Cakka berjalan ragu-ragu menuruni
anak tangga. Ketika melihat kedua orang tuanya yang waktu itu tengah duduk
berdua diruang TV, Cakka langsung menghentikan langkahnya. Sejenak Cakka
terdiam, melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Papi dan Maminya, otak Cakka
tiba-tiba berfikir, seandainya saja Papi nya tidak meninggalkannya beberapa
tahun yang lalu demi Mami Alvin, mungkin sekarang yang duduk disampingnya Papi
nya adalah Mama nya, dan bukan Mami Alvin. Andai saja dulu Papi nya tidak
meninggalkannya begitu saja, mungkin saat ini mereka bisa hidup bahagia bersama
tanpa ada rasa dendam diantara mereka.
Cakka menghela nafas beratnya. Ia
menggenggam erat jemari tangannya dan menatap tajam kearah kedua orang tuanya. Setiap
kali ingat Mama nya, entah kenapa rasa benci Cakka pada kedua orang itu semakin
menjadi tanpa ia sendiri bisa kendalikan. Cakka pun tahu-tahu mengurungkan
niatnya yang semula. Cakka berbalik dan kembali menaiki anak tangga dengan
langkah terburu.
Tapi tiba-tiba saja…
Flash
Back Cakka:
“Kak
Cakka pernah bilang ke aku, bahwa kita hidup harus mengikuti arus, jika kita
melawan arus maka kita akan tenggelam, Kak Cakka benar, aku setuju dengan itu.
Tapi apa Kak Cakka nggak pernah sadar? Bahwa selama ini Kak Cakka hidup melawan
arus, dan saat ini Kak Cakka sedang tenggelam”
“Via—“
“fikirkan lagi Kak, selama ini Kak
Cakka bukannya nggak pernah hidup bahagia. Kalo Kakak mau tau sebenernya
kebahagiaan itu selalu ada buat Kak Cakka, tapi Kak Cakka yang berusaha
menghindari diri dari kebahagiaan itu. Terima semua kenyataan ini Kak, aku
yakin akan ada hal indah yang Kakak dapatkan nanti…”
“tapi Via, semuanya nggak segampang
seperti apa yang kamu fikirin”
“dan semuanya nggak sesulit seperti
apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan
semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan
semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan
semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan
semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
Flash
Back Off~
Ucapan
Sivia yang terakhir terus bergema dalam otak Cakka tanpa henti dan membuat
kepalanya terasa sangat sakit. Ya, Sivia benar. Semuanya tidak sesulit seperti
apa yang Cakka bayangkan jika saja Cakka sedikit mau berubah. Sedikiiitt saja
dan semuanya akan baik-baik saja.
Cakka
juga harus bisa menyadari, bahwa kepergian Mama nya bukanlah sebab siapa-siapa,
juga bukan sebab Papinya. Kepergian Mama nya sudah menjadi bagian dari
permainan takdir Tuhan sejak semula, dan Cakka tidak bisa menyangsikan itu.
Mungkin
Papinya pernah buat kesalahan di masa lalu. Tapi semua orang juga pernah buat
kesalahan kan? Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan sebesar apapun yang hamba-Nya
lakukan, masakah Cakka yang hanya manusia biasa tidak bisa memaafkan kesalahan
yang Ayah Kandungnya sendiri perbuat? Dan seperti apa yang Sivia katakan, semua
orang juga berhak diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
Memberikan
kesempatan kedua, itulah hal yang harus Cakka lakukan saat ini. Tidak peduli
sesakit apapun, tidak peduli sepahit apapun, Cakka harus tetap memberikan hak
kesempatan kedua itu bagi Papi nya.
Sekali
lagi Cakka menghela nafas beratnya. Ia berusaha melawan semua egonya. Lalu
dengan keras, Cakka menghantam besi pembatas tangga hingga tangannya sedikit
mengalami luka memar. Cakka harus bisa! Ya, karna dia pasti bisa. Bukankah
Sivia selalu berkata seperti itu padanya.
Cakka
berbalik. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu berjalan mantap menuruni anak
tangga hendak menghampiri kedua orang tuanya. Papi dan Maminya.
****
“masih bersama Via di 91.8 FM
ANH-Radio dalam acara , Malam Minggu Galau Bareng Via. Oke, bagi para
Jomblo-jomblo nggak usah ngerasa ngenes, karna disini masih ada Via yang
nemenin, jadi ayo gabung bareng Via disini, kita curhat bareng. Dan bukan hanya
untuk para Jomblo-jomblo, tapi juga untuk semua yang merasa hati nya galau,
silahkan gabung disini. Kita curhat bareng, kita temukan solusinya bareng-bareng.
Dan… kita tunggu penelpon selanjutnya, siapa yaaaa…..”
“hallo Via….” Ucap orang disebrang
sana. Sivia langsung tersenyum ketika mendapatkan penelpon pertamanya di segmen
kedua malam ini.
“ya hallo juga, dengan siapa disana,
Sist?”
“ini dengan Nova…”
“oke, Nova. Dari suaranya sih kayak
nya lagu galau berat nih, bisa curhat lagi ngegalauin apa sekarang?”
Penelpon itu terdiam sejenak. Tidak
lama kemudian, suaranya kembali terdengar,
“gue mau curhat, Vi…”
“iya curhat apa?” Sivia mengecilkan
volume music nya lalu berusaha konsen mendengarkan curhat pasien pertamanya di
Segmen kedua malam ini.
“gue punya pacar, dan keliatannya dia
sayang banget sama gue, dia baik, dia perhatian, romantic, dan selalu ngikutin
apapun permintaan gue, dia juga setia meskpiun banyak cewek-cewek yang ngejer
dia, itulah yang bikin gue makin sayang sama cowok gue ini. Tapi, nggak lama
setelah kita jadian, Mantan nya dia balik lagi—“
Deg… jantung Sivia mulai berdegub
kencang. Kisah penelpon ini mengingatkannya pada kisah….
“Mantan nya itu berusaha ngedeketin
dia lagi. Tapi meskipun begitu, cowok gue tetep milih gue, dia tetep mau
mertahanin hubungan kita. Tapi gue nggak begok, Vi. Gue tau perasaannya dia ke
Mantannya itu kayak apa, dia nggak bisa ngebohongin gue. Bibirnya mungkin
bilang kalo dia udah ngelupain mantannya itu, tapi matanya nggak berbicara
seperti itu, Via, nggak sama sekali….”
Sivia merasakan kedua matanya
memanas dan telah merembeskan air mata. Akhir-akhiran ini, Sivia memang sangat
sensitive.
“karna dia nggak mau ninggalin gue
demi mantannya dia itu, dan karna gue nggak mau terkesan maksa dia dalam
hubungan kita ini, akhirnya gue pergi ninggalin dia. Nggak bisa gue certain
gimana hancurnya gue saat gue harus pergi ninggalin dia, karna siapapun nggak
akan pernah bisa ngerti dengan apa yang gue rasain ini. Gue Cuma mau dia
bahagia, Cuma itu Via”
Air mata itu akhirnya keluar juga
dengan deras. Deva dan Oliv yang sejak tadi mengamati Sivia hanya bisa saling
menatap satu sama lain dengan pandangan heran.
Dalam hati Sivia bertanya, apa Alvin
juga seperti itu? Apa Alvin juga terpaksa bertahan dengannya hanya untuk
menjaga perasaan Sivia saja? Dan… apa Sivia juga harus pergi seperti apa yang
Nova lakukan?
“dia terus nyariin gue gue
belakangan ini. Dan sekarang gue bingung, apa yang harus gue lakuin, Via? Apa?”
Sivia mengusap air matanya yang
seakan tumpah. Ia menegakkan wajahnya dan berusaha terlihat baik-baik saja.
Apapun yang terjadi, Sivia harus tetap professional.
“lo… elo nggak seharusnya sembunyi,
Va—“ Sivia menggantungkan kalimatnya untuk menghela nafas sejenak. Rasanya
pedih sekali. Jika bisa, Sivia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Karna
dengan menjawab pertanyaan itu berarti Sivia harus menentang kata hatinya
sendiri. Tapi sekali lagi, Sivia harus bisa professional. Ini urusan
pekerjaannya, Sivia harus bisa mengeyampingkan urusan pribadinya disini.
“lo sebaiknya jelasin sama dia. Elo…
elo harus bisa jujur sama hati lo sendiri, lo juga harus bisa jujur sama dia.
Elo… elo nggak bisa berbuat seperti ini sama dia, Va… hh…” isakkan Sivia nyaris
keluar jika saja ia tidak berusaha menahan. Kelamaan rasa pedih itu semakin
mengoyak jantungnya tanpa ampun.
“kalo lo emang mau ngeikhlasin dia
seperti apa yang lo bilang, maka lo harus ngomong langsung sama dia, dan bukannya
malah sembunyi kayak gini”
“makasih, Via….”
Sivia akhirnya memutuskan sambungan
telfonnya. Masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan setelah ini, untuk
itu, Sivia harus tetap bisa menahan isakkanya agar tidak keluar.
“Oke, gue punya sebuah lagu buat
Nova. Semoga lagu ini bisa mewakilkan perasaan Nova saat ini. Dan ini dia lagu
dari miliknya Geisha, Lumpuhkan Ingatanku, check this song…”
Lagu dari miliknya Geisha itu pun
mengalun perlahan memenuhi ruang siaran. Air mata serta isakan yang sejak tadi
Sivia tahan akhirnya tumpah ruah bersama kepedihan hatinya. Sivia membuka
headphone-nya lalu menenggelamkan wajahnya diatas kedua lipatan tangannya. Isak
tangis Sivia kian memecah seiring lagu itu mengalun. Apa patah hati sesakit
ini??
****
“Priss… apa kamu nggak ngantuk? Ini udah
jam 10 lho” ucap Alvin sehati-hati mungkin pada Pricilla yang ketika itu tengah
duduk disampingnya sambil merebahkan kepalanya dipundak Alvin. Pricilla
menggandeng lengan Alvin dengan erat, sementara tangan kanan Alvin melingkar
dipundak Gadis itu.
Pricilla menggeleng pelan beberapa
kali. Ia meraih tangan kiri Alvin lalu menggenggamnya erat.
“ini kan malem minggu, Sayang. Emangnya
kamu udah ngantuk?” Tanya Pricilla balik. Alvin mendesah tak kentara, ia
bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Pricilla. Tidak lama Alvin akhirnya
menggeleng,
“ya nggak juga…”
“terus kenapa nanya kayak gitu, kamu
mau pulang?” Pricilla mengangkat wajahnya lalu menatap Alvin. Alvin menggeleng
lagi, saat itu juga Pricilla langsung tersenyum puas.
“bagus. Kalo pun kamu mau pulang
juga aku nggak akan ijinin” Pricilla menyentuh pipi Alvin dengan lembut “aku
masih kangen sama kamu, Sayang, kangeeennn banget”
Pricilla mengecup pipi Alvin lalu
melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Pria itu. Sebenarnya Alvin ingin
menolak perlakuan Pricilla itu, hanya saja Alvin tidak ingin menyinggung
perasaannya. Alvin takut Pricilla kecewa.
Tanpa sepengetahuan Pricilla, Alvin
melirik arlojinya yang ketika itu sudah menunjukan pukul 22.05. Tidak kurang
dari 25 menit lagi Sivia akan mengakhiri siarannya. Seharunya sekarang Alvin
sudah diperjalanan menuju ANH-Radio, tapi jika Pricilla terus menahannya
seperti ini, Alvin bisa apa? Tapi masakah Alvin harus mengingkari janji yang
sudah ia sendiri buat pada Sivia? Baru tadi siang Alvin berjanji akan menjemput
Sivia distudio malam ini juga, tapi
sekarang ternyata, Pricilla malah menahannya ditempat ini.
“sayang…” panggil Pricilla pelan,
“hm?” jawab Alvin tanpa semangat. Fikirannya
terus tertuju pada Sivia, ia ingin segera menemui Kekasihnya itu. Seharian tidak
bertemu dengan Sivia, cukup membuat Alvin merindukannya, sangat merindukannya.
“semenjak aku balik dari German, aku
nggak pernah denger lagi kamu manggil aku dengan panggilang Sayang? Kenapa? Masih
marah sama aku?” Pricilla cemberut dan membuatnya terlihat sangat lucu dimata
Alvin. Alvin terkekeh pelan, mendadak ia melupakan janjinya pada Sivia begitu
saja. Hanya dalam beberapa detik saja. Dengan secepat itu.
“kamu kok malah ketawa?” Pricilla
mencubit pelan perut Alvin dan membuat Alvin meringis pelan.
“aw…. Sakit Priss….”
“sekarang jawab pertanyaan aku,
kenapa kamu nggak pernah panggil aku sayang lagi? Kamu udah nggak cinta ya sama
aku?”
Telak! Pertanyaan dari Pricilla itu
benar-benar telak dan membuat Alvin kelimpungan sendiri mencari jawaban untuk
Pricilla. Bukan, Alvin bukannya tidak bisa menjawab pertanyaan Pricilla itu,
hanya saja Alvin tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri bingung dengan apa
yang ia rasakan saat ini.
“tuh kan, kamu udah nggak cinta lagi
sama aku…” simpul Pricilla pada akhirnya ketika merasa bahwa Alvin terlalu lama
menjawab pertanyaannya.
“bu… bukan gitu… a… aku…. Aku sa…. Aku…
sayang sama kamu, masih sayang sama kamu” jawab Alvin pada akhirnya. Dalam hati
ia langsung merutuki dirinya sendiri. Apa yang baru saja ia katakan? Kenapa
Alvin harus menjawab Pricilla dengan jawaban seperti itu? Ya Tuhan, apa ini
yang namanya selingkuh?
Sadar atau tidak, detik itu juga
Alvin sudah menduakan perasaan Sivia.
“kalo kamu bener-bener masih sayang
sama aku—“ Pricilla menggantungkan kalimatnya lalu menarik tengkuk Alvin hingga
wajah mereka nyaris bersentuhan.
Alvin tersentak. Sulit ia percaya
apa yang sudah Pricilla lakukan padanya baru saja. Jari telunjuk Pricilla
terangkat lalu menujuk kearah bibirnya sendiri.
“kiss me…” bisik Pricilla pelan
tepat didepan wajah Alvin. Alvin kaget sekaget-kagetnya. Dia mana bisa
melakukan hal itu sementara ia sendiri sudah ada yang memiliki? Tidak, Alvin
tidak ingin menyakiti Sivia dengan cara menduakan cintanya seperti ini. Sudah cukup
selama ini Alvin menyakiti Sivia, dan Alvin tidak ingin lagi melakukannya. Tidak
didepan Sivia secara terang-terangan, tidak juga dibelakang Sivia secara
sembunyi-sembunyi.
Alvin dapat melihat dengan sangat
jelas Pricilla sudah menutup kedua matanya dan siap menerima ciuman dari Alvin.
Alvin menatap sejenak wajah Pricilla yang terpejam. Malam ini Pricilla
benar-benar terlihat cantik, dan jujur saja Alvin terpikat dengan itu. Tapi…
Entah mendapat dorongan mana, dengan
gemetar Alvin mengangkat kedua tangannya lalu menyentuh kedua sisi wajah
Pricilla. Sama seperti Pricilla, Alvin juga memejamkan kedua matanya lalu
menggerakan wajahnya perlahan mendekati wajah Pricilla. Tapi tiba-tiba saja….
Flash
Back Alvin:
Siviapun menunduk
dalam, takut menatap kedua mata Alvin. Sivia tiba-tiba merasakan Alvin
merenggut kalung itu dari genggamannya, Sivia semakin takut. Tapi tidak lama
kemudian, Alvin malah memasangkan kalung itu pada leher Sivia. Kali ini Sivia
mengangkat wajahnya dan memberanikan dirinya menatap mata Alvin,
“Alvin??” Alvin tersenyum,
“kalung ini sekarang udah jadi milik
kamu, kamu yang berhak atas kalung ini, juga atas….” Alvin meraih tangan Sivia
lalu meletakkannya didada bidang miliknya “juga atas hati ini” lanjut Alvin
sungguh-sungguh.
Sivia kembali menghambur kedalam
pelukan Alvin,
“makasih, Vin… aku cinta sama
kamu….”
“aku tau, aku juga cinta sama
kamu….” Alvin mengecup pipi Sivia dengan lembut.
Flash
Back off~
Alvin
langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Pricilla sebelum bibir mereka sempat
bertemu. Tidak, Alvin tidak akan melakukan hal itu. Saat ini, hanya Sivia lah
yang berhak atas hatinya dan bukannya Pricilla yang dulu pernah pergi
meninggalkannya dan menyisakan luka yang teramat dalam.
“sorry,
Priss. Gue harus pulang. Gue baru inget kalo gue ada janji”
Alvin
bangkit dari hadapan Pricilla lalu pergi begitu saja meninggalkan Gadis itu
sendiri. Pricilla tersenyum miris. Ia mengangguk beberapa kali lantas berucap,
“kamu
berubah. Kamu udah nggak cinta lagi sama aku, Vin….”
****
10
menit sudah Sivia menunggu kedatangan Alvin di Loby studio. Tapi hingga 10
menit berlalu Alvin tidak juga menampakkan batang hidungnya. Seharusnya sekarang
Alvin sudah tiba di studio untuk menjemput Sivia. Kemana dia?
Sivia
membuka ponselnya, berharap Alvin mengiriminya sebuah pesan singkat. Tapi harapan
Sivia musnah seketika saat ia tidak mendapatkan pesan apapun dari Alvin. Sivia
cemas. Dan ketika ia memutuskan untuk menelpon Alvin, Sivia baru ingat bahwa
tadi siang Alvin pergi menemui Pricilla. Sivia pun dilemma, antara menelpon
Alvin atau tidak. Takutnya jika Sivia menelpon, ia akan menganggu kebersamaan
Alvin dan Pricilla.
Sivia
tersenyum tipis. Berusaha yakin dengan keputusan yang sekarang ia ambil. Dan Sivia
berusaha untuk tidak sedikitpun menyimpan prasangka buruk terhadap Alvin. Biar bagaiamnapun,
Sivia harus bisa mempercayai Alvin.
5
menit lagi. Sivia memutuskan untuk menunggu Alvin 5 menit lagi. Jika Alvin
tidak datang juga dalam waktu 5 menit, maka Sivia akan pulang sendiri. Ya… 5
menit lagi. Sivia yakin Alvin pasti akan datang untuk memenuhi janjinya siang
tadi.
1
menit….
2
menit….
3
menit….
4
menit….
Sivia
mulai harap-harap cemas. Akankah Alvin akan datang? Jujur saja, Sivia takut
Alvin ingkar. Sivia menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan duduk dalam keadaan
yang serba tidak nyaman. Alvin pasti akan datang dengan senyuman termanisnya. Ya…
Sivia yakin dengan itu.
Dan….
5
menit….
Alvin
ternyata tidak datang. Dia ingkar. Sivia menghela nafas beratnya. Ia bangkit
dari sofa dan telah siap melangkah pergi. Sekali lagi Sivia memeriksa
ponselnya. Nihil.
Sivia
akhirnya melangkah pergi dengan segala prasangka baiknya terhadap Alvin.
Sivia
menyusuri koridor studio yang sepi dengan langkah yang gontai. Sekalipun Sivia
berusaha untuk tetap berpostif thinking terhadap Alvin, tapi tetap saja ia
tidak bisa menghindari diri dari rasa takutnya.
Hey…
ayolah, Alvin sekarang sedang menemui Mantannya. Yang kemungkinan besar Alvin
masih menyimpan sebuah rasa untuknya. Apapun bisa terjadi dalam pertemuan
mereka bahkan tanpa Sivia ketahui. Dalam masalah ini Sivia hanyalah seorang
Gadis lugu nan bodoh yang bisa dibodohi kapan saja oleh orang secerdik Alvin. Jadi
wajar saja kan kalau Sivia menyimpan sedikit rasa takut? Bukan kah itu
manusiawi?
Lalu
tiba-tiba saja Sivia merasakan seseorang menarik pergelangan tangannya tepat
ketika ia akan keluar dari Gedung ANH-Radio. Sosok itu tidak hanya menarik
pergelangan tangan Sivia, tetapi ia juga menarik tubuh mungil Sivia hingga
terhempas kedalam pelukannya yang erat juga hangat…
“maaf
udah bikin kamu nunggu lama” Lirihnya pelan.
Sivia
tersenyum detik itu juga. Segala ketakutannya yang tadi memenuhi ruang
dihatinya langsung lenyap seketika tanpa bekas, saat Seseorang ia tunggu-tunggu
kedatangannya akhirnya hadir juga bahkan merengkuhnya dalam pelukannya yang
erat.
Kedua
tangan Sivia terangkat lalu membalas pelukan Pria itu…
“aku
tahu kamu pasti bakalan dateng, Alvin….”
****
Alvin
menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Sivia. Sivia menatap sejenak kearah
Alvin dengan senyuman manis yang terukir diwajah cantiknya,
“Alvin…”
“hmm…?”
“makasih
ya kamu udah tepatin janji kamu sama aku?”
Alvin
membalas senyuman Sivia, ia menyentuh kepala Sivia, mendorongnya pelan lalu
mengecup keningnya dengan lembut,
“mana
mungkin aku ingkar janji sama kamu, Via…” Sivia hanya tersenyum dan tidak
membalas perkataan Alvin. Sebenarnya Sivia ingin menanyakan tentang pertemuan
Alvin dengan Pricilla tadi, tapi Sivia takut membuat Alvin merasa tersinggung.
Sivia pun akhirnya memendam keinginan itu.
“Vin…”
“iya”
“aku
masuk ya? Udah malem…” dengan senang hati Alvin pun mengangguk.
Sivia
membuka sabuk pengaman yang tersampir ditubuhnya. Sebelum Sivia keluar dari
mobil Alvin, sekali lagi ia menoleh kearah Alvin,
“good
night, Vin…”
“good
night too”
Tepat
ketika Sivia akan membuka pintu mobil Alvin, Alvin tahu-tahu menarik
pergelangan tangan Sivia dan menahan Gadis itu supaya tetap berada
disampingnya. Alvin menahan kedua pundak Sivia seraya menatap kedua mata Gadis
itu sedalam mungkin.
“apa
lagi….?”
“ada
yang ketinggalan?”
“apa?”
Alvin
dan Sivia terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, Alvin mendekatkan wajahnya
dengan wajah Sivia. Deg… jantung Sivia berdegub semakin kencang dan cepat
ketika wajah Alvin semakin mendekati wajahnya.
Semuanya
terjadi begitu cepat. Sivia langsung memejamkan matanya ketika bibir Alvin
menyentuh bibirnya dengan lembut. Sivia yang awalnya kaget berusaha untuk
rileks. Ia pun memejamkan kedua matanya begitu juga dengan Alvin.
Semakin
lama Sivia merasakan bahwa ciuman Alvin semakin dalam. Perlahan Alvin
menurunkan kedua tangannya dari pundak Sivia. Kedua tangan itu berpindah, lalu
menyentuh kedua sisi pinggang Sivia.
Sivia
yang terbawa suasana pun tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya pada leher
Alvin.
Dalam
hati Sivia tersenyum bahagia. Malam itu ia bisa merasakan bahwa Alvin
benar-benar mencintainya. Sivia tidak perlu takut lagi Alvin akan berpaling
darinya dan kembali lagi pada Pricilla.
Alvin
miliknya, hanya miliknya. Dan Sivia selalu berharap, semoga selamanya Alvin
akan tetap jadi miliknya.
****
Sivia
menghentikan langkahnya ketika ia melihat Pricilla yang berdiri tidak jauh dari
posisinya sekarang. Setelah 2 tahun tidak pernah bertemu dengan Pricilla,
akhirnya hari ini Sivia bertemu lagi dengannya. Dan pada kenyataannya, Gadis
ini semakin terlihat cantik saja.
Jika
dulu ia terlihat begitu cute dengan poni tebal yang menjuntai didahinya, maka
sekarang ia terlihat begitu anggun dan dewasa tanpa poni.
Sivia
terpana, bukan karna kecantikan Gadis Indo itu, melainkan karna kehadirannya
yang secara tiba-tiba didepan rumah Sivia dipagi hari itu. Apa maksud dan
tujuan Pricilla datang kerumahnya?
“Hay,
Sivia…” sapa Pricilla dengan bersahabat saat Sivia datang menghampirinya. Ya…
dari dulu Pricilla memang selalu bersahabat. Ternyata tidak ada yang berubah
sedikitpun dari sikapnya itu.
“Hay,
Priss…” jawab Sivia sedikit canggung.
“gue
kangen sama lo, Vi…” Pricillapun memeluk Sivia.
Ia
bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu, tidak ada kepura-puraan disana, karna
Pricilla memang merindukan Sivia, seseorang yang selama ini selalu ia anggap
sahabat.
“lo
apa kabar?” Tanya Sivia basa basi sembari melepaskan pelukannya dari Pricilla,
“nggak
baik” jawab Pricilla sekenanya. Demi apapun itu, Sivia langsung menyesal
menanyakan kabar Gadis ini. Ia baru sadar bahwa ia telah salah bertanya.
“sorry”
gumam Sivia pelan.
Pricilla
tersenyum lebar lalu meraih pergelangan tangan Sivia,
“gue
mau bicara berdua sama lo. Boleh?”
“bo..
boleh…” jawab Sivia ragu-ragu yang sebenarnya mulai merasakan sebuah perasaan
tidak enak. Pricilla tersenyum senang lalu merangkul Sivia. Mereka berduapun
memasuki mobil milik Pricilla yang terparkir tidak jauh dari depan gerbang
rumah Sivia.
Dalam
hati Sivia bertanya-tanya; Apa yang ingin Pricilla bicarakan dengannya? Apa ini
semua menyuangkut Alvin??
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment