Monday, August 5, 2013

0

AlViaNosztaHolic (Cerpen)




“Cinta akan indah pada waktunya, untukmu dia
Akan menunjukan keindahan dan keagungannya…..
Maka jangan pernah takut jatuh cinta
Sekalipun kau jatuh cinta pada seseorang yang
Paling kau benci….
Biarkan takdir yang bekerja, dan
Cinta itu hanya membutuhkan sebuah prantara…..”
(AlviaNosztaHolic)

            Berawal ketika aku dipertemukan dengan Alvin pada sebuah judul Film sebagai sepasang kekasih dan berlanjut saat aku dan Alvin menjadi pasangan Duet untuk soundtrack sebuah Film, maka sejak itu lah para fans-fans yang begitu mengangumi aku dan Alvin membentuk sebuah komunitas bernamakan ALVIANOSZTAHOLIC. Sebuah komunitas yang memiliki member lebih dari satu juta orang. Sebelumnya aku tak pernah menyangka bahwa antusiasme mereka begitu besar untukku dan Alvin.

            Bagaimana aku tidak heran, dalam realita yang sesungguhnya, aku tak begitu akrab dengan Alvin juga tak begitu dekat, pertemuan kami hanyalah dilakukan dilokasi Syuting saja, tidak pernah ada pertemuan diluar lokasi Syuting seperti yang santer diberitakan akhir-akhiran ini. Hubunganku dengan Alvin hanyalah sebatas profesionalitas tidak lebih, tapi para Alvianosztaholic malah berharap lebih dari hubungan kami.

            Lalu bagaimana sikap Alvin yang sesungguhnya padaku? Dingin, cuek, dan acuh tak acuh, itulah sikap yang Alvin tunjukan padaku sama sekali jauh dari harapan para Alvianosztaholic, tapi nyatanya para ANH tidak tau tentang itu, apa yang mereka lihat didepan layar, itulah yang mereka tahu. Miris aku membayangkan jika kelak para ANH tahu bagaimana sikap Alvin yang sesungguhnya padaku.
           
            Aku ingat setahun yang lalu, saat salah seorang ANH menjumpaiku dan memintaku untuk meresmikan komunitas Alvianosztaholic, saat itu aku hanya bisa tertawa. Sebagai idola yang baik buat para fansnya jelas aku setuju, tapi bagaimana dengan Alvin? Jawaban Alvin yang sangat aku ingat saat itu adalah,
           
            “Terserah!” Alvin hanya mengatakan ‘Terserah’. Sejak kata terserah terlontar dari mulut Alvin, maka sejak itulah ALVIANOSZTAHOLIC aku nyatakan resmi.

            Siang itu saat break Shooting aku menghampiri Alvin yang ketika itu tengah duduk disebuah kursi sambil menghapalkan naskah. Aku duduk dengan ragu-ragu disamping Alvin. Alvin tidak bergeming sedikitpun, perhatiannya hanya tertuju pada naskah yang saat ini ada tangannya. Aku berdehem supaya Alvin menyadari kehadiranku,

            “ehem….”

            “ada apa…??” Tanya Alvin dingin,

            “Vin, 1 minggu lagi Alvianosztaholic udah setahun…”

            “terusss….??”

            “anak ANH, mau ngerayain hari jadi ANH, dan mereka minta gue buat ngomong sama lo, mereka harap, kita mau hadir diacara yang akan mereka buat nanti, acaranya besar-besaran lho Vin…”

            “terus lo harap gue mau dateng…??” kurang ajar! Pertanyaan Alvin yang satu itu langsung menohokku. Aku menghela nafas panjang, berusaha meredam segala emosiku. Aku harus tetap berkepala dingin, apapun yang terjadi!
           
            “yaahh…kalo lo gak mau juga gak apa-apa! Gue gak maksa! Tapi terserah aja kalo lo mau bikin para fans lo kecewa, inget aja lo jadi seperti ini itu karna fans lo, tanpa fans lo gak akan jadi apa-apa…” ucapku pada akhirnya lalu pergi meninggalkan Alvin.

            Tanpa aku duga Alvin bangkit dari kursinya, ia mengejarku lalu menarik pergelangan tanganku. Aku melihat tanganku yang saat itu sudah ada dalam genggaman Alvin, aku menatap Alvin penuh Tanya.
           
            “Via, malem ini gue mau ajak lo jalan! Bisaa?” mendengar pertanyaan Alvin, akupun menarik pergelangan tanganku dari genggamannya lantas berkata,

            “terus lo harep gue mau jalan sama lo…??” jawabku menirukan ucapan Alvin tadi. Keheninganpun akhirnya tercipta, Alvin tentu tak pernah menyangka bahwa aku akan menolak ajakkannya. Akupun berbalik dan hendak melanjutkan perjalananku. Baru beberapa langkah aku berjalan Alvin malah berkata setengah teriak,

            “gue tunggu lo dicafe Nirwana, jam 8 malem….”

            Pede sekali Alvin berkata seperti itu padaku. Apa dia fikir aku akan datang menemuinya setelah apa yang dia katakan padaku hari ini. Jangan harap aku akan datang. Sekalipun Alvin memohon sampai menangis darah dihadapanku, aku takkan datang.

            Jam didinding kamarku sudah menunjukan pukul 07.30 malam. 30 menit lagi Alvin mengajakku bertemu. Apa aku harus datang?? Tidak, apa yang sudah aku fikirkan, bukankah tadi aku sudah bertekad bahwa aku takkan menemui Alvin. Lagipula siapa yang tahu kalau Alvin hanya mau mengerjaiku saja.
           
            Waktu terus berjalan, tak terasa 10 menit lagi waktu akan menunjukan pukul 8 malam. Setelah menimbang cukup lama, akupun berdecak, aku bangkit lalu mengambil kunci mobilku, dengan ragu-ragu aku pergi menemui Alvin diCafe Nirwana.

            Pada pukul 8 tepat tibalah aku dicafe Nirwana, tapi disana aku malah tidak menemukan sosok Alvin. Kemana Alvin? Apa dugaanku benar kalau Alvin hanya mau mengerjaiku saja? Tak cukup lama aku berada dicafe itu, akupun memutuskan untuk pulang, tapi saat aku berbalik, aku dikejutkan oleh sosok Alvin yang saat itu berdiri dengan tegak dihadapanku, kami beradu pandang sangat dekat, mataku terbelalak dan untuk yang pertama kalinya Alvin tersenyum padaku.

            “gue tahu lo pasti akan datang….” Kata Alvin seraya menatap mataku dalam. Jujur, tatapan mata Alvin itu membuat aku geer. Aku menunduk dalam berusaha menutupi wajahku yang kini mulai memerah,
           
            “duduk yuk!” ajak Alvin seraya mengulurkan tangannya untukku, aku terheran. Tidak salah? Alvin mengangkat kedua alisnya berharap aku segera menyambut uluran tangannya. Akupun menarik nafas panjang lalu menyambut uluran tangan Alvin. Alvin menggenggam erat tanganku, kami berjalan beriringan menuju sebuah meja yang sudah Alvin pesan khusus untuk kami.

            Aku dan Alvin duduk berhadapan. Selama menunggu pesanan kami masing-masing, Alvin terus menatapku, sekarang aku merasa wajahku semakin padam. Sesekali Alvin tersenyum nakal. Secara mengejutkan Alvin meraih tanganku,
           
            “kenapa tangan lo dingin…?”

            Ya Tuhan…kenapa Alvin harus menanyakan hal itu? Pertanyaan itu semakin membuatku mati kutu, aku juga heran dengan diriku, dan aku juga sama sekali tidak mengerti kenapa tanganku bisa sedingin itu. Aku berfikir, berusaha mencari jawaban yang pas untuk Alvin, tak lama akupun mendapatkan sebuah alibi,

            “mungkin karna cuacanya emang lagi dingin…” jawabku berusaha setenang mungkin, Alvin melepaskan tanganku seraya mengangguk-angguk. Apa dia hanya pura-pura paham dengan jawabanku?

            “kenapa lo ngajak gue ketemuan?? Gak biasanya??” tanyaku pada Alvin, dengan santai Alvin menjawab,

            “lagi pengen keluar malem aja, tapi gue gak ada temen, makanya ngajak lo….”

            “ooo…Vin, malasah hari jadi ANH gimana?? Lo mau dateng apa enggak…?”
           
            “emangnya lo bener-bener berharap kalo gue akan dateng…??” pertanyaan menjebak, Alvin memang hebat mengeluarkan pertanyaan menjebak.

            “bu…bukan gitu, yaa…ini itu harepan ANH supaya kita mau dateng berdua, tapi terserah lo, kalo lo gak mau gue bisa kok dateng sendiri….”

            “kalo lo gak mengharapkan kedatangan gue, buat apa juga gue dateng…??”

            Aku heran dengan sikap Alvin malam ini, kenapa sikapnya yang begitu dingin padaku selama hampir setahun akhirnya mencair juga malam ini.. apa Alvin hanya mau mempermainkanku…??


            Karna Alvin bersikeras mengajakku jalan malam ini, akhirnya dengan terpaksa aku harus menelpon asistenku untuk membawa mobilku pulang. Akupun meninggalkan mobilku dicafe lalu pergi bersama Alvin entah kemana menggunakan mobil Alvin.

            Aku tak tahu kemana Alvin akan membawaku, yang jelas Alvin akan membawaku kesebuah tempat yang sepi yang jauh dari halayak ramai. Jika satu orang saja melihatku bersama Alvin malam ini , maka besoknya hal ini akan menjadi berita menghebohkan disemua media yang ada.

            Alvin membawaku pergi kebuah pantai, karna hari ini bukan hari libur jadi pantai tampak sepi tanpa pengunjung. Aku dan Alvin berdiri ditepi pantai, menikmati hembusan angin spoy-spoy yang meniupi tubuh kami. Aku yang masih heran dengan sikap Alvinpun menatap Alvin yang saat itu berdiri disampingku, aku mulai membuka pembicaraan,

            “hari ini lo aneh…”

            “aneh kenapa…?”

            “selama ini lo selalu dingin sama gue, selalu sinis sama gue tanpa sebab, tapi kenapa tiba-tiba malem ini lo berubah, apa lo lagi ngerjain gue…?”
           
            “ngerjain lo gimana? Kenapa sih lo? Ini baru pertama kalinya gue ngajak lo jalan, kalo sekarang aja lo udah bernegatif thinking ama gue, gimana entar…?”

            “justru karna ini baru pertama kalinya kita jalan, jadi wajar kalo kalo gue bernegatif thinking sama lo…” ucapku lumayan ketus,

            “selain alesan itu…?”

            “karna lo emang selalu bikin gue bernegatif thinking sama lo….”

            “tapi ini kan yang lo mau selama ini…??” Tanya Alvin tiba-tiba. Jelas aku tak paham dengan maksud pertanyaan Alvin,

            “maksud lo…?” Alvin tersenyum, tak lama ia pun menjawab pertanyaanku,

            “makasih karna selama setahun ini lo udah suka sama gue….”

            Ya Tuhan…bagaimana bisa Alvin menebak apa yang ada dihatiku selama setahun ini? Bukankah selama ini aku tak pernah menunjukan tanda-tanda apapun padanya bahwa aku menyukainya, lalu tau darimana Alvin tentang perasaanku yang sesungguhnya padanya? Saat aku akan memasang alasan, Alvin kembali berkata,

            “cukup Vi, gue gak mau denger alesan apa-apa dari lo… udah cukup gue tau kalo lo suka sama gue,,,, dan sekarang apa salahnya kan kalo gue berusaha bikin orang yang suka sama gue seneng walopun Cuma satu malam aja…?”

            Alvin meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya dengan erat. Alvin menatapku dengan tatapan mata yang meneduhkan dan tidak seperti biasanya. Kali ini tidak ada lagi tatapan sinis atau ucapan sinis, semua apa yang Alvin lakukan benar-benar membuat aku merasa nyaman dan damai. Alvin memegang wajahku menggunakan tangan sebelah kanannya, sementara tangan yang sebelahnya masih ia gunakan menggenggam tanganku. Tuhan, wajah Alvin terlihat semakin dekat mendekati wajahku. Apa yang sebenarnya akan Alvin lakukan padaku?

            Alvin memiringkan sedikit posisi wajahnya, dan saat bibir Alvin nyaris menyentuh bibirku, aku langsung menghentikannya,
           
            “apa-apan nih Vin….?” Alvin tak menghiraukan pertanyaanku, seketika ia membuat aku bungkam saat bibirnya mengunci bibirku, aku ingin menghindar, tapi entah kenapa aku tak bisa. Akupun memejamkan kedua mataku.


^_^

            Pagi ini aku terlihat aku lebih ceria. Sejak datang kelokasi shooting tadi pagi yang aku lakukan hanyalah tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Semalam Alvin menciumku, dan asal tau saja, itu adalah first kiss ku. Entah kenapa aku merasa bahwa aku dan Alvin memiliki perasaan yang sama, ah semoga saja perasaan itu bukan hanya aku sendiri yang merasakannya.

            Dari kejauhan aku melihat Alvin. Melihat kedatangannya jantungku seperti meloncat-loncat kegirangan. Aku melambaikan tangaku untuk Alvin, tapi Alvin malah tidak membalas lambaian tanganku bahkan tersenyumpun tidak. Alvin duduk disampingku, tanpa menegurku sedikitpun Alvin membuka tasnya lalu mengambil naskahnya.

            “Vin, makasih ya buat semalem…?”

            “ngapain pake makasih…?” Tanya Alvin dingin. Aku tersentak, kenapa Alvin kembali dingin padaku…?

            “Vin, yang semalem….”
           
            “jangan bahas masalah yang semalem lagi, gue gak mau bahas masalah itu lagi! Lupain semua yang udah terjadi….” Ucap Alvin dengan entengnya tanpa sedikitpun memikirkan perasaanku yang hancur lebih dari berkeping-keping. Air mataku nyaris menetes, tapi aku berusaha menahan. Saat Alvin akan bangkit dari kursinya aku langsung menahan lengannya,

            “lo anggep gue apa Vin? Setelah lo cium gue, sekarang lo dingin lagi sama gue,,,, lo fikir gue boneka yang bisa lo mainin seenaknya…?” Alvin menarik pergelangan tangannya dari genggamanku,

            “ya udahlah Vi, gak usah lebay, gue rasa itu hanya sebuah ciuman biasa yang tidak memerlukan sebuah tanggung jawab! Lo fikir gue ngelakuin itu Cuma sama lo? Lo salah Vi, lo bukan cewek pertama yang gue cium….” Penuturan Alvin membuat aku merasa tertohok. Ucapan Alvin itu benar-benar menusuk jantungku dan membuat nafasku terasa sesak. Aku memegang dadaku lantas berkata pada Alvin,

            “lo jahat tau gak Vin….”

            “gue emang jahat….lo juga mesti inget, elo yang suka sama gue, bukan gue yang suka sama lo….” Tak tahan mendengarkan ucapan Alvin, akupun mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras dipipi sebelah kiri Alvin, Alvin langsung memegangi pipinya,

            “lo fikir lo udah menang karna lo udah berhasil mainin gue, lo salah Alvin, ELO SALAH BESAR….” Itulah ucapan terakhirku sebelum aku meninggalkan Alvin. Aku berlari sekencang-kencangnya, tak mau dekat-dekat lagi dengan Alvin.


^_^

            Hari jadi AlviaNosztaHolic yang pertama akhirnya tiba juga. Aku menghadiri perayaan itu itu sendiri, tanpa Alvin. Selama seminggu ini aku benar-benar menghindar dari Alvin, tapi toh itu semua takkan berpengaruh apa-apa bagi Alvin, jika aku mati sekarang jugapun rasanya Alvin takkan peduli. Tuhan memang menganugerahkan segalanya untuk Alvin, tapi satu yang Tuhan tidak berikan untuk Alvin yaitu hati yang yang tulus. Alvin memang tidak punya hati dan aku benar-benar membencinya, sangat membencinya meskipun pada kenyataan yang sebenarnya, rasa benciku tak pernah mampu mengalahkan rasa cintaku pada Alvin.

            “loh Vi, Alvin mana…?” Tanya Shilla padaku yang baru datang bersama Cakka pacarnya. Aku mengangkat kedua bahuku,
           
            “entahlah Shill, acara ini gak penting buat Alvin jadi dia mana mau datang dan menghabiskan waktunya diacara yang menurut dia gak penting ini…”

            “tapi anak ANH pasti nungguin Alvin Vi, lo harus jelasin kemerka semua, sekarang Vi….”

            “iya Shill, entar juga gue jelasin …. Sekarang tu, gue udah bener-bener mati rasa sama Alvin, dia udah sakitin perasaan gue seenaknya, gue bener-bener benci sama Alvin…”

            “TAPI GUE BENER-BENER CINTA SAMA LO….” Ucap seseorang dari atas panggung yang ternyata adalah Alvin. Aku tersentak dan langsung melihat kearah panggung. Kudapati Alvin yang saat itu berdiri dengan gagah diatas panggung, ia menggunakan pakaian yang semuanya putih, mulai dari celana hingga jaketnya berwarna putih. Malam ini Alvin tampak menawan. Alvin melanjutkan perkataannya,

            “Via gue minta maaf sama lo, maaf karna gue udah mainin perasaan lo, lo harus tau Vi, bahwa apa yang gue ucapin dilokasi waktu itu adalah bohong, lo itu cewek pertama yang pernah gue cium seumur hidup gue, dan elo adalah cinta pertama dan terakhir gue yang selamanya gak akan pernah terganti, gue mohon maafin gue, gue janji gak akan nyakitin lo lagi Vi, gue bener-bener janji sama lo….” Aku terharu mendengarkan ucapan Alvin. Air matakupun menetes mewakili segala rasa yang kini bercampur didalam hatiku.

            Alvin turun dari atas panggung lalu menghampiriku, Alvin berdiri tepat dihadapanku. Ia meraih kedua tanganku lalu berkata dengan lantang,

            “malam ini, dihari jadi ANH yang pertama, gue mau bilang sama lo, dan semua AlviaNosztaHolic jadi saksinya,,,, Sivia Azizah gue sayang sama lo, gue sayang sama lo jauh sebelum kita ngeresmiin ANH, dan sekarang….” Alvin bertekuk lutut dihadapanku lantas berkata,

            “Via…do you wanna be my girl….?” Air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya menetes juga,
            “hik..hik..apa lo gak mainin gue…??” tanyaku sekali lagi berusaha meyakinkan semuanya, Alvin menggeleng dengan pasti,

            “DEMI TUHAN GUE GAK MAININ LO…gue bener-bener sayang sama lo dan mau lo jadi cewek gue, lo mau kan….??” Sebelum aku menjawab pertanyaan Alvin, semua AlviaNosztaHolic yang menghadiri perayaan itupun berkata dengan serentak dan kompak,

            “MAU…MAU…MAU…MAU…..” Alvin masih menunggu jawaban dariku, berharap aku akan menjawab ‘IYA’. Akupun mengangguk berkali-kali, Alvin tersenyum puas. Ia bangkit lalu menariku kedalam pelukannya, akupun memeluk Alvin dengan erat,

            “gue cinta sama lo Vi, makasih yaa…?”

            “gue juga cinta sama lo Vin, cintaaaaa banget…”

           



                                                ~The End~

0 comments:

Post a Comment