“aku juga mau ngasi tau kamu sesuatu Vi, ini tentang aku sendiri !” ucap Alvin lagi tanpa memikirkan hancurnya perasaan Sivia,
“apa Vin ?” tanya Sivia dengan suara bergetar,
“3 tahun yang lalu, aku mengalami kecelakaan, dan kecelakaan itu
membuat aku Amnesia Vi, selain itu kecelakaan itu juga membuat aku harus
kehilangan seseorang dimasa lalu ku yang sangat aku sayang, yang aku
inget nama nya adalah Mentari, hanya itu ingatan yang tersisa dikepala
aku, dan hati kecil aku bilang, bahwa Mentari itu adalah Shilla, ini
memang konyol, tapi aku bener-bener ngerasa, bahwa Shilla pernah jadi
bagian masa lalu aku “ hati Sivia semakin tersayat mendengar ucapan
Alvin, dalam hati ia meronta,
“bukan Shilla Vin, tapi aku, akulah Mentari kamu itu, aku Vin..”
Sivia semakin berusaha keras menahan air matanya yang sudah benar-benar
ingin merembes keluar,
“Vi, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, Shilla udah punya pacar ?”
“tenang Vin, Shilla ga’ punya pacar kok “
“bener ?”
“iya...”
“cowok yang Shilla taksir ada ga’ ?” Sivia menggeleng,
“berarti ada harapan buat aku Vi ?”
“ada..”
“kamu mau kan bantuin aku buat ngedapetin Shilla ?” Sivia mengangguk berkali-kali, air matanya masih tertahan,
“bener kamu mau ?” Sivia mengangguk lagi,
“makasiih ya Vi, kamu emang sahabat aku banget “ Sivia yang sudah merasa tidak tahan lagi pun langsung pamit pada Alvin,
“Vin, aku kekelas dulu ya “
“iya Vi, sekali lagi thanks ya..”
“iya “
Sivia pun berlari sambil menangis terisak, adakah yang
bisa menggambarkan hancurnya perasaan seorang sahabat ? adakah yang bisa
menyembuhkan luka seorang sahabat karna sahabatnya yang lain ? dan
adakah yang bisa tegar, jika seorang yang dia suka bahkan dia cinta
ternyata menyukai sahabatnya sendiri ? maka semua perasaan itu kini
dirasakan oleh Sivia, dan dia harus memikulnya sendiri, kenyataan ini
memang berat, bahkan sangat berat, tapi Sivia sudah bertekad untuk
membantu Alvin mendapatkan Shilla, saat ini Sivia hanya ingin Alvin
bahagia, hanya itu, jika pun dia terluka karna itu, Sivia akan tetap
melewatinya, ia percaya semua nya akan berjalan dengan baik-baik saja.
Saat jam istirahat, Sivia menahan Shilla yang waktu itu
akan keluar dari kelas, Shilla yang merasa heran ditahan seperti itupun
bertanya,
“kenapa Vi ?”
“ada sesuatu yang harus gue omongin ke elo “
“apa ?” Sivia menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba meyakinkan hatinya,
“Alvin, SUKA sama loe ?” ucap Sivia dengan linangan air mata yang
menetes secara perlahan, Shilla tertawa mendengarkan ucapan Sivia,
“hehehe...Gila, candaan loe ga’ lucu “ ucap Shilla tidak percaya,
“gue ga’ becanda Shill, Alvin bener-bener suka sama loe, bahkan
sangat suka sama loe ? dan sebagai sahabat loe, gue mohon sama loe
Shill, pliss terima Alvin jadi pacar loe “
“ngaco loe Vi, gue ga’ suka sama Alvin, dan gue tau, elo yang suka
sama Alvin, sekarang loe nyuruh gue nerima Alvin, loe fikir gue sahabat
macam apaan ? kalo pun gue suka sama Alvin, gue ga’ akan pernah jadian
sama dia, paham loe ?”
“gue ikhlas Alvin sama loe Shill, gue ikhlas..”
“ga’ usah pura-pura tegar deh loe Vi, kita emang baru sahabatan 2
tahun Vi, tapi gue udah bisa ngerasain apa yang loe rasain, dan gue ga’
akan pernah jadian sama Alvin “ saat Shilla akan melangkah keluar dari
kelas, Sivia kembali berkata,
“tapi Alvin sayang banget sama loe Shill, lebih dari apapun itu, dia
pengen milikin loe “ Shilla tidak menggubris perkataan Sivia, Sivia
bangun dari duduknya dan mendekat kearah Shilla,
“asal loe tau Shill, sekarang ini, Alvin lagi Amnesia “
“APAA..??”
“Iya ! Alvin cerita ke gue, dia bilang, dia kehilangan seorang
dimasa lalunya yang sangat dia sayang bahkan dia cinta, dan nama cewek
dimasa lalu Alvin yang dia inget itu adalah Mentari, Alvin berfikir,
bahwa Mentari itu adalah elo Shill “
“tapi gue bukan Mentari Vi “
“emang bukan , tapi loe harus terima dia “
“dan loe berharap gue mau, enggak Vi “ ucap Shilla seraya menggeleng,
“Shill..”
“kalo gue jadian sama Alvin, itu sama artinya gue nipu dia, dan gue
ga’ mau, nanti kalo ingatannya balik lagi, di bakal benci sama gue “
“tapi Alvin sayang sama loe “
“Alvin sayang sama gue karna dia mikir gue adalah Mentari kan
?sekarang itu Alvin lagi ga’ sadar Vi, dan nanti kalo dia sadar, semua
perasaannya ke gue pasti ilang, ga’ berbekas, gue tetep ga’ mau “
“Ashilla gue mohon ! gue sayang banget sama Alvin dan gue mau dia
bahagia, gue mohon, kalo loe ga’ mau ngelakuin ini demi Alvin,
seenggaknya loe lakuin ini demi gue, sahabat loe..”
“Via !”
“gue bakal lakuin apapun , apapun bakal gue lakuin, asal loe mau
jadian sama Alvin, gue ,mohon !” saat Sivia akan bersujud didepan
Shilla, Shilla langsung berkata,
“ga’ usah lakuin ini Vi “
“gue mohon Shill, gue mohon..”
Shilla yang merasa iba melihat Sivia memohon seperti
itupun akhirnya dengan terpaksa menyetujui permintaan Sivia, dengan ragu
Shilla mengangguk, Sivia tersenyum puas meski hatinya sangat terluka.
Saat pulang sekolah Sivia langsung menghampiri Alvin yang
waktu itu sedang menunggunya digerbang sekolah, Sivia mendekat kearah
Alvin dengan wajah yang sangat kecewa,
“Via, gimana jawaban Shilla ? dia bilang apa ?” Sivia berdiri disamping Alvin tanpa mengucapkan apapun,
“Via, kamu kenapa ? kok lemes gitu ? Shilla ga’ mau ya ?” Sivia tetap diam, Alvin semakin dimakan oleh rasa penasaran,
“Via, ayo jangan diem aja, Shilla bilang apa ?” kali ini Sivia
menatap Alvin dengan tatapan yang sangat perihatin, saat itu nyali Alvin
langsung ciut, semangatnya runtuh,
“Via, Shilla bilang apa ?” tanya Alvin sekali lagi,
“maafin aku Vin, aku...” ucapan Sivia terpotong dan membuat Alvin semakin penasaran,
“Via ayo dong...!”
“Shilla...” Sivia kembali memotong ucapannya, Alvin sudah harap-harap cemas,
“iya, Shilla..”
“Shilla mau Vin, Shilla mau jadi pacar kamu..” ucap Sivia antusias
dengan rasa sakit yang coba ia tutupi dengan senyum ikhlasnya, saat itu
Alvin langsung memeluk Sivia erat,
“makasih ya Vi, makasih..” dalam dekapan Alvin, Sivia pun meneteskan
air mata, isakkannya mulai terdengar, karna rasa gembira yang
berlebihan dihati Alvin, ia akhirnya tidak bisa merasakan kesakitan yang
Sivia rasakan saat ini, Alvin melepaskan pelukannya dari Sivia, ia
memegang kedua pundak Sivia, ia goyang-goyang kan tubuh Sivia dengan
sangat antusias, Sivia berusaha tersenyum,
“aku seneng Via, aku seneengg banget..” Alvin kembali memeluk Sivia,
“apa kamu ga’ bisa liat mata aku Vin, apa kamu ga’ bisa rasakan
detakan jantung ini yang berdetak hebat saat aku bersama kamu, apa kamu
ga’ sadar, kalo kamu udah sayat hati aku, periih Vin, periihh...” batin
Sivia sambil terus menetes kan air mata.
Saat melihat Shilla yang keluar dari sekolah, Alvin
langsung melepaskan pelukannya dari Sivia, dan ketika Alvin melangkah
pergi kearah Shilla, tangis Sivia akhirnya pecah, isakkannya begitu
kuat, jika bisa, sekarang juga ia ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Kali ini Alvin sudah dekat Shilla, ia menatap Shilla sambil tersenyum, sedangkan Shilla ia hanya bisa menunduk,
“Shilla.. “ panggil Alvin, tapi Shilla belum mau menatap wajah Alvin,
“hey..” tegur Alvin sekali lagi sambil menegakkan wajah Shilla,kali ini Shilla menatap Alvin tanpa ekspresi,
“Aku..” ucap Alvin seraya meraih tangan Shilla,
“SAYANG sama kamu !” Alvin pun mencium kedua tangan Shilla, Sivia
yang melihat pemandangan itu langsung menoleh kebelakang, ia tak ingin
menyksikan, orang yang dia sayang bermesraan dengan sahabatnya sendiri,
saat membalik tubuhnya, tangis Sivia semakin pecah,
“kamu mau jadi pacar aku ?” tanya Alvin kembali pada Shilla, Shilla mengangguk pelan, Alvin tersenyum puas,
“bener ?” Alvin mencoba meyakinkan, sekali lagi Shilla mengangguk,
saat itu juga Sivia langsung merasa bahwa detik itu juga, Malaikat
utusan Tuhan sudah mencabut nyawanya.
Alvin meraih tangan Shilla dan memeluknya, pelukan Alvin
begitu erat dan membuat hati Shilla terasa aman dan nyaman, Shilla
enggan membalas pelukan Alvin, ia tidak enak pada Sivia sahabatnya,
Sivia kembali melihat Alvin dan Shilla yang waktu itu sedang berpelukan,
ternyata sedari tadi Shilla terus menatap Sivia, Sivia pun mengangguk
kearah Shilla dengan isyarat, ‘balas pelukan Alvin Shill’ Shilla yang
mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Sivia pun langsung
menggeleng, dengan arti, ia tidak mau membalas pelukan Alvin,
“makasih ya Shill, aku tu sayaaangg banget sama kamu “
“tapi gue enggak Vin “ ucap Shilla dalam hati sambil terus meratapi kepergian Sivia.
Alvin pun mengantar Shilla pulang kerumahnya, hari ini
adalah hari pertama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Saat dibonceng oleh Alvin, Shilla sama sekali tidak mau memegang
pinggang Alvin, Shilla malah duduk dengan posisi yang agak menjauh dari
Alvin.
Alvin yang berfikir Shilla masih ragu melakukan hal itu pun sengaja
menggas motornya, refleks, Shilla langsung memeluk Alvin, Alvin
tersenyum, Shilla pun menepuk pundak Alvin keras,
“ga’ lucu tau ga’...?” saat Shilla akan melepaskan pelukannya dari Alvin, Alvin malah menahan tangan Shilla,
“ga’ usah dilepas !”
“apaan sih ?”
“kita baru aja beberapa menit yang lalu jadian, masa’ mau berantem lagi ?”
“itu menurut loe ?” ucap Shilla keceplosan, Shilla langsung menutup
mulutnya dengan tangan yang satunya lagi, Alvin yang merasa kurang jelas
dengan apa yang diucapkan oleh Shilla pun berkata,
“kamu bilang apa ?”
“ga’ bilang apa-apa “ ucap Shilla berdalih,
“yakin ?”
“ya..” ucap Shilla pasrah.
Setelah tiba dirumahnya, Sivia langsung berlari masuk
kedalam kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya dan langsung menghempaskan
tubuhnya dikasur, Sivia menangis terisak,
“apa aku sanggup ngejalanin semua ini, apa aku bisa ngeliat Alvin sama Shilla ?”
_flash back Sivia_
Siang itu hujan turun dengan sangat lebat, ia seolah
menahanku disekolah, lalu bagaimana aku harus pulang ? aku memutuskan
untuk menunggu hujan reda, lama aku menunggu, hujan tetap membandel tak
mau reda semantara sekolah sudah sepi, disini hanya ada aku yang berdiri
yang menunggu hujan reda.
Saat aku mulai bosan, tiba-tiba saja ada seseorang yang
memayungiku dari belakang, aku yang merasa terkejut langsung menoleh
kebelakang, ya... senyum yang begitu memikat itu tentu hanya milik
Alvin, Alvin berdiri dibelakang ku seraya memayungiku, senyum pun
mengembang diwajahnya yang begitu tampan,
“pulang yuk !” ajak Alvin, aku hanya mengangguk, Alvin pun mengambil
tas yang aku selempangkan dipundakku lalu memakainya, Alvin merangkulku
dengan sangat kuat, sepanjang perjalanan, aku dan Alvin hanya sesekali
saling mencuri-curi pandang, mungkin karna kami masih SMP, jadi kami
masih malu-malu.
Sesampainya didepan rumahku saat aku akan memasuki gerbangku, Alvin menarik tanganku lalu berkata pada ku,
“Mentari “
“hmm..” jawabku sambil menunduk dalam,
“nanti kalo aku udah bisa pake motor, aku mau orang pertama yang aku
bonceng itu kamu, kamu mau kan ?” aku mengangguk antusias, saat itu,
Alvin memang belum bisa memakai motor, aku kembali melangkah, langkahku
kembali terhenti saat Alvin secara tiba-tiba menarik tanganku dan
membisikkan sebuah kalimat yang sampai saat ini masih melekat dengan
erat diingatanku,
“AKU SUKA KAMU “ dan yang lebih mengejutkan lagi, Alvin mencium pipi
ku, dan itu adalah pertama kalinya Alvin menciumku, aku memegang pipi
ku, sulit kupercaya apa yang baru saja terjadi, setelah menciumku, Alvin
malah berlari sambil berteriak,
“MENTARIIIII....AKU SUKAAA KAMUUU....!!!!!”
“Aku juga suka kamu Langit “ balas ku setelah Alvin memasuki gerbang rumahnya
Ya...Mentari.. begitulah Alvin memberikan aku nama, Alvin
pernah berkata, bahwa aku ibarat Mentari bagi Langitnya, Alvin juga
berkata, bahwa Langit takkan pernah terlihat indah apabila Mentari tidak
menyinarinya, Langit bukan apa-apa tanpa mentari, dan Langit itu adalah
Alvin.
Alvin juga berkata, bahwa tanpa mentari, Langit hanyalah kegelapan
malam yang pekat, jika saja Bintang tak ada pada malam hari, mungkin
takkan ada orang yang mengagumi Langit, dan Bintang itu lah lambang
cinta monyet kami.
“tetaplah jadi mentari dalam hidup aku Vi, dan jangan pernah lelah
menemaniku, malam nanti, saat aku sangat merindukanmu, akan aku
sampaikan salam rinduku untuk mentari pada Bintang “ itulah perkataan
Alvin, yang sampai sekarang masih aku ingat dan yang takkan pernah aku
lupa kan..
Sivia menutup ingatannya, ia bangun dan berjalan kearah
jendela, ia menatap Langit yang begitu cerah, Sivia tersenyum,
“dengan cara seperti ini lah, aku akan selalu nginget kamu Langit..”
====PART 6=====
Alvin tidak langsung membawa Shilla kerumahnya, Alvin malah
membawa Shilla berkeliling, Shilla yang mulai merasa bosan pun berkata,
“Alvin, sebenernya kamu mau bawa aku kemana sih ? dari tadi muteerr terus, ga’ capek apa ?”
“lagian kamu dari tadi ngediemin ku terus sih ?”
“emang aku harus ngomong apa ?”
“apa kek..”
“ya udah sekarang bawa aku pulang deh, aku mau makan, aku laper..”
“iyaa..”
Akhirnya tibalah Alvin dirumah Shilla, tanpa berkata
apa-apa Shilla langsung turun dari motor Alvin, saat Shilla akan
memasuki gerbang rumahnya, Alvin memanggilnya,
“Shill, kamu ga’ mau ngomong apa-apa sama aku ?”
“kapan-kapan aja deh Vin, sekarang aku lagi capek, aku mau istirahat “
“ya udah, istirahat aja..”
“hmmm...” saat Shilla akan kembali memasuki gerbangnya, Alvin berkata,
“Shill, besok aku jemput ya ?”
“terserah kamu “ kali ini Shilla sudah benar-benar memasuki gerbangnya,
“Shilla kenapa sih ? aneh deh, padahal aku kan pacaran sama dia,
tapi kok dia cuek gitu..” tanya Alvin pada dirinya sendiri lalu melaju
bersama motornya.
Saat suara motor Alvin sudah menghilang, Shilla pun
membuka pintu gerbangnya, ia meratapi kepergian Alvin sambil berkata,
“maafin aku Vin, aku masih belum siep jadi pacar kamu , dan aku juga belum siep buat nyakitin sahabat aku sendiri “
@Rumah Sivia
“tok..tok...tok..” ada seseorang yang menegtok pintu
rumah Sivia, saat itu Sivia hanya berdua dirumah bersama Deva adiknya,
“DEVAAAA...BUKA PINTUNYA GIH..” teriak Sivia dari ruang tamu, Deva yang waktu itu sedang diruang TV pun menyahut,
“Kakak aja yang buka, Deva lagi nanggung nih “
“Devaa, Kakak lagi belajar nih..”
“iisshhhh....Kak Sivia mah ga’ pernah mau kalah “ dengan langkah
yang gontai Deva berjalan kearah pintu saat melewati Sivia, Deva pun
melempar Kakak nya menggunakan kacang,
“aw...Deva, jail banget sih..”
“biarin “
Deva pum membuka pintu, saat melihat melihat siapa yang datang, Deva terkejut, ternyata yang datang adalah Alvin,
“Kak Alvin..!” Alvin yang merasa tidak mengenal Deva pun berkata,
“kamu siapa ? kok tau nama Kakak ?”
“ya ampun ini Deva Kakak, adiknya Kak Sivia, masa’ Kak Alvin lupa
sih ? dulu Kak Alvin sering ngajakin aku maen, inget ga’ ?” Alvin
semakin heran, Sivia yang mendengar suara Alvin langsung berlari
kedepan,
“Alvin...!” ucap Sivia,
“Via, adek kamu kok ngenal aku sih ?” tanya Alvin pada Sivia,
“yaelah, Kak Alvin, mentang-mentang 3 tahun...” ucapan Deva terpotong karna Sivia langsung menutup mulut adiknya itu,
“Deva sayang, sekarang kamu masuk ya..”
“tapi Kak..”
“masuk sayang...” Deva pun mengikuti perintah Kakaknya.
Alvin terus menatap Sivia dengan tatapan bertanya, Sivia yang mulai menyadari kecurigaan Alvin pun berkata,
“ada apa Vin kamu kerumah aku ?”
“ya ga’ ada, aku Cuma mau maen aja kerumah kamu, kenapa ? ga’ boleh ?”
“ooo...boleh dong, sekarang kamu masuk ya..”
“iya, makasihh..” Alvin pun memasuki rumah Sivia, Sivia langsung menghirup nafas lega,
“Huuufftthh... hampir saja..!” Sivia pun menyusul Alvin.
Alvin dan Sivia berhenti diruang tamu, tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, Alvin langsung duduk disofa,
“rumah kamu nyaman juga ya Vi ?”
“hehehe...makasiihh...” saat melihat foto dirinya bersama Alvin
dimeja, Sivia langsung membalik bingkainya, Sivia tak ingin Alvin
melihat foto itu,
“oya Vin, mau minum apa ?”
“apa aja deh !”
“ya udah kamu tunggu bentar ya ?”
Sivia beranjak kedapur mengambil minum untuk Alvin,
sementara Alvin ia menunggu Sivia diruang tamu, tidak lama Sivia kembali
seraya membawa 2 gelas juice jeruk untuk Alvin dan dirinya,
“nih Vin !” ucap Sivia sambil meletekkan minuman didepan Alvin,
“makasih ya Vi..”
“sama-sama, sebenarnya kamu mau ngapain kesini Vin ?” mendengar pertanyaan Sivia, Alvin menghela nafas panjang,
“aku mau curhat ke kamu Vi !”
“curhat apa ?”
“tentang Shilla !” semangat Sivia tiba-tiba runtuh saat mendengar Alvin menyebut nama Shilla,
“owh..kenapa Shilla ?” tanya Sivia dengan suara lemah,
“kamu tau kan, kalo beberapa jam yang lalu aku dan Shilla udah jadian ?”
“terus ?”
“aku ngerasa kalo Shilla itu ga’ ada hati sama aku, dia seperti terpaksa nerima aku jadi pacarnya, ya aku bingung..”
“Alvin dengerin aku ya, kamu itu baru pertama kali jadian sama
Shilla, jadi wajar dia kaya’ gini, aku yakin kok, bentar lagi, Shilla
pasti berubah “
“bener ?”
“iya Alvin, kamu percaya sama aku ya ?”
“aku pasti akan selalu percaya sama kamu Vi !” Sivia hanya tersenyum,
“kamu Cuma mau ngomongin itu ke aku Vin ?” Alvin hanya mengangguk,
“owh...” Alvin tampak berfikir, dan tidak lama berkata pada Sivia
“Via jalan yuk, aku bosen nih..”
“jalan-jalan ? kemana ?”
“ya kemana kek ! aku bosen sih !”
“hmmm...kemana ya ?”
“kemana aja boleh..”
“Alvin...! aku lagi serius nih mikir..”
“iya deh, maaf..”
“oya Vin, aku tau kemana kita harus jalan !!”
“kemana ?” tanpa menjawab pertanyaan Alvin, Sivia langsung menarik lengan Alvin,
“ayo ikut..”
Alvin membonceng Sivia tanpa arah dan tujuan yang jelas,
Alvin belum tau kemana Sivia akan membawanya pergi, Alvin hanya
mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Sivia,
“sebenarnya kita mau kemana sih Vi ?”
“udah jalan aja, ikuti petunjuk aku !”
“hehe..iya deh iya..”
Setelah cukup lama berkeliling, Sivia dan Alvin pun berhenti didepan sebuah panti asuhan,
“Via, kita mau ngapain disini ?”
“kan katanya kita mau jalan-jalan “
“jalan-jalan kok disini ? emang kita mau liat apa disini ?”
“kebahagiaan..” jawab Sivia singkat, Alvin mengerutkan dahinya, Sivia pun menarik tangan Alvin sambil berkata,
“udah, ikut aja...” Sivia dan Alvin memasuki panti asuhan.
Setibanya didalam panti asuhan, Sivia langsung dikerubungi oleh semua anak-anak panti asuhan,
“Kak Sivia..” panggil anak-anak panti asuhan itu,
“hay adek-adek, apa kabar ?”
“baik Kak..”
“Alhamdulillah..” setelah membagi-bagikan uang pada semua anak-anak panti asuhan, Sivia dan Alvin pun memasuki kamar bayi-bayi.
Sivia berjalan sambil melihat bayi-bayi terlantar itu,
ada rasa miris dihati Sivia, karna bayi-bayi itu tak seberuntung
dirinya.
Sivia berhenti disamping sebuah ranjang Bayi, Sivia menggendong Bayi
perempuan yang belum punya nama itu, Sivia bertanya pada Ibu Panti,
“Ibu ini namanya siapa ?”
“dia belum punya nama Via, umurnya baru 3 bulan “
“3 bulan ? terus orang tua nya kemana ?”
“entahlah Via, bayi ini ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya didepan panti asuhan..”
Alvin yang melihat Sivia ternyata memiliki sikap yang
sangat amat baik dan perhatian pada anak-anak panti asuhan pun menjadi
terkesima, ia tidak menyangka bahwa Sivia sebaik itu, dalam hati Alvin
berkata,
“coba aja, Shilla sebaik Sivia, hmmm...” Sivia yang melihat Alvin diam saja pun berkata pada Alvin,
“Vin, kamu mau gendong bayi ini ?”
“emm..boleh..” Sivia pun menyerahkan bayi itu pada Alvin, Alvin
menggendong bayi itu dengan sangat hati-hati, sementara Sivia, ia terus
membelai bayi yang ada dalam gendongan Alvin itu,
“Via, aku pegeell..”
“yaelah Alvin, baru juga bentar , ya udah sini biar aku yang gendong
“ Sivia kembali mengambil bayi itu dari Alvin, kali ini giliran Sivia
yang menggendong bayi itu, sementara Alvin, ia mengajak bayi itu
bermain, sekarang Alvin dan Sivia tampak seperti kedua orang tua yang
bahagia, Ibu Panti berkata pada Alvin dan Sivia,
“nak Sivia, nak Alvin, apa kalian mau memberikan nama untuk bayi ini
?” Alvin dan Sivia saling menatap satu sama lain, tidak lama mereka
kembali menatap Ibu Panti yang berwajah amat sabar itu,
“apa kalian udah punya nama untuk bayi perempuan ini ?” tanya Ibu Panti sekali lagi,
“MENTARI “ jawab Alvin dan Sivia serempak, mereka kembali saling
menatap dengan tatapan yang heran, Alvin menatap mata Sivia tajam,
kepala Alvin mulai sakit tapi ia berusaha menahan..
BERSAMBUNG...
Saturday, August 10, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment