kau dimana. Tapi keyakinan ini terus mengusikku
Untuk mencarimu, untuk tetap menunggumu bersama jutaan
Harapan-harapan indahku tentangmu…

Selama mentari masih bersinar,
Selama bintang-bintang masih terus berpijar,
Selama rembulan masih bercahaya,
Dan selama Bumi masih terus berputar,
Maka selama itu pula aku takkan pernah berhenti untuk mencarimu…

Dan dari sinilah aku memulai cerita baruku,
Dari sinilah aku mulai melangkahkan kaki ku,
Untuk menjemput bahagia…

Seperti sungai yang mengalir,
Kelak aku akan menemui lautku yaitu, KAU…


****

5 Tahun Kemudian….


            “CUT!!” Sang Sutradara memekik dengan suara yang begitu lantang. Beberapa saat setelah Sang Sutradara memekikan kata ‘CUT’ seluruh Crew pun memberikan tepuk tangan yang begitu meriah untuk Sang Super Star yang baru saja menyelesaikan Shootingnya pada Film terbarunya kali ini.
            “BRAVO ALV! BRAVO!! Kalo acting mu terus seperti ini, saya yakin bahwa Film kita akan laku keras” ujar Sutradara tadi penuh kebanggaan.
            Sang super star yang tadi ia panggil dengan Alv itu hanya tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati Sutradaranya,
            “ini semua juga tidak lepas dari kerja keras semua crew yang terlibat dalam Film ini selama kita Shooting”
            Alvin menghempaskan tubuhnya disebuah kursi untuk beristirahat sejenak. Setelah selama 3 bulan melakukan Shooting untuk Film terbarunya kali ini, akhirnya hari ini Alvin berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Alvin tersenyum puas mengingat jerih payahnya selama ini.
            “permisi Mas Alvin, ini ada kiriman dari German” salah seorang crew tiba-tiba datang menghampiri Alvin dengan membawa sebuah kotak yang lumayan besar, kotak itu dilapisi oleh sebuah kertas kado berwarna Gold.
            Alvin tersenyum ketika menerima kado itu. Dan ia tahu pasti siapa yang sudah mengirimkan kado itu untuknya.
            Dengan senang hati Alvin menerima kado itu lalu mengucapkan terimakasih pada Crew yang baik hati itu. Dengan tidak sabar, Alvin mulai membuka kado itu. Ternyata isi dari kado itu adalah sebuah jaket. Jaket yang selama ini Alvin inginkan. Tapi karna terlalu sibuk dengan shootingnya, Alvin jadi tidak pernah sempat membeli jaket itu.
selamat karna hari ini kamu udah berhasil nyelesein shooting kamu untuk Film mu yang ke-7 ini. Filmnya aku tunggu yaaa? :)

                                    Sahabatmu; Prissy


            Alvin terkekeh pelan. sejak dulu hingga sekarang, Pricilla sama sekali tidak pernah berubah. Ia selalu tahu apa yang Alvin inginkan. 3 tahun yang lalu, Alvin dan Pricilla resmi menjadi sahabat jauh. 3 bulan sekali, Pricilla selalu datang ke Indonesia khusus untuk menemui Alvin dan memberikan support kepada Pria yang dulu pernah sangat ia cintai itu.
            Dan jujur saja, Alvin lebih menikmati statusnya dengan Pricilla sebagai sepasang Sahabat daripada sepasang kekasih. Dalam waktu 3 tahun saja, Alvin dan Pricilla bisa menjadi sahabat karib yang begitu dekat. Semua tahu itu termasuk Shilla. Dan mereka semua mendukung penuh apapun keputusan Alvin.
            Handphone Alvin tiba-tiba saja bergetar. Alvin buru-buru merogoh kantong jeansnya lalu mengambil handphonenya disana. Alvin tersenyum ketika ia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya,
            “My Mom Calling….”
            Tidak ingin Mami nya menunggu terlalu lama, Alvin pun langsung mengangkat telfonnya,
            “Hallo Mami… I miss you, hahaha…”
            “jangan Cuma bisa bilang I miss you lewat telfon aja. Pulang cepetan, Mami sama Papi udah kangen banget sama kamu”
            “hari ini emang rencananya Alvin mau pulang, Mi. hari ini kan shooting Alvin udah kelar”
            “bagus deh kalo gitu. Oya, tadi Mami dapet telfon dari Kakak kamu”
            “Kak Cakka? Kak Cakka bilang apa, Mi?”
            “Kak Cakka minta, minggu depan kita sekeluarga pergi ke Bali, katanya dia mau ngenalin tunangannya sama kita semua”
            “tunangan? Emang Kak Cakka udah tunangan?”
            “udah, tapi kata Kakak kamu tunangannya belum resmi, dan besok itu mau diresmiin, sekalian juga kita semua mau dikenalin sama tunangannya itu”
            “ooo… kita berangkatnya hari apa?”
            “hari minggu”
            “hari minggu? Alvin nggak bisa Mi”
            “kenapa?”
            “hari Sabtu Alvin musti berangkat ke Surabaya. Soalnya dihari minggunya ada undangan dari Radio”
            “nggak bisa undangannya kamu batalin?”
            “ya nggak bisa gitu dong Mi, nggak enak kan sama orang-orang radionya, nanti mereka mikirnya Alvin artis yang sombong lagi”
            “jadi gimana dong?”
            “gini deh, Papi sama Mami berangkat duluan aja ke Bali. Nanti setelah acaranya selesai Alvin langsung nyusul pake penerbangan sore. Surabaya sama Bali kan deket”
            “ya udah deh, itu semua terserah kamu, yang penting kamu dateng”
            “pasti Mi. masa dihari bahagia Kak Cakka aku malah nggak dateng?”
            Setelah Mami menyelesaikan pembicaraan, Alvin pun menutup telfonnya lalu menyimpan handphonenya kembali kedalam kantong jeansnya. Alvin tersenyum untuk beberapa saat. Akhirnya Cakka tunangan juga, dengan begitu Alvin semakin yakin bahwa Cakka telah benar-benar melupakan Sivia. Tapi berbicara masalah Sivia, sedang dimana ya Gadis itu sekarang? Sudah 5 tahun dia menghilang tanpa kabar apapun. Awas saja nanti kalau Alvin menemukannya, jangan harap Alvin akan melepaskannya lagi.


****

            Riuh para Alvinoszta Surabaya yang berjumlah ribuan orang itu langsung terdengar gagap gempita ketika Alvin baru saja menjejakan kakinya di Bandara Juanda. Alvin membuka kaca mata hitam yang membingkai wajahnya lalu memberikan senyuman termanisnya pada semua fans yang mungkin sudah sejak pagi tadi menunggunya di Bandara sambil membawa spanduk juga poster-poster Alvin. Alvin melambaikan tangannya dan semakin membuat para Fansnya berteriak histeris. Tidak hanya para Alvinoszta Surabaya saja yang menyambut kedatangan Alvin di Bandara, tapi puluhan wartawan dari berbagai Stasuin TV juga ikut ambil bagian dalam peyambutan itu. Puluhan Sorot kamera langsung mengarah pada Alvin ketika Alvin baru saja memasuki Bandara.
            “ALVIIINNNNN…..” Teriak beberapa dari Fans Alvin yang berjumlah ribuan itu. Alvin hanya tersenyum pada mereka lalu memberikan ‘Kiss Bye’ nya. Kontan saja, semuanya jadi semakin heboh dan tidak terkendali lagi.
            Karna jumlah Fans yang terlalu banyak itu, Alvinpun akhirnya harus mendapatkan pengawalan ketat dari beberapa bodyguardnya.
            “bisa nggak sih dalam keadaan kayak gini lo nggak usah tebar pesona dulu?” kata Shilla kesal. Shilla yang bertindak sebagai Manager Alvin sudah merasa cukup kuwalahan dengan semua itu.
            “lho apa salahnya? Gue Cuma mau ramah sama fans”
            “ramah sama tebar pesona beda” kata Shilla keki sambil tetap berjalan disamping Alvin.
            “kenapa? Lo cemburu?”
            “haa? Kayak gue nggak punya pacar aja sampe harus cemburu sama lo”
            Alvin terkekeh pelan. Ia lalu merangkul Shilla dan berjalan melewati ribuan Fansnya yang masih dengan setia menunggunya disana.


****

            “Pokoknya saya mau semua jadwal saya selama seminggu full mulai hari senin besok di kosongin. Sudah kamu kosongkan?” Tanya Cakka pada sekertaris cantik yang sejak tadi mengikutinya dibelakang.
            “sudah, Pak. Sudah…”jawab sekertaris bernama Angel itu.
            “bagus”
            “tapi hari ini ada  meeting pukul 11 di Restoran Baraya” kata Angel sambil melihat buku agendanya.
            “saya tahu, sudah kamu persiapkan semuanya?”
            “sudah Pak”
            “baiklah kalau begitu. Oya, Ngel”
            “kenapa Pak?”
            “tolong kamu suruh orang kantor untuk nyiepin mobil, besok siang saya mau jemput keluarga saya yang baru dateng dari Jakarta”
            “oo, oke Pak?”
            Cakka dan sekertarisnyapun akhirnya berpisah. Hari ini genap 4 tahun sudah Cakka mengurus Hotel milik keluarganya ini, dan selama 4 tahun ini Cakka bisa membuktikan pada kedua orang tuanya bawa Cakka mampu memajukan Hotel ini. Cakka bangga akan usahanya selama ini. Hotel Sindhunata ini tidak hanya terkenal di Indonesia saja, melainkan, nama Hotel Sindhunata sudah mampu menjejakan namanya di Mata International sebagai 10 besar jajaran Hotel terbaik didunia. Cakka tersenyum, ternyata Impian dan cita-cita semasa ia kuliah dulu bisa ia wujudkan.
            Cakka berdiri dibalkon Hotelnya sambil melihat-lihat pemandangan sekitar. Pemandangan disekitar hotel benar-benar menyeret ingatan Cakka ketika ia baru pertama kali datang ke Bali hingga akhirnya mengurus Hotel ini dengan jabatan sebagai Direktur Utama.
            Bunyi dari ponselnya tiba-tiba saja membuyarkan semua ingatan Cakka. Cakka terkesiap lalu segera merogoh kantong jasnya. Cakka melihat ponselnya. Dan ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Cakka langsung berdecak kesal. Kemana saja Gadis ini sejak kemarin? Kenapa baru sekarang ia menelpon? Awas saja!
            “Hallo. Heh, kamu dimana sih ? dari kemarin aku telfon kamu malah nggak angkat-angkat juga. Bikin aku cemas tau?”
            “….”
            “maaf… maaf… ya udah aku nggak mau tau, pokoknya nanti malem kamu harus sudah ada dihotel. Besok Papi, Mami, sama Alvin udah tiba di Bali. Kita bakalan jemput mereka sama-sama, sekalian juga aku mau ngenalin kamu sama mereka”
            “……..”
            “jangan Cuma oke-oke aja”
            “…..”
            “iya udah kalo gitu. Take care, ya Agni? Aku tunggu nanti malem”
            Cakka tersenyum kecil setelah menutup telfonnya. Kedua orang tuanya pasti akan sangat senang dengan kejutannya ini juga dengan… AGNI.



****

            Shilla mengendarai mobilnya dengan santai menyusuri jalanan besar di Surabaya. Sementara Alvin yang duduk disebelahnya saat itu ia hanya memejamkan matanya sambil mendengarkan musik melalui i-pod miliknya. Untuk saat ini Alvin hanya butuh istirahat. Baru semalam ia menyelesaikan shootingnya sampai pukul 10 malam, tapi paginya ia malah harus sudah berangkat ke Surabaya untuk memenuhi undangan Radio.
            “capek kan lo?” cibir Shilla sambil tetap fokus dengan jalanan yang ada dihadapannya.
            “namanya juga kerja. Udah nggak usah berisik! Gue lagi ngantuk” sembur Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Shilla. Shilla menganga tak percaya, dia fikir Alvin tidak mendengarkan ucapannya tadi, tapi ternyata.
            “kok lo bisa denger omongan gue? Bukannya lo lagi dengerin musik?”
            “sekali lagi lo berisik, gue tendang lo dari mobil gue” ancam Alvin sok sadis. Shilla yang sudah sangat kesal nyaris saja melayangkan sebuah toyoran dikepala Pria batu itu. Jika tidak ingat bahwa ini adalah mobil milik Alvin, mungkin sejak tadi Shilla sudah melempar Alvin keluar dari sampingnya. Dasar menyebalkan.
            Shilla yang kelamaan mulai merasa bosan akhirnya memutuskan untuk menyalakan radio. Tangan Shilla beregrak perlahan lalu menyalakan radio pada gelombang 77.6 FM.
            “Hay… sobat 77.6 FM  WOW-Radio Surabaya, jumpa lagi dengan gue Vee dalam acara Music Special. Oke, sebelum kita mulai membuka telfon buat kalian semua, gue mau ngasih Info dulu nih…. Udah pada tau dong kalau besok, WOW-Radio bakalan kedatengan Sang Super Star, Alvin Jonathan, YEEEE—“ begitulah beberapa penggal kalimat yang terdengar dari Penyiar Radio itu. Alvin menguap lebar-lebar ketika itu juga dan menampakkan wajah yang benar-benar bosan.
            “sok asyik banget sih penyiar radio itu? Ergh…” protes Alvin lalu segera mendelik kearah Shilla. Tatapan Alvin itu menunjukan rasa ketidaksukaannya pada penyiar Radio itu lalu mengisyaratkan pada Shilla untuk segera mematikan Radio tersebut. Tapi Shilla malah cuek dan tetap terlihat biasa saja.
            Alvin menggeleng tak sabar. Shilla ini benar-benar tidak ada pengertiannya, baik sebagai sahabat maupun sebagai manager. Alvin berdecak kesal, tapi baru saja ia ingin mematikan Radio itu, tiba-tiba saja Alvin mengurungkan niatnya ketika ia mendengar sebuah kalimat yang tidak asing lagi baginya,
            “Oke, tetep stay tune disini ya…? Tentunya bersama gue Vee, DJ Paling kece sedunia….”
            Indera pendengar Alvin tidak lagi mampu mendengar apa saja yang penyiar Radio Wanita itu ucapkan. Yang jelas, sepenggal kalimat terakhir yang baru saja Alvin dengarkan itu benar-benar mengingatkannya pada seseorang. Dulu juga, Sivia sering mengucapkan kalimat itu ketika ia masih menjadi penyiar radio di ANH-Radio, atau apa jangan-jangan….? Alvin menggelengkan kepalanya. Itu semua sama sekali tidak mungkin. Konyol.
            Alvin terkekeh pelan menertawakan kebodohannya sendiri. Alvin pun lantas mematikan Radio itu dan kembali menyembunyikan wajahnya dibalik kupluk.

            “ALVIIINNNN…. KENAPA LO MATIIN??” Kata Shilla keki. Jika bisa, ia ingin sekarang juga menelan Alvin hidup-hidup.


****

            Esok harinya sekitar pukul setengah delapan pagi, Alvin dan Shilla sudah berada di WOW-Radio Surabaya. Alvin dan Shilla duduk berdampingan disebuah Sofa yang terdapat diruang tunggu. Shilla terlihat sibuk menerima telfon dari seseorang. Sementara Alvin, dengan gaya santainya ia tetap duduk dengan tenang diatas sofa sambil memainkan game melalui PSP nya.
            “Vin…”
            “iya?” jawab Alvin tanpa sedikitpun melirik kearah Shilla,
            “hari ini gue tinggal ya?”
            “boleh. Tapi bulan ini lo nggak gue gaji” kata Alvin santai,
            “Alvin gue serius. Hari ini Gabriel dateng jauh-jauh dari German Ke Surabaya Cuma untuk menemui gue, masa iya pacar sendiri dateng malah gue cuekin?”
            “ciyeee… pacar. Ya udah sana pergi aja. Gue bisa sendiri kok, tapi mobil jangan lo bawa, nanti gue pulang pake apa? Lagian hari ini nggak jadwal apa-apa kan? Nanti jam 4 juga gue udah terbang ke Bali”
            “oke, ya ampuunnnn…. Lo baik banget sih Alv?” kata Shilla gemes sambil menjawil hidung Alvin. Dengan sigap Alvin langsung menyingkirkan tangan Shilla dari hidungnya,
            “jangan lebay atau kalo nggak ijin tadi gue cabut?”
            “hahahaha… VISS! Ya udah gue pergi ya? Salam aja buat Kak Cakka sama tunangannya, hahahaha….” Shilla pun langsung pergi dari tempat itu. Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shilla itu.
            Beberapa saat setelah kepergian Shilla, mendadak Alvin merasa perlu ke Toilet. Ia melirik jam tangannya lalu mengangguk perlahan. Masih ada waktu 5 menit lagi sebelum On Air dimulai. Alvin pun segera bergegas ke toilet, tapi tiba-tiba saja… Tanpa sengaja Alvin menabrak seseorang hingga beberapa kertas yang ada ditangan Gadis itu terjatuh ke lantai. Gadis tadi menggerutu kesal,
            “ya Ampun…” Gadis itu segera duduk lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan itu.
            “maaf” lirih Alvin penuh penyesalan. Tapi Gadis itu hanya diam, tidak berniat sedikitpun untuk menanggapi kata maaf yang tadi Alvin ucapkan.
            “SIVIA cepetan!!… bentar lagi On Air”
            Alvin tersentak kaget ketika mendengar nama itu disebut. Sivia? Alvin lalu melirik kearah Gadis yang tadi ia tabrak tanpa sengaja itu.
            “Iya… iya…” kata Gadis itu sambil mengangkat wajahnya lalu bangkit.
            Kedua mata Alvin membelalak lebar, ia nyaris saja tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan ia lihat. Sivia? Gadis itu benar-benar adalah Sivia-nya yang selama 5 tahun terakhir ini menghilang tanpa kabar. Gadis yang selama 5 tahun terakhir ini terus bersemayam dalam ingatan dan kenangan Alvin. Gadis yang selama ini menjadi penghuni tunggal relungnya. Gadis yang selama 5 tahun terakhir ini sangat ia rindukan.
            Dan ketika kedua manik mata mereka saling bertubrukan satu sama lain, mereka sama-sama tersentak. Tapi tidak seperti Alvin, Sivia lebih berusaha bersikap normal dan terlihat wajar dihadapan Pria ini. Entahlah, Sivia seperti sudah tau bahwa hari ini ia akan bertemu lagi dengan Alvin.
            “Vi… Via??” panggil Alvin penuh dengan rasa ketidak percayaan. Sivia tersenyum kaku lalu melambai,
            “h.. hay Alvin…”
            “Via aku—“
            “Vee cepetan!!” panggil seseorang dari dalam ruang siaran.
            “ya udah Vin, aku pergi dulu” baru saja Sivia berbalik dan hendak melangkah pergi, Alvin langsung mencekal pergelangan tangan Sivia dan menahannya untuk tetap ada disampingnya. Sebisa mungkin Alvin berusaha  tetap mengontrol diri untuk tidak membawa Gadis itu kedalam pelukannya sekalipun ia ingin. Alvin tahu bahwa ini adalah tempat umum dan ia adalah public figure, setiap tindak tanduknya ada yang memperhatikan. Dan ia tahu ia tidak boleh gegabah dalam melakukan hal apapun.
            “kamu kemana aja selama ini? Aku nyariin kamu terus” kata Alvin pelan.
            “sorry Vin, sekarang aku lagi sibuk. Nanti saja kita lanjutin, dan… kamu aku tunggu diruang siaran. 3 menit lagi acaranya dimulai” dalam satu sentakan kuat Sivia melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Alvin. Alvin hanya pasrah dan membiarkan Sivia pergi begitu saja.

            “ini yang terakhir Sivia… lain kali kamu nggak akan aku lepasin lagi…”


****

            “Papi… Mami…” Cakka berlari kecil kearah kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari Bandara.
            “Cakka…” Mami langsung memeluk Cakka ketika Cakka sudah berdiri dihadapannya. Mami memeluk Cakka seerat mungkin seakan tidak ingin melepaskan lagi. Mami memang sangat merindukan Cakka setelah hampir selama 3 bulan tidak pernah bertemu.
            “Mami kangen sama kamu, Sayang…”
            “iya Mi, Cakka juga kangen sama Mami”
            Setelah memeluk Maminya, Cakka pun menghampiri Papi lalu memeluk beliau.
            “gimana perkembangan hotelnya?”
            “yang jelas sangat membanggakan, Pi” Mereka pun mengurai pelukan mereka lalu saling tersenyum satu sama lain. Cakka merangkul kedua orang tuanya lalu berjalan secara bersamaan keluar dari Bandara.
            “Alvin mana?” Tanya Cakka ketika mereka sudah memasuki Mobil.
            “Alvin lagi di Surabaya, dia lagi ada undangan dari Radio, tapi nanti sore Alvin sudah berangkat ke Bali kok” jawab Mami antusias.
            “ooo…” sahut Cakka. Sesuatu terlintas dalam benaknya secata tiba-tiba. Entah apa itu, Cakka juga tidak mengerti.
            “Oya, tunangan kamu itu cewek Bali ya, Kka? Namanya siapa sih? Mami jadi penasaran”
            “haha… sabar dong, nanti juga Mami pasti tau, dan yang pasti Mami pasti akan sangat suka dengan Tunangan Cakka ini…” kata Cakka dengan salah satu alis terangkat.


****

            Setelah siaran usai, Sivia segera keluar dari ruang siaran tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun pada Alvin. Ia terlihat terburu-buru dan terkesan menghindari Alvin. Alvin yang tidak ingin melepaskan Sivia lagi langsung mengejar Sivia dan menarik pergelangan tangannya,
            “Sivia tunggu!” Sivia menghentikan langkahnya. Ia terdengar menghela nafas berat lalu menoleh kearah Alvin.
            “aku mau ngomong sama kamu, Via”
            “mau ngomong apa?”
            “banyak hal yang harus kita omongin”
            Sivia memejamkan kedua matanya sejenak. Ia harus bagaimana sekarang? Sivia yang tidak tahu lagi harus berbuat apa akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Alvin tersenyum lega ketika itu juga.


****

            “Jadi disini selama ini kamu bersembunyi?” tanya Alvin sehati-hati mungkin seakan tidak ingin sedikit saja pertanyaannya menyinggung perasaan Sivia. Sivia tersenyum penuh arti lalu  lalu menyeruput teh hijau pesanannya,
            “perlu kamu tahu Alvin, aku disini bukan sembunyi, aku—“
            “kalo nggak sembunyi terus apa lagi namanya?” kata Alvin setengah membentak. Sivia sedikit kaget dengan itu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
            Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam, sama-sama tidak tahu harus berkata apa lagi. 5 tahun berpisah cukup membuat mereka merasa asing satu sama lain.
            “sekarang kamu hebat ya, Vin? Udah jadi artis, punya banyak fans. Emm… pasti banyak kan yang naksir kamu, hahaha…” kata Sivia yang sebenarnya ingin mencairkan suasana beku yang membungkus kebersamaan mereka pada pagi menjelang siang itu.
            “walo pun aku jadi artis, tapi itu semua nggak ngubah apapun, hati dan cinta ku tetep terpaut pada satu orang, dan selamanya hal itu nggak akan pernah berubah”
            Sivia terdiam sejenak, lalu…
            “sama Pricill kan?” Sivia tersenyum pahit. Alvin sedikit terkejut, bagaimana bisa Sivia berfikir bahwa seseorang yang Alvin maksud adalah Pricilla dan bukan dirinya? Apa Sivia tidak pernah benar-benar tahu bahwa cerita antara Alvin dan Pricilla sudah berakhir sejak lama, bahkan semenjak Sivia memutuskan untuk pergi meninggalkan Alvin?
            “aku sama Pricill udah lama—“

            “Mamaa….” Panggil seorang Gadis cilik yang tiba-tiba saja berlari kearah meja Alvin dan Sivia.
            “hay Sayang…” jawab Sivia antusias lalu menunduk untuk memeluk Gadis Cilik yang tadi memanggilnya dengan panggilan Mama itu.
            Saat itu juga Alvin merasa tertampar oleh kenyataan ini. Gadis cilik itu memanggil Sivia dengan sebutan Mama? Apa Alvin tidak salah dengar? Atau apa Gadis cilik itu memang benar-benar anak kandung Sivia? Darah daging Sivia dengan Pria lain? Lalu apa arti penantian Alvin selama 5 tahun terakhir ini?
            “Mama kok lama sih, Ma? Aku sama Papa udah nungguin Mama dari tadi disana” ujar Gadis Cilik itu dengan nada merajuk. Jari telunjuknya yang mungil menujuk kearah jendela kaca. Dibalik jendela itu ada seorang Pria berkaca mata yang tengah tersenyum dan melambai. Sivia tersenyum kecil.
            “ooo… ya udah kalo gitu, kita pulang yuk!”
            “ayo.. ayo… tapi Ma, Om ini siapa?” tanya Gadis Cilik itu sambil melirik sedikit heran kearah Alvin,
            “ooo… ini namanya Om Alvin, Bintang… Om Alvin ini sahabat lama Mama… ayo kenalan dulu”
            Gadis cilik bernama Bintang itu berjalan perlahan mendekati Alvin dengan sorot mata jenaka nan manjanya. Ia pun mengulurkan tangan mungilnya lalu berkata,
            “hay Om Alvin, kenalin nama aku Bintang…” ragu-ragu Alvin menyambut uluran tangan Gadis mungil itu,
            “Om Alvin… mata kamu indah sayang, persis kayak Mama kamu” ujar Alvin sambil melirik tajam kearah Sivia. Tatapan mata Alvin menunjukan bagaimana terlukanya ia saat ini. Kedua matanya pun mulai memerah dan seakan ingin menghamburkan air mata. Dan Sivia bisa melihat semua itu dengan jelas.
            Setelah melepaskan uluran tangannya dari Alvin. Bintang kembali mendekat kearah Sivia dan meminta Sivia untuk cepat-cepat membawanya keluar dari café itu.
            “Mama ayo kita pulang. Papa udah nungguin….”
            “iya sayang iya, kita pulang” kali ini Sivia melempar tatapannya kearah Alvin, ia tersenyum pahit lalu pamit,
            “Alvin aku pulang dulu ya? Semoga lain kali kita bisa ketemu lagi” Alvin mengangguk mantap lantas berkata,
            “dan aku harap kamu bisa ngejelasin apa maksud dibalik semua ini”
            “terkadang ada hal-hal yang susah untuk dijelaskan Alvin, tapi nanti kamu akan mengerti. Sampai ketemu lagi…. Nanti” Sivia lalu membawa Gadis Cilik itu keluar bersamanya.
            Alvin menatap punggung Sivia yang kelamaan mulai menghilang dari pandangannya seiring dengan mengaburnya pengelihatan Alvin karena air mata yang tertahan dipelupuk matanya. Hati Alvin terasa begitu pedih ketika mendapati sebuah kenyataan yang benar-benar telah melemparkannya pada jurang keputusasaan.
            Air mata kepedihan itu akhirnya menetes juga tanpa bisa ia tahan lagi. Ini kah yang namanya karma?




                        BERSAMBUNG…
           

Monday, August 26, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 17 - I'll Find You -





                “Via… Via… Via…” Gumam Alvin pelan. Suaranya terdengar sangat lemah. Ketiga Sahabatnya, Rio, Shilla, dan Ify yang sejak tadi menjaganya langsung mendekati Alvin yang ketika itu tergolek lemah tak berdaya diatas tempat tidur dengan beberapa alat medis yang terdepat disekujur tubuhnya. Sebuah perban melilit kepala Alvin yang terluka.
            Shilla tersenyum kecil ditengah-tengah isakkannya. Setelah hampir selama 3 jam menunggu, akhirnya Alvin menunjukkan tanda-tanda kesadarannya juga.
            “Alvin… lo nggak apa-apa kan, Vin?” Tanya Shilla pelan sambil menyentuh kepala Alvin.
            “apanya yang sakit, Vin?” tambah Ify dengan nada suara bergetar. Diantara mereka bertiga, Ify lah yang paling histeris ketika tahu Alvin kecelakaan dan harus dilarikan kerumah sakit dalam keadaan yang sudah sangat kritis.
            Alvin akhirnya membuka matanya, wajah-wajah cemas dari ketiga Sahabatnya langsung menyambut Alvin pertama kali. Alvin bisa melihat dengan sangat jelas Ify dan Shilla yang tengah meneteskan air mata. Sedangkan Rio, ia berdiri agak jauh dari tempat tidur Alvin dengan wajah yang gusar.
            “gue dimana?” Tanya Alvin pelan. Alvin meringis pelan dengan kening yang mengernyit. Sepertinya ia merasa sedikit kesakitan dibagian kepalanya.
            “lo dirumah sakit, Alvin. Papi sama Mami lo tadi ada disini, tapi mereka pulang sebentar untuk mengambil segala keperluan lo” jawab Shilla.
            “kenapa gue bisa ada disini, bukannya tadi… bukannya tadi—“
            “lo kecelakaan, Alvin” sela Shilla sebelum Alvin menyelesaikan perkataannya.
            “lo kecelakaan waktu lo dalam perjalanan pulang dari rumah Via” lanjut Ify,
            “Via? Via sekarang dimana? Harusnya sekarang gue lagi nyariin Via, bukannya malah enak-enakan tidur disini, gue harus cari Via… harus” ketika Alvin akan bangkit dari tempat tidurnya, dengan sigap Ify dan Shilla langsung menahan lengannya.
            “Alvin lo apa-apaan sih?” kata Shilla sedikit emosi. Rio masih bergeming ditempatnya. Ia terlihat seperti orang yang tidak punya arah dan tujuan lagi.
            “lo semua kenapa sih pada nahan gue disini? Via pergi, dan gue harus cari dia. Gue harus minta maaf sama dia dan nebus semua kesalahan gue selama ini” kata Alvin dengan suara memelas. Ada getar-getar penuh penyesalan yang terdengar dari nada bicaranya itu.
            “tapi kita semua nggak tau Via pergi kemana Alvin, kita juga nggak tau musti nyari Via dimana, lo paham nggak sih?” ucap Shilla terisak.
            “gue nggak peduli, gue akan tetap cari dia. Sekarang lepasin gue, lepasin!!” Pinta Alvin sedikit keras
            Ify dan Shilla menggeleng secara bersamaan seraya tetap menahan lengan Alvin.
            “kalo kalian semua nggak mau bantuin gue buat nyariin Via, itu semua nggak jadi masalah buat gue, sekarang yang terpenting adalah, lepasin gue, biarin gue pergi buat nyari Via, please biarin gue pergi….”
            “LO MAU NYARI DIA KEMANAPUN JUGA LO TETEP NGGAK AKAN BISA NEMUIN DIA” Teriak Rio pada Akhirnya. Ia sudah benar-benar muak oleh kelakuan Alvin itu. Rio tahu Alvin sangat mencemaskan Sivia, tapi Rio sendiri juga tidak kalah cemasnya dari Alvin sekarang. Mereka semua sesungguhnya merasakan perasaan yang sama. Mereka semua sama-sama mencemaskan Sivia. Tidak hanya Sivia, tapi mereka juga sangat mencemaskan keadaan Alvin sekarang.
            “Rio lo nggak usah tereak, ini rumah sakit Yo. Bukan hutan” Tegas Shilla. Tapi dengan tidak pedulinya, Rio kembali menyerang Alvin.
            “penyesalan lo sekarang percuma, Alvin. SEMUANYA SIA-SIA lo tau nggak? Gue nggak habis fikir otak lo dimana sampe lo tega-teganya nyelingkuhin Via kayak gitu. Gue emang play boy Alvin, gue emang brengsek, gue juga sering nyakitin cewek, tapi bukan berarti gue juga mau ngeliat lo kayak gue, gue nggak mau Alvin”
            Alvin terdiam seraya menunduk dalam. Entah apa yang sedang ia fikirkan sekarang. Tidak ada satupun dari Rio, Shilla dan Ify yang dapat membaca fikiran Alvin. Satu hal yang Alvin rasakan saat ini hanyalah penyesalan.
            Penyesalan itu mungkin tidak ada artinya lagi, tapi Alvin benar-benar sangat menyesali semua perbuatannya pada Sivia selama ini. Andai saja Alvin bisa memutar waktu kembali, Alvin ingin memperbaiki semuanya, Alvin ingin membalas semua kesetiaan Sivia padanya dengan seluruh cinta yang ia miliki. Akan tetapi Alvin sadar, bahwa waktu tidak akan pernah bisa berputar kembali. Pertanyaannya sekarang; Apa Tuhan masih bersedia memberikan Alvin satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya? Sungguh, Alvin benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Jika Tuhan tidak memberikannya kesempatan itu, mungkin selamanya Alvin akan hidup dibawah bayang-bayang penyesalan yang menyiksa. Dan Alvin sama sekali tidak menginginkan hal itu.
            “Alvin…” panggil Ify pelan.
            Hening, tidak ada jawaban apapun dari Alvin. Tapi tidak lama kemudian…
            “sekarang kalian semua keluar dari ruangan gue” ujar Alvin tanpa sedikitpun melihat sahabat-sahabatnya.
            “Vin….” Panggil Shilla sekali lagi,
            “GUE BILANG KELUAR!! GUE MAU SENDIRI, TINGGALIN GUE!!” Bentak Alvin dengan keras. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Shilla, Ify dan Rio langsung meninggalkan ruang perawatan Alvin dan meninggalkan Alvin hanya sendiri disana.
            Alvin memukulkan tangannya pada besi pembatas tempat tidurnya. Pukulan Alvin yang lumayan keras itu sukses meninggalkan luka memar pada tangan Alvin. Tapi luka itu tidak sedikitpun menimbulkan rasa sakit. Semenjak kepergian Sivia, Alvin telah benar-benar mati rasa. Ia tidak bisa lagi merasakan sakit yang sebenar-benarnya sakit. Jika pun harus merasakan, bagi Alvin itu semua masih belum seberapa dengan rasa sakit yang pernah ia hadiahkan untuk Sivia. Lukanya saat ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luka hati Sivia selama 7 tahun belakangan ini.

            “pergilah sejauh kamu bisa, Sivia… tapi aku bersumpah, suatu saat nanti, kamu akan aku temukan dan akan aku dapatkan lagi. Saat itu tiba, aku nggak akan nyakitin kamu lagi, aku juga nggak akan ngelepasin kamu. Nggak akan pernah…”



****

            Kata Dokter yang menangani Alvin, Alvin sudah melewati masa Kritisnya. Tapi untuk saat ini Alvin masih belum mau ditemui oleh siapapun, baik itu sahabat-sahabatnya maupun kedua orang tuanya. Mereka semua hanya pasrah dan mengikuti apa mau Alvin itu. Mereka berusaha mengerti, bahwa saat ini Alvin masih sangat terpukul dengan kepergian Sivia. Alvin masih butuh waktu untuk sendiri.
            Alvin melirik kotak merah pemberian Sivia yang terletak diatas meja kecil yang terdapat disamping tempat tidurnya. Melihat Kotak itu, entah kenapa jantung Alvin terasa begitu pedih. Apa Sivia hanya meninggalkan itu untuknya?
            Alvin menghela nafas beratnya. Biar bagaimanapun Alvin harus bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa Sivia telah pergi. Alvin harus berani menghadapi semuanya. Bukankah Alvin yang menyebabkan semua ini terjadi? Jadi kenapa Alvin harus takut menghadapi semuanya?
            Salah satu tangan Alvin mulai bergerak perlahan meraih kotak merah itu. Tidak lama kemudian, Kotak itu sudah berada dalam kedua tangan Alvin. Jika tadi ia merasakan pedih, maka kali ini Alvin merasakan ada sebuah tangan raksasa yang meremas jantungnya tanpa ampun. Alvin seakan tidak mampu lagi menghirup udara yang ada disekitarnya. Rasanya begitu sesak. Haruskah Alvin membuka kotak ini sekarang?
            Setelah lumayan lama berdebat dengan hatinya, akhirnya tibalah Alvin pada sebuah keputusan. Ia memutuskan untuk membuka kotak itu sekarang.
            Kedua tangan Alvin yang bergetar hebat mulai bergerak membuka penutup kotak itu, dan… Alvin langsung menghela nafas kesakitannya ketika ia melihat isi dari kotak itu. Isinya adalah barang-barang yang dulu pernah Alvin berikan pada Sivia. Sebuah kalung dan miniature helicopter. Sebulir air mata Alvin menetes secara perlahan dan jatuh tepat diatas miniature helicopter itu.
            Helicopter itu…. Ya dulu Alvin pernah membawa Sivia terbang dengan helicopter itu. Terbang tinggi dan nyaris menyentuh awan. Tapi sebelum awan itu dapat tersentuh oleh Sivia, Alvin malah sudah menghempaskannya ke Bumi. Alvin tahu, bahwa semua itu rasanya begitu sakit bagi Sivia.
            “Hik… hik..” isakan itu akhirnya keluar meski terdengar berat dan berusaha ditahan. Alvin ingin kuat, tapi kenyataan ini benar-benar menyedot semua kekuatannya tanpa sisa. Akhirnya Alvin telah benar-benar kehilangan Sivia. Dan dari sini lah Alvin mulai merasa bahwa Sivia terlampau berharga baginya.
            Perhatian Alvin tiba-tiba saja tertuju pada sebuah kaset CD yang terdapat didalam kotak itu. Apa lagi ini? Tanya Alvin dalam hati. Tapi sebelum Alvin mengambil kaset CD itu dari tempatnya, seorang Suster memasuki ruangannya.
            “selamat malam, Mas Alvin” sapa Suster itu seramah mungkin. Alvin hanya diam, ia merasa malas menanggapi sapaan yang terkesan basa basi itu.
            “sekarang waktunya makan malam dan minum obat, 1 jam lagi Dokter akan datang dan memeriksa keadaan anda”
            Suster Cantik itu melepaskan makanan serta obat Alvin diatas meja. Dan tepat ketika suster itu akan keluar dari ruangan Alvin, Alvin malah memanggilnya.
            “Sus…” panggil Alvin pelan,
            “kenapa? Ada yang bisa saya bantu?” suster itu berbalik lalu tersenyum pada Alvin.
            “bisa putarkan kaset ini untuk saya?”  Alvin mengulurkan kaset itu dihadapan Sang suster cantik.
            “tentu saja” jawab Suster itu lalu mengambil kaset itu dari tangan Alvin.


****

            Rio dan Ify sudah pulang sejak sejam yang lalu. Yang tersisa dirumah sakit saat ini hanyalah Shilla. Sekalipun Alvin tidak ingin menemuinya, tapi Shilla tetap setia menunggu Alvin didepan ruang perawatannya. Jam ditangan Shilla sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Shilla tidak sedikitpun merasa kelelahan. Malahan tadi Shilla meminta kedua orang tua Alvin untuk pulang dan beristirahat. Shilla ikhlas melakukan semuanya, benar-benar ikhlas.
            “selamat malam” tegur seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk disamping Shilla. Shilla mengangkat wajahnya lalu menoleh kesamping. Ternyata yang menegurnya adalah Gabriel. Buat apa juga Gabriel ada disini, bukannya 3 hari yang lalu Gabriel  sudah pergi bersama Pricilla?
            “elo? Ngapain disini?” Tanya Shilla sedikit heran. Gabriel tersenyum penuh arti,
            “tadi gue denger kabar kalo Alvin kecelakaan, makanya gue langsung kesini”
            “bukannya lo udah pulang ke German sama Pricill?”
            “siapa bilang? Gue tetep disini kok, ada sedikit urusan yang harus gue selesein dulu”
            “ooo…” gumam Shilla pelan lalu kembali menatap hampa kedepan.
            “gue kesini mau minta maaf sama Alvin, juga sama—“ Gabriel menggantungkan kalimatnya. Tapi Shilla tidak sedikitpun merasa tertarik oleh ucapan Gabriel itu. “sama elo” lanjut Gabriel pada akhirnya. Shilla yang awalnya acuh tak acuh, sekarang malah kaget lalu kembali melirik tajam kearah Gabriel,
            “buat apa lo minta maaf sama gue? Emangnya lo salah apa?”
            “gue sadar dalam hal ini gue juga salah, nggak seharusnya gue memperalat Alvin buat ngehancurin pertunangan gue sama Prissy, kalo difikir-fikir Alvin sama sekali nggak ada hubungannya sama perjodohan gue dengan Prissy ini”
            “lo telat kalo baru nyadar sekarang. Via udah pergi, dan kita semua nggak ada yang tau dia pergi kemana”
            “gue tau dan gue sangat menyesal untuk itu. Coba aja waktu itu gue nggak nekad dateng ke Indonesia buat nyariin Alvin, mungkin Prissy juga nggak akan pernah dateng ke Indonesia dan ngehancurin semuanya”
            “lo bukan Cuma salah, tapi lo bodoh!”
            “gue sadar”
            Kali  ini Shilla terdiam. Ia sedikit heran, kenapa hari ini Gabriel terkesan pasrah dipersalahkan seperti itu? Kenapa Gabriel tidak sedikitpun berusaha untuk membela dirinya? Pria yang aneh. Fikir Shilla.
            “lo udah makan?” Tanya Gabriel tiba-tiba,
            “belom” jawab Shilla sekenanya.
            “kenapa belom makan?”
            “bukan urusan lo!”
            Tidak lama setelah Shilla menjawab pertanyaannya, Gabriel pun bangkit dari samping Shilla lalu berdiri tepat dihadapan Gadis itu. Shilla mendongak untuk melihat wajah Gabriel,
            “ya udah, kalo gitu kita makan dulu yuk”
            “nggak perlu. Makasih atas tawarannya”
            Gabriel menggeleng pelan. Ternyata selain angkuh, Shilla ini juga ternyata sangat keras kepala. Gabriel hanya mencemaskan keadaan Shilla. Gabriel tidak ingin Shilla sakit hanya karna telat makan.
            “tapi sayangnya lo harus tetep ikut makan sama gue” tanpa seijin dari Shilla, Gabriel meraih pergelangan tangan Shilla lalu membawanya setengah paksa dari depan ruang perawatan Alvin.
            “Heh! Lo apa-apaan sih? Lepas nggak tangan gue?!” pinta Shilla yang sama sekali tidak ada manis-manisnya seraya berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Gabriel, tapi percuma saja, karena Gabriel tidak sedikitpun menggubris ucapannya itu.


****

            “Gimana keadaan Alvin, Mi, Pi?” Tanya Cakka pada kedua orang tuanya ketika mereka tangah makan malam bersama.
            “kata Dokter sih Alvin udah ngelewatin masa kritisnya, tinggal pemulihan aja. Tapi masalahnya sekarang Alvin lagi nggak mau ditemuin oleh siapapun” jawab Mami dengan nada cemas.
            Cakka mengangguk paham. Ia mengerti kenapa Alvin sampai harus seperti itu, dan Cakka tahu pasti bahwa Alvin sangat terpukul karna kepergian Sivia yang secara tiba-tiba itu.
            “terus yang jagain Alvin dirumah sakit siapa?”
            “Shilla yang jaga. Tadi Shilla minta Papi sama Mami buat pulang istirahat dulu”
            “ooo…. Aku minta maaf ya karna tadi nggak sempet ke rumah sakit, maklum aja, aku lagi sibuk ngurus persiepan buat Wisuda minggu depan. Tapi setelah ini aku langsung kerumah sakit  buat ngegantiin Shilla jagain Alvin. Mami sama Papi diem aja dirumah, besok pagi baru kalian dateng lagi kerumah sakit”
            “iya Cakka, makasih ya kamu udah mau jagain Alvin”
            “biar gimana juga Alvin tetep adik aku, Pi. Dan aku sayang sama Alvin”
            Pak Duta Bu Uchie langsung tersenyum senang ketika mendengarkan ucapan Cakka yang terakhir itu. Sebelumnya mereka tidak pernah menduga, bahwa perubahan Cakka akan seperti ini jadinya. Dan yang lebih tidak pernah mereka duga lagi, ternyata semuanya sesuai seperti apa yang mereka harapkan selama 8 tahun terakhir ini. Dalam hati mereka mengutarakan rasa syukur yang tidak ada habisnya pada Tuhan karna telah meluluhkan hati Cakka yang selama ini membeku.
            “Cakka…”
            “iya, Pi?”
            “setelah wisuda nanti, apa kamu siep buat ngegantiin posisi Papi diperusahaan Keluarga kita?”
            Cakka terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang berfikir. Tidak lama…
            “kalo jadi pimpinan perusahaan aku belum siep, Pi. Lagian kan yang berhak atas Perusahaan itu Alvin, bukan Cakka”
            “tapi kamu tetap anak sulung Papi, Kka…”
            “Cakka tau. Tapi seperti apa yang Cakka bilang tadi, Cakka belom siep kalo harus jadi pimpinan perusahaan. Pengalaman Cakka masih sangat sempit dalam bidang itu”
            “terus kamu mau kerja apa setelah Wisuda nanti?”
            “kalo boleh, Cakka mau ngurus Hotel kita yang ada di Bali”
            “hotel yang di Bali?”
            “iya, Pi. Sejak lama Cakka emang punya cita-cita buat ngurus Hotel itu dan memajukannya”
            Pak Duta dan Bu Uchie saling menatap satu sama lain. Tidak lama mereka sama-sama mengangguk seraya tersenyum,
            “baiklah kalo itu mau kamu. Papi akan persiapkan segalanya buat kamu”
            “makasih, Pi…”
            “dan Mami akan selalu dukung kamu, Sayang…” kata Mami sambil menyentuh telapak tangan Cakka. Cakka tersenyum lantas berkata,
            “makasih juga buat Mami…”


****

            “Hay Alvin, kamu apa kabar?” ucap seseorang didalam Vidio itu sambil melambaikan tangannya. Matanya terlihat membengkak, mungkin karna terlalu lelah menangis. Alvin menahan nafas. Ternyata Sivia memberikan sebuah video untuknya.
            “mungkin saat kamu nonton Vidio ini, aku udah nggak ada di Jakarta lagi, dan sebelumnya aku minta maaf ya sama kamu, karna aku udah pergi ninggalin kamu dengan cara seperti ini. Aku sayang sama kamu, Alvin. Dan karena itu lah aku pergi dari hidup kamu, aku nggak mau kamu ngerasa terhalangi karna kehadiranku disisi kamu, aku nggak mau kamu ngerasa terkekang karna rasa cintaku ke kamu…”
            “mungkin kamu benci dengan caraku ini… tapi yaah… Cuma cara ini lah yang bisa aku lakuin. Sebenernya aku ingin pamit secara baik-baik sama kamu, tapi jujur… aku… aku…” Sivia seperti tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Air mata itupun menetes sederas mungkin. Melihat itu, Alvin tersenyum penuh kemirisan. Rasa bersalah dan penyesalan menjejali dadanya hingga terasa sesak.
            “aku ngerasa nggak sanggup kalo harus ngelihat wajah kamu lagi. Aku takut kalo aku ngeliat wajah kamu lagi, nantinya aku malah ngga sanggup ninggalin kamu, dan aku nggak mau itu terjadi.. hiks…”
            “aku sadar Vin, aku bukan yang terbaik buat kamu, aku sadar aku nggak pernah bisa jadi yang sempurna buat kamu, aku juga nggak punya apapun yang bisa aku banggain didepan kamu. Aku nggak punya apapun kecuali Cinta, cinta ini juga nggak seberapa besar dengan cinta yang Pricill kasih ke kamu, tapi aku selalu berusaha supaya cinta ini tetap ada, buat kamu…”
            “aku terlalu banyak omong ya? Haha…” Sivia tertawa ditengah tangisannya. Sementara Alvin, air matanya mulai menetes secara perlahan.
            “terakhir, kamu nggak usah cemas sama keadaan aku. Aku disini baik-baik aja, meski tanpa kamu, dunia masih tetap berputar kan? Matahari juga masih tetap terbit dari arah timur, semuanya nggak berubah. Mungkin aku bakalan sedih, entah untuk beberapa lama, tapi hidup aku masih terus berjalan kan, Vin? Iya kan?”
            “aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu. Semoga disana kamu bahagia selalu sama Pricill, dan aku disini bakalan cari pengganti kamu, hahaha… yang jelas aku akan cari cowok yang jauh lebih keren dari kamu, yang jauh lebih ganteng dari kamu…”
            Dada Alvin mulai terasa sesak, ia memegangi dadanya untuk mengurangi sedikit saja rasa sesak itu, tapi tidak berhasil. Air mata yang sejak ia tahan akhirnya tumpah ruah mengiringi kepedihan hantinya. Penyesalan itu kembali hadir, kenapa? Kenapa Alvin harus menyia-nyiakn cinta dari seorang yang tulus seperti Sivia?
            “sekali lagi aku mau minta maaf, maaf kalo selama ini ternyata bukan kamu yang nyakitin aku, tapi aku yang udah nyakitin kamu. Sekarang kamu bebas… aku berharap, jika nanti kita ketemu, kita udah sama-sama menikah dan punya anak, hahaha… intinya adalah, jika kita ketemu nanti, aku harap kita udah sama-sama bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Dan untuk yang terakhir kalinya, tolong ijinin aku untuk berkata, aku cinta sama kamu, Alvin. Aku sangat mencintai kamu, hiks….”
            Dalam Vidio itu Sivia terlihat sedang mengambil sebuah gitar lalu menaruhnya dipangkuan.
            “aku mau nyanyi buat kamu… tapi jangan nangis yaa? Masa cowok cengeng? Banci dong… Hahahahaha….” Sivia tertawa pelan, tapi matanya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepedihan hatinya saat ini.
            Susah payah, Alvin akhirnya bisa menghela nafas. Tapi air matanya semakin deras menetes. Rasa penyesalan itu seakan tidak pernah ada habisnya menyiksa batin Alvin.
            Sivia memetik gitar itu dan mulai bernyanyi, meski dengan suara yang terdengar sedikit bergetar karna menahan tangis.

“Setelah ku pahami…
Kubukan yang terbaik yang ada dihatimu
Tak dapat ku sanksikan ternyata dirinyalah
Yang mengerti kamu
Bukanlah diriku…
Kini maafkanlah aku bila ku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan santunku terbungkam hanya hatiku berbatas
Tuk mengerti kamu…
Maafkan lah aku…
Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu

Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu….”

            “Hiks… hiks… hiks… kamu nggak salah Via, dan kamu nggak seharusnya pergi ninggalin aku disini. Hiks… hiks… Sivia tolong kembali, aku mau minta maaf, aku mau bilang kalo kamu itu berarti banget buat aku, Via… hik.. hiks…” makin lama isakan Alvin semakin kuat terdengar. Begitu menyayat hati. Alvin baru tahu bahwa ternyata penyesalan itu terasa begitu menyiksa.

Dan hanyalah dirimu
Yang mampu memahamiku
Yang dapat mengerti aku

Ternyata dirinyalah
Yang sanggup menyanjungmu
Yang ramah menyentuhmu
Bukanlah diriku…
Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu

Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu….”

            Ketika Alvin sudah merasa tidak sanggup lagi, ia pun akhirnya mematikan TV itu lalu menumpahkan semua tangisannya dalam ruangan yang sepi itu. Dan ketika emosinya sudah mencapai puncak klimaks, Alvin pun langsung melemparkan remote TV itu kearah tembok dengan kekuatan penuh. Tak tanggung-tanggung remote TV itu langsung hancur.
            “ARRGGHHHHHHH…. SIVIAAAAAA!!!!” Teriak Alvin sekeras mungkin.
            “Tuhaan… kenapa tidak Engkau cabut saja nyawaku ketika aku mengalami kecelakaan tadi? Kenapa Engkau biarkan aku hidup Tuhan? Aku tidak pantas hidup, aku tidak pantas hidup Tuhan, AAARRRRGGHHHHHH……”
            Cakka yang sejak tadi berdiri didepan ruangan Alvin mendengar semuanya. Cakka tersenyum miris, dan melihat keadaan Alvin itu, entah kenapa Cakka merasa hatinya seperti menangis.
            Cakka memejamkan matanya sejenak lalu memasuki ruangan Alvin,
            “ALVIN” Panggil Cakka sedikit keras. Alvin menghentikan tangisannya lalu menatap Cakka dengan berani,
            “penyesalan itu nggak enak kan? Iya kan?”
            “kalo lo dateng kesini Cuma untuk ngehajar gue, gue pasrah Kak, gue tau gue udah sangat keterlaluan”
            “percuma gue ngehajar lo, gue mau ngehajar lo sampe mati pun tetep nggak akan ngubah apapun, Sivia udah pergi, semua apapun yang gue lakuin sekarang hasil akhirnya tetap percuma”
            “Kak Cakka… lo tau kan dimana Sivia sekarang? Tolong kasi tau gue, Kak… gue bener-bener mau minta maaf sama Sivia, gue bener-bener mau nebus semua kesalahan gue sama Sivia, Kak…” kata Alvin dengan nada memohon.
            “kenapa lo bisa berfikir kalo gue tau dimana Sivia sekarang? Harusnya elo lebih tau dari gue, Alvin… harusnya elo yang lebih tau!”
            “karna selama ini lo deket sama Sivia. Dan sekalipun Sivia mencintai gue, tapi dia selalu monomer satukan lo dalam segala hal, gue Cuma nomer 2 dalam kehidupan Sivia…”
            Cakka terdiam sejenak, lalu tersenyum licik,
            “kalau pun gue tahu dimana Sivia sekarang, gue nggak akan pernah ngasih tau lo, Alvin. Nggak akan pernah. Nggak ada lagi kesempatan buat lo ngedeketin Sivia. Cam kan itu baik-baik!”
            Cakka berbalik dan hendak pergi meninggalkan Alvin sendiri. Tapi baru selangkah ia mengayunkan langkahnya, Alvin kembali buka suara,
            “jadi intinya, lo tau apa nggak dimana Sivia berada sekarang?” Alvin mulai tak tahan.
            Hening untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin, Cakka berkata,

            “gue nggak tau”
            Cakka pun melanjutkan langkahnya. Ia benar-benar pergi meninggalkan Alvin sendiri dalam ruangan itu.

            “oke kalo lo nggak mau ngomong, Kak. Itu nggak jadi masalah buat gue. Dengan atau tanpa petunjuk dari lo, gue akan tetep cari Sivia. Dia milik gue, Cuma milik gue….” Kata Alvin penuh keyakinan.




                                    BERSAMBUNG….