Saturday, August 10, 2013

0

CINTA BEGINI Chapter 13 -I Knew You Would Come-





                Cakka berjalan ragu-ragu menuruni anak tangga. Ketika melihat kedua orang tuanya yang waktu itu tengah duduk berdua diruang TV, Cakka langsung menghentikan langkahnya. Sejenak Cakka terdiam, melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Papi dan Maminya, otak Cakka tiba-tiba berfikir, seandainya saja Papi nya tidak meninggalkannya beberapa tahun yang lalu demi Mami Alvin, mungkin sekarang yang duduk disampingnya Papi nya adalah Mama nya, dan bukan Mami Alvin. Andai saja dulu Papi nya tidak meninggalkannya begitu saja, mungkin saat ini mereka bisa hidup bahagia bersama tanpa ada rasa dendam diantara mereka.
            Cakka menghela nafas beratnya. Ia menggenggam erat jemari tangannya dan menatap tajam kearah kedua orang tuanya. Setiap kali ingat Mama nya, entah kenapa rasa benci Cakka pada kedua orang itu semakin menjadi tanpa ia sendiri bisa kendalikan. Cakka pun tahu-tahu mengurungkan niatnya yang semula. Cakka berbalik dan kembali menaiki anak tangga dengan langkah terburu.
            Tapi tiba-tiba saja…


Flash Back Cakka:

“Kak Cakka pernah bilang ke aku, bahwa kita hidup harus mengikuti arus, jika kita melawan arus maka kita akan tenggelam, Kak Cakka benar, aku setuju dengan itu. Tapi apa Kak Cakka nggak pernah sadar? Bahwa selama ini Kak Cakka hidup melawan arus, dan saat ini Kak Cakka sedang tenggelam”
            “Via—“
            “fikirkan lagi Kak, selama ini Kak Cakka bukannya nggak pernah hidup bahagia. Kalo Kakak mau tau sebenernya kebahagiaan itu selalu ada buat Kak Cakka, tapi Kak Cakka yang berusaha menghindari diri dari kebahagiaan itu. Terima semua kenyataan ini Kak, aku yakin akan ada hal indah yang Kakak dapatkan nanti…”
            “tapi Via, semuanya nggak segampang seperti apa yang kamu fikirin”
            “dan semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”

“dan semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”
“dan semuanya nggak sesulit seperti apa yang Kak Cakka bayangin”

Flash Back Off~

            Ucapan Sivia yang terakhir terus bergema dalam otak Cakka tanpa henti dan membuat kepalanya terasa sangat sakit. Ya, Sivia benar. Semuanya tidak sesulit seperti apa yang Cakka bayangkan jika saja Cakka sedikit mau berubah. Sedikiiitt saja dan semuanya akan baik-baik saja.
            Cakka juga harus bisa menyadari, bahwa kepergian Mama nya bukanlah sebab siapa-siapa, juga bukan sebab Papinya. Kepergian Mama nya sudah menjadi bagian dari permainan takdir Tuhan sejak semula, dan Cakka tidak bisa menyangsikan itu.
            Mungkin Papinya pernah buat kesalahan di masa lalu. Tapi semua orang juga pernah buat kesalahan kan? Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan sebesar apapun yang hamba-Nya lakukan, masakah Cakka yang hanya manusia biasa tidak bisa memaafkan kesalahan yang Ayah Kandungnya sendiri perbuat? Dan seperti apa yang Sivia katakan, semua orang juga berhak diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
            Memberikan kesempatan kedua, itulah hal yang harus Cakka lakukan saat ini. Tidak peduli sesakit apapun, tidak peduli sepahit apapun, Cakka harus tetap memberikan hak kesempatan kedua itu bagi Papi nya.
            Sekali lagi Cakka menghela nafas beratnya. Ia berusaha melawan semua egonya. Lalu dengan keras, Cakka menghantam besi pembatas tangga hingga tangannya sedikit mengalami luka memar. Cakka harus bisa! Ya, karna dia pasti bisa. Bukankah Sivia selalu berkata seperti itu padanya.
            Cakka berbalik. Ia berusaha meyakinkan hatinya lalu berjalan mantap menuruni anak tangga hendak menghampiri kedua orang tuanya. Papi dan Maminya.



****

            “masih bersama Via di 91.8 FM ANH-Radio dalam acara , Malam Minggu Galau Bareng Via. Oke, bagi para Jomblo-jomblo nggak usah ngerasa ngenes, karna disini masih ada Via yang nemenin, jadi ayo gabung bareng Via disini, kita curhat bareng. Dan bukan hanya untuk para Jomblo-jomblo, tapi juga untuk semua yang merasa hati nya galau, silahkan gabung disini. Kita curhat bareng, kita temukan solusinya bareng-bareng. Dan… kita tunggu penelpon selanjutnya, siapa yaaaa…..”
            “hallo Via….” Ucap orang disebrang sana. Sivia langsung tersenyum ketika mendapatkan penelpon pertamanya di segmen kedua malam ini.
            “ya hallo juga, dengan siapa disana, Sist?”
            “ini dengan Nova…”
            “oke, Nova. Dari suaranya sih kayak nya lagu galau berat nih, bisa curhat lagi ngegalauin apa sekarang?”
            Penelpon itu terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, suaranya kembali terdengar,
            “gue mau curhat, Vi…”
            “iya curhat apa?” Sivia mengecilkan volume music nya lalu berusaha konsen mendengarkan curhat pasien pertamanya di Segmen kedua malam ini.
            “gue punya pacar, dan keliatannya dia sayang banget sama gue, dia baik, dia perhatian, romantic, dan selalu ngikutin apapun permintaan gue, dia juga setia meskpiun banyak cewek-cewek yang ngejer dia, itulah yang bikin gue makin sayang sama cowok gue ini. Tapi, nggak lama setelah kita jadian, Mantan nya dia balik lagi—“
            Deg… jantung Sivia mulai berdegub kencang. Kisah penelpon ini mengingatkannya pada kisah….
            “Mantan nya itu berusaha ngedeketin dia lagi. Tapi meskipun begitu, cowok gue tetep milih gue, dia tetep mau mertahanin hubungan kita. Tapi gue nggak begok, Vi. Gue tau perasaannya dia ke Mantannya itu kayak apa, dia nggak bisa ngebohongin gue. Bibirnya mungkin bilang kalo dia udah ngelupain mantannya itu, tapi matanya nggak berbicara seperti itu, Via, nggak sama sekali….”
            Sivia merasakan kedua matanya memanas dan telah merembeskan air mata. Akhir-akhiran ini, Sivia memang sangat sensitive.
            “karna dia nggak mau ninggalin gue demi mantannya dia itu, dan karna gue nggak mau terkesan maksa dia dalam hubungan kita ini, akhirnya gue pergi ninggalin dia. Nggak bisa gue certain gimana hancurnya gue saat gue harus pergi ninggalin dia, karna siapapun nggak akan pernah bisa ngerti dengan apa yang gue rasain ini. Gue Cuma mau dia bahagia, Cuma itu Via”
            Air mata itu akhirnya keluar juga dengan deras. Deva dan Oliv yang sejak tadi mengamati Sivia hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan pandangan heran.
            Dalam hati Sivia bertanya, apa Alvin juga seperti itu? Apa Alvin juga terpaksa bertahan dengannya hanya untuk menjaga perasaan Sivia saja? Dan… apa Sivia juga harus pergi seperti apa yang Nova lakukan?
            “dia terus nyariin gue gue belakangan ini. Dan sekarang gue bingung, apa yang harus gue lakuin, Via? Apa?”
            Sivia mengusap air matanya yang seakan tumpah. Ia menegakkan wajahnya dan berusaha terlihat baik-baik saja. Apapun yang terjadi, Sivia harus tetap professional.
            “lo… elo nggak seharusnya sembunyi, Va—“ Sivia menggantungkan kalimatnya untuk menghela nafas sejenak. Rasanya pedih sekali. Jika bisa, Sivia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Karna dengan menjawab pertanyaan itu berarti Sivia harus menentang kata hatinya sendiri. Tapi sekali lagi, Sivia harus bisa professional. Ini urusan pekerjaannya, Sivia harus bisa mengeyampingkan urusan pribadinya disini.
            “lo sebaiknya jelasin sama dia. Elo… elo harus bisa jujur sama hati lo sendiri, lo juga harus bisa jujur sama dia. Elo… elo nggak bisa berbuat seperti ini sama dia, Va… hh…” isakkan Sivia nyaris keluar jika saja ia tidak berusaha menahan. Kelamaan rasa pedih itu semakin mengoyak jantungnya tanpa ampun.
            “kalo lo emang mau ngeikhlasin dia seperti apa yang lo bilang, maka lo harus ngomong langsung sama dia, dan bukannya malah sembunyi kayak gini”
            “makasih, Via….”
            Sivia akhirnya memutuskan sambungan telfonnya. Masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan setelah ini, untuk itu, Sivia harus tetap bisa menahan isakkanya agar tidak keluar.
            “Oke, gue punya sebuah lagu buat Nova. Semoga lagu ini bisa mewakilkan perasaan Nova saat ini. Dan ini dia lagu dari miliknya Geisha, Lumpuhkan Ingatanku, check this song…”
            Lagu dari miliknya Geisha itu pun mengalun perlahan memenuhi ruang siaran. Air mata serta isakan yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya tumpah ruah bersama kepedihan hatinya. Sivia membuka headphone-nya lalu menenggelamkan wajahnya diatas kedua lipatan tangannya. Isak tangis Sivia kian memecah seiring lagu itu mengalun. Apa patah hati sesakit ini??


****

            “Priss… apa kamu nggak ngantuk? Ini udah jam 10 lho” ucap Alvin sehati-hati mungkin pada Pricilla yang ketika itu tengah duduk disampingnya sambil merebahkan kepalanya dipundak Alvin. Pricilla menggandeng lengan Alvin dengan erat, sementara tangan kanan Alvin melingkar dipundak Gadis itu.
            Pricilla menggeleng pelan beberapa kali. Ia meraih tangan kiri Alvin lalu menggenggamnya erat.
            “ini kan malem minggu, Sayang. Emangnya kamu udah ngantuk?” Tanya Pricilla balik. Alvin mendesah tak kentara, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Pricilla. Tidak lama Alvin akhirnya menggeleng,
            “ya nggak juga…”
            “terus kenapa nanya kayak gitu, kamu mau pulang?” Pricilla mengangkat wajahnya lalu menatap Alvin. Alvin menggeleng lagi, saat itu juga Pricilla langsung tersenyum puas.
            “bagus. Kalo pun kamu mau pulang juga aku nggak akan ijinin” Pricilla menyentuh pipi Alvin dengan lembut “aku masih kangen sama kamu, Sayang, kangeeennn banget”
            Pricilla mengecup pipi Alvin lalu melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Pria itu. Sebenarnya Alvin ingin menolak perlakuan Pricilla itu, hanya saja Alvin tidak ingin menyinggung perasaannya. Alvin takut Pricilla kecewa.
            Tanpa sepengetahuan Pricilla, Alvin melirik arlojinya yang ketika itu sudah menunjukan pukul 22.05. Tidak kurang dari 25 menit lagi Sivia akan mengakhiri siarannya. Seharunya sekarang Alvin sudah diperjalanan menuju ANH-Radio, tapi jika Pricilla terus menahannya seperti ini, Alvin bisa apa? Tapi masakah Alvin harus mengingkari janji yang sudah ia sendiri buat pada Sivia? Baru tadi siang Alvin berjanji akan menjemput Sivia distudio malam ini  juga, tapi sekarang ternyata, Pricilla malah menahannya ditempat ini.
            “sayang…” panggil Pricilla pelan,
            “hm?” jawab Alvin tanpa semangat. Fikirannya terus tertuju pada Sivia, ia ingin segera menemui Kekasihnya itu. Seharian tidak bertemu dengan Sivia, cukup membuat Alvin merindukannya, sangat merindukannya.
            “semenjak aku balik dari German, aku nggak pernah denger lagi kamu manggil aku dengan panggilang Sayang? Kenapa? Masih marah sama aku?” Pricilla cemberut dan membuatnya terlihat sangat lucu dimata Alvin. Alvin terkekeh pelan, mendadak ia melupakan janjinya pada Sivia begitu saja. Hanya dalam beberapa detik saja. Dengan secepat itu.
            “kamu kok malah ketawa?” Pricilla mencubit pelan perut Alvin dan membuat Alvin meringis pelan.
            “aw…. Sakit Priss….”
            “sekarang jawab pertanyaan aku, kenapa kamu nggak pernah panggil aku sayang lagi? Kamu udah nggak cinta ya sama aku?”
            Telak! Pertanyaan dari Pricilla itu benar-benar telak dan membuat Alvin kelimpungan sendiri mencari jawaban untuk Pricilla. Bukan, Alvin bukannya tidak bisa menjawab pertanyaan Pricilla itu, hanya saja Alvin tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.
            “tuh kan, kamu udah nggak cinta lagi sama aku…” simpul Pricilla pada akhirnya ketika merasa bahwa Alvin terlalu lama menjawab pertanyaannya.
            “bu… bukan gitu… a… aku…. Aku sa…. Aku… sayang sama kamu, masih sayang sama kamu” jawab Alvin pada akhirnya. Dalam hati ia langsung merutuki dirinya sendiri. Apa yang baru saja ia katakan? Kenapa Alvin harus menjawab Pricilla dengan jawaban seperti itu? Ya Tuhan, apa ini yang namanya selingkuh?
            Sadar atau tidak, detik itu juga Alvin sudah menduakan perasaan Sivia.
            “kalo kamu bener-bener masih sayang sama aku—“ Pricilla menggantungkan kalimatnya lalu menarik tengkuk Alvin hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
            Alvin tersentak. Sulit ia percaya apa yang sudah Pricilla lakukan padanya baru saja. Jari telunjuk Pricilla terangkat lalu menujuk kearah bibirnya sendiri.

            “kiss me…” bisik Pricilla pelan tepat didepan wajah Alvin. Alvin kaget sekaget-kagetnya. Dia mana bisa melakukan hal itu sementara ia sendiri sudah ada yang memiliki? Tidak, Alvin tidak ingin menyakiti Sivia dengan cara menduakan cintanya seperti ini. Sudah cukup selama ini Alvin menyakiti Sivia, dan Alvin tidak ingin lagi melakukannya. Tidak didepan Sivia secara terang-terangan, tidak juga dibelakang Sivia secara sembunyi-sembunyi.
            Alvin dapat melihat dengan sangat jelas Pricilla sudah menutup kedua matanya dan siap menerima ciuman dari Alvin. Alvin menatap sejenak wajah Pricilla yang terpejam. Malam ini Pricilla benar-benar terlihat cantik, dan jujur saja Alvin terpikat dengan itu. Tapi…
            Entah mendapat dorongan mana, dengan gemetar Alvin mengangkat kedua tangannya lalu menyentuh kedua sisi wajah Pricilla. Sama seperti Pricilla, Alvin juga memejamkan kedua matanya lalu menggerakan wajahnya perlahan mendekati wajah Pricilla. Tapi tiba-tiba saja….


Flash Back Alvin:

Siviapun menunduk dalam, takut menatap kedua mata Alvin. Sivia tiba-tiba merasakan Alvin merenggut kalung itu dari genggamannya, Sivia semakin takut. Tapi tidak lama kemudian, Alvin malah memasangkan kalung itu pada leher Sivia. Kali ini Sivia mengangkat wajahnya dan memberanikan dirinya menatap mata Alvin,
            “Alvin??” Alvin tersenyum,
            “kalung ini sekarang udah jadi milik kamu, kamu yang berhak atas kalung ini, juga atas….” Alvin meraih tangan Sivia lalu meletakkannya didada bidang miliknya “juga atas hati ini” lanjut Alvin sungguh-sungguh.
            Sivia kembali menghambur kedalam pelukan Alvin,
            “makasih, Vin… aku cinta sama kamu….”
            “aku tau, aku juga cinta sama kamu….” Alvin mengecup pipi Sivia dengan lembut.

Flash Back off~

            Alvin langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Pricilla sebelum bibir mereka sempat bertemu. Tidak, Alvin tidak akan melakukan hal itu. Saat ini, hanya Sivia lah yang berhak atas hatinya dan bukannya Pricilla yang dulu pernah pergi meninggalkannya dan menyisakan luka yang teramat dalam.
            “sorry, Priss. Gue harus pulang. Gue baru inget kalo gue ada janji”
            Alvin bangkit dari hadapan Pricilla lalu pergi begitu saja meninggalkan Gadis itu sendiri. Pricilla tersenyum miris. Ia mengangguk beberapa kali lantas berucap,


            “kamu berubah. Kamu udah nggak cinta lagi sama aku, Vin….”



****

            10 menit sudah Sivia menunggu kedatangan Alvin di Loby studio. Tapi hingga 10 menit berlalu Alvin tidak juga menampakkan batang hidungnya. Seharusnya sekarang Alvin sudah tiba di studio untuk menjemput Sivia. Kemana dia?
            Sivia membuka ponselnya, berharap Alvin mengiriminya sebuah pesan singkat. Tapi harapan Sivia musnah seketika saat ia tidak mendapatkan pesan apapun dari Alvin. Sivia cemas. Dan ketika ia memutuskan untuk menelpon Alvin, Sivia baru ingat bahwa tadi siang Alvin pergi menemui Pricilla. Sivia pun dilemma, antara menelpon Alvin atau tidak. Takutnya jika Sivia menelpon, ia akan menganggu kebersamaan Alvin dan Pricilla.
            Sivia tersenyum tipis. Berusaha yakin dengan keputusan yang sekarang ia ambil. Dan Sivia berusaha untuk tidak sedikitpun menyimpan prasangka buruk terhadap Alvin. Biar bagaiamnapun, Sivia harus bisa mempercayai Alvin.
            5 menit lagi. Sivia memutuskan untuk menunggu Alvin 5 menit lagi. Jika Alvin tidak datang juga dalam waktu 5 menit, maka Sivia akan pulang sendiri. Ya… 5 menit lagi. Sivia yakin Alvin pasti akan datang untuk memenuhi janjinya siang tadi.

1 menit….
2 menit….
3 menit….
4 menit….

            Sivia mulai harap-harap cemas. Akankah Alvin akan datang? Jujur saja, Sivia takut Alvin ingkar. Sivia menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan duduk dalam keadaan yang serba tidak nyaman. Alvin pasti akan datang dengan senyuman termanisnya. Ya… Sivia yakin dengan itu.

Dan….


5 menit….

            Alvin ternyata tidak datang. Dia ingkar. Sivia menghela nafas beratnya. Ia bangkit dari sofa dan telah siap melangkah pergi. Sekali lagi Sivia memeriksa ponselnya. Nihil.
            Sivia akhirnya melangkah pergi dengan segala prasangka baiknya terhadap Alvin.
            Sivia menyusuri koridor studio yang sepi dengan langkah yang gontai. Sekalipun Sivia berusaha untuk tetap berpostif thinking terhadap Alvin, tapi tetap saja ia tidak bisa menghindari diri dari rasa takutnya.
            Hey… ayolah, Alvin sekarang sedang menemui Mantannya. Yang kemungkinan besar Alvin masih menyimpan sebuah rasa untuknya. Apapun bisa terjadi dalam pertemuan mereka bahkan tanpa Sivia ketahui. Dalam masalah ini Sivia hanyalah seorang Gadis lugu nan bodoh yang bisa dibodohi kapan saja oleh orang secerdik Alvin. Jadi wajar saja kan kalau Sivia menyimpan sedikit rasa takut? Bukan kah itu manusiawi?
            Lalu tiba-tiba saja Sivia merasakan seseorang menarik pergelangan tangannya tepat ketika ia akan keluar dari Gedung ANH-Radio. Sosok itu tidak hanya menarik pergelangan tangan Sivia, tetapi ia juga menarik tubuh mungil Sivia hingga terhempas kedalam pelukannya yang erat juga hangat…

            “maaf udah bikin kamu nunggu lama” Lirihnya pelan.
            Sivia tersenyum detik itu juga. Segala ketakutannya yang tadi memenuhi ruang dihatinya langsung lenyap seketika tanpa bekas, saat Seseorang ia tunggu-tunggu kedatangannya akhirnya hadir juga bahkan merengkuhnya dalam pelukannya yang erat.
            Kedua tangan Sivia terangkat lalu membalas pelukan Pria itu…

            “aku tahu kamu pasti bakalan dateng, Alvin….”



****

            Alvin menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Sivia. Sivia menatap sejenak kearah Alvin dengan senyuman manis yang terukir diwajah cantiknya,

            “Alvin…”
            “hmm…?”
            “makasih ya kamu udah tepatin janji kamu sama aku?”
            Alvin membalas senyuman Sivia, ia menyentuh kepala Sivia, mendorongnya pelan lalu mengecup keningnya dengan lembut,
            “mana mungkin aku ingkar janji sama kamu, Via…” Sivia hanya tersenyum dan tidak membalas perkataan Alvin. Sebenarnya Sivia ingin menanyakan tentang pertemuan Alvin dengan Pricilla tadi, tapi Sivia takut membuat Alvin merasa tersinggung. Sivia pun akhirnya memendam keinginan itu.
            “Vin…”
            “iya”
            “aku masuk ya? Udah malem…” dengan senang hati Alvin pun mengangguk.
            Sivia membuka sabuk pengaman yang tersampir ditubuhnya. Sebelum Sivia keluar dari mobil Alvin, sekali lagi ia menoleh kearah Alvin,
            “good night, Vin…”
            “good night too”
            Tepat ketika Sivia akan membuka pintu mobil Alvin, Alvin tahu-tahu menarik pergelangan tangan Sivia dan menahan Gadis itu supaya tetap berada disampingnya. Alvin menahan kedua pundak Sivia seraya menatap kedua mata Gadis itu sedalam mungkin.
            “apa lagi….?”
            “ada yang ketinggalan?”
            “apa?”
            Alvin dan Sivia terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Deg… jantung Sivia berdegub semakin kencang dan cepat ketika wajah Alvin semakin mendekati wajahnya.
            Semuanya terjadi begitu cepat. Sivia langsung memejamkan matanya ketika bibir Alvin menyentuh bibirnya dengan lembut. Sivia yang awalnya kaget berusaha untuk rileks. Ia pun memejamkan kedua matanya begitu juga dengan Alvin.
            Semakin lama Sivia merasakan bahwa ciuman Alvin semakin dalam. Perlahan Alvin menurunkan kedua tangannya dari pundak Sivia. Kedua tangan itu berpindah, lalu menyentuh kedua sisi pinggang Sivia.
            Sivia yang terbawa suasana pun tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya pada leher Alvin.
            Dalam hati Sivia tersenyum bahagia. Malam itu ia bisa merasakan bahwa Alvin benar-benar mencintainya. Sivia tidak perlu takut lagi Alvin akan berpaling darinya dan kembali lagi pada Pricilla.
            Alvin miliknya, hanya miliknya. Dan Sivia selalu berharap, semoga selamanya Alvin akan tetap jadi miliknya.



****

Sivia menghentikan langkahnya ketika ia melihat Pricilla yang berdiri tidak jauh dari posisinya sekarang. Setelah 2 tahun tidak pernah bertemu dengan Pricilla, akhirnya hari ini Sivia bertemu lagi dengannya. Dan pada kenyataannya, Gadis ini semakin terlihat cantik saja.
            Jika dulu ia terlihat begitu cute dengan poni tebal yang menjuntai didahinya, maka sekarang ia terlihat begitu anggun dan dewasa tanpa poni.
            Sivia terpana, bukan karna kecantikan Gadis Indo itu, melainkan karna kehadirannya yang secara tiba-tiba didepan rumah Sivia dipagi hari itu. Apa maksud dan tujuan Pricilla datang kerumahnya?
            “Hay, Sivia…” sapa Pricilla dengan bersahabat saat Sivia datang menghampirinya. Ya… dari dulu Pricilla memang selalu bersahabat. Ternyata tidak ada yang berubah sedikitpun dari sikapnya itu.
            “Hay, Priss…” jawab Sivia sedikit canggung.
            “gue kangen sama lo, Vi…” Pricillapun memeluk Sivia.
            Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu, tidak ada kepura-puraan disana, karna Pricilla memang merindukan Sivia, seseorang yang selama ini selalu ia anggap sahabat.
            “lo apa kabar?” Tanya Sivia basa basi sembari melepaskan pelukannya dari Pricilla,
            “nggak baik” jawab Pricilla sekenanya. Demi apapun itu, Sivia langsung menyesal menanyakan kabar Gadis ini. Ia baru sadar bahwa ia telah salah bertanya.
            “sorry” gumam Sivia pelan.
            Pricilla tersenyum lebar lalu meraih pergelangan tangan Sivia,
            “gue mau bicara berdua sama lo. Boleh?”
            “bo.. boleh…” jawab Sivia ragu-ragu yang sebenarnya mulai merasakan sebuah perasaan tidak enak. Pricilla tersenyum senang lalu merangkul Sivia. Mereka berduapun memasuki mobil milik Pricilla yang terparkir tidak jauh dari depan gerbang rumah Sivia.

            Dalam hati Sivia bertanya-tanya; Apa yang ingin Pricilla bicarakan dengannya? Apa ini semua menyuangkut Alvin??




                        BERSAMBUNG….

           
           


0 comments:

Post a Comment